Anda di halaman 1dari 23

USULAN KEGIATAN

PRAKTIK KERJA LAPANGAN

PENGELOLAAN JALUR WISATA


DI TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE
PANGRANGO
PROVINSI JAWA BARAT

DIMAS FIRLIANTORO

PROGRAM STUDI EKOWISATA


SEKOLAH VOKASI
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2020
USULAN KEGIATAN
PRAKTIK KERJA LAPANGAN

PENGELOLAAN JALUR WISATA


DI TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE
PANGRANGO
PROVINSI JAWA BARAT

DIMAS FIRLIANTORO

Usulan Kegiatan
sebagai salah satu syarat melaksanakan Praktik Kerja Lapangan
pada Program Studi Ekowisata
Sekolah Vokasi Institut Pertanian Bogor

PROGRAM STUDI EKOWISATA


SEKOLAH VOKASI
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2020
Judul : Pengelolaan Jalur Wisata di Taman Nasional
Gunung Gede Pangrango Provinsi Jawa Barat
Nama : Dimas Firliantoro
NIM : J3B917156
Program Studi : Ekowisata

Diketahui oleh, Disetujui oleh,

Bedi Mulyana, S.Hut, M.Par, MMCAP Insan Kurnia, S.Hut., M.Si.


Ketua Program Studi Dosen Pembimbing

Tanggal Pengesahan:
PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, karena berkat
Rahmat dan Hidayahnya penulis dapat menyelesaikan laporan praktik kerja
lapangan dengan judul Pengelolaan Jalur Wisata di Taman Nasional Gunung
Gede Pangrango, Provinsi Jawa Barat. Usulan kegiatan Praktik Kerja
Lapangan ini merupakan salah satu tahapan awal bagi penulis dalam memenuhi
kewajiban akademik yang harus dipenuhi dan juga sebagai syarat kelulusan bagi
mahasiswa tingkat akhir yang berpendidikan di Program Studi, Sekolah Vokasi,
Institut Pertanian Bogor.
Penulis berharap usulan kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) dapat
bermanfaat bagi akademisi, masyarakat luas dan keilmuan khususnya dalam
bidang Ekowisata. Penulis dengan terbuka akan menerima kritik dan saran dari
pembaca apabila terdapat kekurangan dan kekeliruan pada usulan kegiatan tugas
akhir ini.

Bogor, Februari 2020

Dimas Firliantoro
i

DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR TABEL i
DAFTAR GAMBAR iii
I. PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Tujuan 1
C. Manfaat 1
II. KONDISI UMUM 3
A. Letak dan Luas Kawasan 3
B. Sejarah Kawasan 3
C. Kondisi Fisik Kawasan 4
D. Kondisi Sosial Budaya Masyarakat 5
E. Kondisi Kepariwisataan 5
F. Aksesibilitas 6
III. METODE PENGAMBILAN DATA 7
A. Waktu dan Lokasi 7
B. Alat 7
C. Jenis Data 7
D. Metode Pengambilan Data 8
E. Analisis Data 8
DAFTAR PUSTAKA 9
i

DAFTAR TABEL

No. Halaman
1. Jenis Data Yang Diambil 7
iii

DAFTAR GAMBAR

No. Halaman
1. Peta Lokasi TNGGP 3
2. Peta Taman Nasional Gunung Gede Pangrango 7
1

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Jalur wisata adalah jalur khusus yang menghubungkan objek – objek


menarik. Jalur ini berupa jalur transportasi misalnya jalur mobil, jalur sepeda,
pejalan kaki, dan lain sebagainya (Muntasib & Rachmawati 2003). Jalur wisata
disusun agar wisatawan mendapatkan pesan berupa pengalaman dan pemahaman
dari perjalanannya (Putra, Sugiarta, & Yusiana 2013). Jalur wisata dibuat sebagai
upaya untuk mengangkat potensi yang dimiliki oleh suatu kawasan. Jalur ini
berguna dalam proses keputusan jangka panjang untuk mengembangkan kawasan
wisata. Manfaat lain dari penyusunan jalur wisata adalah untuk meningkatkan
sumber daya manusia yang terkait dengan rute wisata tersebut (Mahayana,
Mayun, & Astiningsih 2016).
Interpretasi dapat membantu pengunjung untuk mengenal dan memahami
kondisi kawasan yang dikunjungi (Nasution, Patana, & Afifuddin 2015). Daya
apresiasi dan wawasan pengunjung juga akan meningkat sehingga tertarik untuk
berkontribusi positif terhadap kawasan wisata. Jalur ini bermanfaat untuk
mengelola pelaksanaan dan pengembangan kawasan wisata. Jalur interpretasi juga
akan menyelaraskan kegiatan antara wisatawan dan pengelola.
Praktik kerja lapangan terkait pengelolaan jalur wisata di Taman Nasional
Gunung Gede Pangrango Provinsi Jawa Barat dilakukan untuk memahami bentuk
pengelolaan yang sudah diterapkan dan dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi
untuk pengelolaan jalur wisata kedepannya. Kegiatan untuk mengetahui
pengelolaan jalur wisata di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Provinsi
Jawa Barat melalui Praktik Kerja Lapang (PKL) dengan partisipatif atau ikut serta
melihat pengelolaan jalur wisata tersebut. Manfaat dari Praktik Kerja Lapang
adalah untuk menambah pengalaman dan pengetahuan kerja mengenai
pengelolaan jalur wisata di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Provinsi
Jawa Barat.

B. Tujuan

Tujuan dari kegiatan ini yaitu mempelajari pengelolaan jalur wisata di


Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

C. Manfaat

Tugas Akhir ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi setiap orang
baik bagi penulis, pembaca, dan masyarakat setempat. Manfaat dari Perencanaan
Ekowisata Burung di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, diantaranya:
1. Memahami dan merasakan lingkungan dunia kerja secara langsung
2. Memahami dan merasakan secara langsung pengelolaan jalur wisata di
lapangan
3. Mampu mengaplikasikan ilmu yang dipelajari saat masa perkuliahan
4. Membantu memberikan data umum terkait pengelolaan jalur wisata sebagai
pertimbangan dalam pengembangan kegiatan wisata di Provinsi Jawa Barat
2

5. Sebagai bahan evaluasi bagi pihak Taman Nasional Gunung Gede


Pangrango Provinsi Jawa Barat dalam pengelolaan kawasan wisata.
3

II. KONDISI UMUM

A. Letak dan Luas Kawasan

Secara geografis Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP)


terletak antara 106º51`-107º02`BT dan 6º41`-6º51` LS. Secara administrastif
Taman Nasional ini termasuk dalam wilayah tiga Kabupaten di Provinsi Jawa
Barat, yaitu Kabupaten Bogor, Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Cianjur
dengan total luasan 24.270,80 Ha.

Gambar 1 Peta Lokasi TNGGP

B. Sejarah Kawasan

Kawasan TNGGP memang sudah dikenal secara internasioanl sejak zaman


dahulu kala, saat para pengembara barat (Para Peneliti Botani Belanda) mampir di
kawasan ini. Secara nasional, kawasan konservasi di kompleks Gunung Gede
Pangrango mempunyai arti penting dalam sejarah konservasi dan penelitian
botani, karena wilayah ini merupakan kawasan konservasi yang pertama di
Indonesia ditetapkan sebagai Cagar Alam Cibodas, pada tahun 1889. Perjalanan
sejarahnya mulai dari Cagar Alam Cibodas sampai menjadi Balai Besar TNGGP
bisa diikuti runtutan kilas balik di bawah ini :

1. Berdasarkan Besliut van den Gouverneur General van Nederlandsch Indie


17 Mei 1889 No. 50 tentang Kebun Raya Cibodas dan areal hutan di atasnya
ditetapkan sebagai contoh flora pegunungan Pulau Jawa dan merupakan
cagar alam dengan luas 240 Ha. Selanjutnya dengan Besluit van den
Gouverneur General van Nederlandsch Indie 11 Juni 1919 No. 33 staatsblad
No. 329-15 memperluas areal dengan hutan di sekitar Air Terjun
Cibeureum.
4

2. Tahun 1919 dengan Besliut van den Gouverneur General van Nederlandsch
Indie 11 Juli 1919 No. 83 staatsblad No. 392-11 menetapkan areal hutan
lindung di lereng Gunung Pangrango dekat desa Caringin sebagai Cagar
Alam Cimungkad, seluas 56 ha.
3. Sejak tahun 1925 dengan Besliut van den Gouverneur General van
Nederlandsch Indie 15 Januari 1925 No. 17 staatsblad 15 menarik kembali
berlakunya peraturan tahun 1889, menetapkan daerah puncak Gunung Gede,
Gunung Gumuruh, Gunung Pangrango, dan DAS Ciwalen Cibodas sebagai
Cagar Alam Cibodas dengan luas 1040 Ha.
4. Daerah Situgunung lereng Selatan Gunung Gede dan bagian Timur
Cimungkad ditetapkan sebagai taman wisata seluas 100 Ha, melalui SK
Menteri Pertanian No. 461/Kpts/Um/31/75 tanggal 27 November 1975.
5. Unesco pada tahun 1977 menetapkan, kompleks Gunung Gede Pangrango
dan wilayah di sekitarnya yang dibatasi jalan raya Ciawi – Sukabumi –
Cianjur sebagai Cagar Biosfer Cibodas, dengan kawasan konservasi sebagai
zona inti Cagar Biosfer Cibodas.
6. Pada tahun 1978, bagian-bagian lainnya, seperti kompleks hutan Gunung
Gede, Gunung Pangrango Utara, Cikopo, Geger Bentang, Gunung Gede
Timur, Gunung Gede Tengah, Gunung Gede Barat, dan Cisarua Selatan
ditetapkan sebagai Cagar Alam Gunung Gede Pangrango dengan luas
14.000 Ha.
7. Dengan diumumkannya lima buah taman nasional pertama di Indonesia oleh
Menteri Pertanian pada tanggal 6 Maret 1980, maka kawasan Cagar Alam
Cibodas, Cagar Alam Cimungkat, Cagar Alam Gunung Gede Pangrango,
Taman Wisata Situgunung, dan hutan alam di lereng Gunung Gede
Pangrango, berstatus sebagai TNGGP, dengan luas 15.196 Ha.
8. Melalui SK Menteri Kehutanan No. 174/Kpts-II/2003 tanggal 10 Juni 2003
kawasan TNGGP diperluas dengan areal hutan di sekitarnya menjadi 22.851
Ha.
9. Di awal tahun 2007, melalui SK Menteri Kehutanan Nomor P.03/Menhut-
II/2007 tanggal 01 Februari 2007, UPT Balai TNGGP ditingkatkan dari
eselon III menjadi eselon II dengan nama Balai Besar TNGGP.

C. Kondisi Fisik Kawasan

1. Topografi
Gunung Gede dan Pangrango merupakan alur gunung berapi yang terbentuk
dari aktivitas lapisan kulit bumi secara terus menerus. Secara umum batuan pada
kawasan ini terdiri dari batuan vulkanik (Mota 2002). Ketinggian Gunung Gede
(2958 mdpl) dan Gunung Pangrango (3019 mdpl).
Keadaan topografi di TNGGP bervariasi mulai dari landai hingga bergunung
dengan kisaran ketinggian antara 700 m dan 3000 mu dpl. Jurang dengan
kedalaman sekitar 70 m banyak dijumpai didalam kedua kawasan tersebut.
Sebagian besar kawasan merupakan dataran tinggi tanah kering dan sebagian kecil
merupakan daerah rawa, terutama di daerah sekitar Cibeureum yaitu Rawa
Gayonggong.
5

2. Iklim dan Curah Hujan


TNGGP merupakan daerah beriklim tropis dengan curah hujan berkisar
antara 3000-4000 mm/tahun. Berdasarkan klasifikasi Schmidt dan Ferguson
tipe,iklim kawasan ini termasuk tipe iklim A. Temperatur di cibodas antara 18-
10oC pada siang hari dan malam hari berkisar 0-5oC. Kelembaban udara berkisar
antara 80-90%, dan di daerah ini bertiup angin munson. Sistem hidrologi TNGGP
ini terdiri dari sungai sungai yang umumnya membentuk pola radial, dan laju
aliran relatif stabil (Mota 2002). Kawasan ini merupakan pemasok air yang
banyak, terihat dari debit air sekitar 8 milyar liter per tahun (Hartono 2008).
3. Geologi dan Geohidrologi
Berdasarkan peta tanah provinsi Jawa Barat dari lembaga penelitian tanah
Bogor, kawasan taman nasional gunung gede pangrango terdiri dari jenis tanah
regosol dan litosol yang mudah erosi, jenis tanah asosiasi andosol dan regosol yang
peka terhadap erosi, jenis tanah latosol coklat merupakan tanah yang subur dan paling
dominan di TNGGP (Mota 2002).

D. Kondisi Sosial Budaya Masyarakat

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango merupakan zona inti dari Cagar
Biosfer Cibodas. Kawasan di sekelilingnya yang berbatasan langsung dengan TN
ini merupakan zona penyangga. Sedangkan wilayah di luarnya yang berbatasan
langsung dengan batas terluar Cagar Biosfer, yaitu jalan raya yang
menghubungkan kota Ciawi (Bogor)-Cianjur-Sukabumi merupakan zona
peralihan. Bentuk pengelolaan kawasan di zona penyangga antara lain adalah
hutan produksi, hutan lindung, Kebun Raya Cibodas, Taman Safari Indonesia,
lahan perkebunan teh, lahan pertanian padi, sayur dan buah-buahan,
perkampungan dan desa. Hampir sebagian besar penduduk yang tinggal di dalam
24 dan sekitar kawasan Cagar Biosfer ini adalah petani sayuran, buah, padi sawah,
perkebunan dan tanaman hias serta pedagang. Sebagian lainnya bermata
pencaharian terkait dengan penyediaan jasa pariwisata dan turunannya.

E. Kondisi Kepariwisataan

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango merupakan zona inti dari Cagar
Biosfer Cibodas. Kawasan di sekelilingnya yang berbatasan langsung dengan TN
ini merupakan zona penyangga. Sedangkan wilayah di luarnya yang berbatasan
langsung dengan batas terluar Cagar Biosfer, yaitu jalan raya yang
menghubungkan kota Ciawi (Bogor)-Cianjur-Sukabumi merupakan zona
peralihan. Bentuk pengelolaan kawasan di zona penyangga antara lain adalah
hutan produksi, hutan lindung, Kebun Raya Cibodas, Taman Safari Indonesia
lahan perkebunan teh, lahan pertanian padi, sayur dan buah-buahan,
perkampungan dan desa. Hampir sebagian besar penduduk yang tinggal di dalam
dan sekitar kawasan Cagar Biosfer ini adalah petani sayuran, buah, padi sawah,
perkebunan dan tanaman hias serta pedagang. Sebagian lainnya bermata
pencaharian terkait dengan penyediaan jasa pariwisata dan turunannya.
Potensi wisata andalan yang terdapat di taman nasional ini antara lain
Telaga Biru, Air Terjun Cibeureum, Air Panas, Kandang Batu, Kandang Badak,
6

Puncak dan Kawah Gunung Gede, Alun-alun Suryakencana, Puncak Gunung


Pangrango, Pusat Pendidikan Konservasi Alam Bodogol (PPKAB), Air Terjun
Cipadaranten, Air Terjun Cikaweni, Air Terjun Cikaracak, Air Terjun
Cikahuripan, Air Terjun Cibeureum Selabintana, Air Terjun Sawer dan fasilitas
Bumi Perkemahan (camping ground) Bobojong, Barubolang dan Salabintana.
Pengunjung diberi kesempatan untuk melakukan kegiatan wisata seperti
pendakian, trekking ke air terjun, kemping, pengamatan burung, penelitian, dan
pendidikan konservasi.

F. Aksesibilitas

Kawasan wisata TNGGP dan dapat ditempuh dengan menggunakan


kendaraan beroda empat maupun roda dua. Jarak dari pusat kota Bogor ke lokasi
wisata TNGGP di Cibodas 40 km dengan jarak tempuh selama 90 menit,
sedangkan dari kota Cianjur 15 km dengan jarak tempuh 30 menit. Hampir
keseluruhan tempat wisata di TNGGP dapat diakses menggunakan kendaraan
bermotor sampai di batas kawasan, Untuk mencapai spot wisata pilihan,
pengunjung dapat menempuhnya dengan berjalan kaki.
7

III. METODE PENGAMBILAN DATA

A. Waktu dan Lokasi


Lokasi pelaksanaan praktik kerja lapangan mengenai pengelolaan jalur
wisata dilakukan di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango mulai februari
2020 sampai juni 2012.

Gambar 2 Peta Taman Nasional Gunung Gede Pangrango


Sumber: BBTNGGP
B. Alat
Alat yang digunakan dalam kegiatan praktik kerja lapang yaitu.
1. Alat tulis yang digunakan untuk mencatat data yang diperoleh.
2. Peta kawasan untuk mempermudah pembuatan peta persebaran obyek.
3. Buku panduan yang digunakan sebagai acuan dan panduan pada saat
praktikum.
C. Jenis Data

Jenis data yang diambil dalam kegiatan penyusunan Praktik Kerja Lapang
terdiri dari dua data (Tabel 1)
Tabel 1 Jenis Data Yang Diambil
No. Data Deskripsi Metode Pengambilan Data
1. Pengelolaan Jalur Wisata
Pengelolaan a. Pemasangan Wawancara, observasi dan studi
Sign and b. Perawatan literatur.
Label c. Perbaikan
d. Pemasangan
8

No. Data Deskripsi Metode Pengambilan Data


Patroli Jalur a. Pengawasan keselamatan Wawancara, observasi dan studi
Wisata sumberdaya dari pengunjung literatur.
b. Pengawasan keselamatan
pengunjung dari sumberdaya
c. Pengawasan keselamatan
pengunjung dari pengunjung
d. Patroli jalur illegal

D. Metode Pengambilan Data


1. Wawancara
Pengambilan data dengan metode wawancara diperoleh dengan cara
bertanya secara langsung kepada pihak pengelola mengenai informasi lebih jauh
tentang hal-hal yang ditemui pada saat praktikum. Data yang diambil dengan
metode wawancara berupa pengelolaan jalur wisata yang akan berkaitan dengan
pengelolaan sign and label, patroli jalur wisata dan permasalahan lain yang
ditemukan pada lokasi praktikum. Metode wawancara yang digunakan yaitu
berupa daftar pertanyaan berdasarkan aspek planning, organizing, actuating,
controlling, dan evaluating dari pengelolaan yang sudah tersedia.
2. Observasi
Pengambilan data dengan cara observasi merupakan pengumpulan data atau
informasi dengan mengamati secara langsung dan tidak langsung. Observasi
dilakukan dengan tujuan mengetahui kondisi yang sebenarnya. Metode observasi
dilakukan pada saat partisipasi secara langsung bersama pihak pengelola dalam
kegiatan penglolaan. Data yang diambil berupa data pengelolaan jalur wisata serta
pengambilan gambar berupa dokumentasi. Pengambilan data dengan metode
observasi digunakan untuk memperoleh pemahaman serta wawasan mengenai
pengelolaan ekowisata, khususnya pengelolaan jalur wisata di lokasi praktikum
berdasarkan sudut pandang pengelola.

E. Analisis Data

Analisis data dilakukan agar dapat mengetahui kesimpulan dari data yang
telah dikumpulkan. Pengumpulan data dilakukan dengan mengelompokkan
berdasarkan kriteria dari data yang diperoleh. Data yang telah terkumpul akan
dianalisa secara kualitatif yaitu dengan menyajikan data dalam bentuk tabel,
diagram, grafik atau deskriptif mengenai pengelolaan jalur wisata di Taman
Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Penyajian tersebut bertujuan untuk
mempermudah dalam memahami infomrasi data yang telah dianalisa.
9

DAFTAR PUSTAKA

Mahayana IBS., Mayun IA, dan Astiningsih AAM. 2016. Perencanaan jalur
sepeda sebagai tujuan wisata desa di Kecamatan Payangan, Kabupaten
Gianyar. E-Jurnal Arsitektur Lansekap. 2 (2) : 187 – 195.
Nasution M, Patana P, dan Afifuddin Y. 2015. Perencanaan program interpretasi
lingkungan di kawasan wisata Danau Linting Kabupaten Deli Serdang.
Jurnal USU. 4 (1) : 102 – 110.
Putra AS, Sugiarta AAG, dan Yusiana LS. 2013. Perencanaan jalur interpretasi
wisata warisan sejarah budaya di pusat Kota Denpasar. E- Jurnal
Agroekoteknologi Tropika. 2 (2) : 116 – 125.