Anda di halaman 1dari 15

Makalah Kepemimpinan

SISTEM KEPEMIMPINAN PADA MASYARAKAT ACEH

D
I
S
U
S
U
N

OLEH:
KELOMPOK II

1. AFWANIL HUDA NASUTION (8186171001)


2. RIA PURNAMASARI (8186171012)

DIK MAT KELAS A

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT karena atas berkat dan
RahmatNya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah matakuliah
Kepemimpina mengenai “Kepemimpinan Masyarakat Aceh”.
Tak lupa Penulis berterimakasih juga kepada Bapak Dr. Arif Rahman, M.Pd
yang sudah memberikan bimbingannya dan juga kepada beberapa pihak yang telah
membantu penulis dalam menyelesaikan tugas makalah matakuliah Kepemimpinan
yang sampai dihadapan pembaca pada saat ini.
Penulis juga menyadari bahwa makalah yang penulis tulis ini masih banyak
kekurangan. Karena itu sangat diharapkan bagi pembaca untuk menyampaikan saran
atau kritik yang membangun demi tercapainya penyusunan makalah ini agar lebih
baik.

Medan, Mei 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................... i


DAFTAR ISI.......................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN .....................................................................................1


1.1................................................................................................Latar belakang
1
1.2..........................................................................................Rumusan Masalah.
2
1.3..............................................................................................Tujuan Makalah
2

BAB II PEMBAHASAN.......................................................................................3
2.1 Pengertian Kepemimpinan...........................................................................3
2.2 Nanggroe Aceh Darussalam ........................................................................4
2.3 Masyarakat Aceh..........................................................................................5
2.4 Suku Gayo....................................................................................................6
2.5 Kebudayaan Suku Gayo.............................................................................. 8
2.6 Sistem Pemerintahan di Daerah Gayo..........................................................9

BAB III PENUTUP.............................................................................................11


3.1....................................................................................................Kesimpulan
11
3.2 Saran...........................................................................................................12

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................13

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Dalam setiap komunitas atau organisasi/lembaga, ada orang yang dipimpin
dan ada orang yang memimpin. Orang yang memimpin biasanya disebut dengan
pemimpin dan orang dipimpin disebut dengan rakyat atau bawahan. Keberadaan dua
hal ini terdapat pula dalam masyarakat Aceh dan diatur dalam budaya/adatnya,
Karena itu, kearifan dalam kepemimpinan yang dianut masyarakat Aceh sejak lampau
bahwa seorang pemimpin itu seolah raja yang mesti jadi panutan, contoh, dan tiruan.
Jika pemimpin tidak baik, ditakutkan pengikutnya juga akan mengambil jalan tidak
baik. Secara singkat dapat dikatakan bahwa masyarakat Aceh mempunyai etika yang
mengatur bagaimana kepemimpinan dijalankan di dalam kehidupan masyarakat
sehari-hari. Pada dasarnya jiwa kepemimpinan dimilki oleh setiap diri manusia (self
leadership), setidaknya dirasakan manakala seseorang melewati suatu proses
merencanakan dan menetapkan suatu keputusan guna merealisasikan tujuan
hidupnya, namun dalam mengaktualisasikan kepemimpinan itu sendiri sering sekali
manusia dihadapkan pada berbagai problematika hidup silih berganti, tidak sedikit
persoalan muncul hanya disebabkan kesalahan dalam bertindak dan keliru
mempersepsikan sesuatu, untuk menghindarinya menjadi penting faktor pengendali
diri. Salah satunya adalah dengan mempedomani nilai-nilai etika dan moralitas dalam
kehidupan, jadi kepemimpinan dengan etika dan moralitas merupakan satu kesatuan
yang sangat erat.
Dalam struktur pemerintahan di Aceh adanya masyarakat gayo pada masa
dahulu dikenal adanya lapisan masyarakat yang disebut sebagai lapisan pemimpin
adat, pemimpin keduniawian atau kelompok elite sekuler. Pemimpin elite sekuler dan
pemimpin adat memimpin bersama-sama dalam sebuah gampong,misalnya, terdapat
keuchik  (yang memimpin dalam hal pemerintahan) dan imeum meunasah (yang
memimpin dalam hal agama). Sistem ini mempunyai kearifan lokal yang sesuai
dengan budaya Aceh. Apabila dibandingkan juga dengan dunia Barat, sistem

1
kepemimpinan dalam masyarakat gayoberbeda. Oleh karena itu, dirasa perlu untuk
menampilkan kembali bentuk-bentuk kepemimpinan Aceh yang ideal agar dapat
dikenal dan diketahui oleh kalangan masyarakat secara luas, baik formal maupun
informal

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas, maka yang menjadi fokus
permasalahan dalam penelitian ini yaitu:
1. Apakah Pengertian Kepemimpinan?
2. Bagaimana Kepemimpinan pada Suku Gayo?
3. Bagaimana Kebudayaan di suku Gayo?

1.3 Tujuan Penelitian


Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka yang menjadi tujuan dalam
penelitian ini yaitu:
1. Untuk mengetahui Pengertian Kepemimpinan.
2. Untuk mengetahui Kepemimpinan pada suku Gayo.
3. Untuk mengetahui kebudayaan disuku Gayo.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Kepemimpinan


Kepemimpinan merupakan suatu proses untuk memengaruhi aktivitas
kelompok. Kadarusman (2012) mengatakan Kepemimpinan juga berarti sebuah
hubungan yang saling memengaruhi antara pemimpin dan pengikutnya walaupun
cukup sulit menggeneralisir, pada prinsipnya kepemimpinan (leadership) berkenaan
dengan seseorang memengaruhi perilaku orang lain untuk suatu tujuan. Tapi bukan
berarti bahwa setiap orang yang memengaruhi orang lain untuk suatu tujuan disebut
pemimpin. Kepemimpinan merupakan kemampuan memeroleh kesepakatan pada
tujuan bersama.
Kepemimpinan (Leadership) dibagi tiga, yaitu: (1) Self Leadership; (2) Team
Leadership; dan (3) Organizational Leadership. Self Leadership yang dimaksud
adalah memimpin diri sendiri agar jangan sampai gagal menjalani hidup. Team
Leadership diartikan sebagai memimpin orang lain. Pemimpinnya dikenal dengan
istilah team leader (pemimpin kelompok) yang memahami apa yang menjadi
tanggung jawab kepemimpinannya, menyelami kondisi bawahannya, kesediaannya
untuk meleburkan diri dengan tuntutan dan konsekuensi dari tanggung jawab yang
dipikulnya, serta memiliki komitmen untuk membawa setiap bawahannya
mengeksplorasi kapasitas dirinya hingga menghasilkan prestasi tertinggi. Sedangkan
organizational leadership dilihat dalam konteks suatu organisasi yang dipimpin oleh
organizational leader (pemimpin organisasi) yang mampu memahami nafas bisnis
perusahaan yang dipimpinnya, membangun visi dan misi pengembangan bisnisnya,
kesediaan untuk melebur dengan tuntutan dan konsekuensi tanggung jawab sosial,
serta komitmen yang tinggi untuk menjadikan perusahaan yang dipimpinnya sebagai
pembawa berkah bagi komunitas baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional
(Kadarusman: 2012)
Dengan kekuasaan, pemimpin dapat memengaruhi perilaku para bawahannya.
Hersey, Blanchard dan Natemeyer (Thoha, 2010) menyatakan bahwa seorang

3
pemimpin seharusnya tidak hanya menilai perilakunya sendiri untuk memengaruhi
orang lain, tetapi juga harus mengerti posisi mereka dan bagaimana cara
menggunakan kekuasaan untuk memengaruhi orang lain sehingga menghasilkan
kepemimpinan yang efektif. Kekuasaan (power) seringkali diartikan sebagai
pengaruh (influence) atau otoritas (authority). Seseorang memiliki kekuasaan
dikatakan sebagai seseorang yang berpengaruh atau seseorang mempunyai
otoritas/wewenang untuk melakukan sesuatu. Pengertian kekuasaan seperti yang
dikemukakan oleh Walter Nord (Thoha, 2010) adalah kemampuan untuk
memengaruhi aliran, energi, dan dana yang tersedia untuk suatu tujuan yang berbeda
secara jelas dengan tujuan lainnya. Definisi kekuasaan juga banyak dikemukakan
oleh para ahli lainnya seperti Bierstedt yang mengemukakan kekuasaan adalah
kemampuan untuk menggunakan kekuatan, Roger mengemukakan kekuasaan adalah
suatu potensi dari suatu pengaruh. Secara sederhana, kepemimpinan adalah setiap
usaha untuk memengaruhi, sementara itu kekuasaan dapta diartikan sebagai suatu
potensi pengaruh dari seorang pemimpin. Jadi kekuasaan merupakan salah satu
sumber seorang pemimpin untuk mendapatkan hak untuk mengajak atau
memengaruhi orang lain. Sedangkan otoritas dapat dirumuskan sebagai suatu bentuk
khusus dari kekuasaan yang biasanya melekat pada jabatan yang ditempati oleh
pemimpin.

2.2 Nanggroe Aceh Darussalam

Wilayah budaya Gayo adalah salah satu wilayah budaya yang masuk ke dalam
Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Wilayah budaya ini dihuni oleh masyarakat
atau suku Gayo dengan kebudayaannya yang khas. Selain itu, wilayah ini juga
menjadi bahagian dari Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang kuat dengan nilai-
nilai dan penerapan syariat Islam, termasuk ekspresinya dalam kesenian Islam, seperti
pada tari saman.
Nanggroe Aceh Darussalam adalah salah satu provinsi yang mendapat status
otonomi istimewa. Daerah ini terletak di bagian paling utara pulau Sumatera. Di
daerah ini pada abad kesebelas terdapat dua kerajaan Islam tertua di Nusantara yaitu

4
Samudera Pasai dan Peurlak. Dari daerah ini berlangsung penyebaran agama Islam ke
seluruh wilayah Nusantara. Pada saat Sultan Ali Mughayatsyah memerintah Aceh,
tahun 1514-1530, Kerajaan Aceh mencakup wilayah: Pasee, Peurlak Aru, Piedie, dan
Lamno (Pemerintah Daerah Istimewa Aceh 1972:5). Kerajaan Aceh memiliki tentara
yang kuat, maka tak heran daerah Melayu Pesisir Timur Sumatera Utara sampai
Melaka pernah menjadi daerah taklukannya pada abad keenam belas. Diperkirakan
sebagian orang Aceh sudah migrasi ke Sumatera Timur sejak adanya kontak antara
kedua daerah ini, baik melalui penaklukan, perdagangan, dan penyebaran agama
Islam. Ulama dari Sumatera Utara yang terkenal menjadi bagian dari ulama Kerajaan
Aceh adalah Hamzah Fansuri yang berasal dari Pantai Barus Sumatera Utara.

2.3 Masyarakat Aceh


Secara umum, masyarakat Aceh terdiri atas kelompok-kelompok etnik (suku
bangsa), yaitu: (1) Aceh Rayeuk, (2) Gayo, (3) Alas, (4) Tamiang, (5) Kluet, (6)
Aneuk Jamee, dan (7) Semeulue. Keenam kelompok etnik ini masing-masing
mendiami daerah yang mereka anggap sebagai tanah leluhurnya. Daerah kebudayaan
mereka ini adalah: (1) Aceh Rayeuk memiliki wilayah budaya di Utara Aceh, dengan
pusatnya di Banda Aceh atau Kutaraja, (2) etnik Alas berdiam di Kabupaten Aceh
Tenggara dan sekitarnya, (3) etnik Gayo mendiami Kabupaten Aceh Tengah dan
sekitarnya, (4) etnik Kluet mendiami Kabupaten Aceh Selatan dan sekitarnya, (5)
etnik Aneuk Jamee mendiami Kabupaten Aceh Barat dan sekitarnya, (6) etnik
Semeulue mendiami Kabupaten Aceh Utara dan Kepulauan Semeulue dan sekitarnya,
serta (7) etnik Tamiang mendiami Kabupaten Aceh Timur dan sekitarnya.
Orang Aceh mempunyai bahasa sendiri yakni bahasa Aceh, yang masuk
bahasa Austronesia. Bahasa Aceh terdiri dari beberapa dialek, diantaranya dialek
Peusangan, Banda, Bueng, Daya, Pase, Pidie, Tunong, Seunangan, Matang, dan
Meulaboh, tetapi yang sering kedengaran adalah dialek Banda. Dialek ini dipakai di
Banda Aceh. Dalam tata bahasanya, bahasa Aceh tidak mengenal akhiran untuk
membentuk kata yang baru, sedangkan dalam sistem fonetiknya, tanda ‘eu’

5
kebanyakan dipakai tanda pepet (bunye). (Keaneka Ragaman Suku dan Budata Di
Aceh, 1998:8)

2.4 Suku Gayo


Daerah suku Gayo terletak dibagian tengah wilayah Provinsi Nanggroe Aceh
Darussalam. Daerah asal kediaman orang Gayo itu biasa dinamakan Dataran Tinggi
Gayo, dan mereka biasa menyebutnya dengan Tanoh Gayo (Tanah Gayo). Kini
daerah tersebut menjadi bagian dari wilayah beberapa kabupaten, yakni: (a) seluruh
wilayah Kabupaten Aceh Tengah; (b) sebahagian dari wilayah Kabupaten Aceh
Tenggara; dan (c) sebahagian kecil dari wilayah Kabupaten Aceh Timur serta (d)
seluruh wilayah Kabupaten Gayo Lues. Pada saat ini wilayah kediaman orang Gayo
meliputi kabupaten Aceh Tengah, sebagian dari wilayah kabupaten Aceh Tenggara
dan sebagian kecil kabupaten Aceh Timur. Seluruh wilayah Tanah Gayo ini disatukan
oleh sederetan gunung dan bukit dalam rangkaian Bukit Barisan. Di samping itu, juga
disatukan oleh budaya nenek moyangnya yang diwarisi secara turun temurun. Akan
tetapi, mereka dipisahkan oleh tiadanya sarana penghubung dari waktu yang cukup
lama. Lingkungan alam kediaman orang Gayo di kabupaten Aceh Tengah berada
pada ketinggian antara 400-2.600 meter di atas permukaan laut, yang 71,6 persen
tertutup oleh hutan dan 8,9 persen oleh hutan pinus mercusi. Ditengah-tengah daerah
itu terdapat danau Laut Tawar dengan ukuran 17,5 x 4,5 kilometer, dengan
kedalaman sekitar 200 meter (Melaton, 1985:276 ).
Dataran tinggi Tanah Gayo ini pula ditandai dengan sebuah danau, yaitu
danau Lau Kawar yang mempunyai luas kira-kira 5 x 18 km persegi yang
menghampar diantara sela-sela Bukit Barisan di pinggiran ibu kota Kabupaten Aceh
Tengah, Takengon, yang juga dikelilingi oleh gunung-gunung. Adapun gunung
tersebut adalah gunung: Bur Birah Panyang, Bur ni Entem-entem, Bur ni Pereben,
Bur ni Gentala, Bur ni Pepanyi, Bur ni Telong, Bur ni Gerunte, dan lain-lain.
Kelompok-kelompok masyarakat yang berada dalam wilayah kabupaten tersebut
diatas kebetulan bisa juga disebut sebagai suku Gayo. Masing-masing bernama Gayo
Lut, Gayo Lues dan Gayo Serbejadi. Terwujudnya tiga sub kelompok ini disebabkan

6
antara lain oleh lingkungan alam, yang dalam rentang waktu yang lama tidak ada
prasarana perhubungan dan prasarana komunikasi, sehingga mereka sulit
mengembangkan interaksi dan hubungan. Inilah salah satu sebab sehingga
menimbulkan variasi budaya termasuk logat bahasa ucap. Keadaan alam dan
keterbatasan prasarana komunikasi masih tampak sampai pada masa-masa terakhir
ini.
Suku Gayo menurut daerah kediaman dan tempat tinggalnya dapat dibagi
dalam 4 daerah, yaitu: (1) Gayo laut, atau disebut dengan Gayo laut Tawar, yang
mendiami sekitar danau Laut Tawar. (2) Gayo Deret atau Gayo Linge, yang
mendiami daerah sekitar Linge dan Isaq, (3) Gayo Lues yang mendiami daerah
sekitar Gayo Lues, dan Gayo Serbejadi, yang mendiami daerah sekitar Serbejadi dan
Sembuang Lukup, termasuk kedalam daerah Aceh Timur. (4) Sedang suku Alas
berdiam di daerah Alas yang berbatasan dengan daerah Gayo Lues. Pada saat ini
Etnik Gayo merupakan masyarakat asli yang mayoritas mendiami wilayah kabupaten
Aceh Tengah, propinsi Daerah Istimewa Aceh. Letak wilayahnya berada di
pedalaman. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Aceh Tenggara, sebelah
Timur berbatasan dengan kabupaten Aceh Timur, dan sebelah Utara berbatasan
dengan kabupaten Aceh Utara dan sebelah Barat berbatasan dengan kabupaten Aceh
Barat. Keadaan alam yang bergunung-gunung merupakan bagian dari rangkaian
Bukit Barisan yang membujur sepanjang Pulau Sumatera.
Penduduk Suku Gayo Laut, Gayo Lues, dan Alas, terkenal sebagai penanam
tembakau, kopi, dan peternak kerbau di seluruh Aceh, Sumatera Timur, Karo, dan
Tanah Batak. Tembakau Gayo sedap rasanya, halus irisannya, harum baunya, dan
sangat digemari di pasaran nasional dan internasional. Kopi Arabica hanya tumbuh
khusus di daerah Gayo Laut, dan terkenal seluruh Aceh, Sumatera Timur, dan daerah-
daerah lain. Rasanya lebih enak dibandingkan dengan kopi Robusta. Di zaman
kependudukan Belanda kopi Arabica dari Gayo Laut ini dijadikan barang ekspor,
sedang dimasa Indonesia merdeka, kopi Arabica menjadi barang ekspor penting di
samping tembakau dan lain-lain. Dalam kesehariannya, masyarakat Gayo pada
umumnya, selain menggunakan bahasa Indonesia (melayu), mereka memakai bahasa

7
Aceh, Gayo dan Alas. Bahasa ini digunakan pada berbagai aktivitas sosial dan
budaya masayarakatnya seperti pada khutbah, pengajian, dan pelajaran agama Islam.

2.5 Kebudayaan Suku Gayo


Suku Gayo mempunyai kebudayaan sendiri, meskipun kebudayaan tersebut
hampr sama dengan kebudayaan Aceh lainnya. Mereka mempunyai bahasa sendiri,
adat-istiadat sendiri, yang mungkin berbeda dengan bahasa dan adat-istiadat Aceh,
Karo, Batak, dan Melayu. Secara umum, sejak masuknya agama Islam ke Aceh,
kebudayaan Aceh maupun kebudayaan Gayo lebih cenderung mengarah kepada
kebudayaan yang bernafaskan Islam (Rusdi dkk:1998). Namun demikian,
kebudayaan Gayo mempunyai ciri-ciri tersendiri yang agak berbeda dengan
kebudayaan Aceh umumnya. Di samping pengaruh Aceh yang sangat kuat pada suku
Gayo, pengaruh suku Melayu juga di sini sangat kuat, terutama dalam soal bahasa.
Hal ini disebabkan karena penyebaran, pengembangan dan pendidikan agama Islam,
naskah-naskah buku, tulisan tangan, surat-menyurat, dan lain-lain, sebahagian besar
diberikan dan dilakukan dalam bahasa Arab-Melayu, di samping dalam bahasa Aceh,
dan Gayo sendiri. Sedangkan hubungan suku Gayo dengan Karo dan Batak, dapat
dilihat dari persamaan dalam bahasa dan adat-istiadat, terutama karena terdapatnya
beberapa persamaan dalam bahasa dan adat-istiadat, terutama sekali dengan suku
Karo.
Persamaan antara suku Gayo dan suku Karo dapat dilihat dari pembagian
belah-belah dalam susunan masyarakat Gayo yang terdapat di wilayah Raja Cik
Bebesan di daerah Gayo Laut. Susunan masyarakat di wilayah Raja Cik Bebesan
dibagi dalam Belah-belah Cebere, Melala, Munte, Linge, dan Belah Tebe. Selain itu
terdapat pula persamaan-persamaan di bidang kesenian, seperti seni tari, seni suara,
seni musik, dan lain-lain. Nama-nama belah di wilayah Raja Cik Bebesan mempunyai
persamaan dengan nama-nama margadi Tanah Karo.

8
2.6 Sistem Pemerintahan di Daerah Gayo
Sistem pemerintahan yang dimaksud disini ialah sistem pemerintahan Tanah
Gayo dan Alas di zaman setelah masuknya agama Islam, dan terutama sekali setelah
Tanah Gayo dan Alas menjadi wilayah kerajaan Islam Aceh. Meskipun sistem
pemerintahan dari kerajaan Islam Aceh, mempunyai pola umum yang sama untuk
seluruh wilayahnya, tetapi sistem pemerintahan di Tanah Gayo mempunyai “ciri-ciri”
tersendiri.
Sistem pemerintahan di Tanah Gayo adalah suatu sistem yang berdasarkan
Hukum Adat, Hukum Adat bersumber dan berlandaskan hukum Islam dan Hukum
Adat tidak tertulis. Tetapi hukum Islam adalah hukum tertulis, berdasarkan Qur’an
dan Hadits Nabi. Jadi meskipun hukum adat tidak tertulis, tetapi sumber dan
landasannya adalah hukum tertulis yaitu dari Qur’an dan Hadist Nabi. Keputusan
mengenai hukum adat yang bertentangan dengan hukum Islam, maka setelah
mendengarkan pendapat Imam, hukum adat harus dikesampingkan dan hukum Islam
yang harus dilaksanakan.
Hukum Islam adalah kuat terhadap hukum adat dalam pelaksanaan hukum di
Tanah Gayo. Hubungan antara kedua hukum adat dan hukum agama ini adalah jalin
berjalin yang sangat erat, sebagaimana dilukiskan dalam kata-kata adat Gayo
“Hukum ikanung edet, edet ikanung Agama”. Artinya setiap hukum mengandung
adat, dan setiap adat mengandung agama. Hukum adat adalah anak kandung dari
hukum agama. Dengan perkataan lain, hukum adat di dalam pemerintahan Tanah
Gayo pada hakikatnya adalah merupakan “pancaran dari hukum Islam.” Walaupun
demikian sering juga terjadi praktek sengketa antara hukum adat dengan hukum
agama yang kadang-kadang hukum Islam dikesampingkan. Hal ini dapat dapat terjadi
dalam hal, apabila sang raja tidak mengerti ajaran agama dan hukum-hukum Islam
atau karena sang raja berlaku sewenang-wenang atau oleh faktor-faktor lain.
Prinsip-prinsip yang terkandung dalam kata-kata adat Gayo ini
menggambarkan sesuatu pemerintahan berdasarkan hukum adat yang bersumber dari
hukum Islam dengan mengindahkan prinsip musyawarah untuk mufakat. Suatu
prinsip gotong royong yaitu semacam sistem demokrasi yang dikenal zaman ini.

9
Sistem kepemimpinan ini terangkum dalam pranata Sarak Opat, yang mempunyai
empat unsur kepemimpinan seperti tersebut di atas. Masing-masing unsur ini
mempunyai empat unsur kepemimpinan seperti di atas. Masing-masing unsur ini
mempunyai peranan sendiri. Selain itu, setiap unsur itu bisa mendapat sanksi tertentu
apabila melakukan kesalahan atau penyimpangan peran atas kekeramatannya tadi.
Raja sebagai unsur pimpinan utama mempunyai sifat keramat yang disebut musuket
sipet, ini berarti raja memiliki sifat dan bertindak adil , bijaksana, kasih sayang, suci,
dan benar. Petue (ketua) mempunyai sifat keramat yang disebut musidik sasat, artinya
teliti, peka dan cepat tanggap. Sementara itu imam (pimpinan agama) memiliki sifat
keramat yang disebut muperlu sunet. Ia memiliki kewibawaan dengan memberikan
contoh tauladan kepada anggota masyarakat tentang hal-hal yang wajib, perlu, sunat
untuk dikerjakan sesuai dengan kaidah-kaidah agama. Ia juga mengawasi dan
melarang perbuatan makruh, perbuatan yang menimbulkan mudarat. Demikian pula
dengan unsur kepemimpinan lain yang mempunyai kekeramatan sesuai dengan
jabatannya masing-masing. (Rusdi dkk., 1998:12-15)

10
BAB III
PENUTUP

2.1 Kesimpulan
1. Kepemimpinan merupakan suatu proses untuk memengaruhi aktivitas kelompok.
Kepemimpinan juga berarti sebuah hubungan yang saling memengaruhi antara
pemimpin dan pengikutnya walaupun cukup sulit menggeneralisir, pada
prinsipnya kepemimpinan berkenaan dengan seseorang memengaruhi perilaku
orang lain untuk suatu tujuan. Tapi bukan berarti bahwa setiap orang yang
memengaruhi orang lain untuk suatu tujuan disebut pemimpin. Kepemimpinan
merupakan kemampuan memeroleh kesepakatan pada tujuan bersama.
2. Secara umum, masyarakat Aceh terdiri atas kelompok-kelompok etnik (suku
bangsa), yaitu: (1) Aceh Rayeuk, (2) Gayo, (3) Alas, (4) Tamiang, (5) Kluet, (6)
Aneuk Jamee, dan (7) Semeulue. Jadi gayo merupakan salah satu suku yang
termasuk dalam masyarakat Aceh.
3. Sistem pemerintahan di Tanah Gayo adalah suatu sistem yang berdasarkan
Hukum Adat, Hukum Adat bersumber dan berlandaskan hukum Islam dan
Hukum Adat tidak tertulis.
4. Raja sebagai unsur pimpinan utama mempunyai sifat keramat yang disebut
musuket sipet. Petue (ketua. Sementara itu imam (pimpinan agama) disebut
muperlu sunet.

2.2 Saran
Penulis menyadari dalam penulisan makalah ini masih banyak terdapat
kekurangan.oleh karena itu,penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun
dari pembaca agar dapat pembuatan makalah selanjutnya menjadi lebih baik.

11
DAFTAR PUSTAKA

Kadarusman, D. 2012. Natural Intelligence Leadership: Cara Pandang Baru Terhadap


Kecerdasa dan Karakter Kepemimpinan. Jakarta: Raih Asa Sukses.
M. J. Melaton. 1985. Kamus Bahasa Gayo-Indosesia. Jakarta Departemen Pendidikan
Kebudayaan.
Rusdi, P. (1998). Pacu Kude: Permainan Tradisional Di Dataran Tinggi Gayo. Banda
Aceh: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional .
Thoha, M. 2010. Kepemimpinan dalam Manajemen. Jakarta: PT. RajaGrafindo
Persada.

12