Anda di halaman 1dari 23

PANDUAN PENANGANAN

GAWAT DARURAT COVID-19

PERDAMSI

TAHUN 2020
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat karunia-Nya,
“Panduan Penanganan Gawat Darurat Covid19” ini selesai disusun oleh Tim PERDAMSI.
COVID-19 menjadi masalah kesehatan dunia. Kasus ini diawali dengan informasi dari Badan
Kesehatan Dunia/World Health Organization (WHO). Pada tanggal 30 Januari 2020, WHO
menetapkan COVID-19 sebagai Kedaruratan Kesehatan Masyarakat Yang Meresahkan
Dunia. Pada tanggal 11 Maret 2020, WHO sudah menetapkan COVID-19 sebagai pandemi.
Pedoman ini ditujukan bagi petugas kesehatan sebagai acuan dalam melakukan
kesiapsiagaan menghadapi COVID-19, terutama pelayanan di Instalasi Gawat Darurat (IGD)
dan pelayanan Pra Rumah Sakit dalam pengelolahan pandemi COVID-19. Rencana ini juga
memaparkan tindakan-tindakan yang diperlukan untuk mencapai kapabilitas yang diinginkan.
Kinerja dan tindakan yang diperlukan saat Pandemi COVID-19 kepada pihak Profesi
kesehatan, Pemerintah pusat, daerah dan lokal, Dinas kesehatan masyarakat dan rumah
sakit. Instansi-instansi tersebut harus mementingkan perencanaan operasional yang
diperlukan, selama dan setelah Pandemi COVID-19. Panduan ini berguna sebagai Panduan
Pelayanan Gawat Darurat di IGD dan Pra Rumah sakit untuk saling bekerjasama untuk
kepentingan keberhasilan tatalaksana COVID-19 ini.

Pedoman ini bersifat sementara dan akan diperbarui sesuai dengan perkembangan
penyakit dan situasi terkini. Kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam penyusunan
pedoman ini, Kami sampaikan terimakasih. Kami berharap panduan ini dapat dimanfaatkan
dengan baik serta menjadi acuan dalam Pelayanan gawat darurat di Rumah sakit dan Pra
Rumah Sakit di Indonesia.

Jakarta, 1 Mei 2020

Ketua PERDAMSI

dr. Bobi Prabowo, Sp.Em


NIP. 47688

i
PERHIMPUNAN DOKTER AHLI EMERGENSI INDONESIA
PENYUSUN

1. dr. Bobi Prabowo, Sp.Em


2. dr. Kristina Agustina Wiraputri, Sp.Em
3. dr. Yuddy Imowanto, Sp.Em
4. dr. Ali Haedar, Sp.Em
5. dr. Jollis Tjhia, Sp.Em
6. dr. Atep Supriadi, Sp.Em
7. dr. Handrian Rahman P., Sp.Em

ii
PERHIMPUNAN DOKTER AHLI EMERGENSI INDONESIA
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…………………………………………………………………………………………….i

DAFTAR ISI……………………………………………………………………………………………………..ii

BAB I……………………………………………………………………………………………………………..1

PENDAHULUAN………………………………………………………………………………………………..1

BAB II…………………………………………………………………………………………………………….3

Penyebaran………………………………………………………………………………………………………3

Pertanyaan yang ditujukan untuk penelepon………………………………………………………………...4

Faktor resiko, tanda dan gejala COVID-19…………………………………………………………4

Algoritme Pertanyaan yang diajukan oleh call center……………………………………………..4

Pemakaian APD dan proses transfer ambulans……………………………………………………………..6

BAB III…………………………………………………………………………………………………………..11

PERSIAPAN DEPARTEMEN KEGAWATDARURATAN TERHADAP WABAH COVID-19…………11

Pengelolaan Area Isolasi……………………………………………………………………………………..11

Denah…………………………………………………………………………………………………11

Pengaturan Zona…………………………………………………………………………………….11

Pengelolaan Pasien………………………………………………………………………………….11

Pengelolaan Staf………………………………………………………………………………………………12

Pengelolaan Alur Kerja………………………………………………………………………………12

Pengelolaan Kesehatan……………………………………………………………………………..12

Operasional Klinis……………………………………………………………………………………………..12

Emergency Medical Service………………………………………………………………………..12

Kapasitas Ruang Isolasi dan Lokasi Alternatif……………………………………………………12

APD yang sesuai untuk tenaga medis……………………………………………………………..12

Layanan farmasi……………………………………………………………………………………...13

Layanan Laboraorium……………………………………………………………………………….13

iii
PERHIMPUNAN DOKTER AHLI EMERGENSI INDONESIA
Profilaksis antivirus dan vaksin……………………………………………………………………..13

Logistik dan Fasilitas…………………………………………………………………………………………..13

Suplai………………………………………………………………………………………………….13

Makanan………………………………………………………………………………………………13

Gas medis…………………………………………………………………………………………….14

Informasi Publik dan Komunikasi…………………………………………………………………………….14

Keamanan dan Pengontrolan Keramaian…………………………………………………………………..14

Ruang Tunggu…………………………………………………………………………………………………14

Penggunaan APD di IGD……………………………………………………………………………………..14

Resusitasi Pasien terduga/Terkontaminasi COVID-19……………………………………………………16

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………………………………..18

iv
PERHIMPUNAN DOKTER AHLI EMERGENSI INDONESIA
BAB I

PENDAHULUAN

COVID 19 adalah koronavirus jenis baru yang diberi nama SARS-CoV-2. COVID-19 pertama
kali dideteksi di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok pada bulan Desember 2019 setelah beberapa
orang mengalami pneumonia tanpa sebab yang jelas dan prosedur perawatan dan vaksin yang
diberikan ternyata tidak efektif. Sedikitnya 70% urutan genom SARS-CoV-2 sama seperti SARS-CoV.

Hingga 2 Maret 2020, 3.061 orang tewas, 2.912 terjadi di daratan Tiongkok sedangkan lebih
dari 100 kasus kematian terjadi di negara lain dan ada bukti penyebaran dari manusia ke manusia.
Kasus ini juga telah dilaporkan di lebih dari 60 negara lainnya.

Wabah ini telah dinyatakan sebagai kedaruratan kesehatan masyarakat yang meresahkan
dunia (PHEIC) oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 30 Januari 2020. Pernyataan ini
adalah deklarasi keenam yang dilakukan oleh WHO sejak pandemi flu 2009. Misinformasi tentang
corona virus yang menyebar terutama melalui internet membuat WHO menyatakan "infodemik" pada
2 Februari 2020.

Pelayanan pra rumah sakit, yang tertuang dalam system pelayanan gawat darurat terpadu
atau SPGDT melakukan pelayanan Bantuan Hidup Dasar (BHD) dan/atau Bantuan Hidup Lanjut
(BHL) serta melakukan transfer pasien sakit/cidera dari tempat kejadian menuju rumah sakit.
Pelayanan pra rumah sakit juga digunakan untuk melakukan transfer pasien antar fasilitas
kesehatan.

Pelayanan ambulans yang terdapat didalam komponen pelayanan pra rumah sakit, dapat
dilakukan melalui berbagai macam institusi seperti pemadam kebakar, sukarewalan, UPT atau
bahkan berada didalam rumah sakit yang mempunyai ambulans sendiri untuk melayani pasien di
rumah sakit tersebut.

Komponen lain dalam pelayanan pra rumah sakit adalah call center 119 (atau Public Safety
Center) atau emergency medical dispatch center, dan program first responder. Semua komponen ini
harus terintegrasi dalam satu system kesehatan untuk memastikan pasien terlayani dengan
berkesinambungan.

Dalam Kejadian Luar Biasa (KLB), layanan pra rumah sakit kemungkinan akan kebanjiran
telepon yang masuk masuk dari masyarakat atau permintaan rujukan antar fasilitas kesehatan, maka
dari itu penting untuk penyedia layanan pra rumah sakit mempunyai kelengkapan sarana, prasana
serta alur yang tepat, untuk menunjang bukan hanya kegiatan sehari hari, namun juga saat terjadi
KLB COVID-19.

1
PERHIMPUNAN DOKTER AHLI EMERGENSI INDONESIA
Persiapan Instalasi Gawat Darurat yang baik juga sama pentingnya dalam menghadapi
wabah COIVD-19. Perancangan zona triage, keamanan dan keramaian, pembentukan ruang tunggu,
alat pelindung diri, persediaan logistik selama wabah, penerimaan pasien, protokol Instalasi Gawat
Darurat yang harus diberlakukan untuk memastikan perawatan gawat darurat berjalan tepat dan
efektif.

Pengaruh COVID-19 diberbagai wilayah bisa saja berbeda-beda, panduan ini diharapkan
dapat menjadi panduan untuk mempersiapkan Pre Hospital Care dan Instalasi Gawat darurat yang
mumpuni dan dapat menjadi pertimbangan untuk mengambil langkah persiapan selama pandemik
belangsung.

Dalam panduan ini, pelayanan pra rumah sakit dan Instalasi Gawat Darurat dituntut untuk
mengimplementasikan segala sumber daya yang ada dan bekerja secara terintegrasi dan
terkoordinasi dengan dinas kesehatan setempat untuk merespon KLB COVID-19.

2
PERHIMPUNAN DOKTER AHLI EMERGENSI INDONESIA
BAB II

PENYEBARAN

Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan cara penyebaran virus corona dari satu
orang ke lainnya melalui droplet cairan tubuh, bukan melalui kontak airborne. Menurut WHO, ketika
seseorang yang menderita COVID-19 batuk atau bernapas, mereka melepaskan seperti tetesan
cairan Droplet yang juga terdapat virus corona. Kebanyakan tetesan atau cairan itu jatuh pada
permukaan dan benda di dekatnya - seperti meja, meja, atau telepon. Orang bisa terpapar atau
terinfeksi COVID-19 dengan menyentuh permukaan atau benda yang terkontaminasi - dan kemudian
menyentuh mata, hidung, atau mulut. Jika seseorang berdiri pada jarak 1 atau 2 meter dari
seseorang dengan COVID-19, dia dapat terjangkir melalui batuk termasuk saat mereka
menghembuskan napas. Dengan kata lain, COVID-19 menyebar serupa cara untuk flu.

Maka dari itu orang yang berisiko tertular COVID-19 dibagi menjadi pasien dengan kontak erat, yaitu:
1. Termasuk kontak erat adalah
• Petugas kesahatan yang memeriksa,merawat, mengantar dan membersihkan ruangan
di tempat perawatan khusus TANPA menggunakan APD sesuai standar.

Pencegahan dan mitigasi yang dapat dilakukan antara lain:


• Mencuci tangan dengan sabun dan air selama 20 detik/ hand rub berbahan dasar alcohol
70%
• Hindari menyentuh wajah, hidung, atau mulut saat tangan dalam keadaan kotor atau belum
dicuci.
• Jika tangan tampak kotor, cuci dengan sabun dan air mengalir.
• Hindari kontak langsung atau berdekatan (min 1m) dengan orang yang memiliki gejala infeksi
pernafasan.
• Kerjakan etika batuk.
• Kenakan masker medis dan segera berobat ke fasilitas kesehatan ketika mengalami gejala
penyakit saluran napas, serta melakukan hand hygine setelah membuang masker.
PERTANYAAN YANG DITUJUKAN UNTUK PENELEPON

• Call Center ambulans harus menanyakan si penelepon dan menentukan kemungkinan


bahwa panggilan ini menyangkut seseorang yang mungkin memiliki tanda atau gejala dan
faktor risiko untuk COVID-19. Proses bertanya ini semestinya jangan menunda instruksi pra-
kedatangan ambulans kepada penelepon ketika intervensi penyelamatan yang bisa
dilakukan oleh si penelepon diindikasikan Pasien yang memenuhi kriteria yang sesuai harus

3
PERHIMPUNAN DOKTER AHLI EMERGENSI INDONESIA
dievaluasi dan ditranspor sebagai pasien terduga COVID-19. Informasi tentang COVID-19
akan diperbarui oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia secara berkala.
• Informasi tentang pasien terduga COVID-19 harus dikomunikasikan segera ke medical
director di PSC, penyedia layanan ambulans atau dokter di RS tujuan sesuai dengan sistem
rujukan yang belaku sebelum kedatangan. Call center harus menggunakan protokol
pengiriman ambulans yang telah dikoordinasikan antara medical director PSC, penyedia
layanan ambulans dan RS dengan departemen dinas kesehatan setempat.

Faktor Risiko, Tanda & Gejala Covid-19

1. Demam ATAU gejala pernapasan (batuk, sulit bernapas) DAN


2. Bepergian ke lokasi terjangkit ATAU kontak dekat dengan pasien yang diketahui atau diduga
Corona virus COVID-19 dalam 14 hari terakhir atau dari daerah transmisi lokal di Indonasia

Algoritme Pertanyaan yang diajukan oleh call center:

1. Tanyakan tentang tanda dan gejala


o Apakah Anda mengalami demam yang lebih dari 38 C?
o Apakah Anda memiliki gejala penyakit pernapasan bawah (batuk atau sulit
bernapas)?

Jika SEMUA tanggapan adalah TIDAK, lanjutkan dengan prosedur standar untuk pengiriman
ambulans emergensi

atau

Bilamana jawaban YA, lanjut ke pertanyaan 2

2. Tanyakan tentang riwayat perjalanan dan riwayat paparan langsung


o Dalam 14 hari terakhir sebelum timbulnya gejala, apakah Anda bepergian ke daerah
dengan negara terjangkit atau daerah transmisi lokal?
o Dalam 14 hari terakhir sebelum timbulnya gejala, apakah Anda melakukan kontak
dekat dengan Orang dalam Pemantauan, Pasien dalam Pengawasan atau Kasus
Konfirmasi COVID-19?

4
PERHIMPUNAN DOKTER AHLI EMERGENSI INDONESIA
Jika SEMUA tanggapan adalah TIDAK, lanjutkan dengan prosedur standar untuk pengiriman
ambulans emergensi

atau

Bilamana jawaban YA, lanjut ke pertanyaan 3

3. Berikan informasi tentang pasien segera kepada petugas ambulans.


o Waspada akan potensi pasien dengan kemungkinan terpajan COVID-19 sebelum
kedatangan di tempat kejadian
o Pasien yang memenuhi kriteria harus dievaluasi dan ditranspor dengan tindakan
pencegahan pernapasan yang tepat
o Laporkan informasi kasus kepada dinas kesehatan setempat

5
PERHIMPUNAN DOKTER AHLI EMERGENSI INDONESIA
PEMAKAIAN APD DAN PROSES TRANSFER AMBULANS

Proteksi untuk petugas kesehatan


Kewaspadaan standar harus selalu diterapkan di seluruh pelayanan ambulans pra rumah
sakit untuk melakukan transfer pasien dengan kecurigaan terinfeksi COVID-19, yaitu:
• Pasien yang ditransfer menggunakan masker medis apabila dapat ditoleransi
• Bagi petugas ambulans :
o Petugas menerapkan 5 momen kebersihan tangan
o Mengenakan masker medis dan sarung tangan medis ketika membawa pasien
dengan ambulans
o Penggunaan masker N95 apabila melakukan transfer dengan pasien yang
diperlukan tindakan medis yang menyebabkan aerosol menyebar (nebulisasi,
bagging, intubasi, ventilator mekanis)
o Menggunakan baju cover anti air (jika tidak anti air, gunakan apron didalamnya)
o Menggunakan google/face shield
o Jika merujuk pasien dalam pengawasan dan/atau kasus konfirmasi/probable COVID-
19 maka petugas menerapkan kewaspadaan kontak, droplet dan airborne
o APD harus diganti setiap menangani pasien yang berbeda dan dibuang di RS tujuan
• Bagi pengemudi ambulans :
o Pengemudi ambulans dalam kabin terpisah (minimal jarak 1 meter). Tidak perlu APD
jika jarak bisa dipertahankan
o Jika pengemudi membantu memindahkan pasien ke ambulans, maka harus
menggunakan APD lengkap
o Jika pengemudi ambulans bukan dalam kabin terpisah, tapi tidak ikut memindahkan
pasien (tidak ada kontak) maka cukup menggunakan masker bedah

6
PERHIMPUNAN DOKTER AHLI EMERGENSI INDONESIA
• Disinfeksi ambulans :
o Ambulans harus dibersihkan dan didisinfeksikan dengan bahan hipoklorin/bayclin
yang berlabel “EPA-APPROVED” pada seluruh permukaan yang kontak dengan
pasien. Cara pembuatan dengan melarutkan 100 cc bayclin ke dalam 900cc air.
o Jika ambulans melakukan transfer dengan pasien yang diperlukan tindakan medis
yang menyebabkan aerosol menyebar (nebulisasi, bagging, intubasi, ventilator
mekanis), maka dilakukan disinfeksi dengan Dry Mist dengan bahan H202.
o Untuk linen seperti sprei, selimut yang tidak sekali pakai, dilakukan pencucian
dengan detergen ditambah air dengan suhu 600 C – 900 C dan di jemur kering.
o Petugas yang membersihkan menggunakan APD (masker bedah, baju cover, sarung
tangan, google dan sepatu boot).

Urutan menggunakan pakaian pelindung:


1. Lakukan hand hygiene
2. Gunakan handcoen dalam non-steril
3. Pakai baju pelindung/coverall/apron
4. Gunakan sepatu boots/cover shoe
5. Gunakan masker (bedah/N95/FFP2)
a. Jika menggunakan N95/FFFP2 lakukan fit check
i. Pakaikan masker melingkupi hidung, mulut dan dagu
ii. Rekatkan bagian hidung
iii. Pasangkan tali pengikat melawati kepala
iv. Posisikan masker agar tidak ada kebocoran
v. Hirup nafas – masker harus kempis
vi. Membuang nafas – cek apakah ada kebocoran disekitar muka
6. Pakai google
7. Pakai penutup baju Coverall
8. Pakai handscoen/sarung tangan panjang menutupi celah baju

Urutan melapaskan pakaian pelindung


1. Lepaskan handscoen/sarung tangan luar (hindari menyentuh bagian luar sarung tangan)
2. Lakukan hand hygiene tiap melakukan 1 prosedur
3. Lepaskan cover shoe/boots
4. Lepaskan penutup baju dan baju pelindung/coverall/apron (hindari menyentuh bagian depan
apron/baju pelindung)

7
PERHIMPUNAN DOKTER AHLI EMERGENSI INDONESIA
5. Lepaskan google
6. Lepaskan masker (bedah/N95/FFP2)
7. Lepaskan handscoen dalam non-steril
8. Buang seluruh perlengkapan pelindung ke tempat sampah limbah medis
9. Lakukan hand hygiene

Langkah langkah yang harus dilakukan selama proses transfer untuk pencegahan dan pengendalian
infeksi dalam ambulans:

1. Pada saat ambulans sampai di rumah/fasilitas kesehatan


a. Lakukan hand hygiene
b. Sudah menggunakan masker bedah, handscoen/sarung tangan, baju pelindung/apron
dan google
c. Jika ada tindakan yang menyebabkan penyebaran aerosol (nebulisasi, bagging,
penggunaan ventilator) gunakan masker N95/FFP2
2. Menginformasikan ke rumah sakit yang dituju tentang pengiriman pasien dengan curiga
infeksi COVID- 19
3. Sebelum meninggalkan rumah/fasilitas kesehatan
a. Minta pasien menggunakan masker bedah dan ajarkan etika batuk
b. Isolasi pasien, keluarga/pengantar tidak boleh ikut bersama dengan pasien
4. Di dalam ambulans
a. Cuci tangan apabila handscoen dilepaskan
b. Gunakan alat madis sekali pakai, dan buang ke dalam sampah limbah medis setelah
digunakan
c. Jika memungkinkan, gunakan linen sekali pakai
5. Pada saat sampai di rumah sakit tujuan
a. Sebelum pasien keluar ambulans, pastikan seluruh persiapan sudah selesai untuk
menerima pasien COVID-19
b. Serah terima pasien ke staff rumah sakit
c. Setelah selesai transfer pasien, lepaskan pakaian pelindung di RS tujuan dan buang di
tempat sampah limbah medis
d. Petugas ambulans membersihkan diri dan memakai baju ganti yang bersih
6. Sebelum ambulans digunakan kembali
a. Bersihkan dan disinfeksi seluruh ambulans
b. Buang seluruh landry/linen sekali pakai, ganti dengan linen baru
c. Bersihkan alat-alat medis yang reusable sesuai dengan instruksi pabrik, keluarkan dan
bersihkan seluruh limbah medis yang berada di tempat sampah

8
PERHIMPUNAN DOKTER AHLI EMERGENSI INDONESIA
d. Lakukan manajemen benda tajam sesuai dengan SOP yang ada
e. Lakukan manajemen tumpahan darah dan cairan tubuh sesuai dengan SOP yang ada

APD Minimal pada saat melakukan transfer pasien dari rumah ke rumah sakit
• Masker bedah
• Baju dinas/scrub
• Google/ face shield
• Handscoen
• Catatan Tambahan
o Pakaikan masker bedah pada pasien jika dapat di tolerir
o Hindari prosedur yang menimbulkan aerosol seperti ; nebulizer, suction, BVM dan
intubasi
o Setelah petugas selesai melakukan evakuasi, petugas harus membersihkan diri dan
mengganti baju dinas/scurb untuk di sterilisasi
o Disinfeksi ambulans setelah evakuasi

APD Minimal pada saat melakukan transfer pasien antar rumah sakit ODP/PDP/Konfirmasi tanpa
gejala/keluhan ringan (demam, batuk, nyeri tenggorokan )
• Masker bedah
• Baju dinas/scrub/apron plastik
• Google/face shield
• Handscoen
• Catatan tambahan
o Pakaikan masker bedah pada pasien jika dapat ditolerir
o Hindari prosedur yang menimbulkan aerosol seperti ; nebulizer, suction, BVM dan
intubasi
o Setelah petugas selesai melakukan evakuasi, petugas harus membersihkan diri dan
mengganti baju dinas/scurb untuk di sterilisasi dan membuang apron plastic ke
sampah infeksius
o Disinfeksi ambulans setelah evakuasi

APD Minimal pada saat melakukan transfer pasien antar rumah sakit pasien PDP/Konfirmasi dengan
terintubasi/melakukan tindakan aerosol selama proses evakuasi
• Masker N95
• Google +/- Face shield
• Coverall suit

9
PERHIMPUNAN DOKTER AHLI EMERGENSI INDONESIA
• Sepatu boots/cover shoe
• Handscoen
• Catatan tambahan :
o Setelah petugas selesai melakukan evakuasi, petugas harus membersihkan diri dan
mengganti baju dinas untuk di sterilisasi dan membuang semua APD sekali pakai ke
sampah infeksius
o Disinfeksi ambulans ditambah dengan dry mist + H202 setelah evakuasi

Syarat tambahan untuk ambulans darat bagi penyakit berpotensi wabah/kegawatdaruratan


Kesehatan Masyarakat/Public Health Emergency of International Concern (PHEIC)
• Kabin Ambulans :
o Kabin pasien kedap udara dengan satu pintu masuk dan keluar
o Pintu dapat dibuka ke atas atau ke samping
o Jendela yang kedap udara dan dilapisi film yang berwarna gelap
• Sistem sirkulasi udara
o System sirkulasi udara dan ventilasi khusus (heating ventilation and air conditioning -
HVAC) dan dilengkapi dengan peralatan filtrasi udara untuk material berbahaya
(hazardous material air filtration) berupa High-efficiency Particulate Air (HEPA) filter 3
layer plus germicidal Ultra Violet yang dapat menciptakan tekanan negative maupun
positif yang terinstalasi dengan mempertimbangkan fungsi dan estetika ruang kabin
• Intercom
o Ada komunitas intercom antara kabin depan dan belakang

10
PERHIMPUNAN DOKTER AHLI EMERGENSI INDONESIA
BAB III

PERSIAPAN DEPARTEMEN KEGAWATDARURATAN TERHADAP WABAH COVID-19

1. Pengelolaan Area Isolasi


a) Denah
• Membuat zona triase berdasarkan gejala respiratori dengan demam dan
riwayat demam. Zona triase harus berdiri sendiri termasuk jalur masuk satu
arah yang eksklusif di pintu masuk rumah sakit dengan rambu yang terlihat
jelas
• Menyediakan tiga zona dan dua jalur perlintasan: zona yang terkontaminasi;
zona berpotensi terkontaminasi dan zona bersih yang disediakan dan diberi
rambu secara jelas, serta dua zona penyangga antara zona yang
terkontaminasi dan zona yang berpotensi terkontaminasi
• Jalur perlintasan yang terpisah akan dilengkapi dengan barang-barang yang
terkontaminasi; menetapkan wilayah visual untuk pengiriman barang satu
arah dari area kantor (zona terkontaminasi) ke ruang isolasi
• Memiliki ruang antara untuk pemakaian dan pelepasan APD. Menyediakan
cermin ukuran penuh
• Teknisi pencegahan dan pengendalian infeksi harus ditunjuk untuk
mengawasi tenaga medis dalam memakai dan melepas APD untuk
mencegah kontaminasi

b) Pengaturan Zona
• Ruang pemeriksaan yang terpisah secara khusus, laboratorium, ruang
observasi dan ruang resusitasi
• Menyiapkan area prapemeriksaan untuk melakukan penyaringan awal
pasien
• Memisahkan zona diagnosis dan penatalaksanaan

c) Pengelolaan Pasien
• Pasien yang memiliki gejala respiratori dengan demam atau riwayat demam
harus memakai masker bedah medis
• Hanya pasien yang diperbolehkan masuk ke zona IGD agar tidak terlau
padat dan melimitasi kontaminasi
• Lama kunjungan pasien harus diminimalkan untuk menghindari terjadinya
infeksi silang

11
PERHIMPUNAN DOKTER AHLI EMERGENSI INDONESIA
2. Pengelolaan Staf
a) Pengelolaan Alur Kerja
• Staf mengikuti pelatihan dan pemeriksaan secara ketat untuk memastikan
para staf mengetahui cara pemakaian dan pelepasan APD
• Staf harus dibagi menjadi beberapa tim berbeda. Jam kerja setiap tim di
ruang isolasi harus dibatasi maksimum 4 jam. Tim harus bekerja di zona
yang terkontaminasi pada waktu yang berbeda
• Memproteksi klinisi yang rentan. Mengalih tugaskan klinisi yang rentan ke
bagian yang memiliki paparan minimal. Seperti : telemedicine
• Merekrut relawan tenaga medis dan nen-medis jika diperlukan.
b) Pengelolaan Kesehatan
• Diet bergizi harus disediakan untuk meningkatkan kekebalan tenaga medis
• Pantau dan catat status kesehatan semua staf di IGD

3. Operasional Klinis
a) Emergency Medical Service
• Meninjau dan menggabungkan, sewajarnya, rencana dan protokol EMS dalam
COVID-19
• Mengembangkan rencana untuk menyediakan augmentasi kepada staf selama
wabah dengan menggunakan personel tambahan (relawan ataupun bayaran)
• Mengembangkan rencana untuk akuisisi dan pelatihan APD (staf Emergensi dan
pasien)
• Membuat protokol untuk transport cadangan pasien dan tujuan untuk pasien
non-gawatdarurat

b) Kapasitas Ruang Isolasi dan Lokasi Alternatif


• Meningkatkan kapasitas tempat tidur dan ruangan isolasi di IGD
• Lokasi alternatif dan pegawai untuk triase dan uji skrining medis selama
pandemik berlangsung
• Menentukan kriteria inisiasi penggunaan lokasi alternatif

c) APD yang sesuai untuk Tenaga Medis


• Memiliki rencana pasokan APD untuk staf jika terjadi lonjakan dan kekurangan
sumber daya
• Perkirakan kebutuhan APD selama pandemik berlangsung
• Tinjau pedoman nasional penggunaan APD

12
PERHIMPUNAN DOKTER AHLI EMERGENSI INDONESIA
Layanan Farmasi

• Adanya kesepakatan untuk memastikan percepatan pengantaran obat dari


penyuplai selama wabah
• Adanya kesepakatan dengan penyuplai alternatif jika penyuplai utama tidak
dapat menyuplai kebutuhan selanjutnya

d) Layanan Laboratorium
• Adanya kesepakatan untuk memasok kembali media, reagen dan suplai kritis
lainnya
• Bekerjasama dengan klinisi laboratorium dan kantor kesehatan masyarakat
untuk menentukan indikasi dan ketersediaan alat uji COVID 19
• Bekerjasama dengan kepala rumah sakit untuk mengembangkan protocol
pemilihan pasien rawat inap dan penempatan pasien yang sesuai
• Meningkatkan muatan specimen

e) Profilaksis antivirus dan vaksin


• Melakukan penilaian kebutuhan sumber daya berdasarkan ukuran keperluan
dan rekomendasi CDC
• Mempertimbangkan pedoman pemerintah pusat dan lokal, mengembangkan
rencana prioritas dan administrasi profilaksis antivirus dan vaksin terhadap staf

4. Logistik dan Fasilitas


a) Suplai
§ Memiliki kemampuan untuk mendapatkan peralatan medis tambahan
menggunakan tempat penyimpanan atau kesepakatan dengan pemasok
peralatan medis dan memiliki kemampuan untuk menerima suplai
§ Adanya kesepakatan dengan penyuplai alternatif jika barang dari penyuplai
utama tidak tersedia
§ 24 jam terhubung dengan distributor
§ Bekerjasama dengan ahli kesehatan masyarakat daerah dan lokal untuk
menentukan jenis dan kuantitas suplai dan sumber daya yang ada untuk
kekurangan litigasi selama wabah, contoh :
• Ventilator (termasuk karakteristik operasional khusus)
• Antivirus (jika/ketika direkomendasikan oleh CDC)
• APD
• Antibiotik untuk infeksi sekunder
• Vaksin (jika/ketika ada)
• Alat uji test COVID-19
§ Melibatkan para ahli untuk berkolaborasi, merancang sistem proteksi yang
dapat diproduksi dengan sumber daya lokal.

b) Makanan

Rencana alternatif untuk keadaan linjakan layanan makanan

13
PERHIMPUNAN DOKTER AHLI EMERGENSI INDONESIA
c) Gas Medis
• Gas medis harus tersedia sedikitnya untuk 3-4 hari tanpa penyuplaian ulang.
• Memiliki kesepakatan ketersediaan gas medis untuk medapatkan pasokan 24
jam sehari.
• Memiliki kesepakatan rencana alternatif vendor

5. Informasi Publik dan Komunikasi


• Mengembangkan protokol triase via phone untuk COVID-19
• Mengembangkan protokol untuk skirining dan manajemen pelayanan tanya jawab

6. Keamanan dan Pengontrolan Keramaian


• Pengembangan rencana dan kriteria untuk implementasi peningkatan keamanan
fasilitas dan kontrol keramaian
• Membangun jalur khusus pasien yang terinfeksi (yang berpotensi terinfeksi) untuk
menghindari kontak dengan individu yang sehat
• Mengembangkan rencana dan kriteria untuk pengimplemetasian pembatasan
pengunjung
• Semua pintu masuk dan keluar dikontrol, dimonitor dan dapat dikunci

7. Ruang Tunggu
• Membentuk area tunggu untuk memisahkan pasien dengan gejala pernapasan dari
pasien lain. Memastikan rambu di semua akses masuk dengan instruksi yang sesuai
triase/area pengobatan berdasarkan gejala. Menyediakan APD yang sesuai
• Maksimalkan jarak antara individu dengan gejala pernapasan lebih dari 6 kaki
• Membuat protokol untuk penjaga/penunggu pasien di ruang tunggu

8. Penggunaan APD di IGD


a) APD Tingkat I
• Topi bedah sekali pakai
• Masker bedah sekali pakai
• Baju seragam kerja
• Sarung tangan karet sekali pakai atau/dan pakaian isolasi sekali pakai apabila
perlu

Cakupan Penerapan :

• Triase pra-pemeriksaan, bagian rawat jalan umum

b) APD Tingkat II
• Topi bedah sekali pakai
• Masker pelindung medis (N95)
• Baju seragam kerja
• Baju seragam pelindung mediss sekali pakai
• Sarung tangan karet sekali pakai
• Kacamata pelindung

14
PERHIMPUNAN DOKTER AHLI EMERGENSI INDONESIA
Cakupan Penerapan :

• Bagian rawat jalan pasien demam


• Area bangsal isolasi (termasuk intensif ICU isolasi)
• Pemeriksaan specimen non-pernapasan pada pasien yang diduga/dipastikan
terinfeksi
• Pemeriksaan pencitraan pada pasien yang diduga/dipastikan terinfeksi
• Pembersihan alat bedah yang dipakai pada pasien yang diduga/dipastikan
terinfeksi

c) APD Tingkat III


• Topi bedah sekali pakai
• Masker pelindung medis (N95)
• Baju seragam kerja
• Baju seragam pelindung medis sekali pakai
• Sarung tangan karet sekali pakai
• Perangkat pelindung pernapasan sewajah atau respirator pemurni udara
bertenaga listrik

Cakupan Penerapan :

• Ketika staf melakukan operasi seperti intubasi trakea, trakeotomi,


bronkofibroskopi, endoskopi gastroenterologist, dll. Dan selama memakainya
pasien diduga/dipastikan menyemburkan atau menyemprotkan cairan
pernapasan atau cairan/darah tubuh
• Saat staf melakukan operasi dan otopsi untuk pasien yang dipastikan/diduga
terinfeksi
• Saat staf melakukan NAT (Nucleat Acid Test) untuk COVID-19

15
PERHIMPUNAN DOKTER AHLI EMERGENSI INDONESIA
Resusitasi Pasien Terduga/Terkonfirmasi COVID-19

Prinsip Umum Resusitasi pada Pasien Terduga/Terkonfirmasi COVID-19


a) Kurangi paparan terhadap penolong
• Gunakan APD lengkap sebelum memasuki ruangan/ tempat kejadian
• Batasi jumlah personel
• Pertimbangkan penggunaan alat RJP mekanik pada pasien dewasa dan
dewasa muda yang memenuhi kriteria tinggi dan berat badan.
• Komunikasikan status COVID-19 ke setiap penolong baru
b) Prioritaskan strategi oksigenasi dan ventilasi dengan risiko aerosolisasi rendah
• Gunakan penyaring HEPA, bila ada, untuk seluruh ventilasi
• Intubasi di awal menggunakan pipa endotrakeal dengan cuff, bila
memungkinkan
• Tugaskan intubator yang dengan kemungkinan terbesar untuk berhasil intubasi
dalam percobaan pertama
• Hentikan kompresi dada untuk intubasi
• Pertimbangkan penggunaan video laringoskopi bila ada
• Sebelum intubasi, gunakan bag-mask device (atau T-piece pada neonatus)
dengan penyaring HEPA dan penyekat kedap udara
• Untuk dewasa, pertimbangkan oksigenasi pasif dengan nonrebreathing face
mask sebagai alternatif bag-mask device untuk durasi pendek
• Jika intubasi harus ditunda, pertimbangkan supraglottic airway
• Minimalisir diskoneksi sirkuit tertutup
c) Pertimbangkan kelayakan untuk resusitasi
• Tetapkan tujuan perawatan
• Sesuaikan panduan untuk membantu pengambilan keputusan, dengan
mempertimbangkan faktor risiko pasien terkait kemungkinan untuk bertahan
hidup

16
PERHIMPUNAN DOKTER AHLI EMERGENSI INDONESIA
17
PERHIMPUNAN DOKTER AHLI EMERGENSI INDONESIA
DAFTAR PUSTAKA

• Hui DS, I Azhar E, Madani TA, Ntoumi F, Kock R, Dar O, Ippolito G, Mchugh TD, Memish ZA,
Drosten C, Zumla A. The continuing 2019-nCoV epidemic threat of novel coronaviruses to
global health—The latest 2019 novel coronavirus outbreak in Wuhan, China. International
Journal of Infectious Diseases. 2020;91:264-6.
• Pedoman Kesiapsiagaan Menghadapi Corona Virus Disease (COVID -19) Rev. 3, Direktorat
Jendral Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Februari 2020.
• Pedoman Teknis Ambulans, Direktorat Jendral Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan Direktorat
Jendral Pelayanan Kesahatan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2019.
• World Health Organization. Rational use of personal protective equipment for coronavirus
disease (COVID-19): interim guidance, 27 February 2020. World Health Organization; 2020.
• Centers for Disease Control and Prevention. (2020). Interim Guidance for Emergency
Medical Services (EMS) Systems and 911 Public Safety Answering Points (PSAPs) for
COVID-19 in the United States.
Available from: https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/hcp/guidance-for-ems.html
• National Association of Emergency Medical Technicians. (2020). COVID-19:
Recommendations for 911 Public Safety Answering Points.
Available from: http://www.naemt.org/docs/default-source/ems-health-and-safety-
documents/coronavirus/covid19-911-psap-inforgraphic-3-5-20.pdf?sfvrsn=22cad792_0
• Global Response to COVID-19 Emergency Healthcare Systems and Providers: From the
IFEM Task Force on ED Crowding and Access Block (2020); International Federation
Emergency Medicine.
• Influenza Surge Preparedness Assessment; American College of Emergency Pgysician
• National strategic plan for Emergency Departement Management of Outbreak of Covid-19;
American College of Emergency Physician
• Pedoman Bantuan Hidup Dasar dan Batuan Hidup Jantung Lanjut pada Dewasa, Anak dan
Noenatus Terduga/Positif COVID-19 (2020); Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular
Indonesia
• Buku Pegangan Pencegahan dan Penatalaksanaan COVID-19 (2020); Rumah Sakit Afiliasi
Pertama, Zhejiang University School of Medicine

18
PERHIMPUNAN DOKTER AHLI EMERGENSI INDONESIA