Anda di halaman 1dari 40

Modul 4

Turunan Fungsi Vektor


Drs. Sukirman, M.Pd.

PEN D A HU L UA N

D alam Modul 4 ini disajikan turunan fungsi vektor dan penerapannya


dalam kinematika. Untuk mempelajari turunan fungsi vektor ini,
terlebih dahulu Anda harus memahami dan terampil menggunakan turunan
fungsi skalar yang telah dipelajari dalam Kalkulus. Rumus-rumus pada
turunan fungsi vektor mempunyai banyak kemiripan dengan rumus-rumus
pada turunan fungsi skalar.
Fungsi vektor yang dipelajari dalam modul ini terbatas pada fungsi
vektor dengan satu variabel yang grafiknya merupakan kurva ruang. Hal ini
telah disajikan dalam Kegiatan Belajar 2 Modul 2. Apabila Anda telah
menguasai materi dalam kegiatan belajar tersebut, Anda akan mudah
mempelajari materi dalam modul ini.
Dalam Kegiatan Belajar 2, disajikan penerapan turunan fungsi vektor
dalam kinematika, yaitu suatu cabang dari mekanika yang mempelajari
tentang gerak suatu partikel. Di sini dipelajari tentang bentuk lintasan,
panjang lintasan, kecepatan dan percepatan partikel, kelengkungan, torsi dan
komponen-komponen percepatan, yang kesemuanya didasarkan pada turunan
fungsi vektor.
Turunan fungsi vektor mempunyai peranan yang sangat penting dalam
perkembangan ilmu dan matematika terapan pada umumnya. Oleh karena itu,
agar Anda mudah mempelajari materi dalam modul-modul berikutnya, Anda
harus menguasai materi modul ini, khususnya turunan fungsi vektor.
Setelah mempelajari materi dalam modul ini diharapkan Anda dapat
menjelaskan konsep turunan fungsi vektor dan rumus-rumusnya, serta
terampil menerapkan dalam kinematika.
Lebih rinci, setelah menyelesaikan modul ini Anda diharapkan dapat:
1. menjelaskan arti turunan suatu fungsi vektor;
2. menentukan turunan berbagai bentuk fungsi vektor;
4.2 Analisis Vektor 

3. menyatakan rumus-rumus turunan fungsi vektor;


4. menurunkan rumus Serret-Frenet;
5. mencari vektor singgung satuan (T), vektor normal utama satuan (N),
vektor binormal satuan (B), kelengkungan () dan torsi () suatu kurva;
6. mencari persamaan-persamaan vektor dari garis singgung, garis normal
utama, bidang normal, bidang askulasi, dan bidang rectifying dari suatu
kurva;
7. mencari kecepatan dan percepatan suatu gerak yang melintasi suatu
kurva serta komponen-komponennya;
8. mencari panjang lintasan suatu partikel yang persamaan geraknya
diketahui.
 PEMA4419/MODUL 4 4.3

Kegiatan Be lajar 1

Turunan Fungsi Vektor

D alam Kegiatan Belajar 2 Modul 2, kita telah membicarakan fungsi


bernilai vektor (fungsi vektor) dengan satu variabel beserta bentuk
kurvanya. Sekarang kita akan membicarakan turunan fungsi vektor, sebagai
kelanjutan dari materi yang ada dalam Kegiatan Belajar 2 Modul 2 tersebut.
Suatu fungsi vektor r(t) dengan variabel real t dikatakan mempunyai
limit a untuk t mendekati to, apabila r(t) terdefinisi pada setiap titik di sekitar
to (mungkin kecuali di to) dan
lim | r(t) – a | = 0
tt0

atau ditulis
lim r(t) = a
tt0

Fungsi vektor r(t) dikatakan kontinu pada t = to, jika r(t) terdefinisi di
sekitar to dan lim r(t) = r(to)
tt0
Dalam sistem koordinat Cartesian, r(t) dapat dinyatakan dalam
komponen-komponennya, yaitu r (t) = r1(t)i + r2(t) j + r3(t)k, dengan r1(t),
r2(t) dan r3(t) adalah fungsi-fungsi skalar. Maka, r(t) kontinu pada to jika dan
hanya jika 3 komponennya masing-masing kontinu pada to.
Turunan (derivatif) dari r(t) didefinisikan sebagai

dr r(t  t)  r(t)


 lim
dt t 0 t
apabila limit pada ruas kanan ada.

dr
dinyatakan pula dengan r(t). Jika limit pada ruas kanan tersebut ada,
dt
maka dikatakan bahwa r(t) terdiferensial pada titik t. Selanjutnya kita dapat
menuliskan
r(t  t)  r(t)
= r(t) + 
t
di mana   0, jika t  0 , selanjutnya r (t + t) = r (t) + (r (t) + ) t
4.4 Analisis Vektor 

Jika t  0, maka r(t + t)  r(t), sehingga diperoleh, jika fungsi r(t)
terdiferensial pada t, maka fungsi itu kontinu di t.
Apabila r (t) = r1(t)i + r2(t) j + r3(t)k terdiferensial pada t, maka tiap-tiap
komponennya juga terdiferensial pada t sehingga

r (t) = r1(t) i + r2(t) j + r3 (t)k

Turunan-turunan tingkat yang lebih tinggi didefinisikan seperti dalam


Kalkulus.
d2 r dr
 r(t) 
dt dt
d3 r dr
 r (t)  , dan seterusnya.
dt dt

Rumus-rumus turunan yang telah kita kenal dalam Kalkulus memberikan


rumus-rumus yang bersesuaian dengan rumus turunan fungsi vektor.
Misalkan, u = u(t), v = v(t) dan w = w(t) adalah fungsi-fungsi yang
terdiferensial di t, maka:
1. c = 0 dan (c u) = c u (c vektor konstan)
2. (u + v) = u + v
3. (f u) = f u + fu (f = f(t) suatu fungsi skalar)
4. (u . v) = u . v + u . v
5. (u  v) = u  v + u  v
6. (u . v  w) = u . v  w + u . v  w + u . v  w
7. (u  (v  w)) = u  (v  w) + u  (v  w) + (u  (v  w)

Karena bukti dari rumus-rumus tersebut mirip dengan bukti turunan pada
Kalkulus yang telah Anda pelajari, maka di sini hanya diberikan sebuah
contoh bukti rumus (5).

Contoh 4.1
Jika u = u (t) dan v = v (t), buktikanlah bahwa (u  v) = u  v + u  v

Bukti:
(u  u)  (v   v)  u  v
(u  v) = lim
t  0 t
 PEMA4419/MODUL 4 4.5

u   v  u  v  u   v
= lim
t  0 t

  v u u 
= lim  u   v  v 
t  0  t t t 

= u  v + u  v

Jika u(t) = u1(t)i + u2 (t) j + u3 (t)k dan v(t) = v1(t)i + v2 (t) j + v3(t)k,
maka pembuktiannya dapat dilakukan dengan menggunakan turunan dari
suatu determinan, sebagai berikut.
i j k i j k
d d i j k
(u  v) = u u2 u3 = u u2 u3 + du1 du 2 du 3
dt dt 1 1
v1 v 2 v3 dt dt dt
dv1 dv 2 dv3
v1 v2 v3
dt dt dt

d dv du
(u  v) = u  +  v
dt dt dt

(u  v) = u  v + u  v

Khusus rumus-rumus yang berkaitan dengan hasilkali vektor, urutan


vektor-vektornya harus diperhatikan, karena hasilkali vektor tidak bersifat
komutatif.

Contoh 4.2
Misalkan u(t) adalah suatu vektor yang panjangnya tetap (konstan),
misalnya | u(t) | = c, maka:
| u |2 = u . u = c2
u . u + u . u = 0
2 u . u = 0
u . u = 0
Hal ini berarti bahwa u = 0 atau u tegak lurus u.
4.6 Analisis Vektor 

Contoh 4.3
Jika u = 3t2 i + t j - t2 k dan v = sin t i - cos t j , tentukanlah:
(i) (u . v)
(ii) (u  v)

Penyelesaian:
(i) (u . v) = u . v + u . v
= (3t2i + t j - t2 k) . (cos ti + sin t j ) + (6ti + j - 2tk).(sin ti - cost j )
= 3t2 cos t + t sin t + 6t sin t - cos t
= (3t2 - 1) cos t + 7t sin t

Atau dengan cara lain


u . v = 3t2 sin t - t cos t
(u . v) = 3t2 cos t + 6t sin t + t sin t - cos t
= (3t2 - 1) cos t + 7t sin t

(ii) (u  v) = u  v + u  v
i j k i j k
 3t2
t t 2
+ 6t 1 2t
cos t sin t 0 sin t  cos t 0

= t2 sin ti - t2 cos t j + (3t2sin t - t cos t) k + -2t cos t i – 2t sin t j -


(6t cost t + sin t) k
= (t2sin t - 2t cos t)i - (t2cos t + 2t sin t) j + (3t2 - 1)sin t - 7cost t)k

Atau dengan cara lain:


i j k
u  v  3t 2 t t 2
sin t  cos t 0

= -t2 cos t i - t2 sin t j - (3t2 cos t + t sin t) k


(u  v)  = (t2 sin t - 2 t cos t) i - (t2 cos t + 2t sin t) j +
(3t2 sin t - 6t cos t - t cos t - sin t) k
= (t2 sin t - 2 t cos t) i - (t2 cos t + 2t sin t) j +
((3t2 - 1) sin t - 7 t cos t) k
 PEMA4419/MODUL 4 4.7

A. VEKTOR SINGGUNG, NORMAL DAN BINORMAL

Misalkan C adalah kurva yang dinyatakan oleh fungsi vektor r = r(t)


yang terdiferensial dan kontinu pada a < t < b

Gambar 4.1

Misalkan pula bahwa r(t) dan r(t + t) berturut-turut adalah vektor-
vektor posisi titik P dan Q pada kurva C (Gambar 4.1), maka garis PQ
mempunyai arah yang sama dengan vektor

r(t  t)  r(t)


t

Garis singgung pada kurva C di titik P didefinisikan sebagai posisi limit


dari garis lurus PQ, jika Q mendekati P sepanjang kurva C, sehingga

r(t  t)  r(t)  dr 


r  lim , r  
t 0 t  dt 

merupakan vektor arah garis singgung dari kurva C di titik P. Selanjutnya,


r disebut vektor singgung dari kurva C di titik P.
Jika T adalah vektor satuan yang searah dengan r , maka:
r
T
r
Selanjutnya T disebut vektor singgung satuan dari kurva C di titik P.
4.8 Analisis Vektor 

Contoh 4.4
Carilah persamaan garis singgung pada kurva C dengan persamaan
r (t) = 3t i + 3t2 j + 2t3 k di titik t = 1

Penyelesaian
Untuk t = 1, maka r (1) = 3i + 3 j + 2k merupakan suatu vektor posisi
titik P(3, 3, 2) terhadap titik asal O.
Vektor singgung kurva C pada t adalah r (t) = 3 i + 6t j + 6t2 k.
Untuk t = 1, maka r (1) = 3 i + 6 j + 6 k
r (1) adalah vektor singgung kurva C di P (t = 1). Jadi, garis singgung
kurva C pada t = 1 adalah garis yang melalui titik P dan searah dengan
vektor r (1), maka persamaannya adalah
(v – r (1))  r (1) = 0 ;
Vektor v adalah vektor posisi sebarang titik V(x, y, z) pada garis
singgung. Maka persamaan garis singgung yang diminta adalah
i j k
x 3 y3 z 2  0
3 6 6

Dengan mengekspansikan determinan ini diperoleh


x 3 y3 z 3
 
1 2 2
Vektor singgung satuan dari kurva di titik t = 1 adalah:
r(1) 1

 i  2 j  2k
r(1) 3

Sekarang kita akan mencari vektor singgung satuan, apabila kurva C
dinyatakan dalam persamaan dengan parameter panjang busurnya.
Dalam Kalkulus telah ditunjukkan bahwa panjang busur dari kurva
mulus (terdiferensial dan kontinu) r = r (t) dari t = a hingga t = b adalah
b


dr
L dt
dt
a
 PEMA4419/MODUL 4 4.9

Apabila batas atas b diganti dengan t (a < t < b), maka integral tersebut
menjadi fungsi dari t, misalnya s(t), sehingga

t
dr
s( t )   dt
a dt

Fungsi s(t) ini disebut fungsi panjang busur. Selanjutnya diperoleh

ds dr
 0
dt dt

Secara geometris, untuk t = to > a, panjang busur s(to) adalah panjang


bagian busur dari kurva C di antara titik-titik yang bersesuaian dengan
t = a dan t = to. Untuk t = to < a, maka s(to) < 0, sehingga panjang
busurnya -s(to). Dengan demikian panjang busur s dapat bertindak
sebagai parameter dalam persamaan parametrik suatu kurva r = r (s).

dr dr
ds dr dr
Mengingat  , maka  dt
ds
 dt
dt dt ds dr
dt dt

dr
Ini berarti bahwa adalah suatu vektor singgung satuan.
ds
Jika T adalah vektor singgung satuan dari r = r (s) di titik t, maka
dr
T=
ds

Jika r adalah vektor letak titik P(x, y, z) pada kurva C, yaitu:


dr dx dy dz
r = x i + y j + z k, berarti T   i j k
ds ds ds ds
dx dy dz
Selanjutnya , dan disebut sebagai cosinus arah vektor T di
ds ds ds
titik P.
4.10 Analisis Vektor 

B. RUMUS SERRET-FRENET

Misalkan C suatu kurva mulus dan P sebarang titik pada kurva C


yang persamaannya adalah r = r (s). Maka vektor singgung satuan pada C di
dr
titik P adalah T =
ds
dT
Karena T vektor satuan, maka T  T = 1, sehingga T  =0
ds
dT dT
Ini berarti tegak lurus pada T , jika  0.
ds ds

dT dT
Apabila N adalah vektor satuan yang searah dengan , maka = N.
ds ds
N disebut vektor normal utama pada kurva C di titik P.
 (kappa) disebut kelengkungan kurva C di titik P ( 0)
1
= disebut jari-jari kelengkungannya

Misalkan T  N = B, maka T, N, B adalah vektor-vektor satuan yang


saling tegak lurus dan membentuk sistem sekrup putar kanan. Selanjutnya B
disebut vektor satuan binormal dari kurva C di titik P.

B = TN
dB dN dT
= T  + N
ds ds ds

+ N  N
dN
= T
ds
dB dN
= T
ds ds
dB dN
T =TT
ds ds

dB
T =0
ds
 PEMA4419/MODUL 4 4.11

dB dB
Jika  0, maka tegak lurus pada T dan juga tegak lurus pada
ds ds
dB
B, sehingga harus sejajar N.
ds
= -  N.
dB
Jadi dapat dituliskan bahwa
ds
 adalah suatu skalar yang disebut torsi (puntiran) kurva di titik P. Tanda
negatif, berarti  > 0,
dB
searah dengan -N, sehingga jika P bergerak
ds
sepanjang kurva C dalam arah positif, B berputar mengelilingi T dalam arah
yang sama, seperti sekrup putar kanan maju dalam arah T (Gambar 4.2).

1
= disebut jari-jari torsi.

Karena T, N, B membentuk sistem sekrup putar kanan, maka N = B  T
sehingga:
dN dT dB
= B + x T
ds ds ds
= B  N -  N  T
= - T +  B

=  B - T
dB
ds

Gambar 4.2
4.12 Analisis Vektor 

Rumus Serret-Frenet

= N
dT
ds

=  B - T
dN
ds
= - N
dB
ds

Bidang oskulasi adalah bidang yang memuat garis singgung dan garis
normal utama yang melalui titik tertentu pada kurva. Bidang normal adalah
bidang yang tegak lurus pada vektor singgung dan melalui titik singgung
pada kurva. Bidang rectifying adalah bidang yang tegak lurus pada vektor
normal utama di titik singgungnya (Gambar 4.2).

Contoh 4.5
Ditentukan kurva ruang dengan persamaan parametrik, yaitu:
2
x  t, y  t 2 , z  t 3
3

Tentukanlah:
a. kelengkungan 
b. torsi 
c. persamaan garis singgung pada t = 1
d. persamaan garis normal utama pada t = 1
e. persamaan garis binormal pada t = 1
f. persamaan bidang oskulasi pada t = 1
g. persamaan bidang normal pada t = 1
h. persamaan bidang rectifying pada t = 1

Penyelesaian:
2 3
Persamaan vektor dari kurva adalah r  ti  t 2 j  t k
3
dr
 i  2 t j  2t 2 k
dt
 PEMA4419/MODUL 4 4.13

ds dr dr dr
    1  (2t)2  (2t 2 )2 = 1 + 2t2
dt dt dt dt
dr
1
a. T= dt
 (i  2t j  2t 2 k)
ds
dt 1  2t 2

dT (1  2t 2 )(2 j  4tk)  (i  2t j  2t 2 k)(4t)



dt (1  2t 2 ) 2
4t i  (2  4t 2 ) j  4t k
=
(1  2t 2 ) 2

dT
dT
dt
4t i  (2  4t 2 ) j  4t k
= =
ds ds
dt
(1  2t 2 )3

= N, maka
dT
Karena
ds
(4t)2  (2  4t 2 ) 2  (4t) 2
= dT
=
ds (1  2t 2 )3

= 2
(1  2t 2 ) 2

1 dT 2t i  (1  2t 2 ) j  2t k
b. N= =
 ds 1  2t 2
i j k
2
B=TN= 1 2t 2t 2
(1  2t 2 ) 2
2t 1  2t 2 2t

2t 2 i  2t j  k
B=
1  2t 2
dB (1  2t 2 )(4t i  2 j)  (2t 2 i  2t j  k)(4t)
=
dt (1  2t 2 ) 2
4t i  (4t 2  2) j  4t k
=
(1  2t 2 ) 2
4.14 Analisis Vektor 

dB
dB
dt
4t i  (4t 2  2) j  4t k
= =
ds ds
dt
(1  2t 2 )3
2t i  (2t 2  1) j  2t k
= -  N dan N =
dB
Karena ,
ds 1  2t 2
maka  =
2
(1  2t 2 ) 2
Jika t = 1, maka r = i  j  23 k , yaitu vektor posisi titik P(1, 1, 2
3
) yang
terletak pada kurva.

c. Untuk t = 1, maka T1 = 1
3
(i  2j  2k)
Persamaan garis singgung kurva di P adalah garis melalui P sejajar T1,
yaitu PR=λT1 dengan R(x, y, z) adalah titik sebarang pada garis
singgung. Jadi persamaan garis singgungnya adalah

(x – 1) i + (y – 1) j + (z – 2 ) k = 1  (i + 2 j + 2k )
3 3
x  1 y  1 z  23
 
1 2 2
2i  j  2k
d. Untuk t = 1, maka N1 =
3
Persamaan garis normal di P adalah PR = μN1 , dengan R(x, y, z)
sebarang titik pada garis normal. Sehingga diperoleh persamaan garis
normal, yaitu :
x  1 y  1 z  23
 
2 1 2
1
e. Untuk t = 1, maka B1 = 3 (2i-2 j+k)

Persamaan garis binormal di titik P adalah PR = αB1 , dengan R(x, y, z)


sebarang titik pada garis binormal. Sehingga diperoleh persamaan garis
binormal, yaitu :
x  1 y  1 z  23
 
2 2 1
 PEMA4419/MODUL 4 4.15

f. Persamaan bidang oskulasi di P adalah persamaan bidang yang melalui


titik P dan tegak lurus vektor B1, yaitu
PR  B1  0 dengan R(x, y, z) sebarang titik pada bidang oskulasi.
2
2( x - 1) - 2( y - 1) + (z - 3
)=0
g. Persamaan bidang normal di titik P adalah persamaan bidang yang
melalui titik P dan tegak lurus vektor T1, yaitu PR  T1  0 , dengan R(x,
y, z) sebarang titik pada bidang normal. Sehingga diperoleh persamaan
bidang normal, yaitu
(x - 1) + 2(y - 1) + 2(z - 23 ) = 0
h. Persamaan bidang rectifying di titik P adalah persamaan bidang yang
melalui titik P dan tegak lurus pada N1, yaitu PR N1  0 , dengan

R(x, y, z) sebarang titik pada bidang rectifying. Sehingga diperoleh


persamaan bidang rectifying, yaitu
-2(x - 1) - (y - 1) + 2(z - 23 ) = 0.

LAT IH A N

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas,


kerjakanlah latihan berikut!

1) Jika r = sin t i + cos t j + t k, tentukanlah ....


a. r
b. r
c. |r|
d. |r|

2) Apabila u = 5t 2 i  t j  t 3 k dan v = cos t i  sin t j , tentukanlah ....


a. (u . v)
b. (u  v)
c. (u . u)
3) Tentukan persamaan garis singgung dari kurva dengan persamaan ....
a. r (t) = ti  t 2 j  t 3 k di titik P(1, 1, 1)
b. r (t) = cos t i  sin t j  2tk di titik P(1, 0, 4)
4.16 Analisis Vektor 

4) Tentukanlah kelengkungan dari


a. suatu garis lurus
b. suatu lingkaran dengan jari-jari a.

5) Tentukan kelengkungan dari ellips r (t) = a cos ti + b sin t j !

6) Tunjukkan bahwa kurva pada bidang mempunyai torsi sama dengan nol!
7) Carilah persamaan bidang normal dan garis singgung dari kurva dengan
persamaan parametrik.
x = 3t - t3, y = 3t2, z = 3t + t3 pada titik di mana t = 1.
8) Carilah persamaan garis singgung, garis normal dan bidang normal dari
kurva x = 3 cos t, y = 3 sin t , z = 4t pada titik di mana t = .

Petunjuk Jawaban Latihan

1) a. r = cos t i – sin t j + k
b. r = – sin t i – cos t j
c. |r| = cos2 t + sin2 t + 1 = 2
d. |r| = 1

2) a. u . v = 5t2 cos t - t sin t


(u . v) = -5t2 sin t + 10t cos t - t cos t - sin t
= - (5t2 + 1) sin t + 9t cos t
b. u  v =
i j k
5t 2 t t 3
cos t  sin t 0
= t 3 sin t i  t 3 cos t j  (5t 2 sin t  t cos t)k
(u  v) = ( t 3 cos t  3t 2 sin t) i  (t3 sin t  3t2 cos t) j -

(5t2 cos t + 10t sin t - t sin t + cos t) k


= (t 3 cos t  3t 2 sin t) i  (t3 sin t  3t 2 cos t) j -
((5t2 + 1) cost t + 9t sin t) k
 PEMA4419/MODUL 4 4.17

c. u . u = 25t4 + t2 + t6
(u . u) = 100t3 + 2t + 6t5

3) a. r = i  2t j  3t 2 k , untuk P(1, 1, 1) jika t = 1


r(1) = i + 2 j + 3k
y 1 z 1
Persamaan garis singgungnya adalah x - 1 = 
2 3
b. r = – sin t i + cos t j + 2k , untuk P(1, 0, 4) jika t = 2 
r(2) = j + 2k
Persamaan garis singgungnya adalah 2y = z - 4 

dT
4) a. Pada garis lurus, vektor singgung satuan T tetap, maka = 0,
ds
sehingga  = 0
b. Persamaan lingkaran diambil dengan pusat O dan jari-jari a, yaitu
r (t) = a cos t i + a sin t j
dr
= – a sin t i + a cos t j
dt
ds dr
= = a 2 sin 2 t  a 2 cos2 t = a
dt dt
T =  sin t i  cos t j
dT dT 1
=  cos t i  sin t j dan = ( cos t i  sin t j)
dt ds a

 = dT = 1
ds a

5) Elips r (t) = a cos t i  b sin t j


dr
= a sin t i  b cos t j
dt
ds dr
= = a 2 sin 2 t  b2 cos2 t
dt dt
4.18 Analisis Vektor 

a sin t i  b cos t j
T =
a 2 sin 2 t  b2 cos2 t
dT a sin t i  b cos j
=
ds a 2 sin 2 t  b 2 cos 2 t

= dT
= (a 2 sin 2 t  b2 cos2 t)
1
2
ds

6) Untuk kurva bidang T dan N selalu terletak pada bidang tetap, sedang B
merupakan vektor normal dari bidang tetap tersebut, maka B suatu
= - N, maka  = 0.
dB dB
vektor konstan, sehingga = 0, karena
ds ds

7) r (t) = (3t  t 3 ) i  3t 2 j  (3t  t 3 ) k


r (t) = (3 – 3t2) j + 6t j + (3t + 3t2) k
r (1) = 6i + 6k = 6 ( j + k)
r (1) = 2i  3j  4k adalah vektor posisi titik P(2, 3, 4)

Persamaan bidang normalnya adalah PR . r'(1)=0 dan R(x, y, z)


sebarang titik pada bidang normal. Sehingga persamaan bidang
normalnya adalah
(y - 3) + (z - 4) = 0
Persamaan garis singgungnya adalah PR   r ' (1) dengan R(x, y, z)
sebarang titik pada garis singgung. Sehingga persamaan garis
singgungnya adalah
x = 2, y - 3 = z – 4

8) r (t) = 3 cos t i + 3 sin t j + 4tk


dr
= – 3 sin t i + 3 cos t j + 4k
dt
ds dr
= = 9(sin 2 t  cos2 t)  16 = 5
dt dt
 PEMA4419/MODUL 4 4.19

dr 3 3 4
T= =  sin t i  cos t j  k
ds 5 5 5
dT 3 1
= cos t i  sin t j
dt 25 25

= dT
= 35 dan N =  cos t i  sin t j
dt
Untuk t = , maka T = - 3
5
j 4
5
k dan N = i
r () = - 3 i + 4 merupakan vektor posisi dari P(-3, 0, 4)
y z  4
Persamaan garis singgungnya adalah x = - 3, 
3 4
Persamaan garis normalnya adalah x + 3 = t, y = 0, z = 4 atau
r = (t - 3) i + 4 k
Persamaan bidang normalnya adalah -3y + 4(z - 4) = 0

R A NG KU M AN

Jika r = r (t) kontinu di t, maka turunannya didefinisikan sebagai


dr r(t  t)  r(t)
r =  lim
dt t 0 t
Apabila r(t) = r1 (t)i + r2 (t) j + r3 (t)k terdiferensial pada t, maka
r(t) = r1(t)i + r2 (t) j + r3 (t)k
Misalkan u = u(t), v = v(t) dan w = w(t) adalah fungsi-fungsi yang
terdiferensial, maka
1. c = 0 dan (c u) = c u (c vektor konstan)
2. (u + v)  = u + v
3. (f u) = f u + f  u (f = f(t) suatu fungsi skalar)
4. (u . v) = u . v + u . v
5. (u  v) = u  v + u  v
6. (u . v  w) = u . v  w + u . v  w + u . v  w
7. (u  (v  w)) = u  (v  w) + u  (v  w) + u  (v  w)
4.20 Analisis Vektor 

Jika C kurva dengan persamaan r = r (t) (suatu fungsi vektor yang


dr
terdiferensial dan kontinu), maka r  merupakan vektor singgung
dt
kurva C di t.
r
T= adalah vektor singgung satuan.
r
dr
Apabila r = r(s) menyatakan suatu kurva mulus C, maka T =
ds
merupakan vektor singgung satuan.

Rumus Serret - Frenet


= N
dT
T = vektor singgung satuan
dt

= B - T
dN
N = vektor normal utama satuan
ds
= -N
dB
B = vektor binormal satuan
ds
B, T, N membentuk sistem sekrup putar kanan dan saling tegak lurus.
Bidang oskulasi adalah bidang yang tegak lurus pada vektor binormal
dan melalui titik tertentu pada kurva. Bidang normal adalah bidang yang
tegak lurus pada vektor singgung dan melalui titik tertentu pada kurva.
Bidang rectifying adalah bidang yang tegak lurus pada vektor normal
utama dan melalui titik tertentu pada kurva.

TES F OR M AT IF 1

Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!

1) Jika r (t) = cos2 t i + sin2 t j + 5k , maka r(t) = ....


A. t cos t i + t sin2 t j
B. – sin2 t i + cos2 t j
C. 2 cos t i + 2 sin t j
D. – sin 2t i + sin 2t j
 PEMA4419/MODUL 4 4.21

2) Jika r (t) = 3 cos 2t i + 2 sin 3t j + 4k, maka r(t) = ....


A. – 3 sin 2t i + 2 cos 2t j
B. – 6 sin 2t i + 6 cos 2t
C. – 6 sin t i + 6 cos t j
D. – sin 6t i + cos 6t j

3) Jika u = et i + e-t j , maka u = ....


A. et i + et j
B. et i – e-t j
C. et i + e-t j
D. e i – e-t j

4) Jika u = t i + 2 t2 k, dan v = t3 j + t k , maka (u . v) = ....


A. 6t2
B. 1 + 3t2 + 6t3
C. 1 + 9t2
D. 2t3

5) Jika u = t i + 2 t2 j dan v = i + t j + k , maka (u  v) = ....


A. 6t2 i – 3t2 j – 2t k
B. 8t3 i + 3t2 j – 4t k
C. 2t4 i – t3 j – t2 k
D. 8t3 i – 3t2 j – 2t k

6) Vektor singgung dari kurva r = (2t  1)i  (t  2)j  (3t  3)k adalah ....
A. 3 i + 3 j + 6 k
B. 2 i + j + 3 k
C. i + 2 j + 3 k
D. 2t i + t j + 3t k
4.22 Analisis Vektor 

7) Vektor normal utama satuan dari kurva r = 9cos t i + 9sin t j + 5k


adalah ....
A. sin t i – cos t j
B. – sin t i + cos t j
C. – cos t i – sin t j
D. cos t i + sin t j

8) Kelengkungan dari kurva r = 4 cos t i + 4 sin t j – 3k adalah ....


3
A.
4
1
B.
3
1
C.
2
1
D.
4

9) Persamaan garis singgung pada kurva r = (cos t  1)i  (sin t  2)j  4k



pada titik di mana t = adalah ....
2
A. r = (1 – t)i + 3 j + 4 k
B. r = i + (2 – t) j + 4 k
C. r = i + 2 j + 4t k
D. r = (1 – t)i + (2 – t) j + 4 k

10) Torsi dari kurva r (t) = cos 2t i + sin t j + 3k adalah ....


A. 2
B. 1
C. 0
D. -1
 PEMA4419/MODUL 4 4.23

Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 1 yang


terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar.
Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan
Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 1.

Banyaknya Jawaban yang Benar


Tingkat penguasaan =  100%
Banyaknya Soal

Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali


80 - 89% = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang

Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat


meneruskan dengan Kegiatan Belajar 2. Bagus! Jika masih di bawah 80%,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 1, terutama bagian yang
belum dikuasai.
4.24 Analisis Vektor 

Kegiatan Belajar 2

Kinematika

K inematika merupakan salah satu cabang dari mekanika yang


mempelajari tentang gerak suatu partikel sepanjang kurva. Dalam
kegiatan belajar ini, kita akan menerapkan konsep dan prinsip yang telah kita
pelajari dalam kegiatan belajar sebelumnya, terutama konsep dan prinsip
dalam Kegiatan Belajar 1 modul ini.
Misalkan t menggambarkan waktu dan misalkan pada suatu titik P yang
bergerak ditentukan oleh persamaan parametrik

x = x(t) , y = y(t) , z = z(t)

Vektor r(t) = x(t)i + y(t) j + z(t)k yang berpangkal di titik asal O dinamakan
vektor posisi titik P pada saat t. Apabila t berubah, ujung vektor r(t) bergerak
sepanjang lintasan titik P. Lintasan ini merupakan sebuah kurva dan gerak
yang dijalani oleh P dinamakan gerak sepanjang kurva (gerak kurvilinear).
Titik P bergerak sepanjang lintasannya dengan kecepatan v(t) dan
percepatan a(t) yang didefinisikan sebagai berikut.

v(t) = r (t)  x(t)i  y(t)j  z(t)k

a(t) = r (t)  x (t)i  y (t)j  z (t)k

Misalkan r (t) ada dan kontinu atau kurva r(t) tersebut mulus, dalam
Kalkulus telah diberikan bahwa panjang busur s dari titik P(a) ke titik P(t)
(dari ujung vektor posisi r(a) ke ujung vektor posisi r(t)) adalah

t
s  a x' (u)2  y' (u)2  z' (u)2 du
t
 a r ' (u) du
 PEMA4419/MODUL 4 4.25

Contoh 4.6
Misalkan suatu partikel P bergerak sedemikian sehingga vektor
posisinya pada saat t adalah r(t) = 4 cos t i + 4 sin t j + 3t k. Tentukanlah
1. kecepatan dan besar kecepatan (laju) pada saat t = 2,
2. percepatan dan besarnya pada saat t = 2 dan
3. panjang lintasan titik P pada 0 < t < 2.

Penyelesaian:
Lintasan dari titik (kurva) dengan persamaan tersebut dinamakan Heliks
lingkaran (Gambar 2.8(a)).
v(t) = r(t) = – 4 sin t i + 4 cos t j + 3 k
1. v(2) = 4 j + 3 k (kecepatan pada saat t = 2)

 v(2) = 42  32 = 5 (laju pada saat t = 2


a(t) = r(t) = v(t) = – 4 cos t i – 4 sin t j
2. a(2) = – 4 i (percepatan pada saat t = 2)
 a(2) = 4 (besar percepatan pada saat t = 2)
2
3. s  0 (4 sin t ) 2  (4 cos t ) 2  3 2 dt
2
s  0 5 dt = 10 

Dalam Kegiatan Belajar 1 modul ini, r(t) merupakan vektor singgung


dari kurva r = r(t). Jadi v(t) = r(t), yaitu kecepatan gerak titik P pada saat t
(ditulis P(t)) adalah suatu vektor singgung lintasan P(kurva) pada P(t).
ds
v(t) = r (t) = disebut laju (besar kecepatan)
dt
v(t)
= T adalah vektor singgung satuan
v(t)

Karena s menyatakan panjang busur yang diukur dari beberapa titik tetap
dT
pada arah pertambahan t, maka mengukur laju perubahan arah garis
ds
singgung terhadap jarak sepanjang kurva.
dT dT dt T (t)
 
ds dt ds v(t)
4.26 Analisis Vektor 

dT
Dalam Kegiatan Belajar 1 modul ini telah ditunjukkan bahwa
ds
adalah kelengkungan  dari kurva.
T (t)
= dT

ds v(t)

Contoh 4.7
Carilah kelengkungan dari heliks lingkaran r(t) = 4cos t i + 4sin t j + 3t k

Penyelesaian:
v(t) = – 4 sin ti + 4 cos t j + 3k

v(t)  (4sin t)2  (4cos t)2  32  5


1
T= (4 sin ti  4 cos t j  3k)
5
1
T = (4 cos ti  4 sin t j)
5
4
| T | =
5
T 4
  5

4
v(t) 5 25

Dalam Kegiatan Belajar 1 modul ini telah pula ditunjukkan bahwa


= N
dT
ds
Kita ingin menyatakan percepatan a dalam T dan N, yaitu komponen-
komponen a pada T dan N (komponen singgung dan komponen normal).
v ds
T dan v 
v dt
ds
v= v T = T
dt
 PEMA4419/MODUL 4 4.27

dv d 2s ds dT
a  T
dt dt 2 dt dt
d 2s ds d T ds
 2
T
dt dt ds dt
2
d 2s  ds 
= 2 T+    N
dt  dt 
2
d 2s  ds 
Jadi, a  T    KN
dt 2  dt 

ds dv d 2 s
Apabila | v |  = v, maka 
dt dt dt 2
Dalam Kegiatan Belajar 1 pula, telah diinformasikan bahwa jari-jari
1
kelengkungan  = . Maka komponen-komponen a dalam T dan N di atas

menjadi:
dv v2
a T N
dt 

dv v2
Apabila aT = dan aN = , maka diperoleh:
dt 

a = aT T + aN N
karena T tegak lurus N.
| a | = aT2 + aN2

Hubungan terakhir ini digunakan untuk menghindari perhitungan 


atau .
Jika rumus komponen-komponen a pada T dan N tersebut pada kedua
ruasnya dilakukan hasilkali skalar dengan T , maka diperoleh
T . a = aT T . T + aN T . N = aT

r r 

aT = T . a =
| r |
4.28 Analisis Vektor 

Jika dua ruas dari rumus komponen a pada T dan N di atas dilakukan
hasilkali vektor dengan T , maka diperoleh:
T  a = aT T  T + a N T  N = aN B (Ingat T  N = B)

r r
aN =  T  a  =
| r |

 ds 
2
r r
Karena aN =    = | r |2 , maka diperoleh  =
 dt  | r |3

Contoh 4.8
Carilah T, N, a, aN, aT dan  untuk gerak kurvilinear dengan persamaan
1 3
r(t) = t i + t2 j + t k pada saat t = 1.
3

Penyelesaian:
1 1
Untuk t = 1, maka r(1) = i + j + k adalah vektor posisi titik P(1, 1, 3
)
3
pada kurva.
r (t) = i  2t j  t 2 k
a(t) = r(t) = 2 j + 2t k
Untuk t = 1, maka a = r = 2 j  2k ; r'  i  2 j  k
r' 1
T  (i  2 j  k )
r' 6
r  r 6
aT    6
r 6
i j k
r '  r" 1 1
aN   1 2 1  2i  2j  2k  2
r' 6 6
0 2 2
a  aT T 1
N  2(i  k)
aN 2
 PEMA4419/MODUL 4 4.29

 aN
2

1
2
r 6

Contoh 4.9
Misalkan sebuah titik P bergerak pada bidang XOY sepanjang lingkaran
dengan pusat (0, 0) dan jari-jari d. P bergerak dengan laju sudut konstan
sebesar  radian per detik. Apabila kedudukan awalnya berada di (d, 0),
tentukanlah percepatannya.

Penyelesaian:
Vektor posisi titik P pada saat t adalah r(t) = d cos t i + d sin t j
v(t) = – d sin t i + d cos t j
a(t) = – 2d cos t i – 2d sin t j
a(t) = – 2 r(t)
Tampak di sini bahwa percepatan besarnya konstan, yaitu | a | = 2d
menuju ke pusat O. Percepatan ini disebut percepatan centripetal.

Contoh 4.10
Sebuah titik P bergerak pada bidang XOY yang persamaan geraknya
adalah x = 3 cos t dan y = 2 sin t, dengan t menyatakan waktu.
a. Apakah bentuk grafik dari lintasan P.
b. Tentukan kecepatan v(t), laju v(t) dan percepatan a(t).
c. Tentukan laju maksimum dan laju minimum dan pada saat manakah laju
tersebut dicapai.
d. Buktikan bahwa percepatannya selalu menuju ke titik asal.

Penyelesaian:
x x2
a.  cos t   cos2 t ,
3 9
y y2
 sin t   sin 2 t
2 4
(+)
x2 y2
 1
9 4
4.30 Analisis Vektor 

Grafik dari lintasan P adalah elips dengan pusat O, dengan panjang


sumbu panjang 9 berimpit pada sumbu X dan panjang sumbu pendek 4
berimpit pada sumbu Y.

b. Vektor posisi P pada saat t adalah r(t) = 3 cos t i + 2 sin t j , maka


v(t) = –3 sin t i + 2 cos t j dan

v(t) = 9 sin 2 t + 4 cos 2 t = 5 sin 2 t + 4


a(t)  3cos ti  2sin t j

c. Laju titik P adalah v(t) = 5sin 2 t  4


Nilai maksimum dariv(t) adalah 3, jika sin t = + 1, yaitu pada saat
 3
t= atau . Nilai minimumnya adalah 2, jika sin t = 0, yaitu pada
2 2
saat t = 0 atau .

d. Perhatikan bahwa a(t) = - r(t). Karena r(t) adalah vektor posisi titik P
terhadap titik asal O, maka a(t) adalah vektor dengan titik pangkal P dan
berujung di titik O.

LAT IH A N

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas,


kerjakanlah latihan berikut!
1) Sebuah partikel bergerak pada bidang XOY dengan persamaan gerak
r(t) = e-t i + et j . Tentukan kecepatan, percepatan dan laju pada t = 1.
2) Sebuah peluru ditembakkan dari titik asal dengan arah sudut 60 o, yaitu
sudut antara arah tersebut dan sumbu X positif. Laju awalnya adalah 10
kaki/detik. Abaikan gesekan dengan udara. Tentukan kecepatan dan
vektor posisi titik sebarang dari lintasan peluru tersebut! Apakah bentuk
lintasan peluru tersebut?
3) Sebuah partikel bergerak pada saat t, vektor posisinya adalah r(t).
Carilah kecepatan, percepatan dan laju pada saat t = t1, apabila
a. r(t) = cos 2t i + 2e-t j + 3 sin t k ; t1 = 0
b. r(t) = (2t – t2)i + 3t j + (t3 + 1)k ; t1 = 1
 PEMA4419/MODUL 4 4.31

4) Carilah komponen singgung aT dan komponen normal aN dari percepatan


suatu partikel yang bergerak dengan persamaan
a. x = t , y = t2 , z = 23 t3
1 3
b. r(t) = t i +t j + t-1 k ; t > 0
3
5) Sebuah partikel bergerak sedemikian hingga vektor posisinya pada saat t
adalah r = cos t i + sin t j , dengan  suatu konstan. Buktikan bahwa:
a. kecepatan partikel tegak lurus pada r.
b. kecepatannya menuju ke titik asal dan besarnya sebanding dengan
jarak titik pusat.
c. r × v adalah suatu konstan.

Petunjuk Jawaban Latihan

1) r(t) = e-ti + et j

v(t) = –e-t i + et j ; v(1) = –e-1i + e j ; v(1)  e2  e2  e1 1  e4


a(t) = e-ti + et j ; a(1) = e-1i + e j

2) Percepatan yang diakibatkan oleh gaya berat adalah a = –32 j


kaki/detik2. Syarat awal adalah r(0) = 0 dan
v(0) = 10 cos 60o i + 10 sin 60o j = 5 i + 5 3 j
Dimulai dengan a(t)  32 j
v(t) =  a (t )dt    32 j dt  32 t j  C

v(0) = C , sehingga C = 5 i + 5 3j
Jadi, v(t) = 5 i + (5 3 - 32 t)j
 
r (t) =  v( t )dt   5i  (5 3  32 t ) j dt

= 5t i + (5t 3 - 16t 2 )j + K
Karena r (0) = 0 maka K = 0, sehingga r(t) = 5t i + (5t 3 - 16 t 2 )j
Persamaan parametrik dari kurva ini adalah
x  5t ; y  5t 3  16t2
4.32 Analisis Vektor 

x
Jika t dilenyapkan dengan substitusi t = pada persamaan kedua
5
diperoleh:
16 2
yx 3x
25
Kurva dari persamaan ini adalah suatu parabola.

3) a. v(t) = –2 sin 2t i – 2e-t j + 3 cos t k ; v(0) = –2 j + 3k dan


v(0)  13
a(t) = – 4 cos 2t i + 2e-t j – 3 sin t k dan a(0) = –4i + 2 j
b. v(t) = (2 – 2t) i + 3 j + 3t2 k ; v(1) = 3 j + 3k ; v(1)  3 2
a(t) = –2 i + 6t k ; a(1) = –2 i + 6 k

2 3
4) a. r (t) = t i + t2 j + t k
3
r(t) = i+2t j+2t 2 k; r' = 1+4t 2 +4t 4 =1+2t 2
r (t) = 2 j + 4t k
r' 1
T=  (i  2t j  2 t 2 k )
r' 1  2t 2
r  r 4t  8t 3
aT = =  4t
| r | 1  2t 2
i j k
r x r  1
aN = = 1 2t 2t 2
| r | 1  2t 2
0 2 4t

1
= 4 t 2 i  4 t j  2k
1  2t 2

1
= 16t 4  16t 2  4
1  2t 2

= 2
1
b. r′(t) = i + t2 j - t-2 k ; r  2
t8  t 4  1
t
r (t) = 2t j + 2t-3k
 PEMA4419/MODUL 4 4.33

2t 3  2t 5 2(t8  1)
aT = 
t8  t 4  1 t5 t8  t 4  1
i j k
r × r = 1 t 2  t 2 = 4t-1i –2t-3 j + 2t k
0 2t 2t 3
2
r × r = 2 4t 2  t 6  t 2  t 8  4t 4  1
t3
r r 2 t 8  4t 4  1
aN = =
| r | t t8  t 4  1

5) r = cos t i + sin t j
v = –sin t i +  cos t j
a. r . v = -  cos t sin t +  cos t sin t = 0
Jadi v tegak lurus r.
b. a = –2cos t i – 2 sin t j = –r
Ini berarti percepatan berlawanan arah dengan r, karena r adalah
vektor posisi suatu titik pada kurva saat t terhadap titik O, maka a
menuju ke titik asal O.

a : r  =  : 1
i j k
c. r×v= cos t sin t 0 =  k adalah vektor konstan.
 sin t  cos t 0

R A NG KU M AN

1. Vektor posisi dari suatu partikel P bergerak sepanjang kurva pada


saat t adalah r = r(t)
2. Kecepatan v dan percepatan a didefinisikan sebagai
v = r (t) ; a = r (t)
4.34 Analisis Vektor 

3. Panjang busur lintasan P dari saat t0 hingga saat t adalah


t

ds
s r (u) du v = r = disebut laju
t0 dt
v
= T disebut vektor singgung satuan
v
T
Kelengkungan kurva  dT

ds v
2
d 2s  ds 
a= T    N
dt 2
 dt 
2
d 2s  ds 
a = aT T + aN N dengan aT  dan aN =   
dt 2  dt 
a2 = aT2 + aN2
r . r
Komponen a pada T adalah aT = T . a =
| r |
r r
Komponen a pada N adalah aN =
| r |

r  r 
Kelengkungan kurva adalah =
| r |3

TES F OR M AT IF 2

Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!

Untuk soal No. 1 sampai dengan 10 bermuara pada stem berikut ini.
Vektor posisi suatu partikel bergerak sepanjang kurva dan pada saat t adalah
r = cos t i + sin t j + t k
1) Lintasan partikel tersebut berbentuk ....
A. lingkaran
B. elips
C. heliks lingkaran
D. garis lurus
 PEMA4419/MODUL 4 4.35

2) Kecepatan pada saat t adalah v(t) = ....


A. cos2t i + sin2t j + t2 k
B. – sin t i + cos t j + k
C. sin t i – cos t j + k
D. – 2 cos t i + 2 sin t j + t k

3) Laju dari gerakan partikel tersebut adalah ....


A. 2
B. 2
C. 3
D. 3

4) Vektor singgung satuan dari kurva tersebut adalah ....


A. 3 (sin t i  cos t j)
B.  13 (sin t i  cos t j)
C.  12 (sin t i  cos t j  k)
D. 1
2
2 ( sin t i  cos t j  k)

5) Kelengkungan dari kurva itu adalah ....


A. 2
1
B. 2
2
1
C.
3
1
D.
2

6) Komponen percepatan pada vektor singgung adalah ...


A. -1
B. 0
C. 1
D. 2

7) Komponen percepatan pada vektor normal utama adalah ....


A. 0
B. 1
4.36 Analisis Vektor 

C. 2
D. 3

8) Panjang lintasan partikel dari t = 0 hingga t adalah ....


A. t 2
B. 2t
C. t 3
D. 3t

9) Vektor normal satuan dari kurva tersebut adalah ....


A. cos t i – sin t j
B. sin t i + cos t j
C. – cos t i – sin t k
D. – sin t i + cos t k

10) Vektor binormal satuan dari kurva tersebut adalah ....


1
A. 2 (cos t i + sin t j – k)
2
1
B. (cos t i – sin t j + k)
2
C. 2 (– sin t i + cost j – k)
1
D. 2 (sin t i + cos t j + k)
2

Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 2 yang


terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar.
Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan
Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 2.

Banyaknya Jawaban yang Benar


Tingkat penguasaan =  100%
Banyaknya Soal

Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali


80 - 89% = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang
 PEMA4419/MODUL 4 4.37

Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat


meneruskan dengan modul berikutnya. Bagus! Jika masih di bawah 80%,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 2, terutama bagian yang
belum dikuasai.
4.38 Analisis Vektor 

Kunci Jawaban Tes Formatif

Tes Formatif 1
1) D. Ingat bahwa jika y = cos2 t, maka y = 2 cos t (-sin t) = - sin 2t.
2) B. Jika y = 3 cos 2t, maka, y = 3(-sin 2 t) . 2 = - 6 sin 2 t.
3) C. Jika y = e-t , maka y = e-t(-1) = -e-t
4) A. u . v = 2t3
i j k
5) D. u  v = t 2t 2
0  2t 4 i  t 3 j  t 2 k
1 t t2
6) B. r  2i  j  3k

= N dengan  =
dT dT
7) C. T = – sin ti + cos t j dan
ds ds

8) D. Kurva berbentuk lingkaran  =


1
r

9) A. r (t) =  sin t i  cos t j , r   = - i
2

r   = i  3j  4k
2
Garis singgungnya r = (i  3j  4k) = -i t
10) C. Kurva pada bidang datar, sehingga torsinya nol.

Tes Formatif 2
1) C. Perhatikan bentuk persamaannya.
2) B. Kecepatannya adalah r(t).
3) A. Laju adalah | r |.
r
4) D. Vektor singgung satuan adalah T = .
r
 PEMA4419/MODUL 4 4.39

T
5) D. Kelengkungan  = .
r
d 2s ds
6) B. aT = 2
, sedang = r konstan.
dt dt
2
 ds 
7) B. aN =    = r|2 = ( 2)2  12  1
 dt 
t
8) A. s = 0
r du  t 2

dT
9) C. N = ds = -cos t i - sin t j
K
1
10) D. B = T  N = 2(sin t i - cos t j + k)
2
4.40 Analisis Vektor 

Daftar Pustaka

Kaplan, W. (1972). Advanced Calculus Second Edition. New York: Addison-


Wesley Publishing Company, Inc.

Kreyszig, E. (1979). Advanced Mathematics Fourth Edition. New York: John


Wiley & Sons.

Moeharti Hadiwidjojo. (1989). Vektor dan Transformasi Geometri.


Yogyakarta: FPMIPA IKIP Yogyakarta.

Purcell, Edwin J. and Varberg, Dale. (1984). Calculus with Analytic


Geometry Fourth Edition. Englewood Cliffs: Prentice-Hall, Inc.

Spiegel, M.R. (1974). Theory and Problems of Vector Analysis and an


Introduction to Tensor Analysis. S1 (Metric) Edition. New York:
McGraw-Hill International Book Company.

Anda mungkin juga menyukai