Anda di halaman 1dari 6

Aspek Geokimia pada Gua Lawa di Purbalingga Akibat Aktifitas Erupsi

Mia Nur Alia Rahmawati/4311418028

Abstrak

Gua Lawa di kabupaten Purbalingga merupakan salah satu Gua akibat letusan
Gunung Api Slamet yang letusan gunung tersebut berupa letusan efusi dimana jenis
letusan gunung berapi ini lava mengalir dari gunung berapi ke tanah. Letusan ini
membentuk aliran lava dan kubah lava yang masing-masing bevariasi dalam bentuk,
panjang dan lebar. Sehingga pembentukan rongga-rongga baru berlanjut pada aliran
lava baru dari erupsi yang masih terus berlangsung di atas tubuh lava yang telah
membeku. Gua lawa ini didominasi oleh batuan beku andesit basaltik, dimana bakuan
beku andesit basaltik atau disebut dengan lavastone merupakan batuan yang tersusun
atas mineral halus, yang memiliki kandungan silika yang lebih tinggi dari batuan basal
dan lebih rendah dari batuan rbylolite dan felsite. struktur geologi yang banyak
dijumpai merupakan retakan yang dihasilkan oleh struktur pendingin dan struktur
tektonik. Jenis tanah di Gua lawa di dominasi oleh jenis tanah latasol kekuningan,
latasol coklat dan latasol dari bahan induk campuran.

Kata kunci : Gua Lawa, Letusan Efusi, Struktur Pendingin dan Struktur tektonik

Abstract

Lawa Cave in Purbalingga Regency is one of the caves due to the eruption of
Mount Slamet volcano that erupted in the form of eruption of effusion where this type
of volcanic eruption lava flows from the volcano to the ground. The eruption forms a
lava flow and a dome of lava that each bevariations in shape, length and width. Thus
the formation of new cavities continues in the new lava flows from the eruption which
continues to take place over the body of a frozen lava. The cave is dominated by
basaltic andesite frozen rocks, in which the basaltic andesite igneous rocks or called
lavastone are composed of fine minerals, which have a higher silica content than the
basal and lower rocks Of the Rbylolite and Felsite rocks. Geological structures that are
widely encountered are cracks produced by the structure of cooling and tectonic
structures. This type of soil in Lawa cave in domination by the soil type Latasol
yellowish, Latasol Brown and Latasol from mixed parent material.

Keywords: Lawa cave, effusion eruption, cooling structure and tectonic structure
PENDAHULUAN

Indonesia memiliki banyak gunung api yang dimana hal tersebut dikarnakan
letak geografis indonesia. Gunung api terbentuk akibat zona subduksi antarra lempeng
Eurasia dan lempeng indo-Australia. Salah satu gunung api di Indonesia ialah Gunung
Slamet yang terletak di Jawa Tengah, Indonesia. Gunung Slamet merupakan gunung
tertinggi di Jawa Tengah kedua setelah Semeru, ketinggian Gunung Slamet mencapai
3.428 m. Pada tahun 1772 Gunung Slamet pertama kali mengalami erupsi, Letusannya
bersifat efusif atau lelehan dan bukan letusan eksplosif, dengan aliran lava hampir ke
seluruh lereng, baik ke arah selatan, timur, utara dan barat.

Letusan efusi adalah jenis letusan gunung berapi dimana lava mengalir terus
dari gunung berapi ke tanah. Letusan ini membentuk aliran lava dan kubah lava yang
masing-masing berariasi dalam bentuk, panjang dan lebar. Salah satu bukti geologis
letusan elusif Gunung Slamet adalah Gua Lawa di Karangreja, kabupaten Purbalingga
dengan ornamen gua seperti lelehan lava atau bentangan sayap kelelawar (lawa). Gua
ini memiliki panjang 1.300 m pada ketinggian 900 m diatas permukaan laut. Seperti
halnya gua-gua yang lain, Gua Lawa juga memiliki keunikan dan kekhasan, keunikan
dari gua lawa ini salah satunya ialah Gua Lawa terbentuk tidak pada batuan karbonat,
dan pembentukan gua lawa bukanlah karena proses pelarutan. Gua Lawa terbentuk
pada batuan beku hasil erupsi volkanik. Batuan beku pembentuk Gua Lawa merupakan
hasil pembekuan aliran lava. Karakter Gua Lawa sebagai gua pada batuan beku ini
jarang/tidak dijumpai pada daerah-daerah volkanik atau gunung api lainnya di Jawa
(Asmoro Widagdo dan Rachmad Setijadi,2007).

Disekitar kawasan gua lawa jug terdapat beberapa bukti adanya aliran lava
diantaranya adalah adanya curug atau air terjun. Curug yang berada di lereng Gunung
Slamet sekarang adalah ujung dari banjir lava tersebut. Ada beberapa curug yang
merupakan bukti banjir lava, di antaranya adalah Curug Gede, Curug Bayan, Tlaga
Sunyi dan Curug Ceheng di  bagian selatan. Sedangkan di bagian timur ada Curug
Sumba, Curug Ciputat dan lainnya. Dalam hal ini Pebentukan Gua Lawa akibat hasil
erupsi vulkanik sangat berpengaruh pada pembentukan batu-batuan yang terdapat
didalamnya, hal ini dapat dikaji lebih lanjut dari sisi aspek geokimia. Geokimia adalah
ilmu yang menggunakan prinsip dan teknologi bidang kimia untuk menganalisis dan
menjelaskan mekanisme di balik sistem geologi seperti kerak bumi dan lautan yang
berada didalamnya.
PEMBAHASAN

Struktur Tanah Gua Lawa

Daerah penelitian

Arah lelehan
Gambar 1. Peta Geologi Gua Lawa dan sekitarnya

Gua lawa di Purbalingga ini didominasi oleh batuan beku andesit basaltik,
dimana bakuan beku andesit basaltik atau yang disebut dengan lavastone merupakan
batuan yang tersusun atas mineral halus, yang memiliki kandungan silika yang lebih
tinggi dari batuan basal dan lebih rendah dari batuan rbylolite dan felsite. Beberapa
Jenis tanah di Gua lawa di dominasi oleh jenis tanah latasol kekuningan, latasol coklat
dan latasol dari bahan induk campuran. Tanah di Gua Lawa memiliki pH 6 – 6,7 dimana
pada pH tersebut tanah dapat dikatakan memiliki sifat asam mendekti netral, pada pH
tersebut baik untuk tanaman tumbuh. Tanah di Gua Lawa merupakan tanah latasol
yang memiliki bebrapa karakteristik diantaranya ialah memiliki solum tanah yang agak
tebal hingga tebal, yakni mulai sekitar 130 cm hingga lebih dari 5 meter, mengandung
unsur hara yang sedang hingga tinggi, daya tanah air cukup baik dan juga tanah Gua
Lawa memiliki tekstur lempung, dan berstruktur remah hingga gumpal, yang dimana
tanah ini sering dijumpai pada daerah iklim basah dengan curah hujan lebih dari 300
mm/ tahun dan pada ketinggian antara 300-1000 m (Isnaeni Utrik Susanti,2005).

Struktur Batuan Gua Lawa

Gua Lawa merupakan Gua yang terbentuk karena akitivas Gunung Slamet yang
mengalami erupsi, struktur geologi yang banyak dijumpai merupakan retakan yang
dihasilkan oleh struktur pendingin dan struktur tektonik. Retakan berbentuk vertikal
dimana retakan ini merupakan retakan pendinginan magma, retakan berbentuk
vertikal ini tidak selalu membentuk batuan menjadi blok-blok yang berukuran hingga
beberapa meter. Retakan vertikal ini umumnya berukuran panjang 50 cm. Retakan
hasil proses pendinginan dari magma ini membentuk celah yang rapat, sehingga
batuan – batuan ini dapat membentuk batuan-batuan yang kokoh dan salingan
mengikat satu sama lain dan menghasilkan atap gua. Batas antar tubuh lava tua dapat
dilihat dengan retakan-retakan berbentuk horizontal, retakan pendingan horizontal ini
memilii kemenerusan yang tinggi. Namun pada Gua Lawa ini ada pula struktur
pendinginan yang tidak membentuk retakan akan tetpi membentuk alur-alur yang
menyerupai batuan sedimen (Asmoro Widagdo dan Rachmad Setijadi,2007).

Proses Pembentukan Gua Lawa

Gua lawa diperkirakan terbentuk pada 10-15 juta tahun lalu atau zaman
Miosen Tengah. Gua Lawa terbentuk akibat adanya erupsi vulkanis efusi dari Gunung
Slamet, dimana magma yang keluar bersifat cairan panas yang berpijar mengalir dari
sumber erupsi vulkanik. Magma atau lava ini mengalir ke daratan yang lebih rendah.
Magma yang berada di permukaan bumi adanya kontak dengan udara sehingga bagian
magma di bawahnya membeku terlebih dahulu dan berhenti mengalir. Bagian magma
yang berada paling bawah masih mengalir akibat suhu panas yang masih tinggi.
Magma cair ini mengalir ke permukaan yang lebih rendah, aliran magma tersebut
meninggalkan bagian yang telah beku diatasnya, Rata-rata ketebalan lava yang

mengalir berkisar antara 2-5 meter. Aliran magma di bagian bawah meninggalkan
bagian yang telah membeku di atasnya. Hilangnya bagian lava yang masih cair di
bagian bawah ini meninggalkan ronggarongga. Rongga-rongga ini merupakan saluran
aliran lava pijar di bawah permukaan bumi dari sumber erupsinya menuju tempat-
tempat yang secara elevasi lebih rendah. Pembentukan rongga-rongga baru dapat
terus berlanjut pada aliran lava baru dari erupsi yang masih terus berlangsung di atas
tubuh lava yang telah membeku. Tubuh aliran lava baru ini berkembang di atas gua-
gua lain yang telah terbentuk di bawah. Bila hal ini berlangsung terus maka dapat
dihasilkan beberapa tubuh gua yang tersusun secara vertikal. Arah pelelehan magma
seperti pada gambar 2 di bawah ini, yaitu mengikuti morfologi purba pada formasi
Halang (Waluyo, dkk, 2006).

Gambar 2. Kronologi pembentukan Gua pada lava

Tubuh batuan lava penyusun Gua Lawa memiliki porositas yang tinggi,
ditunjukkan dengan struktur skoria dimana lubang-lubangnya saling berhubungan
memungkinkan untuk penyimpanan dan pengaliran air tanah. Aliran air di pemukaan
lantai gua dan tetesan air dari atap gua dapat diamati pada musim hujan. Tubuh
genangan air dapat dengan mudah teramati di dalam gua. Genangan air ini tetap terisi
air walaupun di musin kemarau. Cebakan air bawah tanah yang tersimpan di dalam
gua dapat dimanfaatkan sebagai sumber air bagi masyarakat di musim kemarau.

PENUTUP

Kesimpulan

Gua Lawa merupakan gua yang terbentuk karena erupsi Gunung Slamet, yang
dimana hal tersebut mengakibatkan Gua lawa di dominasi oleh batuan beku andesit
basaltik. Beberapa Jenis tanah di Gua lawa di dominasi oleh jenis tanah latasol
kekuningan, latasol coklat dan latasol dari bahan induk campuran. Tanah Gua Lawa
memiliki tekstur lempung, dan berstruktur remah hingga gumpal, yang dimana tanah
ini sering dijumpai pada daerah iklim basah dengan curah hujan lebih dari 300 mm/
tahun dan pada ketinggian antara 300-1000 m.
Daftar Pustaka

Susanti,Isnaeni Utrik.2005.Tinjauan Geografis Terhadap Upaya Pengembangan


Kawasan Obyek Wisata Gua Lawa di Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga.
SKRIPSI Untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Geografi pada Universitas Negeri
Semarang.Semarang.

Waluyo,G.Permanajati,I.Piranti,A.S.2006.Study of Speleology to Support the


Development of the Lawa Cave Geotourism.Seminar Nasional Biospeleologi dan
Ekosistem Karst.

Widagdo, Asmoro dan Rachmad Setijadi.2007. Geology Preliminary Study Of Lawa


Cave In Purbalingga, Central Java.Dinamika Rekayasa.3(58-59).

Anonim.2016.”Batuan Andesit: Pengertian, Proses dan Manfaatnya”.


https://ilmugeografi.com/geologi/batuan-andesit. 07 maret 2020, pukul 10,37.

Fatma,Desy.2016.’’ Tanah Latosol : Pengertian, Karakteristik, dan Jenis Tanaman yang Hidup”.
https://ilmugeografi.com/ilmu-bumi/tanah/tanah-latosol.07 maret 2020, pukul 10.57.

l.darmawan.2019.”Gua Lawa Purbalingga, Jejak Sungai Lava yang Kini Jadi Destinasi
Wisata”.https://www.mongabay.co.id/2019/03/31/gua-lawa-purbalingga-jejak-sungai-
lava-yang-kini-jadi-destinasi-wisata/.06 maret 2020, pukul 20.43.