Anda di halaman 1dari 16

1 EXT/INT.

DEPAN KEDAI PIPI 1

ABANG PIPI
Udah berapa kali aku bilang jangan
` pernah dekati adek aku lagi!

Abang pipi memukul wajah dullah. Dullah terjatuh. Abang pipi


mendekati dullah dan memegang lehernya.

ABANG PIPI
Jangan pernah main-main sama aku.
Sekali lagi ko dekati adek aku.
Ko terima akibatnya!
(Abang pipi berteriak)

Dullah terdiam. Abang pipi berjalan ke dalam rumah meninggalkan


dullah.

CUT TO:

2 INT. RUMAH PIPI. DAY. 2

Pipi hanya bisa melihat dullah sambil menangis di dalam rumahnya.

CUT BACK TO:

3 EXT/INT. DEPAN KEDAI PIPI. DAY. 3

Dullah tersenyum melihat pipi. Ia berdiri perlahan dan pergi.

CUT TO:

4 INT. RUMAH PIPI. DAY. 4

Abang pipi masuk dan melihat pipi masih di depan jendela. Pipi
menoleh dan menatap tajam abangnya sambil menahan tangis, nafasnya
terengah-engah, wajahnya tampak begitu kesal. (Beat.) Pipi pergi
meninggalkan abangnya menuju ke kamar.

5 INT. KAMAR PIPI. DAY 5

Ia berjalan menuju meja dan mengambil beberapa surat di laci. Ia


memegang dan menatap surat-surat tersebut.
FLASHBACK:

6 EXT/INT. KEDAI PIPI. DAY. 6

pipi keluar melihat ada bungkusan ikan di atas dagangannya, dengan


wajah kebingungan ia berlari kecil keluar kedai dan melihat
sekeliling. Pipi akhirnya mengambil bungkusan ikan tersebut dan
membawanya masuk ke dalam rumah.

7 EXT/INT. KEDAI PIPI. DAY. 7


Dullah memberikan pipi surat.

8 EXT. TEPI PANTAI. DAY. 8


Dullah dan pipi duduk di tepi pantai. Saling tersenyum dan
bertatapan.

CUT BACK TO:

9 INT. KAMAR PIPI. DAY.

Pipi menangis. Tiba-tiba mama pipi mengetuk pintu kamarnya dan


memanggilnya.

MAMA PIPI
Pipi..

Pipi mengusap air matanya. Wajahnya murung. Ia berjalan keluar


kamarnya.

10 INT. RUANG TAMU PIPI. DAY 10

Keluarga pipi menasihati pipi. Wajah pipi terlihat sedih.


PAPA PIPI Papa tak suka kamu dekat-dekat
sama nelayan itu.

MAMA PIPI
Iya.. Cari kawan yang bagus.
Dia itu beda sama kamu, pipi.

PAPA PIPI
Apa kata orang kalau kamu
sama nelayan itu. Papa tak
mau dengar kamu dekat-
dekat lagi sama dia.

Papa pipi memalingkan wajahnya ke arah abang pipi.

PAPA PIPI (CONT’D)


Along, kamu jaga adik kamu.
Jangan sampe dia malukan
keluarga.

Pipi hanya bisa terdiam dengan wajah yang kecewa.

11 EXT/INT. KEDAI PIPI . DAY. 11

Pipi sedang sembayang membakar dupa di depan kedainya.

CUT TO:

12 EXT. KEDAI PIPI. DAY 12

Dengan wajah yang masih sedikit lebam, dullah melewati kedai pipi,
ia melihat pipi sedang sembayang. Dullah menunggu sambil
memperhatikan pipi dari kejauhan.

CUT BACK TO:

13 EXT/INT. KEDAI PIPI. DAY 13

Pipi selesai sembayang. Ia melihat dullah dengan wajah yang panik.

CUT TO:

14 EXT. DEPAN KEDAI PIPI. DAY. 14

Dullah tersenyum. Ia melangkah perlahan menuju pipi.

CUT BACK TO:


15 EXT/INT. KEDAI PIPI. DAY 15

Pipi menghindar ia lari ke dalam rumahnya.

CUT TO:

16 EXT/INT. KEDAI PIPI. DAY 16


Langkah dullah terhenti. Wajahnya tampak kecewa. (Beat)

17 EXT. LAPAK AKOH. DAY 17

Dengan wajah yang murung dan sisa-sisa lebam, dullah menjual hasil
tangkapannya pada akoh.

AKOH
Eh.. apa pasal muka ko tu
dullah?

DULLAH
Biase..

AKOH
Ape yang biase?

Akoh datang mendekati dullah. Ia memperhatikan wajah dullah.

AKOH (CONT'D)
Muke dah lebam cem ni? Apa pasal?
DULLAH
Abang pipi punya kerje
akoh mengerutkan wajahnya.

AKOH
Heiss.. daah ku duga.. ko pun
satulah dul.. dul.. dah aku
cakap, jangan sama pipi..

Akoh menimbang ikan-ikan dullah.

AKOH
Dah tau keluarganya cem tu, ko
tengok abangnya, parang ni pun
Mungkin sanggup dia patahkan

Akoh mengangkat parang ikannya.

AKOH
Jangan sampe, nanti ko pula
yang dipatahkan dia..

Akoh mengarahkan parangnya ke wajah dullah.

DULLAH
Heleh, berlebihan ko ni koh
Lagian kalo iyapun, aku rela
demi pipi..

AKOH
Payah nak cakap sama orang
Jatuh cinta.
Akoh menggeleng-gelengkan kepalanya dan memberikan dullah sejumlah
uang hasil tangkapannya.

18 INT. RUMAH DULLAH. DAY 18

(Suara adzan)
Dullah duduk termenung mendengarkan adzan. Bapak dullah datang.

BAPAK DULLAH
Dul..

DULLAH
(Dullah sedikit terkejut)
Eh.. iya pak..

BAPAK DULLAH
Menung aja ko, dul..
ayo ikut, kita shalat dulu
di masjid.

DULLAH
Em.. bapak aja dulu..
aku tak ikut..

BAPAK DULLAH
Loh.. emang ko mau ngapain?

DULLAH
Tak ape pak, aku shalat
di rumah aja

Bapak dullah mengambil sarung dan peci, lalu ia mendekati dullah.

BAPAK DULLAH
Dul.. ayo..

Bapak dullah memberikan sarung dan peci tersebut sambil senyum


mengangguk. Dullah terdiam menatap bapaknya. Ia mengambil sarung dan
peci tersebut. Lalu, ia berdiri tersenyum memakai peci tersebut.

19 EXT. JALAN RUMAH DULLAH. DAY 19

Dullah dan bapaknya berjalan pulang sehabis shalat.


DULLAH
Pak.. dulu alasan bapak milih
mamak terus bisa merasa cocok
sama mamak apa, pak?

BAPAK DULLAH
Kenapa? Tumben ko nanya kaya
gini..

DULLAH
Nak tau aja, pak..

BAPAK DULAH
Hehe..
(Tersenyum kecil sambil menatap
dullah)

BAPAK DULLAH (CONT’D)


Proses, dul.. Cinta membuat kita
saling merasa cocok. Padahal,
kalau dipikir-pikir ada banyak
perbedaan, ada banyak ketidak-
cocokan antara bapak sama mamak
ko. Tapi, ya begitulah cinta, dul.
Kita saling membutuhkan, ya jadi
kita harus saling menyesuaikan, dul.

Bapak dullah tersenyum lebar melihat ke arah dullah.

BAPAK DULLAH (CONT’D)


Kenapa emangnya?

DULLAH
Hehe tak ada apa-apa, pak.
Nak tau aja.

Dullah tersenyum kecil. Bapak dullah hanya menggeleng-gelengkan


kepalanya.

20 EXT/INT. KEDAI PIPI. DAY. 20

Dullah datang menemui pipi, pipi melihat dullah dengan panik. Ia


masuk ke dalam rumahnya. Dullah meninggalkan sepucuk surat di kedai
pipi, lalu dullah pergi. Pipi melihat sekeliling. Ia mengambil surat
tersebut dan membacanya.

DULLAH (V.O)
Ku mohon, temui aku di kala
senja. Pantai sudah bersiap
menjamu kita. Ku mohon, sekali
lagi saja.

Pipi terdiam, wajahnya terlihat bingung.

21 EXT. PANTAI. DAY. 21

Pipi datang menemui dullah yang sedang menunggunya di tepi pantai.

PIPI
Dullah, tak perlu lagi memberi
saya surat.

DULLAH
Kenapa, pi?

PIPI
tak bisa seperti itu lagi, Dul.
Kalau abang saya tahu, dia akan
menyerang kamu. Saya tak mau itu
terjadi lagi, dullah. Kamu tak
bisa melawannya.

DULLAH
Bukan saya tak bisa melawan, tapi
saya hanya tak mau menyakiti abang
kamu. Itu karena saya cinta sama
kamu, pipi..

Pipi terdiam. Wajahnya tampak sedih dan bingung.

PIPI
Dullah, tapi saya tak bisa.
Sulit untuk kita bersatu.
Kita tak cocok. Kita berbeda,
dullah.

DULLAH
Apa yang berbeda pi?

PIPI
Banyak dullah. Suku kita berbeda,
agama kita juga berbeda dullah.

Dullah terdiam. (Beat)

DULLAH
Tapi, cinta tak punya suku dan
agama, pipi..

(Soundtrack sanggupkah andy liani)

Dullah dan pipi saling memandang.

22 INT. KEDAI PIPI. DAY 22

Pipi membuka kedainya sambil melihat-lihat sekitar. Lalu, ia


sembayang dan kembali melihat-lihat sekitar. Ia mencari dan menungu
dullah lewat. Wajahnya cemas.

23 INT. RUMAH DULLAH. DAY. 23

Tangan pipi mengetok pintu. Bapak dullah berjalan menuju pintu.

BAPAK DULLAH
Iye.. sebentar..

Bapak dullah membuka pintu dan terlihat sedikit terkejut.

PIPI
permisi pak, saya mau ketemu
dullah.

Bapak dullah terdiam sejenak dengan wajah yang sedikit bingung.

PIPI (CONT’D)
Maaf pak, boleh saya ketemu
dullah?

Bapak dullah menghelakan nafas.

BAPAK DULLAH
Iya silahkan masuk dulu, biar
saya panggil.

Pipi masuk dan bapak dullah memamanggil dullah ke kamar. Dullah


keluar menemui pipi. Ia tersenyum melihat pipi yang sedang duduk di
ruang tamunya.

DULLAH
Pipi.. ada apa pi?

PIPI
Em.. tak apa, saya tadi
tak melihat kamu di pasar.
Kamu baik-baik saja dullah?
Oh iya, aku bawa ini untuk
kamu..

Pipi memberikan kue yang ia bawa ke dullah.

DULLAH
Saya baik baik aja, pi..
Terima kasih banyak.

Dullah tersenyum menatap pipi.

DULLAH (CONT’D)
Oh iya.. silahkan duduk, pi..

Pipi tersenyum mengangguk. Mereka duduk berdampingan. Pipi terdiam


sejenak. Ia tampak sangat gugup.

PIPI
Em.. dullah..

DULLAH
Kenape?

PIPI
saya tak tau ini apa dan
saya tak pernah merasakan
ini sebelumnya.. yang saya
tahu cuma saya senang bisa
dekat sama kamu, dan saya
ingin selalu dekat sama kamu,
dullah..

DULLAH
Kamu yakin bisa menerima Saya, pi?

PIPI
Yakin. Saya yakin bisa
menerima kamu.

DULLAH
Tapi keluarga kamu tak bisa.

Pipi terdiam. Ia tersenyum.

PIPI
Kalau begitu buat mereka menerima
kita.

Dullah tersenyum menangguk.


DULLAH
Saya akan berusaha.

PIPI
Bukan Cuma kamu, dul.
Kita.

DULLAH
Kita.
(Dullah mengangguk)

Dullah dan pipi tersenyum. Mereka saling memandang dengan tatapan


yang sangat hangat.

(Beat)

CUT TO:

24 INT/EXT. DEPAN RUMAH DULLAH. DAY. 24

Abang pipi diam-diam membuntuti pipi hingga ke rumah dullah. Ia


mendengar percakapan pipi dan dullah. Wajahnya terlihat sangat
kesal.

ABANG PIPI
Awas kau dullah!

25 EXT. PASAR PLANTAR. DAY. 25

Langkah kaki dullah dengan membawa hasil tangkapannya. Dullah datang


menemui pipi. Ia tersenyum dari kejauhan. Semua orang melihat
mereka.

(Soundtrack semua orang bicara andy liani.)

Ia berjalan menuju pipi tanpa menghiraukan sekitar. Ia menemui pipi


dan memberikannya sepucuk surat. Pipi menerimanya, mereka saling
memandang dan tersenyum dengan sangat hangat.

25 EXT. LAPAK AKOH. DAY. 25

Dullah sedang menjual hasil tangkapannya di lapak akoh. Tiba-tiba


Abang pipi dan teman-temannya mendatangi dullah dari belakang. Akoh
terkejut. Ia megisyaratkan dullah agar segera lari.
AKOH
(bicara berbisik)
Dullah belakang engko..

Dullah menatap akoh. Akoh memberikan sepiring kotoran ikan. Dullah


mengambilnya, ia membalikkan badannya, dan melemparkan kotoran ikan
tersebut ke arah abang pipi dan teman-temannya. Lalu, dullah berlari
mecoba untuk kabur.

ABANG PIPI
Dullaaahhhhh!

Abang pipi berteriak dan mengejar dullah bersama teman-temannya.


dullah berlari dengan kencang.

26 EXT. PASAR PELANTAR. DAY. 26

Dullah berlari dengan kencang menghindari abang pipi dan teman-


temannya. Abang pipi dan teman-temannya mengejar dullah. Dullah
masih berlari sampai akhirnya ia menabrak dan terpeleset. abang pipi
dan teman-temannya langsung menangkap dullah.

ABANG PIPI
Dapatkan kau.. tak bisa ko
lari lagi!

Abang pipi memegang leher dullah.

ABANG PIPI (CONT’D)


Bisa-bisanya ko buat adek aku
datang ke rumah ko!

Abang pipi langsung memukul wajah dullah.

ABANG PIPI (CONT'D)


Jangan pernah mimpi ko bisa
sama pipi, Aku tak akan pernah
sudi jadi abang ipar ko!

DULLAH
Saya cinta sama pipi.
(Wajah dullah terlihat sangat
serius)

Abang pipi semakin kesal mendengar ucapan dullah.

ABANG PIPI
Berani ko ngomong gitu depan
aku? Orang kaya ko tak pantas
dengan adek aku! Ngerti kau!
(Berteriak di depan wajah dullah)

Abang pipi kembali memukul wajah dullah dengan keras hinggga dullah
terjatuh ke tanah.

JAMIL
Mane silat kau? Ku dengar
ko jago silat?
(Tersenyum sinis)
Keluarkanlah!

JUNAIDI
Udehlah. Cemane nak jago
besilat, lawannya aje cuma
ikan tiap hari.

Junaidi dan lainnya tertawa mengejek. Dengan wajah kesal dullah


berdiri, ia menatap tajam ke arah abang pipi dan teman-temannya. Ia
mengepalkan tangannya (beat.) Melihat itu, jamilpun kesal, ia
melangkah maju dan hendak memukul dullah. Namun, abang pipi
menghadangnya.

ABANG PIPI
Biarin aja. Kita lihat, bisa
apa dia.

Jamil menghentikan langkahnya. Dullah sedikit melangkah maju. Ia


terlihat sangat kesal.

DULLAH
Korang bukan lawan saye.

Dullah mundur perlahan. Abang pipi dan teman-temannya terlihat


sangat kesal.

ABANG PIPI
Kurang ajar ko dullah!

Dullah berlari dengan kencang meninggalkan abang pipi dan teman-


temannya. Abang pipi dan teman-temannya langsung mengejar dullah.
Mereka kembali kejar-kejaran melewati lapak-lapak pedagang.

27 EXT. PASAR PLANTAR. DAY. 27

Dullah kebingungan untuk bersembunyi. Ia terus berlari dan menemukan


drum ikan yang besar. Ia masuk dan bersembunyi di dalamnya. Abang
pipi dan teman-temannya kebingungan mencari dullah. Abang pipi
melewati drum tempat dullah bersembunyi. Junaidi sedikit ketinggalan
karena lari yang lambat. Ialu, ia berhenti mengatur nafasnya, ia
berdiri tak jauh dari drum tempat persembunyian dullah.
Terlihat fatimeh lewat membawa dagangannya.

JUNAIDI
Eh... dek fatimeh
(Sambil menggaruk-garuk pipinya
dan dengan nafas yang masih
terengah-engah)

JUNAIDI (CONT’D)
Hati-hati ya dek.. cantik betul
dek fatimeh hari ini.. nak abang
antar tak?
(Mengedipkan matanya)

Fatimeh hanya tersenyum lalu pergi. Dullah terus bersembunyi dalam


drum ikan, namun beberapa saat kemudian pemilik drum ikan itu ingin
memindahkan drum tersebut. Saat hendak memindahkannya ia curiga
karena drum yang ia kira kosong itu, terasa sangat berat untuk
diangkat.

PEMILIK DRUM
Eh apa pasal nih. Berat sangat.
(Sambil membuka tutup drum
tersebut)

pemilik drum kaget melihat dullah ada di dalam drum tersebut. Ia


berteriak.

PEMILIK DRUM (CONT’D)


Eh.. siapa ko? Apa pasal ko
di sini?!

Dullah kaget dan panik. Ia langsung bergegas keluar dari drum


tersebut. Junaidi yang sedang menggoda fatimeh pun kaget mendengar
keributan tersebut. Ia melihat dullah yang hendak berlari ke luar
drum tersebut. Junaidi bergegas mengejar dullah.

JUNAIDI
Ketahuankan ko sekarang, dullah!

Junaidi mengejar dullah. Dullah tak sempat untuk berlari lebih jauh.
Junaidi mendapatkan dullah dan langsung menggenggam tangan dullah
dengan kuat.
JUNAIDI
Woi!! Ni orangnya ni! Sembunyi
di sini dia woi.

Ia berteriak sambil menyeret dullah ke arah abang pipi. Abang pipi


dan teman-temannya mendengar suara junaidi. Mereka langsung
mendatangi junaidi dan dullah. Dullah berusaha melepaskan dirinya
dari junaidi.
JUNAIDI
Nak apa ko? Tak bisa ko
lari lagi!

Dullah memukul junaidi dengan jurus silatnya. Junaidi kaget dan


kesakitan. Ia lalu melepaskan tanganya dari dullah. Dullah mencoba
berlari namun jamil berhasil mengejarnya. Ia memukul dullah. Dullah
membalas dengan gerakkan silatnya. Jamil terjatuh. Ia sangat kesal
dan langsung memerintahkan teman abang pipi#1 dan teman abang pipi#2
menahan tangan dullah. Dullah tak bisa berlari.

JUNAIDI
Memang betul-betul cari mati ko!
Berani ko pukul aku?! JUNAIDI!!
(sambil memukul-mukul dadanya
dengan bangga) junaidi nak ko
pukul? Salah besar ko!

Juanaidi memanggil jamil.

JUNAIDI (CONT’D)
Mil.. hajar aja mil..

JAMIL
Jun.. jun..
(Wajah heran)

Jamil melangkah maju dan memukul perut dullah berkali-kali. Dullah


terlihat begitu lemas kesakitan. Abang pipi maju mendekati dullah.
Ia mengambil lintingan tembakau yang ada di sakunya. Ia menghisapnya
dan menghembuskan asapnya ke wajah dullah.

ABANG PIPI (CONT’D)


Ko sadar ko tu siapa!
(Menunjuk jarinya ke pundak
dullah)

Abang pipi memberikan lintingan tembakaunya kepada jamil.

ABANG PIPI (CONT’D)


Sampan ko aja tak akan bisa
nandingin ujung kuku aku!
Dengar kau?!

Abang pipi memukul wajah dullah, dullah kembali terjatuh. Teman


abang pipi#1 dan #2 mengangkat dullah untuk berdiri dan kembali
menahan tanggannya. Dullah terlihat tak berdaya. Jamil dan jainudin
melihat dullah sambil menghisap linting tembakaunya.

DULLAH
Saya tak akan pernah melawan
kamu. Karena saya tak pernah
mengganggap kamu sebagai lawan
saya. Tapi suatu saat, saya yakin
kamu akan menyesali semua
perkataan dan perbuatan kamu.
(Dullah berbicara dengan pelan
Suaranya bergetar lemas.)

Mendengar itu abang pipi dan teman-temannya tertawa sinis.

JAMIL
Banyak ngomong kau, pengecut!

Jamil maju dan kembali memukul dullah berulang kali. Dullah


terjatuh. Wajahnya dipenuhi lebam luka dan darah. Abang pipi
mendekati dullah yang sudah terjatuh telentang di tanah.

ABANG PIPI
Ko tak akan pernah pantas untuk
adik aku!

DULLAH
Pipi cinta sama saya. nanti,
ko akan jadi abang saya.

ABANG PIPI
Tak akan pernah!

Abang pipi sangat kesal dan ia memukul dullah dengan sangat kencang.

28 EXT. LAUT PELANTAR. POV DULLAH. DAY. 28

Dullah yang setengah sadar melihat tubuhnya digotong oleh teman-


teman abang pipi. Ia kesakitan dan matanya susah untuk sepenuhnya
terbuka. Ia tak berdaya dan sulit bergerak. Sayup-sayup ia
mendengar.

ABANG PIPI
Buang dia ke laut! Biar mampus
sekalian!

JUNAIDI
Yakin ko bos?

ABANG PIPI
Aku kata buang! Ya, buang!

Teman-teman abang pipi mengangguk. Jamil dan junaidi membuang dullah


ke laut.
(SLOW MOTION)

CUT TO:

29 INT. KAMAR PIPI. DAY. 29

Pipi membaca surat dari dullah dengan wajah yang cemas dan tangisan
kecil.

DULLAH (V.O)
Sanggupkah aku hidup bersama denganmu
Mungkinkah aku Hidup tanpa ada dirimu
Hanya waktu Yang bisa jawab semua itu
Sampai kapan Aku tak tahu...

CUT BACK TO:

30 EXT. LAUT PELANTAR. POV DULLAH. DAY. 30

Dullah terlempar ke laut. (SLOW MO)

CUT TO:

31 EXT. TEPI PANTAI. DAY 31

Dullah yang hanyut tak sadarkan diri di selamatkan oleh seseorang


yang menarik tubuhnya ke daratan.