Anda di halaman 1dari 13

Kebijakan Moneter dan Instrumen

Kebijakan Moneter
Paper ini diajukan sebagai tugas individu mata kuliah Makro Islam, mengkaji buku Makro
Islami Bapak Adiwarman Karim

Dosen Pembimbing:

Yuke Rahmawati, MA

Disusun oleh:

Pelangi Pitriyani
10904620017

PROGRAM STUDI MUAMALAT

KONSENTRASI ASURANSI SYARIAH

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

2010

1
A. Definisi dan Konsep Kebijakan Moneter
Jumlah uang yang beredar tidak boleh terlalu berlebihan atau kurang, pengendalian
jumlah uang beredar perlu dilakukan untuk menciptakan stabilitas harga, pertumbuhan
ekonomi yang baik. Kebijakan yang digunakan pemerintah untuk mengatur jumlah uang
yang beredar dinamakan kebijakan moneter. Peran kebijakan moneter terhadap stabilitas
harga sangat penting untuk menekan tingkat inflasi.
Kebijakan moneter adalah upaya mengendalikan atau mengarahkan perekonomian
makro ke kondisi yang diinginkan dengan mengatur jumlah uang yang beredar. Melalui
kebijakan moneter, pemerintah dapat mempertahankan menambah atau mengurangi
jumlah uang yang beredar dalam upaya mempertahankan kemampuan ekonomi untuk
terus tumbuh sekaligus mengendalikan inflasi. Jika yang dilakukan adalah menambah
jumlah uang yang beredar, maka pemerintah menempuh kebijakan moneter ekspansif.
Sebaliknya jika jumlah uang yang beredar dikurangi, pemerintah menepuh kebijakan
kontraktif atau bisa pula dikenal sebagai kebijakn uang ketat.
Selain itu kebijakan moneter dapat pula berarti sebagai peraturan dan ketentuan
yang dikeluarkan dalam mengatur penawaran uang dan tingkat bunga, kebijakan ini
dilakukan oleh bank sentral. Agar ekonomi tumbih lebih cepat, bank sentral bisa
memberikan lebih banyak kredit kepada sistem perbankan melalui sistem operasi pasar
terbuka, atau bank sentral menurunkan persyaratan cadangan dari bank-bank atau
menurunkan tingkat diskonto, yang harus dibayar oleh bank jika hendak meminjam dari
bank sentral. Akan tetapi, apabila ekonomi tumbuh terlalu cepat dan inflasi menjadi
masalah yang semakin besar, maka bank sentral dapat melakukan operasi pasar terbuka
(open market operations), menarik uang dari sistem perbankan, menaikkan persyaratan
cadangan minimum (reserve requirement), atau menaikkan tingkat diskonto (discount
rate), sehingga dengan demikian akan memperlambat pertumbuhan ekonomi.

2
B. Manajamen Moneter Konvensional dan Islam
1. Manajamen Moneter Konvensional
Banyak orang yang menganggap kebijakan moneter tak ubahnya kotak hitam,
hal ini dikarenakan ketidakteraturan variabel ekonomi yang menyebabkan sulitnya
mengidentifikasi alur suatu kebijakan moneter untuk menapai tujuannya. Dengan
demikian, kita sebaiknya memahami terlebih dahulu proses yang terjadi di kebijakan
moneter. Pada dasarnya, ada dua paradigma dalam memahami mekanisme transmisi
moneter, yakni paradigma uang pasif dan paradigma uang aktif.
a. Uang Pasif
Paradigma uang pasif percaya bahwa kesenjangan output merupakan kausal
utama dalam mekanisme transmisi. Dalam paradigma ini suku bunga jangka
pendek dan nilai tukar dijadikan sebagai sasaran antara (intermediate objective)
yang pada gilirannya akan mempengaruhi perkembangan besaran permintaan,
kesenjangan output dan ekspektasi inflasi.
Dalam paradigma uang pasif ini uang dinyatakan dengan variabel endogen
dimana otoritas moneter tidak mempunyai kemampuan secara penuh untuk
mengatur jumlah uang beredar. Asumsi yang digunakan dalam paradigma
endogenous konvensional ini adalah:
 Jumlah uang beredar adalah dependen (tergantung) terhadap tingkat
suku bunga, uang adalah variabel endogen.
 Instrumen moneter dijadikan sasaran operasional bank bukanlah jumlah
uang beredar melainkan suku bunga

Sasaran pokok yang ingin dicapai oleh paradigma ini adalah tercapainya
target inflasi yang telah ditetapkan sebelumnya dengan menggunakan sasaran
suku bunga jangka pendek sebagai instrumen moneternya.

Chart Paradigma
> Uang Pasif

Instrumen moneter (suku bunga) suku bunga jangka pendek dan nilai tukar
dan agregat demand, kesenjangan output dan ekspektasi inflasi
inflasi

3
b. Uang Aktif
Paradigma uang aktif percaya bahwa likuiditas merupakan penyebab utama
dalam mekanisme transmisi moneter. Dalam paradigam ini, suku bunga
dianggap sebagai variabel biasa terjadi dalam mekanisme transmisi moneter.
Paradigma uang aktif dalam teori konvensioanla menganggap bahwa uang
sebagai variabel exogen yang bentuk kurva penawarannya bersifat inelastis
sempurna. Sasaran pokok yang ingin dicapai dari kebijakan dengan paradigma
ini adalah terkendalinya tingkat inflasi dengan menggunkan besaran moneter
(jumlah uang beredar) sebagai sasaran operasional.

Chart Paradigma Uang Aktif

Instrumen moneter (besaran jumlah uang beredar) target operasional


target antara target inflasi inflasi

C. Manajemen Moneter Islam


Dasar pemikiran dari manajemen moneter dalam konsep islam adalah terciptanya
stabilitas permintaan uang dan mengarahkan permintaan uang tersebut kepada tujuan
yang penting dan produktif. Sehingga, setiap instrumen yang akan mengarahkan kepada
instabilitas dan pengalokasian sumber data yang tidak produktif akan ditinggalkan.
Penghapusan suku bunga dan adanya kewajiban pembayaran pajak atas biaya produktif
yang mengganggur dalam manajemen moneter Islam akan menghilangkan insentif orang
untuk memegang uang yang menganggur (idle fund) sehingga mendorong orang untuk
melakukan:
 Qard (meminjamkan harta kepada orang lain)
 Penjualan muajjal
 Mudharabah
Para pemilik dana akan menginvestasikan dananya pada kegiatan yang
memberikan keuntungan aktual terbesar (actual return), jadi semakin tinggi permintaan
uang untuk investasi di sektor riil atau kebutuhan akan persediaan dana untuk investasi
semakin besar, maka tingkat keuntungan harapan yang akan diberikan akan relatif
meniurun. Karena besarnya tingkat actual return ini tidak berfluktuasi seperti halnya

4
suku bunga maka akan menjadikan permintaan uang akan lebih stabil. Penggunaan
bunga sebagai opportunity cost tidak akan memberikan jaminan terhadap penggunaan
dana yang tersedia. Jadi, tidak ada mekanisme kontrol dari suku bunga dalam
mengalokasikan untuk apa dana pinjaman tersebut digunakan.
Dalam strategi moneter Islam, ketika ada penurunan actual return dari investasi
sektor riil, maka hal ini akan direspon oleh para pemegang dana untuk mengurangi
investasinya dan cendrung lebih senang memegang uang kas riil. Dan apabila itu terjadi
kebijakan yang akan ditempuh pemerintah adalah meningkat biaya atas aset atau dana
yang tidak digunkan (dues of idle fund). Kebijakan ini akan memposisiskan pemilik dana
menanggung sejumlah biaya dari pengangguran uang. Akibatnya mereka akan
menginvestasikan uangnya dan menurunkan permintaan uang kas rii.
Strategi dasar dalam manajemen moneter Islam menurut mazhab kedua (mazhab
mainstrean) adalah:
a. Tidak adanya suku bunga sebagai biaya dari modal (cost of capital) dan
dikenakannya pajak bagi aset produktif yang dibiarkan menganggur atau tidak
digunakan (dues on idle fund), hal ini bertujuan untuk mendorong pemilik
modal untuk menginvestasikan sejumlah kekayaan pada sektor riil yang
produktif.
b. Adanya mekanisme sistem bagi hasil dalam transaksi syirkah akan
memberikan kesempatan yang luas bagi masyarakat untuk secara bersama-
sama ikut serta dalam kegiatan ekonomi, yang pada akhirnya terjadi
pemerataan kesempatan kerja dan distribusi pendapatan dapat tercapai.
c. Terciptanya kepastian berusaha yang didukung dengan tidak adanya suku
bunga yang dientukan di muka dalam transaksi pinjam-meminjam dengan
perhitungan keuntungan dan risiko bagi hasil (profit sharing ratio). Besarnya
profit sharing ratio tidak berfluktuatif seperti halnya suku bunga maka dunia
usaha akan relatif stabil. Karena profit sharing ratio dibagi berdasarkan
pendapatan aktual yang doterima oleh peminjam dana, dan bukan berdasarkan
pendapatan ekspektasi seperti pada bunga.
Strategi dasar dalam manajemen moneter Islam menurut mazhab ketiga, yaitu:
a. Bahwa penawaran uang (Ms) mengikuti besarnya permintaan uang (Md), atau
dengan kata lain keseimbangan Ms=Md selalu terjaga. Sedangkan Md
merupakan fungsi dari Permintaan Agregatif (AD). Dengan kata lain, Ms juga
merupakan fungsi dari Permintaan Agregatif (AD).

5
b. Bahwa penentuan besarnya Ms yang merupakan refleksi dari Md ditentukan
melalui shuratic process (proses musyawarah) yang melibatkan para pelaku
ekonomi di sektor riil.
c. Shuratic process akan efektif bila masyarakat mempunyai pengetahuan merata
(include knowledge).
D. Instrumen Moneter Konvensional dan Islam
1. Instrumen Moneter Konvensional
Suatu otoritas moneter mempunyai pengaruh yang penting, walaupun secara tak
langsung terhadap arah tingkat bunga, output, dan nilai tukaruang suatu negara.
Otoritas moneter, atau Bank Sentral, melakukan hal tersebut melalui kemampuannya
dalam mengendalikan peanwaran uang dan kredit bank, serta melalui pengaruhnya
terhadap tingkat suku bunga, arus kredit dan perkembangan sektor finansial pada
sebuah perekonomian. Kemampuan Bank Sentral untuk mengendalikan jumlah uang
maksimum suku bunga yang dapt dibayarkan terhadap jumlah simpanan tertentu
kepada bank-bank dan menentukan proporsi saham yang dapat dibeli melalui kredit.
Ada empat instrumen Bank sentral untuk mengimplementasikan kebijakannya,
yaitu:
a. Operasi pasar terbuka (open market operation) atau OMO yang mempengaruhi
jumlah uang beredar.
b. Tingkat diskonto (discount rate) atau fasilitas diskonto yang mempengaruhi
biaya uang.
c. Ketentuan cadangan minimum (reserve requirement) atau RR yang
mempengaruhi jumlah kewajiban minimum dana pihak ketiga yang harus
disimpan (tidak boleh disalurkan sebagai kredit) oleh bank.
d. Himbauan moral (moral suasion) yang mempengaruhi tindak-tanduk para
bankir dan manajer senior institusi-institusi finansial dalam kegiatan operasional
keseharian bisnisnya agar searah dengan kepentingan publik/pemerintah.

a. Open Market Operation


Definisi open market operation (OMO) atau operasi pasar terbuka adalah
pembelian dan penjualan surat-surat berharga milik pemerintah (goverment
securities) yang dilakukan oleh Bank Sentral. Jika ingin mengurangi jumlah
uang beredar, maka pemerintah menjual surat-surat berharga (open market
selling). Dengan demikian uang yang ada dalammasyarakat mengalir ke otoritas

6
moneter, sehingga jumlah uang yang beredar berkurang. Jika ingin menambah
jumlah uang beredar, maka emerintah mengambil kembali surat-surat berharga
terseut (open market buying). Bank Indonesia mengembangkan instrumen
tersebut dengan menambahkan fasilitas repurchase agreement (repo) ke
masing-masing instrumen, sehingga saat ini dikenal Sertifikat Bank Indonesia
(SBI) dan Surat Berharga Pasar Uang (SBPU) repo.
Di Indonesia, operasi pasar terbuka dilakukan dengan menjual atau
membeli Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan surat Berharga Pasar Uang
(SBPU). Jika ingin mengurangi jumlah uang beredar, pemerintah menjual SBI
dan atau SBPU. Melalui penjualan SBI dan SBPU uang yang ada dalam
masyarakat ditarik, sehingga jumlah uang beredar berkurang. Kemudian jika
jumlah uang yang berdar perlu ditambah, maka SBI dan SBPU yang telah dijual
dibeli kembali. Melalui pembelian tersebut pemerintah mengeluarkan uang
sehingga menambah jumlah uang yang beredar. Pada saat bank sentral
melakukan kegiatan jual beli sekuritas pemerintah tersebut, perekonomian akan
terpengaruh tiga hal yaitu:
1. Perubahan jumlah giro cadangan (reserve) institusi finansial.
2. Perubahan harga dan hasil (yield) dari sekuritas apabila terjadi perubahan
harga obligasi, maka akan terjadi perubahan dari hasil yield dari obligasi
tersebut. Peningkatan pembelian obligasi akan mengakibatkan peningkatan
harga obligasi yang akan mengakibatkan sejumlah penurunan dari hasil
obligasi tersebut, sebaliknya penurunan pembelian obligasi akan
menyebabkan turunnya harga obligasi tersebut.
3. Perubahahn perkiraan (expectation) dari keseluruhan perekonomian.
Terdapat suatu efek yang dinamakan “announcement effect” dari kegiatan
operasi pasar terbuka yang dilakukan oleh Bank Sentral. Para ekonom dan
analis moneter yang bekerja di Bank Sentral akan mengamati, menelaah
dan kemudian membuat suatu prediksi tetntang bagaiman pengaruh dari
operasi pasar terbuka yang akan terjadi terhadap variabel-variabel ekonomi
seperti tingkat suku bunga, tingkat inflasi, dan juga pada kehidupan
keseharian mereka sendiri.
Dalam pelaksanaannya, operasi pasar terbuka terdiri dari dua jenis transaksi
yaitu:

7
a) Pembelian dan penjualan lengkap dimana jika Bank Sentral menjual
sekuritas, maka tidak ada kewajiban bagi Bank Sentral membelinya
kembali. Begitu juga sebaliknya, bagi pembeli tidak ada kewajiban
menjualnya kembali kepada Bank Sentral.
b) Pembelian dibawah perjanjian pembelian kembali (REPO) dan penjualan
yang sesuai di bawah perjanjian kembali (reserve REPO atau matched
transaction). Dalam hal ini, bank sentral membeli sekuritas dari dealer
dan dealer sepakat untuk membeli kembali sekuritas tersebut dengan
haraga dan waktu tertentu. Dapat dikatakn bahwa transaksi tersebut adalah
pinjaman kepada dealer dan tingkat suku bunga ditentukan melalui
pelelangan di antara dealer.
b. Discount Rate
Instrumen ini berkaitan dengan fasilitas yang dimiliki oleh bank-bank untuk
meminjam uang secra langsung kepada bank sentral. Pinjaman tersebut berupa
direct advance atau over-draft yang disekuritisasi dengan aset-aset tertentu
(sekuritas pemerintah) pada saat sekarang. Biaya pinjaman itulah yang disebut
discount rate atau fasilitas diskonto.
Fasilitas diskonto ini juga membuat bank-bank yang kesulitan dapat
memenuhi kekurangan cadangan musimannya tanpa harus mengurangi
portofolio peminjaman atau melakukan penyesuaian-penyesuaian lainnya.
Ketersediaan ini membebaskan bank-bank untuk memegang portofolio aset
likuid yang mudah dijual untuk memenuhi kebutuhan pinjaman musiman.
Akibatnya bank-bank tersebut dpat menggunakan bagian yang lebih besar dana
yang dapat diserapnya dari masyarakat untuk memenuhi kebutuhan akan danan
kredit oleh masyarakat dalam basis tahunan.
Kredit yang diberikan bank sentral terdiri dari tiga kategori, yaitu kredit
penyesuaian, kredit musiman dan kredit perpanjangan. Jika bank sentral mampu
dan bersedia untuk menyediakan kredit dengan tingkay sukku bunga tertentu
dan dalam jumlah berapapun, maka dapat dikatakan bahwa dengan instrumen
tigkat diskonto ini bank sentral dapat mengendalikan tingkat bunga jangka
pendek secara langsung.

c. Reserve Requirement

8
Ketentuan Cadangan Minimum (Reserve Requirement) atau RR yang
biasanya ditetapkan berdasarkan suatu undang-undang perbankan yang disahkan
oleh Dewan Perwakilan Rakyat. Peraturan RR dirancang untuk menjamin
pemilik uang atau nasabah penyimpanan uangnya di bank akan mendapatkan
uangnya jika ia menarik simpanannya (deposit). Walaupun demikian, tidak
semua dana simpanan tersebut dicadangkan karena bagi bank sendiri sebenarnya
RR ini merugikan karena idle cash yang diatur RR tersebut tidak menghasilkan
pendapatan bagi bank. RR berubah-ubah besaran persentasenya untuk
mengakomodasi dan memfasilitasi peraturan moneter yang berlaku serta untuk
mencapai tujuan atau sasaran bank sentral. Dibanyak negara ketentuan RR ini
oleh bank sentralnya diharuskan agar dihitung dalam jangka waktu mingguan
dan menjadi kewajiaban bagi bank-bank untuk memenuhinya.

d. Moral Suasion
Bank sentral menggunakan kekuatan himbauan moral untuk mendorong
institusi finansial agar cendrung berpihak kepada kepentingan publik. Bank
sentral biasanya menggunakan himbauan moral untuk meyakinkan para bankir
dan manajer senior institusi-institusi finansial agar lebih memperhatikan
kepentingan jangka panjang daripada kepentingan jangka pendek institusinya.
Seperti pada saat inflasi, bank sentral dapat menyarankan pada institusi-institusi
finansial agar mengurangi pemberian pinjaman (kredit) yang sekaligus juga
bersifat mendinginkan perekonomian yang sedang panas.

e. Aplikasi Instrumen Moneter Konvensioanal di Indonesia


Bank Indonesia sebagai bank sentral dan pemegang otoritas moneter di
Indonesia, mempunyai beberapa instrumen, diantaranya:
1. Operasi pasar terbuka melalui jual beli Sertifikat Bank Indonesai (SBI) di
pasar uang.
2. Penawaran Reserve Requirement atau cadangan minimum pada bank baik
bank konvensional maupun bank syariah.
3. Rasio Kecukupan atau Capital Adequency Ratio (CAR) yang ditentukan
oleh Bank Indonesia (sebesar 8% pada saatr ini).
4. Plafon kredit untuk sektor-sektor prioritas tertentu seperti sektor usaha kecil
dan menegah di daerah pedesaan.

9
5. Sistem pengawasan perbankan yang memakai sistem forward looking risk-
based supervision yang mengacu kepada standar internasional.
6. Uji kepatutan dan kelayakan yang ditujukan kepada orang-orang yang akan
menduduki posisi penting di lembaga keuangan di mana orang-orang
tersebut harus lulus tes sebelum menduduki jabatan tersebut.
7. BPMK (Batas Maksimum Pemberian Kredit) yang ditujukan untuk
membatasi pemberian kredit kepada individu atau kelompok usaha sendiri.
2. Instrumen Moneter Islam
a. Mazhab Pertama (Iqtishaduna)
Menurut mazhab iqtishaduna tidak diperlukan suatu kebijakan moneter
dikarenakan hampir tidak adanya sistem perbankan dan minimnya penggunaan
uang. Jadi tidak ada alasan yang memadai untuk melakukan perubahan-
perubahan dalam penawaran uang (Ms). Selain itu kredit tidak mempunyai
peran dalam penciptaan uang, karena kredit hanya digunkan di antara pedagang
saja serta peraturan pemerintah tentang surat pinjaman dan instrumen negosiasi
yang dirancang sedemikian rupa sehingga tidak memungkinkan sistem kredit
dapat menciptakan uang. Sisitem yang diterapkan oleh pemerintah yang
berhubungan dengan konsumsi, tabungan dan investasi telah menciptakan
instrumen otomatis untuk pelaksanaan kebijakn moneter.
b. Mazhab Kedua (mainstream)
Instrumen yang digunakan mazhab kedua untuk mempengaruhi Permintaan
Agregat adalah dengan dikenakannya biaya atau pajak atas dana atau aset
produktif yang menganggur (dues of idle fund). Peningkatan dues of idle fund
akan mengalihkan permintaan uang yang sedianya ditujukan untuk penimbunan
uang/aset yang produktif kepada tujuan uang yang akan meningkatkan
produktivitas uang tersebut di sektor riil sehingga investasi meningkat.
Peningkatan investasi berdampak kepada peningkatan Permintaan Agregat,
sehingga keseimbangan umum yang baru akan berada pada tingkat pendapatan
nasional yang lebih tinggi. Masyarakat diarahkan untuk mengalokasikan
dananya kepada sektor produktif agar dapat memicu pertumbuhan ekonomi
semakin tinggi.
c. Mazhab Ketiga (Alternatif)
Sistem kebijakan moneter yang dianjurkan oleh mazhab alternatif adalah
syuratiq process yaitu dimana suatu kebijakan yang diambil oleh otoritas

10
moneter berdasarkan musyawarah sebelumnya dengan otoritas sektor riil. Jadi
keputusan-keputusan kebijakn moneter yang dituang dalam bentuk instrumen
moneter biasanya adalah harmonisasi dengan kebijakn-kebijakan di sektor riil.
Kebijakn di sektor moneter adalah derivasi dari sektor riil dan harmonisasi
dengan sektor riil. Secara manajemen moneter Islam yang dianjurkan oleh
mazhab ketig aini adalah besarnya jumlah penawaran uang mengikuti
permintaan uang dari masyarakat. Hal ini agar tidak ada kesenjangna antara
sektor riil dan sektor moneter.

d. Aplikasi Instrumen Moneter Islam di Indonesia


Bank Indonesia sebagai bank sentral dan pemegang otoritas moneter di
Indonesia, mempunyai beberapa instrumen moneter Islam, diantaranya:
1. Giro Wajib Minimum. Dalam pelaksanaanya GWM adalah 5% dari pihak
ketiga yang berbentuk rupiah dan 3% yang berbentuk mata uang asing.
2. Sertifikat Investasi Mudharabah Antar Bank Syariah (Sertifikat IMA).
Sertifikat IMA adalah suatu instrumen yang digunkan oleh bank-bank
sayriah yang berkelebihan dana untuk mendapatkan keuntungan dan di lain
pihak sebagai sarasa penyedia dana jangka pendek bagi bank-bank syariah
yang kekurangan dana.
3. Serufikat Wadiah Bank Indonesia – SWBI (sekarang menjadi Sertifikat
Bank Indonesia Syariah – SBIS). SWBI adalah instrumen yang sesuai
dengan syariah Islam yang digunkan dalam OMO. Selain itu, SWBI ini juga
dapat digunakan oleh bank-bank syariah yang mempunyai kelebihan
likuiditas sebgai saran penitipan dana jangka pendek.
4. Pasar Uang Antae Bank Syariah (PUAS). Sebagai fasilitas bagi bank
syariah yang membutuhkan dana di pasar uang, sehingga mereka dapat
saling mengadakan perjanjian antar bank syariah.

11
KESIMPULAN

Kebijakan moneter adalah upaya mengendalikan atau mengarahkan perekonomian


makro ke kondisi yang diinginkan dengan mengatur jumlah uang yang beredar. Melalui
kebijakan moneter, pemerintah dapat mempertahankan menambah atau mengurangi jumlah
uang yang beredar dalam upaya mempertahankan kemampuan ekonomi untuk terus tumbuh
sekaligus mengendalikan inflasi. Dalam kebijakan moneter konvensional, untuk
mngimplementasikan kebijakan moneter bank sentral memiliki empat instrumen, yaitu
Operasi pasar terbuka (open market operation) atau OMO yang mempengaruhi jumlah uang
beredar, tingkat diskonto (discount rate) atau fasilitas diskonto yang mempengaruhi biaya
uang, ketentuan cadangan minimum (reserve requirement) atau RR yang mempengaruhi
jumlah kewajiban minimum dana pihak ketiga yang harus disimpan (tidak boleh disalurkan
sebagai kredit) oleh bank, himbauan moral (moral suasion) yang mempengaruhi tindak-
tanduk para bankir dan manajer senior institusi-institusi finansial dalam kegiatan operasional
keseharian bisnisnya agar searah dengan kepentingan publik/pemerintah.

Sedangkan dalam kebijakan moneter Islam ada 3 instrumen, yaitu mazhab iqtishaduna
dimana tidak diperlukan suatu kebijakan moneter dikarenakan hampir tidak adanya sistem
perbankan dan minimnya penggunaan uang, mazhab mainstream dimana untuk
mempengaruhi Permintaan Agregat adalah dengan dikenakannya biaya atau pajak atas dana
atau aset produktif yang menganggur (dues of idle fund), dan mazhab alternatif yang
dianjurkan oleh mazhab alternatif adalah syuratiq process yaitu dimana suatu kebijakan yang
diambil oleh otoritas moneter berdasarkan musyawarah sebelumnya dengan otoritas sektor
riil.

12
13

Anda mungkin juga menyukai