Anda di halaman 1dari 2

MENDIDIK ANAK USIA PRABALIGH

Oleh : Ustadzah Yanti Tanjung

Usia prabaligh dalam bahasan fiqh adalah usia sebelum mimpi (Ihtilam) bagi anak laki-laki, dan haidh bagi
anak perempuan atau dalam pandangan lain sampai batas usia 15 tahun bila anak belum mengalami mimpi
dan haidh.

Sesungguhnya anak usia dini (0-6) terkategori sebagai anak usia prabaligh, namun mengingat proses
pertumbuhan dan perkembangannya tidaklah sama setelah usia itu maka pola pendidikan yang
diberlakukan di usia dini memiliki ciri khas dan target yang hendak dicapai dalam tahapan proses
pembentukan pola baik berpikir maupun naluri. Maka usia dini bisa disebut usia prabaligh tahap pertama.

Adapun usia prabaligh tahap 2 kisaran usia 7-10 tahun, ini batas anak-anak rata-rata belum baligh, usIa
ini juga disebut usia tamyiz. Sedangkan usia 11-15 tahun bisa dikatakan usia baligh tahap pertama walau
masih ada anak-anak rentang usia ini sudah baligh namun rata-rata sudah mengalami baligh khususnya
anak perempuan.

Maka berdasarkan inilah nanti konsep pendidikan usia prabaligh dibuat dengan target yang hendak dicapai
sesuai dengan apa yang sudah dicanangkan syariah islam.

Maka Fokus kita saat ini untuk mendidik usia prabaligh tahap dua (usia tamyiz) karena fase ini adalah fase
batas akhir bagi kita untuk mempersiapkan ananda menuju taklif (beban) hukum syara. Sisi lain pada fase
ini juga ada hukum syara’ yang wajib diberlakukan bagi anak diusia dan wajib dijalani, misalkan hukum
syara’ yang terkait dengan ijtima’iyyah (atauran pergaulan), semisal pemisahan tempat tidur dan larangan
memasuki kamar orang tua ditiga waktu khusus.

Usia 6-10 tahun usia yang sudah lepas dari masa hadhonah (pengasuhan) dan secara emosional ananda
mengalami perubahan yang signifikan dan sudah bisa membedakan mana perkara yang baik dan mana
perkara yang buruk. Mengingat ananda sudah lepas dari masa hadhonah maka memungkinkan dia untuk
mandiri, memenuhi keperluannya sendiri dan mengurusi dirinya secara mandiri meski perwalian ananda
masih dibebankan kepada ayah hingga ananda baligh bagi laki-laki dan hingga menikah bagi perempuan.
Saat inilah ananda diperkenankan Sekolah Dasar dengan rutinitas kurikulum yang diprogram sesuai level
usianya. Bila diprogram dengan baik dan serius maka anak akan mengalami perkembangan-perkembang
yang menakjubkan dalam perkara kepribadian islamnya.

Rasulullah Saw. juga memerintahkan kepada anak usia 7 tahun ini untuk melaksanakan sholat, meski tidak
dengan perintah yang tegas. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Perintahkanlah anak-anakmu shalat
pada umur tujuh tahun dan pukullah atas hal tersebut jika telah berumur sepuluh tahun, serta pisahkanlah
mereka dari tempat tidurnya.”

Laki-laki tamyiz juga memiliki kedudukan tersendiri dalam hukum menutup aurat bagi wanita. Sebab,
wanita hanya boleh memperlihatkan aurat kepada anak-anak yang belum mengerti aurat wanita, yaitu
mereka yang belum tamyiz (QS A- Nuur: 31). Ini artinya, laki-laki tamyiz dianggap sudah mengerti aurat
wanita.

Secara sosial, pada umumnya usia 7 tahun merupakan masa usia sekolah dasar (dengan kurikulum yang
lebih padat dibandingkan masa sebelumnya dan waktu belajar di sekolah yang lebih lama).

Secara pemikiran dan naluriyyah ananda sudah siap untuk dibiasakan dan dilatih untuk taat pada Allah
SWT. Di samping itu ananda mengalami interaksi dengan teman lebih banyak dan berhubungan dengan
lingkungan lebih luas maka memungkinkan kepribadian islamnya dipengaruhi oleh lingkungan lebih banyak.

Dari sini dapat kita pahami bahwa betapa pentingnya mempersiapkan pola pendidikan yang sesuai bagi
perkembangan anak usia tamyiz dan bunda dapat mengambil bagian untuk memutuskan segala sesuatunya
bagi pendidikan ananda agar target di usia ini dapat tercapai. Dan yang juga harus diperhatikan adalah
bagaimana pendidikan yang ada mampu melejitkan potensi ananda.

Wallaahu a'lam bishshowab