Anda di halaman 1dari 2

Pengaruh Inflasi US Dollar Terhadap Industri Manufaktur

Untuk mempermudah dalam pembahasan serta memberi pendapat pada masalah ekonomi
tersebut, kami mengelompokkannya menjadi beberapa poin yaitu :
a. Investasi dari pinjaman
b. Bahan baku impor
c. Kasus yang terjadi baik di Indonesia atau di negara lain

1. Investasi dari Pinjaman

Secara umum investasi adalah suatu aktivitas menempatkan dana pada satu periode tertentu
dengan harapan penggunaan dana tersebut bisa menghasilkan keuntungan dan/atau
peningkatan nilai investasi. Berdasarkan dari beberapa jurnal yang telah kami baca mengenai
pengaruh inflasi Us Dollar terhadap industri manufaktur kami mendapatkan informasi bahwa
semua industri manufaktur baik skala kecil hingga skala besar membutuhkan investor.
Investor merupakan pelaku investasi yang menanamkan modal di industri tersebut, jadi dapat
kita simpulkan bahwa peran investor sangat penting untuk terbentuknya suatu industri.
Berdasarkan survei yang dirilis Japan Bank for International Cooperation (JBIC), tahun 2014
Indonesia masuk pada peringkat pertama negara yang diminati untuk berinvestasi. Realisasi
investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA)
kuartal III/2014 sebesar Rp 119,9 triliun. Nilai itui kembali memecahkan rekor tertinggi.
Pasalnya, nilai ini mengalami peningkatan sebesar 19,3% dibandingkan periode sama 2013.
Di Indonesia telah banyak investor dari berbagai latar belakang yang menawarkan pinjaman
dengan berbagai keunggulan serta keuntungan yang akan didapatkan. Namun semua itu tentu
memliki risiko ataupun kekurangannya masing-masing, berikut ini adalah beberapa faktor
yang mempengaruhi investasi.
a) Suku Bunga
b) Pendapatan nasional per kapita untuk tingkat negara (nasional) dan PDRB per kapita
untuk tingkat propinsi dan kabupaten atau kota.
c) Kondisi sarana dan prasarana
d) Birokrasi perijinan
e) Kualitas sumber daya manusia
f) Peraturan dan undang-undang ketenagakerjaan
g) Stabilitas politik dan keamanan
h) Faktor-faktor sosial budaya
i) Pengaruh Nilai tukar
j) Tingkat Inflasi

http://kemenperin.go.id/artikel/10552/Indonesia-Masih-Jadi-Negara-Tujuan-Investasi 
http://rac.uii.ac.id/server/document/Private/2008042103404701313207.pdf

2. Bahan Baku Impor


Berdasarkan data yang kami dapatkan dari website resmi Kementerian Perindustrian
Republik Indonesia (Kemenperi) yaitu Sekitar 64% dari total industri di Indonesia masih
mengandalkan bahan baku, bahan penolong, serta barang modal impor untuk mendukung
proses produksi. Industri tersebut diwakili oleh sembilan sektor industri yakni permesinan
dan logam, otomotif, elektronik, kimia dasar, makanan dan minuman, pakan ternak, tekstil
dan produk tekstil (TPT), barang kimia lain, serta pulp dan kertas. Menurut Anshari Bukhari
(Sekjen Kementerian Perindustrian), sekitar 64% industri itu mendominasi nilai produksi
industri nasional sebesar 80% serta menyumbang 65% penyerapan tenaga kerja. Berdasarkan
data Kementerian Perindustrian, neraca perdagangan enam dari sembilan industri itu ternyata
defisit karena impor lebih besar dibandingkan ekspor. Total impor bahan baku dan bahan
penolong dari 64% industri nasional itu mencapai sekitar 67,9%, impor barang modalnya
mencapai 24,6%, dan impor barang konsumsinya 7,5%. Dari data diatas kami menarik suatu
kesimpulan bahwa Indonesia masih sangat bergantung dengan impor guna memenuhi
kebutuhan industri dalam negeri. Tentu saja hal ini menjadi masalah nasional karena bila
sewaktu-waktu nilai tukar rupiah mengalami pelemahan maka biaya produksi akan menjadi
meningkat serta akan berpengaruh terhadap harga jual produk guna menutupi biaya produksi.
Untuk mengatasi masalah tersebut peran pemerintah sangat penting dalam mengatur regulasi
dan menjaga kesimbangan mata uang rupiah agar negara semakin mandiri serta mampu
menjaga stabilitas harga dipasaran.

http://www.kemenperin.go.id/artikel/9306/64-dari-Industri-Nasional-Bergantung-pada-
Bahan-Baku-Impor