Anda di halaman 1dari 22

UPAYA PENGELOLA OBJEK WISATA MUSEUM

SULTAN MAHMUD BADARUDIN II PALEMBANG


DALAM MENYAMPAIKAN EDUKASI KOMUNIKASI

PROPOSAL SKRIPSI

Dibuat untuk memenuhi syarat menyelesaikan


Pendidikan Strata 1 Program Studi Usaha Perjalanan Wisata
Politeknik Negeri Sriwijaya

Oleh:
Novary Gita Akbarsyah
0613 4061 1565

PROGRAM STUDI USAHA PERJALANAN WISATA


JURUSAN ADMINISTRASI BISNIS
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
2017
PROPOSAL

1. Judul Penelitian : UPAYA PENGELOLA OBJEK WISATA MUSEUM


SULTAN MAHMUD BADARUDDIN II
PALEMBANG DALAM MENYAMPAIKAN
EDUKASI KOMUNIKASI
2. Jenis Skripsi :Penelitian
3. Mata Kuliah :Komunikasi Bisnis
4. Pendahuluan :
4.1. Latar Belakang Masalah
Perkembangan pariwisata di Indonesia dewasa ini mengalami peningkatan
yang cukup signifikan. Peningkatan tersebut dilihat dari jumlah wisatawan
mancanegara yang mengunjungi indonesia semakin meningkat dari tahun ke
tahun. Sektor pariwisata di indonesia telah menjadi salah satu program prioritas
pemerintah yang harus ditingkatkan karena pariwisata akan membawa dampak
yang signifikan terhadap perekonomian. Pada saat ini dapat dirasakan bahwa
perkembangan pariwisata membawa dampak yang manis terhadap
perkembangan perekonomian Indonesia. Dari sektor pariwisata Indonesia telah
berkontribusi pula dalam bidang perekonomian. Peningkatan jumlah
kunjungan wisatawan ini dipengaruhi juga oleh berbagai jenis pariwisata yang
ada di Indonesia, adapun jenis wisata tersebut adalah wisata alam, wisata
buatan, dan wisata budaya.
Wisata alam merupakan kegiatan rekreasi dan pariwisata yang
memanfaatkan potensi alam untuk menikmati keindahan alam baik yang masih
alami atau sudah ada usaha budidaya, agar ada daya tarik wisata ke tempat
tersebut. Wisata buatan merupakan segala sesuatu yang berasal dari karya
manusia, dan dapat dijadikan sebagai objek wisata seperti benda-benda sejarah,
kebudayaan, religi serta tata cara manusia. Wisata budaya yaitu segala sesuatu
yang berupa daya tarik yang berasal dari seni dan kreasi manusia. Contohnya,
upacara keagamaan, upacara adat dan tarian tradisional.
Dalam hal ini Museum merupakan bagian dari pariwisata budaya
dikarenakan Museum menyediakan monumen dan benda bersejarah,
peninggalan masa lalu, ragam corak kesenian budaya serta keagamaan dan
lain-lain. Museum juga merupakan sebuah lembaga yang bersifat tetap, tidak
mencari keuntungan, melayani masyarakat, terbuka untuk umum, memperoleh,
merawat, menghubungkan serta memamerkan artefak-artefak sesuatu (perihal)
jati diri manusia & lingkungannya untuk tujuan studi, pendidikan serta rekreasi
(International Council of Museum (ICOM)). Museum juga dinilai sebagai
bagian dari Pariwisata Kebudayaan atau Cultural Tourism dikarenakan
museum bertindak sebagai tempat yang menyimpan monumen bersejarah,
peninggalan masa lalu, serta karya seni dan budaya dari berbagai daerah yang
nantinya dapat menjadi wadah pembelajaran dan riset untuk mempelajari adat-
istiadat, kelembagaan, dan cara hidup masyarakat yang berbeda-beda. Hal ini
berdasarkan pendapat James J.Spillane yang menyatakan bahwa pariwisata
kebudayaan atau cultural tourism ditandai oleh adanya rangkaian motivasi,
seperti keinginan untuk belajar di pusat-pusat pengajaran dan riset,
mempelajari adat-istiadat, kelembagaan, dan cara hidup masyarakat yang
berbeda-beda, mengunjungi monumen bersejarah, peninggalan masa lalu,
pusat-pusat kesenian dan keagamaan, festival, seni musik, teater, tarian rakyat
dan lain-lain.
Selama ini, peran edukasi museum adalah untuk menyampaikan misi
pendidikan mereka kepada anak-anak, namun dengan perubahan paradigma,
maka museum juga harus dapat menyampaikan misi edukasinya itu kepada
semua lapisan masyarakat. Museum tidak hanya sekadar menjadi tempat untuk
mendidik masyarakat, tetapi menjadi tempat pembelajaran, yang termasuk di
dalamnya tempat di mana pengunjung dapat memperoleh pengalaman. Bila
berbicara mengenai edukasi di museum, maka tidak dapat dipisahkan dari teori
yang mendasarinya yaitu Teori edukasi yang terdiri atas teori belajar (learning
theories) dan teori pengetahuan (theories of knowledge).
Sementara dalam prakteknya, seperti yang kita ketahui bahwa museum
sering hanya dianggap sebagai tempat menyimpan barang-barang antik dan
peninggalan kuno, serta kurangnya minat masyarakat untuk menjadikan
museum sebagai tempat kunjungan dalam menambah wawasan dan ilmu
pengetahuan mengenai budaya, sejarah, seni, adat dan lain-lain dalam suatu
daerah, anggapan masyarakat yang seperti ini telah melenceng dari fungsi
museum itu sendiri, yaitu fungsi Museum Sebagai Tempat Pelestarian dan
Museum Sebagai Sumber Informasi. Dalam pandangan masyarakat pada
umumnya inilah, citra museum masih dianggap membosankan dan tidak
menyenangkan serta apresiasi masyarakat kepada museum masih kurang, serta
belum adanya kesadaran masyarakat dan komunitas-komunitas yang
menganggap Museum ini tertutup dan beranggapan jika ingin melakukan
kerjasama untuk edukasi atau apapun kegiatannya itu banyak komunitas yang
kadang merasa dipersulit, hal ini berdasarkan pendapat pengelola Museum
Sultan Mahmud Badaruddin II. Disinilah pentingnya bagi Museum dalam
menerapkan upaya dan strategi dalam menyampaikan pesan edukasinya kepada
masyarakat.
Pada penelitian ini penulis mengambil Museum Sultan Mahmud
Badaruddin II sebagai objek penelitian, dimana penulis meneliti strategi yang
dilakukan pihak Museum Sultan Mahmud Badaruddin II untuk menyampaikan
pesan edukasi. Berikut tabel jumlah pengunjung Museum Sultan Mahmud
Badaruddin II:
Tabel 4.1
Jumlah Pengunjung Museum SMB II Tahun 2010 s/d 2016
Jumlah Pengunjung per Tahun
No Pengunjung
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016

1. Pelajar 8820 9800 10888 10897 11987 14045 12601

2. Mahasiswa 908 1008 1120 1220 1342 1494 1446

3. Peneliti 29 16 4 0 0 0 0

4. Wisman 69 77 85 97 107 126 615

5. Tamu Negara 115 75 0 0 0 0 0

6. Dinas 146 69 0 0 0 0 0

7. Umum 583 648 720 683 751 925 8945

Total 10670 11693 12817 12897 14187 16520 23607

Sumber: UPTD Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, 2017


Berdasarkan tabel diatas dapat dikatakan bahwa Museum Sultan
Mahmud Badaruddin II mengalami peningkatan jumlah kunjungan dari tahun
ke tahun. Menurut salah satu pengelola Museum Sultan Mahmud Badaruddin
II bertempat dilokasi yang sangat strategis yaitu ditengah-tengah kota tepatnya
disebelah Benteng Kuto Besak sehingga mudah dijangkau masyarakat. Dimana
setelah masyarakat dalam hal ini wisatawan, berkunjung ke Benteng Kuto
Besak biasanya wisatawan pasti berkunjung pula ke Museum Sultan Mahmud
Badaruddin II mulai dari sekedar melihat-lihat sampai melakukan penelitian.
Dari sekedar melihat-lihat, wisatawan juga menerima pesan edukasi mengenai
sejarah, adat dan budaya Kota Palembang yang termasuk dalam koleksi Sultan
Mahmud Badaruddin II. Berikut ini koleksi Museum Sultan Mahmud
Badaruddin II
Tabel 4.2
Koleksi Museum SMB II
No. Jenis Koleksi Jumlah Koleksi
1. Arkeologika 11 Buah
2. Etnoigrafika 209 Buah
3. Numismatika 173 Buah
4. Biologika 15 Buah
5. Kramalogika 217 Buah
6. Seni Rupa 6 Buah
7. Pilologika 15 Buah
8. Historika 23 Buah
Jumlah 669 Buah
Sumber: Dinas Kebudayaan Kota Palembang, 2017

Tabel diatas menunjukkan koleksi peninggalan yang beragam. Rumah


Bari menjadi cikal bakal koleksi Museum Sultan Mahmud Badaruddin II selain
koleksi arca Budha Siguntang yang telah lebih dahulu berada di Museum
Sultan Mahmud Badaruddin II.
Pada Museum Sultan Mahmud Badaruddin II terdapat beberapa kendala
yang menyangkut penyebaran edukasi diantaranya permasalahan Eksternal dan
Internal, adapun permasalahan Eksternalnya adalah disebabkan belum adanya
kesadaran masyarakat dan komunitas-komunitas yang menganggap Museum
ini tertutup, jadi jika komunitas dan masyarakat tersebut ingin melakukan
kerjasama untuk edukasi atau kegiatan dalam bentuk apapun banyak komunitas
dan masyarakat yang kadang merasa dipersulit, sementara untuk permasalahan
eksternalnya sendiri pihak Museum Sultan Mahmud Badaruddin II berharap
adanya sumbangsih dari komunitas-komunitas dan masyarakat untuk lebih
menghidupkan kegiatan di Museum Sultan Mahmud Badaruddin II itu sendiri.
Sedangkan untuk Permasalahan Internalnya sendiri lebih kepada SDM dan
sarana penunjang, contohnya pada SDM adalah Museum Sultan Mahmud
Badaruddin II hanya memiliki satu orang Tour Guide dan sudah berusia cukup
lanjut sehingga penyampaian edukasi dapat terhambat, jadi dibutuhkan SDM
yang masih Fresh, adapun contoh sarana penunjangnya sendiri lebih kepada
media informasinya yang belum ada untuk saat ini.
Adapun strategi Museum Sultan Mahmud Badaruddin II dalam
menyampaikan pesan edukasinya adalah yang pertama dengan menyiapkan
sumber daya manusia yang berkompeten seperti Tour Guide yang dapat
menjelaskan sejarah dari koleksi-koleksi yang ada di Museum. Kedua
bekerjasama dengan universitas atau sekolah yang ingin melakukan kerja
praktek ataupun pelatihan di Museum. Selain itu ada pula bantuan dari
Mahasiswa magang yang membuatkan Media Sosial Facebook yang dikelola
oleh Mahasiswa magang itu sendiri berdasarkan kecintaan mereka terhadap
Museum, mereka membantu menginformasikan kepada masyarakat
perkembangan Museum Sultan Mahmud Badaruddin II mengenai apa saja
kegiatannya, hal ini pun secara tidak langsung dapat menyampaikan pesan
edukasi kepada masyarakat dan juga memberikan awarness (kesadaran) bahwa
kota Palembang memiliki Museum yang menggambarkan sejarah budaya kota
Palembang.
Berdasarkan uraian diatas penulis tertarik membahas skripsi dengan judul
UPAYA PENGELOLA OBJEK WISATA MUSEUM SULTAN MAHMUD
BADARUDDIN II PALEMBANG DALAM MENYAMPAIKAN EDUKASI
KOMUNIKASI
4.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan pada latar belakang di atas,
maka penulis merumuskan masalah yaitu:
1. Apa saja strategi yang dilakukan Museum Sultan Mahmud
Badaruddin II dalam Menyampaikan pesan edukasi kepada
masyarakat.
2. Apa saja hambatan yang mempengaruhi penyampaian edukasi di
Museum Sultan Badaruddin II Palembang.
3. Alternatif strategi apa yang tepat untuk Museum Sultan Mahmud
Badaruddin II dalam menyampaikan pesan edukasi kepada
Masyarakat.
4.3. Batasan Masalah
Dalam batasan masalah pada penelitian ini penulis hanya membatasi
masalah pada strategi Museum Sultan Mahmud Badarudin II Palembang dalam
menyampaikan pesan edukasinya kepada masyarakat.

4.4. Tujuan Penelitian


Tujuan yang hendak dicapai penulis dalam penelitian ini adalah:
1. Mengetahui strategi apa saja yang digunakan Museum Sultan
Mahmud Badaruddin II dalam menyampaikan pesan edukasinya
kepada masyarakat.
2. Mengetahui apa saja yang menjadi hambatan yang mempengaruhi
penyampaian edukasi di Museum Sultan Mahmud Badaruddin II
Palembang.
3. Mengetahui strategi alternatif yang tepat untuk Museum Sultan
Mahmud Badaruddin II dalam menyampaiikan pessan edukasi kepada
masyarakat.
4.5. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah:
1. Bagi Penulis
Sebagai sarana untuk mengimplementasikan pengetahuan yang
didapat pada bidang Pemasaran dalam hal ini penulis dapat
menunjukan bahwa strategi pemasaran dapat menjadi indikator bagi
peningkatan minat dan jumlah kunjungan masyarakat ke Museum.
2. Bagi Instansi
Sebagai bahan masukan bagi instansi mengenai upaya yang dapat
dilakukan untuk meningkatkan jumlah kunjungan pada Museum.
3. Bagi Pembaca
Sebagai sarana untuk menambah ilmu dan wawasan serta dapat
dijadikan sebagai bahan referensi untuk melakukan penyusunan
Skripsi yang serupa.

4.6. Sistematika Penulisan


Skripsi ini menggunakan sistematika bab sesuai dengan format yang
berlaku agar mendapat arahan yang jelas mengenai hal-hal apa saja yang harus
tertulis, berikut sistematika penulisan skripsi ini secara lengkap:
Bab I Pendahuluan
Pada Bab Pendahuluan ini terdiri dari beberapa sub pokok bab yang
meliputi antara lain :
1.1 Latar Belakang Masalah
Menguraikan tentang alasan, motivasi dan fenomena dari penulis terhadap
topik permasalahan yang bersangkutan.
1.2 Rumusan Masalah
Berisi masalah apa yang terjadi dan sekaligus merumuskan masalah dalam
penelitian yang bersangkutan.
1.3 Batasan Masalah
Memberikan batasan yang jelas pada bagian mana dari persoalan atau masalah
yang dikaji dan bagian mana yang tidak.
1.4 Tujuan Penelitian
Menggambarkan hasil-hasil apa yang bisa dicapai dan diharapkan dari
penelitian ini dengan memberikan jawaban terhadap masalah yang diteliti.
1.5 Manfaat Penelitian
Menjelaskan manfaat dari pelaksanaan kegiatan penelitian, mencakup manfaat
praktis dan manfaat teoritis.
1.6 Sistematika Penulisan
Memberikan gambaran umum dari bab ke bab isi dari penulisan Skripsi.

Bab II Landasan Teori


Bab ini menguraikan tentang:
2.1 Teori-teori yang menunjang penulisan/penelitian
2.1 Penelitian terdahulu yang relevan dengan topik penelitian

Bab III Metode Penelitian


Bab ini menjelaskan tentang:
3.1 Pendekatan penelitian
3.2 Lokasi Penelitian
3.3 Jenis dan sumber data
3.4 Teknis analisis data

Bab IV Hasil dan pembahasan


Membahas tentang:
4.1 Keterkaitan antar faktor-faktor dari data yang diperoleh dari masalah yang
diajukan
4.2 Menyelesaikan masalah dengan metode yang diajukan
4.3 Menganalisis proses dan hasil penyelesaian masalah

Bab V Kesimpulan (dan saran)


Bab ini terdiri dari:
5.1 Kesimpulan
Berisi jawaban dari masalah yang diajukan penulis, yang diperoleh dari
penelitian
5.2 Saran
Ditujukan kepada pihak terkait, sehubungan dengan hasil penelitian
5. Landasan Teori
5.1. Strategi
Pengertian Strategi
Menurut bussines dictionary, pengertian strategi adalah metode atau
rencana yang dipilih untuk membawa masa depan yang diinginkan, seperti
pencapaian tujuan atau solusi untuk masalah; pengertian strategi adalah seni
dan ilmu perencanaan dan memanfaat sumber daya untuk penggunaan yang
paling efisien dan efektif.
Quinn dalam Y Lusi (2012) mengartikan strategi adalah suatu bentuk atau
rencana yang mengintegrasikan tujuan-tujuan utama, kebijakan-kebijakan dan
rangkaian tindakan dalam suatu organisasi menjadi suatu kesatuan yang utuh.
Rangkuti dalam Dewi (2014:9) strategi digunakan untuk mendukung
aktivitas perusahaan dimana strategi harus sesuai dengan keadaan dan kondisi
masyarakat. Strategi adalah suatu program yang mendukung untuk mencapai
tujuan perusahaan dalam kaitannya dengan tujuan jangka panjang, program
tidak lanjut, serta prioritas alokasi sumber daya.
Selain itu, strategi menurut Hamel dalam Dewi (2014) merupakan
tindakan yang bersifat incremental (senantiasa meningkat dan terus menerus)
serta dilakukan berdasarkan sudut pandang tentang apa yang diharapkan oleh
para pelanggan dimasa depan.
Setiap perusahaan menurut Marrus dalam Dewi (2014:9) perlu mencari
kompetensi inti didalam bisnis yang dilakukannya.

5.2. Definisi dan Konsep Komunikasi


Everett M. Rogers seorang pakar sosioligi Pedesaan Amerika yang telah
banyak memberikan perhatian pada studi riset komunikasi, khususnya dalam
hal penyebaran inovasi membuat definisi bahwa:
“Komunikasi adalah proses dimana suatu ide dialihkan dari sumber
kepada satu penerima atau lebih, dengan maksud untuk mengubah
tingkah laku mereka.”
Definisi ini kemudian dikembangkan oleh Rogers bersama D. Lawrence
Kincaid, sehingga melahirkan suatu definisi baru yang menyatakan bahwa:
“Komunikasi adalah suatu proses dimana dua orang atau lebih
membentuk atau melakukan pertukaran informasi dengan satu sama
lainnya, yang pada gilirannya akan tiba pada saling pengertian yang
mendalam.”
5.3. Pengertian Pariwisata
Kodhyat dalam Rizal Kurniansah (2014) pariwisata adalah perjalanan dari
satu tempat ketempat lain bersifat sementara, dilakukan perorangan atau
kelompok, sebagai usaha mencari keseimbangan atau keserasian dan
kebahagiaan dengan lingkungan dalam dimensi sosial budaya, alam, dan ilmu.
Pariwisata adalah suatu aktivitas manusia yang dilakukan secara sadar
yang mendapat pelayanan secara bergantian diantara orang-orang dalam suatu
negara itu sendiri atau di luar negeri (meliputi pendiaman orangorang dari
daerah lain) untuk mencari kepuasan yang beraneka ragam dan berbeda dengan
apa yang dialaminya dimana ia memperoleh pekerjaan tetap (Prof. Salah
Wahab dalam Rizal Kurniansah, 2014).
Pariwisata adalah kegiatan melakukan perjalanan dengan tujuan
mendapatkan kenikmatan, mencari kepuasan, mengetahui sesuatu,
memperbaiki kesehatan, menikmati olahraga atau istirahat, menunaikan tugas,
dan lain-lain. Defenisi yang luas pariwisata adalah perjalanan dari suatu
tempat ke tempat lain, bersifat sementara, dilakukan perorangan maupun
kelompok, sebagai usaha mencari keseimbangan atau keserasian dan
kebahagiaan dengan lingkungan hidup dalam dimensi sosial, budaya, alam dan
ilmu. Suatu perjalanan akan dianggap sebagai perjalanan wisata bila memenuhi
tiga persyaratan yang diperlukan, yaitu bersifat sementara, bersifat sukarela
(Voluntary) dalam arti tidak terjadi karena paksaan, dan tidak bekerja yang
sifatnya menghasilkan upah (James. J. Spillane dalam Anthony Fransisko
Siallagan, 2011).

5.4. Pengertian Objek Wisata


Menurut Ridwan (2012:5) mengemukakan pengertian obyek wisata adalah
segala sesuatu yang memilik keunikan, keindahan dan nilai yang berupa
keanekaragaman kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan manusia yang
menjadi sasaran atau tujuan kunjungan wisatawan.
Menurut Chafid Fandeli dalam Asriandy (2016:22) objek wisata adalah
perwujudan daripada ciptaan manusia, tata hidup, seni budaya, serta sejarah
bangsa, dan tempat atau keadaan alam yang mempunyai daya tarik untuk
dikujungi wisatawan.
Menurut S. Nyoman Pendit dalam any safary (2016) obyek wisata atau
tempat wisata adalah sebuah tempat rekreasi atau tempat berwisata. Obyek
wisata dapat berupa obyek wisata alam seperti gunung, danau, sungai, panatai,
laut, atau berupa obyek wisata bangunan seperti museum, benteng, situs
peninggalan sejarah, dan lain-lain.
Menurut UU RI No 9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan, dinyatakan
bahwa obyek dan daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang menjadi sasaran
wisata baik itu pembangunan obyek dan daya tarik wisata, yang dilakukan
dengan cara mengusahakan, mengelola dan membuat obyek-obyek baru
sebagai obyek dan daya tarik wisata.
Dalam undang-undang di atas, yang termasuk obyek dan daya tarik wisata
terdiri dari :
1. Objek dan daya tarik wisata ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, yang berwujud
keadaan alam serta flora dan fauna, seperti : pemandangan alam, panorama
indah, hutan rimba dengan tumbuhan hutan tropis serta binatang binatang
langka.
2. Objek dan daya tarik wisata hasil karya manusia yang berwujud museum,
peninggalan purbakala, peninggalan sejarah, seni budaya, pertanian (wisata
agro), wisata tirta (air), wisata petualangan, taman rekreasi, dan tempat
hiburan lainnya.
3. Sasaran wisata minat khusus, seperti : berburu, mendaki gunung, gua,
industri dan kerajinan, tempat perbelanjaan, sungai air deras, tempat-tempat
ibadah, tempat-tempat ziarah, dan lain-lain.
4. Pariwisata adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan wisata,
termasuk pengusahaan objek dan daya tarik wisata serta usaha-usaha yang
terkait di bidang tersebut.
Obyek Wisata adalah segala sesuatu yang ada di daerah tujuan wisata yang
merupakan daya tarik agar orang-orang mau datang berkunjung ke tempat
tersebut. Menurut SK. MENPARPOSTEL No.: KM. 98 / PW.102 / MPPT-87,
Obyek Wisata adalah semua tempat atau keadaan alam yang memiliki sumber
daya wisata yang dibangun dan dikembangkan sehingga mempunyai daya tarik
dan diusahakan sebagai tempat yang dikunjungi wisatawan. Obyek wisata
dapat berupa wisata alam seperti gunung, danau, sungai, pantai, laut, atau
berupa objek bangunan seperti museum, benteng, situs peninggalan sejarah,
dan lain-lain.
5.5. Pengertian Museum
Museum adalah sebuah lembaga yang bersifat tetap, tidak mencari
keuntungan, melayani masyarakat, terbuka untuk umum, memperoleh,
merawat, menghubungkan serta memamerkan artefak-artefak sesuatu (perihal)
jati diri manusia & lingkungannya untuk tujuan studi, pendidikan serta rekreasi
(International Council of Museum (ICOM)).
Museum merupakan sarana untuk mengembangkan budaya dan peradaban
manusia, museum juga sebagai tempat penyimpanan, merawat dan
memamerkan benda-benda warisan budaya bangsa, tempat pemberian
informasi dan bimbingan informatif kultural kepada peserta didik. Dengan
kata lain bahwa museum dapat mencerdaskan kehidupan bangsa dan
keperibadian bangsa, ketahanan nasional, serta wawasan nusantara (Buku
Panduan Museum Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, 2013).
Museum adalah institusi permanen, nirlaba, melayani kebutuhan publik,
dengan sifat terbuka, dengan cara melakukan usaha pengoleksian,
mengkonservasi, meriset, mengomunikasikan, dan memamerkan benda nyata
kepada masyarakat untuk kebutuhan studi, pendidikan, dan kesenangan.
Karena itu ia bisa menjadi bahan studi oleh kalangan akademis, dokumentasi
kekhasan masyarakat tertentu, ataupun dokumentasi dan
pemikiran imajinatif pada masa depan (Wikipedia).
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) museum merupakan
gedung yg digunakan sbg tempat untuk pameran tetap benda-benda yg patut
mendapat perhatian umum, spt peninggalan sejarah, seni, dan ilmu; tempat
menyimpan barang kuno.
Museum tidak hanya sekadar menjadi tempat untuk mendidik masyarakat,
tetapi menjadi tempat pembelajaran, yang termasuk di dalamnya tempat di
mana pengunjung dapat memperoleh pengalaman (Ambrose dan Paine dalam
Dian, 2011).
Museum tidak lagi ingin disebut sebagai ’gudang’ tempat menyimpan
barang barang antik seperti anggapan masyarakat pada umumnya, tetapi
museum berusaha untuk menjadi tempat dimana pengunjung dapat merasakan
suatu suasana dan pengalaman yang berbeda, yang hanya akan mereka
dapatkan jika mereka berkunjung ke museum. Perubahan ini membuat peran
museum berkembang menjadi tempat preservasi, penelitian dan komunikasi,
yang tujuannya untuk menyampaikan misi edukasi sekaligus rekreasi kepada
masyarakat (Weil dalam Dian, 2011; Hooper-Greenhill dalam Dian, 2011).
5.6. Konsep dan Definisi Edukasi
Bila berbicara mengenai edukasi di museum, maka tidak dapat dipisahkan
dari teori yang mendasarinya. Hein dalam bukunya yang berjudul Learning in
the Museum menjelaskan bahwa teori edukasi terdiri atas teori belajar (learning
theories) dan teori pengetahuan (theories of knowledge) (Hein dalam Dian,
2011). Ada dua pandangan yang saling berlawanan dalam teori pengetahuan,
yang pertama berpendapat bahwa pengetahuan itu berada di luar atau terpisah
dari diri si pelajar, pandangan ini disebut dengan realisme. Sementara itu,
lawan dari realisme, yaitu idealisme menyatakan bahwa pengetahuan itu berada
dalam pikiran dan dibangun oleh si pelajar (Hein dalam Dian, 2011; Hooper-
Greenhill dalam Dian, 2011).
Dua pendapat tersebut dapat digambarkan dalam sebuah kontinum sebagai
berikut:
Pengatahuan
Pengetahuan berada dalam
berada terpisah pikiran,
Teori Pengetahuan
dari pelajar dibangun oleh
(realisme) pelajar
(idealism)

Selanjutnya, teori belajar yang mendasari pemikiran mengenai bagaimana


seseorang belajar juga terdiri atas dua pandangan yang berbeda. Pandangan
yang pertama berasumsi bahwa belajar terdiri atas asimilasi incremental dari
berbagai informasi, fakta dan pengalaman, hingga akhirnya menghasilkan
pengetahuan (behaviorisme). Sementara itu, menurut konstruktivisme, belajar
terdiri atas seleksi dan organisasi data yang relevan dari pengalaman, dalam hal
ini mereka meyakini bahwa orang belajar dengan membentuk pengetahuannya
(Hein dalam Dian, 2011; Hooper-Greenhill dalam Dian, 2011). Seperti teori
pengetahuan, teori belajar ini juga dapat ditampilkan dalam kontinum seperti
berikut:

Belajar secara Belajar dengan


incremental Teori Belajar membangun makna
ditambahkan (konstruktivisme)
sedikit demi
sedikit
(behavioursme)

Oleh Hooper-Greenhil, dua pendekatan pada teori pengetahuan dan teori


belajar ini dapat mendukung interpretasi peran dari pengajar. Jika kita berpikir
bahwa pengetahuan berada di luar diri orang yang belajar, dan proses belajar
tersebut menjadi bagian dari pengetahuan, maka tugas bagi pengajar adalah
untuk mengirimkan pengetahuan itu kepada orang yang belajar. Orang yang
belajar dianggap sebagai ‘botol kosong yang harus diisi’, pasif dan sebagai
penerima pengetahuan yang diberikan oleh pengajar. Sementara jika kita
berpikir bahwa pengetahuan dihasilkan oleh orang yang sudah memiliki
pengetahuan tersebut, dan prosesnya sebagai aktivitas pikiran dengan kerangka
sosial budaya, maka peran pengajar adalah sebagai fasilitator (Hooper-
Greenhill dalam Dian, 2011). Dalam pandangan konstruktivis, peran edukator
di museum adalah untuk memfasilitasi cara belajar aktif lewat penanganan
objek dan diskusi, yang dihubungkan dengan pengalaman konkret. Dalam
konteks edukasi di museum, dengan didasarkan pada paradigma konstruktivis,
museum atau edukator dapat bertindak sebagai fasilitator. Walaupun demikian,
pihak museum dapat menggunakan cara didaktik sebagai aspek lain dalam
hubungannya dengan publiknya (Hooper-Greenhill dalam Dian, 2011).
Kontribusi unik yang diberikan oleh museum dalam fungsi edukasi adalah
menyediakan kesempatan bagi pengunjung untuk belajar langsung dari obyek,
menstimulasi rasa keingintahuan dan ketertarikan mereka, mengenalkan cara
belajar dengan menggunakan indera dan persepsi melalui pengalaman hands-
on, serta mendukung belajar secara independen (Beer dalam Kukuh Pamuji
2011). Untuk memenuhi tanggung jawabnya itu, museum harus meningkatkan
perannya sebagai sumber pembelajaran yang dapat digunakan oleh seluruh
komponen masyarakat atau kelompok-kelompok khusus yang harus
dilayaninya (Edson dan Dean dalam Kukuh, 2011).
Konsep Kebijakan Edukasi di Museum, Menurut Brüninghaus dan
Knubel dalam Zahir Widadi (2010), didalam menentukan kebijakan edukasi
museum terdapat empat tujuan utama yang perlu diperhatikan yakni sebagai
berikut:
1. Edukasi dan Koleksi
Edukasi museum harus mempertimbangkan hubungan antara edukasi
dengan benda benda koleksi. Apakah koleksi museum terdiri dari artefak
atau spesimen sejarah alam, benda benda teknik atau bahan bahan arsip.
Selanjutnya museum harus bekerja bersama dengan karyawan ahli dalam
bidang tersebut untuk mengembangkan tujuan edukasi secara relevan.
Dengan demikian setelah tujuan ditetapkan, museum dapat merancang
program-program edukasi di museum untuk pemahaman aspek kuratorial
dan pengetahuan dari benda benda koleksi museum tersebut.

2. Edukasi dan Warisan Budaya


Dalam membuat kebijakan, museum harus menggabungkan edukasi dan
pekerjaan kuratorial, bagaiman cara menampilkan koleksi dan membuat
keterangan koleksi di museum, terutama bagi museum yang berhubungan
dengan komunitas yang memiliki pengetahuan tentang tradisi lokal dan
budaya daerah. Sering orang mengabaikan sejarah dan tradisi budaya
mereka sendiri, karena itu museum adalah salah satu tempat yang tepat
untuk mempromosikan dan mendorong kesadaran akan warisan budaya.
3. Mengelola dan Mengembangkan Edukasi Museum
Edukasi museum memerlukan komitmen dari sebuah institusi pendidikan
dan sosial yang harus mampu mempekerjakan karyawan spesialis edukasi.
Pengajar sebaiknya memiliki kualifikasi tingkat pascasarjana dengan
pengalaman di berbagai bidang. Banyak museum mempekerjakan subject
matter dicipline untuk bekerja pada bidang Arkeologi, Biologi, Sejarah,
Fisika, atau studi dibidang pendidikan. Selain itu, pelatihan museologi
mutlak diperlukan melalui program pendidikan formal maupun non
formal melalui training di museum. Hal yang sama dijelaskan oleh
Ambrosse dan Paine dalam Zahir Widadi (2010), penyampaian edukasi
museum memerlukan spesialis edukasi yakni karyawan museum dengan
memiliki pelatihan psikologi mengajar dan banyak pengalaman untuk
menyajikan pelajaran yang mudah dimengerti oleh pengunjung umum.
Dalam proses pembelajaran di museum para pengajar harus
mengembangkan jaringan untuk bekerja sama dengan masyarakat
setempat, seperti yang dikemukakan oleh Bruninghaus dan Knubel,yaitu
“Therefore the museum educator must be a leader or
manager as well as a true team player. Networks inside and
outside the museum are essential for the educator’s work.
They can help with the orientation towards the public, and
they may be a source of new alliances and thus broaden the
educator’s professional horizon and thus the service
provided”.
Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa dalam mengelola dan
mengembangkan edukasi museum harus membangun jaringan di dalam
dan diluar museum untuk kepentingan proses pembelajaran. Kerja sama ini
dapat membantu orientasi pelayanan museum terhadap masyarakat dan
juga kelompok masyarakat ini dapat menjadi sumber sumber pendidikan
baru. Dengan demikian hubungan ini dapat memperluas cakrawala dan
memfasilitasi pemecahan masalah pengajar di museum.
4. Edukasi Museum dan Masyarakat
Museum sebagai lembaga untuk kepentingan umum yang berada ditengah-
tengah masyarakat lokal, nasional atau internasional Para pengajar
berhubungan dengan masyarakat melalui pengetahuan. Pengajar edukasi
museum memiliki peranan penting dalam menentukan kebijakan, program
pembelajaran dan tujuan museum. Selain itu, masyarakat ini mampu
memberikan kontribusi penting mengenai informasi tentang kemampuan
intelektual dan kesenangan dari kelompok pengunjung, sehingga
masyarakat menjadi bagian dari tim pengajar. Dengan demikian semua
pengunjung seharusnya tidak lagi dianggap sebagai hanya "konsumen"
budaya atau pengetahuan, tetapi sebagai mitra dalam proses pembelajaran.
Hal ini sesuai dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Davis dalam
Zahir Widadi, bahwa museum juga berperan memperluas partisipasi
masyarakat dalam pendidikan yang meliputi peran serta perorangan
sebagai tokoh, kelompok komunitas, dan organisasi kemasyarakatan yang
terkumpul sebagai kelompok masyarakat di suatu daerah. Berdasarkan
kebijakan museum yang telah dijelaskan tersebut di atas maka langkah
selanjutnya museum dapat menentukan prinsip dan prioritas kebijakan
untuk menentukan program edukasi di museum.

6. Metode Penelitian
6.1. Pendekatan Penelitian
Dalam penelitian ini penulis meggunakan jenis penelitian deskriptif,
penelitian ini termasuk tipe penelitian yang bertujuan menemukan deskripsi
general dan universal yang berlaku pada sejumlah variasi situasi dan kondisi.
Dalam penelitian penulis ini menggunakan pendekatan kualitatif, pendekatan
kualitatif adalah metode yang mengemukakan bahwa metodologi kualitatif
sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata
tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati
(infodanpengertian.blogspot.co.id).
6.2. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Museum Sultan Mahmud Badaruddin II
Palembang.
6.3. Jenis dan Sumber Data
Dalam penulisan laporan akhir ini, penulis menggunakan dua jenis data
yaitu:
1. Data Primer
Data yang penulis peroleh secara langsung dari Museum Sultan Mahmud
Badaruddin II. Jenis data yang penulis gunakan dalam penelitian ini ialah
hasil dari observasi, kuisioner, dan wawancara antara penulis dengan
pegawai yang terkait mengenai strategi Museum Sultan Mahmud
Badaruddin II dalam menyampaikan pesan edukasi kepada masyarakat.
2. Data Sekunder
Data sekunder yang penulis gunakan yaitu data yang sudah diolah oleh
pihak lain, baik dalam bentuk literatur maupun publikasi. Dalam hal ini,
penulis melakukan pengambilan data yang sudah diolah pada Dinas
Kebudayaan Kota Palembang berupa data statistik jumlah pengunjung
beberapa tahun terakhir dan lain sebagainya.
6.4. Teknik Analisis Data
Penelitian ini menggunakan teknik analisis kualitatif yang mana nantinya
data-data yang diperoleh baik data primer ataupun sekunder akan
diinterpretasikan melalui penjabaran narasi.
6.5. Teknik Pengumpulan Data
Untuk mendapatkan data yang diperlukan dalam penulisan Laporan Akhir
ini maka penulis menggunakan metode-metode penelitian sebagai berikut:
6.5.1. Riset Lapangan (Field Research)
Riset ini adalah riset yang dilakukan dengan mendatangi langsung
Museum Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang dan Dinas Kebudayaan Kota
Palembang guna mengambil data dengan teknik pengumpulan data, yaitu:
1. Wawancara
Yaitu informasi data yang diperoleh melalui wawancara dengan pihak
yang berwenang dalam Museum Sultan Mahmud Badaruddin II atau data
yang diperoleh ini kemudian didalam pengujuian kebenarannya dengan
sumber data.
2. Observasi
Yaitu teknik pengumpulan data dengan cara melakukan pengamatan
langsung terhadap objek penelitian kegiatan Museum Sultan Mahmud
Badaruddin II.
3. Kuesioner
Kuesioner adalah daftar pertanyaan yang diberikan kepada orang lain yang
bersedia memberikan respon sesuai dengan permintaan penulis.
6.5.2. Riset Dokumentasi
Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa
berbentuk tulisan, gambar atau karya-karya monumental dari seseorang.
Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah kehidupan,
keriteria, biografi, peraturan, kebijakan. Dokumen yang berbentuk gambar
misalnya foto, gambar hidup, sketsa, dan lain-lain. Dokumen yang berbentuk
karya misalnya karya seni yang dapat berupa gambar, patung, film, dan lain-
lain. Studi dokumen merupakan pelengkap dari pengguna metode observasi
dan wawancara dalam penelitian kualitatif (Sugiyono, 2013:240). Dengan
metode ini penulis mengumpulkan foto, gambar hidup, biografi, kebijakan, dan
lain-lain mengenai Museum Sultan Badaruddin II Palembang.
6.5.3. Riset Kepustakaan
Yaitu metode pengumpulan data dengan mempelajari dan mengumpulkan
data dari buku-buku literatur dan laporan-laporan Museum Sultan Mahmud
Badaruddin II Palembang.
7. Jadwal Penulisan Laporan Akhir
Penulisan laporan akhir ini diperkirakan akan selesai dalam jangka
waktu 4 bulan, dengan jadwal sebagai berikut:

BULAN
KEGIATAN
MARET APRIL MEI JUNI

PROPOSAL

BAB I

BAB II

BAB III

BAB IV

BAB V

8. Estimasi Biaya
Adapun anggaran biaya yang penulis perkirakan dalam penyusunan
Laporan Akhir ini adalah sebagai berikut:
1. Alat dan Bahan
Flashdisk 4Gb Rp 65.000,-
Map Plastik (2 x Rp 4.000) Rp 8.000,-
Stop Map (2 x Rp 2.000) Rp 4.000,-
Kertas A4 80 gram (2 rim) Rp 80.000,-
Tinta Printer Rp 150.000,-
2. Biaya Operasional
Fotocopy Rp 50.000,-
3. Laporan Akhir
Penggandaan Rp 150.000,-
4. Biaya Lainnya Rp 50.000,- +
Rp 557.000,-