Anda di halaman 1dari 38

0

UPAYA GURU AQIDAH AKHLAK DALAM MENGATASI


KENAKALAN SISWA DI MTS N 6 BUNGO
(MTSN 6 BUNGO)

PROPOSAL
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana
Strata Satu (S1) Pada Ilmu Pendidikan Agama Islam

DI SUSUN OLEH
SAKINAH
Pi.01.216.4185

YAYASAN NURUL ISLAM


INSTITUT AGAMA ISLAM (IAI) YASNI BUNGO
TAHUN AKADEMIK 2019/2020
0

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan kesempatan dan
kekuatan bagi penulis untuk menyelesaikan penulisan proposal Skripsi ini yaang
berjudul Upaya Guru Aqidah Akhlak Dalam Mengatasi Kenakalan Siswa Di
MTSN 6 Bungo. Sholawat berangkaian salam, semoga tercurahkan keepada
junjungan alam, yakni Nabi Muhammad SAW, yang menganjurkan umatnya
untuk menutuk ilmu agar manusia bisa membedakan mana yang hak dan mana
yang batil.
Karya tulis dalam bentuk proposal skripsi ini dimaksud untuk memenuhi
sebagai persyaratan guna memperoleh gelar sarjana Strata Satu (S1) Pada Insitut
Agama Islam (IAI) Yayasan Nurul Islam (YASNI) Muaro Bungo. Penulis telah
melakukan penelitian dan penulisan proposal skripsi ini dengan semaksimal
mungkin, agar karya ilmiah dalam bentuk proposal skripsi ini dapat bermanfaat
bagi semua pembaca, jika terdapat kesalahan dalam proposal skripsi ini penulis
sampaikan mohon maaf, mekhlum penulis juga manusia.
Oleh karena itu penulis menharapkan kritik dan saran konstruktif dari
semua pembaca agar menjadi proposal skripsi yang ideal.

Muara Bungo, Juli 2020


Penulis,

ii
1

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ......................................................................................


MOTTO .......................................................................................................... i
KATA PENGANTAR .................................................................................... ii
DAFTAR ISI ................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ................................................................ 1
B. Fokus Penelitian ............................................................................ 5
C. Rumusan Masalah ......................................................................... 5
D. Tujuan Penelitian........................................................................... 7
E. Kegunaan Penelitian ...................................................................... 7
BAB II KAJIAN TEORETIK
A. Upaya Guru Aqidah Akhlak .......................................................... 8
B. Kenakalan Siswa ........................................................................... 15
C. Penelitian Yang Relevan ............................................................. 20
D. Kerangka Berpikir ........................................................................ 22
BAB III PROGRAM DAN PELAPORAN
A. Pendekatan Penelitian ................................................................... 24
B. Seting Penelitian............................................................................ 25
C. Jenis-jenis dan Sumber Data ......................................................... 26
D. Teknik Pengumpulan Data ............................................................ 28
E. Teknik Analisis Data ..................................................................... 29
F. Teknik Penjamin Keabsahan Data ................................................ 30
G. Jadwal Penelitian ........................................................................... 33
DAFTAR PUSTAKA

iii
0

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Masa remaja (khususnya siswa sekolah menengah pertama) adalah suatu tahap

kehidupan yang bersifat peralihan dan tidak mantapa. Disamping itu, masa remaja

adalah masa yang rawan oleh pengaruh-pengaruh negatif.

Perlu kita akui bahwa masa ini adalah masa yang amat baik untuk

mengembangkan segala potensi positif yang mereka miliki seperti bakat,

kemampuan dan minat, selain itu, masa ini adalah masa pencarian nila-nilai

hidup, dan sebaiknya mereka diberi bimbingan agama agar menjadi pedoman

hidup baginya.1

Remaja atau siswa ini sebetulnya tidak mempunyai tempat yang jelas.

Mereka sudah tidak termasuk golongan anak-anak, tetapi belum juga dapat

diterima secara penuh untuk masuk ke golongan orang dewasa. Remaja ada

diantara anak dan orang dewasa sehingga remaja sering kali dikenal dengan

fase “mencari jati diri.” Mereka masih belum mampu menguasai dan

mengfungsikan secara maksimal fungsi fisik dan psikinya. 2

Remaja sebagai individu sedang berada dalam proses berkembang, yaitu

berkembang kearah kematangan atau kemandirian. Demi tercapainya

kematangan tersebut, remaja atau siswa ini memerlukan bimbingan karena

1
Sofyan S. Willis, Remaja dan Masalahnya, (Bandung: Alfabeta, 2010), hal. 1
2
Mohammad Ali, Psikologi Remaja, (Jakarta: PT Bumi Askara, 2010), hal. 9

1
1

mereka masih kurang memiliki pemahaman atau wawasan tentang dirinya dan

lingkungannya, juga pengalaman dalam menentukan arah kehidupannya.

Saat ini banyak lembaga-lembaga pendidikan yang sedang dilanda

keprihatian akan bahaya kenakalan siswa yang semakin meresahkan dan

mengganggu ketenangan dan ketentraman dalam proses belajar mengajar di

lembaga pendidikan tersebut. Kehidupan remaja saat ini sering di hadapkan

pada berbagai masalah yang amat kompleks yang tentunya sangat perlu

mendapat perhatian kita semua. Salah satu masalah tersebut adalah semakin

menurunnya tatakrama sosial dan etika moral remaja dalam pratik kehidupan,

baik di rumah, sekolah, maupun lingkungan sekitar dan dapat menimbulkan

sejumlah efek negatif di masyarakat, khususnya para orangtua dan para guru

(pendidik), sebab pelaku-pelaku besesrta korbannya adalah kaum remaja,

terutama para pelajar.

Upaya adalah usaha, syarat untuk menyampaikan sesuatu maksud atau

mengikhtiarkan, melakukan sesuatu untuk mencari jalan /mengambil tindakan. 3

Upaya merupakan satuan kemampuan yang dilakukan seseorang atau

kelompok untuk melakukan sesuatu guna memenuhi maksud yang telah dituju

Guru merupakan salah satu komponen terpenting dalam dunia

pendidikan, terutama dalam proses belajar mengajar yang ikut berada dalam

pembentukan sumber daya manusia yang potensial di bidang pembanguan.

Secara sederhana, tugas guru adalah mengarahkan dan membimbing para

murid agar semakin meningkat pengetahuan dan berkembang potensinya.

3
Muhibbin Syah. Psikologi Pendidikan suatu Pendekatan Baru (Bandung: Rosda Karya, 2000),
hal.223
2

Guru sebagai salah satu komponen yang sangat penting dalam dunia

pendidikan, baik yang berhubungan dengan kegiatan belajar mengajar maupun

pembinaan kepribadian individu, memiliki posisi yang sangat menentukan

keberhasilan dalam pendidikan dan pengajaran, karena fungsi utama guru

adalah merancang, mengelola, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran.

Guru aqidah akhlak meletakkan keberhasilan ilmu pengetahuan dengan

diimbangi mental yang sehat dan akhlak yang mulia, sehingga bermanfaat bagi

kecerdasan umat dan negara. Oleh karena itu, setiap program pendidikan harus

diusahakan secara maksimal dalam rangka pengembangan kepribadian,

menanamkan pengetahuan dan ketrampilan kepada peserta didik.

ٰ ُ‫ون ِزيىَتُ ٱ ْل َحيَ ٰو ِة ٱلدُّ ْويَا ۖ َوٱ ْل ٰبَ ِق ٰيَت‬


‫ٱلص ِل ٰ َحتُ َخ ْي ٌر ِعىدَ َر ِبّكَ ث َ َوابًا‬ َ ُ‫ٱ ْل َما ُل َوٱ ْلبَى‬

ً َ َ ‫َو َخ ْي ٌر‬

Artinya: Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi

amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi

Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (Q.S : 18: 46) 4

“Dalam pendidikan islam pentingnya mendidik anak itu dimulai sejak

dini karena perkembangan jiwa anak telah tumbuh sejak kecil, sesuai dengan

fitrahnya. Dengan demikian, fitrah manusia kita salurkan, dibimbing, dan

dijuruskan kepada jalan yang seharusnya sesuai dengan arahnya.”5

Keberhasilan pendidikan agama islam disekolah dapat dilihat dalam tiga

bidang yaitu pengetahuan, sikap, dan tingkah laku. Ketiganya diharapkan

4
Tim Penterjemah, Al-Qur’an dan Terjemahannya, h. 93
5
Aat Syafaat, Sohari Muslih, Peranan Pendidikan Agama Islam Dalam Mencegah Kenakalan
Remaja, (Jakarta: Rajawali Pers, 2008), hal. 6
3

tercipta dalam satu wujud manusia yang beriman dan berilmu, sehingga peserta

didik mampu menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam sikap

kesehariannya, serta diwujudkan dengan perilaku yang sesuai dengan materi

pembelajaran yang sudah diterima disekolah. Pola pergaulan yang terjadi pada

anak dapat menjadi alasan mengapa anak-anak usia sekolah

seringkalimelakukan kenakalan yang dilakukan kepada teman-temannya.

Seringkali kenakalan tersebut dilakukan tanpa sengaja maupun sengaja.

Masa remaja adalah masa bergejolaknya bermacam-macam perasaan

yang kadang bertentangan satu sama lain. Misalnya rasa ketergantungan pada

orang tua, mereka tidak ingin orang tua terlalu banyak campur tangan dalam

urusan pribadinya. Kita seringkali melihat remaja terombang-ambing dalam

gejolak emosi yang tidak berkendali. Dan kadang-kadang membawa pengaruh

terhadap kesehatan jasmaninya, atau sekurang-kurangnya pada kondisi

jasmani, seperti tangan menjadi dingin atau berkeringat, sesak napas, kepala

pusing, dan sebagainya. Diantara sebab-sebab atau sumber-sumber

kegoncangan emosi pada masa remaja, adalah konflik atau

pertentanganpertentangan yang terjadi pada remaja dalam kehidupan baik yang

terjadi pada kehidupannya sendiri, maupun yang terjadi dalam masyarakat

umum ataupun disekolah.6

Selain pola pergaulan, media juga sering dituding sebagai sebab mengapa

anak didik seringkali melakukan kenakalan-kenakalan. Banyak program-

program media khususnya televisi yang masih banyak terselip kenakalan-

6
Zakiah Drajat, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta:Bulan Bintang, 2010), hal. 91
4

kenakalan yang diperankan oleh anak-anak yang kemudian ditirukan oleh

anak-anak sebayanya. Pada dasarnya, setiap individu memiliki ciri-ciri dan

karakteristik yang berbeda, perbedaan-perbedaan tersebut makin terlihat

sejalan dengan perkembangan individu. Kata perbedaan dalam istilah,

perbedaan individual adalah merupakan suatu variasi yang terjadi, baik

padaaspek fisik maupun psikologis. Pengembangan psikologis kenakalan anak

adalah “perubahan-perubahan yang dialami anak menuju kedewasaan yang

berlangsung secara sistematis, progresif, dan kesinambungan, baik menyangkut

fisik (jasmani) maupun psikis (rohani)”.

Melihat pengertian perkembangan psikologi kenakalan anak diatas, maka

Upaya Guru Aqidah Akhlak sangat penting, disamping melaksanakan

pengajaran juga sebagai motivator, suritauladan, dan pembangun akhlak mulia

pada diri peserta didik.

B. Fokus penelitian

Karena keterbatasan waktu, dana, referensi, dan tenaga, peneliti

membatasi dan memfokuskan penelitian ini pada kenakalan siswa kelas VII

MTSN 6 BUNGO. Kenakan siswa yang dapat dilihat oleh peneliti adalah

membolos sekolah, berkata kotor, merokok, dan mengejek teman.

C. Rumusan Masalah

Dalam penelitian ini yang menjadi rumusan dan batasan masalahnya

adalah:
5

1. Bagaimana Upaya guru Aqidah Akhlak dalam mengatasi kenakalan siswa

di MTSN 6 Bungo ?

2. Apa Saja faktor Pendukung terjadinya Guru Pendidikan Aqidah Akhlak

Dalam Mengatasi kenakalan siswa di MTSN 6 Bungo ?

3. Apa Penghambat Guru Aqidah Akhlak dalam mengatasi kenakalan siswa

di MTSN 6 Bungo ?

D. Tujuan Penelitian

Dalam melaksanakan penelitian ini ada beberapa tujuan yang dicapai

yaitu:

1. Untuk Mendiskripsikan Upaya Guru Aqidah Akhlak Dalam Mengatasi

Kenakalan Siswa MTSN 6 Bungo

2. Untuk Mendiskripsikan faktor pendukung Guru Aqidah Akhlak Dalam

Mengatasi kenakalan siswa MTSN 6 Bungo

3. Untuk Mendiskripsikan Faktor Penghambat Guru Aqidah Akhlak Dalam

Mengatasi Kenakalan Siswa MTSN 6 Bungo

E. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian yang peneliti lakukan:

1. Bagi penulis

Penelitian ini dapat memberikan wawasan tentang Upaya Guru Aqidah

Akhlak Dalam Mengatasi Kenakalan Siswa MTSN 6 Bungo

2. Bagi Guru Aqidah Akhlak


6

Penelitian ini diharapkan dapat Mendeskrisikan Upaya Guru Aqidah

Akhlak Dalam Mengatasi Kenakalan Siswa MTSN 6 Bungo

3. Bagi Siswa

Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan siswa dalam

mengembangkan akhlak tentang Upaya Guru Aqidah Akhlak dalam

Mengatasi Kenakalan Siswa MTSN 6 Bungo.


7

BAB II

KAJIAN TEORETIK

A. Upaya Guru Aqidah Akhlak

1. Pengertian Guru Aqidah Akhlak

Dalam pengertian sederhana, guru adalah orang yang memberikan

pengetahuan kepada anak didik.7 Sementara dalam bahasa indonesia,

terminologi guru umumnya merujuk pada pendidik dengan tugas utama

mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan

mengevaluasi peserta didik.

Berdasar pada tugas utama ini, maka guru harus menunjukan kelakuan

yang layak menurut harapan masyarakat, yakni sosok yang layak diteladani

oleh anak didiknya. S. Nasution mengatakan bahwa guru dituntut

mempunyai sikap etis, intelektual, dan sosial lebih tinggi dari tuntutan orang

dewasa lainnya.

Secara umum istilah pendidik dikenal dengan guru. Hadani Nawawi

mengatakan bahwa guru adalah orang yang kerjanya mengajar atau

memberikan pelajaran di sekolah/kelas. Secara khusus Hadari Nawawi

mengatakan bahwa guru adalah orang yang ikut bertanggung jawab dalam

membantu anak dalam mencapai kedewasaan masing-masing. Guru

bukanlah sekedar orang yang berdiri di depan kelas menyampaikan materi

pengetahuan tertentu, akan tetapi adalah anggota masyarakat yang harus

7
Revik Karsidi, Sosiologi Pendidikan (Surakarta: UNS Pres dan LPP UNS , 2005), hal.32

8
8

ikut aktif dan berjiwa besar serta kreatif dalam mengarahkan perkembangan

anak didiknya untuk menjadi anggota masyarakat sebagai orang dewasa. 8

Aqidah adalah suatu yang di anut oleh manusia dan diyakininya,

Aqidah merupakan pondasi utama dalam ajaran Islam. Karena itu

merupakan dasar-dasar pokok kepercayaan atau keyakinan seseorang yang

wajib di milikinya untuk dijadikan pijakan dalam segala sikap dan tingkah

lakunya sehari-hari.9Guru Aqidah Akhlak adalah guru yang memiliki tugas

pokok mendidik dan mengamalkan ilmu-ilmu berkaitan dengan akhlak,

kepribadian dan krakter.

Upaya adalah usaha, syarat untuk menyampaikan sesuatu maksud atau

mengikhtiarkan, melakukan sesuatu untuk mencari jalan /mengambil

tindakan.10 Upaya merupakan satuan kemampuan yang dilakukan seseorang

atau kelompok untuk melakukan sesuatu guna memenuhi maksud yang telah

dituju.

Guru Aqidah Akhlak adalah suatu cara untuk bertindak dalam

melakukan sesuatu, dan mendidik dan Mengamalkan ilmu-ilmu yang

berkaitan dengan akhlak, kepribadian, dan krakter demi memperoleh

keberhasilan dalam mencapai tujuan tertentu. Aqidah Akhlak adalah guru

yang bertugas mengajarkan pendidikan agama islam pada sekolah baik

negeri maupun swasta, baik guru tetap maupun tidak tetap.

8
Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992),
hal.207
9
Ali Anwar Yusuf, Studi Agama Ilam, (Bandung: Pustaka Setia, 2003), hal. 110-111
10
Muhibbin Syah. Psikologi Pendidikan suatu Pendekatan Baru (Bandung: Rosda Karya, 2000),
hal.223
9

Mereka mempunyai peran sebagai pengajar yang sekaligus merupakan

pendidik dalam bidang agama islam. Tugas ini bukan hanya mereka lakukan

di sekolah, melainkan tetap melekat pada diri mereka lakukan di sekolah. Ini

dikarenakan guru aqidah akhlak tersebut harus selalu memperhatikan sikap

keteladanan sehingga selalu dituntut untuk mengamalkan ajaran agama.

2. Tujuan pembelajaran aqidah akhlak

Setiap kegiatan pendidikan merupakan bagian dari suatu proses yang

diharapkan untuk menuju kesuatu tujuan. Dimana tujuan pendidikan

merupakan suatu masalah yang sangat fundamental dalam pelaksanaan

pendidikan, sebab dari tujuan pendidikan akan menentukan kearah mana

remaja itu dibawa. Karena pengertian dari tujuan itu sendiri yaitu suatu yang

diharapkan tercapai setelah sesuatu usaha atau kegiatan selesai.11

Tujuan pendidikan agama dilembaga pendidikan formal dibagi

menjadi dua yaitu:

a. Tujuan umum

Secara umum, pendidikan agama Islam bertujuan untuk

meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan

peserta didik tentang agama Islam, sehingga menjadi manusia muslim

yang beriman dan bertaqwakepada Allah SWT serta berakhlaq mulia

dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan

bernegara.12Tujuan umum pendidikan agama Islam harus dikaitkan pula

11
Zakiah Daradjat, Op. Cit, h. 29
12
Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005), h.78
10

dengan tujuan pendidikan Nasional sebab tujuan itu tidak akan dicapai

kecuali setelah melalui proses pengajaran, pengalaman, pembiasaan,

penghayatan dan keyakinan akan kebenarannya, karena dalam

pendidikan agama yang perlu ditanamkan terlebih dahulu adalah

keimanan yang teguh, sebab dengan adanya keimanan yang teguh akan

menghasilkan ketaatan menjalankan kewajiban agama. Hal ini sesuai

dengan firman Allah dalam Q. S. Az-Zariyat ayat 56 yang berbunyi:

ِ ْ ‫َو َ ا َخ َل ْقتُ ا ْل ِجه َو‬


َ ‫اْل ْو‬
‫س ِإَّل ِل َي ْعبُد ُون‬

Artinya: Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia

melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (Q.S. Adz-Dzariyat:

56).13

Disamping beribadah kepada Allah maka setiap muslim di dunia

ini harus mempunyai cita-cita untuk dapat mencapai kebahagiaan

hidup didunia dan diakhirat. Dengan demikian, secara umum tujuan

umum pengajaran aqidah akhlak di madrasah adalah sebagai berikut :

1) Menjadi orang muslim yang bertaqwa dan berakhlak mulia.

2) Menjadi warga negara yang baik dan bertanggung

jawab terhadap kesejahteraan masyarakat.

3) Menjadi manusia berkepribadian yang bulat dan utuh percaya diri

sehat jasmani dan rohani.

4) Memiliki pengetahuan, pengalaman dan ketrampilan yang lebih

luas serta sikap yang diperlukan untuk melanjutkan pelajaran

13
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Surabaya: Mahkota, 1990), h. 523
11

kesekolah lanjutan atas lainnya atau untuk dapat bekerja dalam

masyarakat. Sambil mengembangkan diri guna mencapai

kebahagiaan dunia akhirat.

5) Memiliki ilmu pengetahuan agama dan umum yang luas serta

pengalaman, ketrampilan dan kemampuannya yang diperoleh

untuk melanjutkan kesekolah lanjutan atas lainnya.

6) Memiliki kemampuan untuk melaksanakan tugas hidupnya dalam

masyarakat dan berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa guna

mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.14

b. Tujuan khusus

Tujuan khusus yang diharapkan dari pendidikan agama islam

pada siswa yaitu memberikan pengetahuan kepada siswa tentang ilmu

keagamaan sekaligus mempertebal keimanan selain itu tujuan khusus

pendidikan agama Islam di Madrasah adalah sebagai berikut:

1) Memberikan ilmu pengetahuan tentang agama Islam.

2) Memberikan pengertian tentang agama Islam yang sesuai dengan

tingkat kecerdasannya.

3) Memupuk jiwa yang agamis.

4) Membimbing anak mereka beramal shaleh dan berakhlak mulia.15

Dari tujuan diatas dapat disimpulkan bahwa pendidikan di

madrasah dapat membentuk pekerti yang luhur, manusia pembangun yang

14
Zakiyah, Darajat, Op. Cit; Hlm. 108
15
Zuhairini, Abdu Ghofur, Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama (Ramadhani, Solo:
1993), h.
12

bertujuan terhadap kesejahteraan negara dan bangsa serta memiliki

ketrampilan untuk terjun di dunia kerja.

Pendidikan Islam diharapkan menghasilkan manusia yang

berguna bagi dirinya dan masyarakat serta senang dan gemar

mengamalkan ajaranIslam dengan berhubungan dengan Allah dan

dengan manusia sesamanya, dapat mengambil manfaat yang semakin

meningkat dari alam semesta ini untuk kepentingan hidup di dunia dan

akhirat. Adapun tujuan pendidikan aqidah akhlak menurut beberapa para

ahli adalah sebagai berikut:

Tujuan akhlak yaitu supaya dapat terbiasa atau melakukan yang

baik, indah, mulia, terpuji, serta menghindari yang buruk, jelek, hina,

tercela. Dan supaya hubungan kita dengan Allah SWT dan dengan sesama

makhluk selalu terpelihara dengan baik dan harmonis.

Berdasarkan rumusan-rumusan di atas, maka dapat penulis ambil

suatu kesimpulkan bahwa tujuan pendidikan aqidah akhlak tersebut sangat

menunjang peningkatan keimanan dan ketaqwaan siswa kepada Allah

SWT serta dapat memberikan pengetahuan sekitar pendidikan agama

Islam terutama yang berkaitan dengan ibadah ghoiru maghdzoh.

3. Metode Pembelajaran Aqidah akhlak

Metode merupakan cara yang dalam fungsinya merupakan alat untuk

mencapai tujuan. Sebagai alat untuk mencapai tujuan, tidak selamanya

metode berfungsi secara optimal, oleh karena itu perlu adanya kesesuaian

antara situasi dan kondisi saat proses belajar-mengajar berlangsung.


13

Metode pengajaran adalah cara penyampaian bahan pengajaran dalam

proses kegiatan belajar mengajar.

Jadi yang dimaksud dengan Metode mengajar akhlak ialah suatu cara

menyampaikan materi pendidikan akhlak dari seorang guru kepada siswa

dengan memilih satu atau beberapa metode mengajar sesui dengan topik

bahasan.Beberapa metode yang lazim digunakan dalam kegiatan belajar

mengajar aqidah akhlak di Madrasah Tsanawiyah adalah sebagai berikut:

a. Metode ceramah

Metode cermah ialah penuturan atau penerangan secara lisan

oleh guru terhadap murid-murid didalam kelas. Dalam mengunaan

metode ini harus mampu mencapai komuikasi yang baik dengan

murid-murid agar mereka dapat mengerti dan memahami apa yang

telah disampaikan oleh guru. Untuk bidang studi agama, metode

ceramah masih tepat untuk dilaksanakan, misalnya: untuk

memberikan pengertian tentang tauhid, maka satu-satunya metode

yang dapat digunakan adalah metode ceramah. Karena tauhid tidak

dapat diperagakan, sukar didiskusikan, maka seorang guru

memberikan uraian menurut caranya masing-masing dengan tujuan

muriddapat mengikuti jalan pikiran guru.

b. Metode Tugas dan Resitasi

Metode resitasi (penugasan) adalah metode pemberian tugas

belajar (resitasi) sering disebut metode pekerjaan rumah, adalah

metode dimana murid diberi tugas khusus di luar jam pelajaran.


14

Dalam pelaksanaan metode ini anak-anak dapat mengerjakan tugasnya

tidak hanya dirumah tapi dapat dikerjakan di perpustakaan, di

laboratorium, di ruang-ruang praktikum dan lain sebagainya. Metode

ini mempunyai kelebihan antara lain:

1) Dipakai untuk mengisi waktu luang untuk hal-hal yang konstruktif

Memupuk rasa tanggung jawab dalam segala tugas pekerjaan sebab

dalam metode ini anak-anak harus mempertangung jawabkan

segala tugas yang diberikan.

2) Memberi kebiasaan anak untuk giat belajar.

3) Memberikan tugas anak yang bersifat praktis umpamanya

membuat laporan tentang kegiatan peribadatan di daerah masing-

masing, kegiatan amaliaya sosial dan sebagainya.

B. Kenakalan Siswa

1. Pengertian Kenakalan Siswa

Menurut Zakiah Drajat Kenakalan adalah “penyimpangan perilaku”.16

Penyimpangan perilaku ini sebenarnya dilakukan karena siswa tidak mampu

mengatasi masalah yang sedang dihadapinya, sebab pada dasrnya siswa itu

mempunyai sikap dan prilaku yang baik. Akan tetapi karena banyaknya

masalah kadang-kadang siswa tidak sanggup untuk mengatasinya sehingga

terjadi ketidak sesuaian atau penyimpangan perilaku.

16
Zakiah Dradjat, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: Bulan Bintang, 2010), hal.125
15

Menurut Dr. Kusumanto, Kenakalan Remaja adalah “tingkah laku

individu yang bertentangan dengan syarat-syarat dan pendapat umumyang

dianggap sebagai acceptabledan baik oleh suatu lingkungan atau hukum

yang berlaku di suatu masyarakat dan berkebudayaan”.17

Berdasarkan berbagai tinjauan diatas maka dapat di simpulkan bahwa

kenakalan remaja atau siswa adalah merupakan perilaku atau perbuatan

yang menyimpang dari nilai-nilai moral maupun sosial yang

melanggarnorma hukum dan mengganggu ketrentraman orang lain karena

mempunyai unsur-unsur sebagai berikut: “adanya suatu tindakan atau

perbuatan yang dilakukan oleh anak sebagai siswa sekolah, bertentangan

dengan norma-norma agama dan hukum yang dapat merugikan dirinya

sendiri dan orang lain.

2. Jenis-jenis Kenakalan Siswa

Kenakalan siswa yang dimaksud disini adalah prilaku yang

menyimpang dari kebiasaan atau melanggar hukum, Jensen membagi

kenakalan anak atau remaja ini menjadi empat jenis, yaitu :

1) Kenakalan yang menimbulkan korban fisik pada orang lain seperti

perkelahian, perkosaan, perampokkan, pembunuhan, dan lain-lain.

2) Kenakalan yang menimbulkan korban materi seperti : perusakan,

pencurian, pencopetan, pemerasan, dan lain-lain.

3) Kenakalan sosial yang tidak menimbulkan korban dipihak orang lain :

pelacuran, penyalahgunaan obat.

17
Taufiqul Rohman Dhohiriri, dkk, Sosiologi 3 Suatu Kajian Kehidupan Masyarakat (Ghalia
Indonesia, 2007), hal. 17
16

4) Kenakalan yang melawan status, misalnya mengingkari status anak

sebagai pelajar dengan cara membolos, mengingkari status orangtua

dengan cara minggat dari rumah atau membantah perintah merekadan

sebagainya.18

Tekanan teman sepermainan atau rekan yang selama masa remaja

kadang-kadang begitu banyak sehingga remaja terlibat dalam tindakan ini

dilakukan menerpa kepada anak-anak di bawah umur. Ada dua kategori

kenakalan remaja, yaitu:

1) Anak-anak yang melakukan kejahatan dan di hukum sesuai dengan

aturan hukum, seperti perampokan.

2) Anak-anak yang melakukan tindakan pidana yang biasanya tidak

dianggap sebagai kriminal, seperti membolos, remaja laki-laki

biasanya lebih banyak melakukan aksi kenakalan dibandingkan

dengan perempuan.19

Kemungkinan siswa usia remaja menjadi remaja nakal lebih

banyak ditentukan oleh kurangnya pengawasan dari orangtua dan disiplin,

ketimbang status sosial ekonomi. Orangtua yang tidak mampu melakukan

pengawasan dan mengososialisasikan disiplin diri dan menakar

kemampuan diri biasanya menimbulkan masalah bagi anak-anaknya

dikemukakan hari. Gurupun mestinya ikut mengajak anak agar sebisa

mungkin menghindari tindakan yang buruk.

18
Ibd., hal. 256
19
Sudarwan Hanif Danim, Perkembangan Peserta Didik, (Bandung: Alfabeta, 2011), hal.88
17

3. Macam-macam Bentuk Kenakalan Siswa

Masalah kenakalan siswa adalah yang menjadi perhatian umum dimana

saja, baik masyarakat yang telah menjadi maju maupun dalam masyarakat

yang primitive sekalipun, karena kenakalan berakibat menganggu

ketentraman orang lain. Belakangan ini banyak guru-guru, orangtua, dan

orang-orang yang sekitar mengeluh. Anak-anak terutama remaja atau siswa

banyak yang nakal, keras kepala, berbuat keonaran, dan banyak lagi

ketentraman umum, gejala-gejala itulah yang terdapat pada siswa. Adapaun

bentuk-bentuk kenakalan siswa yaitu:

1) Tidak patuh pada guru, yakni tidak segan-segan menentang gurunya,

apabila tidak sesuai dengan alur pikirannya.

2) Membolos sekolah lalu bergelandangan sepanjang jalan, atau

bersembunyi ditempat-tempat terpencil sambil melakukan eksprimen

bermacam-macam kedurjanaan dan tidak asusila.

3) Cara berpakaian yang tidak sopan atau tidak sesuai dengan peraturan

yang ada pada sekolah.

4) Kebut-kebutan di jalan yang mengganggu keamanan lalu lintas, dan

membahayakan diri sendiri dan orang lain.

5) Kecanduan dan ketagihan narkoba dan minuman keras yang erat

bergandengan dengan tindak kejahatan.


18

6) Perjudian dan bentuk permainan lain dengan taruhan, sehingga

mengakibatkan kriminalitas. 20

4. Fakto-faktor Penybab Kenakalan Siswa

Sesungguhnya banyak sekali faktor-faktor yang mendorong anak-anak

sampai kepada kenakalan, faktor-faktor pendidikan, lingkungan, ekonomi,

masyarakat, sosial politik dan sebaninya. Memang banyak faktor-faktor

yang mempengaruhi pertumbuhan kepribadian anak. Di samping itu juga

banyaknya contoh-contoh dari kelakuan yang tidak baik yang mereka

dapatkan dari orang dewasa, filim-film, cerita-cerita pendek, komik-komik

yang bersifat porno, tidak mengindahkan nilai dan mutu, tapi banyak

memandang segi komersilnya saja. Pengaruh sosial dan kultural memainkan

peran yang besar dalam pembentukan atau pengkondisian tingkah laku

kriminal anak. Sehubungan dengan masalah kenakalan siswa, banyak faktor

penyebabnya.

Faktor penyebab kenakalan siswa secara umum dapat dikelompokan

kedalam dua faktor, yaitu sebagai berikut:

1) Faktor intern

a) Faktor Kepribadian

b) Faktor Keadaan Fisik

c) Faktor Status dan Perannya di Masyrakat

2) Faktor Ekstern

a) Keadaan Lingkungan Keluarga

20
Kartini Kartono, Psikologi Sosial 2 Kenakalan Reamaja, (Jakarta: PT Raja Grafindo Perasada,
2006), hal.22
19

b) Kontak Sosial dari Lembaga Masyarakat Kurang Baik dan Efektif

c) Keadaan Geografis dan Kondisi Alam

d) Faktor Kesenjangan Ekonomi dan Disentegrasi Publik

e) Faktor Perubahan Sosial Budaya yang begitu cepat21

Dari keterangan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa faktor yang

mempengaruhi kenakalan pada siswa tersebut yaitu faktor intern, faktor ini

berasal dari dalam diri siswa tersebut. Sedangkang faktor ekstern adalah

faktor yang berasal dari luar anak/siswa. Faktor-faktor tersebut dapat

menyebabkan perilaku seseorang menjadi menyimpang apabila siswa

tersebut kurang mendapat bimbingan dan kasih sayang dari kedua orangtua

serta lingkungan sekitar.

Dengan demikian Guru Aqidah Akhlak sangat berperan penting

terhadap pemeecahan problematika kehidupan renaja, karena salah satu

faktor yang dapat mencegah siswa dari perbuatan negatif adalah pendidikan

agama. Lemahnya pendidikan agama yang mereka dapatkan sangat rentan

terhadap perilaku yang menyimpang pada kehidupan pribadi dan sosial.

Oleh sebab itu, guna mengatasi dan mencegah hal itu semua, perlu

diintensifkan pendidikan agama agar tercapai kehidupan yang stabil.

C. Penelitian Yang Relevan

Penelitian ini merupakan penelitian pendidikan, yaitu tentang Upaya

Guru Aqidah Akhlak dalam Mengatasi Kenakalan Siswa, Berikut Peneliti

21
Taufiqul Rohman Dhohiriri, dkk. Problematika Keluarga, (Bandung: PT Indonesia, 2010), hal.
19
20

Cantumkan beberapa penelitian yang pernah dilakukan sekaligus menjadi

alasan mengapa penelitian ini layak dan menarik untuk di lakukan:

1. Lutfi Mahfina dengan judul “Usaha Orangtua dalam Mengantisipasi

Kenakalan Remaja di Desa Tulus Rejo.”22Penelitian ini

menghasilkan kesimpulan bahwa Kenakalan Remaja di Desa Tulus

Rejo kurang baik. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk

mengetahui Usaha Orangtua dalam mengantisipasi kenakalan

remaja, untuk mengetahui tingkat kenakalan remaja dan hubungan

antara keduanya.

2. Eka Agustina dengan judul “Peranan Guru Al-Islam dalam

Menanggulangi kenakalan peserta didik di SMK Muhammadiyah 2

Metro”23 penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa kenakalan

siswa yang mereka lakukan sangat memprihatinkan, mencemaskan

banyak pihak, tidak saja orangtua yang resah tetapi juga para

pendidik. Terutama Guru Pendidikan Agama Islam, karena Peranan

Guru Pendidikan Agama Islam sangat dominan sekali dalam

memperbaiki akhlak siswa terlebih menginggat di pundak merekalah

masa depan bangsa dipertaruhkan.

Berdasarkan pada beberapa penelitian diatas, tampak belum ada yang

meneliti tentang “Upaya Guru Aqidah Akhlak Dalam Mengatasi

Kenakalan Siswa. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan

22
Lufi Mahfina, Usaha Orang Tua dalam Mengantisipasi Kenakalan Remaja di Desa Tulus Rejo
Kecamatan Pekalongan Kabupaten Lmpung Timur, skripsi 2004
23
Eka Agustina, Peranan Guru Al-islam dalam Menanggulangi Peserta Didik di SMK
Muhammadiyah 2 Metro, Skripsi 2016
21

penelitian mengenai Upaya Guru Aqidah Akhlak Dalam Mengatasi

kenakalan Siswa di MTS N 6 Bungo.

D. Kerangka Berpikir

Salah satu komponen dalam pembelajaran proses belajar mengajar. Dari

ungkapan belajar dan mengajar adanya guru dan siswa dua komponen inilah

yang akan menghasilkan interaksi belajar mengajar logika sederhana

menyatakan ada siswa tapi tidak ada guru maka proses belajar mengajar tidak

akan tercapai begitu juga sebaliknya, guru sangatlah penting bagi

kelangsungan hidup bermasyarakat berbangsa dan bernengara.

Pendidikan akhlak adalah pendidikan mengenai dasar-dasar moral dan

keutamaan perangai. Tabiat yang harus dimiliki dan dijadikan kebiasaan oleh

anak tujuan pendidikan islam dapat dicapai melalui pendidikan akhlak dalam

bentuk pengembangan sikap kepasrahan penghambaan dan ketakwaan. Allah

menjadikan sifat-sifatNya yang terdapat dalam asmaul husna sebagai nilai-

nilai ideal akhlak mulia dan menyerukan kepada manusia untuk

meneladaninya.

Metode merupakan dasar paling penting dalam meningkatkan kualitas

suatu pembelajaran karena kesesuaian metode dengan materi yang diajarkan

akan memebantu siswa dalam memahami materi yang disampaikan.

Pemilihan metode yang variatif dapat melibatkan secara aktif dalam kegiatan

belajar harus dilakukan dalam rangka pembaharuan pendidikan.


22

Hasil belajar yang baik tidak terlepas dari metode yang digunakan guru

dalam menyampaikan materi dalam proses pembelajaran maka metode

pembelajaran yang variatif sangat berpengaruh terhadap keberhasilan siswa

dalam proses pembelajaran.

Salah satu penyebab degralasi akhlak dikalangan remaja dan siswa

dewasa ini adalah kurangnya pembinaan akhlak terhadap mereka, hal ini yang

medorong guru untuk secara intensif membina akhlak siswa baik

dilingkungan sekolah, keluarga maupun masyarakat, melalui pendidikan

akhlak diharapkan siswa akan berprilaku baik dan dengan pengunaan variasi

metode pembelajaran yang tepat akan membawa keberhasilan dalam proses

belajar mengajar dan mencapai tujuan yang akan dicapai.

Dari deskripsi teori dapat digambarkan seperti di bagan di bawah ini.

Gambar. 1. Bagan kerangka berpikir

Pembelajaran Aqidah
Akhlak
Variasi metode: ceramah,
metode tugas dan resitasi

Hasil belajar siswa belum


meningkat
23

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Pendekatan Penelitian

Penelitian tentang Pengaruh Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam

Terhadap Pengamalan Ibadah di Madrasah MTSN 6 Bungo, pendekatan

yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan Kualitatif. Penelitian

Kualitatif adalah metode penelitian yang berdasarkan pada filsafat

postpositivisme, digunakan untuk menelit pada kondisi obyek yang alamiah,

dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, pengambilan sampel sumber

data yang dilakukan secara purposive, teknik penjamin keabsahan data

dengan trianggulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan

hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi. 24

Menurut Arikunto, penelitian kualitatif adalah penelitian dimaksudkan untuk

mengumpul data informasi mengenai suatu gejala yang ada, menurut apa

adanya pada saat penelitian dilakukan.25

Pendapat lain menyebutkan bahwa penelitian kualitatif adalah

penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang

dialami oleh subyek penelitian misalnya prilaku, persepsi, motivasi, tindakan.

Secara holostik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa,

24
Lexy J, Moeloeng, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), hal. 6.
25
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Rineka Cipta,
1990), hal. 309.

24
24

dalam suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan

berbagai metode yang alamiah.26

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud

dengan pendekatan penelitian kualitatif adalah metode, teknik atau prosedur

penelitian yang bersifat deskriptif naratif, yakni data yang terkumpul akan

diolah dan diurai dalam bentuk kata-kata yang mencerminkan situasi alamiah

berdasarkan fakta dilapangan.

B. Setting Penelitian

1. Tempat Penelitian

Peneliti melakukan penelitian inidi Madrasah MTSN 6 Bungo,

pemilihan setting ini didasarkan atas beberapa pertimbangan: pertama,

peneliti menemukan permasalahan yang berkaitan dengan judul yang

diteliti. Permasalahan yang diteliti belum pernah diteliti oleh orang lain di

Madrasah tersebut.

2. Waktu Penelitian

Waktu yang digunakan oleh peneliti untuk penelitian ini dilakukan

sejak tanggal dikeluarkannya surat izin penelitian dalam kurun waktu

kurang lebih 3 bulan, 2 bulan pengumpulan data dan 1 bulan pengolahan

data yang meliputi penyajian dalam bentuk skripsi dan proses bimbingan

berlangsung.

26
Margono , metode penelitian kualitatif, (Jakarta, Rineka Cipta, 1997), hal. 38.
25

Subjek penelitian adalah subjek yang di tuju untuk diteliti oleh

peneliti, yang mencakup aspek-aspek yang berkaitan dengan hubungan

antara Upaya Guru Aqidah Akhlak Dalam Mengatasi Kenakalan Siswa,

dalam penelitian ini subjek tersebut adalah guru dan siswa-siswi.

Sedangkan pemilihan sampel dalam penelitian ini penulis

menggunakan teknik Snowball Sampling. Snowball Sampling adalah

teknik penentuan sample yang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian

membesar. Ibarat bola salju yang menggelinding yang lama-lama menjadi

besar.27 Maksudnya yaitu sampel yang digunakan pada mulanya sedikit

kemudian bertambah banyak sesuai dengan data.

C. Jenis-jenis dan Sumber Data

1. Jenis Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data

sekunder.

a. Data Primer

Data primer adalah sumber data yang langsung memberikan data

kepada pengumpul data, yaitu data yang diperoleh langsung oleh

peneliti di lapangan tanpa melalaui perantara.28 Data primer yang

dimaksud disini adalah data dari hasil wawancara dan observasi

mengenai Pengaruh pelaksanaa pendidikan nagama islam terhadap

pengamalan ibadah di Madrasah MTSN 6 Bungo.


27
Sugiono, metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: Alfa, Beta 2014), hal. 125.
28
Djam’an Satori dan Aan Komariah, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Alfabeta,
2011), hal. 103.
26

b. Data sekunder

Data sekunder adalah data yang dikumpulkan dari berbagai sumber

pustaka yang ada minsalnya melalui arsip-arsip, biro statistik,

majalah dan sumber-sumber lainyadalam artian sekunder berasal dari

tangan kedua, ketiga, dan seterusnya bukan peneliti sendiri yang

berhadapan langsung dengan yang diminta keterangan.29Data

sekunder adalah data yang diperoleh dari dokumentasi dan informasi

yang meliputi.

1. Historis dan geografis.

2. Struktur organisasi.

3. Sarana dan prasarana.

4. Keadaan guru dan siswa.

2. Sumber data.

Sumber data yang penulis manfaatkan sebagai tempat pengambilan

data pada penelitian ini adalah sumber data orang, dokumen, serta situasi

dan kondisi yang ada dilokasi penelitianAdapun sumber data berupa

tempat yaitu kantor dan ruang kelas, adapun data orang yaitu, kepala

Madrasah, guru, siswa-siswi. Selanjutnya sumber data dalam bentuk

situasi dan kondisi adalah segala keadaan yang menggambarkan situasi

dan kondisi lapangan, seperti suasana belajar, kenyamanan belajar, kondisi

guru ketika mengajar, kondisi sarana dan prasarana dan lain-lain, yang bisa

dijadikan pertimbangan bagi penulis dalam menarik kesimpulan.

29
Margono , metode penelitian kualitatif, hal. 36.
27

D. Teknik Pengumpulan Data

1. Observasi

Metode observasi adalah pengamatan dan pencatatan fenomena-

fenomena yang diselidiki.30 Melalui metode Observasi maka penulis

mengadakan pengamatan secara langsung ke Madrasah MTSN 6

Bungo.Observasi yang peneliti lakukan adalah mengamati pembelajaran

dengan pengaruh pelaksanaan pendidikan agama islam terhadap

pengamalan ibadah. Observasi ini merupakan upaya yang dilakukan oleh

penelitian kualitatif untuk merekam segala peristiwa dan kegiatan yang

terjadi dengan menggunakan alat atau tidak.

Melalui Observasi ini penulis berharap dapat memperoleh

gambaran mengenai (1) Bagaimana pelaksanaan pengaruh pelaksanaan

pendidikan agama islam terhadap pengamalan ibadah . (2) Kendala-

kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan pengaruh pelaksanaan

pendidikan agama islam terhadap pengamalan ibadah. (3) Upaya apa saja

yang dapat dilakukan untuk mengatasi kendala dari pengaruh pelaksanaan

pendidikan agama islam terhadap pengamalan ibadah .

2. Wawancara

Wawancara merupakan sebuah percakapan antara dua orang atau

lebih yang pertanyaan diajukan oleh peneliti kepada subjek atau

sekelompok subjek penelitian untuk dijawab31 yang bertujuan untuk

30
Sutrisno Hadi, metode penelitian, aplikasi dan penerapan,(Jakarta: PT. Rosdakarya, 2004), hal.
130.
31
Sudarwan Danim, menjadi peneliti kualitatif, (Bandung : CV.Pustaka Setia. 2002), hal.130
28

mengambil informasi tentang geografis, histories,serta hal-hal lain yang

ada hubungan dengan penelitian ini. Dalam penelitian ini wawancara

dilaksanakan dengan kepala Madrasah, para siswa-siswi, beberapa orang

guru dankepala Tata Usaha(TU).

3. Dokumentasi

Dokumen merupakan catatan peristiwa yangsudah berlalu,dokumen bisa

berbentuk tulisan,gambar atau karya-karya monumental

seseorang.32Metode ini dipergunakan untuk memperoleh data-data

informasi penunjang dari data sebelumnya, seperti tentang data jumlah

pengajar, jumlah siswa-siswi dan sarana dan prasarana.

E. Teknik Analisis Data

Setelah data dari lapangan terkumpul, maka langkah-langkah selanjutnya

adalah menganalisis data tersebut dengan menggunakan teknik analisis data :

1. Reduksi Data

Data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya cukup banyak untuk

itu, maka perlu di catat secara teliti rinci selama penelitian di lapangan

maka jumlah data akan semakin banyak, komplek dan rumit. Untuk itu

perlu dilakukan analisis data melalui reduksi data. Mereduksi data berarti

merangkum memilih hal yang pokok, memfokuskan pada hal yang penting

32
Sugiono, metode Penelitian Pendidikan. hal.329.
29

dengan demikian datayang telah direduksi akan memberikan gambaran

lebih jelas, dan mempermudah peneliti mengumpulkan data selanjutnya. 33

2. Data Display (Penyajian Data)

Setelah data direduksi maka langkah selanjutnya adalah

mendisplaykan data kalau dalam penelitian data kualitatif penyajian data

dalam bentuk uraian singkat, yang paling sering teks bersifat naratif.34

3. Verifikasi

Penarikan kesimpulan dan verifikasi, kesimpulan awal masih

bersifat sementar dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang

kuat yang mendukung dalam tahap pengumpulan data berikutnya, tetapi

apabila kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal didukung oleh

bukti-bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali kelapangan

mengumpulkan data maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan

kesimpulan yang kredibel.35

F. Teknik Penjamin Keabsahan Data

1. Triangulasi

Triangulasi merupakan teknik yang digunakan untuk menguji

keterpercayaan data atau dengan istilah lain yang dikenal dengan

trustworthiness dengan memanfaatkan hal-hal lain yang ada diluar data

33
Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2015),
hal.247.
34
Ibid., 249.
35
Ibid.,252.
30

yang telah dikumpulkan.36 Denzin, yang dikutip oleh Moleong,

membedakan 4 macam triangulasi sebagai teknik pemeriksaan yang

memanfaatkan penggunaan sumber, metode, penyidik dan teori.37

Adapun dalam penelitian ini, untuk memeriksa keabsahan data,

peneliti menggunakan teknik triangulasi pemeriksaan sumber, yaitu

mengecek balik drajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui

waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif. Hal ini dapat

dicapai dengan jalan:

a. Membandingkan data hasil pengamatan dengan hasil wawancara.

b. Membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dan

dikatakan secara pribadi.

c. Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi

penelitian dengan apa yang dikatakan sepanjang waktu.

d. Membandingkan keadaan dan persfektif seseorang dengan membagi

pendapat dan pandangan orang seperti rakyat biasa, orang pendidikan

menengah atau tinggi, pemerintah.

e. Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang

berkaitan.38

Setelah melakukan perbandingan berdasarkan sumbernya, maka selanjutnya

adalah triangulasi data berdasarkan metode, dengan cara:

36
Mukhtar , Bimbingan skripsi, Tesis dan Artikel Ilmiah: Panduan Berbasis Penelitian kualitatif
Lapangan dan Perpustakaan, (Jambi: Shultan Thaha Press, 2007), hal. 87-88.
37
Lexy J. Moloeng, metodologi penelitian kualitatif, (Bandung, Remaja Rosdakarya,2014) cet ke-
23 (edisi revisi), hal 330.
38
Ibid., hal.331.
31

a. Pengecekan drajat kepercayaan, penemuan hasil penelitian beberapa

teknik penumpulan data.

b. Pengecekan drajat kepercayaan beberapa sumber data dengan metode

yang sama.39

Selanjutnya triangulasi penyidik, yang mana seorang peneliti bekerja

sama dengan peneliti lainnya untuk keperluan pengecekan kembali derajat

kepercayaan data.40 Sedangkan triangulasi dengan teori adalah suatu

kegiatan pengecekan data yang dilakukan peneliti dengan cara

membandingkan antara suatu teori dengan teori lainnya sebagai penjelas

pembanding dari data-data yang terkumpul peneliti pada suatu penelitian.

2. Meningkatkan Ketekunan

Meningkatkan ketekunan berarti melakukan pengamatan secara lebih

cermat dan berkesinambungan, dengan cara tersebut maka kepastian data

dapat di percaya secara pasti dan sistematis.

Mengapa dengan meningkatkan ketekunan dapat meningkatkan

kredibilitas data, dengan meningkatkan ketekunan itu, maka peneliti dapat

melakukan pengecekan kembali apakah data yang ditemukan salah atau

tidak, selain itu juga dapat memberikan deskripsi data yang akurat dan

sistematis tentang data yang di amati.

39
Ibid., hal. 135.
40
Moleong,metodologi penelitian kualitatif, hal. 134.
32

G. JadwalPenelitian

Pada umumnya penelitian kulitatif memerlukan waktu yang relatif

lama, antara 2 sampi 3 bulan. Berikut jadwal penelitian yang peneliti lakukan.

Tabel 1 Jadwal Penelitian

Bulan pertama bulan kedua

NO JENIS KEGIATAN 1 2 3 4 1 2 3 4

1 Melakukan survei awal


(grand tour)
2. Penyusunan proposal,
diskusi dan seminar proposal
3. Memasuki lapangan, serta
melakukan analisis domain
4. Menentukan fokus mini tour
queston dan analisis
taksonomi
5. Tahap selection, struktural
question, dan analisis
kompenensial
6. Pengujian keabsahan data

7. Menyusun skripsi dan


bimbingan
8. Penyempurnaan skripsi

Jadwal penelitian ini akan berubah sesuai dengan waktu dan kebutuhannya
33

DAFTAR PUSTAKA
Sofyan S. Willis, Remaja dan Masalahnya, (Bandung: Alfabeta, 2010)

Mohammad Ali, Psikologi Remaja, (Jakarta: PT Bumi Askara, 2010).

Muhibbin Syah. Psikologi Pendidikan suatu Pendekatan Baru (Bandung: Rosda


Karya, 2000).
Tim Penterjemah, Al-Qur’an dan Terjemahannya.

Aat Syafaat, Sohari Muslih, Peranan Pendidikan Agama Islam Dalam Mencegah
Kenakalan Remaja, (Jakarta: Rajawali Pers, 2008).
Zakiah Drajat, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta:Bulan Bintang, 2010).

Revik Karsidi, Sosiologi Pendidikan (Surakarta: UNS Pres dan LPP UNS , 2005).

Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung: Remaja


Rosdakarya, 1992).
Ali Anwar Yusuf, Studi Agama Ilam, (Bandung: Pustaka Setia, 2003).

Muhibbin Syah. Psikologi Pendidikan suatu Pendekatan Baru (Bandung: Rosda


Karya, 2000).

Zakiah Daradjat, Op. Cit.

Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,


2005).

Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Surabaya: Mahkota, 1990).

Zakiyah, Darajat, Op. Cit.

Zuhairini, Abdu Ghofur, Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama


(Ramadhani, Solo: 1993).

Zakiah Dradjat, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: Bulan Bintang, 2010).

Taufiqul Rohman Dhohiriri, dkk, Sosiologi 3 Suatu Kajian Kehidupan


Masyarakat (Ghalia Indonesia, 2007).

Sudarwan Hanif Danim, Perkembangan Peserta Didik, (Bandung: Alfabeta,


2011).

Kartini Kartono, Psikologi Sosial 2 Kenakalan Reamaja, (Jakarta: PT Raja


Grafindo Perasada, 2006).
34

Taufiqul Rohman Dhohiriri, dkk. Problematika Keluarga, (Bandung: PT


Indonesia, 2010).

Lufi Mahfina, Usaha Orang Tua dalam Mengantisipasi Kenakalan Remaja di


Desa Tulus Rejo Kecamatan Pekalongan Kabupaten Lmpung Timur, skripsi
2004

Eka Agustina, Peranan Guru Al-islam dalam Menanggulangi Peserta Didik di


SMK Muhammadiyah 2 Metro, Skripsi 2016
Lexy J, Moeloeng, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya,
2004).

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta:


Rineka Cipta, 1990).

Margono , metode penelitian kualitatif, (Jakarta, Rineka Cipta, 1997).

Sugiono, metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: Alfa, Beta 2014)

Djam’an Satori dan Aan Komariah, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung:


Alfabeta, 2011).

Sutrisno Hadi, metode penelitian, aplikasi dan penerapan,(Jakarta: PT.


Rosdakarya, 2004).

Sudarwan Danim, menjadi peneliti kualitatif, (Bandung : CV.Pustaka Setia.


2002).

Sugiono, metode Penelitian Pendidikan.

Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, (Bandung: Alfabeta,


2015).

Mukhtar , Bimbingan skripsi, Tesis dan Artikel Ilmiah: Panduan Berbasis


Penelitian kualitatif

Lapangan dan Perpustakaan, (Jambi: Shultan Thaha Press, 2007).

Lexy J. Moloeng, metodologi penelitian kualitatif, (Bandung, Remaja


Rosdakarya,2014) cet ke- 23 (edisi revisi).