Anda di halaman 1dari 3

SERVIKS INKOMPETEN

Handaya

Serviks inkompeten merupakan keadaan dimana terjadi dilatasi serviks dalam


kehamilan trimeser kedua atau awal trimeser ketiga tanpa rasa nyeri, dengan
penonjolan ketuban ke arah vagina disusul oleh pecahnya selaput ketuban dan
keluarnya janin.

Diagnosis
Bagaimana membuat diagnosis inkompeten serviks wanita yang sedang tidak
hamil ? berbagai cara dikemukakan bertujuan untuk mengetahui ostium uteri internum
yang melebar. Cara-cara itu misalnya hysterografi, pemerikasaan dengan busi. Dalam
kehamilan dicoba membuat diagnosis dengan ultrasonografi. Diagnosis pasti tetap
sulit maka lebih mengandalkan diagnosis klinik berdasarkan kejadian yang lampau.

Etiologi
Biasanya etiologi inkompeten serviks tidak jelas namun faktor trauma seperti
pasca kuretase, konisasi atau amputasi serviks merupakan faktor yang sering
dijumpai.

Penatalaksanaan
Pada inkompeten serviks dilakukan serklase (cerclage). Tindakan ini ditunda
sampai kehamilan mencapai 14 minggu, sehingga bila terjadi abortus oleh sebab lain
tidak terhambat. Belum didapatkan kesepakatan sampai usia kehamilan berapa
serklase dapat ditunda.
Sebelum melakukan serklase pastikan terlebih dahulu bahwa janin hidup tanpa
kelainan congenital dan obati serviks terlebih dahulu bila terdapat peradangan. Koitus
dilarang minimal satu minggu sebelum dan sesudah tindakan. Tehnik penjahitan ada 3
cara : McDonald, Shirodkar atau modified Shirodkar.
Trauma dan kehilangan darah pada cara McDonald dan modified Shirodkar lebih
sedikit dari cara Shirodkar asli. Pada cara Mc Donald dilakukan penjahitan di bagian
luar serviks dengan benang monofilamen nomor 2 mengelilingi serviks setinggi
ostium uteri internum. Cara McDonald merupakan cara yang paling sederhana.
Pada cara modified Shirodkar dilakukan jahitan dengan pita misalnya pita
mersilen dimulai dengan membuka mukosa vagina pada jam 12 setinggi ostium uteri
internium lalu dijahit melingkari vagina sampai jarum keluar pada jam 6. Kedua
ujung pita diikat dibelakang (jam 6) dan mukosa vagina didaerah jam 12 dijahit
kembali.
Dengan cara McDonald atau modified Shirodkar keberhasilan mencapai 85-
90%. Jahitan dilepas bila kehamilan37 minggu.
REDUKSI DAN TERMINASI KEHAMILAN
SELEKTIF
Sulchan Sofoewan & Rukmono Siswishanto

Kehamilan multifetal menunjukkan kecenderungan meningkat antara lain disebabkan


karena meningkatnya penggunaan obat-obatan pemicu ovulasi dan IVF. Luaran
kehamilan multifetal berhubungan langsung dengan jumlah janin dalam uterus.
Dengan semakin banyaknya janin intra uterin, akan semakin tinggi pula risiko
terjadinya partus prematurus. Tidak seperti kehamilan kembar dua, pada kehamilan
kembar 3 atau lebih belum cukup informasi yang dapat dijadikan dasar menetapkan
prognosis dan konseling kepada orang tua. Salah satu pilihan yang dapat dilakukan
dalam mengupayakan agar kehamilan dapat dipertahankan sampai janin mampu hidup
adalah melakukan pengurangan jumlah janin dalam rahim. Selain untuk memperbaiki
prognosis kehamilan, pengurangan janin dapat juga dilakukan apabila pada kehamilan
kembar didapatkan adanya janin dengan kelainan kongenital.
Menurut waktu dilakukannya, tindakan pengurangan janin dibagi menjadi 2, yaitu:
reduksi selektif dan terminasi selektif. Reduksi selektif dilakukan pada umur
kehamilan antara 10-13 minggu, sedangkan terminasi selektif dilakukan pada
trimester 2.

Indikasi
1. Kehamilan multifetal lebih dari 2 (dua)
Telah dapat dibuktikan bahwa luaran janin pada kehamilan multifetal 3 atau
lebih ternyata lebih buruk dibanding kehamilan tunggal atau kembar 2.
Apabila suatu kehamilan tidak mungkin berlanjut hingga janin mampu hidup
akibat adanya kehamilan multifetal, maka reduksi atau terminasi selektif
merupakan indikasi (Evan dkk, 1988)
2. Kehamilan multifetal dengan salah satu janin mempunyai kelainan kongenital
Pertimbangan melaksanakan tindakan reduksi selektif oleh karena janin
abnormal dapat membawa akibat buruk pada janin yang normal.
3. Twin-twin transfusion syndrome (TTTS) (Salim & Shalev, 2001)

Seleksi janin
Apabila tidak terdapat kelainan kongenital yang dapat dideteksi, maka dasar
pemilihan janin yang akan direduksi adalah yang paling mudah dicapai, dan sedapat
mungkin meninggalkan janin yang implantasinya di daerah fundus kavum uteri.
Kelainan kongenital yang dapat dideteksi berimplikasi bahwa reduksi maupun
terminasi kehamilan harus dilakukan pada janin yang mengalami kelainan tersebut.

Prosedur
Terminasi kehamilan selektif dapat dilakukan transervikal, transvaginal, maupun
transabdominal. Ketiga pendekatan tersebut memerlukan bantuan USG.
1. Reduksi selektif transervikal
Reduksi selektif transervikal dilakukan dengan cara melakukan aspirasi cairan
dan janin yang lokasinya paling dekat dengan OUI. Aspirasi dilakukan dengan
panduan USG.
2. Reduksi selektif transabdomen
Reduksi selektif transabdomen dilakukan dengan cara menyuntikkan larutan
KCl steril sebanyak 2-7 mol ke thoraks/jantung janin yang paling mudah
dijangkau. Prosedur dilakukan dengan panduan USG.
3. Terminasi selektif
Injeksi KCl 15% sebanyak 2-3 ml intrathoraks/kardiak merupakan teknik
pilihan untuk terminasi selektif pada kasus kembar dikhorionik. Pada kasus
kembar monokhorionik injeksi KCl tidak dilakukan oleh karena apabila
terdapat komunikasi vaskuler diantara janin, akan mempengaruhi janin yang
akan dibiarkan hidup. Teknik yang dilakukan adalah melakukan oklusi tali
pusat dengan cara ligasi, koagulasi laser, atau koagulasi bipolar pada tali
pusat.

Luaran reduksi/terminasi kehamilan selektif


Umur kehamilan pada waktu prosedur dilakukan berkorelasi positip dengan
keberhasilan mempertahankan janin yang dikehendaki, dan berkorelasi negatif dengan
umur kehamilan pada saat terjadi kelahiran. Kegagalan kehamilan yang dilakukan
terminasi selektif pada umur kehamilan 9-12 minggu sebesar 5,4%, 13-18 minggu
sebesar 8,7%, 19-24 minggu sebesar 6,8%, dan  25 minggu sebesar 9,1% ( Evans
dkk, 1999).
Evans dkk, 1993 juga mempunyai data yang menunjukkan bahwa luaran reduksi
kehamilan ditentukan oleh jumlah janin mula-mula dan jumlah janin setelah reduksi
dilakukan sebagai berikut:

Komplikasi
Komplikasi reduksi dan terminasi selektif yang dapat terjadi adalah: (1) abortus pada
janin hidup, (2) Abortus pada kedua janin, (3) Janin tidak mati, tetapi berkembang
dengan kelainan yang lebih buruk, (4) partus prematurus, (5) timbul gangguan
pertumbuhan janin, (6) infeksi, (7) perdarahan, (8) DIC (Evan dkk, 1996)

Masalah etika dan hukum


Baik reduksi maupun terminasi kehamilan, keduanya menghadapi masalah etika dan
hukum. Apapun alasannya, terminasi selektif adalah pembunuhan terhadap janin
abnormal utnuk kepentingan janin lain yang belum pasti tumbuh normal. Kelompok
pro-abortus berpendapat bahwa terminasi kehamilan dibenarkan baik atas indikasi
sosial maupun personal. Di banyak negara, terminasi kehanilan secara selektif
diijinkan dengan syarat: (1) janin sungguh-sungguh terpapar kelainan herediter berat,
(2) janin mengalami defisiensi berat, (3) bila kehamilan multipel tersebut dilanjutkan
akan berdampak buruk pada ibu. Hingga saat ini belum ada kesepakatan tentang
legalitas terminasi selektif. Di negara-negara liberal, keputusan dilakukannya reduksi
atau terminasi kehamilan diserahkan kepada pasangan bersangkutan dan tim medis
yang sudah berpengalaman.