Anda di halaman 1dari 19

Makalah Perencanaan Pendidikan

Sejarah Asal- Usul Perencanaan Pendidikan Dan Latar Belakang


Timbulnya
Di buat untuk melengkapi tugas Perencanaan Pendidikan

Disusun Oleh :

Ahmad Sulaiman (0332193011)

Dosen pembimbing:
Dr. Rahmat Hidayat, M.A

PROGRAM MEGISTER
MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA
T.A 2019/2020
DAFTAR ISI

Pendahuluan......................................................................................................3

Pembahasan .....................................................................................................5

Sejarah Asal- Usul Perencanaan Pendidikan dan LatarBelakang Timbulnya. .5

Kesimpulan.......................................................................................................18

Daftar Pustaka...................................................................................................19
BAB I

PENDAHULUAN

Setiap kegiatan yang mempunyai arah dan tujuan, memerlukan suatu perencanaan.
Tanpa perencanaan yang tepat, tujuan tidak akan dapatdicapai secara efektif dan efisien.
Kegiatan perencanaan bertujuan untuk menjamin agar tujuan yang telah ditetapkan
dapat dicapai dengan tingkatkepastian yang tinggi dan resiko yang dapat diprediksi.
Perencanaan merupakan tahapan paling penting dari suatu fungsi manajemen, terutama
dalam menghadapi lingkungan eksternal yang dinamis. Perencanaan merupakan proses
mendefinisikan tujuan organisasi, membuat strategi untuk mencapai tujuan, dan
mengembangkan rencana aktivitas kerjaorganisasi. Perencanaan merupakan proses
terpenting dari semua fungsimanajemen, karenanya tanpa perencanaan, fungsi-fungsi
lain seperti pengorganisasian, pengarahan, dan pengontrolan, tidak akan dapat berjalan.
Perencanaan pendidikan di Indonesia, secara nasional merupakansuatu proses
penyusunan alternatif kebijaksanaan mengatasi persoalan yang akan dilaksanakan dalam
rangka pencapaian tujuan pembangunan pendidikan nasional dengan
mempertimbangkan kenyataan-kenyataan yangada baik di bidang sosial, ekonomi,
sosial, kebudayaan dan kebutuhan pembangunan secara menyeluruh terhadap
pendidikan nasional.1
Telah diketahui bersama bahwa perencanaan pendidikan dalam artiyang seluas-luasnya,
adalah penggunaan analisa yang bersifat rasional dansistematik terhadap proses
pengembangan pendidikan yang bertujuan untuk menjadikan pendidikan menjadi lebih
efektif dan efisien dalam menanggapi kebutuhan dan tujuan peserta didik dan
masyarakat. Perencanaan pendidikan sebagai suatu strategi yang menghasilkan langkah-
langkah untuk menuju titik tujuan dengan arah yang ditetapkan oleh garis-garis
kebijaksanaan, yang sebenarnya mencakup tiga unsur pokok yang pentingdan berlaku
umum untuk semua jenis perencanaan, yaitu 1). Keadaan sekarang (data
dan informasi sebagai hasil potret atas situasi sekarang), 2).keadaan yang diharapkan ya
ng akan dituju dan dicapai (sasaran), dan 3). strategi pencapaian sasaran (langkah-
langkah. usaha, taktik atau cara).2

1
Enoch, Yusuf, Dasar-Dasar Perencanaan Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 1992), hlm.2-4
2
Vembriarto, ST, Pengantar Perencanaan Pendidikan,Yogyakarta, 1988, hlm. 39
Perencanaan pendidikan merupakan strategi atau cara untukmencapai tajuan
pendidikan agar dapat lebih efektif dan efisien. Penetapan prioritas kebutuhan dalam
perencanaan pendidikan merupakan salah satu aspek yang harus diperhatikan.3

Dengan perencanaan yang mapan, maka dapat diketahui hal-hal apa saja yang harus
dilakukan terlebih dahulu,sehingga tidak terjadi kekaburan dan kesimpangsiuran dalam
mengambil keputusan dan mengambil tindakan dalam pelaksanaan pendidikan.
Perencanaan pendidikan sebagai suatu alat dalam menentukan dan menetapkan langkah-
langkah serta usaha yang akan di ambil dalam mencapai tujuan pendidikan. 4 Dari
langkah yang ditetapkan tersebut akan diperkirakan kebutuhan-kebutuhan pendidikan di
masa depan yang perlu dilaksanakan terlebih dahulu atau untuk menentukan skala
prioritas dalam memenuhi kebutuhan pendidikan.

3
Husaini Usman, Manajemen: Teori, Praktik, dan Riset Pendidikan, (Jakarta : BumiAksara,
2006), hlm. 90.
4
Sindhunata, Pendidikan Kegelisahan Sepanjang Zaman, (Yogyakarta : Kanisius, 2001),hlm.
55.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Sejarah Asal- Usul Perencanaan Pendidikan Dan Latar Belakang Timbulnya


1. Sejarah Asal Usul Perencanaan Pendidikan

Secara konseptual, manajemen pendidikan meliputi perencanaan, pelaksanaan,


pengendalian, dan pengawasan mengenai (sumber daya manusia, sumber belajar,
kurikulum, dana, dan fasilitas) untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan
efisien. Perencanaan pendidikan mempunyai peran penting dan berada pada tahap awal
dalam proses manajemen pendidikan, yang dijadikan sebagai panduan bagi
pelaksanaan, pengendalian, dan pengawasan penyelenggaraan pendidikan.
Perencanaan merupakan suatu proyeksi tentang apa yang harus dilaksanakan guna
mencapai sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan. Sebagai suatu proyeksi,
perencanaan memiliki unsur kegiatan mengidentifikasi, menginventarisasi dan
menyeleksi kebutuhan berdasarkan skala prioritas, mengadakan spesifikasi yang lebih
rinci mengenai hasil yang akan dicapai, mengidentifikasi persyaratan atau kriteria untuk
memenuhi setiap kebutuhan, serta mengidentifikasi kemungkinan alternatif, strategi,
dan sasaran bagi pelaksanaannya.
Kebutuhan terhadap perencanaan pendidikan diakibatkan oleh adanya kompleksitas
masyarakat dewasa ini, seperti masalah jumlah penduduk, kebutuhan akan tenaga kerja,
masalah lingkungan, dan adanya keterbatasan sumber daya alam. Hal tersebut antara
lain dikemukakan Banghart dan Trull dalam bukunya yang menyatakan bahwa: “The
need for planning arose with the intensified complexcities of modern technological
society. Problems such as population, manpower needs, ecology, decreasing natural
resources and haphazard aplication of scientific developments all place demand on
educational institutions for solution”.
Sampai saat ini, pendidikan di Indonesia masih mengalami krisis besar karena
perkembangan dan kebutuhan akan pendidikan tidak dapat terpenuhi oleh
sumbersumber yang tersedia. Sejak beberapa tahun lalu, Coombs dan Manap
menghimbau agar pendidikan direncanakan secara seksama. Caranya dengan melihat
pada keterbatasan yang ada dan diarahkan kepada penyelenggaraan pendidikan yang
lebih sesuai dengan kebutuhan perkembangan masyarakat. Untuk mengatasi
permasalahan pendidikan secara komprehensif, Banghart dan Trull merekomendasikan
beberapa hal yang harus dicermati dalam merencanakan pendidikan, di antaranya (1)
mengidentifikasi berbagai kebijakan terkait dengan sistem pendidikan; (2) mengevaluasi
dan mempertimbangkan berbagai alternatif metode pendidikan dan dalam kaitannya
dengan masalah-masalah khusus pendidikan; (3) mencermati masalah-masalah kritis
yang memerlukan perhatian, penelitian, dan pengembangan; (4) mengevaluasi
keunggulan dan kelemahan sistem pendidikan yang ada; serta (5) melaksanakan kajian
terhadap sistem pendidikan dan komponen-komponennya. Perencanaan berfungsi
sebagai pemberi arah bagi terlaksananya aktivitas yang disusun secara komprehensif,
sistematis, dan transparan. Perencanaan yang baik adalah perencanaan yang paling
mungkin untuk dilaksanakan. Melalui perencanaan dapat dijelaskan tujuan yang akan
dicapai, ruang lingkup pekerjaan yang akan dijalankan, orang-orang yang terlibat dalam
pekerjaan itu, berbagai sumber daya yang diperlukan, serta langkah-langkah dan metode
kerja yang dipilih berdasarkan urgensi dan prioritasnya.
Semua itu menjadi arah dan panduan dalam mengorganisir unsur manusia dalam
pendidikan, pengerahan, dan pemanfaatan berbagai sumber daya guna menunjang
proses pencapaian tujuan dan dapat dijadikan sebagai alat pengendalian tentang
pencapaian tujuan. Kekeliruan dan kesalahan semestinya dapat dihindari dengan adanya
rencana yang komprehensif, terintergrasi, dan berdasarkan pada pemilihan strategi yang
tepat. Ketepatan dan keberhasilan dalam perencanaan menjadi barometer suksesnya
pelaksanaan kegiatan dan bermaknanya proses pengendalian kegiatan serta menjadi
kunci bagi efisiensi pemanfaatan berbagai sumber daya dan efektivitas dalam
pencapaian tujuan.
Dalam banyak literatur yang dikaji dan dipelajari bahwa asal usul perencanaan
pendidikan dimulai dari sejak zaman kuno, di mana pada masa itu para ahli filsafat dan
ahli pendidikan sudah memiliki gagasan tentang perencanaan pendidikan yang bersifat
spekulatif seperti yang dikemukakan Xenepon dalam “Konstitusi
Lacedaemonian” yang menunjukkan kepada orang-orang Athena bahwa bangsa Sparta
pada 2500 tahun yang lalu telah merencanakan pendidikannya untuk tujuan militer,
sosial, dan ekonomi mereka. Kemudian, Plato dalam bukunya “Republic” membuat
suatu rencana pendidikan yang dapat memenuhi kebutuhan pemimpin dan kebutuhan
politik bangsa Athena, kemudian pada masa dinasti Han di Cina dan kebudayaan Inca di
Peru telah dikenal adanya perencanaan pendidikan dengan tujuan memenuhi berbagai
kebutuhan masyarakat. Dalam beberapa literatur pada pertengahan abad ke-16, John
Knot seorang berkebangsaan Scotlandia mengusulkan suatu rencana untuk sistem
persekolahan dan kursus-kursus masional sehingga bangsa Scot memiliki keterpaduan
antar kepuasan spiritual dan sosial. Kemudian pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-
19 di benua Eropa banyak diciptakan sistem dan slogan tentang pendidikan yang
dimaksudkan untuk pembaruan dan peningkatan sosial, begitu juga di Polandia terdapat
rencana yang disusun Rousseau yang menyatakan agar setiap warga Polandia
memperoleh pendidikan.5
Usaha modern dalam perencanaan pendidikan untuk membantu merealisasikan
masyarakat baru ditemukan di Uni Soviet pada tahun 1923 walaupun metodologinya
dianggap kuno jika dibandingkan masa sekarang, tetapi rencana tersebut merupakan
permulaan dari proses perencanaan pendidikan yang komprehensif dan
berkesinambungan yang dapat membantu mengubah suatu bangsa, dalam kurun waktu
kurang dari 50 tahun suatu bangsa yang mulai dengan 2/3 warganya buta huruf, menjadi
salah satu negara yang tergolong maju pendidikannya.6
 Contoh-contoh perkembangan historis perencanaan pendidikan tersebut bervariasi,
baik dalam teba telaah, tujuan dan kompleksitasnya. Ada yang berlaku untuk seluruh
bangsa, ada yang hanya ditujukkan kepada satu lembaga pendidikan. Ada yang hanya
musiman, namun ada juga yang merupakan proses yang terus menerus dalam kurun
waktu yang cukup lama. Ada yang berada dalam susunan yang sangat otoriter dan ada
yang berada dalam susunan yang lebih demokratis dan pluralities. Perencanaan
pendidikan yang sekarang berlaku selain bersumber dari contoh-contoh di atas, juga
bersumber dari perencanaan pendidikan yang bersifat rutin dan tersebar, yang harus
dihadapi oleh mereka yang bertanggung jawab terhadap administrasi lembaga
pendidikan. Kalau dikaji lebih mendalam, perencanaan pendidikan pada awal
perkembangannya, terutama yang berlaku sebelum Perang Dunia II, ternyata memiliki
empat ciri nyata, yakni:
a. Berpandangan jangka pendek, hanya berlaku sampai tahun anggaran berikutnya
(kecuali apabila fasilitas-fasilitas harus dibuat atau suatu program utama yang
harus ditambahkan, dalam hal ini ruang lingkup perencanaan sedikit diperluas).
5
Matin. (2013). Perencanaan Pendidikan, Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada, hlm : 28
6
Ibid.hlm : 28-29
b. Sistem pendidikan yang fragmentaris sifatnya : bagian-bagian direncanakan
sendiri-sendiri.
c. Tidak terintegrasi, dalam arti lembaga pendidikan direncanakan sendiri tidak ada
hubungan yang nyata dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat serta
ekonomi pada umumnya.
d. Bentuk perencanaan yang tidak dinamis, suatu model pendidikan yang statis,
cirri-cirinya tidak berubah dari tahun ke tahun.7
2. Perencanaan Pendidikan Pada Awal Dan Perang Dunia II
Dalam buku Jusuf Enoch yang berjudul Dasar-Dasar Perencanaan
Pendidikan (1995) dijelaskan bahwa kondisi perencanaan pendidikan pada awal dan
masa Perang Dunia II adalah dimulai pada tahun 1923 di Uni Soviet atau Rusia
sekarang, ditemukannya dokumen Rencana Lima Tahun Pertama (The First Five for
Young Soviet Union) yaitu konsep yang rasional, sebagai suatu pendekatan ilmiah untuk
menanggulangi masalah dengan menetapkan tujuan, memilih alternative dengan
maksud mengoordinasikan pembangunan pendidikan dengan pembangunan social dan
ekonomi. Selanjutnya pada tahun 1929, di Prancis lahirlah apa yang disebut sebagai
“Tardieu Plan” yang kemudian disusul dengan “Maquet Plan” pada tahun 1934.
Perencanaan pendidikan disusun sebagai bagian dari perencanaan ekonomi suatu
Negara. Tahun 1939 di Amerika Serikat lahir suatu istilah yang disebut “New Deal
Planning”, dimana perencanaan pendidikan disusun sebagai bagian dari perencanaan
pembangunan ekonomi suatu Negara. Kemudian tahun 1941 di Swiss lahir jenis
perencanaan yang sama yaitu dengan nama “Wahlen Plan for Agriculture”, dan tahun
1942 jenis perencanaan yang sama disusun di Puerto Riko (Amerika Latin).8
3. Perencanaan Pendidikan Setelah Perang Dunia II
Pada banyak literatur dijelaskan bahwa sejak tahun 1950, Negara-negara yang baru
merdeka mulai menyadari akan pentingnya perencanaan pendidikan sebagai alat untuk
pengembangan pendidikan di masa yang akan datang. Pada tahun 1951-1955, di India
ada suatu repelita di mana perencanaan pendidikan merupakan bagian dari kerangka
pembangunan social dan ekonomi. Ghana (Afrika) tahun 1951, memiliki suatu rencana
delapan tahun di mana perencanaan pendidikan merupakan bagian dari kerangka

7
Harbangan Siagian.Administrasi Pendidikan Suatu Pendekatan Sistem, Cet. I, Semarang :
Satya Wacana, hlm : 155-156
8
Matin. Dasar-Dasar Perencanaan Pendidikan. hlm : 29
pembangunan pendidikan mendapatkan tempat terpenting. Di Myanmar (dulu Birma)
tahun 1952, ada suatu rencana pendidikan yang lamanya empat tahun. Perencanaan
yang sama kemudian disusul di Columbia (Amerika Latin) tahun 1957, di Maroko
(Afrika) dan di Pakistan (Asia) tahun 1958, Tunisia (Afrika) tahun 1959.Beberapa
konferensi regional yang penting dalam rangka pembinaan dan pengembangan
perencanaan pendidikan ialah:
a. Amerika (Amerika Serikat dan Latin) :The Inter-American Seminar on Overall
of Education yang dilaksanakan di Washington D. C. pada 1958 bekerja sama
dengan UNESCO. Di Chile tahun 1962 Santiago de Chile Conference.
b. Asia : Karachi Conference pada Desember 1959 dan  Tokyo Conference pada
April tahun 1962
c. Afrika : konferensi Adis Ababa Conference pada Mei 1961, Paris
Conference pada Maret 1964, dan Nairobi Conference  Februari tahun 1968.
d. Negara-negara Arab :Beirut Conference pada Februari tahun 1960, dan Tripolli
Conference pada April tahun 1966.
e.  Eropa dan Amerika Utara :Washington Conference tahun 1961.9
Pada tahun 1961-1965 UNESCO membentuk empat Pusat Pelatihan Perencanaan
Pendidikan Regional dan Satu Institut Internasional yang akan menyiapkan latihan bagi tenaga
professional dalam bidang perencanaan pendidikan, yaitu:
a. Beirut (Lebanon) tahun 1961 didirikan Regional Center for Education Planning
and Administration for Arab Countries.
b. New Delhi (India) tahun 1962 didirikan Asian Institute of Education Planning
and Administration.
c. Santiago (Chile) tahun 1962 didirikan Educational Planning Section of the Latin
American Institut of Economic and Social Planning yang pada tahun 1968
berubah menjadi Regional Institute of Educational Planning and Administration
for Latin American and Caribbean.
d. Dakar (Maroko) pada tahun 1965 didirikan Regional Educational Planning and
Administration for African Countries.
e. Paris (Prancis) pada tahun 1962 General Conference UNESCO menyetujui
berdirinya International Institute of Educational Planning (IIEP).
4. Perkembangan Perencanaan Pendidikan Di Indonesia
9
Matin. Dasar-Dasar Perencanaan Pendidikan. hlm : 30-31
Perkembangan perencanaan pendidikan di Indonesia baru bisa dimulai pada tahun
1967-1968 dimana seorang ahli perencanaan ekonomi berkebangsaan Belanda yang
bernama lengkap Prof. Dr. Tindbergen pernah datang ke Indonesia untuk memberikan
semangat kepada para pejabat pendidikan agar mulai belajar teknik-teknik secara
sistematis sekalipun belum adanya unit di lingkungan Kementrian Pendidikan dan
Kebudayaan yang menangani perencanaan. Baru pada akhir tahun 1968, di lingkungan
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tingkat pusat ada unit yang menangani
perencanaan yaitu Badan Pengembangan Pendidikan (BPP) sedangkan pada tingkat
provinsi dan kabupaten/kota belum ada.
Pada tahun1969, biro keuangan Setjen Depdikbud diberi tugas dan kewenangan
menyusun perencanaan kemendikbud, sedangkan yang berwenang menyusun
pembangunan adalah sekretaris BPP. BPP di bagi kedalam suatu tugas umum dan
satuan ugas khusus. Di lingkungan Dirjen, Irjen, Badan, dan unit pusat lainnya.
Perencanaan dilakukan dan keuangan yang ada pada sekretaris unit-unit tertentu.10
Pada tahun 1970, berdiri proyek Nasional Percontoh Pendidikan di sumatera barat
dan tahun 1971 di jawa tengah dan DIY. Tahun 1973 di dirikan proyek perintis
perencanaan integral pendidikan daerah di Sumatera Barat dan di Jawa Timur tshun
1974. Selesai tahun 1979. Di kantor perwakian kemendikbd Sulawesi Selatan terdapat
Badan Pengembangan Pendidikan Daerah (BPPD) yang berfungsi melaksanakan
beberapa kegiatan perencanaan sepeti menyusun program dan proyek pelita, dan hasil
penyusunan hasil-hasil pelita.
Pada tahun 1975, terjadi penyempurnaan struktur organisasi Kemendikbud dan,
pengalian tugas perencanaan umum dan khusus dari BPP ke
SetjenKemendikbud. Dilingkungan sekjen Kemendikbud dibentuk biro perencanaan
yang bertugas menyusun perencana dan program rutin dan pembangunan setiap tahun,
melakukan koordinasi perencanaan, dan mengusahakan keserasian diantara rencana-
rencana sektoral maupun regional. Pada kantor wilayah dibentuk bagian perencanaan
yang bertanggung jawab menyusun perencanaan tahuan rutin dan pembangunan.11Tugas
bagian perencanaan adalah mempersiapkan rencana, mengolah, menelaah, dan
mengkoordinasikan program pelaksaan sesuai dengan tugas kanwil kemendikbud

10
Syaefudin Udin Sa’ud, Abin Syamsudin Makmun, 2009, Perencanaan Pendidikan, Bandung:
PT Remaja Resdakarya. Hal: 32
11
Syaefudin Udin Sa’ud, Abin Syamsudin Makmun,, Perencanaan Pendidikan. Hal: 33-34
provinsi antar wilayah. Bagian perencanaan terdiri dari tiga sub bagian yaitu: sub bagian
pengumpulan, dan pengolahan data, sub bagian perumusan informasi, perencanaan dan
program dan sub pengendalian.Dipusat, BPP diubah namanya menjadi badan penelitian
dan pengembangan pendidikan dan kebudayaan (BP3K). BP3K berfungsi
mengembangkan penelitian terpakai untuk menemukan pola perencanaan pendidikan
litas sektoral di daerah, melakukan penelitian untuk menemukan pola penataran bagi
petugas perencanaan di daerah, dan membantu kanwil di provinsi dalam menemukan
cara-cara yang efektif dalam melakukan fungsi-fungsi perencanaan.
Sejak tahun 1982, dilingkungan kemndikbud telah dilaksanakan sistem dan
mekanisme perencaan terpadu rutin dan pembangunan sebagai upaya mensatu
bahasakan pola pikir dalam perencanaan pendidikan dan kebudayaan. Semua kegiatan
pendataan, penyusunan rencana dan program yang didasarkan pada kebijakan kanwil
maupun kemendikbud.12
5. Sejarah Perencanaan Pendidikan Nasional
Perkembangan perencanaan pendidikan di Indonesia baru bisa dimulai pada tahun
1967- 1968 dimana seorang ahli perencanaan ekonomi kebangsaan belanda yang
bernama lengkap Prof. Dr. Tindbergen pernah datang keindonesia untuk memberikan
semangat kepada para pejabat pendidikan agar mulai belajar teknik- teknik secara
sistematis sekalipun belum adanya unit di lingkungan Kementrian Pendidikan dan
Kebudayaan yang menangani perencanaan. Baru pada akhirnya tahun 1968, di
lingkungan Departeman Pendidikan dan Kebudayaan Tingkat Pusat ada unit yang
menangani perencanaan yaitu Badan Pengembangan Pendidikan (BPP)sedangkan pada
tingkat provinsi dan kabupaten/kota belum ada.
Pada tahun 1969, biro keuangan Setjen Depdikbud diberi tugas dan kewenangan
menyusun perencanaan kemendikbud, sedangkan yang berwenang menyusun
pembangunan adalah sekretaris BPP. BPP di bagikedalam suatu tugas umum dan satuan
ugas khusus. Di lingkungan Dirjen,Irjen, Badan, dan unit pusat lainnya. Perencanaan
dilakukan dan keuanganyang ada pada sekretaris unit-unit tertentu.13
Pada tahun 1970, berdiri proyek Nasional Percontohan Pendidikan disumatera barat
dan tahun 1971 di jawa tengah dan DIY. Tahun 1973 didirikan proyek perintis

Matin. Dasar-Dasar Perencanaan Pendidikan .Hlm : 34-35


12

13
Harbangan Siagian,  Administrasi Pendidikan Suatu Pendekatan Sistem, Cet. I,(Semarang :
Satya Wacana, 1989), hlm.32
perencanaan integral pendidikan daerah di SumateraBarat dan di Jawa Timur tahun
1974, selesai tahun 1979. Di kantor perwakian Kemendikbud Sulawesi Selatan terdapat
Badan Pengembangan PendidikanDaerah (BPPD) yang berfungsi melaksanakan
beberapa kegiatan perencanaan seperti menyusun program dan proyek pelita, dan
hasilpenyusunan hasil-hasil pelita.
Pada tahun 1975, terjadi penyempurnaan struktur organisasiKemendikbud dan,
pengalian tugas perencanaan umum dan khusus dariBPP ke Setjen Kemendikbud.
Dilingkungan sekjen Kemendikbud dibentuk biro perencanaan yang bertugas menyusun
perencana dan program rutindan pembangunan setiap tahun, melakukan koordinasi
perencanaan, dan mengusahakan keserasian diantara rencana-rencana sektoral maupun
regional. Pada kantor wilayah dibentuk bagian perencanaan yang ber-tanggung jawab
menyusun perencanaan tahuan rutin dan pembangunan.14
Tugas bagian perencanaan adalah mempersiapkan rencana,mengolah, menelaah, dan
mengkoordinasikan program pelaksaan sesuaidengan tugas kanwil kemendikbud
provinsi antar wilayah. Bagian perencanaan terdiri dari tiga sub bagian yaitu: sub bagian
pengumpulan,dan pengolahan data, sub bagian perumusan informasi, perencanaan
danprogram dan sub pengendalian.Dipusat, BPP diubah namanya menjadibadan
penelitian dan pengembangan pendidikan dan kebudayaan (BP3K).BP3K berfungsi
mengembangkan penelitian terpakai untuk menemukan pola perencanaan pendidikan
litas sektoral di daerah, melakukan penelitian untuk menemukan pola penataran bagi
petugas perencanaan di daerah, dan membantu kanwil di provinsi dalam
menemukan cara-cara yang efektifdalam melakukan fungsi-fungsi perencanaan.
Sejak tahun 1982, dilingkungan kemendikbud telah dilaksanakan sistem dan
mekanisme perencaan terpadu rutin dan pembangunan sebagai upaya mensatu
bahasakan pola pikir dalam perencanaan pendidikan dan kebudayaan. Semua kegiatan
pendataan, penyusunan rencana dan programyang didasarkan pada kebijakan kanwil
maupun kemendikbud.15
6. Perencanaan Pendidikan Nasional Tahun 2005-2025
Rencana Pembangunan Pendidikan Nasional (Jangka Panjang) Ini dimaksudkan
sebagai pedoman bagi penentuan penekanan pelaksanaan kebijakan pembangunan
pendidikan nasional jangka menengah, dalam memastikan tercapainya visi dan misi
14
Ibid. 33-34
15
Ibid. Hal. 34-35
departemen dengan penurunan program kerja yang realistis, teritegrasi, dan
berkesinambungan.
Dalam rencana pembangunan jangka panjang DepartemenPendidikan Nasional
2005-2025, digunakanlah empat tema strategi pembangunan pendidikan, yaitu : (1)
peningkatan kapasitas danmodernisasi, (2) penguatan pelayanan, (3) daya saing
regional, dan (4) dayasaing internasional.
Setiap tema strategis pembangunan pendidikan jangka panjang diatas, akan
diturunkan dalam program kerja Departemen sesuai kebijakan pembangunan jangka
menengah yang menekankan pada 3 tantangan utama,yaitu : (1) pemerataan dan
perluasan akses; (2) peningkatan mutu, relevansidan daya saing; dan (3) peningkatan
tata kelola, akuntabilitas dan citrapublik. Berikut adalah jabaran mengenai rencana
pembangunan jangka panjang yang telah ditetapkan untuk periode 2005-2025.
a. Periode 2005- 2010: Peningkatan Kapasitas dan Modernisasi
Lima tahun pertama dalam rencana pembangunan jangka panjang (RPJP) guna
terciptanya insan Indonesia yang cerdas dan kompetetif dalam tatanan masyarakat lokal
dan global difokuskan pada peningkatan daya tampung satuan pendidikan yang ada.
Terlihat dalam analisa situasi pendidikan nasional sampai dengan saat ini bahwa
kebutuhan/melebihisediaan/ sarana dan prasarana pendidikan. Terlebih jika
diperbandingkanantara pola sebaran penduduk Indonesia dan keberadaan infrastruktur
pendidikan yang masih menuntut perhatian lebih. Apabila telah terjadi keseimbangan
yang efektif antara kuantitas manusia Indonesia dengan kapasitas pendidikan nasional
maka poin utama dalam mencerdaskan kehidupan bangsa telah tercapai.
Salah satu kendala dalam pemerataan pendidikan di Indonesia adalah cakupan
geografisnya yang luas. Hal ini memerlukan modernisasi padasistem dan jaringan
informasi menggunakan TIK yang memadai. Luasnya wilayah kedaulatan Republik
Indonesia dan luasnya sebaran penduduknya dapat dipersatukan dengan jaring-jaring
teknologi informasi.
Modernisasi dengan menggunakan TIK juga dapat meningkatkan sistem
pengawasan pada implementasi program-program pendidikan.Dilengkapi dengan sistem
informasi manajemen yang tangguh, tantangan untuk mewujudkan sistem tata kelola
yang sehat, efisien, dan akuntabel akan lebih mudah tercapai. Citra Depdiknas sebagai
salah satu institusi pemerintah pun dapat terangkat.
Tema pokok pembangunan pendidikan nasional periode tahun 2005-2010 ini yang
berkonsentrasi pada kapasitas dan modernisasi sangat mendukung program pemerintah,
yaitu Pendidikan untuk Semua. Pemerataan akses pendidikan ke seluruh lapisan
masyarakat dan ke seluruh pelosok negeri akan mempertinggi APS dan mengurangi
angka buta aksara sehingga IPM Indonesia akan semakin baik. Perencanaan, proses, dan
evaluasi kerja yang sesuai dan berkesinambungan akan mewujudkan transformasi
rakyat Indonesia menuju masyarakat yang berbasis pengetahuan. Kesepakatan dan
komitmen terhadap tata nilai, terbentuknya sistem dan prosedur kerja, tersusun dan
tertatanya produk hukum dan struktur organisasi, meningkatnya akuntabilitas publik,
dan sasaran-sasaran lainnya yang relevan akan sangat diperlukan guna mendukung
temastrategis pada periode ini.
b. Periode 2010- 2015: Penguatan Pelayanan
Tema Strategis pada periode tahun 2010-2015 ditekankan pada pembangunan
penguatan pelayanan. Setelah rasio kebutuhan dan sediaansarana dan prasarana
pendidikan nasional menjadi optimal, focus selanjutnya adalah bagaimana
meningkatkan mutu pendidikan agar relevandan berdaya saing. Sasaran dan program-
program kerja yang terkait harus mampu menjawab tuntutan mutu dari kapasitas
pendidikan yang semakinbesar dan desentralisasi fiskal serta otonomi daerah yang
semakin dewasa.Strategi penguatan pelayanan ini merupakan milestone peralihan fokus
atau penekanan dari pembangunan aspek kuantitas kepada aspek kualitas. Didampingi
akses pendidikan yang semakin mudah dan akuntabilitas publik yang semakin
transparan, tema mutu layanan pendidikan ini akan menciptakan para penggerak
pembangunan menuju visinegara dan bangsa Indonesia yang aman, adil, dan sejahtera.
Sasaran-sasaran pendukungnya antara lain implementasi dan operasi yang optimal
terhadap tata nilai, Sisdur, dan koordinasi kerja yang telah terstruktur. Pada periodeini
pula, Departemen Pendidikan Nasional diharapkan menjadi benchmarktechnocracy atau
teladan di antara institusi pemerintah lainnya.
c. Periode 2015- 2020: Daya Saing Regional
Salah satu elemen pada deklarasi visi pendidikan nasioanl tahun 2025 adalah
kompetitif pada tingkatan global. Oleh karena itu, pada periode pembangunan tahun
2015-2020 difokuskan pada kualitas pendidikan yang memiliki daya saing regional pada
tingkat ASEAN terlebih dahulu. Standar mutu yang berkesinambungan pada periode ini
diharapkan relevan denganpasar regional ASEAN. Standar tersebut harus berdasarkan
pada yang obyektif dan realistis.
Program kerja yang berdasarkan pemahaman terhadap perkembangan kebutuhan
pasar regional menjadi faktor yang sangat penting dalam mencapai daya saing yang
diinginkan. Kegagalan dalam menciptakan mutu pendidikan yang tinggi sesuai dengan
kebutuhan atau yang tidak memiliki daya saing hanya akan mencetak angka
pengangguran baru.
Program manajemen pendidikan melalui standarisasi, penjaminan mutu, kemudian
akreditasi satuan atau program pendidikan yang telah mulai dilakukan sebelumnya akan
lebih difokuskan dalam periode ini.Semua itu dilakukan tanpa mengesampingkan
program-program sebelumnya yang berhubungan dengan kemudahan akses pendidikan
dan akuntabilitas publik dalam pelaksanaannya.
Sasaran-sasaran pembangunan yang melandasi kebijakan strategis pada periode ini
meliputi terbentuk dan beroperasinya sistem layanan dengan standar tingkat ASEAN,
citra Depdiknas yang telah lintas negaraASEAN, kerja sama antara negara-negara
ASEAN terutama dalam bidang pendidikan yang semakin mantap, dan hal-hal lain yang
relevan.Harapannya manusia Indonesia pada akhir periode ini sudah bisa menjadi titik
pusat gravitasi sosial ASEAN sebagai sebuah entitas sosiokultural.
d. Periode 2020- 2025: Daya Saing Internasional

Menjelang perwujudan visi rencana pembangunan jangka panjang (RPJP) yang


ditargetkan terwujud pada tahun 2025 ini, maka dalam periode pembangunan
pendidikan nasional tahun 2020-2025 dicanangkan pencapaian nilai kompetitif secara
internasional. Setelah pada RPJM lima tahunan sebelumnya, pencapaian tingkatan mutu
pendidikan nasional Indonesia telah relevan dan memiliki daya saing di tingkat regional
ASEAN,maka pada periode ini tingkatan yang ingin dicapai telah berkelas dunia.
Semakin mengglobalnya industri dan jasa, termasuk jasa pendidikan maka sudah
seharusnya Depdiknas dapat menyelenggarakan program pendidikan skala nasional
dengan mutu internasional, sehingga pendidikan nasional bangsa Indonesia minimal
menjadi tuan rumah di negaranya sendiri. Aspek sosial, budaya, ekonomi, dan politik
dapat terus terjaga keasriannya di negeri sendiri. GATS adalah contoh komitmen
bangsa-bangsadi dunia dalam menyelenggarakan globalisasi perdagangan jasa dan
industry termasuk pula jasa pendidikan.
Dengan menuju terciptanya standar mutu pendidikan berkelas internasional,
Depdiknas harus mempunyai sistem layanan standar internasional, citra yang kuat dan
mewakili visi pembangunan bangsaIndonesia, dan kerja sama yang erat dengan bangsa-
bangsa lain terutama dibidang pendidikan. Sasaran-sasaran tersebut dan lainnya yang
dijabarkandari kebijakan strategis pada periode ini akan membawa kepada perwujudan
visi Depdiknas di tahun 2025.
Tonggak-tonggak keberhasilan dalam rentang waktu lima tahunan merupakan
bagian dari rencana jangka panjang pembangunan pendidikan tahun 2005 sampai
dengan 2025. Tonggak-tonggak keberhasilan mengejewantahkan kebijakan strategis
proses perencanaan, implementasi,dan evaluasi yang berkesinambungan sesuai dengan
kondisi yang ada (existing condition) untuk mewujudkan kondisi yang diharapkan
(exceptedcondition).
Semua tantangan dari segi akses, mutu, dan akuntabilitas pun dapat terjawab oleh
program-program kerja yang relevan dengan kebijakan pada tiap periode. Dengan
demikian, visi insan Indonesia cerdas dan kompetitif berdasarkan sistem pendidikan
yang berkeadilan, bermutu, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat lokal dan global
dapat terwujud pada tahun2025. 16

7. Tujuan Perencanaan Pendidikan


Pada dasarnya tujuan perencanaan pendidikan adalah sebagai pedoman untuk
mencapai sasaran yang telah ditetapkan dalam dunia pendidikan dan juga sebagai suatu
alat ukur di dalam membandingkan antara hasil yang dicapai dengan harapan. Namun,
jika diurai lebih lanjut maka dapat kita temukan beberapa tujuan perencanaan
pendidikan antara lain:
a. Untuk standar pengawasan pola perilaku pelaksana pendidikan, yaitu untuk
mencocokkan antara pelaksanaan atau tindakan pemimpin dan anggota
organisasi pendidikan dengan program atau perencanaan yang telah disusun.
b. Untuk mengetahui kapan pelaksanaan perencanaan pendidikan itu diberlakukan
dan bagaimana proses penyelesaian suatu kegiatan layanan pendidikan

16
https://muhsinpamungkas.files.wordpress.com/2011/05/bab_iv _rencana_pembangunan_pendid
ikan_nasional_jangka_panjang.pdf , diakses padatanggal 11 Mei 2019
c. Untuk mengetahui siapa saja yang terlibat (struktur organisasinya) dalam
pelaksanaan program atau perencanaan pendidikan, baik aspek kualitas maupun
kuantitasnya, dan baik menyangkut aspek akademik-non akademik.
d. Untuk mewujudkan proses kegiatan dalam pencapaian tujuan pendidikan secara
efektif dan sistematis termasuk biaya dan kualitas pekerjaan.
e. Untuk meminimalkan terjadinya beragam kegiatan yang tidak produktif dan
tidak efisien, baik dari segi biaya, tenaga dan waktu selama proses layanan
pendidikan.
f. Untuk memberikan gambaran secara menyeluruh (integral) dan khusus (spefisik)
tentang jenis kegiatan atau pekerjaan bidang pendidikan yang harus dilakukan.
g. Untuk menyerasikan atau memadukan beberapa sub pekerjaan dalam suatu
organisasi pendidikan sebagai suatu sistem.
h. Untuk mengetahui beragam peluang, hambatan, tantangan dan kesulitan yang
dihadapi organisasi pendidikan.
i. Untuk mengarahkan proses pencapaikan tujuan pendidikan.17

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan

Perencanaan merupakan suatu alat dalam menentukan dan menetapkan langkah-


langkah dalam mencapai suatu tujuan pendidikan yang sudah ditetapkan sebelumnya.

17
S. Sagala, Manajemen Strategi Dalam Peningkatan Mutu Pendidikan, (Bandung: Alfabeta,
2009), h. 30
Dari setiap langkah- langkah yang telah ditetapkan sebelumnya dari tujuan tersebut
diharapkan dapat untuk memperkirakan kebutuhan- kebutuhan pendidikan dimasa
mendatang yang perlu dilaksanakan terlebih dahulu dari kebutuhan pendidikan. Namun
dismping itu perencanaan pendidkan merupakan suatu alat untuk mengatur suatu sistem
pendidikan dengan kebutuhan dan aspirasi seseorang dan masyarakat tersebut.

Daftar Pustaka

Enoch, Yusuf, Dasar-Dasar Perencanaan Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 1992)


Harbangan Siagian, Administrasi Pendidikan Suatu Pendekatan Sistem, Cet. I,
(Semarang : Satya Wacana, 1989)
Harbangan Siagian. Administrasi Pendidikan Suatu Pendekatan Sistem, Cet. I,
Semarang : Satya Wacana, hlm
https://muhsinpamungkas.files.wordpress.com/2011/05/bab_iv _rencana_pembangunan
_pendidikan_nasional_jangka_panjang.pdf , diakses padatanggal 11 Mei
2019
Husaini Usman, Manajemen: Teori, Praktik, dan Riset Pendidikan, (Jakarta :
BumiAksara, 2006)
Matin. (2013). Perencanaan Pendidikan, Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada.
S. Sagala, Manajemen Strategi Dalam Peningkatan Mutu Pendidikan, (Bandung:
Alfabeta, 2009)

Sindhunata, Pendidikan Kegelisahan Sepanjang Zaman, (Yogyakarta : Kanisius, 2001)


Syaefudin Udin Sa’ud, Abin Syamsudin Makmun, 2009, Perencanaan Pendidikan,
Bandung: PT Remaja Resdakarya.
Vembriarto, ST, Pengantar Perencanaan Pendidikan,Yogyakarta, 1988