Anda di halaman 1dari 18

Pengaruh Variasi Waktu Baking pada Pencapan Kain Campuran T/C dengan

Zat Warna Dispersi dan Zat Warna Reaktif Jenis Vinyl Sulfon

1. Maksud dan Tujuan


1.1. Maksud
Maksud dari praktikum ini adalah:
1.1.1. Melakukan proses pencapan pada kain T/C dengan zat warna dispersi dan
zat warna reaktif jeins vinyl sulfon dengan pengental alginat sesuai motif
kasa.
1.2. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah:
1.2.1. Mengidentifikasi pengaruh variasi suhu baking pada pencapan kain T/C
dengan zat warna dispersi dan zat warna reaktif jenis vinyl sulfon dengan
pengental alginat sesuai motif kasa melalui evaluasi ketuaan warna.

2. Teori Dasar
2.1. Proses Pencapan
Pencapan adalah suatu proses pemberian warna secara setempat atau tidak
merata pada kain, sehingga menimbulkan corak-corak tertentu. Pemberian zat warna
ini lebih banyak bersifat fisika-kimia.
Golongan zat warna yang digunakan untuk pencapan sama seperti golongan
zat warna untuk pencelupan kain. Selain itu pada pencapan, bermacam-macam
golongan zat warna dapat dipakai bersama-sama dalam pencapan satu kain, tanpa
saling mempengaruhi warna aslinya.
Sesuai dengan alat/ mesin yang digunakandalampencapan, maka dikenal :

 Pencapan semprot (Spray – printing)


 Pencapan blok (Block – printing)
 Pencapan perrotine (Perrotine – printing)
 Pencapan rambut serat (Flock – printing)
 Pencapan kasa/sablon (Screen – printing)
 Pencapan rol (Roller – printing)
 Pencapan transfer (Transfer – printing)
2.2. Serat Poliester
Poliester adalah serat sintetik yang paling banyak digunakan untuk bahan
tekstil, merupakan salah satu polimer hasil reaksi antara monomer asam tereftalat
dan etilena glikol seperti berikut :

Polimer yang terbentuk disebut polyester yang memiliki keteraturan struktur


rantai yang menyebabkan serat memiliki struktur yang rapat akibat rantai yang saling
berdekatan membentuk ikatan hydrogen antara gugus -OH dan gugus -COOH dalam
molekulnya. Oleh karena itu serat polyester bersifat hidrofob dan sulit dimasuki air
maupun zat warna. Agar dapat dimasuki air dan zat warna maka ikatan hydrogen
antar rantai molekul yang berdekatan harus dikurangi dengan cara menaikkan suhu.
Kenaikkan suhu mengakibatkan adanya vibrasi molekul yang memperlemah ikatan
antar molekul, menjadikan jarak antar rantai lebih longgar, serat menjadi plastis
sehingga dapat dimasuki oleh molekul air dan zat warna
Bahan yang cocok untuk pencelupan cara carrier adalah bahan poliester
regular baik dalam rajutan maupun tenunan, tetapi tidak cocok untuk pencelupan
kain polyester microfiber karena strukturnya terlalu padat.

Sifat Parameter

Kekuatan Tarik 4,0-6,9 gram/denier

Mulur 11%-40%

Moisture Regain (RH) 65% 0,4%

Modulus Tinggi (pembebanan 1,7 g/d menyebabkan mulur 2%

Berat Jenis 1,38 %

Titik Leleh 250oC

Morfologi Berbentuk Silinder dengan penampang bulat

Tahan asam lemah dan asam kuat dingin, tidak tahan


Sifat Kimia alkali kuat. Tahan oksidator pelarut untuk dry cleaning.
Larut dalam metakresol panas. Tahan jamur
2.3. Serat Kapas
Serat kapas merupakan salah satu contoh serat alam dari kelompok selulosa.
Serat ini dihasilkan dari rambut biji tanaman yang termasuk dalam jenis Gossypium.
Spesies yang kemudian berhasil dikembangkan menjadi tanaman industri adalah
Gossypium Hirsutum. Kapas jenis ini dikenal sebagai kapas Upland atau kapas
Amerika, dan ini saat merupakan 87% dari produksi kapas dunia.
Berdasarkan strukturnya, selulosa memiliki bentuk yang bercabang-cabang,
monomer-monomernya yang tersusun secara linear, serta diantara polimer-
polimernya terdapat ikatan hidrogen yang menghubungkan antar polimer yang satu
dengan yang lain.
Perhatikan struktur selulosa berikut.

Gugus –OH primer pada selulosa merupakan gugus fungsi yang berperan
untuk mengadakan ikatan dengan zat warna reaktif panas berupa ikatan kovalen.
Serat selulosa umumnya lebih tahan alkali tapi kurang tahan suasana asam,
sehingga pengerjaan proses persiapan penyempurnaan dan pencelupannya lazim
dilakukan dalam suasana alkali.

2.4. Zat Warna Dispersi


Zat warna dispersi pada mulanya banyak dipergunakan untuk mencelup serat
asetat yang merupakan serat hidrofob. Dengan dikembangkannya serat buatan yang
bersifat hidrofob, seperti serat poliakrilat, poliamida/Nylon, dan polyester, maka
penggunaan zat warna disperse makin meningkat. Pada waktu ini zat warna
disperse, terutama dipergunakan pada pencelupan serat polyester. Beberapa nama
dagang zat warna disperse adalah :
- Foron (Sandoz).
- Dispersol (I.C.I).
- Palanil (BASF).
- Sumikaron (Sumitomo-Jepang).
- Terasil (Ciba-Geigy).
Zat warna dispersi adalah hasil sintesa senyawa yang bersifat hidrofob
sehingga kelarutannya dalam air kecil sekali. Oleh karena itu zat warna ini dalam
pemakaiannya harus didispersikan dalam larutan. Pada pemakaiannya memerlukan
zat pengemban (carrier) atau adanya suhu yang tinggi. Zat warna disperse
digunakan dalam bentuk bubuk (powder dan micro powder) dan dalam bentuk
cairan. Sifat tahan cucinya baik tetapi tahan sinarnya jelek. Ukuran molekulnya
berbeda-beda dan perbedaan tersebut sangat erat hubungannya dengan sifat
kerataan dalam pencelupan dan sifat sublimasinya. Berdasarkan sturktur kimianya,
zat warna disperse dibagi menjadi beberapa golongan, yaitu :
1. Kromogen golongan Azo
Zat warna golongan azo umumnya menghsilkan warna kuning, oranye, merah, dan
beberapa warna ungu, biru, hitam

Zat Warna Dispersi Golongan Azo

2. Kromogen golongan Antrakuinon


Zat Warna golongan antrakuinon umumnya menghasilkan warna pink, merah,
ungu, dan biru. Kelebihan zat warna antrakuinon adalah warnya sangat cerah,
tahan sinar sangat baik, mudah rata, sedangkan kekurangannya adalah perlu
banyak zat warna untuk memperoleh warna tua (color build up jelek), tahan luntur
terhadap pencucian kurang baik, harganya mahal.

Zat Warna Dispersi Golongan Antraquinon

3. Kromogen golongan Thiopene


Zat warna ini mulai dikembangkan pada tahun 1970 untuk mensubtitusi zat warna
golongan antrakuinon, zat warna ini memiliki kelebihan dibanding zat warna
antrakuinon dalam hal color build up, warna biru yang brilian dan tahan luntur
warna terhadap pencucian lebih baik. Warna yang dihasilkan adlah warna biru
dan biru kehijauan.
Zat Warna Dispersi Golongan Thiopne

Berdasarkan ukuran molekul dan sifat sublimasinya, zat warna disperse digolongkan
menjadi 4 golongan, yaitu :
1. Tipe A, zat warna disperse yang mempunyai sifat kerataan pencelupan sangat
baik karena ukuran molekulnya paling kecil, akan tetapi mudah bersublimasi baik
karena ukuran molekulnya paling kecil, akan tetapi mudah bersublimasi pada
suhu 130oC, biasanya digunakan untuk mencelup selulosa asetat dan poliakrilat,
2. Tipe B (tipe E), zat warna disperse dengan ukuran molekul sedang, sifat keratin
pencelupan baik dan menyublim pada suhu 190oC, biasanya digunakan untuk
pencelupan polyester metoda carrier atau pencapan alih panas (transfer
printing).
3. Tipe C (tipe SE), zat warna disperse yang mempunyai sifat kerataan pencelupan
cukup baik, menyublim pada suhu 200oC, biasanya digunakan untuk pencelupan
cara carrier, HT/HP dan thermosol.
4. Tipe D (tipe S), zat warna disperse yang mempunyai sifat kerataan pencelupan
kurang baik, menyublin pada suhu 210oC, biasanya digunakan untuk pencelupan
polyester metoda HT/HP dan thermosol.
Dalam penggunaannya, pemilahan golongan zat warna tersebut harus tepat karena
sangat menentukan sifat-sifat hasil pencelupannya.

Sifat-sifat Zat Warna Dispersi


Sifat-sifat umum zat warna, baik sifat kimia maupun sifat fisika merupakan factor
penting dan erat hubungannya dengan penggunaanya dalam proses pencelupan.
Sifat-sifat umum zat warna disperse untuk pencelupan serat polyester (tipe B, C, dan
D) adalah sebagai berikut :
1. Mempunyai titik leleh sekitar 150oC dan kekristalinan yang tinggi.
2. Apabila digerus sampai halus dan didispersikan dengan zat pendispersi dapat
menghasilkan disperse yang stabil dalam larutan pencelupan dengan ukuran
partikel 0,5 – 2,0 µ.
3. Mempunyai berat molekul yang relative rendah.
4. Mempunyai tingkat kejenuhan 30 – 200 mg/g dalam serat.
5. Relatif tidak mengalami perubahan kimia selama proses pencelupan
berlangsung.
6. Pada dasarnya bersifat nonion walaupun mengandung gugus NH2, NHR, dan
-OH yang bersifat agak polar.
7. Kelarutan dalam air kecil sekali (kurang dari 30 mg/kg zat warna).
8. Ketahan luntur warna hasil pencelupan terhadap keringat dan pencucian sangat
baik tetapi ketahanan luntur warna terhadap sinarnya jelek.

2.5. Zat Warna Reaktif Panas

Zat warna reaktif panas adalah suatu zat warna yang dapat mengadakan
reaksi dengan serat berupa ikatan kovalen sehingga zat warna tersebut merupakan
bagian dari serat. Zat warna ini terutama dipakai untuk mencelup serat selulosa,
serat protein seperti wol dan sutera dapat juga dicelup dengan zat warna ini. Selain
itu serat poliamida (nilon) sering juga dicelup dengan zat warna reaktif untuk
mendapatkan warna muda dengan kerataan yang baik.

Selain itu, zat warna reaktif panas juga dapat dikatakan sebagai zat warna
yang larut dalam air dan berikatan dengan selulosa melalui ikatan kovalen sehingga
tahan luntur warna hasil celupannya baik. Contoh strukturnya adalah jenis mono
kloro triazin (MCT) sebagai berikut
Penggolongan Zat Warna Reaktif

Berdasarkan mekanisme reaksinya, zat warna reaktif dibagi menjadi dua


golongan, yakni zat warna rekatif yang bereaksi dengan serat melalui mekanisme
substitusi nukleofilik (SN)2 dan zat warna reaktif yang bereaksi dengan serat melalui
mekanisme adisi nukleofilik. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut.

a. Zat warna Procion H dan Drimarene X yang masing-masing mempunyai sistem


reaktif triazin dan pirimidin termasuk zat warna reaktif yang bereaksi dengan
serat melalui mekanisme substitusi nukleofilik (SN)2 yaitu sebagai berikut:

Mekanisme reaksi subtitusi Nukleofilik (SN2) pada fiksasi zat warna reaktif

Dengan laju reaksi = k. [Zat warna] [sel-O], jadi dalam pencelupan


memerlukan penambahan alkali untuk mengubah selulosa menjadi anion
selulosa (sebagai nukleofil.

Sel – O – H O Sel – O— + H2O


H

Semakin banyak alkali yang ditambahkan, pembentukan anion selulosanya
semakin banyak, maka reaksi fiksasi semakin cepat.

Secara singkat reaksi fiksasi tersebut dapat ditulis :

D–Cl sel—OH D—O—sel + HCl

Selain itu selama proses pencelupan dap terjadi reaksi hidrolisis sehingga zat
warna menjadi rusak dan tidak bisa fiksasi / berikatan dengan serat.

D–Cl + H—O—H D—O—sel


Faktor-faktor yang mempengaruhi reaksi hidrolisa:

Reaksi hidrolisa sangat dipengaruhi oleh berbagai macam faktor, seperti


misalnya kereaktifan zat warna, temperatur atau suhu, pH, maupun konsentrasi
air. Adapun penjelasan singkatnya adalah sebagai berikut.

1. Kereaktifan Zat Warna

Apabila zat warna kereaktifannya tinggi maka zat warna akan mudah rusak
terhidrolisis.

2. Temperatur

Jika temperature tinggi diawal maka reaksi hidrolisa bertambah cepat.

3. pH

Dengan pH yang tinggi maka terjadi reaksi hidrolisa terhadap serat semakin
tinggi.

4. Konsentrasi Air

Reaksi hidrolisa akan semakin besar jika konsentrasi air juga tinggi.

Beruntung reaksi hidrolisis ini lebih kecil dari reaksi fiksasi karena
kenukleofilan OH— lebih lemah dari sel—O, namun demikian dalam proses
pencelupan perlu diusahakan agar reaksi hidrolisis ini sekecil mungkin antara
lain dengan cara modifikasi skema proses pencelupan sedemikian rupa,
misalnya dengan cara menambahkan alkali secara bertahap.

Kelemahan zat warna reaktif selain mudah rusak terhidrolisis juga hasil
pencelupannya kurang tahan terhadap pengerjaan asam, sebagai contoh bila
hasil celup dilakukan proses penyempurnaan resin finis dalam suasana asam
maka ketuaan warana hasil celupnya akan sedikit turun.

b. Zat warna reaktif Sumifik dan Remazol

Zat warna reaktif Sumifik dan Remazol merupakan jenis zat warna reaktif
yang bereaksi dengan serat melalui mekanisme adisi nukleofilik. Zat warna
tersebut dijual dalam bentuk sulfatoetilsulfon yang tidak reaktif dan baru berubah
menjadi vinil sulfon yang reaktif setelah ada penambahan alkali.
Kelebihan zat warna Vinil Sulfon adalah relatif lebih tahan alkali, tetapi
kelemahannya adalah hasil celupnya mudah rusak oleh pengerjaan dalam
suasana alkali, contoh bila terhadap hasil pencelupan dilakukan proses pencucian
dengan sabun dalam suasana alkali dengan suhu yang terlalu panas, maka
ketuaan warnanya akan sedikit turun lagi.

Reaksi fiksasi dan hidrolisis zat warna reaktif jenis vinil sulfon :

Pemakaian zat warna reaktif secara panas yaitu untuk zat warna reaktif yang
mempunyai kereaktifan rendah, misalnya procion H, cibacron dengan sistem
reaktif mono-khlorotriazin, dan remazol dengan sistem reaktif vinil sulfon.

Adanya kekurangan dari kedua golongan zat warna reaktif tersebut maka saat ini
banyak digunakan zat warna reaktif dengan fungsi gugus ganda (bifunctional
reactive dyes) seperti sumifik supra( mono chloro tiazin (MTC)-vinil sulfon (VS)
dan drimarene CL (tricholoropirimidin (TCP)-vinil Sulfon (VS), sehingga zat
warnanya lebih tahan hidrolisis. Efisiensi fiksasinya tinggi dan hasil celupnya lebih
tahan alkali dan tahan asam. Varian zat warna reaktif lainnya juga dibuat
misalnya zat warna reaktif yang lebih tahan panas dan afinitasnya lebih besar
maupun zat warna reaktif yang dapat fiksasi pada suasana nertral.

2.6. Proses Pencucian

Kain setelah pencapan dikerjakan pembilasan dan pencucian sabun untuk


menghilangkan pengental, zat warna yang tidak berikatan atau menempel pada
permukaan bahan dan zat pembantu dari bahan. Untuk memperoleh tahan luntur
warna yang lebih optimum dikerjakan proses penyabunan panas dengan larutan
sabun dengan penambahan Na2CO3 pada suhu 70°C selama 10 menit. Proses
pencucian sabun juga memperbaiki ketahanan luntur warna terhadap gosokan dan
pencucian.
3. Metodologi Penelitian
3.1. Alat, Bahan, dan Zat
3.1.1. Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah :
 Gelas plastik
 Ember plastik
 Gelas piala
 Gelas ukur
 Pipet ukur
 Batang pengaduk
 Mixer
 Screen bermotif
 Rakel
 Timbangan
 Mesin stenter
 Mesin baking
 Penangas
 Panci
 Baki plastik
 Alat tulis
 Sumber pustaka

3.1.2. Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah :
 Kain T/C
 Air atau balance

3.1.3. Zat
Zat yang digunakan dalam praktikum ini adalah :
 Zat warna dispersi (Dianix Orange dan Terasil Royal Blue W-EL)
 Zat warna reaktif (Remazol Black B 133% Lot No. DC 10009 dan
Remazol-Gelb FG)
 Zat pendispersi (Cetamel WS)
 Urea
 Zat anti reduksi (Dekaprint AR CONC)
 Na2CO3
 Pengental alginat
 Sabun/ detergen
3.2. Diagram Alir Proses

Persiapan Pencapan
1. Pembuatan Pengental Induk
2. Pembuatan Pasta Cap

Proses Pencapan

Drying
(100ºC; 2 menit)

Thermofiksasi dengan Baking


(Variasi Waktu : 1,2,3,4 menit;
170ºC)

Washing Off
(70ºC; 10 menit)

Pembilasan

Pengeringan

Evaluasi
(Ketuaan Warna)
3.3. Resep
1.1.1. Resep Pengental Alginat 5% (Pengental Induk)
- Dekaprint LX-50 : 35 g
- Air : 665 g
700 g
1.1.2. Resep Pasta Cap
- Zat warna dispersi
(Dianix Orange dan Terasil Royal Blue W-EL) : 30 g
- Zat warna reaktif
(Remazol Black B 133% Lot No. DC 10009
dan Remazol-Gelb FG) : 30 g
- Zat pendispersi (Cetamel WS) : 20 g
- Urea : 100 g
- Zat anti reduksi (Dekaprint AR CONC) : 10 g
- Na2CO3 : 20 g
- Pengental alginat 5% : 700 g
- Balance : 90 g

1000 g
1.1.3. Resep Pencucian
- Na2CO3 : 2 g/L
- Sabun/ detergen : 1 g/L
- Suhu : 70⁰C
- Waktu : 10 menit

3.4. Fungsi Zat


 Zat warna dispersi (Dianix Orange dan Terasil Royal Blue W-EL)
Berfungsi mewarnai serat poliester sesuai motif.
 Zat warna reaktif (Remazol Black B 133% Lot No. DC 10009 dan
Remazol-Gelb FG)
Berfungsi mewarnai serat kapas sesuai motif.
 Zat pendispersi (Cetamel WS)
Mendispersikan zat warna dispersi didalam pasta cap.
 Urea
Sebagai zat higroskopis untuk menjaga kelembaban pasta cap.
 Zat anti reduksi (Dekaprint AR CONC)
Sebagai zat anti reduksi yang mencegah pengental tereduksi.

 Na2CO3
Membantu proses fiksasi zat warna reaktif dengan serat kapas pada
proses pencapan dan pemberi suasana alkali pada proses pencucian
agar hasilnya lebih optimal.
 Pengental alginat
Meningkatkan kekentalan pasta cap, melekatkan zat warna pada bahan
tekstil dan sebagai pengatur viskositas.
 Sabun/ detergen
Menghilangkan zat warna yang tidak terfiksasi dipermukaan kain.
 Air
Sebagai pelarut dan pengatur viskositas.

3.5. Skema Proses

Pencapan c
Curing170 c
Drying 100°C;
°C; 1,2,3,4 Cuci Alkali Drying
2 menit
menit Panas Pembilasan
Persiapan
Pasta Cap Evaluasi

3.6. Langkah Kerja


a. Pembuatan Pengental Alginat 5%(Pengental Induk)
1. Ditimbang Dekaprint LX-50 sebanyak 35 gram.
2. Ditambahkan air yang sudah ditimbang sebanyak 665.
3. Diaduk secara merata dengan menggunakan mixer sampai pengental
mengental secara homogen.
b. Pembuatan Pasta Cap
1. Dilarutkan zat warna dispersi, zat warna reaktif, zat anti reduksi, zat
pendispersi, urea, natrium karbonat dengan menggunakan air sesuai
dengan perhitungan kebutuhan.
2. Diambil pengental alginate 5% yang telah jadi sesuai dengan
kebutuhan,
3. Dimasukkan campuran zat warna dipersi, zat warna reaktif dan zat
pembantu lainnya ke dalam pengental dan diaduk terus sampai
semua bagian merata.
c. Pencapan
1. Dilakukan proses setting pada screen agar dihasilkan motif yang
sesuai.
2. Kain yang akan dicap dipasang pada meja cap dengan posisi terbuka
sempurna dan konstan pada meja cap.
3. Diletakkan screen tepat berada pada bahan yang akan dicap
4. Pasta cap dituangkan pada bagian atas motif screen (tidak mengenai
motif).
5. Ditahan screen agar tetap mengepres pada bahan, kemudian
dilakukan proses pencapan dengan cara memoles screen dengan
pasta cap menggunakan rakel.
6. Pada proses pencapan, penarikan rakel harus kuat dan menekan ke
bawah agar dapat mendorong zat warna masuk ke motif.
7. Screen kemudian dilepaskan ke atas.
8. Untuk screen berikutnya (warna berbeda), juga telah setting terlebih
dahulu sehingga proses pencapannya cukup mengikuti pengerjaan
dari nomor 3 hingga 6.
9. Setelah selesai kain dikeringkan menggunakan pengering (mesin
stenter) dengan suhu 100°C selama 2 menit.
10. Kemudian dilakukan proses baking pada suhu 170°C, dengan variasi
waktu selama 1, 2, 3 dan 4 menit. Kemudian kain tersebut dilakukan
pencucian sabun panas pada suhu 70°C selama 10 menit.
11. Setelah dilakukan pencucian sabun, kemudian kain dicuci panas dan
dingin dengan air mengalir dan dilakukan pengeringan sebelum
akhirnya dievaluasi ketuaan warma.
4. Data Pengamatan
4.1. Data Ketuaan Warna

Variasi Waktu Baking Nilai Ketuaan Warma Suhu Baking


1 Menit 1
2 Menit 2 170ºC

3 Menit 3
4 Menit 4

Keterangan : Nilai 1 sampai 4 menunjukkan ketuaan warna hasil pencapan semakin tua
(semakin besar nilai yang diberikan maka ketuaan warna hasil pencapan semakin tua).
5. Pembahasan

Grafik Hubungan Waktu Baking terhadap Nilai Ketuaan Warna Hasil Pencapan
4.5
4
Nilai Ketuaan Warna 3.5
3
2.5
2
1.5
1
0.5
0
0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
Waktu Baking (Menit)

Pada data praktikum diatas, menunjukkan bahwa semakin lama proses


baking maka semakin tinggi ketuaan warnanya. Hal ini disebabkan dengan semakin
lamanya proses baking maka semakin lama proses fiksasi zat warna disperse dan
reaktif panas (tipe vinil sulfon) ke dalam serat polyester-kapas, sehingga
menyebabkan rantai-rantai antar polimer poliester dan kapas didalam kain campuran
T/C semakin begetar dan membuat jarak antar polimernya menjadi longgar sehingga
menyebabkan semakin banyak zat warna disperse dan zat warna reaktif panas yang
terfiksasi ke dalam serat polyester-kapas dan menyebabkan semakin banyaknya zat
warna disperse yang masuk ke inti serat poliester dan semakin banyak juga zat
warna reaktif panas yang melakukan reaksi dengan selulosa (pada gugus hidroksi)
dalam bentuk ikatan kovalen. Akibat hal tersebut, ketuaan warna yang dihasilkan dari
pencapan zat warna disperse-reaktif panas pada kain polyester-kapas menjadi
semakin besar.

Zat warna reaktif panas jenis vinil sulfon memiliki ketahanan yang cukup baik
terhadap alkali sehingga saat alkali ditambahkan kedalam pasta cap tidak
menyebabkan perubahan warna pada zat warna, namun hasil pencapannya
cenderung tidak tahan alkali. Hal ini menyebabkan pada saat proses pencucian
lunturan warna yang dihasilkan cukup banyak dan menyebabkan ketuaan warnanya
menurun dari sebelum proses pencucian. Selain itu, zat warna reaktif panas jenis ini
memiliki berat molekul yang cukup besar sehingga zat warna tersebut memiliki suhu
sublimasi yang tinggi. Dengan suhu sublimasi yang tinggi, maka zat warna ini
memiliki ketahanan terhadap proses yang menggunakan suhu tinggi.

6. Kesimpulan
1. Semakin lama proses baking dilakukan dengan suhu baking yang sama (170ºC)
menghasilkan nilai ketuaan warna yang semakin meningkat.

DAFTAR PUSTAKA

Lubis, Arifin, dkk. 1998. Teknologi Pencapan Tekstil. Bandung: Sekolah Tinggi
Teknologi Tekstil.
Djufri, Rasjid., dkk. 1973. Teknologi Pengelantangan, Pencelupan dan Pencapan.
Bandung: Institute Teknologi Tekstil.
Anonymous. Diktat Praktikum Teknologi Pencapan 2. Bandung: Sekolah Tinggi
Teknologi Tekstil Bandung.
Gitopatmojo, I. (1978). Pengantar Kimia Zat Warna. Bandung: Institute Teknologi
Tekstil.
M. Ichwan, A. (2013). Bahan Ajar Praktikum Pencelupan II. Bandung: Sekolah Tinggi
Teknologi Tekstil.
Pedoman Praktikum Pengelantangan dan Pencelupan, Institut Teknologi Tekstil.
1978. Bandung: Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil.
LAMPIRAN

Perhitungan Resep Pasta Cap

30
 Zat warna disperse : x 50 gram=1,5 gram
1000

30
 Zat warna reaktif : x 50 gram=1,5 gram
1000

20
 Zat pendispersi : x 50 gram=1 gram
1000

100
 Urea : x 50 gram=5 gram
1000

10
 Zat anti reduksi : x 50 gram=0,5 gram
1000

20
 Na2CO3 : x 50 gram=1 gram
1000

700
 Pengental alginate 8% : x 50 gram=35 gram
1000

90 140
 Balance : x 50 gram=4,5 gram x 50 gram=7 gram
1000 1000

Perhitungan Resep Washing Off

 Larutan : 6 liter

2 gram 1 gram
 Na2CO3 : x 6 L=12 gram x 6 L=6 gram
1L 1L

1 gram 1mL
 Teepol : x 6 L=6 gram x 6 L=6mL
1L 1L
LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI PENCAPAN 2

PENGARUH VARIASI SUHU BAKING PADA PENCAPAN KAIN CAMPURAN T/C


DENGAN ZAT WARNA DISPERSI DAN ZAT WARNA REAKTIF JENIS VINYL
SULFON

Nama : Adryan M. Fauzan (17020005)


Alma Quamilla (17020008)
Annisa Fitri R. (17020012)
Arina Ratna Dewi (17020014)
Cakra Bayu P. (17020019)

Grup : 3K1

Kelompok :4

Dosen : Wulan S., S.ST, M.T

Asisten : Briyan M. R. R., S.ST


Desiriana

POLITEKNIK STTT BANDUNG


2020