Anda di halaman 1dari 47

MINI PROJECT

GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG PNEUMONIA


PADA BALITA DI DESA RAMIN WILAYAH KERJA PUSKESMAS
RAWAT- INAP MUARA KUMPEH KABUPATEN MUARO JAMBI
PERIODE OKTOBER 2017 – JANUARI 2020

Disusun Oleh:

dr. Novi Ertrianty

Pendamping:

dr. Yuliani

PROGRAM DOKTER INTERNSIP


PPSDM KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA DAN
KOMITE INTERNSIP DOKTER INDONESIA
PUSKESMAS RAWAT-INAP MUARA KUMPEH
MUARO JAMBI
2020

1
HALAMAN PENGESAHAN

Mini Project

GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG PNEUMONIA


PADA BALITA DI DESA RAMIN WILAYAH KERJA PUSKESMAS
MUARO KUMPEH KABUPATEN MUARO JAMBI
PERIODE OKTOBER 2017 – JANUARI 2020

Disusun Oleh :

dr. Novi Ertrianty

Telah dilaksanakan pada Januari 2020 sebagai salah satu persyaratan


menyelesaikan Program Internsip Dokter Indonesia di Puskesmas Rawat-Inap
Muara Kumpeh

Jambi, Januari 2020

Pembimbing

dr. Yuliani

2
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT atas berkat rahmat
dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Mini Project
dalam rangka melaksanakan Program Dokter Internsip di Puskesmas Muara
Kumpeh , Muaro Jambi yang dilaksanakan pada bulan Januari 2020.
Laporan ini merupakan hasil dari kegiatan selama menjalani Program
Dokter Internsip di Puskesmas Muara Kumpeh. Laporan ini berjudul “Gambaran
Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Pneumonia pada balita di Desa Ramin
Wilayah Kerja Puskesmas Rawat-Inap Muara Kumpeh Kabupaten Muaro
Jambi”.
Dalam penulisan laporan ini, penulisan menyadari masih banyak
kesalahan dan kekurangan, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran
yang sifatnya membangun untuk kesempatan laporan ini. Demikianlah laporan ini
semoga bermanfaat bagi kita semua.

Jambi, Januari 2020

Penulis

3
DAFTAR ISI

Halaman

LEMBAR PENGESAHAN......................................................................... i
KATA PENGANTAR................................................................................. ii
DAFTAR ISI................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN.............................................................................6
1.1 Latar Belakang..........................................................................................6
1.2 Rumusan Masalah.....................................................................................7
1.3 Tujuan Penelitian......................................................................................7
1.4 Manfaat Penelitian....................................................................................8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA...................................................................9
2.1 Pengetahuan...............................................................................................9
2.1.1 Definisi Pengetahuan.......................................................................9
2.1.2 Tingkatan Pengetahuan..................................................................10
2.1.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan...........................10
2.1.4 Pengukuran Pengetahua.................................................................11
2.2 Hipertensi………………………………………………………….........11
2.2.1 Definisi…………………………………………….......................11
2.2.2 Etiologi...........................................................................................11
2.2.3 Faktor Resiko.................................................................................13
2.2.4 Patofisiologi ..................................................................................17
2.2.5 Manifestasi.....................................................................................17
2.2.6 Klasifikasi dan Diagnosis………………………………………..18
2.2.6.1 Klasifikasi..........................................................................18
2.2.6.2 Diagnosis ..................................................................19
2.2.7 Pemeriksaan Penunjang…..……………...................................20
2.2.8 Penatalaksanaan…………………………......................……….21
2.2.8.1 Rawat Jalan ......................................................................23
2.2.8.2 Rawat Inap........................................................................23

4
BAB III METODE PENELITIAN...........................................................25
3.1 Jenis Penelitian......................................................................................25
3.2 Populasi dan Sampel..............................................................................25
3.3 Tempat dan Waktu Penelitian................................................................25
3.4 Kerangka Konsep Penelitian..................................................................25
3.5 Definisi Operasional..............................................................................25
3.6 Pengumpulan Data.................................................................................26
3.7 Instrumen Penelitian..............................................................................26
3.8 Teknik Penelitian...................................................................................26
3.9 Pengolahan Data dan Analisis Data......................................................27
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN...................................................28
4.1 Gambaran Umum Puskesmas Putri Ayu...............................................28
4.2 Hasil Analisis Penelitian........................................................................35
4.2.1 Tabel dan Diagram Distribusi Pengetahuan.......................................35
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN.....................................................42
5.1 Kesimpulan............................................................................................42
5.2 Saran......................................................................................................42
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DOKUMENTASI

BAB I

5
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Dewasa ini masyarakat sudah tidak asing lagi dengan penyakit hipertensi.
Hipertensi merupakan salah satu penyakit yang umum dijumpai dimasyarakat.
Hipertensi merupakan penyebab kematian dan kesakitan yang tinggi. Hipertensi
sering diberi gelar The Silent Killer karena hipertensi merupakan pembunuh
tersembunyi yang penyebab awalnya tidak diketahui atau tanpa gejala sama
sekali, hipertensi bisa menyebabkan berbagai komplikasi terhadap beberapa
penyakit lain, bahkan penyebab timbulnya penyakit jantung, stroke dan ginjal.
Data WHO (2011) menunjukkan, di seluruh dunia, sekitar 972 juta orang atau
26,4 % penghuni bumi mengidap hipertensi. Angka ini kemungkinan akan
meningkat menjadi 29,2 % di tahun 2025. Dari 972 juta pengidap hipertensi, 333
juta berada di negara maju dan 639 sisanya berada di Negara berkembang,
termasuk Indonesia.1
Hipertensi merupakan penyebab kematian nomor 3 setelah stroke dan
tuberkulosis, yakni mencapai 6,7% dari populasi kematian pada semua umur di
Indonesia. Hipertensi merupakan gangguan sistem peredaran darah yang
menyebabkan kenaikan tekanan darah di atas normal. Hasil riset kesehatan dasar
(Riskesdas) Balitbangkes tahun 2007 menunjukkan prevalensi hipertensi secara
nasional mencapai 31,7% (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia). 1
Menurut WHO (2011), hipertensi membunuh hampir 8 juta orang setiap
tahun, dimana hampir 1,5 juta adalah penduduk wilayah Asia Tenggara.
Diperkirakan 1 dan 3 orang dewasa di Asia Tenggara menderita hipertensi.
Menurut data Departemen Kesehatan, hipertensi dan penyakit jantung lain
meliputi lebih dari sepertiga penyebab kematian, dimana hipertensi menjadi
penyebab kematian kedua setelah stroke. Berdasarkan data World Health
Organization (WHO) dari 70% penderita hipertensi yang di ketahui hanya 25%
yang mendapat pengobatan, dan hanya 12,5% yang diobati dengan baik
(adequately treated cases) diperkirakan sampai tahun 2025 tingkat terjadinya
tekanan darah tinggi akan bertambah 60%.1

6
Pada orang diatas 50 tahun, tekanan darah sistolik lebih besar dari 140
mmHg lebih berisiko terjadinya penyakit kardiovaskular bila dibandingkan
dengan tekanan darah diastolik, namun pada tahun 2008 terdapat sekitar 40%
orang dewasa diseluruh dunia berusia 25 tahun keatas didiagnosa mengalami
hipertensi. Angka kejadian hipertensi begitu meningkat, dari sekitar 600 juta jiwa
pada tahun 1980 menjadi 1 miliar jiwa pada tahun 2008. 1
Data Statistik terbaru menyatakan bahwa terdapat 24,7% penduduk Asia
Tenggara dan 23,3% penduduk Indonesia berusia 18 tahun ke atas mengalami
hipertensi pada tahun 2014. 1
Berdasarkan data dari rekapan kunjungan pasien Puskesmas Putri Ayu
pada tahun 2019, kasus hipertensi menduduki peringkat 1 dari 10 penyakit
terbanyak di Puskesmas Putri Ayu. Berdasarkan latar belakang diatas, maka
peneliti tertarik untuk melakukan penelitian terhadap penderita hipertensi dengan
judul “Gambaran Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Pneumonia pada balita di
Desa Ramin Wilayah Kerja Puskesmas Rawat-Inap Muara Kumpeh Kabupaten
Muaro Jambi tahun 2020”.

1.2. Rumusan Masalah


Dari latar belakang diatas, maka rumusan masalah yang penulis ambil
adalah bagaimana Gambaran Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Pneumonia pada
balita di Desa Ramin Wilayah Kerja Puskesmas Rawat-Inap Muara Kumpeh
Kabupaten Muaro Jambi tahun 2020.

1.3. Tujuan Penelitian


Untuk mengetahui Gambaran Gambaran Tingkat Pengetahuan Ibu
Tentang Pneumonia pada balita di Desa Ramin Wilayah Kerja Puskesmas Rawat-
Inap Muara Kumpeh Kabupaten Muaro Jambi tahun 2020.

7
1.4. Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti
a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengalaman bagi
penulis dalam meneliti secara langsung di lapangan.
b. Untuk memenuhi salah satu tugas peneliti dalam menjalani program
internsip dokter umum Indonesia.

2. Bagi Masyarakat
Hasil penelitian ini diharapkan agar masyarakat tahu dan mengerti tentang
penyakit pneumonia serta mampu melakukan pencegahan dengan
pengelolaan gaya hidup yang benar.

3. Bagi Tenaga Kesehatan


Hasil penelitian ini diharapkan menjadi masukan bagi Puskesmas Muara
Kumpeh agar dapat meningkatkan promotif dan preventif penyakit
hipertensi.

8
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengetahuan
2.1.1 Definisi Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini
terjadi setelah orang tersebut melakukan penginderaan terhadap suatu objek
tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia. Sebagian besar
pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan kognitif
adalah domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (over
behavior). Dari hasil pengalaman serta penelitian terbukti bahwa perilaku yang
didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak
didasari oleh pengetahuan. Penelitian yang dilakukan oleh Rogers (1974)
mengungkapkan bahwa sebelum seseorang mengadaptasi perilaku yang baru
didalam diri orang tersebut terjadi proses yang beruntun yaitu:
a. Awarenes (kesadaran), dimana orang tersebut menyadari dalam arti
mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (objek).
b. Interest (merasa tertarik) merasa tertarik terhadap stimulus atau objek tersebut
disini sikap subjek sudah mulai timbul.
c. Evaluation (menimbang-nimbang baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi
dirinya) hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi.
d. Trial, dimana subjek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan apa
yang dikehendaki oleh stimulus.
e. Adaption, dimana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan,
kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk
terbentuknya tindakan seseorang, karena dari pengalaman dan penelitian yang
didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak
didasari oleh pengetahuan.

9
2.1.2 Tingkatan Pengetahuan
Menurut Bloom (1987) dikutip oleh Notoatmodjo (2007), pengetahuan
yang dicakup didalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yaitu:
a. Tahu (Know) diartikan sebagai mengingat sesuatu materi yang telah
dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah
mengingat kembali (recall), terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh
bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.
b. Memahami (Comprehension) diartikan sebagai suatu kemampuan untuk
menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat
menginterprestasikan materi tersebut secara benar.
c. Aplikasi (Aplication) diartikan kemampuan untuk menggunakan materi
yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya).
d. Analisis (Analysis) merupakan suatu kemampuan untuk menjabarkan
materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih di
dalam satu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama
lain.
e. Sintesis (Syntesis) menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk
meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk
keseluruhan yang baru.
f. Evaluasi (evaluation) berkaitan dengan kemajuan untuk melakukan
justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek.
2.1.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2007), pengetahuan seseorang dapat dipengaruhi
oleh beberapa faktor, yaitu :
a. Pengalaman, dimana dapat diperoleh dari pengalaman diri sendiri atau orang
lain. Misalnya, jika seseorang pernah merawat seorang anggota keluarga yang
sakit hipertensi, umumnya menjadi lebih tahu tindakan yang harus dilakukan
jika terkena hipertensi.
b. Tingkat pendidikan, dimana pendidikan dapat membawa wawasan atau
pengetahuan seseorang. Secara umum, seseorang yang memiliki pengetahuan

10
yang tingi akan mempunyai pengalaman yang lebih luas dibandingkan dengan
seseorang yang tingkat pendidikannya lebih rendah.
c. Sumber informasi, keterpaparan seseorang terhadap informasi mempengaruhi
tingkat pengetahuaannya. Sumber informasi yang dapat mempengaruhi
pengetahuan seseorang, misalnya televisi, radio, koran, buku, majalah dan
internet.
2.1.4 Pengukuran Pengetahuan
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket
yang menyatakan tentang isi materi yang ingin diukur. Kedalaman pengetahuan
yang ingin kita ketahui dapat disesuaikan dengan tingkat domain diatas.

2.2. Pneumonia
2.2.1 Definisi
Pneumonia adalah inflamasi yang mengenai parenkim paru, yang meliputi
alveolus dan jaringan interstisial. Sebagian besar pneumonia disebabkan oleh
mikroorganisme (virus/bakteri) dan sebagian kecil disebabkan oleh hal lain seperti
aspirasi, radiasi, dll. Di negara berkembang, pneumonia pada anak terutama
disebabkan oleh bakteri. Bakteri yang sering menyebabkan pneumonia adalah
Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae, dan Staphylococcus
aureus.1,9

2.2.2 Etiologi
Usia pasien merupakan faktor yang memegang peranan penting pada
perbedaan dan kekhasan pneumonia anak, terutama dalam spektrum
etiologi, gambaran klinis dan strategi pengobatan. Spektrum mikroorganisme
penyebab pada neonatus dan bayi kecil (< 20 hari) meliputi Streptococcus grup
B dan bakteri gram negatif seperti E. Coli, Pseudomonas sp, atau Klebsiella sp,
yang dimana sumber infeksinya Sumber infeksi lain: Pasase transplasental,
aspirasi mekonium, dan CAP. Pada bayi yang lebih besar (3 minggu – 3 bulan)
dan anak balita (4 bulan – 5 tahun), pneumonia sering disebabkan oleh infeksi
Streptococcus Pneumoniae, Haemophillus Influenza type B, dan Staphylococcus

11
Aureus, sedangkan pada anak yang lebih besar dan remaja, selain bakteri tersebut,
sering juga ditemukan infeksi Mycoplasma pneumonia.9
Di negara maju, pneumonia pada anak terutama disebabkan oleh
virus,disamping bakteri, atau campuran bakteri dan virus. Virus yang terbanyak
ditemukan adalah Respiratory Syncytial virus (RSV), Rhinovirus dan virus
Parainfluenza.9
USIA ETIOLOGI YANG ETIOLOGI YANG JARANG
SERING

Bakteri Bakteri anaerob


E.coli Streptococcus group D
Streptococcus group B Haemophillus influenza
Lahir - 20 Listeria monocytogens Streptococcus pneumonia
hari
Ureaplasma urealyticum
Virus
Virus Sitomegalo
VirusHerpes Simpleks

Bakteri Bakteri
Chlamydia Trachomatis Bordatella Pertusis
Streptococcus Haemophillus Influenzae tipe
Pneumoniae B
Virus Moraxella Catharalis
3minggu-3
bulan Virus Adeno Staphylococcus Aureus
Virus Influenza Ureaplasma urealyticum
Virus Parainfluenza 1,2,3 Virus
Respiratory Syncytial Virus Sitomegalo
Virus
Bakteri Bakteri
4 bulan-5 Chlamydia Pneumoniae Haemophillus Influenzae tipe
B

12
bulan Mycoplasma Moraxella Catharalis
Pneumoniae
Streptococcus Neisseria Meningiditis
Pneumoniae
Virus Staphylococcus Aureus
Virus Adeno Virus
Virus Influenza Virus Varicella Zoster
Virus Parainfluenza
Virus Rino
Respiratory Syncitial
virus
Bakteri Bakteri
Chlamydia Pneumoniae Haemophillus Influenzae
Mycoplasma Legionella sp
Pneumoniae
Streptococcus Staphylococcus Aureus
Pneumoniae
Virus
5 tahun- Virus Adeno
remaja
Virus Epstein Barr
Virus Influenza
Virus Rino
Respiratory Syncitial Virus
Virus Varicella Zoster
Tabel 1.1 Etiologi Pneumonia pada anak sesuai dengan kelompok usia di negara
Maju.9

2.2.3 Faktor Risiko

Terdapat berbagai faktor risiko yang menyebabkan tingginya angka


mortalitas pneumonia pada anak balita di negara berkembang.9
Berikut adalah penjabaran hubungan 3 komponen yang terdapat dalam

13
model segitiga epidemiologi dengan faktor risiko terjadinya infeksi pneumonia
pada balita :
1. Faktor penyebab (agent) adalah penyebab dari penyakit pneumonia
yaitu berupa virus dan bakteri. Berdasarkan faktor penyebab (Agent) pneumonia
dibedakan menjadi 1) pneumonia bakterial/tipikal yaitu pneumonia yang dapat
terjadi pada semua usia, 2) pneumonia atipikal adalah pneumonia yang
disebabkan oleh mycoplasma, legionella dan chlamydia, 3) pneumonia virus
adalah pneumonia yang disebabkan oleh virus.3
2. Faktor Manusia (host) adalah manusia atau pasien. Faktor risiko dalam
hal ini adalah anak balita meliputi: Usia, jenis kelamin, berat badan lahir, riwayat
pemberian ASI, status gizi, riwayat pemberian vitamin A, riwayat imunisasi,
Pengetahuan Ibu.9
(Usia)
Usia merupakan salah satu factor risiko utama pada beberapa penyakit.
Hal ini disebabkan karena usia dapat memperlihatkan kondisi kesehatan
seseorang. Anak-anak yang berusia 0-24 bulan lebih rentan terhadap penyakit
pneumonia dibanding anak-anak yang berusia diatas 2 tahun. Hal ini disebabkan
oleh imunitas yang belum sempurna dan saluran pernapasan yang relative sempit.3
(Jenis Kelamin)
Dalam program pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut
(P2 ISPA) dijelaskan bahwa laki-laki adalah factor risiko yang mempengaruhi
kesakitan pneumonia.3
(Berat badan lahir)
Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) yaitu bayi yang lahir
dengan berat badan di bawah 2,5 kg. Bayi BBLR dikatakan rentan terkena
pneumonia sebab biasanya bayi dalam kondisi seperti ini memiliki daya tahan
tubuh yang sedikit lebih rentan. Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) mempunyai
resiko untuk meningkatnya ISPA, dan perawatan di rumah sakit penting untuk
mencegah BBLR.3

(Riwayat Pemberian Asi)


ASI eksklusif adalah memberikan ASI saja tanpa makanan dan minuman

14
lain kepada bayi sejak lahir sampai usia 6 bulan. Menyusui eksklusif adalah
memberikan hanya ASI segera setelah lahir sampai bayi berusia 6 bulan dan
memberikan kolostrum. Bayi dibawah usia enam bulan yang tidak diberi ASI
eksklusif 5 kali berisiko mengalami kematian akibat pneumonia disbanding bayi
yang mendapat ASI eksklusif untuk enam bulan pertama kehidupan.
(Status Gizi)
Status gizi adalah ekspresi dari keseimbangan dalam bentuk variabel-
variabel tertentu. Status gizi juga merupakan akibat dari keseimbangan antara
konsumsi dan penyerapan zat gizi dan penggunaan zat-zat gizi tersebut atau
keadaan fisiologik akibat dari tersedianya zat gizi dalam seluruh tubuh. Status gizi
balita merupakan salah satu indikator yang menggambarkan tingkat kesejahteraan
masyarakat. Balita dengan gizi yang kurang akan lebih mudah terserang ISPA
dibandingkan balita dengan gizi normal karena faktor daya tahan tubuh yang
kurang. Penyakit infeksi sendiri akan menyebabkan balita tidak mempunyai nafsu
makan dan mengakibatkan kekurangan gizi. Pada keadaan gizi kurang, balita
lebih mudah terserang ISPA berat bahkan serangannya lebih lama.
(Riwayat Pemberian Vitamin A)
Program pemberian vitamin A setiap 6 bulan untuk balita telah
dilaksanakan di Indonesia. Vitamin A bermanfaat untuk meningkatkan imunitas
dan melindungi saluran pernapasan dari infeksi kuman. Namun, tidak ada
perbedaan bermakna insidens dan beratnya pneumonia antara balita yang
mendapatkan vitamin A dan yang tidak, hanya waktu untuk sakit lebih lama pada
yang tidak mendapatkan vitamin A.
(Status Imunisasi)
Imunisasi yang berhubungan dengan kejadian penyakit pneumonia adalah
imunisasi pertusis (ada dalam DTP), campak, Hib (Haemophilus influenzae type
b), dan Pneumococcus (PVC). Imunisasi membantu mengurangi kematian anak
dari pneumonia dalam dua cara. Pertama,vaksinasi membantu mencegah anak-
anak dari infeksi yang berkembang langsung yang menyebabkan pneumonia,
misalnya Haemophilus influenza tipe b (Hib). Kedua, imunisasi dapat mencegah
infeksi yang dapat menyebabkan pneumonia sebagai komplikasi dari penyakit

15
(misalnya, campak dan pertusis).

(Pengetahuan Ibu)
Tingkat pendidikan ibu yang rendah juga merupakan faktor resiko yang
dapat meningkatkan angka kematian terutama pneumonia.Tingkat pendidikan ibu
akan berpengaruh terhadap tindakan perawatan oleh ibu kepada anak yang
menderita pneumonia. Jika pengetahuan ibu untuk mengatasi pneumonia tidak
tepat ketika bayi atau balita yang sedang mengalami pneumonia, akan mempunyai
resiko meninggal karena pneumonia sebesar 4,9 kali jika dibandingkan dengan
ibu yang mempunyai pengetahuan yang tepat.5
3.Faktor Lingkungan (environment) adalah yang dapat menjadi faktor
risiko terjadinya pneumonia pada balita meliputi kepadatan rumah, polusi udara,
cuaca, kelembaban.3
(Polusi Udara)
Pencemaran udara yang terjadi di dalam rumah umumnya disebabkan oleh
polusi di dalam dapur. Asap dari bahan bakar kayu merupakan faktor resiko
terhadap kejadian pneumonia pada balita. Penelitian menunjukan anak balita yang
tinggal di rumah dengan jenis bahan bakar yang digunakan adalah kayu memiliki
resiko terkena pneumonia sebesar 2,8 kali lebih besar dibandingkan anak balita
yang tinggal di rumah dengan jenis bahan bakar yang digunakan minyak/gas.
Polusi udara di dalam rumah juga dapat disebabkan oleh asap rokok, alat pemanas
ruangan dan juga akibat pembakaran yang tidak sempurna dari kendaraan
bermotor.
(Kepadatan Rumah)
Keadaan tempat tinggal yang padat dapat meningkatkan faktor polusi
dalam rumah yang telah ada. Penelitian menunjukkan anak balita yang tinggal di
rumah dengan tingkat hunian padat memiliki resiko terkena pneumonia sebesar
3,8 kali lebih besar dibandingkan anak balita yang tinggal di rumah dengan
tingkat hunian tidak padat. Tingkat kepadatan hunian yang tidak memenuhi syarat
disebabkan karena luas rumah yang tidak sebanding dengan jumlah keluarga yang
menempati rumah. Luas rumah yang sempit dengan jumlah anggota keluarga
yang banyak menyebabkan rasio penghuni dengan luas rumah tidak seimbang.

16
Kepadatan hunian ini memungkinkan bahteri maupun virus dapat menular melalui
pernapasan dari penghuni rumah yang satu ke penghuni rumah lainnya.
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 289/Menkes/s\SK/VII/1999
tentang persyaratan kesehatan perumahan, kepadatan penghuni dikategorikan
menjadi memenuhi standar (2 orang per 8m²) dan kepadatan tinggi yaitu lebih dari
2 orang per 8m²).

2.2.4 Patofisiologi

Umumnya mikroorganisme penyebab terhisap ke paru bagian perifer


melalui saluran respiratori. Mula-mula terjadi edemaakibat reaksi jaringan yang
mempermudah proliferasi dan penyebaran kuman ke jaringan sekitarnya. Bagian
paru yang terkena mengalami konsolidasi, yaitu terjadi serbukan sel PMN, Fibrin,
eritrosit, cairan edema, dan ditemukannya kuman di alveoli. Stadium ini disebut
stadium hepatisasi merah. Selanjutnya, deposisi fibrin semakin bertambah,
terdapat fibrin dan leukosit PMN di alveoli dan terjadi proses fagositosis yang
cepat. Stadium ini disebut stadium hepatisasi kelabu. Selanjutnya, jumlah
makrofag meningkat di alveoli, selakan mengalamidegenerasi, fibrin menipis,
kuman dan debris menghilang. Stadium ini disebut stadium resolusi. Sistem
bronkopulmoner jaringan paru yang tidak terkena akan tetap normal. Antibiotik
yang diberikan sedini mungkin dapat memotong perjalanan penyakit, sehingga
stadium khas yang telah diuraikan sebelumnya tidak akan terjadi.9

2.2.5 Manifestasi Klinis


Beberapa faktor yang mempengaruhi gambaran klinis pneumonia pada
anak adalah imaturitas anatomik dan imunologik, mikroorganisme penyebab yang
luas, gejala klinis yang kadang-kadang tidak khas terutama pada bayi, terbatasnya
penggunaan prosedur diagnostik invasif, etiologi non infeksi yang relatif lebih
sering, dan faktor patogenesis. Gambaran klinis pneumonia pada bayi dan anak
bergantung pada berat-ringannya infeksi, tetapi secara umum adalah sebagai
berikut:
a. Gejala infeksi umum, yaitu demam, sakit kepala, gelisah, malaise,
penurunan nafsu makan, keluhan Gastro Intestinal Tarcktus (GIT) seperti

17
mual, muntah atau diare, kadang-kadang ditemukan gejala infeksi
ekstrapulmoner.
b. Gejala gangguan respiratori, yaitu batuk, sesak napas, retraksi dada,
takipnea, napas cuping hidung, air hunger, merintih, dan sianosis.9
Pada pemeriksaan fisis dapat ditemukan tanda klinis seperti pekak perkusi,
suara napas melemah, dan ronki, akan tetapi pada neonatus dan bayi kecil, gejala
dan tanda pneumonia lebih beragam dan tidak selalu jelas terlihat. Pada perkusi
dan auskultasi paru umumnya tidak ditemukan kelainan.9

2.2.6 Klasifikasi dan Diagnosis


2.2.6.1 Klasifikasi 6,7
1. Berdasarkan Anatominya:
- Pneumonia lobaris
Sering pada pneumania bakterial, jarang pada bayi dan orang tua.
Pneumonia yang terjadi pada satu lobus atau segmen kemungkinan
sekunder disebabkan oleh obstruksi bronkus misalnya: pada aspirasi
benda asing atau proses keganasan.
- Pneumonia lobularis (bronkopneumonia)
Ditandai dengan bercak-bercak infiltrat pada lapangan paru. Dapat
disebabkan oleh bakteria maupun virus. Sering pada bayi dan orang tua.
Jarang dihubungkan dengan obstruksi bronkus.
- Pneumonia Interstitialis (bronkiolitis)
2. Berdasarkan Etiologi :
- Bakteri
- Virus
- Jamur
- Aspirasi (makanan, bensin, minyak tanah, cairan amnion, benda
asing.

3. Berdasarkan Gejala Klinis:


- Pneumonia klasik

18
- Pneumonia atipik
4. Berdasarkan tempat terjadinya infeksi:
- Pneumonia Masyarakat (community-acquired pneumonia),
pneumonia ini disebabkan jika infeksinya terjadi di masyarakat.
- Pneumonia RS atau Pneumonia Nosokomial (hospital-acquired
pneumonia), bila infeksinya didapat di Rumah Sakit.
5. Berdasarkan Usia:2
- Pneumonia Ringan
- Pneumonia Berat

2.2.6.2 Diagnosis
Diagnosis etiologik berdasarkan pemeriksaan mikrobiologis / serologis
yang merupakan dasar terapi yang optimal. Akan tetapi, penemuan bakteri
penyebab tidakselalu mudah karena memerlukan laboratorium penunjang yang
memadai. Oleh karena itu, pneumonia pada anak umumnya didiagnosis
berdasarkan gambaran klinis yang menunjukkan keterlibatan sistem respiratori,
serta gambaran radiologis. 2
Gejala klinis sederhana tersebut meliputi napas cepat,sesak napas,dan
berbagai tanda bahaya agar anak segera di rujuk ke pelayanan kesehatan. Napas
cepat dinilai dengan menghitung frekuensi napas selama satu menit penuh ketika
bayi dalam keadaan tenang. Sesak napas dinilai dengan melihat adanya tarikan
dinding dada bagian bawah ke dalam ketika menarik napas(retraksi epigastrium).
Tanda bahaya pada anak berusia 2-5 tahun yaitu tidak dapat minum, kejang,
kesadaran menurun, stridor, giziburuk. Sedangkan tanda bahaya untuk bayi
berusia dibawah 2 bulan adalah malas minum, kejang, kesadaran menurun,
stridor, mengi, demam/badan terasa dingin.2

19
Tabel 2.1. Klasifikasi menurut Usia, Balita Batuk dan atau Kesukaran Bernapas 2

2.2.7 Pemeriksaan Penunjang


a. Darah perifer lengkap
Pada pneumonia virus dan juga pada pneumonia mikoplasma umunnya
ditemukan leukosit dalam batas normal atau sedikit meningkat. Akan tetapi pada
pneumonia bakteri didapatkan leukositosis yang berkisar antara 15.000-
40.000/mm3 dengan predominan PMN. Leukopenia (<5.000/mm3) menunjukkan
prognosis yang buruk. Leukositosis (>30.000/mm3) hampir selalu menunjukkan
adanya infeksi bakteri, sering ditemukan pada keadaan bakteremi, dan risiko
terjadinya komplikasi lebih tinggi.
b. C-Reactive Protein (CRP)
C-Reactive protein adalah suatu protein fase akut yang disintesis
olehhepatosit. Secara klinis CRP digunakan sebagai alat diagnostik untuk
membedakan antara faktor infeksi dan noninfeksi, infeksi virus dan bakteri, atau
infeksi bakteri superfisialis dari profunda. Kadar CRP biasanya lebih rendah pada
infeksi virus dan bakteri, atau infeksi bakteri superfisialis dan profunda.
c. Uji serologis
Secara umum, uji serologis tidak terlalu bermanfaat dalam mendiagnosis
infeksi bakteri tipik. Akan tetapi, untuk dekteksi infeksi bakteri atipik seperti
Mikoplasma dan Klamidia, serta beberapa virus seperti RSV, Sitomegalo,

20
campak, Influenza A dan B, peningkatan antibodi IgM dan IgG dapat
mengonfirmasi diagnosis.
d. Pemeriksaan mikrobiologi
Pemeriksaan mikrobiologi untuk diagnosis pneumonia anak tidak
rutindilakukan kecuali pada pneumonia berat yang dirawat di RS. Diagnosa
dikatakan definitif bila kuman ditemukan dari darah, cairan pleura, dan aspirasi
paru. Pada pneumonia anak dilaporkan hanya 10-30% ditemukan bakteri pada
kultur darah.
e. Pemeriksaan rontgen toraks
Gambaran foto toraks pneumonia pada anak meliputi infiltrat ringan
padasatu paru hinggal konsolidasi luas kedua paru. Gambaran foto toraks
yangdidapati pada pneumonia adalah:-Lobar pneumonia, apabila didapatkan
konsolidasi pada 1 lobus paru-Lobular pneumonia, apabila didapatkan konsolidasi
pada 1 lobulus paru-Interstitial pneumonia, apabila gambaran infiltrat pada
interalveolar-Bronkopneumonia, apabila didapatkan patchyinfiltrat pada kedua
paru.9
2.2.8 Penatalaksanaan
Sebagian besar pneumonia pada anak tidak perlu dirawat inap. Indikasi
perawatan terutama berdasarkan berat-ringannya penyakit, misalnya toksis,
distress pernafasan, tidak mau makan/minum, atau ada penyakit dasar yang lain,
komplikasi, dan terutama mempertimbangkan usia pasien. Neonatus dan bayi
kecil dengan kemungkinanklinis pneumonia harus dirawat inap.
Dasar tatalaksana pneumonia rawat inap adalah pengobatan kausal dengan
antibiotik yang sesuai, serta tindakan suportif. Pengobatan suportif meliputi
pemberian cairan intravena, terapi oksigen, koreksi terhadap gangguan
keseimbangan asam-basa, elektrolit, dan gula darah. Untuk nyeri dan demam
dapat diberikan analgetik/antipiretik. Penyakit penyerra harus
ditanggulangidengan adekuat, komplikasi yang mungkin terjadi harus dipntau dan
diatasi.9
Tatalaksana umum pasien pneumonia berdasarkan pedoman pelayanan
medis pada anak :4

21
a. Pasien dengan saturasi oksigen <92% pada saat bernapas dengan udara
kamar harus diberikan terapi oksigen dengan kanul nasal, head box, atau
sungkup untuk mempertahankan saturasi oksigen >92%
b. Pada pneumonia berat atau asupan per oral kurang, diberikan cairan
intravena dan dilakukan balans cairan ketat.
c. Fisioterapi dada tidak bermanfaat dan tidak direkomendasikan untuk anak
dengan pneumonia.
d. Antipiretik dan analgetik dapat diberikan untuk menjaga kenyamanan
pasien dan mengontrol batuk.
e. Nebulisasi dengan B2 agonis dan atau Nacl dapat diberikan untuk
memperbaiki mucociliary clearance.
f. Pasien yang mendapat terapi oksigen harus diobservasi setidaknya setiap 4
jam sekali, termasuk pemeriksaan oksigen.
g. Pemberian antibiotik:
-
Amoksisilin merupakan pilihan pertama untuk antibiotik oral pada
anak <5 tahun, alternatifnya adalah co-amoxiclav, ceflacor,
eritromissin, claritomisin dan azitromisin
-
Makrolid diberikan sebagai pilihan pertama secara empiris pada anak
>5 tahun.
-
Amoksisilin diberikan sebagai pilihan pertama jika S.Pneumoniae
sangat mungkin sebagai penyebab.
-
Jika S.Aureus dicurigai sebagai penyebab, diberikan makrolid atau
kombinasi fluoxacilin dengan amoksisilin.
-
Antibiotik intravena diberikan pada pasien pneumonia yang tidak
dapat menerima obat per oral (misal karna muntah) atau termasuk
dalam derajat pneumonia berat.
-
Antibiotik yang dianjurkan adalah : ampisilin dan kloramfenicole,
coamoxiclav, ceftriaxone,cefuroxime dan cefotaxime.
-
Pemberian antibiotik oral harus dipertimbangkan jika terdapat
perbaikan setelah mendapat antibiotik intravena.4

22
2.2.8.1 Rawat jalan
Pada pneumonia ringan rawat jalan dapat diberikan antibiotik lini
pertama secara oral.misalnya, amoksisilin atau kotrimoksazol. Pada pneumonia
ringan berobat jalan, dapat diberikan antibiotik tunggal oral dengan efektifitas
yang mencapai 90%. Dosis yang diberikan adalah 25 mg/kgBB, sedangkan
kotrimoksazole adalah 4mg/kgBB, Sulfametoksazole 20 mg/kgBB.9
2.2.8.2 Rawat Inap
Pilihan AB lini pertama dapat menggunakan antibiotik golongan beta-
laktam atau kloramfenikol. Pada pneumonia yang tidak responsif terhadap beta-
laktam dan kloramfenikol, dapat diberikan antibiotik lain seperti gentamisin,
amikasin, atau sefalosporin, sesuai dengan petunjuk etiologi yang ditemukan.
Terapi AB diteruskan selama 7-10 hari pada pasien dengan pneumonia tanpa
komplikasi.
Pada neonatus dan bayi kecil, terapi awalAB intravena harus
dimulaisesegera mungkin. Maka dari itu sering terjadi meningitis dan sepsis. AB
yang direkomendasikan adalah AB apektrum luas seperti kombinasi beta-
laktam/klavulanat dengan aminoglikosid atau sefalosporin generasi ketiga.AB ini
diberikan selama 10 hari.9

2.2.9 Pencegahan
Pencegahan pneumonia selain dengan menghindarkan atau mengurangi
faktor risiko dapat dilakukan dengan beberapa pendekatan, yaitu dengan
pendidikan kesehatan di komunitas, perbaikan gizi, pelatihan petugas kesehatan
dalam hal memanfaatkan pedoman diagnosis dan pengobatan pneumonia,
penggunaan antibiotika yang benar dan efektif, dan waktu untuk merujuk yang
tepat dan segera bagi kasus yang pneumonia berat. Peningkatan gizi termasuk
pemberian ASI eksklusif dan asupan zinc, peningkatan cakupan imunisasi, dan
pengurangan polusi udara didalam ruangan dapat pula mengurangi faktor resiko.5,8

usaha untuk mencegah pneumonia ada 2 yaitu:


a. (Pencegahan Non spesifik), yaitu:

23
1) Meningkatkan derajat sosio-ekonomi.
2) Menurunkan kemiskinan.
3) Meningkatkan tingkat pendidikan.
4) Menurunkan angka balita kurang gizi.
5) Meningkatkan derajat kesehatan.
6) Menurunkan morbiditas dan mortalitas.
7) Lingkungan yang bersih, bebas polus

b. (Pencegahan Spesifik)
1) Cegah berat bayi lahir ringan (BBLR).
2) Pemberian makanan yang baik/gizi seimbang.
3) Berikan imunisasi (kartasasmita)

2.2.10 Komplikasi
Komplikasi pneumonia pada anak meliputi empiema torasis, perikarditis
purulenta, pneumothoraks, atau infeksi ekstrapulmoner seperti meningitis
purulenta. Empiema torasis merupakan komplikasi tersering yang terjadi pada
pneumonia bakteri. Ilten F dkk, melaporkan mengenai komplikasi miokarditis
(tekanan sistolik ventrikel kanan meningkat, kreatinin kinase meningkat, dan
gagal jantung) yang cukup tinggi pada seri pneumonia anak berusia 2-24 bulan.
Oleh karena miokarditis merupakan keadaan yang fatal, maka di anjurkan untuk
melakukan deteksi dengan teknik noninvasif seperti EKG, ekokardiografi, dan
pemerikasaan enzim.9

BAB III
METODE PENELITIAN

24
3.1. Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian survei yang bersifat deskriptif kuantitatif
yaitu suatu penelitian untuk melihat masalah dan fenomena yang terjadi pada
masyarakat berupa gambaran tingkat pengetahuan ibu tentang pneumonia pada
balita di Desa Ramin ,Wilayah Kerja Puskesmas Rawat-Inap Muara Kumpeh
Kabupaten Muaro Jambi tahun 2020.

3.2. Populasi dan Sampel


Populasi dalam penelitian ini adalah ibu yang datang ke posyandu saat
kegiatan imunisasi.

3.3 Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian dilaksanakan di Posyandu desa Ramin, pada tanggal 20 Januari
2020.

3.4 Kerangka Konsep Penelitian

Faktor Resiko
Pneumonia
1. Pengetahuan

3.5 Definisi Operasional


1. Umur adalah tingkatan kelangsungan hidup responden dalam satu
tahun.
2. Pendidikan terakhir adalah tingkat pembelajaran formal tertinggi yang
berhasil di tamatkan oleh responden.
3. Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui responden tentang
Pneumonia pada Balita, Penyebab, Faktor risiko, Gejala,
,Penatalaksanaan, Komplikasi,dll.
3.6 Cara Pengumpulan Data

25
Data yang dikumpulkan adalah data primer. Data primer adalah data yang
langsung di peroleh dari responden dengan cara menanyakan secara langsung isi
kusioner yang berisi pertanyaan yang telah di sediakan sebelumnya.
3.7 Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat-alat yang digunakan untuk mengumpulkan
data, instrumen ini berupa pedoman dan kuesioner yang berkaitan dengan
pendataan. Pada penelitian ini instrumen yang digunakan adalah leaflet dan
kuesioner.
3.8 Teknik Penilaian
Pengukuran pengetahuan berdasarkan jawaban pertanyaan yang diberikan
responden, menggunakan skala pengukuran Hadi Pratomo dan Sudarti (1986)
dengan definisi sebagai berikut:
1. Baik, apabila responden benar > 75%
2. Sedang, apabila jawaban responden benar antara 40-75%
3. Kurang, apabila jawaban responden benar < 40%

Kunci Jawaban Pengetahuan


Apabila responden menjawab ”benar” diberi nilai 1 dan apabila responden
menjawab “salah” diberi 0, tidak tahu 0, skor pengetahuan :
1. A(0) B(1)
2. A(1) B(0)
3. A(1) B(0)
4. A(1) B(0)
5. A(0) B(1)
6. A(1) B(0)
7. A(1) B(0)
Total skor pengetahuan adalah 7.
Penilaian Pengetahuan
1. Baik, apabila responden benar > 75% (11-15)
2. Sedang, apabila jawaban responden benar antara 40-75% (6-10)
3. Kurang, apabila jawaban responden benar < 40% (0-5)

26
3.9 Pengolahan Data dan Analisis Data
Data yang terkumpul diolah secara manual, di edit dan di entry ke
computer dengan menggunakan program microsoft word 2013 dan microsoft
excel 2013 windows 10 yang disajikan dalam bentuk table, diagram dan grafik.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

27
4.1 Gambaran Umum Puskesmas Muara Kumpeh
4.1.1 Profil Puskesmas Muara Kumpeh
Gambaran Umum
a) data Situasi Umum
 No. Kode Puskesmas : P 1505020201
 Nama Puskesmas : MUARA KUMPEH
 Alamat : JL. JAMBI SUAK KANDIS KM. 06
 Kecamatan : KUMPEH ULU
 Kabupaten : MUARO JAMBI
 Propinsi : JAMBI
 Telepon : 082213800905
 Email :
puskesmasmuarakumpeh@yahoo.com

b) Data Wilayah

Luas wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap Muara Kumpeh 71,4


2
KM , dimana Puskesmas Rawat Inap Muara Kumpeh merupakan wilayah
dataran rendah. Akses jalan semua desa bisa dilewati kendaraan roda 2
maupun roda 4

28
Puskesmas Rawat Inap Muara Kumpeh terdiri dari 13 Desa dengan 35
dusun yang terdiri dari 138 RT

LUAS
NO NAMA DESA WILAYAH NAMA DUSUN RT
(KM2)
1 Muara Kumpeh 820 KM2 - Dusun I 5
- Dusun II 6
- Dusun III 6
2 Pudak 18.000 KM2 - Sapta Karya I 6
- Sapta Karya II 8
- Pauh Gading 8
3 Kota Karang 663 KM2 - Dusun I 6
- Dusun II 1
4 Lopak Alai 660 KM2 - Laut 4
- Darat 2
5 Sakean 3.500 KM2 - Dusun I 4
- Dusun II 4

29
6 Tarikan 4.375 KM2 - Dusun I 4
- Dusun II 4
- Dusun III 4
7 Sungai Terap 4.000 KM2 - Kampung 3
Manggis 3
- Muara Sungai 1
- Pulau Gajah
2
8 Sumber Jaya 7.500 KM - Perbatasan 2
- Pemetung 4
- Pedataran 1
9 Arang - Arang 14.120 KM2 - Kampung baru 3
- Sungai Tepab 3
- Jadi Mulyo 3
- Jadi Rejo 3
- Bakung Jaya 2
10 Sipin Teluk 3.200 KM2 - Sipin 4
Duren - Pulau Pandan 3
- Talang Sungke 2
11 Teluk Raya 7.040 KM2 - Pematang 3
Bedaro 5
- Bangso
12 Ramin 3.325 KM2 - Bangun Jaya 5
- Setia Jaya 8
13 Pemunduran 4.500 KM2 - Bina Karya 5
- Suka Maju 3
138

c) Data Fasilitas Pelayanan Kesehatan

Wilayah kerja Puskesmas Muara Kumpeh terdapat beberapa


fasilitas pelayanan kesehatan yang bertujuan untuk pemerataan

30
pelayanan kesehatan kepada masyarakat sehingga Pelayanan Kesehatan
dapat diakses dan terjangkau oleh seluruh masyarakat di wilayah kerja
secara adil tanpa membedakan status sosial, ekonomi, agama, budaya
dan kepercayaan, diantaranya :

a) Puskesmas induk : 1 buah


b) Puskesmas pembantu : 8 buah
c) Polindes : 9 buah
d) Puskesmas Keliling : 1 buah
e) Praktek Dokter Swasta : 1 buah
f) Praktek Bidan Swasta : 5 buah

d) Data Ketenagaan ( data di sesuaikan dengan data sdm ka tu )

Puskesmas Muara Kumpeh merupakan salah satu Puskesmas Rawat Inap


Tingkat Pertama,dimana ketenagaan di Puskesmas Muara Kumpeh terdiri dari :

JML
Status Kepegawaian TOTAL SDM
NO JENIS SDM
MINIMAL
PNS PTT TKS TLK ( Target )

1 Dokter Umum 3 - - - 3 2

2 Dokter Gigi - - - - - 1
Sarjana Kesehatan 1
5 - - - 5
3 Masyarakat (SKM)
Sarjana
Keperawatan 2 - 2 - 4
4 ( S.Kep )
5 Perawat 11 - 8 - 19 8
6 Bidan 31 1 9 - 41 4
7 Tenaga kesehatan 1 - - - 1 1

31
lingkungan
Ahli teknologi 1
2 - 1 - 3
8 laboratorium medik
9 Tenaga gizi 1 - - - 1 2
10 Tenaga Kefarmasian 2 - - - 2 1
11 Tenaga administrasi 5 - - - 5 2
12 Pekarya 2 - - - 2 1
TOTAL

e) Data Sarana Prasarana

Bangunan gedung Puskesmas Muara kumpeh berdiri sejak 01


maret 2009 untuk pelayanan dan kegiatan program sbb :

NO NAMA RUANG JUMLAH

1 Ruang pelayanan rawat jalan 8 unit


2 Pelayanan Gawat Darurat 1 unit
3 Ruang Rawat Inap 1 unit
4 Ruang Bersalin 1 unit
5 Gudang Obat 1 unit
6 Ruang penyimpanan vaksin 1 unit
7 Ruang Kepala Puskesmas 1 unit
8 Ruang Tata Usaha 1 unit
9 Ruang rapat / Aula 1 unit
10 Tempat parkir karyawan / dokter / pasien 1 unit

Sedangkan sarana prasarana untuk penunjang kegiatan pelayanan


dan program yang dimiliki Puskesmas Muara kumpeh sbb :

NO NAMA SARANA JUMLAH


1 Ambulans / Puskesmas Keliling ( Pusling ) 2
2 Sepeda motor 5
3 Komputer 6
4 Printer 4
5 LCD 2
6 TOA 2

32
7 Televisi 4
8 Kipas Angin 13
9 Genset 1
10 Alat Pemadam Kebakaran 2
11 Air Conditioner ( AC ) 3
12 Leptop 4

33
4.2 Hasil Analisis Penelitian
4.2.1 Tabel dan Diagram Distribusi Pengetahuan

Tabel dan Diagram 4.1


Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan Tentang Apakah Ibu
pernah mendenngar istilah Pneumonia di Desa Ramin januari 2020
JAWABAN JUMLAH PERSENTASE %
A Pernah 14 70%
B Tidak Pernah 6 30%
Jumlah 20 100 %

Keterangan dari tabel dan diagram 4.1

Dari tabel dan diagram di atas dapat diketahui bahwa sebagian besar
(70%) responden pernah mendengar istilah Pneumonia.

34
Tabel dan Diagram 4.2

Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan Tentang Apakah


Pnemuonia itu di Desa Lopak Alai Januari 2020
JAWABAN JUMLAH PERSENTASE %
A Demam, napas cepat/sesak napas 16 80%
di sertai batuk
B Penyakit demam biasa 0 0%
C Tidak tahu 4 20%
Jumlah 20 100%

Keterangan dari tabel dan diagram 4.2

Dari tabel dan diagram di atas dapat diketahui sebagian besar (80%)
responden mengetahui tentang penyakit pneumonia.

35
Tabel dan Diagram 4.3

Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan Tentang Bagaimana gejala


Penyakit Pneumonia

PERSENTASE
JAWABAN JUMLAH
(%)
Batuk yang di sertai demam
A 8 40%
dan napas cepat
B Batuk sehari-hari 2 10%
C Tidak tahu 10 50%
Jumlah 20 100%

Keterangan dari tabel dan diagram 4.3

Dari tabel dan diagram di atas dapat diketahui bahwa sebagian besar
(50%) responden tidak mengetahui tentang bagaimana gejala penyakit
pnenumonia.

36
Tabel dan Diagram 4.4

Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan Tentang Penyebab terjadi


penyakit pnuemonia

JAWABAN JUMLAH PERSENTASE %


A Bakteri, virus, dan jamur 4 20%
B Penyebab lainya: cacing 4 20%
C Tidak tahu 12 60%
Jumlah 20 100%

Keterangan dari tabel dan diagram 4.4

Dari tabel dan diagram di atas dapat diketahui bahwa sebagian besar
(60%) responden tidak mengetahui penyebab terjadi penyakit Pneumonia.

Tabel dan Diagram 4.5

37
Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan Tentang apa yang terjadi
jika Pneumonia tidak di obati

JAWABAN JUMLAH PERSENTASE %


A Membahayakan hidup anak 5 25%
kerena dapat menyebabkan
kematian
B Terjadi komplikasi dan penykit 7 35%
lama sembuh
C Tidak tahu 8 40%
Jumlah 20 100%

Keterangan dari tabel dan diagram 4.5

Dari tabel dan diagram di atas dapat diketahui bahwa sebagian besar (40%)
responden tidak mengetahui serta 35% salah dalam menjawab, bahwa apa yang
terjadi jila Pneumonia tidak di obati.

Tabel dan Diagram 4.6

38
Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan Tentang Apa yang terjadi
jika batuk atau influenza pada anak tidak segera di obati

JAWABAN JUMLAH PERSENTASE %


A Akan mempermudah 3 15%
terjadinya Pneumonia(sesak
nafas)
B Akan memperoleh penyakit 1 5%
lain, seperti: demam
berdarah, malaria
C Tidak Tahu 16 80%
Jumlah 20 100%

Keteangan dari tabel dan diagram 4.6

Dari tabel dan diagram di atas dapat diketahui bahwa sebagian besar
(80%) responden tidak mengetahui tentang Apa yang terjadi jika batuk atau
influenza pada anak tidak segera di obati.

Tabel dan Diagram 4.7

39
Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan Bagaimana cara penularan
penyakit Pneumonia

JAWABAN JUMLAH PERSENTASE %


A Melalui kontak langsung, 5 25%
udara napas, batuk, dan
bersin-bersin dari
penderita lain
B Kontak atau bersentuhan 13 65%
dengan anak yang demam
C Tidak tahu 2 10%
Jumlah 20 100%

Keterangan dari tabel dan diagram 4.7

Dari tabel dan diagram di atas dapat diketahui bahwa sebagian besar (65%)
responden salah dalam menjawab pengetahuan bagaimana cara penularan
penyakit.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

40
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan uraian hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa
Sebanyak.

5.2. Saran

1. Bagi masyarakat
- Bagi masyarakat hendaknya selalu menjaga kebersihan serta merubah
gaya hidup yang beresiko menimbulkan penyakit pneumonia .
2. Jika terdapat penderita pneumonia, diharapkan berobat ke Sarana
Kesehatan terdekat dan mengkonsumsi obat secara teratur.
3. Bagi instansi kesehatan
- Bagi Puskesmas Muara Kumpeh agar tetap memberikan penyuluhan
mengenai pneumonia oleh petugas kesehatan yang berkompeten di
Posyandu Ramin, Muaro Jambi.
- Bagi Puskesmas Putri Ayu agar tetap memberikan penyuluhan
mengenai Pneumonia di Posyandu yang ada di wilayah kerja
Puskesmas Muara Kumpeh,Kabupaten Muaro Jambi.
4. Bagi peneliti lain
- Bagi peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian lebih lanjut
mengenai penyakit pneumonia

DAFTAR PUSTAKA

41
1. Calistania, C., Indrawati, W.2014. Pneumonia. Kapita Selekta Kedokteran.
Jilid I. Edisi IV. FK UI: Jakarta
2. Depkes. 2011. Pedoman Pengendalian Infeksi Saluran Pernafasan Akut.
Jakarta: Direktorat jendral Pengendalian Penyakit dan Penyehatan
Lingkungan
3. Hartati, S, Nurhaeni N, Gayatri D. 2012. Faktor Risiko Terjadinya
Pneumonia Pada Anak Balita. Jakarta. Jurnal Keperawatan Indonesia, volume
15, No. 1, Maret 2012; hal 13-20
4. IDAI. 2009. Pedoman Pelayanan Medis.
5. Kartasasmita, C. 2010. Pneumonia Pembunuh Balita . Kemenkes RI: Buletin
Jendela Epidemiologi Volume 3, September 2010. ISSN 2087-1546
Pneumonia Balita
6. Misnadiarly. 2008. Penyakit Infeksi Saluran Nafas Pneumonia Pada Anak
Balita. Orang dewasa, Usia Lanjut. Jakarta Pusat: Pustaka Populer Obor
7. PDPI. 2003. Pneumonia Komuniti-Pedoman Diagnosis Dan Penatalaksaan Di
Indonesia, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia
8. Prasetyo, Bambang. Lina Miftahul Jannah. 2012. Metode Penelitian
Kuantitatif Teori dan Aplikasi. Jakarta: Rajawali Pers
9. Rahajoe, dkk, 2012. Buku Ajar Respirologi Anak. Edisi pertama.Jakarta:
IDAI.

10. Sudoyo, 2005. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III Edisi IV.Jakarta: FK
UI.

Lampiran

KUESIONER PENELITIAN

42
GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU
TENTANG PNEUMONIA PADA BALITA
MUARO JAMBI
TAHUN
2020

A.KARAKTERISTIK RESPONDEN

1. Nomor : ....................................................................................

2. Nama : ....................................................................................

3. Suku : ....................................................................................

4. Pendidikan terakhir :
a. Tidak sekolah/tidak tamat SD
b. SD
c. SLTP
d.SLTA
e.Akademi/Sarjana

5. Pekerjaan Ibu :
a. Ibu Rumah Tangga
b. Petani
c. Buruh
d. Pedagang/Wiraswasta
e. PNS

6. Nama Balita :

7. Jenis Kelamin:

8. Usia Balita : - Laki-laki :

43
- Perempuan :

B. PENGETAHUAN

NO Pertanyaan Jawaban
1. Apakah ibu pernah mendengar a.Pernah,darimana
?
istilah pneumonia (sesak napas)?
b. Tidak pernah

2. Menurut ibu apakah pneumonia a. Demam, napas


cepat/sesak
itu?
disertai batuk
b. Penyakit demam
dan batuk
biasa
c. Tidak tahu

3. Bagaimana gejala pneumonia a. Batuk yang


yang ibu ketahui ? disertai demam
dan napas
sesak/cepat
b. Batuk berhari-
hari
c. Tidak tahu

4. Menurut ibu apa yang menjadi a. Bakteri, Virus


penyebab pneumonia? b. Penyebab lain
seperti : jamur

44
c. Tidak tahu

5. Menurut ibu apa yang terjadi jika a. Membahayakan


hidup anak karena
Pneumonia tidak segera diobati?
dapat
menyebabkan
kematian
b. Terjadi
komplikasi dan
penyakit lama
sembuh
c. Tidak tahu

6. Menurut ibu apa yang terjadi jika a. Akan


mempermudah
batuk atau influenza pada anak
terjadinya
tidak segera diobati? pneumonia
(sesak napas)
b. Akan
memperoleh
penyakit lain
c. Tidak tahu

7. Menurut ibu bagaimana cara , a. Melalui kontak


pneumonia, penularan penyakit langsung, udara
napas, batuk dan
pneumonia
bersin-bersin
dari penderita
45
? lain.
b. Kontak atau
bersentuhan
dengan anak yang
demam
c. Tidak tahu

Dokumentasi

46
47