Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH

EKOLOGI HEWAN
(ABKC-2601)

“POPULASI HEWAN”

Disusun Oleh:
Kelompok VIII
Nur Aulia Rahma (1710119220021)
Rabiatul (1710119120020)
Saripah Alya Shavira (1710119320023)
Siti Sarah (1710119320024)
Vika Wulansari Pohan (1710119220031)

Dosen Pengampu:
Dr. Dharmono, M.Si
Drs. H. Hardiansyah, M.Si
Mahrudin, S.Pd., M.Pd.
Maulana Khalid Riefani, S.Si., M.Si., M.Pd.
Nurul Hidayati Utami, S.Pd., M.Pd.

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
APRIL
2020
KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim.
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas berkat rahmat
dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah mata kuliah
Ekologi Hewan dengan judul “Populasi Hewan” ini tepat pada waktunya.
Dalam penyusunan makalah ini, kami mendapat banyak bantuan dan
dorongan dari berbagi pihak, untuk itu tidak lupa penulis mengucapkan terima
kasih yang sebesar besarnya kepada :
1. Bapak Dr. Dharmono, M.Si., Bapak Drs. H. Hardiansyah, M.Si., Bapak
Mahrudin, S.Pd., M.Pd., Bapak Maulana Khalid Riefani, S.Si., M.Si., M.Pd.
dan Ibu Nurul Hidayati Utami, S.Pd., M.Pd selaku dosen mata kuliah
Ekologi Hewan yang telah memberikan ilmunya.
2. Kedua orang tua yang selalu memberi dukungan dalam perkuliahan.
Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna dan
masih banyak terdapat kekurangan-kekurangan. Hal ini dikarenakan terbatasnya
pengetahuan dan kemampuan kami sebagai penyusun. Adapun demikian, kami
telah berusaha dengan kemampuan yang dimiliki untuk dapat menyelesaikan
makalah ini dengan sebaik-baiknya.
Kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi ilmu
pengetahuan dan bagi semua pihak yang membacanya.

Banjarmasin, Februari 2020

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................................i

DAFTAR ISI............................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1

1.1. Latar Belakang..........................................................................................1

1.2. Rumusan Masalah.....................................................................................2

1.3. Tujuan........................................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN.........................................................................................3

2.1. Pertumbuhan Populasi...............................................................................3

2.2. Spesies yang terseleksi-r dan yang terseleksi-K........................................7

2.3. Dinamika Populasi....................................................................................9

BAB III PENUTUP...............................................................................................16

3.1. Kesimpulan..............................................................................................16

3.2. Saran........................................................................................................16

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................17
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Populasi merupakan wilayah generalisasi yang terdiri dari
obyek/subyek yang mempunyai kuantitas serta karakteristik tertentu yang
ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari serta juga kemudian ditarik
kesimpulannya. Populasi di sini maksudnya bukan hanya orang atau
makhluk hidup, namun juga benda-benda alam yang lainnya. Populasi juga
bukan hanya sekedar mengetahui jumlah yang ada pada obyek atau subyek
yang dipelajari, namun juga melingkupi semua karakteristik, sifat-sifat yang
dimiliki oleh obyek atau juga subyek tersebut.
Untuk dapat mengenali suatu populasi, maka kita harus mengenali
dulu ciri-cirinya. Populasi ini memiliki dua ciri, yaitu ciri-ciri biologi serta
ciri-ciri statistik.  Ciri-ciri biologi merupakan ciri-ciri yang terdapat pada
sekelompok individu yang membangun populasi. Sedangkan ciri-ciri
statistik adalah ciri-ciri kelompok serta juga merupakan hasil penggabungan
berbagai karakteristik dari individu di dalam populasi.
Secara umum populasi ini dapat diklasifikasikan dalam tiga (3) jenis,
yakni 1) berdasarkan jumlah populasi, 2) berdasarkan sifat populasi, dan 3)
berdasarkan perbedaan lain.  Sedangkan perubahan dari jumlah populasi
yang terjadi biasanya dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu natalitas,
mortalitas, dan densitas. Natalitas merupakan kemampuan suatu populasi
untuk meningkatkan jumlahnya dengan bereproduksi. Pada dasarnya,
natalitasi ini dinyatakan dalam bentuk angka jumlah kelahiran individu baru
dibagi dengan waktu. Mortalitas merupakan sebuah tingkat angka kematian
individu di dalam suatu populasi dalam kurun waktu tertentu. ensitas
merupakan tingkat kepadatan populasi yang berhubungan dengan satuan
ruang atau juga area.
1.2. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan pertumbuhan populasi hewan?
2. Apakah yang dimaksud dengan spesies yang terseleksi-r dan yang
terseleksi-K pada hewan?
3. Apakah yang dimaksud dengan dinamika populasi hewan?

1.3. Tujuan
1. Untuk mendiskripsikan pertumbuhan populasi hewan
2. Untuk mendiskripsikan spesies yang terseleksi-r dan yang terseleksi-K
pada hewan
3. Untuk mendiskripsikan dinamika populasi hewan?
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pertumbuhan Populasi


Populasi adalah sekelompok individu dari spesies yang sama yang
hidup pada regio yang sama pada saat tertentu. Populasi, sebagaimana
organisme tunggal, memiliki ciri atau atribut yang unik seperti laju
pertumbuhan, struktur umur, rasio jenis kelamin, dan laju mortalitas.
Populasi selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu karena faktor
kelahiran, kematian, dan migrasi atau dispersal individu di antara populasi
yang terpisah. Jika sumber daya yang diperlukan organisme cukup
melimpah dan kondisi lingkungan sesuai, populasi dapat meningkat secara
cepat. Kemampuan populasi untuk meningkat secara maksimum pada
kondisi optimal disebut potensial biotik. Potensial biotik ditunjukkan
dengan huruf r jika digunakan dalam persamaan matematis (Sumarto &
Koneri, 2016).
Populasi adalah suatu kesatuan yang selalu berubah dan yang menarik
perhatian adalah bukan hanya perubahan dalam ukuran besarnya dan
komposisinya pada saat yang manapun, tetapi juga bagaimanakah populasi
itu berubah. Ada beberapa karakteristik populasi yang berhubungan dengan
istilah laju, yang diperoleh dengan membagi perubahan dengan periode
waktu berlangsungnya perubahan. Jadi laju menunjukkan kecepatan suatu
berubah dalam satuan waktu. Cacah kelahiran per tahun adalah laju
kelahiran. Istilah "per" berarti "dibagi oleh". Untuk rerata perubahan
populasi dapat dinyatakan dengan notasi baku delta N per delta t, dengan
keterangan N = ukuran besarnya populasi, sedangkan t = waktu. Lokasi
untuk laju sesaat adalah dN/dt.
Bilamana lingkungan tidak terbatas (ruang, makanan, atau makhluk
lain yang tidak berpengaruh membatasi) maka laju pertumbuhan spesifik
(ialah laju pertumbuhan populasi per individu) menjadi tetap dan maksimum
untuk kondisi mikroklimat yang ada di saat itu. nilai laju pertumbuhan di
bawah kondisi populasi yang memungkinkan adalah maksimal, dan
karakteristik untuk suatu struktur populasi khusus dan merupakan petunjuk
tunggal mengenai kekuatan populasi untuk tumbuh. Nilai ini dinyatakan
dengan simbol r, yang merupakan perangkat dalam persamaan diferensial
untuk pertumbuhan populasi dalam lingkungan yang tidak terbatas di bawah
kondisi fisik yang khusus :
dN/dt = r N ; maka r = dN/(Ndt)..... (1)
Simbol r yang yang terdapat pada persamaan (1) disebut juga sebagai
koefisien pertumbuhan populasi sesaat. Dengan manipulasi kalkulus akan
diperoleh :
Nt = No ert..... (2)
Dengan keterangan simbol No menyatakan cacah pada waktu nol, sedangkan
Nt cacah pada waktu t dan e adalah bilangan dasar logaritme alam. Jika
kedua sisi persamaan diambil logaritme alam In atau loge makan akan
diperoleh :
In N t = In No + rt ; maka r = In N t - In No / t .... (3)
Dengan cara ini indeks r dapat dikalkulasikan dari 2 pengukuran populasi,
No dan Nt atau Nt1 dan Nt2 dapat untuk subtitusi, demikian pula (t2 - t1)
dapat digunakan untuk substitusi dalam t dalam persamaan (3).
Sesungguhnya indeks r adalah perbedaan antara laju natalitas spesifik sesaat
dan laju mortalitas spesifik sesaat, jadi dapat dinyatakan sebagai :
r = b - d .....(4)
Laju pertumbuhan populasi secara keseluruhan di bawah kondisi
lingkungan tidak terbatas (r) tergantung pada komposisi umur dan laju
pertumbuhan spesifik yang disebabkan oleh produksi komponen kelompok-
kelompok umur. Jadi dimungkinkan adanya beberapa nilai r untuk suatu
spesies tergantung pada struktur populasi.
Bilamana ada agihan umur yang stabil dan stasioner, maka laju
pertumbuhan spesifik disebut laju pertambahan alami intrisik, di beri
simbol rmax. Nilai maksimum r sering disebut potensi biotik, atau disebut
juga potensi reproduktif. perbedaan antara potensi biotik dan laju
pertumbuhan yang terjadi di dalam kondisi laboratorium atau kondisi
lapangan yang sesungguhnya sering dianggap sebagai ukuran perlawanan
lingkungan, yang merupakan jumlah keseluruhan faktor-faktor pembatas
lingkungan yang mencegah potensi biotik untuk dapat direalisasikan
(Soetjipta, 1993).
Suatu populasi akan mengalami pertumbuhan apabila kelahiran dalam
populasi itu lebih besar dari laju kematian dengan mengasumsikan bahwa
laju emigrasi diimbangi oleh laju imigrasi.
Ada dua macam bentuk pertumbuhan populasi, yaitu bentuk
pertumbuhan eksponensial (dengan bentuk kurva) dan bentuk pertumbuhan
sigmoid/logistik (dengan bentuk kurva S) seperti yang nampak pada
Gambar 1.

Gambar 1. Pertumbuhan Populasi


(Dharmono, 2012)

1. Pertumbuhan eksponensial
Pertumbuhan populasi dengan bentuk eksponensial ini terjadi
bilamana populasi ada dalam suatu lingkungan yang ideal baik yaitu
ketersediaan makanan, ruang dan kondisi lingkungan lainnya beroperasi
membatasi, tanpa ada persaingan dan lain sebagainya. pada
pertumbuhan populasi yang demikian kerapatan bertambah dengan
cepat secara eksponensial dan kemudian berhenti mendadak saat
berbagai faktor pembatas mulai berlaku mendadak.
Laju peningkatan jumlah dalam suatu pertumbuhan populasi yang
berbentuk eksponensial dinyatakan sebagai :

dN/dt = r.N
; bentuk intergral kalkulusnya adalah

Nt = No.en ; bentuk persamaan liniernya adalah

In Nt = In No + rt atau log Nt = log No + 0,4343 rt

Itu berarti r = In Nt - In No / t ; t = t2-t1

Selanjutnya waktu penggandaan populasi* (Nt/No = 2) adalah :


t In 2/r = 0,6931/r

*Pada persamaan persamaan di atas, dN/dt = laju sesaat dari perubahan


populasi ; N= jumlah anggota populasi ; t= waktu ; No= jumlah
anggota populasi awal ; r = laju pertumbuhan populasi (potensi biotik,
koef, pertumbuhan populasi sesaat ; e = konstanta bilangan dasar log =
2,71828.

2. Pertumbuhan sigmoid/logistik.
Pada pertumbuhan populasi yang berbentuk sigmoid ini populasi
mula-mula meningkatnya sangat lambat (fase akselerasi positif)
kemudian makin meningkatnya tahanan lingkungan, misalnya yang
berupa persaingan antara spesies (fase akselerasi negatif) sehingga
akhirnya mencapai suatu tingkat yang kurang lebih seimbang (fase
keseimbangan). Tingkat populasi yaitu merupakan asimptet atas dari
kurva sigmoid, yang menandakan bahwa populasi tidak dapat
meningkat lagi, disebut daya dukung (K= suatu konstanta). Jadi daya
dukung suatu habitat ialah tingkat kemelimpahan populasi maksimal
(kerapatan jumlah atau biomassa) yang kelulusan hidupnya dapat
didukung sebagai berikut :

dN/dt = r.N [ (k-N)/K] atau dN/dt = r.t N (1-N)/K atau

dN/dt = r. N - (r/k) N2

Harga K-N/K atau 1-N/k atau 1 - N/K atau (r/K)N 2 dinamakan tahapan
lingkungan. Bentuk kalkulus (integral) dari pertumbuhan populasi
berbentuk sigmoid di atas adalah :
Nt = k / 1 + ea-rt

Pada persamaan diatas K = daya dukung ; a = suatu bilangan


konstan yanh menunjukkan posisi kurva terhadap suatu asal atau nilai
In K-N/ N bila t = 0; r,N dan dN/dt keterangannya sama dengan
pertumbuhan populasi yang eksponensial.
Kurva sigmoid didapatkan pada pertumbuhan populasi falam
kondisi laboratorium dari jenis-jenis hewan dengan siklus hidup
sederhana seperti misalnya paramecium sp.

2.2. Spesies yang terseleksi-r dan yang terseleksi-K


MacArthur dan Wilson (1967) dalam Odum (1971) telah maninjau
tingkatan tingkatan kolonisasi pada pulau-pulau yang ternyata menunjukkan
kesejajaran langsung dengan suksesi ekologi yang terjadi di benua. Species
dengan laju reproduksi dan laju pertumbuhan tinggi tampaknya lebih dapat
berlangsung hidup pada kolonisasi pulau tahap awal dan belum berdesakan.
Sebaliknya, tekanan seleksi memungkinkan spesies dengan potensi
pertumbuhan yang lebih rendah tetapi dengan kapabilitas yang lebih baik
untuk keterlangsung hidupan dan kompetitif di bawah kerapatan yang
seimbang pada tahap tahap akhir (Soetjipta, 1993)

Gambar 2. Spesies yang terseleksi-r dan yang terseleksi-K

Jika r adalah laju pertambahan intrinsik dan K adalah asimtot atas


atau cacah individu yang menunjukkan daya dukung lingkungan, maka
dapat dikatakan bahwa spesies yang terseleksi-r predominan di awal
kolonisasi, sedangkan spesies terseleksi-K lebih menonjol pada akhir
kolonisasi.
Makluk yang terlibat dalam jaringan persaingan hanya ada pilihan,
yaitu tinggal dan melawan ialah melawan dalam arti luas berarti
mengembangkan kemampuan kompetitif
Konsep kemampuan kompetitif dapat difahami melalui persamaan
persaingan LOKTA -VOLTERRA (lihatlah di bab berikutnya tentang
persaingan) persamaan ini didasarkan pada kurva logistik untuk masing-
masing spesies yang bersaingan. Dua parameter yang memberi karakteristik
persamaan tersebut ialah r (laju pertambahan intrinsik) dan K (kerapatan
jenuh). kepentingan nisbi r dan K dalam daur hidup makhluk dapat
memberi karakteristik makhluk itu.
Dalam beberapa lingkungan maka makhluk eksis dekat kerapatan
asimtotik (K) untuk banyak tahun, dan makhluk ini menjadi subjek seleksi-
K. Dalam habitat lainnya makluk jarang menghampiri kerapatan asimtotik,
jadi tetap di bagian manajak di kurva selama bertahun-tahun, dan makhluk
ini adalah subjek seleksi-r.
Spesies yang terseleksi -r jarang menderita tekanan dari persaingan,
sehingga tidak mengembangkan mekanisme untuk kemampuan kompetitif
yang kuat. Spesies yang terseleksi -K exis dibawah tekanan kompetitif yang
ada di dalam dan di antara spesies tekanan seleksi-K mendorong makhluk
untuk menggunakan sumber daya lebih efisien (Soetjipta, 1993).

2.3. Dinamika Populasi


Clapham (1983) menyebutkan bahwa yang dimaksudkan dinamika
populasi adalah ilmu yang mempelajari pertumbuhan serta pengaturan
populasi. Suatu tegangan terdapat di antara kecenderungan suatu populasi
untuk tumbuh dan batas terhadap pertumbuhan tersebut yang ditentukan
oleh lingkungan (Gambar 3).

Gambar 3. Dinamika Populasi

Jikalau diandaikan seekor kerang ayster tunggal dapat menghasilkan


satu juta (106) ova setiap tahun angka satu juta adalah angka yang masuk
akal, malah mungkin masih rendah dan andaikata tidak ada batas untuk
pertumbuhan populasi akan tumbuh seperti di dalam tabel berikut:

Generasi Cacah anakan betina


0 1
1 106
2 1012
3 1018
4 1024
5 1030

Pertumbuhan populasi kerang oyster dengan asumsi bahwa tiap-tiap


betina menghasilkan 1 juta (106) anakan betina dan masing-masing dapat
hidup untuk reproduksi jika tidak ada pembatasan oleh lingkungan dalam
bentuk apapun terhadap populasi (Clapham, 1983).
Jikalau rerata berat seekor kerang oyster adalah 500 gram, cacah
kerang oyster yang dihasilkan sesudah lima generasi, akan memiliki bobot
limaratus kali berat matahari. Jelas bahwa kendala yang ditimbulkan oleh
lingkunga mencegah hal tersebut terjadi untuk menjadi kenyataan, tetapi
kecenderungan populasi untuk tumbuh pada laju eksponensial adaikata tidak
ada hambatan oleh lingkungan adalah karakteristik semua populasi, malahan
populasi yang produksinya individu muda tidak sehebat yang digambarkan
dengan populasi kerang tersebut. Tendensi tersebut disebut potensi biotik.
Populasi menunjukkan pertumbuhan terbatas disebabkan oleh perlawanan
lingkungan terhadap pertumbuhan.
Pertumbuhan populasi bersangkutpaut dengan konsep laju natalitas
dan laju mortalitas, yang disebut sebagai laju vital populasi. Dan
bersangkutan juga dengan kerapatan atau cacah individu di dalam populasi,.
Berikut ini adalah yang disebut laju kasar natalitas, laju kasar mortalitas
dan laju kasar pertumbuhan.
Laju natalitas (b) = Cacah kelahiran per satuan waktu
Rerata populasi

Laju mortalitas (d) = Cacah kematian per satuan waktu


Rerata populasi

Laju pertumbuhan = (Cacah yang lahir) – (Cacah yang mati)


Rerata populasi dalam selang waktu

Nt = N0 * ert, dengan e = 2.71828 ….. bilangan dasar logaritma alami.


Dengan rumus tersebut dapat dihitung besarnya nilai r.
Andaikata r konstan, maka pertumbuhan populasi akan bersifat
eksponensial, seperti telah digambarkan pada populasi akan bersifat
eksponensial, seperti telah digambarkan pada populasi kerang oyster
tersebut di atas. Tetapi tidak ada populasi yang dapat tumbuh secara
eksponensial dalam waktu lama, serta r tidak pernah konstan. Oleh sebab r
adalah selisih antara laju natalitas dan laju mortalitas (dapat ditulis r=b-d),
perubahan dapat diakibatkan oleh perbedaan dalam salah satu laju atau
kedua-dua laju.
Untuk banyak makhluk, tampaknya laju natalitas dan laju mortalitas
berhubungan dengan kerapatan individu dalam populasi. Jika kerapatan
individu tinggi, maka laju natalitas rendah, karena gizi tidak cukup atau
penyimpangan yang bersamaan dengan keadaan berdesakan. Laju natalitas
cenderung lebih tinggi pada kerapatan lebih rendah, kecuali bahwa individu
mungkin memperoleh kesukaran dalam bertemu dengan individu yang lain
dan melaksanakan reproduksi jika kerapatan rendah secara ekstrem.
Seringkali kerapatan harus optimum agar laju natalitas menjadi
termaksimumkan.
Mortalitas adalah hampir selalu paling tinggi pada kerapatan yang
sangat tinggi disebabkan oleh bahaya berdesakan berlebihan dan
kemungkinan makin besar akan terjadinya pemangsaan serta penyebaran
penyakit. Tetapi mortalitas dapat juga cukup tinggi pada kerapatan yang
sangat rendah, oleh karena beberapa individu di dalam suatu spesies tertentu
seringkali dapat langsung hidup lebih baik di dalam melewati suatu periode
beban jikalau dibandingkan dengan individu tunggal melewati periode
beban tersebut. Misalnya, panas yang dihasilkan oleh suatu kelompok lebah
madu sudah cukup untuk memungkinkan kelangsung-hidupan kelompok
tersebut di dalam suhu yang demikian rendah yang mampu mematikan
lebah madu tersebut andaikata tidak dalam keadaan berkelompok.
Tidak ada kurva umum untuk menghubungkan laju vital dengan
kerapatan populasi untuk semua spesies. Banyak factor yang mempengaruhi
laju vital populasi menunjukkan hubungan dengan kerapatan, tetapi banyak
juga factor yang tidak menunjukkan hubungan tersebut.
Populasi yang berlainan memiliki karakteristik sejarah kehidupan
yang berbeda. Ada spesies besifat oportunistik, dalam arti kata bahwa
spesies itu dapat menemukan suatu habitat yang sesuai, lalu berkembang
dengan cepat mencapai kerapatan yang tinggi. Kemudian spesies tersebut
mencari lagi habitat lain yang sesuai sesudah kondisi optimal telah
dilampaui atau spesies yang oportunistik itu mampu langsung hidup
melewati berbagai periode bahan dengan kerapatan yang sanagt rendaha
atau dalam keadaan dorman.
Oportunisme di dalam spesies biasanya diwujudkan sebagai
karakteristik suatu potensi untuk pertumbuhan populasi dengan laju yang
tinggi. Individu d dalam populasi yang demikian itu cenderung menjadi
dewasa lebih awal, menyediakan aloaksi energy sebagian besar untuk
reproduksi, dan menghasilkan anakan dalam cacah yang banyak Makhluk
yang demikian oportunistik ini dapat mengkoloni suatu daerah dengan
cepat, tumbuh serta mencapai kerapatan yang tinggi. Mereka dapat
memelihara suatu populasi di dalam lingkungan yang berfluktuasi bilamana
mortalitas makluk dewasa tinggi.
Ada spesies lain yang cenderung untuk memelihara keseimbangan
yang stabil dalam populasi dalam waktu yang lama. Spesies jenis ini
terbiasa dalam persaingan secara berhasil dengan kerapatan yang kurang
lebih konstan, tanpa mengingat perbedaan minor dalam faktor lingkungan.
Spesies tersebut disebut sebagai spesies yang mantap, yang diatur oleh
mekanisme umpan-balik yang berkembang dengan baik dengan kerapatan
populasi berkeseimbangan pada atau di dekat daya dukung.
Dari perspektif suatu ekosistem, di antara spesies oportunistik yang
bercirikan suatu pertumbuhan populasi eksponensial yang cepat serta
spesies mantap yang dicirikan oleh pertumbuhan logistik, ada perbedaan
utama adalah eksestensi suatu mekanisme umpan balik negatif yang mampu
mengatur pertumbuhan dan didasarkan pada kerapatan populasi.
Dalam pengaturan kerapatan populasi maka mekanisme umpan-balik
yang terlibat rupanya berlangsung secara nisbi pada kerapatan itu sendiri.
Faktor lingkungan menimpa populasi yang lain pada kerapatan yang
berbeda. Banyak faktor intraspesifik dan faktor interspesifik yang
berlangsungnya dengan cara demikian ini, meskipun sedikit faktor abiotik
dan beberapa faktor biotik tidak secara demikian berlangsungnya. Ada
mekanisme ini, meskipun sedikit faktor disebut sebagai "density-
dependent" (tergantung pada kerapatan) yang didasarkan pada umpan-
balik, yang dibedakan dari mekanisme yang "density-independent"
(mekanisme yang tidak tergantung pada kerapatan) yaitu mekanisme tidak
berhubungan dengan umpan-balik.
Suatu contoh spesies oportunistik yang terkendali oleh umpan-balik
ditujukan di dalam percobaan yang melibatkan tungau herbivor
Eotetranychus sexmaculatus, dan tungau yang predatorik, Typhlodromus
occidentalis (Huffaker 1958 dalam Clapham 1983). Di dalam ruang
percobaan dipelihara E. sexmaculatus, dengan sejumlah jeruk orange
sebagai persedian makanannya. Setelah populasi cukup berkembang, maka
T. occidentalis dilepas sehingga dapat memangsa terhadap tungau E.
sexmaculatus. Rancangan percobaan dibuat sedemikian sehingga terjadi
heterogenitas yang cukup, dan E. sexmaculatus dapat bersembunyi. Pada
awalnya kerapatan E. sexmaculatus bertambah secara cepat. Berarti
persediaan makanan akan bertambah bagi T. occidentalis, yang kemudian
memberi tanggapan berupa kerapatan populasi juga bertambah.
Pertambahan tekanan oleh predator akan menekan populasi E. sexmaculatus
dan berarti turunnya persediaan makanan yang berarti menurunnya populasi
T. occidentalis menurunkan tekanan pemangsaan dan memungkinkan
populasi tungau yang herbivor E. sexmaculatus berkembang lagi. Para
pembaca yang berminat mengenai percobaan ini yang dapat pembaca lebih
laniut dan lebih terperinci dalam buku acuan.
Mengenai evalusi pengaturan populasi dituliskan bahwa faktor yang
mengatur populasi sama bersifat tidak konstan seperti populasi itu sendiri.
Faktor-faktor itu berbeda menurut iklim dan anasir abiotik azasi lainnya.
Faktor biologik juga beruba sebagai akibat evolusi. Seleksi alami cenderung
mengubah variabilitas genetik suatu populasi ketika suatu individu tertentu
mewariskan gene mereka yang memberi keuntungan kepada individu yang
memilikinya menyebabkan bertambahnya frekuen dan gene yang memberi
kerugian cenderung mengurangi frekuensi.
David Pimentel (1961 dalam Clapham 1983) menyebut tentang
umpan-balik genetik yang berhubungan dengan frekuensi gene tersebut.
Suatu contoh klasik dibicarakan oleh Pimentel ialah tentang kelinci Eropa
(Oryctolagus cuniculus) yang dikenalkan ke Australia di akhir tahun 1859.
Terjadi peledakan populasi kelinci yang kemudian dianggap sebagai hama.
Suatu strain virus Myxoma diperoleh dari populasi Amerika Selatan
dan dikenalkun ke Australia pada tahun 1950. Epidemi myxomatosis yang
diakibatkan ternyata fatul bagi 97-99% kelinci. Serangan kedua
mycomatosis yang bersifat fatal 85-95% populasi. dan serangan yang ketiga
fatal untuk 40-60%. Keefektifan virus yang makin berkurang menunjukkan
bahwa terjadi evolusi dalam kedua populasi. Kelinci menjadi kurang rentan
terhadap penyakit dan strain virus menjadi kurang virulen.
Toleransi terhadap penyakit fatal menuntun ke arah kelangsung-
hidupan lebih besar. Mekanisme pergeseran genetik di dalam populasi
kelinci jelas tampak, yaitu beberapa individu kelinci lebih resisten terhadap
virus daripada kelinci lainnya, disebabkan oleh karena adanya perbedaan
genetik yang normal. Kelinci yang dapat langsung hidup itu mewariskan
gene yang mendukung sifat resisten terhadap myxomatosis kepada generasi
berikut.
2.4 Keterkaitan Populasi Hewan dengan Hasil Praktikum di Lapangan
Data Annura kelompok 1 angkatan 2017

Data Annura kelompok 9 angkatan 2016

Dari data annura diatas dapat dilihat data spesies yang sama yaitu hanya pada spesies Euphylctis cyanophylctis dimana pada
angkatan 2017 jumlah indvidu pada spesies tersebut sebanyak 12 individu sedangkan pada angkaktan 2016 jumlah individu nya
sebanyak 30 individu, untuk keragaman jenisnya pun pada angkatan 2017 terlihat lebih sedikit dibandingkan pada angkatan
2016, hal ini kemungkinan dikarenakan ordo annura yang ada banyak yang mati atau berimigrasi ke lain sehingga hanya
ditemukan lebih sedikit.

Data Burung siang kelompok 1 angkatan 2017

Data Burung siang kelompok 9 angkatan 2016


Dari data burung siang diatas dapat dilihat data spesies yang tidak ada yang sama, namun jika dilihat dari jumlah spesies dan
jumlah individunya pada angkatan 2017 jumlah spesies yang ditemukan sebanyak 8 spesies dan total indvidu yang didapat
sebanyak 48 individu sedangkan pada angkatan 2016 jumlah spesies yang ditemukan sebanyak 5 spesies dan total indvidu yang
didapat sebanyak 24 individu, hal ini kemungkinan dikarenakan burung siang yang ada banyak yang berimigrasi ke lain dan ada
juga burung siang dari daerah lain yang berimigrasi ke desa Tabanio sehingga tidak ditemukan spesies yang sama.

Data Mammalia kelompok 1 angkatan 2017

Nama Titik
No Spesies 1 2 3 4 5 6 7 8 9
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27
Nasalis
1 larvatus       3                           5           5      

Trachypith
ecus
2
cristatus                                           1         4

Callosciuru
3 s notatus         1 4   1         1   1     1   1           2  

Tupaia
4 javanica     1                 1           1 1                

Macaca
Fasciculari
5
s             2 6 5 18 5                                

6. Bos aurus           8     3                 6       3     5    
∑ 0 0 1 3 1 12 2 7 8 5 18 1 1 0 1 0 0 13 1 1 0 4 0 5 5 2 4

K KR F FR NP
No Nama Spesies ∑ Ind ∑ Cup (Ind/titik) (%) (Cup/titik) (%) (%) Pi − Pi ln Pi

Nasalis
1. larvatus 13 3 0.48 13.68 0.11 11.11 24.80 0.14 0.27

Trachypithecu
2. s cristatus 5 2 0.19 5.26 0.07 7.41 12.67 0.05 0.15

Callosciurus
3. notatus 12 8 0.44 12.63 0.30 29.63 42.26 0.13 0.26

Tupaia
4. javanica 4 4 0.15 4.21 0.15 14.81 19.03 0.04 0.13

Macaca
5. Fascicularis 36 5 1.33 37.89 0.19 18.52 56.41 0.38 0.37

Bos Taurus
6. 25 5 0.93 26.32 0.19 18.52 44.83 0.26 0.35
∑ 95 27 3.52 100.00 1.00 100.00 200.00 1.00 1.54
Data Mamalia kelompok 9 angkatan 2016

Dari data mamalia diatas dapat dilihat data spesies yang sama yaitu pada spesies Macaca fascicularis dan Tracypithecus cristatus
dimana pada angkatan 2017 jumlah indvidu pada spesies Macaca fascicularis tersebut sebanyak 36 individu dan pada spesies
Tracypithecus cristatus sebanyak 5 individu sedangkan pada angkaktan 2016 pada spesies Macaca fascicularis jumlah individunya
sebanyak 3 individu dan pada spesies Tracypithecus cristatus sebanyak 6 individu, untuk keragaman jenisnya pun pada angkatan
2017 terlihat lebih banyak dibandingkan pada angkatan 2016, hal ini kemungkinan dikarenakan mamalia yang ada banyak mengalami
tingkat kelahiran yang tinggi sehingga spesies yang ditemukan lebih banyak.
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
1. Populasi adalah sekelompok individu dari spesies yang sama yang
hidup pada regio yang sama pada saat tertentu yang selalu berubah
dalam ukuran besarnya dan komposisinya pada saat yang manapun,
tetapi juga bagaimanakah populasi itu berubah.
2. Ada dua macam bentuk pertumbuhan populasi, yaitu bentuk
pertumbuhan eksponensial (dengan bentuk kurva) dan bentuk
pertumbuhan sigmoid/logistik (dengan bentuk kurva S).
3. Species dengan laju reproduksi dan laju pertumbuhan tinggi tampaknya
lebih dapat berlangsung hidup pada kolonisasi pulau tahap awal dan
belum berdesakan (spesises r). Sebaliknya, tekanan seleksi
memungkinkan spesies dengan potensi pertumbuhan yang lebih rendah
tetapi dengan kapabilitas yang lebih baik untuk keterlangsung hidupan
dan kompetitif di bawah kerapatan yang seimbang pada tahap tahap
akhir (spesies K).

3.2. Saran
Adapun saran penulis kepada para pembaca adalah agar pembaca
dapat mengetahui manfaat dan tujuan kita belajar tentang populasi hewan
ini yang ada kaitannya dengan kehidupan sehari-hari.
DAFTAR PUSTAKA

Dharmono. (2012). Buku Ajar Ekologi Hewam. Banjarmasin: Universitas


Lambung Mangkuta Press.

Soetjipta. (1993). Dasar-Dasar Ekologi Hewan. Yogyakarta: Fakultas Biologi -


UGM.

Sumarto, S., & Koneri, R. (2016). Ekologi Hewan. Bandung: CV. Patra Media
Grafindo Bandung.

Anda mungkin juga menyukai