Anda di halaman 1dari 7

1

Jurnal Keperawatan Karya Bhakti p-issn : 2477-1414


Volume 6, Nomor 1, Januari 2020 e-issn : 2716-0785
Hal 1-7

PENERAPAN TEKNIK RELAKSASI GENGGAM JARI


TERHADAP SKALA NYERI PADA Sdr. D DENGAN
PASKA OPEN REDUCTION INTERNAL FIXATION (ORIF)
Anggi Pratiwi1, Evy Tri Susanti2, Wahyu Tri Astuti 3

Departemen Keperawatan Bedah, Akademi Keperawatan Karya Bhakti Nusantara


Magelang, (0293) 3149517, 085292885982
E-mail : anggipratiwi@yahoo.co.id

ABSTRAK

Latar Belakang : Penelitian ini dilatar belakangi oleh fenomena bahwa pasien paska ORIF akan
merasakan nyeri ketika telah dilakukannya tindakan pembedahan. Nyeri pada pasien paska ORIF
dapat menyebabkan rasa tidak nyaman pada pasien sehingga perlu dilakukan tindakan non
farmakologi berupa teknik relaksasi genggam jari untuk mengurangi rasa nyeri dan memberikan
kenyamanan. Tujuan : untuk menerapkan gambaran skala nyeri sebelum dan sesudah dilakukanya
teknik relaksasi genggam jari. Metode: penelitian ini memberikan teknik relaksasi genggam jari
dan observasi. Hasil : dapat dirumuskan bahwa hasil intervensi terhadap pasien yang mengalami
nyeri paska ORIF mengalami penurunan setelah diberikan teknik relaksasi genggam jari selama 3
hari dengan 2 kali 1 yang diberikan selama 20 menit dengan pemberian teknik relaksasi genggam
jari dari skala 6 menjadi 3. Simpulan : bahwa penerapan Teknik Relaksasi Genggam Jari untuk
menurunkan skala nyeri pada pasien paska ORIF dapat digunakan sebagai alternatif untuk
menurunkan skala nyeri.
Kata kunci: Genggam Jari, Relaksasi, Skala nyeri

ABSTRACT

Background : This research is motivated by the phenomenon that post-ORIF patients will feel pain
when surgery has been performed. Pain in patients after ORIF can cause discomfort in patients so it
is necessary to do non-pharmacological measures in the form of hand-held finger relaxation
techniques to reduce pain and provide comfort. Objective : to apply the pain scale before and after
the finger grasp relaxation technique. Method: this study provides hand-held finger relaxation and
observation techniques. Results : It can be formulated that the results of interventions on patients
who experience post-ORIF pain have decreased after being given a hand-held relaxation technique
for 3 days with 2 times given for 20 minutes by administering a hand-held relaxation technique
from a scale of 6 to 3. Conclusion : that the application Finger Grip Relaxation Techniques to
reduce pain scale in patients after ORIF can be used as an alternative to reduce pain scale.

Keywords: Finger Grip, Relaxation, Pain scale


2

Pendahuluan subjektif atau tidak dapat dirasakan oleh


Paska Open Reduction Internal Fixation orang lain.
(ORIF) adalah suatu cara untuk Respon fisik terhadap nyeri ditandai
mengimmobilisasi fraktur dengan alat (paku, dengan perubahan keadaan umum, suhu
kawat, atau pin) ke dalam area fraktur untuk tubuh, denyut nadi, sikap tubuh, dan syok
mempertahankan fragmen tulang sampai (Potter & Perry, 2010). Respon psikis akibat
penyembuhan tulang baik (Smeltzer & Bare, nyeri akan merangsang respon setres yang
2013). Proses insisi pada pembedahan akan mengganggu sistem imun dan penyembuhan
menyebabkan luka insisi yang menimbulkan (Potter & Perry, 2010). Pada pasien paska
nyeri yang muncul pada dua jam setelah ORIF yang mengalami nyeri akut harus
operasi akibat hilangnya pengaruh anestesi dikendalikan agar perawatan lebih optimal
(Potter & Perry, 2010). Meskipun fragmen agar tidak menjadi nyeri kronis dan
tulang telah direduksi, tetapi efek yang komplikasi. Upaya untuk mengatasi nyeri
ditimbulkan dari proses seperti pemasangan yaitu dengan manajemen nyeri meliputi
alat fiksasi yang menembus tulang akan tindakan farmakologi dan non farmakologi
menyebabkan nyeri hebat. Hal ini disebabkan (Potter & Perry, 2010). Tindakan farmakologi
oleh fase inflamasi yang disertai edema merupakan tindakan kolaborasi anatara
jaringan pada area yang terpasang dan perawat dengan dokter dalam pemberian obat
berlangsung selama berjam-jam dan berhari- analgesik yang dimana berguna untuk
hari sebagai proses perbaikan fragmen tulang mengatasi nyeri yang sudah berlangsung
(Helser, 2010). berjam-jam. Pemberian obat farmakologi
Nyeri adalah pengalaman sensori dan pada pasien paska ORIF tidak dapat diatasi
emosional yang tidak menyenangkan akibat dengan sepenuhnya, hanya sekitar 50% dan
rusaknya jaringan yang aktual atau potensial 50% kemudian pasien tetap merasakan nyeri
yang dirasakan pada tempat kerusakan yang mengganggu kenyamanan serta dapat
(International Assosciation for the Study of mengasilkan efek samping yang tidak baik
Pain [IASP], 2011). Nyeri adalah keluhan seperti, mual, muntah, konstipasi, gelisah,
yang paling sering dijumpai pada pasien rasa ngantuk, kecanduan dan overdosis (Sari,
paska ORIF. Nyeri yang sering muncul pada 2014).
pasien paska ORIF adalah nyeri akut, yaitu Tindakan lain yang dapat dilakukan di
nyeri yang dirasakan mendadak dari intensitas rumah sakit adalah tindakan non farmakologi.
ringan sampai berat dan lokasi nyeri dapat Dimana tindakan non farmakologi adalah
diidentifikasi (Potter & Perry, 2010). Nyeri teknik yang digunakan untuk mendukung
yang dirasakan pada pasien paska ORIF teknik farmakologi dengan metode sederhana,
merupakan pengalaman yang bersifat murah, praktis, dan tanpa efek samping yang
3

merugikan (Potter & Perry, 2010). Tindakan orang fraktur femur yang diberikan tindakan
ini dapat dilakukan secara mandiri oleh paska ORIF dan 1 orang dengan fraktur distal
perawat. Tindakan non farmakologi dapat yang diberikan tindakan pemasangan gips.
berupa teknik distraksi, relaksasi, imaginary, Dari hasil wawancara terhadap pasien dengan
dan biofeedback (Potter & Perry, 2006). paska ORIF sesuai dengan kriteria subjek
Salah satu tindakan teknik non penelitian yang dicari, mengungkapkan rasa
farmakologi baru dan belum banyak dikenal nyeri pada area femur dengan skala sedang
oleh banyak orang adalah teknik relaksasi berskala 6 menggunakan Numerical Ratting
genggam jari atau finger hold. Teknik Scale (NRS), pasien tampak meringis
relaksasi genggam jari adalah proses kesakitan merasakan nyeri, tampak
mengendalikan emosi yang akan membuat melindungi area nyeri dan sulit untuk
tubuh menjadi rileks. Teknik ini sudah merubah posisi dengan miring kekiri serta
dikatakan berhasil pada suatu jurnal tentang kekanan karena merasakan nyeri.
teknik relaksasi genggam jari terhadap Tujuan dari karya ilmiah ini adalah
intensitas nyeri pada pasien post mengetahui bagaimana penerapan teknik
appendiktomi di ruang bedah RSUD Dr. relaksasi genggam jari terhadap skala nyeri
Achmad Mochtar Bukit tinggi tahun 2017. pada Sdr. D dengan paska Open Reduction
Dikatakan pada jurnal ini teknik relaksasi Internal Fixation (ORIF) di ruang Edelwis RS
genggam jari digunakan kurang lebih 15-25 TK. II. 04. 05. 01 dr. Soedjono Magelang”.
menit serta dilakukan 2x1 selama 3 hari. Pada
metode sebelumnya menggunakan “Teknik Metode
Menggenggam Jari Dengan Nafas Dalam”, Pengumpulan data dimulai dengan
dapat mengurangi dan menyembuhkan wawancara yang terstruktur dan tidak
ketegangan fisik dan emosi. Teknik tersebut terstruktur pada Sdr. D atau keluargnya,
dapat menghangatkan titik-titik keluar dan sebelum dan sesudah untuk mengetahui
masuknya energi yang terletak pada jari kita, kondisi Sdr. D. Alat penelitian yang
sehingga mampu memberikan rangsangan digunakan adalah SOP teknik relaksasi
secara spontan pada saat di genggam. Hasil genggam jari dan catatan keperawatan Sdr. D.
yang diberikan pada teknik tersebut dapat Proses dimulai dengan menjelaskan tujuan
berpengerah dalam mengurangi nyeri dari dan prosedur ke Sdr. D setelah Sdr. D
skala 6 menjadi 4. menyetujui dan menandatangani lembar
Hasil survei pada bulan Maret 2019 di persetujuan sebagai bukti bahwa Sdr. D
RS TK. II. 04. 05. 01 dr. Soedjono Magelang menyetujui dilakukannya tindakan teknik
di ruang Edelwis, didapatkan hasil dengan relaksasi genggam jari. Pemberian dilakukan
pasien fraktur terdapat 2 orang, dengan 1 2x1 selama 3 hari, yang dilanjutkan dengan
4

evaluasi pemberian teknik relaksasi genggam dipahami. Setelah itu dilakukanya penarikan
jari. Peneliti memulai dengan mengkaji skala sebuah kesimpulan dari keseluruhan
nyeri sebelum dan sesudah dilakukan penelitian.
tindakan relaksasi genggam jari, untuk
mengetahui apakah ada peningkatan atau Hasil
penurunan nyeri pada Sdr. D. Penerapan teknik relaksasi genggam jari
Penelitian merupakan alat yang pada subjek A yang diberikan selama 3 hari,
digunakan untuk mengumpulkan data dimulai pada tanggal 28 Maret 2019 pada
(Notoatmodjo, 2010). Validasi data yang pukul 14.30 WIB didapatkan hasil adanya
dibutuhkan diperoleh data dari Sdr. D penurunan nyeri dari skala 6 menjadi skala 5.
secara langsung dan dari perawat, serta Pada tanggal 29 Maret 2019 pada pukul 16.00
dibantu dengan catatan medik yang dimiliki WIB didapatkan hasil adanya penurunan
Sdr. D. Secara triangulasi, dilakukan setelah dilakukan teknik relaksasi genggam
pengecekan kebenaran data dan jari pada subjek A dari skala 5 menjadi skala
membandingkan data yang diperoleh dari 4 dan pada tanggal 30 Maret 2019 pukul
sumber lain yang dilakukan secara pretest dan 13.00 WIB didapatkan hasil adanya
posttest untuk mendapatkan suatu data yang penurunan skala nyeri dari skala 4 menjadi 3
konsisten dan berlawanan dari target yang setelah pemberian teknik relaksasi genggam
sudah ditentukan. Selanjutnya penelitian jari.
mengungkapkan gambaran lebih memadai
mengenai gejala yang diteliti. Pembahasan
Analisa data penelitian berfokus pada 1. Gambaran skala nyeri sebelum dilakukan
kasus tentang pemberian teknik relaksasi tindakan teknik relaksasi genggam jari
genggam jari pada Sdr. D dengan paska Hal ini dapat ditunjukkan saat
ORIF, dengan menggunakan domain analisis, peneliti menggali pengetahuan pasien
yang bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang nyeri yang dirasakan serta dapat
yang bersifat umum dan relative yang menunjukkan skala nyeri pada subjek A.
menyeluruh tentang apa yang tercakup pada Dengan diperjelas pada sebuah teori yang
fokus penelitian. Domain penelitian berupa menunjukkan tentang nilai skala pada
teknik relaksasi genggam jari dan skala nyeri. subjek A mengenai nyeri paska ORIF
Data yang terkumpul dilakukan yang berada diskala 6, dimana skala nyeri
penyederhanaan melalui pemfokusan dan yang dialami oleh subjek A berada pada
seleksi menjadi informasi yang bermakna. skala nyeri sedang. Diterangkan pada
Kemudian disajikan dalam bentuk narasi yang sebuah jurnal yang mengatakan bahwa
tersusun secara sistematis dan mudah sebagian besar pasien yang menjalani
5

paska ORIF memiliki tingkat nyeri di skala untuk memberikan kehangatan saat
sedang dan berat (Iswari, 2012). dilakukannya teknik relaksasi genggam
Skala nyeri dengan NRS jari pada Sdr. D. Pemberian teknik
merupakan skala yang dapat digunakan relaksasi genggam jari diberikan selama 3
sebagai alat instrument sebagai penelitian hari pemberian dengan sehari 2 kali selama
(Potter & Perry, 2006). Dimana nyeri 20 menit pemberian. Diperkuat pada jurnal
paska operasi yang disebabkan kaeran yang menyatakan dalam pemberian teknik
akibat tekanan, potongan, sayatan, atau relasasi selama 3 hari dengan pemberian
kekurangan oksigen pada sel, maka bagian 15-25 menit dapat mengurangi rasa nyeri
tubuh yang terluka akan mengeluarkan (Pinandita, 2012).
berbagai macam subtansi intraseluler yang Didapatkan teori bahwa dengan
dilepaskan ke ruang intraseluler yang menggenggam jari dapat membuka aliran
dilepaskan ke ruang ekstraluler, sehingga energi yang terkunci yang disebut safety
mengirim nosiseptor. energy locks sehingga aliran menjadi
Saraf ini akan bergerak dan lancar (Hill, 2011).Diperjelas bahwa
merangsang sepanjang serabut saraf rangsangan yang diberikan pada setiap
(neurotransmisi) yang akan menghasilkan gerakan akan mengalirkan semacam
subtansi yang disebut neurotransmiter, gelombang kejut atau listrik menuju otak.
seperti prostaglandin dan epineprin. Gelombang tersebut diterima otak dan
Selanjutnya pesan nyeri dari medula diproses dengan cepat, sehingga sumbatan
spinalis ditransmisikan ke otak dan di jalur energi menjadi lancar, maka tidak
dipersepsikan sebagai nyeri (Judha, 2012). akan ada nyeri atau nyeri menurun
2. Gambaran penerapan teknik relaksasi (Puwahang, 2011)
genggam jari. 3. Gambaran skala nyeri setelah dilakukan
Pemberian teknik relaksasi tindakan teknik relaksasi genggam jari
genggam jari ini merupakan pemberian Setelah dilakukan penelitian
aliran energi terhadap tubuh untuk tersebut maka dapat dirumuskan bahwa
menurunkan ketegangan otot fisik dan teknik relaksasi genggam jari yang
emosi (Pinandita, 2012). Pada pemberian dilakukan pada subjek A dapat
teknik relaksasi genggam jari yang meringankan nyeri dengan hasil skala
diberikan pada subjek A dilakukan dengan menjadi 3, adanya peningkatan kualitas
dibantu oleh peneliti saat pemberian teknik tidur pada subjek A. Dijelaskan bahwa
relaksasi genggam jari yang dilakukan penelitian yang dilakukan oleh peneliti
selama 20 menit. Dalam pemberiannya sejalan dengan sebuah jurnal yang
peneliti memberikan minyak kayu putih menyatakan hasil dari penelitian pada
6

pasien paska fraktur femur yang femur sebelah kanan paska ORIF hari ke-
menunjukkan hasil adanya perubahan pada 1, dengan skala 6 yang hilang timbul.
pasien dari skala nyeri yang dipengaruhi 2. Gambaran penerapan teknik relaksasi
oleh sejumlah faktor dari umur, jenis genggam jari
kelamin, tingkat kecemasan dan lain-lain Setelah dilakukan teknik relaksasi
yang menjelaskan bahwa ada perbedaan genggam jari selama 3 hari dimulai pada
skala nyeri sebelum dan sesudah (Wirya dtanggal 28-30 Maret 2019 di ruang
dan Sari, 2011). Diperkuat dengan teori Edelwis RS TK. II. 04. 05. 01 dr.
lain yang mengatkan adanya penurunan Soedjono Magelang didapatkan hasil
intensitas nyeri pada pasien paska operasi subjek A melakukan teknik relaksasi
fraktur femur setelah diberikan intervensi genggam jari dengan benar sesuai standar
yang disebabkan karena teknik relaksasi opersional prosedur (pinandita, 2012) dan
genggam jari dapat menurunkan subjek A dapat menggunakan teknik
ketegangan otot dan ketidaknyamanan relaksasi genggam jari secara mandiri
yang akan mengakibatkan tubuh menjadi ketika nyeri muncul.
rileks dan nyaman (Smeltzer, 2010). 3. Gambaran skala nyeri setelah dilakukan
tindakan teknik relaksasi genggam jari.
Simpulan Setelah dilakukan penerapan teknik
Setelah penulis melakukan penelitian relaksasi genggam jari pada tanggal 28-
tentang penerapan teknik relaksasi genggam 30 Maret 2019 di ruang Edelwis RS TK.
jari pada pasien nyeri paska Open Reduction II. 04. 05. 01 dr. Soedjono Magelang
Internal Fixation (ORIF ) dengan responden didapatkan hasil adanya penurunan
Sdr. D di runag Edelwis RS TK. II. 04. 05. 01 tingkat nyeri pada subjek A dari skala 6
dr. Soedjono Magelang didapatkan hasil: sebelum dilakukan tindakan menjadi
1. Gambaran skala nyeri sebelum dilakukan skala 3 setelah dilakukan tindakan teknik
tindakan teknik relaksasi genggam jari. relaksasi genggam jari.
Setelah dilakukan penelitian selama
3 hari dimulai tanggal 28-30 Maret 2019 Ucapan Terima Kasih
di ruang Edelwis RS TK. II.04. 05. 01 dr. Dalam hal ini penulis mengucapkan
Soedjono Magelang pada subjek A terima kasih kepada Direktur Akper Karya
sebelum dilakukan teknik relaksasi Bhakti Nusantara Magelang Ketua Yayasan
genggam jari gambaran nyeri subjek A Karya Bhakti Magelang dan Ketua Lembaga
nyeri saat digerakkan, kualitas seperti Penelitian dan Pengabdian Masyarakat yang
ditusuk-tusuk, regionalnya di kaki bagian telah memberikan dukungan moril maupun
materiil dalam penyelesaian publikasi ini.
7

DAFTAR PUSTAKA

Brunner and Suddarth. (2003). Keperawatan Neila Sulung. (2017.). Teknik Relaksasi
Medical Bedah . Jakarta: EGC. Genggam Jari Terhadap Intensitas
Nyeri Pada Pasien Post
Dewi, Sofia Rhosma. (2014). Buku Ajar Appendiktomi. Jurnal Endurance2(3),
Keperawatan Gerontik. Yogyakarta: 397.
Depublish.
Perry, P. (2006). Buku Ajar Fundemental
Dwi Nur Aini, Tamrin. (2011). Pengaruh Keperawatan Konsep, Proses, dan
Teknik Relaksasi Genggam Jari Praktik (4 ed.). Jakarta: EGC.
Terhadap Penurunan Tingkat Nyeri
Post Operasi Apendiktomi. 1-5. Pinandita, Iin. (2012). Pengaruh Teknik
Relaksasi Genggam Jari Terhadap
Elny Lorensi Silalahi. (2014). Efektifitas Penurunan Intensitas Nyeri Pada
Teknik Relaksasi Dan Distraksi Pasien Post Operasi Laparotomi.
Terhadap Intensitas Nyeri Akibat Jurnal Ilmiah Kesehatan
Perawatan Luka Laparatomi. Jurnal Keperawatan , VIII, 32.
Keperawatan , 33-36.
Potter & Perry. (2010). Buku Ajar
Helser J. (2010). Understanding Different Fundomental Keperawatan (Konsep,
Types of Pain After Sugery. Diambil Proses, dan Praktik). Jakarta: EGC.
kembali dari
http://surgey.about.com/od/aftersugey/ Puwahang. (2011). Retrieved from Pijat
a/SurgeyPain.html Tangan untuk Relaksasi:
http://www.jarijaritanganwordpress.co
Hill, R.Y. (2011). Nursing from the inside- m
out: Living and nursing from the
highest point of your consciousness. Rizaldi Pinzon . (2014). Esesmen Nyeri.
London: Jones and Barlett Publishers. Yogyakarta: Betha Grafika.

Internasional Association for Study of Pain Sari, Wulan Purnama. (2014). Efektivitas
[IASP]. (2011). Retrieved from IASP Terapi Farmakologi dan Non-
Sponsori Tahun Global Melawan Farmakologi Nyeri Haid (Disminore)
Nyeri Akut: http://www.iasp-pain- pada Siswi di SMA Negeri 1
org/files/ContentYearAgainstPain2/20 Pemangkat. Jurnal Keperawatan .
102011AcutePain/GYAAP_PR_Indon
esia.pdf Smeltzer, S.C. & Bare, B.G. (2013). BUku
Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Iswari M.F. (2012). Gambaran Tingkat Nyeri Brunner & Suddart (8 ed.). Jakarta:
Dan Kecemasan Pasien Post Operasi EGC.
Orthopedi Di Rumah Sakit
Muhammadiyah Palembang. Jurnal Tamsuri. A. (2007). Konsep Dan
Keperawatan . Penatalaksanaan Nyeri. Jakarta: EGC.

Muhammad Judha. (2012). Keperawatan


Perioperatif. Yogyakarta: Gosyen
Publishing.