Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN KEGIATAN

PRAKTIK KERJA LAPANGAN

PENGELOLAAN JALUR WISATA


DI PTN BIDANG WILAYAH 1 CIANJUR TAMAN
NASIONAL GUNUNG GEDE PANGRANGO
PROVINSI JAWA BARAT

DIMAS FIRLIANTORO

PROGRAM STUDI EKOWISATA


SEKOLAH VOKASI
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2020
LAPORAN KEGIATAN
PRAKTIK KERJA LAPANGAN

PENGELOLAAN JALUR WISATA


DI PTN BIDANG WILAYAH 1 CIANJUR TAMAN
NASIONAL GUNUNG GEDE PANGRANGO
PROVINSI JAWA BARAT

DIMAS FIRLIANTORO

Praktek Kerja Lapang


sebagai salah satu syarat mendapat gelar Ahli Madya
pada Program Studi Ekowisata
Sekolah Vokasi Institut Pertanian Bogor

PROGRAM STUDI EKOWISATA


SEKOLAH VOKASI
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2020
34

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Pengelolaan Jalur Wisata


1.1 Perawatan Jalur Wisata
Perencanaan(Planing)
Perawatan jalur wisata yang dilakukan oleh pihak TNGGP dalam
memberikan perawatan kepada setiap jalur wisata, baik itu yang bersifat alami dan
buatan yang terdapat di TNGGP adalah dengan melakukan penutupan jalur
pendakian, langkah penutupan ini rutin dilakukan pengelola Taman Nasional
Gunung Gede Pangrango untuk memulihkan ekosistem hutan-gunung, terutama di
sekitar jalur pendakian. Penutupan kunjungan wisata itu untuk memulihkan
ekosistem di kawasan konservasi seluas 24.270,80 hektar tersebut. Kegiatan
perawatan juga dilakukan dengan Kegiatan Operasi Bersih jalur pendakian
ataupun wisata pendakian yang merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan oleh
Balai Besar TNGGP setiap tahunnya. Kegiatan operasi bersih jalur pendakian ini
bertujuan untuk menumbuh kembangkan rasa kepedulian dan kecintaan dalam
menjaga kelestarian kawasan serta merupakan salah satu upaya persiapan
pelayanan terhadap pengunjung pendakian dan sebagai salah satu wujud
peningkatan pengelolaan wisata khususnya wisata pendakian.
Pengorganisasian(Organizing)
Dalam mengorganisasikan keperawatan terhadap jalur wisata yang
terdapat di TNGGP , pegawai lingkup Balai Besar TNGGP, masyarakat sekitar
kawasan, MMP, dan Volunteer (Montana dan GPO) dikerahkan untuk melakukan
perawatan pada jalur wisata baik yang bersifat alami dan buatan.
Pelaksanaan (Actuating)
Pada pelaksanaan perawatan jalur wisata ini dilakukan rutin setiap hari
dengan merawat kebersihan kawasan sekitar kantor resort, selain itu juga
dilakukan penutupan kawasan TNGGP selama tiga bulan di awal tahun dan bulan
agustus untuk untuk memulihkan ekosistem hutan-gunung. Kegiatan lain yang
rutin dilakukan adalah Kegiatan Operasi Bersih rutin setiap tahunnya, Kegiatan
Operasi Bersih Jalur Pendakian dibuka secara resmi oleh Kepala Balai Besar
TNGGP di jalur pendakian Resort Cibodas dan diikuti oleh perwakilan pegawai
lingkup Balai Besar TNGGP, masyarakat sekitar kawasan, MMP, dan Volunteer
(Montana dan GPO). Kegiatan Operasi Bersih Jalur Pendakian ini dilaksanakan
selama 3 hari. Target operasi bersih yaitu jalur pendakian TNGGP:
a. Jalur Cibodas: Puncak Pangrango, Kandang Badak, Kandang Batu, Air Panas,
Panca Weleuh, dan Rawa Denok.
b. Jalur Gunung Putri: Puncak Gede, Alun-alun Timur, Simpang Maleber,
Buntut Lutung, dan Informasi Center.
c. Jalur Selabintana: camping ground (lok. 2), Gegeber, Cileutik, dan Alun-alun
Barat (arah Sukabumi).
35

Pengawasan (Controlling)
Pengawasan yang dilakukan dalam kegiatan perawatan pada jalur wisata ini
adalah dengan diawasi Kepala Resort masin-masing dengan melakukan
pengecekan secara berkala untuk memantau setiap kerusakan yang terjadi pada
masing-masing jalur wisata tersebut selanjutnya membuat laporan terkait kegiatan
perawatan untung diteruskan ke Kantor Bidang masimg-masing dan terakhir
diteruskan ke bagian Evaluasi dan Pelaporan Balai Besar TNGGP.
1.2 Pemanfaatan Jalur Wisata
Perencanaan(Planing)
Pemanfaatan jalur wisata yang dilakukan oleh pihak TNGGP untuk
mendukung kegiatan wisata adalah untuk memudahkan pengunjung untuk sampai
pada objek wisata yang telah disedianak oleh TNGGP, diantaranya yaitu:
a. Telaga Biru terletak ± 1,5 km dari pintu masuk Cibodas.
b. Rawa Gayonggong terletak ± 1,8 km dari pintu masuk Cibodas.
c. Air terjun Cibeureum terletak ± 2,5 km dari pintu masuk Cibodas.
d. Air panas terletak ± 5,2 km dari pintu masuk Cibodas, di ketinggian 2.150
meter dpl.
e. Kawah Gunung Gede terletak ± 8,9 km dari pintu masuk Cibodas.
f. Alun-alun Surya Kencana terletak pada ketinggian 2.750 meter, antara
Gunung Gede dan Gunung Gumuruh, terdapat daerah datar dengan panjang
1.500 meter dan lebar 250 meter. Lokasi ini berjarak ± 10,2 km dari pintu
masuk Cibodas dan ± 6,9 km dari pintu masuk Gunung Putri
g. Alun-alun Pangrango terletak di lereng Gunung Pangrango. Seperti alun-
alun Surya Kencana, lapangan ini banyak ditumbuhi bunga edelwis akan
tetapi luasnya lebih kecil dari pada alun-alun Surya Kencana.
h. Telaga Biru terletak ± 1,5 km dari pintu masuk Cibodas.
i. Rawa Gayonggong terletak ± 1,8 km dari pintu masuk Cibodas.
j. Air terjun Cibeureum terletak ± 2,5 km dari pintu masuk Cibodas.
k. Air panas terletak ± 5,2 km dari pintu masuk Cibodas pada ketinggian
2.150 meter dpl.
l. Kawah Gunung Gede terletak ± 8,9 km dari pintu masuk Cibodas.
m. Alun-alun Surya Kencana terletak pada ketinggian 2.750 meter, antara
Gunung Gede dan Gunung Gumuruh, terdapat daerah datar dengan panjang
1.500 meter dan lebar 250 meter. Lokasi ini berjarak ± 10,2 km dari pintu
masuk Cibodas dan ± 6,9 km dari pintu masuk Gunung Putri.
n. Alun-alun Pangrango terletak di lereng Gunung Pangrango. Seperti alun-
alun Surya Kencana, lapangan ini banyak ditumbuhi bunga Edelwis akan
tetapi luasnya lebih kecil dari pada alun-alun Surya Kencana.
Jalur wisata yang terdapat di TNGGP juga digunakan sebagai jalur
pendakian. Ada tiga jalur pendakian resmi yang dibuka oleh TNGGP
diantaranya :
36

a. Jalur Pendakian Via Cibodas


Jalur pendakian Cibodas merupakan jalur yang banyak diminati oleh para
pendaki. Hal itu dikarenakan, jalur ini menyediakan perjalanan trek yang mudah.
Disepanjang pendakian akan disuguhkan dengan pemandangan alam mulai dari
telaga biru, kawasan rawa gayonggong, menyeberangi aliran air panas, hingga air
terjun Panca Weuleuh yang terdapat beberapa menit selepas Pos kandang batu
(Biasa digunakan untuk mengambil air, jika menginap di kandang batu karena air
di dekat Pos kandang batu mengandung belerang dan kurang baik untuk
diminum).
b. Jalur Pendakian via Gunung Putri
Jalur Gunung Putri merupakan jalur kedua yang bisa dipilih untuk
pendakian Gunung Gede. Dibandingkan dengan jalur sebelumnya, jalur gunung
putri memang memiliki jalur trek yang lebih sulit. Ada beberapa medan terjal dan
juga trek yang cukup curam, seperti saat memasuki kawasan hutan tropika, sekitar
Tanah Merah, dan juga sekitar Lawang Seketeng. Bagi yang belum pernah
melewati jalur pendakian Gunung Gede ini, Pos Jaga Gunung tempat pemeriksaan
simaksi, merupakan titik awal perjalanan pendakian. Dari sana, perjalanan
berlanjut menuju trak dengan melewati hutan pinus yang dikelola KPH Perhutani
Cianjur, dan juga ladang. Selanjutnya, menuju trek hutan tropis, Tanah Merah,
Legok Leunca, Buntut Lutung, menuju jalur Lawang Seketeng, kemudian
mengambil jalan lurus ketika sampai di Simpang Maleber untuk menuju Alun-
Alun Timur Suryakencana. Biasanya pendaki yang melalui cibodas akan
mendirikan camp di Kandang Badak untuk beristirahat sebelum melanjutkan
pendakian ke Puncak Gunung Gede pada dinihari sekitar pukul 03.00. Di area
Kandang Badak terdapat sumber air & mushola.
c. Jalur Pendakian via Selabintana
Bagi pemula, jalur pendakian ketiga ini sangat tidak disarankan untuk
menjadi pilihan. Hal itu dikarenakan jalur Selabintana merupakan jalur yang
memiliki trek pendakian terpanjang di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
dan terbilang cukup sulit dilewati. Pada awal perjalanan, selepas basecamp pada
jalur Selabitana harus melewati hutan dengan banyak pacet yang. Namun jika
benar-benar ingin menikmati jalur pendakian yang lebih tenang dan asri karena
jalur ini tidak terlalu banyak dilewati seperti jalur cibodas dan gunung putri,
disarankan untuk melakukan persiapan fisik dan logistik yang lebih terencana.
Oleh karena itulah, bagi pemula jalur Cibodas lebih disarankan untuk dipilih
dibandingkan jalur Selabintana ini.
Pengorganisasian(Organizing)
Dalam mengorganisasikan pemanfaatan terhadap jalur wisata yang
terdapat di TNGGP , pegawai lingkup Balai Besar TNGGP, masyarakat sekitar
kawasan, MMP, dan Volunteer (Montana dan GPO) dikerahkan untuk melakukan
pemanfaatan pada jalur baik yang bersifat alami dan buatan adapaun secara umum
37

pengorganisasian dalam melakukan pemanfaatan jalur wisata adalah tanggung


jawab Kepala Resort dari masing-masing Resort yang ada di TNGGP.

Pelaksanaan (Actuating)
Pemanfaatan jalur wisata ini dilakukan dengan mengenakan tarif ticketing
yang berbeda pada setiap objek wisata yang ditawarkan pihak TNGGP selaian itu
juga pengadaan Guide untuk mendampingi pengunjung saat melakukan kegiatan
di objek tertentu seperti saat melakukan pengamatan burung di Jalur PEngamatan
Burung dan saat menggunakan jalur Canopy Trail.
Pengawasan (Controlling)
Pengawasan yang dilakukan dalam kegiatan pemanfaatan jalur wisata ini
adalah dengan diawasi Kepala Resort masing-masing dengan melakukan
pengecekan secara berkala untuk memantau setiap kegiatan yang terjadi pada
masing-masing jalur wisata tersebut selanjutnya membuat laporan terkait kegiatan
pemanfaatan jalur wisata seperti laporan terkait jumlah pengunjung yang datang
dan jumlah pemasukan yang didapat untuk diteruskan ke Kantor Bidang masimg-
masing dan terakhir diteruskan ke bagian Evaluasi dan Pelaporan Balai Besar
TNGGP.
2. Patroli Jalur Wisata
Perencanaan(Planing)
Kegiatan perlindungan dan pengamanan hutan merupakan kegiatan yang
rutin dilaksanakan sebagai upaya untuk mencegah dan membatasi ruang gerak
tindak pelaku pengrusakan kawasan hutan. Sebagai bentuk upaya perlindungan
dan pengamanan kawasan hutan, dilaksanakan rutin kegiatan patroli di tingkat
resort. Patroli ini merupakan kegiatan preventif yang dilaksanakan untuk
mencegah terjadinya gangguan keamanan kawasan hutan dan mencegah
terjadinya tindak pidana kehutanan guna menjaga keutuhan kawasan hutan.
Pengorganisasian(Organizing)
Dalam mengorganisasikan patroli yang terdapat di TNGGP maka
POLHUT, masyarakat sekitar kawasan, MMP, dan Volunteer (Montana dan GPO)
dikerahkan untuk melakukan patroli pada Kawasan TNGGP untuk menghidari
adanya tindak pidana di Kawasan TNGGP..
Pelaksanaan (Actuating)
Pada pelaksanaan kegiatan patroli kawasan hasil kegiatan patroli terdapat
gangguan keamanan kawasan hutan seperti:
a. Perburuan Liar
Perburuan liar masih sering terjadi di dalam kawasan Resort PTN Bodogol
dan Cimande, terutama perburuan burung. Masih tingginya permintaan pasar
burung, menyebabkan terus terjadinya perburuan di dalam kawasan hutan untuk
memenuhi permintaan tersebut dilakukan berbagai cara, seperti menggunakan
senapan angin dan yang paling sering digunakan yaitu dengan jerat dan perangkap
berupa jaring kabut yang dibentangkan menggunakan tunggak kayu. Hasil patroli
gangguan kawasan tingkat resort, ditemukan adanya indikasi bekas aktifitas
38

perburuan. Petugas menemukan sebuah bivak dan bekas pembakaran, ditemukan


adanya jaring yang diikat diantara pohon sebagai alat penjebak satwa burung
sebanyak 2 buah dan jaring yang dipasang diantara pohon sebanyak 10 jaring dan
1 buah gubuk pemburu. Masih tingginya permintaan pasar burung, menyebabkan
terus terjadinya perburuan di dalam kawasan hutan untuk memenuhi permintaan
tersebut.
b. Pencurian Kayu Bulat
Dijumpai adanya penebangan pohon Albazia sebanyak 17 batang dengan
diameter 15 cm – 20 cm di Blok Cisarua. Jika melihat batas kawasan di lapangan
lokasi penebangan tersebut masuk ke dalam kawasan TNGGP, tetapi jika dilihat
di dalam peta kerja Resort PTN Cimande lokasi tersebut berada di luar kawasan,
hal perlu dilakukan pengecekan lebih lanjut untuk penanganannya.
c. Perambahan Kawasan
Aktivitas perambahan masih terjadi di kawasan di Blok Cisarua, Resort
PTN Cimande. Perambahan kawasan digunakan untuk lahan pertanian yang
ditanami tanaman Kapulaga, setelah dilakukan pencarian informasi pelaku
merupakan warga dari Kampung Baru. Lahan kawasan yang digunakan seluas ±
500 m². Juga dijumpai adanya saung yang dibuat dengan bambu yang ada di
dalam kawasan pada koordinat X : 0707849 Y. Di Resort PTN Bodogol,
perambahan kawasan terjadi di kawasan hutan Ciwaluh, Cipeucang, dan Ciawitali
dengan luas garapan 90 Ha.
d. Pencurian Hasil Hutan Lainnya
Pencurian hasil hutan lain atau Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) untuk di
Resort Cimande adalah pengambilan bambu dari hasil kegiatan patroli dijumpai
adanya pengambilan bambu di Blok Pondok Catang dan Blok Pasir Karamat,
dimana Bambu yang diambil digunakan untuk bahan bangunan pembuatan rumah,
pembuatan ajir, dan pembuatan layang-layang. Dari hasil kegiatan patroli juga
dijumpai adanya lokasi baru tumbuhan Rafflesia rochussenii, tumbuhan ini
merupakan tumbuhan yang dilindungi karena keberadaannya terancam punah.
Pengawasan (Controlling)