Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

A.Latar Belakang

Undang undang No 38/2014 Tentang Keperawatan, Pasal 1 Ayat (3),’Pelayanan

Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian

integral dari pelayanan kesehatan yang didasarkan pada ilmu dan kiat Keperawatan

ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok, atau masyarakat, baik sehat maupun

sakit’.

Asuhan Keperawatan adalah rangkaian interaksi Perawat dengan Klien dan

lingkungannya untuk mencapai tujuan pemenuhan kebutuhan dan kemandirian Klien

dalam merawat dirinya. (Undang-undang No 38/2014 Tentang Keperawatan, Pasal 1

Ayat (5).

Hubungan Perawat dan pasien (klien) merupakan hubungan yang bersifat

kemanusiaan yang berorientasi kepada kesembuhan dan keselamatan pasien dari segala

hal yang merugikan pasien, oleh sebab itu perawat dalam melaksanakan asuhan harus

keperawatan wajib memberikan perlindungan kepada pasien dari pelayanan yang tidak

bermutu dan tidak profesional, atau dengan kata lain advokasi pasien merupakan salah

satu tanggung jawab perawat.

Begitu juga pada kasus kasus kegawataan daruratan yang menimpa pasien yang

pasien yang terancaman nyawanya atau pasien yang dapat cacat akibat tertimpa suatu

musibah peran perawat sangat penting untuk memberikan tindakan yang cepat dan tepat

serta melindungi pasien dari pelayanan yang tidak profesional atau tidak bermutu.      
Pelayanan Keperawatan gawat darurat merupakan pelayanan gawat darurat 24

jam yang memberikan pertolongan pertama pada pasien gawat darurat menetapkan

diagnosis keperawatan, dan upaya penyelamatan jiwa, mengurangi kecacatan dan

kesakitan pasien sebelum dirujuk atau dilakukan tindakan definitif di semua level rumah

sakit (Standar pelayanan gawat darurat Direktoral Jenderal Kementrian Kesehatan RI

tahun 2011).

Di dalam buku kode Etik PPNI (2010) “Warga perawatan Indonesia menyadari

bahwa kebutuhan akan keperawatan bersifat universal bagi klien, (individu, keluarga,

kelompok dan masyarakat), oleh karenanya pelayanan yang diberikan oleh perawat

selalu berdasarkan pada cita cita luhur, niat yang murni untuk keselamatan pasien dan

kesejahteraan umat tanpa membedakan kesukuan, warna kulit, umur, jenis kelamin,

aliran politik, dan agama yang dianut serta kedudukan sosial”

Di samping memberikan perlindungan kepada pasien secara umum, khususnya

perawat yang bertugas di Unit Gawat Darurat/Instalasi Gawat Darurat juga sebagai

advokasi pasien, mempunyai tanggung jawab moral tinggi dan harus peduli pada

keselamatan pasien agar keadaan pasien tidak bertambah buruk keadaan dan nyawa

pasien bisa diselamatkan dan kecacatan bisa dicegah, pasien bisa hidup normal

kembali.   

Perawat profesional yang bertugas di Unit Gawat Darurat/Instalasi Gawat

Darurat harus memahami mutu pelayanan gawat darurat secara umum baik komptensi

petugas, fasilitas yang sesuai standar dan kebijakan kebijakan harus berorientasi pada

keselamatan pasien dari pelayanan yang tidak bermutu.


Ruang lingkup keperawatan gawat darurat meliputi pelayanan keperawatan yang

ditujukan kepada pasien gawat darurat yang tiba tiba berada dalam keadaan gawat atau

akan menjadi gawat dan terancam nyawanya/anggota badannya (akan menjadi

cacat)   bila tidak mendapat pertolongan secara cepat dan tepat. (Keperawatan Gawat

Darurat, Musliha, Ners Skep, Hal: 37).         

Peran perawat sebagai advokat pasien adalah memberi informasi dan memberi

bantuan kepada pasien atas keputusan apa pun yang dibuat pasien, memberi informasi

berarti menyediakan informasi atau penjelasan sesuai yang dihutuhkan pasien, memberi

bantuan mengandung dua peran. yaitu peran aksi dan nonaksi. Dalam menjalankan

peran aksi, perawat memberikan keyakinan kepada pasien bahwa mereka mempunyai

hak dan tanggung jawab dalam menentukan pilihan atau keputusan sendiri dan tidak

tertekan dengan pengaruh orang lain. Sedangkan peran nonaksi mengandung arti pihak

advokat seharusnya menahan diri untuk tidak mempengaruhi keputusan pasien

(Sulandra, 2008).

Peran perawat sebagai advokat pasien menuntut perawat untuk dapat

mengidentifikasi dan mengetahui nilai-nilai dan kepercayaan yang dimilikinya tentang

peran advokat, peran dan hak-hak pasien, perilaku professional, dan huhungan pasien-

keluarga-dokter. Di samping itu. pengalaman dan pendidikan yang cukup sangat

diperlukan untuk memiliki kompetensi klinik yang diperlukan sebagai syarat untuk

menjadi advokat pasien

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian diatas dan paparan di latar belakang masalah dapat

disimpulkan rumusan masalah, sebagai berikut :  


1. Apakah peran advokasi keperawatan di Unit Gawat Darurat/Instalasi Gawat

Darurat?

2. Apakah Advokasi Keperawatan sudah membudaya dalam profesi keperawatan di

Unit Gawat Darurat/Instalasi Gawat Darurat?

 C. Tujuan Penulisan

1. Untuk mendapatkan konsep advokasi keperawatan gawat darurat dalam profesi

keperawatan      

2. Untuk mengsosialisasikan konsep advokasi keperawatan

D. Manfaat penulisan

1. Untuk dipahami oleh profesi perawat konsep advokasi keperawatan gawat

darurat 

2. Upaya pengembangan ilmu keperawatan khusus advokasi keperawatan gawat

darurat

 E. Metode penulisan

Dalam melakukan kajian penulis melakukan pendekatan tinjauan kepustakaan,

yaitu dengan membaca dan menterjemahkan serta mencari  bahan bahan yang terkait

dengan fungsi advokasi dan peran perawat dalam kegawatdaruratan berbagai sistem dan

etik keperawatan di internet.


 BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Advokasi.

Istilah advokasi sering digunakan dalam konteks hukum yang berkaitan dengan

upaya melindungi hak-hak manusia bagi mereka yang tidak mampu membela diri.  Arti

advokasi menurut ikatan perawat amerika/ANA (1985) adalah “melindungi klien atau

masyarakat terhadap pelayanan dan keselamatan praktik tidak sah yang tidak kompeten

dan melanggar etika yang dilakukan oleh siapa pun”

Advokasi kesehatan masyarakat (Christoffel,2000) diideintifikasi sebagai advokasi

yang ditujukan untuk mengurangi kematian atau kecacatan  sekelompok orang (secara

umum atau disebabkan penyebab khusus). Dan tidak terbatas pada tatanan

klinis  (Advokasi konsep, tekhnik dan aplikasi di bidang kesehatan di Indonesia, Prof

Hadi Pratomo, 2015).

 Advokasi adalah suatu tindakan yang digunakan untuk mengubah kebijakan ,

posisi, atau program dari berbagai macam insitusi atau lembaga mengajukan definisi

bahwa advokasi adalah bekerja dengan orang lain untuk membuat perubahan atau

perbedaan  (Advokasi konsep, tekhnik dan aplikasi di bidang kesehatan di Indonesia,

Prof Hadi Pratomo, 2015).

Advokasi adalah keikutsertaan orang orang dalam pembuatan keputusan yang dapat

mempengaruhi hidup mereka  (Advokasi konsep, tekhnik dan aplikasi di bidang

kesehatan di Indonesia, Prof Hadi Pratomo, 2015).


B. Pengertian Keperawatan

Keperawatan adalah kegiatan pemberian asuhan kepada individu, keluarga,

kelompok, atau masyarakat, baik dalam keadaan sakit maupun sehat.(Undang No

38/2014 Tentang Keperawatan, Pasal 1 Ayat (1).

Perawat adalah seseorang yang telah lulus pendidikan tinggi Keperawatan, baik di

dalam maupun di luar negeri yang diakui oleh Pemerintah sesuai dengan ketentuan

Peraturan Perundang- undangan. .(Undang-undang No 38/2014 Tentang Keperawatan,

Pasal 1 Ayat (2).

Pelayanan Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan

bagian integral dari pelayanan kesehatan yang didasarkan pada ilmu dan kiat

Keperawatan ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok, atau masyarakat, baik

sehat maupun sakit. (Undang-undang No 38/2014 Tentang Keperawatan, Pasal 1 Ayat

(3).

Praktik Keperawatan adalah pelayanan yang diselenggarakan oleh Perawat dalam

bentuk Asuhan Keperawatan. (Undang-undang No 38/2014 Tentang Keperawatan, Pasal

1 Ayat (4).

Asuhan Keperawatan adalah rangkaian interaksi Perawat dengan Klien dan

lingkungannya untuk mencapai tujuan pemenuhan kebutuhan dan kemandirian Klien

dalam merawat dirinya. (Undang-undang No 38/2014 Tentang Keperawatan, Pasal 1

Ayat (5).

Yang dimaksud dengan perawat gawat darurat (Emegency Nursing) darurat :

1. Sebuah area khusus spesial dan keperawatan profesinal melibatkan integrasi dari

praktek, penelitian pendidikan profesionalisme


2. Praktek perawat emergency oleh seroang perawat profesional

3. Fokus memeberikan pelayanan secara episodik kepadapasien pasien yang

mencari terapi yang baik yang mengancam kehidupan dan non critical illnes atau

cedera

4. Keperawatan emergency ditujukan pada esensi dan parktek emergency,

lingkungan dimana hal tersebut terjadi dan konsumen konsumen keperawatan

emergency (Keperawatan Gawat Darurat, Musliha, Ners Skep, Hal: 37)  

Pada awalnya pelayanan usaha keperawatan merupakan tindakan yang berdasarkan

insting dan pengalaman. Seiring dengan kemajuan tekhnologi dan ilmu pengetahuan,

asuhan keperawatan yang dilakukan oleh perawata harus berdasarkan ilmu  dan kiat

keperawatan. Perkembangan di era penegakkan hukum dan perlindungan HAM dewasa

ini, pelayanan keperawatan mempunyai implikasi terhadap hukum, untuk itu perlu

adanya tanggung jawab dan tanggung gugat dalam melaksanakan pelayanan

keperawatan (Kedudukan Hukum Perawat dalam upaya pelayanan kesehatan di Rumah

Sakit, Sri Pratianingsih, 2006)

Seorang Perawat profesional dalam melaksanakan pelayanan asuhan keperawatan

wajib menggunakan metodologi proses keperawatan, berpedoman pada standar

keperawatan dilandasasi oleh etik dan etika keperawatan dalam lingkup kewenangannya

serta tanggung jawabnya (Pengantar Keperawatan Profesional, Deden Darmawan,

2013), tanggung jawab yang dimaksud adalah dapat dipertanggungjawabkan dari segi

profesi kesehatan maupun segi hukum.

Di samping perawat sebagai profesional di bidang pelayanan keperawatan gawat

darurat, salah tugas yang tidak kalah pentingnya perawat juga bertindak sebagai
advokasi pasien untuk melindungi pasien dari pelayanan yang tidak bermutu atau

kompeten, sehingga dapat memperparah kondisi pasien.  

C. Pengertian gawat darurat

Pelayanan kesehatan kegawat daruratan (dalam kedaan emergency) sehari hari

adalah hak azasi manusia/hak setiap orang, dan merupakan kewajiban yang dimiliki

setiap orang. (Seri PPGD/GELS/SPGDT  Dirjen Buk Depkes RI tahun 2006).

Kondisi gawat darurat adalah suatu kedaan dimana seseorang seseorang secara tiba

tiba dalam kedaan gawat atau atau akan menjadi gawat dan terancam anggota badannya

dan jiwanya (akan menjadi cacat aau mati) bial tidak mendapat pertolongan segera

(Standar pelayanan keperawatan gawat darurat Dirjen BUK Kemenkes RI 2011).

Gawat Darurat adalah keadaan klinis pasien yang membutuhkan tindakan medis

segera guna penyelamatan nyawa dan pencegahan kecacatan lebih lanjut. (UU No

44/2009 Tentang Rumah Sakit).

D. Peran dan Fungsi Perawat

Dalarn dunia keperawatan modern respons manusia sebagai pengalaman dan respon

orang terhadap sehat dan sakit juga merupakan suatu fenornena perhatian

perawat(Sudarman,2008). Sesuai dengan Kepmenkes RI No. 1239 tahun 2001 tentang

Registrasi dan Praktik perawat, perawat adalah seseorang yang telah lulus pendidikan

perawat, baik di dalam maupun di luar negeri sesuai dengan ketentuan peraturan

perundang-undangan yang berlaku. Praktik keperawatan harus senantiasa meningkatkan

mutu pelayanan profesinya, dengan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan

teknologi melalui pendidikan dan pelatihan sesuai dengan bidang tugasnya. Dalam

rnelaksanakan praktik keperawatan. perawat juga dituntut melakukan peran dan fungsi
sebagairnana yang diharapkan oleh profesi dan masyarakat sebagai pengguna jasa

pelayanan keperawatan.

E. Fungsi Advokasi Perawat Dalam Kegawatdaruratan Berbagai Sistem

Perawat baik secara lansung maupun tidak lansung  memberikan asuhan

keperawatan kepada pasien individu, keluarga dan masyarakat. Dalam menjalankan

peran sebagai care giver, perawat menggunakan metode pemecahan masalah dalam

membantu pasien mengatasi masalah kesehatannya. Perawat juga bertindak

sebagai comforter, protector, advocat, communicator, serta rehabilitor (Kedudukan

Hukum Perawat dalam upaya pelayanan kesehatan di Rumah Sakit, Sri Pratianingsih,

2006)

1. Perawat Advokasi di Unit Gawat Darurat Menurut  ANA (1985).

ANA (1985) mengatakan “melindungi klien atau masyarakat terhadap

pelayanan dan keselamatan praktik tidak sah yang tidak kompeten dan melanggar etika

yang dilakukan oleh siapa pun”

1) Melindungi pasien dari pelayanan yang tidak bermutu, perawat disini harus

menjaga keselamatan pasien  baik dari kompentensi petugas yang tidak profesional

(petugas tidak ahli dibidang gawat darurat sebaiknya tidak bertugas di Unit Gawat

Darurat/Instalasi Gawat Darurat).

2) Menjaga pasien dari  alat dan dan sarana parasana yang tidak terstandar, sebaiknya

alat harus standar dan mempunyai kelayakan standar dan dikalibrasi sesuai

ketentuan yang berlaku.

3) Melindungi pasien dari sistem yang buruk dan bertele tele (sistem yang merugikan

pasien) dalam pelayanan pemberian perawatan gawat darurat.


2. Peran Advokasi Perawat Gawat Darurat  Dalam Praktik Etik Keperawatan.

Dalam Pedoman Etik keperawatan hasil Munas PPNI tahun 2010, secara garis besar

merumuskan etik perawat, antara lain, Hubungan Perawat dan Klien (pasien) :

1) Perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan menghargai harkat dan

martabat manusia, keunikan, klien, dan tidak terpengaruh oleh pertimbangan

kebangsaan, kesukuan, warna kulit, umur, jenis kelamin, aliran politik,   dan agama

yang dianut, serta kedudukan sosial.

2) Perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan senantiasa memelihara

suasana lingkungan yang menghormati nilai nilai budaya, adat istiadat dan

kelagsungan hidup beragama dan klien.

3) Tanggung jawab utama perawat adalah kepada mereka yang membutuhkan

asuhan keperawatan

4) Perawat wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahui sehubungan

dengan  tugas yang dipercayakan kepadanya kecuali jika diperlukan oleh yang

berwenang sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku etentuan hukum yang

berlaku.

3. Peran advokasi perawat menurut Undang Undang No 38/2014 Tentang

Keperawatan, Pasal 38

Perawat dalam melaksanakan praktik keperawatan berkewajiban :

1) Melengkapi sarana dan prasarana Pelayanan Keperawatan sesuai dengan standar

pelayanan keperawatan dan ketentuan peraturan perundang-undangan.


2) Memberikan Pelayanan Keperawatan sesuai dengan standar profesi, standar

pelayanan keperawatan, standar operasional prosedur, kode etik, dan ketentuan

peraturan perundang-undangan.

3) Menghormati hak klien.

4) Merujuk kasus yang tidak dapat ditangani, yang meliputi:

a. Dalam aspek pelayanan/asuhan keperawatan merujuk ke anggota perawat lain

yang lebih tinggi kemampuan atau pendidikannya; atau

b. Dalam aspek masalah kesehatan lainnya merujuk ke tenaga kesehatan lain.

5) Merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang Klien.

6) Mendokumentasikan Asuhan Keperawatan berdasarkan standar pelayanan

keperawatan.

7) Memberikan informasi yang lengkap, jujur, jelas dan mudah dimengerti mengenai

tindakan keperawatan kepada Klien dan/atau keluarganya sesuai dengan batas

kewenangannya.

8) Melaksanakan tindakan pelimpahan wewenang dari tenaga kesehatan lain yang

sesuai dengan kompetensi Perawat; dan

9) Melaksanakan penugasan khusus yang ditetapkan oleh Pemerintah.

4. Peran Advokasi Perawat Menurut Undang Undang No 44 Tentang Rumah Sakit.

Peran perawat dan tenaga kesehatan di dalam penanggulangan Penderita Gawat

Darurat (PPGD) terdapat, “Undang undang Kesehatan nomor 36 tahun 2009 Pasal 32

Ayat (1) “Dalam keadaan darurat fasilitas pelayanan kesehatan baik pemerintah

maupun swasta wajib memberikan pelayanan kesehatan   bagi penyelamatan nyawa

pasien dan pencegahan kecacatan terlebih dahulu”. Ayat (2) “Dalam keadaan darurat
Fasilitas pelayanan kesehatan baik pemerintah dan swasta dilarang  menolak pasien

dan/atau meminta uang muka”. Perawat yang bertugas di Instalasi Gawat Darurat

Rumah Sakit wajib memberikan pertolongan terlebih dahulu, tidak boleh menolak atau

minta uang muka., dalam pasal ini perawat dan tenaga ksehatan lainnya dilarang

menolak pasien dan meminta uang muka dan perawat yang bertugas di bagian pelayanan

gawat darurat wajib memberikan pertolongan awal.

Peran advokasi dari keterangan tersebut diatas adalah jangan sampai ada

penolakan atau permintaan uang muka sebelum dilakukan tindakan untuk keselamatan

pasien, karena perawat adalah profesi yang profesional bagian dari pelayanan kesehatan

di rumah sakit.

5. Peran advokasi perawat dalam Undang undang no 36/2009 tentang

kesehatan.

Dalam Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan pada pembukaan

poin (b) bahwa “setiap kegiatan dalam upaya untuk memelihara dan meningkatkan

derajat kesehatan masyarakat yang setinggi tingginya dilaksanakan berdasarkan

prinsip prinsip non diskriminatif, partisipatif, dan berkelanjutan dalam rangka

pembentukan sumber daya manusia Indonesia serta peningkatan ketahanan dan daya

saing bangsa bagi pembangunan nasional”. Disini perawat sebagai tenaga keshatan

yang profesional juga bertindak sebagai advokasi pasien di Unit/Instalasi Gawat Daurat

agar tidak ada pelayanan yang bersifat diskriminatif yang dapat merugikan pasien.
BAB III

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan  

Peran Advokasi perawat gawat darurat sangat penting, agar pasien terlindungi

dari pelayanan yang tidak bermutu, perawat harus memahami peran advokasi adalah

peran yang sangat penting  karena asuhan keperawatan yang bersifat bio, psiko, sosial

dan spritual.   

1. Perawat harus menjadi advokasi melindungi pasien dari perbuatan

tindak kekerasan, pelecehan seksual.

2. Perawat harus menjadi advokasi pasien dari lingkungan yang

memperburuk kedaan pasien.  

3. Perawat harus melindungi pasien dari tindakan perawatan dan

pengobatan yang tidak rasional

B. Saran

1. Perawat harus memahami konsep pelayanan gawat darurat

terkait keselamatan pasien, agar keselamatan pasien terjamin.

2. Perawat harus tahu standar  sarana dan pra sarana, aturan

dan sistem  pelayanan gawat darurat yang ditetapkan peraturan dan undang undang.

3. Perawat harus memahami kompetensi semua petugas yang

bertugas di Unit/Instalasi Gawat darurat


DAFTAR PUSTAKA

1. Prof. Hadi Pratomo,“Advokasi Konsep Tekhnik dan Apliksi  Bidang Kesehatan

di Indonesia ”,PT Rajagrafindo Persada, 2015

2. Ns.Musliha, S Kep,”Keperawatan Gawat  Darurat ,”Nuha Medika, “ 2010

3. Munas VIII PPNI,”Standar Profesi dan Kode Etik Perawat Indonesia”,2010

4. Deden Darmawan “Pengantar Keperawatan Profesional”, 2013

5. Sri Pratianingsih “Kedudukan Hukum Perawat dalam upaya pelayanan kesehatan

di Rumah Sakit”, PT Rajagrafindo, 2006)

6. Undang undang No 38/2014  tentang Keperawatan

7. Undang undang No 44/2009 tentang Rumah Sakit

8. Undang undang No 36/2009 tentang Kesehatan


BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Praktik keperawatan harus senantiasa meningkatkan mutu pelayanan profesinya, dengan

mengi kuti perkembangan ilrnu pengetahuan dan teknologi melalui pendidikan dan

pelatihan sesuai dengan bidang tugasnya. Peran perawat sebagai advokat dalam berbagai

sistem meiniliki tiga komponen utama, yaitu sebagai pelindung, mediator, dan pelaku

tindakan atas nama pasien.

3.2 Saran

Sebaiknya mahasiswa mengerti. paham serta dapat menerapkan hal baik yang berkaitan

dengan peran perawat sebagai advokator khususnya di bidang gawat darurat.


DAFTAR PUSTAKA

Asmadi. 2008. Konsep Dasar Keperawatan. Buku Kedokteran EGC. Jakarta

Biais. Jonice. 2007. Praktik Keperawatan Professional. Widya Medika. Jakarta

Armstrong. E. Alan. 2007. Nursing Ethics. Macmillan: Palagrave

Dewi. A. I.2008. Etika Dalam Hiikum Kesehatan. Yogyakarta: Pustaka Book

Publisher

Hidayat. A.A. 2008. Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta: Penerbit Salemba

Medika

Purba. 2009. Dilema Etik Dan Pengambilan Keputusan Etis. Jakarta