Anda di halaman 1dari 3

TUGAS TEKNOLOGI INFORMASI

SEJARAH REVOLUSI INDUSTRI

OLEH :

RAHMAT RAHIM FAISAL

201810056

FAKULTAS TEKNIK

JURUSAN TEKNIK SIPIL

UNIVERSITAS SULAWESI TENGGARA

KENDARI 2020
Sejarah Revolusi Industri
Untuk dapat memahami bagaimana revolusi industri 4.0 secara khusus berbeda
dengan revolusi  industri sebelumnya, maka berikut evolusi manufaktur dan sektor
industri secara umum yang telah terjadi.

Revolusi Industri Pertama (Industri 1.0)

Industri 1.0 atau revolusi industri pertama terjadi pada abad ke 18 (1760-1840) di
Inggris saat memperkenalkan dan menggunakan mesin bertenaga uap dan air sebagai
sumber tenaga pengganti produksi manual oleh manusia dan hewan.

Pada waktu itu, istilah “pabrik” menjadi sedikit populer. Salah satu industri yang
pertama mengadopsi metode tersebut adalah industri tekstil.

Revolusi Industri Kedua (Industri 2.0)

Revolusi industri yang kedua terjadi antara tahun 1870 dan 1914 dengan
memperkenalkan sistem yang sudah ada sebelumnya seperti listrik dan jalur perakitan
ke dalam industri.

Elektrifikasi pabrik berkontribusi besar pada tingkat produksi. Produksi baja secara


massal membantu memperkenalkan jalur perakitan ke dalam sistem, yang berakibat
pada produksi massal.

Revolusi Industri Ketiga (Industri 3.0)

Revolusi industri ketiga terjadi antara tahun 1950 dan 1970 dimana terjadi perubahan
dari sistem analog dan mekanis menjadi digital sehingga sering disebut sebagai
Revolusi Digital atau Era Informasi.

Revolusi ini merupakan hasil dari perkembangan teknologi komputer,  informasi dan
komunikasi sehingga teknologi otomatisasi banyak digunakan dalam kegiatan industri.

Revolusi Industri Keempat (Industri 4.0)


Memasuki Industri 4.0, ditandai meningkatnya konektivitas, interaksi, dan batas antara
manusia, mesin, dan sumber daya lainnya yang semakin konvergen melalui teknologi
informasi dan komunikasi.

Implementasi Industry 4.0 tidak hanya memiliki potensi luar biasa dalam merombak
aspek industri, bahkan juga mampu mengubah berbagai aspek dalam kehidupan
manusia.

Salah satu rujukan awal soal revolusi industri 4.0, Dalam buku The Fourth Industrial
Revolution (2016) yang ditulis oleh Klaus Schwab, chairman World Economic Forum,
menyebutkan bahwa revolusi kali ini tak hanya mengubah bagaimana bisnis dijalankan
dan para pekerja berelasi, tapi juga bagaimana orang menjalani kehidupan sehari-hari.
Dengan kata lain, revolusi industri 4.0 diproyeksikan mempengaruhi perilaku personal
secara mendalam.

Pondasi Industri 4.0

Ada tiga pondasi dasar dari revolusi industri 4.0 ini, yaitu konektivitas Internet yang
terhubung secara permanen atau Internet of things (IoT), data skala besar (big data)
dan teknik penyimpanan data di awan (cloud computing).

Internet of things telah memungkinkan terjadinya integrasi sistematis dari fase awal


pengumpulan data, pengolahan, analisis, hingga fase pemanfaatan data yang mampu
memberi nilai bagi pengguna secara maksimal dalam waktu singkat.

Ketiga aspek dalam keseluruhan ekosistem digital ini telah memungkinkan berbagai
simulasi, pemanfaatan kecerdasan buatan, dan integrasinya dalam berbagai hal bisa
diakselerasi pemanfaatannya.

Perubahan cepat dalam teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah menjawab
tantangan batas antara realitas virtual dan dunia nyata. Industri 4.0 telah mampu
membuat komunikasi mesin dengan peralatan lain, disebut Internet of Things (IoT) dan
dapat berkomunikasi dengan orang-orang yang disebut Internet of People (IoP),
sehingga tercipta apa yang sekarang disebut sistem produksi fisik dunia maya (CPPS).

Semua ini membantu industri mengintegrasikan dunia nyata menjadi virtual dan
memungkinkan mesin untuk mengumpulkan data langsung, menganalisisnya, dan
bahkan membuat keputusan berdasarkan data yang telah dibuat. Dengan demikian
tujuan utama dari industri 4.0 yaitu kestabilan distribusi barang dan kebutuhan, dapat
terpenuhi.

Industri 4.0 memungkinkan pendataan kebutuhan masyarakat secara real time, dan
mengirim data tersebut ke produsen. Sehingga, para produsen dapat memproduksi
dengan jumlah yang tepat sesuai kebutuhan. Tentunya secara ekonomi, hal ini dapat
menjaga kestabilan harga. Secara bisnis, hal ini dapat memperluas pasar dengan jalur
pasokan tanpa batas geografis.