Anda di halaman 1dari 45

A.

Gambaran umum Laboratorium Patologi Klinik RSPTN UNHAS


1. Struktur Organisasi

Ke lom pok Sarana Medis D irektur Pelayanan Penunjang,


(KSM) Sarana Medik Dan Kerjasama

Kepala Instalasi Labor at orium Pat ologi


Klinik
(Dr.dr . Yuyun W ida ningsih,M.Ke s.,Sp.PK )

A dm inistr asi
(Mirawa ti Muc htar, S.ST)

Pe laksana Expert ime Koor dinator Pelayanan Koor dinator Logist ik


(Musdalipah,S.ST) (Nur liya na, A .Md.Ana kes)

Laboran Labor an

2. Bagian-Bagian Laboratorium
A. Denah ruang
Instalasi Laboratorium Patologi Klinik RS Universitas
Hasanuddin terdiri dari :
1. Laboratorium Sentral, terletak di belakang Ruangan
Poliklinik Gedung E-F RS Universitas Hasanuddin
2. Bank Darah Rumah Sakit (BDRS) terletak di dekat Pintu
Masuk Gedung E-F RS Universitas Hasanuddin.
Gambar 1. Denah Laboratorium
B. Standar Fasilitas
1. Fasilitas Ruangan
Berdasarkan PMK No. 24 Tahun 2016 Tentang Persyaratan
Teknis Bangunan dan Prasarana Rumah Sakit, Laboratorium
memilki standar sebagai berikut :
1) Letak ruang laboratorium harus memiliki akses yang mudah ke
ruang gawat darurat dan ruang rawat jalan.
2) Desain tata ruang dan alur petugas dan pasien pada ruang
laboratorium harus terpisah dan dapat meminimalkan risiko
penyebaran infeksi.
3) Ruang laboratorium harus memiliki:
- saluran pembuangan limbah cair yang dilengkapi dengan
pengolahan awal (pre-treatment) khusus sebelum dialirkan
ke instalasi pengolahan air limbah rumah sakit
- fasilitas penampungan limbah padat medis yang kemudian
dikirim ke tempat penampungan sementara limbah bahan
berbahaya dan beracun.
Persyaratan ruangan :
No. Nama Ruangan Persyaratan Ruangan
Ruang
1. Administrasi - Luas ruangan disesuaikan dengan jumlah petu
gas,dengan perhitungan 3-5m2/ petugas.
- Total pertukaran udara minimal 6 kali per
jam.
- Intensitas cahaya minimal 100 lux.

Ruang
2. Tunggu - Luas ruang tunggu menyesuaikan kebutuhan
kapasitas pelayanan dengan perhitungan 1-
1,5m2/orang.
- Ruangan harus dijamin terjadinya pertukaran
udara baik alami maupun mekanik dengan
total pertukaran udara minimal 6 kali per jam
- Ruangan harus mengoptimalkan pencahayaan
alami.
- Ruang tunggu dilengkapi dengan fasilitas
desinfeksi tangan.
3. Ruangan - Tata letak ruangan harus dapat
Pengambilan/ meminimalkan terjadinya infeksi silang.
penerimaan - Setiap jenis ruangan pengambilan specimen
Spesimen harus disediakan sesuai spesifikasi dan
kebutuhan ruangannya.
- Persyaratan ruangan sputum: luas ruangan
minimal 2 m2. Ruangan harus menggunakan
pencahayaan alami. Ruangan mempunyai
pertukaran udara minimal 12 kali per jam.
- Tersedia wastafel dengan air mengalir,
dilengkapi handsrub dan tissue

Ruang
4. Pemeriksaan
a. Hematologi - Luas ruangan laboratorium minimal 16 m2
dengan memperhatikan ruang gerak petugas
pasien dan peralatan.
- Persyaratan lantai tidak boleh licin, non
Korosif, tahan terhadap bahan kimia dan
mudah dibersihkan.
- Disediakan meja kerja dengan persyaratan
dapat meredam getaran untuk meletakkan
peralatan pemeriksaan.
- Disediakan wastafel dan fasilitas desinfeksi
tangan.
- Disediakan satu grounding khusus (0,02 ohm)
untuk peralatan laboratorium yang dapat
dipasang secara paralel.
- Setiap ruangan disediakan kotak kontak
dengan jumlah yang sesuai kebutuhan dan
tidak menggunakan percabangan.
- Ruangan harus dijamin terjadinya pertukaran
udara baik alami maupun mekanik dengan
total pertukaran udara 6 kali per jam.
- Ruangan harus mengoptimalkan pencahayaan
alami. Untuk pencahayaan buatan dengan
intensitas cahaya 100 lux.
b. Urin/feses - Luas ruangan laboratorium minimal 9 m2
dengan memperhatikan ruang gerak petugas,
pasien dan peralatan.
- Persyaratan ruangan dan prasarana lainnya
mengikuti persyaratan laboratorium diatas.
c. Kimia Klinik - Luas ruangan laboratorium minimal 9 m2
dengan memperhatikan ruang gerak petugas,
pasien dan peralatan.
- Persyaratan ruangan dan prasarana lainnya
mengikuti persyaratan laboratorium diatas.
d. Imunologi - Luas ruangan laboratorium minimal 9 m2
dengan memperhatikan ruang gerak petugas,
pasien dan peralatan.
- Persyaratan ruangan dan prasarana lainnya
mengikuti persyaratan laboratorium diatas.
5. Ruangan - Luas ruangan menyesuaikan kebutuhan
penyimpanan kapasitas pelayanan.
Bahan Habis - Setiap ruangan disediakan minimal 2 (dua)
Pakai dan kotak kontak atau tidak boleh menggunakan
Reagen percabangan. Untuk stop kontak khusus alat
simpan biomaterial khusus disediakan
tersendiri dan harus kompatibel dengan
rencana alat yang akan dipakai.
- Total pertukaran udara minimal 4 kali per jam
dengan tekanan udara positif.
6. Ruangan - Luas ruangan disesuaikan dengan jumlah
Pengambilan petugas, dengan perhitungan 3-5 m2/ petugas.
hasil - Total pertukaran udara minimal 6 kali per
jam.
- Intensitas cahaya minimal 100 lux.
7. Ruangan Untuk RS kelas A dan B perlu ada
Kerja Dokter ruangan khusus
mikroskopik/diagnostik non
infeksius. Persyaratan ruangan
lainnya bersifat umum.
8. Ruangan Lain Pantri, ruang ganti/loker, ruang
cuci peralatan.
9. KM/WC Persyaratan toilet pasien mengikuti
(Toilet)pasien persyaratan tentang toilet akesibel
melihat point diatas.
10. KM/WC
(Toilet)petugas Umum

11. Ruang - Luas ruangan disesuaikan dengan kebutuhan


Laboratorium peralatan yang digunakan yaitu untuk
BDRS pemeriksaan golongan darah ABO dan rhesus
serta untuk uji silang serasi.
- Persyaratan lantai tidakboleh licin, non
prosif,tahan terhadap bahan kimia dan
mudah dibersihkan.
- Persyaratan dinding non Korosif tahan
terhadap bahan kimia dan mudah
dibersihkan.
- Disediakan meja kerja dengan persyaratan
dapat meredam getaran untuk meletakkan
peralatan pemeriksaan.
- Disediakan wastafel dan fasilitas desinfeksi
tangan.
- Disediakan satu grounding khusus (0,02 ohm)
untuk peralatan-peralatan laboratorium yang
dapat dipasang secara paralel.
- Setiap ruangan disediakan kotak kontak
dengan jumlah sesuai kebutuhan dan tidak
boleh menggunakan percabangan.
- Ruangan harus dijamin maupun mekanik
dengan total pertukaran udara baik alami
maupun mekanik dengan total pertukaran
udara minimal 6 kali per jam.
12. Ruangan Penyi - Luas ruangan disesuaikan dengan kebutuhan
mpanan BDRS peralatan yang digunakan yaitu antara lain:
 Blood bank 100-280 L (tergantung
kebutuhan).
 Medical refrigerator
 Platelet agitator
 Freezer dengan suhu penyimpanan
≤30oC (RS tipe A dan B Pendidikan)
- Disediakan kotak kontak khusus alat simpan
biomaterial sesuai jumlah peralatan yang
digunakan dan tidak boleh menggunakan
percabangan.
Keterangan: Kebutuhan ruangan di ruang Laboratorium di sesuaikan
dengan jenis dan kebutuhan pelayanan serta ketersediaan
SDM di Rumah Sakit.

2. Fasilitas Peralatan
Laboratorium klinik utama merupakan laboratorium yang
melaksanakan pemeriksaan spesimen yang lengkap, mulai hematologi, kimia
klinik, imunologi sampai mikrobiologi dengan menggunakan teknik
automatik. Alat yang dipilih harus mempunyai spesifikasi yang sesuai
dengan kebutuhan laboratorium, jumlah pasien dan jumlah pemeriksaan.
Alat-alat tersebut juga harus sesuai dengan fasilitas yang ada di
laboratorium, misalnya luas ruangan, luas meja, jenis meja, daya listrik,
persediaan air bersih, serta suhu dan kelembaban ruangan.

3. Jenis pemeriksaan
1. Hematologi
a. Rutin
1) Hematologi Rutin Automatik
2) Laju Endap darah Automatik
b. Anemia
1) Retikulosit
2) Retikulosit Otomatik + Hematologi Rutin
3) Fe (Besi)
4) TIBC
5) Analisa Darah Tepi
6) Evaluasi SST (plus preparat)
7) Evaluasi SST
c. Koagulasi
1) Waktu Pendarahan
2) Waktu Bekuan
3) Prothrombine Time (PT)
4) Aptt
5) Thrombine Time (TT)
6) Fibrinogen
7) Thrombotest Owren (TO)
8) Agregasi Trombosit
d. Hematologi Lain
1) Golongan Darah ABO
2) Golongan Darah Rhesus
3) Rumple Leede Test
4) Retraksi Bekuan
5) Sel LE
6) Hitung Eosinofil
7) Coomb’s Test
8) Resistensi Osmotik
9) Flebotomi Terapeutik
2. Urinalisa
1) Urine Rutin
2) Sedimen Urine
3) Urine Kehamilan (HCG)
4) Tes Narkoba (3 jenis obat)
5) Tes Narkoba (5 jenis obat)
6) Protein Esbach
3. Kimia Darah
a. Diabetes
1) Glukosa Darah Sewaktu (Strip)
2) Glukosa Darah Puasa
3) Glukosa Darah 2 Jam PP
4) Glukosa Darah Sewaktu
5) Glukosa Darah Toleransi
6) HBA1c

b. Faal Ginjal
1) Ureum
2) Kreatinin
3) Kreatinin Klirens
c. Faal Hati
1) Bilirubin Total
2) Bilirubin Direk
3) SGOT
4) SGPT
5) Alkali Posfatase
6) Protein Total
7) Albumin
8) Globulin
9) Gamma GT
d. Lipid
1) Kolesterol Total
2) Kolesterol HDL
3) Kolesterol LDL (Direk)
4) Trigliserida
5) APO A
6) APO B
e. Jantung
1) CK
2) CK-MB
3) LDH
4) D-Dimer
5) Troponin T
6) Troponin I
7) Myoglobin
f. Kimia Lain
1) Asam Urat
2) Kalsium (Ca)
3) Elektrolit
4) Analisa Gas Darah
5) Amylase Pancreatic
6) Lipase
7) Lactate
8) Asam Urat Urine
9) UUN
10) Transferin
4. Imunologi Serologi
a. Hepatitis
1) HbsAg (Rapid)
2) HbsAg (Elisa)
3) Anti HBs (Elisa)
4) Anti HBs Rapid
5) Anti HCV (Rapid)
6) Anti HCV (Elisa)
7) Anti HBc IgM
8) Anti HBc Total
9) Anti HAV IgM
10) Anti Hbe
11) Hbe Ag
b. TORCH
1) Anti Toxoplasma IgG
2) Anti Toxoplasma IgM
3) Anti Rubella IgG
4) Anti Rubella IgM
5) Anti CMV IgG
6) Anti CMV IgM
7) Anti HSV IgG
8) Anti HSV IgG
c. Anemia
1) Ferritine
2) Asam Folat
3) Vitamin B12
d. Imunosero Lain
1) Widal
2) VDRL
3) ASTO
4) Rheumatoid Factor
5) CRP (semi kuantitatif)
6) Hs-CRP
7) Anti HIV (Rapid)
8) Anti HIV (Elisa)
9) DHF/IgM (Rapid)
10) Dengue NS1
11) H.pylori (Rapid)
12) IgE Total
13) Complemen C3
14) Complemen C4
15) Procalsitonin
5. Endokrin
a. Thyroid
1) FT4
2) TSHS
3) T3 (Total)
4) T4 (Total)
5) Thyroglobulin
b. Bone Maker
1) Osteocalsine
2) PTH Intact
c. Hormon
1) LH
2) FSH
3) Prolaktin
4) Estradiol
5) Progesteron
6) Testosteron
7) Insulin
8) Cortisol
9) Beta HCG kuantitatif
10) DHEA
d. Tumor Marker
1) CEA
2) AFP
3) PSA
4) CA 125
5) CA 19-9
6) CA 15-3
7) CA 72-4
8) Cyfra 21-1
9) NSE
10) Digoxin

6. Mikrobiologi/Parasitologi
a. Mikrobiologi
1) Jamur
2) Leptospira IgM (Rapid)
3) IgM Salmonella Typhi
4) Mycotec TB (Anti TB)
b. Parasitologi
1) Analisa Feces
2) Malaria Mikroskopik
3) Malaria (Rapid Test)
4) Filaria Mikroskopik
5) Darah Samar
7. Analisa Cairan
1) Analisa Cairan Sendi
2) Analisa Cairan Otak
3) Analisa Cairan Ascites
4) Analisa Cairan Pleura
5) Analisa Cairan Perikardium
6) PRP (Platelet Rich Plasma)
8. Pemeriksaan Lain
1) Analisa Sperma
2) Antibodi Sperma
3) Fruktose Sperma
4) Analisa Batu
9. Pemeriksaan Hiv/Odha
1) CD4
2) G6PD

4. Standar Operasional Prosedur Alat


A.  Abx Pentra
a. Prosedur menjalankan alat
1. Mengaktifkan ABX Pentra 400 melalui tombol On yang
terletak pada bagian bawah belakang alat, lalu menunggu
munculnya tampilan pada monitor.
2. Memilih Change User pada tampilan.
3. Mengisi kolom waktu (bulan/tanggal/tahun) pada tampilan.
4. Mengisi User pada Pasword pada tampilan lalu menekan tanda
v untuk menu selanjutnya.
5. Pada layar akan tampak tampilan menu utama. Melakukan
kontrol dengan memasukkan larutan kontrol dan kalibrator
untuk mengkalibrasi alat.
b. Prosedur pembacaan sampel
1. Mengambil vacutainer berisi sampel darah yang telah terpisah
serumnya.
2. Masukkan vacutainer tersebut ke dalam rak sampel yang sesuai
untuk ABX Pentra 400.
3. Memasukkan rak sampel tersebut ke dalam sampel tray.
4. Menyiapkan reagen untuk pemeriksaan yang diinginkan.
5. Memasukkan reagen ke dalam reagent tray yang sesuai.
6. Memilih tanda worklist pada menu utama.
7. Memilih tanda + untuk menambah pemeriksaan baru yang
diinginkan.
8. Mengisi data sampel berupa nama pasien dan posisi sampel
sesuai nomor rak sampel.
9. Memilih jenis pemeriksaan pada tampilan, parameter yang
ingin diperiksa.
10. Memilih tanda v pada bagian kanan bawah tampilan untuk
mengkonfirmasi data.
11. Menekan tanda→ pada sisi kiri atas tampilan untuk memulai
proses pemeriksaan secara otomatis.
12. Proses dimulai dengan perubahan tanda status Ready pada
bagian tengah atas tampilan menjadi sampling.
13. Hasil akan tampak pada tampilan atau tercetak.
c. Prosedur Mematikan Alat
1. Pastikan sampel tray dan reagen tray sudah kosong dari
vacutainer dan reagen.
2. Kosongkan cuvet charger dari yang sudah terpakai.
3. Pada tampilan pilih sign out.
4. Matikan alat dengan menekan tombol Off dibelakang alat.
B. Start stago
a. Prosedur menjalankan alat
1. Sebelum alat dihidupkan, periksa kertas printer, dan yakinkan
bahwa alat sudah terhubung ke listrik.
2. Hidupkan alat dengan menekan tombol ON/OFF di bagian
belakang pada posisi ON(1). Tunggu beberapa saat sampai
kondisi alat stabil dan dilayar akan tertulis “End of Self
Check”
3. Tekan enter muncul menu utama tunggu sampai suhu mencapai
37ºC.
b. Prosedur pembacaan sampel
1. Letakkan kuvet ke kolom inkubasi, isi dengan steel ball
inkubasi 3 menit.
2. Siapkan start reagen, kontrol inkubasi pada tempatnya.
3. Tekan 1 (test mode) untuk menjalankan tes pasien
(PT) Tekan 1
(aPTT) Tekan 2
(Fibrinogen) Tekan 3
(Thrombine Time):Tekan 6 (other) -2 (TCT)- tekan 1
(thrombine time)
4. Masukkan ID pasien lalu tekan “ENTER”
5. Masukkan plasma ke kuvet untuk di inkubasi
6. Tekan tombol timer, siapkan reagensia
7. Bila alarm alat sudah berbunyi pindahkan kuvet ke kolom
pengukuran tekan tombol pipet pada keyboard masukkan “start
reagen”
8. Catat waktu pembekuannya.
9. Tekan “ESCAPE” hasil prin out akan keluar.
c. Proses mematikan alat
1. Bila sudah berada pada menu utama
2. Matikan alat dengan menekan tombol ON/OFF dibagian
belakang alat
3. Cabut tombol power dari sumber listrik
C. AVL 9180
a. Cara Menjalankan Alat
1. Hidupkan UPS (tunggu beberapa saat sampai UPS stabil)
2. Hidupkan alat dengan menekan skala pada posisi ON, saklar
berada pada bagian belakang alat
3. Jika alat meminta daily maintenance, tekan tombol yes
4. Lakukan cleaning solution dan cleaning conditioner
5. Setelah semua maintenance selesai tekan tombol NO
6. Alat akan melakukan warming dan melakukan kalibrasi secara
otomatis sampai alat ready dengan tanda :
Ready NA K CL
7. Alat siap untuk digunakan
b. Cara Pemeriksaan Control (Qc)
1. Pilih control level 1,2,3 (minimal 2 level).
2. Siapkan botol control, lalu buka penutup probe, Masukkan
tabung dalam probe penghisap. Tunggu sampai terdengar bunyi
beep.
3. Tarik botol control dari probe.
4. Hasil akan keluar pada layar.
D. HbA1C
a. Cara mengoperasikan alat
1. Tempatkan cartridge pada cartridge workstand dengan posisi
garis biru ada diatas.
2. Dengan lancet steril, tusuk jari pasien dan pijit dengan lembut
agar cukup darah yang dapat dihisap (kurang lebih 10 ul).
3. Tempelkan blood key pada tempat keluarnya darah, tahan
sebentar hingga darahnya mengalir sendiri ke blood key,
usahakan agar tidak terdapat tumpahan atau kelebihan darah
diluar blood key.
4. Cara memasukkan sampel darah kedalam Test Cartridge
(sebaiknya proses ini dilakukan secepatnya).
a. Meluruskan
Cocokkan arah blood key sesuai dengan bagian biru pada
cartridge. Bagian yang bersayap (berlekuk) disamakan
arahnya sesuai dengan bentuk yang ada dibagian cartridge
yang berwarna biru.
b. Menusukkan
Tusukkan blood key ke dalam lubang di bagian blood key
secara perlahan ke dalam lubang bagian cartridge yang
berwarna biru.
c. Menekan
Setelah masuk ke dalam lubang tekan secara kuat hingga
terdengar bunyi klik. Pastikan bahwa permukaan blood key
rata dengan permukaan cartridge.
d. Memutar
Putar dengan pegangan blood key berlawanan arah jarum
jam hingga pegangan tersebut terlepas.
5. Ketika alat in2it siap digunakan, cartridge symbol akan
berkedip-kedip, tekan tombol ditengah-tengah alat (dibawah
cartridge symbol) untuk memulai test ini.
6. Pintu pada alat in2it akan terbuka, cartridge telah siap
dimasukkan ke alat.
7. Segera letakkan cartridge di dalam pintu dengan posisi bagian
yang berwarna putih di bagian sisa dalam dan bagian biru
tempat lubang blood key berada di posisi atas.
8. Tekan tombol OK untuk menutup pintu dan biarkan alat
melakukan test selama 10 menit.
9. Ketika tes telah selesai, akan muncul hasil pada layar, hasil
akan tersimpan di alat.
10. Tekan symbol cartridge untuk membuka pintu dan ambil
cartridge tersebut lalu tekan kembali untuk menutup pintu.
E. URISCAN OPTIMA
a. Prosedur menjalankan alat
1. Nyalakan alat dengan menekan tombol power pada bagian
belakang. Pada layar terlihat welcome.
2. Alat secara otomatis akan melakukan system Checking selama
beberapa menit. Pada layar terlihat *****. Setelah berhasil,
tampil pada layar system OK.
3. Secara otomatis, alat menampilkan Main Menu pada layar.
4. Menu 1. Measurement adalah pengukuran.
5. Menu 2. ID Management adalah memasukkan ID secara serial
dan ID sesuai nomor pasien.
6. Menu 3. System Configuration adalah memasukkan ID secara
serial dan ID sesuai nomor pasien.
7. Menu 4. Calibration adalah kalibrasi.
8. Menu 5. Communication connecting ke komputer.
9. Bila pada alat terdapa ketidakberesan, maka alat akan memberi
pesan System Error, misalnya No Tray atau No Paper.
b. Prosedur pembacaan sampel
1. Untuk pengukuran tekan 1 pada Main Menu.
2. Celupkan test strip di urine pasien dan tiriskan di tissue.
3. Letakkan strip pada posisi paling kiri pada tray.
4. Setiap pengukuran diperlukan waktu 100 detik.
5. Test strip akan bergeser secara otomatis.
6. Hasil keluar dalam bentuk tercetak.
c. Prosedur mematikan alat
1. Buang strip bekas pada tray.
2. Bersihkan tray pada menggunakan air sabun, lalu keringkan.
3. Matikan alat dengan menekan tombol power di belakang alat.
F. SYSMEX-800i
a. PRINSIP
Flowcitrometri ( pengukuran sel darah melalui celah ) sel
darah akan melewati suatu celah dimana pada celah tersebut
terdapat sendiri area, bekas cahaya difokuskan pada sensing area.
Sel darah yang melewati celah akan dihamburkan dipantulkan atau
dibiasakan di segala arah, beberapa detektor akan menangkap
cahaya tersebut dan akan diubah menjadi sinyal listrik dan
kemudian sinyal tersebut akan dianalisis oleh komputer.
b. MENGHIDUPKAN
a) Persiapan
1. Cek kecukupan reagen
2. Cek instrumen : pastikan kabel & selang terpasang dengan
benar.
3. Cek Pembuangan : Buang  jika sudah penuh
b) Menghidupkan alat
 Urutan menghidupkan alat :
1. Komputer
2. Instrumen
c) Log On pada komputer
1. Hidupkan komputer, window 2000 akan muncul secara
automatis
2. Program XS akan berjalan dan muncul kotak IPU Log in
3. Masukkan User Name & Password dan tekan enter
c. Prosedur
1. Siapkan sampel, minimal 500 µl yang diambil sebanyak 20 µl
oleh alat
2. Cek status alat dalam keadaan Ready (lampu Ready menyala
hijau)
3. Klik manual Icon atau takan F2
4. Muncul Window (masukkan nomor sampel, pilih dicrete (CBC
atau CBC + DIFF) lalu isi patient ID)
5. Klik OK setelah selesai di set
6. Mix sampel ( Homogenkan sampel )
7. Buka tutup sampel (Vacutube)
8. Masukkan kedalam aspiration port kemudian tekan tombol Start,
maka lampu hijau akan berkedip dan tunggu sampai terdengar
bunyi beep 2x lalu tarik sampel.
9. Tunggu hasil analisa sampel keluar di layar monitor .
10. Tulis langsung hasil di blanko pemeriksaan / print hasil analisa
sampel.
G.Mikroskop Olympus
a. Persiapan
1. Membuka penutup mikroskop
2. Letakkan mikroskop pada permukaan meja yang stabil, rata dan
terhindar dari sinar matahari secara langsung.
3. Hubungkan stop kontak dengan sumber tenaga listrik.
4. Tekan tombol “ON” yang berada di samping mikroskop.
b. PENGAMATAN PADA OBYEK
1. Atur kekuatan lampu dengan memutar sekrup pengatur
intensitas cahaya
2. Tempatkan preparat/spesimen yang akan diperiksa pada meja
benda dan dijepit agar tidak jatuh
3. Atur ketinggian meja benda dengan memutar makrometer
4. Cari bagian dari obyek glas yang terdapat preparat ulas (dicari
dan diperkirakan memiliki gambar yang jelas) dengan memutar
sekrup vertikal dan horizontal.
5. Putar Revolving nosepiece pada perbesaran objektif 4x lalu
putar sekrup kasar sehingga meja benda bergerak keatas untuk
mencari focus
6. Putar sekrup halus untuk mendapatkan gambaran yang lebih
terfokus
7. Pembesaran mikroskop dapat diubah dengan cara memutar
Revolving nosepiece
8. Perjelas bayangan dengan mengatur condenser pada posisi
tertinggi (cahaya penuh).
9. Tambahkan minyak emersi pada pembesaran 10x100 untuk
memperbesar indeks bias
c. Mengakhiri Penggunaan
1. Turunkan meja benda sampai maksimal, ambil
preparat/spesimen dari meja benda, kemudian posisikan lensa
obyektif pada perbesaran 4x.
2. Bersihkan lensa obyektif pembesaran 100x dengan kertas lensa
yang dibasahi xylol setelah digunakan.
3. Atur intensitas cahaya sampai minimal (sampai mati).
4. Tekan tombol “OFF”.
5. Cabut kabel stop kontak.
6. Simpan di tempat yang sejuk dan kering.

5. Alur Pemeriksaan
A. Alur pengambilan sampel IRD
a. Alur Pelayanan Laboratorium untuk Pasien Instalasi Gawat
Darurat (IGD)

Permintaan pemeriksaan Laboratorium


dari DPJP IGD

Sampling Oleh Perawat IGD

Spesimen di terima oleh Administrasi Administrasi Laboratorium menginput


Laboratorium pemeriksaan yang diminta

Administrasi laboratorium menginput


pemeriksaan yang diminta
Administrasi laboratorium menginput
pemeriksaan yang diminta
Spesimen yang tidak dirujuk

Spesimen didahulukan untuk diperiksa


dan hasil di catat di lembar kendali
Administrasi laboratorium menginput
pemeriksaan yang diminta
Hasil pemeriksaan diinput dan dicetak
oleh petugas administrasi

Administrasi laboratorium menginput


Hasil pemeriksaan yang diverifikasi
pemeriksaan yang diminta
dan divalidasi oleh DPJP Laboratium

Hasil pemeriksaan dikirim ke ruang


IGD

Gambar 2. Alur Pelayanan IGD

B. Alur pengambilan sampel rawat inap


Gambar 3. Alur Pelayanan Laboratorium untuk Pasien Rawat In ap

C. Alur Pengambilan Sampel Rawat Jalan


Gambar 4. Alur Pelayanan Laboratorium untuk Pasien Rawat Jalan

D.  Alur Pemeriksaan Laboratorium Yang Bersifat CITO

Permintaan pemeriksaan Laboratorium


dari DPJP IGD
Sampling Oleh Perawat Ruangan

Spesimen di terima oleh Administrasi Administrasi Laboratorium menginput


Laboratorium pemeriksaan yang diminta

Administrasi laboratorium menginput


pemeriksaan yang diminta
Administrasi laboratorium menginput
pemeriksaan yang diminta
Spesimen yang tidak dirujuk

Spesimen didahulukan untuk diperiksa


dan hasil di catat di lembar kendali
Administrasi laboratorium menginput
pemeriksaan yang diminta
Hasil pemeriksaan diinput dan dicetak
oleh petugas administrasi

Administrasi laboratorium menginput


Hasil pemeriksaan yang diverifikasi
pemeriksaan yang diminta
dan divalidasi oleh DPJP Laboratium

Hasil yang telah selesai, petugas


menelepon ke perawatan

Gambar 5. Alur Pemeriksaan Laboratorium yang bersifat CITO

6. Standar Operasional Prosedur Pemeriksaan


A. Narkoba
Pra Analitik:
a. Persiapan pasien : tidak ada persiapan khusus
b. Persiapan sampel : gunakan botol penampung urine dari plastik
atau gelas yang kering dan bersih serta beri label identitas
sampel. Sampel adalah urine tanpa pengawet. Sebaiknya dipakai
urine segar diperiksa sesegera mungkin, sampel dapat juga
disimpan pada suhu dingin 20-80 C selama 2 hari atau pada
suhu beku 200 C selama >2 hari. Sampel yang sudah
didinginkan atau dibekukan sebelum dilakukan tes harus berada
pada suhu ruang. Jika sampel tidak jernih atau keruh, sentrifuge
terlebih dahulu sebelum tes dilakukan.
c. Alat dan bahan : Oncoprobe Multi Drug Screen Test :
a) MOR (Morfin)
b) AMP (Amfetamin)
c) THC (Metabolit dari ganja)
Alat tes yang berbentuk card dari Oncoprobe ini, stabil
sampai batas waktu kadaluarsa jika disimpan dalam
kemasannya pada suhu 20-30 0 C
d) Timer
e) Botol penampung urine dan sampel urine
Analitik:
1. Alat tes dilepaskan dari tutupnya pada suhu ruang
2. Celupkan strip test kedalam wadah urine sampai garis batas
3. Tunggu sampai garis merah muncul. Hasil dibaca dalam waktu
3-8 menit.

Pasca Analitik:
Interprestasi hasil :
1. Positif (reaktif) jika nampak garis merah pada garis kontrol (C)
dan tidak nampak garis merah pada garis tes (T).
2. Negatif (non reaktif) jika nampak garis merah pada garis kontrol
(C) dan garis tes (T).
3. Invalid jika :
a. Tidak tampak pita merah muda baik pada area tes C maupun T.
b. Tampak pita merah muda pada area tes T tetapi tidak tampak
pita warna merah pada area tes C.

B. Urinalisis
Pra Analitik:
1. Persiapan pasien : tidak ada persiapa khusus, kecuali untuk tes
½
urine post pradial, pasien berkemis setelah makan 1 - 3 jam.
2. Persiapan sampel :
a. wadah penampung bersih dan kering
b. Idenitas sampel : nama, nomor , alamat, umur,
c. urine diperiksa dalam waktu ≤ 2 jam setelah dikemihkan
d. sampel urine sewaktu, untuk tes esbach : urine 24 jam atau 12
jam
3. Alat dan bahan :
a. Wadah penampung urine bersih dan kering atau steril untuk tes
mikrobiologi
b. Gelas volume/ gelas ukur
c. Tabung reaksi
d. Pipet tetes
e. Mikroskop
f. Kaca objek dan kaca penutup
g. Sentrifus
h. Alat uriscan dan reagen stripnya.
i. Tabung esbach, reagen esbach, asam sulfosalisilat 20 % untuk
tes protein kuantitatif.
j. Termometer, asam asetat 50 %, untuk tes protein bence jones
Analitik:
Cara kerja :
a. Tes Makroskopik
1. Perhatikan warna/kejernihan dan bau
2. Ukur volume urine menggunakan gelas takar
b. Tes Kimia
1. Celup 1 lembar reagen strip kedalam urin sampai urin
mengenai area reaksi
2. Letakkan pada alat alat urisca, jalankan sesuai prosedur
3. Hasil keluar dalam bentuk lembar print aut, berupa berat jenis
(BJ), Ph, leukosit, nitrit, protein, glukosa, keton, utobilinogen,
bilirubin, dan hemoglobin, vitamin c.
c. Tes Mikroskopik/Sedimen
1. Masukkan 10-15 ml ke dalam tabung reaksi, sentrifus selama 5
menit pada 1500-2000 rpm.
2. Buang cairan di bagian atas tabung, sehingga volume cairan
dan sedimen tinggal 0,5-1 ml.
3. Kocok tabung untuk meresuspensikan sedimen.
4. Letakkan 2 tetes suspensi tersebut di atas kaca obyek lalu
tutup dengan kaca penutup.
5. Periksa sedimen di bawah mikroskop dengan lensa obyektif 10
x untuk lapangan pandang kecil (LPK) untuk melaporkan
jumlah rata-rata sedimen, serta lensa obyektif 40x untuk
lapangan pandang besar (LPB) untuk melaporkan jumlah rata-
rata eritrosit dan lekosit.
6. Tulis hasil yang diperoleh berupa elemen organik yaitu jumlah
sel eritrosit, leukosit, epitel,silinder, bakteri, jamur, parasit,
dan elemen anorganik berupa kristal, zat lemak.
d. Test Protein Kuantitatif secara Esbach
1. Tambahkan 3-5 tetes asam asetat glasial ke dalam urin
sehingga reaksinya asam.
2. Isi tabung esbach dengan sampel urine sampai garis bertanda
U.
3. Tambahkan reagen esbach pada sampel tersebut hingga garis
bertanda R.
4. Tutup tabung lalu bolak-balikkan tabung 12 kali (jangan
dikocok).
5. Letakkan tabung pada rak dalam posisi tegak dan biarkan
selama 18-24 jam.
6. Tinggi kekeruhan dibaca dan menunjukkan banyaknya gram
protein perliter urin.
e. Tes Protein Bence Jones
Sebelumnya lakukan penetapan ada tidaknya protein dengan
tes asam sulfosalisilat yaitu dengan cara :
1. Masukkan masing-masing 2 ml urin yang jernih ke dalam
tabung reaksi.
2. Bandingkan kedua tabung, jika tetap sama jernihnya, maka
hasil tes negatif.
3. jika tabung pertama lebih keruh dari tabung kedua, maka
panasi tabung tersebut di atas nyala api sampai mendidih
sampai dingin kembali, maka tes terhadap protein positif,
protein itu mungkin albumin atau globulin atau keduanya.
4. jika kekeruhan hilang saat pemanasan tetapi timbul kembali
setelah dingin, lanjutkan dengan tes protein bence jones.
5. jika tes protein dengan asam sulfosalisilat negatif, maka
protein bence jones pasti tidak ada.

Lakukan tes protein bence jones:


1. Masukkan kira-kira 5 ml urin dan sebatang termometer ke
dalam tabung reaksi, lalu masukkan tabung itu ke dalam gelas
kimia berisi air.
2. Panasi gelas kimia tersebut dan perhatikan suhu pada
termometer.
3. Catat suhu saat mulai timbul kekeruhan sampai kekeruhan
maksimal
4. Angkat tabung reaksi dari air air lalu panaskan langsung di
atas nyala api sampai isinya mendidih dan perhatikan
kekeruhannya.
a. Jika kekeruhan lenyap, biarkan urin itu mendingin dan catat
suhu saat kekeruhannya timbul lagi.
b. Jika kekeruhan tidak hilang saat dipanasi, tambahkan 1 ml
asam asetat 50% tetes demi tetes dan teruskan pemanasan
sampai urin mendidih. Jika kekeruhannya menetap, saring
lalu perhatikan kekeruhan pada filtratnya. Jika kekeruhan
timbul lagi saat urin mendingin dan menghilang lagi jika
dipanaskan maka tes protein bence jones positif.
Pasca Analitik:
1. Nilai rujukan :
a. Tes makroskopik dan tes kimia:
a) Warna kejernihan : kuning jernih atau sedikit keruh
b) Bau : berbau khas asam organik dalam urin
c) Berat jenis (BJ) : 1,010-1,020
d) Ph : 4,5 – 8,0
e) Leukosit : negatif
f) Nitrit : negatif
g) Protein :negatif
h) Glukosa : negatif
i) Keton :negatif
j) Urobilinogen :negatif
k) Urobilin : negatif
l) Eritrosit :negatif
b. Tes sedimen
a) Eritrosit :
b) Leukosit :
c) Torak : negatif atau positif torak hialin
d) Bakteri : kalsium oksalat, asam urat ( dalam urine asam)
amorf, tripelfosfat (dalam urine alkalis)
e) Lemak : negatif
f) Sperma : negatif
c. Tes protein kuantitatif dengan cara esbach : < 0,5 gr/hari
a) Tes protein bence jones : negatif
2. Interpretasi hasil :
a. Tes makroskopik
a) Warna/kejernihan : keruh, mungkin piuria
b) Berat/jenis (BJ) : pekat → diabetes meilitus
Encer →diabetes insipidus
c) PH : <→ diet protein, asidosis
<→diet sayur, alkalosis, infeksi
d) Leukosit : +→ inflamasi, infeksi
e) Nitrit : + → infeksi
f) Protein : + → albumin penyakit ginjal globulin
myeloma multipen
g) Glukosa : + → diabetes melitus
h) Keton : + → puasa, diet lemak, ketoasidosis
i) Urobilinogen : +→ pada gangguan hati
j) Bilirubin : + → pada obstruksi bilier
k) Eritrosit : + → penyakit ginjal dan saluran kemih
b. Tes sedimen
a) Eritrosit : abnormal batu atau penyakit ginjal dan saluran
kemih
b) Leukosit : abnormal batu atau penyakit ginjal dengan
inflamasi
c) Torak : > pada penyakit ginjal dan saluran kemih
d) Bakteri : + infeksi saluran kemih bila > 10 3 / ml
e) Sel : abnormal sel bulat, sel ganas
f) Kristal : asam urat >>gout
c. Tes protein bence jones : positif pada myeloma multipen,
amyloidosis sindroma fanconi (dewasa) dan makroglubulinemia
waldenstrom

C. Telur Cacing
Pra Analitik :
1. Persiapan pasien :
Pasien tidak boleh minum obat pencahar sebelumnya.
2. Persiapan sampel :
Sampel sebaiknya feses segar (pagi hari) sebelum sarapan pagi,
atau feses baru, defekasi spontan dan diperiksa di laboratorium
dalam waktu 2-3 jam setelah defekasi (warm stool).
a. Wadah berupa pot plastik yang bermulut lebar, tertutup rapat
dan bersih.
b. Wadah diberi label : nama, tanggal, nomor pasien, sex, umur,
diagnosa awal. Feses tidak boleh mengenai bagian luar wadah
dan diisi jangan terlalu penuh.
3. Alat dan bahan :
a. Lidi atau spatel kayu, kapas lidi
b. Mikroskop
c. Kaca objek, kaca penutup
d. Larutan eosin 2 %
e. Larutan Nacl 0,9 %
Analitik:
Cara Kerja :
1. Tetesi kaca objek disebelah kiri dengan 1 tetes NaCl 0,9 % dan
sebelah kanan dengan 1 tetes larutan eosin 2 %
2. Ambil feses yang telah diaduk terlebih dahulu dengan lidi pada
bagian tengahnya.
3. Aduk sampai rata pada masing-masing larutan
4. Tutupi dengan kaca penutup
5. Periksa dibawah mikroskop, mula-mula dengan pembesaran 10x
kemudian 40x. Amati apakah ada telur cacing.
Pasca Analitik:
Interpretasi hasil :
a. Positif : ditentukan telur cacing dan disebutkan jenisnya
b. Negatif : tidak ditemukan telur cacing.
D. HCV
Pra-Analitik
1. Persiapan Pasien : Tidak ada persiapan khusus.
2. Persiapan sampel : Hindari hemolisis
3. Alat & Bahan :
a. Kit test SD ® Anti HCV terdiri dari alat tes dan pipet tetes
b. Whole blood, serum/plasma (EDTA/Heparin/Sitrat)
Analitik
1. Teteskan 10 µl (plasma atau serum) atau whole blood kedalam
sumur sampel
2. Teteskan 4 tetes diluents pemeriksaan kedalam sumur sampel
3. Hasil dapat dibaca setelah inkubasi 5-20 menit
Pasca Analitik
Nilai rujukan :
1. Positif (reaktif) : jika Nampak garis merah pada garis control (C)
dan garis tes (T)
2. Negatif (non reaktif) : jika hanya Nampak satu garis merah pada
bagian control (C)
3. Invalid : Tidak nampak garis merah sama sekali atau nampak
hanya bagian tes (T)

E. HIV
Pra Analitik :
1. Persiapan Pasien: Tidak ada persiapan khusus.
2. Persiapan Sampel: Hindari hemolisis.
3. Alat dan Bahan
a. Kit tes SD BIOLINE HIV-1/2 3.0
b. Whole blood, Serum/plasma (EDTA/Heparin/Sitrat)
Analitik
1. Teteskan 10 µl (plasma atau serum) atau 20µl (darah) kedalam
sumur sampel.
2. Teteskan 4 tetes diluent pemeriksaan ke dalam sumur sampel
3. Hasil dapat dibaca setelah inkubasi 10-20 menit.
Pasca Analitik
Nilai rujukan :
1. Positif (reaktif) jika nampak garis merah pada garis kontrol (C )
dan garis tes (T) atau pada garis HIV 1 dan HIV. Negatif (non
reaktif) hanya nampak 1 garis merah pada bagian kontrol (C).
2. Negatif (non reaktif) hanya nampak 1 garis merah pada bagian
kontrol (C).
3. Infalid tidak nampak garis merah sama sekali atau nampak
hanya bagian test (T).
F. IgM IgG
Pra Analitik:
1. Persiapan pasien : Tidak ada persiapan khusus
2. Persiapan sampel : Sampel yang digunakan adalah serum atau
darah manusia dari darah vena, serum atau darah manusia  yang
segar akan memberikan hasil yang terbaik.
3. Alat dan Bahan :
a. Kit ID Biosens DHF IgG & IgM terdiri dari: alat tes dan
pipet tetes, Buffer
b. Serum/Plasma ( EDTA/heparin/sitrat ), whole blood
Analitik
Cara kerja:
1. Alat tes dilepaskan dari tutupnya pada suhu ruang. Tempatkan
alat tes pada permukaan datar dan bersih. Pipet tetes dipegang
secara vertikal lalu teteskan serum/plasma 5 µl atau whole
blood 10 µl ke dalam sumur spesimen (S) ditambahkan 3 tetes
Buffer ke dalam sumuran buffer.
2. Tunggu sampai garis merah muncul, Hasil dibaca dalam waktu
15-20 menit
Pasca Analitik
Interpretasi hasil:
1. Positif
   Tampak 1 dan 2 garis biru pada salah satu atau kedua area
dan garis merah pada area kontrol dari Dengue IgG/IgM.
2. Infeksi Dengue Primer
  Pemeriksaan dinyatakan positif untuk dengue primer
apabila IgM positif (garis biru pada area 1), IgG negative (tidak
tampak garis pada area 2) dan adanya garis merah pada area
Kontrol (C).
3. Infeksi Dengue Sekunder
Pemeriksaan dinyatakan positif untuk dengue sekunder
apabila IgM positif (garis biru pada area 1), IgM positif (garis
biru pada area 2) dan adanya garis merah control (C) atau IgM
negatif (tidak tampak garis pada area 1), IgG positif (garis biru
pada area 2) dan adanya garis merah pada area control (C).

4. Negatif
      Pemeriksaan dinyatakan negatif apabila hanya terdapat garis
merah pada area control (C) yang terlihat pada saat 15 sampai
30 menit, pemeriksaan diulangi dalam 4 sampai 7 hari apabila
gejala klinis tetap muncul.
5. Invalid
Pemeriksaan dinyatakan invalid apabila IgM positif
(terdapat garis biru pada area 1), IgG positif (terdapat garis biru
pada area 2) dan tidak terdapat garis merah pada area Kontrol.
G. Ft4
Pra Analitik:
1. Persiapan pasien : tidak ada persiapan khusus
2. Persiapan sampel : Hindari hemolisis
3. Alat dan bahan :
Alat:
a. Well sampel
b. Well kosong
c. Konjugat : alkaline phosphate berlabel anti T4 antibodi
+ 1 g/L methyllisothiazolone (MIT) (400µL)
d. Buffer wash : Tris Nacl (0,05 mol/L) ph 7,4 + 1 g/L
metyllisothiazolone (MIT) (600µL)
e. Buffer wash : Tris – Tween, NaCL (0,05 mol/L) ph 7,4
+ 1 g/L metyllisothiazolone (MIT) (600 µL)
f. Buffer wash : diethanolamin (1,1 mol/L) ph 9,4 + 1 g/L
metyllisothiazolone (MIT) (600µL)
g. Kuvet berisi substrat : 4 – Methyl umbelliferyl
phosphate (0,6 mmol/L) + diethanolamine (0,62 mol/L)
pH 9,2 + 1 g/L metyllisothiazolone (MIT) (300µL)
Bahan:
a. Darah serum 100 µL

Analitik:
1. Masukkan strip FT4N dan SPR dari kit untuk tiap sampel, kontrol
dan kalibrator
2. Sampel yang sudah disentrifus diambil 100µL
3. Tekan FT4 SPR dan FT4 strip kedalam instrumen. Cek warna
label dengan kode SPR dan strip reagen
4. Pipet dilakukan pada suhu 2-8 0 C
5. Hasil akan keluar dalam waktu 40 menit
6. Hasil akan keluar dalam bentuk print out
PASCA ANALITIK:
Nilai Rujukan : 10-27 mmol/L
Interpretasi :
1. Meningkat : pada penyakit Graves dan tirotoksikosis yang
disebabkan kelebihan produksi T4
2. Mrenurun : hipertiroidisme primer, hipotiroidisme sekunder,
tirotoksikosis karena kelebihan produksi T3.
H.HbsAg
Pra Analitik:
1. Persiapan pasien : tidak ada persiapan khusus
2. Persiapan sampel : hindari hemolisis
3. Alat dan bahan :
a. Kit SD ® Anti HbsAg
b. Whole blood, serum/plasma (EDTA/Heparin/Sitrat)
Analitik:
1. Teteskan 100µl (plasma atau serum) atau whole blood kedalam
sumur sampel
2. Hasil dapat dibaca setelah inkubasi 20 menit
Pasca Analitik:
Nilai Rujukan:
1. Positif (Reaktif) jika nampak garis merah pada kontrol (C) dan
garis tes (T)
2. Negatif (Non Reaktif) hanya nampak 1 garis merah pada bagian
kontrol (C)
3. Invalid tidak tampak garis merah sama sekali atau nampak hanya
bagian tes (T).

I. Ns1
Pra Analitik:
1. Persiapan pasien: tidak perlu persiapan khusus
2. Persiapan sampel: hindari hemolysis
3. Alat dan bahan
a. Kit tes Dengue NS1 Ag terdiri dari : alat tes dan pipet tes
b. Serum/plasma (EDTA/Heparin/Sitrat)
Analitik:
1. Alat tes dilepas tutupnya pada suhu ruang
2. Tempatkan alat tes pada permukaan datar dan bersih. Pipet tes
dipegang secara vertical lalu teteskan serum/plasma 3 tetes
kedalam sumur specimen (S)
3. Tunngu sampai garis merah muncul. Hasil dibaca dalam waktu 10
menit
Pasca Analitik:
Nilai rujukan:
1. Positif (reaktif) jika Nampak 2 garis merah pada garis control (C)
dan garis tes (T)
2. Negative (non reaktif) hanya Nampak 1 garis merah pada bagian
control (C)
3. Invalid tidak tampak garis merah sama sekali atau nampah hanya
bagian tes (T)
J. Tshs
Pra Analitik:
1. Persiapan Pasien :
a. Tidak perlu persiapan khusus.
2. Persiapan Sampel :
a. Pengukuran harus dilakukan dalam waktu < 2 jam.
b. Sampel dapat disimpan selama 2 jam pada suhu 2-8̊ C .
c. Sampel dapat disimpan selama 2 bulan pada suhu -25±6̊ C.
d. Sampel tidak lipemik, ikterik, dan hemolisis.
3. Alat dan Bahan :
a. Alat :
Rak dan tabung sampling standar, pipet volumetric, instrument
Vidas, disposable gloves-powderless.
b. Bahan :
Serum atau plasma
c. Reagen :
a) STR : TSH strip
b) SPR : TSH SPRs (Solid Phase Receptacle)
c) SPRs sensitized dengan monoclonal anti-TSH immunoglobin
(tikus)
d) CI : TSH Kontrol 1 x 3 ml (lyophilized)
e) Human serum + human TSH + preservatives
f) S1 : TSH Kalibrator 1 x 2 ml (lyophilized)
g) Caif serum + human TSH + preservatives
h) R1 : TSH diluent 1 x 3 ml (liquid)
i) Calf serum + 0,9 g/l sodium azide
Analitik
Cara Kerja:
1. Pindahkan reagen dari refrigerator lalu biarkan dalam suhu
kamar selama 30 menit sebelum digunakan.
2. Gunakan satu strip TSH dan satu SPR TSH untuk masing-
masing sampel, control dan kalibrasi yang akan dites.
3. Tekan “TSH” pada instrument untuk masuk pada kode test.
Kalibrator diidentifikasi dengn “S1” dan tes dalam proses
duplikasi. Jika control di tes, akan diidentifikasi “C1”.
4. Campur Kalibrator, control dan sampel dengan menggunakan
vortex tipe mixer.
5. Masukkan 200 µl kalibrator, sampel atau control ke dalam
sumur sampel.
6. Masukkan SPR dan strip ke dalam intrumen. Cek untuk
memastikan label warna dengan kode pemeriksaan SPR dan
strip reagen yang sesuai.
7. Awali pemeriksaan sesuai dengan operator manual. Semua
pemeriksaan dilakukan secara otomatis dengan instrument atau
mesin. Pemeriksaan selesai dilakukan selama kurang lebih 40
menit.
a. Setelah pemeriksaan selesai, pindahkan SPR dan strip dari
instrument.
b. Atur SPR dan strip ke dalam resipien yang sesuai.
Pasca Analitik
Nilai rujukan :
a. Euthyroid : 0,25-5 µlU/ml
b. Hypothyroid : <0,15 µlU/ml
c. Hyperthyroid : >7 µlU/ml
K.Tubex
Pra Analitik
1. Persiapan Pasien : Tidak melakukan persiapan khusus.
2. Persiapan lainnya :
a. Bawa semua reagen dan sample pada suhu ruangan.
b. Kocok seluruh reagen dengan teliti sebelum digunakan.
c. Periksa secara visual seluruh endapan yang telah diurai
menjadi larutan.
d. Letakkan reaction well strip tegak lurus di atas meja.
3. Alat dan Bahan
a. Alat :
a) Mikropipet 45 µl
b) Mikropipet 90 µl
c) Kuvet Tubex
d) Sealing Tape
b. Bahan :
a) Centrifuge
b) Tabung vacum merah
c) Sampel serum
d) Tip Kuning
e) Reagen blue
f) Reagen brown
Analitik:
1. Pipet 45 ml TUBEX TF Brown reagen ke semua wells.
2. Pipetkan 45 µl TUBEX TF Kontrol positif – control negatif dan
serum pasien langsung dicampur dengan menggerakkan pipet
naik turun 10x. Gunakan pipet baru untuk setiap sampel. Inkubasi
2 menit.
3. Pipetkan 90 µl Blue reagen TUBEX TF kesemua well. Tutup
Reaction Well strip dengan sealing tape.
4. Miringkan 900 dan kocok maju mundur selama 2 menit.
5. Letakkan well strip di atas skala magnetic untuk reaksi separasi.
Biarkan reaksi separasi magnetic selama 5 menit.
6. Baca hasil pengujian dalam waktu 30 menit.
Pasca Analitik:
1. ≤ 2 negative : Tidak menunjukkan infeksi demam tifoid aktif
control negatif – TUBEX  TF.
2. 3 borderline : pengukuran tidak dapat disimpulkan. Ulangi
pengujian, apabila masih meragukan, lakukan
sampling ulang beberapa hari kemudian.
3. 4 positif lemah  : menunjukkan infeksi demam tifoid aktif
(positif lemah).
4. 6-10 positif : indikasi kuat infeksi demam tifoid aktif (positif
kuat), control positif – TUBEX TF.
5. Indeterminate : Ketidakjelasan pengukuran diakibatkan oleh :
a. Protokol pengujian tidak diikuti dengan baik. Ulangi
pengujian.
b. Kualitas sampel kurang baik. Lakukan sampling dan pengujian
ulang.