Anda di halaman 1dari 8

Guideline for Introductory Sentence - Alomedika

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Most ways doctors search information online with google, to ensure doctors will find your articles
it is important we have a strong introductory sentence.

Disease articles
● Pendahuluan
● Patofisiologi
● Etiologi
● Epidemiologi
● Diagnosis
● Penatalaksanaan
● Prognosis
● Edukasi dan Promosi Kesehatan
Drug articles
● Pendahuluan
● Farmakologi
● Formulasi
● Indikasi dan Dosis
● Efek Samping dan Interaksi Obat
● Penggunaan pada Kehamilan dan Ibu Menyusui
● Kontraindikasi dan Peringatan
● Pengawasan Klinis
Procedure articles
● Pendahuluan
● Indikasi
● Kontraindikasi
● Teknik
● Komplikasi
● Edukasi Pasien
● Pedoman Klinis

For long articles (Penyakit, Obat and Tindakan Medis), every section (see list above) needs ​an
introductory sentence​. The introductory sentence needs to contain: section name, disease name, and
explanation. The purpose of this introductory sentence is so when GPs googling the page, they will
understand what the page is about and will be more likely to click and read

Contoh halaman “patofisiologi anemia defisiensi besi”. Kalimat pertama sudah memuat *nama penyakit*
dan *penjelasan* tapi tidak memuat *nama seksi* (patofisiologi).
Untuk halaman penatalaksanaan anemia defisiensi besi, kalimat introduksi sudah memuat *nama seksi*
dan *nama penyakit* (tapi jangan disingkat untuk kalimat introduksi) dan penjelasan.

Please see some examples for introductory sentences for every section:

Penyakit:

Important points:
● For epidemiology, introductory sentence need to be at the beginning, before the heading “global”
● For prognosis, introductory sentence need to be at the beginning before heading “komplikasi”
● Sometimes section “edukasi dan promosi kesehatan” contain only “edukasi” but you still need to
put “dan promosi kesehatan” in the introductory sentence

Azoospermia
Pendahuluan:
Azoospermia didefinisikan sebagai tidak adanya sperma pada ejakulat.
Patofisiologi:
Patofisiologi azoospermia berhubungan dengan proses produksi sperma yang diatur oleh aksis
hipotalamus-pituitari-gonad (HPG)
Etiologi​:
Etiologi azoospermia dibagi menjadi pre-testikular, testikular, dan post-testikular.
Epidemiologi:​ (for epidemiology, introductory sentence need to be at the beginning, before the heading
“global”)
Data epidemiologi menunjukkan bahwa azoospermia merupakan penyebab infertilitas yang cukup tinggi,
10-20% kasus, umumnya azoospermia pre-testikular dan testikular.
Diagnosis​:
Analisis semen merupakan penentu diagnosis azoospermia namun diperlukan juga anamnesis,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang lain untuk menentukan penyebab azoospermia.
Penatalaksanaan​:
Penatalaksanaan pasien dengan azoospermia bergantung pada penyebabnya.
Prognosis: ​(for prognosis, introductory sentence need to be at the beginning before heading
“komplikasi”)
Banyak hal yang menentukan prognosis pasien dengan azoospermia: kondisi komorbid penyakit lain,
penyebab kondisi tersebut dan tata laksana yang dilakukan.
Edukasi dan Promosi Kesehatan
Di level layanan primer. pandangan pasien mengenai infertilitas perlu dirubah melalui edukasi dan
promosi kesehatan.

Difteri
Pendahuluan:
Pertusis (batuk rejan/​whooping cough​) adalah penyakit saluran pernapasan atas akut yang disebabkan
oleh ​Bordetella pertussis​, sebuah bakteri kokobasil gram negatif dengan ​host ​khusus manusia
Patofisiologi​:
Berbeda dengan patofisiologi penyakit infeksi lainnya, patofisiologi pertusis bukan disebabkan oleh
bakteri ​Bordetella pertussis​ sendiri tapi oleh toksin yang dihasilkan, dicirikan oleh limfositosis dan
leukositosis.
Etiologi:
Etiologi Pertusis disebabkan oleh ​Bordetella pertussis​, bakteri kokobasil gram negatif, tidak motil, tidak
berspora, berkapsul
Epidemiologi:
Cakupan imunisasi merupakan penentu tinggi rendahnya epidemiologi pertusis di suatu tempat karena
penyakit ini sangat menular. Epidemiologi pertusis tinggi terutama di negara berkembang dengan
cakupan imunisasi rendah karena pertusis merupakan penyakit yang sangat menular
Diagnosis:
Baku emas diagnosis pertusis menggunakan kultur walau demikian hal ini sulit dilakukan karena idealnya
sampel diambil pada 2 minggu pertama tapi pasien umumnya datang setelah lewat 2 minggu saat gejala
khas pertusis muncul.
Penatalaksanaan:
Penatalaksanaan pada Pertusis umumnya hanya bersifat suportif, walaupun beberapa antibiotik dapat
membantu meringankan penyakit dan memperpendek durasi (jika diminum pada tahap awal)
Prognosis​:
Komplikasi merupakan penentu prognosis pertusis, baik akibat infeksi itu sendiri maupun akibat sekuele
dari gejala batuk, umumnya prognosis lebih buruk pada anak di bawah 3 bulan.
Edukasi dan Promosi Kesehatan​:
Pertusis merupakan penyakit yang sangat menular sehingga penting dilakukan edukasi dan promosi
kesehatan, khususnya terkait imunisasi DPT dan profilaksis pada orang yang kontak dengan pasien.

Gagal napas
Pendahuluan:
Gagal napas merupakan suatu kondisi gawat darurat pada sistem respirasi berupa kegagalan sistem
respirasi dalam menjalankan fungsinya, yaitu oksigenasi dan eliminasi karbon dioksida
Patofisiologi​:
Patofisiologi gagal napas adalah ketidakseimbangan ventilasi dan perfusi paru yang menyebabkan
hipoksemia atau peningkatan produksi karbon dioksida dan gangguan pembuangan karbon dioksida
yang menyebabkan hiperkapnia.
Etiologi:
Etiologi gagal napas dapat dikelompokkan berdasarkan kategori penyakitnya, sebagian etiologi dapat
menyebabkan hipoksemia dan hiperkapnia sekaligus.
Epidemiologi:
Di Indonesia sama sekali belum ada data epidemiologi gagal napas namun secara global, epidemiologi
gagal napas menunjukkan bahwa mayoritas pasien intensif anak mengalami gagal napas.
Diagnosis:
Selain menentukan penyebab, diagnosis gagal napas juga perlu menentukan jenis gagal napas, apakah
hipoksemia, hiperkapnia, atau campuran keduanya.
Penatalaksanaan:
Pada keadaan gawat darurat, penatalaksanaan gagal napas yang penting adalah deteksi dini keadaan
gagal napas, manajemen jalan napas, dan oksigenasi.
Prognosis:
Prognosis pada gagal napas sangat bervariasi, tergantung dari penyebab gagal napas, usia, dan
cadangan fisiologis pada individu sebelum sakit serta ditentukan juga oleh terjadinya komplikasi,
terutama komplikasi akibat terapi.
Edukasi dan Promosi Kesehatan: ​(sometimes this section contain only “edukasi” but you still need to
put “dan promosi kesehatan” in the introductory sentence)
Akibat kondisi yang gawat dan dapat mengalami perburukan sewaktu-waktu, edukasi dan promosi
kesehatan berupa konseling perlu dilakukan segera pada keluarga pasien.

Obat:

Alopurinol
Pendahuluan:
Definisi: ​Alopurinol merupakan agen untuk mengurangi level asam urat dalam tubuh (hiperurisemia).
Farmakologi:
Aspek penting dari farmakologi alopurinol adalah mekanisme kerja dalam menghambat konversi
hipoxantin menjadi asam urat dan resistensi parsial yang dapat dijelaskan melalui 4 mekanisme.
Formulasi:
Formulasi alopurinol yaitu bentuk sediaan oral dan parenteral yang bisa disimpan pada suhu sekitar
25​o​C.
Dosis:
Indikasi utama alopurinol adalah untuk penyakit gout dengan dosis awal dewasa sebesar 100 - 300 mg
sehari
Efek Samping dan Interaksi Obat:
Pemberian alopurinol bisa menimbulkan efek samping yang ringan maupun fatal dan dapat berinteraksi
dengan berbagai obat, salah satu yang harus dihindari adalah kombinasi dengan tegafur karena akan
menghilangkan efek terapi tegafur.
Penggunaan pada Kehamilan dan Ibu Menyusui:
Kategori penggunaan alopurinol pada kehamilan adalah kategori C sehingga perlu digunakan dengan
hati-hati, bagi ibu menyusui alopurinol masih dapat diberikan dengan monitoring.
Kontraindikasi dan Peringatan:
Kontraindikasi alopurinol jika terdapat hipersensivitas terhadap alopurinol, peringatan yang penting
adalah untuk tidak memberikan alopurinol pada kondisi gout akut dan kemungkinan interaksi dengan
berbagai obat.
Pengawasan Klinis:
Status hidrasi serta tanda-tanda hipersensitivitas dan hepatotoksik merupakan hal yang harus mendapat
pengawasan klinis pada pasien yang menerima Alopurinol.

Diazepam
Pendahuluan​:
Diazepam adalah salah satu jenis obat golongan benzodiazepin yang berfungsi sebagai antikonvulsan,
antiansietas, relaksan otot, dan sedatif.
Farmakologi:
Farmakologi diazepam mencakup kerjanya pada reseptor GABA-A, absorbsi, distribusi, metabolisme,
ekskresi, dan resistensi diazepam.
Formulasi:
Formulasi diazepam terkait bentuk sediaan, cara konsumsi, penyimpanan, dan kombinasi dengan obat
lain.
Indikasi dan Dosis:
Indikasi dan dosis diazepam, khususnya sebagai obat untuk prosedur pre operatif dengan dosis intravena
100-200 mg/kg.
Efek Samping dan Interaksi Obat:
Hal yang harus diperhatikan terkait efek samping seperti reaksi anafilaktik dan interaksi obat diazepam,
salah satu yang harus dihindari adalah teofilin karena akan menurunkan efek diazepam.
Penggunaan pada Kehamilan dan Ibu Menyusui:
Kategori penggunaan pada kehamilan kategori D sehingga tidak boleh digunakan kecuali pada situasi
tertentu seperti situasi yang mengancam jiwa, pada ibu menyusui, ditemukan pada ASI sehingga berikan
diazepam kerja cepat (misal alprazolam) atau dosis tunggal.
Kontraindikasi dan Peringatan:
Kondisi terkait kontraindikasi diazepam (misal miastenia gravis) dan kondisi di mana penggunaan
diazepam harus berhati-hati dan mendapat perhatian khusus.
Pengawasan Klinis:
Pengawasan klinis diazepam terhadap fungsi sirkulasi kardiovaskular, pernapasan, dan status mental,
serta tanda-tanda overdosis.

Ipratropium bromida:
Pendahuluan:
Ipratropium Bromida adalah antagonis muskarinik (antikolinergik) yang secara struktur mirip dengan
atropin tetapi memiliki tingkat keamanan yang lebih baik dan lebih efektif pada penggunaan terapi
inhalasi.
Farmakologi:
Mekanisme kerja ipratropium bromida sebagai bronkodilator lokal tanpa efek sistemik merupakan aspek
farmakologi utama.
Formulasi:
Formulasi ipratropium bromida bentuk sediaan inhalasi atau semprot hidung, kombinasi dengan
salbutamol, teofilin, atau sodium kromogilat untuk efek bronkodilatasi yang lebih baik.
Indikasi dan Dosis:
Ipratropium bromida diindikasikan untuk bronkospasme yang berhubungan dengan terapi dengan
pemberian inhalasi pada dewasa sebanyak 3-4 kali sehari dengan dosis 250 - 500 mikrogram.
Efek Samping dan Interaksi Obat:
Ipratropium bromida hanya menimbulkan efek samping lokal, interaksi obat yang harus sangat
diperhatikan adalah interaksi dengan penghambat beta adrenergik serta penghambat MOA dan
antidepresan trisiklik.
Penggunaan pada Kehamilan dan Ibu Menyusui:
Penggunaan pada kehamilan ipratropium bromida termasuk dalam kategori B dan untuk ibu menyusui,
tidak dapat dipastikan adanya bahan aktif ipratropium yang disekresikan melalui ASI.
Kontraindikasi dan Peringatan:
Kontraindikasi untuk penggunaan ipratropium bromida dan peringatan terutama terkait penggunaan
melebihi dosis yang dapat menyebabkan gangguan sistem kardiovaskular hingga kematian dengan
penyebab yang masih belum diketahui.
Pengawasan Klinis:
Secara umum terdapat beberapa hal yang mendapat pengawasan klinis pada penggunaan obat
ipratropium bromida, yaitu penggunaan dengan obat antikolinergik dan penggunaan pada pasien dengan
gangguan fungsi hati atau ginjal.

Tindakan Medis:
Transplantasi Ginjal:
Pendahuluan:
Transplantasi ginjal atau terapi dialisis (hemodialisa) diperlukan ketika ginjal tidak lagi berfungsi karena
ginjal adalah sepasang organ yang memiliki fungsi esensial bagi tubuh.
Indikasi:
Indikasi transplantasi ginjal bagi pasien yang mengalami Gagal Ginjal Kronis atau Tumor Ginjal:
Kontraindikasi:
Terdapat beberapa kontraindikasi pada terapi transplantasi ginjal, baik dari sisi saat tindakan bedah,
faktor imunosupresi, hingga kelainan atau kondisi penyerta lainnya.
Teknik:
Teknik transplantasi ginjal menggunakan teknik operasi heterotopik yaitu ginjal transplan diletakkan di
lokasi yang berbeda dengan ginjal lama yang umumnya tidak diangkat.
Komplikasi:
Komplikasi yang dapat terjadi selama proses transplantasi ginjal adalah sebagai berikut
Edukasi Pasien:
Pasien yang telah dipulangkan paska transplantasi perlu mendapat edukasi pasien untuk memperhatikan
beberapa hal di antaranya sebagai berikut
Pedoman Klinis:
Pedoman klinis terkait transplantasi ginjal meliputi kriteria gagal ginjal kronik untuk transplantasi, sumber
donor, persiapan operasi, kriteria resipien, proses transplnatasi, hingga evaluasi efek samping paska
transplantasi dan edukasi pasien.

Rekonstruksi Payudara:
Pendahuluan:
Rekonstruksi payudara merupakan tindakan medis yang sering dilakukan bersamaan dengan reseksi
payudara pada kanker payudara.
Indikasi:
Indikasi kandidat untuk rekonstruksi payudara adalah pasien dengan payudara yang asimetris setelah
tindakan operasi.
Kontraindikasi:
Kanker dengan metastasis dan risiko anestesi, seperti gangguan kardio-pulmonal yang signifikan
merupakan kontraindikasi untuk rekonstruksi payudara.
Teknik:
Secara umum terdapat tiga metode dasar untuk teknik rekonstruksi payudara yaitu rekonstruksi
menggunakan implan dan ​skin expander​, ​flap​ dan ​graft l​ emak autolog (​lipografting)​ .
Komplikasi:
Menurut metaanalisis oleh Tsoi B, et al. rekonstruksi payudara menggunakan jaringan autolog memiliki
kemungkinan komplikasi kegagalan dan infeksi yang lebih rendah, tetapi lebih tinggi kemungkinan untuk
komplikasi nekrosis kulit/lemak
Edukasi Pasien:
Edukasi yang harus diberikan pada pasien yang telah menjalani rekonstruksi payudara adalah sebagai
berikut:
Pedoman Klinis:
Pedoman klinis yang harus diperhatikan pada tindakan medis rekonstruksi payudara:

EKG:
Pendahuluan:
Pemeriksaan elektrokardiografi atau EKG adalah pemeriksaan yang bertujuan untuk merekam aktivitas
listrik jantung.
Indikasi:
Pemeriksaan EKG diindikasikan pada kondisi berikut:
Kontraindikasi:
Tidak ada kontraindikasi absolut pada tindakan pemeriksaan EKG.
Teknik:
Prosedural pemasangan elektroda merupakan salah satu bagian Teknik EKG yang perlu diperhatikan
untuk memastikan hasil pemeriksaan yang akurat dengan artefak minimal atau tidak sama sekali.
Komplikasi:
Tindakan EKG biasanya tidak menyebabkan terjadinya komplikasi.
Edukasi Pasien:
Karena tindakan EKG membutuhkan ​informed consent,​ edukasi pasien yang diberikan adalah bagian dari
proses ​informed consent​ tersebut.
Pemeriksaan EKG pada Kondisi Khusus:
Beberapa kondisi khusus yang membutuhkan perhatian dalam pemeriksaan EKG adalah:
Pedoman Klinis:
Pedoman klinis terpenting terkait pemeriksaan EKG adalah memastikan kooperasi pasien dan benarnya
prosedural teknik pemeriksaan EKG.
For short focus article, the introductory sentence must consist of keywords from the title. (It’s also
recommended to repeat the keywords along the article as much as possible to boost our google rank)

Example:

The keywords for this article is *diet* dan *penyakit ginjal kronis* so the introductory sentence must
consist of those keywords and the explanation so people will get what the article is talking about just from
the first sentence

Apakah Blue Light Berbahaya?​ (Keywords: Blue light, bahaya)


Saat ini penggunaan gadget dan alat elektronik lainnya membuat isu mengenai bahaya ​blue light​ menjadi
marak dibahas.

Pentingnya Clinical Pathway bagi Fasilitas Kesehatan​ (keywords: clinical pathway, fasilitas
kesehatan)
Clinical pathway atau jalur klinis adalah sebuah pedoman yang digunakan untuk melakukan tindakan
klinis berbasis bukti pada fasilitas layanan kesehatan

Apakah Olahraga dapat Meringankan Gejala Depresi? ​(keywords: olahraga, meringankan gejala
depresi)
Olahraga ternyata tidak hanya bermanfaat untuk penyakit fisik namun pada penyakit jiwa, olahraga dapat
meringankan gejala depresi.

Bagaimana Cara Melakukan Penurunan Dosis Bertahap pada Penggunaan Steroid? ​(penurunan
dosis bertahap, steroid)
Penurunan dosis bertahap pada penggunaan steroid sangat penting namun tidak semua mengetahui
kapan dan bagaimana cara melakukannya.