Anda di halaman 1dari 8

Niagahoster Blog

5+ Perbedaan B2B, B2C, & C2C Marketing yang Wajib Anda


Ketahui
Imas Indra 9 months ago

Banyaknya istilah marketing sering kali membuat pemula terintimidasi. Padahal, di balik
istilah-istilah ini, ada ilmu bisnis dan strategi yang bisa dipakai untuk mendukung usaha
Anda. Begitu halnya dengan istilah B2B, B2C, dan C2C.

Sebelum Anda terlanjur dibuat bingung, artikel ini akan menjelaskan ketiga istilah bisnis di
atas. Selain itu, kami juga akan membahas perbedaan B2B dan B2C serta akibatnya pada
strategi marketing yang dijalankan.

Daftar isi tutup


1 Apa yang Dimaksud dengan B2B, B2C, dan C2C?
2 Perbedaan B2B dan B2C
2.1 1. Target audiens atau pasar
2.2 2. Jumlah pembelian dan harga
2.3 3. Motivasi
2.4 4. Pembuatan keputusan
2.5 5. Hubungan penjual dengan pembeli
2.6 6. Persaingan
2.7 7. Strategi marketing
3 Lalu, bagaimana dengan C2C?
4 Kesimpulan

Apa yang Dimaksud dengan B2B, B2C, dan C2C?


Business to business (B2B)adalah sebuah model penjualan yang terjadi antara pelaku bisnis
dengan pelaku bisnis lainnya. Salah satu contoh B2B seperti importir spare part mesin
yang menjual barangnya ke pabrik tekstil. Bisa juga penjualan VPS, SSL, dan web hosting ke
web agency.

Business to consumer (B2C) adalah model penjualan antara pelaku bisnis dengan
konsumen. Contoh B2C ini rasanya lebih familiar dan bisa kita lihat sehari-hari. Mulai dari
berjualan makanan, jasa laundry, ojek, sampai salon adalah contoh B2C.

Customer to customer (C2C)adalah model bisnis di mana konsumen dari sebuah


marketplace menjual produk ke sesama konsumen lainnya. Model bisnis ini muncul
bersamaan dengan teknologi e-commerce. Contoh bisnis ini pun sangat familiar, seperti
Bukalapak, BliBli, Shopee, dan marketplace lainnya.

Dari penjelasan singkat ini, nampak jelas bahwa perbedaan B2B dan B2C terletak pada
target pembelinya. Barang yang ditawarkan bisa saja sama. Tapi, siapa yang membeli jadi
hal yang penting. Di sisi lain, C2C lebih menekankan pada pelaku bisnis yang sama-sama
merupakan konsumen.

Sekilas, perbedaan antara B2B dan B2C terlihat begitu tipis. Namun nyatanya, target pasar
yang berbeda saja bisa mengakibatkan perbedaan pada aspek-aspek lainnya. Di bagian
selanjutnya, Anda diajak untuk tahu lebih lanjut perbedaan penting model B2B dengan B2C.
Perbedaan B2B dan B2C
Perbedaan antara B2B dan B2C tidak cukup untuk Anda ketahui. Lebih dari itu, Anda perlu
memahami perbedaan antara keduanya. Perbedaan inilah yang akan ikut mempengaruhi
strategi marketing yang dijalankan.

Setidaknya ada tujuh perbedaan antara B2B dan B2C. Simak penjelasan lengkapnya di
bawah ini.

1. Target audiens atau pasar

Dilihat dari namanya, B2B dan B2C jelas memiliki target pasar yang berbeda.

B2B menyasar pelaku-pelaku bisnis, sedangkan B2C menargetkan pembelian oleh konsumen
perorangan. Dari sini saja terlihat bahwa perbedaan B2B dan B2C begitu besar.

Secara jumlah, prospek pasar B2B cenderung kecil. Bisa dibilang begitu karena jumlah
pengusaha atau produsen pastinya lebih kecil dibandingkan konsumennya. Itu mengapa
B2B memiliki potensi penjualan yang kecil dan spesifik.

Lain halnya dengan B2C yang menargetkan konsumen. Potensi pasar B2C sangat luas dan
kemungkinannya hampir tak terbatas. Bayangkan apa saja barang yang bisa dijual ke 264
juta penduduk Indonesia? Banyak sekali bukan? Inilah yang disebut sebagai kemungkinan
yang tak terbatas.

Meski perbedaannya begitu kentara, kita tak bisa mengatakan satu model bisnis lebih baik
di antara lainnya. Perbedaan keduanya hanyalah seperti alamat atau kebutuhan yang
berbeda. Dale Carnegie, seorang penulis dan ahli bisnis, menggambarkannya dalam sebuah
kutipan yang menarik.

“Personally, I am very fond of strawberries and cream, but I have found that for some
strange reason, fish prefer worms.”

Baca juga: 7 Langkah Membuat Strategi Content Marketing Untuk Bisnis

2. Jumlah pembelian dan harga

Dalam marketing, siapa yang membeli ikut mempengaruhi jumlah barang yang dibeli
berikut juga harganya. Untuk B2B misalnya, tidak perlu menjual barang dalam jumlah besar
untuk mendapatkan omzet tinggi. Karena pada dasarnya, harga per unit pada model B2B
sudah sangat tinggi.

Pun, tidak menutup kemungkinan kalau pembelian dalam skema B2B juga terjadi dalam
jumlah yang besar. Dari sebuah sumber dikatakan bahwa nilai rata-rata kontrak B2B milik
Lippo Group, Mbiz, berhasil mencetak rata-rata nilai kontrak sebesar Rp312 juta.

Berbeda halnya dengan marketing B2C. Model satu ini mengharuskan Anda menjual produk
dalam jumlah besar untuk memaksimalkan omzet. Tak lain, ini karena harga barang per
unitnya sudah sangat murah. Ditambah, tak banyak orang yang membeli barang-barang
retail dalam jumlah besar.

3. Motivasi

Untuk bisa menjalankan strategi pemasaran dengan baik, Anda perlu memahami motivasi
pembeli. Begitu juga dengan dua model pemasaran ini.

Memaksimalkan keuntungan, efisiensi pekerjaan, dan investasi ─ setidaknya itulah motivasi


yang dimiliki pembeli B2B. Klien membeli barang bukan untuk memenuhi kebutuhan
emosional. Justru sebaliknya, pertimbangan logis lah yang mendominasi alasan pembeli
produk B2B. Prinsip utama pembeli B2B kira-kira begini, kenapa dibeli kalau itu tak
menguntungkan?

Di sisi lain, motivasi pembeli barang-barang B2C sangatlah beragam. Bisa jadi pelanggan
membeli karena ingin mencoba produk baru, memanfaatkan momen promo, menyukai
produk yang dimaksud, membelikan barang untuk hadiah, alasan prestise, dan sebagainya.
Apapun alasannya, bisa dikatakan kalau motivasi mereka didasarkan pada sisi emosi.

Kalau pun pembeli menggunakan pertimbangan logis ─ membandingkan harga dan


komposisi ─  pembeli B2C hanya akan memakai produk untuk kebutuhannya sendiri.
Mereka tidak akan terpikir untuk menjual produk itu kembali.

4. Pembuatan keputusan

Klien bisnis B2B adalah klien bisnis yang logis. Klien ini perlu mempertimbangkan banyak
hal serta keuntungan jangka panjang sebelum membeli produk. Maka tak jarang, ada
banyak pihak yang dimintai pertimbangan.
Untuk sekali transaksi saja, sebuah perusahaan bisa meminta pertimbangan dari direktur,
manajer, bagian finansial, legal, dan marketing. Maka dari itu, tak heran jika proses
pembuatan keputusan hingga proses transaksi dilakukan dalam waktu yang lama.

Lain lagi dengan pembeli produk B2C. Karena produk yang akan dibeli digunakan dalam
lingkup yang sempit dan personal, pembuatan keputusan dilakukan secara individu. Kalau
pun ada pertimbangan dari orang lain, pertimbangan yang diberikan pun tidak akan
serumit B2B. Hasilnya, pembeli produk retail lebih cepat dalam membuat keputusan
sebelum pembelian.

5. Hubungan penjual dengan pembeli

Praktik bisnis B2B dan B2C memiliki hubungan antara penjual dan pembeli yang berbeda.
Sifat kontras ini sedikit banyak dipengaruhi oleh motivasi dan proses pembuatan
keputusan.

Dalam kasus B2B, misalnya. Proses yang panjang dan rumit membuat klien B2B bisnis
cenderung menjalin hubungan jangka panjang dengan supplier-nya. Sekali klien merasa
puas dan cocok dengan kualitas produk serta pelayanan, klien B2B kemungkinan akan terus
memakai supplier tersebut. Bisa dikatakan reputasi dan pengalaman menjadi faktor penting
bagi kesuksesan bisnis B2B.

Hal di atas sangat berbeda dengan hubungan B2C. Motivasi personal dan pengambilan
keputusan yang cepat membuat hubungan pembeli dan penjual berlangsung jangka pendek.
Ditambah, ada banyak pilihan produk dan promo di pasaran. Ini menyebabkan pelanggan
bisa dengan mudah berpindah ke satu produk ke produk lainnya. Tak aneh jika salah satu
tantangan bisnis B2C adalah meningkatkan loyalitas pelanggan.

Baca juga: Apa itu Inbound Marketing?

6. Persaingan

Persaingan merupakan hal biasa dalam bisnis. Tapi kita tetap perlu paham bagaimana
persaingan itu terjadi. Karena dengan itu, kita bisa menyusun strategi untuk memenangkan
persaingan.

Dilihat dari banyaknya pelaku bisnis, B2B memiliki tingkat persaingan yang sedikit rendah.
Model B2B belum banyak diminati di Indonesia. Sehingga pelaku-pelakunya kebanyakan
merupakan orang-orang lama.

Namun, persaingan sesungguhnya bagi B2B adalah soal reputasi dan koneksi. Untuk
mendapatkan klien, pemilik bisnis B2B harus meningkatkan reputasinya. Entah itu dari
pengetahuan dan keahlian maupun portofolio serta pengalaman melayani klien-klien
lainnya.

Reputasi tidak akan meningkat jika tidak memiliki koneksi. Dari mana B2B bisa
mendapatkan pengalaman jika belum pernah meng-handle klien? Tapi, tanpa reputasi B2B
pun tidak akan memiliki tambahan koneksi. Sedikit rumit, bukan?

Berbeda halnya dengan B2C. Dilihat dari banyaknya pelaku bisnis, B2C tentu memiliki
tingkat persaingan yang amat tinggi. Persaingan terjadi dalam berbagai sektor dan skala.
Mulai dari perusahaan kelas kakap sampai industri rumahan.

Maka tak aneh jika banyak B2C mempromosikan produknya secara besar-besaran.
Terkadang dengan merilis produk baru, memilih brand ambassador, dan bahkan membuat
promo serta diskon. Semuanya dilakukan untuk mempengaruhi pelanggan agar membeli
produk B2C.

Baca juga: Cara Membuat Review di WordPress

7. Strategi marketing

Sekian perbedaan yang telah disebut sebelumnya membentuk strategi marketing yang
spesifik.

B2B kerap menggunakan strategi marketing untuk meningkatkan reputasinya. Biasanya,


B2B menggunakan media untuk menampilkan berbagai konten dan portofolionya. Cara ini
akan meyakinkan calon klien bahwa sebuah bisnis memang memiliki keahlian di bidang
tersebut. Bisnis semacam ini juga memiliki public relation khusus untuk melakukan lobi ke
klien-klien yang diincar.

Strategi tersebut sedikit berbeda dengan B2C. Meski sama-sama membutuhkan reputasi,
bisnis B2C mewujudkannya dengan cara berbeda. Bisnis yang langsung menyasar
konsumen biasanya akan menggunakan strategi marketing yang bersifat emosional.
Artinya, konsumen bisa saja dibuat merasa senang, sedih, atau bangga hingga akhirnya
membeli produk yang diiklankan. Selain itu, banyak bisnis B2C yang gencar melakukan
promosi dan diskon.

Baca juga: 11+ Strategi Pemasaran Efektif untuk UKM

Lalu, bagaimana dengan C2C?


Model bisnis customer to customer (C2C) sangat mirip dengan model B2C. Mereka sama-
sama menargetkan konsumen yang membeli dalam jumlah terbatas. Motivasi dan
pengambilan keputusannya juga sangat personal dan berlangsung cepat.

Persaingan dan strategi marketing yang dijalankan pun serupa. C2C banyak menggunakan
media sosial untuk memuat promosi produk terbaru.

Baca juga: Ingin Memulai Bisnis Dropship? Simak Dahulu Artikel Ini

Tapi selain lewat media sosial, C2C juga banyak melakukan promosi di marketplace itu
sendiri.

Pelaku C2C harus rajin-rajin melakukan “Up” atau menekan tombol promosi agar
produknya bisa tampil di halaman depan marketplace.

Kesimpulan
Meski sama-sama menjual produk, ternyata B2B, B2C, dan C2C memiliki perbedaan yang
cukup signifikan. Kita belajar kalau ternyata perbedaan-perbedaan ini ikut mempengaruhi
bagaimana bisnis berjalan dan strategi marketing yang dipakai.

Ke depan, kami juga akan membahas strategi dan tips untuk menjalankan B2B dan B2C.
Penasaran, kan? Subscribe blog Niagahoster agar tak ketinggalan artikel-artikel menarik
lainnya.

Categories: Bisnis Online, Marketing

Tags: B2B, B2C, bisnis online, C2C, marketing

Leave a Comment
Niagahoster Blog
Back to top