Anda di halaman 1dari 13

SNI 2581:2019

Standar Nasional Indonesia

Pupuk amonium klorida

ICS 65.080
SNI 2581:2019

Daftar isi

Daftar isi..................................................................................................................................... i
Prakata...................................................................................................................................... ii
1 Ruang lingkup.....................................................................................................................1
2 Acuan normatif....................................................................................................................1
3 Istilah dan definisi ...............................................................................................................1
4 Syarat mutu ........................................................................................................................1
5 Pengambilan contoh ...........................................................................................................1
6 Cara uji ............................................................................................................................... 2
7 Syarat lulus uji ....................................................................................................................5
8 Pengemasan.......................................................................................................................5
9 Syarat penandaan ..............................................................................................................5
Bibliografi .................................................................................................................................. 7

© BSN 2019 i
Prakata

Standar Nasional Indonesia (SNI) 2581:2019 dengan judul Pupuk amonium klorida ini
merupakan revisi dari SNI 02-2581-2005, Pupuk amonium klorida. Standar ini direvisi pada
bagian syarat mutu kadar nitrogen dan metode uji dengan tujuan:
1. Perlindungan konsumen dan produsen pupuk amonium klorida
2. Mendukung pengembangan industri agrokimia
3. Menyesuaikan standar baku internasional
4. Menjamin mutu produk yang beredar di dalam negeri agar sesuai syarat mutu

Standar ini disusun oleh Komite Teknis 65-06, Produk Agrokimia dan telah dibahas dalam
rapat teknis dan disepakati pada rapat konsensus di Jakarta pada tanggal 2 September 2019
yang dihadiri oleh wakil dari produsen, konsumen, pemerintah, pakar dan instansi terkait
lainnya. SNI ini telah melalui konsensus nasional yaitu jajak pendapat pada tanggal 18
September 2019 sampai dengan 18 November 2019, dengan hasil akhir disetujui menjadi SNI.

Perlu diperhatikan bahwa kemungkinan beberapa unsur dari dokumen standar ini dapat
berupa hak paten. Badan Standardisasi Nasional tidak bertanggung jawab untuk
pengidentifikasian salah satu atau seluruh hak paten yang ada.

© BSN 2019 ii
Pupuk amonium klorida

1 Ruang lingkup

Standar ini meliputi syarat mutu dan cara uji pupuk amonium klorida sebagai sumber hara
nitrogen yang digunakan untuk pertanian umum.

2 Acuan normatif

Dokumen acuan berikut sangat diperlukan untuk penerapan dokumen ini. Untuk acuan yang
tidak bertanggal, berlaku edisi terakhir dari dokumen acuan tersebut (termasuk seluruh
perubahan atau amandemennya).

SNI 0428, Petunjuk pengambilan contoh padatan.

3 Istilah dan definisi

Untuk tujuan penggunaan dokumen ini, istilah dan definisi berikut ini berlaku.

3.1
pupuk amonium klorida
pupuk anorganik berbentuk kristal dengan rumus kimia NH4Cl dengan nomor CAS 12125-
02-9, yang mengandung unsur hara makro tunggal nitrogen

4 Syarat mutu

Syarat mutu pupuk amonium klorida seperti pada Tabel 1 dibawah ini.

Tabel 1 - Syarat mutu pupuk amonium klorida

No. Uraian Satuan Persyaratan


1. Kadar nitrogen % min. 25,0
2. Kadar air % maks. 1,0
3. Asam bebas (sebagai HCl) % maks. 0,08
CATATAN Semua persyaratan kecuali kadar air, dihitung atas dasar bahan
kering (adbk).

5 Pengambilan contoh

Cara pengambilan contoh sesuai dengan SNI 0428.

© BSN 2019 1 dari 7


6 Cara uji

6.1 Kadar nitrogen

6.1.1 Prinsip

Penyulingan amonia dari larutan contoh yang dibebaskan dengan penambahan larutan alkali
yang dilanjutkan penyerapan dalam larutan standar asam sulfat berlebih dan titrasi balik
menggunakan larutan standar natrium hidroksida dan indikator.

6.1.2 Pereaksi
a) Larutan asam sulfat (H2SO4) 0,5 N;
b) Larutan natrium hidroksida (NaOH) 0,5 N;
c) Larutan natrium hidroksida (NaOH) 450 g/L;
d) Indikator campuran;
Larutkan 0,1 g metil merah dalam ± 50 mL etanol 95 % (fraksi volume), tambahkan 0,05 g
metilen biru dan tepatkan dengan etanol yang sama sampai 100 mL.
e) Air suling.

6.1.3 Peralatan

a) Neraca analitik dengan ketelitian 0,1 mg;


b) Seperangkat alat distilasi, sebagaimana pada lampiran A, yang terdiri dari:
− Labu distilasi, kapasitas 1.000 mL dengan tutup asah, mempunyai dua cabang (satu
untuk hubungan ke pendingin dan satu lagi tempat untuk pengisian NaOH),
− Corong asah,
− Pendingin liebig, dengan panjang lebih kurang 400 mm,
− Labu penampung, kapasitas 500 mL,
− Klem.
c) Buret 50 mL;
d) Labu takar 500 mL;
e) Gelas piala 100 mL;
f) Pipet ukur 50 mL.

6.1.4 Cara kerja

6.1.4.1 Penyiapan contoh uji

a) Timbang dengan teliti 10 g contoh uji.


b) Masukkan ke dalam labu 500 mL, larutkan dengan air suling dan tepatkan hingga tanda
tera kemudian dikocok.

6.1.4.2 Distilasi

a) Pipet 50,0 mL contoh uji (6.1.4.1.b) ke dalam labu distilasi, tambah sekitar 350 mL air
suling dan beberapa butir batu-didih.
b) Pasang alat distilasi dengan memberi silicone grease pada sambungan untuk
menghindari kebocoran.
c) Pipet 40 mL larutan asam sulfat berlebih dan sekitar 80 mL air suling serta beberapa tetes
indikator campuran ke dalam labu penampung dan hubungkan dengan pendingin.
d) Pastikan semua sambungan alat distilasi tidak bocor.
e) Tuangkan sekitar 20 mL larutan natrium hidroksida (NaOH) 450 g/L ke dalam corong labu
distilasi menggunakan corong asah.

© BSN 2019 2 dari 7


f) Panaskan isi labu distilasi secara perlahan sampai mendidih dan setelah semua udara
terdorong keluar, tambahkan larutan NaOH secara perlahan dan atur kecepatan penambahan
larutan NaOH.

CATATAN penambahan NaOH terlalu cepat dapat menyebabkan timbulnya gelembung yang dengan
cepat meninggalkan labu sehingga memungkinkan hilangnya sebagian nitrogen.

g) Apabila hampir seluruh larutan NaOH telah ditambahkan, tutup keran dan sisakan larutan
dalam corong sebanyak sekitar 5 mL.
h) Lakukan distilasi dengan menambahkan kecepatan pemanasan sampai isi labu
mendidih.
i) Lakukan distilasi hingga volume penampung sekitar 250 mL sampai 300 mL.
j) Labu penampung dilepaskan dari pendingin dan pendingin dibilas dengan air. Semua
hasil bilasan dituangkan ke dalam penampung.

6.1.4.3 Titrasi

a) Kocok larutan penampung secara hati-hati dan titrasi kembali kelebihan larutan asam
sulfat dengan larutan standar natrium hidroksida (NaOH) 0,5 N. Pastikan larutan
homogen dengan cara menggoyangkan larutan selama titrasi.
b) Lakukan analisis blanko, pada waktu yang bersamaan dengan analisis contoh uji,
mengikuti prosedur dan pereaksi yang sama.

6.1.5 Perhitungan

(V1 – V2) × N × 14,008 × Fp 100


Kadar nitrogen,(adbk) % = × 100 ×
W (100 ‒ 𝐾𝐴)

Keterangan:
V1 adalah volume NaOH yang dibutuhkan pada waktu titrasi blanko, mL;
V2 adalah volume NaOH yang dibutuhkan pada waktu titrasi contoh uji, mL;
N adalah normalitas NaOH;
W adalah berat contoh, mg;
KA adalah kadar air, %;
Fp adalah faktor pengenceran;
14,008 adalah berat atom Nitrogen.

6.2 Kadar air

6.2.1 Prinsip

Apabila air bereaksi dengan larutan pereaksi Karl Fischer, yaitu campuran dari iodin, sulfur
dioksida, piridin dan metanol, maka elektroda platina dari alat aquatitrator akan terpolarisasi
yang menyebabkan sejumlah besar arus akan mengalir ke mikrometer. Kelebihan iodin sedikit
saja akan mendepolarisasi elektroda dan akan menunjukkan titik akhir titrasi.

6.2.2 Pereaksi

a) Larutan pereaksi Karl Fischer, larutan tunggal yang stabil dengan titer 5 mg H2O/mL;
b) Metanol dengan kadar maksimum 0,1 %;
c) Air suling.

© BSN 2019 3 dari 7


6.2.3 Peralatan

a) Aquatitrator atau aquameter;


b) Botol timbang;
c) Neraca analitik dengan ketelitian 0,1 mg.

6.2.4 Cara kerja

a) Masukkan sejumlah metanol ke dalam botol reaksi aquatitrator hingga elektroda platina
terendam;
b) Titrasi dengan larutan Karl Fischer sampai titik akhir tercapai dan diperoleh metanol bebas
air;
c) Timbang (2 – 3) g contoh uji dengan teliti dan masukkan ke dalam botol reaksi aquatitrator
dan aduk hingga semua contoh terlarut;
d) Titrasi dengan larutan Karl Fischer hingga titik akhir tercapai dan catat volume larutan Karl
Fischer yang digunakan untuk titrasi (V mL).

6.2.5 Perhitungan
𝑉 ×𝑓
Kadar air (%) = 𝑊 × 1.000 × 100

Keterangan:
V adalah volume pereaksi Karl Fischer yang digunakan untuk titrasi contoh, mL;
f adalah faktor pereaksi Karl Fischer yang digunakan sebagai titran, mg/mL;
W adalah berat contoh uji, g.

6.3 Asam bebas (sebagai HCl)

6.3.1 Prinsip

Titrasi asam bebas dalam contoh uji menggunakan larutan standar natrium hidroksida dan
indikator.

6.3.2 Pereaksi

a) Air suling atau air dengan kualitas yang setara yang netral terhadap indikator; Tambahkan
beberapa tetes indikator (6.3.2.c) ke dalam 1.000 mL air suling, dan jika perlu atur pH
antara 5,2 - 5,6 dengan larutan NaOH 0,1 N atau larutan asam klorida 0,1 N.
b) Larutan standar NaOH 0,1 N;
c) Larutan indikator metil ungu, 10 % atau indikator lain dengan perubahan pH yang sama
yaitu antara 5,2 – 5,6.

6.3.3 Peralatan

a) Neraca analitik dengan ketelitian 0,1 mg;


b) Erlenmeyer 1.000 mL;
c) Kertas saring grade medium;
d) Gelas piala;
e) Buret.

© BSN 2019 4 dari 7


6.3.4 Cara kerja

a) Timbang dengan teliti 10 g contoh uji;


b) Masukan ke dalam Erlenmeyer kemudian larutkan dengan 500 mL air, pertahankan suhu
pada 20 C – 25 C. Jika larutan keruh, saring dengan kertas saring grade medium, cuci
gelas piala dan kertas saring. Gabungkan saringan dan hasil pencucian dalam labu
dengan kapasitas yang sesuai;
c) Tambahkan 3 sampai 5 tetes larutan indikator metil ungu atau indikator lain (6.2.2c) dan
titrasi dengan larutan standar NaOH 0,1 N sampai terjadi perubahan warna larutan uji dari
merah violet (red violet) menjadi hijau terang (brilliant green).
d) Lakukan analisis minimal duplo.

6.3.5 Perhitungan

𝑉 × 𝑁 × 36,5 100
Asam bebas (sebagai HCl) = × 100 ×
𝑊 (100 ‒ 𝐾𝐴)

Keterangan:
V adalah volume dari NaOH untuk titrasi, mL;
N adalah normalitas NaOH;
W adalah berat contoh uji, mg;
KA adalah kadar air, %;
36,5 adalah berat molekul dari HCl.

7 Syarat lulus uji

Produk dinyatakan lulus uji apabila telah memenuhi persyaratan pada standar ini.

8 Pengemasan

Produk dikemas dalam wadah yang tertutup rapat, tidak dipengaruhi dan mempengaruhi isi,
aman selama penyimpanan dan pengangkutan.

9 Syarat penandaan

Pada setiap kemasan dicantumkan minimal:

a) nama produk dan/atau nama dagang;


b) kadar N;
c) berat bersih;
d) nama dan alamat produsen atau importir;
e) logo produsen atau importir;
f) tulisan “Jangan digancu”.

© BSN 2019 5 dari 7


Lampiran A
(informatif)
Rangkaian alat distilasi

1.000 mL

Keterangan:
A adalah labu distilasi;
B adalah silicone grease;
C adalah corong asah;
D adalah pendingin liebig;
E adalah labu penampung;
F adalah klem.

© BSN 2019 6 dari 7


Bibliografi

[1] Official Methods of Analysis of AOAC International, 17th Edition, Volume I, 2000 Method
972.01 Water (Free) in Fertilizer) (Chapter 2.2.03).

[2] MS 1330:1993, Specification for ammonium chloride, fertilizer grade.

[3] ISO 2993, First Edition - 1974-04-01, Ammonium sulphate for industrial use –
Determination of free acidity – tritrimetric method.

[4] ISO 3332 Edisi I – 1975, Ammonium sulphate for industrial use -- Determination of
ammoniacal nitrogen content -- Titrimetric method after distillation.

© BSN 2019 7 dari 7


Informasi pendukung terkait perumus standar

[1] Komite Teknis perumus SNI

Komite Teknis 65-06 Produk Agrokimia.

[2] Susunan keanggotaan Komite Teknis perumus SNI

Ketua : Tri Ligayanti


Wakil Ketua : Fridy Juwono
Sekretaris : Arya Yudistira
Anggota : Guntur Prasetyo
Mulyadi Benteng
Agung Kurniawan
Retno Yunilawati
Sularsi
Ahmad Randy
Ali Nurdin
Wiwik Hartatik

[3] Konseptor rancangan SNI

Dadang Gusyana

[4] Sekretariat pengelola Komite Teknis perumus SNI

Direktorat Industri Kimia Hulu


Direktorat Jenderal Industri Kimia, Tekstil dan Aneka
Kementerian Perindustrian