Anda di halaman 1dari 14

Makalah Pemberontakan APRA

SEJARAH INDONESIA

Nama Kelompok 5 :

Ananda Alsa

Alma Siwi

Eva Christy

Hanif

M.Aditya Wilman

M. Aqsha

M. Farhan Febri

Naura Kamila

XII.IIS.1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT. bahwa kami telah menyelesaikan tugas
Mata Pelajaran Sejarah tentang Pemberontakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA). Dalam
penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang kami hadapi. Namun kami
menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat bantuan
dorongan kawan, sehingga kendala-kendala yang kami hadapi teratasi. Oleh karena itu kami
mengucapkan terima kasih kepada :
1. Ibu guru bidang studi Sejarah yang telah memberikan tugas,kepada kami sehingga kami
termotivasi dan menyelesaikan tugas ini.
2. Teman- teman yang telah turut membantu, membimbing, dan mengatasi berbagai
kesulitan sehingga tugas ini selesai.
Semoga materi ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak yang
membutuhkan, khususnya bagi penulis sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai.

Terima Kasih

Kelompok 5

i
DAFTAR ISI

COVER
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 1
C. Tujuan Masalah 1
BAB II PEMBAHASAN
A. Peran Westerling dalam Pembentukan APRA 2
B. Terjadinya Pemberontakan APRA 2
C. Jalannya Pemberontakan APRA...................................................................3
D. Penumpasan APRA.......................................................................................7
E. Dampak Pemberontakan APRA....................................................................8
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan9
DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada bulan November 1949, dinas rahasia militer Belanda menerima laporan, bahwa
Westerling telah mendirikan organisasi rahasia yang mempunyai pengikut sekitar 500.000
orang. Laporan yang diterima Inspektur Polisi Belanda J.M. Verburgh pada 8
Desember1949 menyebutkan bahwa nama organisasi bentukan Westerling adalah "Ratu Adil
Persatuan Indonesia" (RAPI) dan memiliki satuan bersenjata yang dinamakan Angkatan
Perang Ratu Adil (APRA). Pengikutnya kebanyakan adalah mantan anggota KNIL dan yang
melakukan desersi dari pasukan khusus KST/RST. Dia juga mendapat bantuan dari temannya
orang Tionghoa, Chia Piet Kay, yang dikenalnya sejak berada di kota Medan.
Pada 5 Desember malam, sekitar pukul 20.00 Westerling menelepon Letnan
Jenderal Buurman van Vreeden, Panglima Tertinggi Tentara Belanda, pengganti Letnan
Jenderal Spoor. Westerling menanyakan bagaimana pendapat van Vreeden, apabila setelah
penyerahan kedaulatan Westerling berencana melakukan kudeta terhadap Sukarno dan
kliknya. Van Vreeden memang telah mendengar berbagai kabar, antara lain ada sekelompok
militer yang akan mengganggu jalannya penyerahan kedaulatan. Juga dia telah mendengar
mengenai kelompoknya Westerling. Jenderal van Vreeden, sebagai yang harus bertanggung-
jawab atas kelancaran "penyerahan kedaulatan" pada 27 Desember 1949, memperingatkan
Westerling agar tidak melakukan tindakan tersebut, tapi van Vreeden tidak segera
memerintahkan penangkapan Westerling.

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang tersebut dapat ditarik beberapa rumusan masalah, yaitu:
1. Peran Westerling dalam Pembentukan APRA
2. Terjadinya Pemberontakan APRA
3. Jalannya Pemberontakan APRA
4.     Penumpasan APRA 
5. Dampak Pemberontakan APRA

C. Tujuan Masalah
Tujuan pembuatan makalah ini adalah selain sebagai bahan untuk memperoleh nilai,
juga sebagai bahan untuk memberitambahan pengetahuan kepada pembaca.
1
BAB II
PEMBAHASAN
A.     Peran Westerling dalam Pembentukan APRA
Raymond Pierre Paul Westerling lahir di Istanbul, 31 Agustus 1919 dan meninggal di
Belanda, 26 November 1987 pada usia 68 tahun. Westerling lahir sebagai anak kedua dari
Paul Westerling dan Sophia Moutzou. Dia komandan pasukan Belanda yang terkenal karena
memimpin Pembantaian Westerling pada tahun 1946 sampai 1947 di Sulawesi Selatan dan
percobaan kudeta APRA di Bandung, Jawa Barat.
Westerling yang dijuluki si Turki karena lahir di Istanbul, mendapat pelatihan khusus di
Skotlandia. Dia masuk dinas militer pada 26 Agustus 1941 di Kanada. Pada 27 Desember
1941 dia tiba di Inggris dan bertugas di Brigade Prinses Irene di Wolverhampton, dekat
Birmingham.
Westerling termasuk 48 orang Belanda sebagai angkatan pertama yang memperoleh
latihan khusus di Commando Basic Training Centre di Achnacarry, di Pantai Skotlandia yang
tandus, dingin dan tak berpenghuni. Melalui pelatihan yang sangat keras dan berat, mereka
dipersiapkan untuk menjadi komandan pasukan Belanda di Indonesia. Seorang instruktur
Inggris sendiri mengatakan pelatihan ini sebagai neraka di dunia. Pelatihan dan pelajaran
yang mereka peroleh antara lain perkelahian tangan kosong, penembakan tersembunyi,
berkelahi dan membunuh tanpa senjata api, membunuh pengawal dan sebagainya. Setelah
bertugas di Eastbourne sejak 31 Mei 1943, maka bersama 55 orang sukarelawan Belanda
lainnya pada 15 Desember 1943, Sersan Westerling berangkat ke India untuk betugas di
bawah Laksamana Madya Mountbatten Panglima Komando Asia Tenggara. Mereka tiba di
India pada 15 Januari 1944 dan ditempatkan di Kedgaon, 60 km di utara kota Poona.
Pada 20 Juli 1946, Westerling diangkat menjadi komandan Depot Speciale Troepen (DST)
atau Depot Pasukan Khusus. Awalnya, penunjukkan Westerling memimpin DST ini hanya
untuk sementara sampai diperoleh komandan yang lebih tepat dan pangkatnya pun tidak
dinaikkan, tetap Letnan II (Cadangan). Namun dia berhasil meningkatkan mutu pasukan
menjelang penugasan ke Sulawesi Selatan dan setelah berhasil menumpas perlawanan rakyat
pendukung Republik di Sulawesi Selatan, dia dianggap sebagai pahlawan namanya
membumbung tinggi.
B.      Terjadinya Pemberontaka APRA
APRA merupakan pemberontakan yang paling awal terjadi setelah Indonesia diakui
kedaulatannya oleh Belanda. Hasil Konferensi Meja Bundar yang menghasilkan suatu bentuk
negara Federal untuk Indonesia dengan nama RIS (Republik Indonesia Serikat). Suatu bentuk
negara ini merupakan suatu proses untuk kembali ke NKRI, karena memang hampir semua
masyarakat dan perangkat-perangkat pemerintahan di Indonesai tidak setuju dengan bentuk
negara federal. Tapi juga tidak sedikit yang tetap menginginkan Indonesia dengan bentuk
negara federal, hal ini menimbulkan banyak pemberontakan-pemberontakan atau kekacauan-
kekacauan yang terjadi pada saat itu.

2
Pemberontakan-pemberontakan ini dilakukan oleh golongan- golongan tertentu yang
mendapatkan dukungan dari Belanda karena merasa takut jika Belanda meninggalkan
Indonesia maka hak-haknya atas Indonesia akan hilang.

Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) dibawah pimpinan Kapten Raymond Westerling
merupakan gerakan yang didalangi oleh golongan kolonialis Belanda. Salah satu landasan
bagi gerakan APRA ini adalah kepercayaan rakyat Indonesia akan datangnya Ratu Adil.
Westerling memahami bahwa sebagian rakyat Indonesia yang telah lama menderita karena
penjajahan, baik oleh Belanda atau Jepang, mendambakan datangnya suatu masa
kemakmuran seperti yang terdapat dalam ramalan Jayabaya. Menurut ramalan itu akan
datang seorang pemimpin yang disebut Ratu Adil, yang akan memerintah rakyat dengan adil
dan bijaksana, sehingga keadaan akan aman dan damai dan rakyat akan makmur dan
sejahtera. Tidak hanya rakyat-rakyat biasa yang dihimpun Westerling untuk menjadi
tentaranya tetapi mantan tentara KNIL yang pro terhadap Belanda juga ikut menjadi bagian
dari tentara APRA. Ada satu hal yang menarik bahwa kendaraan-kendaraan yang digunakan
oleh KNIL maupun KL dalam melancarkan aksinya diberi tanda segitiga orange sebagai
lambang negara Belanda

Sebenarnya organisasi ini sudah dibentuk sebelum Konferensi Meja Bundar itu
disahkan. Pada bulan November 1949, dinas rahasia militer Belanda menerima laporan,
bahwa Westerling telah mendirikan organisasi rahasia yang mempunyai pengikut sekitar
500.000 orang. Laporan yang diterima Inspektur Polisi Belanda J.M. Verburgh pada 8
Desember 1949 menyebutkan bahwa nama organisasi bentukan Westerling adalah "Ratu Adil
Persatuan Indonesia" (RAPI) dan memiliki satuan bersenjata yang dinamakan Angkatan
Perang Ratu Adil(APRA). Pengikutnya kebanyakan adalah mantan anggota KNIL dan yang
melakukan desersi dari pasukan khusus KST/RST. Dia juga mendapat bantuan dari temannya
orang Tionghoa, Chia Piet Kay, yang dikenalnya sejak berada di kota Medan.

Tujuan Westerling membentuk APRA ini adalah mengganggu prosesi pengakuan


kedaulatan dari Kerajaan Belanda kepada pemerintah Republik Indonesia Serikat (RIS) pada
27 Desember 1949. Upaya itu dihalangi oleh Letnan Jenderal Buurman van Vreeden,
Panglima Tertinggi Tentara Belanda. Tujuan lainnya adalah untuk mempertahankan bentuk
negara federal di Indonesia dan adanya tentara tersendiri pada negara-negara bagian RIS .

C.     Jalannya Pemberontakan APRA


Pemberontakan yang dilakukan oleh Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) yang
dipimpin oleh mantan Kapten KNIL Raymond Westerling bukanlah pemberontakan yang
dilancarkan secara spontan. Pemberontakan ini telah direncanakan sejak beberapa bulan
sebelumnya oleh Westerling dan bahkan telah diketahui oleh pimpinan tertinggi militer
Belanda.

3
Pada 25 Desember 1949 malam, sekitar pukul 20.00 Westerling menghubungi Letnan
Jenderal Buurman van Vreeden, Panglima Tertinggi Tentara Belanda untuk menanyakan
bagaimana pendapat van Vreedenmengenai rencananya untuk melakukan kudeta terhadap
Soekarno setelah penyerahan kedaulatan dari Belanda terhadap Indonesia. Van Vreeden
memang telah mendengar berbagai rumor, antara lain ada sekelompok militer yang akan
mengganggu jalannya penyerahan kedaulatan, tidak terkecuali rumor mengenai pasukan yang
dipimpin oleh Westerling. Jenderal van Vreeden, sebagai yang harus bertanggung-jawab atas
kelancaran penyerahan kedaulatan pada 27 Desember 1949 tersebut memperingatkan
Westerling agar tidak melakukan tindakan seperti apa yang diungkapkan padanya.
Pada hari Kamis tanggal 5 Januari 1950, Westerling mengirim surat kepada
pemerintah RIS yang isinya adalah sebuah ultimatum. Westerling menuntut agar Pemerintah
RIS menghargai negara-negara bagian, terutama Negara Pasundan serta Pemerintah RIS
harus mengakui APRA sebagai tentara Pasundan. Pemerintah RIS harus memberikan
jawaban positif terkait ultimatum tersebut dalm waktu 7 hari dan apabila ditolak, maka akan
timbul perang besar. Ultimatum Westerling ini tentu menimbulkan kegelisahan tidak saja di
kalangan RIS, namun juga di pihak Belanda dan dr. H.M. Hirschfeld, Nederlandse Hoge
Commissaris (Komisaris Tinggi Belanda) yang baru tiba di Indonesia. Kabinet RIS
menghujani Hirschfeld dengan berbagai pertanyaan yang membuatnya menjadi sangat tidak
nyaman. Menteri Dalam Negeri Belanda, Stikker menginstruksikan kepada Hirschfeld untuk
menindak semua pejabat sipil dan militer Belanda yang bekerjasama dengan Westerling.
Pada 10 Januari 1950 Hatta menyampaikan kepada Hirschfeld, bahwa pihak
Indonesia telah mengeluarkan perintah penangkapan terhadap Westerling. Sebelumnya,
ketika Lovink masih menjabat sebagai Wakil Tinggi Mahkota (WTM), dia telah
menyarankan Hatta untuk mengenakan pasal exorbitante rechtenterhadap Westerling.
Sementara itu, Westerling mengunjung Sultan Hamid II di Jakarta. Sebelumnya, mereka
pernah bertemu bulan Desember 1949. Westerling menerangkan tujuannya, dan meminta
Hamid menjadi pemimpin gerakan mereka. Hamid ingin mengetahui secara rinci mengenai
organisasi Westerling tersebut, namun dia tidak memperoleh jawaban yang memuaskan dari
Westerling. Pertemuan hari itu tidak membuahkan hasil apapun.
Pertengahan Januari 1950, Menteri UNI dan Urusan Provinsi Seberang Lautan,
Mr.J.H. van Maarseven berkunjung ke Indonesia untuk mempersiapkan pertemuan Uni
Indonesia-Belanda yang akan diselenggarakan pada bulan Maret 1950. Hatta menyampaikan
kepada Maarseven, bahwa dia telah memerintahkan kepolisian untuk menangkap Westerling.
Ketika berkunjung ke Belanda, Menteri Perekonomian RIS Juanda pada 20 Januari 1950
menyampaikan kepada Menteri Götzen, agar pasukan elit RST yang dipandang sebagai faktor
risiko, secepatnya dievakuasi dari Indonesia. Sebelum itu, satu unit pasukan RST telah
dievakuasi ke Ambon dan tiba di Ambon tanggal 17 Januari 1950. Pada 21 Januari Hirschfeld
menyampaikan kepada Götzen bahwa Jenderal Buurman van Vreeden dan Menteri
Pertahanan Belanda Schokking telah menggodok rencana untuk evakuasi pasukan RST.

4
Namun upaya mengevakuasi Reciment Speciaale Troepen, gabungan baret merah dan
baret hijau terlambat dilakukan. Westerling mendengar mengenai rencana tersebut dari
beberapa bekas anak buahnya, sebelum deportasi pasukan RST ke Belanda dimulai, pada 23
Januari 1950 Westerling melancarkan "kudetanya." Subuh pukul 4.30 hari itu, Letnan
Kolonel KNIL T. Cassa menelepon Jenderal Engles dan melaporkan: "Satu pasukan kuat
APRA bergerak melalui Jalan Pos Besar menuju Bandung." Namun laporan Letkol Cassa
tidak mengejutkan Engles, karena sebelumnya, pada 22 Januari pukul 21.00 dia telah
menerima laporan, bahwa sejumlah anggota pasukan RST dengan persenjataan berat telah
melakukan desersi dan meninggalkan tangsi militer di Batujajar. Mayor KNIL G.H. Christian
dan Kapten KNIL J.H.W. Nix melaporkan, bahwa "compagnie Erik" yang berada
di Kampemenstraat juga akan melakukan desersi pada malam itu dan bergabung dengan
APRA untuk ikutserta dalam kudeta, namun dapat digagalkan oleh komandannya sendiri,
Kapten G.H.O. de Witt. Engles segera membunyikan alarm besar dan segera
menghubungi Letnan Kolonel TNI Sadikin, Panglima Divisi Siliwangi. Engles juga
melaporkan kejadian ini kepada Jenderal Buurman van Vreeden di Jakarta.
Mulanya penduduk kota Bandung tidak terlalu curiga karena adalah hal yang biasa
tentara hilir mudik keluar  masuk kota Bandung  pada  masa itu,
walau Perang kemerdekaan dianggap sudah berakhir. Tentara APRA pada saat  itu 
menggunakan truk, jeep, motorfiets, serta ada yang berjalan kaki dengan seragam dan
bersenjata lengkap dan jumlahnya ditaksir antara 500-800  personel.
Namun ketika mereka mengadakan steling di gang-gang di sepanjang jalan Cimahi-
Bandung sambil melepas tembakan ke udara.  Bahkan  ada di antara
mereka yang mengarahkan tembakan  kebeberapa rumah penduduk. Barulah
setelah mendengar suara tembakan tersebut,  warga seketika menjadi was-was. Sejumlah
polisi yang menjaga pos-pos sepanjang  jalan raya Cimindi-Cibereum dilucuti
senjatanya. Sesampainya di kota kepanikan rakyat semakin menjadi-jadi, banyak toko dan
rumah ditutup dan jalanan pun menjadi sepi.
Di jalan perapatan Banceuy, seorang TNI yang mengendarai jip dan tidak bersenjata
diberhentikan. Tentara itu diperintahkan untuk turun dan mengangkat tangan lalu dengan keji
ditembak mati.  Pasukan APRA bergerak di Jalan Braga, di muka Apotheek Rathkam sebuah
mobil sedan juga diberhentikan.  Tiga penumpangnya juga diperintahkan untuk turun, di
antaranya seorang perwira TNI. Tanda pangkat perwira itu diambil dan kemudian dia
dibunuh.  Dua orang sipil yang bersama tentara tadi kemudian diangkut  dengan truk.
Tentara APRA juga mengadakan aksi di depan Hotel Preanger. Mereka menyerang
sebuah truk berisi tiga orang TNI. Perlawanan dari TNI baru terjadi di Jalan Merdeka,
sekalipun tidak seimbang. Setelah tembak-menembak sekitar 15 menit, 10 orang TNI
gugur. Tentara APRA juga menyerang truk yang dikendarai 7 orang serdadu TNI di
perempatan Suniaraja-Braga. Truk itu ditembaki dari depan dan belakang.

5
Perlawanan yang  cukup hebat terjadi di Kantor Kwartir Divisi Siliwangi Oude
Hospitaalweg.  Satu regu stafdekking TNI terdiri dari 15 orang dipimpin Letkol (Overste )
Sutoko  dikepung tentara APRA yang jumlahnya lebih banyak.  Benar-benar pertempuran
sampai peluru terakhir. Letkol Sutoko,  Letkol Abimanyu dan seorang opsir lainnya dapat
menyelamatkan diri.  Lainnya tewas. Markas itu diduduki dan tentara APRA merampok
brandkas sebesar F150.000.
Pertempuran juga terjadi di kantor stafkwartier Divisi Siliwangi Jalan Lembang. Satu
rgu stafdekking TNI terdiri dari 15 orang dipimpin Overste Sutoko dengan tiba2 dikerubungi
oleh ratusan APRA. Pertempuran berlangsung kurang lebih setengah jam. Pertempuran
dilakukan hingga peluru terakhir. Everste Sutoko, Abimanyu, dan seorang opsir lainnya dapat
menyelamatkan diri, lainnya tewas. APRA kemudian berhasil menduduki stafkwartier dan
membongkar brandkast yang isinya Rp. 150.000, jumlah yang cukup besar untuk saat itu.
Selain itu, mayat-mayat dari TNI dan sipil pun bergelimpangan antara jalan Braga hingga
jalan Jawa. Di antara orang-orang sipil yang tewas, kabarnya menjadi korban karena mereka
berani menjawab “Jogja”, ketika ditanyakan “Pilih Pasundan atau Jogja?” oleh pasukan
APRA.
Perwira TNI lainnya yang gugur ialah Letkol Lembong dan ajudannya Leo Kailola. 
Mereka dihujani peluru ketika hendak masuk Markas Divisi Siliwangi yang ternyata sudah
diduki oleh gerombolan APRA.  Keseluruhan 79 orang menajdi korban  keganasan
gerombolan ini.  Mereka adalah 61 serdadu TNI  dan 18 orang lainnya yang tidak diketahui
namanya karena tidak mempunyai tanda-tanda  atau surat dalam  pakaiannya.
Sementara Westerling memimpin penyerangan di Bandung, sejumlah anggota
pasukan RST dipimpin oleh Sersan Meijer menuju Jakarta dengan maksud menangkap
Presiden Sukarno dan menduduki gedung-gedung pemerintahan. Namun dukungan dari
pasukan KNIL lain dan TII (Tentara Islam Indonesia) yang diharapkan Westerling tidak
muncul, sehingga "serangan" ke Jakarta gagal total. Demikian juga secara keseluruhan,
pelaksanaan "kudeta" tidak seperti yang diharapkan oleh Westerling dan anak buahnya.
Setelah puas melakukan pembantaian di Bandung, seluruh pasukan RST dan satuan-
satuan yang mendukungnya kembali ke tangsi masing-masing. Westerling sendiri berangkat
ke Jakarta, di mana dia pada 24 Januari 1950 bertemu lagi dengan Sultan Hamid II di Hotel
Des Indes. Hamid yang didampingi oleh sekretarisnya, dr. J. Kiers, melancarkan kritik pedas
terhadap Westerling atas kegagalannya dan menyalahkan Westerling telah membuat
kesalahan besar di Bandung. Tak ada perdebatan, dan sesaat kemudian Westerling pergi
meninggalkan hotel.
Setelah itu terdengar berita bahwa Westerling merencanakan untuk mengulang
tindakannya. Pada 25 Januari Hatta menyampaikan kepada Hirschfeld, bahwa Westerling,
didukung oleh RST dan Darul Islam, akan menyerbu Jakarta. Engles juga menerima laporan,
bahwa Westerling melakukan konsolidasi para pengikutnya di Garut, salah satu basis Darul
Islam waktu itu.

6
Aksi militer yang dilancarkan oleh Westerling bersama APRA yang antara lain terdiri
dari pasukan elit tentara Belanda, tentu menjadi berita utama media massa di seluruh dunia.
Hugh Laming, koresponden Kantor Berita Reuters yang pertama melansir pada 23 Januari
1950 dengan berita yang sensasional. Osmar White, jurnalis Australia dari Melbourne Sun
memberitakan di halaman muka: "Suatu krisis dengan skala internasional telah melanda Asia
Tenggara." Untuk dunia internasional, Belanda sekali lagi duduk di kursi terdakwa. Duta
Besar Belanda di AS, van Kleffens melaporkan bahwa di mata orang Amerika, Belanda
secara licik sekali lagi telah mengelabui Indonesia, dan serangan di Bandung dilakukan oleh
"de zwarte hand van Nederland" (tangan hitam dari Belanda).
D.     Penumpasan APRA
Ketika terjadi pemberontakan APRA tidak dilakukan perlawanan yang berarti, hal ini
disebabkan karena beberapa faktor. Pertama, karena serangan dilakukan dengan sangat tiba-
tia, pembalasan tembakan pun tidak dilakukan karena orang-orang APRA bercampur dengan
orang KNIL dan KL. Sedangkan mengenai latar belakang aksinya, diduga keras bahwa
APRA ingin mendukung berdirinya negara Pasundan, supaya negara ini bisa berdiri tanpa
gangguan TNI dan menggunakan APRA sebagai angkatan perangnya.
Secara umum boleh pasukan Divisi Siliwangi TNI tidak siap karena baru saja
memasuki Kota Bandung setelah perjanjian KMB. Panglima Siliwangi Kolonel Sadikin dan
Gubernur Jawa Barat Sewaka  pada saat kejadian  sedang mengadakan peninjauan ke Kota
Subang.  Sementara di  Jakarta  pada pukul 11.00 bertempat di kantor Perdana Mentri RIS
diadakan perundingan antara Perdana Mentri RIS dan Komisaris Tinggi Kerajaan Belanda di
Indonesia.  Terungkap adanya keterlibatan  tentara Belanda (diperkirakan sekitar 300 tentara
Belanda berada di antara pasukan APRA)  dalam peristiwa di Bandung itu, maka diputuskan
tindakan bersama.
Jendral Engels akhirnya memerintahkan pasukan APRA untuk kembali ke Batujajar,
baik karena diperintah atasannya, maupun ancaman dari Divisi Siliwangi yang tidak
menjamin keselamatan warga Belanda yang berjumlah ribuan di kota Bandung.  Pada hari itu
juga pasukan APRA meninggalkan Kota Bandung.  Operasi penumpasan dan pengejaran
terhadap gerombolan APRA yang sedang melakukan gerakan mundur segera dilakukan oleh
TNI.  Sisa pasukan Wasterling di bawah pimpinan Van der Meulen yang bukan anggota
KNIL Batujajar dan polisi yang menuju Jakarta,  pada  24 Januari 1950 dihancurkan Pasukan
Siliwangi dalam pertempuran daerah Cipeuyeum dan sekitar Hutan Bakong dan dapat disita 
beberapa truk dan pick up, tiga pucuk bren, 4 pucuk senjata ukuran 12,7 dan berpuluh
karaben.
Pada 24 Januari 1950 tengah malam terjadi tembak-menembak di Kramatalaan No.29
Jakarta antara pauskan TNI dengan geromboan yang diduga adalah deseteurs (anggota tentara
yang melarikan diri dari dinasi tentara).  Tembak-menembak tersebut berlangsung sampai 25
januari 1950 pagi.  Dalam penggerebekan pasukan kita berhasil merampas 30 pucuk owens-
guns.

7
Di kota Bandung juga diadakan pembersihan dan penahanan terhadap mereka yang
terlibat, termasuk beberapa orang tokoh Negara Pasundan.  Bagaimana dengan Wasterling?
Setelah melarikan diri dari Bandung, Westerling masih melanjutkan petualangannya di
Jakarta. la merencanakan suatu gerakan untuk menangkap semua Menteri RIS yang sedang
menghadiri sidang kabinet, dan membunuh Menteri Pertahanan Sri Sultan Hamengkubuwono
IX, Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Mr. A. Budiardjo, dan Pejabat Kepala Staf
Angkatan Perang Kolonel T.B. Simatupang.
Gerakan tersebut dapat digagalkan dan kemudian diketahui bahwa otaknya adalah
Sultan Hamid II, yang juga menjadi anggota Kabinet RIS sebagai Menteri tanpa portofolio.
Sultan Hamid II dapat segera ditangkap, sedangkan Westerling sempat melarikan diri ke luar
negeri pada 22 Februari 1950 dengan menumpang pesawat Catalina milik Angkatan Laut
Belanda. Dengan kaburnya Wasterling, maka gerakannya pun jadi bubar.
E.      Dampak Pemberontakan APRA
Bila dilihat dari latar belakang pemberontakan yang dilakukan oleh APRA (Angkatan
Perang Ratu Adil) yang diketuai oleh Raymond Pierre Westerling ini bertujuan untuk
mendapat pengakuan dari pemerintah RIS yang ingin diakui sebagai tentara Pasundan. Selain
itu, pemberontakan ini juga bertujuan untuk tetap mempertahankan pemerintahan Reupblik
Federal dan tidak menginginkan adanya penyerahan kedaulatan serta adanya tentara
tersendiri di negara-negara bagian RIS. Sehingga terjadilah pemberontakan APRA ini yang
terjadi di Bandung.
Dalam pemberontakan ini, APRA berhasil menduduki markas dari Kodam Divisi
Siliwangi berhasil diduduki pada tanggal 23 Januari 1950 dan juga membunuh para tentara
Indonesia yang bermaksud untuk melawan. Salah satu tentara yang terbunuh ialah Letnan
Kolonel Lembong tewas pada peristiwa ini. Bandung pun dapat dikuasai sementara oleh
pasukan APRA untuk beberapa jam. Dalam peristiwa ini juga menyebabkan 79 orang APRIS
tewas dan juga beberapa masyarakat sekitar juga mnejadi korban kekejaman pemberontakan
ini. Dengan terjadinya peristiwa ini di Bandung membuat pemerintah mengirimkan pasukan
APRI ke Bandung untuk menumpas gerakan pemberontakan APRA. Pada akhirnya gerakan
pemberontakan APRA berhasil ditumpas oleh APRI (Angkatan Perang Republik Indonesia).
Perisitiwa merupakan suatu konspirasi diantara Raymond Pierre Westerling dan
Sultan Hamid II dari Pontianak. Ketika pemberontakan yang di Bandung itu berakhir, Jakarta
menjadi target berikutnya. Dalam misi kali ini APRA ingin menyerang Jakarta serta ingin
membunuh menteri-menteri RIS seperti Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Mr. Ali Budiarjo
dan Kolonel TB Simatupang pada tanggal 26 Januari 1950.
Namun aksi dari APRA untuk menyerang Jakarta sudah diketahui sebelumnya oleh
jajaran petinggi pemerintahan sehingga aksi tersebut dapat digagalkan dan konspirasi diantara
Westerling dan Sultan Hamid II ini terbongkar dan ketika akan ditangkap, Westerling kabur
ke Singapura dan Sultan Hamid II berhasil ditangkap. Maka berakhir pemberontakan APRA
ini.

8
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Seperti yang telah di kemukakan tadi, bahwa Pergerakan Ratu Adil yang di pimpin
oleh RaymondWesterling dan di dalangi oleh Sultan Hamid II,gerakan ini ingin melakukan
pembunuhan kepada tokoh-tokoh penting, diantaranya Sultan Hamengkubuwono. Munculnya
gerakan gerakan seperti ini adalahwujud dari ketidakpuasan terhadap pemerintah.
 Gerakan ratu adil sendiri muncul karena kepercayaanmasyarakat Jawa pada saat itu
tentang akan munculnya seseorang yang akan menciptakan kedaimaiandan ketentraman di
Jawa, kepercayaan tersebut menyebabkan rakyat ingin bergabung dengan sangRatu Adil agar
keinginan mereka dapat terpenuhi, Namun itu semua adalah tipu daya yang dilakukanoleh
para petinggi negara yang ingin melakukan kudeta terhadap negara.
Ratu Adil yang didalangi oleh salah satu petinggi RIS tersebut telah membuat banyak
anggotaTNI yang berada di Bandung tewas dan gerakan tersebut sempat menguasai Kota
Bandung. Danakhirnya gerakan gerakan yang dilakukan oleh orang orang yang tidak
bertanggung jawab dapatditumpas dengan persatuan seluruh elemen masyarakat Indonesia,
maka dari itu kita sebagai penerusgenerassi bangsa agar tidak mementingkan diri sendiri. Dan
sebagai warga negara yang baik kita harusmempunyai jiwa Nasionalisme dan persatuan yang
baik agar negara kita tidak gampang untuk dirasukioleh faham faham yang bertentangan
dengan Pancasila.

9
DAFTAR PUSTAKA

http://budy-official.blogspot.co.id/2013/12/pemberontakan-angkatan-perang-ratu-adil.html

10

Anda mungkin juga menyukai