Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH KESEHATAN REPRODUKSI DAN KELUARGA

BERENCANA
“ JUMLAH DAN PERTUMBUHAN PENDUDUK“

DOSEN PEMBIMBING :
RATNAWATI, SST

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK 8

1. Dian Dwi Lestari (P07224219008)


2. Gusti Reni Anggini (P07224219019)
3. Ria Andayani (P07224219030)
4. Yuspita Sari Mangesa (P07224219041)

PRODI D-III KEBIDANAN SAMARINDA TINGKAT 1


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN
KALIMANTAN TIMUR
TAHUN 2020/2021
KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT., berkat


rahmat dan hidayah-Nya, apa yang penulis kerjakan dapat terselesaikan dengan
lancar, khususnya dalam pembuatan makalah ini sebagai salah satu tugas mata
kuliah Kesehatan Reproduksi dan Keluarga Berencana, dengan mengambil judul
“ Jumlah dan Pertumbuhan Penduduk“
Penulis menyadari bahwa selama penulisan makalah ini penulis banyak
mendapatkan bantuan dari berbagai pihak
Tentunya sebagai manusia, penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam
mengupas permasalahan di dalam makalah ini masih banyak kekurangan tentunya
kesalahan-kesalahan, baik dalam hal sistematika maupun teknik penulisanya.
Kiranya tiada lain karena keterbatasan kemampuan dan pengalaman penulis dalam
masalah yang diketengahkan belumlah luas dan mendalam. Oleh karena itu,
segala saran dan kritik yang membangun tentunya sangat penulis harapkan,
sebagai masukan yang berharga demi kemajuan penulis di masa mendatang.

Samarinda,24 Juli 2020

Kelompok 8
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.........................................................................................
DAFTAR ISI………............................................................................................
BAB I PENDAHULUAN………………….…………………………………..
1.1. Latar belakang ………..............................................................................
1.2 Rumusan masalah .....................................................................................
1.3 Tujuan …………….................................................................................
BAB II TINJAUAN TEORI……………………………………………….......
2.1. Landasan teori .........................................................................................
2.2. Pengertian pertumbuhan penduduk .........................................................
2.3. Faktor - faktor pertumbuhan penduduk ...................................................
2.4.Faktor Yang Mempengaruhi Kelahiran ....................................................
2. 5.Faktor Perpindahan Penduduk .................................................................
2.6. Cara Megatasi Pertumbuhan Penduduk ...................................................
2.7 Data BKKBN ............................................................................................
2.8 Contoh Kasus ............................................................................................
BAB III PENUTUP …………..………………………………………………..
3.1 Kesimpulan
……….................................................................................
3.2 Saran ..................................................................................................
.....
DAFTAR PUSTAKA ……..................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pertumbuhan penduduk kota yang tinggi serta meningkatnya kegiatan


pembangunan di berbagai sektor menimbulkan berbagai masalah di wilayah-
wilayah perkotaan yang antara lain urbanisasi, permukiman kumuh, persampahan
dan sebagainya. Permasalahan yang dialami hampir di seluruh kota di Indonesia
adalah persampahan.
Pesatnya perkembangan pembangunan wilayah perkotaan di Indonesia,
diikuti oleh peningkatan perpindahan sebagian rakyat pedesaan ke kota dengan
anggapan akan memperoleh kehidupan yang lebih baik. Hal ini tentunya sangat
berdampak pada peningkatan jumlah penduduk kota yang juga sebanding dengan
limbah yang akan dihasilkan.
Sampah adalah limbah atau buangan bersifat padat, setengah padat yang
merupakan hasil sampingan dari kegiatan perkotaan atau siklus kehidupan
manusia, hewan maupun tumbuh – tumbuhan. Sumber limbah padat (sampah)
perkotaan berasal dari permukiman, pasar, kawasan pertokoaan dan perdagangan,
kawasan perkantoran dan sarana umum, kawasan industri, peternakan hewan dan
fasilitas umum lainnya. (kodoatie, 2005). sedangkan menurut Undang-Undang
nomor 18 Tahun 2008 (Pasal 1) tentang Pengelolaan Sampah, sampah merupakan
sisa dari kegiatan sehari-hari manusia dan/ atau proses alam yang berbentuk padat.
Sampah perkotaan merupakan salah satu masalah yang perlu mendapatkan
perhatian yang serius, karena pengolahan sampah yang ada selama ini belum
sesuai dengan metode dan teknik pengolahan sampah yang berkelanjutan/
berwawasan lingkungan sehingga dapat menimbulkan dampak negatif, maka
dibutuhkan suatu pengelolaan sampah secara berkelanjutan dan terpadu agar
mampu memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan serta dapat
mempengaruhi pola perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah sesuai
dengan yang tertera pada Undang-Undang nomor 18 Tahun 2008 tentang
Pengelolaaan sampah.
Menurut undang-undang nomor 18 Tahun 2008 (pasal 1) tentang pengelolaan
sampah, yang dimaksud dengan pengelolaan sampah yaitu kegiatan sistematis,
menyeluruh, dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan
sampah.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dari pendudukan ?
2. Apa yang dimaksud dari fertilitas ?
3. Apa saja faktor – faktor dari pertumbuhan penduduk ?
4. Apa saja faktor – faktor yang dapat mempengaruhi kelahiran ?
5. Apa saja faktor – faktor perpindahan penduduk ?
6. Bagaimana cara mengatasi pertambahan penduduk ?

1.3 Tujuan
1. Agar dapat mengetahui pengertian dari pendudukan.
2. Agar dapat mengetahui maksud dari fertilitas.
3. Untuk mengetahui apa saja faktor – faktor dari pertumbuhan penduduk.
4. Untuk mengetahui faktor – faktor yang dapat mempengaruhi kelahiran.
5. Agar dapat mengetahui faktor – faktor perpindahan penduduk.
6. Agar dapat mengetahui bagaimana cara mengatasi pertumbuhan penduduk.
BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1. Landasan teori

1. Teori Kependudukan

Penduduk adalah semua orang yang berdomisili di wilayah geografis Indonesia


selama enam bulan atau lebih mereka yang berdomisili kurang dari enam bulan
tetapi bertujuan menetap. Pertumbuhan penduduk diakibatkan oleh tiga komponen
yaitu : fertilitas, mortalitas dan migrasi. Salah satu faktor yang menentukan
keberhasilan pembangunan adalah pelaksanaan pembangunan itu sendiri, namun
demikian penduduk Indonesia menurut strukturnya berbeda dengan struktur negara
yang lebih maju. Struktur penduduk Indonesia dikatakan masih muda, atau sebagian
besar penduduk Indonesia berusia muda. Mengingat hanya orang dewasa saja yang
bisa bekerja, dan pada umumnya dalam suatu keluarga hanya ada satu yang bekerja
berarti bahwa untuk setiap orang yang bekerja harus menanggung beban hidup dari
anggota keluarga dari yang cukup besar. Makin banyak orang yang harus ditanggung
oleh setiap orang yang bekerja makin rendah kesejahteraan penduduk (Subagiarta,
2006:10).

Masalah kependudukan sendiri merupakan masalah lingkungan hidup yang


dapat menjadi sumber timbulnya berbagai persoalan lingkungan hidup baik fisik
maupun sosial, masalah kependudukan bukan merupakan masalah baru karena
dalam perkembangan sejarah sejak dulu sudah banyak yang dilakukan berbagai
eksperimen untuk menghitung jumlah penduduk.Dengan adanya permasalahan
penduduk yang sangat rumit maka pemerintah berusaha untuk menekan jumlah dari
pertambahan penduduk dengan berbagai cara misalnya dengan digalakkannya
program keluarga berencana dengan penundaan umur perkawinan, semua ini adalah
suatu tujuan dari pertambahan penduduk sebab dengan adanya laju pertambahan
penduduk yang lambat, disisi lain laju pertambahan pendapatan nasional lebih cepat
maka hal ini akan mempunyai dampak positif bagi pendapatan masyarakat
(Daryanto, 1996:1).
2. Teori Fertilitas

Fertilitas merupakan hasil reproduksi nyata dari seorang atau sekelompok


wanita, sedangkan dalam bidang demografi fertilitas ialah suatu istilah yang
digunakan untuk menggambarkan jumlah anak yang benar-benar dilahirkan dalam
keadaan hidup (Munir, 1984:141). Besar kecilnya jumlah kelahiran dalam suatu
penduduk, tergantung pada beberapa faktor misalnya struktur umur, tingkat
pendidikan, umur pada waktu kawin pertama, banyaknya perkawinan, status
pekerjaan wanita, penggunaan alat kontrasepsi dan pendapatan atau kekayaan.
Fertilitas disebut juga dengan natalitas yang artinya mencakup peranan kelahiran
pada perubahan penduduk dan reproduksi manusia (Hatmadji, 2004:57). Konsep-
konsep lain terkait dengan pengertian fertilitas yang penting untuk diketahui adalah :

a. Facunditas adalah kemampuan secara potensial seorang wanita untuk melahirkan


anak;

b. Sterilitas adalah ketidakmampuan seorang pria atau wanita dalam menghasilkan


suatu kelahiran;

c. Natalitas adalah kelahiran yang merupakan komponen dari perubahan penduduk;

d. Lahir hidup (live birth) adalah anak yang dilahirkan hidup (menunjukkan tanda-
tanda kehidupan) pada saat dilahirkan. Tanpa memperhatikan lamanya di dalam
kandungan walaupun akhirnya meninggal dunia;

e. Lahir hidup (stiil birth) adalah kelahiran seorang bayi dari kandungan yang
berumur paling sedikit 28 minggu tanpa menunjukkan tanda-tanda kelahiran, tidak
dihitung dalam kelahiran;

f. Abortus adalah kematian bayi dalam kandungan umur kelahiran kurang dari 28
minggu. Salah satu komponen yang dapat mempengaruhi perubahan jumlah dan
komposisi penduduk dalam suatu negara adalah fertilitas.

Mempelajari masalah fertilitas berarti mempelajari tentang suatu tingkah laku


fertilitas. Tingkah laku fertilitas, seperti halnya tingkah laku seorang individu pada
umumnya dengan faktor ektern meliputi lingkungan dan budaya. Pembahasan
mengenai fertilitas sangat beragam dan telah banyak dilakukan berbagai metode baik
kualitatif maupun kuantitatif yang secara keseluruhan bertujuan menentukan variabel
yang berhubungan dengan tingkah laku fertilitas. Adapun ukuran fertilitas yaitu
banyaknya anak lahir hidup yang merupakan hasil reproduksi nyata dari seorang atau
sekelompok wanita (Saleh, 2003:43).

2.2. Pengertian pertumbuhan penduduk


Pertumbuhan penduduk adalah perubahan populasi sewaktu-waktu, dan dapat
dihitung sebagai perubahan dalam jumlah individu dalam sebuah populasi
menggunakan “per waktu unit” untuk pengukuran. Berdasarkan sensus tahun 2010
diketahui bahwa pertumbuhan penduduk melebihi proyeksi nasional yaitu sebesar
237,6 juta jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk (LPP) 1,49 per tahun. Jika laju
pertumbuhan penduduk 1,49 persen per tahun maka setiap tahunnya akan terjadi
pertumbuhan penduduk sekitar 3,5 juta lebih per tahun. Dengan demikian, jika di
tahun 2010 jumlah penduduk 237,6 juta jiwa maka di tahun 2011 bertambah 3,5 juta
maka sekarang ada 241 juta jiwa lebih.
Dan jika itu terus terjadi maka semakin banyak masalah yang akan terjadi
seperti pengangguran, pencurian dan lain-lain, dan itu akan mempengaruhi terhadap
perkembangan sosial di masyarakat.
Perkembangan sosial adalah kemajuan yang progresif melalui kegiatan
yang terarah dari individu dalam pemahaman atas warisan sosial dan formasi pola
tingkah lakunya yang luwes. Hal itu disebabkan oleh adanya kesesuaian yang layak
antara dirinya dengan warisan sosial itu. Dan menurut Elizabeth B. Hurlock,
perkembangan sosial adalah kemampuan seseorang dalam bersikap atau tata cara
perilakunya dalam berinteraksi dengan unsur sosialisasi di masyarakat.

2.3. Faktor - faktor pertumbuhan penduduk


Faktor-faktor pertumbuhan penduduk yang pesat bisa di akibatkan oleh :
1. Kelahiran (Natalis)
Kelahiran adalah faktor utama dari pertumbuhan penduduk, dan dapat diartikan
sebagai banyaknya jumlah kelahiran penduduk setiap tahunnya dalam
suatu  wilayah.
2. Migrasi Penduduk
Migrasi merupakan bagian dari mobilitas penduduk. Mobilitas penduduk adalah
perpindahan penduduk dari suatu daerah ke daerah lain. Mobilitas penduduk ada
yang bersifat nonpermanen (sementara) misalnya turisme baik nasional maupun
internasional, dan ada pula mobilitas penduduk permanen (menetap). Mobilitas
penduduk permanen disebut migrasi. Migrasi adalah perpindahan penduduk dari
suatu tempat ke tempat lain dengan melewati batas negara atau batas administrasi
dengan tujuan untuk menetap.

2.4.Faktor Yang Mempengaruhi Kelahiran


a. Kawin usia muda
b. Tidak di adakannya program KB pada suatu daerah
c. Pandangan yang menyatakan bahwa banyak anak,banyak rezeki
d. Anak merupakan penentu status sosial
e. Anak laki-laki merupakan penerus keturunan

2. 5.Faktor Perpindahan Penduduk


a. Ingin mengubah nasib hidup dengan pindah ke kota
b. Banyaknya lapangan kerja di kota
c. Ingin mendapatkan pendidikan yang memadai

2.6. Cara Megatasi Pertumbuhan Penduduk


Hal-hal yang perlu dilakukan untuk menekan pesatnya pertumbuhan penduduk :
1. Menggalakkan program KB atau Keluarga Berencana untuk membatasi jumlah
    anak dalam suatu keluarga secara umum dan masal, sehingga akan mengurangi
    jumlah angka kelahiran.
2. Menunda masa perkawinan agar dapat mengurangi jumlah angka kelahiran yang
    tinggi.
Cara yang dapat dilakukan untuk mengimbangi pertambahan jumlah penduduk :
1. Penambahan dan penciptaan lapangan kerja
Dengan meningkatnya taraf hidup masyarakat maka diharapkan hilangnya
kepercayaan banyak anak banyak rejeki. Di samping itu pula diharapkan akan
meningkatkan tingkat pendidikan yang akan merubah pola pikir dalam bidang
kependudukan.
2. Meningkatkan kesadaran dan pendidikan kependudukan
Dengan semakin sadar akan dampak dan efek dari laju pertumbuhan yang tidak
terkontrol, maka diharapkan masyarakat umum secara sukarela turut mensukseskan
gerakan keluarga berencana.
3. Mengurangi kepadatan penduduk dengan program transmigrasi
Dengan menyebar penduduk pada daerah-daerah yang memiliki kepadatan
penduduk rendah diharapkan mampu menekan laju pengangguran akibat tidak
sepadan antara jumlah penduduk dengan jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia.
4. Meningkatkan produksi dan pencarian sumber makanan
Hal ini untuk mengimbangi jangan sampai persediaan bahan pangan tidak diikuti
dengan laju pertumbuhan.Setiap daerah diharapkan mengusahakan swasembada
pangan agar tidak ketergantungan dengan daerah lainnya.

2.7 Data BKKBN


Sensus Penduduk 2020 (SP 2020) yang akan dilakukan oleh Badan Pusat Statistik
(BPS) dan Pendataan Keluarga 2020 (PK 2020) yang akan dilaksanakan oleh
BKKBN menjadi tumpuan harapan akan hadirnya data yang dapat dipercaya. Namun
wabah Pandemic Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) membuyarkan mimpi
tersebut. Sensus Penduduk 2020 yang seharusnya mulai dilaksanakan pada bulan Mei
2020, harus ditunda sampai bulan September 2020 (itupun dengan catatan bila
pandemic Covid-19 sudah berakhir). Sedangkan Pendataan Keluarga, yang
semestinya sudah dimulai pada bulan Juni 2020, harus ditunda pelaksanaannya
sampai tahun 2021, dengan waktu yang belum di tentukan.
SUMBER DATA PENDUDUK

Di Indonesia, ada tiga sumber data penduduk yang sering digunakan sebagai acuan,
yang masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan tersendiri. Ketiga sumber
data tersebut adalah sensus, survey dan registrasi.

1. Sensus.

Di Indonesia saat ini, data penduduk yang dapat disebut paling mendekati kondisi
sebenarnya hanyalah data penduduk hasil sensus. Mengapa demikian?, karena pada
waktu yang bersamaan dilakukan pendataan di seluruh wilayah terhadap seluruh
populasi. Dalam istilah statistika angkanya disebut paramater, bukan lagi
statistik.Terhadap parameter tidak perlu dilakukan uji statistik karena dianggap sudah
merepresentasikan seluruh populasi.

Kekurangan sensus, data penduduk baru bisa diterbitkan dalam waktu yang relatif
lama, sehubungan dengan banyaknya data yang harus diolah. Peran data seperti ini
tentu saja bukan untuk dijadikan sebagai dasar perencaan sektoral, karena data yang
diperlukan dalam perencanaan adalah kondisi-kondisi penduduk di tahun-tahun
mendatang. Namun jika ketersediaan data sensus dijadikan sebagai basis untuk
melakukan estimasi atau proyeksi, akan lebih baik dibandingkan dengan data
penduduk yang berasal dari sumber lain seperti hasil survey dan registrasi.

2. Survay

Pelaksanaan sensus penduduk oleh BPS di Indonesia hanya dilakukan sepuluh


tahun sekali, pada tahun yang berakhiran angka nol. Mengatasi masalah waktu
tersebut, dilakukan survey setiap tahun berakhiran angka lima, yang dikenal dengan
istilah Supas atau Survey Penduduk Antar Sensus. Sama halnya dengan hasil sensus,
data penduduk hasil survey pun baru diterbitkan beberapa waktu kemudian, walaupun
waktu penerbitan biasanya lebih cepat dibandingkan dengan sensus.

Survey berkaitan dengan proses sampling. Sampling sendiri dalam wacana statistika


didasarkan pada kaidah-kaidah probabilitas atau kemungkinan-kemungkinan.
Pendataan tidak dilakukan terhadap seluruh populasi, sehingga datanya tidak bisa
disebut sebagai parameter, tetapi disebut sebagai data statistik. Dalam ranah statistika
inferensial, hasil survey masih perlu diuji untuk menentukan interval kepercayaannya.

3. Registrasi.

Data penduduk yang lebih aktual bisa diperoleh dari hasil registrasi, karena dalam
konsep registrasi palaporan kelahiran, kematian, dan migrasi penduduk dilakukan
secara rutin dan kontinyu, sehingga data bisa ter-update setiap saat. Data registrasi
inilah yang sebetulnya menjadi harapan sebagai basis data terbaik untuk melakukan
estimasi dan proyeksi penduduk, karena datanya lebih aktual. Namun sayangnya,
pelaksanaan registrasi di Indonesia pada umumnya masih belum berjalan dengan baik.

ESTIMASI DAN PROYEKSI

Telah diuraikan sebelumnya, paling tidak ada tiga sumber data penduduk, yang
masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan tersendiri. Namun dalam konteks
perencanaan pembangunan berbasiskan data penduduk pada masa yang akan datang,
data tersebut hanya dapat dijadikan acuan sebagai basis untuk memperkirakan data
penduduk tahun-tahun mendatang, melalui teknik estimasi maupun proyeksi.

Istilah estimasi penulis gunakan untuk teknik perhitungan yang biasa dipakai untuk
memperkirakan total penduduk, sementara istilah proyeksi untuk teknik perhitungan
yang dapat memperkirakan jumlah penduduk berdasarkan kelompok umur. Ada
beberapa teknik estimasi yang bisa dipakai, secara garis besar dibedakan
menjadi intercencal dan postcencal.

Pada teknik estimasi penduduk kelompok postcencal, tersedia beberapa pendekatan


yang biasa dipakai, antara lain pendekatan aritmatik dan geometrik yang didasarkan
pada asumsi pola pertumbuhan penduduk linier, dan pendekatan eksponensial dengan
memakai asumsi pertumbuhan penduduk non-linier. Adanya perbedaan asumsi yang
dipakai sebagai dasar estimasi tentu saja akan menghasilkan data penduduk yang
berbeda pula, walau mungkin perbedaannya tidak terlalu besar. Bahkan dengan
memakai data dasar yang sama pun, teknik estimasi yang berbeda akan menghasilkan
angka berbeda pula.

Pada teknik estimasi hanya melibatkan sebuah variabel, yaitu total penduduk,
perbedaan lebih disebabkan adanya pendekatan tren teorItis yang masuk dalam
formulasi matematis. Pada teknik proyeksi, variabel yang terlibat tidak hanya data
total penduduk, juga variabel lain yaitu fertilitas, mortalitas, dan migrasi.

Persoalan yang bisa menimbulkan perbedaan hasil proyeksi lebih kompleks lagi. Data
fertilitas misalnya, pada umumnya didapat melalui perhitungan metode tidak langsung
seperti metode own children atau yang lainnya. Demikian pula data mortalitas, seperti
IMR atau harapan hidup, diperoleh dari hasil perhitungan tidak langsung. Apalagi jika
sudah menyangkut data migrasi.

Selain persoalan data dasar penduduk, pada teknik proyeksi, variabel fertilitas,
mortalitas, dan migrasi harus diprediksi kemungkinan perkembangannya pada tahun-
tahun yang akan datang. Bagaimana misalnya prediksi terhadap fertilitas, apakah akan
meningkat, konstan, atau menurun. Hal ini tentu saja akan sangat terkait, bagaimana
rencana intervensi alat kontrasepsi (alkon), bagaimana perkembangan kesehatan ibu,
bagaimana kemungkinan kondisi ekonomi yang bisa memperkuat pembelian alkon
secara mandiri, dan yang lainnya.

Kecermatan dalam memprediksi perkembangan kondisi yang akan berpengaruh


terhadap fertilitas, mortalitas, dan migrasi akan sangat terkait erat dengan kecermatan
hasil proyeksi. Sehingga dalam membuat proyeksi, tidak semata-mata pertimbangan
faktor-faktor demografi formal atau angka-angka, tetapi perlu mempertimbangkan
masukan dari berbagai sektor terkait.

2.8 Contoh Kasus

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menyebut saat ini Indonesia


dihadapkan problem pertumbuhan penduduk. Tito menyebut besarnya angkatan kerja
membuat pertumbuhan penduduk semakin cepat.
"Kita hadapi problema besarnya angkatan kerja karena pertumbuhan penduduk
yang cepat, jumlah penduduk yang produktif sangat tinggi, juga beban usia lanjut,"

Tito mengatakan, bila besarnya pertumbuhan penduduk ini tidak diakomodir akan
menimbulkan pengangguran. Dia menyebut saat ini tingkat pengangguran mencapai 8
hingga 9 juta orang.

Menurutnya, jumlah ini akan menjadi beban dan menimbulkan banyak masalah.
Mulai dari masalah keamanan hingga meningkatnya jumlah kriminalitas.

Salah satu contoh kasus dari dampak pertumbuhan penduduk yang terlalu cepat
adalah kasus pencurian di sebuah minimarket keselindung, kota pangkalpinang,
bangka belitung yang menjerat desy haumulu seorang warga cipayung di jerat pasal
364A untung saja desy tidak di tahan karena barang curian adalah minuman susu
anak. Dari kasus desi ini dapat dilihat munculnya tindak kriminalitas ini karena
lapangan pekerjaan yag kurang da jmlah pertumbuha penduduk yang tinggi.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Penduduk adalah semua orang yang berdomisili di wilayah geografis


Indonesia selama enam bulan atau lebih mereka yang berdomisili kurang dari
enam bulan tetapi bertujuan menetap. Pertumbuhan penduduk diakibatkan
oleh tiga komponen yaitu : fertilitas, mortalitas dan migrasi. Salah satu faktor
yang menentukan keberhasilan pembangunan adalah pelaksanaan
pembangunan itu sendiri, namun demikian penduduk Indonesia menurut
strukturnya berbeda dengan struktur negara yang lebih maju.
Pertumbuhan penduduk mempengaruhi pada perkembangan sosial dalam
masyarakat. Perkembangan sosial seperti kurangnya pangan, rendahnya
pendidikan masyarakat dan semakin banyak masalah yang akan terjadi
seperti pengangguran, pencurian dan lain-lain. Cara mengatasi pembludakan
pertumbuhan penduduk tersebut adalah dengan Membuat Undang-Undang
yang jelas tentang umur minimum pernikahan, Program KB (keluarga
berencana) dan sosialisasi pada masyarakat.
Pertumbuhan penduduk sebuah desa di pinggiran kota yang
menyebabkan banyaknya urban masuk pada desa yang telah menimbulkan
berbagai persoalan di kawasan itu. Berbagai persoalan yang muncul antara
lain, tata ruang desa kota yang tidak beraturan, kondisi lingkungan yang
merosot, ketahanan pangan yang terancam, konflik sosial yang cenderung
meluas dan dipertahankan oleh ekslufisitas kelompok di dalam komunitas itu
dan ancaman tidak adanya mekanisme penyelesaian konflik yang baik.

3.2 Saran
Untuk mengatasi Pertumbuhan penduduk perlu adanya suatu
perencanaan kawasan desa-kota yang menggunakan pendekatan kolaborasi
yang memperhatikan kepentingan antar pihak baik kepentingan kota maupun
desa. Di duga, persoalan perencanaan tata ruang perkotaan selama ini terus-
menerus terjadi dan berulang karena bersifat top down atau mengabaikan
aspek partisipasi warga desa dan warga kota. Artinya, perencanaan suatu
wilayah selama ini bersifat sebagai “bahan jadi” yang harus dilaksanakan
oleh para pemangku yang terkait termasuk penduduk setempat. Padahal suatu
perencanaan wilayah tidak akan berjalan dengan baik jika tidak ada
mekanisme pendukungnya.
Pengelolahan bersama diantara perencanaan wilayah yaitu :
pemerintahan daerah yang terkait, para pengembang, DPRD sebagai wakil
aspirasi politik masyarakat dan pemangku-pemangku yang terkait beserta
kelompok-kelompok masyarakat semestinya dilibatkan secara bersama-sama
dalam merencanakan dan menjalankan suatu wilayah pembangunan
perkotaan yang berkelanjutan. Mekanisme kolaborasi ini perlu
dilembagakan, seperti dalam suatu forum perkotaan (urban forum), untuk
memperkuat pemerintah daerah dalam merencanakan perluasan kota.
DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi (2006). Prosedur Penelitian suatu pendekatan praktik. Jakarta:


Rineka cipta. rikunto, Suharsimi (2006). Prosedur Penelitian suatu pendekatan
praktik. Jakarta: Rineka cipta.

Bandung: Widya Aksara Press Korten, David.C. (2002). Menuju Abad ke-21:
Tindakan Sukarela dan Agenda Global, Cetakan Ketiga. Jakarta: Yayasan
Obor Indonesia.

Kalidjernih, Freddy K. (2010). Penulisan Akademik Esai, Makalah, Artikel, Jurnal


ilmiah, Skripsi, Tesis, Disertasi.

Moeloeng, Lexy.J. (2010). Metodologi Penelitian Kualitatif: Bandung : PT Remaja


Rosdakarya

https://www.bkkbn.go.id/detailpost/wapres-ri-pastikan-bahwa-pertumbuhan-
penduduk-terus-seimbang-menyongsong-indonesia-maju-2045

https://bangka.tribunnews.com/2018/07/13/meski-terbukti-mencuri-desy-tak-ditahan-
begini-penjelasan-hakim