Anda di halaman 1dari 64

Dokumen Teknis

PENDEKATAN DAN METODOLOGI

1. Pendekatan Umum

Secara garis besar tujuan utama kegiatan pengawasan teknis jalan adalah membantu
Pejabat Pembuat Komitmen didalam melakukan pengawasan teknis terhadap kegiatan
pekerjaan konstruksi dilapangan guna mendapatkan hasil pekerjaan konstruksi yang
memenuhi persyaratan yang tercantum didalam sepsifikasi teknis (tepat mutu), dan
dilaksanakan secara tepat biaya dan tepat waktu serta tertib administrasi.

Dalam hal ini menyiapkan informasi berupa data teknik dan melaksanakan proses
administrasi proyek, melaksanakan pemeriksaan dan pengawasan secara terus menerus
dilapangan termasuk melakukan pengujian – pengujian, mengevaluasi dan memperbarui
data serta membuat laporan – laporan dan rekomendasi bagi Pemberi Tugas.

Agar pelaksanaan pekerjaan mencapai sasaran dan tujuan sesuai dengan harapan, maka
selama pelaksanaan pekerjaan, diharapkan ada komunikasi yang terus menerus antara
Konsultan dengan Pemberi Tugas.

2. Lingkup Jasa Konsultan

Penyedia jasa konsultansi yang akan membantu Pejabat Pembuat Komitmen (PPK)
bertugas melaksanakan pekerjaan pengawasan teknis pada Pengawasan Teknis (Supervisi)
Peningkatan Jalan Reformasi Desa Maliwowo di Kecamatan Angkona.
Agar pelaksanaan pekerjaan tersebut sesuai dengan rencana mutu, biaya, waktu dan
sasaran hasil kerja sesuai dengan kontrak, maka penyedia jasa atau konsultan harus bekerja
sama dengan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dalam

1
mengawasi pekerjaan dan akan memberikan jasa sesuai keahlian yang diperlukan untuk
pekerjaan tersebut.

Secara umum lingkup pekerjaan pengawasan jalan dan jembatan antara lain :
i. Melaksanakan pekerjaan pengawasan teknis pada ruas jalan dan jembatan yang
ditangani agar diperoleh hasil pekerjaan yang sesuai dengan spesifikasi teknik,
sehingga terhindar dari resiko kegagalan konstruksi;
ii. Melaksanakan pengawasan teknis terhadap pekerjaan di lapangan secara
profesional, efektif dan efisien, pada setiap tahapan kegiatan dan memahami prosedur
atau metode pelaksanaan pekerjaan;
iii. Pengendalian mutu pekerjaan dilapangan dengan menerapkan prosedur kerja, uji
mutu bahan olahan dan hasil pekerjaan pada setiap tahapan kegiatan pekerjaan sesuai
persyaratan dalam dokumen kontrak;
iv. Menyiapkan laporan progres pekerjaan dilapangan, dan sistem administrasi
pekerjaan serta membuat rekomendasi setiap permasalahan yang timbul dilapangan;
v. Membuat laporan teknis (bila diperlukan) pada setiap terjadinya perubahan kinerja
pekerjaan;
vi. Monitoring secara berkala dan mengevaluasi performa/kinerja hasil pekerjaan
dilapangan;
vii. Verivikasi progres fisik dan progres keuangan yang diajukan oleh penyedia jasa
konstruksi (kontraktor).

3. Pendekatan Teknis

Dalam melakukan kegiatan ini perlu diuraikan secara rinci pendekatan teknis, sehingga
hasilnya benar-benar dapat dipertanggung jawabkan. Pendekatan teknis untuk pekerjaan
pengawasan teknis jalan dan jembatan antara lain :

1. Pekerjaan persiapan dan Mobilisasi personil;


2. Tahap mobilisasi kontraktor;
3. Pelaksanaan Pengawasan Konstruksi;
4. Pelaksanaan Administrasi Konstruksi;
5. Pelaporan

2
4. Metodologi Pelaksanaan Pekerjaan

4.1 Persiapan dan Mobilisasi Konsultan


Dalam hal ini Konsultan akan menyiapkan :

1. Personil/tenaga ahli dan tenaga pendukung. Apabila ada penggantian personil


terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Pemberi Tugas.
2. Kantor berikut perlengkapannya, kendaraan dan fasilitas penunjang lainnya.
3. Peralatan/alat-alat ukur dan laboratorium dalam hal ini bukan alat laboratorium
yang lengkap tetapi hanya peralatan pendukung pelaksanaan kerja karena yang
menyiapkan lebih lengkap Kontraktor.
4. Peta, data dan peralatan penunjang.
Fasilitas akomodasi dan transportasi untuk kebutuhan Proyek Personil yang namanya
tercantum dalam jadwal atau daftar yang akan di Mobilisasi, Sesuai dengan ketentuan
yang berlaku selabat-lambatnya 15 (lima belas) hari kalender setelah diterbitkannya Surat
Perintah Mulai Kerja (SPMK) oleh PPTK.

4.2 Tahap Mobilisasi Kontraktor


Pekerjaan Persiapan yang akan dilakukan oleh Kontraktor meliputi :

 Mobilisasi (Peralatan, tenaga kerja, bahan dll)


 Penyiapan/ pembuatan fasilitas kontraktor dilapangan
 Fasilitas laboratorium dan layanan ruang laboratorium
 Pengukuran kembali dan pematokan
 Rencana pengaturan dan pengendalian lalu lintas

3
Konsultan akan mengevaluasi Pekerjaan – pekerjaan tersebut diatas untuk pengukuran
kemajuan mobilisasi yang akan ditentukan atas dasar jadwal mobilisasi yang lengkap dan
telah disetujui.

Berdasarkan pengalaman dalam melaksanakan pekerjaan pengawasan, dalam pra


construktion Meeting (PCM)

Kontraktor harus menyerahkan program mobilisasi dan jadwal pelaksanaan pekerjaan


(time schedule) kepada pemilik kegiatan dalam waktu 14 (empat belas) harus setelah
diadakan pra construction metting untuk dimintakan persetujuannya.

Salah satu hal yang penting untuk dilaksanakan adalah dalam suatu pelaksanaan
pembangunan / peningkatan jalan adalah pengukuran kembali dan pematokan.

Pada umumnya pembangunan / peningkatan jalan diperlukan pekerjaan pelebaran jalan.


Dimana pekerjaan pelebaran jalan akan banyak dihadapkan dengan persiapan lokasi
pelebaran yang umumnya telah ditumbuhi pohon - pohon pelindung, pagar halaman
masyarakat dan lain – lain.

Pengawasan diberikan pada kebersihan akar pohon yang telah ditebang, akar – akar yang
tertinggal pada lokasi pembuatan pelebaran jalan jika tidak dibersihkan.

dengan tuntas akan mempengaruhi tingkat kepadatan lapisan jalan pada lokasi tersebut.

Demikian juga dengan sisa – sisa tebangan sedapat mungkin disingkirkan sebersih –
bersihnya dari lokasi jalan agar tidak tercampur dengan material yang akan dihampar.

Selama Pelaksanaan pekerjaan fisik, jalan yang ada harus tetap dapat difungsikan untuk
mengatur lalu lintas dengan sebaik – baiknya.

Tindakan pengaturan dan pengendalian lalu lintas selama pelaksanaan pekerjaan


dilakukan dengan mengerjakan badan jalan pada setengah lebarnya dan dilengkapi jalan
dengan rambu – rambu yang tepat. Pada jalur – jalur yang keritis untuk lalu lintas
kendaraan disediakan pagar – pagar / patok – patok pengarah / pengaman.

4
4.2.1 Tahap Pelaksanaan Konstruksi
Dalam masa konstruksi, Konsultan akan melaksanakan pengawasan dan pemantauan
terhadap pencapaian progres fisik proyek secara menerus di lapangan dan pengendalian
proyek secara sistematis dengan menggunakan metode-metode yang sudah baku.

4.2.1.1 Membuat analisa, prediksi dan rekomendasi terhadap kendala- kendala yang
berpengaruh terhadap kelancaran pelaksanaan proyek.
4.2.1.2 Memberikan masukan kepada Pemberi Tugas didalam menyusun kebijakan
dan langkah untuk mencegah dan mengurangi klaim.
4.2.1.3 Menyediakan bantuan dan arahan yang tepat bagi Kontraktor pada saat
ditemukannya masalah yang ada hubungannya dengan dokumen kontrak,
pemeriksaan terhadap survai tanah dasar, test pengawasan mutu, dan masalah
lain yang berhubungan dengan dipenuhinya kontrak dan kemajuan pekerjaan.
4.2.1.4 Menyediakan informasi yang diperlukan oleh Pemberi Tugas, menghadiri dan
mencatat semua rapat/pertemuan dengan Kontraktor, PPTK, dan instansi
terkait lainnya serta menyediakan bantuan teknis apabila diperlukan dalam
kaitannya dengan pelaksanaan proyek dan masalah-masalah kontrak.
Sedangkan tugas Konsultan Pengawas dalam hal kontrak terhadap Kontraktor secara
garis besar akan meliputi :

a. Pengawasan Pekerjaan Drainase

Pekerjaan drainase terdiri dari saluran dan saluran air, pasangan batu dengan mortar,
gorong – gorong dan drainase beton serta drainase porous.
Pekerjaan drainase mencakup pembuatan / pemeliharaan selokan baik yang baru dan
yang telah ada yang dilapisi (lined) maupun yang tidak dilapisi (unlined) dan
perapihan kembali selokan lama yang tidak dilapisi.

5
Pekerjaan ini juga mencakup relokasi atau perlindungan terhadap sungai yang ada,
kanal irigasi atau saluran air lainnya yang pasti tidak terhindarkan dari gangguan
baik yang bersifat sementara maupun tetap.
Pengawasan pekerjaan drainase, sehari – hari dilakukan oleh inspector / surveyor dan
material technician, dimana personil yang bersangkutan mengadakan pengawasan,
mengevaluasi serta memberi petunjuk tentang lokasi, panjang, dimensi, arah dan aliran
– aliran dan kelandaian yang ditentukan untuk semua selokan yang akan dikerjakan
atau digali ataupun yang akan dilapisi serta mengadakan perhitungan volume
pekerjaan yang telah dilaksanakan.
Khusus untuk pekerjaan selokan yang akan dilapisi maka pengawasan dilakukan selain
hal tersebut diatas adalah pengawasan mortar adukan dan ukuran batuan yang akan
digunakan, sedangkan penggunaan gorong – gorong perlu mendapatkan pengawasan
mutu yang ketat pada saat pekerjaan pembesian dan pengecoran.
Elevasi dasar saluran drainase akan mendapatkan pengawasan sehubungan dengan
kemampuan mengalirkan air yang baik harus tercapai.
Sebelum pekerjaan dilaksanakan, kontraktor harus mengajukan contoh bahwa ( khusus
saluran yang dilapisi pasangan batu/ mortar) untuk mendapatkan persetujuan.
Pelaksanaan penggalian, penimbunan dan pemangkasan, harus dilakukan sesuai
peruntukannya untuk pembentukan selokan baru atau lama sehingga
memenuhi kelandaian yang disetujui. Untuk pelaksanaan
pekerjaan ini toleransi dimensi dapat diberikan yaitu :

 Elevasi galian dasar selokan yang telah selesai dikerjakan tidak


boleh lebih dari 1 (satu) cm dari yang telah ditentukan / disetujui pada tiap titik.
 Alignament saluran dan profil penampang melintang tidak boleh
lebih dari 5 Cm.

6
Pengawasan mutu dilakukan oleh Material technician yang selanjutnya dilaporkan
kepada Quantity Engineer.

Pengawasan mutu umumnya untuk saluran drainase yang diperkeras, sedang saluran
yang tidak dilapisi (unlined) hanya dilakukan untuk perapihan dan untuk pemenuhan
kualitas, kelandaian serta dimensi (bentuk saluran).

Bila dalam pelaksanaan pekerjaan ini terjadi ketidaksesuaian antara realisasi dilapangan
dan gambar/ spesifikasi yang ada maka konsultan harus memberikan arahan untuk
mengadakan perbaikan, dalam arti pekerjaan selokan drainase yang tidak memenuhi
kriteria toleransi yang diberikan harus diperbaiki oleh Kontraktor.

Pekerjaan perbaikan dapat meliputi :


 Penggalian atau penimbunan lebih lanjut, bila dianggap perlu diadakan
penimbunan kembali termasuk pemadatan.
 Perbaikan dan penggantian pasangan batu dengan mortar untuk saluran yang
diperkeras.
Pengukuran dilakukan untuk pemenuhan quantitas yang selanjutnya akan dijadikan
dasar untuk pembayaran kepada kontraktor.
Semua hasil pengukuran akan dilampiri back up data dari tiap – tiap item pekerjaan
dan foto dokumentasi dari pekerjaan yang telah dilaksanakan.

b. Pengawasan Pekerjaan Tanah


Pengawasan Pekerjaan Tanah mencakup pengawasan pekerjaan penimbunan, galian
tanah dasar dan penyiapan badan jalan sebagai berikut :

7
b.1. Pekerjaan Galian
Pekerjaan ini meliputi penggalian, penanganan, pembuangan atau penumpukan tanah
atau batu atau bahan lain dari jalan atau sekitarnya.
Pekerjaan galian tanah pada umumnya dilakukan untuk penurunan elevasi pada titik –
titik tertentu, ataupun pelebaran badan jalan.
Pembentukan permukaan tanah dasar disesuaikan dengan elevasi dan bentuk rencana
yang ada yang menjamin penampilan akhir dari jalan yang akan dibuat/ dilaksanakan.
Jika elevasi rencana jalan terletak lebih rendah dari elevasi tanah dasar / exiting
jalan ataupun terjadi pelebaran, maka dilakukan penggalian tanah dasar.

b.2. Timbunan Tanah


Pengawasan pekerjaan timbunan, meliputi pengadaan, pengangkutan, penghamparan
dan pemadatan tanah timbunan atau bahan berbutir lainnya yang disetujui oleh bahan
timbunan.
Pekerjaan penimbunan tanah pada umumnya dilakukan untuk peninggian permukaan
jalan, baik keseluruhan maupun pada titik – titik tertentu maupun untuk pelebaran
yang mempunyai exiting lebih rendah dari rencana.

Jika tanah dasar dibentuk, dari tanah hasil pengurangan (timbunan), maka perlu
dilakukan terlebih dahulu pemeriksanaan karakteristik tanah dilaboratorium dimana
hasil yang diperoleh harus sesuai dengan spesifikasi yang ada

Penimbunan dilaksanakan maximum 30 cm setiap lapis dan dilakukan pemadatan


sesuai yang diisyaratkan dalam spesifikasi.

8
Konsultan dalam hal ini harus melakukan pengawasan secara ketat serta ketentuan
melakukan pengawasan pada teknik pemadatan yang baik setiap lapisan.

Selanjutnya kualitas akhir pekerjaan tanah dasar dengan pengurangan (penimbunan)


harus diadakan pemeriksanaan baik dengan alat sand cone test maupun dengan alat
DCP.

b.3. Penyiapan Badan Jalan


Pengawasan Pekerjaan Penyiapan Badan Jalan, meliputi
: penyiapan, penggarukan dan pemadatan permukaan tanah dasar atau permukaan jalan
lama yang selanjutnya untuk penghamparan lapis pondasi agregat.
Untuk pekerjaan pengawasan Paket Siuna - Boalemo, umumnya pekerjaan penyiapan
badan jalan hanya untuk daerah pelebaran, kecuali pada titik – titik tertentu yang ada
penimbunan / urugan maupun galian untuk penurunan elevasi ataupun pelebaran.

Pengawasan untuk pekerjaan penyiapan badan jalan, difokuskan kepada bentuk profile
melintang dari jalan yaitu mengikuti kemiringan melintang yang telah ditetapkan pada
gambar design dan pemadatan tanah dasar yang baik sehingga hasil yang diperoleh
sesuai spesifikasi.

Pengawasan pekerjaan tanah sehari – harinya dilakukan oleh inspector / surveyor untuk
menghitung kuantitas hasil pekerjaan, sedangkan untuk control pemadatan dan
pengambilan / pengetesan dengan sand cone test maupun DCP dilakukan oleh
material technician, yang selanjutnya personil tersebut melaporkan kepada Quantity /
Quality Engineer.

9
c. Pengawasan Pekerjaan Perkerasan berbutir
Pekerjaan ini meliputi pengadaan bahan/ material, pemrosesan, pengangkutan,
penghamparan, pembahsahan dan pemadatan agregat bergradasi diatas permukaan yang
telah disiapkan.
Pekerjaan perkerasan berbutir yang digunakan adalah : Agregat konstruksi
lapis pondasi agregat yang lazim digunakan adalah agregat
pondasi klas A, B dan C. Komposisi lapisan ini akan terdiri dari lapisan campuran
tanah, pasir dan kerikil (pecah / bulat). Daya dukung dari konstruksi jenis ini akan
diperoleh dari efek saling tumpah tindih antar material.
Hal yang sangat berpengaruh dalam kondisi ini adalah susunan butiran (gradasi)
material penyusun. Untuk itu dilakukan pengawasan yang ketat dalam hal ini
pembuatan mix design dan job mix , pelaksanaan pencampuran material pondasi
agregat yang baik . Hasil yang baik dapat diperoleh dengan susunan butiran (gradasi)
yang diisyaratkan dan dengan memadatkan lapisan tersebut pada kadar air optimum
dengan pembebanan yang sesuai (jumlah lintasan sesuai berat alat pemadat).
Pemeriksaan kekuatan lapisan pondasi dilakukan dengan pengetesan kepadatan
lapangan dengan alat sand cone test.
Pengawasan pekerjaan perkerasan berbutir, sehari – harinya dilakukan oleh Inspector /
surveyor yaitu bertugas untuk mengontrol, mengarahkan pelaksana lapangan, dan
menghitung kuantitas hasil pekerjaan. Sedang untuk pemeriksaan / pengawasan jenis
material untuk bahan perkerasan berbutir, maupun job mix yang ada, pengambilan /
pengetesan kepadatan dengan sand cone list maupun DCP (Dute Cone Pemetrometer)
akan diawasi langsung oleh
Material Technician, yang selanjutnya personil tersebut melaporkan kepada Quality /
Quantity Engineer, yang secara langsung juga ikut menangani pengawasan pekerjaan
tersebut.

A. Pengendalian Teknis
Bertindak untuk dan atas nama Pemberi Tugas mengendalikan pelaksanaan fisik
pekerjaan yang dilakukan oleh Kontraktor dengan rentang meliputi “Pre-audit”,
“Monitoring”, dan “Post-audit”.

Lingkup pengendalian antara lain meliputi :

 Aspek mutu hasil pekerjaan.

10
 Aspek volume pekerjaan.
 Aspek waktu penyelesaian pekerjaan.
 Aspek biaya keseluruhan pekerjaan.
Segala sesuatunya merujuk kepada ketentuan dan syarat-syarat yang tercantum dalam
kontrak pemborongan.

a.1 Rentang Kendali Pre-Audit

Kegiatan Konsultan dalam rangka pengendalian teknis dalam rentang “pre-audit”


adalah seluruh kegiatan Konsultan sebelum melakukan pengawasan, yang terdiri dari :

a. Pengumpulan dan analisa data, informasi dan hasil perencanaan akan


menghasilkan catatan mengenai seluruh kegiatan antara lain:

 Jenis pekerjaan.
 Kuantitas pekerjaan.
 Kualitas yang dipersyaratkan.
 Schedule pelaksanaan
 Schedule pembayaran.

b. Review Design

Pengecekan hasil perencanaan dilakukan dengan cara membawa hasil perencanaan ke


lokasi untuk menentukan apakah hasil perencanaan tersebut telah sesuai dengan kondisi
yang ada

Apabila ternyata dari hasil pengecekan design tidak sesuai dengan kondisi lapangan,
Konsultan tim pengawasan akan membuat alternatif lain yang sesuai untuk diajukan
kepada Pemberi Tugas.

c. Persiapan Konstruksi

Material dan peralatan yang didatangkan Kontraktor akan diperiksa terlebih dahulu
oleh Konsultan sehingga benar-benar memenuhi spesifikasi yang telah ditetapkan.

11
Jadual waktu yang dibuat oleh Kontraktor akan diteliti terlebih dahulu apakah sudah
memadai terhadap volume pekerjaan yang akan dilaksanakan dengan perkiraan tenaga
kerja/tukang yang akan mengerjakannya serta alat yang akan digunakan. Apabila
menurut analisa tidak seimbang antara volume dengan tenaga kerja dan peralatan
terhadap waktu yang tersedia maka Konsultan akan menyarankan kepada Kontraktor
untuk menyiapkan tenaga kerja dan peralatan yang memadai agar bisa selesai tepat
pada waktunya.

Penyimpangan biaya keseluruhan biasanya disebabkan oleh adanya pekerjaan


tambahan sebagai akibat dari perubahan design dan pertambahan volume pekerjaan.

Agar tidak terjadi perubahan biaya terlalu besar, Konsultan akan mengusulkan
menggantikan nilai pekerjaan tambah itu dengan pengurangan pekerjaan lainnya
sehingga terjadi kompensasi dan tidak memerlukan biaya tambah sepanjang hal
tersebut memungkinkan dan mendapat persetujuan dari PPK /PPTK.

Dalam hal ini, Konsultan berupaya menghindari pekerjaan tambah, justru


mengupayakan pekerjaan kurang jika memang dari evaluasi teknis dan biaya
memungkinkan untuk dilakukan pekerjaan kurang.

d. Pre Construction Meeting (PCM)

Dalam waktu kurang dari 14 hari sejak SPMK, diadakan Pre Construction Meeting
(PCM), hal yang dibicarakan :

1) Materi
 Organisasi kerja.
 Tata cara pengaturan pelaksanaan.
 Review dan penyempurnaan terhadap schedule
dikaitkan dengan target volume, mutu dan waktu.
 Jadual pengadaan bahan, alat dan mobilisasi personil.

12
 Menyusun rencana dan pelaksanaan pemeriksaan lapangan (mutual check),
koordinasi dengan tim perencana.
 Menentukan lokasi bahan material (quarry), estimate quantity dan rencana
quality control bahan yang akan digunakan.
 Pendekatan terhadap masyarakat dan Pemda setempat.
 Penyusunan rencana kendali mutu proyek.
 Pembahasan rencana mutu proyek

2) Kesamaan pengertian terhadap pasal-pasal dokumen kontrak


 Pekerjaan tambah/kurang
 Termination atau for feature.
 Maintenance & protection of traffic.
 Sub letting.
 Asuransi.
 Lainnya yang dianggap perlu.

3) Kesepakatan tentang tata cara dan prosedur


 Request, approval & examination of works.
 Shop Drawing, As Built Drawing.
 Monthly Certificate (MC).
 PHO & FHO.
 Change Order, Addendum.

4) Kesepakatan tentang tata cara dan prosedur teknis pelaksanaan pekerjaan


utama (major items).
 Flexible pavement: agregat base, hotmix, dll.
 Struktur: pondasi tiang pancang, abutmen beton, dll.
a.2 Rentang Kendali Monitoring

Kegiatan pengendalian teknis rentang “monitoring” adalah kegiatan-kegiatan yang


dilakukan selama masa pelaksanaan

13
pekerjaan. Meskipun Konsultan Pengawas telah melakukan “pre- audit” namun setiap
langkah pelaksanaan pekerjaan akan terus dimonitor agar kalau terjadi penyimpangan
segera diketahui dan dapat diluruskan kembali sesuai petunjuk yang benar. Selama
periode ini Konsultan akan selalu melakukan evaluasi terhadap progress dan kualitas
pekerjaan yang dilaksanakan oleh Kontraktor.

Dalam melakukan monitoring, kerjasama antara anggota tim akan kita jaga sebaik-
baiknya sehingga informasi dan pelaporan bisa berjalan dengan cepat, sehingga
kerugian yang menyangkut aspek mutu, volume, waktu dan biaya keseluruhan hasil
pekerjaan dapat dihindari atau ditekan sekecil-kecilnya. Selain mengawasi pekerjaan
fisik Konsultan Pengawas juga memonitor aspek lingkungan sekitar proyek, agar
jangan sampai pelaksana lapangan berikut tukang-tukangnya mengganggu, mematikan
serta merusak flora dan fauna yang ada.

Faktor keselamatan kerja juga akan dimonitor secara rutin dengan memperhatikan
peraturan-peraturan yang berlaku.

a.3 Rentang Kendali Post-Audit

Setiap kemajuan penyelesaian pekerjaan akan merupakan prestasi kerja bagi


Kontraktor. Kemajuan fisik ini akan dipakai untuk pengajuan pembayaran senilai hasil
kerjanya. Namun Kontraktor tidak akan bisa mengajukan permintaan pembayaran
sebelum mendapat rekomendasi dari Konsultan Pengawas bahwa hasil pekerjaannya
sudah memenuhi persyaratan teknis atau tidak.

B. Pengendalian Administrasi Proyek

Dalam hal ini Konsultan Pengawas akan merancang, memberlakukan serta


mengendalikan pelaksanaan keseluruhan sistem administrasi proyek yang diawasinya,
yaitu mencakup antara lain; surat, memorandum, risalah, laporan, contoh barang, foto,
berita acara,

14
gambar, sketsa, brosur, kontrak dan addendum dan lain-lain yang dianggap perlu.

Langkah-langkah dan tindakan yang akan dilakukan Konsultan


Pengawas untuk maksud diatas adalah :

 Mempelajari, menanggapi, memecahkan dan menyelesaikan sampai tuntas


maksud dari surat masuk maupun keluar.
 Memperhatikan memorandum dan risalah untuk pedoman dalam pelaksanaan
tugas Konsultan.
 Mempersiapkan dan mengecek contoh barang agar memenuhi persyaratan
yang ditetapkan baik kualitas dan kuantitas.
 Membuat foto-foto dokumentasi pada setiap paket pekerjaan.
 Mempelajari dan mengecek gambar-gambar/sketsa pelaksanaan agar sebelum
maupun sesudah pekerjaan selesai tidak terjadi penyimpangan.
Membantu/menyiapkan addendum serta lain-lain yang dianggap perlu.

C. Evaluasi Rencana

Konsultan Pengawas melakukan evaluasi atas rencana proyek yang akan dilaksanakan
serta menyarankan perubahan / penyempurnaan / penyesuaian rencana yang perlu
dilakukan (bila ada) guna menjamin tercapainya maksud dan tujuan proyek dengan
sebaik-baiknya.

D. Verifikasi Hasil Pekerjaan Kontraktor

Konsultan Pengawas berwenang dan pada saatnya berkewajiban menyatakan bahwa


hasil pekerjaan Kontraktor telah memenuhi segala persyaratan untuk proses selanjutnya
yaitu persetujuan Pemberi Tugas.

E. Kontrol Sistematik Terhadap Kegiatan Lapangan

Dalam konteks lebih luas, pekerjaan supervisi mengemban juga fungsi kontrol
manajemen proyek konstruksi. Sebelum memeriksa hasil pekerjaan, perlu diperiksa
dahulu persiapan kerjanya. Persiapan pekerjaan yang dilakukan setengah-setengah
atau dengan cara

15
perencanaan yang mendadak akan mengakibatkan hasil kerja yang tidak memuaskan.
Untuk menanggulangi masalah ini, diperlukan suatu kontrol yang sistematik. Pengawas
lapangan perlu menerapkan sistem kontrol yang baik di lapangan.

Kontrol yang sistematik terhadap kegiatan di lapangan memiliki 3 tujuan yaitu:

1. Meninjau secara periodik hasil dan kemajuan pekerjaan pada beberapa bidang
kegiatan pokok. Bilamana terdapat kekurangan yang terjadi, maka harus dikembangkan
sasaran jangka pendek dan program kerja untuk mengantisipasinya.
2. Memastikan bahwa pekerjaan pengawasan berjalan secara benar sehingga
peringatan secara dini dapat diberikan apabila terjadi sesuatu kesalahan.
3. Mengamankan bahwa biaya yang sudah dianggarkan oleh proyek tidak
dilampaui bila tidak terjadi perubahan kontrak.
Bidang-bidang sasaran kegiatan pokok yang perlu dikontrol pada waktu peninjauan di
lapangan yaitu :

 Pencapaian target kemajuan fisik.


 Pencapaian target keuangan.
 Pengadaan dan pembelian barang, bahan dan peralatan.
 Pemakaian tenaga kerja dan peralatan untuk menjamin efektivitas dan efisiensi
kerja lapangan.
 Pemantapan kerjasama pekerja proyek dari seluruh bagian/divisi.
 Hubungan dengan pihak pemilik.
Tiap bidang tersebut diatas ditinjau apakah situasinya mantap, kurang memadai atau
menunjukkan tendensi yang tidak menggembirakan.

Dengan mengetahui keadaan dan situasi masalah dengan benar, maka langkah-langkah
yang diambil untuk mengatasinya akan lebih cepat dan efektif.

F. Kunjungan Lapangan/Site Visit

Frekuensi kunjungan ke lapangan tergantung dari pentingnya keadaan lapangan,


sifatnya dapat secara harian ataupun mingguan. Frekuensi

16
kunjungan juga dapat tergantung pada tahapan dari PPTK yang mengelolanya beserta
para timnya sesuai urgensinya.

G. Pengontrolan Proyek

Merencanakan dan membangun adalah suatu aktivitas yang dinamis, dan yang
dipengaruhi oleh bermacam-macam faktor. Karena itu curve S yang telah disetujui
sebagai pegangan untuk pelaksanaan harus secara periodik atau sesuai kondisi dicheck
kembali :

 Apakah waktu yang direncanakan telah ditepati.


 Akan ditepati dalam jangka panjang atau segera dan/atau.
 Nantinya akan ditepati (jangka panjang).
Bila perlu dapat diadakan perubahan baru untuk mengendalikan jalannya proyek seperti
yang dikehendaki.

1. Jarak Waktu Kontrol


Jarak waktu kontrol dapat dibedakan menjadi 2 macam rentang waktu yaitu :

 1 – 2 minggu untuk aktivitas yang kritis atau bisa kurang dari 1 minggu.
 2 – 4 minggu untuk aktivitas-aktivitas yang tidak kritis.
2. Cara Mengontrol
Dibedakan 3 cara mengontrol, sebagai berikut :

Untuk sebuah aktivitas yang akan dimulai : disajikan langkah- langkah cara mengontrol
seperti flow chart Gambar G-1.

17
 Untuk menguji pekerjaan yang seharusnya sudah dimulai : disajikan langkah-
langkah cara mengontrol seperti flow chart Gambar G-2.

18
 Uji pekerjaan yang seharusnya sudah selesai : disajikan langkah- langkah cara
mengontrol seperti flow chart Gambar G- 3.

19
Untuk monitoring dan pengontrolan proyek ini akan digunakan sistem informasi
pengendalian proyek yang dilaksanakan dengan suatu aplikasi berbasis komputer.
Monitoring dan pengendalian proyek dilakukan pada aspek-aspek berikut :

 Planning dan scheduling pekerjaan yang meliputi quantity, duration, dates,


network planning atau precedence Diagram Methode.
 Progress Performance.
 Schedule Control.
 Project cost control yang meliputi pelaporan status nilai kontrak vs aktual,
perhitungan pembayaran progress pekerjaan.
Unsur-unsur tersebut merupakan informasi dasar untuk memonitoring, pengendalian,
analisis dan manajemen proyek.

Pekerjaan pengendalian proyek ini diawali dengan pemasukan data- data proyek
(project data entry) yang akan menjadi acuan (baseline) dalam monitoring dan
pengendalian pelaksanaan proyek selanjutnya.

20
Data-data tersebut disimpan didalam database di kantor poyek, dan selalu di-update
untuk keperluan pelaporan dan analisa secara periodik. Berdasarkan target-target
pengendalian yang ditentukan sebelumnya maka dapat dilakukan analisa terhadap
permasalahan yang timbul dalam aspek skedul, progress dan pembiayaan proyek. Dari
analisa masalah tersebut dilakukan upaya perbaikan untuk membawa program proyek
kembali ke rencana semula. Gambar G –
4. Skematik diagramnya adalah sebagai berikut :

Informasi yang diperoleh dari pelaporan tersebut dapat dianalisa dan dijadikan bahan
dalam pengambilan keputusan manajemen proyek.

21
Pelaporan proyek dibuat dengan format dan prosedur yang standar untuk memperoleh
peningkatan efisiensi, efektifitas dan optimalisasi sinergi kerja, sehingga dapat
mencapai performansi dan kualitas akhir manajemen pembangunan proyek yang lebih
baik.

Manfaat utama lainnya dari sistem ini antara lain adalah :

a. Satker dapat memonitor dan mengendalikan proyek secara terintegrasi dengan


sistem yang ada.
b. Memberikan tambahan kapasitas untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas
pelayanan kepada pengguna jalan melalui penyelesaian pembangunan jalan beserta
fasilitas pendukung lainnya yang sesuai jadual dan alokasi biaya.

H. Sistim Informasi Manajemen proyek

Sistem informasi manajemen proyek pada hakekatnya adalah suatu sistem untuk
mendukung Pimpinan Proyek dalam memantau dan mengendalikan proyek.

Tujuan sistem ini untuk digunakan pihak Pemilik dalam mendapatkan informasi proyek
setiap saat atau secara berkala, cepat dan akurat. Sistem ini dibuat dan dikembangkan
berdasarkan studi dan evaluasi situasi dan kondisi yang dihadapi di lapangan serta
mengintegrasikan keinginan-keinginan dari pihak PPTK Fisik yang mewakili pihak
Pemilik Proyek tentang apa-apa yang mau dimonitor dan dikendalikan.

Di project-site setiap saat hasil pekerjaan fisik berkembang bertambah banyak dan
supaya perkembangannya terjadi menurut rencana, dimana rencana tersebut dijabarkan
dalam besaran uang dan besaran waktu. Khususnya untuk mengontrol mutu pekerjaan,
peranan sistem informasi manajemen proyek hanya sebagai penerus informasi saja.
Pengontrolan mutu pekerjaan dilakukan oleh petugas khusus dan harus dilaksanakan di
lapangan, tidak dapat dilaksanakan di kantor. Tolok ukur pengukuran mutu pekerjaan
adalah dokumen tender (Spesifikasi Pekerjaan).

22
Perkembangan pekerjaan yang terjadi selalu diikuti oleh perkembangan datanya atau
dimonitor dimana perkembangan suatu proyek selalu diikuti oleh perkembangan data
proyeknya. Volume data kian hari kian membengkak sesuai dengan perkembangan
pekerjaan secara fisik.

Data proyek sesungguhnya belum dapat memberikan informasi kepada Pemberi Tugas,
karena masih belum diolah, jadi masih mentah. Data proyek yang telah dikumpulkan
secara periodik kemudian diolah / diproses untuk dijadikan informasi proyek (laporan
proyek). Artinya dari laporan proyek dapat diketahui perkembangan pekerjaan yang
nyata terjadi (prestasi aktual). Dari laporan proyek ini PPTK Fisik baru dapat
mengevaluasi tentang perkembangan proyeknya, pertumbuhan dari tiap-tiap pekerjaan
di lapangan dengan diperbandingkan terhadap rencana.

PPTK Fisik mengendalikan proyeknya dengan keputusan-keputusan yang dibuat dan


diimplementasikan ke project site. Hasil dari implementasinya menciptakan data
proyek baru dan dengan demikian siklus project management control system berulang
kembali. Siklus ini baru berhenti apabila proyek telah selesai.

I. Pengendalian Mutu

Selama periode konstruksi, Konsultan akan senantiasa memberikan pengawasan,


arahan, bimbingan dan instruksi yang diperlukan kepada Kontraktor guna menjamin
bahwa semua pekerjaan dilaksanakan dengan baik, tepat kualitas untuk semua jenis
pekerjan baik untuk konstruksi flexible/regid pavement atau berupa pekerjaan beton
untuk pekerjaan jembatan dan pekerjaan lain, untuk itu akan diuraikan disini. Test
lapangan.

Setelah pekerjaan selesai dilaksanakan, produk tersebut perlu diadakan pengujian / test
lapangan seperti apa yang disebutkan dalam persyaratan pengujian.

Gambar I - 2 menunjukkan diagram pengendalian mutu guna memperjelas uraian di


atas.

18
5
I.1 Administrasi dan formulir-formulir.
Gambar I - 3 menunjukkan kelengkapan administrasi proyek yang umum digunakan.
Form-form yang diperlukan proyek antara lain sebagai berikut dibawah ini :

 Buku direksi
 Time schedule
 MCo (Mutual Check Awal)
Disamping itu kami lampirkan pula contoh-contoh form untuk pengendali mutu, request
of work dan lain-lain :

 Request & shop drawing


 Laporan harian
 Laporan mingguan
 Risalah rapat
 Berita acara opname pekerjaan
 Record cuaca
 Photo dokumentasi
 Change order
 Addendum
 Monthly certificate (MC)
 PHO (Provinsial Hand Over) / FHO (Final Hand Over)
 Dan lain-lain disesuaikan dengan kebutuhan proyek.
188
J. Pengendalian Kuantitas

Pengawasan kuantitas (Quantity Control), akan mengecek bahan- bahan / campuran


yang ditempatkan atau yang dipindahkan oleh Kontraktor atau yang terpasang.
Konsultan akan memproses bahan- bahan / campuran berdasarkan atas :

 Hasil pengukuran yang memenuhi batas toleransi pembayaran.


 Metode perhitungan.
 Lokasi kerja.
 Jenis pekerjaan.
 Tanggal diselesaikannya pekerjaan.

Setelah produk pekerjaan memenuhi persyaratan baik kualitas maupun elevasi dan
persyaratan lainnya, maka pengukuran kuantitas dapat dilakukan agar volume
pekerjaan dengan teliti / akurat yang disetujui oleh Konsultan sehingga kuantitas dalam
kontrak adalah benar diukur dan dibayar oleh Konsultan dan mendapat persetujuan
Permberi Tugas

Beberapa pengukuran pekerjaan tersebut antara lain :

1. Pengukuran Meter Panjang (m’)


Pengukuran dapat dilakukan dengan meteran, yaitu panjang, setelah penampang suatu
konstruksi telah sesuai dengan gambar yaitu dimensinya.

2. Pengukuran Meter Persegi (m2)


Pengukuran di lapangan dapat dilakukan dengan meteran, yaitu panjang dan lebar
setelah ketebalan memenuhi persyaratan tebal minimum atau toleransi yang dibenarkan
dalam spesifikasi.

3. Pengukuran Meter Kubik (m3)


Pengukuran di lapangan dapat dilakukan dengan meteran untuk panjang dan lebar.
Sedangkan untuk ketebalan dapat diukur dengan alat ukur atau core drill (untuk
hotmix), sehingga panjang, lebar, dan tebal menghasilkan volume yang akurat.

Gambar J – 1 menunjukkan diagram pengendalian volume pekerjaan guna


memperjelas uraian di atas.

189
K. Pengendalian Waktu

Di dalam proyek jalan, alat berat, tenaga kerja dan jumlah jam kerja perhari adalah sangat erat
sekali hubungannya dengan waktu pelaksanaan penyelesaian pekerjaan.

Dibawah ini adalah bagaimana pengendalian waktu perlu mendapat perhatian agar tidak
terjadi perpanjangan waktu yang tidak perlu yang akan memboroskan waktu, tenaga dan
biaya.

1. Schedule Kontraktor

Sebelum pekerjaan dimulai Konsultan akan mengecek schedule pelaksanaan yang dibuat
Kontraktor.

Apakah rencana kerja progress pekerjaan yang ditargetkan sudah layak dan realistis. Misalnya
dalam musim hujan, target pekerjaan lebih kecil bila dibandingkan pada musim kemarau
untuk pekerjaan pengaspalan misalnya untuk kondisi kerja yang sama.

Kemudian juga construction method, urutan kerja Kontraktor apakah sudah sistematis,
konsepsional dan benar.

Selanjutnya berdasarkan schedule Kontraktor yang sudah disetujui, Konsultan Pengawas akan
mengendalikan waktu pelaksanaan tersebut.

Dari time schedule tersebut bisa dijabarkan kedalam target harian, sehingga setiap hari apakah
target volume tersebut bisa tercapai atau tidak, bila target volume tersebut tidak tercapai maka
selisih volume harus diprogramkan/dikejar untuk schedule hari berikutnya.

Dengan time schedule yang dibuat dan disetujui itu bila dilaksanakan dengan sebagaimana
mestinya dan dikendalikan dengan baik maka diharapkan proyek bisa diselesaikan “on
schedule”.
2. Alat Berat (Heavy Equipment)

Untuk mengerjakan pekerjaan jalan, diperlukan alat berat, bisa kombinasi/beberapa jenis alat
dan jumlah alat yang mencukupi.

Pertama harus diketahui/dihitung kapasitas alat, kalau alat tersebut adalah suatu kombinasi,
maka kapasitas yang diperhitungkan adalah yang terkecil, misal untuk pengaspalan / overlay
hotmix, maka alat yang digunakan adalah AMP, Asphalt Sprayer, Ashpalt Finisher, Tendem
Roller, Pneumatic Tire Roller dan sejumlah Dump Truck. Dari alat tersebut dihitung produksi
nyata per jam, kemudian produksi terkecil yang digunakan untuk evaluasi pengendalian
waktu. Demikian pula peralatan pekerjaan beton baik di batching plant maupun alat angkut
beton ke lapangan harus dianalisis kapasitasnya agar sesuai dengan kebutuhan.

Untuk rencana sekian jam kerja per hari, apakah mampu alat tersebut menghasilkan produk
hotmix dan beton seperti volume yang ditargetkan.

Bila tidak tercapai maka perlu tindakan-tindakan antara lain :

 Menambah jumlah alat, atau


 Menambah jam kerja / overtime.
Sedemikian hingga volume pekerjaan yang direncanakan bisa diselesaikan dalam waktu yang
ditentukan.

3. Tenaga Kerja

Demikian juga untuk tenaga kerja, untuk suatu pekerjaan diperlukan tenaga kerja yang
mencukupi, sehingga pekerjaan akan bisa diselesaikan oleh tenaga kerja sesuai dengan jadual /
waktu yang ditentukan. Bila kondisi pekerjaan diperkirakan tidak bias diselesaikan, maka
tenaga kerja perlu ditambah atau kerja dua shift atau kerja lembur / overtime.
4. Jumlah Jam Kerja

Untuk penyelesaian suatu pekerjaan, tergantung juga pada jam kerja per hari. Jumlah jam
kerja yang sedikit akan menghasilkan produk yang lebih kecil dari pada bila per hari jam
kerjanya lebih banyak.

Jam kerja perlu disesuaikan dengan kapasitas alat, tenaga kerja, sedemikian hingga volume
pekerjaan yang ditargetkan bisa diselesaikan. Kalau suatu pekerjaan tidak bisa diselesaikan
dalam satu hari siang, maka perlu untuk kerja malam/over time.

Untuk administrasi pengendalian waktu, agar pengendalian dapat dicapai secara optimal maka
Konsultan memahami secara sugguh- sungguh “Network Planning” yang umumnya telah
dibuat oleh Kontraktor dengan metode lintas kritis (Critical Path Method/CPM).

Mengingat sangat pentingnya time schedule ini dalam suatu pekerjaan pengawasan, maka
Konsultan akan menganalisa secara rutin time schedule dari Kontraktor dan akan membantu
Kontraktor dalam mereview dan menyusun kembali time schedule tersebut bila memang
diperlukan.

Pengendalian schedule pelaksanaan lainnya dapat menggunakan “Barchart/S-Curve” yang


biasa dan juga dapat digunakan “Vector Diagram” yang baik/cocok untuk pekerjaan jalan
karena dapat mengetahui/ menunjukkan lokasi dan waktu. Schedule ini, pada arah “absis”
menunjukkan lokasi atau STA, sedangkan arah “ordinat” menggambarkan waktu.

L. Pengendalian Biaya Pelaksanaan Proyek

Didalam kontrak pelaksanaan pekerjaan tercantum :

 Biaya proyek.
 Estimated quantity/volume pekerjaan.
 Harga satuan pekerjaan.
Guna pengendalian biaya pelaksanaan proyek, hal-hal pokok yang perlu diperhatikan antara
lain sebagai berikut :
 Pengukuran hasil pekerjaan, perlu dilakukan dengan akurat dan benar-benar sehingga
kuantitas yang dibayar sesuai dengan gambar rencana. Dengan demikian volume dalam
kontrak tidak dilampaui yang pada akhirnya biaya yang dikeluarkan sudah sesuai dengan yang
dianggarkan.
 Pekerjaan yang bisa dibayar adalah pekerjaan yang sudah diterima dari segi
pengukuran/kuantitas dan kualitas, sehingga biaya yang dikeluarkan adalah benar-benar untuk
pekerjaan yang sudah memenuhi spesifikasi.
 Pekerjaan yang bisa dibayar adalah pekerjaan yang tercantum dalam kontrak dan harga
satuan pekerjaan yang sudah ada dalam kontrak pelaksanaan, sehingga biaya proyek
dibayarkan sesuai dengan item pekerjaan yang ada dalam kontrak.

M. Pemeriksaan Monthly Certificate (MC)

Kontraktor harus menyerahkan suatu nilai estimasi dari pekerjaan yang dilaksanakan kepada
Site Engineer pada setiap akhir bulan yang berjalan, yang selanjutnya disebut sebagai
“sertifikat bulanan (Monthly Certificate – MC)”, Format sertifikat bulanan harus sesuai
dengan standar atau diusulkan oleh Konsultan dan disetujui oleh Pemberi Tugas.

Site Engineer akan memeriksa kemajuan pekerjaan yang diajukan pada sertifikat bulanan dan
apabila telah dianggap sesuai dengan sebenarnya yang telah terjadi di lapangan, selanjutnya
dapat disetujui untuk menandatangani bersama oleh wakil Kontraktor, Konsultan, dan Satker /
PK Fisik.

Prosedur pembuatan MC dapat dilihat pada diagram alir Gambar M- 1.


N. Pemeriksaan Pembayaran Akhir

Tim Pengawas Teknik akan memeriksa kembali seluruh pembayaran yang telah lalu.
Pembayaran terdahulu yang sudah disetujui apabila terdapat kesalahan masih dapat dikoreksi
pada pembayaran berikutnya.

Dalam tahap pembayaran akhir, perlu diperiksa dan dievaluasi kuantitas yang telah dibayar
sebelumnya, sehingga kuantitas / volume yang dibayar dalam pembayaran akhir merupakan
final quantity yang benar.

O. Prosedur Perubahan (Contract Change Order)

Perubahan terhadap pekerjaan dapat dimulai oleh Engineer atau Kontraktor dan harus
disetujui dengan suatu Perintah Perubahan yang
ditandatangani oleh kedua belah pihak. Jika dasar pembayaran yang ditetapkan dalam suatu
Perintah Perubahan tersebut menyajikan suatu perubahan dalam struktur Harga Satuan Jenis
Pembayaran atau suatu perubahan yang diperkirakan dalam Jumlah Kontrak, maka Perintah
Perubahan harus dirundingkan dan dirumuskan dalam suatu Addendum.

P. Sertifikat Penyelesaian Akhir

Bila Kontraktor menganggap pekerjaan akan selesai, termasuk semua kewajiban dalam
Periode Jaminan, maka Kontraktor harus membuat permohonan untuk serah terima pertama.
Setelah penyelesaian dari setiap pekerjaan perbaikan yang diminta oleh Panitia Serah Terima,
dan dilanjutkan dengan pemeriksaan akhir terhadap pekerjaan tersebut, maka Konsultan
membantu mempersiapkan Sertifikat Penyelesaian Akhir.

Q. Pernyataan Perhitungan Akhir

Kontraktor harus membuat permohonan untuk pembayaran perhitungan akhir, bersama-sama


dengan semua rincian pendukung sebagaimana diperlukan oleh Engineer.

Setelah peninjauan kembali oleh Engineer dan jika diperlukan, amandemen oleh Kontraktor,
Engineer akan mengeluarkan suatu pernyataan Perhitungan Akhir yang disetujui untuk
pembayaran oleh Pemberi Tugas.

R. Addendum Penutup

Berdasarkan pada rincian Pernyataan Engineer mengenai Perhitungan Akhir. Setelah


memperoleh tanda tangan Kontraktor, Engineer akan menyampaikan addendum penutupan
tersebut kepada Pemberi Pekerjaan untuk ditandatangani bersama-sama dengan Pernyataan
Perhitungan Akhir yang disetujui.

S. Manajemen Lalu-Lintas dan Keselamatan Kerja

Pekerjaan ini yang dengan volume lalu lintas yang cukup padat memerlukan pengaturan lalu
lintas dan metoda pelaksanaan yang lebih
khusus dan teliti, baik pada saat pelaksanaan pekerjaan survai maupun pelaksanaan pekerjaan
konstruksinya agar arus lalu lintas yang ada tetap terjaga kelancarannya dan pemakai jalanpun
merasa aman melewatinya sesuai dengan tujuan dari pembangunan itu sendiri.

Manfaat yang didapatkan pada pemeliharaan lalu lintas yang baik selama pelaksanaan
memberikan keselamatan dan kenyamanan lalu lintas yang lebih baik pula.

Situasi semacam itu sangat membantu untuk menghilangkan persoalan-persoalan yann


diakibatkan oleh kacaunya lalu lintas yang pada gilirannya akan menghambat pelaksanaan
pembangunan proyek itu sendiri.

Untuk itulah pada proyek pembangunan tersebut diatas perlu dibuat sistem pengaturan lalu
lintas yang baik dan memenuhi standar.

Penyajian rencana pemeliharaan lalu lintas selama masa pelaksanaan pembangunan jalan
dimaksudkan menyampaikan gambaran masalah yann ada dan yang diperkirakan terjadi pada
masa pelaksanaan.

Pada tahap pelaksanaan pembangunan, diperkirakan akan ada beberapa aktivitas antara lain :

 Pemasangan pagar untuk pengaman dan kerapian pekerjaan pada kedua sisi jalan.
 Pekerjaan perkerasan jalan.
 Pembongkaran beton.
 Pemasangan form work.
 Pengecoran beton.
 Pekerjaan tanah, menggali dan mengangkut keluar lokasi.
 Pekerjaan lainnya.

Semua kegiatan tersebut di atas jelas menjadi kendala bagi kelancaran dan keselamatan kerja
bagi pemakai jalan maupun bagi pekerja proyek.
Oleh sebab itu penanganan khusus sangat diperlukan agar tercapai hasil yang optimal dan
sesedikit mungkin akibat buru yang ditumbulkannya.

Untuk mengantisipasi pengurangan lebar jalur efektif, bahu jalan dibagian luar yang sudah
diperkeras bisa dipakai sebagai jalur lalu lintas khusus untuk kendaraan penumpang sedan dan
jeep atau sejenisnya dan alternatif lain dengan membuat jalur baru dengan memanfaatkan
areal yang kosong disekitar lokasi pekerjaan tersebut.

Demikian pula mengenai penanganan pembuangan tanah hasil galian haruslah dengan
penanganan yang baik, misalnya dimana Dump Truck harus masuk dan keluar dari lokasi
proyek. Tidak kalah pentingnya dari penanganan tersebut di atas adalah cara pemuatan dan
transportasi pembuangan tanah hasil galian haruslah memperhatikan wawasan lingkungan.

Tanah yang dimuat di atas Dump Truck harus diberi penutup agar tidak tercecer di atas
permukaan jalan yang ada, sebab bila turun hujan akan menjadi licin dan dapat menyebabkan
kecelakaan lalu lintas yang pada gilirannya menghambat arus lalu lintas yang ada.

Didalam pelaksanaan traffic management untuk proyek ini kriteria penanganan dibagi menjadi
2 bagian :

1. Pelayanan Umum

Indikasi yang diperlukan dalam pelayanan umum adalah sebagai berikut :

a. Efektivitas Sistem Informasi

Sistem informasi bersifat pemberitahuan kepada calon pemakai jalan selama pelaksanaan
yang tujuannya memberikan informasi bahwa akan ada proyek pembangunan.

Sistem ini dapat diwujudkan dalam 2 media, yaitu :

 Melalui media cetak yang bersifat pengumuman.


 Pembagian “pamflet”

b. Mengurangi Kemacetan

Dalam mengatasi adanya kemacetan lalu lintas, dapat dilakukan dengan perambuan sementara
selama pelaksanaan pekerjaan dan dengan menyiagakan satuan penanggulangan gangguan.

2. Keselamatan Kerja

Indikasi diperlukan dalam keselamatan kerja meliputi hal-hal sebagai berikut :

a. Disiplin Kerja
 Pengendalian pelaksanaan di lapangan secara ketat dan terus menerus dimonitor
dengan perlengkapan komunikasi untuk dapat saling berhubungan setiap saat dengan cepat.
 Pengendalian waktu dimaksudkan agar penyelesaian proyek sesuai jadual yang telah
ditetapkan.
b. Peniadaan Kecelakaan Fatal
 Pembuatan sesuai dengan standar perambuan.
 Pemasangan pagar pengaman yang juga berfungsi sebagai penciptaan kerapian kerja
sepanjang daerah proyek (kiri dan kanan) dan diberi lampu-lampu agar mudah terlihat pada
malam hari.
Kecelakaan lalu lintas adalah aspek negatif dari meningkatnya mobilitas transportasi.
Keseimbangan antara mentalitas pengemudi, kemajuan teknologi kendaraan dan penyediaan
prasarana lalu lintas merupakan unsur-unsur yang menentukan mobilitas transportasi yang
semakin dinamis, cepat dan semakin nyaman sesuai dengan tuntutan keadaan.

Ketidak seimbangan dari salah satu unsur tersebut di atas dalam beradaptasi akan
menyebabkan kesenjangan yang cenderung kepada terjadinya kecelakaan.
Bekerja pada sebuah proyek jalan yang sedang beroperasi baik pada tahapan perencanaan
maupun tahap pelaksanaan menanggung resiko tinggi pada terjadinya kecelakaan yang setiap
saat bisa terjadi. Untuk itulah maka diperlukan persyaratan keselamatan kerja pada
pelaksanaan proyek yang berbeda pada ruas jalan yang sedang beroperasi.

Dalam pelaksanaan proyek ada beberapa faktor keselamatan kerja yang terkait antara lain :
Faktor perambuan darurat, Sistem transportasi pada lokasi proyek, Atribut pada tenaga kerja,
Astek, Dan lain-lain.

Pada tahap pelaksanaan, yang mana banyak aktivitas jenis pekerjaan yang ditangani dan
melibatkan banyak tenaga yang bekerja, maka keselamatan kerja dari pada semua eksponen
terkait menjadi faktor utama dari kelancaran progress yang hendak dicapai.

Pada tahap ini, gambaran pencapaian keselamatan kerja dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Perambuan Darurat

Seperti pada tahap perencanaan, maka perambuan pada tahap pelaksanaan pun mempunyai
andil besar dalam keselamatan kerja yang memberikan rasa aman dalam melaksanakan
pekerjaan bagi para pekerja yang berada pada daerah perambuan.

Rambu-rambu darurat yang diperlukan pada tahap pelaksanaan misalnya rambu peringatan,
rambu perintah dan larangan serta rambu petunjuk, juga rubber cone serta lighting yang
pengaturan letak penempatan serta jaraknya seperti ditunjukkan pada keperluan “rambu
darurat”.

Disamping itu diperlukan pagar pembatas antara daerah kerja dan lajur yang beroperasi yang
diletakan sepanjang daerah kerja. Pagar pembatas dicat dengan warna crossing “kuning-
biru” dan pada setiap jarak tertentu diberi tanda “spot light” atau cat berpendar yang bisa
terlihat bila kena sorot lampu pada malam hari. Bisa juga dengan lampu-lampu sebagai
pengganti spot light.

2. Sistem Transportasi Pada Lokasi Proyek

Pengaturan transportasi, adalah sebagai berikut :

 Pintu keluar/masuk kendaraan proyek pada daerah kerja ditentukan, rute perjalanan
pembuangan dibuat searah dengan arus lalu lintas, pada prinsipnya tidak boleh ada arah
crossing sehingga tidak ada konflik. Dump truck yang menunggu giliran pengangkutan, antri
dan berderet ke belakang namun harus masih tetap dalam area perambuan.

 Untuk pengangkutan tanah, tiap dump truck harus dilengkapi dengan penutup bak
belakang. Ini dimaksudkan agar tanah yang diangkut tidak tercecer dimuka jalan, sebab tanah
yang tercecer tersebut sangat licin bila sedikit saja kena air hujan dan ini dapat mengakibatkan
kecelakaan fatal.

 Mobilisasi peralatan berat ke lapangan juga harus memperhatikan keselamatan dari


peralatan maupun operatornya, dan bila perlu minta bantuan pengawal dari pihak kepolisian.

3. Atribut Pada Tenaga Kerja

Semua tenaga kerja disarankan mengenakan atribut yang mudah dikenal dan terlihat dari jarak
yang cukup jauh dan ini bisa terpenuhi dengan pemakaian baju rompi refleksionis warna
orange menyolok yang harus selalu dikenakan pada saat melaksanakan tugas.

Penggunaan topi di lapangan juga dianjurkan, sebab sangat membantu mengurangi keletihan
akibat terik matahari. Bekerja pada kondisi badan letih yang dipaksakan apalagi di jalan yang
padat lalu lintas yang beroperasi sangat membahayakan dan mengurangi akurasi kerja.

4. Astek (Asuransi Tenaga Kerja)

Jaminan perlindungan keselamatan tenaga kerja pada daerah beresiko tinggi adalah mutlak
diperlukan. Setiap tenaga kerja tersebut harus dijamin dengan asuransi tenaga kerja yang lebih
dikenal dengan Astek.

T. Pengaturan Lalu-Lintas Selama Kontruksi

1. Umum

a) Pertimbangan Lalu Lintas

Data lalu lintas adalah informasi utama dalam perencanaan pengaturan lalu lintas untuk setiap
tahap pelaksanaan konstruksi. Data lalu lintas yang dibutuhkan meliputi (paling tidak) :

 Karakteristik lalu lintas (arah arus lalu lintas);


 Volume lalu lintas untuk setiap jenis kendaraan;
 Volume lalu lintas dipersimpangan (di setiap jalannya);
 Tipe kendaraan yang melewati proyek;
 Rute dan jadual bus kota; dan
 Rambu dan marka jalan yang ada.

b) Pertimbangan Kondisi Jalan yang Ada

Survai dan studi yang harus dilakukan untuk mengetahui kondisi jalan yang ada secara lebih
detail meliputi :

 Lebar tiap lajur;


 Klasifikasi dari lajur jalan;
 Jumlah lajur;
 Lokasi dan ukuran median;
c) Pertimbangan Kondisi Utilitas Umum

Jaringan listrik, pipa air bersih dan telepon yang ada saat ini harus terlihat / tercantum dalam
gambar rencana baik pada gambar denah maupun profil bangunan. Hal lain yang penting
adalah data yang lebih detail tentang tipe, ukuran, jumlah dan elevasi dari jaringan atau kabel
harus diteliti bersama - sama dengan instansi yang terkait secepat mungkin.

Berikutnya, selain tentang jaringan listrik, air bersih dan telepon, informasi tentang sistem air
buangan (kotor/limbah), saluran drainase dan fasilitas lain di sepanjang jalan yang akan
mempengaruhi pelaksanaan konstruksi harus dipelajari dengan seksama.

Semua penelitian dan survai tentang utilitas umum termasuk sistem drainase dan fasilitas lain
yang mempengaruhi konstruksi harus dilaksanakan sebelum konstruksi dimulai.

2. Kriteria Pengaturan Lalu Lintas

a) Tujuan Pengaturan Lalu Lintas

Adalah tidak mungkin untuk menghilangkan gangguan pelaksanaan konstruksi terhadap


pemanfaat jalan dan penduduk yang tinggal di sekitar proyek, untuk pekerjaan yang terletak di
daerah lalu-lintasnya.

Oleh karenanya segala usaha harus dilakukan untuk mengurangi gangguan terhadap lalu-
lintas di lokasi pekerjaan. Semua kegiatan konstruksi harus direncanakan dan dijadualkan
secara baik dengan bekerjasama dengan instansi yang berwenang dan instansi lain yang
terkait.

Semua bangunan sementara, pengaturan lalu-lintas dan perlengkapannya (rambu lalu-lintas)


serta fasilitas untuk keamanan pemakai jalan, termasuk staff dan pekerja Kontraktor didalam
areal proyek, harus direncanakan, dibangun dan dipasang sesuai dengan hukum, dan
peraturan dari Dep.PU

b) Fasilitas untuk Pengaturan Lalu Lintas

Dalam mengadakan fasilitas konstruksi/pembangunan, dengan kata lain, untuk mengatur


lalu-lintas berikut ini peralatan
keselamatan dan fasilitas/rambu-rambu yang akan digunakan dan dipasang di lokasi selama
pelaksanaan pekerjaan berlangsung.

 Klasifikasi Peralatan Pengaturan lalu lintas

Peralatan berikut, tetapi tidak terbatas hanya ini, yang akan dipergunakan.

 Penghubung tetap;
 Penghubung yang dapat dipindah;
 Traffic Cones;
 Rambu-rambu konstruksi (yang bersifat tetap);
 Rambu konstruksi yang dapat dipindah-pindah;
 Rambu-rambu peringatan & marko reflektor;
 Lampu kedip (flasing light);
 Pagar (Fence);
 Orang pemegang bendera (pengatur); dan
 Papan (rambu) petunjuk.
 Pemasangan Peralatan

Item berikut ini akan diatur berdasarkan peraturan lalu-lintas yang berlaku :

 Lokasi dan batas pemasangan peralatan dan rambu-rambu


 Batas transisi untuk pengaturan lalu-lintas
 Jarak antara cones dengan penghalang
 Pengaturan/pemasangan pagar
 Pemasangan Rambu-rambu Darurat Pekerjaan

Agar lalu-lintas lebih teratur, maka perlu dipasang rambu- rambu darurat pekerjaan dengan
jarak-jarak yang sudah ditetapkan.

c) Penanganan dan Pengaturan Terhadap Jaringan Utilitas yang Ada

Tiga langkah utama yang akan dilakukan dalam menangani jaringan utilitas yang berada di
lokasi proyek adalah :
 Pemindahan Permanen (Tetap)

Pemindahan permanen dari jaringan utilitas akan dilakukan oleh instansi yang bersangkutan
(atau perumahan seperti PLN, PDAM dan lain-lain) yang memiliki utilitas tersebut.

 Pemindahan Sementara Selama Masa Konstruksi

Pemindahan sementara selama masa konstruksi dan dikembalikan ketempat semula atau
ketempat yang baru setelah masa konstruksi selesai akan dilakukan oleh instansi (perusahaan)
yang memiliki utilitas tersebut.

 Peralatan Pengamanan Khusus Akan Diberikan Kepada Jaringan Utilitas Selama Masa
Konstruksi

Untuk hal ini tidak diperlukan lahan atau tempat khusus untuk relokasi baik untuk sementara
maupun menetap, pengamanan khusus untuk menghindari kerusakan dari utilitas tersebut
akan dilakukan oleh Kontraktor .

Disamping itu, jika sistem drainase yang ada, saluran di sisi jalan dan fasilitas drainase
lainnya terganggu atau rusak selama masa konstruksi, semua sistim dan fasilitas ini harus
diperbaiki oleh Kontraktor sesuai dengan standard dan kebutuhan instansi pemerintah yang
berwenang.

3. Urutan Pelaksanan Konstruksi dan Pengaturan Lalu Lintas

Rencana pengaturan lalu-lintas harus dibuat sesuai dengan tahapan dan program pelaksanaan
pembangunan. Pengaturan lalu-lintas akan meliputi, walaupun tidak terbatas pada hal-hal
berikut :

 Untuk pelaksanaan pembangunan, lokasi dan areal yang dibutuhkan seminimum


mungkin dengan cara pemasangan peralatan dan rambu-rambu lalu-lintas.
 Rencana penempatan peralatan dan rambu lalu-lintas untuk setiap tahapan konstruksi.
 Pengalihan lalu-lintas, arus lalu lintas.
 Ringkasan tentang rencana pengaturan lalu-lintas untuk setiap tahapan konstruksi
termasuk klasifikasi (tipe), jumlah dan dimensi dari penghalang, traffic cones, rambu
konstruksi, lampu kedip, marka, dan lain-lain.

4. Penerapan (Pelaksanaan)

a) Rencana Pengaturan Lalu Lintas

Pelaksanaan konstruksi dalam sub koridor ruas jalan yang akan dibangun harus diteliti secara
menyeluruh untuk kemudian menyusun rencana pengaturan lalu lintas yang dibutuhkan.

Rencana pengaturan lalu lintas harus sedemikian rupa sehingga masih layak untuk
dilaksanakan dan memberi dampak yang baik terhadap lalu lintas, selama pengembangan
ruas jalan yang ada.

b) Pemberitahuan Tentang Rencana Pengaturan Lalu Lintas

Bila rencana pengaturan lalu lintas yang meliputi komponen proyek, pembatasan areal untuk
setiap tahapan, jalan sementara, alternatif pengalihan, batasan kecepatan dan peralatan
pemberitahuan dan peringatan lainnya telah dibuat dan disetujui oleh instansi pemerintah yang
berwenang, maka rencana tersebut harus diumumkan baik melalui radio, atau media
komunikasi lain yang dapat diketahui oleh pemanfaat jalan, penduduk setempat dan pekerja
Kontraktor.

Dengan pengumuman ini, setiap pengendara mobil, pejalan kaki, penduduk disekitarnya dan
juga pekerja Kontraktor akan mengetahui dan mengerti tentang rencana pengaturan lalu lintas
ini, sehingga akan mengurangi gangguan terhadap lalu lintas.

c) Pembentukan Grup Koordinasi Lalu Lintas

Grup Koordinasi Pengaturan Lalu Lintas (GKPL) harus memperhatikan tentang Strategi
Rencana Pengaturan Lalu Lintas untuk mengurangi gangguan akibat pelaksanaan konstruksi
paket dalam proyek ini. GKPL harus dibentuk dari perwakilan
instansi-instansi seperti berikut ini :

 DISHUB;
 PEMDA setempat;
 Staf Satker / PK Fisik;
 Kepolisian;
 Konsultan Supervisi; dan
 Kontraktor.
Sebelum pelaksanaan konstruksi, rencana dan faktor utama dalam pengaturan lalu lintas harus
didiskusikan dan disetujui oleh GKPL. Selama masa konstruksi GKPL harus mengadakan
pertemuan secara berkala atau saat lain yang dianggap penting untuk mendiskusikan dan
kesepakatan untuk setiap masalah pengaturan lalu lintas.

Jika GKPL tidak dapat mengambil keputusan (kesepakatan), masalah ini harus dibawa ke
forum yang lebih tinggi agar pelaksanaan konstruksi dapat berjalan dengan lancar .

d) Pembentukan Grup Koordinasi Utilitas

Grup Koordinasi Utilitas (GKU) harus memperhatikan masalah relokasi yang merupakan hal
penting dalam pelaksanaan konstruksi paket proyek ini. GKU harus terdiri dari wakil-wakil
pemerintah, wakil dari perusahaan pengelola utilitas (PLN, PDAM dll), Konsultan Supervisi
dan Kontraktor. Setiap persoalan utilitas harus didiskusikan, disetujui dan diputuskan oleh
semua anggota GKU.

e) Kerjasama yang Baik Antar Bagian yang Terlibat

Hal yang harus diperhatikan, berhasil atau tidaknya pengaturan lalu lintas ini bergantung pada
kerjasama yang baik antara pengendara kendaraan, pejalan kaki, penghuni setempat dan
pekerja Kontraktor yang akan terkena langsung oleh rencana pengaturan lalu lintas.
Rencana pengaturan lalu-lintas harus disesuaikan dengan situasi lapangan dari waktu ke waktu
pada setiap tahap pelaksanaan konstruksi. Perbaikan dari Rencana Pengaturan Lalu-lintas
harus disetujui dan disepakati oleh Konsultan dan GKPL.

Konsultan Supervisi harus memonitor dan mengontrol secara rutin apakah peralatan pengatur
lalu-lintas beserta rambu- rambunya benar- benar dilakukan oleh Kontraktor.

Sebagai tambahan, biaya yang cukup (ongkos) harus disediakan agar Kontraktor dapat
memasang peralatan pengaturan lalu- lintas baik dalam jumlah maupun variasi (tipe) sesuai
dengan Rencana Pengaturan lalu-lintas yang telah disepakati oleh semua pihak (GKPL) dan
disetujui oleh DLLAJ agar pengaturan lalu- lintas dapat dilaksanakan secara optimum agar
pelaksanaan konstruksi di lapangan dapat berjalan dengan lancar.

Mengingat pentingnya Astek pada pelaksanaan pekerjaan tersebut maka Astek tidak bisa
dipisahkan dari dokumen kontrak, jadi merupakan satu kesatuan dalam dokumen kontrak.

U. Pengaturan Tentang Pekerjaan Fisik Proyek

a. Pematokan dan Pengukuran


Suatu pembangunan membutuhkan pelaksanaan seluruh elemen- elemennya pada posisi yang
benar.

Untuk memindahkan suatu Gambar Rencana dari atas kertas ke suatu bangunan di lapangan,
maka dibutuhkan :

 Disana harus ada sejumlah titik kontrol pengukuran yang harus dikaitkan pada suatu
sistem koordinat yang tetap;
 Perencanaan konstruksi harus dikaitkan pada sistem koordinat yang sama.

Apabila terdapat ketidak-jelasan informasi dan menimbulkan keraguan interpretasi, maka


Pengawas Lapangan harus menghubungi perencananya untuk mendapatkan kejelasan.
Kontraktor bertanggung
jawab dalam penentuan dan pematokan secara keseluruhan, sedang Pengawas Lapangan harus
memastikan bahwa Kontraktor mendapatkan informasi yang tepat serta menyiapkan titik-titik
kontrol yang dipasang.

Pengukuran Horizontal

Pengukuran horizontal didasarkan baik pada sistem kontrol garis ataupun sistem koordinat,
namun bila dibutuhkan dapat merupakan kombinasi dari kedua sistem diatas.

Pengukuran Vertikal

Ketinggian permukaan tanah dapat diukur dari titik Bench Mark. Geometri vertikal garis
kontrol biasanya telah ditentukan. Data ini merinci rangkaian titik tangen vertikal, ketinggian
dan kemiringan permukaan akhir.

Titik Kontrol Survai

Suatu jaringan titik kontrol survai ditentukan untuk mencakup seluruh daerah proyek, dan
ditempatkan pada posisi yang tepat didalam pekerjaan konstruksi. Jarak antara titik-titik
kontrol dianjurkan kira-kira 50 meter.

Titik-titik kontrol survai sebaiknya berada dekat dengan lokasi pekerjaan tetapi bebas dari area
kegiatan, dimaksudkan untuk menghindari kemungkinan adanya pergeseran posisi akibat
aktivitas pekerjaan termasuk pengoperasian dari peralatan. Untuk itu letak titik- titik kontrol
tersebut harus selalu dicek secara teratur. Perubahan letak titik kontrol juga dapat terjadi pada
dasar tanah, pada timbunan pelapisan tanah yang mudah mampat atau proses dalam tanah itu
sendiri, seperti proses yang terjadi akibat besarnya variasi kadar kelembaban.

Penentuan Elemen-elemen Struktur

Letak dari elemen-elemen utama ditentukan berdasarkan pada sistem referensi yang digunakan.
Titik offset referensi harus ditetapkan untuk tiap pilar dan kepala jembatan. Letak dan jarak
offset tiap-tiap titik referensi harus hati-hati diputuskan dan dikenali di lapangan dan untuk
menyiapkan tahap penentuan kembali yang mudah bagi letak pilar dan kepala jembatan
selama pelaksanaan pekerjaan sehingga titik-titik ini tidak terganggu.

Letak elemen-elemen kecil lain seperti kerb, parapet, galian drainase ditentukan berdasarkan
pada letak elemen-elemen dengan mempertimbangkan pengukuran.

Penempatan dan pematokan letak elemen-elemen yang telah ditentukan harus diperiksa.
Pemeriksaan ini harus dilakukan secara terpisah dan dilakukan oleh Staf Engineer dengan
menggunakan peralatan lain yang berbeda dengan peralatan yang digunakan pada saat
penempatan dan pematokan awal.

Bagi Kontraktor yang melaksanakan pemeriksaan ulang atas hasil pekerjaannya sendiri,
dianjurkan untuk menggunakan metoda lain yang berbeda dengan metoda yang telah
digunakan pada saat awal penempatan dan pematokan. Untuk menghindari kesalahan dari
ketidak-tepatan identifikasi patok, ketidak-tepatan penandaan atau kesalahan dalam
melaksanakan survai, maka pengukuran jarak dan beda tinggi dilakukan dengan memeriksa
hasil pekerjaan dari titik awal suatu sisi sampai pada titik akhir pada sisi yang lain, kemudian
diikatkan pada titik kontrol hasil survai pertama. Pemeriksaan ini tidak diperkenankan
dilakukan hanya dengan mengukur dari satu titik akhir saja atau dua titik akhir pada sisi yang
terpisah.

Penentuan dan pematokan posisi pondasi merupakan yang paling kritis. Beberapa unsur-unsur
penting seperti jarak antara beton kopel tiang (pile cap) harus selalu diperiksa ulang sesuai
dengan ukuran bangunan atas, sebelum pekerjaan konstruksi dimulai, terutama bila bangunan
atas tidak horizontal.

Pada penentuan dan pematokan kolom-kolom, ketegakan dapat dikontrol dari pangkal kolom
yang dibuat secara akurat, pengukuran dengan unting-unting atau bila mungkin dapat
dilakukan dengan
Theodolit 2 arah.

Ketinggian kolom juga dapat dikontrol dengan pita ukur atau dengan cara pengukuran beda
tinggi (levelling).

Posisi horizontal Crosshead dapat ditentukan dari titik tetap di puncak kolom menggunakan
koordinat-koordinat atau dari posisi garis poros yang ditransfer dari dasar dengan
menggunakan Theodolit.

Untuk landasan, ditempatkan secara tepat pada dasarnya yang telah diberi tanda garis tengah.
Beberapa perencanaan mensyaratkan balok atau gelegar didukung pada landasan sementara.
Penentuan landasan sementara dilakukan dengan cara yang sama seperti landasan yang tetap.

Titik-titik untuk penentuan balok dan gelegar dipindahkan dari permukaan tanah ke balok
melintang (cross head).

Pengukuran horizontal lantai ditentukan dari garis tengah yang ditransfer ketempat yang
sesuai pada pekerjaan tetap seperti balok melintang (cross head), dinding, pelat lantai dan
sebagainya.

b. Material / Bahan Beton Semen

Konsultan Supervisi harus memastikan bahwa Kontraktor memenuhi syarat-syarat teknik


yang berhubungan dengan pemakaian, penyimpanan dan umur semen.

Agregat

Pemilihan agregat yang sesuai sangat penting pada produksi beton yang baik. Agregat beton
harus terdiri dari partikel-partikel yang bersih, keras dan tahan serta cukup kuat untuk
menahan beban yang diterima oleh beton. Pada umumnya, agregat tersebut terdiri dari pasir
atau kerikil alam, atau batu pecah.
Agregat beton harus :

 Cukup kuat dan keras untuk dapat menghasilkan beton dengan kekuatan tekan yang
memenuhi syarat, dan tahan terhadap abrasi;
 Bersih atau bebas dari kotoran seperti zat-zat organik, karena dapat menghambat
pembekuan dan pengerasan beton. Tidak mengandung lanau dan lempung karena dapat
memperlemah beton. Partikel-partikel yang lemah dan lunak dapat mengurangi kekuatan
beton dan dapat hancur bila terbuka terhadap cuaca. Lempung atau bahan lemah lainnya yang
menutupi permukaan agregat dapat mengurangi ikatan antara agregat dan pasta elemen.
Gradasi

Agregat yang bergradasi baik akan menghasilkan beton yang mudah dikerjakan agregat yang
tidak memenuhi gradasi yang disyaratkan cenderung untuk terjadi pemisahan (segregation)
dan airnya akan merembes keluar (bleeding).

Gradasi pasir dimana satu atau dua ukuran partikel sangat dominan harus dihindarkan. Pasir
demikian mempunyai kadar udara yang besar, oleh karena itu memerlukan pasta semen dalam
jumlah besar untuk dapat menghasilkan campuran yang dapat dikerjakan dengan baik.

Bentuk Partikel dan Tekstur Permukaan

Bentuk partikel dan agregat akan kemampuan pengerjaan pada beton. Partikel serpihan
(flakey) bersudut tidak hanya menyulitkan dalam pengerjaan tetapi juga menyebabkan
pemisah, maka harus dihindari. Kekuatan maksimum, dengan sedikit kesulitan dalam
pengerjaan, akan dihasilkan oleh agregat pecah (crushed) dengan pelekatan permukaan dan
mempengaruhi antara muka batuan yang tidak rata.

Ukuran Maksimum

Penghematan yang paling besar didapatkan bila ukuran agregat maksimum terbesar
digunakan. Faktor-faktor yang membatasi gradasi
adalah kemampuan peralatan pengaduk, pengangkat dan pengecoran untuk dapat menangani
ukuran-ukuran lebih besar, dan jarak bebas (spacing) antara acuan dan tulangan. Ukuran
agregat maksimum tidak boleh melebihi dua pertiga jarak bebas antara tulangan atau tiga
perempat selimut beton hingga penulangan. Dalam syarat-syarat teknik, penggunaan beton
pada berbagai bagian pekerjaan diberi batasan yang menggambarkan batas-batas tersebut.

Air

Air yang dipakai untuk beton tidak boleh mengandung garam, larutan zat organik, atau bahan
lain yang akan mengganggu hidrasi semen.

Air yang dapat diminum biasanya memuaskan. Jika ada keraguan, suatu batch percobaan
beton harus dibuat dan diuji untuk membandingkan tingkat pengerasan dan kekuatan
ultimatenya dengan beton serupa yang dibuat dengan air murni I segar.

Air bau tidak boleh digunakan menyebabkan korosi pada penulangan, karena menyebabkan
korosi pada penulangan.

Udara

Kehadiran rongga didalam beton sangat mengurangi kekuatannya. Jumlah sekecil 5 persen
dapat mengurangi kekuatan dengan 30 persen, dan 2 persen dapat mengurangi kekuatan 10
persen.

Rongga pada beton adalah :

 Gelembung udara yang tertahan, atau


 Ruangan yang tertinggal setelah air berlebihan dihilangkan, hal ini tergantung pada
ratio semen air (water cement ratio) dari campuran
Telah biasa dilaksanakan untuk entrain udara hingga 8 persen dalam beton dengan
menggunakan campuran tambahan yang sesuai. Gelembung udara tersebut jauh lebih kecil
(0,05 mm) dari pada gelembung yang secara tidak sengaja masuk atau tertahan, dan terpisah-
pisah sehingga tidak berbentuk saluran untuk lewatnya air dan permeabilitas beton tidak
bertambah.
c. Penyimpanan Bahan Semen

Harus disimpan didalam gudang semen atau bangunan tahan cuaca dan teratur agar dapat
digunakan dengan urutan sesuai pengiriman. Semen yang disimpan lebih dari empat bulan
harus diuji kembali sebelum digunakan.

Agregat

Agregat harus disimpan dalam bak (bin) atau tempat penimbunan (stockpile) berdekatan
dengan pekerjaan dengan tiap ukuran dipisah dari ukuran lainnya secara pasti untuk mencegah
saling tercampur. Lantai penimbunan harus kering dan dilapisi kerikil atua bahan untuk
mencegah bercampurnya timbunan dengan tanah.

Daftar Simak Pemeriksaan

Sebuah daftar simak untuk pemeriksaan sekur jenis perancah kerja (scaffolding) adalah :

 Periksa agar terdapat landasan atau dasar yang kuat di bawah kaki tiap kerangka pada
pekerjaan itu dan bahwa pondasi cukup kering/ada drainase;
 Periksa agar semua pelat dasar atau sekrup-sekrup penyesuaian rapat pada landasan
atau dasar tersebut. Semua sekrup penyesuaian harus rapat terhadap kaki kerangka;
 Harus diperoleh kopi dari gambar layout perancah. Pastikan bahwa jarak antara
(spacing) menara dan jarak antara penguat melintang menara tidak melebihi jarak antara pada
gambar. Bila perlu variasi dari layout karena masalah di lapangan, dibicarakan dengan
Engineer yang membuat gambar untuk mendapatkan persetujuan perubahan layout;
 Kerangka harus diperiksa untuk alinemen pada kedua arah. Toleransi maksimum untuk
kerangka yang kurang tegak adalah 1 :
300. Jika kerangka melampaui toleransi ini, dasar kerangka harus disesuaikan sampai
memenuhi batas toleransi;
 Periksa agar tidak terdapat celah (gap) pada ruas sambungan vertikal atau sambungan
pada kerangka. Adanya celah mungkin berarti adanya distorsi atau letak dasar tidak tepat;
 Semua kerangka harus saling dihubungkan pada semua menara penguat melintang
berada di tempat;
 Pada waktu memeriksa penguat melintang, periksa pula alat pengunci untuk
memastikan bahwa semua alat tersebut sudah tertutup atau rapat.

d. Pekerjaan Jalan/Pavement
 Penentuan Batas-batas Pekerjaan
Sebelum pekerjaan dimulai perlu diadakan pengukuran, khususnya berkenaan dengan ukuran
lebar jalan, lokasi jalan, elevasi permukaan dan struktur drainase.

Kontraktor dan Konsultan akan mencapai persetujuan terlebih dahulu mengenai ketepatan
pengukuran agar hasil pekerjaan sesuai dengan Gambar kontrak.

Gambar U–2 menunjukkan prosedur penyiapan rencana


campuran kerja (job mix formula) hotmix.

215
3.5 Program Kerja
Untuk dapat melaksanakan pekerjaan ini dengan baik, tepat sasaran dan tepat waktu,
diperlukan organisasi pelaksana pekerjaan yang kompak dan terorganisir. Untuk mencapai
tujuan, Konsultan membuat Struktur Organisasi pelaksanaan dan deskripsi tugas dan tanggung
jawab setiap personil yang terlibat dalam proyek ini.

Dengan adanya hirarki organisasi kerja yang baik, yang bisa menggambarkan alur perintah
dan alur koordinasi kerja antar komponen tim, diharapkan bisa dihasilkan kerjasama tim yang
baik sehingga semua aktivitas kerja dapat terlaksana dengan lancar sesuai dengan yang
diharapkan. Adapun rencana kerja Konsultan adalah sebagai berikut :

5.5.1 Tahap Persiapan


a. Mobilisasi Personil
Setelah surat mobilisasi dikeluarkan oleh PPK maka Konsultan akan segera memobilisasi
personil beserta fasilitas pendukungnya, yaitu dengan menyiapkan :

1. Personil/tenaga ahli dan tenaga pendukung. Apabila ada penggantian personil terlebih
dahulu mendapat persetujuan dari Pemberi Tugas.
2. Rumah/Kantor berikut perlengkapannya, kendaraan dan fasilitas penunjang lainnya.
3. Peralatan/alat–alat ukur dan laboratorium dalam hal ini bukan alat laboratorium yang
lengkap tetapi hanya peralatan pendukung pelaksanaan kerja.
4. Peta, gambar desain dan data penunjang.
5. Fasilitas akomodasi dan transportasi untuk kebutuhan ke lapangan.
b. Penyiapan Kantor, Peralatan, Akomodasi dan Fasilitas Konsultan lainnya.
5.1.2 Tahap Mobilisasi Kontraktor
a. Menyiapkan formulir – formulir dan administrasi proyek lainnya.
Form-form yang diperlukan proyek antara lain sebagai berikut dibawah ini :

 Buku direksi
 Time schedule
 MCo (Mutual Check Awal)
Disamping itu kami lampirkan pula contoh-contoh form untuk pengendali mutu, request of
work dan lain-lain :

 Request & shop drawing


 Laporan harian
 Laporan mingguan
 Risalah rapat
 Berita acara opname pekerjaan
 Record cuaca
 Photo dokumentasi
 Change order
 Addendum
 Monthly certificate (MC)
 PHO (Provinsial Hand Over) / FHO (Final Hand Over)
 Dan lain-lain disesuaikan dengan kebutuhan proyek.

b. Pelaksanaan Pre Construction Meeting ( PCM ), Penyiapan Schedule Dalam waktu


kurang dari 14 hari sejak SPMK, diadakan Pre Construction Meeting (PCM), hal yang
dibicarakan :

1) Materi
 Organisasi kerja.
 Tata cara pengaturan pelaksanaan.
 Review dan penyempurnaan terhadap schedule dikaitkan dengan target volume, mutu
dan waktu.
 Jadual pengadaan bahan, alat dan mobilisasi personil.
 Menyusun rencana dan pelaksanaan pemeriksaan lapangan (mutual check), koordinasi
dengan tim perencana.
 Menentukan lokasi bahan material (quarry), estimate quantity dan rencana quality
control bahan yang akan digunakan.
 Pendekatan terhadap masyarakat dan Pemda setempat.
 Penyusunan rencana kendali mutu proyek.
 Pembahasan rencana mutu proyek
2) Kesamaan pengertian terhadap pasal-pasal dokumen kontrak
 Pekerjaan tambah/kurang
 Termination atau for feature.
 Maintenance & protection of traffic.
 Sub letting.
 Asuransi.
 Lainnya yang dianggap perlu.
3) Kesepakatan tentang tata cara dan prosedur
 Request, approval & examination of works.
 Shop Drawing, As Built Drawing.
 Monthly Certificate (MC).
 PHO & FHO.
 Change Order, Addendum.
4) Kesepakatan tentang tata cara dan prosedur teknis pelaksanaan pekerjaan utama (major
items).
 Flexible pavement: agregat base, hotmix, dll.
 Struktur: pondasi tiang pancang, abutmen beton, dll.

c. Pelaksanaan pekerjaan, schedule pengadaan material, tenaga kerja dll.


Di dalam pekerjaan peningkatan jalan, alat berat, tenaga kerja dan jumlah jam kerja perhari
adalah sangat erat sekali hubungannya dengan waktu pelaksanaan penyelesaian pekerjaan.

Dibawah ini adalah bagaimana pengendalian waktu perlu mendapat perhatian agar tidak
terjadi perpanjangan waktu yang tidak perlu yang akan memboroskan waktu, tenaga dan
biaya.

1. Schedule Kontraktor

Sebelum pekerjaan dimulai Konsultan akan mengecek schedule pelaksanaan yang dibuat
Kontraktor.
Apakah rencana kerja progress pekerjaan yang ditargetkan sudah layak dan realistis. Misalnya
dalam musim hujan, target pekerjaan lebih kecil bila dibandingkan pada musim kemarau
untuk pekerjaan pengaspalan misalnya untuk kondisi kerja yang sama.

Kemudian juga construction method, urutan kerja Kontraktor apakah sudah sistematis,
konsepsional dan benar.

Selanjutnya berdasarkan schedule Kontraktor yang sudah disetujui, Konsultan Pengawas akan
mengendalikan waktu pelaksanaan tersebut.

Dari time schedule tersebut bisa dijabarkan kedalam target harian, sehingga setiap hari apakah
target volume tersebut bisa tercapai atau tidak, bila target volume tersebut tidak tercapai maka
selisih volume harus diprogramkan/dikejar untuk schedule hari berikutnya.

Dengan time schedule yang dibuat dan disetujui itu bila dilaksanakan dengan sebagaimana
mestinya dan dikendalikan dengan baik maka diharapkan proyek bisa diselesaikan “on
schedule”.

2. Alat Berat (Heavy Equipment)

Untuk mengerjakan pekerjaan jalan, diperlukan alat berat, bisa kombinasi/beberapa jenis alat
dan jumlah alat yang mencukupi.

Pertama harus diketahui/dihitung kapasitas alat, kalau alat tersebut adalah suatu kombinasi,
maka kapasitas yang diperhitungkan adalah yang terkecil, misal untuk pengaspalan / overlay
hotmix, maka alat yang digunakan adalah AMP, Asphalt Sprayer, Ashpalt Finisher, Tendem
Roller, Pneumatic Tire Roller dan sejumlah Dump Truck. Dari alat tersebut dihitung produksi
nyata per jam, kemudian produksi terkecil yang digunakan untuk evaluasi pengendalian
waktu. Demikian pula peralatan pekerjaan beton baik di batching plant maupun alat angkut
beton ke
lapangan harus dianalisis kapasitasnya agar sesuai dengan kebutuhan.

Untuk rencana sekian jam kerja per hari, apakah mampu alat tersebut menghasilkan produk
hotmix dan beton seperti volume yang ditargetkan.

Bila tidak tercapai maka perlu diambil tindakan-tindakan antara lain :

 Menambah jumlah alat, atau


 Menambah jam kerja / overtime.
Sedemikian hingga volume pekerjaan yang direncanakan bisa diselesaikan dalam waktu yang
ditentukan.

3. Tenaga Kerja

Demikian juga untuk tenaga kerja, untuk suatu pekerjaan diperlukan tenaga kerja yang
mencukupi, sehingga pekerjaan akan bisa diselesaikan oleh tenaga kerja sesuai dengan jadual /
waktu yang ditentukan. Bila kondisi pekerjaan diperkirakan tidak bisa diselesaikan, maka
tenaga kerja perlu ditambah atau kerja dua shift atau kerja lembur / overtime.

4. Jumlah Jam Kerja

Untuk penyelesaian suatu pekerjaan, tergantung juga pada jam kerja per hari. Jumlah jam
kerja yang sedikit akan menghasilkan produk yang lebih kecil dari pada bila per hari jam
kerjanya lebih banyak.

Jam kerja perlu disesuaikan dengan kapasitas alat, tenaga kerja, sedemikian hingga volume
pekerjaan yang ditargetkan bisa diselesaikan. Kalau suatu pekerjaan tidak bisa diselesaikan
dalam satu hari siang, maka perlu untuk kerja malam/over time.

Untuk administrasi pengendalian waktu, agar pengendalian dapat dicapai secara optimal maka
Konsultan memahami secara sugguh-sungguh “Network Planning” yang umumnya telah
dibuat
oleh Kontraktor dengan metode lintas kritis (Critical Path Method/CPM).

Mengingat sangat pentingnya time schedule ini dalam suatu pekerjaan pengawasan, maka
Konsultan akan menganalisa secara rutin time schedule dari Kontraktor dan akan membantu
Kontraktor dalam mereview dan menyusun kembali time schedule tersebut bila memang
diperlukan.

Pengendalian schedule pelaksanaan lainnya dapat menggunakan “Barchart/S-Curve” yang


biasa dan juga dapat digunakan “Vector Diagram” yang baik/cocok untuk pekerjaan jalan
karena dapat mengetahui/ menunjukkan lokasi dan waktu. Schedule ini, pada arah “absis”
menunjukkan lokasi atau STA, sedangkan arah “ordinat” menggambarkan waktu.

d. Pengawasan pekerjaan persiapan kontraktor


 Mobilisasi peralatan kontraktor
Mengadakan pengawasan terhadap mobilisasi dari pihak fisik (kontraktor) yang meliputi :
a) Mendatangkan peralatan-peralatan berat dan kendaraan- kendaraan yang diperlukan
dalam pelaksanaan proyek;
b) Mempersiapkan fasilitas lapangan seperti kantor lapangan, kantor direksi, bengkel,
gudang, ruang laboratorium, dan rumah staf dan karyawan;
c) Mendatangkan peralatan laboratorium untuk keperluan pemeriksaan mutu, serta alat-
alat ukur sesuai rencana kontrak.
d) Mendatangkan personil-personil.
Semua hasil pemeriksaan dibuatkan dalam suatu Berita Acara Mobilisasi beserta dengan
bukti-bukti hasil pemeriksaan kualitas kelaikan alat.
 Pembuatan / evaluasi kondisi base camp
Pembuatan base camp dan barak kerja lebih baik dilokasi quarry dimana sumber material
ditempat tersebut cukup banyak untuk
digunakan. Harus dievaluasi kondisinya layak untuk di tempati sampai dengan selesainya
pekerjaan.

5.1.3 Tahap Pelaksanaan Fisik Proyek


a. Pengawasan / monitoring pelaksanaan fisik, meliputi :
 Pengendalian Mutu
Pengendalian mutu memegang peranan yang sangat penting karena berkaitan dengan cara
kerja kontraktor dan konsultan. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dari pelaksanaan
dilapangan.
Sistem kendali mutu ini akan disiapkan oleh konsultan secara sistematis dengan form – form
yang telah dibuat sebelumnya. Form tersebut akan dibahas pada saat awal konstruksi sehingga
dapat dievaluasi dengan baik dan dilakukan perubahan – perubahan seperlunya oleh konsultan
apabila ada hal – hal yang perlu disesuaikan dengan keadaan masing – masing proyek.
Dengan diterapkannya secara khusus sistem ini maka akan semakin mudah untuk melakukan
kontroling dalam bidang mutu dan diharapkan pelaksanaan pekerjaan juga dapat dilaksanakan
dengan lebih cepat dan bermutu.

 Pengendalian Kuantitas
Pengawasan kuantitas (Quantity Control), akan mengecek bahan- bahan / campuran yang
ditempatkan atau yang dipindahkan oleh Kontraktor atau yang terpasang. Konsultan akan
memproses bahan-bahan / campuran berdasarkan atas :

a. Hasil pengukuran yang memenuhi batas toleransi pembayaran.


b. Metode perhitungan.
c. Lokasi kerja.
d. Jenis pekerjaan.
e. Tanggal diselesaikannya pekerjaan.
Setelah produk pekerjaan memenuhi persyaratan baik kualitas maupun elevasi dan persyaratan
lainnya, maka pengukuran kuantitas dapat dilakukan agar volume pekerjaan dengan teliti /
akurat yang disetujui oleh Konsultan sehingga kuantitas dalam kontrak adalah benar diukur
dan dibayar oleh Konsultan dan mendapat persetujuan Permberi Tugas.

 Pengendalian Biaya
Pengukuran hasil pekerjaan, perlu dilakukan dengan akurat dan benar-benar sehingga
kuantitas yang dibayar sesuai dengan gambar rencana. Dengan demikian volume dalam
kontrak tidak dilampaui yang pada akhirnya biaya yang dikeluarkan sudah sesuai dengan yang
dianggarkan.
Pekerjaan yang bisa dibayar adalah pekerjaan yang sudah diterima dari segi
pengukuran/kuantitas dan kualitas, sehingga biaya yang dikeluarkan adalah benar-benar untuk
pekerjaan yang sudah memenuhi spesifikasi.
Pekerjaan yang bisa dibayar adalah pekerjaan yang tercantum dalam kontrak dan harga satuan
pekerjaan yang sudah ada dalam kontrak pelaksanaan, sehingga biaya proyek dibayarkan
sesuai dengan item pekerjaan yang ada dalam kontrak.

 Pengendalian Waktu
Di dalam proyek jalan, alat berat, tenaga kerja dan jumlah jam kerja perhari adalah sangat erat
sekali hubungannya dengan waktu pelaksanaan penyelesaian pekerjaan.
Hal yang perlu diperlu di kendalikan adalah : Schedule Kontraktor,
Alat Berat (Heavy Equipment), Tenaga Kerja, Jumlah Jam Kerja

b. Rekomendasi terhadap :
 Sertifikat Bulanan ( MC )
Kontraktor harus menyerahkan suatu nilai estimasi dari pekerjaan yang dilaksanakan kepada
Site Engineer pada setiap akhir bulan yang berjalan, yang selanjutnya disebut sebagai
“sertifikat bulanan (Monthly Certificate – MC)”, Format sertifikat bulanan harus sesuai
dengan standar atau diusulkan oleh Konsultan dan disetujui oleh Pemberi Tugas.
Site Engineer akan memeriksa kemajuan pekerjaan yang diajukan pada sertifikat bulanan dan
apabila telah dianggap sesuai dengan sebenarnya yang telah terjadi di lapangan, selanjutnya
dapat disetujui untuk menandatangani bersama oleh wakil Kontraktor, Konsultan, dan PPTK
Fisik.

 Contract Change Order ( CCO ) bila ada


Perubahan terhadap pekerjaan dapat dimulai oleh Engineer atau Kontraktor dan harus
disetujui dengan suatu Perintah Perubahan yang ditandatangani oleh kedua belah pihak. Jika
dasar pembayaran yang ditetapkan dalam suatu Perintah Perubahan tersebut menyajikan suatu
perubahan dalam struktur Harga Satuan Jenis Pembayaran atau suatu perubahan yang
diperkirakan dalam Jumlah Kontrak, maka Perintah Perubahan harus dirundingkan dan
dirumuskan dalam suatu Addendum.
c. Laporan Bulanan & pemeriksaan As Built Drawing

5.1.4 Tahap Pelaksanaan Administrasi Proyek


a. Penyiapan Proses Serah Terima ( PHO )
b. Laporan / Rekomendasi Serah Terima ( PHO )
c. Penyiapan Laporan Akhir
d. Serah Terima Akhir ( PHO )
Serah terima pekerjaan atau PHO (Provesional Hand Over) adalah penyerahan hasil
pekerjaan oleh Kontraktor secara menyeluruh sesuai kontrak dan amandemennya kepada
pemilik proyek, namun mutu dan pemeliharaannya masih harus di jaga sampai masa
jaminan selesai sesuai yang diatur dalam kontrak
e. Laporan / Rekomendasi Serah Terima Akhir ( PHO )

5.1.5 Pelaporan
a. Rencana Mutu Kontrak (RMK)
b. Laporan Bulanan
c. Laporan Ringkas
d. Laporan Akhir
1) Laporan Pendahuluan/Umum+Laporan Proses Verbal
2) Laporan Test Pengendalian Mutu.
3) Laporan Quantity (Perhitungan Akhir Kuantitas Terlaksana).
4) Foto Dokumentasi pekerjaan (awal, pertengahan dan akhir (Foto 0%, 50% dan 100%)).
Gambar terlaksana (As Built Drawing) dan foto dokumentasi proyek (0 %, 50 % dan 100 %).

3.6 Gagasan Baru

3.6.1 Kendali Mutu


Disetiap tingkatan tim pengawas diperlukan disiplin yang tinggi untuk menerapkan tata cara
pengendalian mutu, baik yang menyangkut mutu kerja dan mutu hasil kerja Kontraktor dan
Konsultan.

1.
Pengendalian mutu memegang peranan yang sangat penting karena berkaitan dengan cara
kerja kontraktor dan konsultan. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dari pelaksanaan
dilapangan diterapkan sistem kendali mutu yang diterapkan dari awal dengan penjelasan yang
detil mengenai sistem ini pada saat Pre Construction Meeting.

Sistem kendali mutu ini akan disiapkan oleh konsultan secara sistematis dengan form – form
yang telah dibuat sebelumnya. Form tersebut akan dibahas pada saat awal konstruksi sehingga
dapat dievaluasi dengan baik dan dilakukan perubahan – perubahan seperlunya oleh konsultan
apabila ada hal – hal yang perlu disesuaikan dengan keadaan masing – masing proyek.
Dengan diterapkannya secara khusus sistem ini maka akan semakin mudah untuk melakukan
kontroling dalam bidang mutu dan diharapkan pelaksanaan pekerjaan juga dapat dilaksanakan
dengan lebih cepat dan bermutu.
3.6.2 Standarisasi
Dilakukan standarisasi prosedur, tata cara kerja, pelaporan dan hal lainnya yang terlibat
dengan pengawasan dilapangan.

Standarisasi dianggap sangat penting dalam menyamakan persepsi dalam pelaksanaan


dilapangan, menghindari perbedaan perbedaan antara konsultan dan kontraktor dalam
pemahaman Management proyek secara umum dan secara khusus.

Penerapan ini secara langsung dapat mendukung tertib administrasi dari sejak awal hingga
akhir proyek sehingga pada saat PHO segala hal yang menyangkut administrasi dapat
dipenuhi dengan baik dan benar.

Standarisasi ini saling mendukung antara sistem kendali mutu yang diterapkan sehinggga
dapat menciptakan iklim pelaksanaan yang kondusif dan persoalan persoalan rutin yang sering
dijumpai dapat diselesaikan dengan cepat.

3.6.3 Metode Konstruksi


Untuk dapat menghasilkan produk konstruksi yang bermutu kuat dan sesuai permintaan
kontrak, setiap item kerja sebaiknya dilakukan percobaan dilapangan terlebih dahulu seperti
yang biasa dilakukan untuk pengaspalan. Dalam percobaan tersebut akan dievaluasi bersama
Metode Konstruksi yang digunakan apakah sudah sesuai dengan permintaan kontrak. Apa ada
yang kurang dan harus diperbaiki, kesalahan yang terjadi akan diperbaiki dan dilanjutkan
dengan kesepakatan dalam berita acara untuk melakukan perbaikan sesuai persetujuan
bersama. Hal ini untuk mencegah kesalahan yang terjadi dan kebiasaan yang salah berlanjut,
yang sangat sulit diperbaiki dikemudian hari. Juga untuk mendukung realisasi kendali mutu
yang akan dilaksanakan dilapangan. Percobaan ini dilakukan dilokasi pekerjaan pada tahap
awal kerja dan awal waktu masing – masing item pekerjaan sehingga tidak perlu ada biaya
khusus untuk itu.