Anda di halaman 1dari 56

KERANGKA ACUAN KERJA (KAK)

REVIEW DESAIN REHABILITASI DAN PENINGKATAN D.I. LINTANG KIRI


KABUPATEN EMPAT LAWANG

A. LATAR BELAKANG.
Daerah Irigasi (D.I) Lintang Kiri merupakan daerah yang memiliki potensi yang besar guna
mendukung ketahanan pangan. Hasil Survey lokasi yang dilakukan Hampir sepanjang
Saluran Primer saat ini dari mulai dari BLK 2 sampai dengan BLK 9 merupakan saluran galian
tanah, belum dilakukan pembangunan lining saluran sehingga terjadi porositas yang tinggi,
hanya segmen BLK 6 – BLK 7 yang di lining dikarenakan kondisi dinding yang tipis.

Gambar 1. Kondisi Saluran Utama BLK 2

Gambar 2. Kondisi Saluran BLK6-BLK7

Pada BLK 7, pintu pengambilan tersier tidak berfungsi, hal ini dikarenakan kemungkinan
kesalahan elevasi pada pintu tersier dan pelimpah yang berada pada BLK 7, akibatnya untuk
pengambilan sebelah kanan warga membuat gorong-gorong dengan pipa untuk
mengalirkan air ke sawah. Jika bukaan pintu diperkecil maka air akan mengalir melalui pintu
tersier dan debit air melalui pelimpah (berada di hulu BLK7) juga semakin besar sebaliknya
debit air yang menuju BLK 8 dan BLK 9 semakin kecil. Untuk itu maka perlu dilakukan review
elevasi pada bangunan BLK 7.
Pintu pengambilan tersier

Gambar. Bangunan BLK 7

Gambar 4. Gorong gorong pengambilan bebas pada BLK 7

Salah satu lahan yang dapat dilakukan untuk pengembangan daerah lahan persawahan di
Desa Muara Pinang Lama, dengan memanfaatkan sisa buangan dari saluran lintang kiri (X:
283544 ; Y: 9573803). Lebih kurang 50 Ha. Saat ini kondisi lahan masih berupa kebun kopi
namun warga siap alih fungsi menjadi sawah.

Gambar 5 . saluran Pembuang D.I Lintang Kiri di Desa Muara Pinang Lama
Gambar 11. Kondisi Lahan Areal Pengembangan di Desa Muara Pinang Lama

B. MAKSUD DAN TUJUAN


Maksud dari kegiatan ini adalah mereview kembali desain awal pada Daerah Irigasi Lintang
Kiri yang meliputi ketersediaan air dan luas areal yang dapat dilayani (waterbalance)
ditinjau dari berbagai aspek teknis, ekonomis, dan sosial yang akan digunakan sebagai dasar
dalam pengembangan daerah irigasi sesuai kondisi sekarang.

Sedangkan tujuan kegiatan ini adalah tersedianya laporan/data system planning dan desain
sesuai kondisi yang aktual meliputi antara lain :
1. Mendapatkan kondisi eksisting neraca air, infrastruktur irigasi, pengelolaan air irigasi,
kelembagaan dan SDM,
2. Mendapatkan dokumen sistem planning untuk peningkatan/rehabilitasi jaringan irigasi
sebagai pegangan dalam perencanaan detail dan pelaksanaan fisik irigasi, dan arah
penyempurnaan pengembangan irigasi pasca konstruksi
3. Mendapatkan desain rehabilitasi jaringan irigasi/ perbaikan sarana dan prasarana irigasi
4. Mendapatkan rencana peningkatan kelembagaan dan SDM.

C. LOKASI KEGIATAN
Lokasi pelaksanan kegiatan terletak DI. Lintang Kiri di Kabupaten Empat Lawang,
Sumatera Selatan.

D. PEMILIK PEKERJAAN
 Pelaksana Kegiatan : PPK Perencanaan dan Program BBWSS VIII.
 Penanggung Jawab Kegiatan : Ka. Satker BBWS. Sumatera VIII

E. SUMBER DANA PEMBIAYAAN


Untuk pelaksanaan kegiatan ini diperlukan biaya Rp 1.914.940.500,- (Satu Milyar Sembilan
Ratus Empat Belas Juta Sembilan Ratus Empat Puluh Ribu Lima Ratus Rupiah) termasuk
PPN, dibiayai DIPA Satuan Kerja Balai Besar Wilayah Sungai Sumatera VIII tahun anggaran
2020.
F. LINGKUP PEKERJAAN
Pekerjaan Desain rehabilitasi jaringan irigasi dibagi dalam lima kegiatan pokok sebagai
berikut :
Kegiatan (A) :
Pengumpulan Data, Inventarisasi dan Pembuatan Peta Dasar.

Pengumpulan data eksisting termasuk rencana pengembangan wilayah sungai dan RTRW
yang mencakup tetapi tidak terbatas pada hal hal sebagai berikut :
1. Topografi, Geologi, dan Geoteknik ;
2. Hidrologi dan Hidrogeologi ;
3. Sumber Material Konstruksi;
4. Bangunan eksisting ;
5. Kondisi irigasi, tata guna lahan, dan tutupan lahan ;
6. Transportasi dan Pariwisata;
7. Agronomi dan Agro-ekonomi ;
8. Sosiologi dan Sosio-ekonomi ;
9. Lingkungan;
10. Infrastruktur ;

Kegiatan (B):
Kajian hidrologi (neraca air) dan analisis penyebab penurunan fungsi dan kondisi
infrastruktur irigasi, pengelolaan air, kelembagaan & SDM

Kegiatan (C) :
Pembuatan Laporan sistem planning pengelolaan air Irigasi. Pembuatan skema jaringan
irigasi termasuk skema bangunan, pengukuran dan penggambaran saluran sekunder,
saluran primer dan tersier yang ada maupun site survei untuk penyusunan perencanaan
rehabilitasi, serta pengumpulan data pendukung O&P, hidrometri dan hidrologi.

Kegiatan (D) :
Pembuatan disain rehabilitasi rinci didahului draft desain, Rencana Anggaran Biaya (RAB),
dilengkapi data untuk analisa ekonomi, data harga satuan upah, bahan dan sewa alat bantu
dilokasi proyek serta menyiapkan dokumen lelang, Spesifikasi teknik, metode pelaksanaan
pekerjaan untuk konstruksi, serta pembuatan Petunjuk O&P dan Buku Data DI termasuk
rencana PROM.

Kegiatan (E) :
Penyusunan rencana serta dokumen upaya upaya untuk peningkatan Kelembagaan & SDM
Irigasi.

G. METODOLOGI
1. Umum.
Pekerjaan perencanaan rehabilitasi diperlukan untuk mendapatkan dokumen dalam
rangka pelaksanaan rehabilitasi suatu jaringan yang memenuhi kebutuhan pemakaian
air . Perencanaan rehabilitasi menyiapkan dokumen perencanaan untuk sistim jaringan
yang sudah ada (jaringan lama tetapi ada kerusakan) menjadi sistim jaringan irigasi
yang lebih baik. Rehabilitasi adalah suatu proses perbaikan sistem jaringan yang
meliputi perbaikan fisik atau non fisik (sistem O&P, management , institusi, dll) untuk
mengembalikan tingkat pelayanan sesuai dengan disain semula atau ke tingkat
maksimum yang dapat dicapai sesuai kondisi lapangan saat ini. Jika data perencanaan
lama tersedia dan masih cocok kondisi lapangan saat ini , maka perencanaan
rehabilitasi tidak perlu melakukan proses perencanaan ulang secara total tetapi cukup
melakukan perencanaan perbaikan. Perbaikan meliputi: melengkapi data, perbaikan
analisa dan penyempurnaan desain saluran bangunan.

1. Kegiatan (A) Pengumpulan data, Inventarisasi dan Pembuatan Peta Dasar


Kegiatan Pengumpulan data:
Pengumpulan data ini dilakukan di kantor sebelum melaksanakan kegiatan survei dan
pengukuran langsung di lapangan. Survei yang dilakukan pada tahap ini adalah survei
visual
a. Inventarisasi Data Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) pada lokasi rencana
kegiatan
b. Inventarisasi Pola Wilayah Sungai dan Rencana Wilayah Sungai
c. Inventarisasi Data Peta Topografi skala 1 : 25.000 atau lebih besar, Data Foto Udara
dan Citra Satelit, Data Peta Geologi Wilayah, dan Data Geoteknik eksisting dari studi
sebelumnya maupun studi kegiatan pada sektor / instansi lain yang terkait areal
sekitar rencana kegiatan;
d. Inventarisasi Data Statistik Kecamatan, Kabupaten dan Provinsi
e. Inventarisasi data Hidrologi, Klimatologi, Hidrometri (termasuk data rekaman banjir)
dan Hidrogeologi dari stasiun hujan, alat ukur di sekitar rencana kegiatan dan
instansi terkait data tersebut (misal : BMG);
f. Inventarisasi data Agro-Sosio-ekonomi ;
g. Inventarisasi Gambaran Umum dan Khusus tentang Daerah Irigasi dan lingkungan
sekitar rencana kegiatan ;
h. Inventarisasi data mengenai Material Konstruksi di sekitar area rencana kegiatan
yang memungkinkan untuk dapat digunakan pada pembangunan ;
i. Inventarisi data mengenai jumlah, kondisi dan lokasi Bangunan Air, Bangunan
Hidrolik dan Elektrik eksisting ;
j. Inventarisasi data mengenai Kondisi Irigasi (bila ada) termasuk macam/sistem
irigasi, Tata Guna Lahan, dan Tutupan Lahan eksisting ;
k. Inventarisasi data mengenai transportasi sebagai gambaran aksesibilitas proyek ;
l. Inventarisasi data Lingkungan Infrastruktur baik yang berpengaruh secara langsung
maupun tidak langsung terhadap proyek ;
Kegiatan inventarisasi tersebut akan mencakup hal-hal sebagi berikut :
a. Uraian mengenai kondisi sekarang, fungsi dan tingkat pemeliharahan dari semua
bangunan air, jembatan dan dermaga serta perbaikan-perbaikan yang diperlukan.
Setiap perubahan yang telah dilakukan para petani terhadap bangunan-bangunan
juga harus disebutkan.
b. Uraian mengenai kondisi sekarang dan tingkat pemeliharaan saluran, tanggul dan
jalan, dan mendaftarkan tentang kelongsongan tanggul dan kerusakan-kerusakan
lainnya.

Perhatian khusus diperlukan untuk mengetahui :


a. Stabilitas/masalah kelongsoran lereng/tanggul
b. Stabilitas bangunan pintu air dan bangunan pelengkap lainnya (apabila ada) antara
lain : settlement, leakage,seepage dan kerusakan.
c. Banjir tahunan dan periode ulang yang lebih besar berupa tinggi dan lama
genangan.
d. Kecepatan sedimentasi di drainase alam.

Kegiatan survey prasarana ini berupa inspeksi lapangan mengenai saluran,jalan,


bangunan dan sarana/prasana yang ada dilokasi yang hasilnya akan dituangkan dalam
suatu laporan yang berisi daftar-daftar perbaikan yang diperlukan yang dilengkapi
dengan foto-foto beserta koordinat yang selanjutnya dituangkan dalam perhitungan
RAB untuk rehabilitasi sarana/prasarana tersebut.

a. Penelusuran Jaringan Irigasi.


1) Melaksanakan penelusuran jaringan irigasi.
2) Menjaring kebutuhan petani baik fisik maupun non fisik.

b. Membuat, menyempurnakan dan menyusun peta-peta berikut :


1) Peta Dasar (skala 1:5000). Apabila tidak terdapat peta dasar, maka harus
membuat peta dasar baru (skala 1:5000) yang menunjukan situasi lapangan
yang ada.
2) Peta Ikhtisar jaringan irigasi (skala 1:10000 atau 1:20000) yang dapat dibuat
dari peta dasar butir (b)1) di atas.

c. Pembuatan atau penyempurnaan Peta Dasar (jika peta lama tidak ada atau ada
tetapi tidak lengkap).
Peta dasar (skala 1:2000 atau 1:5000) akan memperlihatkan tata letak jaringan
irigasi, jaringan drainase, jaringan jalan dan tata guna tanah (sawah, tegalan,
pemukiman dan lain-lain), batas-batas petak tersier yang tepat dan batas-batas
lain. Pengukuran luas petak tersier akan didasarkan atas peta ini.

Peta Dasar itu harus memuat secara khusus :


1) Jaringan utama yang terdiri dari bendung/bangunan utama dan bangunan lain,
saluran-saluran induk dan sekunder dan saluran suplesi dan sungai-sungai.
Saluran tersier harus digambar sampai dengan titik dimana saluran memasuki
petak tersier, dan berakhir dengan ujung panah. Nama tiap saluran induk dan
sekunder dan titik-titik kilometer sepanjang saluran.
2) Pembuang induk, sekunder dan tersier dengan nama, jikalau ada nama. Sungai-
sungai alam yang belum terinventarisasi harus dicantumkan dengan garis
ganda atau garis utuh (tidak terputus-putus). Pembuangan yang sudah
terinventarisasi harus dicantumkan sebagai garis tebal putus-putus dengan
titik-titik kilometer yang ditandai sepanjang saluran pembuang.
3) Bangunan-bangunan penting, yakni : bendungan, bendung/bangunan utama,
bangunan pengatur, bagi sadap, sadap, sifon, talang dan jembatan pada
saluran induk dan sekunder dan saluran suplesi, harus dicantumkan dengan
simbol sesuai Standar Perencanaan (KP).
4) Batas-batas petak tersier dan batas DI harus dibuat secara tegas, dengan
simbol sesuai Standar Perencanaan (KP.07).
5) Informasi untuk tiap petak tersier yang ditulis dalam kotak petak tersier yang
berisi:
 Nama Petak Tersier
 Areal potensial dalam hektar (dibulatkan sampai satu desimal)
 Debit rencana untuk saluran tersier (dikosongkan, karena akan diisi oleh
perencana dalam tahap sistem planning).
 Areal potensial yang dicantumkan harus diukur dengan alat planimeter dari
peta dasar, skala 1:2,000 atau 1 : 5,000.
6) Batas-batas propinsi, kabupaten dan ranting dinas serta desa dengan namanya
7) Tata guna tanah, termasuk daerah yang dapat diairi, tegal, dataran tinggi,
hutan dan sebagainya ditandai dengan jelas.
8) Jalan (Propinsi, Kabupaten, Desa), jalan inspeksi dan jalan kereta api.
9) Titik-titik triangulasi dan lokasi BM dan garis rangka (grid).
10) Lokasi stasion curah hujan, pencatat permukaan air otomatis (AWLR) dan
stasion hidrometeorologi lainnya.
11) Waduk, sungai dan sumber air lain disertai nama, makam,
monumen/bangunan lain ditengah areal persawahan dicantumkan dalam
bentuk simbol.
12) Skala garis numeris dan petunjuk arah utara.
13) Keterangan notasi gambar sesuai dengan Standar Perencanaan Irigasi (KP-07).
14) Pada setiap lembar peta dasar skala 1 : 2000 atau 1 : 5000 dilengkapi dengan
gambar referensi tiap lembar untuk memudahkan membaca peta tersebut.

d. Pembuatan Peta Ikhtisar


Peta Ikhtisar dibuat dalam satu lembar ukuran A1, skala 1 : 10.000 atau 1 : 20.000
yang disusun dengan pengecilan tofografis dari peta dasar.

e. Urutan Pelaksanaan Pekerjaan


Urutan pekerjaan ialah sebagai berikut :
1) Mengumpulkan peta-peta, foto udara dan data lain yang dapat diperoleh dari
kantor-kantor / instansi terkait.
2) Mengkaji laporan-laporan dari Survei sebelumnya.
3) Menyusun peta dasar pendahuluan (1 : 2.000 atau 1 : 5.000) dari peta dan data
yang ada.
4) Mengadakan peninjauan lapangan dengan peta pendahuluan.
5) Memasang Benchmark (BM).
6) Melakukan Survei dan pengukuran sipat-datar tambahan yang dibutuhkan
untuk updating peta dasar.
7) Mencantumkan data hasil survei dan hasil peninjauan lapangan kepada peta
dasar pendahuluan.
8) Melakukan Survei dan pengukuran sipat-datar lengkap untuk membuat Peta
Dasar baru bila peta dasar lama tidak tersedia.
9) Membuat Peta Ikhtisar (skala 1 : 10.000 atau 1 : 20.000).

f. Rincian Pekerjaan Inventarisasi dan Pembuatan Peta dasar


Pekerjaan yang harus dilaksanakan dalam Kegiatan A dirinci di bawah ini :
1) Pengumpulan Data.
- Peta situasi / peta dasar 1 : 2.000 atau 1 : 5.000
- Peta DI 1 : 5.000 atau 1 : 2.000
- Peta situasi trace 1 : 2.000 dan gambar potongan memanjang dan melintang
saluran irigasi dan pembuang.
- Peta situasi bendung 1 : 200
- Peta Topografi 1 : 25.000 atau 1 : 50.000
- Patok tersier
- Foto udara (bila ada) produk terbaru skala 1 : 10.000 atau skala terbesar
yang ada.
- Peta-peta lain (jika ada) yang dianggap perlu

2) Mengkaji laporan-laporan terdahulu, antara lain :


- Titik Referensi dan sistim proyeksi yang digunakan.
- Ketelitian yang dicapai
- Peralatan yang dipakai
- Daftar titik kontrol BM (x,y,z) dan deskripsi BM
- Batas- batas pengukuran
- Informasi tambahan lainnya yang dianggap perlu.

2. Kegiatan (B)
Kajian hidrologi (neraca air) dan analisis penyebab penurunan fungsi dan kondisi
infrastruktur irigasi, pengelolaan air, kelembagaan & SDM
Kajian Hidrologi (neraca air) :
a. Konsultan Penyedia Jasa diharuskan melakukan elaborasi kajian hidrologi terdahulu
dalam satu system planning D.I, hal ini merupakan tuntutan dari kondisi kesesuaian
luasan areal irigasi yang ada saat ini. Kajian menggunakan data curah hujan
berdasarkan stasiun penakar hujan disekitar lokasi studi yang sangat diperlukan
untuk kegiatan analisis hidrologi, dengan syarat data yang digunakan haruslah
konsisten, homogen, independent, representative, menerus (continue) dan memiliki
runtutan data yang panjang serta diharapkan memiliki ketersediaan data yang
cukup. Sebelum digunakan data tersebut harus dilakukan penyaringan data atau
diperiksa secara manual dan secara statistik.
b. Data-data hujan yang diperoleh dari stasiun-stasiun pengukuran berupa data hujan
di suatu titik tertentu (point rainfall), sedangkan untuk keperluan analisis, yang
diperlukan adalah data curah hujan daerah aliran (areal rainfall/catchment rainfall).
Untuk mendapatkan data curah hujan daerah adalah dengan mengambil data curah
hujan rata-ratanya.
c. Meneliti dan mengkaji kembali ketersedian air yang dapat dimanfaatkan 80% dapat
diandalkan untuk kebutuhan persawahan sekurang-kurangnya membandingkan dari
2 metode cara perhitungan ketersediaan air dan memperhatikan ketentuan kriteria
KP. 01 Irigasi.
d. Hasil kajian hidrologi akan dapat memastikan ketersedian terhadap rencana alokasi
kebutuhan air irigasi secara keseluruhan serta untuk perkiraan debit banjir dilokasi
studi.
e. Perimbangan antara air yang dibutuhkan dan debit (Q) sungai dipelajari dengan cara
menganalisis data curah hujan yang tersedia dalam kurun waktu terstentu.
f. Untuk kebutuhan air pada suatu daerah irigasi diperlukan penyelidikan pola tanam
yang telah ada sehingga pemakaian kebutuhan air irigasi yang direncanakan untuk
pola tanam merupakan kebutuhan bersih air disawah untuk padi (NFR).

Analisis penyebab penurunan fungsi dan kondisi infrastruktur irigasi, pengelolaan air,
kelembagaan & SDM

a. Pengenalan Kerusakan dan Inventarisasi Sarana Prasarana


Hal yang sangat penting dalam rehabilitasi adalah bagaimana mengenali kerusakan
dengan pandangan mata, pengkajian atau dengan investigasi. Gejala perubahan
struktur bisa disebabkan proses perubahan secara wajar atau suatu proses
kerusakan yang akan terus berlanjut yang dapat meruntuhkan konstruksi.
Penurunan tanggul mungkin suatu pergerakan wajar karena proses settlement yang
telah diperhitungkan sejak semula atau gejala keruntuhan karena daya dukung
tanah yang kurang memadai. Kerusakan beton bisa disebabkan karena retak rambut
yang wajar pada perencanaan beton dengan prinsip Perencanaan Tegangan Batas
(Ultimate Strength Design) atau mungkin keretakan karena perencanaan yang salah,
misalnya karena kekurangan tulangan (Under Reinforced), sehingga bisa berakhir
luluhnya struktur. Memang tidak mudah untuk membedakan apakah ini gejala
perubahan wajar atau proses perubahan yang dapat berakhir pada kerusakan suatu
struktur , sehingga untuk dapat mengenali kerusakan dalam suatu jaringan irigasi
diperlukan kejelian seorang ahli yang sudah berpengalaman dalam perbaikan irigasi.

b. Elaborasi Teknik.
Proses ini adalah upaya mencari penyebab dan jalan keluar menurunnya fungsi
suatu jaringan irigasi, yang berupa upaya perbaikan data dan penyempurnaan
analisa dan perhitungan.
Perbaikan data dan analisa data bisa berupa :
1) Topografi : pengukuran ulang, pengukuran tambahan dll.
2) Hidrologi : tambahan seri data hidrologi, perhitungan ulang dengan rumus yang
benar, dan perbaikan pendekatan.
3) Geologi/Mekanika Tanah : tambahan data geologi/Mekanika tanah, perubahan
pendekatan perhitungan ulang dengan rumus yang benar, interpretasi yang
wajar, dll.
4) Sedimen : tambahan data, perbaikan teknik sampling, perubahan asumsi yang
benar dll.

Penyempurnaan perhitungan teknik bisa berupa :


1) Konsep pendekatan yang lebih sesuai.
2) Anggapan-anggapan (asumsi) yang benar.
3) Rumus pengganti yang lebih tepat.
4) Perhitungan aritmatika yang betul.
5) Besaran standar yang wajar.
6) Angka keamanan yang memadai.

c. Mencari Penyebab Kerusakan


Tahap awal suatu perencanaan rehabilitasi adalah mencari penyebab kerusakan
saluran dan bangunan. Penyebab kerusakan harus dicari akar permasalahan yang
sebenarnya sebagai sebab penyakit. Pecahnya sayap hilir bendung mungkin
disebabkan kualitas pasangan , fondasi jelek atau gerusan lokal. Kalau kualitas
pasangan baik dan fondasi cukup kuat maka tentu gerusan local penyebabnya.
Gerusan lokal terjadi karena kolam pemecah energi kurang berfungsi ; yang terakhir
ini mungkin disebabkan banjir rencana salah hitung atau dimensi kolam olak kurang
memadai. Kalau masalahnya banjir rencana tentu masalah hidrologi sebagai akar
masalah pecahnya sayap.

d. Tinjauan Ulang Perencanaan Terdahulu.


Tahap selanjutnya adalah melakukan peninjauan ulang (review) terhadap
perencanaan terdahulu yang meliputi: pengecekan data penunjang (topografi,
geologi/mekanika tanah , hidrologi, sedimen dll), pengecekan analisa data dan
analisa perhitungan, dan yang terakhir pengecekan gambar perencanaan.
1) Proses pengecekan data penunjang dimaksudkan untuk mencari :
- Kesalahan Data.
- Kekurangan data
- Proses pengambilan data keliru.
2) Proses pengecekan analisa dan perhitungan akan memastikan apakah :
- Analisa data sudah tepat dan betul; konsep pendekatan benar , rumus yang
dipakai tepat, proses analisa dari data dasar menjadi data siap pakai sudah
memadai.
- Perhitungan teknis sudah tepat dan betul; asumsi yang diambil wajar,
pendekatnnya tepat, rumus yang dipakai sesuai, dan perhitungan
aritmatika-nya benar.
3) Proses pengecekan gambar perencanaan akan meyakinkan kita apakah :
- Terdapat kecocokan angka antara perhitungan dan gambar.
- Penempatan posisi dan elevasi sudah benar.
- Proses interpolasi memadai.
- Besaran standar wajar.

e. Menghitung kembali neraca air pada DI. Lintang Kiri


Meneliti dan mengkaji kembali ketersedian air yang dapat dimanfaatkan 80% dapat
diandalkan untuk kebutuhan persawahan sekurang-kurangnya membandingkan dari
2 metode cara perhitungan ketersediaan air dan memperhatikan ketentuan kriteria
KP. 01 Irigasi.
f. Mengumpulkan dan meninjau sistem perencanaan, dan pengelolaan air,
kelembagaan & SDM dan manual O&P dari studi sebelumnya (jika ada),
g. Memeriksa organisasi pengelolaan air, kelembagaan (P3A/GP3A) dan kegiatan O&P
yang telah ada di wilayah proyek termasuk Balai, DINAS dan P3A,
h. Memeriksa dan menyelidiki hambatan/ kendala untuk pengembangan organisasi
pengelolaan air dan pelaksanaan O&P serta mempertimbangkan tindakan
penyelesaian masalahnya sebagai masukan dalam penyusunan pedoman O&P,
i. Berdiskusi dengan pihak terkait untuk finalisasi atas draf pedoman O&P jaringan
irigasi dan pengembangan organisasi pengelolaan air (P3A/GP3A).
j. Menyelesaikan pedoman O&P berdasarkan hasil diskusi tersebut di atas dan
menjelaskan isi pedoman O&P kepada pihak terkait termasuk P3A.

Tata Laksana Perencanaan Rehabilitasi.


Seperti dijelaskan diatas bahwa perencanaan rehabilitasi adalah penyempurnaan
terhadap perencanaan sebelumn ya, maka untuk keperluan efisiensi (ditinjau dari segi
waktu, biaya dan teknis) tidak perlu melakukan pengulangan secara utuh proses
perencanaan lama. Perencanaan rehabilitasi cukup dilakukan dengan
menyempurnakan gambar lama, yang memang dengan maksud untuk penyempurnaan
fungsi jaringan perlu tambahan perencanaan. Tentunya tetap bisa memenuhi
kebutuhan untuk manajemen pengelola jaringan, yaitu :
a. Sebagai dasar untuk perhitungan volume pekerjaan dengan pihak pelaksana
konstruksi.
b. Sebagai dasar untuk keperluan O&P dan pengembangan/peningkatan organisasi
pengelolaan air (P3A/GP3A).

4. Uraian Kegiatan (C) System Planning


Membuat System Planning dan penyusunan Daftar Kebutuhan Pekerjaan :
Tujuan sistem planning adalah menilai status daerah irigasi sekarang, menentukan
kendala-kendala dan masalah yang merintangi pemantapan operasi dan pemeliharaan,
dan untuk mengembangkan pemecahan yang tepat.

a. Bidang-bidang yang tercakup dalam System Planning adalah :


1) Profil Sosio Teknis dan Kelembagaan P3A dan Gabungan P3A, serta aktifitasnya
dalam pengelolaan jaringan irigasi (bila ada)
2) Prakiraan debit andalan sungai/sumber air dengan menganalisa catatan data
yang lampau dan hasil analisis berdasarkan kondisi pada saat ini
3) Penegasan areal potensial dan fungsional, penegasan petak tersier dalam
daerah irigasi dan jaminan perlindungan lahan sawah untuk tidak alih fungsi
selama periode 10 tahun.
4) Penjajagan status pengembangan tersier pengecekan bersama P3A dan
gabungan P3A adanya sadap baru / petak tersier baru.
5) Peninjauan dan dokumentasi cara operasi sekarang, dengan perhatian atas hal-
hal sebagai berikut
- Saling ketergantungan jaringan yang berhubungan dengan daerah irigasi-
daerah irigasi lain yang menerima atau memberikan debit tambahan atau
membagi sumber sungai yang sama. Ini diperlukan untuk mengembangkan
atau menyepakati aturan operasional.
- Identifikasi lokasi untuk mencari penyebab dan mengembangkan
pemecahan atas sadap liar (kesepakatan tentang mengijinkan atau
menutupnya) dan peningkatan status saluran tersier menjadi saluran
sekunder.
- Menentukan kebutuhan air irigasi dan kebutuhan lainnya.
- Identifikasi masalah operasional dan kendalanya untuk pertimbangan dalam
menentukan desain yang cocok.
- Meninjau masalah yang lampau dalam menggunakan bangunan ukur atau
cara pengukurtan debit di DI untuk mencapai kesepakatan dalam
menentukan tipe bangunan ukur yang tepat dan layak untuk DI
bersangkutan.
- Peranserta petani P3A dan gabungan P3A dalam membantu pengelolaan
O&P irigasi.
6) Identifikasi masalah pemeliharaan dan sebab kerusakan bangunan dan
sebagainya, yang berulang-ulang untuk mengembangkan pemecahan
perbaikan dengan mempertimbangkan perhitungan hidrolis yang tepat.
7) Identifikasi kekurangan jumlah personil dan fasilitas O&P ( perumahan
karyawan, komunikasi, transportasi) dan menentukan kebutuhan-kebutuhan
tambahan.
8) Persiapan Rencana Operasi Jaringan.
9) Persiapan rencana Pemeliharaan termasuk pemakaian peralatan berat untuk
pemeliharaan.
10) Peninjauan Daftar Usulan Perbaikan Jaringan Irigasi oleh P3A dan gabungan
P3A.

b. Kegiatan Pelaksanaan System Planning.


1) Penilaian atas keadaan sekarang dalam jaringan sehubungan dengan kondisi
jaringan fisik ( saluran, bangunan,jalan inspeksi,bangunan gedung dan lain-lain
); kinerja sistem irigasi sekarang dengan mengacu kepada keberhasilan
pertanian ; problem besar lainnya yang dialami dalam O&P.
2) Rencana perubahan areal dan batas petak tersier.
Perubahan areal berdasarkan areal yang sudah diukur dengan planimeter,
catatan lama dan pencocokan di lapangan. Penyusunan daftar petak tersiernya
yang memperlihatkan areal lama dan baru, lengkap dengan rincian luas areal
tiap desa.
3) Rencana pembuatan bangunan sadap tersier baru sebagai pengganti sadap
liar. Dalam hal ini harus memperhatikan batasan sebagai berikut:
 Luas petak sawah 0 – 5 ha :
- Pakai sadap pipa (  5 – 10 cm)
- Ketinggian diatur sesuai kebutuhan.
 Luas petak sawah 5 – 10 ha :
- Pakai pintu sorong ( lebar pintu maksimum 30 cm)
- Jika daerah layanan saluran primer / sekunder di hilir  500 ha.
- Tanpa pintu sorong jika daerah layanan primer/sekunder
di hilir  500 ha.
- Pakai pipa sadap (  10-15 cm)
4) Perhitungan atau penentuan nilai debit andalan (dependable flow, Q-80%).
5) Penentuan kebutuhan air irigasi dan kebutuhan lainnya dihitung dengan
memperhatikan data pemberian air yang dipakai selama ini.
6) Perhitungan debit kemampuan (kapasitas) saluran sekarang dan penyesuaian
pada desain saluran.
7) Peninjauan rencana tanam yang ada dan revisi kalau perlu, termasuk rencana
golongan , rencana pengeringan saluran dan lain-lain.
8) Peninjauan prosedur operasi yang sekarang dan penyusunan prosedur yang
tepat untuk kondisi jaringan dengan memakai pertunjuk-petunjuk tentang
prosedur operasi jaringan irigasi.
9) Peninjauan desain jaringan irigasi untuk pengaturan dan pengukuran debit
untuk memenuhi kebutuhan operasi, dengan mempertimbangkan tersedianya
staf dan fasilitas O&P. Pada tiap batas kerja pengelolaan jaringan irigasi harus
diberi fasilitas pengukur debit.
Untuk rencana sadap tersier yang mengairi  10 ha tidak perlu memakai alat ukur.
Untuk menentukan rencana lokasi bangunan ukur dan cara mengukur air,
perludibuat suatu skema pengukuran dan pengaturan air yang memperlihatkan
dengan jelas lokasi bangunan-bangunan ukur ( lama dan rencana baru ) serta
bangunan pengatur air. Skema tersebut harus dibuat berdasarkan Skema Irigasi
yang lengkap dengan luas petak-petak tersier serta luas layanan tiap saluran induk /
sekunder.
10) Penambahan bangunan baru dan penyempurnaan jaringan irigasi termasuk
peningkatan status saluran tersier menjadi saluran sekunder serta fasilitas
lainnya seperti bangunan terjun, lining saluran, pengatur/pengukur debit,
kantor/rumah dinas dan sebagainya harus dalam batas-batas biaya rehabilitasi
dan harus dibuktikan bahwa hal tersebut memang benar-benar dibutuhkan.
11) Revisi nomenklatur bangunan agar sesuai dengan pedoman yang berlaku.
12) Penilaian kebutuhan pegawai O&P untuk jaringan irigasi yang bersangkutan.
13) Penyusunan daftar kebutuhan fasilitas O&P termasuk kantor / rumah dinas,
transportasi dan alat komunikasi.
14) Penyusunan daftar kebutuhan fasilitas O&P P3A dan gabungan P3A termasuk
kantor dan ruang pertemuan.
c. Skema Irigasi
Gambar skema dibuat tanpa skala dan digambar pada satu lembar kertas kalkir
ukuran A1. Saluran Induk / Sekunder digambar dengan garis lurus dengan berbagai
ketebalan sesuai Standar Perencanaan Teknis.
Skema Irigasi harus mencakup :
1) Nama saluran induk / sekunder yang ada.
2) Bendung / bangunan utama dan semua bangunan bagi, bagi /sadap, dan sadap
yang ada, masing-masing diberi label yang benar sesuai nomenklatur sesuai
Standar Perencanaan Irigasi.
3) Pada kotak petak tersier ditulis :
- Nama petak tersier
- Debit rencana (l/dt) (dikosongkan untuk diisi tiap tahap System Planning),
- Luas rencana (areal potensial) (ha),
- Luas sawah irigasi sekarang /fungsional (ha).
4) Cantumkan untuk tiap ruas saluran antara bangunan bagi/sadap :
- Jumlah areal potensial (A) di hilir.
- Debit rencana (Q) untuk ruas tersebut.
(dikosongkan untuk diisi pada tiap tahap System Planning)
- Panjang (L) tiap ruas saluran.
- Dimensi saluran (b=lebar dasar, d = kedalaman air)
(dikosongkan untuk diisi pada tiap tahap System Planning)
5) Batas-batas daerah pengelolaan jaringan irigasi harus diberi batas pemisah
dalam skema irigasi.
6) Suatu tabel ikhtisar Inventarisasi Jaringan Irigasi harus disediakan dalam
gambar Skema Irigasi dengan memberikan nama dan panjang:
- Saluran Induk dan sekunder
- Saluran suplesi.
- Saluran pembuang.
- Daftar type dan jumlah bangunan di sepanjang saluran.
- Areal potensial dan sawah irigasi yang sudah diairi sekarang untuk tiap
saluran.
7) Untuk system golongan (  1 golongan ) harus dibuat skema golongan.

d. Skema Bangunan.
1) Skema Bangunan harus menunjukkan semua bangunan yang ada dengan
Nomenklatur (nama bangunan) dan posisi lokasi bangunan yang benar.
2) Pada setiap bangunan yang ada di saluran induk dan sekunder dan di ujung
saluran agar dicantumkan km-nya (station) dari titik nol. Titik nol pada saluran
dihitung dari pintu pengambilan intake bendung dan pintu sadap masing-
masing untuk saluran sekunder.

e. Pembuatan Peta Pra-Layout.


Dari hasil inspeksi lapangan dan kesepakatan dengan P3A dan Gabungan P3A serta
pembuatan Skema Jaringan irigasi, batas-batas petak tersier yang diusulkan diplot
pada peta dasar untuk menghasilkan peta pra-layout, sebagai dasar untuk System
Planning.

f. Pengukuran Saluran dan Bangunan


Pekerjaan ini meliputi hal-hal sebagai berikut:
1) Pemasangan BM dan CP.
- Pemasangan Bench Mark (BM)
Menambah BM baru jika jarak BM yang ada lebih besar dari 2.000 m pada
satu jalur saluran.
- Pemasangan CP.
Pada bangunan lama yang penting pada setiap dekzerk agar dipasang baut
kuningan dan diukur posisi (x,y,z), dipasang marmer dan diberi notasi /
no.CP. Pada Rencana bangunan baru agar supaya dipasang patok CP
(Control Point) sesuai gambar standar dari Direksi Pekerjaan.
2) Koordinat dan elevasi BM baru/lama diukur kembali.
3) Pemasangan patok BM baru harus sesuai dengan spesifikasi Standar
Perencanaan Irigasi, tanda-tanda nomenklatur harus dipasang dengan
persetujuan Direksi Pekerjaan. Konsultan bertanggungjawab atas pemasangan
BM baru.
4) Membuat Diskripsi BM baru yang menunjukkan posisi letak (X,Y) dan
ketinggian (Z) serta sketsa peta lokasinya.
Deskripsi BM harus dilengkapi dengan lokasi, elevasi, referensi sipat datar BM
bersangkutan.Posisi BM diplot pada peta skala 1 : 5000 dan dilampirkan pada
halaman muka BM.
Dibuat daftar koordinat + elevasi BM baru/lama dan CP baru/lama.
Setiap perbedaan elevasi antara BM baru dan BM lama harus dijelaskan dalam
bab tentang survei dalam laporan akhir, BM yang tidak berlaku dikeluarkan dari
deskripsi BM., letak patok harus diplot dalam skema pengukuran untuk
mengetahui jarak secara planimetris.
5) Elevasi ambang bangunan bagi dan sadap, ketinggian mercu bangunan
pengukur debit dan elevasi bangunan saluran sebelah udik dan sebelah hilir
(bangunan, pengatur, terjun, siphon dll.) harus disipat datar dengan tepat.
Untuk tujuan pengukuran sipat datar ini lokasi harus bersih dari endapan
lumpur. Semua elevasi ini akan dimasukkan di tampang memanjang saluran.
6) Semua elevasi sawah tertinggi pada setiap petak tersier harus diukur untuk
penentuan elevasi muka air ( jika diperlukan) di saluran tersier, sekunder dan
induk.
7) Semua tanda muka air pada saluran (warna coklat) yang membekas agar
dicatat, juga bekas muka air pada bangunan , harus diidentifikasi guna
memberikan informasi dalam menentukan muka air yang tepat untuk
pekerjaan Desain Hidrolik.
8) Mengukur dan menyipat datar tampang memanjang dan melintang dari :
- Saluran Induk, Sekunder dan Tersier.
- Saluran Suplesi.
- Saluran pembuang.
- Tiap Pembuang lainnya, saluran pembuang alami atau sungai yang dianggap
perlu diperbaiki dalam Program Rehabilitasi / Upgrading.
- Saluran tersier yang akan ditingkatkan menjadi saluran sekunder
(berdasarkan hasil kesepakatan baik sebelum atau sesudah diskusi system
planning)
9) Tampang Memanjang.
- Tampang memanjang saluran pembawa diukur dengan jarak patok @ 50 m,
diukur mulai pintu pangkal saluran primer / sekunder.
- Setiap 500 m sepanjang saluran pembawa dipasang patok dari kayu, ukuran
5x7x120 cm atau kayu bundar dengan  7 cm, yang nantinya diganti
dengan patok beton selama pelaksanaan konstruksi pekerjaan rehabilitasi /
upgrading.
- Penyipatan datar harus diakhiri pada bangunan terakhir di saluran dan
untuk drainase di titik tempat masuknya drainase itu ke dalam drainase
induk atau sungai.
- Pengukuran tampang memanjang harus diikat dengan BM yang ada di
sepanjang saluran.
- Patok dipasang tiap 50 m pada bagian yang lurus dan 25 m pada belokan,
atau menurut kebutuhan.
- Bangunan-bangunan sepanjang saluran diukur terhadap patok-patok yang
mengapitnya.
- Pengukuran harus dilakukan pergi-pulang dan double stand.
10) Tampang Melintang.
- Diukur setiap jarak profil 100 m untuk saluran pembawa dan 200 m untuk
ruas saluran pembuang yang lurus . Jika terdapat patahan atau ke rusakan
lain pada saluran yang perlu ditambah profil khusus untuk ketepatan
kerusakan dan perhitungan volume pekerjaan.
- Drainase gendong sepanjang saluran harus diperlakukan sebagai bagian dari
tampang melintang saluran dan disipat datar serta diplot bersama-sama
dengan tampang saluran, dalam gambar yang sama.
- Lebar profil melintang yang diukur adalah 10 m ke kiri dan 10 m ke kanan
dari tepi saluran dan dari kaki tanggul luar ( jika ada tanggul) baik pada
saluran pembawa maupun pembuang. Untuk butir (b) di atas lebar profil
melintang disesuaikan seperlunya.
- Setiap perubahan trace, tampang saluran harus diukur.

11. Persyaratan-persyaratan lain :


- Alat yang digunakan penyipat datar otomatik Ni-2, NAK-1, NAK-2 atau yang
setara. Jika kondisi tidak memungkinkan dapat digunakan T-0.
- Jarak diukur dengan optis dan pita ukur baja.

5. Uraian Kegiatan (D)


Tugas-tugas dibawah ini adalah pembuatan desain rehabilitasi rinci, perhitungan
volume pekerjaan (BOQ) dan Rencana Anggaran Biaya (RAB), persiapan dokumen
tender dan penyusunan Pedoman O&P dan Buku Data DI.
a. Desain
Disain hidrolis dan bangunan hendaknya dikerjakan untuk item-item yang telah
disepakati pada rapat System Planning. Desain akan didasarkan atas gambar-
gambar tampang memanjang dan melintang saluran pembawa dan pembuang yang
disusun di bawah kegiatan survey lapangan, data lain serta keputusan-keputusan
pada rapat System Planning. Item-item yang akan didesain meliputi:
1) bendung, saluran primer, sekunder dan saluran tersier dan bangunan.
2) Penambahan-penambahan atau penyempurnaan kecil pada bangunan-
bangunan (bangunan pengatur dan pengukur debit, pintu-pintu, kantong
lumpur dan sebagainya).
3) Harus juga dilakukan pengecekan terhadap kapasitas debit saluran, pintu
pengambilan , pintu sadap, dan bangunan pengatur debit lainnya agar
memeniuhi persyaratan-persyaratan desain.
4) Terhadap desain pintu sadap harus mengikuti Standar Perencanaan Irigasi.
5) Untuk bangunan-bangunan besar seperti bendung, bangunan bagi besar atau
urugan tanggul-tanggul besar perlu dilakukan perhitungan stabilitas dengan
menggunakan hasil penyelidikan geoteknik dari kegiatan survey lapangan.

b. Pembuatan Gambar.
1) Semua bangunan air pada jaringan irigasi yang ada, kecuali tangga cuci,
kubangan kerbau, jembatan hewan, jembatan orang, dan bangunan pengaman
harus digambar (skala 1:100 atau 1;50) dengan ukuran-ukuran sesuai dengan
kenyataan di lapangan.
2) Dari hasil perhitungan hidrolis, ketinggian muka air yang direncanakan harus
digambar pada tampang memanjang dan melintang, termasuk profil
hidroliknya juga harus digambar.
3) Pekerjaan perbaikan atau penyempurnaan harus dicantumkan dengan jelas.
Jika dianggap perlu, bagian pekerjaan itu harus digambarkan dengan detail
serta catatan yang jelas. Semua gambar bagian bangunan yang akan menjalani
pekerjaan rehabilitasi harus lengkap dengan dimensinya, sehingga
memudahkan pelaksanaan pekerjaan konstruksi.
4) Desain untuk bangunan baru yang direncanakan harus digambar lengkap
termasuk detail fondasi dan sebagainya.
5) Sebuah peta Skema Konstruksi baru harus disusun berdasarkan skema yang
disusun dalam Kegiatan survey lapangan yang mencantumkan semua
bangunan sepanjang saluran dengan menunjukkan dengan jelas lokasi dalam
km. dan apakah bangunan tersebut baru, sudah ada untuk diperbaiki,sudah
ada untuk dibongkar dan/atau untuk dibangun kembali. Lambang atau garis-
garis yang berbeda dapat dipakai untuk menunjukkan hal-hal ini dengan diberi
penjelasan dalam kolom legenda gambar.
6) Gambar bangunan standar harus diberi tabel dimensi yang jelas untuk tiap
jenis bangunan.
7) Persyaratan Gambar
Semua gambar harus :
- Sesuai dengan Standar perencanaan Irigasi, Ditjen Sumber Daya Air
Kementerian PU, 2013.
- Untuk angka dan huruf harus pakai sablon/lettering set.
- Semua gambar harus diatas kertas kalkir A1 (594mmx841 mm)
- Besar dan ketebalan garis harus sesuai dengan standar dalam butir (a) di
atas.
8) Bangunan yang akan digambar harus dibagi ke dalam dua kategori :
- Bangunan baru dan yang ada dimana ada pekerjaan konstruksi dibawah
Rehabilitasi.
- Bangunan tanpa pekerjaan konstruksi.
- Bangunan yang tidak memerlukan pekerjaan konstruksi / rehabilitasi harus
dijilid dalam satu album terpisah dan diserahkan.
9) Selain gambar-gambar bangunan air tersebut harus dibuat juga gambar-
gambar rencana bangunan gedung baru atau perbaikan. Lokasi semua
bangunan agar digambarkan pada Peta DI.
10) Gambar bangunan utama, bangunan besar lainnya & system irigasi termasuk
perhitungan design yang mempunyai masalah khusus harus didiskusikan
terlebih dahulu bersama Direksi Pekerjaan / Pejabat BBWSS.VIII sebelum
dilakukan finalisasi gambar.

c. Laporan Perhitungan Desain (Design Note).


1) Laporan Perhitungan Desain harus disusun secara sistimatis dan diserah kan.
Perincian perhitungan desain harus diuraikan dengan jelas pada semua
pekerjaan untuk acuan selama pelaksanaan pekerjaan dan sesudahnya.
2) Hal-hal berikut harus dimasukkan dalam catatan desain :
- Parameter desain yang dipakai untuk saluran dan bangunan (koefisien
kekasaran, beban,tegangan).
- Contoh perhitungan hidrolik untuk saluran dan sadap, dengan tabel untuk
semua saluran dan sadap.
- Perhitungan desain bangunan (catatan desain oleh ahli teknik /insinyur)
- Hal-hal lain jika diminta dan disetujui oleh Direksi/Pemilik pekerjaan.

Teori tentang desain tidak perlu diberikan, tetapi cukup dengan menyebutkan
referensi buku atau tabel tersebut diambil.

d. Perhitungan Volume Pekerjaan (BOQ) dan Rencana Anggaran Biaya (RAB).


1) Lembar perhitungan volume pekerjaan (BOQ) agar dirinci untuk seluruh usulan
paket pekerjaan dan sesuai dengan hasil diskusi System Planning . Kemudian
dibuat daftar rekapitulasi pada masing-masing rincian tersebut antara lain
volume galian dan timbunan (m3), volume pasangan batu (m3), luas plesteran
(m2) dsb. Jika dalam 1 paket terdiri lebih dari 1 DI, maka rincian volume tiap DI
juga harus dibuat.
Prosedur sistematis harus diikuti untuk mempermudah perhitungan dan
pengontrolan volume. Untuk pekerjaan bangunan air harus disediakan skets
yang jelas untuk mutual check berikutnya.

2) Pembuatan Rencana Anggaran Biaya (RAB) untuk pekerjaan konstruksi harus


didasarkan atas harga bahan dan upah tenaga kerja yang berlaku di lokasi
pekerjaan. Hal ini dapat diperoleh dari daftar PITB (Pusat Informasi Teknik
Bangunan-Dinas PU Cipta Karya ) informasi dari Dinas/Cabang Dinas PU
Pengairan dan survey harga /upah nyata di lapangan.

Upah tenaga kerja harus mengacu pada “Upah Minimum Regional” yang
dikeluarkan Menteri Tenaga Kerja, Gubernur Propinsi dan bupati .

Pembuatan “Analisa Harga Satuan Pekerjaan” menggunakan format dari


Keputusan Menteri PU Nomor 28/PRT/M/2016 – 8 Agustus 2016, dengan
referensi SNI dan P5 (penggunaan alat berat) serta disesuaikan dengan
kebutuhan di lapangan.

3) Disamping pembuatan RAB konstruksi secara keseluruhan (global), Tim


Konsultan juga harus membuat RAB secara tahapan pelaksanan pekerjaan
(stages) dan berdasarkan skala prioritas (prioritizing) tergantung dari cakupan
pekerjaan yang akan dilaksanakan. Apabila karena kebutuhannya harus
dilakukan tahapan > 1 tahun anggaran, maka RAB tahap I harus disusun untuk
tiap item pekerjaan dengan prioritas yang mengakibatkan jaringan irigasi
tersebut dapat berfungsi optimal dengan pemilihan skala prioritas pada
pekerjaan bangunan/saluran yang mendukung optimalisasi fungsi tersebut.
Sedang tahap II dan selanjutnya RAB disusun untuk item pekerjaan pendukung
penyempurnaan fungsi jaringan irigasi yang akan dilaksanakan dan dibiayai
oleh Pemerintah Daerah dan atau petani/P3A/Gabungan P3A sendiri.

e. Persetujuan Desain.
1) Draft Gambar Desain sebelum disetujui direksi harus dilakukan pengecekan di
lapangan.
2) Seluruh dettail desain dan gambar harus didiskusikan dan diasistensikan
dengan Tim Direksi. Setelah selesai, desain dan gambar-gambar diperiksa dan
disetujui oleh Direksi/ Pemberi Pekerjaan.
3) Hasil pekerjaan desain dapat diterima setelah seluruhnya disetujui oleh Direksi.

f. Buku Petunjuk O&P.


Petunjuk O&P dipergunakan oleh Petugas O&P bersama gabungan P3A untuk
mengatur pelaksanaan O&P sistem Irigasi dimana nantinya akan diserahkan secara
bertahap kepada P3A/Gabungan P3A.
Pembuatan Petunjuk O&P suatu Jaringan Irigasi meliputi hal-hal sebagai berikut:
1) Cara Operasi mencakup :
- Rencana tanam (luas, jenis,intensitas tanam, kebutuhan airi tanaman,
ketersediaan debit andalan.
- Rencana tata tanam dan persetujuannya ( melibatkan P3A, gabungan P3A
dan Dinas pengairan).
- Rencana pembagian air.
- Operasi musim hujan (cara,tindakan selama hujan lebat dll.)
- Operasi musim kemarau.
- Cara operasi bangunan utama (operasi pintu pengambilan, pintu penguras,
kantong lumpur dll.)
- Cara operasi bangunan bagi (operasi pintu,pengukur debit dll.)
2) Cara Pemeliharaan mencakup :
- Penelusuran jaringan
- Perawatan rutin dan berkala (uraian pekerjaan dan penugasan,
perencanaan, pemeliharaan rutin dll.)
- Pencegahan dan pengamanan.
- Cara perbaikan darurat.
- Perawatan fasilitas O&P.
3) Tindakan darurat (kriteria keadaan darurat banjir, pemberitahuan darurat dan
penugasan pegawai, sistem komunikasi, logistik, prosedur penutupan saluran
dll.)
4) Organisasi dan personalia (organisasi O&P,Daftar personalia, batas wilayah,
alokasi tugas,jadwal inspeksi dll.)
5) Catatan dan laporan (catatan yang harus ditata dan laporan yang harus disusun
meliputi operasi dan pemeliharaan, formulir-formulir lainnya, alur data dan
pengolahan data dll.)
6) Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) dan gabungan P3A (struktur organisasi,
data yang harus disusun untuk rapat, tugas kaitan dengan P3A dan gabungan
P3A, pembagian tugas P3A dan gabungan P3A dll)
7) Perhitungan biaya O&P berdasarkan kebutuhan nyata AKNOP termasuk
pemeliharaan rurtin, peralatan dan fasilitas.

g. Buku Data Daerah Irigasi.


Data tentang jaringan irigasi yang dikumpulkan dan dihasilkan dalam kegiatan –
kegiatan tersebut diatas disusun menjadi Buku Data DI . Buku ini memuat data yang
dibutuhkan untuk perencanaan tahunan O&P serta data umum dan data teknis
daerah irigasi Lintang Kiri.
Penyusunan buku data DI meliputi:
1) Pendahuluan
2) Data Dasar jaringan irigasi (peta & skema, data JI, gambar & laporan, Uraian BM
dll.)
3) Data Hidrologi (curah hujan & data klimatologi, debit sungai, catatan banjir dll).
4) Data desain (data desain saluran, tabel debit untuk bangunan bagi, debit rencana
di sada tersier dll.)
h. Penyusunan Dokumen Tender.
Dokumen Tender yang terdiri dari Album Gambar, Spesifikasi Teknis (khusus),
Volume Pekerjaan (BOQ), bersama metode pelaksanaan pekerjaan, harus disusun
dan diserahkan sebagaimana diperintahkan oleh Direksi / Pemberi pekerjaan.

i. Produk Kegiatan
1) Dokumen Tender.
 Album gambar yang berisi :
- Peta Daerah Irigasi skala 1:5.000.
- Peta Ikhtisar skala 1:10.000 atau 1:20.000
- Skema Irigasi
- Skema bangunan yang memperlihatkan lokasi pekerjaan bangunan.
- Gambar bendung/bangunan Utama
- Gambar-gambar tampang memanjang dan melintang saluran
- Gambar-gambar bangunan air dan gedung
- Gambar detail standar
 Spesifikasi Teknis (khusus)
 Volume Pekerjaan (BOQ),
 Metode Pelaksanaan Pekerjaan.
2) Rencana Anggaran Biaya (RAB).
3) Petunjuk Operasi dan Pemeliharaan.
4) Buku Data Daerah Irigasi.
5) Nota Perhitungan Desain (Design Note) yang mencakup perhitungan hidrolis,
stabilitas sruktur dan perhitungan desain lainnya untuk pekerjaan rehabilitasi.
6) Buku data pendukung untuk analisa ekonomi dan lain-lain yang dikumpulkan
selama pekerjaan berlangsung.

6. Kegiatan (E) Penyusunan Rencana Peningkatan Kelembagaan & SDM Irigasi


Kelembagaan pembangunan pertanian yang kuat sangat diperlukan agar tercipta iklim
yang mempu mendorong terpenuhinya syarat mutlak dan syarat pelancar bagi
pembangunan pertanian. Untuk itu perlu adanya penyusunan rencana peningkatan
kelembagaan & SDM Irigasi
Peran kelembagaan petani yang mendukung keberlanjutan pertanian diberikan kriteria
(Nurmala dkk, 2012):
a. Subsistem Sarana
Perencanaan, pengelolaan, pengadaan dan penyaluran sarana produksi yang
memungkinkan penerapan suatu teknologi usaha tani dan pemanfaatan SDA secara
optimal
b. Subsistem Usahatani
Pembinaan dan pengembangan usaha tani dalam rangka peningkatan produksi
pertanian, baik usaha tani pertanian rakyat maupun usaha tani besar
c. Subsistem Pengolahan
Pengolahan hasil secara sederhana di tingkat petani dan penanganan pasca panen
komoditi pertanian yang di hasilkan samapai pada tingkat pengolahan lanjut selama
bentuk , susunan dan citarasa komoditi tersebut tidak berubah
d. Subsistem Pemasaran
Pemasaran hasil usaha tani yang masih segar atau hasil olahannya mencakup
kegiatan distribusi dan pemasaran di dalam negeri dan ekspor
e. Subsistem Pelayanan atau Pendukung (Departemen Pertanian, 2011 dan Zakaria,
2003) Jasa perbankan, jasa angkutan, asuransi, penyimpanan dan lain-lain

Seluruh kegiatan yang tercakup dalam Acuan Kerja ini harus dilaksanakan berdasarkan
Spesifikasi Teknis masing-masing kegiatan yang merupakan bagian tak terpisahkan dari
Acuan kerja ini kecuali untuk hal-hal yang sudah ditentukan khusus dalam lingkup pekerjaan
diatas. Spesifikasi Teknis yang dilampirkan dalam Acuan Kerja ini meliputi :
1. Lampiran 1 ........... Survey Inventarisasi dan Pemetaan Topografi
2. Lampiran 2 ........... Survey Hidrologi dan Hidrometri
3. Lampiran 3 ........... Survey Sosio-Agro-Ekonomi dan Lingkungan.
4. Lampiran 4 ........... Survey Mekanika Tanah.

H. WAKTU PELAKSANAAN
Waktu pelaksanaan pekerjaan ini 240 (dua ratus empat puluh) hari kalender atau 8 bulan
terhitung sejak dikeluarkannya SPMK.

I. KEBUTUHAN TENAGA AHLI


Tenaga ahli konsultan yang dipekerjakan untuk jasa konsultasi ini harus memiliki
kemampuan yang tinggi dibidangnya masing-masing dan pemahaman yang baik atas
pekerjaan. Setiap tenaga ahli yang diajukan harus memiliki beberapa tahun pengalaman
profesional dan pendidikan yang sesuai seperti ditunjukkan dibawah ini :

1. Ketua Tim (Team Leader) 1 orang selama 8 bulan.


Ketua Tim (Team Leader) dengan persyaratan minimal berpendidikan sarjana teknik
sipil/pengairan (S1) Iulusan perguruan tinggi negeri atau perguruan tinggi swasta yang
telah diakreditasi, berpengalaman profesional dalam pelaksanaan pekerjaan
perencanaan desain irigasi dan/atau bendung dan/atau bendungan/waduk/embung,
minimal 6 (enam) tahun dilengkapi referensi kerja dari pengguna jasa/Pejabat
Pembuat Komitmen, pernah bertindak sebagai tim leader minimal 4 kali serta
memiliki sertifikat keahlian Sumber Daya Air (SDA) minimal Ahli Madya 6 Tahun yang
dikeluarkan oleh asosiasi profesi yang terakreditasi di LPJK dan masih berlaku .

Team Leader memiliki tugas dan tanggung jawab atas seluruh manajemen pekerjaan
perencanaan desain termasuk penyusunan laporan kemajuan pekerjaan secara teratur
sebagai Ketua Tim Konsultan, mencakup tapi tidak terbatas untuk:
a. Mewakili tim konsultan dan bertanggung jawab penuh terhadap jasa layanan
perencanaan berdasarkan Kontrak Pelaksanaan Jasa Konsultan
b. Melaksanakan koordinasi dengan PPK, satker dan aparat serta instansi pemerintah
terkait setempat dalam pelaksanaan pekerjaan perencanaan.
c. Mengawasi dan mengendalikan seluruh kegiatan yang dilaksanakan oleh tenaga ahli
dan staf tim konsultan.
d. Membuat schedule pelaksanaan pekerjaan.
e. Memonitor progress pekerjaan yang dilakukan tenaga ahli.
f. Mengkaji ulang serta pengecekan keseluruhan hasil pekerjaan yang telah
dilaksanakan.
g. Melaksanakan presentasi dengan direksi pekerjaan dan instansi terkait.
h. Mengarahkan seluruh anggota team dalam menyiapkan laporan yang disyaratkan
dalam kontrak.
i. Bertanggung jawab terhadap hasil pekerjaan.
j. memastikan perencanaan K3 untuk menjamin keselamatan dan keamanan pekerja,
personil PPK, masyarakat umum dan pekerjaan ;
k. Menyiapkan dan menyampaikan semua laporan yang disyaratkan dalam Kerangka
Acuan Kerja ini dan laporan khusus teknis (bila diperlukan).
l. Menyimpan dan menyusun data yang diperlukan untuk penyusunan laporan
pekerjaan selesai
m. Hadir dalam rapat rutin dan rapat khusus (ad-hoc) serta mengkoordinasikan
penyiapan bahan diskusi untuk rapat rutin/rapat khusus (ad-hoc)

2. Ahli Irigasi 1 orang selama 6 bulan.


Sarjana (S1) dengan latar belakang pendidikan Teknik Sipil/ pengairan lulusan
universitas/perguruan tinggi negeri/swasta yang telah diakreditasi dan memiliki
keahlian dalam perencanaan desain sistem irigasi, bendung dan PLB dengan
pengalaman kerja minimal 3 tahun dalam pekerjaan desain atau penyusunan gambar
konstruksi untuk proyek irigasi dilengkapi dengan referensi kerja dari Pengguna
Jasa/Pejabat Pembuat Komitmen serta mempunyai Sertifikat Keahlian (SKA) di bidang
Sumber Daya Air minimal Ahli Madya 3 Tahun yang diterbitkan oleh Asosiasi Profesi
yang telah terakreditasi oleh Lembaga yang berwenang dan yang masih berlaku.

Memiliki tugas dan tanggung jawab tapi tidak terbatas untuk:


a. Berkoordinasi dengan tenaga ahli lain yang terkait dengan penyusunan desain.
b. Menyiapkan detail jadwal dan pelaksanaan pekerjaan desain.
c. Menyusun sistem pengelolaan air dan system planing yang sesuai dengan lokasi
studi dan menyiapkan alternatifnya.
d. Menyiapkan kriteria desain dan membuat check list verifikasi desain.
e. Melaksanakan perhitungan dan pemeriksaan hasil desain hidrolika dan bangunan
air.
f. Memfinalisasikan detail desain dan gambarnya, spesifikasi teknis, perkiraan biaya,
dan referensi yang terkait.
g. Menyusun laporan desain, gambar desain, spesifikasi teknis
h. .Mengawasi persiapan dokumen tender termasuk spesifikasi teknis, gambar tender,
rencana persyaratan kontrak, dan bill of quantity.
i. Menghitung daerah layanan irigasi yang diusulkan berdasarkan ketersediaan air
andalan
j. berdasarkan indeks pertanaman saat ini dan perkiraan yang akan datang,
menetapkan kebutuhan air untuk tanaman dan kebutuhan air untuk irigasi
k. Menyediakan layout umum dari proyek yang menunjukkan area layanan, skema
jaringan irigasi dan skema saluran drainase
l. Menyediakan skema jaringan irigasi dan drainase
m. Melakukan inventarisasi bangunan dan jaringan irigasi kondisi eksisting sekaligus
kondisi kerusakan-kerusakan yang terjadi (bila ada)
n. Menyediakan peta lokasi yang menunjukkan nama, lokasi dan deskripsi umum
proyek
o. meninjau hasil desain dan parameter biaya dari studi sebelumnya dan membuat
modifikasinya, jika diperlukan, berkoordinasi dengan tenaga ahli lainnya,
p. memeriksa sistem drainase dan pengembangan yang dibutuhkan di area proyek,
q. Menghitung perkiraan biaya OP irigasi termasuk alternatif-alternatifnya
r. Melaksanakan tugas yang didelegasikan oleh ketua tim untuk kepentingan
penyelesaian studi dan bertanggung jawab langsung kepada Team Leader terhadap
penyelesaian pekerjaan

3. Ahli Struktur Bangunan Air/Hidrolika 1 orang selama 2 bulan


Sarjana (S1) dengan latar belakang pendidikan Teknik Sipil/ pengairan lulusan
universitas/perguruan tinggi negeri/swasta yang telah diakreditasi dan memiliki
keahlian dalam perencanaan hidrolik bendung, saluran, dan bangunan air pada daerah
irigasi dengan pengalaman kerja minimal 3 tahun dalam pekerjaan perencanaan
hidrolika bangunan air atau penyusunan gambar konstruksi untuk proyek irigasi
dilengkapi dengan referensi kerja dari Pengguna Jasa/Pejabat Pembuat Komitmen
serta mempunyai Sertifikat Keahlian (SKA) minimal Ahli Madya 3 Tahun di bidang
Sumber Daya Air yang diterbitkan oleh Asosiasi Profesi yang telah terakreditasi oleh
Lembaga yang berwenang dan yang masih berlaku.

Memiliki tugas dan tanggung jawab tapi tidak terbatas untuk:


a. Pembuatan lay out jaringan irigasi dan drainase
b. Mengumpulkan dan memperbaharui data terkait data hidrolika
c. Membuat kriteria desain untuk fasilitas irigasi dan drainase
d. Melakukan Analisis permodelan aliran dan hidrolikanya
e. Mempersiapkan detail desain jaringan irigasi dan fasilitas drainase
f. Memberi pengarahan tim desain untuk melaksanakan tugasnya
g. Melakukan Analisis transpor sedimen
h. Membuat Bill of Quantity, perhitungan biaya konstruksi, dokumen tender, spesifikasi
teknik
i. Bertanggung jawab kelancaran pekerjaan desain sesuai jadwal pelaksanaan yang
telah dibuat
j. Melaksanakan tugas yang didelegasikan oleh ketua tim untuk kepentingan
penyelesaian studi dan bertanggung jawab langsung kepada Team Leader terhadap
penyelesaian pekerja

4. Ahli Hidrologi 1 orang selama 2 bulan


Ahli Hidrologi berpendidikan S1 Teknik Sipil atau Pengairan Jurusan Hidrologi lulusan
universitas/perguruan tinggi negeri atau swasta yang telah diakreditasi dan memiliki
keahlian dalam perhitungan dan analisis hidrologi untuk perencanaan daerah irigasi,
dengan pengalaman minimal 3 tahun dilengkapi dengan referensi kerja dari Pengguna
Jasa/Pejabat Pembuat Komitmen serta mempunyai Sertifikat Keahlian (SKA) minimal
Ahli Madya 3 Tahun di bidang Sumber Daya Air yang diterbitkan oleh Asosiasi Profesi
yang telah terakreditasi oleh Lembaga yang berwenang dan yang masih berlaku.

Memiliki tugas dan tanggung jawab tapi tidak terbatas untuk:


a. Mengumpulkan dan memperbaharui data terkait data hidrologi dan meteorologi;
b. Melakukan review/updating parameter hidrologi yang digunakan pada studi
sebelumnya (jika ada)
c. Menganalisis debit sungai yang akan digunakan sebagai sumber air irigasi yang
mencakup debit andalan, debit normal dan Analisis debit banjir dengan estimasi
kejadiannya;
d. Melakukan Analisis neraca air sesuai kondisi sekarang ;
e. Menyusun dan merekomendasikan Analisis desain terkait kebutuhan air irigasi,
kebutuhan drainase, dan sebagainya;
f. Menyiapkan laporan hasil Analisis hidrologi yang meliputi Analisis neraca air,
perhitungan debit, perhitungan kebutuhan air irigasi, dan sebagainya.
g. Melakukan estimasi kebutuhan air menggunakan curah hujan 10 harian yang
dihitung dari curah hujan harian dengan jadwal tanam yang bervariasi untuk
menetapkan kebutuhan air terendah termasuk skenario perubahan iklim terbaru.
h. Membuat Analisis hidrologi untuk beberapa skema yang berbeda/lokasi alternatif
i. Dalam kasus ada beberapa stakeholder pengguna air atau beberapa sistem irigasi
dari sumber air yang sama maka harus dihitung neraca air sistem /wilayah sungai
tersebut.
j. Mengumpulkan sampel air dari beberapa sumber air dan melakukan pengujian
kualitas air serta memetakan area yang terkena polusi / mengalami intrusi air laut
k. Melakukan Analisis banjir untuk beberapa kala ulang dan membuat hidrograf banjir
untuk kala ulang 2, 5, 10, 25, 50, dan 100, tahun
l. Mengumpulkan dan melakukan validasi data hidro-meteorologi dalam wilayah
sungai dengan data yang terbaru (tidak lebih dari 1 tahun)
m. Menyiapkan laporan hasil Analisis hidrologi yang meliputi Analisis neraca air,
perhitungan debit, perhitungan kebuthan air irigasi, dan sebagainya.
n. Melaksanakan tugas yang didelegasikan oleh ketua tim untuk kepentingan
penyelesaian studi dan bertanggung jawab langsung kepada Team Leader terhadap
penyelesaian pekerjaan

5. Ahli Geodesi/GIS 1 orang selama 3 bulan.


Sarjana (S1) Teknik Geodesi lulusan universitas /perguruan tinggi negeri/swasta yang
telah diakreditasi dengan pengalaman kerja minimal 3 tahun dalam
pengukuran/pemetaan daerah irigasi, dilengkapi dengan referensi kerja dari Pengguna
Jasa/Pejabat Pembuat Komitmen dan memiliki Sertifikat Keahlian (SKA) minimal Ahli
Madya 3 Tahun di bidang pengukuran (Geodesi)/Survey Permukaan tanah yang
diterbitkan oleh Asosiasi Profesi yang telah terakreditasi oleh Lembaga yang
berwenang serta masih berlaku.

Memiliki tugas dan tanggung jawab tapi tidak terbatas untuk:


a. Menyiapkan rencana detail kerja dan jadwal pelaksanaan pekerjaan geodetik;
b. Menentukan bench marks pada area project untuk pekerjaan konstruksi;
c. Menyiapkan laporan terkait pekerjaan geodesi mencakup hasil foto dokumentasi,
pengukuran topografi, dan hasil survei geodesi lainnya;
d. Melakukan review peta dan data survey dari area proyek
e. Menyiapkan peta dasar yang menunjukkan daerah layanan yang diusulkan beserta
drainasenya
f. Memonitor pelaksanaan survey topografi serta penetapan titik kontrol vertikal dan
horizontal
g. Menyiapkan peta topografi profil dan cross-section/potongan saluran utama
h. Melaksanakan tugas yang didelegasikan oleh ketua tim untuk kepentingan
penyelesaian studi dan bertanggung jawab langsung kepada Team Leader terhadap
penyelesaian pekerjaan.

6. Ahli Mekanika Tanah 1 orang selama 2 bulan.


Ahli mekanika tanah, berpendidikan S1 Teknik Sipil lulusan universitas/perguruan
tinggi negeri atau swasta yang telah diakreditasi dan memiliki keahlian dibidang
mekanika tanah/soil mechanical untuk perencanaan bangunan air dan berpengalaman
dalam menganalisa hasil penyelidikan laboratorium mekanikan tanah dengan
pengalaman minimal 3 tahun dilengkapi dengan referensi kerja dari Pengguna
Jasa/Pejabat Pembuat Komitmen, memiliki Sertifikat Keahlian (SKA) di bidang Sumber
Daya Air minimal Ahli Madya 3 Tahun yang diterbitkan oleh Asosiasi Profesi yang telah
terakreditasi oleh Lembaga yang berwenang dan yang masih berlaku.

Memiliki tugas dan tanggung jawab tapi tidak terbatas untuk:


a. Mengumpulkan dan mereview /updating parameter geologi dan pengujian yang
dilakukan dalam studi sebelumnya
b. Melaksanakan pemetaan dan pengujian geoteknik yang disyaratkan mencakup
detail frekuensi, lokasi, metodologi
c. Melakukan pemetaan geologi permukaan dan investigasi geologi sub-surface yang
termasuk pengujian tekanan air serta pengujian material konstruksi (tanah dan
agregat)
d. Memberikan rekomendasi tingkat keamanan dan stabilitas pondasi
e. Menyiapkan para meter untuk detail desain berdasarkan hasil investigasi untuk
penyusunan detail desain irigasi;
f. Melakukan Analisis geologi teknik dan mekanika tanah untuk
mengidentifikasi stabilitas pondasi, lereng, dan abutmen/perletakan pondasi
dan struktur bangunan
g. Analisis ketersediaan bahan bangunan, sumbernya dan borrow area (data material
konstruksi, lokasi borrow dan quarry area);
h. Analisis kekuatan tanah (mekanika tanah) dan identifikasi sumber material
konstruksi
7. Ahli Sosial Ekonomi Pertanian, Kelembagaan dan Pemberdayaan Masyarakat 1
orang selama 1 bulan.
Sarjana (S-1) pertanian dengan latar belakang pendidikan Pertanian atau Sosial atau
Ekonomi lulusan universitas/perguruan tinggi negeri/swasta yang telah diakreditasi
dengan pengalaman kerja minimal 3 tahun dalam pengumpulan dan analisis data
kondisi sosial ekonomi masyarakat di daerah pertanian, analisis ekonomi proyek-
proyek prasarana keairan, evaluasi dampak sosial ekonomi dan kelayakan proyek serta
operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi, dilengkapi dengan referensi kerja dari
Pengguna Jasa/Pejabat Pembuat Komitmen.

Memiliki tugas dan tanggung jawab tapi tidak terbatas untuk:


a. Mengumpulkan data tata tanam, varitas tanaman, metode pertanian, dan aspek
agro-ekonomi;
b. Mengkaji dan merekomendasikan pola tanam;
c. Memperhitungkan data produktivitas tanaman;
d. Menyiapkan rencana pengembangan pertanian;
e. Memperjelas pasar potensial untuk hasil pertanian;
f. Memperkirakan biaya produksi untuk jenis tanaman yang diusulkan;
g. Memperkirakan Analisis manfaat dalam kondisi ada atau tidak ada proyek;
h. Melakukan evaluasi keuangan dan ekonomi proyek;
i. Menyiapkan laporan teknis terkait pekerjaan Analisis pertanian;
j. Melakukan review /updating Analisis agronomi dari studi sebelumnya (jika ada)
k. Melakukan survey pengelolaan lahan pertanian dengan wawancara petani pada area
usulan proyek
l. Inventarisasi seluruh petani yang tercakup dalam usulan area proyek lengkap
dengan data keluarga, status kepemilikan lahan pertanian, kondisi tata tanam
(irigasi/tadah hujan)
m. Mengumpulkan data pertanian sekunder untuk mensupport Analisis agronomi. Data
tersebut mencakup profil demografi, mesin mekanis pertanian, fasilitas pasca
panen, rencana tata guna lahan menyeluruh dan update data pertanian lain
n. Apabila terdapat jaringan irigasi eksisting maka tenaga ahli harus mengumpulkan
laporan OP terakhir yang didalamnya mencakup data area irigasi saat musim hujan
dan kemarau serta hasil panen rata-rata
o. Berkolaborasi dengan ahli tanah pertanian untuk menetapkan nutrisi/kandungan
dalam tanah serta klasifikasi tanah di area proyek untuk menentukan jenis tanaman
yang cocok
p. Menginformasikan tenaga ahli hidrologi mengenai tanaman yang dapat ditanam
pada area proyek sebelum menetukan pola tata tanam berikutnya
q. Analisis agronomi harus mencakup : populasi dan tenaga penggarap, lahan yang
dapat ditanami, hasil produksi, input pertanian, pola tata tanam, distribusi
penggarap per tanaman dan per operasional lahan, distribusi petani berdasarkan
status kepemilikan dan ukuran lahan, inventarisasi mesin pertanian dan fasilitas
paska panen, inventarisasi layanan pendukung pertanian seperti institusi pinjaman,
lahan percobaan, koperasi input pertanian, institusi peneliti pemerintah yang
mendukung pertanian di lokasi proyek. Data tersebut harus dipresentasikan dan
dibandingkan antara kondisi saat ini dan kondisi akandatang baik dengan adanya
usulan proyek maupun tanpa uasulan proyek
r. Melaksanakan tugas yang didelegasikan oleh ketua tim untuk kepentingan
penyelesaian studi

8. Ahli Cost Estimate 1 orang selama 2 bulan


Ahli Cost Estimate berpendidikan minimal Sarjana S1 jurusan Teknik Sipil/Pengairan
atau jurusan lain yang sederajat, yang dibuktikan dengan ijazah; Mempunyai SKA SDA
minimal ahli madya yang diterbitkan oleh Asosiasi Profesi yang telah terakreditasi oleh
lembaga yang berwenang; serta berpengalaman melaksanakan pekerjaan perhitungan
rencana anggaran biaya konstruksi, minimal 4 (empat) tahun.
Memiliki tugas dan tanggung jawab tapi tidak terbatas untuk:
a. melakukan perhitungan Volume dan RAB;
b. membuat pemaketan pekerjaan;
c. Menyusun BOQ dan RAB;
d. bertanggung jawab langsung kepada Ketua Tim terhadap perhitungan Volume dan
RAB

9. Asisten Tenaga Ahli


a. Asisten Tenaga Ahli Irigasi (1 orang, 6 bulan)
Lulusan S-1 Teknik Sipil, dengan pengalaman kerja sekurang-kurangnya 3 tahun
dalam bidang irigasi. Bertugas membantu Tenaga Ahli Irigasi dan melaksanakan
tugasnya.
b. Asisten Tenaga Ahli Geodesi (1 orang, 3 bulan)
Lulusan S-1 Teknik Sipil / S-1 Teknik Geodesi, dengan pengalaman kerja sekurang-
kurangnya 3 tahun dalam bidang Pengukuran dan Pemetaan. Bertugas membantu
Tenaga Ahli Geodesi dan melaksanakan tugasnya.
c. Asisten Tenaga Ahli Cost Estimate (1 orang, 2 bulan)
Lulusan S-1 Teknik Sipil, dengan pengalaman kerja sekurang-kurangnya 3 tahun
dalam bidang perhitungan voulme dan rab. Bertugas membantu Tenaga Ahli Cost
Estimate dan melaksanakan tugasnya.

10. Tenaga Pendukung


a. Chief Surveyor (1 orang, 3 bulan)
Lulusan D-III Teknik Sipil, dengan pengalaman kerja sekurang-kurangnya 3 tahun
dalam bidang pengukuran dan pemetaan. Bertugas sebagai koordinator surveyor
dalam melaksanakan pekerjaan pengukuran, menghitung data ukur, membuat peta
situasi, pekerjaan pengukuran poligon, serta pekerjaan pengamatan matahari.
b. Surveyor Topografi (6 orang, 3 bulan)
Lulusan STM/SMK atau sederajat, dengan pengalaman kerja sekurang-kurangnya 3
tahun dalam bidang pengukuran dan pemetaan. Merupakan tenaga menengah yang
telah mendapat pendidikan pengukuran topografi dan berpengalaman dalam
bidangnya. Bertugas melaksanakan pekerjaan yang diarahkan oleh Ahli Geodesi dan
chief surveyor dan menghitung data ukur untuk diperiksa oleh chief surveyor dan
Ahli Geodesi.
c. Surveyor Hidrometri/Hidrologi (1 orang, 1 bulan)
Lulusan STM/SMK atau sederajat, dengan pengalaman kerja sekurang-kurangnya 3
tahun dalam bidang surevey Hidrologi/Hidromteri. Bertugas melaksanakan
pekerjaan survey hidrologi/hidrometri antara lain: mengumpulkan data hidrologi,
hidrometri, pengukuran tinggi/fluktuasi muka air, kecepatan arus, serta
pengambilan contoh air untuk dianalisis di laboratorium. Dalam melaksanakan
tugasnya akan diarahkan oleh ahli hidrologi/hidrometri.
d. Surveyor Sosek (2 orang, 1 bulan)
Lulusan STM/SMK/SMA atau sederajat, dengan pengalaman kerja sekurang-
kurangnya 3 tahun dalam bidang survey sosial dan ekonomi. Bertugas membantu
ahli sosial ekonomi dalam melaksanakan penyebaran kuisioner dan wawancara
dengan petani di lokasi kegiatan, diutamakan yang menguasai bahasa setempat
e. Surveyor Mekanika Tanah (2 orang, 2 bulan)
Lulusan STM/SMK atau sederajat, dengan pengalaman kerja sekurang-kurangnya 3
tahun dalam bidang survey geologi. Bertugas membantu ahli mekanika tanah/soil
mechanical dalam penyelidikan tanah dilapangan untuk perhitungan stabilitas
struktur/tanah untuk bangunan air.
f. Chief Draftman ( 1 orang, 3 bulan).
Lulusan D-III Teknik Sipil, dengan pengalaman kerja sekurang-kurangnya 3 tahun
dalam bidang penggambaran desain bangunan air dan sejenis, menguasai program
Auto CAD.
g. Draftman/CAD ( 2 orang, 3 bulan).
Lulusan STM/SMK atau sederajat, dengan pengalaman kerja sekurang-kurangnya 3
tahun dalam bidang penggambaran desain bangunan air dan sejenis, menguasai
program Auto CAD.
h. Admin / Sekretaris (1 orang, 8 bulan)
i. Tenaga Lokal Topografi (12 orang, 3 bulan)
j. Tenaga Lokal Hidrologi/Hidrometri (1 orang, 1 bulan)
k. Tenaga Lokal Sosek (2 orang, 1 bulan)
l. Tenaga Lokal Mektan (2 orang, 2 bulan)

J. LAPORAN YANG HARUS DISERAHKAN


Laporan Hasil Pekerjaan yang harus diserahkan kepada pemberi tugas/ pemilik pekerjaan
adalah sebagai berikut :
1. Laporan Program Mutu
Laporan Program Mutu yang dibuat oleh penyedia jasa dalam rangka pelaksanaan
pekerjaan , diserahkan paling lambat 2 (dua) minggu setelah kontrak ditandatangani
dan tersebut dibuat sebanyak 5 rangkap. Laporan Pogram Mutu memuat antara lain
Diagram Alir tahap kegiatan, Daftar Standar Prosedur (SP) dan Standar Studi (ST).

2. Laporan Pendahuluan.
Laporan Pendahuluan berisi rencana kerja penyedia jasa secara menyeluruh, jadwal
kegiatan penyedia jasa serta konsep kegiatan yang akan dilaksanakan berisi antara lain:
a. Rencana kerja secara menyeluruh
b. Mobilisasi tenaga ahli dan tenaga pendukung serta peralatan yang akan digunakan.
c. Jadwal kegiatan yang akan dilaksanakan.
d. Jadwal penugasan personil dan peralatan.
e. Hasil kesimpulan sementara pengumpulan data, gambar/peta, laporan hasil
kegiatan terdahulu yang terkait (jika ada), identifikasi permasalahan dan evaluasi
permasalahan.
f. Metodologi kerja yang akan dilaksanakan.

Laporan Pendahuluan harus dibahas/didiskusikan untuk mendapatkan persetujuan dari


Direksi Pekerjaan dan dijadikan panduan dalam melaksanakan desain rinci serta
mengikat untuk dipenuhi dalam Laporan Akhir.

Tanggapan, masukan dan perbaikan-perbaikan dari hasil pembahasan Laporan


Pendahuluan dimasukan dalam Laporan Antara.

Laporan Pendahuluan harus sudah diselesaikan paling lambat 25 (dua puluh lima) hari
kalender terhitung sejak tanggal mulai kerja yang ditetapkan dalam Surat Perintah
Mulai Kerja sebanyak 5 buku untuk didiskusikan dan final laporan pendahuluan
sebanyak 5 buku.

3. Laporan Bulanan
Laporan Bulanan menyajikan kegiatan konsultan, kemajuan pekerjaan, kemajuan
keuangan kontrak, man-month yang digunakan amandemen kontrak bila ada dan lain-
lain dicetak sebanyak 5 (lima) buku setiap bulannya.

4. Laporan Pendukung .
Laporan Pendukung meliputi laporan hasil survey lapangan yang berisi data lapangan
yang sudah tersusun sebelum dan sesudah dilakukan pengolahan data.
Laporan pendukung ini terdiri dari :
a. Laporan pengukuran topografi + buku ukur+Deskripsi BM sebanyak 5 (lima) buku.
b. Laporan Geoteknik/Mekanika Tanah sebanyak 5 (lima) buku.
c. Laporan Tanah Pertanian sebanyak 5 (lima) buku
d. Laporan Hidrologi & Hidrometri sebanyak 5 (lima) buku.
e. Laporan Sosial Ekonomi Pertanian, Kelembagaan dan Pemberdayaan Masyarakat
(termasuk foto-foto dokumentasi) sebanyak 5 (lima) buku.
f. Laporan Inventarisasi Kondisi Jaringan dan pekerjaan Rehabilitasi (termasuk foto-
foto dokumentasi) sebanyak 10 (sepuluh) buku, yang berisi tentang:
- Gambar-gambar keadaan saluran dan bangunan-bangunan (existing)
- Foto-foto keadaan saluran dan bangunan-bangunan yang ada dilapangan.
- Daftar kerusakan dan usulan perbaikan.

5. Laporan Antara/Interim Report, berisikan tentang pengumpulan data, hasil pengukuran


dan investigasi, metodologi dan pendekatan pemecahan masalah, analisis data,rencana
alternatif, formulasi dan metode pengembangannya lainnya. Laporan Antara harus
diserahkan kepada pemberi pekerjaan paling lambat 120 (seratus dua puluh) hari
kalendar terhitung sejak tanggal mulai kerja yang ditetapkan dalam Surat perintah
Mulai kerja. Konsep laporan antara diserahkan sebanyak 5 rangkap unutuk didiskusikan
sedang finalnya diserahkan sebanyak 5 rangkap.
Tanggapan, masukan dan perbaikan hasil pembahasan/diskusi harus dimasukan
kedalam Laporan Akhir Sementara ( draft laporan akhir).

6. Konsep Laporan Akhir/Draft Final Report, berisi seluruh hasil penyusunan yang telah
dilaksanakan. Laporan ini sebanyak 5 rangkap akan digunakan sebagai bahan diskusi
antara pelaksana pekerjaan dengan pemberi tugas beserta direksi pekerjaan dan
instansi/dinas terkait. Hasil diskusi laporan ini akan dijadikan bahan penyempurnaan
laporan akhir. Hasil diskusi laporan ini akan dijadikan bahan penyempurnaan laporan
akhir. Konsep Laporan Akhir/Draft Final Repart ini harus diserahkan kepada pemberi
pekerjaan paling lambat 150 (seratus lima puluh) hari kalendar terhitung sejak tanggal
mulai kerja yang ditetapkan dalam Surat Perintah Mulai Kerja.

7. Laporan Akhir merupakan perbaikan dari laporan akhir sementara/draft final report
berisikan seluruh hasil penyusunan yang telah disempurnakan dan disetujui oleh
pemberi tugas/direksi pekerjaan, sesuai dengan Kerangka Acuan Kerja (KAK) atau
persyaratan teknis/lain yang telah ditentukan. Laporan akhir diserahkan sebanyak 5
rangkap.

8. Laporan sistem planning sebanyak 5 rangkap


Laporan System Planning, berisi :
a. Kondisi lapangan yang ada
b. Permasalahan lapangan yang ada
c. Prediksi permasalahan
d. Penyelesaian permasalahan
e. Perencanaan Sistem Jaringan Irigasi secara menyeluruh sebagai penyelesaian
masalah
f. Lampiran Berita Acara Diskusi System Planning dan informasi lainnya yang
dipandang perlu.
Sebelum menjadi laporan System Planning yang final, terlebih dahulu harus disusun
Draft System Planning dan didiskusikan bersama dengan pihak-pihak terkait minimal
sejumlah 5 rangkap ditambah pegangan (hand-out) peserta diskusi secukupnya.
a. Buku Operasi dan Pemeilharaan sebanyak 5 rangkap
Konsultan wajib membuat buku perencanaan kebutuhan oorganisasi/personil,
peralatan, perlengkapan dan fasilitas O&P sertarencana pembiayaannya termasuk
petunjuk pelaksanaan bagi petugas lapangan.

9. Executive sumarry diserahkan sebanyak 5 rangkap


Executive summary dibuat yang isinya menguraikan hasil-hasil survey secara ringkas
beserta kesimpulan dan saran-saran yang diperlukan.

10. Nota Desain Perencanaan sebanyak 5 rangkap


Nota Perhitungan Desain (Design Note) , berisi hasil perhitungan-perhitungan desain
dan informasi-informasi lainnya yang berkaitan dengan detail desain.
Sebelum menjadi Nota perhitungan desain yang final, terlebih dahulu harus disusun
Draft Nota Perhitungan Desain dan didiskusikan bersama dengan pihak-pihak terkait
minimal sejumlah 4 (empat) ganda ditambah pegangan (hand-out) peserta diskusi
secukupnya.

11. BOQ dan RAB


Buku Rencana Anggaran Biaya (RAB),berisi :
a. Harga bahan dan upah yang disahkan oleh Bupati/Walikota setempat
b. Harga satuan pekerjaan
c. Perkiraan biaya keseluruhan
Buku ini harus diserahkan selambat-lambatnya pada akhir kontrak sebanyak 5
Rangkap.

12. Spesifikasi teknis


Konsultan diwajibkan membuat spesifikasi teknis pekerjaan yang akan dilaksanakan
sebagai petunjuk/pedoman teknis dalam pelaksanaan konstruksi sebanyak 5 Rangkap.

13. Metode Pelaksanaan Pekerjaan.


Konsultan diwajibkan membuat metode pelaksanaan pekerjaan yang akan digunakan
sebagai petunjuk/pedoman dalam pelaksanaan konstruksi sebanyak 5 Rangkap.

14. Gambar-gambar hasil pengukuran


Gambar desain berupa kalkir A1 dijilid sebanyak 3 rangkap dan Gambar ukuran A3
dijilid 5 rangkap.
a. Peta-peta.
- Peta situasi skala 1:5.000
- Peta ikhtisar skala 1:20.000
- Peta situasi rencana tapak bangunan 1:200
- Peta situasi trace skala 1:5.000.
Penampang memanjang Skala panjang 1:5.000.
Skala tinggi 1:100

Penampang melintang Skala panjang 1:100.


Skala tinggi 1:100

15. Diskusi dan PKM :


Diskusi laporan harus dihadiri Ketua Tim dan didampingi oleh para tenaga ahli, diskusi
dilaksanakan antara lain meliputi :
a. Diskusi Laporan Pendahuluan
b. Diskusi Sistem Planning
c. Diskusi Laporan Akhir
d. PKM
Menyerahkan Laporan Hasil Diskusi dan PKM yang berisi Materi Diskusi (Bahan
Paparan), Notulen/Berita Acara hasil diskusi dan PKM, absensi dan foto-foto selama
pelaksanaan diskusi. Masing-masing diserahkan sebanyak 5 rangkap
16. CD/DVD (10 buah) dan ekternal hardisk 1 Tb (1 buah) berisi seluruh kegiatan, foto-foto,
bahan diskusi dan paparan dari point 1 s.d 16, diserahkan pada akhir kontrak.

K. ASISTENSI PEKERJAAN
Untuk menjamin penyelesaian pekerjaan selesai tepat mutu dan tepat waktu diperlukan
suatu pengendalian tahapan kegiatan sebagai berikut :
1. Konsultan diharuskan melakukan diskusi dan asistensi minimal 1 (satu) bulan sekali
atau dilakukan setiap waktu sesuai kepeluan, diskusi dan asistensi dilakukan oleh
tenaga ahli yang terlibat dalam pekerjaanya kepada Direksi pekerjaan guna untuk
memperoleh masukan serta kesepahaman bersama baik secara lisan maupun tulisan,
diskusi dilakukan terhadap permasalahan yang akan dibahas mengenai pekerjaan yang
sedang berjalan dan yang telah diselesaikan, diskusi serta asistensi termasuk
menyampaikan alternative pilihan, guna memperoleh persetujuan serta pengajuan
program kerja untuk selanjutnya.
2. Untuk memudahkan monitoring pekerjaan agar pihak Konsultan
membuat/menyiapkan lembaran asistensi.
3. Buku tersebut berisi catatan, tanggal dan bulan mengenai perintah, hasil diskusi,
persetujuan dan lain-lain dengan Direksi serta sebagai catatan pihak Konsultan
mengenai item/produk pekerjaan yang telah dilakukan/diselesaikan. Catatan tersebut
ditanda tangani oleh pihak Direksi (Asisten Perencanaan) dan Pihak Konsultan dan
diserahkan pada pihak Direksi untuk diarsip.
4. Untuk setiap bagian item/bab pekerjaan yang telah diselesaikan oleh Konsultan agar
mengasistensikan secara bertahap kepada Direksi, sehingga Direksi bisa
mengontrol/mengoreksi hasil pekerjaan dengan baik.
5. Diskusi dan asistensi ini dilakukan secara kontinue di Kantor Perencanaan dan Program
Balai Besar Wilayah Sungai Sumatera VIII.
6. Untuk memudahkan pengawasan pekerjaan secara kontinue disetiap saat maka,
diskusi dan asistensi pekerjaan juga dapat dilakukan menggunakan media elektronik (e-
mail).
7. Konsultan diharuskan melakukan presentasi rencana dan hasil kerja pada Direksi
pekerjaan dan/atau Pejabat Pembuat Komitmen Perencanaan dan Program
BBWSS.VIII.
L. LAIN - LAIN
1. Sewaktu-waktu Penyedia jasa dapat diminta oleh pengguna jasa mengadakan diskusi
atau memberikan penjelasan mengenai tahap kemajuan pekerjaan atau hasil kerjanya.
2. Penyedia jasa harus menunjuk seorang wakilnya agar sewaktu-waktu dapat dihubungi
dalam rangka pelaksanaan pekerjaan tersebut dan mempunyai kuasa untuk bertindak
dan mengambil keputusan atas nama Penyedia jasa.
3. Penyedia jasa diminta agar membuat dokumentasi foto setiap kegiatan lapangan dan
dimasukan dalam laporan pendukung.

Palembang, 23 Desember 2019


Pejabat Pembuat Komitmen
Perencanaan dan Program

Doddy Meidiansyah, ST., M.Eng


NIP. 19860530 201012 1 007
SPESIFIKASI TEKNIS SURVEI INVENTARISASI
DAN PEMETAAN TOPOGRAFI

1. MAKSUD DAN TUJUAN


Kegiatan ini dimaksudkan untuk membuat peta situasi detail terbaru, lengkap, dan sesuai
dengan keadaan lapangan sebenarnya berikut penampang (trace) yang diperlukan, serta
melakukan inventarisasi bangunan air yang ada.
Proses pembuatan peta berdasarkan hasil pengukuran terestris atau gabungan pengukuran
terestris dengan bantuan potret udara terbaru (pesawat udara atau peta citra landsat).
Dalam memetakan daerah potensi irigasi dengan skala 1 : 5.000 dan interval kontur 0.5m
menggunakan Teknologi Lidar Scanning. Adapun dari pemetaan situasi dengan metode Lidar
Scaning adalah untuk mendapatkan:
1. Peta Foto berwarna skala 1 : 5.000 dengan interval kontur 0.5 meter.
2. Peta Foto skala 1 : 2.000 dengan interval kontur 0.5 meter untuk wilayah khusus yang
dapat digunakan sebagai bahan untuk perencanaan Irigasi Teknis
Hasil data lapangan yang telah dihitung dan diproses akan menyajikan peta situasi detail
dengan skala 1:5.000, peta ikhtisar dengan skala 1:20.000, dan gambar trace atau
penampang yang diperlukan.

2. LINGKUP PEKERJAAN.
1. Pekerjaan Persiapan.
a. Pengumpulan dan pengkajian data yang berhubungan dengan lokasi proyek.
b. Menyiapkan program kerja (peta kerja, time schedule, form-form, dll).
c. Mobilisasi peralatan dan personil.
d. menyiapkan surat-surat ijin/surat keterangan.

2. Pekerjaan Lapangan.
a. Orientasi lapangan (penentuan titik awal pengukuran, penentuan lokasi BM,
penyiapan base camp, pengadaan tenaga lokal dan transport lokal).
b. Membuat kerangka dasar pemetaan.
c. Kerangka dasar pemetaan selain berfungsi sebagai penyebaran titik-titik kontrol
geodesi, juga dapat berfungsi sebagai batas daerah pengukuran. Kerangka dasar
pemetaan ini dilakukan dengan pengukuran sipat datar (waterpass), sebagai kontrol
vertical (ketinggian), dimana kedua kontrol ini ditandai dengan pemasangan patok
beton sebagai titik tetap.
d. Kerangka dasar pemetaan ini dibagi dalam kring-kring, dimana setiap kring mencakup
luasan maksimal kurang lebih 2.000 ha.
e. Pengukuran situasi detail dan detail rencana tapak bangunan.

Hal 1 / 9
Pengukuran situasi detail ini dimaksudkan untuk mendapatkan data lapangan yang
sebenarnya dan terbaru agar dapat disajikan dalam bentuk peta. Penyebaran titik
detail diukur merata, seperti pada :
a. Setiap perbedaan tinggi tanah.
b. Situasi batas-batas tataguna lahan antara lain hutan primer, sekunder, semak
belukar, ladang, sawah, kampung, lahan usaha I, lahan usaha II, dan lain-lain.
c. Situasi bangunan alam; sungai, anak sungai, danau, genangan air temporer, bukit,
lembah, dan lain-lain.
d. Situasi bangunan buatan manusia; saluran irigasi/drainasi (navigasi, primer,
sekunder, tersier). Jalan, jalan setapak, kuburan, waduk, kampung, tanggul.
Bangunan umum; batas-batas kecamatan, kabupaten, dan propinsi.
e. Situasi rencana tapak bangunan; pada lokasi rencana banguna (jika diperlukan).

2. Pengukuran trace yang diperlukan.


Untuk situasi beberapa sungai, anak sungai atau saluran-saluran pengairan yang
dianggap perlu, perlu diukur poligon dan waterpass.
Pengukuran penampang-penampang memanjang dan penampang melintang saluran
(navigasi, primer, sekunder, dan tersier), tanggul, sungai, anak sungai. Penampang
memanjang diukur dengan jarak yang telah ditentukan dalam spesifikasi teknis ini,
dimana ujung pangkalnya terikat pada ketinggian-ketinggian titik kontrol. Penampang
memanjang juga diukur pada setiap interval yang telah ditentukan dalam spesifikasi
teknis, demikianjuga dengan kerapatan titik-titik penampangnya.

3. Kegiatan inventarisasi yang berupa :


a. Inventarisasi benchmark dilokasi pengukuran, apakah kondisi, ukuran dan jaraknya
sesuai dengan spesifikasi teknis, jika tidak sesuai harus dipasang benchmark baru.
b. Inventarisasi bangunan air seperti jembatan, pintu air,saluran-saluran navigasi
(primer, sekunder, tersier), gorong-gorong, dermaga, dan lain-lain, yang
pelaksanaannya dikoordinasikan dengan pihak desainer.

4. Perhitungan yang terdiri dari 2 bagian yaitu :


a. Perhitungan data lapangan dengan cara data yang masuk dalam perhitungan adalah
data yang telah memenuhi syarat perhitungan yang telah ditetapkan.
b. Perhitungan data definitif, penghitungan data ini merupakan perhitungan yang sudah
menggunakan peralatan (definitif), inilah yang harus digunakan untuk pekerjaan
penggambaran.

5. Penggambaran.
a. Penggambaran situasi detail skala 1:5.000.
b. Penggambaran peta ikhtisar skala 1:20.000.
c. Penggambaran situasi rencana tapak bangunan dengan skala 1:200.
d. Penggambaran trace skala 1:5.000 atau sesuai petunjuk direksi (jika diperlukan).
e. Penggambaran profil memanjang, dilengkapi skala 1:5.000.

Hal 2 / 9
Skala panjang 1:5.000.
Skala tingi 1:100.
f. Penggambaran profil melintang.
Skala panjang 1:100.
Skala tingi 1:100.

6. Pekerjaan Pembuatan Laporan.


Laporan ditulis secara sistematis, sesuai dengan kaidah-kaidah penyusunan laporan.
Isi laporan tersebut harus memuat ;
a. Keadaan umum daerah survey.
b. Penjelasan teknis pelaksanaan lapangan.
c. Personil, peralatan, susunan organisasi pelaksaan dan time schedule.
d. Daftar koordinasi planimetris dan ketinggian benchmark.
e. Foto-foto dokumentasi selama survey berlangsung.
f. Diskripsi benchmark, termasuk foto-foto benchmark.

3. METODE KERJA SURVEI

Persyaratan minimum untuk melaksanakan survei adalah sebagai berikut:


Skala /
No. Deskripsi Tingkat Survei Interval Keterangan
Kontur
1.a. Survei Sungai i) Hulu 1:10,000 H, Pada ketinggian
(Potongan Potongan memanjang 1:100 V dengan
Memanjang) hingga MWL + 5m atau peningkatan
titik hingga yang efek air interval 50m
sepanjang tepi
kembali kemungkinan
saluran dalam
untuk memperpanjang
dari sumbu struktur, mana
yang kurang. Dalam hal
terjadi headworks terletak
hulu dalam MWL + 5m
atau titik terjauh terkena
air kembali, potongan
memanjang yang akan
diambil hingga headworks.
ii) Hilir Sama Sama
10 km dari sumbu struktur
atau hingga titik bangunan
utama terdekat, mana
yang paling kecil
1.b. Survei Sungai i) Hulu 1:2500 H Pada ketinggian
Potongan Potongan melintang di 1:100 V dengan
Melintang interval 200 m hingga peningkatan

Hal 3 / 9
Skala /
No. Deskripsi Tingkat Survei Interval Keterangan
Kontur
MWL + 5m atau 1 km di interval 50m
kedua sisi bank
perusahaan mana yang
kurang dan untuk jarak 2
km dari sumbu struktur
dan selanjutnya pada satu
km selang sesuai dengan
panjang L-Section.
ii) Hilir Sama Sama
Potongan melintang di
interval 200m hingga
sejarah / diamati HFL + 1m
di kedua sisi bank yang
kuat untuk jarak 2 sampai
5 km dari sumbu axis
struktur tergantung pada
sifat meandering sungai
iii) Sepanjang sumbu axis 1:2500 H
dari bangunan 1: 100 V
2. Reservoir / Rencana kontur melingkupi 1:2500 H Interval grid
Waduk area hingga elevasi MWL +5 Interval peta 50 m
m kontur 1 m

3. Bendungan dan Rencana topografi situs 1:2500 H Interval grid


Tanggul dengan kontur, meliputi Interval peta 10 m
daerah hingga 4 H pada kontur 1 m
upstream dan hilir sumbu
atau minimal 250 m di
bagian hulu dan 500 m di
hilir sumbu, dan
memperluas hingga MWL +
5m mana H adalah
ketinggian bendungan (area
hilir saluran harus tertutup
dengan cukup)

4. Bendung (Tetap/ Rencana Topografi dengan 1:2500 H Interval grid


Gerak) kontur situs seluas hingga 1 Interval peta 50 m atau
km di kedua sisi tanggul dan kontur 1 m kurang,
500 m dari hulu / ujung hilir tergantung dari
bunds panduan, sejajar kemiringan
dengan aliran (area saluran lahan
ekor harus cukup tertutup)
5. Saluran dan i) Potongan Memanjang 1:2500 H -Sama-
Sistem ii) Penampang pada interval 1: 100 V
Konduktivitas Air 50m Interval

Hal 4 / 9
Skala /
No. Deskripsi Tingkat Survei Interval Keterangan
Kontur
iii) Jalur rencana kontur Kontur 1 m
meliputi 250 m di kedua
sisi garis tengah kanal
atau tergantung pada
kebutuhan mana yang
lebih.
6. Struktur Saluran i) Rencana Grid dengan 1:2500 H -Sama-
kontur situs untuk Interval
menutupi area hingga kontur 1 m
300 m di kedua sisi garis
tengah 100 m saluran -
hilir titik yang ada air dan
100m hilir dari titik inlet
air.
ii) Potongan Melintang 1:2500 H -Sama-
pada bagian tengah 1: 100 V
sepanjang saluran
drainase.

iii) Survei saluran drainase 1:10,000 H


bagian tengah dari bagian 1: 2500 H
hulu hingga hilir sesuai 1: 100 V
panjang yang disyaratkan
dalam aspek perhitungan
hidraulis dan untuk
potongan memanjang
dan melintang saluran.

7. Rumah Pompa Peta kontur rencana agar 1:2500 H


dan fasilitas bisa mencakup seluruh area Interval
pendukung dari komponen dan kontur 1 m
lainnya alternative layout. Area yang
masuk ke dalam komponen
meliputi radius 100 m ke
seluruh batas area.
8. Areal penanaman Rencana peta kontur seluruh 1:2500 H
area Interval
kontur 1 m
9. Terowongan, pipa i) Peta Kontur Rencana 1:2500 H
/ dan saluran sepanjang area rencana Interval
pembuang terowongan dan 500 m kontur 1 m
penstock, (150 m untuk pipa
penstock) pada kedua sisi
terowongan / saluran
pembuang, termasuk
portal, dan area

Hal 5 / 9
Skala /
No. Deskripsi Tingkat Survei Interval Keterangan
Kontur
pembuangan.
ii) Potongan Memanjang 1:2500 H
1:100 V
10. Areal survei di Peta kontur rencana untuk 1:10,000 H
beberapa titik area: 1: 1,000 H
spesifik sebagai 1. Dataran rendah dan Interval
contoh dataran tinggi Kontur 0.25
m

2. Daerah perbukitan 1:1,000 H


Interval
Kontur 0.5 m

1. Prosedur dan ketentuan yang harus dipenuhi adalah :


a. Semua prosedur pelaksanaan pekerjaan harus berdasarkan ketentuan-ketentuan yang
ada dalam spesifikasi teknis/TOR. Hal-hal yang penting yang belum tercantum dalam
spesifikasi teknis/TOR, akan ditentukan kemudian dalam penjelasan teknis oleh pihak
direksi.
b. Konsultan diwajibkan melengkapi tim yang akan ditugaskan kelapangan dengan
peralatan yang sesuai untuk mencapai hasil kerja yang sempurna.
c. Tim dipimpin oleh seorang yang terpercaya, bertanggungjawab dan ahli dibidangnya.
d. Sebelum pelaksanaan pekerjaan, konsultan diwajibkan melakukan konsultasi teknis
dengan pihak direksi. Menunjukan alat-alat yang akan digunakan dalam pelaksanaan
pekerjaan, untuk mendapatkan persetujuan dari direksi.
e. Alat yang tidak mendapat persetujuan dilarang dipergunakan atau dibawa kelapangan.
f. Metode pengukuran, pencatatan data, perhitungan dan penggambaran peta
hendaknya dilakukan dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku dengan kecermatan
yang tinggi, agar tidak dijumpai kesulitan dalam penafsiran adn penggunaan hasil
akhir.
g. Akibat penyimpangan dari ketentuan diatas pihak direksi dapat menghentikan
pelaksanaan pekerjaan, yang sepenuhnya menjadi tanggungjawab konsultan.
2. Titik Referensi.
Titik pengukuran referensi diambil dari titik-titik yang ada disekitar lokasi pengukuran atau
ditentukan oleh direksi.
3. Kontrol Horizontal.
Pengukuran kerangka dasar horisontal dilaksanakan dengan pengukuran dengan poligon
tertutup atau dengan cara lain yang disetujui direksi. Sudut diukur dengan alat theodolit
T.2, atau merek lain yang ketelitiannya sederajat. Sedangkan sisi poligon diukur denga alat
ukur jarak elektronik (EDM). Sebagai kontrol ukuran sudut dilakukan pengamatan
astronomi atau gyro compass.
4. Kontrol Vertikal.
Melalui jalur pengukuran poligon yang telah ada dilaksanakan pula pengukuran sipat
datar dengan cara tertutup. Alat yang dipergunakan adalah sipat datar otomatis
(automatic level), seperti zeiss Ni.2 atau merek lain yang ketelitiannya sederajat.
5. Pengukuran Situasi Detail/Situasi Rencana Tapak Bangunan.

Hal 6 / 9
Pengukuran situasi detail dimulai dan diakhiri pada kerangka dasar pemetaan. Alat yang
digunakan adalah thedolit TO atau yang disetujui oleh direksi.
6. Pengukuran penampang memanjang dilakukan dengan alat ukur waterpass otomatis,
sedangkan pengukuran profil melintang dapat juga dilaksanakan dengan pengukuran
tachiometri (thedolit TO) untuk sungai/saluran-saluran yang lebar dan kedalamannya
lebih dari 3 meter.
7. Perhitungan dan Penggambaran.
Data-data lapangan harus memenuhi persyaratan teknis. Perhitungan data-data lapangan
harus memenuhi toleransi kesalahan penutup (kring tertutup) perhitungan.
Penggambaran sementara dilaksanakan pada kertas milimeter yang memenuhi syarat.
Sebelum penggambaran definitif diatas kalkir kodak trace dimulai harus dimintakan
persetujuan dari direksi terlebih dahulu.
Penggambaran harus memenuhi kaidah-kaidah dan peraturan-peraturan yang lazim
dipakai seperti pada peta topografi yang diterbitkan oleh jawatan topografi angkatan
darat, dengan penggambaran isi peta memakai tinta warna hitam.

4. SYARAT-SYARAT PELAKSANAAN PEKERJAAN.


1. Inventarisasi dan pemasangan Bench Mark (BM) baru.
a. Melakukan inventarisasi dari lokasi bench mark yang ada dilokasi pengukuran.
b. Melakukan penambahan dan pemasangan bench mark baru setiap 2.000 meter, jika
BM lama mempunyai jarak lebih dari 2.000 meter, atau pada lokasi pengukuran belum
ada BM sama sekali.
c. Titik kontrol dipasang tersebar merata keseluruh areal pengukuran.
d. Titik kontrol/BM ditandai dengan pilar beton. (konstruksi dan ukuran BM terlampir).
e. Pilar beton, patok besi, patok paralon ditanam dengan kuat, stabil (tidak goyang) dan
dipasang ditempat yang aman dan mudah dicari.
f. Setiap benchmark harus diberi nomor/kode, sesuai petunjuk direksi, kemudian
didokumentasi dan dibuatkan diskripsinya yang disahkan oleh direksi.
Pada diskripsi tersebut termuat :
 Foto dari BM, sehingga tampak nomor dan baut kuningannya.
 Sket lokasi BM, serta ukuran-ukuran/jarak-jarak dari detail yang mudah
diidentifikasi.
 Diskripsi dari BM serta gambar/sket lokasi umum sehingga diperoleh gambaran
untuk mencapai lokasi BM tersebut (contoh diskripsi terlampir).
 Koordinasi dan ketinggian BM, yang harus dicatat setelah diadakan perhitungan dan
perataan.
g. Titik-titik poligon profil dan lain-lain selain pada BM, harus menggunakan patok kayu
yang keras, dengan ukuran panjang minimal 75 cm serta penampang 7x7 cm. Sehingga
dapat tahan lama selama pengukuran. Untuk tanah yang lembek diperlukan patok
kayu yang lebih panjang.
2. Pengukuran Titik Kontrol Geodesi.
a. Koordinat (X,Y) titik-titik kontrol geodesi ditentukan dengan cara pengukuran poligon
atau cara lain yang disetujui direksi.
b. Pengukuran poligon dikaitkan pada titik dasar (reverence point) yang telah ada
dilapangan atau yang akan ditentukan oleh direksi.
c. Control azimuth, ditentukan dengan pengamatan astronomi atau pengamatan gyro
compass, dengan ketelitian 15”.
d. Jumlah titik poligon antara dua kontrol azimuth maksimum 50 titik.

Hal 7 / 9
e. Koreksi sudut antara dua kontrol azimuth = 15”, koreksi setiap titik poligon maksimum
8”.
f. Jarak tiap sisi poligon diukur dengan ketelitian 1:7.500.
g. Setelah perataan azimuth salah satu penutup koordinat maksimum 1:5.000.
h. Tinggi (elevasi) titik poligon ditentukan dengan ukuran sipat datar, dimana
i. Pengukurannya dibagi menjadi beberapa seksi yang panjang setiap seksinya
maksimum 3 km.
j. Tiap seksi diukur 2 kali (pergi-pulang) dengan ketelitian 10 mm V.D. (D=panjang seksi
dalam kilometer), dengan pembacaan benang atas, benang tengah dan benang bawah
(tiga benang lengkap). Salah penutup tiap loop 10 VD.
k. Pengukuran sipat datar haru menggunakan alat ukur otomatis, seperti Ni.2 atau yang
sederajat.
3. Pengukuran SituasiDetail/Situasi Rencana Tapak Bangunan
a. Titik-titik detail ditentukan dengan ukuran rincikan yang diikatkan pada kerangka dasar
pemetaan atau titik kontrol geodesi.
b. Pengambilan titik-titik detail dilakukan merata keseluruh daerah survei, seperti
pengambilan detail untuk bangunan alam/bangunan buatan, sesuai dengan kebutuhan
penarikan garis kontur (contour).
c. Pengukuran detail dilakukan dengan alat ukur theodolit compass TO atau yang
sederajat.
d. Beberapa saluran irigasi, anak sungai/sungai perlu diukur poligon sesuai rencana kerja
(gambar terlampir).
4. Pengukuran Penampang Saluran.
a. Pengukuran penampang memanjang.
Yang harus dilakukan pada pengukuran penampang memanjang adalah :
 Diukur setiap 100 m pada tempat yang lurus dan 25 m ditikungan.
 Titik-titiknya harus bertepatan dengan profil melintang yang akan diukur dan lokasi
perpotongan saluran-salurannya.
 Pengukuran penampang memanjang dilaksanakan dengan alat ukur sipat datar
otomatis Ni.2. atau yang sederajat.
 Pengukuran profil memanjang sesuai rencana gambar terlampir.
 Ketelitian sipat datar 10 VD, dimana D=jarak dalam km diukur pulang pergi setiap
seksi dengan pembacaan benang yang lengkap.
b. Pengukuran penampang melintang.
 Pengukuran dilakukan tegak lurus As saluran dengan lebar penampang adalah lebar
saluran ditambah tanggul ditambah minimal 10 m kiri kanan tanggul saluran,
tanggul penahan banjir dan jalan-jalan.
 Interval antar penampang 100 m pada tempat yang lurus pada tikungan saluran
dirapatkan sesuai kebutuhan.
 Kerapatan titik maksimum 2 m.
 Setiap detail perubahan tanah As saluran diukur.
 Pengukuran penampang dilakukan dengan alat ukur waterpass automatic atau
theodolit TO.
5. Buku Ukur.
Kriteria yang harus dipenuhi pada buku ukur yaitu :
a. Data-data hasil ukuran dan sket titik detail dibuat dengan jelas, rapi serta sistematis.
b. Pada tiap buku ukur harus dicatat tanggal pengukuran, daerah pengukuran, nama juru
ukur, jenis, nomor alat ukur, dan keadaan cuaca saat pengukuran.
c. Setiap buku ukur harus disyahkan dan ditandatangani oleh direksi lapangan.

Hal 8 / 9
d. Data pengukuran dibuat rangkap dengan karbon langsung dilapangan.
6. Penggambaran.
a. Gambar/peta situasi dibuat dengan skala 1:5.000, dengan interval countour 0.50 mm.
b. Gambar/peta ikhtisar dibuat dengan skala 1:20.000, dengan interval countour 1 m.
c. Gambar/peta situasi rencana tapak bangunan skala 1:200, dengan interval countour
0.5 m.
d. Gambar/peta tracee yang dientukan skala 1:5.000.
e. Perkecilan dari peta skala 1:5.000 ke skala 1:20.000, memakai alat pantograf atau alat
lain yang memenuhi syarat.
f. Garis silang grid baik horizontal maupunvertical dibuat dengan interval 10 cm.
Pembuatan jaringan grid memakai alat koordinatograph.
g. Tiap titik tetap (bench mark) yang diplotkan harus dilengkapi dengan harga (nilai)
koordinast planimetris dan tinggi.
h. Legenda-legenda dan simbol-simbol mengikuti aturan-aturan yang ditentukan oleh
jawatan topografi angkatan darat.
i. Pada gambar/peta dibuat tanda arah utara, peta indeks skala garis.
j. Gambar dengan ukuran A1, dengan wajah gambar/peta sesuai petunjuk dari direksi
pekerjaan.
k. Semua peta situasi digambar diatas kertas transparan kodaktrace.
l. Gambar penampang memanjang dan penampang melintang dibuat dengan skala yang
benar, demikian juga dalam menetapkan bidang persamaan sesuai permintaan direksi
pekerjaan.
7. Pembuatan Laporan.
Laporan hendaknya singkat, jelas dan sistematis. Selama proses penulisan laporan,
konsultan harus selalu aktif konsultasi dan assitensi dengan pihak direksi.
5. KETELITIAN PETA.
Hasil akhir dari pekerjaan ini berupa peta situasi detail yang harus memenuhi persyaratan
ketelitian sebagai berikut :
1. Ketelitian horizontal.
Minimal 90% dari titik yang mudah dikenal/ditentukan dilapangan, digambar dengan
toleransi kesalahan planimetris 0.8 mm pada peta.
2. Ketelitian vertikal.
Minimal 90% dari semua titik tingi yang ada dilapangan setelah diplotkan dan
diinterpolasi, kesalahannya maksimum setengah interval garis countour, sehingga tidak
terdapat titik tinggi yang kesalahannya lebih besar dari satu interval garis countour.

Hal 9 / 9
SPESIFIKASI TEKNIS SURVEI HIDROLOGI DAN HIDROMETRI

1. MAKSUD DAN TUJUAN


Pekerjaan survei hidrologi ini dimaksudkan untuk mengumpulkan data iklim dari stasiun iklim
terdekat guna dianalisa dan dievaluasi sesuai dengan kebutuhan perencanaan teknis tata
reklamasi yang antara lain meliputi perhitungan modulus drainasi dan neraca air untuk
keperluan pola tanam, sedangkan survei hidrometri bertujuan untuk mendapatkan data
tentang karakterisktik sungai, anak/cabang sungai dan saluran-saluran yang ada, yang sangat
berpengaruh terhadap sistim tata saluran yang ada.
Selain itu data masukan tersebut setelah dianalisa dan dievaluasi, akan digunakan untuk
mengidentifikasi serta mencari alternatif penyelesaian beberapa permasalahan yang ada
seperti bencana banjir pada musim penghujan dan intrusi lain asin pada musim kemarau. Hal
ini merupakan masukan yang sangat penting dalam perencanaan peningkatan tata air
(upgrading).
Lingkup kegiatan dalam suatu survei dan pengumpulan data hidrologi dan hidrometri adalah:
 Mempelajari peta topografi (1: 50.000 atau 250.000 skala), pengolahan DEM, diskusi dan
interview dengan informan kunci, pengukuran aliran, sumber air, dan data terkait dengan
Irigasi dan Drainase.
 Mengumpulkan data yang ada hidro-meteorologi berikut ;
- Iklim (curah hujan, suhu, kelembaban, kecepatan angin, dan memberikan deskripsi
singkat);
- Data aliran;
- Menjelaskan dan menggambarkan catchment area;
- Mengidentifikasi pola drainase pada area proyek.
- Menilai kondisi sumber air yang antara lain air permukaan, air tanah, mata air, dan
sumber air potensial lainya terkait:
- Perilaku aliran pada musim kemarau;
- Menilai areal genangan dan areal yang mempunyai masalah drainase pada lokasi
proyek dan sekitarnya;
 Merekomendasikan perkiraan neraca air irigasi
Tabel 1 menyajikan gambaran umum mengenai perbedaan Tingkat Kedalaman Survei
Hidrologi dan Hidrometri

Tabel 1 : Tingkat Kedalaman Survei Hidrologi dan Hidrometri

No Uraian Studi Kelayakan Desain Rinci


1 Pengumpulan data iklim Ya Ya
Pengumpulan data curah hujan
2 Ya Ya
bulanan
3 Pengumpulan data harian maximum Ya Ya

Hal 1 / 7
4 Pengumpulan data harian jam-jaman Tidak Ya
Min 15 hari dlm musim
Sebaiknya lebih dari 1
5 Tinggi muka air jangka panjang hujan dan musim
tahun
kemarau
7 Tanda banjir disepanjang sungai Tidak Ya
2 Kali pada musim hujan
8 Pengukuran pengeluaran 2 Kali saat survei
dan 2 Kali kemarau
1 per sungai di musim
9 Pengukuran salinitas, pH 1 per sungai
hujan & kemarau
1 per sungai di musim
10 Contoh Air 1 per sungai
hujan & kemarau
1 per sungai di musim
11 Contoh endapan 1 per sungai
hujan & kemarau
12 Penampang melintang sungai Ya Ya
13 Pengumpulan data iklim, curah hujan Ya Ya

2. LINGKUP PEKERJAAN.
1. Pekerjaan persiapan sebelum ke lapangan.
a. Mempelajari laporan dan data yang tersedia serta membuat rencana dan jadwal
survei.
b. Menyiapkan peta lokasi rencana pengukuran dan penempatan titik-titik pengukuran
(untuk menetapkan jumlah volume pekerjaan).
c. Menyiapkan formulir pengukuran, bahan-bahan dan alat-alat yang digunakan serta
penyiapan tim yang akan diberangkatkan kelapangan.
d. Alat yang diperlukan dalam survei ini adalah; peilschal, current meter, EC meter, echo
sounder, range finder, theodolit/waterpass, pH meter/paper, botle sample, kompas,
stop watch, tali, battery, jam, dan lain-lain. Jumlah alat yang dibawa disesuaikan
dengan volumer pekerjaan.
e. Menyiapkan team survei yang akan berangkat.
Semua kegiatan persiapan di atas harus dikonsultasikan terlebih dahulu dengan direksi
atau supervisor yang ditunjuk sebelum berangkat kelapangan.

2. Pekerjaan lapangan.
Persiapan dilapangan
a. Penyiapan sarana survei seperti speedboat dan klotok (kapal pengukur), baik untuk
pengukuran muka air maupun kecepatan air.
b. Penyiapan tenaga lokal.
c. Pengenalan lapangan dan pemasangan tanda-tanda pengukuran sesuai dengan peta
pengukuran.
d. Pengukur (antara lain peilschaal) di tempat-tempat yang sudah ditentukan sesuai
dengan rencana pengukuran.

Hal 2 / 7
e. Pengamatan lapangan antara lain bekas tinggi muka air maksimum yang pernah
terjadi, tanggul, jembatan, atau pintu-pintu air/gorong-gorong yang ada dicatat di
peta.
Pekerjaan pengukuran
a. Pengukuran tinggi muka air dilakukan setiap 1 jam untuk 2 kali pengukuran yang
masing-masing selama 6 hari dengan selang waktu selama 2 minggu. Dengan catatan
bahwa dalam selang waktu pengukuran terjadi hujan lebat yang mengakibatkan muka
air naik/banjir, maka harus dilakukan pengukuran tinggi muka air selama ± 3 hari terus
menerus tiap-tiap 1 jam.
b. Pengukuran kecepatan arus selama 24 jam dengan interval 3 jam, dengan ketentuan
bahwa lebar sungai > 20 m, pengukuran dilakukan secara berpindah dalam satu lokasi
yaitu bagian-demi bagian (tepi, tengah, dan tepi).
c. Pengukuran penampang melintang sungai atau saluran dilakukan pada setiap lokasi
pengukuran kecepatan dan pada tempat-tempat lain yang ditetapkan direksi.
d. Pengukuran sifat datar (levelling) untuk mengikat papan duga (peilschaal) terhadap
bench mark dilakukan disetiap lokasi pengukuran tinggi muka air.
e. Pengukuran tingkat keasaman air (pH) dilakukan dilokasi pengukuran daya hantar
listrik (DHL) dan temperatur air atau dilokasi lain yang dipandang perlu.
f. Pengambilan contoh air dilakukan dibeberapa tempat yang dianggap perlu dan dapat
mewakili kualitas air lokasi proyek (misalnya dimuara anak sungai, genangan,
sungai/dan saluran).
g. Jumlah lokasi/titik pengukuran sesuai volume pekerjaan.

Pengumpulan data hidrologi.


a. Identifikasi area studi menggunakan Digital Elevation Model (DEM) dan Pemetaan
stasiun hidrologi yang pada area proyek dan disekitar proyek;
b. Pengumpulan data curah hujan (terbaru) selama minimum 10 tahun berturut-turut
dari stasiun terdekat untuk lokasi datar, untuk lokasi berbukit/bergelombang minimum
3 stasiun curah hujan terdekat. Untuk stasiun yang memiliki catatan curah hujan
sepuluh tahunan atau lebih, curah hujan rata-rata per bulan harus ditentukan , serta
curah hujan minimum per bulan dengan kemungkinan kelebihan sebesar 80 %, 50 %
dan 20%.
c. Mempergunakan data harian yang diperoleh dari stasiun yang mewakili dan yang
paling dapat diandalkan, dilakukan analisa statistik terhadap curah hujan maksimum
selama peroide 1 sampai 6 hari. Hasil analisa tersebut disajikan dalam kurva yang
memeprlihatkan masa dan intensitas curah hujan. Jika data harian tidak tersentuh
rumus percobaan yang dapat diterapkan di Indonesia (misalnya. Monoobe) dapat
dipergunakan untuk menentukan total curah hujan k-harian
d. Evapo-transpirasi referensi tanaman diperhitungkan dari data cuaca rata-rata untuk
setiap bulan dengan mempergunakan metode Penman. Data curah hujan rata-rata
bulanan dan evapo-transpirasi dipergunakan untuk memperhitungkan keseimbangan
air tanaman dan persyaratan irigasi.
e. Data cuaca bulanan harus dikumpulkan dari stasiun meteorologi yang terdapat yang
dapat diandalkan. Data cuaca tersebut harus mencakup temperatur rata-rata bulanan,
kelembaban, kecepatan angin, lama hari cerah dan curah hujan, dan harus meliputi
sedikitnya periode 10 tahun, atau lebih lama.

Hal 3 / 7
3. Pekerjaan kantor.
Pekerjaan kantor ini dilaksanakan dengan kegiatan-kegiatan :
a. Pengolahan dan analisa data.
- Pengolahan dan analisa data hidrometri.
- Analisa data hidrologi.
b. Pembuatan laporan.

3. METODE KERJA SURVEI

1. Pengukuran tinggi muka air (Jangka Pendek).


Pengukuran muka air ini dilakukan :
a. pada lokasi pengukuran kecepatan arus.
b. Pada inlet/outlet saluran.
c. Pada anak sungai/saluran yang mempengaruhi perubahan tinggi muka air pada sungai
atau saluran tersebut.
d. Peta lokasi lain yang dianggap perlu.
2. Pengukuran kecepatan arus (velocity).
a. Pengukuran debit (kecepatan aliran dan penampang) baik di musim hujan dan musim
kemerau diperlukan pada sungai kecil non-tidal yang mungkin membatasi daerah
survei. Tujuan dari pengukuran ini adalah untuk menilai potensi sungai ini sebagai
sumber air minum atau air irigasi.
b. Pengukuran Discharge di sungai pasang surut dan / atau kanal, yang membutuhkan
pengukuran kecepatan selama setidaknya satu siklus pasang surut penuh 25 jam,
hanya diperlukan dalam untuk studi hidrolika lebih lanjut.
c. Apabila lebar sungai atau saluran yang akan di ukur lebih dari 20 meter, maka
pengukuran dilakukan secara berpindah-pindah bagian demi bagian pada satu lokasi,
dan dilakukan pada tiap beda kedalaman 0.20 m dari atas, tengah 0.30 m, dari dasar
disesuaikan dengan kedalaman sungai. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui
penyebaran kecepatan dalam satu penampang sungai, kemudian dirata-ratakan.
3. Pengukuran penampang melintang sungai/saluran.
a. Penampang melintang sungai-sungai besar yang memotong atau membatasi daerah
survei harus diukur pada selang jarak teratur (setiap 5 km) dari muara sungai sampai
kebatas daerah survei paling hulu.
b. Pada setiap bagian, harus diambil sepuluh pengukuran pada selang jarak yang sama.
Jarak horisontal dalam suatu bagian dapat ditentukan dengan alat pengukur jarak atau
tali merentang sungai. Kedalaman air ditentukan sebaiknya dengan mempergunakan
pengukur gema (echo sounder) baik yang posisinya diukur secara konvensional
maupun echosonder yang terintegrasi dengan GPS.
c. Untuk setiap penampang melintang, tanggal dan waktu pengukuran serta perkiraan
tinggi air pasang harus ditunjukkan.
Pengukuran ini dilakukan pada tempat-tempat pengukuran kecepatan arus dan tempat
lain yang dianggap perlu. Pengukuran penampang disaluran dapat dilakukan dengan
sistim colok (dengan tongkat atau tali), sedangkan di sungai yang lebar dan dalam
dilakukan dengan alat echo sounder.
4. Pengukuran sipat datar (levelling).
Pengukuran ini dimaksudkan untuk mengikat peilschaal terhadap benchmark terdekat
sehingga dapat diketahui ketinggian muka air dan muka tanah dengan datum yang sama.

Hal 4 / 7
Pengukuran dilakukan disemua lokasi pengukuran tinggi muka air dengan menggunakan
waterpass atau theodolith. Pengecatan (peilschaal) terhadap benchmark itu dimaksudkan
untuk mengetahui elevasi muka air rata-rata terhadap lahan atau patok/benchmark
proyek.
5. Pengukuran keasaman air.
Pengukuran ini terutama dilakukan pada lokasi pengukuran muka air dan kecepatan arus.
Selain tempat-tempat tersebut pengukuran ini dilakukan pada tempat-tempat lain yang
dianggap perlu seperti anak-anak sungai, sumur penduduk, genangan dan kolam-kolam
yang ada (agar konsultasi kepada direksi). Pengukuran dilakukan dengan pH paper dan pH
meter.
6. Identifikasi Banjir
a. Tinggi maksimum batas banjir pada berbagai tempat disepanjang sungai, seperti
diberitahukan oleh penduduk setempat atau diamati dari perubahan warna tumbuhan,
harus ditetapkan berdasarkan tinggi muka air yang diamati selama survei.
b. Lamanya tinggi maksimum permukaan air sungai dan perkiraan jangkauan pasang
surut selama permukaan air sungai tinggi dan rendah harus dinilai dari hasil
wawancara dengan penduduk setempat.
c. Luas banjir harus ditetapkan dari peta-peta, foto udara dan gambar radar, pengamatan
tanda-tanda banjir, wawancara dengan penduduk setempat.
7. Pengambilan contoh air dan analisa Kualitas Air.
a. Pengambilan contoh air dilakukan baik untuk air sungai. Saluran maupun air
sumur/kolam penduduk. Jumlah dan lokasinya perlu disesuaikan dengan
kepentingannya dan agar dikonsultasikan dahulu dengan direksi.
b. Contoh air ini kemudian dikirim kelaboratorium untuk dianalisa sesuai dengan
kepentingannya (peruntukan pertanian dan air minum).
c. Kualitas air yang terdapat diluar zona intrusi salinitas harus ditentukan dengan analisa
contoh air di loboratorium.
d. Satu contoh air harus diambil pada waktu air tanah rendah di semua sungai dan anak
sungai yang memotong areal. Tanggal, waktu, lokasi, warna air, pH dan temperatur air
pada waktu pengambilan contoh harus dicatat.
e. Pada stasiun tinggi muka air paling hulu pada setiap sungai besar, pH air sungai harus
diukur selama putaran pasang surut penuh (25 jam) serentak dengan pengamatan
tinggi muka air.
8. Pengambilan contoh sedimen.
Cara pengambilan contoh
a. Pengambilan muatan sedimen melayang dilakukan segera setelah pengukuran debit
selesai dilakukan, dengan tahapan sebagai berikut :
a) Tahap persiapan pengambilan contoh, sebagai berikut.
 Tentukan lokasi pengambilan.
 Siapkan data hasil pengukuran penampang melintang.
 Siapkan data hasil pengukuran debit.
 Siapkan, periksa dan rakit alat pengambilan contoh.
 Siapkan formulir pengambilan contoh.
 Isi formulir pengambilan contoh.
 Tentukan jumlah titik pengambilan di suatu penampang melintang
b) Tahap pengambilan contoh, sebagai berikut:
 Hitung debit tengah dari setiap sub penampang melintang

Hal 5 / 7
 Tentukan lokasi pengambilan dengan cara mencari titik pada kartu pengukuran
dengan besaran debit yang paling dekat.
 Tentukan jarak lokasi titik pengambilan dari sisi sungai
 Tentukan lama waktu pengambilan pada grafik (Gambar A2),sesuai dengan
diameter lubang alat (nozzle) pengambil yang digunakan.
 Lakukan pengambilan contoh muatan sedimen melayang.
 Masukkan contoh muatan sedimen ke dalam botol yang telah disediakan.
 Botol tersebut diberi tanda label.
 Siapkan contoh muatan sedimen melayang untuk dianalisis di laboratorium.
b. Pelaporan
Laporan pengambilan muatan sedimen melayang disajikan dalam formulir, yang antara
lain memuat :
 Nama sungai/saluran terbuka
 Lokasi pengambilan
 Tanggal pengambilan
 Jam pengambilan
 Nomor contoh
 Tinggi muka air
 Debit pengukuran
 Nama petugas dan penannggung jawab.

4. PENGOLAHAN DAN ANALISA DATA.

1. Hidrometri.
Pengolahan data yang telah diperoleh antara lain :
a. Perhitungan kecepatan air rata-rata pada tiap lokasi pengukuran.
b. Perhitungan tinggi muka air rata-rata,maksimum, beda tinggi air minum dan beda
tinggi muka air banjir (jika ada). Tinggi muka air ini sudah diikatkan dengan elevasi
topografi lahan (benchmark).
c. Perhitungan luas dan tinggi genangan.
d. Perhitungan luas penampang basah pada tiap lokasi pengukuran kecepatan.
e. Perhitungan debit run off.
f. Kemiringan dasar sungai.
g. Kualitas air sungai , tingkat keasaman, temperatur air, DHL dan sedimen transport
(konsentrasi sedimen).
h. Analisa Sedimen meliputi:
- Sediment Fraction
- Muatan Sedimen
- Hasil Kajiannya
Analisa laboratorium, meliputi :
a. Analisa kualitas air untuk irigasi.
b. Analisa kualitas air untuk air minum.

Dari data yang telah di olah kemudian dibuat gambar/grafik yang meliputi hubungan
antara :
a. Tinggi muka air dan waktu.
b. Kecepatan arus dan waktu.
c. Debit dan waktu.
d. DHL, pH dan waktu.

Hal 6 / 7
e. Pengukuran profil sungai/saluran yang telah diikatkan dengan BM.

2. Hidrologi.
Analisa data hidrologi meliputi :
a. Pengolahan data klimatologi yang meliputi anasir-anasir suhu, kelembaban relatif,
lama penyinaran matahari, kecepatan angin, curah hujan dan penguapan
(evapotranspirasi). Data yang akan di olah di ambil dari stasiun pencatat iklim yang
berada di wilayah studi/terdekat atau yang berada dalam regime iklim yang sama
selama minimum 10 tahun berturut-turut.
b. Data iklim bulanan rata-rata dan evapo-transpirasi referensi
c. Kurva curah hujan - intensitas – durasi
d. Analisa frekwensi hujan harian ekstrim.
e. Run off akibat hujan harian ekstrim.
f. Keseimbangan air tanaman dan kebutuhan irigasi
g. Distribusi frekwensi curah hujan bulanan.
h. Perhitungan pola neraca air dan lengas tanah.
i. Perhitungan kemungkinan limpasan akibat banjir.
j. Perhitungan curah hujan maksimum.
k. Perhitungan drainase modul untuk curah hujan 1, 2, 3, 4, 5, 6 harian dengan kala ulang
3 sampai 5 tahun.
l. Tabel stasiun tinggi muka air lengkap dengan elevasi nol dan jumlah serta elevasi
Bechmark yang terdekat
m. Sketsa situasi staff gauge terhadap Bechmark leveling
n. Tabel dan grafik registrasi tinggi muka air setiap jam dinyatakan dalam PRL
o. Permukaan banjir maksimum dan tinggi muka air rata-rata musim kemarau dan musim
hujan
p. Analisa frekuensi tinggi muka air tinggi harian ( catatan selama 14 hari atau lebih )
q. Gambar penampang melintang sungai
r. Hasil pengukuran kecepatan dan perhitungan pembuangan
s. Tabel lengkap dengan areal tangkapan dan perkiraan limpasan sungai
t. Hasil pengukuran kualitas air (PH, salinitas )
u. Hasil analisa contoh air di laboratorium

5. LAPORAN.
Data yang telah diperoleh dari lapangan (data sekunder dan primer) dan analisa yang telah di
olah, di analisa dan dievaluasi kemudian disusun dalam bentuk laporan sebagai masukan bagi
perencanaan teknis detil tata air.
Laporan berisi laporan hirometri dan hidrologi, antara lain tentang maksud dan tujuan survei,
keadaan umum daerah survei, metode kerja dilapangan, pengolahan data dan analisanya,
perhitungan keseimbangan air (water balance) dan pola tanam, kebutuhan air tanaman,
perhitungan modulus drainase, tinjauan tentang kualitas air dan permasalahannya, masalah
banjir, pengaruh-pengaruh lain terhadap lahan, kesimpulan serta saran-saran dan hal-hal lain
yang dianggap perlu. Semua data lapangan dan laboratorium dilampirkan dalam laporan.

Hal 7 / 7
SPESIFIKASI TEKNIS SURVEI SOSIO-AGRO-EKONOMI DAN
LINGKUNGAN

1. MAKSUD DAN TUJUAN


Survei Sosio Agro Ekonomi bertujuan untuk mengidentifikasi sumber daya dan keterampilan
masyarakat pada kondisi ekonomi masa sekarang ekonomi termasuk didalamnya kendala,,
keinginan dan tujuan masyarakat penerima manfaat proyek yang diusulkan dan lebih jauh
untuk memastikan partisipasi masyarakat dalam proyek secara aktif dan positif. Survei ini
juga bertujuan untuk mengidentifikasi ketersediaan pasar, dukungan layanan jasa umum dan
sosial, serta kebutuhan relokasi di lingkungan wilayah proyek.
Selanjutnya hasil survei tersebut harus bisa memberi penjelasan yang singkat dan jelas
tentang latar belakang ekonomi dan sosial eksisting praktek ekonomi utama, sumber
pendapatan, pekerjaan, status kemiskinan dan situasi kerawanan pangan.
Sedangkan untuk survei lingkungan dimaksudkan untuk mengidentifikasi sumber daya alami
(termasuk manusia) dan aspek-aspek lingkungan yang terdapat dalam lokasi proyek dan
mengukur nilai lingkungan dari dari sumber daya alami dan aspek-aspek tersebut. Selain
pada lokasi proyek daerah yang disurvei juga termasuk areal di sekitar lokasi proyek yang
diperkirakan akan terdampak oleh proyek tersebut.
Survei ini akan berfungsi sebagai survei dasar dan memberi saran tujuan sosial ekonomi yang
harus diwujudkan serta pasar dan kesempatan kerja yang mungkin serta untuk membuka
pembangunan jalan dan infrastruktur yang diperlukan.

2. METODOLOGI
1) Survei Sosio-Agro-Ekonomi
Studi kelayakan sosial-ekonomi dari Proyek Irigasi dan Drainase didasarkan pada penilaian
dari semua faktor yang dapat mempengaruhi atau dipengaruhi oleh proyek. Untuk
mendapatkan informasi rinci tentang kondisi sosial ekonomi daerah proyek, pendekatan
dan metodologi pengumpulan data yang berbeda dapat diterapkan; Metode
pengumpulan data primer dan sekunder adalah:
a. Data Primer
Sebelum memulai pengumpulan data aktual pada pengumpulan data indikator
instrumen harus disiapkan dan diuji. Data dikumpulkan dengan menggunakan
instrumen pengumpulan data yang sesuai. Instrumen pengumpulan data meliputi:
kuesioner, daftar periksa, pedoman wawancara dan bentuk lain yang diperlukan yang
digunakan untuk merekam data. Personil pengumpulan data meliputi: staf, pencacah,
fasilitator, pengawas lapangan dan peneliti. pengumpulan data personil mungkin perlu
dilatih. Umumnya, metode pengumpulan data dapat diklasifikasikan menjadi:
Terstruktur dan dan tidak terstruktur.
b. Data Sekunder
Data sekunder adalah data atau informasi tercatat pada semua isu-isu sosial dan
ekonomi, parameter dan variabel dan checklist perlu dipersiapkan untuk
mengumpulkan dan menemukan sumber data. Sumber data dapat berupa:

Hal 1 / 4
 Informasi sosial ekonomi tertentu harus dikumpulkan di Tingkat Kantor
Pemerintahan.
 Gambaran sosial ekonomi dapat dikumpulkan dari masing-masing kantor sektor
dan pemangku kepentingan lainnya.
 Review atau laporan studi jika ada dan informasi yang relevan dari laporan tahunan
(Zone dan bahkan di tingkat wilayah). Sehubungan Dengan Itu, informasi kualitatif
dan kuantitatif yang berbeda akan dikumpulkan, dianalisis untuk mempersiapkan
laporan sosial ekonomi studi kelayakan proyek.

2) Survei Lingkungan
Kegiatan survei awal untuk mendukung disusunnya dokumen AMDAL. Hal-hal yang
diinventarisasi data:
 Perumahan yang kemungkinan terdampak proyek;
 Hutan dan spesies pohon yang kemungkinan terdampak proyek;
 Margasatwa pohon yang kemungkinan terdampak proyek;
 Masalah kesehatan dan lingkungan yang mungkin timbul akibat adanya proyek.

3. LINGKUP PEKERJAAN

Pekerjaan ini meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut :


1. Mengadakan survei dan inventarisasi perkembangan sosial penduduk.
a. Pengumpulan data sekunder untuk mendapatkan gambaran secara menyeluruh
tentang aspek-aspek demografi seperti jumlah serta perkembangan penduduk (jumlah
jiwa KK, kelahiran, kematian dan lain-lain).
b. Keadaan kesehatan masyarakat dan permasalahannya serta sarana yang ada.
c. Perkembangan masyarakat didalam pendidikan, keagamaan, kebudayaan,
keterampilan petani, kesejahteraan petani, dan organisasi-organisasi kemasyarakatan
yang ada serta sarana yang tersedia.
d. Karakteristik Rumah Tangga menyangkut ukuran keluarga, ketenagakerjaan, tingkat
pendidikan dan pola pemukiman.
e. Keberadaan sarana dan prasarana sosial.
f. Status tanah yang dimanfaatkan sebagai lahan pertanian dan permukiman serta
keadaan fasilitas umum yang tersedia (Land Ownership).

2. Mengadakan survei dan inventarisasi keadaan agronomi.


a. Pemanfaatan saluran yang ada dan permasalahannya, serta keikutsertaan petani
didalam pemeliharaan tata air tersebut, masalah banjir, keasinan dan pengaruhnya
terhadap produksi pertanian.
b. Inventarisasi jenis-jenis tanaman yang diusahakan dan produksinya, perkembangan
usaha tani, cara bercocok tanam, pola tanam yang ada, cara pengelolaan air, serta
kemungkinan peningkatannya.
c. Masalah hama dan penyakit tanaman, pemupukan yang dilakukan, pemeliharaan
tanaman, tenaga kerja dibidang pertanian, pengolahan hasil, serta kemungkinan
penggunaan peralatan pertanian.
d. Praktek non-pertanian seperti peternakan unggas, peternakan sapi atau kerbau.
e. Memberikan saran-saran tentang kemungkinan penyempurnaan sistim tata air dan
budidaya pertanian yanga ada untuk dapat meningkatkan produksi pertanian sekaligus
pendapatan petani.

Hal 2 / 4
f. Penggambaran peta tata guna tanah sekarang (present land use) dan tata guna tanah
usulan (bersama team tanah).

3. Mengadakan survei dan inventarisasi keadaan ekonomi masyarakat.


a. Data pendapatan dan sumber pendapatan dan profil pengeluaran masyarakat.
b. Penelitian mengenai luas dan pola usaha tani serta perkembangannya.
c. Analisa perkembangan pendapatan petani, pengeluaran keluarga dan perkembangan
investasi usaha tani.
d. Keberadaan sarana dan prasarana ekonomi.
e. Penelitian tentang Benefit Cost (BC) ratio usaha tani dan BC-ratio proyek serta
perhitungan nilai
f. Economic Internal Rate of Return (EIRR) dari proyek yang direncanakan.
g. Penelitian tentang hambatan-hambatan yang dihadapi para petani dalam rangka
peningkatan dan perluasan usaha taninya (sosial ekonomi maupun fisik).
h. Masalah transportasi dan pemasaran hasil.

4. Melakukan survei kelembagaan.


Survei ini dimaksudkan untuk mengetahui seberapa jauh koordinasi ditingkat proyek
dapat berjalan dan bagaimana peranan instansi-instansi yang terkait serta perkumpulan
apa saja yang telah terbentuk dan berjalan dengan aktif.
Kegiatan-kegiatannya meliputi :
a. Mengadakan survei mengenai perkumpulan-perkumpulan atau organisasi-organisasi
yang ada didaerah proyek seperti KUD, kelompok tani, PKK, panitia irigasi, organisasi
O&P, petugas penyuluhan seperti PPL dan lain-lain serta memberikan gambaran
seberapa jauh organisasi-organisasi tersebut telah berperan/berpartisipasi dalam
usaha peningkatan kesejahteraan masyarakat.
b. Mengidentifikasi dan meneliti permasalahan yang timbul yang mengakibatkan
organisasi-organisasi tersebut belum dapat berjalan seperti yang diharapkan,
kemudian mencari jalan keluarnya dengan memberikan saran-saran perbaikan.

5. Melaksanakan studi lingkungan (environmental study).


Studi ini bertujuan untuk mendapatkan informasi/data mengenai lingkungan didaerah
proyek baik fisik maupun non-fisik serta untuk mengetahui kemungkinan seberapa jauh
pengaruh proyek terhadap lingkungan di daerah proyek dan sekitarnya.
Studi ini meliputi :
a. Identifikasi masalah lingkungan yang ada didaerah proyek dan sekitarnya dalam
kaitannya dengan usaha pertanian yang langgeng untuk jangka panjang, pemanfaatan
sumber air, permukiman serta prasarana yang telah dibangun, kemudian memberikan
saran-saran tentang tindakan yang tepat guna. Mengurangi atau menghilangkan
masalah-masalah tersebut.
b. Evaluasi dampak lingkungan yang mungkin akan timbul sehubungan dengan adanya
proyek dan tindakan-tindakan apa yang perlu dilaksanakan guna mengurangi atau
mencegah dampak negatif tersebut serta saran-saran tentang program monitoring
lingkungan jangka panjang.

4. METODE PELAKSANAAN SURVEI


1. Persiapan.
Tahap persiapan meliputi kegiatan-kegiatan :
a. Mempelajari laporan-laporan yang tersedia,

Hal 3 / 4
b. Penyiapan tenaga dan rencana kerja,
c. Penyiapan formulir-formulir wawancara (questionaire),
d. Dan bahan-bahan lain yang diperlukan selama pelaksanaan survei lapangan.

2. Survei Lapangan.
a. Melaksanakan pengumpulan data sekunder yang diperlukan dari instansi-instansi yang
bersangkutan di daerah, seperti kantor-kantor kabupaten, kecamatan, desa, antara
lain-lain.
b. Mengadakan wawancara dengan penduduk tentang masalah sosial, pertania,
agronomi, usaha tani, kelembagaan yang ada, lingkungan dan lain-lain sesuai dengan
formulir yang telah dipersiapkan.
c. Mengadakan pengamatan langsung dilapangan guna mengetahui keadaan yang
sebenarnya tentang penggunaan lahan, tanaman yang diusahakan beserta
produksinya, usaha tani, keadaan tata air/saluran, masalah lingkungan dan lain-lain.

3. Pengolahan dan Analisa Data

5. LAPORAN.
Data yang diperoleh dari surevy lapangan kemudian diolah, dianalisa, serta dievaluasi untuk
kemudian disusun kedalam bentuk laporan.
Laporan berisi tentang latar belakang, maksud dan tujuan, tinjauan umum, metode kerja,
data dan hasil survei, analisa dan pembahasan, masalah-masalah yang ada beserta
kemungkinan pemecahannya, analisa usaha tani, perhitungan BCR dan EIRR, kelembagaan,
masalah lingkungan, kesimpulan dan saran-saran yang perlu disampaikan untuk dapat
meningkatkan pendapatan petani serta kesejahteraan keluarga dengan memperhatikan
kelestarian lingkungannya. Laporan ini dilengkapi dengan peta tata guna tanah saat ini
(present land use), dan tata guna tanah usulan serta peta-peta lain yang dianggap perlu.

Hal 4 / 4
SPESIFIKASI TEKNIS PEKERJAAN SURVEY MEKANIKA TANAH

A. MAKSUD DAN TUJUAN


Pekerjaan survey mekanika tanah ini dimaksudkan untuk mengadakan penyelidikan sifat-sifat
mekanika tanah untuk mengetahui kondisi tanah pada rencana saluran, bangunan-bangunan air,
dermaga, jembatan serta bangunan pelengkap lain yang diperlukan. Hasil dari survey ini harus
dapat memberikan penjelasan yang cukup mengenai; daya dukung pondasi, kesetabilan lereng
rencana saluran tanggul, serta perhitungan penurunan tanah (settlement), dimensi tanggul,
saluran serta rencana pondasi bangunan air.
Saran-saran mengenai sist yang dipakai dengan perhitungan-perhitungan seperti penentuan-
penentuan maacm pondasi dan lain-lain.

B. LINGKUP PEKERJAAN.
1. Persiapan.
Pekerjaan persiapan meliputi perencanaan titik-titik pengamatan dengan penggambaran
pada peta kerja (melalui konsultasi terlebih dahulu dengan direksi), penyiapan bahan-
bahan dan alat survey.
2. Pengumpulan dan penyelidikan parameter tanah yang meliputi pekerjaan-pekerjaan :
a. Pekerjaan lapangan.
- Pemboran
- Penetration test (sondir).
- Test Pits
- Vane sheare test.
b. penyelidikan dilaboratorium.
3. Penyusunan spesifikasi teknis dan persyaratan teknis.
a. Menyusun spesifikasi teknis yang diperlukan sebagai pedoman dalam tata laksana
pelaksanaan pembangunan agar prosedur dari hasil pelaksanaan tidak menyimpang dari
ketentuan yang disyaratkan dalam perencanaan.
b. Menyusun pedoman dan persyaratan yang diperlukan untuk menyelenggarakan
pemeriksaan kualitas (quality control) maupun uji kelulusan (acceptance test) terhadap
hasil pelaksanaan pekerjaan fisik bangunan.

C. SYARAT DAN TATA LAKSANA PELAKSANAAN PEKERJAAN.


1. Pekerjaan lapangan.
a. Pemboran tanah.
b. Pemboran dilaksanakan dengan menggunakan mata bor Iwan biasa (Iwan Auger)
dengan diameter 10 cm. dan diputar dengan tangan sampai mencapai kedalaman
maksimum  8.00 meter atau sampai pada suatu lapisan keras di mana pemboran tidak
dapat diperdalam lagi. Dari pemboran ini di ambil contoh tanah tidak terganggu
(undisturbed sample) yang selanjutnya akan diperiksa/dianalisa di laboratorium
mekanika tanah. Contoh tanah di ambil pada setiap perubahan lapisan tanah.
c. Penetration test

Hal 1 / 2
Alat yang digunakan dalam penetration test ini adalah alat penetrometer tipe sedang
(hand penetrometer) yang berkapasitas sampai batas maksimum tekanan ujung P=200
kg/cm2. Pembacaan tekanan ujung tanah dilakukan pada setiap kedalaman 20 cm.
d. Test pits.
Ukuran lubang uji (test pits) adalah 1,25 m x 1.25 m, dengan kedalaman penggalian
tanah maksimum  5.00 m.
Pada keadaan muka air tanah dangkal, lubang uji diganti dengan percobaan pemboran
dengan menggunakan bor tangan sampai kedalaman  5 m. Pada tiap lubang uji diambil
contoh tanah terganggu (disturbed sample) pada setiap perubahan lapisan seberat  20
kg untuk di uji sifat-sifat pemadatannya (compaction test) dilaboratorium untuk
mengetahui karakteristik tanah yang akan digunakan sebagai timbunan, berupa
deskripsi tanah dalam lubang uji tersebut.
e. Vane Shear test.
Tujuan dari uji ini adalah untuk menentukan kekuatan geser tanah pada kedalaman
tertentu baik dalam kondisi asli maupun remoulded. Pengujian dilakukan dengan
menggunakan alat vane borerr , dengan kapasitas maksimum 20 ton/m2, sampai pada
kedalaman  4-6 meter. Pembacaan kekuatan geser dilakukan pada setiap kedalaman
0.50 meter.
f. Penyelidikan di laboratorium.
Semua penyelidikan dilaboratorium dilakukan menurut prosedur ASTM dengan
beberapa modifikasi yang disesuaikan dengan keadaan dilapangan.

Hal 2 / 2