Anda di halaman 1dari 21

Jurnal Administrasi Pendidikan Vol.XXIII No.

2 Tahun 2016

KEPEMIMPINAN INSTRUKSIONAL KEPALA SEKOLAH, KOMITMEN


GURU DAN MUTU KINERJA MENGAJAR GURU

Oleh :
Cucu Sukmawati
cucusukmawati13@gmail.com

Endang Herawan
Universitas Pendidikan Indonesia
endang.upi@gmail.com

Abstrak
Penelitian ini menjelaskan tentang optimalisasi mutu kinerja mengajar guru SMP Negeri di Kota Sukabumi.Mutu kinerja
mengajar guru merupakan unsur penting dalam meraih mutu pendidikan. Tuntutan yang semakin mendesak akan guru
yang berkualitas dan berkinerja optimal dalam melaksanakan peran dan tugasnya sebagai pendidik berimplikasi pada
perlunya upaya pengembangan kinerja guru secara berkesinambungan. Tujuan penelitian ini adalah terdeskripsikannya
dan teranalisisnya pengaruh kepemimpinan instruksional kepala sekolah dan komitmen guru terhadap mutu kinerja
mengajar guru SMP Negeri di Kota Sukabumi.Metode yang digunakan adalah metode survei dengan pendekatan
kuantitatif.Jumlah sampel penelitian sebanyak 85 guru dan 98 siswa kelas IX.Teknik pengumpulan data menggunakan
kuesioner.Data dianalisis melalui analisis korelasi dan regresi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa mutu kinerja
mengajar guru berada pada kategori tinggi, kepemimpinan instruksional kepala sekolah berada pada kategori tinggi,
dan komitmen guru berada pada kategori sangat tinggi.Secara parsial,kepemimpinan instruksional kepala sekolah dan
komitmen guruberpengaruh positif dan signifikan terhadap mutu kinerja mengajar guru.Selanjutnya secara simultan,
juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap mutu kinerja mengajar guru.

Kata kunci: mutu kinerja mengajar guru, kepemimpinan instruksional kepala sekolah, komitmen guru.

Abstract
This research describes the optimization of the teaching performance quality of the teachers of the state junior high
schools in Sukabumi City. The teachers’ teaching performance quality is an essential element required in achieving
quality education. The increasingly urging demand of teachers who have good quality and optimum performance in
playing their roles and fulfilling their duties as educators is implicated in the needs of sustainable effort of teachers’
performance development. The objective of this research is to describe and analyze the effect of principals’ instructional
leadership and teachers’ commitment on the teaching performance quality of the teachers of the state junior high schools
in Sukabumi City. The method used was survey method with quantitative approach. The numbers of samples of this
research were 85 teachers and 98 students of the ninth grade. The data collection technique was using questionnaires.
The data were analyzed through correlation and regression analyses. The results of the research showed that the
teachers’ teaching performance quality was in the high category, the instructional leadership of the principals was in the
high category, and the teachers’ commitment was in the very high category.Partially, the principals’ instructional
leadership and the teachers’ commitment positively and significantly affects the teachers’ teaching performance quality.
Furthermore simultaneously, it alsopositively and significantly affects the teachers’ teaching performance quality.

Keywords: teachers’ teaching performance quality, principals’ instructional leadership, teachers’ commitment

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan upaya mencerdaskan Kota Sukabumi merupakan salah satu kota andalan
kehidupan bangsa dan cara yang utama dalam di Provinsi Jawa Barat. Dalam menjawab tuntutan
meningkatkan mutu sumber daya manusia (SDM). perkembangan dunia global, upaya pembangunan
Kontribusi pendidikan terhadap pembangunan Kota Sukabumi lebih diarahkan pada
bangsa yaitu menghasilkan SDM yang berkualitas. pengembangan sumber daya manusia.Mengingat
Siklus pertumbuhan ekonomi suatu negara dapat Kota Sukabumi tidak memiliki sumber daya alam
dicapai dengan investasi SDM melalui pendidikan. yang dapat diunggulkan.Oleh karena itu, peranan
68
Jurnal Administrasi Pendidikan Vol.XXIII No.2 Tahun 2016

pendidikan lebih ditonjolkan untuk menghasilkan kegiatan pokok yaitu merencanakan pembelajaran,
SDM yang berkualitas. melaksanakan pembelajaran, menilai hasil
Dalam Rencana Pembangunan Jangka pembelajaran, membimbing dan melatih peserta
Menengah Daerah (RPJMD) Kota Sukabumi didik, serta melaksanakan tugas tambahan.
Tahun 2013-2018 disampaikan bahwa secara Pelaksanaan tugas dan pekerjaan guru tidak
umum permasalahan yang dihadapi Kota terlepas dari cara guru itu bekerja. Guru dituntut
Sukabumi dalam bidang pendidikan adalah agar selalu memiliki kinerja yang baik. Kinerja
kurangnya tenaga pendidik yang profesional, guru yaitu kemampuan yang diperlihatkan oleh
berkualitas, dan kompeten dalam bidang yang guru dalam melaksanakan tugas atau
diajarkannya…(Perda Nomor 5 Tahun 2013). pekerjaannya.Dikaitkan dengan tugas pokok guru
Untuk menindaklanjuti isu strategis tersebut dan sebagai pengajar maka untuk mendapatkan hasil
untuk mewujudkan visi Kota Sukabumi sebagai belajar siswa yang tinggi diperlukan kinerja
pusat pelayanan berkualitas bidang pendidikan, mengajar guru yang tinggi pula. Kinerja
pemerintah Kota Sukabumi menetapkan tujuan mengajar guru yang bermutu akan sangat
untuk meningkatkan kualitas pelayanan menentukan pada kualitas hasil pembelajaran
pendidikan melalui salah satu sasarannya yaitu siswa karena guru adalah pihak yang bersentuhan
meningkatnya kinerja pendidik. langsung dengan siswa dalam proses pembelajaran
Guru sebagai tenaga pendidik mempunyai di sekolah.
peran strategis dalam proses pembelajaran dan Pembelajaran yang bermutu adalah
merupakan faktor yang memiliki pengaruh pembelajaran yang mampu meletakkan posisi guru
dominan terhadap pencapaian hasil belajar dengan tepat sehingga guru mampu menjalankan
siswa.Tugas guru adalah memberikan pelayanan kinerjanya dengan baik sesuai dengan kebutuhan
dalam rangka memenuhi kebutuhan yang belajar siswa. Mutu kinerja mengajar guru dapat
diperlukan oleh siswa. Kebutuhan tersebut yaitu diartikan sebagai serangkaian perilaku atau
kebutuhan pokok berupa ilmu pengetahuan. kegiatan yang dilaksanakan oleh guru berdasarkan
Guru hendaknya memahami, menguasai kemampuannya dalam memberikan layanan
dan mampu melaksanakan kegiatan-kegiatan yang pengajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan
berkenaan dengan tugas utamanya yaitu mengajar. harapan siswa serta tujuan pembelajaran yang
Sebagaimana dijelaskan dalam Undang-Undang RI hendak dicapai secara efektif dan efisien. Mutu
Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, kinerja mengajar guru ditunjukkan dalam proses
pasal 1 ayat 1 menyatakan bahwa,guru adalah pembelajaran yang berlangsung efektif, dimana
pendidik profesional dengan tugas utama guru dipersyaratkan memiliki kompetensi,
mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, profesionalisme dan kemampuan pedagogik yaitu
melatih dan mengevaluasi peserta didik pada antara lain penguasaan terhadap materi yang akan
pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, diajarkan, mampu merencanakan dan
pendidikan dasar dan pendidikan melaksanakan kegiatan pembelajaran, serta
menengah.Selanjutnya dalam pasal 35 ayat 1, mampu melakukan evaluasi pembelajaran.
dikatakan bahwa beban kerja guru mencakup

69
Jurnal Administrasi Pendidikan Vol.XXIII No.2 Tahun 2016

Permasalahan kurangnya tenaga pendidik belum semua guru menggunakan alat bantu
yang profesional, berkualitas dan kompeten dalam pembelajaran.
bidang yang diajarkannya yang dihadapi oleh Kota Hasil penilaian kinerja guru yang sudah baik
Sukabumi diantisipasi dengan meningkatkan perlu ditingkatkan atau minimal
kinerja guru. Untuk itu Penilaian Kinerja Guru dipertahankan.Upaya ke arah tersebut memerlukan
(PKG) atau sering disebut sebagai penilaian dukungan baik secara eksternal maupun
prestasi kerja perlu dilaksanakan sesuai dengan internal.Dukungan eksternal paling tinggi berasal
arah kebijakan pemerintah yang mengeluarkan dari organisasi sekolah, seorang kepala sekolah
Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan menjadi pimpinan langsung dari guru yang
Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi memiliki tugas dan tanggung jawab terhadap
(Permenneg PAN dan RB Nomor 16 Tahun 2009) peningkatan mutu kinerja mengajar guru.Model
tentang jabatan fungsional guru dan angka kepemimpinan instruksional sangat cocok
kreditnya, disebutkan bahwa penilaian kinerja guru diterapkan bagi kepala sekolah yang memiliki
adalah penilaian dari tiap butir kegiatan tugas perhatian tinggi terhadap mutu akademik atau
utama guru dalam rangka pembinaan karier pembelajaran.Kepala sekolah instruksional
kepangkatan dan jabatannya. Kebijakan tersebut memberikan alokasi waktu yang lebih banyak
bertujuan untuk meningkatkan kompetensi dan untuk meningkatkan mutu pembelajaran melalui
memfasilitasi guru dalam mengembangkan aktivitas-aktivitas yang berhubungan dengan
profesionalismenya dengan jalan menilai kinerja peningkatan kinerja guru.Dengan membatasi
guru setiap tahun.PKG memberikan kontribusi kegiatan-kegiatan yang bersifat seremonial dan
secara langsung pada mutu pembelajaran yang kegiatan non akademis lainnya.
dilakukan guru sekaligus membantu Sementara, dukungan internal yang kuat
pengembangan kariernya sebagai tenaga yang muncul dari dalam diri guru itu sendiri adalah
profesional.Melalui kegiatan ini diharapkan mutu komitmen. Guru memerlukan suatu komitmen
kinerja mengajar guru dapat ditingkatkan dari dalam menjalankan kinerjanya. Komitmen guru
waktu ke waktu. mencerminkan kesungguhan, tanggung jawab,
Berdasarkan hasil penilaian kinerja guru kepedulian, semangat, dan loyalitas dalam
tahun 2015 terhadap guru-guru SMP Negeri di melaksanakan tugas-tugas
Kota Sukabumi yang dilakukan oleh kepala pembelajaran.Komitmen ditunjukkan dalam sikap
sekolah pada setiap unit kerjanya, diperoleh nilai keyakinan dan penerimaan yang kuat terhadap
PK Guru sub unsur pembelajaran/bimbingan tugas dan kewajiban yang dibebankan kepadanya.
dalam rentang 76-90 yaitu berada pada kategori Dengan komitmen yang tinggi, maka mutu kinerja
baik. Meskipun dari hasil penilaian kinerja guru mengajar guru akan tercapai secara optimal.
sudah baik, akan tetapi perlu dilakukan upaya Berdasarkan uraian di atas, diduga bahwa
optimalisasi secara terus menerus. Dari hasil PKG faktor kepemimpinan instruksional kepala sekolah
tersebut, masih ditemukan adanya beberapa guru dan komitmen guru dapat meningkatkan mutu
yang belum secara utuh melaksanakan PAIKEM, kinerja mengajar guru, sehingga peneliti
masih lemah dalam mengembangkan materi, dan mengambil fokus penelitian sebagai variabel

70
Jurnal Administrasi Pendidikan Vol.XXIII No.2 Tahun 2016

pengaruh adalah kepemimpinan instruksional Mengenai kinerja, Supardi (2013, hlm. 47)
kepala sekolah dan komitmen guru. berpendapatbahwa kinerja adalah hasil kerja yang
Mutu Kinerja Mengajar Guru telah dicapai oleh seseorang dalam suatu organisasi
Konsep mutu perlu dipahami dengan baik untuk mencapai tujuan berdasarkan standardisasi
dan jelas agar rencana program peningkatan mutu atau ukuran dan waktu yang disesuaikan dengan
dapat terarah dan memberikan hasil yang jenis pekerjaannya dan sesuai dengan norma dan
optimal.Para ahli mendefinisikan mutu dari etika yang telah ditetapkan. Pernyataan tersebut
berbagai sudut pandangnya masing-masing. mengindikasikan bahwa kinerja sebagai proses dan
Usman (2014, hlm. 541) mengutip beberapa hasil akhir dari suatu kegiatan yang dilakukan
definisi mengenai mutu sebagai berikut: (1) seorang pegawai dalam mencapai tujuan organisasi
Deming, mendefinisikan mutu sebagai satu tingkat harus berdasarkan kepada standar atau ukuran yang
yang dapat diprediksi dari keseragaman dan telah ditentukan.
ketergantungan pada biaya yang rendah sesuai Sedangkan, mengajar menurut Usman dan
pasar, (2) Juran, mengartikan mutu sebagai Setiawati (1993, hlm. 6), mengajar pada prinsipnya
kemampuan untuk digunakan (fitness for use), (3) adalah membimbing siswa dalam kegiatan belajar
Crosby, menyatakan bahwa mutu sesuai mengajar.Howard (dalam Slameto, 1995, hlm. 32)
persyaratan.Berdasarkan pendapat-pendapat memberikan definisi mengajar lebih lengkap,
tersebut, yang disebut mutu adalah sifat-sifat menurutnya mengajar adalah suatu aktivitas untuk
produk atau jasa yang sesuai persyaratan dan mencoba menolong, membimbing seseorang untuk
memiliki kemampuan dalam memenuhi kebutuhan mendapatkan, mengubah atau mengembangkan
penggunanya. skills, attitude, ideals (cita-cita), appreciations
Berbicara tentang mutu berarti berbicara (penghargaan) dan knowledge.
tentang suatu produk atau layanan (jasa).Dari sisi Pemahaman secara umum mengajar
penyelenggaraannya, pendidikan termasuk seringkali diartikan sebagai usaha guru untuk
kategori layanan jasa (service). Jasa menurut menyampaikan dan menanamkan pengetahuan
Kotler (dalam Syamsi, 2008) adalah setiap kepada siswa atau transfer of knowledge. Padahal
tindakan atau unjuk kerja yang ditawarkan oleh tugas guru dalam mengajar bukan sekedar
satu pihak ke pihak lain yang secara prinsip memindahkan pengetahuan kepada siswanya,
intangible dan tidak menyebabkan perpindahan meminta siswa mencatat dan menghapalkan bahan
kepemilikan apapun. Dari pernyataan Kotler pelajaran sehingga siswa tidak berpikir dan berbuat
tersebut dapat dipahami bahwa jasa merupakan sesuatu, hanya mendengarkan dan menerima saja
kinerja yang diberikan oleh penyedia layanan apa yang diberikan guru. Mengajar yang hanya
kepada konsumen.Bersifat intangible maksudnya menekankan intelektual saja tidak akan
jasa tidak berwujud, berbeda dengan barang atau membentuk kreativitas di dalam diri siswa, jiwanya
benda. Jasa merupakan suatu kinerja menjadi tidak kritis, kurang inisiatif, dan daya
(performance), tindakan, proses, atau usaha yang kreasi yang rendah.Menjadi tugas berat bagi guru
tidak bisa dilihat, dirasa, maupun didengar sebelum untuk membawa perubahan tingkah laku siswa ke
dibeli atau dikonsumsi. arah yang lebih baik. Guru perlu memikirkan

71
Jurnal Administrasi Pendidikan Vol.XXIII No.2 Tahun 2016

bagaimana bentuk penyajian pembelajaran yang kegiatan pembelajaran. Dalam menyampaikan


tepat untuk mencapai tujuan tersebut. materi, guru terbiasa menggunakan metode
Konsep mengajar apabila dikaitkan dengan ceramah, sementara siswa hanya duduk, mencatat,
kinerja guru akan mengandung pengertian bahwa dan mendengarkan, sehingga siswa menjadi pasif
kinerja mengajar guru adalah suatu kemampuan dan suasana pembelajaran tidak kondusif.
guru dalam melaksanakan tugas mengajar yaitu Mengajar pada intinya adalah melayani
membimbing siswa dalam belajar dengan kebutuhan siswa dalam belajar.Untuk itu guru
menciptakan proses pembelajaran yang sebaik- perlu memperhatikan kondisi siswa yang
baiknya demi tercapainya tujuan pembelajaran. diajarnya, memahami latar belakang, kemampuan,
Untuk dapat menampilkan kinerja yang bagus, minat, dan potensi yang dimiliki siswa. Pemenuhan
guru harus profesional dalam menjalankan terhadap kebutuhan belajar siswa akan memberi
tugasnya.Guru yang memiliki kinerja yang baik kepuasan bagi siswa yang ditandai dengan
dan profesional dalam implementasi kurikulum meningkatnya prestasi belajar yang dicapainya.
menurut Basyirudin dan Usman (dalam Supardi, Oleh karena itu, pelayanan yang diberikan guru
2013, hlm. 59) memiliki ciri-ciri yaitu mendesain harus terencana dan sistematis dengan
program pembelajaran, melaksanakan memperhatikan dimensi kualitas pelayanan jasa
pembelajaran dan menilai hasil belajar peserta dari Parasuraman, Zeithaml dan Berry (dalam
didik. Tjiptono, 2012, hlm. 174) yang meliputi: (1)
Dalam upaya mencapai tujuan reliabilitas (reliability), (2) daya tanggap
pembelajaran, guru perlu merencanakan dan (responsiveness), (3) jaminan (assurance), (4)
menyiapkan pembelajaran yang bermutu yaitu empati (empathy), dan (5) bukti fisik (tangibles).
dengan mengkondisikan berbagai aspek Penilaian terhadap mutu kinerja mengajar
pembelajaran. Menurut Sulthon (2013) untuk guru memerlukan sumber informasi data dari
menuju pembelajaran yang berkualitas dibutuhkan berbagai pihak, terutama yang terlibat langsung
pengkondisian berbagai aspek pembelajaran dalam proses pembelajaran yaitu siswa. Pandangan
diantaranya: metode, strategi, pendekatan, siswa mengenai kemampuan guru mengajar dan
pengelolaan pembelajaran, manajemen kelas, pelayanan yang diterimanya adalah faktor yang
pemanfaatan media, dan penguasaan materi menentukan penilaian dan pengukuran kepuasan
pembelajaran. Sulthon menambahkan bahwa pelanggan.
dalam paradigma pendidikan modern, Dari penjelasan di atas maka dapat
pembelajaran yang bermutu adalah pembelajaran disimpulkan bahwa mutu kinerja mengajar guru
yang di desain dengan subyek (siswa) dijadikan merupakan serangkaian perilaku atau kegiatan
sebagai pelaku pembelajaran, dengan demikian yang dilaksanakan oleh guru berdasarkan
dalam pembelajaran yang aktif melakukan belajar kemampuannya dalam memberikan layanan
adalah siswa sedang guru sebagai fasilitator dan pengajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan
motivator dalam belajar. Hal ini bertolak belakang harapan siswa serta tujuan pembelajaran yang
dengan proses pembelajaran yang dilakukan oleh hendak dicapai secara efektif dan efisien.
banyak guru saat ini. Guru terbiasa mendominasi Kepemimpinan Instruksional Kepala Sekolah

72
Jurnal Administrasi Pendidikan Vol.XXIII No.2 Tahun 2016

Kepala sekolah berasal dari dua kata yaitu hal tersebut, Rigsbee (dalam Daryanto, 2011, hlm.
kepala dan sekolah, kata kepala dapat diartikan 51) mengemukakan bahwa seorang kepala sekolah
ketua atau pemimpin dalam suatu organisasi atau yang baik adalah seorang pemimpin yang bersifat
sebuah lembaga.Sedang sekolah adalah sebuah instruksional yang membantu guru untuk
lembaga di mana menjadi tempat menerima dan menciptakan bagaimana cara terbaik siswa belajar.
memberi pelajaran. Wahjosumidjo (2010, hlm. 83) Kepala sekolah yang bersifat instruksional
mengartikan kepala sekolah sebagai seorang menempatkan agenda pembelajaran pada urutan
tenaga fungsional guru yang diberi tugas untuk pertama dari seluruh kegiatannya.Memberikan
memimpin suatu sekolah dimana diselenggarakan dukungan yang tepat untuk peningkatan mutu
proses belajar mengajar atau tempat dimana terjadi kinerja mengajar guru dan kesuksesan
interaksi antara guru yang memberi pelajaran dan pembelajaran di kelas.
murid yang menerima pelajaran. Lebih jelas Hallinger (dalam Emmanouil
Kepemimpinan instruksional atau lebih dkk., 2014) menekankan bahwa seorang kepala
dikenal dengan istilah kepemimpinan sekolah instruksional juga mencoba untuk
pembelajaran mulai dikenal di Indonesia pada menciptakan lingkungan belajar yang positif
tahun 2010. Menurut Huber (dalam Usman & dengan mendukung pengembangan profesional,
Raharjo, 2013), kepemimpinan pembelajaran berbagi visi dan memberikan motivasi yang kuat
(instructional leadership) disebut juga education serta inspirasi untuk pembelajaran staf pengajar
leadership, school leadership, visionary leadership (guru). Kepala sekolah instruksional memberi
and teaching, learning leadership, and supervision motivasi pada guru untuk mengembangkan
leadership. profesionalisme sehingga guru mampu
Bush (dalam Usman, 2015) menyatakan meningkatkan mutu pengajaran.
bahwa konsep kepemimpinan instruksional fokus Dari pernyataan-pernyataan diatas dapat
pada kegiatan belajar mengajar dan pada perilaku dipahami bahwa kepemimpinan instruksional
guru dalam melayani siswa.Pengaruh pemimpin kepala sekolah adalah perilaku kepala sekolah
ditargetkan pada pembelajaran siswa melalui yang memprioritaskan aktivitasnya pada
guru.Sedangkan, Suhardan (2010, hlm. 73) pembelajaran yaitu dengan mempengaruhi,
menyampaikan bahwa kepemimpinan mengarahkan, dan membimbing guru dalam
pembelajaran merupakan aktivitas kepala sekolah kegiatan belajar mengajar sehingga guru dapat
yang kesehariannya disibukkan dengan kegiatan memberikan layanan belajar terbaik kepada siswa.
mempengaruhi orang-orang yang menjalankan Dengan demikian, dapat peneliti gambarkan
kegiatan akademik di sekolah, mereka adalah guru sebagai berikut:
dan staf edukatif atau staf teaching. Sejalan dengan

73
Jurnal Administrasi Pendidikan Vol.XXIII No.2 Tahun 2016

Kepemimpinan Mutu Kinerja


Pengembangan Layanan
Instruksional Mengajar
Guru Belajar
Kepala sekolah Guru
Siswa

Gambar 1.
Proses Kepemimpinan Instruksional Kepala Sekolah

Gambar di atas menunjukkan bahwa seorang guru diharapkan mampu menyokong


kepemimpinan instruksional kepala sekolah kegiatannya dalam proses belajar mengajar,
menempatkan guru sebagai komponen utama yang sehingga guru memiliki cara pandang yang maju
perlu dikembangkan artinya kepemimpinan dalam menilai berbagai hal.
instruksional kepala sekolah membangun dan Sebagai konsep kepemimpinan yang fokus
mendorong munculnya kreativitas guru yang pada kegiatan belajar mengajar dan perilaku guru
profesional, inovatif, dan kreatif dalam proses dalam melayani siswa, maka kepala sekolah
pembelajaran. Dimana pembinaan terhadap kinerja sebagai pemimpin instruksional memfokuskan
mengajar guru dalam melaksanakan tugas kegiatannya pada upaya peningkatan dan
mengajar menjadi target utama. Kepala sekolah perbaikan mutu kinerja mengajar para gurunya,
memberikan implikasi yang luas dan besar dalam yaitu dengan mengajak, mendorong, mengarahkan,
meningkatkan kinerja mengajar guru agar bermutu. dan memfasilitasi guru bagi pengembangan
Mutu kinerja mengajar guru pada akhirnya kinerjanya. Memberdayakan guru sehingga
bermuara pada peningkatan layanan belajar siswa. memiliki keunggulan dalam mutu.
Organization for Economic Cooperation and Komitmen Guru
Development (dalam Usman, 2013) menyatakan Komitmen pada umumnya didefinisikan
bahwa kepemimpinan pembelajaran efektif apabila sebagai keterikatan tingkat tinggi terhadap sebuah
kepala sekolah mampu memainkan perannya organisasi, aktivitas atau orang (Crosswell,
sebagai: (1) pemantau kerja guru, (2) penilai 2006).Menurut Armstrong (2003, hlm. 34),
kinerja guru, (3) pelaksana dan pengaturan komitmen adalah kecintaan dan kesetiaan.
pendampingan dan pelatihan, (4) perencana Sementara Schermerhorn, Hunt, Osborn, dan Uhl-
Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) Bien (dalam Wibowo, 2014, hlm. 428) menyatakan
guru, (5) pengkoordinasi kerja tim, dan (6) komitmen sebagai loyalitas seorang individu pada
pengkoordinasi pembelajaran kolaboratif. organisasi. Dari pernyataan-pernyataan tersebut,
Langkah-langkah tersebut tampaknya perlu maka komitmen dapat dikatakan sebagai bentuk
dilakukan mengingat laju perkembangan ilmu keterikatan, kecintaan, kesetiaan, dan loyalitas
pengetahuan dan teknologi yang pesat serta arus individu baik terhadap organisasi, pekerjaan,
globalisasi menuntut guru untuk maupun orang lain.
selalu memutakhirkan wawasan dan Menurut Graham (1996), komitmen guru
kemampuannya. Wawasan dan kemampuan adalah faktor kunci yang mempengaruhi proses

74
Jurnal Administrasi Pendidikan Vol.XXIII No.2 Tahun 2016

belajar mengajar. Hal ini mengandung pemahaman Seorang guru yang memiliki komitmen
bahwa guru sebagai individu memiliki keterlibatan terhadap siswa akan berusaha menciptakan
dengan sekolah, dengan materi pelajaran, tujuan lingkungan belajar yang berkualitas, siswa
pembelajaran, dan niat guru untuk diposisikan sebagai subjek belajar dan guru
mempertahankan keanggotaan organisasi, semua sebagai fasilitator. Guru berupaya untuk
ini akan berpengaruh terhadap proses pembelajaran meningkatkan kompetensi siswa dengan cara
yang dilakukannya. Senada dengan Coladarci membimbing dan memotivasi siswa agar mencapai
(dalam Fresko dkk.,1997) yang mendefinisikan hasil belajar yang optimal.
komitmen guru sebagai derajat keterikatan Nias dkk. (dalam Crosswell, 2006)
psikologis bagi profesi mengajar. Komitmen guru menyebutkan bahwa aspek lain dari komitmen
mencerminkan derajat hubungan yang dimiliki adalah memperhatikan kelanjutan karier.
oleh guru terhadap pekerjaannya yaitu mengajar. Kelanjutan karier merupakan proses dan kegiatan
Crosswell (2006) menyebutkan dimensi- mempersiapkan pegawai untuk jabatan yang akan
dimensi penting dari komitmen guru diantaranya datang. Komitmen guru terhadap kelanjutan karier
adalah komitmen terhadap: (1) sekolah atau di tunjukkan dengan keterlibatan guru di dalam
organisasi, (2) siswa, (3) kelanjutan karier, (4) meningkatkan kompetensinya agar karier yang
pengetahuan dasar profesional, dan (5) profesi digeluti dapat berkembang maksimal.Diantaranya,
mengajar. menghadiri forum atau kegiatan ilmiah.Menurut
Mart (2013a) mengungkapkan bahwa guru Noordin dkk. (2008), orang yang berkomitmen
yang memiliki komitmen pada sekolah terhadap kariernya akan mungkin berkinerja lebih
menunjukkan sikap seperti: bangga dengan sekolah baik dan ini akan mengarah pada kinerja organisasi
tempatnya bekerja, membangkitkan keinginan yang lebih baik secara keseluruhan. Seorang guru
untuk bekerja lebih keras, tertarik pada masa depan hendaklah memiliki komitmen untuk
sekolah. mengembangkan kariernya, selain dapat
Komitmen guru terhadap siswa, menurut meningkatkan kompetensi juga akan
Park (2005) meliputi kesediaan guru untuk meningkatkan kinerja mengajarnya lebih baik.
membantu siswa dan bertanggung jawab atas Good dan Brophy (Ohi, 2007) berpendapat
pembelajaran siswa dan kehidupan sekolah.Dalam bahwa untuk menjadi pembuat kebijakan yang
hal ini, Mart (2013b) mengungkapkan sebagai aktif dan untuk mengembangkan pribadi mereka,
berikut: guru perlu memahami pengetahuan dasar yang
A commited teacher always makes every mendukung pengajaran, meliputi tidak hanya
effort to advance students’ professional informasi tentang strategi pembelajaran tetapi juga
competence by providing them a quality tentang pengembangan siswa, pembelajaran, dan
learning environment. A commited teacher, motivasi. Untuk itu guru perlu meningkatkan
trough making effective contribution to the ‘knowledge dan expertise’ mereka secara serius
achievement of students, endeavors their dan keinginan untuk melakukannya sebaik
students to be well-educated in their mungkin.
community.

75
Jurnal Administrasi Pendidikan Vol.XXIII No.2 Tahun 2016

Sedangkan, komitmen guru pada profesi pelatihan yang intensif. Komitmen guru terhadap
menurut Somech dan Bloger (dalam Thien dkk., profesi ditunjukkan dengan melaksanakan tugas
2014), melibatkan keterikatan sikap terhadap penuh tanggung jawab dan kemauan yang tinggi
profesi atau pekerjaan yang berhubungan dengan untuk meningkatkan keahlian dan kemampuan
identifikasi pribadi dan kepuasan sebagai guru. profesionalnya secara terus-menerus.
Profesi menunjuk pada suatu pekerjaan atau Komitmen guru merupakan faktor yang
jabatan yang menuntut keahlian, tanggung jawab, mempengaruhi kinerja guru.Ditandai dengan
dan kesetiaan terhadap profesi (Saud, 2013, keinginan guru untuk mengerjakan tugasnya
hlm.7).Profesi dilaksanakan sebagai suatu dengan serius dan sungguh-sungguh. Guru akan
pekerjaan dengan keterlibatan pribadi yang menjiwai peran sebagai tenaga pendidik, menjiwai
mendalam. Guru dikatakan sebagai sebuah profesi siswa dan menjiwai bidang studi yang
karena guru dituntut memiliki keahlian dalam diajarkannya.Apabila proses pembelajaran ini
mengajar, merancang pengajaran, dan mengelola dikembangkan maka siswa akan menjadi output
kelas. Thapan (dalam Mart, 2013a) menyebutkan yang memiliki kemandirian dalam berpikir. Untuk
bahwa komitmen untuk mengajar berkontribusi itu, siswa perlu mendapatkan pelayanan belajar
pada perilaku guru, sikap, persepsi, dan kinerja. yang bermutu dari sosok guru yang memiliki
Profesi guru tidak bisa dilakukan oleh sembarang komitmen tinggi.
orang karena harus melalui proses pendidikan dan

METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penelitian ini orang guru dan 98 orang siswa.Teknik
adalah metode survei dengan pendekatan pengumpulan data menggunakan angket yang
kuantitatif.Penelitian ini dilakukan terhadap disusun berbentuk skala Likert.Sebelum angket
seluruh SMP Negeri yang ada di Kota Sukabumi disebarkan kepada responden, angket penelitian
Provinsi Jawa Barat yang berjumlah 16 sekolah tersebut terlebih dahulu dilakukan uji coba
yang tersebar pada tujuh kecamatan.Populasi instrumenuntuk melihat validitas dan
responden dalam penelitian ini adalah seluruh guru reliabilitasnya.
dan siswa kelas IX yang terdiri dari 572 orang guru Teknik analisis data dilakukan melalui
dan 4.165 orang siswa. tahapan berikut: (1) seleksi angket untuk
Melihat jumlah populasi yang besar, maka memeriksa dan menyeleksi kelengkapan data yang
peneliti hanya akan mengambil sebagian dari terkumpul, (2) analisis deskriptif dimaksudkan
populasi. Penentuan jumlah sampel menggunakan untuk melihat kecenderungan jawaban responden
teknik Probability Sampling.Salah satu jenis dari pada masing-masing variabel dengan
teknik ini adalah Simple Random menggunakan teknik Weighted Means Scored
Sampling.Besaran jumlah sampel yang diambil (WMS), (3) mengubah skor mentah menjadi skor
dari populasi dihitung dengan menggunakan baku, (4) melakukan uji persyaratan analisis data
rumusSlovin. Dari hasil perhitungan diperoleh yaitu uji normalitas dan linieritas, (5) menguji
jumlah sampel guru dalam penelitian ini adalah 85

76
Jurnal Administrasi Pendidikan Vol.XXIII No.2 Tahun 2016

hipotesis penelitian dengan analisis korelasi dan


regresi, serta uji signifikansi.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

HASIL PENELITIAN kategori tinggi dengan skor rata-rata 3,95, dan


Hasil analisis deskriptif menunjukkan komitmen guru (X2) berada pada kategori sangat
bahwa secara umum variabel mutu kinerja tinggi dengan skor rata-rata 4,06.
mengajar guru (Y) berada pada kategori tinggi Selanjutnya, berdasarkan hasil analisis
dengan skor rata-rata 3,99, variabel Kepemimpinan korelasi dan regresi baik secara sederhana maupun
instruksional kepala sekolah (X1)berada pada ganda diperoleh hasil sebagai berikut:

Tabel 1.
Rangkuman Hasil Pengujian Hipotesis
Pengaruh antar Koefisien Signifikansi Koefisien Variabe
Koefisien Regresi
Variabel Korelasi Regresi Determinasi l Lain
0,800 Y′ = 9,238 +
12,145 > 1,989
X1 terhadap Y Sangat 0,788X1 64% 36%
Signifikan
Kuat Positif
0.842 Y′ = 7,396 +
14,200 > 1,989
X2 terhadap Y Sangat 0,825X2 70,8% 29,2%
Signifikan
Kuat Positif
0,889 Y′ = 1,551 +
X1 dan X2 154,83 > 3,11
Sangat 0,401X1 + 0,541X2 79% 21%
terhadap Y Signifikan
Kuat Positif

Dari tabel di atas, diperoleh koefisien mengajar guru sebesar 0,889 tergolong pada
korelasi X1 terhadap Y sebesar 0,800, maka kategori sangat kuat.
hubungan antara variabel kepemimpinan Adapun hasil analisis regresi X1 terhadap Y
instruksional kepala sekolah terhadap mutu kinerja diperoleh koefisien regresi sebesar 0,788 dan
mengajar guru tergolong pada kategori sangat kuat. konstanta 9,238. Maka dapat digambarkan bentuk
Hubungan variabel komitmen guru terhadap mutu hubungan variabel kepemimpinan instruksional
kinerja mengajar guru sebesar 0,842 tergolong kepala sekolah terhadap mutu kinerja mengajar
pada kategori sangat kuat. Demikian juga,hasil guru dalam persamaan regresi 𝐘′ = 9,238 +
korelasi ganda X1 dan X2 terhadap Yyaitu 0,788X1. Selanjutnya, diperoleh koefisien regresi
hubungan antara variabel kepemimpinan X2 terhadap Y sebesar 0,825 dan konstanta sebesar
instruksional kepala sekolah dan komitmen guru 7,396. Maka dapat digambarkan bentuk hubungan
secara bersama-sama terhadap mutu kinerja variabel komitmen guru terhadap mutu kinerja
mengajar guru dalam persamaan regresi 𝐘′ = 7,396

77
Jurnal Administrasi Pendidikan Vol.XXIII No.2 Tahun 2016

+ 0,825X2. Sedangkan, koefisien regresi ganda X1 PEMBAHASAN


dan X2 terhadap Y, yaitu kepemimpinan Gambaran Mutu Kinerja Mengajar Guru
instruksional kepala sekolah (X1) sebesar 0,401 Hasil analisis deskriptif menunjukkan
dan komitmen guru (X2) sebesar 0,541 dengan bahwa mutu kinerja mengajar guru SMP Negeri di
konstanta 1,551. Dengan demikian, persamaan Kota Sukabumi berada pada kategoritinggi dengan
regresi gandanya adalah 𝐘′= 1,551 + 0,401X1 + nilai rata-rata keseluruhan sebesar 3,99. Variabel
0,541X2. mutu kinerja mengajar guru diukur melalui lima
Hasil uji signifikansi (uji t) untuk X1 dimensi dan diperoleh hasil pengukuran sebagai
terhadap Y diperoleh t hitung sebesar 12.145 dan berikut: (1) reliabilitas (reliability) dengan skor
diperoleh t tabel 1.989, karena t hitung > t tabel rata-rata sebesar 3,75, (2) daya tanggap
atau 12.145> 1.989, maka keputusannya pengaruh (responsiveness) dengan skor rata-rata sebesar
X1 terhadap Y signifikan. Hasil uji signifikansi 3,96, (3) jaminan (assurance) dengan skor rata-rata
untuk X2 terhadap Y diperoleh t hitung sebesar sebesar 4,11, (4) empati (empathy) dengan skor
14.200 dan t tabel 1.989, karena t hitung > t tabel rata-rata sebesar 4,13, (5) bukti fisik (tangibles)
atau 14.200 > 1.989, maka keputusannya pengaruh dengan skor rata-rata sebesar 4,03.
X2 terhadap Y signifikan. Sedangkan, hasil uji Dimensi jaminan (assurance) memperoleh
signifikansi (uji F) untuk X1 dan X2 terhadap Y, jawaban dengan skor paling tinggi, sedangkan
diperoleh F hitung sebesar 154,83 dan f tabel reliabilitas (reliability) meskipun berada dalam
sebesar 3,11. Karena F hitung > F tabel atau kategori tinggi merupakan jawaban dengan skor
154,83> 3,11, maka keputusannya pengaruh X1 dan terendah.
X2 terhadap Y signifikan. Rendahnya perolehan skor rata-rata dimensi
Nilai koefisien determinasi X1 terhadap Y reliabilitas (reliability) penyebabnya antara lain,
yaitu 0,640 atau 64%. Ini menunjukkan bahwa guru memulai pembelajaran tidak tepat waktu,
variabel kepemimpinan instruksional kepala penggunaan metode mengajar yang kurang
sekolah berpengaruh terhadap mutu kinerja variatif, jarang menggunakan alat bantu
mengajar guru sebesar 64% dan sisanya 36% belajar/media yang relevan dengan materi, dan
dipengaruhi oleh variabel lain. Nilai koefisien kurang memberikan kesempatan kepada siswa
determinasi X2 terhadap Y yaitu 0,708 atau 70,8%. untuk bertanya. Hal ini akan menyebabkan faktor
Ini menunjukkan bahwa variabel komitmen guru kebosanan pada siswa. Menurut Hasibuan dan
berpengaruh terhadap mutu kinerja mengajar guru Moedjiono (2006, hlm. 64), faktor kebosanan pada
sebesar 70,8% dan sisanya 29,2% dipengaruhi oleh siswa disebabkan oleh adanya penyajian kegiatan
variabel lain. Nilai koefisien determinasi X1 dan X2 belajar yang begitu-begitu saja akan
terhadap Yyaitu 0,790 atau 79%. Ini menunjukkan mengakibatkan perhatian, motivasi, dan minat
bahwa variabel kepemimpinan instruksional siswa terhadap pelajaran, guru, dan sekolah
kepala sekolah dan komitmen guru secara menurun.
bersama-sama berpengaruh terhadap mutu kinerja Reliabilitas atau keandalan diukur dengan
mengajar guru sebesar 79% dan sisanya 21% tindakan pelayanan yang tepat, profesionalisme
dipengaruhi oleh variabel lain. dalam menangani keluhan siswa, melayani siswa

78
Jurnal Administrasi Pendidikan Vol.XXIII No.2 Tahun 2016

dengan baik dan ramah, memberikan layanan guru dengan skor rata-rata sebesar 3,91, (5)
belajar sesuai dengan tujuan pembelajaran yang manajemen sekolah, dengan skor rata-rata sebesar
telah ditetapkan, dan memberikan pelayanan selalu 3,94, (6) etika, dengan skor rata-rata sebesar 4,07,
sesuai dengan jadwal dan tepat waktu. Menurut (7) perbedaan, dengan skor rata-rata sebesar 4,04.
Zeithaml, Bitner, dan Gremler (2006, hlm. 117), Berdasarkan temuan dari seluruh dimensi
keandalan didefinisikan sebagai kemampuan untuk yang diteliti, dimensi etika memperoleh jawaban
melakukan layanan yang dijanjikan dengan dengan skor paling tinggi, dan dimensi penilaian
terpercaya dan akurat atau sesuai dengan apa yang hasil belajar meskipun berada dalam kategori
dijanjikan. tinggi merupakan jawaban dengan skor terendah
Upaya yang dapat dilakukan untuk dari ketujuh dimensi tersebut. Hal ini menunjukkan
meningkatkan keandalan atau reliabilitas guru peran kepala sekolah dalam memimpin,
yaitu: (1) kemampuan, guru harus memiliki memfasilitasi, dan berkolaborasi dengan guru
kemampuan profesional dan memiliki kompetensi dalam menilai hasil belajar siswa masih dirasakan
di bidangnya agar dapat meyakinkan siswa untuk kurang oleh guru.
berprestasi, (2) kinerja, guru dituntut memiliki Rendahnya perolehan skor rata-rata dimensi
kinerja yang tinggi dalam melaksanakan tugasnya, penilaian hasil belajar penyebabnya antara lain,
(3) kepribadian, guru memiliki kepribadian yang kepala sekolah jarang mengajak guru berdiskusi
kuat yang menjadikannya sebagai teladan bagi tentang cara memberi penilaian hasil belajar siswa,
siswa dan membawa citra positif bagi lembaga dan kepala sekolah tidak memberi teguran kepada
sekolah, (4) Kedewasaan, guru mampu guru yang tidak mengoreksi hasil ulangan siswa.
mengendalikan diri dan matang dalam Konsep dimensi penilaian hasil belajar
mengendalikan kondisi siswa. (5) komitmen, guru adalah kepemimpinan instruksional kepala sekolah
harus membangun dan mempertahankan komitmen berupaya memfasilitasi peningkatan mutu
dalam lingkungan belajar yang sehat, sehingga pembelajaran di sekolah berdasarkan hasil
siswa akan lebih termotivasi. penilaian yang dilakukan secara
Gambaran Kepemimpinan Instruksional berkelanjutan.Penilaian (assessment) merupakan
Kepala Sekolah salah satu elemen penting dalam kegiatan
Hasil analisis deskriptif menunjukkan pembelajaran. Dengan penilaian tersebut dapat
bahwa kepemimpinan instruksionalkepala sekolah diketahui tingkat kemajuan belajar siswa,
SMP Negeri di Kota Sukabumi berada pada kemampuan siswa baik kekurangan atau kelebihan
kategoritinggi dengan nilai rata-rata keseluruhan siswa dalam belajar, dan menjadi feedback bagi
sebesar 3,95. Variabel diukur melalui tujuh guru untuk mengevaluasi tingkat keberhasilan
dimensi dan diperoleh hasil pengukuran sebagai proses belajar mengajar. Untuk itu, kepala sekolah
berikut: (1) peningkatan secara berkelanjutan perlu memperhatikan hal-hal yang terkait dengan
dengan skor rata-rata sebesar 4,04, (2) kultur penilaian dalam pembelajaran tersebut.
pembelajaran dengan skor rata-rata sebesar 3,86, Menurut Hargreaves dkk.(2001),
(3) penilaian hasil belajar dengan skor rata-rata menekankan perlunya pemimpin instruksional
sebesar 3,79, (4) pengembangan profesionalisme untuk membantu guru menyesuaikan tuntutan

79
Jurnal Administrasi Pendidikan Vol.XXIII No.2 Tahun 2016

ujian dengan penilaian profesional berkelanjutan dimensi dan diperoleh hasil pengukuran sebagai
untuk pengembangan siswa.Sedangkan Lingard berikut: (1) komitmen terhadap sekolah atau
dkk.(2003) mengemukakan bahwa, hal terpenting organisasi dengan skor rata-rata sebesar 3,99, (2)
yang diperlukan dalam pembelajaran adalah komitmen terhadap siswa dengan skor rata-rata
pengembangan ruang dalam sekolah untuk sebesar 3,88, (3) komitmen terhadap kelanjutan
membahas cara-cara dimana praktek kelas karir dengan skor rata-rata sebesar 4,11, (4)
(penilaian dan pedagogik) dapat digunakan untuk komitmen terhadap pengetahuan dasar
meningkatkan kinerja secara produktif. professional dengan skor rata-rata sebesar 4,08, (5)
Pengembangan kemampuan guru dalam komitmen terhadap profesi mengajar, dengan skor
menilai hasil belajar diterapkan oleh kepala rata-rata sebesar 4,25
sekolah dengan berbagai strategi, diantaranya: (1) Secara umum komitmen guru SMP Negeri
melakukan kunjungan kelas untuk melihat proses di Kota Sukabumi tergolong sudah sudah sangat
penilaian secara langsung, (2) mengadakan rapat- baik.Berdasarkan temuan dari seluruh dimensi
rapat pembinaan guru untuk mengenalkan yang diteliti, dimensi komitmen terhadap profesi
informasi baru yang perlu diketahui guru berkaitan mengajar memperoleh jawaban dengan skor paling
dengan penilaian hasil belajar siswa, (3) tinggi, dan dimensi komitmen terhadap siswa
mengikutsertakan para guru dalam diklat, seminar, meskipun berada dalam kategori tinggi merupakan
dan penataran pendidikan yang membahas tentang jawaban dengan skor terendah dari kelima dimensi
penilaian, (4) mendorong para guru agar aktif tersebut.Hal ini menunjukkan komitmen guru
dalam kegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran untuk membantu siswa dalam pembelajaran dan
(MGMP) karena melalui MGMP ini guru dapat mengembangkan kemampuan terbaik siswa belum
berdiskusi untuk memecahkan masalah yang sepenuhnya terealisasikan.
dihadapi dalam mengajar termasuk dalam Rendahnya perolehan skor rata-rata pada
memberikan penilaian dan pembuatan instrumen. dimensi komitmen terhadap siswa penyebabnya
Penilaian hasil belajar dijadikan sebagai antara lain, guru kurang berusaha menggali potensi
bahan evaluasi untuk perbaikan proses belajar yang dimiliki siswa untuk dikembangkan dan
siswa. Siswa diberi kesempatan untuk mengikuti belum sepenuhnya memonitor perkembangan
program remedial dan pengayaan untuk mencapai siswa pada aspek kognitif, afektif, dan
hasil yang optimal.Bagi kepala sekolah, penilaian psikomotorik siswa.
hasil belajar siswa digunakan sebagai dasar untuk Kegiatan belajar mengajar yang bermutu
membuat keputusan, menyusun kebijakan dan dapat dicapai apabila guru dapat memenuhi
mengembangkan program selanjutnya. kebutuhan siswa.Untuk mewujudkan pembelajaran
Gambaran Komitmen Guru yang memuaskan diperlukan suatu komitmen guru
Hasil analisis deskriptif menunjukkan yang penuh kesungguhan dalam memberikan
bahwa komitmen guru SMP Negeri di Kota layanan pembelajaran.Menurut Kotler (1999, hlm.
Sukabumi berada pada kategorisangat tinggi 52) kepuasan adalah tingkat perasaan seseorang
dengan nilai rata-rata keseluruhan sebesar 4,06. setelah membandingkan kinerja (atau hasil) yang
Variabel komitmen guru diukur melalui lima dirasakan dibandingkan dengan harapannya.Siswa

80
Jurnal Administrasi Pendidikan Vol.XXIII No.2 Tahun 2016

sangat mengharapkan layanan guru secara Analisis Pengaruh Kepemimpinan


maksimal yaitu guru memiliki tujuan untuk dapat Instruksional Kepala Sekolah terhadap Mutu
melayani kepentingan terbaik siswa, terutama Kinerja Mengajar Guru
prestasi akademiknya. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan
Menurut Mart (2013b), komitmen guru bahwa terdapat pengaruh yang positif dan
sangat terkait dengan kinerja guru dimana signifikan antara kepemimpinan instruksional
memiliki pengaruh yang signifikan terhadap hasil kepala sekolah terhadap mutu kinerja mengajar
belajar siswa.Lebih lanjut Mart menjelaskan, guru. Besarnya pengaruh kepemimpinan
seorang guru yang memiliki komitmen selalu instruksional kepala sekolah terhadap mutu kinerja
berusaha untuk meningkatkan kompetensi siswa mengajar guru adalah 64%, sisanya sebesar 36%
dengan menyediakan mereka lingkungan belajar dipengaruhi oleh variabel lain.
yang berkualitas. Selanjutnya, dari perhitungan analisis
Seorang guru yang berkomitmen untuk regresi menunjukkan bahwa setiap penambahan
siswa adalah guru yang menempatkan belajar dan satu poin kepemimpinan instruksional kepala
minat siswa di atas segalanya. Beberapa sekolah, maka mutu kinerja mengajar guru akan
karakteristik seorang guru yang mengutamakan mengalami peningkatan sebesar 0.788 poin. Hal ini
komitmennya untuk siswa antara lain: (1) memilih berarti bahwa semakin baik kepemimpinan
bahan ajar yang sesuai dengan kebutuhan siswa, instruksional kepala sekolah maka mutu kinerja
(2) merencanakan pembelajaran dengan mengajar guru akan semakin meningkat. Dengan
mempertimbangkan minat khusus siswa, (3) demikian, kepemimpinan instruksional kepala
memperhatikan siswa dan mengingatkannya ketika sekolah merupakan salah satu faktor yang
melakukan kesalahan, (4) memberikan kesempatan memberikan pengaruh terhadap mutu kinerja
kepada siswa untuk tetap berhubungan dengan mengajar guru.
mereka di luar jam pelajaran, (5) berusaha tidak Kepemimpinan instruksional kepala sekolah
membawa masalah pribadi yang dapat berpengaruh terhadap mutu kinerja mengajar guru,
mempengaruhi kelas, (6) menghormati siswa, (7) disebabkan karena aktivitas kepala sekolah yang
ingin siswanya berhasil dan membantu mereka benar-benar memfokuskan diri terhadap
menjadi pelajar yang mandiri (8) berusaha peningkatan proses dan hasil belajar siswa melalui
melakukan penilaian dengan tepat waktu agar guru. Artinya kepemimpinan instruksional
secepatnya dapat dilakukan umpan balik. memberdayakan segenap kemampuan guru dalam
Singh dan Billinnsgley (dalam Mart, 2013b) mengajar sehingga mutu kinerja mengajar guru
menekankan bahwa rendahnya tingkat komitmen meningkat.Kinerja mengajar guru yang bermutu
guru menurunkan prestasi belajar siswa. Oleh pada gilirannya akan meningkatkan proses dan
karena itu, sudah seyogyanya guru mempunyai hasil belajar siswa karena hasil belajar siswa tidak
komitmen terhadap siswa dan proses belajarnya langsung dari kepemimpinan instruksional kepala
karena komitmen tinggi guru adalah untuk sekolah, melainkan melalui proses pengajaran
kepentingan siswa. yang dilakukan guru. Pernyataan ini didukung oleh
hasil penelitian Leitwood dkk. (dalam Usman,

81
Jurnal Administrasi Pendidikan Vol.XXIII No.2 Tahun 2016

2015) yang menemukan bahwa kepemimpinan melaksanakan pengembangan profesionalisme


kepala sekolah berpengaruh tidak langsung guru baik melalui pendidikan dan pelatihan
terhadap hasil belajar siswa, tetapi melalui guru. maupun pendampingan, (5) mengalokasikan
Hasil penelitian ini sejalan dengan temuan sumber daya pendidikan baik itu anggaran
penelitian Usman (2015), yaitu kepemimpinan pendidikan maupun peralatan dan perlengkapan
instruksional adalah pendampingan yang fokus bagi program pengembangan guru, (6)
pada pembelajaran yang meliputi perencanaan, melaksanakan proses pembelajaran yang sesuai
pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran sesuai dengan standar etika dan menghormati guru, (7)
kurikulum, dan mengembangkan keprofesionalan membimbing guru dalam menanggapi perbedaan
guru untuk meningkatkan proses dan hasil belajar siswa. Dalam melaksanakan strategi
siswa. Menjadi tugas dan tanggung jawab kepala kepemimpinan instruksional tersebut kepala
sekolah dalam mengembangkan profesionalisme sekolah dipersyaratkan memiliki sejumlah
guru.Seperti yang diungkapkan Emmanouil dkk. kompetensi kepemimpinan instruksional.
(2014), adalah tanggung jawab kepala sekolah Hal di atas selaras dengan pendapat Obi
untuk membangun kondisi kerja yang (dalam Enueme & Egwunyenga, 2008)
memungkinkan hubungan yang produktif dan mengemukakan bahwa untuk menjadi pemimpin
kreatif antara guru dan seluruh komunitas sekolah, instruksional yang berhasil, kepala sekolah harus
melakukannya dengan cara pengembangan memberi perhatian utama pada program
profesional staf pengajar (guru). pengembangan staf yang terdiri dari teknik
Menurut Hallinger (dalam Emmanouil dkk., kepemimpinan dan rancangan prosedur untuk
2014), seorang kepala sekolah instruksional mengubah peran kinerja guru. Obi menyatakan
mencoba untuk menciptakan lingkungan belajar bahwa peran kepala sekolah dalam hal ini meliputi:
yang positif dengan mendukung pengembangan kunjungan kelas, observasi, pertemuan, seminar
profesional, berbagi visi dan memberikan motivasi dan workshop, perhimpunan profesi, dan program
yang kuat dan inspirasi untuk pembelajaran kepada layanan pendidikan. Peran pemimpin instruksional
staf pengajar (guru)). Kepala sekolah instruksional dalam meningkatkan profesionalisme guru terkait
memberi motivasi pada guru untuk dengan tanggung jawabnya untuk meningkatkan
mengembangkan profesionalisme sehingga guru kualitas pembelajaran melalui kinerja mengajar
mampu meningkatkan mutu pengajaran. guru yang bermutu.
Strategi kepemimpinan instruksional kepala Strategi yang dilaksanakan kepemimpinan
sekolah dalam meningkatkan mutu kinerja instruksional kepala sekolah di atas terbukti
mengajar guru, sesuai dengan dimensi berpengaruh terhadap mutu kinerja mengajar guru.
kepemimpinan instruksional kepala sekolah pada Hal ini mencerminkan keunggulan konsep
penelitian ini yaitu: (1) merencanakan kepemimpinan instruksional kepala sekolah dalam
pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB) memimpin lembaga sekolah yang memiliki core
guru, (2) menciptakan kultur pembelajaran yang business yaitu teaching and learning. Adapun
kondusif, (3) mengembangkan kemampuan guru kentungan dari implementasi kepemimpinan
dalam proses penilaian hasil belajar siswa, (4) instruksional kepala sekolah dari hasil penelitian

82
Jurnal Administrasi Pendidikan Vol.XXIII No.2 Tahun 2016

ini adalahmeningkatnya mutu kinerja mengajar Variabel yang menentukan tingkat


guru, sekaligus meningkatnya mutu proses komitmen guru, menurut Celep (dalam Mart,
pembelajaran dan hasil belajar siswa. 2013b), interaksi antara guru, hubungan antara
AnalisisPengaruh Komitmen Guru terhadap guru dan siswa, mutu pekerjaan yang dilakukan
Mutu Kinerja Mengajar Guru oleh guru dan lingkungan kerja yang cocok antara
Hasil pengujian hipotesis menunjukkan guru dan administrasi sekolah.
bahwa terdapat pengaruh yang positif dan Komitmen secara mandiri perlu dibangun
signifikan antara komitmen guru terhadap mutu oleh guru dengan cara guru selalu menyadari akan
kinerja mengajar guru. Besarnya pengaruh tugas dan tanggung jawabnya yang besar sebagai
komitmen guru terhadap mutu kinerja mengajar guru, selalu ingat bahwa pekerjaannya merupakan
guru adalah 70,8%, sisanya sebesar 29,2% tugas mulia dan pengabdian yang luhur. Langkah-
dipengaruhi oleh variabel lain. Selanjutnya, langkah kepala sekolah dalam meningkatkan
perhitungan analisis regresi menunjukkan bahwa komitmen guru diantaranya melalui cara: (1)
setiap penambahan satu poin komitmen guru, maka mengirim guru untuk mengikuti seminar dan
mutu kinerja mengajar guru akan mengalami pelatihan, (2) mendatangkan narasumber atau
peningkatan sebesar 0.825 poin. Hal ini berarti pakar ke sekolah, (3) mendukung setiap kegiatan
bahwa semakin tinggi komitmen guru maka mutu guru yang berhubungan dengan kemajuan
kinerja mengajar guru akan semakin meningkat. program pengajaran, (4) memberikan penghargaan
Dengan demikian, komitmen guru merupakan kerja sesuai prestasi, dan (5) mendorong
salah satu faktor yang memberikan pengaruh pengembangan profesi. Sedangkan, upaya
terhadap mutu kinerja mengajar guru. organisasi sekolah dalam membangun komitmen
Komitmen guru berpengaruh terhadap mutu guru yaitu: (1) memperhatikan kesejahteraan guru,
kinerja mengajar guru hal ini disebabkan karena (2) menyediakan sarana dan prasarana
ketika guru memiliki komitmen tinggi yaitu pembelajaran yang memadai, (3) menciptakan
semangat, keinginan, keyakinan, dedikasi, dan iklim kerja yang kondusif, (4) melibatkan guru
loyalitas yang kuat untuk memberikan usaha dan dalam aktivitas-aktivitas keorganisasian, sehingga
energinya terhadap tugasnya mengajar maka mutu guru merasa diterima sebagai anggota organisasi.
kinerjanya dalam mengajar pun akan meningkat. Menurut Mart (2013b), guru dengan tingkat
Hasil penelitian ini sesuai dengan pernyataan Fink komitmen yang tinggi bekerja lebih keras, terikat
(1992), bahwa kinerja karyawan sangat secara emosional dengan sekolah mereka, dan
dipengaruhi tingkat komitmen yang dimiliki oleh membuat lebih banyak usaha untuk melaksanakan
karyawan yang bersangkutan. Tingkat komitmen tujuan pengajaran. Seiring dengan tingginya
guru yang tinggi akan menghasilkan kinerja yang tingkat komitmen tersebut maka mutu kinerja
tinggi pula. Hal ini selaras dengan pendapat mengajar yang dilaksanakan guru pun akan
Thapan (dalam Mart, 2013a), komitmen untuk meningkat.
mengajar berkontribusi pada perilaku, sikap, Analisis Pengaruh Kepemimpinan
persepsi, dan kinerja guru. Instruksional Kepala Sekolah terhadap Mutu
Kinerja Mengajar Guru

83
Jurnal Administrasi Pendidikan Vol.XXIII No.2 Tahun 2016

Hasil pengujian hipotesis menunjukkan 260), guru dengan kinerja yang baik serta
bahwa terdapat pengaruh yang positif dan profesional dalam implementasi kurikulum
signifikan antara kepemimpinan instruksional memiliki ciri-ciri: mendesain program
kepala sekolah dan komitmen guru terhadap mutu pembelajaran, melaksanakan pembelajaran dan
kinerja mengajar guru. Besarnya pengaruh menilai hasil belajar peserta didik. Oleh karena
kepemimpinan instruksional kepala sekolah dan program kepemimpinan instruksional relevan
komitmen guru terhadap mutu kinerja mengajar dengan kebutuhan tugas guru, maka tidak dapat
guru adalah 79%, sisanya sebesar 21% dipengaruhi dipungkiri lagi kepemimpinan instruksional
oleh variabel lain. memiliki pengaruh besar terhadap mutu kinerja
Selanjutnya, melalui perhitungan analisis mengajar guru.
regresi disimpulkan bahwa setiap penambahan satu Disisi lain, seorang guru yang memiliki
poin kepemimpinan instruksional kepala sekolah komitmen dalam menjalankan tugas tentunya akan
dan komitmen guru, maka mutu kinerja mengajar selalu mencari cara untuk memperbaiki dan
guru akan mengalami peningkatan sebesar 0,401 menyempurnakan mutu kinerja mengajarnya.
dan 0, 541 poin. Hal ini berarti bahwa semakin baik Menurut Kurniasih (2013), dengan komitmen yang
kepemimpinan instruksional kepala sekolah maka tinggi maka kualitas layanan pembelajaran yang
mutu kinerja mengajar guru akan semakin merupakan tugas pokok dan fungsi sebagai seorang
meningkat. Dengan demikian, kepemimpinan guru akan tercapai dengan maksimal. Komitmen
instruksional kepala sekolah merupakan salah satu yang tinggi ditandai dengan melaksanakan
faktor yang memberikan pengaruh terhadap mutu pekerjaan secara serius, antusias, dan sungguh-
kinerja mengajar guru. sungguh. Sebagai seorang pendidik yang memiliki
Pengaruh yang besar kepemimpinan tugas memberi layanan belajar kepada siswa, maka
instruksional kepala sekolah dan komitmen guru komitmen tersebut harus selalu dijaga dan
mengisyaratkan bahwa kedua variabel tersebut ditingkatkan agar mutu kinerja mengajar yang
berperan sangat penting dalam menentukan mutu dihasilkan dapat optimal.
kinerja mengajar guru. Hal ini disebabkan karena Tujuan utama dari persekolahan adalah
kepemimpinan instruksional kepala sekolah dan pembelajaran siswa.Apa yang mereka pelajari
komitmen guru mencurahkan waktu dan tergantung pada kinerja guru, yang merupakan
perhatiannya pada pelaksanaan kurikulum dan produk dari berbagai faktor, seperti komitmen
pengembangan guru. guru, pengembangan profesional, lingkungan
Kepemimpinan instruksional kepala sekolah sekolah, budaya yang berlaku, inovasi guru dan
melakukan pendampingan bagi guru mulai dari lain sebagainya (Enueme & Egwunyenga, 2008).
merencanakan pembelajaran, mengelola proses Sheppard (dalam Enueme & Egwunyenga, 2008)
pembelajaran, sampai pada mengevaluasi menambahkan bahwa yang paling berpengaruh
pembelajaran. Dimana, kegiatan tersebut dalam meningkatkan profesional guru adalah
merupakan tugas pokok pengajaran yang wajib perilaku kepemimpinan instruksional baik pada
dikuasai guru. Seperti yang disampaikan oleh tingkat sekolah dasar maupun sekolah tinggi.
Basyirudin dan Usman (dalam Supardi, 2013, hlm.

84
Jurnal Administrasi Pendidikan Vol.XXIII No.2 Tahun 2016

Sebagai upaya meraih mutu pendidikan, menerus memperbarui guru dalam rangka untuk
maka semua unsur sekolah terutama kepala menanamkan pengetahuan yang benar kepada
sekolah dan guru melalui semangat dan komitmen siswa. Dari seluruh uraian di atas, maka dapat
yang tinggi perlu saling bekerja sama dan disimpulkan bahwa kepemimpinan instruksional
berkemitraan untuk meningkatkan mutu kinerja kepala sekolah dan komitmen guru secara
guru. Guru harus terlibat dalam beberapa program bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap
pengembangan yang dilakukan oleh kepala sekolah mutu kinerja mengajar guru.
selaku pemimpin instruksional secara terus-

SIMPULAN DAN SARAN

SIMPULAN mengajar guru salah satunya ditentukan oleh


Berdasarkan pada rumusan masalah, tujuan kepemimpinan instruksional kepala sekolah.
penelitian, hasil penelitian dan pembahasan, maka Dengan demikian, semakin baik kepemimpinan
dapat ditarik kesimpulan penelitian ini adalah instruksional kepala sekolah maka mutu kinerja
sebagai berikut: mengajar guru akan semakin tinggi.
Mutu kinerja mengajar guru SMP Negeri di Komitmen guru berpengaruh secara positif
Kota Sukabumi yang diukur melalui dimensi dan signifikan terhadap mutu kinerja mengajar
reliabilitas (reliability), daya tanggap guru SMP Negeri di Kota Sukabumi.Hal ini
(responsiveness), jaminan (assurance), empati mengindikasikan mutu kinerja mengajar guru salah
(empathy), dan bukti fisik (tangibles) berada pada satunya ditentukan oleh komitmen guru. Dengan
kategori tinggi. demikian, semakin tinggi komitmen guru maka
Kepemimpinan instruksional kepala sekolah mutu kinerja mengajar guru akan semakin baik.
SMP Negeri di Kota Sukabumi yang diukur Kepemimpinan instruksional kepala sekolah
melalui dimensi peningkatan secara berkelanjutan, dan komitmen guru berpengaruh secara positif dan
kultur pembelajaran, penilaian hasil belajar, signifikan terhadap mutu kinerja mengajar guru
pengembangan profesionalisme guru, manajemen SMP Negeri di Kota Sukabumi.Hal ini
sekolah, etika, dan perbedaan berada pada kategori mengindikasikan mutu kinerja mengajar guru
tinggi. ditentukan oleh kepemimpinan instruksional
Komitmen guru SMP Negeri di Kota kepala sekolah dan komitmen guru secara
Sukabumi yang diukur melalui dimensi komitmen bersama-sama. Dengan demikian, semakin baik
guru terhadap: sekolah atau organisasi, siswa, kepemimpinan instruksional kepala sekolah dan
kelanjutan karier, pengetahuan dasar profesional, komitmen guru maka mutu kinerja mengajar guru
dan profesi mengajar berada pada kategori sangat akan semakin baik
tinggi.
Kepemimpinan instruksional kepala sekolah SARAN
berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap Berdasarkan penelitian tentang pengaruh
mutu kinerja mengajar guru SMP Negeri di Kota kepemimpinan instruksionalkepala sekolah dan
Sukabumi. Hal ini mengindikasikan mutu kinerja komitmen guru terhadap mutu kinerja mengajar

85
Jurnal Administrasi Pendidikan Vol.XXIII No.2 Tahun 2016

guru SMP Negeri di Kota Sukabumi, maka dapat kepedulian guru terhadap siswa yang
dikemukakan beberapa rekomendasi sebagai dibimbing, (3) guru senantiasa menyediakan
berikut: kesempatan bagi siswa untuk
1. Pada variabel kepemimpinan instruksional mengkonsultasikan kesulitan, keluhan, dan
kepala sekolah, dimensi penilaian hasil belajar harapan mereka, baik ketika berada di kelas
merupakan dimensi yang memperoleh skor maupun diluar kelas. Keterlibatan guru dengan
terendah. Untuk itu, dimensi penilaian hasil kondisi yang dihadapi siswa dapat
belajar perlu mendapat perhatian khusus dari menumbuhkan keinginan guru untuk membantu
kepala sekolah dengan upaya antara lain: (1) mengatasi persoalan mereka, (4) kepala sekolah
kepala sekolah sebagai pemimpin instruksional turut membangun komitmen guru terhadap
seyogyanya memiliki pengetahuan dan siswa diantaranya menjalin hubungan baik,
keterampilan yang terkait dengan penilaian bekerjasama dan bermusyawarah dengan guru
hasil belajar siswa, (2) membekali guru dalam menyelesaikan berbagai masalah yang
pengetahuan dan kecakapan tentang penilaian berhubungan dengan siswa, (5) kepala sekolah
hasil belajar mulai dari konsep pemilihan teknik menerapkan sistem reward dan punishment
dan bentuk penilaian, penyusunan instrumen, sehubungan dengan loyalitas dan tanggung
penentuan metode penskoran, sampai jawab guru terhadap siswa.
penyusunan laporan hasil belajar siswa, (3) 3. Pada variabel mutu kinerja mengajar guru,
melihat secara langsung kegiatan guru dalam dimensi reliabilitas (reliability) merupakan
melaksanakan penilaian dan evaluasi hasil dimensi yang memperoleh skor terendah.
belajar siswa (observasi kelas), (4) Reliabilitas atau keandalan guru dalam
mengenalkan informasi baru terkait penilaian mengajar perlu dipertahankan dan ditingkatkan
hasil belajar melalui sosialisasi dan rapat-rapat dengan upaya antara lain: (1) guru senantiasa
pembinaan guru, dan (5) memfasilitasi guru meningkatkan kualitas, profesionalisme, dan
dalam kegiatan MGMP, diklat, seminar, dan kompetensi pada bidang yang diajarkan
workshop mengenai penilaian hasil belajar. sehingga dapat menyajikan pembelajaran yang
2. Pada variabel komitmen guru, dimensi akurat dan terpercaya, (2) guru selalu tepat
komitmen terhadap siswa merupakan dimensi waktu dalam memulai dan mengakhiri
yang memperoleh skor terendah. Komitmen pelajaran, sesuai dengan jadwal yang telah
guru terhadap siswa perlu terus dipelihara dan disepakati, serta menggunakan waktu secara
ditingkatkan melalui penguatan komitmen efisien, (3) guru yang berprestasi harus diberi
dengan cara antara lain: (1) guru menjalin pengakuan dan penghargaan agar motivasi dan
kebersamaan dengan siswa dalam hubungan semangat kerjanya meningkat, (4) guru perlu
yang akrab, saling menghargai, dan saling memahami bahwa kinerjanya adalah melayani
percaya. Kedekatan hubungan ini dapat siswa dalam proses pembelajaran. Pelayanan
menimbulkan keterikatan antara guru dengan yang diberikan hendaknya bermutu sehingga
siswa, (2) guru perlu mengenal dan memahami dapat memenuhi kebutuhan dan harapan siswa,
karakter siswa, sehingga akan memunculkan (5) kepala sekolah, guru, dan pegawai sekolah

86
Jurnal Administrasi Pendidikan Vol.XXIII No.2 Tahun 2016

lainnya wajib mendapatkan pendidikan tentang perbaikan mutu pendidikan melalui upaya
Service Quality (mutu layanan), khususnya meningkatkan mutu kinerja mengajar guru,
untuk peningkatan kualitas layanan dalam diharapkan memiliki perencanaan program
proses pembelajaran. yang jelas dan disosialisasikan serta setiap
4. Kepada para peneliti selanjutnya disarankan: program diharapkan ada tindak lanjutnya secara
(1) untuk mengadakan penelitian terkait nyata, agar tujuan yang direncanakan dapat
masalah mutu kinerja mengajar guru dengan tercapai.
menggunakan pendekatan kualitatif, sehingga 6. Untuk mendapatkan hasil penelitian yang
akan dapat digali lebih mendalam hal-hal yang objektif, maka penelitian harus menekankan
berkaitan dengan variabel tersebut, (2) untuk aspek kejujuran. Diharapkan dari sisi peneliti
melakukan penelitian yang serupa (kuantitatif) maupun responden dapat memberikan
ditinjau dari faktor-faktor lain selain variabel informasi atau data yang sesuai dengan keadaan
yang dikaji pada penelitian ini. yang sebenarnya.
5. Kepada para pembuat kebijakan pendidikan di
pemerintahan untuk mewujudkan misi

DAFTAR PUSTAKA

Armstrong, M. (2003).Managing people: A


practical guide for line managers, atau Fresko, B., Kfir, D., & Nasser, F. (2007).Predicting
mengelola karyawan: buku wajib bagi teacher commitment.Teaching and Teacher
manajer lini. Terjemahan Ramelan dan Dwi Education, 13 (4), hlm.429-438.
Prabaningtyas. Cetakan ke-1. Jakarta:
Gramedia. Graham, K.C. (1996). Running ahead enhancing
teacher commitment.Journal of Physical
Crosswell, L. (2006). Understanding teacher Education, Recreation and Dance, 67 (1),
commitment in times of hlm.45-47.
change.(Thesis).Faculty of Education
Queensland University of Technology. Hargreaves, A., Earl, L., Moore, S., & Manning, S.
(2001). Learning to change: teaching beyond
Daryanto.(2011). Kepala sekolah sebagai subjects and standards. San Fransisco:
pemimpin pembelajaran.Cetakan ke-1. Jossey-Bass.
Yogyakarta: Gava Media.
Hasibuan, J.J. & Moedjiono.(2006). Proses
Emmanouil, K., Osia, A. & Ioana, L.P. (2014).The Belajar Mengajar.Cetakan ke-4. Bandung:
impact of leadership on teachers’ Remadja Karya.
effectiveness.International Journal of
Humanities and social Science, 4 (7), Kotler, P. (1999). Manajemen pemasaran di
hlm.34-39. Indonesia.Edisi 1. Jakarta: Salemba Empat.

Enueme, C.P. & Egwunyenga, E.J. (2008). Kurniasih, I. (2013).Pengaruh komitmen guru dan
Principals’ Instructional leadership roles and implementasi kebijakan standarproses
effect on teachers’ job performance: A case terhadap kualitas layanan pembelajaran.
study of secondary schools in Asaba Jurnal Pasca MPD, 4 (1), hlm.1-14.
Metropolis, Delta State, Nigeria. Journal
Social Science, 16 (1), hlm.13-17. Lingard, B., Hayes, D., Mills, M., & Christie, P.
(2003). Leading learning. Philadelphia:
Fink, S.L. (1992). High commitment workplaces. Open University Press.
New York: Quorum Books.

87
Jurnal Administrasi Pendidikan Vol.XXIII No.2 Tahun 2016

Mart, C.T. (2013a). A passionate teacher: Teacher


commitment and dedication to student Supardi.(2013). Kinerja guru.Cetakan ke-1,
learning.International Journal of Academic Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Research in Progressive Education and
Development, 2 (1), hlm.437-442. Syamsi.(2008). Pengaruh kualitas pelayanan jasa
terhadap kepuasan konsumen pada siswa
Mart, C.T. (2013b).Commitment to school and bimbingan dan konsultasi belajar Al Qolam
student.International Journal of Academic Bandarlampung.Jurnal Ekonomi &
Research in Business and Social Sciences, 3 Pendidikan, 5 (1), hlm.18-36.
(1), hlm.336-340.
Thien, L.M., Razak, N.A. & Ramayah, T.
Noordin, F., Jussof, K., Hamali, J.Hj. & Harun, (2014).Validating teacher commitment scale
M.H.M. (2008).The commitments of using a Malaysian Sample.Sage, hlm.1-9.
academic staff and career in Malaysian
Universities.Asian Social Science, 4 (9), Tjiptono, F. (2012).Service management
hlm.3-11. mewujudkan layanan prima.
Yogyakarta:ANDI.
Ohi, S. (2007).Teacher professional knowledge
and the teaching of reading in the early Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14
years.Australian Journal of Teacher tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.
Education, 32 (2), hlm.57-70.
Usman, H. & Raharjo, N.E. (2013). Strategi
Park, I. (2005). Teacher commitment and its effects kepemimpinan pembelajaran menyongsong
on student achievement in American high implementasi kurikulum 2013. Jurnal
schools. Educational Research and Cakrawala Pendidikan, Th. XXXII (1), hlm.
Evaluation: An International Journal on 1-13.
Theory and Practice, 11 (5), hlm. 461-485.
Usman, H. (2014). Manajemen: Teori, praktik, dan
Peraturan Daerah Kota Sukabumi Nomor 5 Tahun riset pendidikan. Cetakan ke-2. Jakarta:
2013 tentang Rencana Pembangunan Jangka Bumi Aksara.
Menengah Daerah Kota Sukabumi Tahun
2013-2018. Usman, H. (2015). Model kepemimpinan
instruksional kepala sekolah. Jurnal
Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Cakrawala Pendidikan, Th. XXXIV (3),
Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi hlm. 322-333.
Nomor 16 tahun 2009 tentang jabatan
fungsional guru dan angka kreditnya. Usman, U. & Setiawati, L. (1993).Upaya
optimalisasi kegiatan belajar
Sa’ud, U.S. (2013). Pengembangan profesi mengajar.Cetakan ke-1. Bandung: Remaja
guru.Cetakan ke-6. Bandung: Alfabeta. Rosdakarya.

Slameto.(1995). Belajar dan faktor-faktor yang Wahjosumidjo.(2010). Kepemimpinan kepala


memengaruhinya.Cetakan ke-3. Jakarta: sekolah tinjauan teoretik dan
Rineka Cipta. permasalahannya.Cetakan ke-7. Jakarta:
RajaGrafindo Persada.
Suhardan, D. (2010). Supervisi profesional:
layanan dalam meningkatkan mutu Wibowo.(2014). Manajemen kinerja.Cetakan ke-
pembelajaran di era otonomi daerah. 4. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Bandung: Alfabeta.
Zeithaml, V.A., Bitner, M.J. & Gremler, DD.
Sulthon. (2013). Peningkatan kualitas (2006). Services marketing: integrating
pembelajaran melalui pendekatan customer focus the firm.Singapore:
konstruktivisme dalam pendidikan bagi McGraw-Hill.
anak usia dini. Jurnal ThufulA, 1 (1),
hlm.135-152.

88

Anda mungkin juga menyukai