Anda di halaman 1dari 18

PEMANTAUAN JANIN

SECARA ELEKTRONIK
Firman F. Wirakusumah

Dalam praktek memantau kesejahteraan janin, kita sebenarnya berhadapan


dengan ibu yang mengantarkan janin yang berada di dalam rahimnya untuk
diperiksa dokter. Walaupun janin terlindung dalam kandungan ibu, tetapi
dengan kemajuan dunia kedokteran sekarang, dokter dapat berbicara dengan janin
dan banyak informasi yang kita bisa dapatkan dengan menggunakan alat-alat bantu
diagnostik. Sejak dua atau tiga decade yang lalu telah dikembangkan alat bantu
untuk memantau janin secara elektronik.
Janin dapat diibaratkan sebagai kapal selam yang jauh di dalam lautan
dikelilingi air. Dalam ini janin berada dalam dinding korion dan terendam air.
Dia dapat kita lihat dengan menggunakan teknologi tertentu seperti teknologi fisika
dan elektronika. Dapat pula janin diibaratkan sebagai astronaut di dalam
kapsul ruang angkasa, dengan menggunakan teknologi tinggi kita dapat
mengadakan kontak dan mengontrol maupun mempengaruhinya.
Tujuan pemantaun janin secara elektronik adalah sederhana, dapat dikatakan
bahwa kita berikhtiar agar dalam memantau janin kita dapat menjamin bahwa
segala bahaya yang mungkin mengancam atau menimpa janin dalam rahim dapat
diketahui pada waktu yang tepat, sehingga kita dapat menghilangkan
pengaruh buruk yang mengancam kehidupannya atau kita dapat segera
mengeluarkannya dari rahim bila di dalam rahim kondisinya sudah tidak
memungkinkan janin tersebut hidup.
Dengan demikian, kita dengan segera dapat mengetahui fetus mana yang
berada dalam risiko dan daripadanya mana yang perlu dilakukan intervensi.

KARDIOTOKOGRAFI JANIN
Pemantauan janin secara elektronik dengan menggunakan alat
kardiotokografi berguna dalam menilai aktivitas dinamika jantung janin masa
antenatal maupun intra partum. Denyut jantung janin adalah hasil dari macam-macam
faktor fisiologis yang mengatur, yang paling berperan adalah sistem saraf
autonom. Sistem saraf simpatis dan parasimpatis berperan baik dalam mengatur
denyut jantung janin bila oksigenisasi janin baik.

Macam denyut jantung janin


Sirkulasi janin intra uterin berbeda dengan sirkulasi ekstra uterin antara
lain
dalam hal :
1. Bila dalam kehidupan ekstra uterin 50% darah yang dipompa jantung
adalah untuk sirkulasi sistematik dan 50% ke sirkulasi paru.
2. Dengan curah jantung per kg berat badan telah bekerja maksimal,
sehingga jantung orang dewasa, jantung janin telah bekerja maksimal,
sehingga tidak mampu untuk meningkatkan curah jantungnya lagi.
3. PO2 darh janin rendah (20-25 mmHg), tetapi karena saturasinya tinggi,
maka darah janin mampu mengangkut O2 lebih banyak.
Dengan sifat-sifat di atas, sebenarnya janin mudah sekali jatuh dalam
keadaan anoksia karena segala kemampuannya telah dipergunakan secara maksimal.
Bila terjadi anoksia akibat gangguan sirkulasi janin, bekerja pressor effect maka
terjadi vasokonstriksi selektif dan redistribusi aliran darah yang mengakibatkan terjadi
kenaikan tekanan darah dan takikardia. Sebaliknya bila anoksia tersebut terjadi
akibat gangguan sirkulasi plasenta akan terjadi bradikardia dan malahan panurunan
tekanan darah, syok
sampai kematian janin.
Denyut jantung janin normal berkisar antara 120-160 kali per menit, variasi
denyut jantung janin ini karena adanya keseimbangan rangsang susunan saraf pusat
(SPP) dalam hal ini sistem saraf simpatis dan parasimpatis. Denyut jantung janin ini
berubah-ubah dengan adanya gerakan janin dan rangsangan lain. Dalam keadaan
anoksia otak variasi frekuensi denyut jantung tersebut berkurang atau menghilang
meskipun diberi rangsang.
Beberapa batasan mengenai pola denyut jantung janin. Klasifikasi diajukan
oleh para peneliti seperti Hon, Caldeyro Barcia, Hammacher dan Wood. Dari
sekian banyak klasifikasi, klasifikasi Hon diterima secara luas.
Klasifikasi Hon ditujukan terutama untuk pemantauan intrapartum,
walaupun demikian dapat pula dipakai pada pemantauan anterpartum.

Istilah mengenai denyut jantung janin

1. Frekuensi denyut jantung basal (Baseline FHR)


Untuk menentukan frekuensi denyut jantung basal ini dilakukan selama 10
menit.

Takikardia : > 180 per menit


Takikardia ringan : 161 – 180 per menit
Normal : 120 – 160 per menit
Bradikardia ringan : 100 – 119 per menit
Bradikardia : < 100 per menit

Takikardia
Takikardia umumnya disebabkan karena imaturitas, febris pada ibu atau
hipoksia
ringan. Tetapi bila disertai dengan hilangnya variasi denyutan,
deselerasi lambat, deselerasi variabel atau denyutan yang tak teratur pada
akhir kontraksi uterus, hal ini menunjukkan tanda bahaya bagi janin.

Bradikardia
Bila tidak disertai adanya deselerasi, kemungkinan hal ini disebabkan
adanya
kelainan bawaan jantung janin atau postmaturitas. Sedangkan bila
disertai adanya deselerasi keadaan tersebut menandakan adanya keadaan
gawat janin.

2. Variabilitas denyut jantung janin (beat to beat variability)


Atas pengaruh saraf simpatik dan parasimpatik maka frekuensi
denyut jantung janin normal bervariasi menjadi cepat dan lambat secara terus
menerus. Dalam keadaan hipoksia variabilitas denyut jantung janin ini
menurun atau hilang sama sekali.
Variabilitas lebih dari 25 denyut jantung per menit disebut sebagai
saltatory, hal ini menandakan bahwa janin memerlukan tambahan sirkulasi
darah, misalnya pada tekanan yang tidak pada tali pusat. Tetapi bila disusul
dengan turunnya frekuensi denyut jantung basal, keadaan ini menandakan
bahwa mekanisme kompensasinya sudah tidak dapat mengatasi gangguan
tersebut.
Variabilitas yang normal berkisar antara 6-15 denyut per menit. Bila
janin dalam keadaan tidur atau pemakaian sedativa variasi berkisar antara 6-10
denyut per menit.
Variabilitas berkurang bila variasi 0-5 denyut per menit (0-2 denyut
per menit : tak ada variabilitas) yang menetap meskipun dirangsang,
menandakan janin dalam keadaan gawat. Dalam keadaan insufisiensi
uteroplasenter yang akut hilangnya variabilitas terjadi setelah deselerasi
lambat yang tidak segera diatasi. Sebaliknya pada insufisiensi yang kronis
(pada diabetes melitus dan preeklamsi) hilangnya variabilitas denyut jantung
janin terjadi lebih dahulu, dan bila disertai dengan deselerasi, maka
janin harus segera dilahirkan.
Bila terjadi deselerasi variabel, tapi gambaran variabilitas denyut
jantung janin masih baik, hal ini menunjukkan bahwa mekanisme
kompensasi janin masih dalam keadaan baik.

Pola Sinusoidal
Variasi denyut jantung yang rata dan mengalami undulasi yang
teratur dengan
amplitudo antara 5-10 per menit, dan terjadi secara periodik selama 15-25
detik. Pola ini
bersamaan atau bergantian dengan denyut jantung yang datar tanpa
variabilitas. Pola
sinusoidal ini menandakan bahwa janin menghadapi kematian seperti yang
biasanya di jumpai pada janin dengan eritroblastosis.

3. Akselerasi denyut jantung janin


Akselerasi secara periodik waktu kontraksi, terjadi pada letak sungsang,
pada postmaturitas dengan bradikardia dan setelah suatu deselerasi variabel. Dalam
keadaan normal akselerasi juga terjadi bila ada aktivitas janin (janin bergerak). Bila
akselerasi ini terjadi terus menerus dan melebihi 160 denyut per menit, maka hal ini
dianggap sebagai suatu takikardia.

4. Deselerasi denyut jantung janin


Deselerasi denyut jantung janin adalah penurunan frekuensi denyut jantung
janin
secara periodik berhubungan dengan adanya kontraksi uterus (uniform) atau
yang tidak berhubungan dengan kontraksi uterus (non-uniform).

Dikenal 3 macam deselerasi :


1. Deselerasi dini (early decelerations)
Terjadi secara periodik berhubungan dengan akhir kontraksi uterus,
mulainya bersamaan dengan akhir kontrkasi uterus, berlangsung singkat
dan tidak melebihi 90 detik. Deselerasi dini ini disebabkan karena
penekanan terhadap kepala (refleks vagal/ Cushing).
2. Deselerasi lambat (late deceleration)
Terjadi secara periodik berhubungan dengan kontraksi uterus (uniform),
mulainya agak lambat setelah kontraksi dan kembalinya juga lambat,
berlangsung selama kurang lebih 90 detik. Deselerasi lambat ini terjadi
pada keadaan insufisiensi utero plasenter.
3. Deselerasi variabel atau deselerasi tak teratur (non-uniform variable
deceleration).
Terjadi tidak beraturan, mulainya dapat dini, dapat pula lambat dan
berakhir agak beberapa saat setelah kontraksi selesai. Bentuknya tak
beraturan dengan penurunan sampai denyut mencapai 100/menit.
Keadaan ini biasanya disebabkan penekanan tali pusat.
4. Deselerasi gabungan (combined deceleration)
Merupakan campuran deselerasi yang disebut di atas akibat kelainan-
kelainan yang masing-masing dapat menghasilkan pola deselerasi sendiri-
sendiri.

Cara-cara memantau denyut jantung janin


Berdasarkan pola perubahan denyut jantung janin di atas, dan kenyataan
bahwa
denyut jantung janin juga dipengaruhi oleh faktor ekstrinsik (kontraksi uterus) dan
faktor instriksik (gerak janin), maka dikembangkan cara pemeriksaan untuk
mengetahui adanya
anoksia janin dengan menghubungkan pola denyut jantung janin dengan kontraksi
uterus
dan gerak janin.
Pemeriksaaan pola denyut jantung janin antepartum disebut :
1. Uji beban kontraksi / Contraction Stress Test (CST), bila pemeriksaan pola
denyut
jantung janin tersebut dihubungkan dengan kontraksi uterus yang spontan.
Oxytocin
Challenge Test (OCT), bila kontraksi ditimbulkan dengan pemberian infus
oksitosin.
2. Uji tanpa beban / Non Stress Test (NST), bila pemeriksaan pola denyut jantung
janin
tersebut dihubungkan dengan aktivitas/gerak janin.
PEMERIKSAAN DARAH
KULIT KEPALA JANIN
Udin Sabarudin

Pemeriksaaan darah kulit kepala janin untuk pemantauan pH merupakan hal


yang tepat dalam mengidentifikasi keadaan gawat janin.
Pemantauan kesejahteraan janin intrapartum dengan hanya mengandalkan
pemeriksaan pola denyut jantung janin saja saat ini dianggap kurang memadai, karena
tidak langsung menggambarkan keadaan keseimbangan asam basa pada janin
dibanding pemeriksaan pH darah janin. Sudah dapat dibuktikan bahwa diagnosis
asidosis janin dapat ditegakkan melalui pemeriksaan ini, sehingga saat ini pemantauan
kesejahteraan janin intrapartum sebaiknya merupakan kombinasi dari keduanya.
Namun demikian tidak semua Rumah Sakit melakukan pemeriksaan pH darah janin
karena pemeriksaan ini bersifat invasif serta memerlukan alat serta reagens yang
selalu tersedia dan terstandarisasi.

Teknik
- Masukkan endoskop melalui serviks, tekankan pada kulit kepala janin
- Selaput ketuban dipecahkan
- Bersihkan kulit kepala janin dengan kapas yang mengandung silicone gel
- Lakukan insisi pada kulit kepala dengan menggunakan pisau khusus, sedalam 2
mm
- Darah yang keluar dari luka, segera ditampung pada tabung kapiler yang sudah
diheparinisasi

Indikasi
- Adanya mekonium
- Denyut jantung janin> 160 atau < 100
- Adanya deselerasi lambat, deselerasi variabel
- Keadaan gawat janin yang tidak dapat diketahui penyebabnya

Kontra Indikasi
- Kemungkinan adanya gangguan pembekuan darah
- Presentasi janin yang sulit dicapai
- Infeksi Herpes virus

Komplikasi
Komplikasi yang umum terjadi dari pengambilan darah dari kulit kepala janin adalah
perdarahan menetap dari luka sayatan, dan infeksi luka sayatan.

Dasar Pemikiran
Disepakati secara umum terdapat hubungan antara pH darah kulit kepala, pH
darah tali pusat dan APGAR skor.
1. pH darah kulit kepala pada kala I persalinan, normal antara 7,25 - 7,35.
2. PH darah kulit kepala janin lebih rendah dari pH darah ibu, rata-rata 0,10 – 0,15
Intepretasi
1. pH darah < 7,20 menunjukkan keadaan asidosis.
PH darah antara 7,20 – 7,24 merupakan keadaan preasidosis dan memerlukan
evaluasi lebih lanjut dengan pemeriksaan ulangan dalam 20 – 30 menit.
2. Karena pH kulit kepala yang patologis juga merupakan refleksi dari keadaan
asidosis ibu yang berat, asidemia janin tidak harus merupakan refleksi dari
asfiksia berat.

Nilai Prediksi
1. Akurasi penilaian APGAR skor hanya 80 % dengan menggunakan pH
kapiler
 Nilai pH normal – salah didapatkan pada 6 – 20 % kasus.
 Nilai pH rendah – salah didapatkan pada 8 – 10 % kasus.

2. Nilai pH normal – salah dengan APGAR skor yang rendah biasanya


disebabkan oleh:
 Pemberian sedatif, analgetik atau anestesi umum yang menimbulkan
depresi pernafasan segera setelah lahir.
 Prematuritas, infeksi janin atau trauma persalinan.
 Episode hipoksia yang terjadi diantara saat pengambilan darah dan saat
persalinan karena solusio plasenta yang terjadi beberapa saat sebelum
persalinan.

3. Nilai pH rendah-salah berhubungan dengan keadaan :


 Asidosis maternal.
 Edema lokal kulit kepala atau vasokonstriksi.
 Fetal recovery dalam rahim setelah periode asidosis sebelum
persalinan.

KORDOSENTESIS
Gulardi H. Wiknjosastro

Sejak tahun 1982 saat Bang dkk melaporkan kordosentesis dan terapi
transfusi langsung pada kasus isoimunisasi, maka terbuka kemungkinan cara ini.
Kemudian cara ini juga dilakukan pada indikasi ; infeksi janin dan kelainan
kromosom.1
Karena prosedur ini mempunyai risiko, maka penjelasan (informed consent) harus
diberikan pada pasien.
Risiko kematian janin ialah 1.1%, yaitu menggunakan jarum 20-G, sebagaimana
dilaporkan oleh Daffos dkk. 2

Indikasi
Indikasi kordosentesis ialah :
A. Diagnosis kelainan darah : thalassemia, trombositopenia
B. Isoimunisasi : rhesus
C. Kelainan metabolic
D. Infeksi janin : TORCH
E. Kelainan kromosom : trisomi, mosaic plasenta
F. Evaluasi hipoksia janin : PJT
G. Terapi janin : transfusi, pemantauan kadar obat

Janin yang sakit anemia berat sebenarnya dapat diduga dari gejala :
hepatosplenomegalia, hidrops yang tampak secara ultrasonografi.

Teknik
Dengan jarum 20G yang panjangnya 13 cm, dapat dilakukan pungsi 3 . Sebelumnya
jarum harus dibasahi antikoagulan, demikian pula semperit sebanyak 0.1 ml.
Antikoagulan yang digunakan ialah heparin atau natrium sitrat.
Lokasi pungsi abdomen harus ditentukan dengan USG, yaitu menentukan arah jarum
ke pangkal insersi tali pusat. Lebih baik dilakukan dengan USG berwarna yang lebih
jelas mencitrakan insersi. Seorang asisten diperlukan untuk memegang transduser
yang telah diberi antiseptik ; sementara operator akan berkonsentrasi pada pungsi.
Kemudian lakukan antisepsi, pada lokasi pungsi dan dilakukan anestesi local dengan
lidokain. Dengan bantuan USG jarum ditusukkan melalui dinding abdomen, uterus
dan langsung mencapai insersi tali pusat. Gambaran ujung jarum dapat dilihat pada
layar monitor yang dipantau oleh operator.
Apabila ujung jarum telah mencapai tali pusat , maka mandrin jarum akan diangkat
dan jarum dihubungkan dengan semperit untuk kemudian dilakukan aspirasi sebanyak
2 ml.Bila aspirasi gagal, maka pungsi diulang kembali dengan cara mandrin
dimasukkan dan menusuk didaerah tali pusat , tanpa mengeluarkan jarum dari uterus.
Aspirasi hendaknya dilakukan cepat mengingat darah mudah beku.
Setelah prosedur selesai, lakukan pengawasan dengan USG terhadap denyut jantung
atau adanya perdarahan dari lokasi pungsi..
Kepastian adanya kontaminsi dilakukan dengan apusan darah (teknik Kleihauer-
Betker) dimana akan tampak sel darah berinti dan besar. Risiko perdarahan janin-ibu
dapat mencapai 50%.

Interpretasi dan Tindak Lanjut

Pada diagnosis isoimunisasi, bila ternyata terdapat hemolisis (Ht < 30%) maka
langsung dilakukan transfusi darah 4 . Sedangkan Nicolaides dkk 5, menganjurkan
transfusi bila Hb janin 2 g% dibawah nilai normal.
Tidak demikian halnya pada thalassemia dimana diperlukan pemeriksaan Hb secara
elektroforesis atau DNA. Bila terdapat Thalassemia mayor maka terdapat
kemungkinan : a. melakukan konseling untuk terminasi atau b. pasien memilih
meneruskan kehamilan.
Demikian pula halnya pada kelainan trisomi. Secara USG hendaknya kelainan janin
juga dicari untuk memberikan informasi lengkap pada pasien. Bila terdapat kelainan
yang fatal (misalnya Thalassemia alfa mayor), tentu pasien akan mempunyai sikap
berbeda setelah mendapat informasi untuk kemungkinan aborsi atau terminasi
kehamilan 6.
Dilain pihak pada kasus yang diduga infeksi toxoplasma, dan kemudian secara PCR
tak ditemukan antigen, maka terapi tak perlu diteruskan.
PERGERAKAN JANIN
Hidayat Wijayanegara

Beberapa tahun terakhir ini, angka kematian dan kesakitan perinatal telah
menurun secara signifikan, akan tetapi kematian janin antenatal masih merupakan
masalah.
Meskipun kebanyakan kematian janin tidak pada kelompok kehamilan risiko
tinggi, akan tetapi beberapa kematian tersebut terjadi pada kehamilan dengan risiko
rendah bahkan normal.
Salah satu tujuan utama perawatan antenatal untuk mengidentifikasi ibu hamil
yang berisiko tinggi terjadinya gangguan pada buah kehamilannya. Secara tradisi
kehamilan tersebut berada dibawah pengawasan NST, OCT dan penilaian ultrasonik
real time. Tetapi sayangnya mayoritas kelompok risiko rendah tidak dipantau oleh
alat- alat pemantau elektronik janin atau ultrasonik selama periode antepartum. Disisi
lain pemeriksaan hormonal sepertial estriol plasma, HPL serum terbukti tidak dapat
dipercaya hasilnya dan tidak praktis untuk penapisan kehamilan risiko rendah maupun
tinggi.
Karena itu untuk mengurangi angka kematian janin, diperlukan satu cara
untuk menapis secara dini adanya gawat janin yang efektif dari segi biaya dan dapat
dilakukan oleh semua ibu hamil.

Fisiologi
Sistem susunan syaraf pusat mengkoordinir fungsi-fungsi otot spesifik janin.
Karena itu penilaian pergerakan janin bertindah sebagai suatu ukuran integritas dan
fungsi susunan syaraf. Pergerakan janin dapat spontan, berasal dari janin itu sendiri
atau akibat rangsangan dari luar. Pergerakan spontan, non reflex adalah otonom dan
berlangsung sebelum timbulnya reaksi rangsangan. Pergerakan reflex disebabkan
karena rangsangan luar seperti suara, vibrasi, sentuhan dan sinar atau oleh rangsangan
atau suara yang dihasilkan oleh ibu sendiri.
Grimwade dkk memperlihatkan bahwa rangsangan suara yang dekat ke
abdomen ibu hamil pada 38-40 mg menyebabkan pergerakan janin.
Respons janin terhadap rangsangan dari luar akan terjadi pada umur kehamilan
26 minggu ke atas. Sebelum itu pergerakan janin terutama spontan. Tetapi sayangnya
ibu sendiri tidak mungkin membedakan apakah pergerakan itu spontan atau akibat
rangsangan.
Ibu hamil pertama kali merasakan pergerakan janin sekitar 18-20 minggu.
Mula-mula gerakan jarang, lemah dan kadang-kadang tidak dapat dibedakan dengan
sensasi abdomen lainnya seperti yang berasal dari usus. Mulai 20 minggu kehamilan,
persentasi gerakan janin yang lemah berkurang berangsur-angsur sampai kehamilan
36-37 minggu, dan sejak saat itu pergerakan bertambah sampai aterm. Seiring dengan
itu, pergerakan-pergerakan yang kuat dan berputar bertambah secara proportional
sampai 36-37 minggu, kemudian setelah itu berkurang sedikit sampai aterm.
Pergerakan janin rata-rata per hari sekitar 200 pada umur kehamilan 20
minggu dengan maksimum 575 pada 32 minggu. Pergerakan rata-rata harian janin
tersebut selama kehamilan bervariasi. Nilai klinis dari jumlah absolut pergerakan
janin belum ditentukan.
Meskipun beberapa wanita merasa pergerakan janinnya rendah, seperti 4-
10/hari, sebagaian terbesar bayinya lahir normal.
Ehstrona dan Wood et al mengatakan bahwa aktivitas maksimal per hari
pergerakan janin berlangsung sekitar 32 minggu. Setelah 36 minggu dimana janin
tumbuh dan volume cairan amnion berkurang dapat menerangkan mengapa
pergerakan yang dirasakan ibu tersebut berkurang.
Timor Tisch et al menerangkan bahwa berkurangnya aktivitas pada aterm
mungkin juga berhubungan dengan waktu janin tidur, yang bertambah dengan makin
maturnya janin. Lebih lanjut mereka menerangkan periode yang lama dan istirahat
janin, sampai 75 menit, akan mengurangi gerakan-gerakan berputar dan keadaan ini
merupakan hal yang biasa dan dari janin yang sehat pada trimester ke 3.
Kegiatan janin dapat juga dipengaruhi oleh keadaan gula darah ibu, terutama
selama periode post prandial. Tetapi peneliti lain melaporkan tidak ada perbedaan
yang signifikan pergerakan janin sebelum dan setelah makan.
Umur ibu, berat, paritas, etnis, sex janin, volume cairan amnion, lokasi
plasenta, panjang tali pusat dan kesakitan neonatus tidak mempengaruhi jumlah
pergerakan janin. Meskipun demikian, posisi ibu terutama dari terlentang ke lateral
menyebabkan variasi frekuensi kegiatan janin.
Obat-obatan ini seperti barbiturat, diazepam, meferidine dan magnesium sulfat
mengurangi pergerakan janin. Tetapi isoxsuprine, ß adrenergic, corticosteroid,
caffeine atau alkohol tidak mengurangi pergerakan janin, juga pada ibu-ibu yang
merokok.

Klinis
Protokol untuk menghitung pergerakan janin, oleh ibu sebagai berikut :
1. Nilai pergerakan janin selama 30 menit, 3 (tiga) kali sehari.
2. Adanya gerakan yang dirasakan ibu empat atau lebih dalam waktu 30 menit
adalah normal. Selanjutnya nilai pergerakan janin selama periode
penghitungan seperti tersebut di atas.
3. Bila pergerakan janin kurang dari empat, penderita diharuskan berbaring dan
dihitung untuk beberapa jam, misalnya 2 - 6 jam.
4. Seandainya selama 6 jam,terdapat paling sedikit 10 pergerakan,maka hitungan
diteruskan tiga kali sehari seperti menghitung sebelumnya
5. Bila selama 6 jam gerakannya kurang dari 10 kali, atau semua gerakan
dirasakan lemah, penderita harus datang ke Rumah Sakit untuk pemeriksaan
NST, OCT dan pemantauan dengan ultarsonik real time.
Bila penderita risiko rendah datang ke Rumah Sakit untuk penilaian
pergerakan janin yang berkurang, maka NST harus dilakukan. Pemeriksaan
ultrasonikpun harus dilakukan untuk menilai volume cairan amnion dan mencari
kemungkinan kelainan kongenital. Bila NST non reaktif, maka OCT dan profil
biofisik harus dilakukan. Seandainya pemeriksaan-pemeriksaan tersebut normal,
pemantauan harus diulangi dengan interval yang memadai.
Cara lain untuk menghitung pergerakan janin adalah Cardiff " Count of 10",
atau modifikasinya. Penderita diminta untuk mulai menghitung pergerakan-
pergerakan janin pada pagi hari dan terus berlanjut sampai si ibu mendapat hitungan
pergerakan janin sebanyak 10. Bila ia menemukan pergerakan lebih dari 10 dalam
waktu 10 jam atau kurang, umumnya janin dalam keadaan baik. Seandainya gerakan
janin yang dirasakan ibu kurang dari 10 dalam waktu 10 jam, ia harus mengunjungi
dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Rationalisasi penggunaan
Perubahan-perubahan kualitatif dan kuantitatif aktivitas motorik janin
merupakan cerminan perubahan-perubahan fungsi SSP janin dan dapat merupakan
tanda-tanda gangguan kesehatan janin. Tingginya pergerakan dianggap janin tersebut
normal, asal keadaan ini tetap konstan. Meskipun demikian, pergerakan janin yang
hebat kemudian diikuti oleh keadaan tenang dapat merupakan tanda gawat janin akut
atau ancaman kematian janin akibat tekanan pada tali pusat. Seandainya gerakan janin
yang berat tidak dapat melepaskan tekanan pada tali pusat yang akut, janin dapat
meninggal in utero. Hal yang sama dengan urutan seperti tersebut di atas dapat pula
terjadi pada solutio placentae akut.
Penilaian pergerakan janin sebagai teknik penapisan tunggal pada penderita
risiko rendah nampaknya cukup memadai. Akan tetapi pada penderita-penderita
dengan risiko tinggi masih tetap diperlukan pemeriksaan-pemeriksaan antenatal
termasuk NST, OCT atau profil biofisik.

PROFIL BIOFISIK JANIN I

Bambang Karsono

Penilaian kesejahteraan janin yang konvebsional umumnya dikerjakan dengan


cara-cara yang tidak langsung, seperti pengukuran berat badan ibu, palpasi abdomen,
pengukuran tinggi fundus, maupun penilaian gejala atau tanda fisik ibu yang diduga
dapat mengancam kesejahteraan janin (misalnya hipertensi, perdarahan pervaginam,
dsb.). Cara-cara seperti itu seringkali tidak untuk memprediksi kesejahteraan janin,
sehingga sulit digunakan untuk membuat strategi yang rasional dalam upaya
pencegahan dan intervensi penangan janin yang mengalami gangguan intuterin (1).
Dalam konsep obstetri modern, khususnya di bidang perinatologi, janin
dipandang sebagai individu yang harus diamati dan ditangani sebagaimana layaknya
seorang pasien (fetus as a patient). Janin perlu mendapat pemeriksaan fisik untuk
mengetahui apakah kondisinya aman, atau dalam bahaya (asfiksia, pertumbuhan
terhambat, cacat bawaaan, dsb,). Pengetahun akan hal itu akan menentukan segi
penanganan janin selanjutnya.
Penilaian profil biofisik janin merupakan salah satu cara yang efektif untuk
mendeteksi adanya asfiksia janin lebih dini, sebelum menimbulkan kematian atau
kerusakan yang permanen pada janin (2). Pemeriksaan tersebut dimungkinkan terutama
dengan bantuan peralatan elektronik, seperti ultrasonografi (USG) dan
kardiotokografi (KTG).
Alat USG real-time dengan resolusi tinggi dapat digunakan untuk menilai
perilaku dan fungsi janin, morfologi dan morfometri janin, plasenta, tali pusat, dan
volume cairan amnion. Penilaian fungsi hemodinamik uterus-plasenta-janin dapat
dilakukan dengan USG Doppler Berwarna (3). Belakangan ini telah dikembangkan
USG 3 dimensi (USG 3-D) yang bermanfaat untuk mempelajari morfologi dan
hemodinamik janin dengan lebih mudah dan akurat.
Kardiotokografi berguna untuk mendeteksi secara dini adanya hipoksia janin
dan kausanya.
AKTIFITAS BIOFISIK JANIN
Sejumlah aktivitas biofisik janin dapat dipelajari melalui pemeriksaan USG, antara
lain (4) :
1. Aktivitas biofisk yang umum, seperti gerakan nafas, gerakan kasar tubuh,
dan tonus janin.
2. Aktivitas biofisik yang spesifik, seperti gerakan mengisap, gerakan
menelan, pengosongan dan pengisian kandung kemih.
3. Gerakan bola mata pada fase janin tidur.
4. Denyut jantung janin.
5. 5. Volume cairan amnion.
6. Aliran darah tali pusat.
7. Gerakan peristaltik, dsb.

Aktivitas biofisik janin dipengaruhi oleh beberapa keadaan. Hipoksemia


(asfiksia) janin akan menyebabkan aktivitas biofisik berkurang atau menghilang.
Obat-obat yang menekan aktivitas susunan saraf pusat (SSP) akan menurunkan
aktivitas biofisik (sedativa, analgetik, anestesi). Obat-obat yang merangsang SSP dan
keadaan hiperglikemia akan meningkatkan aktivitas biofisik. Aktivitas biofisik janin
juga bervariasi, sesuai dengan siklus tidur-bangunnya janin (4).

ASFIKSIA JANIN
Berdasarkan proses patofisiologinya, penyakit yang serius ( meskipun
etiologinya bermacam-macam) dapat dibagi ke dalam 3 kelompok, yaitu (2):
1. Asfiksia janin (akut dan kronik).
2. Kelainan perkembangan dan/atau fungsi janin.
3. Penyakit janin yang timbul akibat suatu agen atau keadaan yang
membahayakan janin, seperti antibodi ibu (sindroma isoiminusasi), infeksi
(TORCH), atau perubahan dalam lingkungan uterus (ketuban pecah,
perdarahan plasenta).
Sekitar 50-60 % kematian janin disebabkan oleh masalah asfiksia (5).
Asfiksia janin merupakan serangkaian keadaan yang bervariasi mulai dari yang
paling ringan (berupa episode hipoksemia transien yang tidak disertai asidosis),
sampai yang berat (hipoksemia yang permanen dan disertai asidosis metabolik atau
respiratorik.
Asfiksia (hipoksemia) janin bisa berlangsung secara akut ataupun kronis,
afiksia akut menyebabkan aktivitas biofisik janin (seperti gerakan nafas, gerakan
tubuh, dan tonus) berkurang atau menghilang. Dengan alat KTG, pemeriksaan Non-
stress Test (NST) menunjukkan hasil non-reaktif dan variabilitas denyut jantung janin
berkurang. Asfiksia yang berlangsung kronis sering menyebabkan oligohidramnion,
pertumbuhan janin terhambat (PJT), dan komplikasi iskemik pada neonatus
(enterokolitis nekkrotik).
Pemantauan aktivitas biofisik janin sangat penting untuk mengidentifikasi
adanya asfiksia janin (1). Bagaimana mekanisme asfiksia (hipoksemia) dapat merubah
aktivitas biofisik janin masih belum jelas. Diduga hal ini terjadi akibat disfungsi
seluler SSP; atau mungkin juga akibat respons protektif SSP terhadap keadaan
hipoksemia. Oleh karena itu aktivitas biofisik janin dapat dipandang sebagai cermin
aktivitas dan enerji SSP. Selama aktivitas biofisik masih dalam keadaan normal,
berarti jaringan SSP janin masih berfungsi penuh dan tidak mengalami hipoksemia.
Asfiksia janin, seperti halnya asfiksia pada kehidupan ekstrauterin, dapat
memberikan dampak terhadap berbagai sistem organ, sehingga akan menimbul-kan
gejala yang bermacam-macam. Derajat menifestasi gejala asfiksia janin akan
bervariasi, tergantung dari berat, kekerapan timbul, dan kronisitas asfiksia.
Hipoksemia janin akan merangsang kemoreseptor di badan aorta dan
menimbulkan refleks redistribusi curah jantung. Akibatnya aliran darah ke organ-
organ vital (jantung, otak, adrenal, dan plasenta) akan meningkat; sedangkan aliran
darah ke organ-organ lainnya yang kurang vital (ginjal, paru, liver, usus, dan skelet)
akan berkurang. Apabila keadaan hipoksemia berlangsung lama dan berulang, maka
perfusi ginjal dan paru akan sangat berkurang. Akibatnya produksi urin dan cairan
paru akan berkurang dan menimbulkan oligohidramnion. Berkurangnya perfusi paru
akan menimbulkan sindroma distres pernafasan (RDS), sedangkan gangguan perfusi
liver dan skelet akan menyebabkan PJT. Hipoksemia juga diketahui akan merangsang
produksi hormon anti-diuretik (vasopresin) oleh kelenjar hipofisis posterior dan
katekolamin oleh kelenjar adrenal. Hal ini menimbulkan refleks kardiovaskuler, yang
salah satu dampaknya akan menyebabkan oligohidramnion.

PENILAIAN PROFIL BIOFISIK JANIN


Penilaian profil biofisik janin merupakan suatu untuk mendeteksi adanya risiko pada
janin, berdasarkan penilaian gabungan tanda-tanda akut dan kronik dari penyakit
(asfiksia) janin (1). Metoda ini pertama kali diperkenalkan oleh Manning dkk. Pada
tahun 1980 (6), dengan menggunakan sistem skoring terhadap 5 komponen aktivitas
biofisik janin, yaitu gerakan nafas, gerakan tubuh, tonus, denyut jantung janin, dan
volume cairan amnion

Pemeriksaan profil biofisik dilakukan dengan menggunakan alat usg real-time


dan ktg. Berbagai modifikasi atas penilaian profil biofisik manning telah dilakukan
oleh banyak peneliti. Wiknjosastro (7) memperkenalkan cara penilaian fungsi dinamik
janin-plasenta (FDJP) berdasarkan penilaian USG, NST, dan USG Dopper, untuk
memprediksi adanya asfiksia dan asidosis janin pada pasien-pasien preeklampsia dan
eklampsia
Gerakan nafas janin pada pemeriksaan USG dapat diketahui dengan
mengamati episode gerakan ritmik dinding dada ke arah dalam disertai dengan
turunnya diafragma dan isi rongga perut; kemudian gerakan kembali ke posisi semula.
Adanya gerakan nafas janin sudah dapat dideteksi pada kehamilan 10-12 minggu,
meskipun pengukuran gerak nafas umumnya baru dikerjakan setelah kehamilan 28
minggu (7). Gerakan nafas janin diketahui mempunyai pengaruh yang besar terhadap
pertumbuhan paru, perkembangan otot-otot diafragma dan otot-otot
interkostal/ekstradiafragma (8). Gerakan anfas dianggap normal apabila dalam 30
menit pemeriksaan terlihat gerakan nafas yang berlangsung lebih dari 30 detik (2).
Pada janin yang mengalami hipoksemia biasanya gerakan nafas akan
menghilang. Gerakan nafas janin juga dipengaruhi oleh beberapa hal lamanya, seperti
hiperkapnia, hiperoksia, rokok, alkohol, dam obat-obatan (diazepam, salbutamol,
terbutalin, metidopa, mependin, kafein, dsb.). gerakan nafas janin juga akan
berkurang menjelang persalinan (7).
Gerakan janin pada pemeriksaan USG diketahui dengan mengamati gerakan
tubuh ekstremitas, berupa gerakan tunggal atau multipel. Adanya gerakan janin sudah
dapat dideteksi mulai kehamilan 7 minggu, berupa gerak kedutan tubuh dan gerakan
ekstensi kepala. Pada kehamilan 8-9 minggu terlihat gerakan ekstensi ekstremitas dan
leher. Pada kehamilan 14 minggu terlihat gerakan rotasi kepala, dan gerakan fleksi
atau ekstensi lutut dan siku. Gerakan menelan mulai terlihat dengan jelas sejak
kehamilan 19 minggu. Mulai kehamilan 25 minggu semua pola gerakan janin dapat
terlihat dengan jelas (7).
Gerakan janin dianggap normal apabila selama 30 menit pemeriksaan terlihat
sedikitnya 3 gerakan tubuh atau ekstremitas (2). Beberapa keadaan dapat
mempengaruhi gerakan janin, seperti asfiksia janin, makanan dan glukosa, serta
kondisi medik ibu (insufisiensi plasenta) dan janin (PJT, gawat janin) (7).
Tonus janin denmgan pemeriksaan USG diketahui sebagai gerakan ekstensi
ekstremitas atau tubuh janin, yang dilanjutkan dengan gerakan kembali ki posisi
fleksi. Tonus janin dapat juga dinilai dengan melihat gerakan jari-jari tangan yang
membuka (ekstensi) dan kembali ke posisi mengepal. Dalam keadaan normal, gerakan
tersebut terlihat sedikitnya sekali dalam 30 menit pemeriksaan (2). Tonus janin juga
dianggap normal apabila jari-jari tangan terlihat mengepal terus selama 30 menit
pemeriksaan.
Penilaian denyut jantung janin (djj) dilakukan dengan pemeriksaan NST. Hasil
NST dinyatakan normal (relatif) apabila selama 30 menit pemeriksaan dijumpai
sedikitnya 2 kali akselerasi djj yang menyertai gerakan janin, dengan ampitudo lebih
dari 30 dpm., dan lamanya lebih dari 15 detik (2).
Hasil NST yang relatif biasanya diikuti dengan keadaan janin yang baik
sampai minimal 1 minggu kemudian, dengan spesifisitas 99% (9). Hasil NST yang
non-reaktif disertai dengan keadaan janin yang jelek (kematian perinatal, nilai Apgar
rendah, adanya deselerasi lambat intrartum), dengan sensitivitas sebesar 20%. Karena
tingginya nilai positif palsu (kl. 80%), maka hasil NST yang non-reaktif sebaiknya
dievaluasi lebih lanjut Contraction Stres Test (CST), kecuali bila terdapat
kontraindikasi. Dengan cara ini, hasil positif dapat dikurangi sampai 50 %.
Volume cairan amnion secara semikuantitatif dapat ditentukan dengan
mengukur diameter vertikal kantung amnion. Volume cairan amnion dianggap normal
apabila terdapat kantung amnion berdiamter 2 cm atau lebih (2). Cara lain menentukan
volume cairan amnion adalah dengan mengukur indeks cairan amnion (ICA), yaitu
mengukur diameter vertikal kantung amnion pada 4 kuadran uterus (10). Volume cairan
amnion yang normal adalah bila ICA berjumlah antara 5-25 cm. Volume amnion
kurang dari 2 cm; atau ICA kurang dari 5 cm.
Oligohidramnion (oleh sebab apapun) akan menyebabkan kematian peri-natal
meningkat (11). Janin akan mudah mengalami kompresi tali pusat. Jaringan paru akan
terganggu perkembangannya (hipoplasia paru) sehingga akan menimbulkan distres
pernafasan pada neonatus.

INTERPRETASI KLINIK
Penilaian profil biofisik janin umumnya dikerjakan pada kehamilan risiko
tinggi, untuk mendeteksi adanya risiko asfiksia pada janin. Penilaian tersebut akan
mambantu perencanaan terapi atau penanganan kehamilan sedini mungkin, sehingga
dapat mencegah terjadinya kematian atau gangguan yang lebih parah pada janin.
Pada setiap klinik belum ada keseragaman mengenai saat yang paling awal
untuk memulai pemeriksaan biofisik janin. Hal ini terutama ditentukan oleh
kemampuan dalam merawat neonatus kurang bulan atau kecil untuk masa kehamilan.
Di beberapa negara maju, perawatab neonatus yang berat lahirnya 600 gram atau
lebih sudah cukup baik, sehingga penilaian profil biofisik janin sudah dimulai sejak
kehamilan 25 minggu (2).
Penanganan kehamilan resiko tinggi, selain didasarkan oleh skor (nilai) profil biofisik
janin, juga ditentukan oleh faktor lainnya, seperti faktor obstetrik (misalnya
kematangan serviks), kondisi ibu (berat progresivitas penyakit ibu), dan faktor janin
lainnya (misalnya kelainan kongenital, maturitas paru, dsb.).
Kehamilan risiko tinggi pada usia kehamilan preterm seringkali menimbul-kan
dilemma di dalam rencana penanganannya. Tindakan terminasi kehamilan yang
terlalu dini akan berhadapan dengan resiko sindroma distres pernafasan. Sebaiknya,
keterlambatan dalam melahirkan janin yang mengalami asfiksia akan berhadapan
dengan risiko kematian janin intrauterin.
Pada kehamilan postterm, tindakan induksi persalinan seringkali akan
mengalami kegagalan apabila dilakukan pada serviks yang belum matang. Sebaiknya,
risiko asfiksia janin pada kehamilan postterm akan meningkat bila terjadi
oligohidramnion.
Bila skor profil biofisik antara 8-10, risiko asfiksia janin umunya rendah
selama volume cairan amnion masih normal. Tindakan terminasi kehamilan hanya
dilakukan atas indikasi obstetrik atau ibu, atau bila cairan amnion telah berkurang.
Bila skor profil biofisik 6, tindakan terminasi kehamilan dilakukan bila
volume cairan amnion berkurang, atau janin telah matur dan serviks telah matang.
Bila janin belum matur dan volume cairan amnion masih normal, penilaian diulang
dalam 24 jam. Bila pada penilaian ulang skor profil biofisik meningkat menjadi 8 atau
10, maka tidak perlu dilakukan tindakan intervensi. Akan tetapi bila ternyata skor
tetap sama atau lebih rendah dari sebelumnya, maka dilakukan terminasi kehamilan
(indikasi janin).
Bila skor profil 4 atau kurang, janin kemungkinan besar mengalami asfiksia,
sehingga perlu dilakukan terminasi.

PENUTUP
Profil biofisik janin merupakan cara penilaian dengan menggunakan USG dan
KTG untuk mendeteksi adanya asfiksia janin intrauterin. Cara ini akan membantu
dalam pengambilan keputusan yang lebih rasional dalam penangan kehamilan risiko
tinggi. Manfaat lainnya dari pemeriksaan profil biofisik janin adalah untuk menilai
kondisi keseluruhan di dalam uterus, misalnya untuk mengetahui (2):
1. Jumlah, presentasi, dan letak janin.
2. Letak dan arsitektur plasenta.
3. Letak dan struktur tali pusat.
4. Morfometri janin.
5. Kelainan struktur dan fungsi janin.

PROFIL BIOFISIK JANIN II

Hidayat Wijayanegara

Kemajuan teknologi dalam bidang kedokteran memungkinkan kita


mengerjakan pemeriksaan dan penilaian antepartum terhadap fetus as a patient.
Kemajuan teknik biofisik terutama electronic fetal heart rate monitoring, real
time ultrasonic dan velosimetri Doppler memberikan kepada para klinisi
kemampuan untuk memeriksa langsung penderita yang belum lahir.
Di samping itu penilaian biofisik janin memungkinkan kita melakukan
penilaian segera kondisi janin pada saat itu dan memang terbukti lebih disukai/lebih
baik dibandingkan dengan pemeriksaan biokimia hormon dan enzym yang
mempunyai sensitivitas dan spesivitas rendah.
Teknik-teknik biofisik untuk menilai kegiatan secara umum dan spesifik janin,
meliputi pergerakan badan, pernapasan, tonus, jantung, reflex, mengisap, menelan,
kencing, pertumbuhan, siklus istirahat, respons janin setelah rangsangan vibro akustik
atau rangsangan langsung pada kulit kepala janin, aliran utero plasenta dan pembuluh
umbilikus, termasuk volume cairan amnion dan lokasi serta grading plasenta.
Pemantauan satu variabel biofisik sebagai sarana untuk menentukan risiko
janin ternyata memberikan false positif yang tinggi.
Sebaliknya data yang disediakan sebagai hasil penilaian variabel biofisik yang
multipel sangat sulit untuk diintegrasikan guna menegakkan diagnosis dan
meramalkan fetal outcome janin. Karena itu beberapa peneliti mengembangkan profil
biofisik yang memasukkan variabel biofisik yang paling signifikan saja.

Faktor-faktor yang mempengaruhi variabel biofisik


Kebanyakan variabel yang dipergunakan antepartum untuk menilai janin
mencerminkan keadaan SSP janin dan terutama derajat oksiginisasi. Urutan di mana
variabel-variabel biofisik terpengaruh oleh adanya asfiksia dan tipe respons terhadap
suatu stimulus hipoksemia bervariasi sesuai dengan saatnya timbul, luas dan lamanya
kejadian.

Urutan terpengaruhinya variabel-variabel biofisik


Vintzileos dkk membuktikan bahwa urutan pengaruh hipoksia terhadap
variabel biofisik terbalik dengan urutan dimana mereka mulai aktif didalam
perkembangan janin, meskipun pada beberapa kasus asfiksia berat semua parameter
terkena. Jadi tonus janin yang berfungsi pertama kali ( 7,5 – 8,5 mg) adalah fungsi
terakhir yang akan hilang dengan adanya asfiksia yang progresif. Juga dengan tidak
adanya tonus berhubungan dengan tingginya angka kematian perinatal.
Sebaliknya pusat reaktif FHR yang matangnya kemudian ( ± 28 minggu)
merupakan variabel pertama yang terkena dan dapat ditentukan sebagai variabel
biofisik yang paling sensitif terhadap asfiksia.

Tipe response
Pola respons biofisik janin terhadap asfiksia tergantung pada lama dan beratnya
serangan, terdiri dari 2 tipe :
1. Pola respons akut
Sebagai hasil suatu serangan akut, terhadap perubahan-perubahan yang cepat
SSP yang mengatur kegiatan biofisik janin, yaitu FHR, gerakan-gerakan badan,
pergerakan pernapasan, tonus janin dan lain-lain.
2. Pola respons khronis atau subakut
Asfiksia janin yang khronis mengakibatkan berkurangnya cairan amnion,
perlambatan pertumbuhan janin akibat redistribusi dan sentralisasi aliran
darah.
Pada keadaan ini terdapat peningkatan komplikasi neonatus.

Pola response yang terjadi tergantung pada penyebab asfiksia. Pola respons
akut biasanya terjadi pada kasus-kasus solutio plasenta atau turunnya yang tiba-tiba
perfusi uterus ( berhentinya kardiorespirasi ibu) atau perfusi umbilicus (prolapsus
tali pusat). Sedangkan pola response yang khronis lebih sering berbentuk IUGR.
Pada umumnya, kira-kira 10% kematian perinatal, sebagai akibat serangan
asfiksia akut, 30% sebagai akibat anomali pertumbuhan janin dan 60% akibat asfiksia
khronis.

Interprestasi variabel biofisik


Variabel-variabel biofisik dipengaruhi bukan saja oleh hipoksia SSP tapi juga
oleh faktor-faktor farmakologis dan fisiologis.
Produk-produk farmasi yang mendepres SSP adalah analgetik, sedatif dan
anestesi secara efektif mengurangi dan bahkan dapat menghilangkan beberapa
kegiatan biofisik janin, sedangkan obat-obat yang dipergunakan untuk menstimulir
SSP dapat memperkuat variabel-variabel biofisik janin. Di sisi lain siklus istirahat/
kegiatan dan perubahan-perubahan kadar gula darah dapat mempengaruhi secara
fisiologis parameter-parameter biofisik.
Dengan demikian kegiatan normal biofisik menandakan SSP yang mengontrol
tipe kegiatan ini adalah intak, dan bukan sasaran hipoksia, sebaliknya suatu
penurunan atau tidak adanya kegiatan biofisik sulit untuk diinterprestasikan. Itu
mungkin akibat hipoksemia, tapi juga akibat satu fase tidur yang fisiologis atau
pengaruh obat tertentu.
Manning dkk mengembangkan suatu profil biofisik yang didesain untuk
meminimalisir hasil false (+) dengan menggabungkan penilaian secara simultan
beberapa variabel (semua variabel dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor fisiologis atau
farmasi). Telah dibuktikan bahwa penelitian rangkaian variabel-variabel patofisiologis
yang berbeda secara signifikan meningkatkan kemampuan prediksi uji.
Penilaian satu variabel biofisik terbukti memberikan jumlah yang tinggi uji-uji
abnormal (10-15%) dengan hasil false negatif yang tinggi (36/1000) dan yang lebih
tidak dapat diterima lagi adanya false (+) yang tinggi pula ( 30 – 70%).
Sebaliknya profil biofisik janin memperlihatkan hasil normal yang tinggi (97%), false
(+) yang rendah dengan spesivitas dan nilai normal positif yang tinggi.

Profil biofisik yang diusulkan Manning dkk


Manning dkk mengembangkan profil biofisik berdasarkan pada serangkaian
lima variabel dasar yaitu :
1. gerakan pernapasan janin
2. gerakan badan
3. tonus janin
4. reaktivitas FHR
5. Volume cairan amnion

Alat yang dipergunakan adalah ultrasonic real time dan KTG.


Skor, setiap variabel diberi nilai 2 bila normal dan 0 bila abnormal
a. Pergerakan pernapasan
Adanya minimal satu gerakan nafas janin dengan lama 30 detik dalam
waktu 30 menit diberi nilai 2. Tidak ada gerakan nafas nilainya 0.
b. Gerakan badan janin
Gerakan ini dapat satu atau banyak dan dinilai dengan menghitung thorax
janin dan tungkai atas serta bawah.
Adanya gerakan-gerakan paling sedikit 3 (tiga) gerakan badan/tungkai
dalam waktu 30 menit diberi skor 2. Bila tidak ada gerakan nilainya 0.
Gerakan-gerakan mata, menghisap, menelan dan lain-lain juga dipantau
tetapi tidak dimasukkan kedalam profil.
Pada sisi lain episode gerakan yang tidak terinterupsi dihitung sebagai satu
gerakan.
c. Tonus janin
Dinilai dengan memperhatikan tubuh, ekstermitas dan tangan
janin.
Setiap episode flexi/extensi tubuh atau ekstremitas diberi skor 2
sebagai halnya pula gerakan membuka dan menutup tangan.
Tidak ada gerakan ini diberi nilai 0.
d. Volume cairan amnion
Volume ini dihitung dengan mengukur diameter vertikal kantong amnion
yang terdalam/terbesar. Bila diameternya > 2 cm maka skornya 2
(normal).
e. FHR
Dinilai dengan memeriksa jantung selama 20 menit terus menerus dengan
alat KTG. Adanya 2 akselerasi atau lebih dari sekurang-kurangnya
amplitudo 15 detak per menit dengan lama sekurang-kurangnya 30 menit
yang dihubungkan dengan gerakan janin pada periode 20 menit diberi skor
2.
Bila tidak ada keadaan tersebut di atas diberi nilai 0.
Bila dalam waktu 20 menit pertama hasilnya non reaktif pemeriksaan
dilanjutkan untuk 20 menit berikutnya.
Manning dkk percaya bila 4 variabel yang pertama normal, maka uji biofisik
profil lengkap. Hanya pada kasus-kasus dimana satu atau lebih variabel abnormal,
maka memantau reaktivitas FHR perlu dilakukan.

Penilaian Hasil Profil Biofisik


Variabel-variabel biofisik tergantung pada kegiatan daerah-daerah tertentu
sistem syaraf janin yang mulai berfungsi pada umur kehamilan yang berbeda. Tonus
dan pergerakan tampak antara 7-9 minggu dan memerlukan kegiatan cortex otak.
Pergerakan pernapasan mulai pada 20-21 minggu dan tergantung pada pusat di bagian
ventral ventrikel IV.
FHR tampak antara 28-29 minggu dan mungkin merupakan fungsi
hipotalamus posterior dan nucleus medulla bagian atas.
Sensitivitas tiap-tiap pusat ini terhadap hipoksia berbeda-beda dimana pusat
yang berfungsi lebih dini akan lebih tahan terhadap perubahan-perubahan akut
oksigenisasi janin. Karena itu seseorang dapat mengasumsikan bahwa penilaian setiap
fungsi janin pada profil biofisik mempunyai nilai ramal yang berbeda sebagai akibat
hipoksia.
Peneliti-peneliti menemukan untuk skor 4 dan 6, dimana NST abnormal dan
berkurangnya volume cairan amnion mempunyai nilai-nilai ramal positif lebih tinggi
daripada pergerakan dan tonus janin, sedangkan pernapasan janin mempunyai nilai
intermediate. Mereka menyimpulkan bahwa tidak semua skor abnormal biofisik profil
itu sama.
Untuk mencegah kesalahan, kita harus selalu ingat bahwa interprestasi hasil
profil biofisik harus dibuat pula analisis yang terpisah dari setiap komponen yang
diperiksa. Misalnya: Janin dengan skor empat yang terdiri dari uji nonstress yang
reaktif dan nilai dua lagi yang berasal volume cairan amnion yang normal merupakan
keadaan janin yang betul-betul baik dan tidak memerlukan intervensi karena skor
yang rendah tersebut.

Modifikasi Profil Biofisik


Vintzileos dkk yang pertama mengusulkan modifikasi profil biofisik guna
menilai kesejahteraan janin. Dia memantau 6543 janin berisiko tinggi dengan NST
mempergunakan VAST (Vibro acoustic Stimulation Testt) dan memeriksa volume
cairan amnion, hasilnya tidak ada kematian janin dalam waktu satu minggu sejak
penilaian biofisik mereka.
Modifikasi profil biofisik merupakan cara pemeriksaan primer terbaik.
Pemeriksaan ini merupakan kombinasi observasi indeks hipoksia janin akut, NST dan
VAST, dan indeks kedua merupakan petunjuk masalah janin yang khronis volume
cairan amnion.
Uji tersebut memberikan nilai ramal positif dan negatif yang cukup
memuaskan, mudah interprestasinya dan dapat dilakukan dalam waktu 20 menit.
Petunjuk berikut dapat dipergunakan sebagai pegangan dalam melaksanakan
modifikasi profil biofisik.
1. Apabila kedua uji normal, penilaian janin diulangi setiap minggu.
2. Bila kedua uji abnormal (NST non reaktif dan cairan amnion volumenya
berkurang) serta umur kehamilan 36 minggu atau lebih, penderita harus
dilahirkan. Akan tetapi bila umur janin kurang dari 36 minggu pengelolaan
individual. Mungkin perlu dilakukan amniosinujiis, CST atau dilahirkan
tergantung pada keadaan.
3. Bila volume cairan amnion kurang tetapi NST reaktif, pencarian ke arah
keadaan janin yang khronis harus dilakukan, terutama untuk kelainan
kongenital dan pemeriksaan dengan modifikasi biofisik profil dua kali
seminggu.
4. Seandainya volume cairan amnion normal dan NST non reaktif, pemeriksaan
lebih lanjut dengan CST atau pemeriksaan profil biofisik penuh harus
dilakukan.