Anda di halaman 1dari 7

MANAJEMEN PEMBELAJARAN PADA SMP NEGERI 56 BANDUNG

Risa Nurilahi
1182010064
Email: risanurilahi@gmail.com

ABSTRAK
Penilitian pembelajaran pada SMP Negeri 56 Bandung bertujuan untuk mengetahui
perencanaan, pelaksanaan, serta evaluasi yang mengacu pada RPP yang telah dibuat.
Pendeskripsian ini bertujuan untuk mengetahui harapan dan kenyataan dalam pembelajaran
berbasis kurikulum 2013 yang telah dilakukan oleh guru. Penelitian ini menggunakan metode
kualitatif. Metode penelitian adalah metode deskriftif dengan menggunakan teknik observasi,
wawancara dan dokumentasi. Fokus penelitian ini pada rencana pelaksanaan pembelajaran.
Subyek penelitian guru 3 (tiga) mata pelajaran pada SMP Negeri 56 Bandung dengan teknik
pengumpulan data RPP, observasi pembelajaran dan wawancara dengan subyek penelitian.
Hasil penelitian menunjukan bahwa : 1) Secara kuantitas RPP telah dibuat oleh semua guru,
tetapi secara kualitas RPP belum optimal, 2) Proses pembelajaran telah dilaksanakan dengan
baik meskipun belum optimal, 3) Penilaian belum optimal dilakukan dalam proses
pembelajaran, 4) Masih kurangnya pengawasan oleh kepalah sekolah maupun dari pihak
pengawas. Solusi untuk mengatasi kekurangan dalam perencanaan, pelaksanaan maupun
evaluasi dalam pembelajaran berbasis kurikulum perlu adanya pengawasan dari berbagai
pihak, mulai dari kepala sekolah, guru, pengawas sekolah dan dinas pendidikan.

Keywords : Manajemen, Pembelajaran, Kurikulum, Rencana pelaksanaan pembelajaran.

PENDAHULUAN

Pembelajaran merupakan serangkaian perbuatan antara guru dan peserta didik atas dasar
timbal balik yang berlangsung pada siuasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Interaksi
inilah yang menjadi tujuan utama. Dalam proses pembelajaran, peserta didik dapat dikatakan
belajar apabila dapat mengetahui sesuatu yang belum diketahui sebelumnya. Sebaliknya
seorang guru dapat disebut mengajar peseserta didik apabila bisa membantu peserta didik
untuk untuk memperoleh perubahan yang dihendaki.
Keberhasilan peserta didik dalam memahami pelajaran tergantung pada keterampilan seorang
guru mengajar masih banyak peserta didik yang daya kemampuannya kurang dalam
memahami pelajaran dalam proses belajar mengajar yang disampaikan oleh pendidik.
Banyak faktor yang menjadi penyebab hasil belajar peserta didik diantaranya peserta didik itu
sendiri, lingkungan sekitar, faktor guru, kesukaran materi pelajaran dan fasilitas belajar yang
kurang mendukung.
Dilihat dari segi guru, adakalanya guru kurang menguasai materi yang akan disampaikan,
kurang menguasai metode secara bervariasi sehingga dalam penyampaian materi pelajaran,
peserta didik menjadi bosan, daya tangkap dan fokus untuk menerima materi pelajaran
menjadi hilang.
Sebelum mengajar guru harus merencanakan kegiatan pembelajaran secara sistematis,
sehingga dapat terampil dalam proses belajar mengajar. Ketika guru terampil dalam
menyampaikan materi pelajaran, yang semula sukar akan terasa mudah sehingga
meningkatkan prestasi belajar peserta didik. Hal tersebut merupakan tanggung jawab semua
guru.
Untuk mewujudkan hal-hal diatas seorang guru dituntut untuk memiliki ketrampilan. Seperti,
ketarampilan membuka menutup pelajaran, keterampilan mengelola kelas, keterampilan
membingbing diskusi, keterampilan menjelaskan, keterampilan bertanya, keterampilan
memberikan penguatan. Dengan demikian keterampilan mengajar senantiasa dikuasai oleh
para guru untuk memcapai tujuan pembelajaran.
Perbedaan sifat peserta didik bervariasi oleh karena itu dalam pembelajaran hendaknya
memperhatikan perbedaan-perbedaan individual peserta didik. Sehingga pembelajaran
merubah kondisi anak menjadi lebih baik. Yang tidak paham menjadi paham, yang tidak tahu
menjadi tahu, namun amat disayangkan hal tersebut sangat jarang diperhatikan oleh guru.
Pembelajaran yang kurang memperhatikan perbedaan individual peserta didik dan didasarkan
oleh keinginan guru, akan sulit untuk dapat mengantarkan peserta didik terhadap tujuan
pembelajaran.
Keberhasilan dalam mengajar tidak hanya ditentukan oleh strategi guru tetapi peserta didik
ikut berperan aktif. Menurut permendikbud nomor 22 tahun 2016 tentang standar proses
menyatakan pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif,
inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisifasi aktif,
serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kretiativitas, dan kemandirian sesuai
dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologi peserta didik. Untuk itu setiap
satuan pendidikan melakukan perencanaan pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran,
serta penilaian proses pembelajaran untuk meningkatkan efesiensi dan efektivitas
ketercapaian kopetensi lulusan.
Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik untuk mengetahui bagaimana guru disekolah dalam
merencanakan, melaksanakan, mengorganisir pembelajaran, dan penilaian kurikulum yang
berbasis 2013. Hal tersebut dilakukan untuk mengkaji secara dalam untuk memperoleh
kejelasan secara faktual. Oleh karena itulah peneliti membuat dasar penelitian yang berjudul
“ Manajemen Pembelajaran pada SMP Negeri 56 Bandung”.

METODOLOGI PENELITIAN

Dalam penelitian ini digunakan metode kualitatif. Teknik yang digunakan dalam
pengumpulan data dengan menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik
observasi dilakukan untuk mengamati denah, lokasi, keadaan lingkungan sekolah, visi, misi,
motto serta strategi SMP Negeri 56 Bandung. Kemudian teknik wawancara dilakukan dengan
wakil kepala sekolah bidang kurikulum, yakni Bapak Asep Ramdani, S. S., M. Hum. Teknik
ini digunakan untuk mengetahui informasi tentang pembelajaran SMP Negeri 56 Bandung
yang mengacu kepada RPP yaitu perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran yang
mencakup kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup. dan evaluasi
pembelajaran. Sedangkan teknik dokumentasi dilakukan dengan cara penulusuran buku dan
dokumen, untuk mengetahui data tertulis dalam pembelajaran di SMP Negeri 56 Bandung.
Teknik tersebut dilakukan untuk mempermudah mengisi data-data yang diperlukan peneliti.
Kemudian teknik analisis yang digunakan adalah analisis data SMP Negeri 56 Bandung.
Fokus analisis data disini, pada RPP yaitu Rencana Pelaksanaan Pembelajaran SMP Negeri
56 Bandung. Kemudian analisis data di lapangan dengan Bapak Asep Ramdani, S. S., M.
Hum. Kemudian adanya Snowball process kepada Guru mata pelajaran yaitu Bapak Dedy
Rochmat, S.Pd selaku guru mata Pelajaran Matematika dan Ibu Dian Puspita, S.Pd selaku
guru mata pelajaran Bahasa Indonesia. Peneliti mewawancarai beberapa guru mata pelajaran
tersebut melalui beberapa pertanyaaan yang deskriptif seputar pelaksanaan pembelajaran
SMP Negeri 56 Bandung.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil analisis penelitian didapatkan bahwa:


1) Perencanaan Pembelajaran
RPP merupakan langkah awal guru sebelum proses pelaksanaan pembelajaran berlangsung
yang harus dimiliki oleh setiap guru. RPP merupakan pusat dari segala pengetahuan dan
keterampilan dasar tentang obyek belajar dan pembelajaran. RPP memuat rancangan-
rancangan pembelajaran mulai dari identitas, kompetensi dasar, kompetensi inti, indikator
pencapaian kompetensi, tujuan, materi, metode, langkah-langkah pembelajaran, sumber dan
penilaian pembelajaran.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana kegiatan pembelajaran tatap muka
untuk satu pertemuan atau lebih. RPP dikembangkan dari silabus untuk mengarahkan
kegiatan peserta didik untuk mencapai kompetensi dasar (KD). Setiap pendidik pada satuan
pendidikan berkewajiban untuk menyusun RPP secara lengkap dan sistematis agar
pembelajaran berlangsung secara inspiratif, interaktif, kreatif, menyenangkan, serta efektif
dan efesien. Memotivasi peserta didik agar berperan aktif, memberikan ruang yang cukup,
bagi kreatifitas, keterampilan, dan kemandirian sesuai dengan fisik dan psikologi peserta
didik. RPP disusun bertemuan berdasarkan KD atau subtema yang dilaksanakan satu kali
pertemuan atau lebih. Sebelum RPP dibuat ada tahapan-tahapan yang dilalui yang difasilitasi
oleh sekolah. seperti diadakan In House Training (IHT). Tujuan difasilitasi tersebut agar
guru-guru bisa menyamakan persepsi tentang RPP tersebut. Langkah-langkah pembuatan
RPP telah diatur dalam Permendikbud No.22 Tahun 2016. Hal ini disampaikan oleh Wakil
ketua bidang kurikulum SMP Negeri 56 Bandung sebagai berikut:
“Langkah-langkah pembuatan RPP telah diatur dalam Permendikbud No.22 tahun
2016 tentang standar proses Pendidikan dasar dan Menengah. Format ataupun langkah
langkah untuk menyusun RPP sudah tersedia. Setiap menjelang tahun pembelajaran baru.
Semua guru wajib mengikuti IHT untuk lebih mengetahui langkah-langkah menyusun RPP.
RPP itu ibaratkan skenario. Seperti halnya para Aktor, Guru pun mempunyai skenario yang
dituangkan dalam RPP yang didalamnya mencakup 3 hal. Yaitu, kegiatan pendahuluan,
kegiatan inti, kegiatan penutup. Sehingga guru benar-benar siap memsuki kelas. Serta tujuan
pembelajaran yang akan dicapai sudah tertuang di dalam RPP. Didalam RPP Juga memuat
materi pembelajaran walaupun tidak secara utuh, karena ketika Guru tidak masuk itu ada
invaler , setidaknya dengan membaca RPP, invaler masih bisa melaksanakan kegiatan
pembelajaran”.
Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam menyusun
RPP telah ditetapkan dalam Permendikbud No.22 Tahun 2016 dan diadakan IHT/ Workshop
setiap pergantian tahun ajaran baru guna menyelaraskan RPP. Dalam pembelajaran RPP
sangat dibutuhkan. Dan di ibaratkan sebagai skenario untuk para Guru.
2) Pelakasanaan Pembelajaran
Pelaksanaan Pembelajaran yang mengacu kepada RPP menyangkut 3 hal diantaranya:
a. Kegiatan Pendahuluan
Kegiatan pendahuluan telah mencakup aspek penyampaian tujuan pebelajaran/
menyampaikan persepsi awal pelajaran yang akan dipelajari. Kegiatan ini bertujuan untuk
memotivasi peserta didik, dengan dikaitkan antara kehidupan nyata dengan materi yang akan
dipelajari. Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa guru mata pelajaran pada SMP
Negeri 56 Bandung tentang langkah-langkah kegiatan pendahuluan.
Menurut Ibu Dian Puspita, S.Pd. “ Langkah paling pertama mengucapkan salam,
pengabsenan, persepsi, menanyakan pelajaran yang sebelumnya lalu dikaitkan dengan
kehidupan mereka sehari-hari, lalu ada tanya jawab antara Pendidik dan Peserta didik. Untuk
di pagi hari tidak mengadakan ice breaking, hanya dilakukan di siang hari ketika peserta
didik mulai lelah. Kemudian menjelaskan Kegiatan inti (KI), Kegiatan dasar (KD) dan
Tujuan”.
Sedangkan menurut Bapak Dedy Rochmat, S.Pd, “ Langkah-langkah kegiatan pendahuluan
dalam segi sistematisnya sama, namun dalam praktik dan pengembangan setiap guru
berbeda. Salah satu yang dikembangkan pada SMP Negeri 56 Bandung dalam hal berdoa ada
upaya dari peserta didik, tidak hanya mendoakan diri sendiri tetapi mendoakan para pendidik
dan itupun ada redaksinya”.
b. Kegiatan Inti
Menurut permendikbud nomor 22 tahun 2016 menegaskan bahwa kegiatan inti menggunakan
model pembelajaran, metode pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar yang
disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran.
1) Sikap
Sesuai dengan karakteristik sikap, maka seluruh aktivitas pembelajaran berorientasi pada
tahapan kompetensi yang mendorong peserta didik untuk melakukan aktivitas dengan
menggunakan proses afeksi mulai dari menerima, menjalankan, menghargai, menghayati,
hingga mengamalkan.
2) Pengetahuan
Karakteristik aktivitas belajar pengetahuan berbeda dengan karakteristik aktivitas belajar
keterampilan. Pengetahuan dimiliki melalui aktivitas mengetahui, memahami, menerapkan,
menganalisis, mengevaluasi, hingga mencipta. Untuk memperkuat pendekatan saintifik,
tematik terpadu, dan tematik sangat disarankan untuk menerapkan belajar berbasis penelitian.
Sedangkan untuk mendorong peserta didik menghasilkan kaya kreatif dan konseptual, baik
individual maupun kelompok, disarankan yang menghasilkan karya berbasis pemecahan
masalah.
3) Keterampilan
Melalui kegiatan mengamat, menanya, mencoba, menalar, menyaji dan mencipta
keterampilan bisa diperoleh. Seluruh isi materi yang diturunkan dari keterampilan harus
mampu mendorong peserta didik untuk melakukan proses pengamatan hingga penciptaan.
Untuk mewujudkan keterampilan tersebut diperlukan modul belajar berbasis penelitian dan
pemecahan masalah.
Kegiatan inti merupakan merupakan kegiatan pokok untuk mempelajari materi yang telah
direncanakan. Dalam kegiatan ini guru mendesain model pembelajaran sekreatif mungkin.
Disinilah disebut fase untuk mentransfer ilmu kepada peserta didik. Disisi lain guru harus
memilih model pembelajaran sesuai karakteristik materi. Sebagaimana hasil wawancara
dengan beberapa guru mata pelajaran di SMP Negeri 56 Bandung menyatakan bahwa:
“ model pembelajaran yang digunakan dalam pelajaran Bahasa Indonesia, pada awal bab
menggunakan metode ceramah terlebih dahulu walaupun kurikulum 2013 tetap harus ada
yang disampaikan. Karena jika hanya peserta didik merangkum materi yang disampaikan
tidak akan sampai kepada tujuan. Oleh karena itu setelah diberikan rangkuman dan inti sari,
dilanjutkan metode diskusi karena peserta didik lebih banyak gerak ditambah dengan
permainan seperti snowball supaya anak tidak jenuh”. (Dian Puspita, S.Pd (2019) Guru mapel
Bahasa Indonesia)
Hal itu didukung oleh Bapak Dedy Rochmat, S.Pd, selaku guru mata pelajaran Matematika
menyatakan bahwa: “ Dalam pembelajaran menggunakan metode diskusi dengan peserta
didik, ditambah dengan sedikit permainan seperti Snowball dan TTS. Dengan metode diskusi
potensi peserta didik lebih berperan”.
Dalam pelajaran Pendidikan agama islam menurut wakil ketua bidang kurikulum perihal
peserta didik non islam. "Seharusnya ada guru khusus pelajaran agama nonis. Walaupun
SMP Negeri 56 Bandung yang berbasis Madrasah tidak menutup kemungkinan menerima
siswa yang non islam. Seharusnya Kemenag menyediakan guru mata pelajaran agama non
islam, tetapi karena kurangnya pesdik non islam seharusnya batas minimal 20 pesdik Non
islam. Pesdik non islam pada kelas VII berjumlah 3 pesdik. Kelas VIII berjumlah 7 pesdik
dan kelas IX berjumlah 2 pesdik. Agama non islam pada pesdik SMP Negeri 56 Bandung ini
bermacam-macam: Kristen katolik, Kristen Protestan dan Budha. Dalam hal pembelajaran
dikarenakan Kemenag tidak menyediakan guru mata pelajaran nonis maka pesdik dibebaskan
entah itu mengikuti pembelajaran ataupun keluar kelas. Untuk pesdik nonis dalam mengikuti
ujian, wakil bidang kurikulum akan mendatangi pembina kerohanian agama masing masing
pesdik non islam. Lalu waka kurikulum meminta untuk membuatkan soal ujian dan setelah
dikerjakan oleh pesdik nonis maka akan diperiksa oleh Pembina kerohanian masing masing.
Setelah itu lalu mereka mendapatkan nilai seperti pesdik lain dalam pelajaran PAI".
c. Kegiatan Penutup
Setelah kegiatan inti ada kegiatan penutup, kegiatan ini untuk mengakhiri pembelajaran.
kegiatan ini bertujuan untuk merefleksi dalam rangka mengevaluasi, evaluasi yang dilakukan
bertujuan untuk memperoleh hasil dan menemukan manfaat tentang materi yang baru saja
dipelajari baik secara langsung atau tidak langsung. Berdasarkan hasil wawancara dengan
beberapa guru di SMP Negeri 56 Bandung. Setelah pembelajaran ada kegiatan refleksi. Guru
dan peserta didik bersama sama menyimpulkan pelajaran, kemudian menanyakan apa yang
peserta didik dapat selain kognitif misalnya kedisiplinan. Dari hal itu guru bisa mengetahui
sejauh mana peserta didik menangkap pelajaran yang mereka pelajari dan bisa mengukur
sejauh mana keberhasilan mengajar yang mengacu kepada RPP tersebut. kemudian
menyampaikan judul pelajaran yang akan dipelajari dipertemuan selanjutnya.
3) Evaluasi
Evaluasi dapat mendorong peserta didik untuk belajar terus menerus dan mendorong guru
untuk meningkatkan kualitas pembelajaran serta mendorong sekolah untuk memfasilitasi
peserta didik dan guru baik secara fasilitas ataupun secara kualitas agar tercapai tujuan
belajar yang telah ditargetkan. Hal tersebut menunjukan bahwa keberhasilan program
pembelajaran selalu dilihat dari aspek hasil belajar yang dicapai.
a) Penilaian Sikap
Domain Sikap merupakan domain yang banyak dikeluhkan dalam proses penilaian
Kurikulum 2013. Penilaian sikap (afektif) dalam berbagai mata pelajaran secara umum dapat
dilakukan dalam kaitannya dengan berbagai objek sikap. Teknik penilaian yang digunakan
dalam proses pembelajaran yaitu (1) penilaian kompetensi sikap melalui observasi, penilaian
diri, penilaian teman sejawat dan jurnal; (2) penilaian kompetensi pengetahuan melalui tes
tertulis, tes lisan dan penguasan; (3) penilaian kompetensi keterampilan melalui tes praktik,
projek dan portofolio. Penggunaan teknik penilaian disesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan
yang dapat menunjang program pengajaran seperti kompetensi dasar yang akan dicapai.
Aspek sikap berhubungan dengan attitude. Aspek sikap ada yang berhubungan dengan religi
dan sosial keduanya harus seimbang .
Sebagaimana yang diucapkan oleh Wakil Ketua Bidang Kurikulum sekaligus Guru mata
pelajaran Bahasa sunda. “ Penilaian sikap itu sekarang memang porsinya oleh guru PKN dan
PAI tetapi gurupun harus menilai sikap, penilaian sikap itu ada 3 yang pertama menggunakan
instrument atau guru yang menilai, yang kedua siswa yang menilai, yang ketiga penilaian
antar teman, kalau yang kita gunakan menggunakan jurnal. Jadi seegala sesuatu yang
dilakukan peserta didik yang bersangkutan dengan sikap, baik atau buruknya maka akan
tertulis didalam jurnal tersebut oleh guru”
b) Penilaian Pengetahuan
Penilaian pengetahuan (KI-3) dilakukan dengan cara mengukur penguasaan peserta didik
yang mencakup pengetahuan faktual, konseptual, dan prosedural dalam berbagai tingkatan
proses berpikir. Penilaian dalam proses pembelajaran berfungsi sebagai alat untuk
mendeteksi kesulitan belajar, penilaian sebagai proses pembelajaran, dan penilaian sebagai
alat untuk mengukur pencapaian dalam proses pembelajaran.
Melalui penilaian ini diharapkan peserta didik mendapatkan kompetensi yang diharapkan.
Untuk itu digunakan teknik yang bervariasi dalam hal penilaian sesuai dengan kompetensi
yang diberikan. Seperti tes tulis, tes lisan dan penugasan. Prosedur penilaian dimulai dengan
cara perencanaan, pengembangan instrumen penilaian, pelaksanaan penilaian, pengolahan
dan pelaporan. Serta pemanfaatan hasil penilaian . Dalam penilaian pengetahuan
sebagaimana menurut taksonomi bloom
c) Penilaian Keterampilan
Tidak semua kompetensi dasar dapat diukur dengan penilaian kinerja, penilaian proyek atau
potoforlio. Penilaian keterampilan dilakukan dengan mengidentifikasi karakteristik dengan
kompetensi dasar aspek keterampilan untuk mentukan teknik penilaian yang sesuai. Teknik
penilaian berdasarkan kepada karakteristik kompetensi keterampilan yang hendak diukur.
Penilaian keterampilan dimaksudkan untuk mengetahui peserta didik dalam penguasaan
pengetahuan untuk mengenal dan menyelesaikan masalah dalam kehidupan nyata.
Berdasarkan hasil wawancara dengan wakil ketua bidang kurikulum sekaligus pengajar mata
pelajaran bahasa sunda "aspek keterampilan itu ada tiga yaitu praktik, projek dan produk.
Dalam pelajaran bahasa ada 4 keterampilan berbahasa yakni menyimak, membaca, menulis
dan berbicara. Empat hal itu termasuk keterampilan yang bisa di praktikan. Dalam projek
membuat sesuatu seperti karya tulis sedangkan produk ada barang yang dihasilkan yaitu
karya tulis tersebut.

SIMPULAN

Langkah awal yang harus dimiliki seorang Guru sebelum pembelajaran dengan pembuatan
Rencana Pembelajaran Pelaksanaan (RPP). Dalam menyusun RPP telah ditetapkan dalam
Permendikbud No.22 Tahun 2016 dan diadakan IHT/ Workshop setiap pergantian tahun
ajaran baru guna menyelaraskan RPP. Dalam pembelajaran RPP sangat dibutuhkan. Dan di
ibaratkan sebagai skenario untuk para Guru. RPP ini merupakan muara dari segala
pengetahuan dan keterampilan dasar tentang obyek mengajar dan pembelajaran. Pada SMP
Negeri 56 Bandung RPP Antar mata pelajaran bervariatif sesuai dengan karakteristik
masing-masing mata pelajaran. RPP memuat rancangan-rancangan pembelajaran mulai dari
identitas, kompetensi inti, kompetensi dasar, indikator pencapaian kompetensi, tujuan, materi,
metode, langkah-langkah pembelajaran, sumber dan penilaian pembelajaran. Dalam RPP
terbagi menjadi 3 bagian: Kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup. Dalam
kegiatan pendahuluan bertujuan untuk memotivasi, memberikan sedikit pengetahuan tentang
kegiatan yang akan dialami serta menghubungkan antara pengalaman dan materi yang akan
dipelajari. Dalam evaluasi pembelajaran pada SMP Negeri 56 Bandung penilaian sikap
dengan penggunaan jurnal, penilaian pengetahuan dengan tes tulis, lisan dan penugasan dan
penilaian keterampilan menggunakan teknik kinerja.

DAFTAR PUSTAKA

Andini, Gita Tri. Manajemen Pengembangan Kurikulum. Jurnal Islamic Education


Manajemen. Vol. 3, Nomor 2, Desember 2018.
Slamet, I Made Sudana, dan Tri Suminar. Manajemen Pembelajaran Berbasis Kurikulum
2013 di SMP Islam Kota Semarang (Studi Empiris di SMP Sub Rayon 02 Kota
Semarang). Educational Management. Vol. 6, Nomor 2, Desember 2017.
Jahari, Jaja. (2013). Manajemen Madrasah. Bandung: Alfabeta.
Mahirah B. Evaluasi Belajar Peserta Didik (Siswa). Jurnal Idaarah. Vol. 1, Nomor 2.
Desember 2017
Setiadi, Hari. Pelaksanaan Penilaian Pada Kurikulum 2013. Jurnal Penelitian dan Evaluasi
Pendidikan. Vol. 20, Nomor 2. Desember 2016