Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH


Dewasa ini telah banyak kita lihat ketimpangan-ketimpangan yang terjadi dalam
masyarakat muslim. Terlebih dalam soal pengakuan budaya dan kepercayaan masyarakat
terhadap ritual-ritual tertentu yang masih kental dijumpai dilapangan.
Salah satunya adalah mengenai acara nujuh bulanan yang sudah tak asing lagi kita
dengar. Yakni salah satu ritual budaya yang banyak dilakukan oleh bangsa Indonesia,
khususnya di pulau Jawa. Ada yang memandang sebagai budaya, jika melihat bangsa
Indonesia yang notabene banyak terdapat unsur-unsur peninggalan-peninggalan dari para
leluhur. Namun, bagaimanakah pandangan Islam mengenai hal ini? Karena, sejarah
menuturkan, bahwa belum pernah ada keterangan Rosul pernah mengajarkannnya.
Sementara yang melakukan ritual-ritual seperti itu diantaranya ada yang beragama
muslim.
Adanya selisih pandangan mengenai adat kebiasaan dengan syariah Islam masih harus
lebih jauh di kaji. Untuk itu perlu dilakukan penelitian-penelitian secara objektif guna
membuka cakrawala pandangan kita mengenai barbagai macam budaya, khusus dalam
bidang ini yang kita kaji adalah nujuh bulanan.
B. PERUMUSAN MASALAH

• Bagaimanakah pandangan Islam mengenai nujuh bulanan?

C. TUJUAN PENELITIAN

Makalah penelitian ini disusun untuk menambah wawasan dan mengkaji lebih dalam
lagi mengenai nujuhbulanan dan yang sejenisnya dalam pandangan Islam.

D. METODE PENELITIAN
Dalam penyusunan makalah penelitian ini metode yang digunakan antara lain sebagai
berikut :

• Refrensi buku

• Wawancara

BAB II

1
PENELITIAN NUJUH BULANAN
A. Latar belakang nujuh bulanan
Dalam islam orang yang mendapatkan anugerah nikmat dari Allah diperintahkan
untuk bersyukur kepadaNya. Hal tersebut perlu dilakukan agar nikmat yang diperolehnya
tersebut bisa menjadi barokah baginya dan mudah-mudahan Allah swt. Sentiasa akan
menambah anugerah nikmatNya.
Kehamilan bagi orang tua, khususnya para ibu merupakan anugerah nikmat Allah
swr. yang tidak ternilai. Apalagi jika yang dikandung adalah anak yang pertama. Apapun
akan dilakukan oleh kedua oranguanya agar anak yang ada di dalam kandungan tersebut
lahir dengan selamat dan tidak ada kekurangan suatu apapun.
Salah satu yang biasa dilakukan oleh masyarakat kita adalah mengadakan selamatan bagi
bayi yang dikandung jika janin yang sedang dikandung tersebut telah menginjak bulan
tertentu. Pada umumnya selametan tersebut dilakukan pada bulan ke empat atau ketujuh
kehamilan.
Melihat dari tujuan mengadakan selamatan tersebut adalah suatu hal yang baik.
Namun demikian, hal tersebut tidak dilakukan karena dalam pelaksanaanya banyak sekali
terkandung ritual-ritual ibadah yang tidak dicontohkan oleh Rosulullah saw.
Bahkan jika kita melihat fenomena yang terjadi di masyarakat upacara selametan
tersebut penuh dengan unsur-unsur yang menyamping dalam Islam. Misalnya saja,
masyarakat kita menyediakan berbagai macam hal untuk melaksanakan selametan
tersebut.
Mulai dari rujak yang harus terdiri dari tujuh macam buah-buahan, mandi kembang tujuh
macam, menyiapkan dawegan (kelapa muda) yang di isi dengan rajah tertentu, dsb.
Semua hal tersebut adalah pengaruh agama dinamisme yang masih dipegang kuat oleh
sebagian kaum muslim yang masih awam.

B. Proses nujuh bulanan yang ditemui dilapangan.


Biasanya acara ritual ini didampingi oleh ‘’paraji” atau orang yang membantu
proses kelahiran bayi selain bidan.
Pertama, si ibu hamil dimandikan dengan berbagai macam kembang sebanyak tujuh
kali siraman dengan masing-masing siramannya mengganti kain yang dipakai. Lalu
memecahkan dawegan (kelapa muda), sambil meyajikan macam-macam sesajen atau
rujakan. Setelah itu membaca diba’ sambil sesekali paraji mengelus atau dalam
bahasa sunda disebut “ngagedog keun”, maksudnya untuk memudahkan arah bayi
keluar jika lahir nanti. Antara lain diba’ yang dibaca adalah sebagai berikut :

َ
‫ب‬
ِ ‫ج‬ َ ْ ‫ي ال‬
ِ ‫حا‬ َ ْ ‫ي ال‬
ّ ِ ‫فم ِ ن ُوْن‬ ّ ‫م‬
ِ ْ ‫مي‬ ِ ْ ‫ي ا ْلن‬
ِ ‫ف‬ ِ ْ ‫ب * ا َل‬
ّ ‫ف‬ ّ ِ ‫ن ل َي ْل‬
ِ ِ ‫ي الذ َّوآئ‬ َ ْ ‫جرِيّ ال‬
ِ ْ ‫جب ِي‬ ْ َ‫* ف‬

ِ ‫سب ِْع الط َّبا‬


ٌ ِ‫ق َثاق‬
‫ب‬ ّ ‫ي ال‬ َ َ ‫قل َم ِ ب‬
َ ‫صُره ُ ِإل‬ َ ْ ‫صرِي َْر ال‬
َ ُ ‫مع‬
َ ‫س‬
ْ َ‫ه ي‬
ُ ُ ‫مع‬
ْ ‫س‬
َ *

Dahi Beliau (Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam ) seperti fajar,


2
rambut depan Beliau seperti malam, hidung Beliau berbentuk (huruf) alif,
mulut Beliau berbentuk (huruf) mim, alis Beliau berbentuk (huruf) nun,
pendengaran Beliau mendengar suara qolam (pena yang menulis taqdir),
pandangan Beliau menembus tujuh lapisan (langit atau bumi). (Lihat
Majmu’atul Mawalid, hlm. 9, tanpa nama penerbit. Buku ini banyak dijual di
toko buku-toko buku agama).

Ini semua jika dilihat dari segi agama , berlebihan.


Namun, berikut beberapa kutipan wawancara dalam bahasa sunda yang di lakukan
mengenai ritual nujuh bulanan ini dengan salah seorang paraji yang biasa membantu
dalam proses nujuh bulanan.
Saya: “ emak, acara nujuh bulanan ieu teh maksudna naon?”
Paraji: “ nujuh bulanan teh, pungsina mah supaya ngagedogkeun1* si jabang orok
supaya gampil kaluarna pas boboran teh”
Saya: “tapi, naha nganggo acara sasajen atawa rujakan sagala? Eta pungsina naon?
Pan dalam ajaran islam mah teu aya acara kitu mak?
Paraji: “eta mah, tadina pan asalna tina para karuhun atawa laluhur urang kapungkur
sateuacan islam datang. Eta teh pas islam datang, bade di lengitkeun acara nu kitu
sadayana teh, tapi kucara halusna mah sakedik-sakedik. Janten, dinu selangan acarana
di isi ku shalawat, tahlilan atawa do’a-do’a”
Translate to Indonesian :
Saya: “bu,apa maksud dari acara nujuhbulanan ini?”
Paraji: “nujuhbulanan itu maksudnya untuk meluruskan calon bayi agar lancer saat
lahirnya.”
Saya: “tapi, mengapa mamakai sesajen aatu rujakan segala? Itu maksudnya apa?
Bukankah tidak ada dalam ajaran Islam, bu?”
Paraji: “kan itu berasal dari para leluhur kita sebelum islam datang. Ketika islam
datang(membawa kebenaran) yang seperti itu akan dihilangkan. Tapi secara
halusnya dihilangkan sedikit-sedikit (yang berbau agama dahulu). Jadi, isi acaranya
di isi oleh shalawat, tahlilan atau do’a-do’a”
Seperti yang dikatakan tadi, yang dimaksud berlebihan disini adalah jika
memang yang maksudnya untuk ‘’jaminan” keselamatan bayi kelak. Padahal
sesungguhnya keselamatan dan bencana itu ada di tangan Allah swt semata.

C. Pandangan Islam
Nujuh bulanan atau istilah lain Tingkepan atau Mitoni, secara dasar hukum
syariatnya tidak ada contoh atau anjuran dari rosulullah saw. Tidak juga dari kalangan
1
Meluruskan arah

3
sahabat atau tabi’in atau tabi’it tabi’in. menurut tabi’in acara tujuh bulanan hanyalah
sebuah traidisi yang di implan kedalam budaya kita.
Lalu, apakah mengadakan acara itu merupakan bid’ah atau bukan?
Untuk menjawab masalah ini, tentu kita harus merujuk kepada makna dan
batasan bid’ah itu sendiri, umumnya para ulama mengaitkan bid’ah itu dengan
masalah ubudiyah atau ibadah mahdlah, yaitu jenis ibadah yang bersifat sacral dan
seremonial.
Sebab dan tata aturannya tidak bisa diterangkan dengan pendekatan logika, tetapi
merupakan sunah atau perintah yang bersifat syar’i.
Masalahnya, bid’ah atau tidak bid’ah ini yang masih asing untuk dipahami
dikalangan masyrakat awam walaupun telah dengan tegas dalam sebuah hadits :

ٌ َ ‫ضَلل‬ ُ
‫ة‬ ّ ُ ‫ة وَك‬
َ ٍ‫ل ب ِد ْع َة‬ ٌ َ ‫حد َث َةٍ ب ِد ْع‬
ْ ‫م‬ ّ ُ‫ن ك‬
ُ ‫ل‬ ُ ‫ت اْل‬
ّ ِ ‫مورِ فَإ‬ ِ ‫حد ََثا‬
ْ ‫م‬ ْ ُ ‫وَإ ِّياك‬
ُ َ‫م و‬

Jauhilah semua perkara baru (dalam agama), karena semua perkara baru (dalam
agama) adalah bid’ah, dan semua bid’ah merupakan kesesatan. (HR Abu Dawud, no.
4607; Tirmidzi, 2676; Ad Darimi; Ahmad; dan lainnya dari Al ‘Irbadh bin Sariyah).

KESIMPULAN
Tingkepan, nujuh bulanan atua empat bulanan memang tidak diajarkan dalam
syariat islam, tidak mungkin hukumnya menjadi wajib atau sunah. Paling-paling jika
mau sangat toleran menjadi mubah saja atau makruh. Dan tentu ekstrimnya menjadi
haram. Tergantung sejauh mana niat, tatacara dan keyakinan yang kita punya untuk
acara semacam itu.
Ada sebuah pendapat, kalau acara itu diadakan dengan niat sebagai bagian dari
ibadah, maka jatuhlah sebagai bid’ah. Karena tidak ada dasarnya dalam syari’at islam.
Namun bila dilakukan tanpa mengharapkan apa-apa dan juga sama sekali bukan
diniatkan ibadah, maka bukan termasuk bid’ah.
Masalahnya, untuk apa untuk apa kita mengerjakan penelisesuatu yang tidak
ada nilai ibadahnya? Padahal untuk menyelenggarakn acara itu pasyti butuh dana.
Bukankah hal itu menjadi isa-sia belaka? Bukankah yang punya nilai ibadah dan jelas
dasar syari’atnya masih banyak yang belum kita kerjakan? Lalu mengapa kita harus
memaksakan diri mengerjalkan sesuatu yang tidak ada dasar syria’atnya?
Kembali lagi, Ini bukan soal membid’ah atau tidak membid’ahkan dalam
Islam. Namun yang jelas, tidak ada keterangan yang menunjukkan bahwa rosul
pernah mengajarkan hal itu.
Maka, alangkah baiknya, jika unsur-unsur budaya yang masih kentara dengan hal
yang tidak ada dalam agama Islam, apalagi hal yang merujuk kepada syirik, di
hindari.

4
Pun jika memang dengan diadakannnya nujuh bulanan ini menjadi suatu keharusan
dalam suatu keluarga, sebaiknya dimusyawrahkan baik-baik.
Do’a yang dipanjatkan untuk si jabang bayi dan ibu yang hamilpun pasti seyogyanya
setiap saat, tidak harus melakukan ritual-ritual yang berlebihan.
Ada baiknya, biaya yang digunakan untuk acara tersebut dialihkan untuk persiapan
biaya kelahiran bayi itu sendiri, pelaksanaan aqiqah, dan sebagainya sebagaimana
yang diajarkan Rosulullah saw.

DAFTAR PUSTAKA

• www.google.com
• Nata, Abuddin. Prof. dr. H., MA. 1998. Metodologi Studi Islam. Jakarta. Rajawali
Pers

• Muhammad, Tengku Hasby Ash-shidieqy. 1999. Kritreria Sunnah dan Bid’ah.


Semarang. PT. Pustaka Rizki Putra.