Anda di halaman 1dari 4

ASAM URAT

Pada suatu hari, tepatnya jam 4 sore, suasana di Apotek Harapan Kita sedang tidak
ramai pengunjung. Saat itu seorang AA (Asisten Apoteker) sedang sibuk merapikan
obat di almari etalase.
Tiba-tiba datanglah seorang bapak dengan kondisi kaki pincang, tampak seperti
merasa kesakitan saat berjalan, tangan kanan memegang pinggang dan tangan kiri
memegang sesuatu. AA mengetahui kedatangan bapak tersebut, kemudian
menghentikan pekerjaan yang dilakukan saat itu dan menyambut kehadiran bapak
tersebut dengan senyuman, selanjutnya menyapa.

Ralat : Alofar minumnya malam hari karena purin kadarnya tinggi pada malam hari.
Alofar 1 x sehari jam 7 malam.

AA : “Selamat sore pak.”


Pasien : “Sore mbak.”
AA : “Ada yang bisa saya bantu pak?”
Pasien : “Saya mau beli obat yang lebih bagus dari ini, ada tidak
mbak?”
Pasien sambil menunjukkan obat yang dibawa, kemudiaan AA melihat obat tersebut, yang ternyata obat untuk
rematik yaitu Piroxicam.
AA : “Apakah bapak sakit rematik?”
Pasien : “Iya mbak, saya terkena rematik sejak 6 bulan yang lalu,
setiap kambuh saya minum obat ini, sembuh, tapi
sekarang kok obatnya kurang manjur ya mbak?”
AA : “Apakah bapak sudah periksa ke dokter sebelumnya?”
Pasien : “Belum pernah mbak, saya malas untuk ke dokter,
sebelum-sebelumnya saya konsultasinya di apotek.”
AA : “Oh begitu, apa yang bapak rasakan saat ini?”
Pasien : “Kaki saya linu-linu dan nyeri terutama di bagian ibu jari, 2
hari yang lalu tidak bisa jalan mbak, kakinya terasa kaku.
AA : “Oohh...” (Sambil menganggukkan kepalanya tanda dia
mengerti) “Apakah sebelumnya bapak pernah cek kadar
asam urat?”
Pasien “Belum pernah mbak, memang kenapa?”
AA “Dilihat dari gejala yang bapak rasakan, bisa jadi kadar
asam urat bapak tinggi. Saya sarankan bapak cek kadar
asam urat. Di apotek sini menyediakan cek kadar asam
urat, bagaimana pak?”
Pasien : “Tidak usah mbak, tidak perlu dicek, saya mau beli obat
yang lebih bagus dari ini saja mbak.”
Pasien sambil melihatkan obat yang dibawanya.
AA : “Sebentar pak saya panggilkan apoteker dulu, beliau yang
lebih paham agar bisa dijelaskan lebih lengkapnya.”
Pasien : “Baik mbak.”
AA menemui apoteker dan menceritakan permasalahan pasien. Kemudian apoteker mendatangi pasien.
Apoteker : “Selamat sore bapak. Perkenalkan nama saya Syasya,
apoteker yang bertugas di apotek Harapan Kita,
bagaimana pak ada yang bisa saya bantu?”
Pasien : “Begini mbak, saya punya sakit rematik, bila kambuh saya
sudah terbiasa minum obat ini, rematik saya sembuh, tapi
sekarang kok obatnya tidak manjur ya?”
Pasien sambil menyerahkan contoh obat yang dibawanya ke apoteker.
Apoteker : “Oh ini pak, iya benar ini obat rematik, kalau boleh tahu
yang bapak rasakan apa?”
Pasien : “Awalnya bahu, leher dan pinggang saya terasa nyeri
mbak, pegel-pegel juga. Akhir-akhir ini kurang lebih 3 hari
yang lalu kaki saya linu, nyeri dan terasa kaku terutama di
ibu jari kaki, 2 hari yang lalu sempet tidak bisa jalan,
sampai saya tidak masuk kerja.”
Apoteker : “Oh begitu ya pak, apakah kaki bapak bengkak?”
Pasien : “Tidak mbak, hanya terasa kaku saja.”
Apoteker : “Ehm…maaf kalau boleh tahu akhir-akhir ini bapak sering
mengkonsumsi makanan apa?”
Pasien : “Saya sering makan jeroan dan suka nyemil emping mbak,
itu makanan favorit saya.”
Apoteker : “Ooohh… Dilihat dari makanan yang dikonsumsi dan
keluhan yang bapak ceritakan, kemungkinan kadar asam
urat bapak tinggi. Bapak tidak akan mengetahui rasa nyeri
yang dirasakan karena asam urat atau rematik jika tidak
dilakukan pemeriksaan kadar asam urat, saya sarankan
bapak cek kadar asam urat saja, bagaimana pak?”
Pasien : “Oooh gitu ya…ya sudah dicek saja mbak agar lebih jelas.”
Apoteker : “Baik pak…tunggu sebentar ya pak, biar dicek sama Asisten
saya.”
Pasien “Ya mbak.”
Apoteker “Mbak Sari tolong ya, bapak ini dicek kadar asam uratnya.”
AA : “Baik bu”
AA mempersiapkan alat untuk mengecek kadar asam urat pasien.
AA : “Boleh saya mulai ngeceknya pak?”
“Saya ambil darahnya ya, di ujung jari tangan.”
“Bapak yang rileks, supaya darahnya mudah diambil.
(Dilakukan proses pengecekan kadar asam urat)
“Ini sudah pak, ditunggu sebentar untuk mengetahui
hasilnya.”
AA menyerahkan hasil pengecekan asam urat ke apoteker. Kemudian apoteker melihat hasil pengecekan kadar
asam urat dan menjelaskan ke pasien.
Apoteker : “Ini hasilnya kadar asam urat bapak tinggi, yaitu 9 mg/dL,
sedangkan nilai normal untuk asam urat 3-7 mg/dL. Dari
hasil ini bapak jelas mengalami asam urat.”
Pasien “Oh begitu ya mbak, kira-kira penyebabnya apa ya mbak?”
Apoteker “Salah satu penyebabnya yaitu dari makanan yang biasa
bapak konsumsi, yaitu jeroan dan emping.”
Pasien “Ooo…”
“Jadi, obat apa yang harus saya minum mbak? Supaya
kakinya tidak nyeri, linu-linu dan kaku?”
Apoteker : “Akan saya kasih obat untuk menurunkan kadar asam urat
dan untuk menghilangkan rasa nyeri pada sendi bapak.
Maaf apakah bapak punya riwayat penyakit lain?”
Pasien : “Alhamdulillah tidak mbak.”
Apoteker : “Baiklah pak, tunggu sebentar saya siapkan dulu obatnya.”
Apoteker menyuruh AA untuk menyiapkan obat Alofar tablet 100 mg sebanyak 1 blister isi 10 tablet dan Voltadex
tablet 50 mg 2 blister isi 20 tablet beserta etiket cara penggunaanya. Tak lama kemudian apoteker kembali sambil
membawakan obat-obat tersebut.
Apoteker : “Bapak ini obatnya, ini Alofar untuk menurunkan kadar
asam uratnya, diminum 1x sehari tiap pagi sesudah makan.
Ini Voltadex untuk menghilangkan rasa nyeri pada sendi,
diminum 2x sehari sesudah makan, obat yang ini
(Voltadex) diminum saat bapak mengalami nyeri dan linu-
linu saja ya.”
Pasien : “Iya mbak, obat yang ini kira-kira diminumnya pagi jam
berapa?”
(Pasien sambil melihatkan obat Alofar ke apoteker)
Apoteker : “Bapak kalau sarapan biasanya jam berapa?”
Pasien : “Ehm biasanya sekitar jam 6.30 pagi sebelum saya
berangkat kerja mbak.”
Apoteker : “Gini saja, bapak sebaiknya minum obat ini setiap jam 7
pagi setelah sarapan.”
Pasien : “Oh iya, baik…baik…mbak.”
“Ehmm…kalau yang ini diminum 2x sehari tepatnya jam
berapa ya mbak?”
Pasien sambil melihatkan obat Voltadex ke apoteker.
Apoteker : “Agar bapak mudah mengingat, sama seperti Alofar,
Voltadex diminum pagi jam 7 setelah sarapan dan
diminum jam 7 malam setelah makan, bapak jangan lupa
ya. Obat yang ini diminum bila bapak mengalami nyeri
saja, jadi jika bapak sudah tidak merasakan nyeri obat ini
dihentikan saja. Bapak ini obatnya saya beri untuk 10 hari
ya, setelah 10 hari bapak bisa ke apotek lagi untuk kontrol
kadar asam uratnya.”
Pasien : “Oh begitu, baik mbak. Kira-kira ada pantangan makanan
tidak mbak?”
Apoteker : “Ada pak, sebaiknya bapak mengurangi makanan favorit
bapak tadi yaitu jeroan, emping, kurangi juga makan
udang, melinjo, kacang-kacangaan, kangkung, bayam.
Perbanyak makan buah-buahan yang mengandung vitamin
C seperti jeruk dan pepaya. Oh iya pak, jangan lupa minum
air putih yang cukup, kurang lebih 8 gelas tiap hari.”
Pasien : “Oh begitu iya mbak, insyaallah akan saya jalani.”
Apoteker : “Bagimana bapak sudah mengerti apa yang saya jelaskan
barusan? Mengenai aturan pemakaian obat dan makanan
yang perlu dihindari?”
Pasien : “Iya mbak saya mengerti.”
Apoteker : “Bisa tolong diulangi apa yang saya katakana tadi pak?”
Pasien “Ini Alofar diminum tiap jam 7 pagi setelah sarapan dan
yang ini Voltadex diminum tiap jam 7 pagi dan 7 malam
setelah makan, bila nyeri saja.”
Apoteker : “Iya benar pak.”
“Untuk makanan yang perlu dihindari tolong benar-benar
diperhatikan ya pak.”
Pasien : “Iya mbak, saya mengerti. Jadi, berapa yang harus saya
bayar mbak?”
Apoteker : “Total biaya untuk obat + cek asam urat Rp 26.000 pak.”
Kemudian terjadi transaksi pembelian obat antar apoteker dan pasien tersebut.
Apoteker : “Ini pak obat dan kembaliannya, ada yang ingin ditanyakan
lagi?”
Pasien : “Saya rasa cukup mbak.”
Apoteker : “Baik pak, terima kasih atas kunjungannya di Apotek
Harapan Kita dan semoga lekas sembuh.”
Pasien : “Iya mbak, terimakasih juga atas informasi yang
diberikan.”
Apoteker : “Sama-sama pak.”
Keduanya saling tersenyum dan pasien tersebut berjalan meninggalkan apotek untuk pulang menuju rumahnya.