Anda di halaman 1dari 15

GAYA SELINGKUNG

Menulis adalah sebuah keterampilan, keterampilan tidak akan terwujud tanpa


adanya pelatihan. Penting bagi kita membentuk diri supaya memiliki keterampilan
yang baik yaitu dengan terus menerus berlatih menulis dengan cara yang benar.
Dalam penulisan artikel ilmiah perlu diperhatikan dan diterapkan kaidah-kaidah
penulisan yang telah ditetapkan. Kaidah penulisan artikel ilmiah dapat dibagi dua yaitu
kaidah yang bersifat universal dan kaidah yang bersifat selingkung.
Secara umum kaidah yang bersifat universal lebih terfokus pada aturan-aturan
penggunaan bahasa indonesia yang baik dan benar. Sedangkan kaidah yang bersifat
selingkung berkaitan dengan norma-norma penulisan artikel yang bertolak dari
konvensi aturan-aturan penulisan yang lebih bersifat teknis yang harus diikuti oleh
penulis artikel untuk wadah terbitan yang menjadi tujuan.
Maka, dalam makalah ini akan dibahas mengenai pengertian kaidah
selingkung, kaidah penulisan artikel ilmiah, cara kaidah penulisan universal dan
kaidah penulisan selingkung dan contoh kaidah selingkung dalam penulisan karya
ilmiah.

Pengertian Kaidah Selingkung


Kaidah selingkung adalah aturan-aturan yang sifatnya berlaku dalam
lingkungan tertentu, misalnya departemen satu berbeda dengan departemen lainnya,
pemda satu berbeda dengan pemda lainnya, majalah satu berbeda dengan majalah
lainnya, jurnal satu berbeda dengan jurnal lainnya. Dengan demikian, apabila kita
menyusun karya tulis ilmiah, kita harus mengikuti aturan yang ada di lingkungan yang
dimaksud. Selingkung merupakan kaidah yang dijadikan pedoman kebahasaannya.
Dengan kata lain, penggunaan selingkung merupakan ciri khas gaya bahasa sekaligus
tata tertib yang dapat ditemukan dalam buku-buku produksi sebuah penerbitan.
Sifatnya luwes, berubah-ubah sesuai kesepakatan internal antara para editor di penerbit
bersangkutan.
Dalam penulisan artikel ilmiah perlu diperhatikan dan diterapkan kaidah-
kaidah penulisan yang telah ditetapkan. Kaidah penulisan artikel ilmiah dapat dibagi
dua yaitu kaidah yang bersifat universal dan kaidah yang bersifat selingkung. Secara
umum kaidah yang bersifat universal lebih terfokus pada aturan-aturan penggunaan
bahasa indonesia yang baik dan benar. Sedangkan kaidah yang bersifat selingkung
berkaitan dengan norma-norma penulisan artikel yang bertolak dari konvensi aturan-
aturan penulisan yang lebih bersifat teknis yang harus diikuti oleh penulis artikel untuk
wadah terbitan yang menjadi tujuan.

Kaidah Penulisan Artikel Ilmiah


Dalam penulisan artikel ilmiah (hasil penelitian atau hasil pemikiran) perlu
diperhatikan dan diterapkan kaidah-kaidah penulisan yang telah ditetapkan. Kaidah
penulisan artikel ilmiah dapat dipilah menjadi dua, yaitu kaidah-kaidah penulisan yang
bersifat “universal” dan kaidah-kaidah penulisan yang bersifat ‘selingkung”. Secara
umum kaidah penulisan yang bersifat ‘universal’ lebih terfokus pada aturan-aturan
penggunaan bahasa Indonesia yang berkaitan  dengan norma ketatabahasaan, dalam hal
ini norma bahasa Indonesia baku dan tidak baku (Lumintaintang,1996).
Kaidah penulisan artikel ilmiah yang bersifat selingkung berkaitan dengan
norma-norma penulisan artikel ilmiah yang bertolak dari konvensi aturan-aturan
penulisan yang bersifat teknis yang harus diikuti oleh penulis artikel untuk wadah
terbitan satu dengan yang lain biasa tidak sama. Karena itu, penulis artikel perlu
mengetahui aturan yang ditetapkan oleh wadah terbitan menjadi tujuannya, misalnya
kaidah selingkung Jurnal Ilmu Pendidikan (JIP) jika panulis hendak mengirimkan 
artikelnya ke JIP.

Kaidah Penulisan Universal dan Kaidah Penulisan Selingkung


1. Kaidah Penulisan Universal
Tata tulis artikel yang bersifat “universal” (dalam konteks Indonesia )
mengacu pada penggunaan ragam bahasa Indonesia (tulis) yang baku. Unsur
utama dalam bahasa Indonesia (tulis) yang baku adalah ejaan. Ejaan dalam
penyampaian ide/gagasan seseorang secara tertulis direpresentasikan dengan
kata kepada orang lain (sasaran komunikasi) mempunyai kedudukan yang
sangat penting. Dikatakan oleh Rifai (1995) bahwa kata yang digunakan untuk
menyampaikan satuan-satuan makna dengan corak, nuansa dan kekuatan yang
berbeda-beda. Kekuatan kata dalam bahasa tulis sepadan dengan warna dalam
lukisan, nada dalam musik, dan bentuk dalam ukiran. Unsur utama dalam
bahasa tulis (ejaan) inilah yang membedakannya dengan ragam bahasa lisan,
yang lebih menekankan unsur lafal. Sedangkan unsur yang lain yang menjadi
ciri bahasa Indonesia tulis yang baku adalah peristilahan, bentuk dan pilihan
kata, pengalimatan, pengalinaan, dan tanda baca (Lumintaintang,1996).
Unsur-unsur bahasa Indonesia (tulis) diatas harus diperhatikan, dicermati, dan
digunakan dalam menulis artikel ilmiah. Hal ini mengarahkan kita untuk
mengatakan bahwa tidak tepat lagi pemakaian tanda baca (koma) yang
dihubungkan dengan panjang-pendeknya nafas. Mengapa? arena dalam
penyampaian gagasan ide seseorang yang dipresentasikan dengan bahasa tulis,
setiap pemakaian tanda baca akan memiliki nilai semantik.

2. Kaidah Penulisan Selingkung


Kaidah penulisan ini lebih berorientasi pada konvensi aturan penulisan
artikel yang bersifat teknis. Kaidah penulisan selingkung ini mungkin berbeda
antar wadah terbitan satu dengan yang lain, baik dalam satu lembaga maupun
antar lembaga. Faktor penyebab adanya perbedaan kaidah selingkung antar
penerbitan jurnal antara lain konteks bidang, karakteristik, lembaga penaung,
asosiasi profesi, dan jenis pengelompokan artikel. Beberapa hal yang terkait
dengan gaya selingkung dalam wadah terbitan jurnal adalah: sistematika
penulisan, cara merujuk, cara menulis daftar rujukan, penulisan/penyajian
tabel, penulisan/penyajian gambar, dan penulisan identitas penulis.
Dalam penerbitan, ada istilah yang disebut gaya selingkung. Gaya
selingkung ini merupakan gaya bahasa yang ditentukan penerbit sebagai salah
ciri khas. Selain itu, gaya selingkung ini bisa dibilang merupakan gaya bahasa
baku bagi penerbit terkait. Sayangnya, gaya selingkung tersebut sering kali
bertentangan dengan ejaan baku yang berlaku.
Pada tataran morfologi, pelanggaran kaidah morfologi sebagai
perwujudan gaya selingkung penerbit juga dimunculkan. Sebagai contoh, kata
mempercayai bagi sejumlah penerbit merupakan bentuk yang baku, alih-alih
memercayai. Padahal proses pembentukannya sama saja seperti pada kata
memukul, yaitu memperoleh akhiran -i untuk kemudian mendapat awalan
meN-. Kata-kata yang lain bisa disebutkan di sini, yaitu mengkomunikasikan,
mempertahankan, dan sebagainya.

Ciri Khas Gaya Selingkung dalam Artikel Jurnal


Gaya selingkung merupakan ciri khas suatu jurnal yang sifatnya konsisten
dan tetap, seperti gaya penampilan dan gaya penulisan yang biasanya tercantum
sebagai pedoman penulisan jurnal tersebut (Santosa, 2014: 12). Gaya selingkung
jurnal, misalnya berupa pedoman penulisan artikel ilmiah, disusun oleh pengelola
jurnal yang bersang ilmiah yang berminat mengirimkan tulisannya dapat
menyesuaikan diri. Maksudnya, agar tampilan jurnal tersebut terjaga secara
konsisten (Wibowo, 2014: 179).
Beberapa gaya selingkung yang dapat dipelajari jika hendak mengirimkan
artikel atau jurnal adalah Metalingua,Kata, Lingua, Okara dan Gramatika. Beberapa
contoh alamat yang dituju untuk mengirimkan artikel jurnal tersebut merupakan
jurnal yang bertujuan mempublikasikan hasil- hasil penelitian bahasa, baik bahasa
Indonesia, daerah, maupun asing. Seluruh artikel yang terbit telah melewati proses
penelaahan dan penyuntingan oleh redaksi pelaksana.
Beberapa ciri khas atau gaya selingkung dari artikel jurnal di atas, adalah sebagai
berikut:
1. Metalingua
Metalingua adalah jurnal yang bertujuan mempublikasikan hasil-hasil penelitian
bahasa, baik bahasa Indonesia, daerah, maupun asing. Seluruh artikel yang terbit
telah melewati proses penelaahan oleh mitra bestari dan penyuntingan oleh
redaksi pelaksana. Metalingua diterbitkan oleh Balai Bahasa Jawa Barat. Jurnal
ini terbit dua kali dalam satu tahun, pada bulan Juni dan Desember. Berikut ini
gaya selingkung dari jurnal Metalingua adalah:
a. Menggunakan jenis huruf Book Antiqua
b. Pengaturan spasi yaitu “satu” dengan penulisan rata kanan dan kiri
c. Ukuran font yaitu 14 untuk judul besar, 12 untuk bab, dan 11 untuk isi artikel
jurnal
d. Menggunakan kolom campuran, yaitu satu dan dua kolom.

2. Lingua
Jurnal ini dipublikasi oleh Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri
Semarang yang diterbitkan pada bulan Juli 2004. Penerbitan jurnal ini dua kali
dalam satu tahun, pada bulan Juli dan Januari dengan isi artikel pada tinjauan
atau kritis analisis dan penelitian di bidang bahasa dan sastra. Jurnal ini
mencakup masalah-masalah bahasa yang diteliti dalam cabang-cabang
linguistik terapan, seperti sosiolinguistik, analisis wacana, analisis wacana
kritis, pragmatik, gaya bahasa, linguistik korpus dan lain-lain. Di bidang sastra,
mencakup sejarah sastra, teori sastra, kritik sastra dan lain-lain, yang mungkin
termasuk teks tertulis, film dan media lainnya Berikut ini gaya selingkung dari
jurnal Lingua adalah:
a. Penulisan judul menggunakan huruf Cambria dengan ukuran besaran 12 dan
menggunakan model italic serta bold
b. Hanya ada satu abstrak, dengan menggunakan bahasa Inggris
c. Kerangka jurnal terdiri dari heading 1, heading 2, heading 3 dan conclusion
d. Menyertakan tabel, diagram atau bagan sebagai pelengkap dalam jurnal yang
memperlihatkan hasil dari suatu penelitian

3. Okara
Jurnal Okara merupakan jurnal yang dapat diakses oleh siapa saja tanpa
memerlukan biaya baik oleh perorangan maupun lembaga. Jurnal ini diterbitkan
oleh STAIN Pamekasan, Madura. Melalui jurnal ini, pengunjung dapat membaca,
mengunduh, menyalin, mendistribusikan, mencetak, mencari, atau menautkan ke
teks lengkap dari artikel, atau menggunakannya untuk tujuan sah lainnya, tanpa
harus meminta izin kepada penerbit atau penulis.
Okara telah menjadi anggota Crossref sejak tahun 2015, oleh karena itu semua
artikel yang diterbitkan oleh Okara akan memiliki nomor DOI yang unik. Berikut
ini gaya selingkung dari jurnal Okara adalah:
a. Penulisan judul menggunakan font Goudy Old Style, 13, Sentence Case,
Alignment:Center
b. Abstrak berisi 150-200 kata saja
c. Kerangka penulisan terdiri dari Introduktion, method, result, conclusion, dan
references
d. Penulisan buku referensi dibuat dalam bentuk tabel.

4. Dialektika
Dialektika merupakan sebuah jurnal bahasa, sastra, dan pendidikan bahasa serta
sastra Indonesia. Jurnal ini diterbitkan oleh UIN Jakarta. Jurnal dialektika yang
terbit dua kali dalam setahun (Juni dan Desember) sejak tahun 2014 ini
memfokuskan diri pada isu-isu pendidikan bahasa Indonesia. Artikel yang
diterbitkan pada jurnal ini harus ditulis dalam dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia
dan bahasa Inggris. Berikut merupakan gaya selingkung dari jurnal Dialektika,
yaitu:
1) Judul ditulis dengan font Times New Roman ukuran 12 dan tidak lebih dari 16
kata
2) Artikel yang ditulis mengenai pengajaran bahasa Indonesia, berisi 3000-4500
kata, sebanyak 15-20 halaman
3) Sistematika artikel meliputi pendahuluan, metode, hasil dan pembahasan,
simpulan, gambar dan grafik atau tabel.
4) Penomoran pada sudut kanan atas halaman.
5) Gambar dan tabel berada pada halaman terakhir setelah referensi.

5. Poetika
Jurnal ini dipublikasi oleh Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada
Yogyakarta setiap setengah tahun sekali. Pertama kali terbit pada tahun 2011,
jurnal ini memuat artikel mengenai ilmu sastra. Poetika menyediakan forum
studi literasi bagi para pemeroleh beasiswa dengan minat khusus literasi Arab,
Indonesia, Inggris, Jepang, dan Prancis. Gaya selingkung dalam jurnal Poetika
adalah sebagai berikut:
A. Judul ditulis dengan font Times New Roman, ukuran 14, bold, maksimal
15 kata.
B. Abstrak ditulis dalam bahasa Indonesia, maksimal 200 kata, dalam satu
paragraf dengan spasi satu. Penulisan paragraf seringkas mungkin, berisi
permasalahan, metode, hasil penelitian, dan ringkasan simpulan.
C. Bagian abstrak pendahuluan, pembahasan, dan penutup ditulis dalam font
Times New Roman ukuran 12 spasi 1,5.
D. TRT pada daftar pustaka, 80% sumber harus merupakan sumber primer
(buku, artikel, dan sumber ilmiah lain), minimal 10 sumber.
Kaidah Penulisan/ Kaidah Gaya Selingkung
1) Judul
Judul dalam artikel konseptual berfungsi sebagai label yang
mencerminkan secara tepat intisari yang terkandung dalam artikel. Sebab itu,
pemilihan kata yang dipakai di dalam judul hendaknya dilakukan secara cermat. Di
samping aspek ketepatannya, pemilihan kata untuk judul perlu juga
mempertimbangkan pengaruhnya terhadap daya tarik judul bagi pembaca. Judul
artikel sebaiknya terdiri atas 5-15 kata.
2) Nama Penulis dan Lembaga Asal
Seperti pada penulisan nama dan asal lembaga pada artikel hasil
penelitian, penulis nama pengarang pada artikel konseptual dilakukan tanpa
disertai gelar akademik atau gelar lain apapun. Nama lembaga tempat bekerja
penulis dicantumkan sebagai catatan kaki di halaman pertama artikel. Jika artikel
ditulis oleh dua orang atau lebih, semua ditulis secara berurutan mulai dengan
penulis utama. Apabila semua penulis berasal dari lembaga yang sama, nama
lembaga asal hanya ditulis sekali. Namun apabila penulis berasal dari lembaga
yang berlainan semua nama lembaga asal penulis harus dicantumkan pada catatan
kaki, mulai dengan lembaga asal penulis utama dengan penanda 1, 2, 3 dan
seterusnya dengan format superscrip.
3) Abstrak dan Kata Kunci
Untuk artikel hasil penelitian konseptual, abstrak berisi ringkasan isi
artikel yang dituangkan secara padat. Abstrak untuk artikel jenis ini bukanlah
komentar atau pengantar dari penyunting atau redaksi. Abstrak berisi pernyataan
ringkas dan padat tentang gagasan terpenting di dalam artikel. Gagasan itu antara
lain mencangkup masalah, tujuan, dan ringkasan hasil pemikiran sebagai
tekanannya.
Abstrak yang mendahului artikel berbahasa indonesia hendaknya ditulis
dalam bahasa Inggris, sedangkan untuk artikel yang berbahasa inggris dilengkapi
dengan abstrak berbahasa indonesia. Panjang abstrak antara 50 sampai dengan 75
kata dan ditulis dalam satu paragraf. Dengan ketikan berspasi tunggal
menggunakan format yang lebih sempit daripada teks utama (margin kanan dan
kiri menjorok masuk 1,2 cm). Abstrak diikuti dengan kata kunci (key words) yang
merupakan kata pokok yang menggambarkan daerah masalah yang diteliti atau
istilah yang menggambarkan gagasan pokok artikel. Kata kunci dapat berupa kata
tunggal atau gabungan kata. Jumlah kata kunci dalam artikel ilmiah antara 3
sampai dengan 5 buah. Kata ini diperlukan untuk penelusuran lebih lanjut kedalam
sistem informasi dan telekomunikasi menggunakan teknologi internet.
4) Pendahuluan
Berbeda dengan isi pendahuluan di dalam artikel hasil penelitian, bagian
pendahuluan dalam artikel konseptual berisi uraian yang mengantarkan pembaca
kepada topik utama yang akan dibahas. Sebab itu, isi bagian pendahuluan
menguraikan berbagai yang mampu menarik pembaca untuk mendalami bagian
selanjutnya. Selain itu bagian pendahuluan hendaknya diakhiri dengan rumusan
singkat tentang hal pokok yang akan dibahas. Bagian pendahuluan tidak perlu
diberi judul.
5) Isi
Isi pada artikel konseptual sangat bervariasi. Bagian ini dapat berupa (1)
evaluasi terhadap teori yang ada, yang mencangkupi ragam, kelebihan, dan
kekurangannya, (2) deskripsi, eksplanasi, analisis, dan diskusi tentang fenomena
yang muncul dalam suatu komunitas, (3) strategi pengelolaan perkara tertentu, (4)
perbandingan antar teori untuk menjembatani kesenjangan diantaranya, (5)
kemungkinan penerapan suatu teori didalam kelompok masyarakat tertentu, (6)
telaah terhadap teori tertentu dan kemungkingan replikasinya dalam kondisi dan
situasi yang berlainan, dan sebagainya.
Walaupun Isi jenis artikel ini tidak perlu dibagi menjadi sub bagian, tiap
paragraf harus disusun secara sistematis dengan memperhatikan koherensi antara
bagiannya. Teks yang disusun dengan runtut, lugas, padu, dan jelas akan mampu
meyakinkan pembacanya untuk mengikuti alur pikir yang hendak disampaikan
oleh penulis kepada pembacanya.
6) Penutup
Istilah penutup digunakan sebagai judul bagian akhir artikel konseptual
jika isinya hanya berupa catatan akhir atau yang sejenisnya. Jika uraian pada
bagian akhir berisi simpulan hasil pembahasan pada bagian sebelumnya, perlu
dimasukkan pada bagian kesimpulan. Kebanyakan artikel konseptual
membutuhkan simpulan.
Beberapa artikel konseptual yang dilengkapi dengan saran. Jika hendak
ditampilakan, saran yang mencakupi aspek pengembangan ilmu, penerapan teori,
dan aspek lain dapat ditempatkan dalam bagian tersendiri.
7) Catatan Akhir
Pada dasarnya catatan akhir dalam artikel konseptual serupa dengan
catatan akhir pada artikel ilmiah. Catatan ini berupa keterangan tambahan yang
diberikan kepada istilah khusus, nama tokoh, nama lembaga, tahun tertentu, simbol
dan sebagainya yang temuat di dalam artikel. Pencantuman catatan akhir ini
dilakukan dengan alasan bahwa walaupun dibutuhkan dan dianggap penting,
catatan tambahan dapat dianggap mengganggu tampilan nas pokok jika disispkan
kedalamnya.
8) Daftar Rujukan
a. Seperti pada artikel hasil penelitian, daftar rujukan atau references pada artikel
konseptual harus lengkap dan sesuai dengan rujukan yang disajikan dalam nas
artikel. Bahan pustaka yang dimasukkan dalam daftar rujuakan yang
disebutkan dalam nas harus disajiakan dalam daftar rujukan
Contoh Gaya Selingkung pada Jurnal
A. Jurnal Kata
a) Judul : Rekontruksionisme: Metode Komunikatif dalam Pemerolehan dan
Pembelajaran Bahasa untuk mengembangkan Kemampuan Berbahasa.
b) Format
1) Abstrak
Judul hendaklah ringkas dan informatif, dengan jumlah kata tidak lebih dari
12, sudah termasuk kata penghubung. Agar judul dapat ringkas dalam 12 kata,
hindari kata penghubung dan penyebutan objek, tempat atau bahan penelitian
yang sangat terperinci. Judul mengandung kata-kata kunci dari topik yang
diteliti. Jenis huruf Times New Roman 14, dengan jarak baris satu spasi Judul
dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris, sesuai dengan bahasa yang
dipergunakan dalam naskah dan hindari penggunaan singkatan, rumus dan
rujukan.
2) Baris Kepemilikan (authorship lines)
Afiliasi kelembagaan mahasiswa mengikuti tempat di mana yang
bersangkutan belajar. Nama-nama penulis hendaknya hanya satu orang yang
benar-benar berpartisipasi dalam penelitian. Jabatan akademik atau gelar
kesarjanaan tidak perlu dicantumkan Nama lembaga dicantumkan secara
lengkap sampai dengan nama Negara, ditulis di bawah nama penulis berserta
alamat pos, email dan faksimili (kalau ada) untuk keperluan koresponden. Jika
penulis lebih dari satu orang dan berasal dari kelembagaan berbeda, maka
semua alamat dicantumkan dengan memberikan tanda superskrip huruf kecil
dari a pada belakang nama penulis secara berurutan. Nama penulis
korespondensi diberi tanda bintang (*).
3) Abstrak
Abstrak ditulis secara ringkas dan faktual, meliputi tujuan penelitian, metode
penelitian, hasil dan simpulan. Abstrak ditulis dalam satu pragraf; ditulis
dalam dua bahasa (Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris); panjang absrak
berkisar antara 150 – 200 kata. Hindari perujukan dan penggunaan singkat
yang tidak umum.
4) Kata Kunci
Kata kunnci terdiri atas 3 sampai 5 kata dan/atau kelompok kata, ditulis sesuai
urutan abjad dan antara kata kunci dipisahkan titik koma (;). Hindari banyak
kata penghung (dan, dengan, yang lain-lain)
5) Pendahuluan
Hindari sub-sub dalam pendahuluan. Pendahuluan hendaknya mengandung
latar belakang masalah, permasalahan dan tujuan penelitian. Persentase
panjang halaman pendahuluan antara 10-15 % dari panjang keseluruhan
naskah. Rujukan ditunjukkan dengan menuliskan nama keluarga/nama
belakang penulis dan tahun terbitan, tanpa nomor halaman. Landasan teori
ditampilkan dalam kalimat-kalimat lengkap, ringkas, serta benar-benar relevan
dengan tujuan penulisan artikel ilmaih.
6) Metode Penelitian
Informasikan secara lengkap metode yang digunakan meliputi subjek yang
diteliti, alat yang digunakan, rancangan percobaan atau disain yang digunakan,
teknik pengambilan sampel, variabel yang diukur, teknik pengambilan data,
analisis dan model statistik yang digunakan. Hindari penukisan rumus-rumus
statistik secara berlebihan. Untuk penelitian kualitatif, metode penelitian dapat
menyesuaikan.
7) Hasil dan Pembahasan
Format hasil penelitian dan pembahasan tidak dipisahkan, mengingat jumlah
halaman yang tersedia bagi penulis terbatas. Hasil penelitian dapat disajikan
dengan dukungan tabel, grafik atau gambar sesuai kebutuhan untuk
mempejelas hasil secara verbal. Judul tabel dan grafik atau keterangan gambar
disusun dalam bentuk frase (bukan kalimat) secara ringkas. Keterangan
gambar atau grafik diletakkan di bawah gambar atau grafik dan judul table
atau gambar di atasnya. Jangan mengulang menulis angka yang telah
tercantum dalam tabel di dalam teks pembahasan. Hindari copy dan paste tabel
hasil analisis statistic langsung dari software pengolah data statistik. Materi
pembahasan terutama mengupas apakah hasil yang didapat sesuai dengan
hipotesis atau tidak, dan kemukakan argumentasinya berdasarkan hasil
penelitian terdahulu oleh peneliti lain. Pengutipan rujukan dalam pembahasan
jangan terlalu panjang (bila perlu dihindari). Sitasi hasil penelitian atau
pendapat orang lain hendaknya disarikan dalam bahasa sendiri.
8) Simpulan
Simpulan hendaknya merupakan jawaban atau pertanyaan penelitian, dan
diungkapkan bukan dalam kalimat statistik. Ditulis sepanjang satu pragraf
dalam bentuk esai, tidak dalam numerical.
9) Ucapan terima kasih
Ditujukan kepada seluruh pihak yang membantu dalam porses penyelesaian
dalam pembuatan tulisan ilmiah.
10) Daftar Pustaka
Ketentuan umum penulisan daftar pustaka: Sistem rujukan dan daftar pustaka
wajib menggunakan program Mendeley (www.mendeley.com), End Note
(www.endnote.com), yang mengunakan sistem APA (Association Psychology
of America) Rujukan dicantumkan dalam daftar pustaka hanyalah rujukan
yang benar-benar dikutif dalam naskah. Untuk artikel hasil penelitian, daftar
pustaka dirujuk dari sekitar 10-15 artikel jurnal ilmiah. Sedangkan artikel non
penelitian sekurang-kuranya telah merujuk 15 artikel ilmiah. Kemutakhiran
jurnal ilmiah yang dirujuk sekurang-kurangnya 10 tahun terakhir. Daftar
pustaka disusun secara alphabet dan penulisan rujukan diawali dengan hurup
kapital hanya pada awal kalimat. Setiap penulisan nama, tahun, judul artikel
dan seterusnya diakhiri dengan titik (.) sebelum dilanjutkan kata berikutnya.
Khusus penulisan volume (nomor) jurnal diberi tanda titik dua (:) tanpa jarak
spasi.
c) Subtansi
Menggambarkan fenomena berbahasa Indonesia pada peserta didik,
menjelaskan pandan rekonstruksionisme dan peran metode komunikatif dalam
mengembangkan kemampuan berbahasa peserta didik (Amrizal).

B. Jurnal Lingua
a) Judul : Pengembangan Model Pembelajaran Mikro Inovatif bagi
Peningkatan Kompetensi Pedagogik Calon Guru Bahasa Indonesia
b) Format
1) Abstrak
Abstrak tidak boleh melebihi 200 kata. Tuliskan di Cambria 11, spasi baris 1.
margin cermin; atas 2,54 cm, di dalam 2,54 cm, bawah 2,54 cm, di luar 2 cm
dengan indentasi. Kata kunci harus dipilih secara hati-hati untuk memudahkan
pencarian pembaca dan dapat ditulis hingga lima kata
2) Pendahuluan
Pengantar harus dengan jelas menyatakan tujuan dari makalah. Ini harus
mencakup referensi utama untuk pekerjaan yang sesuai tetapi tidak boleh
menjadi tinjauan sejarah atau literatur. Isi makalah ini termasuk Pendahuluan,
Metode (untuk artikel berbasis penelitian), Isi, Kesimpulan, dan Referensi. Isi
artikel berbasis non-penelitian dapat mencakup beberapa sub-bab dengan judul
gratis tergantung pada penelitian.

3) Metode Penelitian
Jelaskan secara singkat tentang metode penelitian yang melibatkan desain
penelitian, populasi dan sampel, instrumen penelitian, prosedur pengumpulan
data, dan analisis data. Penjelasan yang sangat rinci tentang metode riset Anda
tidak perlu ditulis.
4) Penutup
Di mana catatan penjelasan dan referensi relevan, mereka harus ditunjukkan
dalam teks dengan nomor superskrip sebagai catatan akhir seperti ini [3].
Daftar lengkap semua catatan dan referensi harus disediakan di bagian akhir
makalah. Hanya sertakan referensi yang telah dikutip di koran.

5) Daftar Pustaka
Kutipan harus ditulis dalam catatan kaki.
c) Subtansi
Memaparkan bahwa micro teaching sebagai mata kuliah yang wajib diberikan
kepada mahasiswa sebelum diterjunkan ke sekolah sebagai wadah pematangan
mental calon guru bahasa dan sastra (Amrizal).
Kesimpulan
1. Kaidah selingkung adalah aturan-aturan yang sifatnya berlaku dalam lingkungan
tertentu, misalnya departemen satu berbeda dengan departemen lainnya, pemda
satu berbeda dengan pemda lainnya, majalah satu berbeda dengan majalah lainnya,
jurnal satu berbeda dengan jurnal lainnya.
2. Kaidah penulisan artikel ilmiah dapat dipilah menjadi dua, yaitu kaidah-kaidah
penulisan yang bersifat “universal” dan kaidah-kaidah penulisan yang bersifat
‘selingkung”.
3. Tata tulis artikel yang bersifat “universal” (dalam konteks Indonesia ) mengacu
pada penggunaan ragam bahasa Indonesia (tulis) yang baku. Kaidah selingkung
lebih berorientasi pada konvensi aturan penulisan artikel yang bersifat teknis.
DAFTAR PUSTAKA

Wardhani, I.G.A.K., dkk. 2011. Teknik Menulis Karya Ilmiah. Jakarta: Universitas
Terbuka.
Kusmana, Suherli. 2009. Merancang Karya tulis Ilmiah. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Vieka Rika. 2016. Kaidah Selingkung. Online “http://nay-
hyukvie.blogspot.co.id/2014/05/kaidah-selingkung.html” diunduh kamis, 05 Maret
2017 pukul 19.21 WIB.
Amrizal, Asprila Wisnu. Analisis Struktur Dan Gaya Selingkung Jurnal (Jurnal Okara,

Lingua, Gramatika, Kata Dan Metalingua). Universitas Sebelas Maret (diunduh


pada tanggal 24 Juli 2020 pukul 11.00 WIB)

Ruhayati, Laila. Ragam Penulisan Gaya Selingkung dan Struktur Jurnal Ilmiah di Indonesia.
Universitas Sebelas Maret (diunduh pada tanggal 24 Juli 2020 pukul 11.30 WIB)

Pramesti, DyahAyu. Gaya Selingkung Sebagai Identitas Format Penulisan Artikel Jurnal.
Universitas Sebelas Maret (diunduh pada tanggal 24 Juli 2020 pukul 11.45 WIB)

Pujiati, Annisa Dwi. Analisis Struktural Gaya Selingkung Jurnal Bahasa dan Sastra :
Poetika, Jilel, Kembara, Semantik, dan Madah. Bahasa Indonesia FKIP Universitas
Sebelas Maret Surakarta (diunduh pada tanggal 24 Juli 2020 pukul 12.00 WIB