Anda di halaman 1dari 8

Pemanfaatan Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) Pada Pengolahan Limbah Cair

Laundry Berbasis Sistem Wetland Dan Adsorbsi

Air bersih menjadi salah satu kebutuhan paling penting bagi kehidupan makhluk hidup.
Air bersih yang memenuhi standar atau persyaratan kesehatan adalah air yang tidak berbau,
berwarna dan berasa serta memenuhi baku mutu yang dipersyaratkan. Penurunan kualitas air
permukaan yang salah satunya diakibatkan oleh pencemaran limbah industri maupun limbah
rumah tangga yang merupakan alasan utama yang mendorong untuk dilakukannya minimisasi
dan pemanfaatan kembali limbah tersebut. Kelangkaan maupun penurunan kualitas air tawar
disertai dengan kebutuhan air yang terus meningkat baik dari masyarakat maupun industri
merupakan pendorong diperlukannya teknologi pengolahan air yang berkualitas sekaligus
ramah lingkungan.

Permasalahan limbah di Indonesia bukanlah hal yang asing dan sudah menjadi rahasia
umum bahwa tidak sedikit pencemaran lingkungan yang terjadi disebabkan oleh pembuangan
limbah hasil laundry yang tidak melewati proses pengolahan terlebih dahulu. Seiring
terjadinya peningkatan jumlah penduduk yang sangat signifikan di mana dengan
bertambahnya jumlah penduduk maka akan terjadi peningkatan kebutuhan akan barang dan
jasa (Anggi Rizkia Utami, 2013). Pencucian pakaian dan alat rumah tangga lainnya (laundry)
merupakan salah satu usaha yang bergerak di bidang jasa yang sedang menjamur khususnya di
Kota Semarang.Oleh karena itu diperlukan suatu system pengolahan limbah dengan konsep
“reuse” (pemanfaatan kembali). Karakteristik dari air limbah laundry yang diperoleh dari
beberapa penelitian dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1.Karakteristik Air Limbah Laundry

(Zikri, 2016)
Lingkungan yang tercemar akibat limbah laundry mengandung fosfat yang tinggi
berasal dari Sodium Tripoly Phosfate (STPP). STPP merupakan salah satu unsur penting
kedua dalam detergen setelah surfaktan karena kemampuannya menghilangkan mineral
kesadahan dalam air sehingga detergen dapat bekerja secara maksimal. Kadar PO4 dalam air
yang berlebihan akan mengakibatkan terjadinya eutrofikasi (Cut Ananda, 2013). Eutrofikasi
merupakan masalah lingkungan hidup yang diakibatkan oleh limbah fosfat (PO43-), khususnya
dalam ekosistem air tawar. Oleh sebab itu, perlu adanya alternative penyisihan PO4 yang
efektif, salah satu caranya yaitu dengan fitoremediasi dengan tanaman eceng gondok
(Eichhornia crassipes). Dipilihnya eceng gondok (Eichhornia crassipes) karena berdasarkan
penelitian-penelitian sebelumnya tumbuhan ini memiliki kemampuan untuk mengolah limbah
baik itu logam berat sekalipun. Eceng gondok (Eichhornia crassipes) menyisihkan PO4 yaitu
dengan bantuan bakteri yang terdapat di akarnya (Cut Ananda, 2013).

Pengolahan limbah cair laundry memang tidak bisa dilakukan sembarangan,


setidaknya pengolahan limbah harus mengandung aspek manajemen limbah, pembuangan dan
perlakuan dengan segala pemantauan dan pengaturan. Penerapan pengolahan limbah cair
laundry di Indonesia khusunya daerah Semarang bisa dikatakan jauh dari kata efektif salah
satu alasannya Karena kurangnya kesadaran masyarakat untuk mengolah limbah cair laundry
sebelum dilakukannya pembuangan kelingkungan. Oleh karena itu, pengolahan air limbah
laundry harus dilakukan untuk bisa mengurangi cemaran zat toksik kelingkungan dan
memanfaatkan kembali air limbah hasil pengolahan.

Teknologi pengolahan limbah cair adalah salah satu alat untuk memisahkan,
menghilangkan dan atau mengurangi unsur pencemar dalam limbah (Ginting, 2007). Untuk
pengolahan limbah cair laundry ini penulis ingin menggunakan sistem Constucted Wetland.
Constructed wetland adalah sistem pengolahan terkontrol yang telah didesain dan dibangun
dengan memanfaatkan proses alamiah yang melibatkan tumbuhan, tanah, dan
mikroorganisme yang saling berinteraksi untuk pengolahan air limbah (Zhang, 2012; Hall,
2013). Berdasarkan studi Zurita dkk. (2006), efektivitas pengolahan air limbah dengan
menggunakan sistem ini mampu menurunkan kandungan Biochemical Oxygen Demand
(BOD) lebih dari 70%, Chemical Oxygen Demand (COD) lebih dari 75 %, dan kandungan
fosfor lebih dari 66%.

Pada prinsipnya sistem ini memanfaatkan hubungan simbiosis antara aktifitas


mikroorganisme yang menempel pada akar tumbuhan air dalam menguraikan zat pencemar,
dimana akar tumbuhan menghasilkan oksigen sehingga tercipta kondisi aerobik yang
mendukung penguraian tersebut. Pada akhirnya di dalam constructed wetland tersebut
terjadi siklus biogeokisme dan rantai makanan, sehingga sistem ini merupakan sistem
berkelanjutan (Meutia, 2001). Menurut Hammer, (1986) pengolahan limbah Sistem
Constructed Wetlands didefinisikan sebagai sistem pengolahan yang memasukan faktor
utama, yaitu:

1. Area yang tergenangi air dan mengandung kehidupan tumbuhan air sejenis
hydrophya.
2. Media tempat tumbuh berupa tanah yang selalu digenangi air (basah)
3. Media bisa juga bukan tanah, tetapi media yang jenuh dengan air.

Sejalan dengan perkembangan ilmu dan penelitian, maka definisi tersebut disempurnakan oleh
(Metcalf & Eddy,1993), menjadi sistem yang termasuk pengolahan alami, dimana terjadi
aktivitas pengolahan sedimentasi, filtrasi, transfer gas, adsorpsi, pengolahan kimiawi dan
biologis, karena aktivitas mikroorganisme dalam tanah dan aktivitas tanaman.

Dalam sistem ini membutuhkan perantara tanaman, yang mana penulis ingin
menggunakan eceng gondok (Eichhornia crassipes) dalam sistem tersebut. Cara kerja eceng
gondok (Eichhornia crassipes) dalam sistem constructed wetland yaitu akar yang bercabang-
cabang halus permukaan akarnya dari eceng gondok (Eichhornia crassipes) digunakan oleh
mikroorganisme sebagai tempat pertumbuhan. Penurunan zat pencemar dikarenakan eceng
gondok (Eichhornia crassipes) mempunyai kemampuan selain menyerap bahan organik dalam
bentuk ion hasil pemecahan mikroorganisme juga mampu membebaskan oksigen yang
digunakan oleh mikroorganisme untuk menguraikan bahan pencemar (Ikbal, 2004). Sehingga
dengan banyaknya eceng gondok (Eichhornia crassipes) dan semakin lamanya waktu tinggal
akan menurunkan bahan pencemar.

Kemampuan eceng gondok (Eichhornia crassipes) sebagai biofilter dikarenakan


adanya mikroba-mikroba rhizosfera pada akar dan didukung oleh daya adsorpsi serta
akumulasi yang besar terhadap bahan pencemar. Bahan organik yang terlarut dalam air dapat
direduksi oleh mikroba rhizosfer yang terdapat pada akar eceng gondok (Eichhornia
crassipes) dengan cara menyerapnya dari perairan dan sedimen dan diakumulasikan ke dalam
struktur batang (Marianto,2001). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Rukmi, dkk.,
2013) eceng gondok (Eichhornia crassipes) dimanfaat pada pengolahan limbah laundry
terbukti dapat menurunkan kadar deterjen sebesar 19,63 %, Biochemical Oxygen Demand
(BOD) 37,24% dan Chemical Oxygen Demand (COD) sebesar 20,93%.

Adsorpsi adalah suatu proses di mana komponen bergerak dari suatu keadaan menuju
permukaan yang lain sehingga terjadi perubahan konsentrasi pada permukaan. Zat yang
diserap disebut adsorbat sedangkan zat yang menyerap disebut adsorben. Pada umumnya
adsorbsi dibagi menjadi dua yaitu adsorbsi kimia dan adsorbsi fisika. Adsorbsi fisika dimana
interaksi antara adsorben dan adsorbat karena adanya gaya tarik Van Der Waals, adsorbsi
fisika ini biasanya bersifst reversible karena terjadi melalui interaksi yang lemah antara
adseoben dan adsorbat, tidak melalui ikatan kovalen (Mc. Gibe et al. 1999). Mekanisme
adsorbpsi yakni molekul adsorbat berdifusi melalui suatu lapisan batas ke permukaan luar
adsorben, sebagian ada yang teradsorbsi dipermukaan luar. Sebagian besar berdifusi lebih
lanjut ke dalam pori-pori adsorben. Bila kapasitas adsorpsi masih sangat besar, sebagian besar
akan teradsorpsi dan terikat di permukaan, namun bila permukaan sudah jenuh atau mendekati
jenuh dengan adsorbat dapat terjadi dua hal yakni terbentuk lapisan adsorpsi kedua dan
seterusnya diatas adsorbat yang telah terikat dipermukaan, atau yang disebut multilayer. Atau
tidak terbentuk lapisan kedua dan seterusnya sehingga adsorbat yang belum teradsopsi
berdifusi keluar pori dan kembali ke arus fluida (Setyaningsih, 1995).

Mekanisme eceng gondok (Eichhornia crassipes) sendiri dalam penyerapan logam


berat dengan proses fisika dimana logam berat dalam air umumnya bermuatan positif, akar
tanaman eceng gondok (Eichhornia crassipes) bermuatan negatif. Kedua muatan ini saling
tarik menarik, sehingga logam berat akan diakumulasikan dalam akar eceng gondok
(Eichhornia crassipes). Teori ini juga menyatakan pada tumbuhan yang sudah kering dan
mati, akar masih memiliki muatan negatif yang cukup untuk menarik muatan positif dari
logam berat. Johnson (1994), dalam Matagi & Mugabe (1998) menyatakan bahwa eceng
gondok (Eichhornia crassipes) memiliki bulu yang bermuatan listrik yang dapat menarik
partikel-partikel koloid seperti logam berat sehingga dapat menempel di akar. Vakuola dalam
eceng gondok (Eichhornia crassipes) berperan dalam besarnya kemampuan eceng gondok
(Eichhornia crassipes) dalam melakukan penyerapan. Vakuola merupakan rongga-rongga
besar didalam bagian sebuah sel yang berisi cairan vakuola. Cairan vakuola merupakan
kemampuan berbagai bahan organik yang kebanyakan merupakan bahan cadangan makanan
atau hasil samping metabolisme (suardana,2011). Kecepatan penyerapan juga ditentukan oleh
transpirasi dari tumbuhan eceng gondok (Eichhornia crassipes). Tumbuhan eceng gondok
(Eichhornia crassipes) mempunyai kecepatan transpirasi yang lebih besar dibandingkan
dengan tumbuhan lain. Kecepatan transpirasi ini disebabkan karena eceng gondok (Eichhornia
crassipes) mempunyai ukuran lobang stomata yang besar, yakni dua kali lebih besar dari
kebanyakan tumbuhan lainnya (Penfound & Earle 1948, di acu dalam Gopal 1987). Dengan
demikian eceng gondok (Eichhornia crassipes) dapat sebagai adsopsi dalam berbagai macam
limbah, diantaranya ialah dapat mengadsorpsi logam berat serta limbah laundry dengan daya
serap yang besar, oleh karna itu dalam penerapan pengolahan limbah cair laundry
digunakannya tanaman eceng gondok (Eichhornia crassipes).

Teknik pengolahan limbah cair laoundry ini kita menggunakan teknik sistem wetland
dimana air limbah dialiri ke kolam yang berisi eceng gondok (Eichhornia crassipes) dimana
eceng gondok (Eichhornia crassipes) tersebut menyerap zat-zat fosfat yang terdapat pada
limbah laundry, dengan kekuatan daya serap yang akumulasi besar terhadap bahan pencemar
yang dimiliki oleh eceng gondok (Eichhornia crassipes) dan didukung dengan adanya
mikroba-mikroba rhizosfera pada akar, setelah eceng gondok (Eichhornia crassipes) ini telah
menyerap zat-zat fosfat secara maksimal eceng gondok (Eichhornia crassipes) itu akan mati,
dan eceng gondok (Eichhornia crassipes) yang mati tersebut dapat diambil dan di buang,
sehingga air yang telah bersih dari fosfat limbah laundry dapat dimanfaatkan kembali. Skema
dari sistem wetland akan di gambarkan pada gambar 1.1.

Sumber air yang dialirkan Kolam yang Eceng gondok


tercemar limbah berisi eceng melakukan
laundry gondok penyerapan

Air yang telah Eceng gondok


terbebas dari yang teah mati
fosfat diambil
Gambar 1.1 Skema sistem wetland pada eceng gondok.
Referensi

Cut Ananda. 2013. Fitoremediasi Phosfat Dengan Menggunakan Tumbuhan Eceng Gondok
(Eichhorniacrassipes) Pada Limbah Cair Industry Kecil Pencucian Pakaian
(Laundry). Jurnal Institut Teknologi Nasional Vol.1 No.1 (2013)

Ginting, Perdana. 2007. Sistem Pengelolaan Lingkungan dan Limbah Industri. Bandung:
Yrama Widya.

Gopal B. 1987. Water Hyacinth Elsevier. Amsterdam.417 pages.

Ikbal, Setiyono. 2004. Limbah Cair, Permasalahan dan Tekhnologi Pengolahannya In:
Nasional DP, editor. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional

Marianto A. 2001.Tanaman Air. Jakarta: Agromedia Pustaka.

Matagi SV, Mugabe R. 1998. A riview heavy metals removal mechanism in wetlands. J trop.
Hydrobiol. Fish. 8 :23-25.

Mc. Cabe W, Smith J and Pater. 1999. Operasi Teknik Kimia. Jilid 2. Jakarta : Erlangga.

Meutia, A. A., (2001), “Lahan Basah Buatan Untuk Membersihkan Air Sungai Citarum
(Sebuah Gagasan)”, Prosiding Lokakarya “Selamatkan Citarum” Serpong, 10-11
April 2001. Wetland International- Indonesian Programme. pp. 155-156.

Rahimah, Zikri. 2016. Pengolahan Limbah Deterjen Dengan Metode Koagulasi flokulasi
Menggunakan Koagulan Kapur Dan PAC. Journal Konversi, Volume 5 No. 2, Oktober
2016, 52 – 59

RizkiaUtami, Anggi. 2013. Pengolahan Limbah Cair Laundry Dengan MenggunakanBiosand


Filter Dan Activated Carbon. Jurnal Teknik Sipil Untan Volume 13 Nomor 1 – Juni
2013

Rukmi DP, Ellyke, Pujiati Rs. 2013. Efektivitas Eceng Gondok dalam Menurunkan Kadar
Deterjen. BOD. COD pada Air Limbah Laundry. Jurnal Kesmas. Univ Jember.

Saurdana IW.2001. Penggunaan eceng gondok (Eichhornia crassipes (Mart) Solm) sebgai
salah satu teknik pengolahan alternatif air limbah asal rumah pemotongan hewan
(RPH) Kotamadya Bogor. Bogor : Program studi Kesehatan Masyarakat Veteriner,
IPB.
Setyaningsih, H. 1995. Pengolahan limbah batik dalam proses kimia dan adsorpsi karbon aktif.
Jakarta : Program pasca sarjana. Universitas Indonesia.

WasteWater Garden. (2012). Constructed Wetlands to Treat Wastewater: Framework and


Schematic Overview.

Zhang, Y., (2012), “Design of a Constructed Wetland for Wastewater Treatment and Reuse in
Mount Pleasant, Utah”, Master of Landscape Architecture, Utah University.

Zurita, Florentina dkk. (2006). Performance of Laboratory-Scale Wetlands Planted with


Tropical Ornamental Plants to Treat Domestik Wastewater. Water Qual. Res. J.
Canada, Volume 41, No. 4: 410–417.