Anda di halaman 1dari 228

618.

97
Ind
P

DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA


DIREKTORAT JENDERAL KESEHATAN MASYARAKAT
KEMENTERIAN KESEHATAN RI
2019
123.45
618.97 Katalog Dalam Terbitan. Kementerian Kesehatan RI
Ind
Ind
pk Indonesia. Kementerian Kesehatan RI. Direktorat Jenderal
Kesehatan Masyarakat
Pedoman untuk Puskesmas dalam Penyelenggaraan Kegiatan
Kesehatan Lanjut Usia di Posyandu Lansia. --- Jakarta :
Kementerian Kesehatan RI. 2019

ISBN 987-602-416-803-2

1. Judul I. GERIATRICS
II. GERIATRIC NURSING III. GERIATRIC PSYCHIATRY
IV. COMMUNITY HEALTH SERVICES
618.97
Ind
P

DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA


DIREKTORAT JENDERAL KESEHATAN MASYARAKAT
KEMENTERIAN KESEHATAN RI
2019
PEDOMAN UNTUK PUSKESMAS DALAM PENYELENGGARAAN
KEGIATAN KESEHATAN LANJUT USIA DI POSYANDU LANSIA

Kementerian Kesehatan RI
Direktorat Kesehatan Keluarga
Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat

Diterbitkan oleh:
Kementerian Kesehatan RI

©Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang


Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini dalam
bentuk apapun, baik secara elektronik maupun mekanik, termasuk
memfotokopi, merekam, atau dengan sistem penyimpanan lainnya,
tanpa izin tertulis dari penerbit.

ii
Puji syukur kehadirat Allah Yang Maha Kuasa atas rahmat
dan karunia-Nya sehingga buku ini dapat diselesaikan dengan
baik. Buku “Pedoman untuk Puskesmas dalam Penyelenggaraan
Kegiatan Kesehatan Lanjut Usia (Lansia) di Posyandu Lansia” ini
merupakan pedoman bagi petugas kesehatan di Tingkat
Pelayanan Kesehatan Dasar dalam melakukan pembinaan
kepada kader kesehatan dan memberikan pelayanan kesehatan
di Posyandu Lansia.

Posyandu lansia merupakan salah satu bentuk Upaya


Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM). Keberadaan posyandu
lansia sangat diperlukan dalam mendekatkan layanan kesehatan
dasar dan upaya kesehatan promotif serta preventif bagi lansia.
Seiring dengan permasalahan kesehatan pada lansia, kebijakan
dan program kesehatan lansia yang terus berkembang, maka
dalam pelaksanaannya kegiatan di posyandu lansia perlu
dilakukan secara terintegrasi baik dengan lintas program, lintas
sektor, maupun berbagai pihak terkait lainnya seperti perguruan
tinggi, LSM, dll sehingga pelayanan yang diberikan dapat lebih
holistik dan komprehensif.

Buku Pedoman ini merupakan edisi revisi dari buku


pedoman yang dicetak tahun 2001 berjudul “Pedoman
Pengelolaan Kegiatan Pembinaan Kesehatan di Kelompok Usia
Lanjut” dan dicetak ulang sampai tahun 2010. Kemudian dengan
adanya perkembangan isu-isu terkini terkait kesehatan lansia,

iii
maka buku ini perlu disesuaikan kembali dengan judul “Pedoman
untuk Puskesmas dalam Penyelenggaraan Kegiatan Kesehatan
Lanjut Usia di Posyandu Lansia”.

Terima kasih kami ucapkan kepada semua pihak yang telah


berkontribusi dalam penyusunan buku ini. Kami menyadari
bahwa buku pedoman ini masih jauh dari sempurna, oleh sebab
itu, masukan dan saran sangat kami harapkan untuk penyusunan
pedoman ini di masa yang akan datang.

Harapan kami agar pedoman ini dapat bermanfaat dan


digunakan sebagai acuan bagi Pengelola Program Kesehatan
Lanjut Usia di tingkat Provinsi, Kabupaten/Kota dan Puskesmas
dalam memfasilitasi pelaksanaan kegiatan di Posyandu Lansia
sebagai salah satu upaya pemberdayaan masyarakat untuk
meningkatkan kesehatan lansia. Melalui kegiatan tersebut,
diharapkan dapat mendukung upaya meningkatkan kualitas
hidup Lansia menuju Lansia yang sehat, mandiri, aktif, dan
produktif.

Jakarta, Februari 2019


Direktur Kesehatan Keluarga

dr. Eni Gustina, MPH

iv
Kata Pengantar Direktur Kesehatan Keluarga iii
Daftar Isi v
Daftar Grafik YLLL
Daftar Gambar Lx
Daftar Lampiran x

BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 3
B. Dasar Hukum 11
C. Tujuan Pedoman 13
D. Sasaran Pedoman 14
E. Ruang Lingkup 15

BAB II KONSEP DASAR POSYANDU 17


LANSIA
A. Pengertian 19
B. Tujuan 22
C. Sasaran 23
D. Fungsi 24
E. Manfaat 24
F. Lokasi 26
G. Kedudukan 27

v
H. Pengorganisasian 30
I. Pembentukan 33
J. Pendanaan 42
K. Jenis Kegiatan 45

BAB III PENYELENGGARAAN KEGIATAN 49


KESEHATAN DI POSYANDU
LANSIA
A. Pelayanan Kesehatan 51
B. Sarana dan Prasarana 55
C. Waktu Penyelenggaraan 55
D. Tempat Penyelenggaraan 56
E. Pelaksana Kegiatan 57
F. Mekanisme Pelaksanaan 63
Kegiatan
G. Kegiatan dalam Rangka Stimulasi 69
Kognitif Lansia
H. Pemberian Makanan Tambahan 70
(PMT) Penyuluhan

BAB IV PELAKSANAAN KEGIATAN 77


TERINTEGRASI DI POSYANDU
LANSIA

vi
A. Konsep Integrasi 79
B. Teknis Pelaksanaan 82

BAB V PEMBINAAN DAN EVALUASI 99


A. Pembinaan dan Pengawasan 101
B. Evaluasi 104
C. Tingkat Perkembangan Posyandu 106
Lansia

BAB VI PENUTUP 115

LAMPIRAN 119
DAFTAR PUSTAKA 193
KONTRIBUTOR 194

vii
Grafik 1 Proyeksi penduduk lansia tahun 2015- 4
2045
Grafik 2 UHH/LE dan UHH Sehat/HALE di 6
Indonesia tahun 2017
Grafik 3 Proporsi tingkat kemandirian penduduk 7
lansia
Grafik 4 Masalah kesehatan pra lansia dan 8
lansia di Indonesia tahun 2018

viii
Gambar 1 Contoh Struktur Organisasi Posyandu 31
Lansia
Gambar 2 Langkah-langkah pemberdayaan 34
masyarakat
Gambar 3 Penyelenggaraan posyandu lansia 57
Gambar 4 Alur/skema pelaksanaan kegiatan di
posyandu lansia 66
Gambar 5 Isi piringku 71
Gambar 6 Konsep pelaksanaan kegiatan yang 81
terintegrasi di Posyandu Lansia
Gambar 7 Matriks Pelaksanaan Kegiatan 84
Terintegrasi
Gambar 8 Komponen media partisipatif BKL Kit 90
Fasilitator memfasilitasi permainan
interaktif (BKL Kit) pada lansia

ix

10
1. Format Pencatatan dan Pelaporan 121
2. Petunjuk Pengisian Format Pencatatan Dan 122
Pelaporan Hasil Kegiatan Posyandu Lansia
3. Instrumen P3G 132
4. Pengalaman Pelaksanaan Posyandu Lansia 143
dari Daerah
5. Contoh Permainan Edukatif Kognitif Lansia 191

x
1
2
A. Latar Belakang
Arah pembangunan kesehatan dimulai dari RPJMN
I, II, III dan IV mengarah dari pendekatan kuratif-
rehabilitatif menjadi promotif-preventif dengan perubahan
target yang dimulai dari pengembangan kesehatan untuk
meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan.

Arah kebijakan RPJMN tahun 2020-2024 adalah


pembangunan berwawasan kesehatan menuju cakupan
kesehatan semesta (Universal Health Coverage) dengan
penguatan pelayanan kesehatan dasar (Primary Health
Care) dan peningkatan upaya promotif dan preventif
didukung oleh inovasi dan pemanfaatan teknologi serta
pengaturan dan pengawasan penyelenggaraan sistem
elektronik di sektor kesehatan. Oleh karena itu,
pelaksanaan pembangunan kesehatan lebih ditekankan
pada gerakan masyarakat hidup sehat sebagai upaya
promotif dan preventif dengan memperkuat
pemberdayaan masyarakat.

3
Keberhasilan pembangunan kesehatan, merupakan
salah satu faktor yang berdampak pada penurunan
angka kelahiran, angka kesakitan dan angka kematian
serta peningkatan umur harapan hidup (UHH) penduduk
Indonesia. Umur Harapan Hidup (waktu lahir) di
Indonesia adalah 71,5 tahun pada tahun 2017 dan
diproyeksikan akan terus meningkat. Sehingga
persentase penduduk lanjut usia (lansia) terhadap total
penduduk diproyeksikan juga terus meningkat dari tahun
ke tahun. Bertambahnya jumlah penduduk lansia yang
semakin terlihat sejak tahun 2015 hingga tahun 2045
(dapat dilihat pada grafik 1). Hal ini menunjukkan bahwa
struktur penduduk Indonesia telah mulai bertransisi
menuju struktur penduduk tua (ageing population).

2015 2025 2035 2045

Sumber : Badan Pusat Statistik, 2018

Grafik 1 : Proyeksi Penduduk Lansia tahun 2015 - 2045

4
Pada tahun 2019, penduduk lansia sudah mencapai
27 juta jiwa atau 9,7 persen dari jumlah penduduk dan
berdasarkan proyeksi penduduk dari Badan Pusat
Statistik, diperkirakan jumlah penduduk lansia akan
menjadi 63,3 juta (19,9%) pada tahun 2045 sehingga
sangat perlu dilakukan langkah-langkah antisipatif agar
para lansia tidak menjadi beban bagi pemerintah dan
masyarakat, bahkan mampu produktif dan berperan aktif
sehingga menjadi aset yang berharga di dalam
pembangunan.

Walaupun UHH diproyeksikan akan terus


meningkat, penduduk Indonesia diperkirakan dapat
kehilangan delapan tahun masa hidup sehat. Hal ini
dapat dilihat dari data Burden of Disease Litbangkes,
Kemenkes RI, bahwa usia harapan hidup sehat / UHH
sehat (Healthy Adjusted Life Expectancy / HALE)
penduduk Indonesia pada tahun 2017 adalah sekitar 62,7
tahun, sementara UHH sudah mencapai 71,5 tahun.
Terlihat ada kesenjangan sebesar 8,8 tahun.
Peningkatan populasi lansia diharapkan tidak menjadi
masalah besar apabila lansia selama mungkin dalam
kondisi sehat (Litbangkes, 2017), sehingga kesenjangan
antara UHH dan UHH sehat makin kecil.

5
Grafik 2. UHH/LE dan UHH Sehat/HALE di Indonesia Tahun 2017

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun


2018 menyebutkan bahwa 74,3% lansia memiliki tingkat
kemandirian “mandiri” dan 22% dengan tingkat
kemandirian “ketergantungan ringan” (diukur dengan
instrumen Activity Daily Living/ADL). Hal ini menunjukkan
bahwa sebagian besar lansia di Indonesia masih dalam
status kesehatan yang relatif baik. Kondisi ini hendaknya
senantiasa dipertahankan.

6
Grafik 3 : Proporsi Tingkat Kemandirian Penduduk Lansia

Namun di sisi lain, berdasarkan data Riskesdas


tahun 2018, terlihat bahwa makin meningkat usia terjadi
peningkatan prevalensi penyakit tidak menular, seperti
tercantum dalam grafik 4. Hal ini menunjukkan bahwa
masalah kesehatan pada lansia cenderung mengalami
penyakit degeneratif, seperti hipertensi, masalah gizi,
penyakit sendi, diabetes melitus, penyakit jantung, stroke,
dan sebagainya.

7
Grafik 4. Masalah Kesehatan pra lansia dan lansia di Indonesia
Tahun 2018

Sementara status gizi pada lansia, terdapat 16,4%


lansia dengan under weight dan cukup tingginya
prevalensi lansia dengan over weight (25,1%). Masalah
lain yang perlu diperhatikan bagi lansia adalah masalah
gangguan mental emosional termasuk demensia yang
juga cukup tinggi sebesar 12,8% dan depresi sebesar
7,7%.

Jika tidak dilakukan pencegahan dini, maka jumlah


lansia yang mengalami penurunan kapasitas fungsional

8
yang disertai berbagai masalah kesehatan dengan
komplikasinya akan semakin besar. Kondisi tersebut
dikhawatirkan mengakibatkan lansia menjadi tergantung
dalam melakukan aktifitas sehari-hari, sehingga
memerlukan bantuan dan akan menjadi beban sosial dan
ekonomi yang berat bagi keluarga, masyarakat dan
negara. Oleh karena itu, harus dilakukan upaya yang
tepat, sistematis, dan efektif.

Pada tahun 2016 pemerintah mencanangkan


Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga
(PIS-PK) yang menjadikan kegiatan pemberdayaan
keluarga sebagai prioritas. Sejalan dengan program
tersebut, salah satu strategi dalam Rencana Aksi
Nasional Kesehatan Lansia tahun 2016-2019, adalah
meningkatkan peran masyarakat dalam meningkatkan
status kesehatan lansia dan meningkatkan peran lansia
dalam upaya peningkatan kesehatan keluarga dan
masyarakat melalui upaya pemberdayaan.

Puskesmas merupakan ujung tombak dalam


meningkatkan status kesehatan masyarakat di tingkat
pelayanan kesehatan dasar. Puskesmas melaksanakan
fungsinya sebagai pemberi pelayanan Upaya Kesehatan
Masyarakat (UKM) yang dapat dilaksanakan di dalam

9
gedung maupun di luar gedung puskesmas. Untuk
pelayanan di luar gedung salah satunya dilaksanakan
melalui posyandu lansia.

Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) lansia


merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan
Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) dan pada
pelaksanaan kegiatannya dilakukan oleh kader
kesehatan melalui pendampingan dari tenaga kesehatan
Puskesmas, dengan pelayanan kesehatan yang menitik
beratkan pada upaya promotif, preventif, termasuk
deteksi dini serta pemberdayaan potensi lansia.

Saat ini keberadaan posyandu lansia semakin


berkembang, hal ini merupakan wujud nyata dan
cerminan kebutuhan masyarakat khususnya para lansia
terhadap pelayanan yang terjangkau, berkelanjutan dan
bermutu dalam rangka mencapai masa tua yang sehat,
mandiri, aktif dan produktif (SMART).

Untuk menunjang upaya peningkatan pelayanan


kesehatan lansia di Posyandu Lansia tersebut,
dibutuhkan buku pedoman bagi petugas puskesmas
dalam melaksanakan pembinaan dan pengelolaan
Posyandu Lansia sehingga dapat berfungsi dengan
optimal.

10
Panduan ini diharapkan dapat digunakan sebagai
acuan bagi petugas Puskesmas dalam melakukan
pembinaan dan pengelolaan Posyandu Lansia agar
dapat meningkatkan status kesehatan dan kualitas hidup
(quality of life) lansia.

B. Dasar Hukum
1. Undang-undang No. 13 tahun 1998 tentang
Kesejahteraan Usia Lanjut

2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang


Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional
Tahun 2005-2025

3. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang


Kesehatan;

4. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa

5. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2015 tentang


Peraturan Pemerintah Pengganti Undang - Undang
Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas
Undang – Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah

6. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 tentang


Dana Desa yang Bersumber dari Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara

11
7. Peraturan Pemerintah Nomor 2 tahun 2018 tentang
Standar Pelayanan Minimal (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 59)

8. Peraturan Menteri Dalam Negeri RI Nomor 54 Tahun


2007 tentang Pedoman Pembentukan Kelompok
Kerja Operasional Pembinaan Pos Pelayanan
Terpadu

9. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 19 tahun


2011 tentang Pengintegrasian Layanan Sosial Dasar
di Pos Pelayanan Terpadu

10. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 75 Tahun 2014


tentang Pusat Kesehatan Masyarakat

11. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 67 Tahun 2015


tentang Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan
Lanjut Usia di Pusat Kesehatan Masyarakat.

12. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 74 Tahun 2015


tentang Upaya Peningkatan Kesehatan dan
Pencegahan Penyakit

13. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 25 Tahun 2016


tentang Rencana Aksi Nasional (RAN) Kesehatan
Lanjut Usia tahun 2016 – 2019

12
14. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 39 tahun 2016
tentang Pedoman Penyelenggaraan Program
Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga

15. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 4 tahun 2019


tentang Standar Teknis Pemenuhan Mutu Pelayanan
Dasar pada Standar Pelayanan Minimal Bidang
Kesehatan

16. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 8 tahun 2019


tentang Pemberdayaan Masyarakat Bidang
Kesehatan

17. Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah


Tertinggal dan Transmigrasi Nomor II Tahun 2019
tentang Prioritas Penggunaan Dana Desa tahun 2020

C. Tujuan Pedoman

1. Tujuan Umum

Sebagai panduan bagi petugas puskesmas dalam


pelaksanaan kegiatan kesehatan di Posyandu Lansia
untuk meningkatkan status kesehatan dan kualitas
hidup lansia.

13
2. Tujuan Khusus
a. Meningkatnya pemahaman petugas Puskesmas
tentang:
1) Konsep dasar Posyandu Lansia
2) Penyelenggaraan kegiatan kesehatan di
Posyandu Lansia
3) Penyelenggaraan kegiatan Posyandu Lansia
yang terintegrasi dengan lintas program dan
lintas sektor terkait.
4) Monitoring dan evaluasi penyelenggaran
Posyandu Lansia
b. Dilaksanakannya kegiatan kesehatan di Posyandu
Lansia oleh petugas puskesmas sesuai pedoman
sehingga dapat memberikan pelayanan yang baik
dan berkualitas

D. Sasaran Pedoman

1. Petugas Puskesmas.
2. Penanggung jawab program kesehatan lansia di
dinas kesehatan provinsi dan kabupaten/kota.
3. Institusi pendidikan kesehatan
4. Mitra puskesmas dalam pemberdayaan lansia antara
lain organisasi profesi, organisasi kemasyarakatan,
dan dunia usaha

14
E. Ruang Lingkup
Pedoman ini membahas materi tentang
penyelenggaraan kegiatan Posyandu Lansia meliputi
konsep dasar Posyandu Lansia, tujuan,
pengorganisasian, penyelenggaraan kegiatan kesehatan
posyandu lansia termasuk pengintegrasian serta
pembinaan dan evaluasi kegiatan posyandu lansia.

15
16
17
18
A. Pengertian

Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) Lansia adalah


suatu wadah pelayanan kepada lansia di masyarakat
berbasis Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat
(UKBM) dimana proses pembentukan dan
pelaksanaannya dilakukan oleh masyarakat berdasarkan
inisiatif dan kebutuhan masyarakat itu sendiri dan
dilaksanakan bersama oleh masyarakat, kader, Lembaga
Swadaya Masyarakat (LSM), lintas sektor, swasta, dan
organisasi sosial dengan menitikberatkan pada upaya
promotif dan preventif.

UKBM adalah wahana pemberdayaan masyarakat


bidang kesehatan yang dibentuk atas dasar kebutuhan
masyarakat, dikelola oleh, dari, untuk, dan bersama
masyarakat, dengan pembinaan sektor kesehatan, lintas
sektor dan pemangku kepentingan terkait lainnya. Syarat
pembentukan UKBM yaitu: sesuai kebutuhan,
kemampuan dan kesepakatan, terdapat struktur

19
kepengurusan, kader, pembinaan kelembagaan dan
teknis, sasaran, serta sumberdaya.

Pemberdayaan Masyarakat Bidang Kesehatan,


yang selanjutnya disebut Pemberdayaan Masyarakat
adalah proses untuk meningkatkan pengetahuan,
kesadaran dan kemampuan individu, keluarga dan
masyarakat untuk berperan aktif dalam upaya kesehatan
yang dilaksanakan dengan cara fasilitasi proses
pemecahan masalah melalui pendekatan edukatif dan
partisipatif serta memperhatikan kebutuhan potensi dan
sosial budaya setempat.

Pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan


merupakan proses pemberian informasi kepada individu,
keluarga atau kelompok (klien) secara terus menerus dan
berkesinambungan mengikuti perkembangan klien, serta
proses membantu klien, agar klien tersebut berubah dari
tidak tahu menjadi tahu atau sadar (aspek pengetahuan
atau knowledge), dari tahu menjadi mau (aspek sikap
atau attitude), dan dari mau menjadi mampu
melaksanakan perilaku yang diperkenalkan (aspek
tindakan atau practice).

20
Implementasi kegiatan pemberdayaan masyarakat
di bidang kesehatan, antara lain berupa :

1. Peningkatan pengetahuan dan kemampuan


masyarakat dalam mengenali dan mengatasi
permasalahan kesehatan yang dihadapi;
2. Peningkatan kesadaran masyarakat melalui
penggerakkan masyarakat;
3. Pengorganisasian dan pengembangan masyarakat
4. Peningkatan upaya pendekatan kepada pe mangku
kepentingan untuk mendukung masyarakat
memperjuangkan kepentingannya melalui
pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan
5. Penggalangan kerjasama dan partisipasi lintas
sektor dan pemangku kepentingan terkait, organisasi
kemasyarakatan serta swasta peduli kesehatan
6. Peningkatan pemanfaatan potensi dan sumber daya
berbasis kearifan lokal baik dana, tenaga serta
sosial budaya
7. Pengintegrasian antar program dan/ atau kegiatan
dan/ atau kelembagaan Pemberdayaan Masyarakat
yang sudah ada

21
B. Tujuan
1. Tujuan Umum

Meningkatkan status kesehatan dan kualitas hidup


lansia melalui upaya kesehatan bersumberdaya
masyarakat (UKBM).

2. Tujuan Khusus

a. Meningkatnya peran serta aktif dari masyarakat


dalam penyelenggaraan upaya kesehatan dasar
lansia,

b. Memberikan kemudahan akses bagi lansia dalam


mendapatkan pelayanan kesehatan dasar

c. Meningkatnya cakupan dan kualitas pelayanan


kesehatan kepada lansia di masyarakat,
khususnya aspek peningkatan dan pencegahan
tanpa mengabaikan aspek pengobatan dan
pemulihan

d. Meningkatnya jumlah Posyandu Lansia yang aktif


melaksanakan kegiatan dengan kualitas yang baik
secara berkesinambungan

e. Meningkatnya peran serta lintas sektor, termasuk


organisasi kemasyarakatan dan dunia usaha

22
dalam penyelenggaraan Posyandu Lansia, dalam
rangka meningkatkan kualitas hidup lansia.

C. Sasaran

1. Sasaran Langsung
a. Pra lanjut usia (usia 45 - 59 tahun)
b. Lanjut usia (usia ≥ 60 tahun)
c. Lanjut usia risiko tinggi, yaitu usia ≥ 70 tahun
atau lansia berusia ≥ 60 tahun dengan
masalah kesehatan.

2. Sasaran Tidak Langsung


a. Keluarga di mana lansia berada
b. Masyarakat di lingkungan lansia
c. Petugas kesehatan yang melayani kesehatan
lansia
d. Kader kesehatan Posyandu Lansia
e. Petugas lain yang menangani Posyandu
Lansia
f. Pemerintah desa/ kelurahan, tokoh
masyarakat, organisasi kemasyarakatan,
organisasi sosial yang peduli terhadap
pembinaan kesehatan lansia

23
D. Fungsi

1. Sebagai wadah pemberdayaan masyarakat dalam


alih informasi dan keterampilan dari petugas kepada
masyarakat dan antar sesama masyarakat dalam
rangka peningkatan kualitas hidup lansia.

2. Sebagai wadah untuk mendekatkan pelayanan


kesehatan dasar kepada lansia, terutama upaya
promotif dan preventif untuk peningkatan status
kesehatan dan kualitas hidup lansia.

E. Manfaat

1. Bagi Masyarakat
a. Memperoleh kemudahan untuk mendapatkan
informasi dan pelayanan kesehatan dasar,
terutama berkaitan dengan upaya peningkatan
kesehatan lansia.
b. Memperoleh layanan secara profesional dalam
pemecahan masalah kesehatan terutama terkait
upaya peningkatan kesehatan lansia.
c. Efisiensi dalam mendapatkan pelayanan
kesehatan dasar terpadu dengan pelayanan
sosial dasar dan sektor lain terkait.

24
2. Bagi Kader, pengurus Posyandu Lansia dan tokoh
masyarakat
a. Mendapatkan informasi terlebih dahulu tentang
upaya kesehatan yang terkait dengan upaya
peningkatan kesehatan lansia.
b. Dapat mewujudkan aktualisasi dirinya dalam
membantu masyarakat menyelesaikan masalah
kesehatan terkait dengan upaya peningkatan
kesehatan lansia.

3. Bagi Puskesmas
a. Optimalisasi fungsi Puskesmas sebagai pusat
penggerak pembangunan berwawasan
kesehatan, pusat pemberdayaan masyarakat,
pusat pelayanan kesehatan perorangan primer
dan pusat pelayanan kesehatan masyarakat
primer untuk meningkatkan status kesehatan
lansia
b. Dapat lebih spesifik membantu masyarakat dalam
pemecahan masalah kesehatan lansia sesuai
kondisi setempat.
c. Mendekatkan akses pelayanan kesehatan dasar
kepada lansia

25
4. Bagi sektor lain
a. Dapat lebih spesifik membantu masyarakat dalam
pemecahan masalah kesehatan dan sosial dasar
lainnya, terutama yang terkait dengan upaya
peningkatan kesehatan lansia sesuai kondisi
setempat.
b. Meningkatkan efisiensi melalui pemberian
pelayanan kepada lansia secara terpadu sesuai
dengan tugas, pokok dan fungsi (tupoksi) masing-
masing sektor.

F. Lokasi
Tempat penyelenggaraan kegiatan Posyandu
Lansia sebaiknya berada pada lokasi yang mudah
dijangkau oleh masyarakat. Posyandu Lansia berada di
setiap desa/kelurahan/nagari atau lebih baik lagi berada
di tingkat RW.

G. Kedudukan

1. Kedudukan Posyandu Lansi a Terhadap


Pemerintahan Desa/Kelurahan

Pemerintahan Desa/Kelurahan adalah instansi


pemerintah yang bertanggung jawab
menyelenggarakan pembangunan di desa/

26
kelurahan. Kedudukan Posyandu Lansia terhadap
pemerintahan desa/kelurahan adalah sebagai wadah
pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan dan
sosial dasar lainnya yang secara kelembagaan
dibina oleh pemerintahan desa/kelurahan.

2. Kedudukan Posyandu Lansia Terhadap Kelompok


Kerja Posyandu Lansia

Fungsi pembinaan posyandu dari pemerintah


dilaksanakan secara berjenjang. Adapun
kelembagaan yang mengkoordinasikan fungsi
pembinaan tersebut diorganisasikan melalui wadah
Kelompok Kerja Operasional (Pokjanal) Posyandu.
Pokjanal Posyandu adalah kelompok kerja yang
tugas dan fungsinya mempunyai keterkaitan dalam
pembinaan penyelenggaraan/ pengelolaan Posyandu
yang berkedudukan di Pusat, Provinsi,
Kabupaten/Kota dan Kecamatan. Sedangkan di
desa/kelurahan dikoordinasikan melalui kelompok
kerja (Pokja) Posyandu.

Kedudukan Posyandu Lansia terhadap Pokja


adalah sebagai satuan organisasi yang mendapat
binaan aspek administratif, keuangan, dan program
dari Pokja Posyandu lansia.

27
3. Kedudukan Posyandu Lansia Terhadap B erbagai
UKBM.

UKBM adalah bentuk umum wadah


pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan,
yang salah satu di antaranya adalah Posyandu
Lansia. Kedudukan Posyandu Lansia terhadap
UKBM dan berbagai lembaga kemasyarakatan/LSM
desa/kelurahan yang bergerak di bidang kesehatan
adalah sebagai mitra.

4. Kedudukan Posyandu Lansi a Terhadap Forum


Peduli Kesehatan Kecamatan.

Forum Peduli Kesehatan Kecamatan adalah


wadah pemberdayaan masyarakat di bidang
kesehatan yang dibentuk dari, oleh dan untuk
masyarakat di kecamatan yang berfungsi menaungi
dan mengkoordinir setiap Upaya Kesehatan
Bersumberdaya Masyarakat (UKBM). Kedudukan
Posyandu Lansia terhadap Forum Peduli Kesehatan
Kecamatan adalah sebagai satuan organisasi yang
mendapat arahan dan dukungan sumberdaya dari
Forum Peduli Kesehatan Kecamatan.

28
5. Kedudukan Posyandu Lansi a Terhadap
Puskesmas

Puskesmas adalah unit pelaksana teknis Dinas


Kesehatan Kabupaten/Kota yang bertanggung jawab
melaksanakan pembangunan kesehatan di
kecamatan. Kedudukan Posyandu Lansia terhadap
Puskesmas adalah sebagai wadah pemberdayaan
masyarakat di bidang kesehatan yang secara teknis
medis dibina oleh Puskesmas

6. Kedudukan Posyandu Lansia Terhadap Kelompok


Kerja (Pokja) Lansia di Kecamatan

Pokja Lansia adalah kelompok kerja yang tugas


dan fungsinya meningkatkan koordinasi dengan
semua sektor, lembaga swadaya masyarakat, tokoh
masyarakat dan sebagainya dalam pembinaan lansia
di tingkat kecamatan. Kedudukan Posyandu Lansia
terhadap Pokja lansia adalah sebagai satuan
organisasi yang mendapat binaan dari aspek
program dari pokja untuk meningkatkan kualitas
hidup lansia.

29
H. Pengorganisasian
Posyandu Lansia sebagai suatu wadah kegiatan
yang bernuansa pemberdayaan masyarakat, akan
berjalan baik dan optimal apabila memenuhi beberapa
komponen pokok, yaitu: adanya proses kepemimpinan,
terjadinya proses pengorganisasian, adanya anggota
kelompok dan kader serta tersedianya pendanaan.

Posyandu Lansia merupakan kegiatan yang


prinsipnya dari, oleh dan untuk masyarakat. Sebagai
kegiatan yang dikelola oleh masyarakat, untuk
pelaksanaannya memerlukan orang yang mampu
mengurus dan memimpin penyelenggaraan kegiatan
tersebut sehingga kegiatan yang dilaksanakan mencapai
hasil yang optimal. Dengan demikian kegiatan Posyandu
Lansia akan berjalan baik apabila ada sekelompok orang
yang mengurus atau memimpin penyelenggaraan
kegiatan tersebut yang biasanya berasal dari kelompok
itu sendiri (bersama anggota lansia).

Beberapa ciri penting adanya suatu proses


pengorganisasian dapat dilihat dari adanya pembagian
tugas, penunjukan kader, jadwal kegiatan yang teratur
dan sebagainya. Pengorganisasian akan berjalan baik
apabila proses kepemimpinan berfungsi untuk

30
menggerakkan sumberdaya yang ada, tenaga, materi
dari sumber lainnya. Struktur organisasi Posyandu Lansia
direkomendasikan sedikitnya terdiri dari ketua, sekretaris,
bendahara dan beberapa seksi dan kader. Struktur
organisasi di setiap kelompok sepenuhnya ditentukan
oleh kelompok itu sendiri, sesuai dengan aspirasi yang
berkembang di kelompok.

Gambar 1. Contoh Struktur Organisasi Posyandu Lansia

31
1. Pengelola Posyandu Lansia
Pengelola Posyandu Lansia adalah unsur
masyarakat, lembaga kemasyarakatan, organisasi
kemasyarakatan, lembaga swadaya masyarakat,
lembaga mitra pemerintah dan dunia usaha yang dipilih,
bersedia, mampu dan memiliki waktu dan kepedulian
terhadap pelayanan lansia di posyandu lansia.

2. Kader Posyandu Lansia


Jumlah kader disetiap Posyandu Lansia tergantung
pada jumlah anggota kelompok, volume dan jenis
kegiatan yaitu sedikitnya 5 orang. Kader sebaiknya
berasal dari anggota kelompok itu sendiri atau dapat
dipilih dari anggota masyarakat lainnya yang bersedia
menjadi kader kesehatan.

Persyaratan untuk menjadi kader antara lain :

- Dipilih dari dan oleh masyarakat setempat


- Mau dan mampu bekerja secara sukarela
- Bisa membaca dan menulis huruf latin
- Sabar dan memahami lansia

3. Anggota Posyandu Lansia


Rata-rata jumlah anggota Posyandu Lansia berkisar
± 50 – 100 orang. Perlu dipertimbangkan jarak antara

32
sasaran dengan lokasi kegiatan dalam penentuan jumlah
anggota, sehingga apabila terpaksa tidak menutup
kemungkinan anggota suatu kelompok kurang dari 50
orang atau lebih dari 100 orang.

I. Pembentukan

Pembentukan Posyandu Lansia di setiap daerah


bervariasi, namun pada prinsipnya pembentukan tersebut
didasarkan atas kebutuhan masyarakat khususnya
lansia, untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan
mereka agar tetap sehat, mandiri, aktif dan produktif
serta melakukan upaya rujukan bagi yang membutuhkan.

Ada beberapa pendekatan yang digunakan dalam


pembentukan Posyandu Lansia di masyarakat sesuai
dengan kondisi dan situasi masing-masing daerah,
misalnya mengembangkan kelompok-kelompok yang
telah ada seperti kelompok pengajian, kelompok jemaat
gereja, kelompok senam lansia, kelompok prolanis,
kelompok arisan lansia dan lain-lain. Pembentukan
Posyandu Lansia sebagai bagian dari pemberdayaan
masyarakat (sesuai dengan Permenkes Nomor 8 Tahun
2019), dilakukan dengan tahapan:
1. Pengenalan kondisi desa/kelurahan
2. Survei Mawas Diri

33
3. Musyawarah masyarakat di desa/Kelurahan
4. Perencanaan Partisipatif
5. Pelaksanaan kegiatan upaya kesehatan oleh
masyarakat
6. Pembinaan dan pelestarian kegiatan

Gambar 2. Langkah Penyelenggaraan Pemberdayaan Masyarakat

Masing-masing tahapan pembentukan selanjutnya


akan dibahas lebih rinci, sebagai berikut :

1. Pengenalan Kondisi Desa/Kelurahan

Pengenalan kondisi desa/kelurahan dapat


dilakukan melalui pertemuan tingkat desa, dibantu
oleh kader dan pemerintah desa/kelurahan.

34
Pertemuan ini merupakan langkah awal kegiatan
pembinaan peran serta masyarakat di tingkat
desa/kelurahan.

Tujuan pertemuan di tingkat desa adalah :


‐ Dikenalnya masalah kesehatan secara umum
termasuk lansia
‐ Dikenalnya program kesehatan lansia sebagai
upaya peningkatan kesehatan dan kualitas hidup
lansia
‐ Diperolehnya dukungan dari pamong dan pemuka
masyarakat setempat
‐ Disadari perlunya Survei Mawas Diri untuk
menelaah masalah kesehatan lansia setempat
‐ Tersusunnya kelompok ker ja (Pokja) untuk
melakukan Survei Mawas Diri.

Peserta Pertemuan :
1). Peserta dari tingkat Kecamatan :
‐ Camat/stafnya
‐ Kepala Puskesmas/staf
‐ Petugas sektor lain : Sosial, petugas
Kependudukan dan KB, Pertanian, Agama,
PKK, dll.

35
2). Peserta dari desa/kelurahan :
‐ Kepala Desa/Kelurahan/Nagari
‐ Ketua RW/RT
‐ Pemuka masyarakat, tokoh agama, tokoh
adat, tokoh pemuda, PKK.
‐ Organisasi yang ada di masyarakat

2. Survei Mawas Diri :

Survei Mawas Diri (SMD) adalah kegiatan


pengenalan, pengumpulan dan pengkajian masalah
kesehatan oleh sekelompok masyarakat setempat
dengan bimbingan dari petugas Puskesmas. Kegiatan
ini merupakan langkah penting untuk mengetahui
masalah kesehatan secara jelas, dan melihat potensi
yang dimiliki masyarakat dalam memecahkan
masalah yang ada.

Sasaran SMD antara lain warga masyarakat


seperti : tokoh masyarakat, kelompok peduli
kesehatan, kelompok pemuda (karang taruna, remaja
masjid, gereja, pramuka) kader, tokoh adat, ulama,
guru, wakil-wakil dari RT/dusun dll.

Hasil yang diharapkan dari pelaksanaan SMD ini


adalah :

36
‐ Masyarakat mengenal, mengumpulkan dan
mengkaji masalah kesehatannya sendiri.
‐ Masyarakat mengetahui masalah kesehatan yang
ada, urutan prioritas penanganannya, faktor
penyebab masalah kesehatan (termasuk perilaku
berisiko, non perilaku/lingkungan, dan kebijakan
yang ada di masyarakat)
‐ Timbulnya minat dan kesadaran masyarakat
untuk mengetahui masalah kesehatan sendiri
‐ Mengidentifikasi potensi yang dimiliki oleh
desa/kelurahan untuk mengatasi masalah
kesehatan, termasuk keberadaan UKBM.

3. Musyawarah Masyarakat Desa (MMD)

Musyawarah Masyarakat Desa/ Kelurahan


adalah pertemuan seluruh warga desa/kelurahan
untuk membahas hasil SMD dan merencanakan
penanggulangan masalah tersebut. MMD diikuti oleh
pemerintah desa/kelurahan, badan permusyawaratan
desa, petugas puskesmas, lintas sektor dan unsur
masyarakat sesuai dengan kondisi sosial budaya
masyarakat.
Sasaran MMD antara lain pemimpin formal dan
informal, TOMA dan anggota masyarakat (kader,

37
LKMD, pemuka masyarakat, wakil pemuka
masyarakat Desa / RW / RT/ Dusun/ Dukuh), kader
kesehatan, petugas kesehatan, tim SMD, Linsek desa
dan kecamatan, Ormas, LSM, Donatur, dll.

Tujuan yang ingin dicapai dari MMD ini adalah :


a. Menyosialisasikan program kesehatan lansia dan
hasil survey mawas diri
b. Memahami kemungkinan terjadinya masalah
kesehatan lansia dengan ditemukannya faktor
risiko penyebab penyakit di wilayahnya
c. Memahami adanya potensi masyarakat untuk
dapat mengantisipasi/ mengatasi masalah
kesehatan lansia
d. Menyepakati urutan prioritas masalah kesehatan
pada lansia yang hendak ditangani melalui
berbagai upaya pencegahan
e. Menyusun dan menyepakati rencana kerja
(kegiatan yang akan dilaksanakan melalui UKBM)
termasuk perorganisasian, mekanisme dan
sumberdaya untuk menanggulangi masalah
kesehatan lansia
f. Memetakan data/informasi potensi dan sumber
daya desa/kelurahan terkait pengembangan
intervensi kesehatan lansia,

38
g. Menggalang partisipasi warga desa/kelurahan
untuk mendukung pemberdayaan masyarakat
dalam meningkatkan status kesehatan lansia di
wilayahnya.

4. Perencanaan Partisipatif

Tahapan perencanaan partisipatif dilakukan oleh


masyarakat bersama pemerintah desa/kelurahan
dan kader. Perencanaan partisipatif tersebut
mencakup:
a. UKBM yang akan dibentuk atau diaktifkan
kembali, dan/atau kegiatan lain yang
memberdayakan masyarakat yang akan
dilaksanakan;
b. Sarana prasarana yang diperlukan untuk
Pemberdayaan Masyarakat; dan
c. Rencana anggaran, jadwal pelaksanaan,
sasaran kegiatan, dan penanggung jawab.
Hasil perencanaan partisipatif yang termasuk
kewenangan lokal berskala desa/kelurahan, menjadi
pedoman bagi pemerintah desa/kelurahan untuk
menyusun rancangan rencana kerja pemerintah
desa/kelurahan dan daftar usulan rencana kerja
pemerintah desa/kelurahan. Sedangkan hasil

39
perencanaan partisipatif yang memerlukan
dukungan puskesmas dapat menjadi pedoman bagi
puskesmas dalam menyusun rencana usulan
kegiatan puskesmas.

5. Pelaksanaan Kegiatan

Dilakukan oleh masyarakat, kader bersama-


sama dengan petugas Puskesmas atau petugas
lain. Kegiatan pelayanan kesehatan di Posyandu
Lansia dapat di intergrasikan dengan kegiatan lain,
misalnya bersamaan dengan acara keagamaan,
olah raga atau pertemuan sosial lainnya.
Tahapan kegiatan pelayanan kesehatan di
Posyandu Lansia dapat dilakukan dengan
menggunakan 5 tahapan.

6. Pembinaan dan Pelestarian Kegiatan

Tahap pembinaan kelestarian diarahkan untuk


menjamin pelaksanaan posyandu lansia agar dapat
berlangsung secara berkesinambungan sesuai
dengan tujuan yang ingin dicapai. Kegiatan
pembinaan dilakukan oleh petugas kesehatan
dengan cara mengkaji berfungsinya kepemimpinan
dalam pelaksanaan kegiatan Posyandu Lansia,

40
pengorganisasian dan pendanaan masyarakat
melalui telaahan mawas diri untuk dapat
menemukan kelemahan dan kekuatan UKBM
tersebut, sehingga dapat dilakukan peningkatan
jumlah dan kualitas kegiatannya.
Pembinaan yang teratur dan berkesinambungan
merupakan langkah penting dalam memelihara
kelestarian kegiatan. Kegiatan pembinaan
kelestarian dilaksanakan sesuai kebutuhan
masyarakat desa/kelurahan oleh masyarakat
bersama pemerintah desa/kelurahan dan
pendamping teknis, dilakukan melalui kegiatan:
a. Pertemuan berkala;

Dilakukan dengan melibatkan kader, pemerintah


desa, dan pemangku kepentingan terkait di desa
dengan waktu yang disepakati bersama sesuai
dengan kebutuhan

b. Orientasi bagi Kader;

Orientasi bagi Kader dilakukan untuk


meningkatkan pemahaman dan keterampilan
Kader, pemerintah desa, dan pemangku
kepentingan terkait dalam pelaksanaan
pemberdayaan masyarakat

41
c. Sosialisasi;

Sosialisasi dilakukan untuk memberikan


informasi kepada masyarakat terkait
perkembangan kegiatan pemberdayaan
masyarakat dan kegiatan kesehatan lainnya.

d. Penerbitan peraturan lokal;

Dilakukan melalui peraturan tertulis di


desa/kelurahan atau institusi terkait, dan/atau
peraturan tidak tertulis seperti hukum adat atau
norma sosial yang disepakati oleh masyarakat.

e. Pemantauan serta evaluasi.

Dilakukan secara berkala dengan melibatkan


unsur masyarakat, pemerintah desa dan
pembina teknis.

J. Pendanaan

1. Sumber Biaya
Pembiayaan Posyandu Lansia berasal dari
berbagai sumber, antara lain:
a. Masyarakat:
1) Iuran pengguna/pengunjung Posyandu
Lansia.

42
2) Iuran masyarakat umum dalam bentuk
dana sehat.
3) Sumbangan/donatur dari perorangan atau
kelompok masyarakat.
4) Sumber dana sosial lainnya, misal dana
sosial keagamaan (zakat infaq shadaqah
(ZIS), kolekte, dll.) dan sebagainya.

Apabila Forum Peduli Kesehatan Kecamatan


telah terbentuk, upaya pengumpulan dana
dari masyarakat ini sebaiknya dikoordinir oleh
Forum Peduli Kesehatan Kecamatan.

b. Swasta/Dunia Usaha

Peran aktif swasta/ dunia usaha juga


diharapkan dapat menunjang pembiayaan
Posyandu Lansia. Misalnya dengan
menjadikan Posyandu Lansia sebagai salah
satu bagian dalam penggunaan dana CSR
perusahaan. Bantuan yang diberikan dapat
berupa dana, sarana, prasarana, atau tenaga,
yakni sebagai sukarelawan Posyandu Lansia.

c. Hasil Usaha

Pengurus dan kader Posyandu Lansia dapat


melakukan usaha yang hasilnya

43
disumbangkan untuk biaya pengelolaan
Posyandu Lansia. Contoh kegiatan usaha
yang dilakukan antara lain:
1) Kelompok Usaha Bersama (KUB)
2) Hasil karya kader Posyandu Lansia,
misalnya kerajinan, Taman Obat
Keluarga (TOGA)

d. Pemerintah

Bantuan dari pemerintah terutama diharapkan


pada tahap awal pembentukan, yakni berupa
dana stimulan atau bantuan lainnya dalam
bentuk sarana dan prasarana Posyandu
Lansia yang bersumber dari dana APBN,
APBD Provinsi, APBD Kabupaten/Kota, Dana
Desa dan sumber lain yang sah.

2. Pemanfaatan dan Pengelolaan Dana

a. Pemanfaatan Dana
Dana yang diperoleh Posyandu Lansia,
digunakan untuk membiayai kegiatan
Posyandu Lansia, antara lain dalam bentuk:
1) Biaya operasional Posyandu Lansia
2) Biaya penyediaan PMT Penyuluhan.
3) Pengganti biaya perjalanan kader.

44
4) Modal usaha dalam melakukan kegiatan
pemberdayaan lansia
5) Bantuan biaya rujukan bagi yang
membutuhkan

b. Pengelolaan Dana
Pengelolaan dana dilakukan oleh pengurus
Posyandu Lansia. Dana harus disimpan
ditempat yang aman dan jika mungkin
mendatangkan hasil. Untuk keperluan biaya
rutin disediakan kas kecil yang dipegang oleh
kader yang ditunjuk. Setiap pemasukan dan
pengeluaran harus dicatat dan dikelola secara
bertanggungjawab.

K. Jenis Kegiatan
Sebagai wadah pelaksanaan kegiatan UKBM,
maka kegiatan yang dilakukan di Posyandu Lansia
dapat melibatkan semua sektor terkait. Penetapan
kegiatan baru harus mendapat dukungan dari seluruh
masyarakat yang tercermin dari hasil Survey Mawas
Diri (SMD) dan disepakati bersama melalui forum
Musyawarah Masyarakat Desa (MMD).

45
Beberapa kegiatan Posyandu Lansia yang dapat
diselenggarakan secara terpadu dengan sektor terkait
antara antara lain:
1. Pembinaan kesehatan lansia
2. Bina Keluarga Lansia (BKL)
3. Pembinaan kesejahteraan sosial lansia
4. Pertemuan dengan caregiver yang merawat lansia
dengan ketergantungan sedang, berat dan total.
5. Pemberdayaan lansia dengan kegiatan :
a. Peningkatan peran lansia dalam
meningkatkan status kesehatan keluarga
b. Program diversifikasi pertanian tanaman
pangan dan pemanfaatan pekarangan, melalui
Taman Obat Keluarga (TOGA).
c. Upaya kesehatan tradisional melalui
akupresur, pengolahan TOGA dan ramuan
tradisional herbal (jamu),
d. Kegiatan ekonomi produktif, seperti: usaha
peningkatan pendapatan keluarga, usaha
simpan pinjam
e. Kegiatan untuk pengembangan ekonomi
kreatif (melukis, membatik, kesenian seperti
angklung dll)
f. Kegiatan kerohanian

46
g. Forum diskusi
h. Dsb.

6. Kegiatan silaturahim/sosialisasi dan rekreasi


Dapat dilakukan secara berkala sesuai dengan
kesepakatan anggota posyandu lansia, misalnya:
latihan kesenian/pengembangan hobi, arisan,
mengunjungi obyek wisata, dsb.

47
:

48
49
50
A. Pelayanan Kesehatan

Pelayanan kesehatan di posyandu lansia terutama


bersifat promotif dan preventif yaitu dalam bentuk
deteksi dini masalah kesehatan, peningkatan
pengetahuan, dan membantu mempertahankan dan
meningkatkan kondisi kesehatan lansia baik fungsi fisik,
psikologis dan sosialnya. Hasil pemeriksaan akan dicatat
dalam Buku Kesehatan Lanjut Usia. Buku Kesehatan
Lansia digunakan sebagai alat pencatat dan pemantau
kondisi kesehatan lansia, sekaligus sebagai sumber
informasi terkait kesehatan lansia.

Kegiatan pelayanan kesehatan di posyandu lansia


terdiri dari kegiatan utama dan kegiatan
pengembangan/pilihan. Jenis kegiatan pelayanan
kesehatan yang dapat diberikan kepada pra lansia dan
lansia di posyandu lansia sebagai berikut:
1. Wawancara termasuk anamnesa perilaku berisiko
(APR)

51
2. Pemeriksaan tingkat kemandirian, dengan
menggunakan instrument penilaian Activity Daily
Living (ADL)/Aktifitas Kegiatan Sehari-hari (AKS)
(khusus untuk lansia).
3. Penilaian risiko jatuh (khusus untuk lansia).
4. Pemeriksaan status mental dan emosional, dengan
menggunakan instrumen penilaian Geriatric
Depression Scale (GDS) (khusus untuk lansia).
5. Pemeriksaan status kognitif, dengan menggunakan
instrumen penilaian Abreviated Mental Test (AMT)
atau Mini Cog dan Clock Drawing Test (CDT4)
(khusus untuk lansia).
6. Pemeriksaan status gizi melalui penimbangan berat
badan, pengukuran tinggi badan atau panjang depa,
dan pengukuran lingkar perut
7. Pengukuran tekanan darah dengan menggunakan
tensimeter
8. Pemeriksaan fisik termasuk deteksi dini adanya
anemia, gangguan penglihatan, gangguan
pendengaran dan sebagainya
9. Pemeriksaan laboratorium sederhana (kolesterol
dalam darah, gula darah sewaktu dan asam urat).
Dilakukan 1 kali setahun, kecuali yang mempunyai
kelainan.

52
10. Melakukan rujukan ke Puskesmas atau Rumah Sakit
bilamana ditemukan kelainan.
11. Penyuluhan secara berkelompok atau konseling
secara perorangan sesuai dengan masalah
kesehatan yang dihadapi oleh masing-masing lansia.
12. Kunjungan rumah oleh kader disertai petugas
kesehatan bagi lansia yang tidak datang atau belum
mau datang, agar tetap/mau berpartisipasi dalam
kegiatan posyandu.
13. Kegiatan lain yang dapat dilakukan sesuai
kebutuhan dan kondisi setempat:
a. Pemberian Makanan Tambahan (PMT)
Penyuluhan sebagai contoh menu makanan
dengan memperhatikan aspek kesehatan dan gizi
lanjut usia, menggunakan bahan makanan lokal
yang berasal dari daerah tersebut. Hendaknya
PMT lansia berupa makanan pokok berbasis
pangan lokal, makanan tinggi serat, rendah lemak
(tidak digoreng dan tidak bersantan).

b. Kegiatan aktivitas fisik/ latihan fisik antara lain


senam low impact, senam vitalisasi otak lansia,
gerak jalan santai dan lain sebagainya untuk
meningkatkan kebugaran, serta kegiatan lain

53
dalam rangka mempertahankan dan stimulasi
fungsi kognitif

c. Kegiatan pemberdayaan yang dapat dilakukan


secara terpadu dengan melibatkan lintas sektor
terkait. Misalnya pengembangan keterampilan
dan pembuatan kerajinan tangan, rekreasi, dan
lain lain. Sedangkan keterampilan dan hobi, bisa
dilaksanakan sesudah kegiatan utama atau
mengambil hari khusus.

d. Pemberdayaan lansia dalam meningkatkan status


kesehatan keluarga

e. Penguatan program perawatan jangka panjang


dengan melakukan pertemuan secara berkala
dengan caregiver (orang yang
mengasuh/merawat lansia yang mengalami
ketergantungan terhadap bantuan orang lain
untuk menjalankan kegiatan sehari-hari) di
Posyandu Lansia

54
B. Sarana dan Prasarana
Untuk kelancaran pelaksanaan kegiatan di Posyandu
Lansia, dibutuhkan sarana dan prasarana penunjang,
antara lain :
1. Tempat kegiatan (gedung, ruangan atau tempat
terbuka)
2. Meja dan kursi
3. Alat tulis
4. Lansia Kit, yang berisi : timbangan dewasa, meteran
pengukur lingkar perut, alat pengukur tinggi badan,
stetoskop, tensimeter, alat pemeriksaan laboratorium
sederhana beserta stick pemeriksaannya (gula darah,
kolesterol, dan asam urat) dan termometer.
5. Buku Kesehatan Lansia
6. Buku pencatatan kegiatan (register posyandu lansia,
buku register bantu, register kohort lansia)
7. Materi KIE (lembar balik, leaflet dll)
8. Alat atau bahan yang dapat membantu stimulasi
kognitif lansia

C. Waktu Penyelenggaraan

Penyelenggaraan Posyandu Lansia sekurang-


kurangnya dilaksanakan satu kali dalam sebulan. Hari
dan waktu yang dipilih, sesuai dengan hasil kesepakatan.

55
Apabila diperlukan, hari buka Posyandu Lansia dapat
lebih dari satu kali dalam sebulan.

D. Tempat Penyelenggaraan
Prinsip penentuan tempat penyelenggaraan
Posyandu Lansia adalah :

1. Berada di tempat yang mudah didatangi oleh


masyarakat, khususnya lansia
2. Ditentukan oleh masyarakat itu sendiri
3. Jika memungkinkan sebaiknya berlokasi dalam
gedung dan dilengkapi atau dekat dengan sarana
umum berupa lapangan yang memadai, untuk
memfasilitasi lansia melakukan aktivitas fisik, seperti
senam, jalan sehat, atau mendapatkan penyuluhan
kesehatan secara berkelompok.

Tempat yang dapat dijadikan Posyandu Lansia dapat


merupakan lokasi tersendiri yang disediakan oleh desa
seperti Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA),
balai desa, balai RW/RT/dusun, salah satu kios di pasar,
salah satu ruangan perkantoran, atau tempat khusus
yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat. Bila
tidak dimungkinkan, dapat dilaksanakan di rumah
penduduk, atau pos lainnya.

56
E. Pelaksana Kegiatan ( Serta Tugas dan T anggung
Jawabnya)
Kegiatan kesehatan di Posyandu Lansia dilakukan
oleh masyarakat dan kader bersama-sama dengan
petugas Puskesmas atau petugas lain. Tugas dan
tanggung jawab masing-masing pihak sebelum hari
pelaksanaan, pada hari pelaksaan, dan diluar hari
pelaksaan adalah sebagai berikut:

Gambar 3.
Penyelenggaraan Posyandu Lansia

57
1. Kader
a. Sebelum hari pelaksanaan Posyandu Lansia,
antara lain:
1) Menyebarluaskan informasi tentang hari
pelaksanaan Posyandu Lansia melalui
pertemuan warga setempat atau berkoordinasi
dengan petugas BKL untuk menggerakkan
lansia
2) Mempersiapkan tempat pelaksanaan
Posyandu Lansia
3) Mempersiapkan sarana Posyandu Lansia
4) Melakukan pembagian tugas antar kader
5) Berkoordinasi dengan petugas kesehatan dan
petugas lainnya
6) Mempersiapkan bahan PMT penyuluhan atau
promosi kesehatan lainnya, termasuk materi
pemberdayaan lansia dalam peningkatan
status kesehatan keluarga dan masyarakat.

b. Pada har i pelaksanaan Posyandu Lansi a,


antara lain:
1) Melaksanakan pendaftaran pengunjung
Posyandu Lansia.

58
2) Melaksanakan pengukuran tinggi badan, berat
badan, dan lingkar perut pra lansia dan lansia.
Dapat pula mengukur tekanan darah dengan
menggunakan tensimeter digital.
3) Mencatat hasil pengukuran di Buku Kesehatan
Lansia dan mengisi buku register Posyandu
Lansia.
4) Membantu petugas kesehatan memberikan
pelayanan sesuai kewenangannya.
5) Setelah pelayanan Posyandu Lansia selesai,
kader bersama petugas kesehatan
melengkapi pencatatan dan membahas hasil
kegiatan serta tindak lanjut.

c. Di Luar Hari Pelaksanaan Posyandu Lansia,


antara lain:
1) Mengadakan pemutakhiran data sasaran
Posyandu Lansia.
2) Membuat laporan data pelayanan kesehatan
di posyandu lansia.
3) Melakukan tindak lanjut terhadap
- Sasaran yang tidak datang
- Sasaran yang memerlukan penyuluhan
lanjutan

59
4) Memberitahukan kepada kelompok sasaran
agar berkunjung ke Posyandu Lansia saat hari
buka
5) Melakukan kunjungan tatap muka ke tokoh
masyarakat, dan menghadiri pertemuan rutin
kelompok masyarakat atau organisasi
keagamaan.

2. Petugas Puskesmas

Kehadiran tenaga Puskesmas yang diwajibkan di


Posyandu Lansia adalah satu kali dalam sebulan.
Dengan perkataan lain kehadiran tenaga kesehatan
Puskesmas tidak pada setiap hari pelaksanaan
Posyandu Lansia (untuk Posyandu Lansia yang buka
lebih dari 1 kali dalam sebulan). Peran petugas
Puskesmas pada hari pelaksanaan Posyandu Lansia
antara lain sebagai berikut :
a. Membimbing kader dalam penyelenggaraan
Posyandu Lansia khususnya dalam kegiatan bidang
kesehatan, termasuk dalam penyiapan PMT
penyuluhan
b. Melakukan pelayanan kesehatan berupa deteksi dini
masalah kesehatan terhadap lansia serta melakukan
rujukan ke Puskesmas atau Rumah Sakit.

60
c. Memberikan penyuluhan dan konseling kesehatan
lansia kepada pengunjung Posyandu Lansia.
d. Menganalisa hasil kegiatan Posyandu Lansia,
melaporkan hasilnya kepada Puskesmas serta
menyusun rencana kerja dan melaksanakan upaya
perbaikan sesuai dengan kebutuhan Posyandu
Lansia.

3. Camat, selaku penanggung jawab Pokjanal Posyandu


kecamatan:
a. Mengoordinasikan hasil kegiatan dan tindak lanjut
kegiatan Posyandu Lansia.
b. Memberikan dukungan dalam upaya meningkatkan
kinerja Posyandu Lansia.
c. Melakukan pembinaan untuk terselenggaranya
kegiatan Posyandu Lansia secara teratur.

4. Kepala Desa / Lurah, selaku penanggung jawab


Posyandu Lansia desa / kelurahan
a. Memberikan dukungan kebijakan, sarana dan dana
untuk penyelenggaraan Posyandu Lansia.
b. Mengoordinasikan penggerakan masyarakat untuk
dapat hadir pada hari pelaksanaan Posyandu Lansia
c. Mengoordinasikan peran kader Posyandu Lansia,
pengurus Posyandu Lansia dan tokoh masyarakat

61
untuk berperan aktif dalam penyelenggaraan
Posyandu Lansia.
d. Menindaklanjuti hasil kegiatan Posyandu Lansia
bersama Lembaga Pemberdayaan Masyarakat
(LPM), Lembaga Kemasyarakatan atau sebutan
lainnya.
e. Melakukan pembinaan untuk terselenggaranya
kegiatan Posyandu Lansia secara teratur.

5. Pokjanal Posyandu
a. Mengelola berbagai data dan informasi yang
berkaitan dengan kegiatan Posyandu Lansia;
b. Menyusun rencana kegiatan tahunan dan
mengupayakan adanya sumber-sumber pendanaan
untuk mendukung kegiatan pembinaan Posyandu
Lansia;
c. Melakukan analisis masalah pelaksanaan program
berdasarkan alternatif pemecahan masalah sesuai
dengan potensi dan kebutuhgan desa/kelurahan;
d. Melakukan bimbingan dan pembinaan, fasilitasi,
pamantauan dan evaluasi terhadap pengelolaan
kegiatan dan kinerja kader Posyandu Lansia secara
berkesinambungan;

62
e. Menggerakkan dan mengembangkan partisipasi,
gotong royong, dan swadaya masyarakat dalam
mengembangkan Posyandu Lansia.
f. Mengembangkan kegiatan lain sesuai dengan
kebutuhan;
g. Melaporkan hasil pelaksanaan kegiatan Posyandu
Lansia kepada Kepala Desa/Lurah dan Ketua
Pokjanal Posyandu Lansia Kecamatan.

6. Tokoh Masyarakat/Forum Peduli Kesehatan


Kecamatan (apabila telah terbentuk)
a. Menggali sumber daya untuk kelangsungan
penyelenggaraan Posyandu Lansia.
b. Menaungi dan membina kegiatan Posyandu Lansia.
c. Menggerakkan masyarakat untuk dapat hadir dan
berperan aktif dalam kegiatan Posyandu Lansia.

F. Mekanisme Pelaksanaan Kegiatan


Mekanisme pelaksanaan kagiatan
pelayanan kesehatan di Posyandu lansia
dilakukan dengan menggunakan 5 langkah
kegiatan sebagai berikut:
1. Langkah pertama: pendaftaran peserta
posyandu lansia dan pemberian buku
kesehatan lansia (dilakukan oleh Kader)

63
2. Langkah kedua: wawancara termasuk anamnesa perilaku
berisiko (APR), penimbangan berat badan dan
pengukuran tinggi badan atau panjang depa, pengukuran
lingkar perut, dan penilaian tingkat kemandirian lansia
(dilakukan oleh Kader)

3. Langkah ketiga: pengukuran tekanan darah, pemeriksaan


kesehatan, dan pemeriksaan status mental emosional
dan kognitif serta penilaian risiko jatuh (dilakukan oleh
petugas kesehatan dibantu kader)

64
4. Langkah keempat: pemeriksaan laboratorium sederhana
seperti : gula darah, kolesterol dan asam urat (dilakukan
oleh petugas kesehatan dibantu Kader)

5. Langkah kelima: pemberian konseling, pemberian PMT


penyuluhan dan pencatatan hasil (dilakukan oleh petugas
kesehatan)

Jika dalam pemeriksaan ditemukan kelainan, lansia


dapat dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan dasar
(puskesmas dll) yang ada di wilayah tersebut untuk
mendapatkan penanganan lebih lanjut. Untuk lebih jelasnya
mekanisme kegiatan sistem 5 langkah, lihat gambar berikut
ini:

65
Gambar 4.
Alur / Skema Pelaksanaan Kegiatan di Posyandu Lansia
66
Kebutuhan sarana dalam penyelenggaraan upaya kesehatan di posyandu lansia, dapat
dilihat dalam matriks berikut ini:
Langkah Kegiatan Sarana yang dibutuhkan
I Pendaftaran dan pemberian buku - Meja, kursi
kesehatan lansia - Alat tulis
- Buku Register dan buku pencatatan
kegiatan
- Buku Kesehatan Lansia
- Latihan fisik, Senam / jalan sehat - Tape recorder / VCD/ Video/Sound
- Penyuluhan system
- Pemberdayaan lansia - Media KIE (lembar balik, buku kesehatan
lansia, panduan praktis caregiver dalam
- Peningkatan fungsi kognitif
PJP bagi lansia, media KIE pedoman
pemberdayaan dll)
- Material / alat untuk stimulasi kognitif
II - Wawancara termasuk anamnesa - Meja, kursi
perilaku berisiko (APR) - Alat tulis
- Penimbangan berat badan (BB), - Buku Kesehatan Lansia
pengukuran tinggi badan (TB) untuk
- Timbangan
penentuan IMT

67
Langkah Kegiatan Sarana yang dibutuhkan
- Pengukuran lemak perut - Microtoise
- Pemeriksaan tingkat kemandirian - Meteran
- Pengukuran tekanan darah - Form P3G (Instrumen ADL/AKS)
III - Pemeriksaan fisik - Meja, kursi
- Pemeriksan status mental emosional - Alat tulis
- Pemeriksaan status kognitif - Form P3G
- Pemeriksaan risiko jatuh - Tensimeter digital
- Stetoskop
- Buku Kesehatan Lansia
IV - Pemeriksaan laboratorium sederhana - Alat monitor untuk gula darah, kolesterol,
asam urat, termasuk strip uji
V - Konseling, Pemberian PMT dan - Meja, kursi
Rujukan - Media KIE (leaflet, lembar balik, buku
kesehatan lansia dll)
- PMT Penyuluhan
Kader juga dapat membantu petugas kesehatan melakukan penilaian risiko jatuh,
GDS dan AMT dalam melakukan wawancara, namun TIDAK MELAKUKAN

68
penjumlahan skor atau menyimpulkan hasil penilaian
Kegiatan senam, penyuluhan kelompok,
pemberdayaan lansia dalam meningkatkan status kesehatan
keluarga dan kegiatan untuk peningkatan fungsi kognitif
(kemampuan berfikir), dapat dilakukan sebelum atau
bersamaan dengan melakukan 5 langkah kegiatan posyandu
lansia.
Sesuai dengan perkembangan dan kondisi masing-
masing daerah, kelompok diperbolehkan menggunakan
model pelaksanaan kegiatan di luar sistim 5 langkah, antara
lain :
• Terintegrasi dengan kelompok yang sudah ada (majelis
taklim, kelompok jemaat, kelompok arisan dll)
• Kegiatan khusus di sarana pelayanan kesehatan (hari
khusus untuk pelayanan lansia di Puskesmas, RSU, dll)

G. Kegiatan dalam rangka stimulasi kognitif lansia

Jenis kegiatan yang dapat dilakukan di posyandu lansia


dalam rangka peningkatan stimulasi kognitif lansia antara
lain: bermain catur, puzzle (untuk merangsang daya ingat),
mengisi teka-teki, membuat kerajinan tangan (terapi dengan
keterampilan), bermain angklung, melukis/menggambar
(terapi belajar), serta melakukan sosialisasi dengan sesama
peer group di posyandu lansia.

69
Selain berfungsi untuk mempertahankan dan
meningkatkan fungsi kogntif, metode ini juga dinilai cukup
efektif untuk menghilangkan rasa jenuh, bosan dan juga
mengisi waktu luang para lansia agar lebih aktif dan juga
bermanfaat. Kegiatan ini juga dapat melatih emosi,
perasaan, hati dan juga pikiran lansia agar lebih fokus dan
terarah. Petugas kesehatan bersama dengan kader dapat
mengembangkan berbagai permainan kreatif tersebut di
Posyandu Lansia.

H. Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Penyuluhan

Pemberian makanan tambahan (PMT) penyuluhan


adalah pemberian makanan tambahan kepada kelompok
lansia yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan
lansia tentang makanan dengan gizi seimbang sesuai
kebutuhan lansia. Perubahan fisik dan fungsi saluran cerna
pada lansia, membutuhkan perubahan pola makan dan jenis
makanan. Dengan demikian, jenis dan jumlah makanan
yang disajikan sebagai makanan tambahan pada
pelaksanaan posyandu, perlu juga diperhatikan.

Bahan makanan yang digunakan dalam penyiapan


makanan tambahan tidak perlu mahal. Sebaiknya, gunakan
bahan lokal yang ada di lingkungan sekitar.

70
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam
menyediakan PMT penyuluhan bagi lansia:
- Bentuk makanan disesuaikan dengan kemampuan
makan lansia. Sayuran dipotong lebih kecil, bila perlu
dimasak sampai empuk, dan daging dicincang.
- Porsi makan dibuat kecil dengan komposisi sesuai
dengan “Isi Piringku”.

Gambar 5
Isi Piringku (Sajian Sekali Makan)

71
- Tingkatkan cita rasa dengan penggunaan bumbu bumbu
seperti bawang merah, bawang putih, jahe, kunyit, lada
dan lain-lain. Namun tetap diperhatikan agar memilih
makanan dengan bumbu yang tidak merangsang.
- Batasi penggunaan garam, gula dan lemak.
- Makanan yang dikukus, dipanggang, dan direbus lebih
baik dari pada digoreng.
Beberapa contoh menu PMT penyuluhan bagi lansia (sekali
makan)

Makan Besar
Menu 1
‐ Nasi putih / merah : ¾ gelas
‐ Ikan bumbu kuning : 1 potong
‐ Tempe bacem : 1 potong
‐ Sayur asem : 1 gelas
‐ Pepaya : 1 potong sedang

Menu 2
‐ Nasi putih / merah : ¾ gelas
‐ Ayam panggang : 1 potong
‐ Pepes tahu : 1 potong
‐ Urap Sayuran : 1 gelas
‐ Jeruk : 1 buah sedang

72
Menu 3
Bihun goreng
‐ Bihun matang : 1/2 gelas
‐ Daging ayam cincang : 50 gram
‐ Buncis, wortel
‐ Telur dadar orak-arik : 1 butir
Menu 4
‐ Nasi putih / merah : ¾ gelas
‐ Tumis brokoli ikan, terdiri dari:
• brokoli rebus : 300 gram
• fillet ikan (gurami/kakap/dori) : 40 gram
• tahu sutra : 1 buah (potong dadu)
Menu Snack
Menu 1
‐ Kue talam : 1 potong
‐ Pisang : 1 buah

Menu 2
‐ Arem-arem isi sayur dan ayam giling
‐ Apel/pir : 1 buah

Menu 3
‐ Kacang kedelai/edamame : 1 buah
‐ Buah 2 macam, misal jeruk 1 buah dan anggur

73
Menu 4
‐ Empek-empek : 2 buah
‐ Jus buah : 1 cup

Variasi masakan dapat disesuaikan dengan menu dan


bahan lokal yang tersedia, dengan konsultasi ke
t i i

I. Pencatatan dan Pelaporan

Untuk memudahkan evaluasi dan pemantauan


keberlangsungan program, baik peningkatan dan
pengembangan kegiatan di Posyandu Lansia perlu
dilaksanakan pencatatan dan pelaporan oleh petugas
puskesmas. Pencatatan dan pelaporan dapat dilakukan
secara manual atau menggunakan sistem elektronik (dengan
menggunakan format pencatatan dan pelaporan kegiatan
Posyandu Lansia, kohort lansia). Hal-hal yang dicatat adalah
hasil pelaksanaan kegiatan yang dilakukan di Posyandu
Lansia, rekap hasil skrining/deteksi dini/status kesehatan
lansia, termasuk kegiatan penunjang dan pemberdayaan
lansia.

Hasil pencatatan ini kemudian dianalisis untuk


dipergunakan dalam evaluasi serta pembinaan, sekaligus
sebagai laporan kepada instansi terkait yang dilakukan

74
secara berjenjang. Pencatatan dilakukan juga oleh
Puskesmas dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota,
sedangkan pencatatan di tingkat Provinsi dan Pusat
disesuaikan dengan kebutuhan dengan menggunakan format
yang tersedia (format pencatatan kegiatan posyandu lansia)

Apabila sumber daya memungkinkan (tenaga dan


sarana prasarana) memungkinkan, kegiatan kesehatan di
Posyandu Lansia dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi
wahana ”Pusat Kegiatan Lansia di Masyarakat” yang
memiliki aktivitas lebih beragam pada tempat yang tetap dan
frekuensi kegiatannya lebih sering.

75
76
76
77
A. Konsep Integrasi

Posyandu lansia adalah Pos Pelayanan Terpadu bagi


lansia, yang berarti bahwa wadah ini merupakan tempat
pelaksanaan kegiatan yang terpadu dengan berbagai pihak
terkait meliputi lintas program, lintas sektor dan sebagainya.
Tetapi pelaksanaan keterpaduan ini masih belum optimal,
karena posyandu dianggap milik sektor kesehatan saja.
Sehubungan dengan hal tersebut, maka dalam pembinaannya
petugas puskesmas perlu melakukan sosialisasi dan advokasi
kepada pihak terkait bahwa posyandu lansia bukan hanya milik
sektor kesehatan tetapi merupakan wadah kegiatan dari
berbagai pihak terkait yang dapat melakukan berbagai kegiatan
secara terintegrasi di sini sehingga dapat memberikan hasil atau
dampak yang lebih optimal bagi lansia.

Seiring dengan perkembangan berbagai program terkait


lansia dengan permasalahan yang ada, maka pengintegrasian
kegiatan di Posyandu Lansia semakin dirasakan perlu dilakukan,
baik dengan lintas program, lintas sektor maupun mitra lainnya

79
seperti perguruan tinggi dan LSM, sehingga pelayanan yang
diberikan di Posyandu Lansia dapat lebih holistik dan
komprehensif. Hal ini diharapkan juga dapat menarik minat,
meningkatkan partisipasi dan kepatuhan lansia dalam
melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin di Posyandu
Lansia.

Beberapa kegiatan dari berbagai pihak yang sudah ada


di masyarakat diantaranya: Posbindu PTM, Puskesmas Keliling,
Bina Keluarga Lansia (BKL), pemberdayaan ekonomi
masyarakat khususnya lansia, kegiatan keagamaan, kegiatan
kesenian dan sebagainya. Semua kegiatan ini, untuk sasaran
pra lansia dan lansia, dapat dilaksanakan secara terintegrasi
dalam wadah posyandu lansia, sehingga dalam melakukan
perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasinya lebih
optimal. Seorang lansia tidak akan merasa harus datang dua kali
untuk mendapatkan pelayanan yang kadang-kadang sama tetapi
dilakukan oleh pihak yang berbeda, sehingga menjadi tidak
efektif dan efisien. Dengan kegiatan yang

80
terintegrasi akan menjadi lebih efektif dan efisien, dimana
lansia pada satu kali kunjungan akan mendapatkan paket
pelayanan yang lengkap.

Beberapa pihak yang dapat dilibatkan dalam kegiatan di


posyandu lansia dapat dilihat pada gambar di bawah ini :

Gambar 6
Konsep Pelaksanaan Kegiatan yang Terintegrasi di Posyandu Lansia

81
B. Teknis Pelaksanaan

Dalam pelaksanaan kegiatan integrasi dapat


disesuaikan dengan langkah kegiatan yang ada pada
Posyandu Lansia atau dikembangkan sesuai dengan
kebutuhan.

1. Integrasi dengan Lintas Program

Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa seorang lansia


diharapkan mendapatkan paket pelayanan yang lengkap
di Posyandu lansia, termasuk paket pelayanan kesehatan.
Dengan demikian semua program yang dikembangkan
oleh berbagai lintas program terkait kesehatan lansia
dapat disatukan menjadi paket pelayanan di posyandu
lansia sehingga diharapkan pelayanan sesuai
permasalahan dan kebutuhan yang diperlukan oleh lansia.

Dalam pelaksanaannya, bukan berarti hanya menjadi


tanggung jawab petugas lansia tetapi tetap tanggung dari
program masing-masing untuk sasaran lansia sehingga
hasilnya akan lebih optimal. Tugas dan tanggung jawab
dari lintas program yang mempunyai program khusus
tersebut tersebut antara lain :

a. Penanggung jawab program penyakit tidak menular


(PTM): bertanggung jawab terkait pencegahan dan

82
pengendalian masalah penyakit tidak menular bagi
penduduk usia 15 tahun ke atas, termasuk intervensi
yang perlu diberikan apabila mempunyai permasalahan
PTM tersebut. Dalam pelaksanaan posbindu PTM,
kegiatan utamanya adalah skrining faktor risiko PTM.
Seluruh kegiatan posbindu PTM merupakan bagian dari
kegiatan posyandu lansia. Oleh karenanya, untuk
sasaran usia pra lansia dan lansia sebaiknya dilakukan di
posyandu lansia.

Penanggung jawab program PTM tetap mempunyai


tanggung jawab untuk memastikan ketersediaan reagen
pemeriksaan untuk skrining PTM , pelaksanaan kegiatan
hingga pencatatan dan pelaporannya dengan
berkolaborasi bersama penanggung jawab program
kesehatan lansia. Penjelasan lebih lanjut mengenai
komponen kegiatan pada kedua UKBM tersebut dapat
dilihat pada matriks di bawah ini:

Posyandu Posbindu
No. Komponen Kegiatan
Lansia PTM
1. Pemeriksaan status gizi melalui
penimbangan berat badan dan √ √
pengukuran tinggi badan
2. Pengukuran lingkar perut √ √

83
Posyandu Posbindu
No. Komponen Kegiatan
Lansia PTM
3. Pengukuran tekanan darah serta
√ √
penghitungan denyut nadi
4. Skrining gangguan indra (penglihatan √
dan pendengaran)

(opsional)
5. Pemeriksaan kadar gula darah √ √
6. Pemeriksaan kadar kolesterol √

(opsional)
7. Penyuluhan dan konseling √ √
8. Pelaksanaan rujukan ke Puskesmas
√ √
bilamana ada keluhan
9. Kegiatan olah raga bersama antara lain
√ √
senam lansia pada posyandu lansia
10. Pemeriksaan status kemandirian,
mental emosional (termasuk √
kepikunan), dan kognitif
11. Pemeriksaan kadar asam urat √
12. Pemberian Makanan Tambahan (PMT)

Penyuluhan
13. Pemberdayaan potensi lansia √
14. Rekreasi √
15. Kunjungan rumah oleh kader disertai
petugas bagi anggota Kelompok Usia
Lanjut yang tidak datang, dalam √
rangka kegiatan perawatan kesehatan
masyarakat (Public Health Nursing).

Gambar 7.
Matriks Pelaksanaan Kegiatan Terintegasi

84
b. Penanggung jawab program gizi : bertanggung jawab
terkait masalah gizi lansia, termasuk intervensi yang
perlu diberikan apabila lansia mempunyai permasalahan
gizi.

c. Penanggung jawab program kesehatan jiwa:


bertanggung jawab terkait masalah kesehatan mental
emosional dan kognitif lansia, termasuk intervensi yang
perlu diberikan apabila lansia mempunyai permasalahan
kesehatan jiwa tersebut.

d. Penanggung jawab program penyakit menular :


bertanggung jawab terkait masalah penyakit menular
bagi lansia, termasuk intervensi yang perlu diberikan
apabila lansia mempunyai permasalahan penyakit
menular tersebut. Dalam pelaksanaan kegiatan seperti
skrining TBC, hepatitis dan sebagainya khususnya untuk
usia pra lansia dan lansia sebaiknya dilakukan di
posyandu lansia. Penanggung jawab program penyakit
menular tetap mempunyai tanggung jawab untuk
memastikan ketersediaan reagen pemeriksaan untuk
skrining tersebut.

e. Penanggung jawab program kesehatan gigi dan mulut :


bertanggung jawab terkait masalah kesehatan gigi dan
mulut bagi lansia, termasuk intervensi yang perlu

85
diberikan apabila lansia mempunyai permasalahan
tersebut. Dalam melakukan pemeriksaan kesehatan gigi
dan mulut bagi usia pra lansia dan lansia di posyandu
lansia dapat melibatkan dokter gigi.

f. Penanggung jawab program kesehatan indera


penglihatan dan pendengaran: bertanggung jawab terkait
masalah kesehatan indera penglihatan dan pendengaran
bagi lansia, termasuk intervensi yang perlu diberikan
apabila lansia mempunyai permasalahan tersebut.

g. Penanggung jawab program kesehatan olah raga:


bertanggung jawab terkait pengembangan terkait
kesehatan olah raga di masyarakat khususnya pra lansia
dan lansia. Dalam melakukan kegiatan olah raga bagi
usia pra lansia dan lansia di posyandu lansia dapat
melibatkan penanggung jawab program kesehatan olah
raga yang mungkin lebih terlatih dalam memberikan
contoh kegiatan olah raga yang aman bagi lansia.

h. Penanggung jawab program kesehatan tradisional:


bertanggung jawab terkait pengembangan program
kesehatan tradisional di masyarakat termasuk bagi pra
lansia dan lansia. Dalam melakukan kegiatan di
posyandu lansia dapat melibatkan penanggung jawab
program kesehatan tradisional yang mungkin lebih

86
terlatih dalam memberikan edukasi dan pembinaan
terkait pengembangan program kesehatan tradisional
yang dapat dilakukan oleh pra lansia dan lansia.

i. Penanggung jawab program untuk kegiatan puskesmas


keliling: bertanggung jawab terkait pelayanan kesehatan
khususnya pengobatan bagi masyarakat termasuk bagi
pra lansia dan lansia, yang aksesnya ke f asilitas
kesehatan sulit. Dalam melakukan kegiatan di posyandu
lansia dapat melibatkan penanggung jawab program
untuk kegiatan puskesmas keliling untuk memberikan
pengobatan lebih lanjut bagi pra lansia dan lansia yang
mempunyai permasalahan kesehatan, terutama bagi
daerah yang aksesnya sulit.

j. Penanggung jawab program promosi kesehatan:


bertanggung jawab terkait promosi kesehatan bagi lansia,
termasuk penyiapan media KIE yang perlu diberikan
kepada lansia. Dalam melakukan kegiatan promosi
kesehatan di posyandu lansia dapat melibatkan
penanggung jawab program promosi kesehatan sehingga
kegiatan penyuluhannya akan lebih menarik.

Pada saat pelayanan di Posyandu lansia lintas program


terkait bersama penanggung jawab program lansia dapat

87
memberikan pelayanan secara bersama-sama, sesuai
langkah kegiatan, sehingga kegiatan di posyandu lansia lebih
baik lagi. Terkait pencatatan dan pelaporan dapat dilakukan
dengan mengoptimalkan pencatatan dan pelaporan yang
sudah ada yang dilakukan oleh kader, untuk nanti dapat
diambil oleh pengelola program masing-masing sesuai
kebutuhannya.

2. Integrasi dengan Lintas Sektor

Hampir sama dengan lintas program, berbagai sektor


juga punya program dengan sasarannya adalah lansia. Saat
ini pelaksanaannya masih terkotak-kotak sehingga seorang
lansia tidak utuh mendapatkan program tersebut. Ke depan
diharapkan, seorang lansia di Posyandu lansia, bisa
mendapatkan paket pelayanan dari semua aspek secara
lengkap, meliputi aspek sosial, psikologis, ekonomi dan
spiritual. Posyandu lansia diharapkan tidak identik dengan
kegiatan kesehatan, tetapi lebih luas lagi juga merupakan
milik semua sektor yang dapat melaksanakan kegiatan disini
secara terintegrasi.

Sehubungan dengan hal tersebut, pembinaan posyandu


lansia bukan berarti hanya menjadi tanggung jawab petugas
kesehatan tetapi tetap tanggung petugas dari berbagai

88
sektor terkait yang juga masing-masing mempunyai kegiatan
dengan sasaran lansia sehingga hasilnya akan lebih optimal.

Tugas dan tanggung jawab dari lintas sektor dan


berbagai pihak terkait tersebut antara lain :
a. Instansi/Lembaga pemerintahan

1) Badan Pemberdayaan M asyarakat dan D esa/


BPMD/nama lainnya: berperan dalam fungsi
koordinasi penyelenggaraan pembinaan, penggerakan
peran serta masyarakat, pengembangan jaringan
kemitraan, pengembangan metode pendampingan
masyarakat, teknis advokasi, fasilitasi, pemantauan
dan sebagainya.

2) Petugas Lapangan K B : melalui programnya Bina


Keluarga Lansia (BKL), diharapkan dapat
dilaksanakan secara terintegrasi di posyandu lansia.
Peran yang dapat dilakukan adalah :
- Mendata keluarga yang mempunyai lansia
- Menggerakkan sasaran lansia untuk dapat hadir di
Posyandu Lansia.
- Pendampingan, konseling dan pembinaan
keluarga untuk mendukung pralansia/lansia hadir
di posyandu

89
- Memfasilitasi penggunaan BKL Kit bersama kader
BKL sebagai salah satu kegiatan tambahan di
posyandu lansia sehingga dapat membantu
meningkatkan fungsi kognitif lansia (pemenuhan
kebutuhan aspek Psikososial)
- Rekap permasalahan yang ada di tingkat keluarga
dan melakukan tindak lanjut atas permasalahan
yang didapat

Gambar 9
Fasilitator memfasilitasi permainan interaktif
Bina Keluarga Lansia (BKL) Kit pada lansia

90
3) Petugas S osial d i t ingkat kecam atan dan
desa/kelurahan

Petugas Sosial di tingkat kecamatan


dan desa/kelurahan antara lain
Tenaga Kesejahteraan Sosial
Kecamatan (TKSK), Lembaga
Kesejahteraan Sosial (LKS),
pendamping PKH dll, berperan
dalam:

- Mengidentifikasi sasaran lansia dan keluarga


tinggal bersama lansia yang memiliki masalah
sosial di tingkat kecamatan dan desa/kelurahan

- Menginventarisasi lansia yang mempunyai


permasalahan sosial dan melakukan tindak lanjut
terhadap penyelesaian permasalahan sosial yang
dihadapi lansia tersebut, misalnya penyediaan alat
bantu dengar, kacamata baca, kursi roda dan
sebagainya.

- Melakukan konseling masalah sosial pada lansia


dan pendampingan lansia/keluarga dengan lansia
yang memiliki masalah sosial dan mendorong agar
aktif mengikuti kegiatan posyandu lansia.

91
- Mengimplementasikan regulasi dan program di
bidang sosial kepada lansia secara terintegrasi
dengan sektor lain berdasarkan hasil kegiatan di
posyandu lansia. Misalnya syarat keluarga lansia
yang mendapatkan bantuan PKH – lansia harus
berpartisipasi pada kegiatan di posyandu lansia,
dan sebagainya.

4) Petugas Agama atau tokoh agama : berperan dalam


pembinaan aspek spiritual bagi lansia agar dapat
meningkatkan keyakinan spiritual lansia sehingga
menjalani hidup dengan damai dan bahagia serta lebih
siap dalam menghadapi akhir hayat yang damai dan
bermartabat.

5) Petugas y ang
bertanggung j awab
dalam pe mbinaan
Usaha M ikro K ecil
dan M enengah
(UMKM) t ingkat
kecamatan,
Koperasi U nit D esa, P etugas P enyuluh P ertanian
Lapangan (PPL), dsb. : berperan dalam hal
penyuluhan, pemberdayaan dan peningkatan

92
kemampuan lansia dalam mengembangkan usaha
ekonomi produktif, termasuk dalam bidang pertanian,
peternakan dan sebagainya.

6) Petugas yang bertanggung jawab terkait


kepariwisataan : berperan dalam hal penyuluhan,
pemberdayaan dan peningkatan kemampuan lansia
dalam mengembangkan kemampuan lansia di bidang
pariwisata serta dapat membantu memfasilitasi
terselenggaranya rekreasi bagi lansia.

7) Pengelola T aman K anak - Kanak ( TK), P endidikan


Anak U sia D ini ( PAUD), T aman P endidikan
Alqur’an ( TPA) dsb: berperan dalam memfasilitasi
pemberdayaan lansia untuk ikut berperan dalam
kegiatan TK, PAUD, TPA dan sebagainya sesuai
dengan potensi yang dimilikinya.

8) Institusi Pendidikan/Akademisi, berperan dalam:

- Melakukan pendampingan pelaksanaan kegiatan


di posyandu lansia

- Pengembangan instrumen dan pelaksanaan


monitoring serta evaluasi kualitas pelaksanaan
posyandu lansia

93
- Menjadi mitra dalam melakukan assessment,
penyuluhan dan pemeriksaan kesehatan lansia
yang melibatkan mahasiswa, sebagai salah satu
kegiatan dalam pengabdian masyarakat/ dharma
bakti perguruan tinggi bagi mahasiswa

- Terlibat aktif dalam mempersiapkan dan


pengembangan materi penyuluhan kesehatan
lansia

- Turut serta dalam kegiatan pembinaan kader


posyandu lansia

- Memanfaatkan kegiatan di Posyandu Lansia dalam


pengembangan riset operasional untuk
mendukung program.

b. Organisasi masyarakat, organisasi profesi dan


swasta

1) Tim Penggerak PKK, berperan dalam :

- Memfasilitasi dan berperan aktif dalam


penyelenggaraan Posyandu Lansia

- Penggerakkan peran serta masyarakat dalam


kegiatan Posyandu Lansia.

94
- Menggerakkan dan melakukan pembinaan Kader

- Memberikan penyuluhan, baik di dalam maupun


di luar Posyandu Lansia.

- Penyiapan PMT yang memenuhi syarat dan nilai


gizi untuk lansia

2) Organisasi Profesi

Organisasi Profesi, seperti: Ikatan Dokter Indonesia


(IDI), Persatuan Gerontologi Indonesia (PERGERI),
Persatuan Gerontologi Medik (PERGEMI), Persatuan
Perawat Nasional Indonesia (PPNI), dsb., berperan
dalam :

- Berpartisipasi dalam melakukan pelayanan


kesehatan dibantu oleh kader, termasuk
memberikan penyuluhan-penyuluhan, dan
sebagainya.

- Mendukung peningkatan kualitas maupun


kuantitas SDM yang diperlukan melalui
pelantikan-pelantikan

- Mendukung dalam pengembangan kegiatan dan


inovasi.

95
3) Organisasi K emasyarakatan l ainnya / LSM,
berperan dalam :

- Penggerakan masyarakat termasuk kader dalam


mendukung pelaksanaan kegiatan Posyandu
lansia

- Memberikan penyuluhan sesuai dengan minat


dan misi organisasi yang dilaksanakan secara
terintegrasi di Posyandu lansia

- Memberikan dukungan sarana dan dana untuk


pelaksanaan kegiatan Posyandu Lansia.

4) Swasta/Dunia Usaha, berperan dalam :

- Memberikan dukungan sarana (seperti tempat


kegiatan, lansia kit, reagen/stick pemeriksaan
laboratorium sederhana, buku kesehatan lansia
dsb) dan dana untuk operasional pelaksanaan
kegiatan Posyandu Lansia (seperti honor kader,
PMT penyuluhan, biaya transportasi dsb)

- Berperan aktif sebagai sukarelawan dalam


pelaksanaan kegiatan posyandu lansia.

96
Pelaksanaan kegiatan secara terintegrasi di posyandu
lansia sebaiknya dilakukan di tempat yang lebih luas, sehingga
lansia yang mendapatkan pelayanan lebih terorganisir dengan
baik supaya menjadi lebih nyaman. Apabila tidak
memungkinkan maka hari pelaksanaan Posyandu lansia dapat
dilakukan lebih dari satu kali dalam sebulan, dengan jenis dan
jadwal pelaksanaan kegiatan sesuai dengan kesepakatan, baik
dengan lintas sektor terkait maupun dengan lansia sendiri.

97
98
97
98
A. Pembinaan dan pengawasan
Pembinaan dan pengawasan Posyandu Lansia
dilakukan secara berjenjang dari pusat, provinsi,
kabupaten/kota, kecamatan, desa/kelurahan dan
puskesmas. Peran petugas puskesmas sangat penting
khususnya dalam pembinaan teknis operasional
pelaksanaan di lapangan, agar kelangsungan dan
kesinambungan kegiatan tetap terpelihara.

1. Pembinaan dan Pengawasan dalam Aspek


Pengelolaan
Bentuk pembinaan dan pengawasan dalam pengelolaan
posyandu lansia dilakukan secara berjenjang sebagai
berikut:
a. Menteri Dalam Negeri melakukan pembinaan dan
pengawasan di tingkat provinsi terhadap pelaksanaan
layanan kesehatan dasar dan layanan sosial dasar
lainnya di Posyandu Lansia;
b. Gubernur melakukan pembinaan dan pengawasan di
tingkat kabupaten/kota terhadap pelaksanaan

101
layanan kesehatan dasar dan layanan sosial dasar
lainnya di Posyandu Lansia;
c. Bupati/Walikota melakukan pembinaan dan
pengawasan di tingkat kecamatan terhadap
pelaksanaan layanan kesehatan dasar dan layanan
sosial dasar lainnya di Posyandu Lansia;
d. Dalam melakukan pembinaan dan pengawasan
terhadap pelaksanaan layanan kesehatan dasar dan
layanan sosial dasar lainnya di Posyandu Lansia
desa/kelurahan, Bupati/Walikota dapat melimpahkan
kepada Camat.
e. Kepala Desa melakukan pembinaan terhadap
pelaksanaan layanan kesehatan dasar dan layanan
sosial dasar lainnya di Posyandu Lansia;

Di tingkat desa/kelurahan dapat dibentuk tim


pelaksana pembinaan lanjut usia dengan anggota
yang berasal dari aparat pemerintahan desa,
organisasi sosial kemasyarakatan, tokoh agama,
tokoh masyarakat, PKK, kader kesehatan, dan lain-
lain.

102
Pembinaan dan pengawasan dapat dilakukan
melalui: sosialisasi, rapat koordinasi, konsultasi,
workshop, lomba, penghargaan dan pelatihan.

2. Pembinaan dan P engawasan da lam Aspek T eknis


Kegiatan Pelayanan Kesehatan

Puskesmas wajib melakukan pembinaan secara


internal dan eksternal dalam penyelenggaraan pelayanan
kesehatan di dalam Posyandu Lansia secara
berkesinambungan.
a. Pembinaan Internal
Pembinaan internal dilakukan oleh Puskesmas
(Kepala Puskesmas) untuk memastikan bahwa petugas
yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan
Posyandu Lansia memiliki kapasitas untuk
melaksanakaan pelayanan dengan baik dan benar
sesuai SOP, dengan:
1) Memastikan kompetensi petugas dengan
menugaskan petugas untuk mengikuti pelatihan
terkait pelayanan kesehatan lansia,
2) Memperhitungkan durasi penugasan dan
meminimalisir mutasi petugas kesehatan agar
program dapat berjalan dengan baik,

103
3) Melakukan monitoring kinerja petugas puskesmas
dalam penyelenggaraan posyandu lansia.

b. Pembinaan Eksternal
Pembinaan eksternal dilakukan untuk memastikan
keberlangsungan pelaksanaan Posyandu Lansia, berupa:
1) Asistensi kepada masyarakat, kelompok lansia,
lintas sektor dan mitra kerja puskesmas (dunia
usaha) dengan menggunakan prinsip kemitraan,
2) Melibatkan peran serta aktif seluruh pihak terkait
sebagai mitra petugas yang secara bersama-sama
menganalisa dan memecahkan masalah dengan
memanfaatkan potensi yang dimiliki.
3) Meningkatkan kapasitas kader dengan memberikan
orientasi, sosialisasi, atau pelatihan sesuai dengan
pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan
dalam pelaksanaan posyandu lansia.

B. Evaluasi

Evaluasi merupakan salah satu kegiatan pembinaan


yang dilakukan melalui proses pengukuran hasil yang telah
dicapai untuk mengetahui tingkat keberhasilan implementasi
penyelenggaraan Posyandu Lansia. Selain itu, evaluasi

104
dilakukan untuk memberikan umpan balik sebagai dasar
penyempurnaan pembinaan dan pengembangan program.

Kegiatan evaluasi tersebut harus dilaksanakan secara


berkesinambungan. Evaluasi dapat dilakukan pada seluruh
pelaksanaan kegiatan Posyandu Lansia, mulai dari input,
proses, dan output.

Untuk melakukan evaluasi tingkat perkembangan


Posyandu Lansia secara baik dan akurat diperlukan
beberapa indikator. Sehubungan dengan hal tersebut diatas,
ditetapkan beberapa indikator yang dapat dijadikan bahan
untuk mengevaluasi tingkat perkembangan kegiatan
Kelompok Lansia di bidang kesehatan, sebagai berikut :

1. Frekuensi pertemuan atau pelaksanaan kegiatan selama


satu tahun.

2. Kehadiran kader

3. Cakupan pelayanan kesehatan. Cakupan yang dilihat


adalah cakupan per kunj ungan d ibanding t otal
sasaran dan cakupan kumulatif pe laksanaan 1 t ahun
kegiatan dibanding total sasa ran. Variabel yang dinilai
antara lain :
- Cakupan penimbangan (berat badan) dan pengukuran
tinggi badan, apabila tidak memungkinkan bisa diganti

105
dengan pengukuran cara lain sesuai kondisi lansia
(penentuan status gizi) supaya lebih fleksibel
- Cakupan pemeriksaan laboratorium sederhana (gula
darah, kolesterol dan asam urat)
- Cakupan hasil pemeriksaan kesehatan
- Cakupan lansia yang ikut penyuluhan

4. Kegiatan penunjang antara lain :


- Senam lansia
- Pengajian/pendalaman agama
- Diskusi atau pertemuan ceramah
- Usaha ekonomi produktif
- Pemberdayaan lansia
- Pengembangan hobi
- Rekreasi, dll
- Pengembangan menjadi ”Pusat Kegiatan Lansia di
Masyarakat”.

5. Tersedianya dana untuk penyelenggaraan kegiatan


kelompok lansia.

C. Tingkat Perkembangan Posyandu Lansia

Perkembangan masing-masing Posyandu Lansia tidak


sama. Penilaian tingkat perkabupaten Posyandu Lansia perlu
dilakukan, selain untuk memberikan motivasi agar terus

106
menuju kualitas yang lebih baik, juga memberikan acuan
bagi pembinaan oleh petugas. Dengan demikian, pembinaan
yang dilakukan untuk masing-masing Posyandu Lansia juga
berbeda sesuai kondisi dan kebutuhannya. Untuk
mengetahui tingkat perkembangan Posyandu Lansia, telah
dikembangkan metode dan alat telaahan perkembangan
Posyandu Lansia, yang dikenal dengan nama Telaah
Kemandirian Posyandu Lansia. Tingkat perkembangan
Posyandu Lansia dapat digolongkan menjadi 4 tingkat yaitu:

1. Posyandu Lansia Pratama

a. Kriteria
Posyandu Lansia Pratama adalah Posyandu
Lansia yang belum mantap, yang ditandai oleh
kegiatan bulanan Posyandu Lansia belum
terlaksana secara rutin (< 8 kali setahun), jumlah
kader sangat terbatas yakni kurang dari 3 (tiga)
orang, cakupan pelayanan kesehatan masih
rendah (lihat tabel), senam lansia < 8 kali per
tahun, kegiatan tambahan dan sektor terkait (jenis)
tidak ada, pendanaan berasal dari masyarakat
tidak ada.

107
b. Penyebab
Penyebab tidak terlaksananya kegiatan rutin
bulanan Posyandu Lansia, di samping karena
jumlah kader yang terbatas, dapat pula karena
belum siapnya masyarakat.

c. Intervensi
Intervensi yang dapat dilakukan untuk
perbaikan peringkat antara lain memotivasi
masyarakat serta menambah jumlah kader dan
intervensi lain sesuai dengan permasalahan yang
ditemukan.

2. Posyandu Lansia Madya


a. Kriteria
Posyandu Lansia Madya adalah Posyandu
Lansia yang sudah melaksanakan kegiatan
bulanan Posyandu Lansia 8-9 kali setahun, jumlah
kader 3 (tiga) sampai 4 (empat) orang, cakupan
pelayanan kesehatan masih rendah (lihat tabel),
senam lansia 8-9 kali per tahun, kegiatan
tambahan dan sektor terkait (jenis) ada 1,
pendanaan berasal dari masyarakat tidak ada.

108
b. Penyebab
Penyebab tidak terlaksananya kegiatan rutin
bulanan Posyandu Lansia, antara lain dapat
karena jumlah kader yang terbatas, atau karena
belum siapnya masyarakat, dsb.
c. Intervensi
Untuk meningkatkan cakupan dapat
dilakukan dengan mengikutsertakan tokoh
masyarakat sebagai motivator serta lebih
menggiatkan kader dalam mengelola kegiatan
Posyandu Lansia. Contoh intervensi yang dapat
dilakukan antara lain:
- Sosialisasi tokoh masyarakat
- Menerapkan SMD dan MMD di Posyandu
Lansia, dengan tujuan untuk merumuskan
masalah dan menetapkan cara
penyelesaiannya, dalam rangka meningkatkan
cakupan Posyandu Lansia.
- dsb.

3. Posyandu Lansia Purnama


a. Kriteria
Posyandu Lansia Purnama adalah Posyandu
Lansia yang sudah melaksanakan kegiatan

109
bulanan Posyandu Lansia≥ 10 kali setahun,
jumlah kader 5 (lima) orang atau lebih, cakupan
pelayanan kesehatan sudah mulai baik (lihat
tabel), senam lansia ≥ 10 kali per tahun, kegiatan
tambahan dan sektor terkait (jenis) ada 2,
pendanaan berasal dari masyarakat < 50%.
b. Penyebab
Penyebab dapat karena belum optimalnya
kemitraan dengan lintas sektor dan kemandirian
sumber pendanaan.
c. Intervensi
Intervensi yang dapat dilakukan antara lain:
- Sosialiasi kepada lintas program terkait untuk
meningkatkan peran sertanya dalam kegiatan
Posyandu Lansia yang dapat juga difasilitasi
melalui pokja lansia
- Sosialisasi program dana sehat yang bertujuan
untuk memantapkan pemahaman masyarakat
tentang dana sehat dan aktif mencari donatur
melalui swasta dan yang lain yang tidak
mengikat.
- dsb.

110
4. Posyandu Lansia Mandiri

a. Kriteria
Posyandu Lansia Mandiri adalah Posyandu
Lansia yang sudah melaksanakan kegiatan
bulanan Posyandu Lansia≥ 10 kali setahun,
jumlah kader 5 (lima) orang atau lebih, cakupan
pelayanan kesehatan sudah baik (lihat tabel),
senam lansia > 10 kali per tahun, kegiatan
tambahan dan sektor terkait (jenis) > 2, pendanaan
berasal dari masyarakat > 50%.
b. Intervensi
Intervensi yang dapat dilakukan bersifat
penguatan termasuk pembinaan program dana
sehat, sehingga terjamin kesinambungannya.
Selain itu dapat dilakukan intervensi
memperbanyak jenis kegiatannya sesuai dengan
kebutuhan dan kemampuan masing-masing.

B. Indikator Tingkat Perkembangan Posyandu Lansia


Untuk mengetahui tingkat perkembangan Posyandu
Lansia, ditetapkan seperangkat indikator yang digunakan
sebagai penyaring atau penentu tingkat perkembangan
Posyandu Lansia. Secara sederhana indikator untuk tiap

111
tingkat perkembangan dapat diuraikan dalam matriks
sebagai berikut:

112
INDIKATOR PRATAMA MADYA PURNAMA MANDIRI
Frekuensi pertemuan (x/thn) <8 8-9 ≥ 10 ≥10

Kehadiran Kader (pada hari H) (Orang) <3 3-4 ≥5 >5

Pelayanan Kesehatan (per bulan)


• Cakupan Penimbangan (CB) < 30% 30% - 50% >50% >50%
• Cakupan Pemeriksaan Kesehatan, termasuk < 25% 25% - 40% >40% >40%
pengukuran TD (CK)
• Cakupan Penyuluhan (CP) < 30% 30% - 50% >50% >50%
Pelayanan Kesehatan (kumulatif dalam 1 tahun)
• Cakupan Penimbangan dan pengukuran tinggi < 50% 50% - 80% >80% >80%
badan (CB)
• Cakupan Pemeriksaan Laboratorium < 40% 40% - 60% >60% >60%
sederhana (CL)
• Cakupan Pemeriksaan Kesehatan, termasuk < 50% 50% - 80% >80% >80%
pengukuran TD , status fungsional dan mental
(CK) < 50% 50% - 80% >80% >80%
• Cakupan Penyuluhan - PHBS (CP)
Senam Lansia <8 8-9 ≥10 >10
Kegiatan Sektor Terkait (jenis) 0 1 2 >2

Pendanaan Kegiatan Berasal dari Masyarakat - - < 50% > 50%

113
114
112
113
Peningkatan jumlah penduduk lansia yang
merupakan akibat dari peningkatan umur harapan hidup akan
mengakibatkan berbagai permasalahan kesehatan dan sosial
yang dapat berpengaruh terhadap kualitas hidup lansia.
Proses menua adalah proses alamiah yang akan dialami
semua orang yang dianugerahi umur panjang. Namun tentu
kualitas hidup yang baiklah yang diharapkan. Untuk itu,
diperlukan penanganan promotif dan preventif secara
komprehensif, terpadu dan berkesinambungan bagi pra lansia
dan lansia, dimulai dari kegiatan di komunitas agar masalah
kesehatan yang timbul dapat diantisipasi sedini mungkin.

Sesuai dengan semangat pelaksanaan otonomi di


daerah, operasionalisasi kegiatan di Posyandu Lansia saat ini
sangat bervariasi dan beragam sesuai dengan kondisi dan
kebutuhan setempat, dimana pembinaannya merupakan
tanggung jawab bersama antara Pemerintah Daerah dan
masyarakat, termasuk swasta yang diwujudkan dengan
menggunakan asas kemitraan.

117
Buku ”Pedoman untuk Puskesmas dalam
Penyelenggaraan Kegiatan Kesehatan di Posyandu Lansia”
ini dapat dijadikan sebagai salah satu acuan bagi petugas
kesehatan di Puskesmas dan petugas lainnya dalam
melaksanakan kegiatan yang berkaitan dengan pembinaan
kesehatan lansia di masyarakat, khususnya di Posyandu
Lansia secara terintegrasi.

Keberhasilan pengelolaan kegiatan di Posyandu


Lansia memerlukan dukungan yang kuat dari berbagai pihak,
baik dukungan moril, materil maupun finansial. Selain itu
diperlukan adanya kerjasama yang harmonis antara berbagai
sektor terkait. Apabila kegiatan Posyandu Lansia dapat
diselenggarakan dengan baik, diharapkan dapat memberikan
kontribusi yang besar dalam upaya menurunkan angka
kesakitan dan meningkatkan kemandirian, serta kualitas hidup
lansia, yang pada akhirnya akan dapat meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat di Indonesia.

118
116
117
LAMPIRAN 1
Format Pencatatan dan Pelaporan

FORMAT PENCATATAN DAN P ELAPORAN KESEHATAN LANJUT USIA DI POSYANDU LANSIA


POSYANDU :
DESA/KELURAHAN :
PUSKESMAS :
KECAMATAN :
BULAN :

Jml Kasus
Umur Kegiatan sehari-hari Hasil pemeriksaan Pengobatan
Kunjungan Konseling Penyul Pemberd
No Nama Lansia 45-59 60-69 > 70 Kemandirian Ggn IMT Tek. Darah Hb Kolesterol Gula Darah Asam Urat Ggn Ggn ayaan Ket.
Ggn Ggn uhan
Penglihata DiobatiDirujuk B L S Lansia
B L L P L P L P A B C ME L N K T N R N K N T N T N T ginjal kognitif pendengaran
n
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22

JUMLAH

Mengetahui
Penanggung jawab wilayah Ketua kader Posyandu ......

______________ ________________

121
Lampiran 2
Petunjuk P engisian Format P encatatan d an P elaporan
Hasil Kegiatan Posyandu Lansia

1 No Urut : Sudah jelas

2 Nama Lansia : Sudah jelas


3 Kunjungan B = Baru adalah pasien yang berkunjung
untuk pertama kali dalam tahun berjalan
L = lama adalah pasien yang berkung untuk
yang kedua dan seterusnya dalam tahun
berjalan
Kunjungan berlaku untuk 1 tahun berjalan
4 Umur Ditulis umur pada kolom yang sesuai dengan
kelompok umur lansia dan kolom jenis kelamin
(Laki-laki (L) atau Perempuan (P))
5. Kemandirian : Ditulis skor hasil sesuai dengan hasil
pemeriksaan dengan instrumen AKS / ADL
dan dibelakangnya ditulis sesuai kategori yaitu
M, R, S, B, T pada kolom sesuai kriteria skor

Kategori A: apabila lanjut usia masih mampu


melakukan aktifitas kegiatan sehari-hari tanpa
bantuan sama sekali dari orang lain.
 Mandiri (skor ADL: 20) ditulis “hasil
pemeriksaan (M)”

Kategori B: apabila ada gangguan dalam


melakukan sendiri, hingga kadang-kadang
perlu bantuan

122
- Ketergantungan Ringan (skor ADL: 12 –
19) ditulis “hasil pemeriksaan (R)” atau
- Ketergantungan Sedang (skor ADL 9 –
11) ditulis “hasil pemeriksaan (S)”

Kategori C: apabila lanjut usia sama sekali


tidak mampu melakukankegiatan sehari-hari,
sehinga sangat tergantung
- Ketergantungan Berat (skor ADL : 5-8)
ditulis “hasil pemeriksaan (B)” atau
- Ketergantungan Total (skor ADL 0 – 4)
ditulis “hasil pemeriksaan (T)”

Contoh : 18 (R)
6. Mental emosional : Diisi hasil pemeriksaan status mental yang
berhubungan dengan keadaan mental
emosional, sesuai dengan instrumen
pemeriksaan status mental Geriatric
Depression Scale (GDS)

Tulis skor hasil pemeriksaan, dan selanjutnya:


‐ beri tanda (+) apabila ada dugaan
gangguan mental emosional : jumlah skor
5-9 menunjukkan kemungkinan besar ada
gangguan depresi atau skor ≥ 10
menunjukkan ada gangguan depresi
‐ beri tanda (-) apabila tidak ada gangguan
mental emosional : jumlah skor 0-4

123
7 IMT : Penilaian status gizi lansia dengan melakukan
pengukuran Berat Badan dan Tinggi Badan
untuk menentukan IMT
L (lebih)
IMT = BB/(TBxTB)
N (normal)
K (kurang)
Disamping itu, dalam penentuan IMT, apabila
Tinggi Badan tidak memungkinkan bisa
menggunakan panjang depa atau tinggi lutut
atau tinggi duduk

Diisi dengan nilai hasil pengukuran Berat


Badan (kg) dan Tinggi Badan (meter).

Kemudian hitung Indeks Masa Tubuh (IMT)


dengan mencari titik temu antara garis bantu
yang menghubungkan berat badan yang sudah
diukur dengan tinggi badan.

Atau hitung IMT menggunakan rumus:

IMT =

Selanjutnya tulis juga hasil perhitungan IMT


tersebut beserta kode IMT
Nilai normal IMT untuk lanjut usia berkisar
antara 18.5 – 25.

Hasil diisi pada kolom sesuai kriteria IMT


‐ (L) Lebih: bila titik temu terdapat pada
daerah grafik dengan warna merah (IMT
lebih dari 25)
‐ (N) Normal: bila titik temu terdapat pada
daerah grafik dengan warna hijau (18,5 –
25)

124
‐ (K) Kurang: bila titik temu terdapat pada
daerah grafik dengan warna kuning (IMT
kurang dari 18.5)

Pengisian dilakukan pada kolom sesuai bulan


kunjungan, diisi dengan :

BB / TB
IMT

Contoh : ditulis di kolom N:

50/1,5
22,2

8 Tekanan Darah : Ukur tekanan darah dengan tensimeter digital


T (tinggi) atau tensimeter dan stetoskop
N (normal) Tuliskan angka hasil pemeriksaan pada kolom
R (rendah) sesuai kriteria :
‐ (T) Tinggi: bila salah satu dari sistole atau
diastole, atau keduanya di atas normal
‐ (N) Normal: bila sistole antara 100 -140
mmHg dan diastole 70 – 95 mmHg
‐ (R) Rendah: bila sistole atau diastole
dibawah normal

Contoh : Pada kolom T ditulis 150 / 90


9 Hb (jika dilakukan : Tuliskan nilai/kadar hemoglobin hasil
pemeriksaan) pemeriksaan pada kolom sesuai kriteria:
N (normal) - (N) Normal: bila kadar hemoglobin 13 g%
K (kurang) untuk pria dan 12 g% untuk wanita
- (K) Kurang: bila kadar hemoglobin di
bawah kadar normal sesuai jenis kelamin

Contoh: pada kolom N ditulis 12

125
10 Kolesterol : Diperoleh dari hasil pemeriksaan kolesterol.
N (normal) Tuliskan nilai/kadar kolesterol hasil
T (Tinggi) pemeriksaan pada kolom sesuai kriteria :
- (N) Normal : bila kadar kolesterol total < 190
mg / dL
- (T) Tinggi : Bila kadar kolesterol total ≥
190 mg / dL

Contoh : pada kolom N ditulis 165

11 Gula Darah : Diperoleh dari hasil pemeriksaan gula darah.


N (normal) Tuliskan nilai/kadar gula darah hasil
T (Tinggi) pemeriksaan pada kolom sesuai kriteria :
- (N) Normal : bila kadar gula darah sewaktu
< 200 mg/dL
- (T) Tinggi : bila kadar gula darah sewaktu
≥ 200 mg/dL

Contoh : pada kolom N ditulis 188


12 Asam Urat : Diperoleh dari hasil pemeriksaan asam urat.
N (normal) Tuliskan nilai/kadar asam urat hasil
T (Tinggi) pemeriksaan pada kolom sesuai kriteria :
- (N) Normal : bila kadar asam urat L (3.5
mg/dL – 7 mg/dL) dan P (2.6 mg/dL – 6.0
mg/dL )
- (T) Tinggi : bila kadar asam urat L > 7
mg/dL dan P > 6 mg/dL

Contoh : pada kolom N ditulis 4


13 Gangguan Ginjal : Berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan fisik:
- beri tanda (+) apabila ditemukan gejala
gangguan ginjal
- beri tanda (-) apabila tidak ditemukan
gejala gangguan ginjal

126
14 Gangguan : Diisi hasil pemeriksaan status kognitif lansia
Kognitif menggunakan instrumen Abbreviated Mental
Test (AMT) atau Mini Cog dan Clock Drawing
Test (CDT4) atau Mini Mental State
Examination (MMSE)

Tulis kode jenis instrumen yang digunakan :


1. AMT*: Abbreviated Mental Test
2. CDT4* : Mini Cog dan Clock Drawing
Test
3. MMSE* : Mini Mental State Examination

Kemudian tulis skor hasil pemeriksaan, dan


selanjutnya:
‐ beri tanda (+) apabila ada penurunan
fungsi kognitif
‐ beri tanda (-) apabila tidak ada penurunan
fungsi kognitif

* Penentuan nilai batas skor untuk (+) atau (-)


dari masing-masing instrumen adalah :

1. AMT :
- Skor 8-10 menunjukkan tidak ada
gangguan ingatan  (-)
- Skor 0 - 7 menunjukkan adanya
gangguan ingatan sedang dan berat 
(+)

2. CDT4 :
‐ Dikatakan curiga fungsi kognitifnya
menurun (+) : apabila tidak dapat
mengingat satu atau lebih kata yang
diberikan sebelumnya dan atau tidak
mampu menggambar jam dengan

127
sempurna (skor < 4)
‐ Kemungkinan fungsi kognitif dalam
batas normal (-) : Apabila dapat
mengingat tiga kata yang diberikan
sebelumnya dan atau mampu
menggambar jam dengan sempurna
(skor 4)

3. MMSE :
‐ (+ ) : Skor 0-10
fungsi kognitif global buruk, atau
skor 11-20: fungsi kognitif global
sedang
‐ ( - ) : Skor 21 – 30
fungsi kognitif global masih relatif baik

contoh : AMT / 7 / +

15 Gangguan : Berdasarkan hasil anamnesa dan pemeriksaan


penglihatan ditemukan gangguan penglihatan (katarak,
glaukoma, presbiop dll)
- Beri tanda (+) : apabila ditemukan
gangguan penglihatan dan dituliskan jenis
gangguannya Selanjutnya dibelakangnya
ditulis SK jika sudah dikoreksi atau BK
jika belum dikoreksi
- Beri tanda (-) : apabila tidak ditemukan
gangguan penglihatan

Contoh : (+) gangguan refraksi (BK)

128
16 Gangguan : Berdasarkan hasil anamnesa dan pemeriksaan
pendengaran ditemukan gangguan pendengaran
- Beri tanda (+) : apabila terdapat keluhan
sulit untuk mendengar atau hasil tes
pendengaran menunjukkan adanya
gangguan pendengaran.
Selanjutnya tuliskan (SK) jika sudah
dikoreksi atau (BK) jika belum dikoreksi
- Beri tanda (-) : apabila tidak ditemukan
gangguan pendengaran

Contoh : (+) Presbikusis (BK)

17 Diobati : Beri tanda (+) atau (–) bila :


(+) : bila lanjut usia diobati
(-) : bila lanjut usia tidak diobati
18 Dirujuk : Beri tanda (+) atau (–) bila :
(+) : bila lanjut usia dirujuk ke tingkat
pelayanan kesehatan yang lebih tinggi
(-) : bila lanjut usia tidak dirujuk/hanya sampai
di Puskesmas
19 Konseling Beri tanda (+) bila lansia diberikan konseling
sesuai dengan masalah kesehatannya pada
sesuai kolom:
‐ B (Baru) : apabila konseling diberikan
untuk kasus baru
‐ L (Lama) : apabila konseling diberikan
untuk kasus lama
‐ S (Selesai) : apabila pasien sudah selesai
diberikan konseling untuk satu kasus

Beri tanda (-) bila lansia tidak diberikan


konseling

129
20 Penyuluhan ‐ Beri tanda (+): bila lansia mendapat
penyuluhan, dan tulis jenis penyuluhan
yang diberikan
‐ Beri tanda (-): bila lansia tidak mendapat
penyuluhan

Dan dibelakangnya dituliskan materi


penyuluhan yang disampaikan

Contoh : (+) Hipertensi

Note : pada bagian ini dapat juga dituliskan


tentang edukasi PHBS

21 Pemberdayaan Pemberdayaan lansia dalam meningkatkan


Lansia status kesehatan keluarga atau masyarakat
atau pemberdayaan lansia dalam bidang lain
yang difasilitasi oleh tenaga Puskesmas

‐ Beri tanda (+): bila lansia dilakukan


pemberdayaan dalam meningkatkan
kesehatan keluarga atau masyarakat atau
bidang lainnya. Kemudian, di bagian
belakang tuliskan jenis pemberdayaannya:
‐ IH : untuk kesehatan ibu hamil
‐ B : untuk kesehatan bayi dan anak
balita
‐ R : untuk kesehatan anak usia sekolah
dan remaja
‐ D : untuk kesehatan usia dewasa dan
pra lansia
‐ L : untuk kesehatan lansia
‐ BL : bidang lainnya

‐ Beri tanda (-): bila lansia tidak dilakukan


pemberdayaan dalam meningkatkan
kesehatan keluarga atau masyarakat atau
bidang lainnya

130
22 Ket Apabila ada keterangan yang dirasa perlu
untuk ditambahkan

Pada bagian ini dapat juga diisi terkait :


- Anamnesa perilaku risiko (APR)
Ditulis : APR /+/tuliskan perilaku
berisikonya : jika dilakukan anamnesa
perilaku berisiko dan APR /- : jika tidak
dilakukan
Contoh : APR / + / merokok

- Hasil pengukuran lingkar perut


Ditulis : LP/ hasil /kesimpulan :
(N) : jika hasil pemeriksaan lingkar perut
Normal bagi L (≤ 90 cm) dan P (≤ 80 cm)
(L) : jika hasil lebih besar dari nilai Normal

Contoh : LP / 85 / L

131
Lampiran 3
Instrumen Pengkajian Paripurna Pasien Geriatri (P3G)

132
133
134
135
136
137
138
139
140
141
142
Lampiran 4
Pengalaman Pelaksanaan Posyandu Lansia dari Daerah

KISAH SUKSES
POSYANDU LANSIA/POSBINDU JALAK BALI

A. GAMBARAN UMUM
Pada Tahun 2007 Posyandu Lansia/Posbindu Jalak
Bali melakukan pengembangan dengan mengadakan
pelayanan dan pembinaan terhadap para Lanjut Usia.
Posyandu Lansia/Posbindu Jalak Bali berada di RW 07
Kelurahan Cikondang Kecamatan Citamiang Kota
Sukabumi, dibentuk pada bulan Agustus 2007.
Didorong dengan niat yang tulus dan keinginan
mewujudkan rasa hormat terhadap para lanjut usia, Kader
Posyandu Lansia/Posbindu Jalak Bali mengikuti Pelatihan
yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Kota
Sukabumi sebagai bekal dalam pengelolaan Posyandu
Lansia/Posbindu Jalak Bali agar prosedur yang di
laksanakan mencapai tujuan yang di harapkan, yaitu
melayani dan membina para lanjut usia menjadi Sehat,
Mandiri, Produktif, Sejahtera dan Terhormat. Adapun
Sarana dan Prasarana Swadaya Masyarakat, industri peduli
lansia dan bantuan Pemerintah.

143
Donatur Tetap yang ditandai dengan Nota Kesepahaman
Bersama (MoU) antara lain :
1. PT Male Karya Bersinar Sukabumi, sebesar RP.
4.800.000,- per tahun
2. Apotik Indomedika Sukabumi, sebesar RP. 3.600.000,-
per tahun

Sasaran Pra Lansia dan Lansia adalah sebagai berikut


1 Pra Lansia Usia 45 – 59 tahun : 60 orang

2 Lansia Usia 60 – 69 tahun : 10 orang


3 Resti usia > 70 tahun : 30 orang

Frekuensi Pelayanan : 12 kali dalam


setahun
Jumlah Kader : 10 orang

Persentase (%) Cakupan Lansia yang ditimbang/total


lansia (D/S) dari tahun 2015 s.d 2017

Tahun Pra Lansia Lansia


2015 30% : 50%
2016 33% : 63%
2017 30% : 60%

144
Ruang lingkup Layanan meliputi bidang Kesehatan,
Keagamaan, Olah Raga, Wisata, Pengelolaan Sampah
Plastik melalui Bank Sammi sehingga menjadi penghasilan
bagi lansia dan kegiatan-kegiatan khusus.

Prestasi yang telah diperoleh :


1. Tahun 2009 mewakili Kecamatan Citamiang mengikuti
Lomba Posbindu se Kota Sukabumi memperoleh Juara II
2. Tahun 2015 mewakili Kecamatan Citamiang mengikuti
Lomba Posbindu se Kota Sukabumi memperoleh Juara I

B. JENIS KEGIATAN
Pelayanan Hari Jumat (Minggu keempat)
Frekuensi Pelayanan 12 kali dalam satu tahun
1. Kegiatan Pokok
Kesehatan (Skrining Kesehatan : penimbangan berat
badan, pengukuran tinggi badan, pemeriksaan
tekanan darah, penyuluhan kesehatan, Cek
Laboratorium)
2. Kegiatan Pendukung
a. Keagamaan (pengajian rutin)
b. Olah Raga ( jalan santai, senam lansia )
c. Rekreasi / Wisata setahun sekali

145
d. Penanggulangan Sampah Plastik, Lansia sebagai
Nasabah Bank Sammi
e. Kegiatan khusus :memperingati Hari Lanjut Usia
Nasional, Hari Kemerdekaan, Gathering Lansia

C. SUSUNAN PENGURUS
Penanggung Jawab : Ketua RW 07
Kelurahan Cikondang
Ketua : Tuti Maryati
Sekretaris : E. Komara Ziatina
Bendahara : Mamay Maryani
Anggota : Unang Yusuf
Dewi Setiarni, Eti Supiati
Nani Fitrianingsih, Erna
Hernawati, Yayan Maryani
Susilawati

D. TUGAS POKOK DAN FUNGSI


1. Ketua
a. Bertanggung atas segala kegiatan Posyandu
Lansia/Posbindu Jalak Bali
b. Bersama-sama dengan Sekretaris menyusun
Program Kerja

146
c. Memantau dan mengevaluasi jalannya kegiatan
Posyandu Lansia/Posbindu
d. Mengajak dan menghimbau seluruh Kader
Posyandu Lansia/Posbindu untuk senantiasa
bekerja keras, bekerja cerdas dan bekerja ikhlas
2. Sekretaris
a. Bersama-sama dengan Ketua menyusun
Program Kerja
b. Melaksanakan tugas Kesekretariatan
c. Membantu Ketua memantau mekanisme
organisasi Posbindu Lansia
3. Bendahara
a. Bersama-sama dengan ketua membuat Rencana
Anggaran Biaya Posyandu Lansia/Posbindu
b. Membuat Analisa Kebutuhan Biaya Posyandu
Lansia/Posbindu
c. Mengadministrasikan semua Pemasukkan dan
Pengeluaran Kebutuhan Biaya Posyandu
Lansia/Posbindu
d. Melaporkan semua penggunaan keuangan
Posyandu Lansia/Posbindu setiap bulan,
Triwulan dan Tahunan
4. Anggota Pelaksana Teknis pada setiap kegiatan
Posbindu Lansia

147
E. PENGELOLAAN KEGIATAN
Strategi pengelolaan Posyandu Lansia/Posbindu
tergantung dengan 3M, yaitu : Man, Materials and
Money ;
a. Man
Sumber daya manusia (kader) yang cakap dan
cerdas, baik hard skill (terampil) maupun soft skil
(santun, loyal, jujur, tanggung jawab, ikhlas, kerja
sama), mengacu kepada kecerdasan qalbu.
b. Materials
Penunjang untuk kegiatan Posyandu
Lansia/Posbindu adalah area, meja, kursi,lemari
dokumen, barang ATK, media informasi (struktur
organisasi, display expo, papan informasi, banner dll)
serta alat deteksi kesehatan (tensi meter, microtois,
timbangan serta laboratorium tester), Pengadaan
makanan tambahan bagi lansia (PMT). Pengajuan
proposal kepada perusahaan/instansi dalam
menghimpun bantuan sarana.
c. Money
Seluruh kebutuhan akan terpenuhi manakala
Posbindu memiliki anggaran. Pertanyaannya …
adakah ?… punyakah… ? dan pasti jawaban klasik
adalah … tidak memiliki.

148
F. SUMBER DANA
Penggalangan dana dengan strategi sebagai berikut :
1. Seleksi Masyarakat yang peduli lansia
2. Perusahaan Peduli Lansia ditandai dengan Nota
Kesepahaman Bersama
Dengan dokumen terlampir

G. INOVASI YANG TELAH DILAKUKAN


1. Penghijauan lingkungan Posbindu Lansia :
a. Pengembangan Tanaman Obat Keluarga sebagai
Obat Tradisional
b. Tanaman Hidroponik sebagai tanaman yang
dapat di konsumsi keluarga
2. Pengelolaan Sampah Plastik melalui Bank Sammi
dan menjadi penghasilan bagi lansia
3. Posyandu Lansia/Posbindu merupakan kegiatan
pengembangan, sehingga dibuat penerbitan Nota
Kesepahaman Bersama yang berikutnya dengan
Posyandu sebagai Induk Organisasi
4. Promosi keberadaan Posyandu Lansia/Posbindu
sebagai Organisasi Peduli Lansia.

149
H. FAKTOR PENDUKUNG/ PENGHAMBAT
PELAKSANAAN DAN SOLUSI
1. Faktor Pendukung :
a. Adanya Masyarakat peduli lansia
b. Aparat RT / RW
c. Adanya Kader berkeinginan kuat untuk
mengembangkan Posbindu Lansia
d. Adanya Puskesmas Tipar Kota Sukabumi
sebagai Pembina
e. Adanya kepedulian Industri/Instansi terhadap
para usia lanjut
2. Faktor Penghambat :
a. Masih adanya pra lansia dan lansia yang belum
bersedia datang ke Posbindu karena masih usia
produktif bekerja
b. Masih adanya pemahaman masyarakat yang
minim tentang manfaat Posyandu
Lansia/Posbindu
3. Solusi:
a. Melakukan Sosialisasi terhadap warga tentang
manfaat Posbindu menggunakan cara koordinasi
dengan ketua RT / RW dan terhadap keluarga
lansia dengan cara kunjungan kader ke rumah-
rumah lansia

150
b. Meningkatkan jejaring/ kerja sama dengan semua
pihak
c. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan
Kader Posyandu Lansia/Posbindu.
d. Meningkatkan Promosi keberadaan Posyandu
Lansia/Posbindu
e. Pelayanan kegiatan di hari libur (sabtu)

I. DOKUMENTASI KEGIATAN

Kegiatan Pemeriksaan Kesehatan dan Penyuluhan

151
Sosialisasi dan Rekreasi

Menanam Tanaman Obat Keluarga (TOGA) dan Hidroponik

152
Contoh MoU Kegiatan

153
154
155
Contoh Proposal Kegiatan

156
157
158
159
160
161
KOMUNITAS LANSIA (POSBINDU LANSIA)
“DAHLIA SENJA”
KELURAHAN LIMO, DEPOK
MOTTO : “LANSIA SEHAT, GEMBIRA, BERGUNA”
PEMBINA: Hj. RATNA HABSARI

Keinginan sederhana menjadi tua yang sehat, gembira dan


berguna sudah cukup menggambarkan bahwa lansia tidak
menjadi beban, namun masih bisa berdaya guna, Lansia bisa
bermanfaat untuk keluarga, masyarakat, juga bangsa.

162
ORGANISASI

Pengurus ada 4 orang yang terdiri dari Ketua, Wk Ketua,


Sekretaris dan Bendahara, dibantu 6 orang kader. Mereka juga
sebagai koordinator, mengkoordinir anggota posbindu yang
tersebar tempat tinggalnya, dalam kelompok kelompok yang
sesuai areal tinggalnya ( berdekatan). Jumlah anggota Dahlia
Senja terdaftar 130 orang.

Hal ini bertujuan agar pesan maupun rencana kegiatan


bisa langsung cepat sampai kepada anggota. Perlu diketahui
anggota Dahlia Senja adalah golongan menengah kebawah,
Kebanyakan mereka tidak mempunyai HP. Ataupun tidak bisa
membaca.

Kader juga bertugas sebagai koordinator kegiatan,


misalnya koordinator senam, koordinator kerja bakti/kebun,
koordinator kerajinan, pengajian, pemeriksaan kesehatan, home
visit.

KEGIATAN

Senam seminggu sekali, Pemeriksaan kesehatan sebulan


sekali, Penyuluhan kesehatan minimal dua kali setahun, Piknik
minimal sekali setahun, Kerjabakti kelompok seminggu sekali,
latihan kerajinan dua minggu sekali,pengajian seminggu sekali,

163
Home Visit (mengunjungi lansia sakit/miskin kerumahnya)
sebulan sekali.Membuat peringatan HLUN, HLUIN, Alzheimer,
dan banyak menghadiri event event yang diselenggarakan pihak
lain.

PENDUKUNG DAN HAMBATAN

Bermula dari minimnya dana yang tersedia yaitu bantuan


stimulan dari pemkot Depok sebesar 1,500,000 setahun,
pengurus mencoba mencari sumber yang lain.

Upaya tersebut adalah dengan mempromosikan setiap


kegiatan ke berbagai pihak seperti ke lembaga, perusahaan
juga ke perorangan /Pribadi. Promosi tersebut lewat media
social, koran, pembuatan website dll, juga secara tatap muka,

Pengurus mengajak masyarakat untuk berperan serta


peduli kepada para lansia. Dan usaha ini berhasil, Beberapa
lembaga dan perorangan / pribadi mendukung kegiatan Dahlia
Senja, baik dukungan moril maupun finansil. Dukungan
pemerintah dan s wasta sebagai dukungan m oril dan
sumber ilmu, antara lain:

1. Pemerintah Depok (kelurahan, kecamatan, puskesmas,


Pemkot) menjadi pusat acuan

164
2. CAS UI (Centre for Ageing Studies) UI dalam pelatihan
Care Giver
3. KPPPA (Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan Anak) dalam pelatihan berkebun
4. WIC (Women’s International Club) Jakarta dalam pelatihan
kerajinan
5. Dosen dan mahasiswa UPN Veteran FiKes dalam pelatihan
Bantuan Hidup Dasar dan pelaksanaan kegiatan bulanan
pemeriksaan kesehatan dan Home Visit
6. Penyuluhan/seminar dari Perwatusi, Yayasan Alzi Depok dll
7. IPB sebagai partner penelitian kesehatan lansia (biscuit
clarias), sumber informasi dll

Dukungan pendanaan

1. Pemerintah Kota Depok ( dana rutin tahunan)


2. WIC Jakarta, sembako, bedah kamar lansia kumuh, kursi
roda dll
3. BPRS Al Salaam sembako untuk lansia miskin di kegiatan
Home Visit
4. PT xxx
5. Yayasan YYY penyandang dana senam setiap Sabtu
6. Beberapa donatur perorangan, penyandang dana piknik
tahunan , event event tertentu seperti peringatan HLUN,
pembagian kasur, selimut dll

165
Demikianlah usaha kami mengajak masyarakat untuk peduli
terhadap lansia dg himbauan ”Lansia adalah orang tua kita”
cukup berhasil

Namun demikian masih ada juga hambatan untuk kegiatan


para lansia ini, yaitu masih ada pihak yang menyepelekan
karena ini hanya kelompok lansia . Seperti waktu terjadi
negosiasi dan lansia diremehkan, ditipu dan di bohongi

Perlakuan masyarakat terhadap lansia masih kurang


menghargai, seperti fasilitas yg kurang memadai seperti bis,
perlengkapan, lokasi dll yg tidak sesuai dg kondisi lansia./ tidak
memperhitungkan kondisi lansia ketika lansia berurusan dengan
pihak pihak tertentu untuk suatu kegiatan/acara

Belum kuatnya dukungan pemerintah terhadap kegiatan


lansia seperti pemasaran hasil produk kerajinan lansia yg
terbatas. Harusnya hasil karya dan pemasaran produk lansia
mendapat perlakuan khusus. Seperti dicarikan bapak angkat,
dibantu dipasarkan secara tersendiri/khusus.

Kalau dibiarkan bersaing bebas, disandingkan dengan


hasil karya dan kemampuan berkarya kaum muda yg pasti lebih
enerjik, penuh tenaga dan jaringan yg luas, lansia kebanyakan
kalah. Karena saat umur 60 tahun mereka baru mulai berkarya,
dan kebanyakan gagap teknologi.

166
DOKUMENTASI KEGIATAN POSYANDU LANSIA
DAHLIA SENJA

167
168
169
170
POSYANDU LANSIA DI PUSKESMAS KO’MARA
POSYANDU LANSIA A’JULU ATI “RASA KURMA LASTRI”

171
Posyandu lansia Puskesmas Ko’mara adalah wadah
pelayanan kesehatan bersumber daya masyarakat (UKBM)
untuk melayani penduduk lansia di wilayah kerja Puskesmas
Ko’mara, yang proses pembentukan dan pelaksanaannya
dilakukan oleh masyarakat bersama lintas sektor pemerintah
dan non- pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, organisasi
sosial dan lain-lain dengan menitik beratkan pelayanan
kesehatan pada upaya promotif dan preventif. Di samping
pelayanan kesehatan, Posyandu lansia juga memberikan
pelayanan pendidikan, keterampilan, agama, sosial, olahraga,
dan pelayanan lain yang dibutuhkan para lansia.
Tujuannya ialah untuk meningkatkan kualitas hidup
melalui peningkatan kesehatan dan kesejateraan. Selain itu
Posyandu lansia membantu memacu lansia agar dapat
beraktifitas dan mengembangkan potensi diri sesuai
kemampuannya.
Posyandu Lansia/Kelompok Lansia di wilayah kami, kami
namakan A’JULU ATI. A’julu ati dalam bahasa Makassar berarti
satu hati. Seperti harapan kami bahwa semua pihak terkait satu
hati untuk memperhatikan kesehatan lansia. A’JULU ATI sendiri
merupakan singkatan dari Ajak Lansia Untuk Hidup Sehat,
Aktif, dan Produktif
Pelaksanaan kegiatan di Posyandu lansia meliputi
pemeriksaan fisik dan mental emosional lansia dan dilakukan

172
oleh kader kesehatan yang sudah dilatih, dengan tenaga teknis
adalah tenaga kesehatan dari Puskesmas. Dalam
pelaksanaanya, Posyandu lansia Puskesmas Ko’mara
menggunakan sistem 5 meja sebagai berikut:
1. Meja pertama: pendaftaran, senam lansia/aktivitas fisik
2. Meja kedua: penimbangan berat badan, pengukuran
tinggi badan dan tekanan darah
3. Meja ketiga: pemeriksaan kesehatan dan status mental
(Pengkajian Paripurna Pasien Geriatri-P3G)
4. Meja Keempat: Pemeriksaan laboratorium sederhana
5. Meja Kelima: Penyuluhan dan konseling

Jenis olahraga atau senam lansia yang dilaksanakan di


Posyandu Lansia di wilayah kami yakni berupa senam
kebugaran lansia, senam hipertensi, senam kaki diabetes,
senam osteoporosis, senam otak maupun jalan santai di
sekitaran lokasi Posyandu. Olahraga atau senam tersebut
dipandu oleh petugas Kesehatan Olahraga Puskesmas Ko’mara
Sumber Pendanaan Posyandu Lansia Puskesmas
Ko’mara ialah dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK),
swadaya masyarakat dan dana desa. Alhamdulillah kemitraan
dengan lintas sektor terjalin dengan baik. Kemitraan di tingkat
kecamatan lebih banyak bersifat operasional. Seperti koordinasi
dalam upaya pembinaan lansia maupun memantau

173
permasalahan lansia di masyarakat dan memberikan masukan
kepada pelaksana program Kesehatan Lansia dalam forum
komunikasi berkala misalnya lokakarya mini lintas sektor.
Pelaksanaan kemitraan pelayanan kesehatan lansia di
tingkat desa melibatkan Kepala Desa, Tim Penggerak PKK,
Kelompok lansia, kader, bidan desa/Pustu, tokoh
masyarakat/imam desa setempat. Kegiatan yang dilakukan
diantaranya mobilisasi sumber dana untuk mendukung kegiatan
(bantuan desa untuk penyediaan PMT), KIE kesehatan oleh
tenaga kesehatan Puskesmas ( promosi perilaku CERDIK, Gizi
seimbang, pemeriksaan kesehatan, gerakan masyarakat hidup
sehat, dll), kegiatan kerohanian bersama Imam desa maupun
majlis ta’lim setempat, penyediaan ajang komunikasi bagi lansia
untuk mengikat persaudaraan, pertemanan, kekerabatan,
menambah semangat lansia unuk menjaga stabilitas hidupnya
serta penyediaan tempat untuk menyalurkan hobi sesuai
kemampuan mereka.

174
DOKUMENTASI KEGIATAN: PENYAMAAN PERSEPSI DAN
KOMITMEN LINTAS SEKTOR TERKAIT KESEHATAN
LANSIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KO’MARA

175
Perda tentang Kesehatan Lansia di wilayah kami belum
ada. Namun, telah ada Pernyataan Komitmen dengan lintas
sektor mengenai kesehatan lansia di wilayah kerja kami. Kami
pun bersyukur, inovasi Kurma Lastri dari Puskesmas kami,
dengan inovator dr. Nurmawarid, dokter Puskesmas Ko’mara,
masuk dalam Top 10 inovasi pelayanan publik Kabupaten
Takalar Tahun 2018. Semoga dengan prestasi tersebut
ditambah semangat dan kebahagiaan lansia di wilayah kerja
kami untuk tetap sehat dan mampu berdaya di usia tua akan
terdengar gemanya dan akan dijawab dengan perda tentang
kesehatan lansia. Sehingga mimpi kami untuk bersatu hati
(a’julu ati) menyediakan circle of support untuk lansia dapat
terwujud.

Harapannya, lansia tidak lagi dipandang sebagai


seseorang yang tidak berdaya dan memiliki banyak keluhan
kesehatan, hanya menjadi beban bagi keluarga dan
masyarakat. Namun sebagai orang yang di’tua’kan dan
dihormati karena pengalaman hidupnya. Sosok yang wajib
disayangi dan diperhatikan oleh keluarga dan masyarakat.
Lansia berkualitas, yang menjadi inspirasi dan agen perubahan
dalam keluarga dan masyarakat. Lansia yang sehat, aktif,
mandiri dan produktif.

176
Untuk meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan
lansia Posyandu lansia Puskesmas Ko’mara menawarkan
pelayanan rasa Kurma Lastri yakni pelayanan kesehatan
terpadu melalui Kunjungan Rumah Untuk Lansia dan Lansia
Resiko Tinggi. Kunjungan rumah yang dimaksud ialah salah
satu rumah warga atau rumah aparat setempat, yang dijadikan
titik kumpul pelaksanan kegiatan, misalnya rumah kepala
Dusun.

Adapun jenis kegiatannya ialah: 1) Kurma Palem


(Kunjungan Rumah: Pelayanan Kesehatan Menyeluruh) yakni
pelayanan kesehatan terpadu yang meliputi pemeriksaan
aktifitas kegiatan sehari-hari, status mental, status gizi,
pengukuran tekanan darah, laboratorium sederhana seperti
pemeriksaan gula darah, asam urat dan kolesterol, serta
penatalaksanan oleh dokter Puskesmas on the spot. 2) Kurma
Lulu (Kunjungan Rumah: Lansia Bugar, Lawan Lupa) yakni
kegiatan olahraga antara lain senam lanjut usia dan senam otak
untuk vitalisasi otak lansia. 3) Kurma Muda (Kunjungan Rumah:
Mampu Berdaya) yakni kegiatan berupa kelas lansia dan
bincang sehat dengan materi kesehatan lansia, perilaku hidup
bersih dan sehat, gerakan masyarakat hidup sehat, dll, kegiatan
kerohanian, berkebun dan penyaluran hobi lansia. 4) Kurma
Amer-Haj (Kunjungan Rumah Ibadah, Ajak Mereka Periksa di

177
Hari Jum’at) yakni pelayanan seusai ibadah sholat Jum’at, untuk
menjaring lansia laki-laki yang jarang ke lokasi Posyandu.

Faktor pendukung pelaksanaan Posyandu Lansia di


Puskesmas Komara ialah kerjasama yang terjalin dengan baik
antara masyarakat, lintas sektor, pihak Puskesmas dan Dinas
Kesehatan baik dalam hal sosialisasi, advokasi, pemenuhan
sarana dan prasarana dan monitoring evaluasi kegiatan.
Meningkatnya pengetahuan, kesadaran dan minat masyarakat
mengenai kesehatan lansia selain meningatkan cakupan
pelayanan, turut menambah semangat bagi pelaksana
Posyandu untuk selalu memberikan pelayanan bermutu kepada
lansia.

Faktor penghambat pelaksanaan Posyandu Lansia ialah,


adanya keterbatasan fisik lansia untuk ke Posyandu, kesibukan
anggota keluarga dengan aktifitas masing-masing sehingga
seringkali tidak bisa mengantar lansia ke Posyandu, maupun
jauhnya jarak rumah dengan lokasi Posyandu.

Solusi yang dilakukan untuk menangani permasalahan


tersebut ialah menyediakan layanan antar jemput ke lokasi
Posyandu yang disebut kurir kurma maupun melakukan home
care lansia bagi mereka yang memiliki keterbatasan fisik yang
berat atau keadaan umum yang lemah.

178
Seperti filosofi buah kurma yang manis dan
menyehatkan, Posyandu lansia di wilayah kerja Puskesmas
Ko’mara senantiasa memberikan pelayanan terpadu untuk
lansia dalam suasana kekeluargaan, menyenangkan, dan
edukatif sehingga selain mendapatkan pelayanan kesehatan,
lansia juga dapat belajar untuk menjaga kesehatan dan
mencegah penyakit, bersosialisasi dalam masyarakat, terhibur,
tersenyum dan bahagia serta setiap kegiatan Posyandu lansia
Puskesmas Ko’mara memberikan “oleh-oleh” kenangan manis
bagi semua yang terlibat di dalamnya.

Salam Lansia Indonesia, Lansia SMART

DOKUMENTASI KEGIATAN

Kurma Palem (Kunjungan Rumah: Pelayanan Kesehatan Menyeluruh) di Dusun


Borongkaramasa, Desa Barugaya dan Dusun Bulu’bumbung Desa Masamaturu’
Kec. Polongbangkeng Utara, Kab. Takalar

179
Home Care Lansia-Kurma Lastri di Dusun Panaikang Lompo,
Desa BalangTanaya, Kec. Polongbangkeng Utara, Kab. Takalar

180
Kelas Lansia-Kurma Muda (Kunjungan Rumah: Mampu Berdaya)
Dusun Bontowa, Desa Ko’mara, Kec. Polongbangkeng Utara

Penyerahan doorprize Kelas Lansia-Kurma Muda (Kunjungan Rumah:


Mampu Berdaya) Dusun Bontowa, Desa Ko’mara,
Kec. Polongbangkeng Utara, Kab. Takalar

181
Kelas Lansia-Kurma Muda (Kunjungan Rumah: Mampu Berdaya) Dusun Panaikang
Lompo, Desa Balangtanaya, Kec. Polongbangkeng Utara, Kab. Takalar

Pemberdayaan Lansia-Kurma Muda (Kunjungan Rumah: Mampu Berdaya)


Dusun Sauleya Desa Timbuseng dan Dusun Balangasana, Desa Balangtanaya,
Kec. Polongbangkeng Utara, Kab. Takalar

182
POSYANDU LANSIA DI KECAMATAN SANGGAU LEDO
KABUPATEN BENGKAYANG, KALIMANTAN BARAT

A. GAMBARAN UMUM
Luas wilayah Kecamatan Sanggau Ledo adalah sebesar
392,50 Km² atau sekitar 7,27 persen dari seluruh luas
Kabupaten Bengkayang. Kecamatan Sanggau Ledo terbagi
dalam 5 desa. Kecamatan Sanggau Ledo sudah
membentuk 9 Posyandu Lansia, 1 Posbindu dan 1 Prolanis.
Sedangkan Posyandu Lansia yang terintegrasi dengan Bina
Keluarga Lansia ada 3 Posyandu yaitu : Posyandu Mawar
Sarom di Sejajah, Posyandu Turing Indah di Kampung Batu
dan Posyandu Syahwa Purnajaya di Transau. Ketiga
Posyandu tersebut berada di Desa Bange. Jumlah lansia
yang aktif dibina sebanyak 457 orang.

B. JENIS KEGIATAN, PENGORGANISASIAN, TUPOKSI,


PENGELOLAAN KEGIATAN DAN SUMBER
PENDANAAN.
Kegiatan yang ada dalam posyandu lansia diantaranya :
pemeriksaan kesehatan, senam lansia, penyuluhan dan
permaianan lansia. Posyandu lansia dilaksanakan 1 bulan
sekali di tempat gedung posyandu atau tempat yang telah

183
disepakati. Kecuali Prolanis dilaksanakan di Puskesmas
Kecamatan Sanggau Ledo.
Petugas Kesehatan mempunyai tugas dan fungsi
membuat perencanaan pendataan dan pengelompokan
lansia, melakukan pelayanan kesehatan lansia seperti
melakukan pemeriksaan kolesterol, gula darah, asam urat,
pemeriksaan tekanan darah dan penimbangan berat badan,
kemudian mengawasi mengendalikan dan mengevaluasi
hasil kegiatan program posyandu lansia lewat evaluasi dari
laporan kegiatan posyandu lansia, penyuluhan pada
kelompok binaan lansia. Kemudian, melakukan rujukan ke
fasilitas kesehatan jika ditemukan lansia yang
membutuhkan penanganan medis. Untuk mengorganisir
dan pengelolaan kegiatan posyandu lansia melibatkan lintas
sektor, mulai dari petugas kesehatan, kader dan pemerintah
setempat.
Sumber pendanaan pelaksanaan posyandu lansia di
Kecamatan Sanggau Ledo terdiri dari : untuk jasa petugas
kesehatan di danai dari dana BOK, barang habis pakai
seperti stik kolesterol, gula, asam urat lanset dan kapas
beserta alkohol juga didanai menggu nakan dana BOK.
Kemudian, untuk ATK, jasa kader dan PMT menggunakan
dana desa.

184
C. INOVASI
Inovasi yang telah dilakukan dalam posyandu lansia di
Kecamatan Sanggau Ledo diantaranya : Program senam
lansia, permaianan (games) posyandu lansia. Dimana hal-
hal tersebut dilakukan untuk membuat minat peserta
posyandu lansia tidak turun. Games untuk Posyandu Lansia
diantaranya bermain ular tangga, outbond, metode find your
mate dan lain-lain, dimana alat yang digunakan merupakan
alat dari BKKBN.
Adapun kerjasama lintas sektor di Posyandu Lansia
adalah dengan BKKBN berupa penyediaan alat, bantuan
material. Posyandu juga bekerjasama dengan desa dalam
hubungannya untuk memberikan motivasi pentingnya
pemeriksaan dan keaktifan di usia lanjut usia. Dimana ada
pertemuan setahun sekali untuk membahas evaluasi dan
program kerja kedepan. Selain itu peran serta kader yang
dilatih dan dibina secara berkesinambungan sehingga dapat
turut serta aktif dalam kegiatan posyandu lansia.
Terkait Perda sudah diatur dalam Peraturan Daerah
Kabupaten Bengkayang Nomor 4 tahun 2014 tentang
kesejahteraan lanjut usia.

185
D. HAMBATAN, CARA MENGATASI DAN HARAPAN
Hambatan yang jelas kami hadapi adalah kekurangan
tempat sehingga masih ada beberapa posyandu yang
menumpang. Kekurangan dana sehingga ketersediaan stik
pemeriksaan sering kurang. Kami tak henti-henti akan terus
melakukan perbaikan posyandu lansia di wilayah kerja
Puskesmas Sanggau Ledo dengan menggunakan beberapa
sektor, melibatkan masyarakat.
Harapan ke depan,semoga posyandu lansia di wilayah
kerja Puskesmas Sanggau Ledo, semoga terus bertambah
jumlah posyandu yang aktif mengingat setiap dusun
meminta diadakan posyandu lansia, mengingat akses yang
juga menjadi kendala ketika posyandu berada di tempat
yang jauh.

E. DOKUMENTASI KEGIATAN

186
187
Lampiran 5
Contoh P ermainan Edukatif K ognitif La nsia: Memory
Games, Word Games, Sudoku, Puzzle.

Permainan dibuat dari tutup botol bekas


(Berhitung, Strategi, Memory Games)

188
MEMORY GAMES
Print gambar, kemudian
potong menjadi set kartu.
Letakkan kartu secara
terbalik dan acak. Pilih
(buka) kartu dan cari 3
gambar yang sama dalam
satu giliran pemain. Jika
dalam satu giliran tidak
mendapatkan 3 gambar
yang sama, tutup kartu
kembali dan ulangi dari
awal. Jumlah gambar yang
sama bisa ditambah untuk menambah level tantangan daya
ingat. Permainan ini bisa dimainkan sendiri atau secara
berkelompok dengan lansia yang lain.

SUDOKU
Sudoku terdiri dari 3x3 kotak,
masing-masing terbagi lagi
menjadi sembilan kotak lebih kecil.
Sudoku lebih menekankan pada
permainan logika, yang melatih
otak kiri agar bekerja secara
sistematis dan kreatifitas dari otak
kanan.

Prinsip dasar penyelesaian Sudoku sangat sederhana :


melengkapi setiap kotak dan lajur agar terisi angka 1 sampai 9.
Karena masing-masing terdiri dari 9 sel, maka tidak mungkin
ada angka ganda dalam setiap boks atau lajur.

189
PUZZLE TANGRAM

Buat bentuk geometri seperti gambar di atas, kemudian gunting


garisnya untuk mendapatkan 7 buah potongan puzzle tangram.
Kemudian potongan tersebut dapat dikreasikan menjadi bentuk-
bentuk menarik seperti: binatang, benda, huruf, angka,
kendaraan, dsb. Permainan ini selain dapat melatih kreatifitas,
kognitif, bahasa, motorik, imajinasi, dan sosial, dapat juga
sebagai terapi untuk mencegah demensia.

190
191
PERMAINAN EDUKASI LANSIA TANGGUH BKKBN

BKL kit merupakan sarana/alat bantu penyuluhan berupa materi


(buku-buku penyuluhan) dan media partisipatif 7 dimensi yang
dipergunakan kader dalam memberikan penyuluhan kepada
keluarga lansia dan lansia untuk meningkatkan pemahaman
tentang pembinaan ketahanan keluarga Lansia. Untuk informasi
lebih lanjut mengenai BKL Kit, dapat menghubungi kader BKL
setempat dan berkolaborasi dalam memfasiitasi permainan
edukasi dimaksud pada pelaksanaan kegiatan terintegrasi di
Posyandu Lansia.

192
- Badan Pusat Statistik. 2018. Proyeksi Penduduk Indonesia
2015-2045 Hasil Supas 2015. Jakarta.
- Kementerian Kesehatan RI. 2011. Pedoman Umum
Pengelolaan Posyandu. Jakarta.
- Kementerian Kesehatan RI. 2016. Peraturan Menteri
Kesehatan Nomor 67 Tahun 2015 Tentang Pelayanan
Kesehatan Lanjut Usia di Puskesmas. Jakarta.
- Kementerian Kesehatan RI. 2016. Buku Kesehatan Lanjut
Usia. Jakarta.
- Kementerian Kesehatan RI. 2017. Modul Pelatihan Bagi
Pelatih Pelayanan Kesehatan Lanjut Usia dan Geriatri
Untuk Petugas Puskesmas. Jakarta.
- Kementerian Kesehatan RI, Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan. 2018. Laporan Nasional
Riskesdas 2018. Jakarta.
- Kementerian Kesehatan RI. 2018. Pedoman Untuk
Puskesmas dalam Pemberdayaan Lanjut Usia. Jakarta.
- Kementerian Kesehatan. 2019. Petunjuk Teknis Pos
Pembinaan Terpadu (Posbindu) bagi Kader. Jakarta.
- www.freepik.com (macrovector)
- www.vecteezy.com
- https://www.greatseniorliving.com/articles/games-for-
seniors

193
Eni Gustina; Nurlina Supartini, Wira Hartiti, Wahyuni Khaulah,
Savaart Hutagalung, Farsely Mranani, Ima Nuraina, Florentine
Marthatilova, Elmy Rindang Turhayati, Ingrat Padmosari, Yunita
Restu Safitri (Direktorat Kesehatan Keluarga); Nurul Ratna Mutu
Manikam (Dept. Ilmu Gizi FKUI, RSCM), Wahyu (Pusat Analisis
Determinan Kesehatan), Sylviana Andinisari, Lili Lusiana, Resti Dwi
H (Dit. P2PTM), Utami Gita Syafitri, Samhan (Biro Hukor Setjen
Kemenkes), Imawati Warastuti, Junus Sangadi (Hukormas
Sesditjen Kesmas), Febby Mayangsari (Dit. P2MKJN), Ratri
(Direktorat Pelayanan Kesehatan Tradisional), Triska Yumeida,
Dewi Astuti, Sri Nurhayati (Dit. Gizi), Tyas Natasya Citrawati,
Ahmad N. Mabruri (Dit. Kesehatan Kerja dan Olah Raga), Tri Budi
W Rahardjo, Dinni Agustin, (CeFAS URINDO), Cahyaningrum, R.
Danu Ramaditya, Abdul Latif Ali (Dit. Promkes dan Pemberdayaan
Masyarakat) Arie Meutia Nada (Dinas Kesehatan Provinsi DKI
Jakarta), Melia F (Sudinkes Jakarta Timur), Surti Wahyuni, Estrelita
Mariana (PKC Kebon Jeruk Jakbar), Elia Sari L. Taruan
(Puskesmas Kelurahan PB I), Rovela Isnaini Karima (Puskesmas
Kec. Kebon Baru), Erika Herry (BKKBN), Fitri A. Adhitama
(Puskesmas Kec Jagakarsa), Umi N. Fauziah (Puskesmas Kec.
Ciracas), Ratna Habsari (Kader Posyandu Lansia Dahlia Senja
Kota Depok), Komara Ziantina (Kader Posyandu Lansia Jalak Bali
Kota Sukabumi), Rosdiana, Syamsiah Hamzah (Puskesmas
Ko’Mara), Nur Faizah (Puskesmas Sanggau Ledo).

TIM SEKRETARIAT
Midyawati Ahmad, Abdul Muis Soeharto (Direktorat Kesehatan
Keluarga)

194
195
196
197
198
199
200
201
202
203
204
205
206
207
208
209
210
211
212
213
214
192
KEMENTERIAN KESEHATAN RI
DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA
DIREKTORAT JENDERAL KESEHATAN MASYARAKAT
JL. HR. Rasuna Said Blok X-5 Kav. 4-9
Jakarta 12950
www.kemkes.go.id

Anda mungkin juga menyukai