Anda di halaman 1dari 30

1

BAB I
STATUS PASIEN

1.1 STATUS PASIEN


1. Identitas Pasien
Nama : Ny. N.R
Umur :60 tahun
Jenis Kelamin : perempuan
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Alamat : RT. 13 Tanjung Pinang

2. Latar Belakang sosial-ekonomi-demografi-lingkungan keluarga


Status Perkawinan : Sudahmenikah
Jumlah Anak : 3 orang
Jumlah Saudara : 3 orang (Anakketiga)
Status Ekonomi Keluarga : Cukup

Kondisi Rumah :
 Rumah pasien merupakan rumah
permanen dengan ukuran ± 10x8
m2. Rumah terdiri dari 2 teras, 1
ruang tamu, 4 kamar tidur, 1 dapur
dan 1 kamar mandi. Ventilasi
terdapat di bagian depan dan
samping rumah, atap terbuat dari
seng, lantai rumah terbuat dari
semen dan dinding terbuat dari
beton. Pencahayaan cukup.
 Kamar tidur terlihat rapidan teratur.
Ventilasi dan pencahayaan cukup.
2

 Kondisi dapur rumah pasien cukup


rapi, barang-barang terletak
beraturan, pencahayaan dapur cukup
baik karena terdapat jendela yang
disertai ventilasi dan pintu.

 Jamban yang digunakan keluarga


merupakan jamban dengan leher
angsa. Sumber air sehari-hari
berasal dari PDAM. Air yang
digunakan untuk masak, mandi
dan mencuci dari air PDAM
sedangkan air untuk minum
berasal dari air PDAM yang
dimasak sampai mendidih.
 Lingkungan sekitar rumah merupakan lingkungan padat
pendudukdan cukup bersih. Terdapat selokan di belakang rumah,
dan untuk pembuangan air limbah langsung ke dalam septic tank.
Sampah biasanya dibuang di tempat pembuangan sampah umum.

 Kondisi Lingkungan Keluarga :


Pasien tinggal bersama 2 orang anak, 1 menantu dan kedua
cucunya. Sumber penghasilan keluarga berasal dari penghasilan dari
anak dan menantu pasien dan pasien sebagai ibu rumah tangga.
Keharmonisan keluarga pasien baik. Tidak ada masalah dalam
hubungan satu sama lain.
3

 Aspek Psikologis di Keluarga


Pasien merupakan seorang ibu bagi 3 anaknya. Pasien tinggal bersama
2 orang anak dan 1 menantu dan 2 anak dirumahnya. Hubungan
pasien dengan anggota keluarga yang lain baik.

3. ANAMNESIS
Keluhan Utama
Pasien datang dengan keluhan mata merah sejak 2 hari yang lalu

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang dengan keluhan mata kiri dan kanan merah dan berair
sejak 2 hari yang lalu. Pasien mengaku awalnya keluhan pertama dimata
kiri selanjutnya menyebar kemata kanan. Pasien menyadari keluhan mulai
timbul ketika bangun pagi hari, pasien merasa kesulitan untuk membuka
matanya. Mata tersebut terasa sangat lengket akibat banyaknya kotoran
mata, sehingga pasien harus membasahinya dengan air terlebih dahulu
agar matanya dapat terbuka. Menurut pasien, kotoran matanya berwarna
putih kekuningan dan kental. Mata kadang berair, namun tidak banyak.
Pasien juga mengeluhkan bahwa matanya menjadi terlihat besar sebelah.
Malam sebelumnya pasien sudah mencoba mengobati sakit matanya
tersebut dengan memberi obat tetes mata yang dibeli di warung, namun
mata merah tidak berkurang tetapi justru membuat kotoran matanya
semakin banyak. Riwayat alergi (-). Sembab (-), nyeri (-), rasa seperti ada
yang mengganjal (+). Pasien mengaku tidak ada gangguan penglihatan
pada mata kiri ataupun mata kanannya. Pasien juga tidak merasa silau
melihat cahaya. Riwayat trauma sebelumnya disangkal, pandangan mata
kabur (-), demam (+), saat mata berair pasien suka mengucek-ngucek
matanya.
Keluhan yang dirasakan pasien sangat mengganggu aktivitasnya,
terutama saat mengantar cucunya kesekolah, pasien merasa matanya
semakin bertambah merah dan berair. Pasien juga mengaku belum pernah
4

berobat kemanapun tentang keluhan matanya. Karena keluhan yang


dirasakan semakin berat dan mengganggu aktivitasnya, pasien lalu berobat
ke Puskesmas.

Riwayat penyakit dahulu:


Riwayat dengan keluhan yang sama (-), riwayat alergi obat-obatan (-),
alergi makanan (-).
Riwayat Penyakit Keluarga :
Tidak ada keluarga yang mengalami keluhan yang sama.

4. Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan umum : Tampaksakit sedang
Kesadaran : Composmentis
2. Pengukuran Tanda Vital :
TD : 120/80 mmHg
Nadi : 80x per menit, reguler, kuat angkat
Suhu : 36,5°C
Respirasi : 20x/menit, reguler

Pemeriksan Organ:
Kepala :
Bentuk : Simetris, normocephal
Mata :

STATUS OPHTHALMOLOGIS

OD OS
Visus 6/6 6/6
Kedudukan bola mata Ortoforia
Pergerakan bola mata
5

Versi :baik Versi :baik


Duksi :baik Duksi :baik
PEMERIKSAAN EXTERNAL

Palpebrasup Edem (-), hiperemis (-), Edema (-), hiperemis (-),


nyeritekan (-) nyeritekan (-)
Palpebrainf Edem (-), hiperemis (-), Edem (-), hiperemis (-),
nyeritekan (-) nyeritekan (-)
Cilia Trichiasis (-) Trichiasis (-)
Conj. Tars Supp Papil (-), folikel (-) Papil (-), folikel (-)
hiperemis (+) hiperemis (+)
Conj. Tars Inf Papil (-), folikel (-) Papil (-), folikel (-)
hiperemis (-) hiperemis (+)
Conj. Bulbi Inj. Konjungtiva (+), Inj. Inj. Konjungtiva (+), Inj.
Silier (-), Sekret (+) Silier (-), Sekret (+)
Kornea Jernih, edem (-), ulkus (-) jernih, edem (-), ulkus (-)
desmetokel (-), infiltrat (-) desmetokel (-), infiltrat (-)
COA Fibrin (-), hipopion (-), Fibrin (-), hipopion (-), flare
flare (-) (-)
Iris Sinekia ant & post (-) Sinekia ant & post (-)
Pupil Isokor ,D = 3 mm Isokor , D = 3 mm
Reflek cahaya langsung (+) Reflek cahaya langsung (+)
Reflekcahayatdklangsung Reflekcahayatdklangsung
(+) (+)

Lensa Jernih Jernih


6

Telinga : Dalam Batas Normal


Hidung : Napas cuping hidung -/-, Sekret -/-, Epistaksis -/-
Mulut : Bibirsianosis (-), Mukosabasah (+), lidahkotor(-)
Thoraks:
Paru :
 Inspeksi : Simetris kiri dan kanan
 Palpasi : Fremitus kiri dan kanan normal
 Perkusi : Sonor
 Auskustasi : Suara nafas vesikuler, Rhonki -/-, wheezing -/-
Jantung :
 Inspeksi : Iktus kordis tidak terlihat
 Palpasi : Iktus kordis teraba, tidak kuat angkat
 Perkusi : Batas jantung dalam batas normal
 Auskultasi : BJ I-II regular, gallop (-), murmur (-)
Abdomen:
 Inspeksi : Datar, jaringan parut (-)
 Auskultasi : BU (+) normal
 Palpasi : Supel, massa (-), hepar lien tidak teraba
 Perkusi : Timpani
Ekstremitas :
Akral hangat (+), edema (-), CRT<2 detik

5. Pemeriksaan laboratoriumdananjuran
 Kultur swab mata kanan dan kiri

6. Diagnosa Kerja :
Konjungtivitis BakterialAkut OcculiDextra Sinistra (B.30.9)

7. Diagnosa Banding :
1. Konjungtivitis viral akut ODS (B30.3)
7

2. Konjungtivitis Alergika ODS (B.30.2)

8. Manajemen
a. Promotif
- Menjelaskan kepada pasien tentang penyakitnyadancara-cara
penularannya
- Menjelaskan kepada pasien mengenai kebersihan diri dan
lingkungan
- Menjelaskan kepada pasien agar makan makanan yang bergizi dan
teratur
b. Preventif
- Sebaiknya menggunakan kacamata pelindung jika berpergian
keluar rumah agar terhindar dari paparan debu secara langsung.
- Saat berkendara sepeda motor, jangan biarkan kaca helm terbuka.
- Tidak mengusap-usap mata dalam keadaan tangan kotor atau
belum mencuci tangan.
- Janganmenyentuhmata yang sehatdengankain yang sama

c. Kuratif
Non Farmakologi
 Gunakan kacamata pelindung saat keluar rumah.
 Kompres hangat4-6 kali sehari selama 15 menit. Lakukan dengan
mata tertutup.

Farmakologi
Berikut ini adalah obat yang diberikan di puskesmas
Resep Puskesmas:
o Antibiotik Topikal : Gentamicin salep 0,3 % , 3x sehari
ODS
o CTM 3x4 mg
o Paracetamol tab 3x 500 mg
8

Resep Ilmiah 1:
o Tetes mata : Chlorampenicol 0,5 % 3x1 tetes/hari ODS
o CTM 3x4 mg
o Paracetamol tab 3x 500 mg

 Resep puskesmas Resep ilmiah 1


 Dinas Kesehatan Kota Jambi Dinas Kesehatan Kota Jambi
 Puskesmas Tanjung Pinang Puskesmas Tanjung Pinang
dr.Nevi Triayu Juwita dr.Nevi Triayu Juwita
 SIP : G1A215048 SIP : G1A215048


Jambi, 2017 Jambi, 2017




Pro :
Pro :
Alamat :
Alamat :
 Resep tidak boleh ditukar tanpa Resep tidak boleh ditukar tanpa
sepengetahuan dokter
 Dinas Kesehatan Kota Jambi sepengetahuan
Dinas dokter
Kesehatan Kota Jambi
Puskesmas Tanjung Pinang Puskesmas Tanjung Pinang
Resep ilmiah
dr.Nevi 2 Juwita
Triayu Resep Triayu
dr.Nevi ilmiahJuwita
3
 SIP : G1A215048 SIP : G1A215048
Jambi, 2017 Jambi, 2017



Pro : Pro :
Alamat : Alamat :
Resep tidak boleh ditukar tanpa Resep tidak boleh ditukar tanpa
sepengetahuan dokter sepengetahuan dokter
9

 Pengobatan tradisional :
4 lembar Daun sirih
Rebus sirih dengan air bersih. Rebusan air diteteskan pada mata
yang sakit. Atau bisa juga dengan merendam mata pada air
rendaman daun sirih tersebut beberapa kali.

d. Rehabilitasi
- Gunakan kacamata pelindung saat keluar rumah.
- Perbanyak makan sayuran hijau dan buah segar.
- Istirahatkan mata (tidur cukup minimal 6 jam).
- Meningkatkan daya tahan tubuh.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Konjungtiva 1-3


Konjungtiva merupakan membran mukosa tipis yang membatasi
permukaan dalam dari kelopak mata dan melipat ke belakang membungkus
permukaan depan dari bola mata, kecuali bagian jernih di tengah-tengah mata
(kornea). Membran ini berisi banyak pembuluh darah dan berubah merah saat
terjadi inflamasi. Konjungtiva terdiri dari tiga bagian:
a. Konjungtiva palpebralis
10

Menutupi permukaan posterior dari palpebra dan dapat dibagi menjadi


marginal, tarsal, dan orbital konjungtiva. 3
 Marginal konjungtiva memanjang dari tepi kelopak mata
sampai sekitar 2 mm di belakang kelopak mata menuju
lengkung dangkal, sulkus subtarsalis. Sesungguhnya merupakan
zona transisi antara kulit dan konjungtiva sesungguhnya.
 Tarsal konjungtiva bersifat tipis, transparan, dan sangat
vaskuler. Menempel ketat pada seluruh tarsal plate pada
kelopak mata atas. Pada kelopak mata bawah, hanya
menempel setengah lebar tarsus. Kelenjar tarsal terlihat lewat
struktur ini sebagai garis kuning.
 Orbital konjungtiva berada diantara tarsal plate dan forniks.
b. Konjungtiva bulbaris
Menutupi sebagian permukaan anterior bola mata. Terpisah dari sklera
anterior oleh jaringan episklera dan kapsula Tenon. Tepian sepanjang
3mm dari konjungtiva bulbar disekitar kornea disebut dengan
konjungtiva limbal. Pada area limbus, konjungtiva, kapsula Tenon,
dan jaringan episklera bergabung menjadi jaringan padat yang terikat
secara kuat pada pertemuan korneosklera di bawahnya. Pada limbus,
epitel konjungtiva menjadi berlanjut seperti yang ada pada kornea.
Konjungtiva bulbar sangat tipis. Konjungtiva bulbar juga bersifat
dapat digerakkan, mudah melipat ke belakang dan ke depan.
Pembuluh darah dengan mudah dapat dilihat di bawahnya. Di dalam
konjungtiva bulbar terdapat sel goblet yang mensekresi musin, suatu
komponen penting lapisan air mata pre-kornea yang memproteksi dan
memberi nutrisi bagi kornea.
c. Forniks
Bagian transisi yang membentuk hubungan antara bagian posterior
palpebra dan bola mata. Forniks konjungtiva berganbung dengan
konjungtiva bulbar dan konjungtiva palpebra. Dapat dibagi menjasi forniks
superior, inferior, lateral, dan medial forniks. 3
11

Gambar 1. Struktur anatomi dari conjungtiva

Konjungtiva mempunyai dua macam kelenjar, yaitu: 3


 Kelenjar sekretori musin.
Mereka adalah sel goblet (kelenjar uniseluler yang terletak di dalam
epitelium), kripta dari Henle (ada pada tarsal konjungtiva) dan kelenjar
Manz (pada konjungtiva limbal). Kelenjar-kelenjar ini menseksresi
mukus yang mana penting untuk membasahi kornea dan konjungtiva.
 Kelenjar lakrimalis aksesorius:
a. Kelenjar dari Krause(terletak pada jaringan ikat konjungtiva di
forniks, sekitar 42mm pada forniks atas dan 8 mm di forniks
bawah).
b. Kelenjar dari Wolfring (terletak sepanjang batas atas tarsus
superios dan sepanjang batas bawah dari inferior tarsus).
Konjungtiva palpebra dan forniks disuplai oleh cabang dari
arcade arteri periferal dan merginal kelopak mata. Konjungtiva
bulbar disuplai oleh dua set pembuluh darah: arteri konjungtiva
posterior yang merupakan cabang dari arcade arteri kelopak
mata; dan arteri konjungtiva aterior yang merupakan cabang dari
12

arteri siliaris anterior. Cabang terminal dari arteri konjungtiva


posterior beranastomose dengan arteri konjungtiva anterior
untuk membentuk pleksus perikornea.

2.2 Definisi
Konjungtivitis yaitu adanya inflamasi pada konjungtiva atau peradangan
pada konjungtiva. Konjungtivitis terkadang dapat ditandai dengan mata berwarna
sangat merah dan menyebar begitu cepat dan biasanya menyebabkan mata rusak.
Beberapa jenis Konjungtivitis dapat hilang dengan sendiri, tapi ada juga yang
memerlukan pengobatan.2-5

2.3 Etiologi
Konjungtivitis dapat disebabkan oleh berbagai macam hal, seperti :2,3
1. Infeksi oleh virus atau bakteri.
2. Reaksi alergi terhadap debu, serbuk sari, bulu binatang
3. Iritasi oleh angin, debu, asap dan polusi udara lain; sinar ultraviolet
dari las listrik atau sinar matahari yang dipantulkan oleh salju
4. Pemakaian lensa kontak, terutama dalam jangka panjang, juga bisa
menyebabkan konjungtivitis
Kadang konjungtivitis bisa berlangsung selama berbulan-bulan atau
bertahun-tahun. Konjungtivitis semacam ini bisa disebabkan oleh:2,4
1. Entropion atau ektropion
2. Kelainan saluran air mata
3. Kepekaan terhadap bahan kimia
4. Pemaparan oleh iritan
5. Infeksi oleh bakteri tertentu (terutama klamidia)

Angka kejadian konjungtivitis pada anak meningkat bila mengalami gejala


alergi. Pencetus alergi pada konjungtivitis meliputi rumput, serbuk bunga, hewan
dan debu. Substansi lain yang dapat mengiritasi mata dan menyebabkan
13

timbulnya konjungtivitis yaitu bahan kimia (seperti klorin dan sabun) dan polutan
udara (seperti asap dan cairan fumigasi).2,5

2.4 Manifestasi Klinis


Manifestasi klinis konjungtivitis biasanya bervariasi bergantung pada
penyebabnya, namun secara umum dapat berupa :
1. Hiperemis konjungtiva bulbi (Injeksi konjungtiva). Kemerahan paling nyata
didaerah forniks dan berkurang ke arah limbus, disebabkan dilatasi arteri
konjungtiva posterior akibat adanya peradangan. Warna merah terang
mengesankan konjungtivitis bakterial, dan warna keputihan mirip susu
mengesankan konjungtivitis alergi.
2. Mata berair (Epiphora). Sekresi air mata diakibatkan oleh adanya sensasi
benda asing atau karena gatal.
3. Eksudasi (Sekret), terutama pada pagi hari. Pada konjungtivitis sekret dapat
bersifat:
a. Serous-mukous, kemungkinan disebabkan infeksi virus akut
b. Mukous (bening, kental), kemungkinan disebabkan alergi
c. Purulent / Mukopurulen, kemungkinan disebabkan infeksi bakteri
4. Pseudoptosis, yaitu turunnya palpebra superior akibat kelopak mata bengkak.
Terdapat pada konjungtivitis berat seperti trachoma dan keratokonjungtivitis
epidemik.
5. hipertrofi papila, kemosis konjungtiva, folikel (khas terdapat pada
konjungtivitis virus), pseudomembran dan membran, flikten, dan
limfadenopati preaurikuler.

2.5 Klasifikasi
Berdasarkan perjalanan penyakitnya, konjungtivitis dapat dibedakan
menjadi:2
a. Konjungtivitis akut
Biasanya dimulai pada satu mata yang menyebar ke  mata yang sebelahnya,
terjadi kurang dari 4 minggu.
b. Konjungtivitis kronik
14

Terjadi lebih dari 4 minggu.

Sedangkan berdasarkan penyebabnya, konjungtivitis dapat diklasifikasikan


menjadi:2,3
a. Konjungtivitis alergi (keratokonjungtivits atopik, simple alergik
konjungtivitis, konjungtivitis seasonal, konjungtivitis vernal, giant papillary
conjungtivitis).
b. Konjungtivitis bakterial (hiperakut, akut, kronik).
c. Konjungtivitis virus (adenovirus, herpetik).
d. Konjungtivitis klamidia.
e. Bentuk konjungtivitis lain (Contact lens-related, mekanik, trauma, toksik,
neonatal, Parinaud’s okuloglandular syndrome, phlyctenular, sekunder)
15
16

2.5.1 Konjungtivitis Bakterial2,3


Merupakan peradangan pada konjungtiva yang disebabkan oleh
Streptokokus, Corynebacterium diptherica, Pseudomonas, neisseria, dan
hemophilus.

Gambar 2.3 konjungtivitis bakterial

Terdapat dua bentuk konjungtivitis bacterial: akut (dan subakut) dan


menahun.Penyebab konjungtivitis bakteri paling sering adalah Staphylococcus,
Pneumococcus, dan Haemophilus.
Konjungtivitis bacterial akut dapat sembuh sendiri bila disebabkan
mikroorganisme seperti Haemophilus influenza. Lamanya penyakit dapat
mencapai 2 minggu jika tidak diobati dengan memadai.
Konjungtivitis akut dapat menjadi menahun. Pengobatan dengan salah satu
darisekian antibacterial yang tersedia biasanya mengenai keadaan ini dalam
beberapahari. Konjungtivitis purulen yang disebabkan Neisseria gonorroeae atau
Neisseria meningitides dapat menimbulkan komplikasi berat bila tidak diobati
secara dini.
Gejala dan tanda
Beberapa gejala yang dapat dijumpai pada pasien dengan konjungtivitis
bacterial, yaitu:
1) Terasa seperti ada pasir atau ada benda asng di mata
2) Fotofobia
3) Hiperemi Konjungtiva
4) Edema kelopak dengan kornea yang jernih
5) Kemosis : pembengkakan konjungtiva
6) Sekret mukopurulen atau Purulen
7) Lakrimasi
17

8) Blefasospasme, biasanya terjadi pagi hari saat bangun tidur. Akibat


secret yang melekat pada kedua margo palpebra.
Pemeriksaan
1) Pemeriksaan tajam penglihatan
2) Pemeriksaan segmen anterior bola mata
3) Sediaan langsung (swab konjungtiva untuk pewarnaan garam) untuk
mengindentifikasi bakteri, jamur dan sitologinya.
4) Infeksi biasanya mulai pada satu mata dan menular ke sebelah oleh
tangan.Infeksi dapat menyebar ke orang lain melalui bahan yang dapat
menyebarkan kuman seperti seprei, kain, dll.

Pemeriksaan Laboratorium
Pada kebanyakan kasus konjungtivitis bacterial, organisme dapat diketahui
dengan pemeriksaan mikroskopik terhadap kerokan konjungtiva yang dipulas
dengan pulasan Gram atau Giemsa; pemeriksaan ini mengungkapkan banyak
neutrofil polimorfonuklear.
Kerokan konjungtiva untuk pemeriksaan mikroskopik dan biakan
disarankan untuk semua kasus dan diharuskan jika penyakit itu purulen,
bermembran atau berpseudomembran. Studi sensitivitas antibiotika juga baik,
namun sebaiknya harus dimulai terapi antibiotika empiric. Bila hasil sensitifitas
antibiotika telah ada, tetapi antibiotika spesifik dapat diteruskan.
Terapi
Prinsip terapi dengan obat topical spectrum luas. Pada 24 jam pertama
obatditeteskan tiap 2 jam kemudian pada hari berikutnya diberikan 4 kali sehari
selama 1minggu. Pada malam harinya diberikan salep mata untuk mencegah
belekan di pagi hari dan mempercepat penyembuhan.
Terapi spesifik terhadap konjungtivitis bacterial tergantung temuan agen
mikrobiologiknya. Sambil menunggu hasil laboratorium, dokter dapat mulai
dengan terapi topical antimikroba. Pada setiap konjungtivitis purulen, harus
dipilih antibiotika yang cocok untuk mengobati infeksi N gonorrhoe, dan N
meningitides.
18

Terapi topical dan sistemik harus segera dilaksanakan setelah materi untuk
pemeriksaan laboratorium telah diperoleh. Pada konjungtivitis purulen dan
mukopurulen akut, saccus konjungtiva harus dibilas dengan larutan garam agar
dapat menghilangkan secret konjungtiva. Untuk mencegah penyebaran penyakit
ini, pasien dan keluarga diminta memperhatikan secara khusus hygiene
perorangan.
Perjalanan dan Prognosis
Konjungtivitis bakteri akut hampir selalu sembuh sendiri, infeksi
dapatberlangsung selama 10-14 hari; jika diobati dengan memadai, 1-3 hari,
kecuali konjungtivitis stafilokokus (yang dapat berlanjut menjadi
blefarokonjungtivitis dan memasuki tahap mnehun) dan konjungtivitis gonokokus
(yang bila tidak diobati dapatberakibat perforasi kornea dan endoftalmitis).
Karena konjungtiva dapat menjadi gerbang masuk bagi meningokokus ke dalam
darah dan meninges, hasil akhir konjungtivitis meningokokus adalah septicemia
dan meningitis.
Konjungtivitis bacterial menahun mungkin tidak dapat sembuh sendiri dan
menjadi masalah pengobatan yang menyulitkan.
Pencegahan yang dapat dilakukan pada kasus konjungtivitis, yaitu:
1) Konjungtivitis mudah menular, karena itu sebelum dan sesudah
membersihkan atau mengoleskan obat, penderita harus mencuci tangannya
bersih-bersih.
2) Usahakan untuk tidak menyentuh mata yang sehat sesudah menangani mata
yang sakit.
3) Jangan menggunakan handuk atau lap bersama-sama dengan penghuni rumah
lainnya.

2.5.2 Konjungtivitis Alergi2,3,6


Tanda dan gejala
Sensasi terbakar, bertahi mata berlendir, merah, dan fotofobia. Tepian
palpebra eritemosa, dan konjungtiva tampak putih seperti susu. Terdapat papilla
halus, namun papilla raksasa tidak berkembang seperti pada keratokonjungtivitis
19

vernal, dan lebih sering terdapat di tarsus inferior. Berbeda dengan papilla raksasa
pada keratokonjungtivitis vernal, yang terdapat di tarsus superior. Tanda-tanda
kornea yang berat muncul pada perjalanan lanjut penyakit setelah eksaserbasi
konjungtivitis terjadi berulang kali. Timbul keratitis perifer superficial yang
diikuti dengan vaskularisasi. Pada kasus berat, seluruh kornea tampak kabur dan
bervaskularisasi, dan ketajaman penglihatan.
Biasanya ada riwayat alergi (demam jerami, asma, atau eczema) pada
pasien atau keluarganya. Kebanyakan pasien pernah menderita dermatitis atopic
sejak bayi. Parut pada lipatan-lipatan fleksura lipat siku dan pergelangan tangan
dan lutut seringditemukan. Seperti dermatitisnya, keratokonjungtivitis atopic
berlangsung berlarut-larut dan sering mengalami eksaserbasi dan remisi. Seperti
keratokonjungtivitis vernal, penyakit ini cenderung kurang aktif bila pasien telah
berusia 50 tahun.
Laboratorium
Kerokan konjungtiva menampakkan eosinofil, meski tidak sebanyak yang
terlihat sebanyak pada keratokonjungtivitis vernal.
Terapi
Antihistamin oral, baik AH-1 maupun AH-2. Belakangan ini diketahui juga
bahwa terfenadine (60-120 mg 2x sehari), astemizole (10mg empat kali sehari),
atau hydroxyzine (50 mg waktu tidur, dinaikkan sampai 200mg) ternyata
bermanfaat. Obat-obat antiradang non-steroid yang lebih baru, seperti ketorolac
dan iodoxamid, ternyata dapat mengatasi gejala pada pasien-pasien ini.Pada kasus
berat, plasmaferesis merupakan terapi tambahan. Pada kasus lanjut dengan
komplikasi kornea berat, mungkin diperlukan transplantasi kornea untuk
mengembalikan ketajaman penglihatannya.

2.5.3 Konjungtivitis Viral2-6


a. Demam Faringokonjungtival
Tanda dan gejala
Demam Faringokonjungtival ditandai oleh demam 38,3⁰-40⁰ C, sakit
tenggorokan, dan konjungtivitis folikuler pada satu atau dua mata. Folikuler
20

seringsangat mencolok pada kedua konjungtiva dan pada mukosa faring. Mata
merah dan berair mata sering terjadi, dan kadang-kadang sedikit kekeruhan daerah
subepitel. Yang khas adalah limfadenopati preaurikuler (tidak nyeri tekan).
Laboratorium
Demam faringokonjungtival umumnya disebabkan oleh adenovirus tipe 3
dan kadang – kadang oleh tipe 4 dan 7. Virus itu dapat dibiakkan dalam sel HeLa
dan ditetapkan oleh tes netralisasi. Dengan berkembangnya penyakit, virus ini
dapat juga didiagnosis secara serologic dengan meningkatnya titer antibody
penetral virus. Diagnosis klinis adalah hal mudah dan jelas lebih praktis.
Kerokan konjungtiva terutama mengandung sel mononuclear, dan tak ada
bakteri yang tumbuh pada biakan. Keadaan ini lebih sering pada anak-anak
daripada orang dewasa dan sukar menular di kolam renang berchlor.
Terapi
Tidak ada pengobatan spesifik. Konjungtivitisnya sembuh sendiri,
umumnya sekitar 10 hari.

b. Keratokonjungtivitis Epidemika
Tanda dan gejala
Keratokonjungtivitis epidemika umumnya bilateral. Awalnya sering pada
satu mata saja, dan biasanya mata pertama lebih parah. Pada awalnya pasien
merasa ada infeksi dengan nyeri sedang dan berair mata, kemudian diikuti dalam
5-14 hari oleh fotofobia, keratitis epitel, dan kekeruhan subepitel bulat. Sensasi
kornea normal. Nodus preaurikuler yang nyeri tekan adalah khas. Edema
palpebra, kemosis, dan hyperemia konjungtiva menandai fase akut. Folikel dan
perdarahan konjungtiva sering muncul dalam 48 jam. Dapat membentuk
pseudomembran dan mungkin diikuti parut datar atau pembentukan
symblepharon.
Konjungtivitis berlangsung paling lama 3-4 minggu. Kekeruhan subepitel
terutama terdapat di pusat kornea, bukan di tepian, dan menetap berbulan-bulan
namun menyembuh tanpa meninggalkan parut.
21

Keratokonjungtiva epidemika pada orang dewasa terbatas pada bagian luar


mata. Namun, pada anak-anak mungkin terdapat gejala sistemik infeksi virus
seperti demam, sakit tenggorokan, otitis media, dan diare.
Laboratorium
Keratokonjungtiva epidemika disebabkan oleh adenovirus tipe 8, 19, 29,
dan37 (subgroub D dari adenovirus manusia). Virus-virus ini dapat diisolasi
dalam biakan sel dan diidentifikasi dengan tes netralisasi. Kerokan konjungtiva
menampakkan reaksi radang mononuclear primer; bila terbentuk pseudomembran,
juga terdapat banyak neutrophil.
Penyebaran
Transmisi nosokomial selama pemeriksaan mata sangat sering terjadi
melalui jari-jari tangan dokter, alat-alat pemeriksaan mata yang kurang steril, atau
pemakaian larutan yang terkontaminasi. Larutan mata, terutama anestetika topical,
mungkin terkontaminasi saat ujung penetes obat menyedot materi terinfeksi dari
konjungtiva atau silia. Virus itu dapat bertahan dalam larutan itu, yang menjadi
sumber penyebaran.
Pencegahan
Bahaya kontaminasi botol larutan dapat dihindari dengan dengan memakai
penetes steril pribadi atau memakai tetes mata dengan kemasan unit-dose. Cuci
tangan secara teratur di antara pemeriksaan dan pembersihan serta sterilisasi alat-
alat yang menyentuh mata khususnya tonometer juga suatu keharusan. Tonometer
aplanasi harus dibersihkan dengan alcohol atau hipoklorit, kemudian dibilas
dengan air steril dan dikeringkan dengan hati-hati.
Terapi
Sekarang ini belum ada terapi spesifik, namun kompres dingin akan
mengurangi beberapa gejala. kortikosteroid selama konjungtivitis akut dapat
memperpanjang keterlibatan kornea sehingga harus dihindari. Agen antibakteri
harus diberikan jika terjadi superinfeksi bacterial.

c.Konjungtivitis Virus Herpes Simpleks


Tanda dan gejala
22

Konjungtivitis virus herpes simplex biasanya merupakan penyakit anak


kecil yang merupakan keadaan yang luar biasa yang ditandai pelebaran pembuluh
darah unilateral, iritasi, bertahi mata mukoid, sakit, dan fotofobia ringan. Pada
kornea tampak lesi-lesi epithelial tersendiri yang umumnya menyatu membentuk
satu ulkus atau ulkus-ulkus epithelial yang bercabang banyak (dendritik).
Konjungtivitisnya folikuler. Vesikel herpes kadang-kadang muncul di palpebra
dan tepian palpebra, disertai edema hebat pada palpebra. Khas terdapat sebuah
nodus preaurikuler yang terasa nyeri jika ditekan.
Laboratorium
Tidak ditemukan bakteri di dalam kerokan atau dalam biakan. Jika
konjungtivitisnya folikuler, reaksi radangnya terutama mononuclear, namun jika
pseudomembran, reaksinya terutama polimorfonuklear akibat kemotaksis dari
tempatnekrosis. Inklusi intranuklear tampak dalam sel konjungtiva dan kornea,
jika dipakaifiksasi Bouin dan pulasan Papanicolaou, tetapi tidak terlihat dengan
pulasan Giemsa.Ditemukannya sel – sel epithelial raksasa multinuclear
mempunyai nilai diagnostic.
Virus mudah diisolasi dengan mengusapkan sebuah aplikator berujung
kain kering di atas konjungtiva dan memindahkan sel-sel terinfeksi ke jaringan
biakan.
Terapi
Jika konjungtivitis terdapat pada anak di atas 1 tahun atau pada orang
dewasa, umumnya sembuh sendiri dan mungkin tidak perlu terapi. Namun,
antivirus local maupun sistemik harus diberikan untuk mencegah terkenanya
kornea. Untuk ulkus kornea mungkin diperlukan debridemen kornea dengan hati-
hati yakni denganmengusap ulkus dengan kain kering, meneteskan obat antivirus,
dan menutupkan mata selama 24 jam. Antivirus topical sendiri harus diberikan 7 –
10 hari: trifluridinesetiap 2 jam sewaktu bangun atau salep vidarabine lima kali
sehari, atau idoxuridine 0,1 %, 1 tetes setiap jam sewaktu bangun dan 1 tetes
setiap 2 jam di waktu malam. Keratitis herpes dapat pula diobati dengan salep
acyclovir 3% lima kali sehari selama10 hari atau dengan acyclovir oral, 400 mg
lima kali sehari selama 7 hari.
23

Untuk ulkus kornea, debridmen kornea dapat dilakukan. Lebih jarang


adalah pemakaian vidarabine atau idoxuridine. Antivirus topical harus dipakai 7-
10 hari. Penggunaan kortikosteroid dikontraindikasikan, karena makin
memperburuk infeksi herpes simplex dan mengkonversi penyakit dari proses
sembuh sendiri yang singkatmenjadi infeksi yang sangat panjang dan berat.
Tabel 1. Perbedaan konjungtivitis berdasarkan penyebabnya
Virus Bakteri Klamidia Alergi
Gatal Minimal minimal Minimal Hebat
Hiperemi Umum umum Umum Umum
Air mata Banyak sedang Sedang Sedang
Eksudasi Minimal banyak Banyak Minimal
Kerokan Monosit PMN PMN, sel Eosinofil
eksudat plasma,
inklusi
Sakit Kadang kadang Tak pernah Tak pernah
tenggorokan,
demam
Pengobatan Sulfonamide, Antihistamin,
gentamicin kortikosteroid
0,3%,
kloramfenikol
0,5%

2.6 Komplikasi
Komplikasi yang terjadi apabila tidak ditangani dengan baik berupa
terjadinya keratitis, ulkus, dan bisa perforasi sehingga menyebabkan uveitis
anterior, glaukoma, dan endoftalmitis.

2.7 Prognosis
Bila segera diatasi, konjungtivitis ini tidak akan membahayakan. Namun
jika bila penyakit radang mata tidak segera ditangani / diobati bisa menyebabkan
kerusakan pada mata/gangguan dan menimbulkan komplikasi seperti glaukoma,
katarak maupun ablasi retina
24

BAB III
ANALISA KASUS
25

ANALISIS PASIEN SECARA HOLISTIK


a. Hubungan diagnosis penyakit dengan keadaan rumah dan lingkungan
sekitar
Pasien dari anamnesis didapatkan keluhan utama mata kanan dan kiri
terlihat merah sejak 2 hari sebelum datang ke Puskesmas. Dari anamnesis dan
pemeriksaan fisik, akhirnya didapatkan diagnosa penyakit yang diderita
pasien yaitukonjungtivitis bakterial akut ODS dengan keluhan diantaranya
mata berair, mata terasa agakgatal, dan kelopak matasulitdibuka ketika
bangun pada pagi hari. Dimana gejala ini sesuai dengan teori gejala
Konjungtivitis Bakterial.
Tidak ada hubungan penyakit dengan keadaan rumah dan lingkungan
sekitar. Dari kondisi rumah, diketahui bahwa secara keseluruhan rumah
pasien tampak rapi. Jadi dapat menyingkirkan faktor pencetus dari infeksi
pada mata pasien. Dimana konjungtivitis bacterial sendiri diketahui
disebabkan oleh adanya infeksi dari kuman.
b. Hubungan diagnosis dengan keadaan keluarga dan hubungan keluarga
Diagnosis penyakit pasien saat ini tidak berhubungan dengan keadaan
keluarga. Pasien mengaku tidak ada anggota keluarganya yang mengalami
keluhan penyakit seperti pasien.
c. Hubungan diagnosis dengan perilaku kesehatan dalam keluarga dan
lingkungan sekitar
Ada hubungan antara perilaku kesehatan pasien dengan diagnosis
penyakitnya. Pasien mengaku sering mengucek-ngucek mata karena
kemasukan debu saat mengantar cucunya bersekolah dengan menggunakan
tangan, dalam keadaan tangan yang tidak bersih. Ketika diantar menggunakan
sepeda motor, pasien sering tidak menutup kaca helmnya sehingga debu atau
angin sering langsung mengenai wajah dan mata.

d. Hubungan kausal antara beberapa masalah dengan diagnosis


26

Kausal penyebab timbulnya penyakit pada pasien ini yaitu adanya infeksi
bakteri.
e. Analisis kemungkinan berbagai faktor risiko atau etiologi penyakit :
Adapun faktor resiko yang menyebabkan timbulnya penyakit pasien yaitu
kebersihan higienitas tangan yang kurang baik,sehingga akan mempermudah
timbul penyakitnya atau memperberat penyakitnya jika pasien masih dengan
perilaku yang tidak bersih dan sehat. Berdasarkan etiologi penyakit, penyakit os
disebabkan oleh bakteri. hal ini tentu saja dapat menjadi pemicu adanya kuman-
kuman di dalam tangan tersebut yang nantinya akan menjadi etiologi penyakit
pada pasien ini, yaitu disebabkan oleh adanya infeksi bakteri. reaksi iritasi oleh
debu dan polusi udara lainnya..
f. Analisis untuk mengurangi paparan
Untuk mengurangi paparan dengan faktor resiko atau etiologi seperti yang telah
dijelaskan diatas, beberapa langkah untuk mengurangi paparan dengan faktor
resiko diantaranya:
 Menjaga kebersihan, cuci tangan pakai sabun dan bilas dengan air
bersih.
 Gunakan kaca mata saat berada di luar rumah.
 Saat berkendaraan, jangan biarkan kaca helm terbuka untuk mengurangi
paparan iritan.
 Tidur yang cukup minimal 6 jam untuk mengistirahatkan mata.
 Menggunakan handuk, dan sapu tangan baru yang terpisah untuk
membersihkan mata yang sakit
 Jangan menggunakan handuk atau lap bersama-sama dengan penghuni
rumah lainnya.
 Sebelum dan sesudah membersihkan atau mengoleskan obat, penderita
harus mencuci tangannya bersih-bersih
 Hindari menggosok-gosok kelopak mata dan daerah disekitar mata
yang sakit jika terasa gataldengan tangan yang tidak bersih
 Hindari menyentuh mata yang sehat selama masa pengobatan
27

g. Edukasi yang diberikanpadapasien


 Menganjurkan pasien untuk cuci tangan pakai sabun dan bilas dengan
air bersih
 Menganjurkan pasien untuk menggunakan kaca mata saat berada di
luar rumah
 Menganjurkan pasien untuk menutup kaca helm saat mengendarai
sepeda motor.
 Melarang pasien untuk tidak menggosok mata dengan tangan yang
tidak bersih.
h. Anjuran-anjuran promosi kesehatan penting yang dapat memberi
semangat/ mempercepat penyembuhan pada pasien.
 Gunakan obat antibiotik topikal pada mata secara rutin 3x perhari
selama 5 hari.
 Menjelaskan bahwa umumnya konjungtivitis dapat sembuh tanpa
pengobatan dalam waktu 10-14 hari, dan dengan pengobatan sembuh
dalam waktu 1-3 hari.
 Jika ingin cepat sembuh atau keluhan penyakit ini berkurang,
sebaiknya menjalani pengobatan yang diberikan secara rutin.
 Memang ada beberapa jenis konjungtivitis dapat hilang dengan
sendiri, tapi ada juga yang memerlukan pengobatan. Jika konjungtivitis
yang memerlukanpengobatan tidak segera ditangani/diobati bisa
menyebabkan kerusakan pada mata/gangguan dan menimbulkan
komplikasi seperti glaukoma, katarak maupun ablasi retina.
 Jika keluhan tidak berkurang setelah pengobatan selesai segera bawa
pasien ke Puskesmas atau Rumah Sakit untuk pemeriksaan lebih
lanjut.
28

DAFTAR PUSTAKA

1. Garcia-Ferrer FJ, Schwab IR, Shetlar DJ. Vaughan & Asburry’s General
Opthalmology. 16th edition. McGraw-Hill Companies. USA: 2004.
2. Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. 2005.
3. Nana, Wijana. Konjungtiva., pterygium Dalam: Ilmu Penyakit Mata.
Jakarta: EGC. 1996. Hal: 46-59
4. Scott, IU et al. Viral Conjunctivitis. 2011. Diunduh di
URL://http://emedicine.medscape.com/article/1191370-overview#showall
pada tanggal 25Mei 2017.
5. Wijana, Nana S.D. Jakarta:Ilmu Penyakit Mata. Abadi Tegal;1993.
6. PERDAMI. Ilmu Penyakit Mata Untuk Dokter Umum Dan Mahasiswa
Kedokteran.Jakarta. 2002.
29

LAMPIRAN

Pemeriksaan Pasien Ruang tamu Pasien


30

Kamar Tidur Pasien Ruangan Dapur

Kamar mandi Rumah tampak depan