Anda di halaman 1dari 22

PERCOBAAN 12

LAPORAN PRAKTIKUM
KIMIA FISIKA I

ISOTERM ADSORBSI FREUNDLICH

Dosen Pengampu:
1.Adilah Aliyatulmuna, S.T., M.T.
2.Endang Ciptawati, S.Si., M.Si.

Oleh Kelompok 9:
1. Ayu Laili Nur (180331616065)**
2. Nuzhul Dwi Rahayu(180331616050)

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
APRIL 2020
A. Tujuan
Mahasiswa dapat membuat kurva dan menentukan tetapan dalam isoterm adsorpsi
menurut Freundlich pada proses adsorpsi asam asetat dengan karbon aktif.

B. Dasar Teori
Adsorpsi adalah suatu proses penyerapan partikel suatu fluida (cairan maupun gas)
oleh suatu padatan hingga terbentuk suatu film (lapisan tipis) pada permukaan adsorben.
Padatan yang dapat menyerap partikel fluida disebut bahan pengadsorpsi atau adsorben.
Sedangkan zat yang terserap disebut adsorbat. Secara mum adsorpsi didefinisikan
sebagai suatu proses penggumpalan substansi terlarut (soluble) yang ada dalam larutan,
oleh permukaan zat atau benda menyerap, dimana terjadi suatu ikatan kia fisika antara
substansi dengan penyerapnya. Penyerapan partikel atau ion oleh permukaan iod atau
yang disebut peristiwa adsorpsi ini dapat menyebabkan koloid menjadi bermuatan listrik.
Adsorpsi secara umum adalah proses penggumpalan substansi terlarut yang ad
dalam larutan leh permukaan benda ata zat penyerap. Adsorpsi alah masuknya bahan
yang mengumpul dalam suatu zat padat. Keduanya sering muncul bersamaan dengan
suatu proses maka ada yang menyebutnya sorpsi. Baik adsorpsi maupun absorpsi sebagai
sorpsi terjadi pada tanah liat maupun padatan lainnya, namun unit operasinya dikenal
sebagai adsorpsi (Giyatmi,2008:101)
Molekul-molekul pada permukaan zat padat atau at cair, mempunyai gaya tarik ke
arah dalam, karena tidak ada gaya-gaya yang mengimbangi. Adanya gaya-gaya ini
menyebabkan zat padat dan zat cair, mempunyai gaya adsorpsi. Adsorpsi berbeda
dengan absorpsi, at yang diserap hanya pada permukaan.( sukardjo,2002:190)
Contoh-contoh adsorpsi adalah sebagai berikut:
a. Pengeringan udara atau gas-gas lain
b. Pemisahan bahan yang engandung racun atau yang berbau busuk dari udara
buang
c. Pengambilan kembali pelarut dari udara buang.
d. Penghilangan warna larutan (sebelum kristaliasi)
e. Pemisahan bahan organik dari air( bersamaan dengan pemisahan pengotor
berbentuk koloid ysng sukar disaring)
Jenis-Jenis Adsorbsi
Adsorbsi dibagi menjadi dua jenis, yaitu:
1. Adsorbsi fisika adlah proses interaksi antara adsorben dengan adsorbat yang
disebabkan oleh gaya Van Der Waals. Adsorbsi fisika terjadi jika daya tarik
menarik antara zat terlalut dengan adsorben lebih besar dari gaya tarik menarik
antara zat terlalut dengan pelarutnya. Karena gaya tarik-menarik yang lemah
tersebut maka zat yang terlalut akan di adsorpsi pada permukaan adsorben.
2. Adsorbsi kimia adalah reaksi yang terjadi antara zat padat dengan zat terlalut yang
teradsorpsi. Adsorpsi ini bersifat spesifik dan melibatkan gaya dan kaloryang sama
dengan panas reaksi kimia.
Adsorpsi memiliki kecepatan . kecepatan adsorpsi adalah banyaknya zat yang
teradsorpsi persatuan waktu. Kecepatan adsorpsi memengaruhi kineka adsorpsi. Kineka
adsorpsi adalah laju penyerapan suatu fluida oleh adsorben dalam jangka waktu
tertentu. Banyak sedikitnya zat yang teradsorpsi dipengaruhi oleh faktor-faktor yang
memengaruhi kecepatan adsorpsi:
a. Macam adsorben
b. Macam zat yang diadsorpsi (adsobate)
c. Luas permukaan adsorben
d. Konsentrasi zat yang diadsorpsi (adsobate)
e. temperature

Adsorben dan Adsorbat


Adsorben merupakan zat padat yang dapat menyerap komponen tertentu dari suatu
fase fluida (Saragih,2008). Kebanyakan adalah bahan-bahan yang sangat berpori dan
adsorbsi berlangsung terutama pada dinding pori-pori atau pada letak-letak tertentu
didalam partikel itu. Oleh karena pori-pori biasanya sangat kecil maka luas permukaan
dalam menjadi beberapa orde besaran lebih besar daripada permukaan luar dan bisa
mencapai 2000 m/g. Pemisahan terjadi karena perbendaan bobot molekul atau karena
perbedaan polaritas yang menyebabkan sebagian molekul melekat pada permukaan
tersebut lebih erat dari pada molekul lainnya. Adsorben yang dignakan secara komersial
dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu kelompok polar dan non polar (Saragih,2008)
a. Adsorben Polar Adsorben polar disebut juga hydrophilic. Jenis adsorben yang
termasuk kedalam kelompok ini adalah silika gel, alumina aktif, dan zeloit
b. Adsorben non polar adsorben non polar disebut juga hydrophobic. Jenis adsrben
yang termasuk kedalam kelompok ini adalah polimer adsorben dan karbon aktif.
Adsorpsi Isoterm Freundlich
Persamaan isoterm adsorpsi Freundlich didasarkan atas terbentuknya lapisan
monolayer dar molekul-molekul adsorbat pada permukaan adsorben. Namun pada
adsorpsi Freundlich situs-situs aktif pada permukaan adsorben bersifat heterogen.
Persamaan isoterm adsorpsi Freundlich dapat dituliskan sebagai berikut.
Log (x/m) = log k + 1/n log c .........(1)
Sedangkan kurva isoterm adsorbsinya disajikan pada gambar berikut:

Gambar kurva Adsorbsi Isoterm Freundlich


Bagi suatu sistem adsorpsi tertentu, hubungan antara banyaknya zat yang teradsorpsi
persatuan luas atau persatuan berat adsorben dengan konsentrasi yang teradsorpsi pada
temperatur tertentu disebut dengan isoterm adsorbsi ini dinyatakan sebagai:
x/m = k.Cn ..........(2)
dalam hal ini:
x = jumlah zat teradsorbsi (gram)
m = jumlah adsorben (gram)
C = konsentrasi zat terlarut dalam larutan, setelah tercapai kesetimbangan adsorpsi
k dan n = tetapan
persamaan ini mengngkapkan bahwa bila sutu proses adsorbsi menuruti isoterm
freundlich, maka aluran log x/m terhadap log C akan merupakan garis lurus. Dari garis
dapat dievaluasi tetapan k dan n.
Dari persamaan tersebut jika konsentrasi larutan dalam kesetimbangan diplot
sebagai ordinat dan konsentrasi adsorbat dalam adsorben sebagai absis pada kordinat
logaritmik, akan diperoleh gradien n dan intersep. Dari isoterm ini, akan diketahui
kapasitas adsorben dalam menyerap air. Isoterm ini akan dignakan dalam penelitian yang
akan dilakukan, karena dengan isoterm ini dapat ditentukan efisiensi dari suatu adsorben.
C. Alat dan Bahan
Alat :
1. Cawan porselen
2. Erlemeyer
3. Pipet gondok dan pipet tetes
4. Buret
5. Statif dan klem
6. Kaca arloji
7. Labu ukur
8. Karet penghisap
9. Botol semprot
10. Stopwatch (jam tangan )
Bahan :
1. Asam asetat atau asam klorida
2. Karbon aktif
3. NaOH
4. Aquades
5. Indikator fenolftalein
D. Prosedur Percobaan

Karbon

Diaktifkan karbon dengan memanaskan dalam oven

Dimasukkan kedalam 6 buah erlenmeyer bertutup masing-masing 1 g


karbon aktif.

Disediakan larutan asam asetat/ HCl dengan konsentrasi 0,50N, 0,25 N,


0,125 N, 0,0625 N, 0,0313 N, dan 0,0156 N.

Dimasukkan masing-masing larutan dengan menggunakan kertas saring


kering

Dititrasi filtrat sebanyak 10 mL dengan konsentrasi paling tinggi,


selanjutnya 25 mL, dan larutan paling rendah konsentrasi diambil
masing-masing 50 mL
Dititrasi dengan larutan NaOH 0,4 N, dengan menggunakan indikator PP

Hasil

E. Data Pengamatan
I.1 Pembuatan Larutan Asam Klorida berbagai Konsentrasi
Erlenmeye Konsentrasi Asam Volume Asam Volume aquades (mL)
r Klorida (N) Klorida (mL)
I 0,500 100 0
II 0,250 50 50
III 0,125 25 75
IV 0,0625 12,5 87,5
V 0,0313 6,26 93,74
VI 0,0156 3,12 96,88

I.2 Data Percobaan


Erlenmeyer massa Konsentrasi Volume Volume NaOH 0,1 N
arang (g) HCl (N) HCl (mL) (mL)
I II x́
I 1,0 0,500 10 45,90 46,00 45,95
II 1,0 0,250 10 23,00 22,80 22,90
III 1,0 0,125 25 19,90 19,80 19,85
IV 1,0 0,0625 50 15,90 15,60 15,75
V 1,0 0,0313 50 09,70 09,80 9,75
VI 1,0 0,0156 50 2,70 3,00 2,85
F. Perhitungan
1. Pembuatan Larutan HCl dari Larutan Induk HCl 0,500 N
a. Larutan HCl 0,500 N
Diketahui : M1 = 0,500 N
M2 = 0,500 N
V2 = 100 mL
Ditanya : V1 = . . . . . . . ?
Jawab : M1 V1 = M2 . V2
M2.V 2
V 1=
M1
0 , 500N .100 mL
=
0 ,500 N
= 100 mL
Jadi, volume larutan induk HCl 0,500 N yang harus dipipet untuk membuat larutan
HCl 0,500 N adalah 100 mL.
b. Larutan HCl 0,250 N
Diketahui : M1 = 0,500 N
M2 = 0,250 N
V2 = 100 mL
Ditanya : V1 = . . . . . . . ?
Jawab : M1 V1 = M2 . V2
M2.V 2
V 1=
M1
0 ,250 N . 100 mL
=
0 ,500 N = 50 mL
Jadi, volume larutan induk HCl 0,500 N yang harus dipipet untuk membuat larutan
HCl 0,250 N adalah 50 mL.

c. Larutan HCl 0, 125 N


Diketahui : M1 = 0,500 N
M2 = 0,125 N
V2 = 100 mL
Ditanya : V1 = . . . . . . . ?
Jawab : M1 V1 = M2 . V2
M2.V 2
V 1=
M1
0 , 125N .100 mL
=
0 ,500 N = 25 mL
Jadi, volume larutan induk HCl 0,500 N yang harus dipipet untuk membuat larutan
HCl 0,125 N adalah 25 mL.
d. Larutan HCl 0,0625 N
Diketahui : M1 = 0,500N
M2 = 0,0625 N
V2 = 100 mL
Ditanya : V1 = . . . . . . . ?
Jawab : M1 V1 = M2 . V2
M2.V 2
V 1=
M1
0 ,0625 N .100 mL
=
0,500 N = 12,5 mL
Jadi, volume larutan induk HCl 0,500 N yang harus dipipet untuk membuat larutan
HCl 0,0625 N adalah 12,5 mL.
e. Larutan HCl 0,0313 N
Diketahui : M1 = 0,599 N
M2 = 0,0313 N
V2 = 100 mL
Ditanya : V1 = . . . . . . . ?
Jawab : M1 V1 = M2 . V2
M2.V 2
V 1=
M1
0 ,0313 N .100 mL
=
0,500 N = 6,26 mL
Jadi, volume larutan induk HCl 0,500 N yang harus dipipet untuk membuat larutan
HCl 0,0313 N adalah 6,26 mL.
f. Larutan HCl 0,0156 N
Diketahui : M1 = 0,500 N
M2 = 0,0156 N
V2 = 100 mL
Ditanya : V1 = . . . . . . . ?
Jawab : M1 V1 = M2 . V2
M2.V 2
V 1=
M1
0, 0156 N .100 mL
=
0 ,500 N = 3,12 mL
Jadi, volume larutan induk HCl 0,500 N yang harus dipipet untuk membuat larutan
HCl 0,0156 N adalah 3,12 mL.
2. Menghitung Massa HCl yang Teradsorpsi
a. Erlenmeyer I
Diketahui : [HCl] = 0,500 N
massa arang = 1,0 g
Vol.1. NaOH = 45,90 mL
Vol.2. NaOH = 46,00 mL
45,90+ 46,00
Rata-rata Vol. NaOH = =45,95 mL
2
Ditanya : massa HCl yang teradsorpsi (x) = . . . . . . .?
Jawab :
HCl Cl- + H+
1 mol HCl = 1 grek
HCl = 1 mol/ grek
[HCl] awal= 0,500 N = 0,500 grek/L x 1 mol/grek = 0,500 mol/L
mmol HCl awal = 0,500 mmol/mL x 100 mL = 50 mmol
- [NaOH] = 0,1 M
mmol NaOH = 0,1 mmol/mL x 45,95 mL
= 4,595 mmol
HCl (aq) + NaOH(aq) NaCl(aq) + H2O (l)
1 1
 mmol HCl = 1 x mmol NaOH = 1 x 4,595 mmol = 4,595 mmol
100mL
 mmol HCl sisa dalam 100 mL HCl = 4,595 mmol x 10mL = 45,95 mmol
n 45 ,95 mmol
=
 [HCl] sisa = V 100 mL = 0,4595 mmol/mL
 mmol HCl yang teradsorpsi = mmol HCl awal – mmol HCl sisa
= 50 mmol – 45,95 mmol = 4,05 mmol
 Massa HCl yang teradsorpsi (x) = mmol HCl x BM HCl
= 4,05 mmol x 36,50 mg/mmol
= 147,825 mg = 0,1478 gram
x 0,1478 g
= =0 ,1478
m 1,0 g
x
log =log0,1478=−0,8303
m
Log C = log [HCl] sisa = log 0,4595 = -0,3377

b. Erlenmeyer II
Diketahui : [HCl] = 0,250 N
massa arang = 1,0 g
Vol.1. NaOH = 23,00 mL
Vol.2. NaOH = 22,80 mL
23,00+22,80
Rata-rata Vol. NaOH = =22,90 mL
2
Ditanya : massa HCl yang teradsorpsi (x) = . . . . . . .?
Jawab :
HCl Cl- + H+
1 mol HCl = 1 grek
HCl = 1 mol/ grek
[HCl] awal= 0,250 N = 0,250 grek/L x 1 mol/grek = 0,250 mol/L
mmol HCl awal = 0,250 mmol/mL x 100 mL = 25 mmol
- [NaOH] = 0,1M
mmol NaOH = 0,1 mmol/mL x 22,90 mL
= 2,290 mmol
HCl (aq) + NaOH(aq) NaCl(aq) + H2O (l)
1 1
- mmol HCl = 1 x mmol NaOH = 1 x 2,290 mmol = 2,290 mmol
100 mL
- mmol HCl sisa dalam 100mL HCl = 2,290 mmol x 10 mL = 22,90 mmol
n 22 , 90 mmol
=
- [HCl] sisa = V 100 mL = 0,2290 mmol/mL
- mmol HCl yang teradsorpsi = mmol HCl awal – mmol HCl sisa
= 25 mmol – 22,90 mmol = 2,10 mmol
- Massa HCl yang teradsorpsi (x) = mmol HCl x BM HCl
= 2,10 mmol x 36,5 mg/mmol
= 76,65 mg
= 0,07665gram
x 0 , 07665 g
= =0, 07665
m 1,0 g
x
log =log0, 07665=−1 ,1154
m
- Log C = log [HCl] sisa = log 0,2290= -0,6401

c. Erlenmeyer III
Diketahui : [HCl] = 0,125 N
massa arang = 1,0 g
Vol.1. NaOH = 19,90 mL
Vol.2. NaOH = 19,80 mL
19,90+19,80
Rata-rata Vol. NaOH = =19,85 mL
2
Ditanya : massa HCl yang teradsorpsi (x) = . . . . . . .?
Jawab :
HCl Cl- + H+
1 mol HCl = 1 grek
HCl = 1 mol/ grek
[HCl] awal = 0,125 N = 0,125grek/L x 1 mol/grek = 0,125 mol/L
mmol HCl awal = 0,125 mmol/mL x 100 mL = 12,5 mmol
- [NaOH] = 0,1M
mmol NaOH = 0,1 mmol/mL x 19,85 mL
= 1,985 mmol
HCl (aq) + NaOH(aq) NaCl(aq) + H2O (l)
1 1
- mmol HCl = 1 x mmol NaOH = 1 x 1,985 mmol = 1,985 mmol
100 mL
- mmol HCl sisa dalam 100mL HCl = 1,985 mmol x 25 mL
= 7,94 mmol
n 7,94mmol
=
- [HCl] sisa = V 100 mL = 0,0794 mmol/mL
- mmol HCl yang teradsorpsi = mmol HCl awal – mmol HCl sisa
= 12,5 mmol – 7,94 mmol = 4,56 mmol
- Massa HCl yang teradsorpsi (x) = mmol HCl x BM HCl
= 4,56 mmol x 36,5 mg/mmol = 166,44 mg = 0,1664 gram
x 0, 1664 g
= =0, 1664
m 1,0 g
x
log =log0, 1664=−0, 7788
m
- Log C = log [HCl] sisa = log 0,0794 = -1,0017

d Erlenmeyer IV
Diketahui : [HCl] = 0,0625 N
massa arang = 1,0 g
Vol.1. NaOH = 15,90 mL
Vol.2. NaOH = 15,60 mL
15,90+15,60
Rata-rata Vol. NaOH = =15,75 mL
2
Ditanya : massa HCl yang teradsorpsi (x) = . . . . . . .?
Jawab :
HCl Cl- + H+
1 mol HCl = 1 grek
HCl = 1 mol/ grek
[HCl] awal = 0,0625 N = 0,0625grek/L x 1 mol/grek = 0,0625 mol/L
mmol HCl awal = 0,0625 mmol/mL x 100 mL = 6,25 mmol
- [NaOH] = 0,1M
mmol NaOH = 0,1 mmol/mL x 15,75 mL = 1,5750 mmol
HCl (aq) + NaOH(aq) NaCl(aq) + H2O (l)
1 1
- mmol HCl = 1 x mmol NaOH = 1 x 1,5750 mmol = 1,5750 mmol
100 mL
- mmol HCl sisa dalam 100mL HCl = 1,5750 mmol x 50 mL = 3,15 mmol
n 3,15 mmol
=
- [HCl] sisa = V 100mL = 0,0315 mmol/mL
- mmol HCl yang teradsorpsi = mmol HCl awal – mmol HCl sisa
= 6,25mmol – 3,15 mmol = 3,1 mmol
- Massa HCl yang teradsorpsi (x) = mmol HCl x BM HCl
= 3,1 mmol x 36,5 mg/mmol
= 113,15 mg = 0,113515gram
x 0, 113515 g
= =0 , 113515
m 1,0 g
x
log =log0 , 113515=−0 , 9449
m
- Log C = log [HCl] sisa
= log 0,0315 = -1,501

e. Erlenmeyer V
Diketahui : [HCl] = 0,0313 N
massa arang = 1,0 g
Vol.1. NaOH = 09,70 mL
Vol.2. NaOH = 09,80 mL
09,70+09,80
Rata-rata Vol. NaOH = =9,75 mL
2
Ditanya : massa HCl yang teradsorpsi (x) = . . . . . . .?
Jawab :
HCl Cl- + H+
1 mol HCl = 1 grek
HCl = 1 mol/ grek
[HCl] awal = 0,0313 N = 0,0313grek/L x 1 mol/grek = 0,0313 mol/L
mmol HCl awal = 0,0313 mmol/mL x 100 mL = 3,13 mmol
- [NaOH] = 0,1M
mmol NaOH = 0,1 mmol/mL x 9,75 mL = 0,975 mmol
HCl (aq) + NaOH(aq) NaCl(aq) + H2O (l)
1 1
- mmol HCl = 1 x mmol NaOH = 1 x 0,975 mmol = 0,975 mmol
100 mL
- mmol HCl sisa dalam 100mL HCl = 0,975 mmol x 50 mL = 1,95 mmol
n 1,95mmol
=
- [HCl] sisa = V 100mL = 0,0195 mmol/mL
- mmol HCl yang teradsorpsi = mmol HCl awal – mmol HCl sisa
= 3,13 mmol – 0,0195 mmol = 3,1105 mmol
- Massa HCl yang teradsorpsi (x) = mmol HCl x BM HCl
= 3,1105 mmol x 36,5 mg/mmol
= 113,533 mg = 0,1135gram
x 0, 1135 g
= =0 , 1135
m 1,0 g
x
log =log0, 1135=−0 , 9450
m
- Log C = log [HCl] sisa
= log 0,0195 = -1,7099

f. Erlenmeyer VI
Diketahui : [HCl] = 0,0156 N
massa arang = 1,0 g
Vol.1. NaOH = 2,70 mL
Vol.2. NaOH = 3,00 mL
2,70+3,00
Rata-rata Vol. NaOH = =2,85 mL
2
Ditanya : massa HCl yang teradsorpsi (x) = . . . . . . .?
Jawab :
HCl Cl- + H+
1 mol HCl = 1 grek
HCl = 1 mol/ grek
[HCl] awal = 0,0156 N = 0,0156grek/L x 1 mol/grek = 0,0156 mol/L
mmol HCl awal = 0,0156mmol/mL x 100 mL = 1,56 mmol
- [NaOH] = 0,1M
mmol NaOH = 0,1 mmol/mL x 2,85 mL = 0,285 mmol
HCl (aq) + NaOH(aq) NaCl(aq) + H2O (l)
1 1
- mmol HCl = 1 x mmol NaOH = 1 x 0,285 mmol = 0,285 mmol
100 mL
- mmol HCl sisa dalam 100mL HCl = 0,285 mmol x 50 mL = 0,57
mmol
n 0, 57 mmol
=
- [HCl] sisa = V 100mL = 0,0057 mmol/mL
- mmol HCl yang teradsorpsi = mmol HCl awal – mmol HCl sisa
= 1,56 mmol – 0,57 mmol
= 0,99 mmol
- Massa HCl yang teradsorpsi (x) = mmol HCl x BM HCl
= 0,99 mmol x 36,5 mg/mmol
= 36,13 mg
= 0,0361 gram
x 0, 0361 g
= =0 ,0361
m 1,0 g
x
log =log0, 0361=−1, 442
m
- Log C = log [HCl] sisa
= log 0,0057 = - 2,2441

Tabel Perhitungan Regresi Linier:

massa [HCl] [HCl]


x (g) x/m Log x/m Log C
arang(g) awal (N) sisa (M)
1,0 0,500 0,4595 0,1478 0,1478 -0,8303 -0,3377
1,0 0,250 0,2290 0,07665 0,07665 -1,1154 -0,6401
1,0 0,125 0,0794 0,1664 0,1664 -0,778 -1,0017
1,0 0,0625 0,0315 0,113515 0,113515 -0,9449 -1,501
1,0 0,0313 0,0195 0,1135 0,1135 -0,9450 -1,7099
1,0 0,0156 0,0057 0,0361 0,0361 -1,442 -2,2241
Σ = Σ = Σ = Σ = Σ = Σ = Σ =
6,0 0,9844 00,8246 0,6540 0,6540 -6,0556 -7,4145

3. Penentuan Persamaan Regresi Linear


a. Kurva antara x/m (y) terhadap C (x)
Misalkan : x = C dan y = x/m
Maka,
x (C) y (x/m) x2 y2 x.y
0,4595 0,1478 0,21114025 0,0218448 0,0679141
0,2290 0,07665 0,052441 0,005875 0,017553
0,0794 0,1664 0,00630436 0,027689 0,013065
0,0315 0,113515 0,00099225 0,012886 0,0035757
0,0195 0,1135 0,00038025 0,012882 0,0022132
0,0057 0,0361 0,00003249 0,001303 0,0002057
Σ = Σ = Σ x2 = Σ y2 = Σ xy =
00,8246 0,6540 0,2712906 0,0824798 0,1045267
n = 6


Σy 0 ,6540
y= = =0 , 109
n 6

Σx 0 , 8246
x= = =0 , 13743
n 6
nΣ xy−ΣxΣy (6 x 0,1045267 )−(0 , 8246 x 0 , 6540)
b= 2 =
nΣx −(Σx )2 (6 x 0 , 2712906 )−( 0 ,8246 )2
− −
0 , 6271602−0 , 5640264 0 , 0631338
b= x +a
y =b = =0 , 0666
1−,6277436−0
− , 67996516 0 , 94777844
a= y −b x
= 0,109 – {(0,0666x0,13743)}

= 0,109-0,009153

= 0,099847

Jadi, Persamaan regresi linearnya: y = bx + a


y = 0,0666 x + 0,099847

b. Kurva antara log x/m (y) terhadap log C (x)


Misalkan : x = log C
y = log x/m
Maka,
x (log
y (log x/m) x2 y2 x.y
C)
-0,3377 -0,8303 0,11404129 0,689398 0,2803923
-0,6401 -1,1154 0,40972801 1,24418 0,713967
-1,0017 -0,778 1,00340289 0,605284 0,779322
-1,501 -0,9449 2,253001 0,892836 1,418294
-1,7099 -0,9450 2,92375801 0,093025 1,615855
-2,2241 -1,442 4,94662081 2,079364 3,2071522
Σ = Σ = Σ x2 = Σ y2 = Σ xy =
-7,4145 -6,0556 11,65055201 5,604087 8,0149825
n = 6

Σy -6,0556
y= = =−1 ,00926
n 6

Σx −7 , 4145
x= = =−1 , 23575
n 6
nΣ xy−ΣxΣy (6 x 8 , 0149825 )−(−7 , 4145 )(−6 , 0556)
b= 2 =
nΣx −(Σx )2 (6 x 11, 65055201)−(−7 , 4145 )2
48 , 089895−44 ,8992462 3 , 1906488
b= = =0 , 21372
69 , 903312−54 ,97481 14 , 92850
− −
y =b x +a
− −
a= y −b x
= -1,00926– {(0,21372(–1,23575)}
= -1,00926+ 0,2641045
= -0,7451555
Jadi, Persamaan regresi linearnya: y = bx + a
y = 0,21372 x -0,74515

4.Penentuan Nilai k dan n


a. Kurva antara x/m (y) terhadap C (x)
Persamaan Freundlich
x
=k . C n
m

x
log =log k+n log C
m
x
log =n logC +log k
m
y = bx + a → y = 0,0666 x + 0,099847

maka:
x
y = log m , b x = n log C dan a = log k
 n = b
= 0,0666
 log k = a
= 0,099847
k = anti log 0,099847
= 1,258482
b. Kurva antara log x/m (y) terhadap log C (x)
Persamaan Freundlich
x
=k . C n
m
x
log =log k+n log C
m
x
log =n logC +log k
m
y = bx + a → y = 0,21372 x -0,74515
maka:
x
y = log m , b x = n log C dan a = log k
 n = b
= 0,21372
 log k = a
= -0,74515
k = anti log (-0,74515)
= 0,17982497

G. Analisis dan Pembahasan


Percobaan ini dilakukan untuk dapat membuat kurva dan menentukan tetapan
dalam isoterm freundlich pada proses adsorpsi asam asetat dengan karbon aktif.
Namun dalam percobaan kali ini yang digunakan adalah asam klorida. Dimana asam
klorida sebagai adsorbat (zat terlarut yang ter ardsorbsi) sedangkan karbon aktif yaitu
arang sebagai ardsorben (zat yang mengadsorbsi). Kurva ini menunjukkan hubungan
antara banyaknya zat teradsorpsi pada adsorben sebagai fungsi dari konsentrasi yang
didasarkan pada persamaan Freundlich.

Percobaan ini dimulai dengan memanaskan karbon aktif yaitu arang dengan
menggunakan suhu yang tinggi. Hal ini dilakukan karena percobaan isoterm adsopsi
ini mengadsopsi larutan organik (HCl) sehingga pengaktifan dilakukan pada suhu
tinggi dan tidak sampai membara. Perlakuan ini dimaksudkan agar arang tidak
menjadi abu. Selain bertujuan untuk aktivasi karbon aktif, pemanasan juga dilakukan
untuk menghilangkan pengotor yang terdapat pada arang. Diharapkan, pengotor yang
bersifat volatil dapat menguap saat dilangsungkannya pemanasan sehingga arang
menjadi lebih murni dan efisiensi adsorpsi pada percobaan ini meningkat sehingga
data yang didapatkan diharapkan dapat menjadi seakurat mungkin. Arang yang atom-
atomnya merupakan atom karbon dapat berfungsi sebagai adsorben apabila atom-
atom tersebut dapat diubah dari bentuk amorf menjadi bentuk polikristal. Proses
aktivasi ini harus dilakukan dengan pemanasan pada suhu tinggi. Dengan pemanasan
tersebut, maka atom-atom karbon akan membentuk poli kristal. Pada karbon aktif,
terdapat banyak pori yang berukuran mikro hingga nano meter. Pori-pori ini dapat
menangkap partikel-partikel sangat halus (molekul) terutama logam berat dan
menjebaknya disana.

Penyerapan menggunakan karbon aktif adalah efektif untuk menghilangkan


logam berat. Ion logam berat ditarik oleh karbon aktif dan melekat pada
permukaannya dengan kombinasi dari daya fisik kompleks dan reaksi kimia. Karbon
aktif memiliki jaringan porous (berlubang) yang sangat luas yang berubah-ubah
bentuknya untuk menerima molekul pengotor baik besar maupun kecil. Sedemikian
banyaknya pori sehingga dalam satu gram karbon aktif apabila semua dinding pori
nya direntangkan memiliki luas permukaan hingga ratusan sampai ribuan meter
persegi (perkiraan luasnya mencapai 500 m2 atau seluas 2 lapangan tenis). Karbon
aktif merupakan adsorben yang sangat baik, karena memiliki luas permukaan yang
sangat besar sehingga mampu mengadsorpsi lebih baik daripada zat lain. Dengan
alasan yang sama pula pada percobaan ini menggunakan serbuk arang, bukan arang
dalam bentuk padatan. Secara fisik, karbon aktif mengikat material dengan gaya Van
der Waals.

Setelah diperoleh arang aktif, maka arang aktif ditimbang sebanyak 6 kali
masing-masing 1,00 gram dan dimasukkan ke dalam enam labu erlenmeyer bertutup.
Larutan HCl yang dipergunakan ini dibuat dengan mengencerkan larutan HCl induk
0,5 N, sehingga diperoleh konsentrasi HCl secara berturut-turut yaitu 0,5N; 0,25 N;
0,125 N ; 0,0625 N ; 0,0313 N dan 0,0156 N. Kemudian masing-masing larutan
dimasukkan ke dalam erlenmeyer bertutup dan didiamkan selama 30 menit dengan
perlakuan pengocokan setiap 10 menit dengan rentang 1 menit dan temperatur tetap
dijaga konstan. Proses pengocokan ini juga dimaksudkan agar campuran tersebut
dapat tercampur secara homogen dan juga agar proses adsorpsi dapat berlangsung
lebih cepat karena jumlah tumbukan yang terjadi juga meningkat seta menjaga
kestabilan adsorben dalam mengadsorpsi adsorbat pada saat terjadinya reaksi. Tujuan
dilakukan pendiaman adalah agar gaya Van der Waals di mana terjadi adsorpsi antara
partikel adsorbat dengan permukaan adsorben dapat berlangsung secara optimal.
Adsorpsi ini tidak dapat terjadi secara optimal pada pengocokan karena partikel-
partikel campuran terus bergerak secara aktif dan sulit bagi partikel adsorbat untuk
masuk ke dalam pori kosong dari permukaan adsorben sehingga agar proses adsorpsi
dapat berlangsung dengan baik, harus disediakan jeda waktu untuk dilakukan
pendiaman.

Setelah 30 menit, larutan disaring dengan kertas saring. Proses selanjutnya yaitu
mentitrasi HCl hasil adsorpsi dengan larutan NaOH  0, 1 N, dimana larutan HCl
bertindak sebagai titrat sedangkan larutan NaOH bertindak sebagai titran. Keenam
larutan yang telah disaring tersebut kemudian dititrasi dengan volume larutan yang
berbeda yaitu 2 larutan dengan konsentrasi terbesar dipipet sebanyak 10 mL, larutan
ketiga diambil sebanyak 25 mL dan 3 larutan dengan konsentrasi terkecil dititrasi
sebanyak 50 mL. Sebelum dititrasi, larutan ditambahkan dengan indikator PP.
Penambahan PP bertujuan untuk memberikan perubahan warna pada saat titik akhir
titrasi tercapai. Titik akhir titrasi ditandai dengan terjadinya perubahan warna dari
bening menjadi merah muda. Indikator penolftalein ini merupakan jenis asam diprotik
dan tidak berwarna. Saat direaksikan, fenolftalein terurai dahulu menjadi bentuk tidak
berwarnanya dan kemudian, dengan menghilangnya proton kedua dari indikator ini
menjadi ion terkonjugat maka akan dihasilkan warna merah muda. Pada tahap titrasi
asam basa ini dilakukan dua kali pengulangan.
Dari proses titrasi diperoleh volume larutan NaOH 0,1 N yang diperlukan untuk
menetralkan asam dalam larutan yaitu asam asetat. Adapun volume NaOH yang
diperlukan untuk konsentrasi asam asetat 0,5 N ; 0,25 N ; 0,125 N ; 0,0625 N ; 0,0313
N dan 0,0156 N berturut -turut adalah 45,90 mL dan 46,00 mL ; 23,00 mL dan 22,80
mL ; 19,90 mL dan 19,80 mL ; 15,90 mL dan 15,60 mL ; 09,70 mL dan 09,80 mL ;
2,70 mL dan 3,00 mL. Dari volume NaOH ini, dapat dilakukan perhitungan untuk
mencari massa asam asetat yang teradsorpsi (x) dan konsentrasi HCl sisa (C).
Pada percobaan ini akan ditentukan harga tetapan-tetapan adsorbsi isoterm
Freundlich bagi proses adsorpsi HCl terhadap arang. Variabel yang terukur pada
percobaan adalah volume larutan NaOH 0,1 N yang digunakan untuk menitrasi HCl.
Setelah konsentrasi awal dan akhir diketahui, konsentrasi HCl yang teradsorbsi dapat
diketahui dengan cara pengurangan konsentrasi awal dengan konsentrasi akhir.
Selanjutnya dapat dicari berat HCl yang teradsorbsi.
Dari data pengamatan dan hasil perhitungan, konsentrasi HCl sebelum adsorpsi
lebih tinggi daripada setelah adsorpsi. Hal ini karena asam asetat telah diadsorpsi oleh
arang aktif. HCl yang merupakan asam kuat sehingga dengan mudah melepaskan ion-
ionnya di dalam air, sehingga mudah untuk diadsopsi. Cl merupakan spesi yang
sangat elektronegatif atau memiliki kecenderungan untuk menarik elektron dengan
kuat ke pihaknya sehingga ikatan Van der Waals yang terjadi pada HCl seharusnya
lebih kuat. Kemudian dilakukann perhitungan untuk mencari persamaan regresi linear
yang digunakan untuk membuat kurva. Kurva yang dibuat ada 2 yaitu kurva
hubungan x/m (sebagai ordinat) dengan C (sebagai absis) dan kurva hubungan log
x/m (sebagai ordinat) dengan log C (sebagai absis). Dari perhitungan diperoleh
persamaan regresi linear untuk kurva x/m terhadap C adalah y = 0,1110 x +
0,0770 sedangkan persamaan regresi linear untuk kurva log x/m terhadap log C adalah
y = 0,2154 x -0,8340. Grafik hubungan antara x/m dengan c maupun hubungan
antara log x/m dengan log C dari percobaan dapat dilihat pada gambar grafik berikut
ini,

Kurva x/m (sebagai ordinat) terhadap C


(sebagai absis)
0.18
0.16
0.14
0.12 f(x) = 0.09 x + 0.1 y (x/m)
R² = 0.12
0.1 Linear (y (x/m))
x/m

0.08
0.06
0.04
0.02
0
0 0.05 0.1 0.15 0.2 0.25 0.3 0.35 0.4 0.45 0.5
konsentrasi
Kurva log x/m (sebagai ordinat) terhadap log C
(sebagai absis)
0
-2.5 -2 -1.5 -1 -0.5 0
-0.2
-0.4
y (log x/m)
-0.6
log x/m

Linear (y (log x/m))


-0.8
f(x) = 0.21 x − 0.75 -1
R² = 0.39
-1.2
-1.4
-1.6
log C

Grafik diatas menunjukkan hubungan antara mol (x/m) HCl teradsopsi dengan
konsentrasi (C), dimana dari kurva tersebut dapat terlihat bahwa semakin tinggi
konsentrasi maka HCl yang diadsopsi oleh arang aktif semakin banyak. Demikian
halnya dengan grafik perbandingan antara log x/m terhadap konsentrasi juga terjadi
peningkatan. Grafik merupakan Grafik Isotherm Adsorpsi Freundlinch. Dari
persamaan grafik tersebut jika dianalogikan dengan persamaan freundlinch maka akan
didapat nilai k dan n. Persamaan isoterm adsorpsi Freundlich dapat dituliskan Log
(x/m) = log k + 1/n log c sedangkan persamaan grafik Isotherm Adsorpsi Freundlinch
(perbandingan antara konsentrasi (C) dengan mol HCl teradsopsi (x/m) adalah y =
0,0937x + 0,0961 sehingga didapat nilai Log k = 0,0961 n dan = b. Maka nilai k
adalah 1,24767 dan nilai n adalah 0,0937. Selain persamaan regresi linear, dalam
perhitungan juga ditentukan nilai tetapan k dan n. Untuk tetapan n memiliki nilai yang
sama dengan nilai slope (b) dari persamaan regresi linear log x/m terhadap log C yaitu
0,21372. Sedangkan nilai tetapan k diperoleh sebesar 0,1798.
H. Kesimpulan
1. Proses adorspsi ini digunakan ini digunakan HCl sebagai sebagai zat terlarut yang
diadsorpsi (adsorbat), dimana zat padat yang berfungsi sebagai adsorben
(mengadsorpsi HCl) adalah karbon aktif yaitu arang.
2. Pemanasan arang aktif bertujuan untuk aktivasi karbon aktif, pemanasan juga
dilakukan untuk menghilangkan pengotor yang terdapat pada arang sehingga arang
menjadi lebih murni dan meningkatkan efisiensi adsorpsi.
3. Faktor yang mempengaruhi adsorpsi ini adalahKarakteristik komponen sistem
isotherm adsorpsi (adsorbat dan adsorben), temperatur dan konsentrasi adsorbat.
4. Proses pengocokan ini juga dimaksudkan agar campuran tersebut dapat tercampur
secara homogen dan juga agar proses adsorpsi dapat berlangsung lebih cepat karena
jumlah tumbukan yang terjadi juga meningkat
5. Tujuan dilakukan pendiaman adalah agar gaya Van der Waals di mana terjadi
adsorpsi antara partikel adsorbat dengan permukaan adsorben dapat berlangsung
secara optimal.
6. Volume larutan NaOH yang dipergunakan dalam titrasi yaitu:
 Untuk HCl 0,500 N = 45,90 mL dan 46,00 mL
 Untuk HCl 0,250 N = 23,00 mL dan 22,80 mL
 Untuk HCl 0,125 N = 19,90 mL dan 19,80 mL
 Untuk HCl 0,0625 N = 15,90 mL dan 15,60 mL
 Untuk HCl 0,0313 N = 09,70 mL dan 09,80 mL
 Untuk HCl 0,0156 N = 2,70 mL dan 3,00 mL
7. Persamaan regresi linear untuk kurva x/m terhadap C adalah y = 0,0937x + 0,0961,
dengan tetapan n diperoleh sebesar 0,0937 dan tetapan k diperoleh sebesar 1,24767.
Sedangkan persamaan regresi linear untuk kurva log x/m terhadap log C y =
0,21372 x -0,74515. Nilai tetapan n diperoleh sebesar 0,0937 sedangkan nilai tetapan
k diperoleh sebesar 0,1798
8. Semakin tinggi konsentrasi adsorbat (HCl), maka jumlah adsorbat yang teradsorbsi
juga semakin banyak.

I. Link Video
https://youtu.be/U3_zOXiEk-E

https://youtu.be/3TAxtwcBNvM

https://youtu.be/pAWJ-9sAd4g

J. Jawaban Pertanyaan
1. Proses adsorpsi pada percobaan ini merupakan jenis adsorpsi kimia (khemisorpsi),
karena pada proses adsorpsi ini terjadi pembentukan lapisan monomolekuler adsorbat
pada permukaan melalui gaya-gaya valensi sisa dari molekul-molekul permukaan.
2. Perbedaan antara adsorpsi fisik dngan adsorbsi kimia adalah:
Adsorpsi Fisik Adsorpsi Kimia
Molekul terikat pada adsorben oleh Molekul terikat pada adsorben oleh
gaya van der Waals ikatan kimia

Entalpi reaksi – 4 sampai – 40 kJ/mol Entalpi reaksi –40 sampai –800 kJ/mol

Dapat membentuk lapisan multilayer Membentuk lapisan monolayer

Adsorpsi hanya terjadi pada suhu di Adsorpsi dapat terjadi pada suhu tinggi
bawah titik didih adsorbat

Jumlah adsorpsi pada permukaan Jumlah adsorpsi pada permukaan


merupakan fungsi adsorbat merupakan karakteristik adsorben dan
adsorbat

Tidak melibatkan energi aktifasi Melibatkan energi aktifasi tertentu


tertentu

Bersifat tidak spesifik Bersifat sangat spesifik

Contoh adsorpsi fisik adalah adsorpsi gas pada charcoal

Contoh adsorpsi kimia adalah adsorpsi O2 pada Ag, Pt dan adsorpsi asam asetat serta
amonia oleh arang aktif.

K. Daftar Pustaka
Saragih,S.A.2008. Pembuatan dan Karakterisasi Karbon Aktif dan Batu Bara Riau sebagai
Adsorben .Tesis. Jakarta: Universitas Indonesia

Sukardjo.2002.Kimia Fisika . Jakarta: Bineka Cipta

Khopkar,S.M.1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta:UI Press

Atkins,p.w.1996. Kimia Fisika.Jakarta: Erlangga

Anda mungkin juga menyukai