Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Poliuretan atau spandex adalah serat sintetik yang mempunyai elastisitas yang
luar biasa. Lebih kuat dan lebih tahan daripada karet. Di Amerika Utara dan Eropa
Poliuretan dikenal dengan nama Elastane. Merk-merk lainnya yaitu Lycra (Invista,
sebelumnya bagian dari DuPont), Elaspan (Invista), Creora (Hyosung), ROICA dan
Dorlastan (Asahi Kasei), Linel (Fillattice), dan ESPA (Toyobo).

Untuk penggunaan pakaian persentase poliuretan lebih sedikit dari total material
yang digunakan. Di Amerika jarang sekali digunakan untuk pakaian pria. Lebih sering
digunakan untuk pakaian wanita agar lebih membentuk dan pas di badan. Biasanya di
campur dengan persentase yang cukup besar dari produk tekstil lain seperti katun atau
polyester, untuk mengurangi efek kilap.

Serat poliuretan cenderung sulit untuk dilakukan proses pencelupan, namun


karena pada penggunaannya serat poliuretan biasanya dicampur dengan jenis serat lain
maka pencelupan dapat dillakukan menggunakan zat warna yang kompatibel dengan
serat campurannya. Serat poliuretan sering kali dicampur dengan polyester, maka dapat
dicelup dengan zat warna dispersi. Penggunaan Serat Poliuretan Biasanya untuk
pakaian yang pemakaianya menginginkan merasa nyaman dan pas di badan, seperti :
baju atletik, aerobic, pakaian olahraga, baju berenang , pakaian selam, netball body
suits(baju jaring), bra, celana ski (ski pants), Legging, pakaian atlet sepeda, sarung
tangan, celana panjang wanita, kaus kaki, popok, skinny jeans, sabuk, pakaian dalam.
Untuk perabotan rumah tangga seperti bantal microbead. Maka dari itu dalam makalah
ini akan dijelaskan mengenai proses pencelupan serat campuran poliuretan
menggunakan zat warna dispersi.

1.2 Rumusan Masalah


 Apa itu serat poliuretan?
 Zat warna apa yang digunakan untuk mencelup serat poliuretan?
 Bagaimana mekanisme pencelupan serat poliuretan dengan zat warna dispersi?
 Metode apa yang digunakan untuk proses pencelupan?
 Bagaimana sifat hasil pencelupan serat poliuretan dengan zat warna dispersi?

1
1.3 Tujuan
 Mengetahui tentang serat poliuretan.
 Mengetahui zat warna apa yang digunakan untuk mencelup serat poliuretan.
 Memahami mekanisme pencelupan serat poliuretan dengan zat warna dispersi.
 Dapat memilih metoda yang tepat untuk proses pencelupan poliuretan dengan zat
warna dispersi.
 Mampu memprediksi sifat hasil pencelupan serat poliuretan dengan zat warna
dispersi.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Serat Poliuretan


Serat poliuretan merupakan serat buatan yang menyerupai karet, memiliki
kemampuan mulur dan gaya kembali yang tinggi, disebabkan oleh sifat/struktur
kimianya. Serat poliuretan mempunyai mulur saat putus lebih dari 200% dan cepat
kembali kebentuk semula apabila tegangan dilepaskan sebagai elastomer. Serat
Poliuretan bersifat elastis yaitu dikarenakan rantai polimernya yang bercabang, derajat
kristalinitasnya rendah yang menyebabkan kekuatannya juga rendah.
Salah satu produk elastomer yaitu serat “poliuretan”. Poliuretan banyak dipakai
pada dunia tekstil bahkan sampai menjadi merek kaus kaki. Beberapa jenis serat
elastomer yang telah dibuat yaitu Lycra (du Point), Vyrene (U.S.Rubber Co) dan
Dorlastan (Bayer).

2.1.1 Struktur Molekul


Serat poliuretan dibuat dengan mereaksikan 1,4- butanediol den an
eksametilena di-isosianat pada su u . eaksi pembuatannya

Gambar 1 Reaksi Pembentukan Poliuretan

3
Struktur molekul rantai serat poliuretan terdiri dari:
1. Bagian yang panjang dinamakan bagian yang lunak (soft); sangat fleksibel, elastis
seperti karet, dan tidak kristalin (amorf), biasanya terdiri dari polialkohol. Bagian
yang lunak ini mudah berubah shingga tekanan yang rendah pun dapat
menghasilkan perpanjangan serat yang besar. Berat molekul bagian yang lunak ini
mempengaruhi sifat serat poliuretan. Dengan naiknya berat molekul bagian yang
lunak (pada komposisi bagian yang keras=konstan) menyebabkan gaya elongasi
menurun pada elongasi yang sama.
2. Bagian yang pendek dinamakan bagian yang keras (hard); kaku, kristalin, polar dan
mempunyai kecenderungan untuk saling melekat dengan yang lainnya (mempunyai
daya ikatan antar molekul yang kuat yaitu ikatan hidrogen) sehingga membentuk
jaringan ikatan silang. Bagian ini terdiri dari gugus isosianat dan tidak berubah
selama terjadi deformasi. Bagian yang keras menyebabkan benang berbalik kembali
ke panjang semula ketika tekanan dilepaskan setelah deformasi.

2.1.2 Morfologi

Gambar 2 Penampang Melintang dan Membujur Serat Poliuretan

2.1.3 Sifat-Sifat Poliuretan


 Sifat Fisika:
1. Kekuatan dan mulur
Kekuatan serat poliuretan ± 0,7 g / denier . Mulur sebelum putus 520 – 610 %.
2. Berat jenis
Berat jenis serat poliuretan adalah 1,0-1,3g/cm3.
3. Moisture Regain
Moisture regain serat poliuretan dalam keadaan standar dan
adalah 0,6-1,7%.

4
4. Elastisitas
Serat poliuretan dapat ditarik 6-7 kali perelaksasi sebelum putus. Serat poliuretan
bisa ditarik 500-700 % dari bentuk asalnya. Penarikan 50% pulih 93,5-96%.
5. Titik leleh
Poliuretan mulai melele pada su u namun pada su u serat
poliuretan mulai menunjukkan perubahan.
6. Ketahanan terhadap sinar
Serat poliuretan mempunyai ketahanan terhadap cahaya yang baik tapdalam
waktu yang lama akan kehilangan sedikit kekuatanya dan sedikitkuning.
7. Pembakaran
Tidak mudah terbakar dan tidak meneruskan pembakaran
8. Stabilitas dimensi
Dapat dicuci berulang kali tanpa mengkeret.
9. Daya lenting (resilience)
Daya lenting dan fleksibilitas serat poliuretan sangat tinggi. Sifat pemulihan
bentuk yang sangat cepat ini memberikan kenampakan yang rata dan rapi pada
kain.
10. Transisi gelas serat poliuretan pada suhu 50 C.
 Sifat Kimia:
1. Pengaruh alkali, kekuatan serat poliuretan akan menurun.
2. Pengaruh asam, pada pH rendah keadaan panas kekuatan akan menurun.
3. Pengaruh zat pelarut, hampir tidak ada pengaruh zat pelarut seperti alkohol, eter,
benzen, asetat, bensin, terhadap serat poliuretan, kecuali dengan dimetil
formamida panas serat poliuretan akan mengembang.
4. Pengaruh terhadap zat pengelantang, serat poliuretan tidak kuat terhadap zat
pengelantang yang mengandung khlor.

2.1.4 Kelebihan dan Kekurangan Serat Poliuretan


 Kelebihan Serat Poliuretan :
1. Tahan aus, gesekan, dan pukulan.
2. Tahan terhadap keringat dan minyak.
3. Tidak mudah rusak.
4. Tetap fleksibel pada temperatur rendah.
5. Ringan.

5
 Kelemahan Serat Poliuretan :
1. Tidak tahan alkali dan asam kuat suhu tinggi akan menyebabkan kekuatannya
menurun.
2. Tidak tahan zat pengelantang yang mengandung khlor.
3. Tidak tahan pelarut dimetil formamida panas, serat poliuretan akan
mengembang.

2.1.5 Aplikasi Serat Poliuretan


Aplikasi serat poliuretan pada kenyatannya tidak terlalu banyak, tetapi memiliki
peranan yang penting, contoh pengaplikasian dalam dunia tektil adalah pembuatan
pakaian dalam, kaos kaki, ikat pin an atau di unakan “ corn yard ” yaitu
pencampuran serta lain, dimana serta poliuretan ada di bagian dalam dan bagian luar
adalah serat lain yang tentunya memiliki perbedaan sifat. Kemampuan poliuretan untuk
dibuat menjadi fiber yang tipis, elastis, dan tidak mudah putus, bergantung kepada
pemilihan jenis isosianat dan hidroksil yang digunakan. Aplikasi yang tak kalah penting
adalah sebagai elastomer untuk menggantikan karet alam. Di sini, sifat poliuretan yang
elastis, kuat, tahan gores, dan tahan terhadap minyak sangat berguna. Bahan elastomer
digunakan untuk melapisi bahan yang terkena tekanan mekanik terus-menerus, seperti
roda gigi, pelapis rol, dan sol sepatu.

2.2 Zat Warna Dispersi


Zat warna dispersi adalah zat warna organik yang terbuat secara sintetik.
Kelarutannya dalam air kecil sekali dan larutan yang terjadi merupakan dispersi atau
partikel-partikel yang hanya melayang dalam air.

Zat warna dispersi mula-mula digunakan untuk mewarnai serat selulosa. Kemudian
dikembangkan lagi, sehingga dapat digunakan untuk mewarnai serat buatan lainnya
yang lebih hidrofob dari serat selulosa asetat, seperti serat poliester, poliamida, dan
poliakrilat.

Zat warna dispersi merupakan zat warna yang terdispersi dalam air dengan bantuan
zat pendispersi. Zat warna dispersi mengandung zat warna dispersi mengandung gugus
aromatik dan alifatik yang mengikat gugusan fungsional (-OH, -NH2, NHR, dan
sebagainya) dan bertindak sebagai gugus pemberi (donor) hidrogen. Gugusan aromatik
-OH dan alifatik –NH2 dan gugusan fungsional yang sejenis, menyebabkan zat warna

6
dispersi sedikit larut di dalam air. Disamping itu zat warna dispersi sebaiknya
molekulnya kecil supaya mudah terdispersi. Karena molekulnya cukup kecil, zat warna
dispersi mudah menyublim pada suhu tinggi.

Zat warna dispersi merupakan zat warna yang terdispersi dalam air dengan bantuan
zat pendispersi. Adapun sifat-sifat umum zat warna dispersi menurut J.L. Edward
adalah sebagai berikut:

1. Zat warna dispersi mempunyai berat molekul yang relatif kecil (partikel 0,5-
2).
2. Bersifat tidak mengion (non-ionik) terdapat gugus-gugus fungsional seperti –
NH2, -NHR, dan-OH. Gugus-gugus tersebut bersifat agak polar sehingga
menyebabkan zat warna sedikit larut dalam air.
3. Kelarutan zat warna dispersi sangat kecil.
4. Tidak megalami perubahan kimia selama proses pencelupan berlangsung.
5. Mempunyai titik leleh sekitar 1500 C.
6. Mempunyai tingkat kejenuhan 30 - 200 mg zat warna/gram serat.

Penggolongan Zat Warna Dispersi


Berdasarkan ketahanan sublimasinya, zat warna dispersi dikelompokkan menjadi
4 golongan yaitu :

1. Zat warna dispersi golongan A


Zat warna ini mempunyai berat molekul yang terkecil, tingkat ketahanan sublimasinya
rendah, tersublimasi penuh ( 90 - 100 % ) pada suhu sekitar 1300 C dan mempunyai
sifat kerataannya yang baik sekali. Zat warna golongan ini umumnya digunakan pada
pencelupan dengan menggunakan zat pengembang (carrier).
2. Zat warna dispersi golongan B
Zat warna ini memiliki sifat ketahanan sublimasi yang sedang, tersublimasi penuh pada
suhu sekitar 1500 C - 1700 C, dan mempunyai sifat kerataan yang baik. Zat warna ini
dapat digunakan untuk mencelup serat poliester dengan menggunakan bantuan zat
pengembang dan pada pencelupan suhu tinggi dan pemberian tekanan.

7
3. Zat warna dispersi golongan C
Zat warna ini memiliki sifat ketahanan sublimasi yang tinggi, tersublimasi penuh pada
suhu sekitar 1900C. zat warna ini biasanya digunakan untuk mencelup poliester dengan
menggunakan metode suhu tinggi dan pemberian tekanan dan metode termosol.
4. Zat warna dispersi golongan D
Zat warna ini memiliki sifat ketahanan sublimasi yang tinggi, tersublimasi penuh pada
suhu 2200 C. zat warna ini biasanya digunakan untuk mencelup poliester dengan
menggunakan metode pada suhu tinggi dan metode termosol. Adapun golongan zat
warna dispersi dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 1 Golongan Zat Warna Dispersi Berdasarkan Ketahanan Sublimasinya


Bentuk Sumitomo Suhu Suhu Metoda Celup
Kelompok
molekul BASF sublimasi Termosol HT/HP Carrier
Thermosol
A 1700C 1800C 1300C 1000C

B E 1900C 2000C X X V

C SE 2000C 2100C V V V

D S 2100C 2200C V V x

Berdasarkan sturuktur kimianya, zat warna dispersi terbagi menjadi 3 golongan yaitu:

1. Golongan Azo (-N=N-)

Gambar 3 Struktur Molekul CI Dispersi Red 118

2. Golongan Antrakuinon

Gambar 4 Struktur Molekul CI Dispersi Violet 26

8
3. Golongan Difenil amin

Gambar 5 Struktur Molekul CI Dispersi Yellow 42

2.3 Zat Pembantu Pencelupan


Zat pembantu adalah zat selain zat warna yang digunakan pada proses
pencelupan agar menghasilkan celupan yang rata dan penyerapan zat warna yang
maksimum, sesuai target warna yang diinginkan. Zat pembantu ini meliputi zat
pendispersi, zat pengatur pH. Zat pembantu ini dapat divariasikan untuk mengetahui
pengaruhnya pada kain hasil pencelupan.
2.3.1 Zat Pengatur pH
Untuk mencapai keasaman larutan celup sebaiknya digunakan asam organik
lemah (seperti asam asetat /asam oksalat) atau menggunakan sistem penyangga pH
(asam asetat + natrium asetat) agar pH lebih stabil, sehingga reproduksibilitasnya lebih
baik.
2.3.2 Zat Pendispersi
Zat warna dispersi bersifat hidrofob dan kelarutannya di dalam air sangat kecil
sekali. Oleh karena itu partikel zat warna dispersi yang tidak larut tersebut harus
didispersikan secara homogen di dalam larutan. Untuk menjamin kestabilan
pendispersian dan mencegah agregasi zat warna pada suhu tinggi perlu dibantu dengan
zat pendispersi. Zat ini berupa suatu surfaktan anionik atau senyawa polielektrolit anion
(turunan lignosulfonat) yang tahan suhu tinggi dan bekerja pada bagian hidrofob dari
zat pendispersi menarik partikel zat warna dan bagian hidrofil yang bermuatan negatif
mengarah ke larutan dan menjaga jarak antar partikel zat warna agar tidak beragregasi
sehingga partikel zat warna tetap terdipsersi secara monomolekuler di dalam larutan.
Zat pendispersi berdasarkan sifatnya terbagi dalam empat golongan yaitu tipe
anionik, kationik, non ionik dan tipe amfoterik. Zat pendispersi yang bersifat anionik
akan terpengaruh oleh adanya ion-ion logam dalam larutan celupnya. Seperti halnya zat
warna yang mengandung gugus pelarut dalam molekulnya, zat pendispersi yang
mengandung gugus SO3Na akan mengalami gaya pendispersinya apabila dimasukkan
kedalam air yang mengandung ion-ion logam.

9
Sifat zat pendispersi anionik ini menyebabakan zat pendispersi akan masuk
dalam larutan celupyang mengandung ion-ion logam. Ion logam akan menggantikan
posissi Na+ dan membentuk ikatan komplek dengan zat pendispersi menghasilkan
struktur molekul zat pendispersi menjadi besar, sehingga bisa menghasilkan gaya
pendispersiannya.

Gambar 6 Misel Sterik

Zat pendispersi mempunyai sifat khas, yaitu mempunyai kecenderungan untuk


berpusat pada antarmuka dan mempunyai kemampuan menurunkan atau menaikan
tegangan permukaan.

2.4 Mekanisme Pencelupan


Serat poliuretan memiliki kemampuan dicelup yang baik. Dalam proses
pencelupannya, hampir menyerupai serat nilon dan zat warna yang digunakan dari
golongan yang sama, yaitu zat warna dispersi, asam dan kompleks logam. Dalam
penggunaannya serat poliuretan selalu dicampur dengan serat lain (non elastic).
Afinitas zat warna dispersi untuk serat poliuretan lebih kecil dibanding serat
poliesternamun laju difusinya lebih besar.

Proses pencelupan poliuretan tergantung pada serat non elastic yang dicampur
dengannya, namun harus dapat dipastikan bahwa suhu dan zat kimia yang digunakan
harus sesuai dengan keberadaan poliuretan. Sama halnya dengan zat warna dan proses
yang ditambahkan harus diseleksi dengan hati-hati untuk meyakinkan bahwa serat
poliuretan juga ikut tercelup. Metode pencelupan yang digunakan sebaiknya yang
memiliki tekanan yang rendah. Selain itu serat harus mengalami proses pre-set terlebih
dahulu untuk mengurangi perubahan bentuk atau mengkeret dari serat.

Pada proses pencelupannya dilakukan pada suhu tinggi yaitu 100-120oC, pada
suhu tersebut ikatan rantai molekul putus dan menyebabkan serat poliuretan

10
mengembang sehingga memberi ruang bagi molekul-molekul zat warna. Zat warna
akan lebih mudah berpenetrasi kedalam serat, zat warna akan masuk kedalam serat
sehingga zat warna terfiksasi didalam serat kemudian serat menjadi berwarna.Ikatan
antara serat poliuretan dengan zat warna dispersi yaitu adanya ikatan hidrofob dan
ikatan hidrogen. Ikatan hidrofob yaitu karena serat poliuretan dan zat warna dispersi
yaitu yang bersifat hidrofob. Sedangkan pada ikatan hidrogen terjadi adanya gugus O-
dari gugus karbonil (-COO) serat poliuretan akan berikatan dengan gugus H+ dari
gugus amina (-NH2) zat warna dispersi.

Gambar 7 Ikatan Hidrogen Antara Serat Poliuretan dengan Zat Warna Dispersi

Pencelupan ini biasanya dilakukan proses pencucian reduksi, untuk


menghilangkan zat warna dispersi yang tidak terfiksasi atau masih menempel
dipermukaan serat poliuretan. Zat yang digunakan untuk pencucian reduksi yaitu
NaOH dan Na2S2O4 yang dapat bereaksi menghasilkan Hn untuk mereduksinya,
reaksinya sebagai berikut :

Na2S2O4 + 2NaOH + 2H2O → 2Na2S2O4 + 6Hn

Zat warna dispersi memiliki kerataan yang cukup baik dan menghasilkan tingkat
pencelupan yang diharapkan, namun tingkat kelunturan warna tergolong sedang karena
hal ini maka zat warna dispersi hanya digunakan untuk warna-warna muda dan sedikit
pucat. Selain itu keberadaannya yang tidak begitu tahan terhadap sublimasi, maka
poliuretan sebaiknya tidak dicelup dengan suhu yang tinggi.

Hasil pencelupan dari pencelupan serat poliuretan dengan zat warna dispersi
memiliki ketuaan warna yang tua dan kerataannya cukup baik. Ketahanan luntur warna
terhadap pencuciannya baik karena sifat dari zat warnanya hidrofob yang tidak larut

11
dalam air sedangkan pada ketahanan luntur warna terhadap sinar jelek karena ikatan
antara serat poliuretan dengan zat warna dispersi hanya ikatan hidrogen yaitu ikatan
yang lemah dan serat poliuretan itu mempunyai serat yang longgar yang menyebabkan
sinar mudah masuk kedalam serat.

Campuran poliester-poliuretan

Pencampuran poliester-poliuretan bertujuan unutk meningkatkan kenyamanan


dari kain dan memberikan pegangan yang lembut. Pencampuran serat ini sering
menimbulkan masalah dalam hal pencelupan karena pada kondisi normal poliester
harus dicelup pada suhu yang lebih tinggi dari serat poliuretan.

Zat warna dispersi merupakan zat warna yang paling banyak digunakan dalam
mencelup campuran serat yang mengandung serat elastomer. Dalam keadaan ini serat
poliuretan sering kali tidak tercelup sehingga dalam memilih zat warna sebaiknya
dilakukan seselektif mungkin. Pencelupan biasanya diikuti pencucian reduksi dengan
menggunakan alkali untuk meningkatkan ketahanan gosok dalam keadaan basah.

Pencelupan poliester-poliuretan dengan melakukan zat warna dispersi tanpa


bantuan carrier sebaiknya dilakukan pada suhu 100-120oC dengan waktu maksimum
30 menit. Suhu awal dan derajat kenaikan suhu tergantung dari jenis poliester dan
golongan zat warna yang dipakai. Pada pencelupan poliester-poliuretan dengan suhu
tinggi zat warna dispersi akan lebih cenderung mencelup serat campurannya dalam hal
ini poliester dibanding dengan serat poliuretan.

12
BAB III

METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan bahan


3.1.1 Alat :
- Neraca Analitik
- Gelas Kimia 100 mL
- Gelas Ukur 100 mL
- Pipet Ukur 10 mL dan 1 mL
- Batang Pengaduk
- Filler
- Mesin HT-Dyeing
- Tabung rapid
3.1.2 Bahan :
- Kain Poliuretan
- Zat Warna Dispersi
- Zat pendispersi
- CH3COOH
- Na2S2O4
- NaOH
3.2 Resep
3.2.1 Resep Pencelupan :
- Zat warna dispersi : 2% owf
- Zat pendispersi : 1 ml/L
- Asam asetat : pH 5
- Vlot : 1:20
- Suhu : 100-120oC
- Waktu : 30 menit
3.2.2 Resep pencucian reduksi
- Na2S2O4 : 1 g/L
- NaOH : 0,5 g/L
- Vlot : 1:20
- Suhu : 50oC
- Waktu : 10 menit

13
3.3 Fungsi zat
- Zat warna dispersi : berfungsi untuk mewarnai serat poliuretan.
- Asam asetat : memberikan suasana asam pada larutan celup.
- Zat pendispersi : mendispersikan zat warna dalam larutan celup.
- Na2S2O4 : untuk menghilangkan zat warna dispersi yang tidak terfiksasi
kedalam bahan dan hanya menempel dipermukaan.
- NaOH : sebagai alkali untuk membantu kerja Na2S2O4.

3.4 Diagram alir

Persiapan Alat dan Bahan


Dan Perhitungan Resep

Persiapan Larutan Celup

Proses Pencelupan selama 30


menit pada suhu 100-120°C

Pencucian Reduksi selama 10


menit pada suhu 50°C

Pembilasan dan Pengeringan

Evaluasi
1. Ketuaan Warna
2. Kerataan Warna

14
3.5 Skema proses

15
BAB IV

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

 Serat poliuretan dapat dicelup menggunakan zat warna dispersi dengan ikatan hidrogen
dan hidrofob.
 Serat poliuretan tidak tahan pada suhu tinggi maka dipilih metode pencelupan dengan
suhu 100-120˚ dengan waktu 30 menit dan proses pencucian reduksinya pada suhu
50˚ dengan waktu 10 menit.
 Hasil celupan serat poliuretan dengan zat warna dispersi memiliki sifat sebagai berikut:
- Ketuaan warnanya tua.
- Kerataan warnanya cukup baik.
- Ketahanan luntur warna terhadap pencucian baik karena zat warna dispersi bersifat
hidrofob (tidak larut dalam air).
- Ketahanan luntur warna terhadap sinar jelek karena ikatan antara serat poliuretan
dengan zat warna dispersi hanya ikatan hidrogen yaitu ikatan yang lemah dan serat
poliuretan itu mempunyai serat yang longgar yang menyebabkan sinar mudah masuk
kedalam serat.

16
DAFTAR PUSTAKA

Ichwan M, dkk., 2017. Bahan Ajar Praktikum Pencelupan 2. Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil:
Bandung.

Ir. Rasjid Djufri, M. Sc; G.A. Kasoenarno, Bk. Teks; Astini Salihima, S. Teks; Arifin Lubis, S.Teks,
“Teknolo i Pen elantan an, Pencelupan dan Pencapan“, Institut Teknolo i Tekstil, 3, Bandun .

Kemal, Noerati. 2012. Serat Tekstil2. Bandung: Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil

P. Soeprijono S.Teks, Poerwanti S.Teks, Widayat S.Teks, Jumaeri S.Teks “ Serat- Serat Tekstil
“,Institut Teknolo i Tekstil, 3, Bandun

Shore, John. Colorant and Auxiliaries, volume 2- Auxiliaries.Society of Dyers and Colourists.
Manchester, England : 1990.

Mariani,L. (2012). Pengaruh Suhu Pemantapan Panas dan Konsentrasi Zat Anti Creasemark
Untuk Mengatasi Creasemark Pada pencelupan Kain Campuran Poliester-Poliuretan
Dengan Zat Warna Dispersi. Bandung: Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil.

https://tekstildeemall.wordpress.com/2010/04/11/poliuretan-lycra-elastane/

https://textileapplied.blogspot.com/2017/09/tentang-serat-spandex.html

17