Anda di halaman 1dari 27

Manajemen Kapal Perikanan

STANDAR KOMPETENSI I
MENENTUKAN DAERAH PENANGKAPAN (FISHING GROUND)

Kompetensi Dasar :
1. Menghitung jarak tempuh pelayaran
2. Menentukan prinsip berlayar yang efektif dan efisien

PENDAHULUAN
Salah satu persiapan dalam merencanakan operasi penangkapan adalah
menentukan daerah penangkapan. Tujuan dan sasaran ikan yang akan
ditangkap juga menjadi satu pertimbangan alat tangkap yang akan digunakan.
Contoh dalam penangkapan udang, maka alat penangkapan yang digunakan
adalah trawl udang (shrimp trawl), sebelum melakukan operasi penangkapan
(setting dan hauling jaring), maka menentukan daerah penangkapan menjadi
faktor yang sangat penting, jika salah maka resiko akan menjadi persoalan.
Menentukan daerah penangkapan udang pertimbangannya bahwa dasar
perairan harus rata, bentuk dasar lumpur atau lumpur berpasir. Jika tidak rata
maka kemungkinan alat tangkap trawl akan mengalami kesulitan bergerak dan
bahkan bisa hilang karena tersangkut perairan yang tidak rata itu. Jadi perlu kita
mengetahui habitat dan behavour, migrasi serta jumlah ikan yang akan
ditangkap.

Sumber: Komjiskan 2006

Big Pelagic Big pelagic Big Pelagic


Small Pelagic Big Pelagic
Small Pelagic Small Pelagic
Demersal Small Pelagic
Demersal Demersal
Shrimp/Penaeid Demersal
Shrimp/Penaeid Shrimp/Penaeid
I
II
Shrimp/Penaeid

VIII

Big Pelagic (tuna) VII

Small Pelagic
Demersal
IX
III
Shrimp/Penaeid V
IV
VI

Big Pelagic (tuna)


Small Pelagic
Big Pelagic
Demersal
Small Pelagic Big Pelagic Big Pelagic Big Pelagic
Shrimp/Penaeid
Demersal Small Pelagic Small Pelagic Small Pelagic
Notes :
Shrimp/Penaeid Demersal Demersal Demersal
= Uncertain
Shrimp/Penaeid Shrimp/Penaeid Shrimp/Penaeid
= Over Fishing
= Fully Exploited
= Moderate
= Not available

Gambar .1. Daerah penangkapan di Perairan Indonesia


Manajemen Kapal Perikanan

1. Menghitung jarak tempuh pelayaran

Maksud dan tujuan perhitungan haluan dan jauh.


Perhitungan ini digunakan untuk memecahkan dua jenis persoalan, ialah :
Soal I : Diketahui : Tempat tolak, haluan dan jauh.
Hitunglah : tempat tiba.

Soal II : Diketahui : Tempat tolak dan tempat tiba.


Hitunglah : Haluan dan jauh.

Tempat tolak = tempat dari mana kapal berlayar (lintang / bujur tolak).

Tempat tiba = tempat di mana kapal tiba – atau ke mana kita ingin pergi.
(lintang / bujur tiba).
Haluan Utara dan Selatan.
Di sini kapal selalu berlayar sepanjang derajah yang sama; jadi bujurnya tidak
berubah. Tetapi hanya berubah dalam lintangnya.
Pada haluan U dan S :

∆ Bu = nol dan ∆ li = jauh

Ku

l1 B
delta li

l0
A

E Q

C
Manajemen Kapal Perikanan

CA = lintang tolak ( l0 )
CB = lintang tiba ( l 1 )
Jadi AB = ∆ li , tetapi AB adalah juga jauh yang ditempuh.

Jika haluannya U / S, maka ∆ li nya juga U / S. artinya; ∆ li adalah


senama dengan haluannya.
Contoh-contoh :
Soal jenis – I
Diketahui : tempat tolak (A) = 120 20’ U – 1010 15’ T.
Haluan = Utara dan j = 158 mil.
Hitunglah : tempat tiba (B)
Jawab : tolak (A) = 120 20’ U – 1010 15’ T.
H = U j = 158’  ∆ li= 2038’ U; ∆ Bu = 00 00’
----------------------------------------------
0
jadi tiba (B) = 14 58’ U - 101 0 15’ T
========================
Soal Jenis – II
Diketahui : tempat tolak (A) = 13 0 18’ U - 103 0 17’ T
Tiba (B) = 12 0 06’ U - 103 0 17’ T
--------------------------------------------
 ∆ li= 1 0 12’ S ∆ Bu = 00 00’

jadi H = Selatan dan J = 72 mil


======================

Gambar

a
e

b
c
d

Tolak
a) Tempat duga (G) = letak kapal yang diperoleh dari perhitungan
haluan dan jauh (pedoman dan topdal);
Manajemen Kapal Perikanan

b) Tempat sejati (S) = letak kapal yang diperoleh dari baringan dan /
atau pengamatan benda angkasa.
c) Peroleh duga = haluan dan jauh langsung dari tempat tolak ke
tempat duga.
d) Peroleh sejati = haluan dan jauh langsung dari tempat tolak ke
tempat sejati.
e) Salah duga = haluan dan jauh dari tempat duga (G) ke tempat
sejati (S).

2. Menentukan prinsip berlayar yang efektif dan efisien

Salah satu penyebab kecelakaan kapal laut yang terjadi di perairan pantai
khususnyua di siang hari adalah karena kelalaian petugas jaga kapal yang
beranggapan bahwa wilayah pantai cukup aman dari bahaya pelayaran karena
beberapa benda darat masih dapat di lihat dengan mata telanjang. Di malam hari
ketika jarak pandang sangat terbatas baik di perairan pantai maupun di laut
lepas, ketika keluar dan masuk pelabuhan, kecelakaan di laut lebih disebabkan
karena para awak kapal yang lalai atau kurang mampu mengggunakan alat
navigasi didalam mencermati keadaan sekeliling kapal, melakukan komunikasi
dan menentukan posisi serta trek pelayaran yang aman untuk dilalui.
Berbagai kondisi di lapangan yang sebenarnya dapat di ketahui dengan
mengoperasiakn alat navigasi elektronik yang dimiliki diatas kapal sehingga
keselamatan pelayaran dapat dicapai. Sebaliknya apabila kemampuan
menggunakan alat navigasi elektronik untuk menentukan posisi tidak dikuasai,
hal ini dapat mengganggu keselamatan pelayaran yang akibatnya dapat
menyebabkan kecelakaan fatal seperti kapal tidak dapat mendeteksi keadaan
disekeliling kapal sehingga terjadi kecelakaan seperti kapal kandas, tubrukan
antar kapal maupun menubruk pulau dan target lain yang pada akhirnya dapat
merugikan harta benda, kapal, dan nyawa manusia. Sedemikian pentingnya
pengetahuan menentukan posisi kapal dengan berbagai cara termasuk dengan
alat navigasi elektronik, maka setiap awak kapal yang bersangkutan bahkan
calon awak kapal harus dibekali dengan seperangkat pengetahuan dan
keterampilan dalam menentukan posisi kapal dengan alat navigasi elektronik
sehingga keselamatan dan kenyamanan pelayaran dapat dicapai.
Manajemen Kapal Perikanan

Navigasi Menurut Dunlap & Shufeldt (1975), berasal dari bahasa


Latin”NAVIS “ yang berarti “kapal” (a ship) dan “AGERE” yang berati
“mengarahkan” (todirect). NAVIGASI adalah suatu proses dalam mengendalikan
kapal dari suatu tempat ketempat tujuan dengan cara yang aman dan efisien.
Jadi Eletronik Navigation adalah mengarahkan dan menentukan posisi kapal
berdasarkan peralatan eletronik, seperti radar, Arpa, GPS, RDF, Loran, Fish
Finder dan Sonar.

Selain penggunaan alat-alat navigasi eletronik dalam menentukan prinsip


berlayar yang efektif dan efisien, perlu juga dipertimbangkan mengenai Besar
biaya yang harus dipikul oleh sebuah kapal yang hendak melakukan operasi
penangkapan ikan, hal ini tergantung dari : Biaya tetap dan biaya yang tidak
tetap artinya biaya tetap itu seperti biaya penyusutan kapal dan alat tangkap,
sedangkan biaya tidak tetap / berubah-ubah itu seperti jumlah bahan bakar,
makanan, dlsb.
Untuk itu besarnya biaya ditentukan seperti jarak tempuh kapal dalam
pelayaran menuju fishing ground, besar mesin penggerak kapal, lama waktu
operasi/trip dan biaya-biaya lainnya. Jika sebuah kapal penangkap ikan dimana
biaya total eksploitasi (TC) yang dikeluarkan sama dengan hasil yang diperoleh
(TR) maka kapal tersebut sudah tidak menguntungkan. Tentu yang menjadi
harapan setiap nelayan yang kelaut keuntungan atau membawa hasil uang.

Tugas 1.
1. Jelaskan hal-hal yang mendasar dalam menentukan daerah
penangkapan (fishing ground)..?
2. Diketahui : tempat tolak (A) = 14 0 28’ U - 103 0 17’ T
0
Tiba (B) = 12 06’ U - 103 0 17’ T
--------------------------------------------
 ∆ li= 2 0 22’ S ∆ Bu = 00 00’
Ditanyakan berapa haluan yang dikemudikan dan jarak tempu pelayaran.?
3. Jelaskan prinsip dasar dalam menentukan pelayaran yang efektif dan
efisien..?
Manajemen Kapal Perikanan

STANDAR KOMPETENSI II
MELAKUKAN MONITORING DAERAH PENANGKAPAN

Kompetensi Dasar :
1. Menentukan daeah penangkapan dan Menggunakan radio komunikasi
sesuai dengan prosedur
2. Monitoring dan Melakukan pencatatan jenis dan jumlah hasil tangkapan

Monitoring daerah penangkapan adalah sangat penting dalam upaya


untuk meningkatkan hasi tangkapan. Karena dengan monitoring maka pada
setiap musim ikan dapat diprediksikan perkiraan daerah penangkapan. Oleh
sebab itu kegiatan antara monitoring dan laporan daerah penangkapan itu harus
dilakukan dan wajib bagi setiap kapal penangkap ikan yang melakukan operasi
penangkapan.

1. Menentukan daerah penangkapan ikan (fishing ground)

 Secara garis besar alat tangkap dapat dibedakan dari segi kemampuan
usaha (permodalan), jangkauan area penangkapan serta jenis alat penangkap
yang digunakan. Demikian pula bahwa nelayan yang merupakan sumberdaya
utama dalam melakukan kegiatan operasi dapat dibedakan pula antara nelayan
skalla kecil (small scale fishery), skalla menengah (medium scale fishery) dan
nelayan skalla besar (large scale fishery). Diperkirakan jumlah alat tangkap yang
dioperasikan oleh nelayan Indonesia mencapai 250 jenis, dari jumlah ini 90%
adalah merupakan alat penangkap ikan tradisional, sedangkan sisanya dapat
dikatagorikan sebagai alat penngkap modern atau semi modern.
Timbulnya banyak jenis alat tangkap tersebut karena lautan Indonesia yang
beriklim tropis, kondisi dan topografi dasar perairan daerah satu dengan yang
lainnya berbeda-beda. Secara umum kegiatan usaha penangkapan terhadap
jenis-jenis sumberdaya perikanan dapat dikemukakan sebagai berikut :
 Untuk udang
 Untuk ikan tuna dan sejenisnya serta ikan pelagis besar lainnya
 Untuk ikan pelagis kecil
Manajemen Kapal Perikanan

 Untuk ikan demersal


 Untuk ikan dan biota perairan karang

1.1. Pukat ikan atau fish net  


Pukat Ikan atau Fish Net adalah jenis penangkap ikan berbentuk kantong
bersayap yang dalam operasinya dilengkapi (2 buah) papan pembuka mulut
(otter board), tujuan utamanya untuk menangkap ikan perairan pertengahan (mid
water) dan ikan perairan dasar (demersal), yang dalam pengoperasiannya ditarik
melayang di atas dasar hanya oleh 1 (satu) buah kapal bermotor.
Daerah Operasi
Pukat ikan hanya diizinkan pengoperasiannya di Wilayah Perairan Zona
Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) Laut Cina Selatan, ZEEI Laut Arafura, ZEEI
Samudera Hindia, dan ZEEI Selat Malaka.

 1.2. Pukat udang  


Pukat udang adalah jenis jaring berbentuk kantong dengan sasaran
tangkapannya udang. Jaring dilengkapi sepasang (2 buah) papan pembuka
mulut jaring (otter board) dan Turtle Exchuder Device/TED (Alat pemisah/untuk
meloloskan penyu), tujuan utamanya untuk menangkap udang dan ikan dasar
(demersal), yang dalam pengoperasiannya menyapu dasar perairan dan hanya
boleh ditarik oleh satu kapal motor. 
Daerah Operasi  
Pukat udang dapat dipergunakan menangkap udang di perairan
kepulauan Kei, Tanimbar, Aru, Irian Jaya dan laut Arafura dengan batas
koordinat 130 ° BT ke timur kecuali di perairan pantai dari masing-masing pulau
tersebut yang dibatasi oleh garis isobat 10 (sepuluh) meter.

 1.3. Pukat cincin  


Pukat cincin atau jaring lingkar (purse seine) adalah jenis jaring
penangkap ikan berbentuk empat persegi panjang atau trapesium, dilengkapi
dengan tali kolor yang dilewatkan melalui cincin yang diikatkan pada bagian
bawah jaring (tali ris bawah), sehingga dengan menarik tali kolor bagian bawah
jaring dapat dikuncupkan sehingga gerombolan ikan terkurung di dalam jaring. 
Daerah Operasi  
Manajemen Kapal Perikanan

Pukat cincin hanya diijinkan pengoperasiannya di perairan wilayah


tertentu dan Perairan ZEEI Laut Sulawesi, ZEEI Samudera Pasific dan ZEEI
Samudera Hindia.

 1.4. Jaring insang  


Jaring insang atau Gill net adalah alat penangkap ikan berupa lembaran
jaring berbentuk empat persegi panjang, pada bagian atasnya dilengkapi tali ris
dan pelampung sedangkan bagian bawah dilengkapi dengan tali ris dan
pemberat (tapi ada juga yang tanpa ris bawah, dan pemberatnya dapat juga
berupa beberapa baris mata jaring yang terbuat dari saran/coplymers PVD;
dioperasikan di lapisan permukaan, pertengah-an atau dasar perairan arus laut.
Daerah Operasi  
Daerah operasi jaring insang menyebar hampir di seluruh perairan
Indonesia.

1.5 Tuna long line  


Tuna Long line (Rawai Tuna) adalah alat penangkap ikan yang
dioperasikan secara horizontal di lapisan permukaan laut (50-400 meter), terdiri
atas tali utama (main line) yang pada jarak tertentu diikatkan/digantungkan tali-
tali cabang (brenh line ) yang pada ujung tali-tali cabang tersebut diikatkan
pancing. Pada tiap antara 5-15 tali cabang dilengkapi dengan pelampung satuan
yang digunakan antara dua pelampung tersebut disebut basket.
Daerah Operasi  
Tuna Long Line (Rawai Tuna) hanya diizinkan pengoperasiannya di
perairan wilayah tertentu dan perairan ZEEI Samudera Hindia, ZEEI Laut
Sulawesi, ZEEI Samudera Pasifik..

1.6. Rawai dasar atau bottom ling line  


Ada beberapa jenis pancing rawai dasar, salah satu diantaranya adalah
rawai hiu botol. Rawai ini mempunyai mata pancing yang banyak yang
digantungkan pada suatu tali yang panjang (main line) melalui tali penghubung
yang disebut tali cabang (branch line). Agar mata pancing dapat berada
disekitar dasar perairan secara menetap maka alat ini dilengkapi dengan
pemberat dan pelampung yang maksudnya agar tali utama yang menjadi
gantungan pancing (tali cabang) menetap pada posisi dan kedalaman tertentu.
Karena tali cabang relatif pendek yaitu (sekitar 5-10 m) maka untuk menjamin
mata pancing berada di sekitar dasar, tali pelampung relatif panjang sesuai
dengan kedalaman perairan tempat operasi. 
Manajemen Kapal Perikanan

Daerah Operasi  
Pancing Rawai dasar dapat dioperasikan pada semua wilayah perairan
territorial Indonesia, dan wilayahnya operasinya pada Jalur I, II, dan III.
 
1.7. Huhate atau Pole and line  
Huhate atau Pole and Line adalah jenis alat pancing penangkap ikan yang
terdiri dari bambo sebagai joran/tongkat dan tali sebagai tali pancing. Pada tali
pancing ini dikaitkan mata pancing yang tidak berkait. Penggunaan mata
pancing yang tidak berkait dimaksudkan agar ikan yang ditangkap dapat mudah
lepas.
Daerah Operasi  
Huhate hanya diijinkan pengoperasiannya di perairan wilayah tertentu dan
ZEEI Laut Sulawesi dan ZEEI Samudera Pasifik.

 2. Monitoring dan Melakukan pencatatan jenis dan jumlah hasil


tangkapan

A. Identifikasi hasil tangkan ikan berdasarkan alat tangkap yang digunakan


(gambar)
1. Alat tangkap Purse seine

2. Alat tangkap Pole and line

3. Alat tangkap Long line


Manajemen Kapal Perikanan

4. Alat tangkap Trawl

5. Alat tangkap Bubu dan Gillnet

1.1. Pukat ikan atau fish net  


Hasil tangkapan utama Pukat Ikan adalah jenis-jenis ikan yang hidup di
perairan pertengahan. Sebagai hasil sampingan kadang-kadang tertangkap
juga ikan demersal terutama pada saat tertentu dimana ikan demersal sedang
melakukan migrasi vertical (diurnal migration).

 1.2. Pukat udang  


Hasil tangkapan utama Pukat Udang adalah jenis-jenis udang seperti
udang putih (P. indicus, P merguiensis), udang krosok (metapenolopsis Sp)
udang bago (P. monodon) dan jenis ikan sampingan berupa ikan-ikan demersal
antara lain Petek (Leugnatus Sp), Kuniran (upeneaus Sp).

 1.3. Pukat cincin  


Hasil tangkapan utama Pukat Cincin adalah jenis-jenis ikan yang hidup
bergerombol di perairan permukaan (pelagis) seperti pelagis kecil (kembung,
selar, lemuru dan ikan lainnya) dan perairan pertengahan pelagis besar
(cakalang, tuna dan jenis ikan lainnya).
Manajemen Kapal Perikanan

 1.4. Jaring insang  


Hasil tangkapan Gill net permukaan berupa jenis-jenis ikan pelagis, untuk
gill net dasar hasil tangkapannya berupa jenis-jenis ikan demersal.
 
1.5 Tuna long line  
Hasil tangkapan utama Tuna Long Line ialah jenis ikan tuna dan jenis-
jenis ikan pelagis besar lainnya yang hidup di perairan permukaan, perairan
pertengahan dan perairan dalam seperti tuna setuhuk hitam, setuhuk putih, alu-
alu, layaran, ikan pedang, lemadang dan cucut.

1.6. Rawai dasar atau bottom ling line  


Hasil tangkapan utama dari Pancing rawai dasar adalah jenis-jenis ikan
yang hidup didasar perairan. Sebagai hasil sampingan kadang-kadang
tertangkap juga ikan pelagis kecil terutama pada saat tertentu dimana ikan
pelagis sedang melakukan migrasi..

1.7. Huhate atau Pole and line  


Hasil tangkapan utama Huhate adalah ikan cakalang.

Tugas 2.
1. Jelaskan mengapa kegiatan monitoring daerah penangkapan sangat
penting dilakukan..?
2. Sebutkan dan jelaskan alat tangkap yang digunakan untuk menangkap
ikan dan daerah penangkapannya..?
3. Jelaskan jenis-jenis hasil tangkapan ikan dengan menggunakan berbagai
macam jenis alat tangkap..?
Manajemen Kapal Perikanan

STANDAR KOMPETENSI III


MEMBUAT LAPORAN KONDISI FISHING GROUND DAN HASIL
PENANGKAPAN

Kompetensi Dasar :
1. Membuat laporan posisi kapal di fishing ground
2. Membuat laporan hasil tangkapan secara periodik

1. Membuat laporan posisi kapal difishing ground

Setiap perusahan perikanan mempunyai bentuk dan sistem yang


berbeda-beda. Artinya bahwa laporan hasil tangkap misalnya harus segera
dillaporkan sesuai bentuk laporan yang telah disediakan oleh instansi, dimana
satu dengan yang lain mempunyai bentuk laporan sendiri.
Pada umumnya isi dari laporan hampir mempunyai kesamaan antara
perusahaan perikanan yang satu dengan yang lainnya. Didalam laporan daerah
dan hasil tangkapan ikan itu antara lain yang penting adalah : Nama kapal, posisi
lintang dan bujur setting dan hauling, jenis dan berat ikan yang tertangkap, cuaca
juga perlu disampaikan, jumlah alat tangkap yang dioperasikan (hook rate).
Berhasil atau tidaknya tiap usaha penangkapan ikan dilaut pada dasarnya
adalah bagaimana mendapatkan daerah penangkapan (fishing ground),
gerombolan ikan (populasi), dan keadaan potensinya, untuk kemudian dilakukan
operasi penangkapannya. Beberapa cara untuk mendapatkan (mengumpulkan)
kawanan ikan sebelum penangkapan dilakukan ialah menggunakan alat bantu
penangkapan (fish agregating device, fish lure) atau biasa disebut ”rumpon” dan
”sinar lampu (fish fishery).
Disebut alat bantu penangkapan karena membantu untuk mengumpulkan ikan
pada suatu tempat dan jika ikan telah terkumpul kemudian dilakukan operasi
penangkapan ikan. Perbedaan kedua alat bantu penangkapan terbut adalah
ditinjau dari fungsi dimana rumpon dipergunakan untuk penangkapan siang hari,
sedangkan lampu dipergunakan penangkapan malam hari, terutama pada bulan
gelap sebab pada waktu bulan terang cahaya sinar lampu kurang berperan
Manajemen Kapal Perikanan

artinya cahaya lampu tidak terpusat pada satu titik dengan radius tertentu
sehingga ikan-ikannya tersebar atau tercerai berai.

A. Membuat laporan posisi kapal di fishing ground

FORMAT MEMBUAT LAPORAN POSISI KAPAL DI FISHING GROUND

NAMA KAPAL : KM. ……

ALAT TANGKAP : …….


POSISI KAPAL WAKTU HASIL
N HARI DAERAH FISHING WAKTU OPERASI
OPERASI TANGKAPAN KETERANGAN
O TANGGAL GROUND
SETTING HAULING SETTING HAULING (Kg)
                 
 

               
                 

                 
                 

                 

B. Membuat laporan posisi daerah fishing ground

FORMAT LAPORAN POSISI DAERAH FISHING GROUND

NAMA KAPAL : KM.


ALAT TANGKAP :
DAERAH POSISI DAERAH FISHING JARAK KEC. WAKTU KEB
DAERAH GROUND HALUAN
NO FISHING TEMPUH KAPAL TEMPU BBM KET
PANGKALAN KAPAL
GROUND LINTANG BUJUR (MIL) (KNOT) (JAM) (LITER)
                     
                     

               

     
                     
                     
                     
Manajemen Kapal Perikanan

                     
C. Membuat laporan hasil tangkapan ikan berdasarkan jenis alat tangkap

1. LAPORAN JENIS-JENIS HASIL TANGKAPAN IKAN PURSE SEINE


NAMA KAPAL :
ALAT TANGKAP : MINI PURSE SEINE

NO HARI/TANGGAL JENIS IKAN JUMLAH (Kg) KETERANGAN


  1. Cakalang    
  2. Layang    
  3. Deho    
    4. Kembung    
  5. Selar    
  6. Lain-lain    
  TOTAL    

2. LAPORAN JENIS-JENIS HASIL TANGKAPAN IKAN LONG LINE


NAMA KAPAL :
ALAT TANGKAP : LONG LINE

NO HARI/TANGGAL JENIS IKAN JUMLAH (Kg) KETERANGAN


  1. Yellowfin Tuna    
  2. Big aye Tuna    
  3. Madidihang    
    4. Cucut    
  5. Marlin    
  6. Dan lain-lain    
  TOTAL    

3. LAPORAN JENIS-JENIS HASIL TANGKAPAN IKAN TRAWL


NAMA KAPAL :
ALAT TANGKAP : TRAWL

NO HARI/TANGGAL JENIS IKAN JUMLAH (Kg) KETERANGAN


  1. Udang krosok    
  2. Udang raja    
  3. Udang tiger    
    4. Udang banana    
  5. Dan lain-lain    
       
  TOTAL    

4. LAPORAN JENIS-JENIS HASIL TANGKAPAN IKAN POLE AND LINE


NAMA KAPAL :
ALAT TANGKAP : POLE AND LINE

NO HARI/TANGGAL JENIS IKAN JUMLAH (Kg) KETERANGAN


    1. Cakalang    
  2. Baby Tuna    
  3. Tongkol/komo    
  4. Dan lain-lain    
Manajemen Kapal Perikanan

       
  TOTAL    

B. Membuat laporan hasil proccesing


1. LAPORAN HASIL PROCCESING TANGKAPAN IKAN (FROZEN/BEKU)
ALAT TANGKAP LONG LINE
HARI/TANGGAL :
KUALITAS (Kg) JUMLAH KETERANGAN
NO JENIS IKAN SIZE
Gride A Gride B Lokal
10 Down          
11 = 15          
16 - 20          
1 Yellowfin Tuna 21 - 25          
26 - 30          
31 - 35          
35 Up          

    Total          
2. LAPORAN HASIL PROCCESING TANGKAPAN IKAN (FROZEN/BEKU)
ALAT TANGKAP PURSE SEINE
HARI/TANGGAL :
KUALITAS (M/C) JUMLAH KETERANGAN
NO JENIS IKAN SIZE
Gride A Gride B Lokal
41 Down          
41 - 45          
46 -50          
51 - 55          
56 - 60          
61 - 65          
66 - 70          
1 Layang 71 - 75          
76 - 80          
81 - 85          
86 - 90          
90 - 100          
101 - 110          
111 - 120          
120 Up          

    Total          
Keterangan :
M/C : Master Carton ( 1 M/C = 10 Kg)

Tugas 3.
1. Membuat laporan data kapal di fishing groung berdasarkan format yang
telah dipelajari..?
2. Membuat data hasil tangkapan berdasarkan format laporan data hasil
tangkapan sebelumnya..?
Manajemen Kapal Perikanan

STANDAR KOMPETENSI IV
MENGIDENTIFIKASI ASPEK UMUM HUBUNGAN ANTAR MANUSIA DI
KAPAL

Kompetensi Dasar :
1. Mengidentifikasi masalah-masalah sosial, perilaku kelompok dan
terjadinya konflik sosial dikapal

1. Mengidentifikasi masalah-masalah sosial, perilaku kelompok dan


terjadinya konflik sosial dikapal

Dalam suatu kehidupan bersama atau kelompok dalam suatu daerah atau
tempat tentu diperlukan suatu kehidupan yang satu dengan yang lain
mengadakan suatu hubungan dalam suatu kepentingan yang sama. Hubungan
atau interaksi antar kehidupan manusia perlu ada satu norma norma atau
kaidah-kaidah yang harus disepakati bersama. Dengan suatu komitmen bersama
dalam membangun suatu hubungan dimaksudkan agar tidak timbul
permasalahan yang dapat menggangu hubungan yang telah dijalin bersama.
Beberapa aspek umum dalam hubungan antar manusia antara lain :
1. Aspek kepentingan bersama
Hubungan antar manusia yang dikoordinir itu adalah hubungan dalam satu
kelompok yang sama jenis (wanita, pria, pengusaha, dll). Dari hubungan ini
akan menjadi suatu kekuatan dalam membangun ketentraman dan saling
melengkapi, saling memberi, saling mengasihi, saling peduli, dll.
2. Aspek sosial
Didalam kehidupan manusia diatas muka bumi pasti ada yang kaya dan ada
yang kurang mampu. Ada manusia yang pintar dan ada yang kurang pintar,
dlsb. Oleh sebab itu dalam hubungan antar manusia akan didapatkan
pengaruh terhadap yang kurang mampu menjadi lebih giat untuk
mendapatkan suatu perubahan yang meningkat. Demikian juga akan terjadi
motivasi dan semangat untuk menjadi orang yang pintar.
3. Aspek kejiwaan
Manajemen Kapal Perikanan

Karena kekurangannya manusia akan berubah sifat dan karakternya, merasa


tidak ada gunanya bahkan merasa dirinya tidak layak untuk mengadakan
hubungan dengan orang lain.
4. Aspek ekonomi
Hubungan antar manusia dapat terjadi karena tingkat ekonomi yang sama,
seperti satu hubungan antar pengusaha
5. Aspek budaya
Hubungan antar manusia dapat terjadi karena mempunyai latar belakang
budaya dan suku yang sama, dapat lebih fleksibel dan mempertahankan
budaya nenek moyang kita.
6. Aspek saling melindungi
Didalam hubungan manusia bermasyarakat pasti ada benturan-benturan atau
konflik yang terjadi. Konflik dapat terjadi karena lepas dari komitmen yang
telah disepakati, bahkan keluar dari norma dan kaidah yang ada.Tapi
semuanya boleh terjadi namun pada akhirnya konflik yang terjadi dapat
diselesaikan bahkan pada saat yang akan datang akan lebih baik lagi dan
konflik itu tidak akan kembali.

Beberapa pandangan penting yang harus diperhatikan bila kita


menginginkan manajemen kapal penagkap ikan dapat berlangsung dengan baik
harus mempertimbangkan antara lain :
1. Pendekatan sumberdaya manusia
Martabat dan kepentingan hidup manusia hendaknya tidak diabaikan agar
kehidupan mereka layak dan sejahtera. Dengan memperhatikan akan
kehidupan mereka layak dan sejahtera maka tidak akan menggangu tugas-
tugas bagi setiap manusia yang terlibat dalam kegiatan operasi
penangkapan.

2. Pendekatan manajerial
Kerja sama antar departemen yang terkait dalam melakukan tugastugas
dalam suatu organisasi sangat diperlukan, dimana satu dengan yang alin
saling memenuhi, melengkapi bahkan saling mengoreksi. Pendegelasian
tugas dan tanggung jawab bagi setiap manajer terhadap bawahannya sangat
diperlukan, yang pada akhirnya diharapkan pengoperasian kapal penangkap
ikan dapat mencapai tujuan.

3. Pendekatan sistem
Manajemen Kapal Perikanan

Secara umum sistem yang dimaksud adalah organisasi yang merupakan


sistem yang lebih besar, oleh karena itu manajemen suatu organisasi harus
dievaluasi dengan kreteria besarnya konstribusi yang dibuat oleh organisasi.
Model manajemen diperlukan suatu sistem yang terbuka dimana masing-
masing bagian atau departemen saling berhubungan. Masing-masing bagian
saling mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan eksternal.

4. Pendekatan proaktif
Manajemen meningkatkan konstribusinya kepada para karyawan, kemudian
manajer dan organisasi melalui antisipasinya terhadap masalah-masalah
yang akan timbul. Bila hal ini tidak dilakukan, maka upaya-upaya reaktif perlu
diambil, dan ini berarti pemecahan masalah-masalah menjadi lebih sulit dan
perusahaan bisa kehilangan berbagai kesempatan

5. Pendekatan prioritas
Manajemen selalu dan senantiasa diperhadapkan pada suatu persoalan yang
sulit jika muncul beberapa masalah yang bersamaan, inilah saatnya pihak
manajemen harus mengambil keputusan yang bijak dengan memperhatikan
tingkat prioritas penyelesaiannya. Jika hal ini dilakukan dengan bijaksana
maka organisasi dan seluruh sistem akan berjalan dengan lancar.

Tugas 4.
1. Sebutkan dan jelaskan Beberapa aspek umum dalam hubungan antar
manusia..?
2. Sebutkan dan jelaskan Beberapa pandangan penting yang harus
diperhatikan bila kita menginginkan manajemen kapal penagkap ikan
dapat berlangsung dengan baik..?
Manajemen Kapal Perikanan

STANDAR KOMPETENSI V
MENERAPKAN HUBUNGAN SOSIAL DALAM LINGKUNGAN KERJA

Kompetensi Dasar :
1. Mengidentifikasi aspek sosial

Diatas kapal terdapat suatu kehidupan yang diciptakan oleh manusia


( ABK ) yang mempunyai suatu kepentingan yang sama. Oleh karena itu aspek
kepentingan bersama harus selalu ditimbuhkan ibaratnya seperti satu tubuh, jika
salah satu anggota terganggu maka anggota yang lain akan merasa terganggu
juga. Oleh sebab itu, rasa memiliki dan melindungi satu dengan yang lain juga
dipelihara, jangan sampai pudar.
Prestasi kerja atau hasil kerja di kapal tidak nampak kerja yang sifatnya
individual tapi oleh karena satu team. Keberhasilan suatu kerja akan
mempengaruhui hasil yang diperoleh, jika hasil kerja meningkat maka tingkat
sosialnyapun akan meningkat. Untuk mendapatkan tenaga kerja yang baik dan
berkualitas tentu melalui seleksil. Dalam kelompok ABK ini telah terseleksi
sebelumnya ( jika akan menjadi crew kapal dilakukan ujian-ujian tingkat profesi,
bahkan kemampuan menjadi ABK). Jika kemampuan profesi telah teruji tentu
berdampak pada hasil kerja yang baik pula. Dengan peningkatan kemampuan
maka akan terjadi peningkatan status yang berdampak pada kehidupan
sosialnya. Sebaiknya hindarkan terjadi pengelompokan karena kehidupan
sosialnya, ini akan berdampak pada prestasi kerja dan bahkan rawan konflik.

Seperti banyak yang kita lihat bahwa dilingkungan kerja dapat terjadi
karena hubungan sosialnya. Misalnya di dalam lingkungan kerja didirikan
koperasi, dimana sudah banyak mengetahui bahwa koperasi tiu adalah
merupakan tempat berhubungan satu dengan yang lain dalam kepentingan yang
bersama-sama. Jika bekerja tidak merubah tingkat sosialnya maka lebih baik
mencari tempat kerja yang lain.

Manajemen sebetulnya sudah ada sejak berabad-abad yang lalu, artinya sejak
adanya pembagian kerja dan adanya tujuan bersama diantara sekelompok orang
Manajemen Kapal Perikanan

yang tergabung dalam suatu ikatan formal, dengan demikian dapat kita lihat
dengan jelas dasar manajemen itu adalah :
1. Adanya kerjasama diantara sekelompok orang dalam ikatan formal
2. Adanya tujuan bersama serta kepentingan yang sama yang akan dicapai
3. Adanya pembagian kerja, tugas dan tanggung jawab yang teratur
4. Adanya sekelompok orang dan pekerjaan yanga akan dilakukan.
5. Adanya human organization

Tugas 5.
1. Coba saudara berikan contoh lingkungan kerja dapat terjadi karena
hubungan sosialnya..?
2. Manajemen sebetulnya sudah ada sejak berabad-abad yang lalu, artinya
sejak adanya pembagian kerja dan adanya tujuan bersama diantara
sekelompok orang yang tergabung dalam suatu ikatan formal, dengan
demikian dapat kita lihat dengan jelas dasar manajemen, sebutkan dasar-
dasar manajemen tersebut..?
Manajemen Kapal Perikanan

STANDAR KOMPETENSI VI
MENERAPKAN KEPEMIMPINAN DIATAS KAPAL PERIKANAN

Kompetensi Dasar :
1. Mengidentifikasi Sistem kepemimpinan di atas kapal
2. Melaksanakan Tugas dan Tanggungjawab di Dalam Organisasi
3.

Seorang pemimpin harus mempunyai keinginan untuk memimpin dan


menetapkan standar prestasi yang lebih besar bagi dirinya sendiri. Pemimpin
(eksekutif,manajer,ketua) adalah orangnya, sedangkan kepemimpinan/
leadership adalah gaya dalam melakukan tugas-tugasnya. Jadi pemimpin adalah
seorang yang mempergunakan wewenang dan kepemimpinannya untuk
mengarahkan orang lain serta bertanggung jawab atas pekerjaan orang tersebut
dalam mencapai suatu tujuan

Fungsi-fungsi Kepemimpinan
1. Mengambil Keputusan
2. Mengembangkan kesetiaan pengikutnya
3. Pemrakarsaan, penggiatan dan pengendali rencana
4. Pelaksanaan keputusan dengan memberikan dorongan kepada para
pengikutnya
5. Mempertanggung jawabkan semua tindakannya kepada pemilik,
karyawan dan kepada pemerintah
6. Melaksanakan kontrol dan perbaikan-perbaikan atas kesalahan
7. Memberikan tanda penghargaan
8. Mendelegasikan wewenang kepada bawahannya
9. Mengambil Keputusan
10. Mengembangkan kesetiaan pengikutnya
11. Pemrakarsaan, penggiatan dan pengendali rencana
12. Pelaksanaan keputusan dengan memberikan dorongan kepada para
pengikutnya
13. Mempertanggung jawabkan semua tindakannya kepada pemilik,
karyawan dan kepada pemerintah
Manajemen Kapal Perikanan

14. Melaksanakan kontrol dan perbaikan-perbaikan atas kesalahan


15. Memberikan tanda penghargaan
16. Mendelegasikan wewenang kepada bawahannya

Geoge R.Terry ; 8 ciri dari pemimpin, yaitu :


1. Energi, ; Mempunyai kekuatan mental dan fisik
2. Stabilitas emosi : Tidak boleh berprasangka jelek terhadap bawahannya,
ia tidak boleh cepat marah dan percaya pada diri sendiri harus cukup
besar
3. Human relationship : Mempunyai pengetahuan tentang hubungan
manusia
4. Personal motivation : Keinginan untuk menjadi pemimpin harus besar dan
dapat memotivasi diri sendiri
5. Communicatin skill : mempunyai kecakapan untuk berkomunikasi
6. Teaching skill : mempunyai kecakapan untuk mengajarkan, menjelaskan
dan mengembangkan bawahannya
7. Social skill : Mempunyai keahlian dibidang sosial, supaya terjamin
kepercayaan dan kesetiaan bawahannya. Ia harus suka menolong,
senang jika bawahannya maju, peramah serta luwes dalam pergaulan
8. Technical competent : Mempunyai kecakapan menganalisa,
merencanakan, mengorganisasi, mendelegasikan wewenang, mengambil
keputusan dan mampu menyusun konsep.

1.1. Pengertian-pengertian :
 Nahkoda adalah pemimpin tertinggi dikapal dan juga pemegang
kewibawaan umum diatas kapalnya.
 Nakhoda/skipper adalah seseorang yang telah menandatangani perjanjian
kerja laut dengan pengusaha kapal sebagai Nakhoda, memenuhi syarat
sebagai nakhoda tercantum dalam halaman “Sijil Anak Buah Kapal”
sebagai Nakhoda ditandai dengan mutasi dari perusahaan dan
pencantuman namanya dalam Surat Laut (KUHD pasal 377,SOSV 1935).
 Pengusaha adalah seorang atau Badan Hukum, yang mengusahakan
kapal untuk pelayaran di laut, dengan melakukan sendiri atau menyuruh
orang lain melakukan pelayaran itu sebagai Nahkoda.
 Pelayar adalah semua orang yang berada di kapal, kecuali Nakhoda.
Manajemen Kapal Perikanan

 Awak kapal adalah semua orang yang berada di atas kapal, misalnya
Nakhoda, Perwira, Bawahan atau Supercargo.
 Penumpang adalah semua orang yang berada si atas kapal, kecuali awak
kapal atau pekerja-pekerja yang bekerja sementara untuk pemeliharaan
kapal atau bongkar muat atau orang-orang titipan atau tertinggal di atas
kapal karena hal-hal terduga.
 Anak buah kapal adalah semua awak kapal kapal kecuali Nakhoda.
 Perwira adalah para awak kapal yang tercantum sebagai perwira dalam
Sijil Anak Buah Kapal.
 Bawahan adalah awak kapal lainnya kecuali supercargo.
 Serang adalah kepala kerja anak buah deck dan berada di bawah perintah
Mualim 1.
 Mishi adalah salah satu anak buah deck dan bekerja bersama yang
lainnya di bawah pimpinan serang.
 Kasab Deck adalah salah seorang anak buah deck bersama yang lain di
bawah pimpinan Serang.
 Kelasi adalah anak buah kapal yang terendah pangkatnya.
 Sijil anak buah kapal (Monsterol) suatu buku yang merupakan daftar dari
anak buah kapal lengkap dengan catatan mutasi secara individu anak
buah kapal dan disyahkan oleh Sahbandar.
 Sijil anak buah kapal adalah buku yang halaman depannya berisi : nama
kapal, pemilik kapal, pengusaha kapal, serta nama Nakhoda. Nama
Nakhoda ini tercantum dalam suatu kolom daftar nama Nakhoda sebagai
persiapan untuk penggatian Nakhoda.

Personil yang tercantum dalam sijil yaitu :


 Nakhoda
 Anak Buah Kapal (Perwira dan Bawahan)
 Supercargo
 Pedagang atau Pengusaha

Jabatan “Senior” di atas kapal perikanan


• Nakhoda (Skipper),
• Perwira (Mate/Officer) dan
• Kepala Kamar Mesin (Chief Engineer)
• Perwira Radio (Radio Operator)
Manajemen Kapal Perikanan

 Di atas kapal Nahkoda yang menjadi kepala dari semua perwira dan ABK
lainnya.
 Perwira dan awak kapal adalah pembantu Nakhoda dan melaksanakan
pekerjaan untuk hari-hari di kapal.
 Agar pekerjaan dapat berjalan lancar,maka diadakan pembagian
pekerjaan, untuk itu personil kapal dibagi dalam beberapa bagian yang
mempunyai tugas dan pekerjaan tertentu serta dikepalai oleh seorang
kepala bagian/kepala kerja.

Pada umumnya awak kapal (niaga) dibagi 4 bagian, yaitu :


1) Bagian Deck
2) Bagian Mesin
3) Bagian Radio
4) Bagian Provian (Bagian Perlengkapan dan Pemakanan)

I. Bagian Deck
Anggota Personil Bagian Deck :
1. Muallim 1 (Chief Officer)
2. Muallim 2
3. Muallim 3
4. Mualim 4
5. Kadit Deck
6. Serang
7. Mishi
8. Kasad Deck
9. Juru Mudi
10. Kelasi
II. Bagian Kapal Mesin
Anggota personil kamar mesin :
1. Kepala Kamar Mesin (KKM / chief engine)
2. Masinis 1
3. Masinis 2
4. Masinis 3
5. Masinis 4 & Masinis 5
6. Kadit mesin
7. Juru Listrik
8. Mandor Listrik
9. Kasad Mesin
Manajemen Kapal Perikanan

10. Juru Minyak (Oiler)


11. Wiper
III. Bagian Radio
Personil bagian radio :
1. Perwira Radio Satu
2. Perwira Radio Dua

IV. Bagian Provian (Bagian Perlengkapan dan Pemakanan)


Personil provian :
1. Kepala Pemakanan
2. Koki
3. Pelayan

2. Melaksanakan Tugas dan Tanggungjawab di Dalam Organisasi


3.

STRUKTUR ORGANISASI DI ATAS KAPAL

Deck department Engine department


SKIPPE
R
Chief Chief
Officer Engineer
Second Third Second Third
Officer Officer Engineer Engineer
Electricia
Chief Boatswai Foreman
Cook n n
Servant
seamn Oiler 1

seaman Oiler 2

seaman Oiler 3

NAKHODA
Tugas Nakhoda yaitu :
1. Nakhoda sebagai pemimpin kapal
1) Tugas selaku pemimpin kapal :
2) Mampu membawa kapal dengan selamat ke tujuan
3) Mampu mengurus kapal, muatan dan penumpang
Manajemen Kapal Perikanan

4) Mampu memelihara kapalnya agar selalu layak laut


5) Mampu dan mengerti mengolah tertip Adminitrasi kapal
2. Nakhoda sebagai pemegang kewibawaan
1) Berwibawah terhadap semua orang yang ada diatas kapal demi
keselamatan di laut
2) Berwibawa memegang Kedisiplinan diatas Kapal.
3. Nakhoda sebagai abdi hukum, selaku pejabat jaksa atau kepolisian
Nahkoda menurut KUHD NO.394 (a ), bertugas :
1) Mengumpulkan bahan – bahan dan membuat proses verbal.
2) Menyita barang – barang sebagai barang bukti
3) Mendengar dari tertuduh dan para saksi ditulis dalam berita acara
4) Mengamankan tertuduh
5) Menyerahkan berkas pemeriksaan dan para tertuduh kepada yang
berwajib setiba di pelabuhan tujuan.
4. Nakhoda sebagai pegawai pencatatan sipil
1) Membuat akte kelahiran dan mencatat dalam buku harian kapal, dalam
jangka waktu 24 jam dengan 2 orang saksi ( KUHS NO. 35 )
2) Membuat akte kematian dalam jangka waktu 24 jam seperti tersebut di
atas dengan diketahui 2 Orang saksi, dengan memperinci sebab – sebab
kematian kapan terjadi, di mana, dsb, ( KUHS NO.60 )
5. Nakhoda sebagai Notaris
1) Membuat akte wasiat seseorang yang ada diatas kapal dengan
disaksikan oleh 2 orang saksi
2) Membuat Akte Perjanjian antara pelayar yang berada dalam kapalnya,
juga harus ada 2 Orang Saksi.
6. Nakhoda sebagi wakil perusahaan pelayaran /pengusaha kapal
7. Nakhoda sebagai wakil pemilik muatan
BAGIAN DECK
Melaksanakan pekerjaan :
 Menyelesaikan administrasi umum kapal
 Jaga laut di deck
 Jaga pelabuhan di deck
 Pemuatan dan pembongkaran muatan
 Olah gerak kapal (sandar-lepas dari dermaga)
 Pemeliharaan kapal termasuk kebersihan di seluruh kapal, kecuali kamar
mesin.
BAGIAN MESIN
Manajemen Kapal Perikanan

Melaksanakan pekerjaan :
 Menyelesaikan administrasi kamar mesin
 Jaga laut di kamar mesin
 Jaga pelabuhan di kamar mesin
 Pemuatan dan pembongkaran muatan
 Olah gerak kapal di kamar mesin (sandar-lepas dari dermaga)
 Pemeliharaan kapal termasuk kebersihan di seluruh kapal mesin,
termasuk kebersihan kamar mesin.
BAGIAN RADIO
Melaksanakan pekerjaan :
 Melayani alat-alat komunikasi kapal (radio, telepon, telegraph, dsb).
 Perbaikan mum/ringan pada alat-alat navigasi elektronik kapal.
 Pekerjaan administrasi radio kapal.

Tugas 6 :
1. Sebutkan fungsi-fungsi kepemimpinan. ?
2. Jelaskan tugas Nakhoda sebagai pemimpin kapal?
3. Tuliskan tugas-tugas Anak Buah Kapal pada bagian mesin ?
4. Tuliskan tugas-tugas Anak Buah Kapal pada bagian radio ?

Anda mungkin juga menyukai