Anda di halaman 1dari 12

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Ibadah haji merupakan rukun Islam yang kelima setelah syahadat, shalat,
zakat dan puasa. Menunaikan ibadah haji merupakan kewajiban bagi setiap
muslim yang memenuhi syarat mampu baik material, fisik dan keilmuan dengan
cara berkunjung ke Baitullah dan melaksanakan beberapa kegiatan mengenai haji
seperti syarat, rukun, wajib, sunah haji. Sebab haji itu berbeda dengan ibadah
yang lainnya yang dalam pelaksanaannya membutuhkan waktu dan tempat
tertentu (Rochimi, 2011 : 14). Berdasarkan Undang-Undang No. 13 Tahun 2008
tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji. Di dalam peraturan perundang– undangan
tersebut, penyelenggaraan ibadah haji menjadi tanggung jawab pemerintah yang
dikoordinasikan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.
Kondisi kesehatan jemaah haji merupakan modal dan sangat memengaruhi
perjalanan dan kelancaran ibadah haji mulai dari tanah air, embarkasi, saat
penerbangan, saat di Arab Saudi maupun saat kepulangan kembali ke tanah air.
Terdapat beberapa kondisi atau penyakit yang akan bertambah berat selama
perjalanan udara atau penyakit kardiovaskular yang belum terkontrol, penyakit
saluran pernafasan sedang dan berat, kekurangan darah (HB < 8), hamil,
demensia, dan gangguan jiwa berat yang belum terkontrol. Waktu daftar tunggu
yang panjang perlu dimanfaatkan agar jemaah dapat mempersiapkan diri baik
fisik dan mental, sehingga memenuhi kriteria istitho'ah menurut perspektif
kesehatan. Data menunjukkan hampir 70% jemaah haji mendapatkan bimbingan
manasik ibadah haji sebelum berangkat yang dilakukan oleh kelompok pengajian,
kelompok bimbingan ibadah haji, travel haji dan umroh, serta kelompok
bimbingan lainnya. Pemerintah sebagai penyelenggara kesehatan haji melakukan
pembinaan, pelayanan dan perlindungan dalam rangka meningkatkan kesehatan
jemaah haji sebelum berangkat, selama menunaikan ibadah haji dan sampai
kembali ke tanah air. Pembinaan kesehatan jemaah haji dilakukan sejak awal
mendaftar dengan tujuan menjaga agar jemaah haji tetap dalam keadaan sehat,
terdeteksi dan terkendali faktor risiko PTM sedini mungkin. Pemeriksaan,
perawatan dan pemeliharaan kesehatan lebih terarah denga harapan diturunkan
angka kesakitan dan kematian jemaah haji akibat PTM dapat tercapai.
Pembinaan kesehatan ini dilaksanakan mengingat penyelenggaraan ibadah
haji tidak lepas dari upaya pembinaan dan pemeriksaan kesehatan yang dilakukan
melalui beberapa tahapan. Mulai sejak mendaftarkan diri berhaji hingga
menjelang masa keberangkatan.
Semua Jemaah haji wajib diperiksa kesehatannya, setelah diperiksa akan
dilakukan pembinaan oleh petugas Kesehatan. Salah satu pola pembinaan
kesehatan adalah dengan melakukan penyuluhan kesehatan, latihan kebugaran dan
pemeriksaan darah, termasuk pemeriksaan atau tes cepat kejiwaan bagi jemaah
haji. Semuanya dijadikan satu paket kegiatan pembinaan kesehatan jemaah haji.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkap faktor penyebab
tingginya angka kematian jamaah haji kelelahan, gangguan sistem kardiovaskuler,
sistem peredaran darah (sirkulatori), sistem pernapasan (respiratori) dan penyakit
bawaan sebelum pergi haji terpantau berperan dalam kasus tersebut.
Banyak jemaah mengalami kelelahan karena terus melakukan rangkaian
kegiatan yang menguras fisik pasca Armuzna, seperti Tawaf Ifadah dan umrah
sunah lainnya. Apalagi, jemaah punya waktu sempit pasca puncak haji karena
harus menyiapkan kepulangan ke Tanah Air. Sehingga kelelahan ini memicu
terjadinya atau munculnya penyakit-penyakit yang sudah diderita sebelumnya,
maupun penyakit yang belum pernah mereka derita sebelumnya. 
Jumlah Jemaah haji tahun 1440 H/2018 sebanyak 211.000 jemaah haji
namun sebanyak 66% dari Jemaah haji mempunyai kategori resiko tinggi atau
risti. Dan Sebanyak 62% dari jamaah haji 1440 H/2019 M mempunyai kategori
risiko tinggi atau risti dari jumlah total Jemaah haji yaitu 231.000 jemaah haji.
Tahun 2019 mencapai 436 0rang, lebih tinggi dari tahun 1439 H/2018 M yaitu
sebanyak 385 orang.
Berdasarkan data di jawa barat tahun 1440H/2019 M sebanyak 38.852 orang
dan sebanak 75 % termasuk Jemaah dengan resiko tinggi (risti). Berdasarkan data
di kabupaten Garut, jumlah Jemaah haji tahun 1439 H/2018 M sebanyak 1911
0rang dan 30 % termasuk Jemaah lansia. Sedangkan jumlah Jemaah haji tahun
1440 H/2019 M sebanyak 1945 orang dengan 40 % merupakan jamah lansia.
Berdasarkan UU Nomor 8 tahun 2019 pasal 34 bahwa upaya
pembinaan kesehatan bagi jemaah haji harus sesuai dengan standar
pemeriksaan kesehatan dan ditujukan untuk menjaga agar tetap sehat
selama menjalankan ibadah haji. Pemerintah wajib menjamin
ketersediaan pelayanan kesehatan dan   memfasilitasi jemaah haji untuk
dapat melaksanakan ibadahnya secara mandiri sesuai dengan wajib dan
rukun haji yang harus di penuhi.
Masalah kesehatan pada jemaah haji berawal dari resiko kesehatan
yang belum ada ataupun sudah dimiliki pada kelompok usia telah
terjadi kemunduran sel-sel tubuh, sehingga fungsi dan daya tahan tubuh
menurun serta faktor resiko terhadap penyakit pun meningkat. Masalah
kesehatan yang sering dialami jemaah haji adalah Hypertensi, Diabetes
Hypercholestrolemia, obesitas, dan lain-lain.
Selain itu, beberapa penyakit yang sering terjadi pada jemaah haji
antara lain PPOK, Jantung, demensia, osteoporosis, dan sebagainya.
Salah satu contoh permasalahan yang ditimbulkan dari banyaknya
jumlah jemaah haji risiko tinggi adalah tinggingginya angka morbiditas
dan mortalitas selama di tanah suci.

1.2 Rumusan Masalah


Jumlah Jemaah haji tahun 1440 H/2018 sebanyak 211.000 jemaah haji
namun sebanyak 66% dari Jemaah haji mempunyai kategori resiko tinggi atau
risti. Dan Sebanyak 62% dari jamaah haji 1440 H/2019 M mempunyai kategori
risiko tinggi atau risti dari jumlah total Jemaah haji yaitu 231.000 jemaah haji.
Tahun 2019 mencapai 436 0rang, lebih tinggi dari tahun 1439 H/2018 M yaitu
sebanyak 385 orang.
Banyaknya jumlah Jemaah risti yang angkanya semakin bertambah dari
tahun ke tahun, membuat penulis tertarik untuk membuat makalah tentang
pembinaan Kesehatan pada calon Jemaah haji.
1.3 Tujuan
Diketahuinya cara pembinaan Kesehatan pada calon Jemaah haji sebelum
keberangkatan.
BAB II
PEMBAHASAN

Kesehatan dan kebugaran jemaah haji menjadi prioritas dalam upaya


pencapaian istitaah kesehatan jemaah haji. Dalam ketentuan pembinaan kesehatan
jemaah haji terbaru, pembinaan kesehatan harus dilakukan 4 kali selama masa
tunggu dan 2 kali selama masa keberangkatan. Ini menunjukkan program
pembinaan kesehatan haji benar-benar diupayakan untuk mempersiapkan kondisi
fisik dan tingkat kesehatan jemaah haji hingga mampu melaksanakan ibadah haji
dengan baik.
Seperti kita ketahui bersama ibadah haji menuntut kondisi fisik yang prima
karena untuk melaksanakan rukun dan wajib haji sebagian besar melibatkan
kondisi fisik jemaah. Syarat sehat atau sehat dengan pendampingan merupakan
syarat bagi jemaah haji yang hendak melaksanakan ibadah haji. Apabila jemaah
haji datang di tanah suci dengan keadaan kesehatan yang tidak baik maka jemaah
tersebut hampir bisa dipastikan tidak bisa melaksanakan rukun dan wajib haji
karena harus menerima perawatan di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI)
atau Rumah Sakit Arab Saudi (RSAS). Maka dari itu, kondisi fisik dan kesehatan
jemaah haji harus benar-benar dipersiapkan sebelum berangkat ke tanah suci
melalui pemeriksaan dan pembinaan kesehatan.
Berikut adalah alur program pemeriksaan dan pembinaan kesehatan jemaah haji
1. Pemeriksaan Kesehatan Tahap Pertama
Pemeriksaan tahap ini dilakukan kepada calon jemaah haji saat hendak
mendaftar untuk mendapatkan nomor porsi. Pemeriksaan tahap pertama ini
sangat penting karena pemeriksaan ini dilakukan secara holistik untuk
mengetahui kondisi kesehatan jemaah haji. Pemeriksaan tahap pertama ini
harus dilakukan sedini mungkin atau selambat-lambatnya dua tahun dari
perkiraan keberangkatan. 
Pemeriksaan kesehatan tahap pertama meliputi:
 Anamnesa
 Pemeriksaan fisik.
 Pemeriksaan penunjang.
 Diagnosis.
 Penetapan tingkat risiko kesehatan.
 Rekomendasi/saran/rencana tindaklanjut.
Hasil pemeriksaan tahap pertama yaitu status jemaah masuk dalam
kategori resiko tinggi atau tidak resiko tinggi. Ini menjadi dasar dan
rekomendasi dalam pelaksanaan pembinaan kesehatan selama masa tunggu.
Pembinaan kesehatan untuk calon jemaah haji resiko tinggi tentunya akan lebih
intensif dibandingkan jemaah dengan kondisi tidak resiko tinggi. Hasil
pemeriksaan kesehatan tahap pertama dan rekomendasi yang diberikan
kemudian dicatat dalam BKJH atau pencatatan elektronik melalui Siskohatkes.

2. Pembinaan Kesehatan di masa tunggu


Pembinaan kesehatan jemaah haji merupakan upaya atau aktivitas dalam
rangka membentuk dan meningkatkan status istithaah kesehatan dan harus
dilaksanakan secara terintegrasi dengan program kesehatan melalui pendekatan
keluarga. Pendekatan keluarga pada pembinaan kesehatan adalah pembinaan
yang terintegrasi dengan sistem layanan kesehatan serta melibatkan komponen
keluarga jemaah haji.
Pembinaan kesehatan di masa tunggu dilakukan kepada jemaah haji yang
telah mendaftar dan mendapatkan nomor porsi serta telah melakukan
pemeriksaan kesehatan. Pembinaan ini dilakukan kepada jemaah non resiko
tinggi dan jemaah resiko tinggi. Pembinaan yang terstruktur dan terarah
diharapkan mampu mengurangi faktor resiko kesehatan jemaah sehingga
mampu memenuhi syarat istitaah.
Pembinaan kesehatan ini perlu dikelola dengan baik oleh tim
penyelenggara haji tingkat kabupaten/kota melibatkan lintas sektor seperti
Kemenag, KBIH, masyarakat dan juga organisasi profesi. Selain itu pembinaan
ini diharapkan dilakukan secara lintas program seperti program promosi
kesehatan, kesehatan keluarga, kesehatan lingkungan, gizi masyarakat,
pembinaan kebugaran jasmani, pengendalian penyakit tidak menular,
pengendalian penyakit menular, kesehatan tradisional, kesehatan jiwa, dan
surveilans. Untuk saat ini, pembinaan masa tunggu difokuskan kepada jemaah
Haji yang akan berangkat dengan estimasi 2 tahun.
Secara umum kegiatan pembinaan kesehatan haji diklasifikasikan menjadi :
 Kegiatan pembimbingan kesehatan haji
 Kegiatan penyuluhan kesehatan haji

3. Pemeriksaan Kesehatan Tahap Kedua


Pemeriksaan kesehatan tahap kedua dilakukan biasanya 6 bulan
sebelum keberangkatan atau paling lambat 3 bulan sebelum keberangkatan.
Pemeriksaan kesehatan tahap kedua dilakukan untuk melihat hasil pembinaan
pada masa tunggu dan dilakukan penetapan status istitaah kesehatan jemaah
haji. Seperti telah kita bahas di postingan sebelumnya ada 4 status istitaah
kesehatan yaitu :
1. Memenuhi syarat istitaah
2. Memenuhi syarat istitaah dengan pendampingan
3. Tidak memenuhi syarat istitaah sementara
4. Tidak memenuhi syarat istitaah

Pemeriksaan Kesehatan tahap kedua meliputi :


 Anamnesa.
 Pemeriksaan fisik.
 Pemeriksaan penunjang.
 Diagnosis.
 Penetapan Istithaah Kesehatan.
 Rekomendasi/saran/rencana tindak lanjut.
Bagi jemaah Haji yang telah ditetapkan sebagai:
1). Memenuhi syarat istithaah,
2). Memenuhi syarat istithaah dengan pendampingan, dan
3). Tidak memenuhi syarat istithaah sementara,
dilakukan pemberian vaksinasi Meningitis Meningokokkus sesuai ketentuan
dan tidak terdapat kontraindikasi medis. Pemberian vaksin akan diikuti oleh
pemberian International Certificate Vaccination (ICV) yang sah. Bagi jemaah
haji yang alergi atau kontraindikasi terhadap vaksin Meningitis
Meningokokkus, maka akan dilakukan tindakan sebagai proteksi terhadap
kontak yang memungkinkan peningkatan penularan atau transmisi bakteri
meningitis meningokokkus. Pada kondisi yang demikian diberikan ICV yang
menjelaskan tentang adanya kontraindikasi atau alergi yang dimaksud. Bagi
jemaah haji yang tidak memenuhi syarat istithaah, akan ditunda
keberangkatannya selanjutnya, dilakukanpembinaankhusus.
Kementerian Kesehatan memberikan tanda kepada jemaah haji dengan kriteria
sebagaiberikut:
 Gelang berwarna merah, merupakan tanda jemaah haji berusia diatas 60
tahun dengan penyakit.
 Gelang berwarna kuning, merupakan tanda jemaah haji berusia dibawah 60
tahun dengan penyakit.
 Gelang berwarna hijau, merupakan tanda jemaah haji berusia diatas 60
tahun tanpa penyakit.
 Untuk jemaah haji dibawah 60 tahun dan tidak memiliki penyakit, maka
jemaah tersebut tidak diberikan gelang.
Pemberian warna gelang kepada jemaah haji dimaksudkan agar pada
pelaksanaan kesehatan haji di Arab Saudi, jemaah haji dapat lebih mudah
dipantau oleh Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) di kloter masing-masing.

4. Pembinaan Kesehatan di Masa Keberangkatan


Pembinaan kesehatan haji di masa keberangkatan dilakukan terhadap jemaah
haji dengan penetapan :
a. Memenuhi syarat istithaah kesehatan haji.
b. Memenuhi syarat istithaah kesehatan haji dengan pendampingan.
c. Tidak memenuhi syarat istithaah kesehatan haji untuk sementara.
Secara umum, kegiatan pembinaan kesehatan haji diklasifikasikan menjadi:
a. Kegiatan pembimbingan kesehatan haji.
b. Konseling Kesehatan
c. Peningkatan kebugaran jasmani
d. Pemanfaatan UKBM seperti Posbindu
e. Kunjungan rumah
f. Bimbingan manasik
Kegiatan penyuluhan Kesehatan haji.
Penyuluhan kesehatan jemaah haji bisa dilakukan secara langsung
maupun menggunakan media massa. Contoh materi penyuluhan kesehatan
antara lain:
 Perilaku hidup bersih dan sehat antara lain melalui cuci tangan pakai
sabun, tidak merokok, istirahat yang cukup.
 Kegiatan fisik meliputi latihan fisik dan olah raga.
 Healthy nutrition meliputi makan makanan bergizi, diet sesuai kondisi
kesehatan dan pantangan makanan bagi penyakit tertentu yang diderita
jemaah haji.
 Healthy mental antara lain melalui pengelolaan stress.
 Penyakit-penyakit yang banyak diderita oleh jemaah haji.
 Penyakit-penyakit yang memiliki kemungkinan diperoleh saat di Arab
Saudi antara lain heat stroke dan dehidrasi. Penyakit menular yang
berpotensi wabah saat di Arab Saudi antara lain Penyakit meningitis,
diare, penyakit virus Zika dan penyakit pernapasan (SARS, MERS-CoV,
Ebola).
 Cara penggunaan toilet di pesawat, pondokan, dan tempat-tempat umum.
 Kesehatan di penerbangan meliputi cara mengatasi barotrauma (dengan
mengunyah permen), banyak minum dan stretching (peregangan) di
pesawat.

Kegiatan pembinaan terpadu Kesehatan haji.


Pembinaan terpadu jemaah haji merupakan kegiatan yang menyatukan
kegiatan pemeriksaan kesehatan (tekanan darah, gula darah sewaktu, dan
kolesterol), pengukuran kebugaran jasmani dengan menggunakan metode
Rockport Walking Test atau Six Minute Walking Test, dan/atau latihan fisik
lain (senam, dll), serta penyuluhan kesehatan haji yang melibatkan unsur
lintas program dan lintas sektor.

5. Pemeriksaan Kesehatan Tahap Ketiga


Pemeriksaan kesehatan tahap ketiga dilakukan untuk menetapkan status
kesehatan jemaah haji laik atau tidak laik terbang merujuk kepada standar
keselamatan penerbangan internasional dan/atau peraturan kesehatan
internasional. Jemaah haji yang ditetapkan tidak laik terbang merupakan jemaah
haji dengan kondisi yang tidak memenuhi standar keselamatan penerbangan
internasional dan/atau peraturan kesehatan internasional.
Dalam hal PPIH Embarkasi bidang Kesehatan mendapatkan jemaah haji
memiliki potensi tidak memenuhi syarat istithaah kesehatan, maka PPIH
Embarkasi bidang Kesehatan dapat melakukan pemeriksaan kesehatan kepada
jemaah haji yang dimaksud dengan menyertakan tim penyelenggara kesehatan
haji kabupaten/kota untuk menetapkan kriteria istithaah jemaah haji tersebut.
Pemeriksaan kesehatan tahap ketiga meliputi:
 Anamnesa.
 Pemeriksaan Fisik.
 Pemeriksaan Penunjang.
 Diagnosis.
 Penetapan Kelaikan Terbang.
 Rekomendasi/Saran/Rencana Tindak Lanjut.

Sumber : PETUNJUK TEKNIS PERMENKES NOMOR 15 TAHUN 2016


KEMENTERIAN KESEHATAN RI SEKRETARIAT JENDERAL PUSAT
KESEHATAN HAJI TAHUN 2017

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1 Kesimpulan
Kondisi kesehatan jemaah haji merupakan modal dan sangat
memengaruhi perjalanan dan kelancaran ibadah haji mulai dari tanah air,
embarkasi, saat penerbangan, saat di Arab Saudi maupun saat kepulangan kembali
ke tanah air. Pembinaan kesehatan ini dilaksanakan mengingat penyelenggaraan
ibadah haji tidak lepas dari upaya pembinaan dan pemeriksaan kesehatan yang
dilakukan melalui beberapa tahapan. Mulai sejak mendaftarkan diri berhaji hingga
menjelang masa keberangkatan.
Semua Jemaah haji wajib diperiksa kesehatannya, setelah diperiksa akan
dilakukan pembinaan oleh petugas Kesehatan. Salah satu pola pembinaan
kesehatan adalah dengan melakukan penyuluhan kesehatan, latihan kebugaran dan
pemeriksaan darah, termasuk pemeriksaan atau tes cepat kejiwaan bagi jemaah
haji. Semuanya dijadikan satu paket kegiatan pembinaan kesehatan jemaah haji.

3.2 Saran
a. Untuk calon Jemaah haji
Sebelum keberangkatan ke tanah suci sebaiknya memeriksakan
Kesehatan secara rutin di puskesmas, rumah sakit, atau pos pelayanan Kesehatan
terdekat, atau kepada pelayanan Kesehatan yang sudah ditujukan. Sehingga
apabila terdapat gejala kelaianan Kesehatan akan dapat segera diatasi
b. Untuk petugas Kesehatan
Agar senantiasa secara berkala mengadakan pembinaan kepada calon Jemaah
haji, dengan dilakukannya pembinaan secara berkala diharapkan calon Jemaah
haji dapat melaksanakan ibadah secaa maksimal tanpa mengalami gangguan
Kesehatan yang serius selama masa tunggu keberangkatan, selama di tanah suci
dan masa kepulangan di tanah air
DAFTAR PUSTAKA
Petunjuk Teknis Permenkes Nomor 15 Tahun 2016, Kementerian Kesehatan RI
Sekretaris Jenderal Pusat Kesehatan Haji Tahun 2017
www.P2ptm.Kemkes.gi.id>dokumen-ptm>deteksi dini faktor Resiko PTM pada
Jemaah haji.