Anda di halaman 1dari 6

HASIL DISKUSI

KEPERAWATAN KRITIS
Materi :
Patofisiologi, Farmakologi, dan terapi diet pada kasus kritis dengan gangguan sistem pernapasan
dan kardiovaskuler.

A. Pertanyaan dari Putu Indah Praptika Suci (NIM 002) :


Tanda gejala apa yang paling sering keliatan jika seseorang menderita ARDS, misalnya
pada hasil labnya seperti apa? Ketika pasien ada yang mengalami ARDS, tindakan
mandiri perawat apa yang paling penting dilakukan? Tolong jelaskan
Terimakasih 🙏

Jawaban :

1. Ni Made Tariani Absen (NIM 018)


Gejala ARDS dapat berbeda-beda pada setiap penderitanya, tergantung penyebab,
tingkat keparahan, dan apakah ada penyakit lain yang diderita, seperti penyakit jantung
atau penyakit paru-paru. Beberapa gejala dan tanda yang dapat muncul pada penderita
ARDS adalah:
a. Napas pendek dan cepat
b. Sesak napas
c. Tekanan darah rendah (hipotensi)
d. Tubuh terasa sangat lelah
e. Keringat berlebih
f. Bibir atau kuku berwarna kebiruan (sianosis)
g. Nyeri dada
h. Denyut jantung meningkat (takikardia)
i. Batuk
j. Demam
k. Sakit kepala atau pusing
l. Bingung
Selain dari tanda gejala fisik, penegakan diagnosa ARDS memerlukan adanya
pemeriksaan penunjang, salah satunya laboratorium. Menurut artikel dan jurnal yang
saya baca tidak terdapat pemeriksaan spesifik untuk ARDS. Namun, beberapa
pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan adalah:
a. Darah rutin: dapat ditemukan leukositosis atau leukopenia, terutama bila terdapat
sepsis. Trombositopenia juga dapat ditemukan bila terdapat koagulasi
intravaskular diseminata.
b. Fungsi ginjal: fungsi ginjal umumnya menurun bila terdapat komplikasi pada
ARDS akibat adanya iskemia ataupun nekrosis tubular akut
c. Fungsi hepar: dapat menurut bila terdapat kerusakan hepatosit atau kolestasis
d. Kultur darah atau sputum: dapat menunjukkan adanya sepsis atau fokus infeksi.
Kultur darah juga dapat membantu menentukan pemberian antibiotic.
Pemeriksaan laboratorium lain yang dapat dilakukan adalah brain natriuretic
peptide (BNP) dan sitokin interleukin (IL)-1, IL-6, dan IL-8. BNP <100 pg/ml dapat
menunjukkan adanya ARDS, tetapi BNP tinggi tidak dapat menyingkirkan
kemungkinan ARDS. IL-1, IL-6, dan IL-8 umumnya juga ditemukan meningkat pada
ARDS.
Sementara, pemeriksaan penunjang utama yang biasanya dilakukan dalam
menegakkan diagnosa pada pada pasien-pasien ARDS adalah foto rontgen toraks dan
analisa gas darah. Foto toraks merupakan pemeriksaan utama yang dapat dengan
mudah dilakukan. Foto toraks dapat membantu menyingkirkan diagnosis penyakit paru
lain, menyingkirkan penyebab kardiologis, serta menegakkan diagnosis ARDS. Pada
ARDS, umumnya ditemukan adanya infiltrat difus bilateral atau unilateral yang dapat
memburuk secara cepat dalam 3 hari. Infiltrat yang ditemukan umumnya terletak
interstisial dan/atau alveolar. Pada tahap awal, infiltrat dapat ditemukan menyebar
hingga ke perifer dan dapat memburuk menjadi infiltrat difus bilateral dengan
penampakan ground glass.
Analisa gas darah (AGD) pada umumnya dapat menunjukkan hipoksemia dan
alkalosis respiratorik. Kadar PaO2 / FiO2 juga dapat dinilai melalui analisa gas darah.
Pemeriksaan AGD juga dapat dilakukan dengan cepat, mudah, dan akses yang tersedia
dengan baik. Pemeriksaan lain juga dapat dilakukan untuk mencari etiologi, menilai
prognosis, dan komplikasi, tetapi tidak spesifik untuk menegakkan diagnosis ARDS.

2. Ni Putu Novia Hardiyanti (NIM 020)

Tindakan mandiri perawat dalam menangani kasus ARDS yaitu:


a. Mempertahankan pertukaran gas yang adekuat dengan cara memberikan terapi
oksigen sesuai dengan anjuran dokter dan pantau tanda-tanda hipoksemia).
Mempertahankan patensi jalan udara pada penggunaan ventilator pasien (jika
terpasang). Amankan posisi pipa (pipa endotrakeal, trakeostomi) untuk
menghindari pergerakan baik ke luar atau ke dalam dari posisi yg sudah
ditetapkan. Pastikan posisi klien optimal untuk mendapatkan oksigenasi (45-90
derajat). Ingat auskultasi paru-paru setiap jam unntuk mengkaji respirasi pasien
dan periksa setting ventilator secara teratur.
b. Mempertahankan perfusi jaringan dengan cara: memantau tekanan pulmonari
capillary wedge serta kaji haularan urine, ttv, ekstremitas setiap jam.
c. Menurunkan ansietas klien dan keluarga. Pastikan fungsi ventilator yang tepat
untuk memberikan volume tidal dan konsentrasi oksigen yang adekuat. Bila
pasien nampak distress, kaji kadar gas AGD. Identifikasi cara agar pasien dapat
mengekspresikan kekhawatirannya. Berikan penjelasan tentang rutinitas
perawatan dan lingkungan kepada keluarga pasien.
d. Mempertahankan nurtrisi yang adekuat.

B. Pertanyaan dari Wawan Narendra (012)


Apa yang membedakan/ciri khas ARDS karena perburukan KU pasien covid dengan
ARDS biasa? Dan apa tindakan mandiri keperawatan pda kasus tersebut.

Jawaban
1. Ni Wayan Mujani (019)
Salah satu komplikasi yang mengancam jiwa yang dapat timbul dari covid-19
adalah ARDS atau yg biasa disebut sebagai sindrom gagguan pernapasan akut.
Berdasarkan buku pneumonia covid-19 oleh perhimpunan dokter paru indonesia (PDPI)
yang telah saya baca, tidak ada perbedaan/ciri khas antara ARDS akibat perburukan
covid dengan ARDS biasa.

2. Nur Adiana Dewi absen (020)


Untuk ARDS yg biasanya terjadi dengan ARDS akibat covid 19 sebenarnya
pembedanya hanya faktor penyebabnya saja yaitu proses perjalanan virus. Untuk tanda
gelaja sampe pasien itu bisa dikatakan ARDS ya tetap kembali pada empat komponen
ARDS ; gagal napas akut, perbandingan antara PaO2/FiO2 <300 mmHg untuk ALI dan
<200 mmHg untuk ARDS, terdapat gambaran infiltrat alveolar bilateral untuk tindakan
mandiri yg bisa diberikan perawat adalah terapi oksigen menggunakan mask tentunya
bukan intubasi, cenderung lebih banyak tindakan kolaboratif karena pasien membutuhkan
manajemen airway yg kompetensinya dimiliki dokter selain itu memberikan posisi prone
juga dpt dilakukan perawat sebagai tindakan mandiri. Pasien dengan komplikasi
COVID-19 berupa ARDS yang sudah terintubasi sebaiknya ditidurkan dengan posisi
prone. Hal ini dilakukan untuk memperbaiki mekanisme paru dan pertukaran gas di
dalam paru-paru. Posisi ini sebaiknya sudah direncanakan sejak tahap awal penyakit
COVID-19. Penelitian yang dilakukan oleh Guerin et al. tahun 2013 yang melibatkan 229
pasien ini melaporkan bahwa early prone positioning pada ARDS dapat menurunkan
angka mortalitas pada 28- dan 90- hari. WHO menyarankan pasien dengan ARDS berat
dilakukan ventilasi dalam posisi prone selama 12 - 16 jam setiap harinya. Akan tetapi,
ventilasi posisi ini membutuhkan sumber tenaga kesehatan yang memadai dan protokol
yang telah ditetapkan. Hindari pemutusan koneksi dengan ventilator untuk mencegah
hilangnya PEEP dan atelektasis

3. Putu Indah Permata Sari (017)


Penelitian baru dari Journal of American Medical Association (JAMA)
menunjukkan bahwa lebih dari 40 persen orang dalam penelitian yang dirawat di rumah
sakit, karena covid-19 yang kritis mengembangkan ARDS dan lebih dari 50 persen dari
mereka meninggal karena diagnosis penyakit tersebut. American Lung Association
(ALA) mengatakan ARDS adalah penyakit progresif cepat yang dapat terjadi pada pasien
yang sakit kritis. Pada saat ini, terutamanya adalah pada mereka yang didiagnosis dengan
penyakit parah sebagai hasil dari covid-19.
Menurut Dr Shervin Takyar, MD,PHD, ahli paru di Yale Medicine yang dilansir
dari Health, mirip dengan banyak virus lain, COVID-19 dapat menginfeksi dan merusak
sel-sel paru-paru, mengatur tahap terjadinya ARDS. "Diperkirakan bahwa infeksi dan
peradangan menyebabkan kerusakan pembuluh darah paru-paru,". Ketika itu terjadi,
pertukaran oksigen dalam tubuh terganggu. Perawatan untuk ARDS melibatkan oksigen
tambahan dan ventilasi mekanis, dengan tujuan mendapatkan lebih banyak oksigen ke
dalam darah. Tatalaksana covid 19 kritis :ARDS menurut WHO tanggal 13 maret 2020
a. Kenali kegagalan pernapasan hipoksemik berat jika tidak ada tanggapan dari pasien
gawat pernapasan terhadap terapi oksigen standar dan persiapkan dukungan
oksigen/ventilasi lanjutan.
b. Pasien dapat tetap mengalami peningkatan kerja pernapasan atau hipoksemia
walaupun sudah diberi oksigen melalui sungkup tutup muka dengan kantong
reservoir (aliran 10-15 L/menit, yang biasanya adalah aliran minimal yang
diperlukan agar kantong tetap mengembang; FiO2 antara 0,60 dan 0,95). Kegagalan
napas hipoksemia pada ARDS biasanya terjadi akibat ketidaksesuaian ventilasi-
perfusi atau pirau/pintasan intrapulmoner dan biasanya memerlukan ventilasi
mekanis
a. Intubasi endotrakea harus dijalankan oleh petugas terlatih dan berpengalaman
dengan menerapkan kewaspadaan airborne.
c. Pasien ARDS, terutama pasien anak kecil atau pasien dengan kondisi obesitas atau
hamil, dapat dengan cepat mengalami desaturasi selama intubasi. Berikan
preoksigenasi dengan 100% FiO2 selama 5 menit, melalui sungkup wajah dengan
kantong reservoir, sungkup berkatup pembatas kantong, oksigen high-flow nasal
oxygen (HFNO) atau NIV. Intubasi urutan cepat (rapid-sequence intubation) dapat
dilakukan setelah penilaian saluran pernapasan tidak menemukan tanda kesulitan
intubasi
a. Jalankan ventilasi mekanis dengan volume alun rendah (4-8 mL/kg prediksi berat
badan (PBW) dan tekanan inspirasi rendah (tekanan plato < 30 cmH2O).
b. Pada pasien dewasa ARDS berat, dianjurkan ventilasi posisi telungkup selama 12-
16 jam per hari.
c. Gunakan strategi tatalaksana cairan konservatif untuk pasie nARDs tanpa
hipoperfusi jaringan
d. Gunakan kateter tertutup (in-line) untuk hisap saluran napas dan tutup rapat tabung
endotrakeal saat harus dilepaskan (misal, pemindahan ke ventilator transpor).