Anda di halaman 1dari 22

MELAKUKAN PERAWATAN BUSI

1. Menyiapkan Perawatan Busi

A. Fungsi Busi Dalam Sistem Pengapian Sepeda Motor.

Busi dalam sistem pengapian berfungsi untuk memercikkan bunga api yang diperlukan
untuk membakar campuran udara dan bahan bakar yang telah dikompresi, sehingga
terjadi langkah usaha. Busi memilki 2 elektroda, yakni elektroda tengah dan elektroda
negatif (masa). Setelah arus listrik dibangkitkan oleh ignition coil (koil pengapian)
menjadi arus listrik tegangan tinggi, kemudian arus tersebut mengalir menuju distributor,
kabel tegangan tinggi dan ke busi, pada busi arus melompat dari elektroda tengah ke
elektroda negatif (massa) sehingga menimbulkan loncatan bunga api yang dibutuhkan
untuk membakar campuran udara dan bahan bakar.

Gambar. Rangkaian Pengapian

Busi (berasal dari bahasa Belanda bougie) adalah suatu suku cadang yang dipasang pada
mesin pembakaran dalam dengan ujung elektrode pada ruang bakar. Busi dipasang untuk
membakar bensin yang telah dikompresi oleh piston. Percikan busi berupa percikan
elektrik. Pada bagian tengah busi terdapat elektrode yang dihubungkan dengan kabel ke
koil pengapian (ignition coil) di luar busi, dan dengan ground pada bagian bawah busi,
membentuk suatu celah percikan di dalam silinder. Hak paten untuk busi diberikan secara
terpisah kepada Nikola Tesla, Richard Simms, dan Robert Bosch. Karl Benz juga
merupakan salah satu yang dianggap sebagai perancang busi.

Mesin pembakaran internal dapat dibagi menjadi mesin dengan percikan, yang
memerlukan busi untuk memercikkan campuran antara bensin dan udara, dan mesin
kompresi (mesin Diesel), yang tanpa percikan, mengkompresi campuran bensin dan udara
sampai terjadi percikan dengan sendirinya (jadi tidak memerlukan busi).
Pada umumnya, busi terletak di atas blok slinder mesin bagian luar. Tanpa ada busi suatu
mesin yang berbahan bakar premium tidak bisa dioperasikan ataupun di hidupkan.
Didalam dunia otomotif, pada saat kita mengendarai sepeda motor ataupun mobil yang
berbahan bakar premium, tiba-tiba mesin mogok pastinya kita harus memeriksa bahan
bakar duluan dan kalau kita merasa tidak kekurangan bahan bakar, kita harus memeriksa
busi. Dimana busi banyak yang sudah habis pakai, masih tetap kita pergunakan tanpa
menghitung umur ataupun masa layak pakai busi.

B. Jenis-Jenis Busi Berdasarkan Performa

Dilihat dari performa yang dihasilkan, busi memiliki beberapa jenis antara lain ;

1. Busi Standar (Cooper)

Jenis busi cooper atau tembaga adalah busi yang paling umum ditemui. Busi ini
memiliki elektroda berbahan tembaga yang memiliki diameter kurang lebih 2,5 mm.
Busi standar menjadi busi bawaan pabrik pada beberapa motor. Dikarenakan busi ini
cocok untuk penggunaan standar.
Gambar Busi Standar
Untuk umur busi, busi tipe standar memiliki umur pemakaian bervariasi tergantung
mesin dan pemakaian. Umumnya, untuk menghindari kemacetan pada KM
pemakaian 20.000 KM busi ini diganti dengan yang baru.

2. Busi Resistor

Busi ini pada dasarnya sama dengan busi standar karena banyak juga pabrikan yang
menggunakannya sebagai busi bawaan. Namun perbedaannya, busi ini memiliki
resistor atau tahanan yang ditandai dengan kode "R" pada busi NGK atau kode "U"
pada busi Denso

Gambar Busi Resistor


Kode ini menunjukan bahwa busi ini sudah dilengkapi Resistor. Fungsinya untuk
mencegah aliran listrik secara berlebihan saat pengapian. Busi tipe resistor digunakan
pada mesin EFI yang sudah dilengkapi ECU.

3. Busi Platinum

Busi platinum secara fisik akan menyerupai busi standar. Namun ada perbedaan pada
elektroda yang dipakai. Busi platinum menggunakan elektroda berbahan platinum,
tujuannya untuk memperpanjang umur pemakaian busi. Bahan nikel yang terdapat
pada ujung elektroda dapat mengurangi radiasi panas dari mesin. Umur busi ini bisa
mencapai pemakaian 30 KM. Harga busi platinum lebih tinggi dari pada tipe busi
lainya.

Gambar Busi Platinum


Features busi platinum :
3.1 Untuk memperbaiki performa pengapian, diameter electrode tengah telah dikurangi
dari 2,5 mm menjadi 1,1 mm
3.2 Electrode tengah dan masa dilapisi dengan platinum untuk memperpanjang umur
pemakaian busi.
3.3 Diameter kepala baut untuk mengeraskan busi dirubah dari 20,6 mm menjadi 16 mm
untuk mengurangi bobot dan memperbaiki pendinginan busi.
3.4 Untuk mempermudah membedakan busi platinum dengan busi biasa, pada busi
platinum dilengkapi dengan 5 buah lingkaran biru-tua pada insulatornya.
Meski memiliki harga cukup mahal, jenis busi ini sangat disukai untuk keperluan
touring dikarenakan memiliki daya tahan cukup baik dalam pemakaian jangka waktu
lama.

4. Busi Iridium

Busi iridium, juga memiliki bentuk fisik yang hampir sama dengan jenis busi lain.
Namun, sekali lagi perbedaan terletak pada elektroda busi. Elektroda pada busi
iridium berbahan logam campuran yang mengandung iridium dan dilapisi nikel pada
ujung elektroda.

Selain dapat bertahan dalam pemakaian lama, busi ini dipercaya dapat menghasilkan
performa mesin maksimal. Busi jenis ini, banyak digunakan pada motor diatas 150 cc
dan mobil berkapasitas lebih dari 2.5L

5. Busi Racing

Busi tipe ini dirancang khusus untuk menghasilkan performa yang maksimal tanpa
menimbulkan panas yang berlebih. Elektroda pada busi racing dibuat dari perpaduan
beberapa logam dengan ujung meruncing. Sehingga menghasilkan daya hantar listrik
yang kuat dengan ketahanan yang kuat pula.

Meski memiliki performa yang maksimal, busi ini memiliki umur yang lebih pendek.
Sesuai namanya busi ini memang diperuntukan untuk keperluan racing. Sehingga
untuk pemakaian sehari-hari tentu kurang tepat.

C Jenis-jenis Busi berdasarkan Heat Resistance


Sementara jika dilihat dari reaksi terhadap daya hantar panas, busi dibedakan menjadi dua
jenis.

1. Busi Panas
Busi panas memiliki daya hantar panas yang lebih kecil dibandingkan busi dingin.
Sehingga suhu busi relatif lebih panas ketika bekerja.

Tujuanya, agar proses pembakaran mesin terjaga. Busi panas akan menjaga suhu kerja
mesin tetap ideal, sehingga pembakaran pada mesin bisa lebih maksimal.

Didalam busi ini, memiliki isolator berupa keramik yang lebih banyak. Sehingga panas
dari elektroda tidak langsung diteruskan ke blok mesin.

Busi ini cocok untuk penggunaan sehari-hari baik pada mesin motor maupun mesin
mobil.

2. Busi Dingin

Busi dingin memiliki jumlah isolator keramik yang lebih sedikit, sehingga panas
didalam busi dapat tersalurkan ke blok mesin. Inilah mengapa dinamai busi dingin.
Karena mudah melepaskan panas.

Busi dingin juga disebut busi racing, karena kemampuanya bertahan dalam kinerja
ekstrem. Disaat mesin bekerja cukup ekstrem, busi ini akan mentransfer panas mesin
keluar melalui elektroda. Sehingga over heating dapat dihindari. Busi berbentuk tabung
yang memiliki ulir untuk tempat perkaitan dengan kepala silinder. Konstruksi busi,
dibuat agar listrik bertegangan tinggi dari ignition coil dapat disalurkan sampai ujung
elektroda tanpa menimbulkan kerugian tegangan dan tidak menimbulkan efek bagi
komponen

D. Nilai Panas Busi

Yang dimaksud dengan nilai panas busi adalah kemampuan meradiasikan sejumlah panas
oleh busi. Busi yang meradiasikan panas yang lebih banyak disebut busi dingin sebab
busi tersebut akan tetap dingin, sedangkan busi yang meradiasikan panas sedikit disebut
dengan busi panas. Busi dingin mempunyai ujung isolator yang lebih pendek karena
permukaan persinggungan dengan api lebih kecil dan jalur radiasi panasnya pendek,
maka perambatan panas sangat baik dan temperatur elektroda tengah tidak akan naik
terlalu tinggi. Sedangkan busi panas mempunyai ujung isolator yang panjang dan
permukaan singgung dengan api yang luas sehingga jalur perambatan panas menjadi
panjang dan radiasi panas menjadi kecil. Akibatnya temperatur elektroda tengah menjadi
naik. Nilai panas busi juga dapat ditentukan dengan nomor yang ada pada busi, semakin
tinggi angka atau nomor suatu busi maka semakin tinggi nilai panas busi. Busi
mengeluarkan arus listrik tegangan tinggi menjadi loncatan bunga api melalui elektroda.
Nilai panas busi adalah kemampuan meradiasikan sejumlah panas oleh busi. Nilai panas
busi dapat ditentukan dengan nomor yang ada padabusi, semakin tinggi angka atau
nomor suatu busi maka semakin tinggi nilai panas busi.

E. Konstruksi Busi

Busi berbentuk tabung yang memiliki ulir untuk tempat perkaitan dengan kepala silinder.
Konstruksi busi, dibuat agar listrik bertegangan tinggi dari ignition coil dapat disalurkan
sampai ujung elektroda tanpa menimbulkan kerugian tegangan dan tidak menimbulkan
efek bagi komponen kelistrikan lain.
Gambar Kontruksi Busi
Bagian-bagian busi antara lain ;
1) Terminal
Terminal ini berlokasi tepat diatas busi. Fungsi dari terminal ini adalah untuk menerima
listrik bertegangan tinggi dari coil dan menghubungkannya ke elektroda. Bahan dari
terminal ini adalah besi sehingga dapat melakukan penyaluran energi listrik dengan
sempurna.

2) Elektroda
Elektroda akan terlerak memanjang dari ujung atas busi hingga ujung bawah busi. Fungsi
elektroda busi yaitu sebagai core atau inti dari penyaluran energi listrik. Elektroda busi
dibuat dari beberapa logam antara lain tembaga, platinum, dan campuran nikel.
Pada jenis busi resistor, terdapat material keramik yang terletak ditengah elektroda busi.
Fungsinya sebagai hambatan agar listrik yang mengalir tidak berlebihan.
3) Insulator
Bagian ujung dari insulator, Terdapat di dalam body besi bagian kepala dari busi. Ujung
dari insulator atau insulator tip ini akan mengalami peristiwa pembakaran yang terjadi
pada ruang bakar sehingga material yang digunakan harus tahan terhadap temperatur
tinggi dan juga mampu menjadi insulator yang baik. Rata2 ujung dari insulator ini mampu
menahan temperatur 650 derajat celcius dan mampu menahan tegangan 60.000 Volt
Panjang pendeknya ujung insulator ini akan mempengaruhi jenis sebuah busi..apakah busi
itu busi panas atau busi dingin.
Insulator komponen pilar yang berpengaruh dalam proses pengapian. Insulator berbahan
dasar keramik yang memiliki resistansi tinggi. Fungsi dari insulator adalah untuk
mencegah loncatan listrik dari elektroda ke bagian samping.
Mengingat lubang busi pada kepala silinder bermuatan masa atau ground. Sehingga perlu
penyekat yang mampu meredam daya listrik di samping elektroda.

4) Gasket
Gasket berbentuk seperti ring tembaga yang terletak pada pangkal ulir busi. Tujuan
diberikan gasket ini adalah untuk mencegah terjadinya kebocoran saat langkah kompresi.
5) Terminal Ground
Terminak ground terletak pada ujung bawah busi. Terminal ini tersambung langsung ke
masa melalui ulir busi. Terminal ini yang akan memicu terjadinya percikan pada busi
dengan meletakan ground didekat ujung elektroda.

6) Ribs
setiap busi bentuknya hampir sama, terdapat lekuk2 pada bagian insulatornya. Lekuk-
lukuk busi ini yang dikatakan Ribs-Ribs bekerja menambah kemampuan insulator dari
keramik. Dengan adanya bentuk ribs ini maka jarak antara inti elektroda dengan ground
akan semakin jauh, dengan semakin jauh jaraknya maka hambatan antar inti besi dan
ground juga semakin besar sehingga tegangan tidak dapat lompat dari inti besi ke ground
sekitar busi.
7) Metal case
Casing metal atau disebut juga jaket..sering kita anggap hanya sebagai Sarana untuk
mengunci busi ke silinder head, sebenarnya ada fungsi lainya yaitu sebagai material
konduksi yang memiliki daya hantar panas yang baik..sehingga panas dari busi dapat di
konduksikan ke tempat lain…selain itu casing metal juga berfungsi sebagai ground pada
busi. Mangkanya kalau mesin sedang dalam kondisi hidup jangan coba-coba pegang
soalnya tegangan 50.000 volt akan lompat ke body anda sebab anda akan beraksi seolah-
olah menjadi ground.

8) Center electrode
Inti elektroda terhubung dengan terminal kepala busi melalui penghubung internal yang di
selubungi oleh keramic insulatornya. ujung dari inti elektroda ini bisa tebuat dari
kombinasi tembaga, besi dan nickle, Chromium atau logam2 bagus lainnya. Pada
umumnya material yang paling sering digunakan adalah cupprum atau copper atau
tembaga.

9) Side electrode (ground )


Elektroda samping atau ground merupakan bagian dari ujung busi yang bersentuhan
langsung dengan body atau ground kendaraan kita sehingga ini merupakan perjalanan
terakhir dari api koil. Elektron akan melompat dari elektroda inti ke ground terdekat
dalam hal ini adalah elektroda samping.
Bahan elektroda seharusnya mempunyai daya hantar panas yang bagus dan mampu
menahan temperatur yang tinggi, gas-gas korosif (bersifat merusak) dan gangguan arus
yang bersifat erosif. Logam yang mampu mengatasi persyaratan tersebut adalah campuran
nikel-kromiumbarium, atau yang lebih tinggi dengan platinum, tungsten (wolfram) atau
campuran iridium. Elektroda pusat menjadi panas dari pada elektoda pada massa dan
kerena itu semburan electron terjadi dan pemutusan tegangan dari celah berkurang. Salah
satu faktor yang mempengaruhi dalam membuat busur api lewat celah udara busi adalah
panjang celah dimana semakin panjang (besar) celah, makin lebar pemutusan tegangan
yang diharapkan.
F Cara Kerja Busi

Saat listrik bertegangan tinggi mengalir dari ignition coil ke terminal busi, maka akan
terbentuk aliran arus dari igntion coil menuju elektroda busi.
Sesuai dengan arah aliran arus, dimana arus listrik selalu mengalir dari kutub positif ke
negatif. Maka listrik didalam elektroda juga akan mengalir menuju masa.
Jika arus pada elektroda langsung dihubungkan le masa maka hanya akan timbul panas
pada elektroda dan tidak ada percikan. Untuk itu dibuat celah antara ujung elektroda dan
masa.

Saat arus listrik yang melewati elektroda bermuatan kecil, tidak akan terjadi apapun di
celah elektroda. Namun jika arus yang mengalir bermuatan mencapai 20 KV maka
mampu keluar dari elektroda dalam bentuk percikan.

G Celah Busi
Celah busi menjadi faktor apakah percikan mampu keluar ataukah tidak. Celah busi yang
terlalu renggang membutuhkan muatan lebih besar untuk bisa terjadi percikan. Jika arus
tersebut standar maka percikan yang dihasilkan juga lebih kecil. Sehingga berpotensi
menyebabkan miss fire. Celah Busi Bila celah elektroda busi lebih besar, bunga api akan
menjadi sulit melompat dan tegangan sekunder yang diperlukan untuk itu akan naik.Bila
elektroda busi telah aus, berarti celahnya bertambah, loncatan bunga api menjadi lebih
sulit sehingg akan menyebabkan terjadinya kesalahan pengapian.

Celah elektroda untuk sepeda motor (tanda panah pada gambar di samping) biasanya 0,6-
0,7mm (untuk lebih jelasnya lihat buku Manual atau katalog busi)
Celah busi yang terlalu dekat, akan menyebabkan percikan lebih besar dan tidak terarah.
Dalam hal ini, panas pada busi akan cepat terbentuk sehingga dapat mempengaruhi
pembakaran mesin.
Dilihat dari bentuk celah busi, akan terdapat dua jenis busi yaitu ;
1) Single Elektrode

Gambar Busi Single Elektroda

Jenis single elektroda memiliki satu buah ground point dan celah vertikal diujung
elektroda. Tipe ini akan menghasilkan percikan dengan bentuk memanjang. Sangat cocok
dipakai untuk mesin berkapasitas sedang

2. Multi Elektroda

Gambar Busi Multi Elektroda


Jenis multi elektrode memiliki ground point dua atau lebih yang terletak disamping
elektroda. Percikan yang dihasilkan pada busi jenis ini terletak disamping elektroda
dengan jumlah sesuai jumlah ground point. Busi ini memiliki diameter lebih besar dan
sering dipakai pada mesin berkapasitas lebih dari 500 cc tiap silinder.

Untuk ukuran celah, ada banyak variasi celah busi. Hal ini tergantung spesifikasi tiap
mesin. Umumnya, celah busi berkisar 0,8 hingga 1,0 mm.

Demikian sekilas mengenai macam macam busi pada sepeda motor dan mobil. untuk
melihat beberapa kode kode pada busi, bisa simak

F Perawatan Busi

Melakukan pekerjaan perawatan busi sesuai dengan manual perbaikan


Langkah-langkah melakukan perawatan busi :
1) Lepaskan semua busi dengan kunci busi, jangan sekali-kali memakai kunci
pas.Periksalah kondisinya. Jika busi kering dan berkerak abu-abu menandakan
kondisi pembakaran motor Anda baik. Bila basah serta kerak berwarna hitam,
menggambarkan pembakaran mesin kurang sempurna.
2) Sebelum busi dilepas, lubang tempat busi bersemayam harus dibersihkan terlebih
dahulu. Cukup dengan kain bersih. Ketika melakukan pembersihan, cek kondisi
penutup busi apakah masih dalam kondisi baik. Bersihkan mulut busi bagian luar
dengan menggunakan sikat kawat. Untuk memudahkan pembersihan, busi direndam
dengan bensin atau minyak tanah sebelum dibersihkan. setelah bersih keringkan.
Bersihkan elektrode masa dengan kikir plat tipis. Ukur celah busi untuk
mengoptimalkan kinerja busi Anda.
3) Periksa kembali celah antara elektroda positif (bagian membulat) dan elektroda
negative (bagian melengkung yang nampak keluar dari busi). Kembalikan pada posisi
normal. Pada umumnya celah busi berjarak 0,8 mm-1,2mm.
4) Setelah itu masukkan kembali busi pada tempatnya. Harap diingat, jangan
mengencangkan busi hingga terlalu keras. Sebab, bila itu terjadi busi akan sulit
kembali dilepas atau bisa saja menyebabkan rusaknya arus ulir pada lubang mesin.
Bersihkan busi secara teratur. Agar umur pemakaian busi Anda bisa lebih panjang,
sebaiknya setiap 5.000 km Anda membersihkannya dengan tiupan angin atau
dengan sikat khusus.Perawatan busi akan sangat membantu proses optimasi
pembakaran. Sehingga tak saja busi, platina maupun injektor juga akan lebih awet.

G Pedoman Pemilihan Tipe Busi

DENSO
HONDA NGK IRIDIUM
IRIDIUM
REVO/SUPRA CR7HIX IUF22
BEAT/SCOOPY/NEW M.PRO CR8EIX IU24
BLADE/ABS.REVO CR7EIX IU20
CBR 150/SONIC/CS 1 DR8E1X IU24
TIGER /MEGA PRO DPR8EIX-9 IX24B
VARIO CRBEHIX-9 IUH24
SUPRA PGM FI IU20
DENSO
KAWASAKI NGK IRIDUM
IRIDUM
BLITZ 125/KAZE/ATHLETE CR7HIX IUF22
NINJA 250 - IU24
NINJA 150 BR9EIX IW22
NINJA RR 150 - IW27
DENSO
SUZUKI NGK IRIDUM
IRIDUM
SATRIAA F 150/THUNDER
CR8EIX IU24
125
SKYWAVE/SPIN/SKYDRIVE CR7HIX IUF22
THUNDER 250 CR8EIX IX24
TITAN/NEW
SMASH/SHOGUN/SHOGUN CR7HIX IUF22
FI/ARASHI

DENSO
YAMAHA NGK IRIDUM
IRIDUM

VIXION/ CR8EIX IU24


SCORPIO DPR8EIX-9 IX24
JUP.Z/VEGA R
CR7HIX IUF22
MIO/NOUVO/FINO
JUP.MX/BYSON CR9EIX IU24
DENSO
BAJAJ NGK IRIDUM
IRIDUM
PULSAR DTSi
CR9EIX IU27
150/180/200/XCD 125

Tabel Tipe Busi


2 MEMASTIKAN BUSI TERPASANG DENGAN BENAR

A Pemeriksaan Busi

Pemeriksaan dan penyetelan busi dimaksudkan untuk


a Memeriksa keausan elektroda busi. Apabila keausan elektroda berlebihan, busi perlu
diganti
b Memeriksa warna hasil pembakaran pada ujung insulator dan elektroda busi.
Perhatikan pula kode busi yang digunakan, bandingkan dengan spesifikasi yang
disarankan.
Kondisi busi yang aus dapat juga diperhatikan dari warnanya.
1) Warna Cokelat

Busi yang normal biasanya akan berwarna cokelat dan kering. Ini menandakan sistem
pembakaran berlangsung dengan sempurna, sehingga tidak meninggalkan kotoran pada
permukaan busi.

2) Warna Hitam

Gb. 25. Warna hasil pembakaran pada ujung insulator dan elektroda busi

Busi dapat berwarna hitam karena pada saat kompresi terjadi, campuran bahan bakar
lebih banyak. Sehingga pada saat pembakaran terjadi, dihasilkannyalah asap hitam dan
dan emisi yang akan menempel di ujung busi. Inilah yang menyebabkan warna busi
hitam dan terlihat banyak kerak menempel di permukaannya.Busi yang hitam dapat
dibersihkan dengan menggunakan alat pembersih busi,amplas atau sikat baja Pastikan
permukaan busi bersih dari kerak yang menempel.

Gambar Alat Pembersih Busi

Pastikan juga busi masih memiliki ukuran standar yaitu 0,8 mm dengan menggunakan
alat yang bernama feeler gauge.

Gambar Alat Pengukur Celah Busi

Selain membersihkan busi, penyebab utama dari tidak sempurnanya proses pembakaran
harus diatasi terlebih dahulu. Yaitu, melakukan resetting karburator agar sistem
pembakaran dapat berlangsung dengan sempurna.
3) Warna Putih

Warna putih juga akan ditemui pada sebagian busi dengan kerak yang menempel di
ujungnya. Kondisi ini menunjukan bahwa percikan api yang dikeluarkan kecil, dan
menunjukan sinyal bahwa busi sudah lemah.

Warna putih disebabkan oleh sistem pembakaran yang tidak sempurna. Penggunaan
bahan bakar dengan oktan tinggi dan penggunaan kendaraan dengan kecepatan tinggi
mengakibatkan busi menjadi overheating.

Sama halnya dengan menangani busi hitam, masalah pada busi putih ini pun harus
diawali dengan membetulkan sistem pembakaran terlebih dahulu. Ini yang menjadi
sumber permasalahan pada busi.

1) Peralatan
Peralatan yang dipergunakan untuk mendukung terlaksananya pembelajaran yang
baik dan harus dipersiapkan sebelumnya adalah :
a. Alat penguji busi / pembersih
b. Kunci busi ( sok )
c. Pistol udara / kuas
d. Kaca pembesar
e. Alat penyetel busi (filler gauge)
f.Kunci momen

2) Bahan
Bahan yang diperlukan untuk mendukung terlaksananya pembelajaran yang baikdan
harus dipersiapkan sebelumnya adalah :
a. Modul manual / katalog busi
b. Bermacam jenis busi
c. Kendaraan/stan mesin/motor bensin

3) Langkah kerja
a. Lepaskan steker busi. Jangan menarik pada kabel busi, karena hubungan inti arang
kabel mudah terlepas dari steker.Bersihkan sekeliling busi dengan semprotan udara
tekan atau kuas, untuk mencegah kotoran masuk ke dalam silinder sewaktu busi
dilepas.
b. Lepaskan busi dengan menggunakan kunci busi. Perhatikan bahwa kunci busi tidak
miring. Kemiringan kunci busi dapat mengakibatkan isolator busi pecah. Untuk
busi yang posisinya dalam, gunakan kunci busi yang ada magnetnya atau ada
karet untuk memegang isolator, sehingga busi tidak jatuh sendiri waktu diangkat.
c. Periksa kondisi ulir dan lubang busi. Jika ulir busi rusak, maka busi harus diganti
baru. Sedangkan jika ulir lubang busi yang rusak, dapat diperbaiki.
d. Periksa muka busi! ( Bila perlu pakai kaca pembesar ). Keadaan muka busi dapat
menunjukkan kondisi motor.
e. Bandingkan busi yang diperiksa dengan gambar-gambar dan keterang-keterangan
kode berikut:

Gambar Macam-Macam Busi

• Cara Membaca Kodebusi


1. Denso (W24ES-U)
W : Diameter ulir busi (W-14 mm)
24 : Tingkat panas busi, kalau nilainya semakin besar berarti bertipe lebih
dingin
E : Panjang ulir 19 mm
S : Tipe penggunaan busi S-standar
U : Konfigurasi gap busi.

2. NGK (CPR 7HSP-9)


C : Diameter ulir busi (B : 14 mm, C : 1 0mm, D : 12mm)
24 : Tingkat panas busi, kalau nilainya semakin besar berarti bertipe lebih
dingin
P : Type rancangan busi (hanya pabrikan yg tahu kode ini)
S : Tipe penggunaan busi S-standar
R : Busi dengan resistor di dalamnya (untuk mesin dengan teknology digital
menggunakan busi type ini untuk menghindari terjadinya frekuensi yg
dapat mengganggu pembacaan sensor digital)
“7″ : Tingkat panas busi. Kalau tambah kecil angkanya 6, 5, 4 disebut busi
panas dan sebaliknya tambah besar 8, 9 diklaim sebagai busi dingin
H : Panjang ulir busi, ada tiga jenis kode huruf yang dipakai. Kalau H = 12,7
mm , E = 19 mm dan L = 11,2 mm
S : Type elektroda tengah. Kode lain, ada IX artinya bahan iridium dan G
menunjukkan tipebusiracing.KalauPplatinumdastandar.
“9″ : Celah inti elektroda busi, angka 9 artinya celah busi 0,9mm dan kalau 10
celah busi 1 mm.
3. Kode Elektroda Busi
C : Copper Core Center Elektroda
D : 2 ground Electroda
P : Platinum Elektroda
R : Burn off Resistor
S : Silver electroda
T : 3 Ground Elektroda
V : Wide Gap 1,3 mm
W : Wide Gap 0,9 mm
X : Wide Gap 1,1 mm
Y : Wide Gap 1,5 mm
Z : Wide Gap 2,0 mm
B Pemasangan Busi
• Ukurlah celah elektroda dengan batang pengukur atau fuler. Jika celah tidak
sesuai spesifikasi, stel dengan membengkokkan pada elektroda massa.
• Pasang busi pada motor. Mulailah menyekrupkan dengan tangan secara
maksimum, kemudian keraskan dengan kunci momen, tetapi jangan terlalu
keras atau kendor. Jika posisi busi tidak terjangkau tangan, pastikan bahwa
kunci sok yang memegang busi dapat menjamin busi tidak dapat jatuh sendiri.
Didalam kunci sok biasanya terdapat magnet atau karet yang menahan busi.
Momen pengerasan busi:
➢ Pada kepala silinder aluminium : 15-20 Nm
➢ Pada kepala silinder besi tuang : 20-25 Nm
• Pasang kabel-kabel busi sesuai dengan urutan pengapian (F.O). Pastikan
bahwa kabel sudah tersambung dengan baik, oleh karena sering terjadi tutup
pelindung sambungan kabel (cap) sudah terpasang, sementara kabelnyabusi
belum tersambung dengan baik.
• Hidupkan motor sebagai kontrol bahwa penggantian busi telah berhasil
dengan baik,Celah elektroda terlalu besar, akibatnya :
➢ Kebutuhan tegangan untuk meloncat-kan bunga api lebih tinggi. Jika
sistem pengapian tidak dapat memenuhi kebutuhan tersebut, motor
akan hidup tersendat-sendat pada beban penuh.
➢ Isolator-isolator bagian tegangan tinggi cepat rusak karena dibebani
tegangan pengapian yang lebih tinggi.
➢ Motor agak sulit dihidupkan.
Celah elektroda terlalu kecil, akibatnya :
➢ Bungan api lemah, tenaga motor kurang.
➢ Elektroda cepat kotor, khususnya pada motor 2 tak.
DAFTAR PUSTAKA

A. BukuReferensi

1. Departemen Tenaga Kerja Dan Transmigrasi R.I.-Direktorat Jenderal


Pembinaan Pelatihan Dan Produktivitas. 2007. Materi Pelatihan Berbasis
Kompetensi-Sektor Otomotif-Sub Sektor Sepeda Motor. Jakarta
2. Modul Pelatihan. Teknik Sepedamotor 2007. VEDC Malang
3. Technical Service Division, 2012. PT. Astra Honda Motor -Astra Honda
Training Centre – Technical Training Dept.
4. YTA. 2006. Yamaha Technical Academy. Jakarta
5. System Listrik dan Pemeriksaan Komponen-komponennya, Technical Service
Training, PT ASTRA INTERNATIONAL HONDA SALES OPERATION,
JAKARTA, 2000
6. Europa Lehrmittel, Fachkunde Kraftfarhrzeugtechnik, Verlag Europa
Lehrmittel Nourney, Volmer GmbH & CO. 1988
7. https://www.autoexpose.org/2017/02/cara-kerja-sistem-pengapian-cdi.html
8. http://www.insinyoer.com/prinsip-kerja-engine-control-unit-ecu/