Anda di halaman 1dari 17

Makalah - REINVENTING GOVERMENT

Written By Edy Abujamil on Minggu, 23 November 2014 | 20.48.00

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-
Nya yang diberikan sehingga penulis dapat menyusun tugas makalah yang berjudul
“Reinventing Goverment”.  Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas individu mata kuliah
Pengantar Imu Administrasi Negara. Penyusunan makalah ini tidak lepas dari bantuan
berbagai pihak, melalui kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada
dosen pembimbing yang telah memberikan tugas ini, sehingga penulis bisa memahaminya
dan mempelajari lebih dalam tentang reinventing govermen.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa hasil penyususnan makalah ini jauh dari
kesempurnaan. Untuk itu, penulis sangat mengharapkan masukan, baik kritik maupun saran
demi kelengkapan dan kebaikan makalah ini, penulis berharap semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi penulis maupun pembaca pada umumnya.

                                                                          

                                                                                       Sumenep, 22 November 2014


                                                                                                              
                                                                                                        
                                                                                                          
                                                                                                          Penulis.

DAFTAR ISI
SAMPUL                                                                                                       i
KATA PENGANTAR                                                                                   ii
DAFTAR ISI                                                                                                 iii
BAB I PENDAHULUAN
          1.1 Latar Belakang                                                                                1
          1.2 Rumusan Masalah                                                                           2
          1.3 Tujuan                                                                                             2
BAB II PEMBAHASAN
          2.1 Pengertian Reinventing                                                                   3
          2.2 Pengertian Government                                                                  3
          2.3 Pengertian Reinventing Government                                              4
          2.4 Prinsip Reinventing Government                                                   5
          2.5 Prinsip Utama Reinventing Goverment menurut Imawan             10
          2.6 Strategi Reinventing Goverment                                                    10
          2.7 Implementasi Reinventing Goverment                                          14           
          2.8 Reinventing Goverment di Indonesia                                             15
BAB III PENUTUP
          3.1 Kesimpulan                                                                                     22
          3.2 Saran                                                                                               23
DAFTAR PUSTAKA                                                                                     24

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  LATAR BELAKANG

Di zaman sekarang ini telah banyak orang yang mengerti bahwa wirausaha adalah cara
mendobrak nasib keterpurukan seseorang dengan mengganti inovasi kreatif sedemikian rupa.
Apalagi di tahun ini Indonesia telah menjadi tuan rumah bagi pertemuan APEC di bali beberapa waktu
lalu. Mau tidak mau Indonesia harus siap mengahadapi kompetisi perekonomian dengan Negara-
negara pasifik.
Dalam menghadapi pasar bebas, Indonesia harus menyiapkan sumber daya-sumber daya
yang mampu menyaingi Negara-negara lain. Dalam hal ini, Indonesia bukan hanya membutuhkan
para wirausahawan kreatif, tetapi Indonesia juga memongkar ulang sistem kinerja pemerintahannya.
Seperti yang telah kita ketahui kewirasuhaan pada hakekatnya adalah sifat, ciri  dan watak
seseorang yang memiliki gagasan inovatif ke dalam dunia nyata secara kreatif. Menghadapi kondisi
ini, maka pemerintah sebagai pelayan publik perlu berupaya untuk menekan sekecil mungkin
terjadinya kesenjangan antara tuntutan pelayanan masyarakat dengan kemampuan aparatur
pemeritah. Keterbatasan sarana dan prasarana yang telah ada tidak dapat dijadikan sebagai alasan
pembenaran tentang rendahnya kualitas pelayanan. Kemandirian dan kemampuan yang handal dari
pemerintah merupakan syarat mutlak agar tetap terrpeliharanya kepercayaan masyarakat. Maka
pemerintah saat ini harus berupaya merupakan perannya untuk masa yang akan datang yaitu melalui
penerapan konsep pemerintahan wirausaha atau dengan istilah Reinventing Government.

1.2  RUMUSAN MASALAH

1.      Apakah pengertian reinventing?


2.      Apakah pengertian government?
3.      Apakah yang dimaksud dengan reinventing government?
4.      Apakah saja prinsip reinventing government?
5.    Bagaimana prinsip utama reinventing goverment menurut Imawan?
6.    Bagaimana strategi reinventing goverment?
7.    Bagaimana Implementasi reinventing goverment?
8.    Bagaimana reinventing goverment yang ada di Indonesia?

1.3  TUJUAN

1.      Untuk mengetahui pengertian reinventing.


2.      Untuk mengetahui pengertian government.
3.      Untuk mengetahui apa yang dimaksud reinventing government.
4.      Untuk mengetahui apa saja prinsip reinventing government.
5.   Untuk mengetahui prinsip reinventing goverment menurut Imawan.
6.   Untuk mengetahui strategi reinventing goverment yang berjalan saat ini.
7.   Untuk mengetahui Implementasi reinventing goverment.
8.   Untuk mengetahui dan memahami reinventing goverment yang ada di Indonesia     

                           

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 PENGERTIAN REINVENTING (WIRAUSAHA)

Pada dasarnya, menurut bahasa Reinventing artinya ialah menemukan atau  menciptakan
kembali. Namun menurut istilah, reinventing dapat diartikan sebagai interpreneur atau wirausaha.
Wirausaha adalah kemampuan yang dimiliki seseorang untuk melihat dan menilai kesempatan-
kesempatan bisnis; mengumpulkan sumber daya- sumber daya yang dibutuhkan untuk mengambil
tindakan yang tepat dan mengambil keuntungan dalam rangka meraih sukses (senain:2013).
Dengan pendapat tersebut telah kita ketahui bahwa wirausaha ialah bukan berarti harus bergelut
dengan usaha (business), tetapi wirausaha ialah kemampuan atau skill seseorang yang harus kita
telaah dan dipelajari lebih dalam lagi. Kemampuan tersebutlah yang sangat dibutuhkan oleh Negara
ini. Kemampuan yang dapat meniai dan melihat secara detail sebuah peluang.
2.2 PENGERTIAN GOVERNMENT (PEMERINTAHAN)
Pemerintahan adalah suatu sistem untuk menjalankan wewenang dan kekuasaan dalam
mengatur kehidupan sosial, ekonomi dan politik, suatu negara atau bagian-bagiannya.
Pengertian pemerintah yang lainnya adalah sekelompok orang yang secara bersama-sama
memikul tanggung jawab terbatas untuk menggunakan kekuasaan. Pemerintah juga bisa diartikan
sebagai penguasa suatu negara atau badan tertinggi yang memerintah suatu negara.

2.3 PENGERTIAN REINVENTING GOVERNMENT


Menurut David Osborne dan Peter Plastrik (1997) dalam bukunya “Memangkas Birokrasi”,
Reinventing Government adalah “transformasi system dan organisasi pemerintah secara fundamental
guna menciptakan peningkatan dramatis dalam efektifitas, efesiensi, dan kemampuan mereka untuk
melakukan inovasi. Transformasi ini dicapai dengan mengubah tujuan, system insentif,
pertanggungjawaban, struktur kekuasaan dan budaya system dan organisasi pemerintahan”.
Pembaharuan adalah dengan penggantian system yang birokratis menjadi system yang bersifat
wirausaha. Pembaharuan dengan kata lain membuat pemerintah siap untuk menghadapi tantangan-
tantangan dalam hal pelayanan terhadap masyarakat, menciptakan organisasi-organisasi yang
mampu memperbaiki efektifitas dan efisiensi pada saat sekarang dan di masa yang akan datang.
       Konsep reinventing government pada dasarnya merupakan representasi dari paradigma New
Public Management dimana dalam New Public Management (NPM), negara dilihat sebagai
perusahaan jasa modern yang kadang-kadang bersaing dengan pihak swasta, tapi di lain pihak
dalam bidang-bidang tertentu memonopoli layanan jasa, namun tetap dengan kewajiban memberikan
layanan dan kualitas yang maksimal. Segala hal yang tidak bermanfaat bagi masyarakat dianggap
sebagai pemborosan dalam paradigma New Public Management (NPM). Warga pun tidak dilihat
sebagai abdi lagi, tetapi sebagai pelanggan layanan publik yang karena pajak yang dibayarkan
memiliki hak atas layanan dalam jumlah tertentu dan kualitas tertentu pula. Prinsip dalam New Public
Management (NPM) berbunyi, “dekat dengan warga, memiliki mentalitas melayani, dan luwes serta
inovatif dalam memberikan layanan jasa kepada warga”

       Konsep reinventing government, apabila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia konsep ini
berarti menginventarisasikan lagi kegiatan pemerintah. Pada awalnya, gerakan reinventing
government diilhami oleh beban pembiayaan birokrasi yang besar, namun dengan kinerja aparatur
birokrasi yang rendah. Pressure dari publik sebagai pembayar pajak mendesak pemerintah untuk
mengefisiensikan anggarannya dan meningkatkan kinerjanya. Pengoperasian fungsi pelayanan publik
yang tidak dapat diefisiensikan lagi dan telah membebani keuangan Negara diminta untuk dikerjakan
oleh sektor non-pemerintah. Dengan demikian, maka akan terjadi proses pereduksian peran dan
fungsi pemerintah yang semula memonopoli semua bidang pelayanan publik, kini menjadi berbagi
dengan pihak swasta, yang semula merupakan “big government” ingin dijadikan “small government”
yang efektif, efisien, responsive, dan accountable terhadap kepentingan publik.
       Dari penjelasan di atas telah dapat digambarkan bahwa reinventing government (pemerintahan
wirausaha) ialah suatu sistem untuk menjalankan wewenang dan kekuasaan dalam mengatur
kehidupan social, ekonomi dan politik dengan jiwa kewirausahaan di masing-masing anggota
pemerintahan atau pejabatnya. Atau dengan kata lain, intinya ialah “mewirausahakan birokrasi”
Penerapan konsep ini tak lain dan tak bukan demi cita-cita Negara manapun, yakni untuk
menciptakan pemerintahan yang baik (good government). Oleh karna itu dalam perombakan
mendasar dalam sebuah Negara agar tercipta good gornment ialah yang paling cocok dengan
mengimplementasikan konsep reinventing government. Dengan menanamkan jiwa wirausaha ke
dalam diri para pejabatnya.

2.4   PRINSIP REINVENTING GOVERNMENT     


Menurut Osborne dan Gaebler  dalam bukunya yang berjudul Reinventing Government, sepuluh
prinsip mewirausahakan birokrasi adalah sebagai berikut:
a.   Prinsip Pertama: Pemerintah yang katalis (Catalytic Government).
Konsep yang pertama ini maksudnya ialah mengarahkan  ketimbang mengayuh (steering
rather than rowing). Harus ada pemilah antara yang mengatur dan yang melaksanakan. Pemerintah
harus tegas membedakan antara siapa pemerintah yang semestinya mengarahkan dan siapa yang
semestinya melaksanakan. Dengan kata lain, pemerintah harus lebih fokus terhadap pengarahannya.
Tidak mungkin pemerintah mengawasi atau mengayuh secara langsung proses pelayanan publik.
Dengan demikian konsep di atas guna untuk memisahkan dengan tegas bahwa seharusnya
pemerintah bisa fokus untuk menjadi pemikir dan pengarah. Sedangkan yang melaksanakannya
diserahkan kepada yang paling bawah atau bisa juga diserahkan kepada pihak swasta. Contohnya
ialah privatisasi dan lain sebagainya.
     
b.   Prinsip kedua: Pemerintah milik rakyat (Community Government).
Prinsip ini maksudnya ialah memberdayakan atau memberi wewenang ketimbang melayani
(Empowering rather than serving).  Dalam hal ini pemerintah diharapkan mampu memberdayakan
rakyatnya. Dengan kata lain, pemerintah juga bisa memberikan wewenang kepada masyarakat. Guna
menjamin terselenggaranya pelayanan yang efisien dan efektif; serta produk pemerintah bisa
mencoba mengalihkan pemilikannya ke masyarakat. Akhirnya, pelayanan tersebut bergeser ke
pemberdayaan masyarakat dari suatu komunitas. Sehingga ada kemungkinan besar kelak bisa
mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap pemerintah. Lalu terciptalah masyarakat yang
handal dengan kreasinya dan menjadi lebih mandiri.
c.   Prinsip ketiga: Pemerintah yang kompetitif (Competitive Government).
Pemerintah yang kompetetif dengan cara menyuntikkan persaingan dalam pemberian
pelayanan (Injecting Competition into service Delivery). Suatu pelayanan yang kompentitif dianggap
suatu hal yang sehat. Berbeda dengan cara monopoli, bila dibiarkan akan timbul kembali
ketergantungan pada satu pemilik. Pemerintah yang kompetitif disini lebih diartikan pemerintah
wirausaha yang mampu bersaing dengan organisasi bisnis. Sehingga semuanya dapat
mengembangkan krativitas inovasi yang sangat menguntungkan bagi Negara dan masyarakatnya.
Dengan pemberian penghargaan dan pembiayaan kepada suatu lembaga-lembaga pemerintah yang
berhasil maju di suatu wilayah akan sangat diperhatikan oleh masyarakatnya. Di sanalah letak
kompetisi yang akan mebuat masyarakat dan pemerintahnya semangat seperti layaknya dalam
sebuah perlombaan.
d. Prinsip keempat: Pemerintah yang digerakkan misi (Mission Driven Government).
Dalam prinsip ini diharapkan pemerintah bisa mengubah organisasi yang digerakkan oleh
peraturan (Transforming Rule-Driven Organizations) menjadi digerakkan oleh misi (mission-driven).
Seringkali terjadi peristiwa di mana pemerintah tidak dapat dan tidak mampu mengambil langkah-
langkah strategis tertentu karena belum adanya peraturan-peraturan yang mengaturnya. Sementara
di pihak lain, kerap terjadi kasus dimana pemerintah tidak berani melakukan sebuah tindakan karena
cenderung bertentangan dengan peraturan yang berlaku (walaupun peraturan yang bersangkutan
sudah tidak cocok lagi diterapkan pada kondisi saat ini). Akibat budaya ini, seringkali banyak peluang-
peluang kemajuan yang lewat dan terbuang begitu saja karena ketidakmampuan pemerintah dalam
memanfaatkan situasi tersebut.
Dalam dilema tersebut seharusnya pemerintah berjalan dengan sebuah misi, dan menjadikan
peraturan sebagai jalan atau cara untuk mencapai sebuah misi tersebut.
e.   Prinsip kelima: Pemerintah yang berorientasi hasil (Result Oriented Government).
Maksudnya ialah pemerintah haru lebih fokus Membiayai hasil bukan masukan (Funding
outcomes, Not input).  Dalam pembahasan prinsip ini, sebaiknya kita sadari terlebih dahulu bahwa hal
yang paling dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sebagai customer dari pemerintah adalah hasil
keluaran dari setiap inisiatif.  Yang masyarakat nilai sebagai keberhasilan adalah keluaran atau hasil
dari pekerjaan tersebut yang diharapkan dapat segera mendatangkan manfaat tertentu. Dengan kata
lain, pemerintah harus yakin bahwa berbagai usahanya akan melahirkan sebuah produk yang
berkualitas dan bermutu tinggi, dan target inilah yang akan menentukan jenis proses dan sumber
daya yang perlu dilibatkan (input); serta  pemerintah harus meninggalkan pemerintah yang
memfokuskan pada masukan tanpa memperhatikan hasil, yang cenderung pemborosan.

f.    Prinsip keenam: Pemerintah yang berorientasi pelanggan ( Customer Driven Government).


Maksudnya ialah Memenuhi kebutuhan pelanggan, bukan birokrasi (Meeting the Needs of
Customer, not be Bureaucracy). Masyarakat adalah pelanggan. Pemerintah harus meletakkan
pelanggan sebagai hal paling depan. Oleh karena itu, kepuasan pelanggan diletakkan sebagai
sasaran penyampaian tujuan, dengan mendengarkan suara pelanggan. Dengan memperhatikan
kebutuhan dasar pelanggan dan memperhatikan hukum pelanggan, pemerintah lebih responsif dan
inovatif.
g.   Prinsip ketujuh: Pemerintah wirausaha (Enterprising Government).
Intinya ialah Menghasilkan ketimbang membelanjakan (Earning Rather than
Spending). Pemerintah wirausaha ialah pemerintah yang memfokuskan energinya terhadap hasil
kinerjanya bukan hanya membelanjakan uangnya. Pada kenyataanya bahwa hampir seluruh
perangkat pemerintahan merupakan sebuah pusat harga yang dibiayai oleh anggaran belanja
negara.
Secara tidak langsung dapat terlihat bahwa keberadaan sistem birokrasi pemerintahan
merupakan sebuah beban dari anggaran belanja Negara. Dalam hal ini pemerintah harus
menemukan sumber-sumber penghasilan selain penghasilan yang telah disepakati, yaitu pajak.
Sehingga tidak terlalu menggantungkan pada penerimaan pajak. Pajak yang tinggi pada suatu
keadaan tertentu akan ditentang masyarakatnya.
                 
h. Prinsip kedelapan: Pemerintah yang antisipasi (Anticipatory Government).
Mencegah ketimbang Mengobati (Preventon Rather than Cure). Pepatah lama mengatakan
bahwa “mencegah lebih baik dari mengobati”. Hal yang sama berlaku pula dalam kepemerintahan.
Yaitu pemerintah harus lebih berfokus pada upaya mencegah terhadap masalah yang timbul
ketimbang memusatkan penyediaan jasa demi mengurangi masalah (mengobati). Dalam hal ini,
pemerintah harus mempunyai strategi ampuh yang dapat meraih peluang tidak tarduga, serta dapat
mencegah krisis yang tidak terduga. Intinya pemerintah harus lebih proaktif. 
i.    Prinsip Kesembilan: Pemerintah yang desentralis (Decentralized Government).
Dari hierarki menuju partisipasi dan tim kerja (From Hierarchy to Participation and Teamwork),
Artinya, peranan komando dan hierarki ditinggal. Selain itu, jika jika melihat perkembangan zaman
yang semakin maju dan teknologi semakin mengglobal dan pendidikan semakin maju, sudah
semestinya pemerintah menurunkan wewenang kepada lembaga-lembaga di bawahnya serta
mendorong mereka untuk berurusan langsung dengan pelanggan untuk lebih bisa membuat
keputusan. Lalu menciptakan kerja sama yang solid dengan cara melihat mereka sama rata dan
sudah sebanding dengan pemerintahnya. Melahirkan partisipasi dengan tim kerja, Bukan dengan
pengkomandoan yang umumnya terlihat kaku. Dengan kata lain, pemerintah memberi ruang gerak
kepada mereka agar bisa bersama-sama menciptakan strategi kreatif.
j.    Prinsip kesepuluh: Pemerintah yang berorientasi pasar ( Market Oriented Government).
Mendongkrak perubahan melalui pasar (Leveraging change throught the Market). artinya
pemerintah mendongkrak perubahan melalui cara pasar. Mekanisme pasar memiliki banyak
keunggulan ketimbang mekanisme administrasi. Pasar pada dasarnya adalah desentralis. Harga
ditentukan oleh yang paling di atas. Namun dalam pasar bisa bersaing dengan sehat, lebih kompetitif.
Jika kita sadari, sebenaranya dalam pasar memberikan kesempatan kepada pelanggan untuk
menentukan pilihannya. Selain itu dalam pasar sangat peka terhadap perubahan dan respon
terhadap  kebutuhan lebih cepat.
2.5 Menurut Imawan, prinsip utama Reinventing Government

Prinsip utama reinventing goverment terbagi menjadi 5 yaitu :


(1) Steering (mengendalikan, memfasilitasi aktifitas masyarakat)
(2) Empowering (memberdayakan anggota masyarakat).
(3) Meeting the need of the costumer, not bureaucracy.
(4) Earning
(5) Prevention.

2.6  Strategi Reinventing Goverment.

    Adapun Strategi dari Reinventing Goverment ialah:

1.   Strategi inti (the core strategy)


       Strategi ini menentukan tujuan (the purpose) sebuah sistem dan organisasi publik. Jika    sebuah
organisasi tidak mempunyai tujuan yang jelas atau mempunyai tujuan yang banyak atau saling
bertentangan, maka organisasi itu tidak dapat mencapai kinerja yang tinggi. Dengan kata lain, sebuah
organisasi publik akan mampu bekerja secara efektif jika ia mempunyai tujuan yang spesifik. Oleh
karena itu, adalah penting bagi para pemimpin   organisasi-organisasi publik untuk menetapkan
terlebih dahulu tujuan organisasinya secara spesifik.
          Jadi dengan demikian penetapan visi dan misi organisasi juga mempunyai peran yang sama
pentingnya dalam melengkapi tujuan organisasi publik. Hal ini penting sebagai usaha agar karyawan
atau pegawai mempunyai arah dan pegangan yang jelas. Di luar itu, strategi ini terutama berkaitan
dengan usaha-usaha memperbaiki pengarahan (steering).

2.    Strategi konsekuensi (the consequences strategy)


       Strategi ini menentukan insentif-insentif yang dibangun ke dalam sistem publik. Birokrasi
memberikan para pegawainya insentif yang kuat untuk mengikuti peraturan-peraturan, dan sekaligus,
mematuhinya. Pada model birokrasi lama, para pegawai atau karyawan memperoleh gaji yang sama
terlepas dari yang mereka hasilkan.
       Dalam rangka reinventing government, seperti diungkapkan oleh Osborne dan Plastrik,
mengubah insentif adalah penting dengan cara menciptakan konsekuensi-konsekuensi bagi kinerja.
Jika perlu, organisasi-organisasi publik perlu ditempatkan dalam dunia usaha (market place), dan
membuat organisasi tergantung pada konsumennya untuk memperoleh penghasilan. Namun, jika hal
ini tidak layak untuk dilakukan, maka perlu dibuat kontrak atau perjanjian guna menciptakan
persaingan antara organisasi-organisasi publik dan swasta (atau persaingan antar organisasi publik).
       Hal ini karena pasar dan persaingan menciptakan insentif-insentif yang jauh lebih kuat sehingga
organisasi publik terdorong untuk memberikan perbaikan-perbaikan kinerja yang lebih besar. Insentif
dan persaingan ini dapat mempunyai bentuk yang beragam, seperti tunjangan kesehatan, kenaikan
gaji, atau memberikan penghargaan bagi organisasi-organisasi publik yang mempunyai kinerja yang
lebih tinggi.

3.   Strategi pelanggan (the customers strategy)


       Strategi ini terutama memfokuskan pada pertanggungjawaban (accountability). Berbeda dengan
birokrasi lama, dalam birokrasi model baru, tanggung jawab para pelaksana birokrasi publik
hendaknya ditempatkan pada masyarakat, atau dalam konteks ini dianggap sebagai pelanggan.
Dengan demikian, tanggung jawab tidak lagi semata-mata ditempatkan pada pejabat birokratis di
atasnya, tetapi lebih didiversifikan kepada publik yang lebih luas.
      Model pertanggungjawaban seperti ini diharapkan dapat meningkatkan tekanan terhadap
organisasi-organisasi publik untuk memperbaiki kinerja ataupun pengelolaan sumber-sumber
organisasi. Selanjutnya, dengan memberikan pertanggungjawaban kepada masyarakat/konsumen,
akan dapat menciptakan informasi, yaitu tentang kepuasan para konsumen terhadap hasil-hasil dan
pelayanan pemerintahan tertentu. Dengan kata lain, penyerahan pertanggungan jawab kepada para
konsumen berarti bahwa organisasi-organisasi publik harus mempunyai sasaran yang harus dicapai,
yaitu meningkatkan kepuasan konsumen (customers satisfaction).

4.   Strategi Pengawasan (the control strategy)


           Strategi ini menentukan di mana letak kekuasaan membuat keputusan itu diberikan. Dalam
sistem birokrasi lama, sebagian besar kekuasaan tetap berada di dekat puncak hierarkhi. Dengan
kata lain, wewenang tertinggi untuk membuat keputusan berada pada puncak hierarkhi.
            Perkembangan birokrasi modern yang semakin kompleks telah membuat organisasi menjadi
tidak efektif. Hal ini karena proses pengambilan keputusan harus melalui jenjang hierakhi yang
panjang sehingga membuat proses pengambilan keputusan cenderung lamban, dan jika hal ini
dipaksakan, maka jika dilewati akan membawa dampak terjadinya bureaucracy barierrs. Pada
akhirnya, secara keseluruhan, sistem kinerja birokrasi dalam menangani masalah dan memberikan
pelayanan kepada masyarakat akan berlangsung lamban karena bawahan tidak diberi ruang yang
cukup untuk mengambil inisiatif dalam memecahkan masalah.
         Lebih lanjut, dalam model birokrasi lama, para pengelola atau manajer mempunyai pilihan-
pilihan yang terbatas, dan keleluasan atau fleksibilitas mereka dihimpit oleh ketentuan-ketentuan
anggaran yang terinci, peraturan-peraturan perorangan, sistem pengadaan (procurement systems),
praktek-praktek audit, dan sebagainya. Karyawan hampir tidak mempunyai kekuasaan untuk
membuat keputusan. Akibatnya, organisasi-organisasi pemerintah lebih menanggapi perintah-
perintah baru dibandingkan dengan situasi yang berubah atau kebutuhan-kebutuhan pelanggan.
       Oleh karena itu, adalah penting mendesentralisasikan pembuatan keputusan kepada pejabat-
pejabat dan karyawan atau pegawai birokrasi di bawahnya karena hal ini akan mendorong timbulnya
rasa tanggung jawab dikalangan para pegawai birokrasi, dan dalam konteks yang luas mendorong
keterlibatan masyarakat dalam proses implementasi kebijakan.

5.    Strategi budaya (the culture strategy)


        Strategi ini menentukan budaya organisasi publik yang menyangkut nilai, norma, tingkah laku,
dan harapan-harapan para karyawan. Budaya ini akan dibentuk secara kuat oleh tujuan organisasi,
insentif, sistem pertanggungjawaban, dan struktur kekuasaan organisasi. Dengan kata lain,
mengubah tujuan, insentif, sistem pertanggungan jawab, dan struktur kekuasaan organisasi akan
mengubah budaya.

2.7 Implementasi Reinventing Goverment.

       Prinsip-prinsip reinventing government yang dikemukakan oleh Osborne dan Plastrik pada
dasarnya adalah bertujuan dapat meningkatkan kinerja organisasi sektor publik dan dapat
meningkatkan kualitas pelayanan umum (public serve). Implementasi prinsip-prinsip reinventing
government harus selalu meningkat karakteristik dari masing-masing daerah. Artinya implementasi
semangat dan prinsip reinventing sifatnya kontekstual, bukan universal.

Tantangan yang timbul dari prinsip reinventing antar lain :

1.    Bagaimana mengimplementasikan konsep tersebut tanpa menimbulkan friksi yang justru akan
menghambat efisiensi dan efektivitas birokrasi. Sebab prinsip reinventing gorvernment sesungguhnya
baru mengena pada dimensi normatif, tetapi belum teruji secara empiris.

2.    Bagaimana menentukan strategi praktis untuk mengadopsi prinsip reinventing government ke dalam
sistem dan mekanisme pemerintah, baik pusat maupun daerah.

Penataan Kelembagaan pemerintah melalui reinventing antara lain.

1.    Reorientasi.

    Meredefenisikan viso, misi, peran, strategi, implementasi, dan evalusi kelembagaan pemerintah.

2.     Restrukturisasi.

    Menata ulang kelembagaan pemerintah, membangun organisasi sesuai kebutuhan dan tuntutan
publuk .

3.    Aliansi.

    Mensinergikan seluruh aktor, yaitu pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dalam tim yang solid.

Faktor Sukses dalam reformasi birokrasi antara lain :

1.    Komitmen Pimpinan.

      Ini merupakan faktor yang sangat penting dalam melakukan reformasi birokrasi, mengingat masih
kentalnya budaya peternalistik dalam penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia.

2.    Kemauan diri sendiri.

     Kemauan dari penyenggara pemerintahan (birokrasi) untuk mereformasi diri sendiri.

3.    Kesepahaman.

     Adanya persamaan persepsi dan pandangan terhadap pelaksanaan reformasi birokrasi sendiri,
sehingga tidak terjadi perbedaan yang dapat penghambat jalannya reformasi birokrasi.
4.    Konsistensi.

     Harus dilaksanakan secara berkelanjutan dan konsisten, yang ketaatan perencanaan dan
pelaksanaan.

2.8    Reinventing Goverment di Indonesia.

       Pemerintahan dengan bisnis merupakan dua lembaga yang berbeda secara mendasar.
Pemerintahan bertujuan agar memperoleh legitimasi dari masyarakat sehingga dapat dipilih kembali
oleh masyarakat pada periode yang akan datang. Sedangkan bisnis bertujuan untuk memperoleh
keuntungan. Jika suatu organisasi bisnis tidak dapat memperoleh keuntungan maka organisasi
tersebut akan mengalami Death Line atau kematian. Demikian juga dengan organisasi pemerintahan.
Jika tidak dapat memperoleh legitimasi dari masyarakat (tidak favorit bagi masyarakat) maka
pemerintahan tersebut pada periode yang akan datang tidak akan dipilih oleh masyarakat dan akan
berganti dengan pemerintah yang baru.
       Perbedaan tujuan di atas menciptakan motivasi yang berbeda. Pimpinan usaha swasta akan
berorientasi untuk mencari keuntungan yang sebesar-besarnya, karena keuntungan merupakan
indikator dari keberhasilan mereka. Sedangkan dalam pemerintahan, indikator keberhasilan seorang
manajer pemerintah adalah bukan seberapa banyak keuntungan yang diperoleh tetapi apakah
mereka dapat menyenangkan para politisi yang terpilih atau tidak. Karena itu kinerja manajer
pemerintah sangat dipengaruhi oleh kelompok kepentingan yang menang dalam pemilu dalam
periode tertentu.

       Reinventing Government bukan bertujuan untuk menghilangkan peran pemerintah dalam


masyarakat dan menjadikan peran tersebut dijadikan peran swasta. Dengan kata lain Reinventing
Government bukan indentik dengan swastanisasi, karena dengan swastanisasi menyeluruh fungsi
pemerintah sebagai publik service akan kabur oleh profit oriented pihak swasta.
       Prinsip-prinsip utama reinventing government ini akan diigunakan sebagai dasar analisa untuk
melihat pelaksanaan reinventing government di Indonesia. Merujuk pada pendapat
yang dikemukakan Imawan tersebut, maka penerapan reinventing government untuk konteks
Indonesia dapat dilihat melalui kelima prinsip utama tersebut yakni:
         1. Pertama, Steering.

Paradigma tradisional tentang birokrasi pemerintahan menyatakan bahwa birokrasi


pemerintahan ibarat sebuah perahu besar yang dapat menyelamatkan seluruh warga negara dan
masyarakat dari bencana banjir ekonomi maupun politik. Hal ini menyebabkan pemerintah
merupakan aktor tunggal untuk memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat dan masyarakat akan
semakin tergantung kepada pemerintahnya. Paradigma tradisional ini menyebabkan pemerintah tidak
bisa lagi berpikir jernih untuk meningkatkan mutu kerjanya, karena sudah dililit oleh aktivitas-aktivitas
rutin untuk melayani kebutuhan masyarakat. Mutu pelayanan kepada masyarakat tidak bisa
ditingkatkan lagi.

Perubahan paradigma dianggap perlu, agar pemerintah tidak lagi sebagai pelaksana tunggal
pelayanan kepada masyarakat tetapi bermitra dengan pihak swasta. Agar pemerintah tidak lagi
terjerat dengan kegiatan rutin sebagai pelayan masyarakat, maka pemerintah perlu memikirkan untuk
menyerahkan tugas-tugas pelayanan tersebut kepada masyarakat (NGO -non government
organization- atau pihak swasta) atau melaksanakan pelayanan tersebut dengan bermitra dengan
masyarakat (sistem koproduksi).

Pemerintah yang banyak melaksanakan tugas pelayanan akan semakin memberikan peluang
kepada gagalnya atau lemahnya mutu pekrjaan, maka dalam kondisi ini akan lebih baik jika
pemerintah menyerahkan urusan tersebut kepada swasta dan pemerintah hanya menetapkan
peraturan-peraturan yang akan dilaksanakan oleh pihak swasta. Dengan memfokuskan diri kepada
pengarahan, maka daya pikir para pembuat kebijakan publik akan meningkat dan cermat, sehingga
kebijakan-kebijakan yang diambil akan lebih produktif dan lebih cermat.
           2.Kedua, Empowering.

Pada pemerintahan yang menganut sistem otoriter kekuasaan tertinggi berada


ditangan  penguasa (negara) dan tidak memberikan hak-hak politik kepada rakyat. Pada sistem ini
rakyat hanyalah sebagai objek tanpa mempunyai akses untuk ikut berpartisipasi dalam pemerintahan.
Rakyat tidak dapat memberikan saran-saran/koreksi terhadap kinerja pemerintah sehingga
pemerintah bekerja tanpa terkontrol. Pada perkembangannya sistem ini tidak populer lagi dimata
masyarakat, apalagi pada sistem ini pemerintah harus melayani seluruh kebutuhan masyarakat tetapi
pemerintah tidak mampu melaksanakannya dengan baik.
Karena sistem otoriter tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, maka perlu dilakukan
perubahan.

 Perubahan yang dimaksudkan adalah mengembalikan kekuasaan kepada rakyat dengan


melakukan pemberdayaan kepada rakyat (Empowering). Melalui sistem ini rakyat tidak lagi sebagai
objek pemerintahan tetapi juga sebagai subjek pemerintahan. Rakyat harus diberikan kewenangan
untuk mengurus dirinya sendiri. Dalam pelaksanaan empowering ini ada beberapa kendala yang
dihadapi, yaitu keterbatasan kemampuan sumber daya manusia. Dengan keterbatasan ini
masyarakat belum mampu menterjemahkan berbagai misi pemerintahan. Disini tugas pemerintah
untuk melakukan pembinaan pengetahuan masyarakat agar mampu melakukan berbagai kegiatan
dalam pembangunan.
           3. Ketiga, Meeting the Needs of the Costumer, not the Bureaucracy.
Prinsip reinventing government ini pemerintah harus memenuhi kebutuhan consumer
(masyarakat) bukan kebutuhan birokrasi. Gejala yang selama ini ada para administrator bekerja untuk
mendapatkan prestasi yang akan dinilai baik oleh atasannya. Para bawahan akan berusaha membuat
atasan senang agar dia mendapatkan pangkat yang lebih tinggi. Sedangkan masyarakat yang
seharusnya mendapatkan pelayanan yang baik dari para administrator menjadi faktor sampingan,
faktor yang utama adalah seorang administrator harus melayani kebutuhan para pejabat. Untuk
meningkatkan pelayanan kepada masyarakat para administrator harus merubah orientasi
pelayananan dari melayani kebutuhan para birokrat menjadi melayani kebutuhan masyarakat.

Dengan demikian masyarakat akan merasa terayomi oleh pemerintah, merasa dekat secara
emosional dengan pemerintah. Hal ini akan terjadi jika telah terwujud Civil Society dalam masyarakat.
Dengan civil society masyarakat akan mempunyai ekses dalam mengawasi pelaksanaan tugas
pemerintahan. Jika terjadi pelanggaran, misalnya para birokrat tidak melayani masyarakat dengan
baik tetapi melayani birokrat atasannya, maka masyarakat akan meniupkan peluit sebagai tanda
peringatan kepada administrator. Dengan demikian penyimpangan akan semakin dikurangi. Dengan
kata lain administrator akan mengutamakan kepentingan masyarakat daripada kepentingan birokrat.
           4. Keempat, Earning.

Sifat pemerintahan yang selama ini ada adalah selalu berusaha untuk menghabiskan dana
yang ada, tanpa perlu memikirkan bagaimana mendapatkan dana tersebut. Semakin lama semakin
terbatas sumber dana pemerintah, biaya yang dibutuhkan untuk membiayai berbagai program
pemerintah semakin tinggi. Disatu sisi pemerintah dapat memungut pajak yang tinggi dari masyarakat
untuk membiayai berbagai program pemerintah, tetapi hal tersebut akan menambah beban
masyarakat dan pada akhirnya akana mengurangi akuntabilitas pemerintah dimata masyarakat. Disini
berarti menaikan sektor pajak merupakan cara yang tidak bijaksana.

Sehubungan dengan hal di atas pemerintah perlu mempertimbangkan pemikiran bahwa


instansi pemerintah harus mampu menghasilkan dana untuk membiayai berbagai programnya.
Seorang manajer instansi pemerintah harus mampu melaksanakan tugas sebagaimana halnya
manajer perusahaan swasta yakni dengan mempertimbangkan input dan out-put dari instansinya.
Masing-masing instansi pemerintah harus mampu membuat program yang mampu menambah
penghasilan instansinya, sebagaimana yang dilaksanakan oleh sektor swasta. Dengan demikian
instansi pemerintah dan para birokrat didalamnya akan terbiasa untuk menghemat biaya/anggaran.
Apabila seluruh instansi pemerintah sudah terbiasa untuk menghasilkaan dana sendiri untuk
membiayai berbagaaai kegiatannya bahkan sampai bisa menabung/investasi untuk usaha lain, maka
beban pemerintah untuk berbagai kegiatan pemerintahan akan semakin berkurang.
 Dengan demikian konsentrasi pemikiran pemerintah (pembuat kebijakan) akan tertuju pada
masalah-masalah yang penting dan mutu pelayanan pemerintah kepada masyarakat akan meningkat.

Hal di atas akan dapat dilaksanakan di Indonesia, jika masing-masing pemerintah daerah
sudah mampu membiayai pemerintahannya sendiri. Dan di dalam Pemerintah Daerah tersebut,
masing-masing instansi Pemerintah Daerah mampu menghasilkan dana sendiri dengan tidak selalu
memberatkan anggaran Pemerintah Daerah, misalnya Dinas Pertanian mampu menghasilkan dana
sendiri dengan melakukan penelitian dan pengembangan bibit unggul dan hasilnya dijual ke
masyarakat atau ke daerah lain melalui mekanisme pasar yang sehat. Demikian juga dengan Dinas
Perikanan, mampu mengembangkan sektor penelitian dan pengembangan ikan dan hasilnya di jual
kepada pasar.

 Demikian juga dengan dinas-dinas lainnya. Jika hal di atas dapat diwujudkan, maka nantinya
akan kita lihat bahwa daerah-daerah di Indonesia akan merata kemajuannya. Ekonomi masyarakat
akan ditunjang dengan perdagangan antar daerah yang berjalan dengan sehat. Hal ini pada akhirnya
akan mampu mengeluarkan Indonesia dari krisis ekonomi dan krisis politik.
           5. Kelima, Prevention.

Pemerintah selama ini cenderung untuk menyelesaikan suatu masalah setelah masalah
tersebut timbul atau menjadi masalah besar. Setelah suatu masalah menjadi masalah besar, maka
pemerintah akan mengalami kesulitan besar untuk mengatasinya, baik dari segi kerumitan maupun
pembiayaan. Misalnya, Masalah wabah penyakit, Apabila di suatu daerah telah terjadi wabah
penyakit mutaber, demam berdarah, maka pemerintah akan bekerja ekstra keras dan mengeluarkan
biaya yang tinggi untuk mengatasi masalah wabah penyakit tadi. Akan lain halnya jika pemerintah
sudah melakukan usaha-usaha pencegahan terhadap datangnya penyakit tadi. Misalnya, pemerintah
sudah membuat saluran-saluran air yang baik, memberikan penyuluhan tentang hidup sehat kepada
masyarakat.

Hal ini akan mengakibatkan penyakit yang mewabah tidak akan terjadi. Dengan demikian
pemerintah tidak akan mengeluarkan biaya yang tinggi untuk mengatasi masalah wabah penyakit.
Begitu juga dengan situasi politik nasional dan international. Pemerintah harus sudah paham dengan
situasi politik nasional dan internasional. Apa-apa yang diinginkan oleh masyarakat harus mampu
dibaca oleh pemerintah. keputusan-keputusan yang diambil harus sesuai dengan aspirasi dan
kebutuhan masyarakat.

Akan terjadi akumulasi ketidakpuasan masyarakat dalam bentuk tindakan anarkhis apabila
kebutuhan masyarakat tidak terlayani oleh pemerintah. Jadi dengan memahami kehendak politik
rakyata secara dini, maka rakyat akan semakin dekat dengan pemerintahnya, partisipasi politik rakyat
akan semakin tinggi dan pemerintah akan melaksanakan pemerintahan dengan tenang.
Akhirnya jelas, sebuah perubahan harus dimulai, apapun konsep yang hendak digunakan, namun
paling tidak konsep tersebut harus merepresentasikan juga posisi kebudayaan Indonesia sehingga
ditemukan format kelembagaan birokrasi yang efisien,efektif, adaptif dan human tanpa harus menjadi
ke-barat-barat-an, meninggalkan identitas sebagai sebuah bangsa yang otonom dan berjati diri.   

BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

ü  Wirausaha adalah kemampuan yang dimiliki seseorang untuk melihat dan menilai kesempatan-
kesempatan bisnis; mengumpulkan sumber daya- sumber daya yang dibutuhkan untuk mengambil
tindakan yang tepat dan mengambil keuntungan dalam rangka meraih sukses

ü  Pemerintahan adalah suatu sistem untuk menjalankan wewenang dan kekuasaan dalam mengatur
kehidupan sosial, ekonomi dan politik, suatu negara atau bagian-bagiannya.

ü  reinventing government (pemerintahan wirausaha) ialah suatu sistem untuk menjalankan wewenang
dan kekuasaan dalam mengatur kehidupan social, ekonomi dan politik dengan jiwa kewirausahaan di
masing-masing anggota pemerintahan atau pejabatnya. Atau dengan kata lain, intinya ialah
“mewirausahakan birokrasi”.

ü  Osborn dalam buku memangkas birokrasi. mengemukakan Prinsip-prinsip Reinventing Government


,yaitu :

 Pemerintahan katalis
•    Pemerintah adalah Milik Masyarakat
•    Pemerintah yang kompetitif
•    Pemerintah berorientasi pada Misi
•    Pemerintah berorientasi pada hasil.
•    Pemerintah berorientasi pada pelanggan
•    Pemerintah wirausaha
•    Pemerintah antisipatif
•    Pemerintahan desentralisasi
•    Pemerintah berorientasi pada mekanisme pasar

3.2 Saran
Dengan terselesaikannya makalah ini penulis berharap pemerintah dapat meningkatkan etos
kerjanya layaknya para wirausahawan. Selain makalah ini semoga bermanfaat, penulis juga
berharap sekali ada kajian husus bebrapa mata kuliah yang berhubungan dengan ilmu administrasi
Negara.

DAFTAR PUSTAKA

Imawan, Riswandha. 1998. Membedah Politik Orde Baru. Pustaka Pelajar:, Jogyakarta
Mas`oed, Mohtar. 1994. Politik Birokrasi dan Pembangunan. Pustaka Pelajar: Jogyakarta.
Miriam Budiardjo. 1998. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Gramedia Utama:, Jakarta.
Osborn david dan plastrik peter,2000.memangkas birokrasi: lima strategi menuju pemerintahan
wirausaha, PPM: Jakarta
Putra, Fadillah dan Arif, Saiful. 2001. Kapitalisme Birokrasi: Kritik Reinventing Government Osborne
Gaebler. LKiS: Yogyakarta.