Anda di halaman 1dari 4

SKENARIO IPE PROFESI

Tujuan pembelajaran
Pada akhir unit pembelajaran ini, mahasiswa diharapkan dapat :
1. Menjelaskan tentang peran dan tanggung jawab masing-masing tenaga kesehatan
2. Menjelaskan tentang kolaborasi dan kerjasama antar tenaga kesehatan
3. Menjelaskan tentang komunikasi efektif dan terapetik
4. Menjelaskan kompetensi masing-masing tenaga kesehatan
Topik
1. Peran masing-masing tenaga kesehatan
2. Kolaborasi dan kerjasama tenaga kesehatan
3. Komunikasi
4. Kompetensi

Peran dan Kewenangan Masing-Masing Tenaga Kesehatan


Pada Pasien Dewasa dengan Anafilaktik

Ny. Sinta, 50 tahun datang ke rumah sakit dengan keluhan utama nyeri dada di sisi kanan. Dia baru
saja datang dari luar negeri dengan penerbangan lebih dari 12 jam. Ny. Sinta mempunyai riwayat
hipertensi, sakit jantung dan diabetes melitus tipe 2 sejak 5 tahun terakhir. Selama ini ny. Sinta
meminum obat ramipril, amlodipin, metoprolol, metformin dan rosuvastatin. Ny. Sinta mempunyai
riwayat alergi terhadap seafood khususya kerang dan saat ini pasien telah menggunakan gelang
alergi dan terpasang infus. Ny. Sinta dirawat oleh dr. Joko. Dr. Joko merencanakan pemeriksaan
penunjang berupa lab dan CT-PA (CT- Pulmonary Angiography) untuk memperoleh gambaran jelas
pada arteri pulmonalis ny. Sinta. CT- PA sudah dilakukan dan selesai 10 menit yang lalu. Tiba- tiba
Ny. Sinta merasakan sesak nafas dan nafas bunyi saat menghembuskan nafas disertai pruritus dan
urtikaria di daerah abdomen. Hal ini telah dilaporkan pada dr. Joko dan diberikan terapi oksigen
10L/menit melalui masker tetapi masker sering lepas karena ny. Sinta menjadi gelisah. Dilakukan
pengukuran tanda vital dan didapatkan tekanan darah 110/70 mmHg, frekuensi napas 32x/ menit,
nadi 90x/menit, dan suhu 37,7 derajat Celcius dan saturasi oksigen 94%. Dr. Joko menanyakan
beberapa hal pada ny. Sinta meskipun sedang gelisah, ny. Sinta dapat menjawab pertanyaan dr. Joko
dengan jelas. Wajah memerah, urtikaria melebar hingga ke ekstremitas atas dan bawah, gatal dan
nafas cepat. Pada pemeriksaan auskultasi didapatkan ronki dan wheezing, EKG didapatkan sinus
takikardia. Dr. joko membuat planning yaitu posisi trandelenburg, pemeriksan BGA, pemberian
oksigen, pemberian cairan. Tampak dimonitor frekuensi nadi meningkat hingga 150x/menit, tekanan
darah 80/60 mmHg, frekuensi nafas 26 dan saturasi oksigen turun hingga 90%. Dr. Joko meminta
untuk memberikan epinefriin IM. Ny. Sinta mengeluh bibirnya bengkak dan gatal diseluruh tubuh. 5
menit setelah pemberian epinefrin, tekanan darah masih rendah, masih ada sesak napas, bibir masih
bengkak, tetapi tanda vital berangsur membaik.
CT-PA (CT- Pulmonary Angiography)  tes diagnostik khusus yang
digunakan terutama untuk mencari keberadaan emboli paru.

Angiografi adalah prosedur pemeriksaan dengan menggunakan sinar-


X (Rontgen) untuk melihat pembuluh darah arteri dan vena. Angiografi
membantu dokter dalam menentukan gangguan dan tingkat kerusakan
pembuluh darah. Pemeriksaan umumnya dilakukan pada pasien yang
mengalami penyumbatan pembuluh darah seperti penyakit jantung koroner.
Dalam prosedur angiografi, dokter menyuntikkan zat pewarna (kontras) ke pembuluh
darah. Dengan zat ini, aliran darah bisa terlihat dengan jelas oleh foto Rontgen.
Hasil pencitraan angiografi akan cetak dalam bentuk foto Rontgen dan disimpan
dalam file komputer.

Berdasarkan daerah pembuluh darah yang diperiksa, angiografi dibagi menjadi


beberapa jenis, yaitu:

 Coronary angiography, untuk memeriksa pembuluh darah koroner di


jantung.
 Cerebral angiography, untuk memeriksa pembuluh darah di otak.
 Renal angiography, untuk memeriksa pembuluh darah di ginjal.
 Pulmonary angiography, untuk memeriksa pembuluh darah di paru-paru.
 Fluorescein angiography, untuk memeriksa pembuluh darah di mata.
 Extremity angiography, untuk memeriksa pembuluh darah di lengan dan
tungkai.

Selain menggunakaan teknik foto Rontgen, angiografi juga menerapkan teknik


pemindaian melalui computerised tomography (CT) angiography atau magnetic
resonance (MR) angiography.

Indikasi Angiografi
Dokter akan meganjurkan prosedur angiografi bagi pasien yang mengalami:

 Pecah pembuluh darah yang menyebakan perdarahan organ dalam.


 Perubahan kondisi pembuluh darah yang disebabkan oleh cedera atau
kerusakan organ.
 Tumor.
 Aterosklerosis, yaitu penyempitan dan pengerasan pembuluh darah arteri
yang dapat terjadi di otak (stroke), jantung (penyakit jantung koroner), atau
tungkai dan lengan (penyakit arteri perifer).
 Aneurisma atau pembesaran pembuluh darah pada satu area tubuh, seperti
otak atau pembuluh darah pesar aorta.
 Emboli paru atau penyumbatan pembuluh darah arteri yang menyuplai darah
ke paru-paru.
 Hambatan pasokan darah ke ginjal.
Peringatan Angiografi
Berkonsultasi terlebih dahulu kepada dokter bila memiliki kondisi seperti di bawah
ini:

 Wanita hamil atau sedang merencanakan kehamilan.


 Ibu menyusui.
 Memiliki riwayat alergi, terutama alergi terhadap kontras.
 Mengalami gangguan pembekuan atau sedang mengonsumsi obat
pengencer darah.
 Menderita diabetes dan penyakit ginjal.

Sebelum Angiografi
Hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum tindakan angiografi adalah:

 Tidak diperbolehkan untuk makan dan minum selama 4-8 jam sebelum
prosedur angiografi dimulai.
 Bagi penderita diabetes akan dilakukan penyesuaian dosis obat minum
maupun insulin sebelum dilakukan tindakan.
 Menghentikan obat-obatan pengencer darah, seperti aspirin atau warfarin
beberapa hari sebelumnya.

Prosedur Angiografi
Prosedur angiografi berlangsung sekitar 30-180 menit. Pasien diminta berbaring
dengan tenang selama prosedur berlangsung dan menjalani angiografi dalam
keadaan sadar. Namun, dokter akan memberikan bius lokal untuk mengurangi rasa
sakit. Bius lokal dilakukan pada tempat tusukan kateter ke pembuluh darah.
Setelah kateter masuk, zat kontras akan disuntikkan melalui kateter dan mengalir di
pembuluh darah. Pasien akan merasakan sensasi hangat atau sedikit terbakar
karena penyuntikan ini. Dengan menggunakan sinar-X, zat pewarna yang mengalir
di pembuluh darah akan muncul pada layar monitor, yang nantinya akan dicetak.
Melalui teknik ini, masalah di pembuluh darah bisa segera diketahui, seperti
penyempitan atau penyumbatan. Bila diperlukan, akan dilakukan tindakan
memasang balon untuk mengembangkan pembuluh darah (angioplasti).
Setelah tindakan selesai dilakukan, dokter akan menutup luka bekas tusukan kateter
dengan perban yang cukup tebal dan ketat untuk memberikan efek penekanan,
sehingga mengurangi risiko perdarahan.

Setelah Angiografi
Pasien akan diistirahatkan di ruang pemulihan selama beberapa jam untuk
mencegah perdarahan. Pasien disarankan untuk beristirahat di rumah sakit selama
satu hari setelah menjalani angiografi. Bila diperbolehkan pulang setelah tindakan,
mintalah keluarga atau kerabat terdekat untuk menemani, setidaknya selama satu
hari penuh.
Pada hari berikutnya, pasien diperbolehkan untuk menjalani aktivitas seperti biasa.
Namun selama beberapa hari ke depan, hindari kegiatan berat seperti berolahraga
yang terlalu keras atau mengangkat beban. Cukupi asupan makanan dan banyak
minum air putih untuk mempercepat pembuangan zat kontras melalui urine.

Efek Samping dan Komplikasi Angiografi


Angiografi tergolong prosedur yang aman. Hanya menyebabkan efek samping kecil
berupa nyeri, rasa tidak nyaman, dan memar karena tusukan kateter. Efek samping
akan mereda dalam hitungan hari.
Efek samping serius, namun jarang terjadi, dapat berupa:

 Kerusakan ginjal karena penyuntikan zat pewarna kontras.


 Infeksi.
 Kerusakan pembuluh darah dan perdarahan organ dalam.
 Reaksi alergi zat kontras dengan gejala ruam kulit, gatal, demam, pusing,
hingga sulit bernapas dan hilang kesadaran.
 Stroke dan serangan jantung.