Anda di halaman 1dari 106

LAPORAN STASE MANAJEMEN KEPERAWATAN

DI RUANG BOUGENVIL RSUD dr. R. GOETENG TAROENADIBRATA


PURBALINGGA

Disusun oleh:

Mei Endah Mulyani, S.Kep. I4B016010


Khuswatun Khasanah A., S.Kep. I4B016011
Nia Claudia Bastian T., S.Kep. I4B016025
Kiky Indriati, S.Kep. I4B016045
Imma Mahmudah, S.Kep. I4B016038
Asri Nur Chasanah, S.Kep. I4B016044
Murandari, S.Kep. I4B016039
Ira Destia, S.Kep. I4B016012

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN KEPERAWATAN
PROGRAM PROFESI NERS
PURWOKERTO
2017
1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tuntutan masyarakat terhadap kualitas pelayanan keperawatan dirasakan
sebagai fenomena yang harus direspon oleh perawat. Respons yang ada harus
bersifat kondusif dengan pengelolaan keperawatan dan langkah-langkah konkret
dalam pelaksanaannya. Manajemen Keperawatan di Indonesia di masa depan
perlu mendapatkan prioritas utama dalam pengembangan. Hal ini bekaitan
dengan tuntutan profesi dan tuntutan global bahwa setiap perkembangan dan
perubahan memerlukan pengelolaan secara profesional dengan memperhatikan
setiap perubahan yang terjadi di Indonesia.
Menurut Hersey dan Blanchard (1977) dalam Suyanto (2009)
manajemen adalah suatu proses melakukan kegiatan pencapaian tujuan
organisasi melalui kerjasama dengan orang lain, sedangkan manajemen
keperawatan adalah suatu tugas khusus yang harus dilaksanakan oleh pengelola
keperawatan untuk merencanakan, mengorganisasi, mengarahkan serta
mengawasi sumber-sumber yang ada baik sumber dari manusia, alat maupun
dana, sehingga dapat memberikan pelayanan keperawatan yang efektif, baik
kepada pasien, keluarga, dan masyarakat (Suyanto, 2009).
Manajemen keperawatan merupakan suatu pelayanan keperawatan
profesional dengan pengelolaan sekelompok perawat dalam suatu tempat yang
memberikan asuhan keperawatan secara optimal dengan menggunakan fungsi
manajemen, untuk itu manajemen keperawatan perlu mendapat prioritas utama
dalam pengembangan keperawatan di masa depan. Hal ini berkaitan dengan
tuntutan profesi dan tuntutan global bahwa setiap perkembangan dan perubahan
memerlukan pengelolaan secara profesional dengan memperhatikan setiap
perubahan yang terjadi.
Perubahan dan perkembangan yang terjadi perlu diikuti dengan
perbaikan standar mutu rumah sakit di Indonesia. Perubahan tersebut didasarkan
pada akreditasi rumah sakit versi 2012 yang terdiri dari 15 bab yang meliputi (1)
sasaran keselamatan pasien (2) hak pasien dan keluarga (3) pendidikan
2

kesehatan untuk pasien dan keluarga (4) peningkatan mutu dan keselamatan
pasien (5) sasaran millenium development goals (MDGs) (6) akses pelayanan
dan kontinuitas pelayanan (7) assesment pasien (8) pelayanan pasien (9)
pelayanan anestesi dan bedah (10) manajemen penggunaan obat (11) manajemen
komunikasi dan informasi (12) kualifikasi dan pendidikan staf (13) pencegahan
dan pengendalian infeksi (14) tata kelola, kepemimpinan dan pengarahan (15)
manajemen fasilitas dan keselamatan.
Pada tahun 2016, RSUD Dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga
telah melakukan proses penilaian akreditasi rumah sakit. Standar akreditasi yang
baru harus diimplementasikan secara optimal, sehingga perlu monitoring dan
pembenahan di berbagai sektor. Kerjasama dari berbagai pihak yang terlibat
dalam terselenggaranya pelayanan di rumah sakit sangat diperlukan untuk
mencapai mutu pelayanan yang lebih baik, salah satunya adalah asuhan
keperawatan di ruang rawat inap.
Asuhan keperawatan memberikan banyak kontribusi dalam penilaian
standar mutu rumah sakit, dimana terdapat poin penilaian kelompok standar
berfokus pada pasien dan kelompok sasaran keselamatan pasien. Perawat di
ruang rawat inap selalu berhubungan dengan pelayanan kepada pasien, sehingga
patient safety merupakan hal yang diutamakan dalam pemberian asuhan
keperawatan. Jika patient safety sudah berjalan dengan baik maka akan
berdampak pada pemberian asuhan yang aman bagi pasien dan tidak
mengakibatkan kerugian baik bagi pasien dan keluarga maupun bagi perawat.
Dalam pencapaian hal tersebut memerlukan sistem manajemen yang baik dan
sesuai dengan standar dalam memberikan pelayanan kesehatan.
Pemberian pelayanan pada pasien di ruang rawat inap melibatkan
berbagai unsur pengelola ruangan, termasuk di dalamnya mahasiswa
keperawatan yang sedang praktik di ruangan tersebut. Strategi yang dapat
dilaksanakan oleh mahasiswa Program Profesi Ners FIKes Universitas Jenderal
Soedirman dalam stase manajemen keperawatan yaitu dengan mengaplikasikan
secara langsung pengetahuan manajerial di Ruang Bougenvil RSUD dr. R.
Goeteng Taroenadibrata Purbalingga dengan arahan dari pembimbing lapangan
maupun dari pembimbing akademik.
3

Ruang Bougenvil adalah ruang rawat inap maternal dan ginekologi


dengan fasilitas kelas I, kelas II dan kelas III. Model pengorganisasian ruang
Bougenvil adalah MPKP tim modifikasi. Hasil wawancara dengan kepala ruang
didapatkan informasi bahwa saat ini manajemen sedang melakukan penataan
yang disesuaikan dengan standar akreditasi. Disamping itu permasalahan yang
masih terjadi di ruangan tersebut adalah sistem manajerial yang belum
maksimal.
Oleh karena itu diperlukan suatu upaya untuk mendukung tercapainya
sistem manajerial dan mutu pelayanan yang optimal sesuai dengan satandar
akreditasi. Melalui praktik manajemen mahasiswa profesi ners unsoed
diharapkan dapat memfasilitasi terselenggaranya manajemen dan asuhan
keperawatan yang lebih baik.

B. Waktu dan Tempat Pelaksanaan


Pelaksanaan kegiatan praktik profesi stase manajemen keperawatan ini,
direncanakan berlangsung dari tanggal 27 Februari sampai dengan 18 Maret
2017. Mahasiswa akan mempraktekkan proses-proses manajemen keperawatan
yang dilaksanakan di Ruang Bougenvil RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata
Purbalingga.

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Setelah melakukan praktik manajemen keperawatan selama 3 minggu
di Ruang Bougenvil RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga
diharapkan mahasiswa mampu melakukan manajemen dalam mengelola
asuhan keperawatan dan menjadi role model di ruang rawat inap dengan
menggunakan keterampilan manajemen dan strategi kepemimpinan sehingga
dapat memberikan asuhan keperawatan profesional yang berkualitas.
2. Tujuan khusus
Setelah melaksanakan praktik manajemen keperawatan di Ruang
Bougenvil RSUD Dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga mahasiswa
mampu:
4

1) Mengidentifikasi, menganalisa, serta menetapkan masalah dan prioritas


masalah
2) Merencanakan kegiatan berdasarkan prioritas masalah yang telah dianalisa
3) Mengorganisasikan kegiatan berdasarkan perencanaan yang telah
ditetapkan
4) Melaksanakan praktik MPKP dalam memberikan pelayanan asuhan
keperawatan
5) Melakukan controling serta evaluasi praktik MPKP dalam memberikan
pelayanan asuhan keperawatan

D. Praktikan
Mahasiswa praktik stase manajemen di ruang Bougenvil adalah
mahasiswa profesi ners Unsoed angkatan XVIII dari kelompok 2 gelombang 1.
Nama anggota kelompok sebagai berikut:
Mei Endah Mulyani, S.Kep. I4B016010
Khuswatun Khasanah A., S.Kep. I4B016011
Nia Claudia Bastian T., S.Kep. I4B016025
Kiky Indriati, S.Kep. I4B016045
Imma Mahmudah, S.Kep. I4B016038
Asri Nur Chasanah, S.Kep. I4B016044
Murandari, S.Kep. I4B016039
Ira Destia, S.Kep. I4B016012
5

BAB II
HASIL PENGKAJIAN

A. Profil atau Gambaran Umum Ruang Perawatan


1. Profil Ruang Bougenvil
Ruang Bougenvil merupakan salah satu dari unit kerja pelayanan
instalasi PONEK RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga dengan
kategori pasien nifas, bayi rawat gabung, dan pasien ginekologi untuk kelas I,
kelas II, dan kelas III dengan kapasitas 33 tempat tidur, perinciannya sebagai
berikut:
a. Kamar nomor 1 : 2 tempat tidur
b. Kamar nomor 2 : 2 tempat tidur
c. Kamar isolasi : 2 tempat tidur
d. Kamar nomor 3 : 2 tempat tidur
e. Kamar nomor 4 : 2 tempat tidur
f. Kamar nomor 5 : 4 tempat tidur
g. Kamar nomor 6 : 4 tempat tidur
h. Kamar nomor 7 : 5 tempat tidur
i. Kamar nomor 8 : 5 tempat tidur
j. Kamar nomor 9 : 5 tempat tidur
Setiap kamar di Ruang Bougenvil memiliki 1 pintu akses masuk dan
keluar. Sirkulasi udara dan pencahayaan di setiap kamar mencukupi. Pada
setiap kamar juga terdapat wastafel yang dapat digunakan untuk tempat cuci
tangan penunggu atau pengunjung pasien. Pintu yang terdapat dalam kamar
selalu terbuka sehingga pengunjung dapat bebas keluar masuk kamar pasien
tanpa sepengetahuan perawat/bidan, bahkan anak usia di bawah 12 tahun pun
sering masuk ke dalam ruang perawatan pasien. Ruang Bougenvil tidak
memilik ruang transit jenazah. Letak Ruang Bougenvil berada dilantai dua,
tepat diatas ruang bersalin. Ruang Bougenvil juga memiliki box bayi sejumlah
12 buah.
6

2. Denah Ruang Bougenvil

Gambar 2.1 denah ruang Bougenvil


3. Struktur Organisasi Ruang Bougenvil
Ruang Bougenvil dipimpin oleh seorang kepala ruang. Ruang Bougenvil
memiliki 2 ketua tim yang didampingi 4 penanggung jawab shift dan 8
perawat/bidan asosiate serta terdapat 2 asisten perawat/bidan dan 1 HS. Secara
7

garis besar, struktur organisasi Ruang Bougenvil RSUD dr. R. Goeteng


Taroenadibrata Purbalingga dapat dilihat pada table berikut ini :

STRUKTUR ORGANISASI RUANG BOUGENVIL


RSUD Dr. R. GOETENG TAROENADIBRATA PURBALINGGA

Direktur
dr. Nonot Mulyono, M.Kes Kabid Pelayanan
dr. Teguh Wibowo

Komite Ka Instalasi PONEK


Kepala Seksi
Keperawatan dr. Agus Puji MA, Sp.OG
Keperawatan
Tari Septiana, S. Kep
Ka Ruang Case Manager
Tri Lestari W, Amd.Keb Jumirah, S.Kep

Katim I Katim II
Mujiah Margiasih, S.Kep, Ns Dian Puspito Arum, Amd.Keb

Penanggungjawab Siff Asper Penanggungjawab Siff


Emi Triyani, Amk Alistri Ratna Dewi, Amd. Keb
Ririn Oktorin, Amd.Keb Halimah Deni K, Amd.Keb
PA PA
Dwi Rita, Amd.Keb Dea Anifah N, Amd.Keb
Reni Rima, Amd.Keb Luthfia Hanum, Amd.Keb
Retno S, Amd.Keb Siska Dwi Utami, Amd.Keb
Yohana. Amd.Keb Rizkia Gita, Amd.Keb

Keterangan : : garis komando


: garis koordinasi

Gambar 2.2 Struktur organisasi ruang Bougenvil RSUD dr. Goeteng


Taroenadibrata Purbalingga 2017
8

B. Standar Prosedur Operasional (SPO) yang Dimiliki


Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala ruang Bougenvil, pelaksanaan
perawatan di ruang Bougenvil sudah menggunakan Standar Prosedur Operasional
(SPO) yang sudah berlaku di RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga.

C. Metode Pengumpulan Data


Pengambilan data akan dilakukan dengan menggunakan metode
pengambilan data primer yaitu wawancara mendalam, observasi dan kuisioner,
serta pengambilan data sekunder yaitu dokumentasi asuhan keperawatan, data
jumlah karyawan, dan data kunjungan pasien. Data diambil dari tanggal 27
Febuari-2 Maret 2017.

D. Unsur Input
1) Pasien
Ruang Bougenvil memberikan pelayanan kepada pasien wanita dengan
nifas, bayi baru lahir, dan kasus ginekologi. Kapasitas pasien di ruang
Bougenvil mencapai 33 orang dan 12 bayi. Daftar 10 penyakit terbanyak di
ruang Bougenvil pada tahun 2016 adalah sebagai berikut post partum atas
indikasi ketuban pecah dini (KPD), partus dengan preeklamsi berat, abortus
inkomplit, prolonged pregnancy, spontaneous vertex delivery, prolonged first
stage (of labour), retensio plasenta tanpa perdarahan, kala II lama, blighted
ovum, dan mioma uteri. Pasien yang berkunjung di RSUD dr. R. Goeteng
Taroenadibrata Purbalingga dan dirawat di ruang Bougenvil rata-rata
merupakan pasien yang berasal dari daerah Purbalingga dan sekitarnya. Pasien
di RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga merupakan rujukan dari
Puskemas, bidan/dokter praktek pribadi atau rumah sakit swasta.

Tabel 2.1 10 Besar Diagnosa Ruang Bougenvil RSUD dr. R Goeteng


Taroenadibrata Purbalingga Tahun 2016
No Jenis Penyakit Jumlah
1 Post partum atas indikasi ketuban pecah dini 303
(KPD)
2 Partus dengan preeklamsi berat 198
3 Abortus inkomplit 156
9

4 Prolonged pregnancy 116


5 Spontaneous vertex delivery 97
6 Prolonged first stage (of labour) 91
7 Retensio plasenta tanpa perdarahan 83
8 Kala II lama 60
9 Blighted ovum, 58
10 Mioma uteri 49

2) Peserta Didik
a. Kajian Teori
Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan
diri lewat proses pendidikan. Peserta didik merupakan sosok yang
membutuhkan bantuan orang lain untuk bisa tumbuh dan berkembang ke
arah kedewasaan (Hiryanto, 2014).
b. Kajian Data
Di Ruang Bougenvil pada bulan Februari-Maret terdapat 18 mahasiswa
praktik. Rinciannya sebagai berikut: 8 mahasiswa program Profesi Ners
Unsoed, 3 mahasiswa D3 Keperawatan Stikes Harapan Bangsa dan 7
mahasiswa D3 Kebidanan Universitas Muhamadiyah Purwokerto.
Tabel 2.2 Daftar Mahasiswa Praktek Bulan Febuari – Maret 2017
Nama Institusi Jumlah Stase Waktu
Mahasiswa Pelaksanaan
Profesi Keperawatan 8 orang Manajemen 27 Febuari – 18
UNSOED Maret 2017
D3 Keperawatan 3 orang KDM II 27 Februari –
STIKES Harapan 11 Maret 2016
Bangsa
D3 Kebidanan UMP 7 orang KDM 24 Februari –
07 Maret 2016
c. Analisis
Berdasarkan hasil kajian yang didapat dapat simpulkan bahwa peserta
didik menerapkan ilmu yang diperoleh di akademik ke dalam dunia kerja
nyata.
10

3) Ketenagaan
a) Kuantitas
Kajian Teori
Keberhasilan suatu organisasi rumah sakit sangat tergantung pada
kemampuan manajemen dalam menyerasikan unsur-unsur karyawan atau
tenaga perawat/bidan dengan sistem, struktur organisasi, teknologi, tugas,
budaya kerja, dan lingkunganya. Hal ini telah disadari bahwa SDM sering
kali menjadi penyebab kegagalan suatu organisasi. Oleh karena itu
penetapan SDM di rumah sakit dalam hal ini tenaga perawat/bidan perlu
diperhatikan. Penetapan jumlah tenaga keperawatan adalah proses
membuat perencanaan untuk menentukan berapa banyak jumlah
perawat/bidan yang bekerja di setiap ruangan. Untuk keperluan itu
beberapa ahli telah mengembangkan beberapa formula untuk menilai dan
membandingkan kebutuhan perawat/bidan sesuai beban kerja dan
kebutuhan ruangan.
Perhitungan tenaga perawat/bidan
Didalam penerapan kebutuhan ketenagakerjaan harus diperhatikan adanya
faktor yang terkait beban kerja perawat/bidan, diantaranya jumlah klien
yang dirawat/hari/bulan/tahun dalam suatu unit, kondisi atau tingkat
ketergantungan klien, rata-rata hari perawatan klien, pengukuran
perawatan langsung dan tidak langsung, frekuensi tindakan yang
dibutuhkan, rata-rata waktu keperawatan langsung dan tidak langsung dan
pemberian cuti
Menurut Suyanto (2008), hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
perhitungan tenaga kerja perawat/bidan sebagai berikut: (1) Faktor-faktor
yang mempengaruhi kebutuhan tenaga keperawatan; (2) Faktor klien,
meliputi: tingkat kompleksitas pasien, kondisi pasien sesuai dengan jenis
penyakit dan usianya, jumlah pasien dan fluktuasinya, keadaan sosial
ekonomi,dan harapan pasien dan keluarga; (3) Faktor tenaga, meliputi:
jumlah dan komposisi tenaga keperawatan, kebijakan pengaturan dinas,
uraian tugas perawat/bidan, kebijakan personalia, tingkat pendidikan dan
pengalaman kerja, tenaga perawat/bidan spesialis, dan sikap etis
11

profesional; (4) Faktor lingkungan, meliputi: tipe dan lokasi rumah sakit,
lay out keperawatan, fasilitas dan jenis pelayanan yang diberikan,
kelengkapan peralatan medik atau diagnostik, pelayanan penunjang dari
instalasi lain, dan macam kegiatan yang dilaksanakan; (5) Faktor
organisasi, meliputi: mutu pelayanan yang ditetapkan dan kebijakan
pembinaan dan pengembangan.
Indikator-indikator pelayanan rumah sakit dapat dipakai untuk
mengetahui tingkat pemanfaatan, mutu, dan efisiensi pelayanan rumah
sakit. Indikator-indikator berikut bersumber dari sensus harian rawat inap:
 BOR (Bed Occupancy Ratio = Angka penggunaan tempat tidur)
BOR menurut Huffman (1994) adalah “the ratio of patient service days
to inpatient bed count days in a period under consideration”. Menurut
Barber Johnson standar internasional BOR adalah 75-85%. Sedangkan
menurut Depkes RI (2005), BOR adalah persentase pemakaian tempat
tidur pada satuan waktu tertentu. Indikator ini memberikan gambaran
tinggi rendahnya tingkat pemanfaatan tempat tidur rumah sakit. Nilai
parameter BOR yang ideal adalah antara 60-85% (Depkes RI, 2005).
 AVLOS (Average Length of Stay = Rata-rata lamanya pasien
dirawat)
AVLOS menurut Huffman (1994) adalah “The average hospitalization
stay of inpatient discharged during the period under consideration”.
AVLOS menurut Depkes RI (2005) adalah rata-rata lama rawat seorang
pasien. Indikator ini disamping memberikan gambaran tingkat efisiensi,
juga dapat memberikan gambaran mutu pelayanan, apabila diterapkan
pada diagnosis tertentu dapat dijadikan hal yang perlu pengamatan yang
lebih lanjut. Secara umum nilai AVLOS yang ideal antara 6-9 hari
(Depkes, 2005).Rumus: AVLOS = Jumlah lama dirawat/Jumlah pasien
keluar (hidup+mati)
 TOI (Turn Over Interval = Tenggang perputaran)
TOI menurut Depkes RI (2005) adalah rata-rata hari dimana tempat
tidur tidak ditempati dari telah diisi ke saat terisi berikutnya. Indikator
12

ini memberikan gambaran tingkat efisiensi penggunaan tempat


tidur.Idealnya tempat tidur kosong tidak terisi pada kisaran 1-3 hari.
 BTO (Bed Turn Over = Angka perputaran tempat tidur)
BTO menurut Huffman (1994) adalah “the net effect of changed in
occupancy rate and length of stay”. BTO menurut Depkes RI (2005)
adalah frekuensi pemakaian tempat tidur pada satu periode, berapa kali
tempat tidur dipakai dalam satu satuan waktu tertentu.Idealnya dalam
satu tahun, satu tempat tidur rata-rata dipakai 40-50 kali.
Klasifikasi pasien
Klasifikasi pasien adalah metode pengelompokkan pasien menurut
jumlah dan kompleksitas persyaratan perawatan mereka. Dalam banyak
sistem klasifikasi, pasien dikelompokkan sesuai dengan ketergantungan
mereka pada pemberi perawatan dan kemampuan yang diperlukan untuk
memberikan perawatan. Tujuan klasifikasi pasien adalah untuk mengkaji
pasien dan pemberian nilai untuk mengukur jumlah usaha yang
diperlukan untuk memenuhi perawatan yang dibutuhkan pasien (Gillies,
1994). Menurut Swanburg, tujuan klasifikasi pasien adalah untuk
menentukan jumlah dan jenis tenaga yang dibutuhkan dan menentukan
nilai produktivitas.
Setiap kategori deskriptor empat perawatan (aktifitas sehari-hari,
kesehatan umum, dukungan pengajar serta emosional, dan perlakuan
sekitar pengobatan) dipakai untuk menunjukkan karakteristik dan tingkat
perawat/bidan yang dibutuhkan pasien di dalam klasifikasi tersebut.
Klasifikasi pasien sangat menentukan perkiraan kebutuhan tenaga. Hal
ini dilakukan untuk menetapkan jumlah tenaga keperawatan sesuai
dengan kategori yang dibutuhkan untuk asuhan keperawatan klien di
setiap unit.
a) Sistem klasifikasi pasien
Kategori keperawatan klien menurut Swanburg (1999) terdiri dari:
(1) Self-care
Klien memerlukan bantuan minimal dalam melakukan tindak
keperawatan dan pengobatan. Klien melakukan aktivitas
13

perawatan diri sendiri secara mandiri. Biasanya dibutuhkan


waktu 1-2 jam dengan waktu rata-rata efektif 1,5 jam/24 jam.
(2) Minimal care
Klien memerlukan bantuan sebagian dalam tindakan
keperawatan dan pengobatan tertentu, misalnya pemberian obat
intravena, dan mengatur posisi. Biasanya dibutuhkan waktu 3-4
jam dengan waktu rata-rata efektif 3,5 jam/24 jam.
(3) Intermediate care
Klien biasanya membutuhkan waktu 5-6 jam dengan waktu rata-
rata efektif 5,5 jam/24 jam.
(4) Mothfied intensive care
Klien biasanya membutuhkan waktu 7-8 jam dengan waktu rata-
rata efektif 7,5 jam/24 jam.
(5) Intensive care
Klien biasanya membutuhkan 10-14 jam dengan waktu rata-rata
efektif 12 jam/24 jam.
Metode lain yang sering digunakan di RS adalah metode menurut
Douglas (1984), yang mengklasifikasi derajat ketergantungan pasien
dalam tiga kategori, yaitu perawatan minimal, perawatan intermediate,
dan perawatan maksimal atau total.
a) Perawatan minimal
Perawatan ini memerlukan waktu 1-2 jam/24 jam. Kriteria klien
pada klasifikasi ini adalah klien masih dapat melakukan sendiri
kebersihan diri, mandi, dan ganti pakaian, termasuk minum.
Meskipun demikian klien perlu diawasi ketika melakukan ambulasi
atau gerakan. Ciri-ciri lain pada klien dengan klasifikasi ini adalah
observasi tanda vital dilakukan setiap shift, pengobatan minimal,
status psikologis stabil, dan persiapan prosedur memerlukan
pengobatan.
b) Perawatan intermediate
Perawatan ini memerlukan waktu 3-4 jam/24 jam. Kriteria klien
pada klasifikasi ini adalah klien masih perlu bantuan dalam
14

memenuhi kebersihan diri, makan dan minum. Ambulasi serta


perlunya observasi tanda vital setiap 4 jam. Disamping itu klien
dalam klasifikasi ini memerlukan pengobatan lebih dan sekali.
Kateter foley atau asupan haluarannya dicatat. Dan klien dengan
pemasangan infus serta persiapan pengobatan memerlukan
prosedur.
c) Perawatan maksimal atau total
Perawat/bidan ini memerlukan waktu 5-6jam/24 jam. Kriteria klien
pada klasifikasi ini adalah klien harus dibantu tentang segala
sesuatunya. Posisi yang diatur, observasi tanda vital setiap 2 jam,
makan memerlukan selang NGT (Naso Gastrik Tube),
menggunakan terapi intravena, pemakaian alat penghisap (suction),
dan kadang klien dalam kondisi gelisah/disorientasi.
Kajian Data
a) Menurut Gillies (1982)
Kebutuhan tenaga perawat/bidan secara kuantitatif dapat
dirumuskan dengan perhitungan sebagai berikut:
A x B x 365
Tenaga Perawat/bidan (TP) :
(365 – C) x jam kerja/hari

Keterangan :
A : Jam efektif/24 jam: waktu perawatan yang dibutuhkan klien
B : BOR x jumlah tempat tidur
C : Jumlah hari libur
365 : Jumlah hari kerja selama 1 tahun
TP= 4.72x(44.43%x45)x365
(365-82)X7
TP= 4.72 x 14.66 x365
283 x7
TP= 34.444,8018
1981
TP= 17,38
TP= 17 perawat/bidan
15

b) Menurut Depkes (2002)


Tabel 2.3. Kebutuhan tenaga perawat/bidan menurut klasifikasi
pasien di ruang rawat inap
No Klasifikasi Rata2 jml Jam Jumlah jam
pasien/hari perawatan/hari perawatan/hari
1 Minimal 17 2 34
2 Sedang 10 3,08 30,8
3 Agak 0 0 0
berat
4 Maksimal 0 0 0
Jumlah 21 64,08
Jumlah jam perawatan di ruangan per hari = 64,8
Jumlah jam kerja perawatan per shift = 7
Maka kebutuhan tenaga perawat/bidan = 64,8= 9,25
7
Factor koreksi: loss day = 52+12+18 = 72x7,57 = 545,04= 1,93
365-82 283 283
Tugas non keperawatan = (7,57+1,93)x25% = 2,375
Jadi, tenaga keperawatan yang dibutuhkan = 9,25+1,93+2,375=
13,55= 13 orang
c) Menurut Dauglass (1984)
Kebutuhan tenaga perawat/bidan bulan 27 Febuari – 2 Maret 2017.
Diketahui :
(1) Rata-rata pasien dirawat dengan perawatan minimal = 10
pasien
(2) Rata-rata pasien dirawat dengan perawatan intermediet = 17
pasien
(3) Rata-rata pasien dirawat dengan perawatan total = 0 pasien

Rumus Perhitungan Tenaga Perawat/bidan berdasarkan formula

Douglasss
16

Waktu Kebutuhan Perawat/bidan


Pagi Sore Malam
Klasifikasi
Minimal 10 x 0,17 = 1,7 10 x 0,14 = 1,4 10 x 0,07 = 0,91
Intermediet 17 x 0,27 = 4,59 17x 0,15= 2,55 17 x 0,10 =1,7
Total 0 x 0,36 = 0 0 x 0,30 = 0 0 x 0,20 = 0
Jumlah 6,29 3,95 2,61

Kesimpulan:
Pagi : 6,29 (6 perawat/bidan)
Siang : 3,95 (4 perawat/bidan)
Malam : 2,61 (3 perawat/bidan)

b) Kualitas
Kajian Teori
Rumah sakit adalah organisasi yang unik dan kompleks karena ia
merupakan institusi yang padat karya, mempunyai sifat-sifat dan ciri-ciri
serta fungsi-fungsi yang khusus dalam proses menghasilkan jasa medik
dan mempunyai berbagai kelompok profesi dalam pelayanan penderita.
Mengingat adanya dinamika internal (perkembangan peran) dan tuntutan
eksternal yang semakin berkembang, rumah sakit dihadapkan pada upaya
penyesuaian diri untuk merespon dinamika eksternal dan fungsi integrasi
potensial-potensial internal dalam melaksanakan tugas yang semakin
kompleks. Dinamika internal dan tuntutan eksternal menyebabkan rumah
sakit didalam melaksanakan fungsinya sebagai penyedia jasa pelayanan
kesehatan masyarakat dituntut untuk mampu mengatasi permasalahan
yang ada. Komitmen terhadap organisasi merupakan penerimaan tujuan
dan nilai-nilai organisasi, dimana derajat dari komitmen didefinisikan
sebagai kesediaan untuk mendedikasikan diri pada nilai dan tujuan
organisasi.

Kajian Data
Berdasarkan hasil wawancara dan data dari ruang Bougenvil
didapatkan jumlah tenaga pelaksana di ruang Bougenvil saat ini adalah 15
17

perawat/bidan dengan rincian 1 kepala ruang, 2 ketua tim yang didampingi


4 penanggung jawab shift dan 8 perawat/bidan asosiet, 1 petugas HS dan 1
petugas administrasi. Pembagian shift yang dilakukan merata, saat shift
pagi terdiri dari 1 Ka-Ru, 2 Ka-Tim, dan 4 Perawat/bidan Asosiet, shif
siang terdiri dari 1 perawat/bidan penanggung jawab dan 2 Perawat/bidan
Asosiet, shift malam : 1 perawat/bidan penanggung jawab 2 Perawat/bidan
Asosiet dan lepas malam : 2 Perawat/bidan (1 perawat/bidan penanggung
jawab dan 1 perawat/bidan asosiet). Jumlah perawat/bidan yang bertugas
dalam shift pagi secara menetap adalah kepala ruang dan dua ketua tim
serta perawat/bidan lain sesuai jadwal shift dengan mempertimbangkan
beban kerja yang cukup banyak di pagi hari
Setiap perawat/bidan di RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibtara
Purbalingga mengikuti pelatihan secara rutin, baik itu pelatihan eksternal
maupun pelatihan internal. Pelatihan–pelatihan yang diikuti dibiayai secara
mandiri maupun pembiayaan dari RSUD Dr. R. Goeteng Taroenadibtara
Purbalingga.
Tabel 2.4 Kualifikasi Pendidikan Formal Tenaga Pegawai Di Ruang
Bougenvil RSUD Dr. Goeteng Taroenadibtara Purbalingga
No. Pendidikan Jumlah Presentase

1 S-1 Ners Keperawatan 1 6,67 %


2 S-1 Keperawatan 1 6,67%
3 D-3 Kebidanan 13 86,66 %
Jumlah 15 100 %

Tabel 2.5 Daftar Tenaga Kesehatan Ruang Bougenvil Tahun 2017


Pelatihan yang Lama kerja/
No. Nama Perawat/Bidan Jabatan
pernah diikuti masa kerja
APN, CTU,
Tri Lestari W, Amd.Keb 27 tahun 10
1 Kepala ruang PONEK, MKR,
bulan
CI
2 Mujiah Margiasih, S.Kep, Ns Ketua tim I CI, MKR, 14 tahun 9 bulan
3 Emi Triyani, Amk PJ Shift I BTCLS 12 tahun 10 bulan
4 Ririn Oktorin, Amd.Keb PJ Shift I APN, CTU 10 tahun 9 bulan
5 Dwi Rita, Amd.Keb Pelaksana APN 3 tahun 5 bulan
6 Reni Rima, Amd.Keb Pelaksana APN 6 tahun
7 Retno S, Amd.Keb Pelaksana APN 2 tahun
8 Yohana, Amd.Keb Pelaksana Resusitasi 6 tahun 7 bulan
9 Dian Puspito Arum, Amd.Keb Ketua tim 2 APN, CTU 13 tahun 3 bulan
18

10 Deni K., Amd.Keb PJ Shift II APN 7 tahun 5 bulan


11 Ratna Dewi, Amd.Keb PJ Shift II APN 7 tahun 2 bulan
12 Luthfia Hanum, Amd.Keb Pelaksana 5 bulan
13 Dea Anifah N, Amd.Keb Pelaksana APN 2 tahun
14 Rizkia Gita, Amd.Keb Pelaksana APN 5 bulan
15 Siska Dwi Utami, Amd.Keb Pelaksana APN
16 Lasyanti Administrasi 6 tahun
17 Oki Administrasi
Data diatas menunjukkan kualitas perawat/bidan berdasarkan tingkat
pendidikan dan pelatihan yang diikuti oleh tenaga perawat/bidan di Ruang
Bougenvil RSUD Dr. R. Goeteng Taroenadribata Purbalingga. Hasilnya,
tingkat pendidikan perawat/bidan di Ruang Bougenvil terdiri dari
Pendidikan Ners sebanyak 6,67%, S1 Keperawatan 6,67%, dan D3
Kebidanan 86,66%. Angka tersebut menunjukkan bahwa mayoritas petugas
yang berada diruang rawat inap Bougenvil adalah bidan. Berdasarkan
Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit menurut Depkes RI (2008)
menyatakan bahwa pemberi pelayanan di ruang rawat inap adalah Dokter
spesialis dan Perawat (minimal pendidikan D3). Pemberi pelayanan di
ruang persalinan normal adalah Dokter Sp.OG, Dokter umum terlatih
(asuhan persalinan normal), dan Bidan. Sedangkan pemberi pelayanan pada
persalinan dengan penyulit adalah Tim PONEK yang terlatih. Selain itu,
dari segi pelatihan yang pernah diikuti, cukup banyak perawat/bidan yang
belum pernah mengikuti pelatihan-pelatihan yang penting demi menunjang
peningkatan kualitas pelayanan, seperti patient safety, pelatihan PONEK,
pelatihan Midwifery Update (MU), dan pelatihan MPKP.
Analisa
Berdasarkan hasil kajian tersebut dapat disimpulkan bahwa mayoritas
tenaga kesehatan yang terdapat di ruang Bougenvil adalah bidan. Kegiatan
pengembangan dalam berbagai aspek, baik pendidikan maupun pelatihan
dalam proses pemberian asuhan keperawatan ataupun kebidanan dapat lebih
ditingkatkan lagi, khususnya pelatihan yang melibatkan perawat/bidan
asosiet. Menurut Depkes RI (2008) tentang standar perawatan minimal
rumah sakit, pada ruang rawat inap yang meliputi anak, penyakit dalam,
kebidanan dan bedah pemberi pelayanannya adalah dokter spesialis dan
perawat minimal D3. Sedangkan, di ruang bersalin (VK) dan perinatologi
19

pemberi pelayanan untuk persalinan normal yaitu dokter spesialis (SPOG),


dokter umum yang terlatih (asuhan persalinan normal) dan bidan. Namun,
jika persalinan disertai penyulit, pemberi pelayanannya adalah tim PONEK
terlatih.
4) Sumber Dana
Kajian Teori
Salah satu fungsi rumah sakit memberikan pelayanan kesahatan, baik
medis maupun non medis, dalam kaitan tersebut agar rumah sakit dapat
berjalan seoptimal mungkin dan dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat,
maka untuk itu rumah sakit perlu mempersiapkan peralatan atau bahan medis,
non medis, dan jasa pemborong. Sumber dana rumah sakit yaitu:
a. Dana Alokasi khusus dari APBN.
b. Pendapatan fungsional dan non fungsional dari pelayanan rumah sakit
yang dialokasikan dalam BLUD (Badan layanan Umum Daerah)
Kajian Data
Sumber dana yang digunakan berasal dari APBD BLUD kabupaten
Purbalingga dan APBN. Anggaran dana yang digunakan untuk anggaran rutin
gaji pegawai di bebankan dari APBN dan untuk pengadaan barang,
pemeliharaan alat yaitu diusulkan oleh kepala ruang dan di bebankan pada
anggaran APBD yang sebelumnya telah disetujui oleh bidang Perlengkapan
dan pengendalian Sarana RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga.
Pendapatan terbesar ruang Bougenvil berasal dari pasien umum dan BPJS.
Berikut adalah data jumlah pasien rawat inap di Ruang Bougenvil tahun
2016/2017 :
Tabel 2.6. Data jumlah pasien di Ruang Bougenvil tahun 2016/2017
20

No Tahun Bulan Pasien Masuk


1 2016 Februari 167
2 Maret 185
3 April 265
4 Mei 267
5 Juni 293
6 Juli 376
7 Agustus 374
8 September 333
9 Oktober 375
10 November 304
11 Desember 263
12 2017 Januari 223
13 Februari 135

Tabel. 2.7 Tarif Pelayanan Kamar Ruang Bougenvil 2016


No Jenis pelayanan Kelas Jasa sarana Jasa
pelayanan
1. Administrasi I Rp 5.000,. Rp 5.000,.
II
III
2. Kamar dan visit dokter
a. Umum I RP 45.000., Rp 18.000.,
II Rp 25.000., Rp 12.000.,
III Rp 25.000., Rp 20.000.,

b. Spesialis I RP 45.000., Rp 30.000.,


II Rp 15.000., Rp 6.000.,
III Rp 15.000., Rp 10.000.,
Bayi baru lahir normal= 50% tarif pelayanan kelas ibunya
21

Bayi baru lahir tidak normal= tarif pelayanan kelas ibunya


3. Biaya diet pasien I Rp 22.000., Rp 2750.,
II Rp 19.000., Rp 2375.,
III Rp 16.000,. Rp 2.000,.
4. Tindakan medis non
operatif
a. Non medis
 Sederhana I Rp 4000., Rp 5500.,
II Rp 3000., Rp 4500.,
III Rp 2500., Rp 3300.,

 Kecil I Rp 8000., Rp 16.500.,


II Rp 6000., Rp 13000
III Rp 4000., Rp 9500
b. Medis
 Sederhana I Rp 7500., Rp 23.000.,
II Rp 5000., Rp 18.000.,
III Rp 5000., Rp 14.000.,

 Kecil I Rp 12.500., Rp 69.000.,


II Rp 10.000., Rp 53.000.,
III Rp 10.000., Rp 41.000.,

 Sedang I Rp 26.500., Rp 230.000.,


II Rp 26.500., Rp 177.000.,
III Rp 26.500., Rp 136.000.,

 Besar I Rp 34.500., Rp 415.000.,


II Rp 34.500., Rp 319.000.,
III Rp 34.500., Rp 245.000.,
5. Tindakan non medis
operatif
a. Anastesi lokal
Sederhana I Rp 75.000., Rp 85.000.,
II Rp 75.000., Rp 85.000.,
III Rp 75.000., Rp 85.000.,

Kecil I Rp 100.000., Rp 170.000.,


II Rp 100.000., Rp 170.000.,
III Rp 100.000., Rp 170.000.,
b. General/Lumbal anastesi
Sedang
I Rp 300.000., Rp 720.000.,
II Rp 300.000., Rp 562.500.,
Besar
III Rp 300.000., Rp 405.000.,
Besar khusus
I Rp 300.000., Rp 1.012.500.,
22

II Rp 300.000., Rp 787.500.,
III Rp 300.000., Rp 607.500.,

I Rp 325.000., Rp 1.575.000.,
II Rp 325.000., Rp 1.170.000
II Rp 325.000., Rp 900.000.,

Tabel 2.8 Jenis Asuransi Kesehatan di Ruang Bougenvil Goeteng


Taroenadibrata Purbalingga Tahun 2017
No Jenis Pembayaran Bulan
Jumlah
Januari Februari
1. BPJS N-PBI 51 72 123
2 JAMKESDA 3 1 4
3 JAMDA 1 1 2
4 UMUM 21 24 45
5 LAIN-LAIN - - -
6 JAMDAMASKIN/KPS 44 43 87
7 SKTM 4 2 6
8 BPJS PBI 171 114 285

Analisis
Pendanaan di ruang bougenvil sudah sesuai dengan prosedur yang berlaku di
RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga dan telah memiliki staf
administrasi yang akan mengurus pembiayaan pasien selama di RS,
kemudian akan meneruskan pembayaran ke bagian keuangan.
5) Fasilitas
Kajian teori
Dalam proses manajemen sangat diperlukan adanya pengelolaan
fasilitas dan peralatan sebagai faktor pendukung / penunjang terlaksananya
pelayanan kesehatan. Peralatan kesehatan untuk pelayanan keperawatan
merupakan semua bentuk alat kesehatan/peralatan lain yang dipergunakan
untuk memperlancar pelaksanaan asuhan keperawatan sehingga diperoleh
tujuan pelayanan yang efisien dan efektif (Nursalam, 2011).
Ketersediaan sarana dan prasarana mempengaruhi mutu dari
pelaksanaan pelayanan. Jumlah fasilitas dan alat-alat kesehatan dapat
dipenuhi dengan standar yang telah ditetapkan oleh masing-masing institusi
dengan memperhatikan jenis alat, bahan/warna, ukuran, jenis kegiatan,
23

jumlah yang dibutuhkan, juga didasarkan atas per grup bahan-bahan yang
dipakai, disimpan maupun dicuci (Depkes, 2006).
Kajian Data
Berdasarkan hasil observasi material, kondisi material di Ruang
Bougenvil secara umum dalam kondisi baik. Selain berdasarkan ketersediaan
material, pengkajian manajemen sarana dan prasarana juga dikaji
menggunakan kuesioner. Pertanyaan kuesioner terbagi dalam 3 aspek yang
dinilai dengan hasil sebagai berikut:
a. Peralatan Penunjang
Berdasarkan hasil perhitungan didapatkan skor 65 % (cukup baik). Hal ini
merupakan salah satu faktor penghambat dalam proses optimalisasi patient
safety. Kondisi yang menjadi perhatian adalah kesesuaian jumlah set GB
dengan jumlah kebutuhan ganti balut pada pasien.
b. Kondisi Lingkungan
Berdasarkan hasil perhitungan didapatkan skor 70% (cukup baik).
Sosialisasi dan penerapan sistem mengenai tata tertib pasien menjadi
kebutuhan untuk menjaga kondisi dan keamanan ruangan. Termasuk di
dalamnya adalah penertiban pengunjung yang memenuhi kamar pasien
sehingga mengganggu pasien dan mengganggu pelayanan. Selain itu,
pelarangan anak dibawah usia 12 tahun memasuki ruang perawatan juga
perlu diperhatikan. Hal tersebut karena anak kecil rentan terhadap
penularan penyakit. Akan tetapi pada kenyataannya, pengunjung belum
menaati jam kunjung yang diberlakukan dibuktikan dengan masih
ditemukan adanya pengunjung diluar jam kunjung pasien. Pada bagian
depan ruangan, banyak dijumpai pengunjung yang menggelar tikar dan
melepas sandal untuk memasuki ruangan. Peraturan di ruangan Bougenvil
memperbolehkan pengunjung untuk memakai sandal, namun 95%
pengunjung masih melepas alas kaki di ruang Bougenvil. Hal tersebut
belum disosialisakan ke pengunjung.
c. Kondisi Fisik Bangunan
Berdasarkan hasil perhitungan didapatkan skor 80% (baik). Hal ini
disebabkan karena bangunan ruang Bougenvil merupakan bangunan yang
24

baru sehingga kondisi bangunan masih baik, tetapi luas bangunan tidak
sebanding dengan bed perawatan yang tersedia dalam satu kamar dan
masih terdapat di beberapa ruangan yang bocor saat hujan.
Tabel 2.9. Hasil Observasi Ketersediaan Sarana dan Prasarana 6
Sasaran Pasien Safety Ruang Bougenvil Februari 2017
No Sarana dan Prasarana Keterangan
Sasaran 1
1 Gelang Identitas (Pink, Biru) Tersedia
Sticker untuk gelang penanda
2 ada di farmasi (bon bila butuh)
(Kuning, Merah, Ungu)
Sasaran 3
Sudah tersedia namun kondisi lemari
emergency tidak dikunci, tersedia
emergency bag, dan obat-obatan high
3 Lemari Emergency
alert serta elektrolit konsentrat
disimpan di lemari emergency dan
diberikan jika dibutuhkan.
4 Label Khusus Tersedia
Sasaran 4
1. Lembar persiapan operasi Tersedia
Sasaran 5
5 Wastafel Tersedia
6 Air Mengalir Tersedia
7 Sabun Tersedia
Handuk Sekali Pakai/ Pengering
8 Tersedia namun jumlahnya terbatas
Tangan
9 Handsrub Tersedia
Pemisahan linen infeksius dan non
10 Linen infeksius sudah tersedia, jumlah linen
cukup
Tempat sampah infeksius dan
11 Tersedia
non infeksius
Sasaran 6
10 Bed Side Rail Tersedia
11 Kursi Roda/ Ruangan Tersedia
Pegangan Besi Di Toilet Dan
12 Tersedia
Selasar
13 Lantai Kamar Mandi Antislip Tersedia lantai antislip
25

Sumber data: Data primer ruang Bougenvil Februari 2017


Tabel 2.10 Daftar Inventaris Barang Medis dan Non Medis Ruang
Bougenvil per Februari 2017
Jenis Barang Jumlah Kondisi
Spekulum Slym 2 Baik
Oksigen mobile 1 Baik
Termos vaksin 1 Baik
Tromol/box darah 1 Baik
Footstool < 25 Baik
Scort 3 Baik
Lemari linen 1 Baik
Loker karyawan 3 Baik
Kursi tunggu pasien 31 Baik
Tempat sampah kecil 20 Baik
Hands scrub set 15 Baik
Jemuran handuk pasien 20 Baik
Korden penyekat 0 -
Tempat cuci alat 1 Baik
Meja kantor 3 Baik
Rak file 1 Baik
Keset < 15 Baik
Telepon paralel 1 Baik
Bed pasien 33 Baik
Box bayi 12 Baik
Meja makan pasien 32 Baik
Lemari pasien 32 Baik
Standar infus 33 Baik
Pispot 12 Baik
Ember pasien 12 Baik
Gayung pasien 12 Baik
Call record 33 Tidak bisa digunakan
Oksigen central 33 Baik
Suction central 33 Baik
Bantal 15 Baik
Timbangan dewasa 1 Baik
Timbangan bayi 3 1 dalam kondisi rusak
Termometer 2 Baik
Stetoskop bayi 1 Baik
Stetoskop dewasa 3 Baik
Manometer 33 Baik
Lemari obat 1 Baik
Etalase 2 Baik
Meja ruang pertemuan 1 Baik
Kursi karyawan 8 Baik
Tempat obat pasien 1 Tidak tertera identitas pasien
Rak piring karyawan 1 Baik
Tempat sampah 8 Baik
Tempat pispot 12 Baik
Baskom 20 Baik
Linen - Baik
26

Stik laken - Baik


Perlak - Baik
Selimut - Baik
Sarung bantal - Baik
Baju operasi - Baik
Bak instrumen 4 Baik
Bengkok 4 Baik
Kom kecil 2 Baik
Kom kapas alkohol 1 Baik
Korentang 2 Baik
Tong spatel 0 -
Guntimg verban 1 Baik
Gunting biasa 2 Baik
Torniquet 1 Baik
Tensimeter 5 Baik
Box obat emergency 1 Baik
Sumber data Primer ruang Bougenvil per Februari 2017
Analisa
Berdasarkan hasil observasi material, kondisi material di Ruang
Bougenvil secara umum dalam kondisi cukup baik. Nampak dari sarana dan
prasarana cukup banyak yang masih dalam kondisi baik. Selain berdasarkan
ketersediaan material, pengkajian manajemen sarana dan prasarana sebagai
berikut:.
1) Peralatan Penunjang
Ketersediaan peralatan penunjang (EKG, spignomanometer,
thermometer, suction, dan sketsel) di ruangan Bougenvil masih kurang
perawatan dan penertiban terhadap peralatan penunjang. Perawatan dan
penertiban peralatan penunjang sangat penting untuk meningkatkan
pelayanan, memelihara kebersihan dan kerapihan ruangan serta mencegah
penularan penyakit, meskipun dalam praktiknya akan menambah biaya
pengadaan alat. Berkaitan dengan hal ini perlu adanya kerjasama yang baik
antara tenaga kesehatan di ruangan dalam pemeliharaan peralatan penunjang
agar tetap terjaga.
2) Manajemen Penyimpanan Obat
Manajemen penyimpanan obat di ruang Bougenvil masih belum
optimal, kurangnya kelengkapan identitas pada rak obat dan penyimpanan
sediaan obat di ruangan serta obat-obat emergency masih belum rapih.
27

Manajemen penyimpanan obat sangatlah penting untuk menghindari


terjadinya kesalahan dalam pemberian obat.
Pelabelan kotak obat yang baik seharusnya dicantumkan stiker identitas
pasien secara jelas untuk menghindari kesalahan dalam pemberian terapi
pengobatan. Berdasarkan hasil observasi, kotak obat di ruang Bougenvil
hanya mencantumkan nama dan nomor kamar pasien tidak terdapat identitas
pasien. Padahal dalam kaidah patient safety pasien tidak boleh diberi identitas
menggunakan nomor kamar. Stiker identitas yang dibawakan oleh petugas
TPPRI saat pertama pasien masuk ke rumah sakit dapat mempermudah dan
memberi jaminan ketepatan identifikasi pasien pada prosedur pemberian obat
ke pasien ini. namun demikian, bila memang masih kurang jumlah stiker
yang diberikan oleh petugas TPPRI, perawat atau bidan di ruang rawat dapat
meminta lagi sejumlah stiker identitas pasien di TPPRI.

Gambar 2.1 pelebelan laci obat pasien


3) Penertiban keluarga/penunggu pasien setiap pagi sangat diperlukan untuk
mengefektifkan pelayanan yang dilakukan. Penertiban pengunjung belum
optimal dilakukan di ruang Bougenvil, selain itu pintu ruang Bougenvil
yang tidak dikunci memudahkan keluarga atau pengunjung keluar masuk
menjenguk pasien. Banyak keluarga pasien yang masih menggelar tikar
bergerombol dan alas kaki berserakan di depan ruang Bougenvil, sehingga
menyulitkan petugas dalam melakukan mobilisasi dan transport pasien. hal
ini juga membuat ruangan nampak kurang bersih dan kurang rapi. Pada
bagian depan ruangan sudah terpasang peringatan untuk tidak menggelar
tikar, namun pengunjung melanggar aturan tersebut.
28

Ketidakpatuhan pengunjung ini, menurut analisa kami mungkin


terkait beberapa faktor meliputi kurang ketatnya pengawasan terhadap
sejumlah penunggu, dimana penunggu pasien yang tidak memiliki kartu
penunggu dapat masuk ke ruangan diluar jam kunjung, kurang ketatnya
pengawasan terhadap peraturan jam besuk, tidak tersedianya tempat duduk
bagi penunggu atau pengunjung pasien yang datang diluar jam kunjung, dan
tidak tersosialisasikannya secara optimal aturan keharusan menggunakan
alas kaki diruangan.

Gambar 2.2 pengunjung di depan ruangan, sandal di depan ruangan, dan


larangan menggelar tikar

4) Kebersihan linen dalam rumah sakit memang sangat diperhatikan setiap


harinya. Namun pengelolaan linen kotor yang akan dipindahkan dari
ruangan menuju laundry di ruang Bougenvil masih harus diperhatikan.
Dimana saat linen kotor haya ditumpuk dalam ember besar saja.
Penggunaan tempat linen kotor berupa ember tertutup juga berguna sebagai
pencegahan terhadap infeksi yang berasal dari linen kotor. Hal yang perlu
29

diperhatikan adalah jumlah ember harus sesuai dengan jumlah linen kotor
yang diproduksi setiap hari di ruang Bougenvile sehingga tidak nampak
menumpuk berlebihan di ember.

Gambar 2.2 tempat linen kotor di depan ruangan


5) Terdapat beberapa atap ruangan yang bocor, sehingga dapaat mengurangi
kenyamanan pasien atau pengunjung terlebih saat hujan lebat.

Gambar 2.3 atap ruangan dan lorong yang bocor


6) Pada bagian tempat penyimpanan linen, terlihat tidak rapih. Standar lemari
linen bersih, bebas debu, tertutup, dan tidak lembab. Tujuannya untuk
meminimalkan angka kontaminasi melalui linen pasien. Pada ruangan
tersebut juga terdapat kotak listrik yang tidak tertutup. Hal tersebut dapat
menimbulkan bahaya dan kondisi ruangan yang tidak teratur dan bersih.
30

Gambar 2.5 tempat penyimpanan linen


7) Bed pasien yang berjumlah 33 buah sudah dilengkapi side rail. Hal ini sudah
sesuai dengan standar bed dan patient safety. Di ruang Bougenvil
menggunakan 1 jenis bed yaitu bed beroda dan fungsinya masih baik semua.
Diatas bed pasien juga terpasang oksigen sentral dan suction sentral.

Gambar 2.6 bed pasien


8) Sudah tersedianya handwash di setiap kamar pasien, tetapi belum ada
sosialisasi cara mencuci tangan dengan handwash. Sudah terdapat stiker
cara cuci tangan diatas handrub. Handwash ini digunakan untuk mencuci
tangan pasien, pengunjung, maupun petugas kesehatan yang akan
melakukan ataupun sesudah kontak langsung dengan pasien. Mencuci
tangan merupakan tindakan yang dilakukan untuk mencegah penyebaran
infeksi nosokomial (patient safety) sehingga tidak memperparah kondisi
pasien. Namun, tempat cuci tangan di ruangan pasien tidak dilengkapi
dengan sabun cuci tangan.
9) Ketersediaan tisue cuci tangan di ruangan berfungsi untuk mengurangi
perkembangan bakteri yang ada pada tangan, hal tersebut terjadi karena jika
setelah mencuci tangan tidak dikeringkan maka berisiko untuk bertumbuh
kembalinya bakteri pada tangan. Hasil observasi di ruang Bougenvil sudah
31

tersedia tisue cuci tangan di samping washtafel di ruang petugas, tetapi tidak
tersedia di wastafel kamar pasien.

2.8 washtafel di ruangan dan washtafel di ruang petugas


10) Jam kunjung yang diberlakukan dalam ruangan bertujuan untuk menjaga
ketertiban dan memberikan waktu pasien untuk istirahat, sedangkan
pelarangan anak dibawah 12 tahun memasuki ruang perawatan dikarenakan
anak kecil rentan terhadap penularan penyakit. Akan tetapi pada
kenyataannya pengunjung belum menaati jam kunjung yang telah
diberlakukan dan larangan untuk tidak membawa anak kecil memasuki
ruang perawatan.

Gambar 2.9 jam kunjungan pasien dan larangan anak dibawah 12 tahun
memasuki ruangan

6) Metode
Kajian Teori
32

Manajemen adalah suatu seni dalam menyelesaikan pekerjaan dengan melalui


orang lain (Adikoesoema, 1994). Mekanisme kerja fungsi manajemen menurut
Handoko (1995) dapat digambarkan dalam skema:

Keinginan Perencanaan
kebutuhan
Pengorganisasian Tujuan

Pengarahan

Pengkoordinasian
Informasi
Pengawasan

Gambar 2.13 Skema mekanisme kerja fungsi-fungsi manajemen


Manajemen yang komprehensif yaitu bekerja dengan dan melalui individu
dan kelompok untuk mencapai tujuan organisasi. Proses manajemen
pelayanan keperawatan terdiri dari perencanaan, pengorganisasian,
pengarahan, dan monitoring atau pengawasan.
7) Mesin
Kajian Data

Tabel 2.11 Daftar alat listrik


No Nama Alat Jumlah Kondisi
1 Senter 1 Baik
2 EKG 1 Baik
3 Lemari Es 1 Baik
4 Kipas Angin 11 Baik
5 Infus pump 0 Tidak ada
6 Jam dinding 12 Baik
7 Ambubag - -
8 Oksigen central 33 Baik
9 Suction 1 Baik
10 Nebulizer Disambungkan Baik
ke O2 central
11 Syring pump - Tidak ada
12 Sphignomanometer 5 Baik
(tensi)
13 Stetoskop 4 Baik

Analisa
33

Berdasarkan tabel hasil observasi kondisi machine di ruang Bougenvil,


secara umum kondisinya baik. Namun masih dalam jumlah yang kurang
untuk mencapai keseimbangan dengan rata-rata jumlah pasien yang dirawat
serta belum tersedianya beberapa peralatan yang menunjang dalam perawatan
pasien.
E. Unsur Proses
1. Proses Asuhan Keperawatan : Patient safety
Kajian Teori

Sasaran keselamatan pasien terdiri dari 6 sasaran, diantaranya adalah:

a. Sasaran I : ketepatan identifikasi pasien


Ketepatan identifikasi pasien dapat dilakukan dengan cara:
1) Identifikasi menggunakan gelang pasien, identifikasi terdiri dari tiga
identitas: nama pasien (e-KTP), nomor rekam medik, tanggal lahir.
(minimal dua identitas). Gelang identitas: Biru (laki-laki), Pink
(perempuan), gelang penanada: Merah (Alergi), Kuning (Risiko
Jatuh), Ungu (do not resusitate)
2) Identifikasi sebelum memberikan obat, darah/produk darah,
mengambil darah/spesimen lainya, pemberian pengobatan dan
tindakan/prosedur
3) Di RS tersedia kebijakan dan prosedur yang mengarahkan
pelaksanaan identifikasi pasien yang konsisten pada semua situasi dan
lokasi.
4) Pasien diidentifikasi menggunakan dua identitas pasien, tidak boleh
menggunakan nomor kamar atau lokasi pasien.
5) Pasien diidentifikasi sebelum mengambil darah spesimen lain untuk
pemeriksaan klinis
6) Pasien rawat inap memakai gelang untuk identifikasi pasien dengan
mencamtumkan nama lengkap, no RM dan tanggal lahir
7) Cara identifikasi pasien
a) Secara verbal : tanyakan nama pasien
b) Secara visual : lihat gelang pasien dua dari tiga identitas, cocokan
dengan perintah dokter.
34

c) Pertemuan berikutnya secara visual kegelang pasien dua dari tiga


identitas
8) SPO saat pemasangan gelang oleh petugas
a) Jelaskan manfaat gelang pasien
b) Jelaskan bahaya untuk pasien yang menolak, melepas, menutupi
gelang dll
c) Minta pasien untuk mengingatkan petugas bila akan melakukan
tindakan atau memberi obat memberikan pengobatan tidak
mengkonfirmasi nama dan mengecek gelang
b. Sasaran II : peningkatan komunikasi efektif
1) Di RS tersedia
kebijakan dan prosedur mengarahkan pelaksanaan verfikasi
keakuratan komunikasi lisan atau melalui telepon secara konsisten di
RS tersedia SPO komunikasi efektif menggunakan format SBAR
2) Tersedia bukti
bahwa perintah lengkap secara secara lisan dan yang melalui telepon
atau hasil pemeriksaan ditulis secara lengkap oleh penerima perintah
3) Tersedia mekanisme
atau prosedur bukti bahwa perintah lengkap lisan dan telepon atau
hasil pemeriksaan ditulis dan dibacakan kembali secara lengkap oleh
penerima perintah
4) Komunikasi
pemberian informasi dan edukasi yang efektif
5) Komunikasi
lisan/tulisan via telpon
a) Tulis lengkap (isi perintah, nama lengkap dan tanda tangan
pemberi perintah, nama lengkap dan tanda tangan penerima
perintah, tanggal dan jam)
b) Baca ulangan – eja untuk NORUM ( nama obat rupa ucapan
mirip/LASA
c) Konfirmasi lisan dengan dua tanda
35

c. Sassaran III : peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai (hight


alert) obat hight alert
1) Obat yang presentasinya tinggi dalam meyebabkan terjadinya
kesalahan/eror dan/ atau kejadian sentinel (sentinel event)
2) Obat yang berisiko tinggi menyebabkan dampak yang tidak
diinginkan (adverse outcome)
3) Obat-obat yang (nama obat, rupa dan ucapan mirip/NORUM, atau
Look-Alike Sound-Alike/LASA
d. Sasaran IV : kepastian tepat lokasi, tepat prosedur, tepat pasien operasi
1) Rumah sakit menggunakan suatu tanda yang jelas dan dapat
dimengerti untuk identifikasi lokasi operasi dan melibatkan pasien di
dalam proses penandaan, serta diberi tanda oleh dokter, yang mau
melakukan operasi.
2) Pelayanan bedah untuk memastikan tepat lokasi, tepat prosedur, dan
tepat pasien, termasuk prosedur medis dan tindakan pengobatan gigi,
serta penandaan lokasi operasi
3) Rumah sakit menggunakan surgical patient safety checklis untuk
memverifikasi saat preoperasi : tepat lokasi, tepat prosedur, dan tepat
pasien dan semua dokumen serta peralatan yang diperlukan tersedia,
tepat dan fungsional.
4) Dokumen : surgical safety check list dilaksanakan dicatat direkam
medik pasien operasi
5) Penyebab salah lokasi, salah prosedur, salah pasien operasi
a) Komunikasi yang tidak efektif / tidak adekuat antara anggota tim
bedah kurang / tidak melibatkan pasien didalam penandaan lokasi
(site marking)
b) Tidak ada prosedur untuk verifikasi lokasi operasi
c) Asessment pasien yang tidak adekuat
d) Budaya yang tidak mendunkung komunikasi terbuka antara
anggota tim bedah
e) Tulisan perintah / resep yang tidak terbaca
f) Pemakaian singkatan
36

e. Sasaran V : pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan


1) Rumah sakit mengadopsi atau mengadaptasi pedoaman hand hygine
terbaru ( 6 langka) yang diterbitkan dan sudah diterima secara umum
(WHO patien safety)
2) Di RS tersedia kebijakan dan / atau prosedur dikembangkan untuk
mengarahkan secara berkelanjutan risiko infeksi yang terkait
pelayanan kesehatan
3) Di RS tersedia fasilitas cuci tangan yang memadai
4) Tersedia bukti pelakasanan secara konsisten kepatuhan cuci tangan 5
moment
5) Cuci tangan (tepung selaci puput)
6) Penggunaan jembatan keledai enam lengkah area dalam hand-
wash/rub
a) Telapak tangan
b) Punggung tangan
c) Sela-sela jari
d) Punggung jari (gerakan kunci)
e) Sekeliling ibu jari (putar-putar)
f) Kuku dan ujung jari (putar-putar)
7) Lima momen cuci tangan
a) Sebelum kontak pasien
b) Sebelum tindakan invasif dan asepsis
c) Setelah kontak dengan cairan tubuh
d) Setelah kontak dengan pasien
e) Setelah kontak lingkungan pasien
f. Sasaran VI : pengurangan risiko pasien jatuh
1) Pemasangan gelang risiko jatuh (gelang warna kuning)
2) Di RS tersedia kebijakan dan atau prosedur yang dikembangkan utnuk
mengarahkan untuk mengurangi pengurangan risiko berkelanjutan ;
pasien cidera akibat jatuh
37

3) Rumah sakit menerapkan proses asessmen awal risiko pasien jatuh


dan melakukan asesmen ulang bila diindikasikan terjadi perubahan
kondisi atau pengobatan dan lain-lain
4) Tersedia bukti bahwa langkah-langkah ditetapkan untuk mengurangi
risiko pasien cidera akibat jatuh bagi pasien ang hasil asesmen
dianggap berisko jatuh( diebrikan penandaan pada pasien yang
dianggap berisiko jatuh.
2. Tabel instrumen observasi pelaksanaan pasien safety berdasarkan SKP
di RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga
No Instrumen penilaian Ya Tidak
Cara mengidentifikasi pasien di rumah sakit
berdasarkan SKP di RSUD dr. R. Goeteng
Taroenadibrata Purbalingga
a. Pasien diidentifikasi menggunakan dua identitas 3 3
pasien, tidak boleh menggunakan nomor kamar atau
lokasi pasien.
b. Pasien diidentifikasi sebelum pemberian obat, darah, dan 6 0
produk darah
c. Pasien diidentifikasi sebelum pengambilan darah dan 6 0
spesimen lain untuk pemeriksaan
d. Pasien diidentifikasi sebelum pemberian pengobatan dan 6 0
tindakan/prosedur
e. Kebijakan dan prosedur mengarahkan pelaksanaan 5 1
identifikasi yang konsisten pada semua situasi dan lokasi
Jumlah 86,6%
Peningkatan komunikasi yang efektif berdasarkan SKP
di RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga
a. Perintah lengkap secara lisan dan yang melalui telepon 4 2
atau hasil pemeriksaan dituliskan secara lengkap oleh
penerima perintah
b. Perintah lengkap secara lisan dan telepon atau hasil 4 2
pemeriksaan dibacakan kembali secara lengkap oleh
penerima perintah
c. Perintah atau hasil pemeriksaan dikonfirmasi oleh 3 3
pemberi perintah atau yang menyampaikan hasil
pemeriksaan.
d. Kebijakan dan prosedur mengarahkan pelaksanaan 4 2
verifikasi keakuratan komunikasi lisan atau melalui
telepon secara konsisten.
62,5%
Peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai
berdasarkan SKP di RSUD dr. R. Goeteng
Taroenadibrata Purbalingga
a. Kebijakan dan atau prsedur dikembangkan agar memuat 4 2
proses idenifikasi, menetapkan lokasi, pemberian label,
38

dan penyimpanan elektrolit konsentrat


b. Implementasi kebijakan dan prosedur 4 2
c. Elektrolit konsentrat tidak berada di unit pelayanan 6 0
pasien kecuali jika dibutuhkan secara klinis dan tindakan
diambil untuk mencegah pemberian yang kurang hati-
hati diarea tersebut sesuai kebijakan
d. Elektrolit konsentrat yang disimpan pada unit pelayanan 6 0
pasien harus diberi label yang jelas dan disimpan pada
area yang dibatasi ketat (restricted)
Jumlah 83,3%
Pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan
berdasarkan SKP di RSUD dr. R. Goeteng
Taroenadibrata Purbalingga
a. Rumah sakit mengadopsi atau mengadaptasi pedoman 6 0
hand hygine terbaru yang di terbitkan dan sudah
diterima secara umum (L. dari WHO pasien safety)
b. Perawat/bidan melakukan program hand higyne yang 0 6
efektif
c. Kebijakana dan atau prosedur dikembangkan untuk 6 0
mengarahkan pengurangan secara berkelanjutan risiko
dari infeksi yang terkait pelayanan kesehatan
Jumlah 66,6%
Pengurangan risiko pasien jatuh berdasarkan SKP di
RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga
a. Rumah sakit menerapkan proses asesmen awal atas 4 2
pasien terhadap risiko jatuh
b. Langkah-langkah diterapkan untuk mengurangi risiko 3 3
jatuh bagi mereka
c. Melakukan reassesment pasien terhadap risiko jatuh 0 6
d. Melakukan tindakan pencegahan pasien jatuh sesuai 2 4
scoring yang sudah ditentukan
Jumlah 37,5%

Berdasarkan hasil observasi pelaksanaan pasien safety sesuai dengan SKP


yang berlaku di RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga menunjukkan
bahwa kemampuan perawat/bidan dalam mengidentifikasi pasien yaitu 86,6%,
peningkatan komunikasi efektif 62,5%, keamanan obat yang perlu diwaspadai
83,3%, pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan 66,6%, serta
pengurangan risiko pasien jatuh 37,5%. Hasil tersebut menunjukkan presentase
tertinggi yaitu identifikasi pasien (86,6%). Hal ini dibuktikan dengan pasien sudah
diidentifikasi dengan dua identitas yaitu nama dan tanggal lahir. Selain itu,
identifikasi pasien juga diterapkan ketika pemberian obat, produk darah,
pengmabilan specimen, dan ketika melakukan prosedur atau tindakan tertentu.
39

Namun, identifikasi pasien perlu ditingkatkan pada saat serah terima bayi, sebelum
memandikan bayi dan setelah memandikan bayi untuk mencegah terjadinya
penculikan bayi, serta mencegah terjadinya bayi yang tertukar. Sedangkan, hasil
presentase terendah yaitu pengurangan risiko jatuh (45,83%). Hal tersebut dibuktikan
dengan tidak diterapkannya langkah-langkah pengurangan risiko jatuh daintaranya
yaitu tidak dijelaskan cara memasang bedside rail serta tidak menganjurkan keluarga
untuk menemai pasien ketika mobilisasi.
2. Proses managemen pelayanan keperawatan
A. Kajian Teori: Fungsi Manajerial POAC
Fungsi manajemen dapat dibagi menjadi empat bagian, yaitu planning
(perencanaan), organizing (pengorganisasian), actuating (pelaksanaan), dan
controlling (pengawasan) yang dikenal dengan fungsi manajerial POAC (Terry, 1958
dalam Sukarna, 2011).
a. Perencanaan
1) Pengertian Planning
Planning (perencanaan) adalah penetapan pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh
kelompok untuk mencapai tujuan yang digariskan. Planning mencakup kegiatan
pengambilan keputusan, karena termasuk dalam pemilihan alternatif-alternatif
keputusan. Diperlukan kemampuan untuk mengadakan visualisasi dan melihat ke
depan guna merumuskan suatu pola dari himpunan tindakan untuk masa
mendatang.
2) Proses Perencanaan
Proses perencanaan berisi langkah-langkah:
a) Menentukan tujuan perencanaan;
b) Menentukan tindakan untuk mencapai tujuan;
c) Mengembangkan dasar pemikiran kondisi mendatang;
d) Mengidentifikasi cara untuk mencapai tujuan; dan
e) Mengimplementasikan rencana tindakan dan mengevaluasi hasilnya.
3) Elemen Perencanaan
Perencanaan terdiri atas dua elemen penting, yaitu sasaran (goals) dan rencana
(plan).
40

a) Sasaran yaitu hal yang ingin dicapai oleh individu, kelompok, atau seluruh
organisasi. Sasaran sering pula disebut tujuan. Sasaran memandu manajemen
membuat keputusan dan membuat kriteria untuk mengukur suatu pekerjaan.
b) Rencana adalah dokumen yang digunakan sebagai skema untuk mencapai
tujuan. Rencana biasanya mencakup alokasi sumber daya, jadwal, dan
tindakan-tindakan penting lainnya. Rencana dibagi berdasarkan cakupan,
jangka waktu, kekhususan, dan frekuensi penggunaanya.
4) Unsur-unsur Perencanaan
Suatu perencanaan yang baik harus menjawab enam pertanyaan yang tercakup
dalam unsur-unsur perencanaan yaitu:
a) Tindakan apa yang harus dikerjakan, yaitu mengidentifikasi segala sesuatu
yang akan dilakukan;
b) Apa sebabnya tindakan tersebut harus dilakukan, yaitu merumuskan faktor-
faktor penyebab dalam melakukan tindakan;
c) Tindakan tersebut dilakukan, yaitu menentukan tempat atau lokasi;
d) Kapan tindakan tersebut dilakukan, yaitu menentukan waktu pelaksanaan
tindakan;
e) Siapa yang akan melakukan tindakan tersebut, yaitu menentukan pelaku yang
akan melakukan tindakan; dan
f) Bagaimana cara melaksanakan tindakan tersebut, yaitu menentukan metode
pelaksanaan tindakan.
5) Klasifikasi Perencanaan
Rencana-rencana dapat diklasifikasikan menjadi:
a) Rencana pengembangan. Rencana-rencana tersebut menunjukkan arah (secara
grafis) tujuan dari lembaga atau perusahaan;
b) Rencana laba. Jenis rencana ini biasanya difokuskan kepada laba per produk
atau sekelompok produk yang diarahkan oleh manajer. Maka seluruh rencana
berusaha menekan pengeluaran supaya dapat mencapai laba secara maksimal;
c) Rencana pemakai. Rencana tersebut dapat menjawab pertanyaan sekitar cara
memasarkan suatu produk tertentu atau memasuki pasaran dengan cara yang
lebih baik; dan
41

d) Rencana anggota-anggota manajemen. Rencana yang dirumuskan untuk


menarik, mengembangkan, dan mempertahankan anggota-anggota manajemen
menjadi lebih unggul.
6) Tipe-tipe Perencanaan
Tipe-tipe perencanaan terinci sebagai berikut:
a) Perencanaan jangka panjang (Short Range Plans), jangka waktu 5 tahun atau
lebih;
b) Perencanaan jangka pendek (Long Range Plans), jangka waktu 1 s/d 2 tahun;
c) Perencanaan strategi, yaitu kebutuhan jangka panjang dan menentukan
komprehensif yang telah diarahkan;
d) Perencanaan operasional, kebutuhan apa saja yang harus dilakukan untuk
mengimplementasikan perencanaan strategi untuk mencapai tujuan strategi
tersebut;
e) Perencanaan tetap, digunakan untuk kegiatan yang terjadi berulang kali (terus-
menerus); dan
f) Perencanaan sekali pakai, digunakan hanya sekali untuk situasi yang unik.
7) Dasar-dasar Perencanaan yang Baik
Dasar-dasar perencanaan yang baik meliputi:
a) Forecasting, proses pembuatan asumsi-asumsi tentang apa yang akan terjadi
pada masa yang akan datang;
b) Penggunaan skenario, meliputi penentuan beberapa alternatif skenario masa
yang akan datang atau peristiwa yang mungkin terjadi;
c) Benchmarking, perbandingan eksternal untuk mengevaluasi secara lebih baik
suatu arus kinerja dan menentukan kemungkinan tindakan yang dilakukan
untuk masa yang akan datang;
d) Partisipan dan keterlibatan, perencanaan semua orang yang mungkin akan
mempengaruhi hasil dari perencanaan dan atau akan membantu
mengimplementasikan perencanaanperencanaan tersebut; dan
e) Penggunaan staf perencana, bertanggung jawab dalam mengarahkan dan
mengkoordinasi sistem perencanaan untuk organisasi secara keseluruhan atau
untuk salah satu komponen perencanaan yang utama.
8) Tujuan Perencanaan
42

a) Untuk memberikan pengarahan baik untuk manajer maupun karyawan non-


manajerial;
b) Untuk mengurangi ketidakpastian;
c) Untuk meminimalisasi pemborosan; dan
d) Untuk menetapkan tujuan dan standar yang digunakan dalam fungsi
selanjutnya.
9) Sifat Rencana yang Baik
Rencana dikatakan baik jika memiliki sifat sifat-sifat sebagai berikut:
a) Pemakaian kata-kata yang sederhana dan jelas;
b) Fleksibel, suatu rencana harus dapat menyesuaikan dengan keadaan yang
sebenarnya;
c) Stabilitas, setiap rencana tidak setiap kali mengalami perubahan, sehingga
harus dijaga stabilitasnya;
d) Ada dalam pertimbangan; dan
e) Meliputi seluruh tindakan yang dibutuhkan, meliputi fungsi-fungsi yang ada
dalam organisasi.
a. Organizing (Pengorganisasian)
1) Pengertian Pengorganisasian
Organizing berasal dari kata organon dalam bahasa Yunani yang berarti alat,
yaitu proses pengelompokan kegiatan-kegiatan untuk mencapai tujuan-tujuan
dan penugasan setiap kelompok kepada seorang manajer (Terry, 1958 dalam
Sukarna, 2011).
Pengorganisasian dilakukan untuk menghimpun dan mengatur semua sumber-
sumber yang diperlukan, termasuk manusia, sehingga pekerjaan yang
dikehendaki dapat dilaksanakan dengan berhasil.
2) Ciri-ciri Organisasi
Ciri-ciri organisasi adalah sebagai berikut:
a) Mempunyai tujuan dan sasaran;
b) Mempunyai keterikatan format dan tata tertib yang harus ditaati;
c) Adanya kerjasama dari sekelompok orang; dan
d) Mempunyai koordinasi tugas dan wewenang.
3) Komponen-komponen Organisasi
43

Ada empat komponen dari organisasi yang dapat diingat dengan kata “WERE”
(Work, Employees, Relationship dan Environment).
a) Work (pekerjaan) adalah fungsi yang harus dilaksanakan berasal dari sasaran-
sasaran yang telah ditetapkan.
b) Employees (pegawai-pegawai) adalah setiap orang yang ditugaskan untuk
melaksanakan bagian tertentu dari seluruh pekerjaan.
c) Relationship (hubungan) merupakan hal penting di dalam organisasi.
Hubungan antara pegawai dengan pekerjaannya interaksi antara satu pegawai
dengan pegawai lainnya dan unit kerja lainnya dan unit kerja pegawai dengan
unit kerja lainnya merupakan hal-hal yang peka.
d) Environment (lingkungan) adalah komponen terakhir yang mencakup sarana
fisik dan sasaran umum di dalam lingkungan dimana para pegawai
melaksanakan tugas-tugas mereka, lokasi, mesin, alat tulis kantor, dan sikap
mental yang merupakan faktor-faktor yang membentuk lingkungan.
4) Tujuan organisasi
Tujuan organisasi merupakan pernyataan tentang keadaan atau situasi yang
tidak terdapat sekarang, tetapi dimaksudkan untuk dicapai pada waktu yang
akan dating melalui kegiatan-kegiatan organisasi
5) Prinsip-prinsip organisasi
Williams (1965: 85) mengemukakan pendapat bahwa prinsip-prinsip organisasi
meliputi: Prinsip bahwa organisasi harus mempunyai tujuan yang jelas; Prinsip
skala hirarki; Prinsip kesatuan perintah; Prinsip pendelegasian wewenang;
Prinsip pertanggungjawaban; Prinsip pembagian pekerjaan; Prinsip rentang
pengendalian; Prinsip fungsional; Prinsip pemisahan; Prinsip keseimbangan;
Prinsip fleksibilitas; dan Prinsip kepemimpinan.
6) Manfaat pengorganisasian
Pengorganisasian bermanfaat sebagai berikut; Dapat lebih mempertegas
hubungan antara anggota satu dengan yang lain; Setiap anggota dapat
mengetahui kepada siapa ia harus bertanggung jawab; Setiap anggota
organisasi dapat mengetahui apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab
masing-masing sesuai dengan posisinya dalam struktur organisasi; Dapat
dilaksanakan pendelegasian wewenang dalam organisasi secara tegas, sehingga
44

setiap anggota mempunyai kesempatan yang sama untuk berkembang; dan


Akan tercipta pola hubungan yang baik antar anggota organisasi, sehingga
memungkinkan tercapainya tujuan dengan mudah.
b. Actuating (Pelaksanaan)
Pelaksanaan merupakan usaha menggerakkan anggota-anggota kelompok
sedemikian rupa, hingga mereka berkeinginan dan berusaha untuk mencapai
tujuan yang telah direncanakan bersama (Terry, 1958).
c. Controlling (Pengawasan)
1) Pengertian Controlling
Controlling atau pengawasan adalah penemuan dan penerapan cara dan alat utk
menjamin bahwa rencana telah dilaksanakan sesuai dengan rencana yang telah
ditetapkan.
2) Tahap-tahap Pengawasan
Tahap-tahap pengawasan terdiri atas: Penentuan standar; Penentuan
pengukuran pelaksanaan kegiatan; Pengukuran pelaksanaan kegiatan;
Pembanding pelaksanaan dengan standar dan analisa penyimpangan; dan
Pengambilan tindakan koreksi bila diperlukan.
3) Tipe-tipe Pengawasan
Feed forward Control dirancang untuk mengantisipasi masalah-masalah dan
penyimpangan dari standar tujuan dan memungkinkan koreksi sebelum suatu
kegiatan tertentu diselesaikan; Concurrent Control merupakan proses dalam
aspek tertentu dari suatu prosedur harus disetujui dulu sebelum suatu kegiatan
dilanjutkan atau untuk menjamin ketepatan pelaksanaan suatu kegiatan.;
Feedback Control mengukur hasil-hasil dari suatu kegiatan yang telah
dilaksanakan.
B. Hasil Observasi
1. MPKP (Model Praktik
Keperawatan Profesional)
Hasil peniaian dan evaluasi tentang tugas karu, katim, dan perawat/bidan
pelaksana di Ruang Bougenvil selama 28 Februari-2 Maret 2017 adalah
sebagai berikut :
a. Hasil Penilaian dan Evaluasi Pelaksanaan Tugas Kepala Ruang Bougenvil
45

KUISIONER  UNTUK KEPALA RUANGAN


I. Perencanaan
NO PERTANYAAN PILIHAN
Ya Tidak
1 Apakah dalam pembuatan jadwal dinas saudara √
melibatkan staf saudara?
2 Apakah dalam membuat jadwal dinas saudara √
mempertimbangkan hal :
 Hari Raya
 Hari Libur
 Cuti
 Hamil/ melahirkan 
3 Apakah sadara menyampaikan jadwal dinas kepada staf
saudara sebelum disampaikan ke supervisior √
keperawatan?
4 Apakah saudara merencanakan pengendalian tenaga
keperawatan melalui penilaian Komite Kerja dalam √
bentuk supervisi secara langsung atau tidak langsung?
5 Apakah saudara merencanakan rotasi atau mutasi dan cuti √
tahunan staf saudara?
6 Apakah saudara merencanakan pertemuan ruangan secara √
periodik dalam bentuk :
-       Harian melalui pre dan post conference dan ronde
keperawatan
-       Bulanan melalui pertemuan kepala ruangan dan staf
-       Presentasi kasus tiap klien
7 Apakah diruangan saudara terdapat Standart Operasional √
Prosedur (SOP) ?
8 Apakah di ruangan saudara terdapat Standart Asuhan √
Keperawatan/Kebidanan (SAK) ?
9 Jika ada, apakah saudara terlibat dalam pembuatan (SOP) √
dan (SAK) tersebut diatas ?
10 Apakah SOP dan SAK tersebut disahkan oleh Divisi √
11 Keperawatan ?
12 Apakah SOP dan SAK tersebut dalam bentuk tertulis? √
Apakah SOP tersebut saudara tempel didinding ? √
13 Apakah SOP tersebut diketahui oleh semua staff √
perawatan di ruangan ?
Apakah SAK tersebut dalam bentuk baku  ? √
14 Jika ya, apakah SAK tersebut saudara berikan pada √
perawat/bidan /staf saudara untuk dibaca ?
15 Apakah saudara membuat rencana untuk memonitor
pelaksanaan SOP dan SAK ?
16 Apakah saudara merencanakan pengawasan dan √
pengendalian asuhan keperawatan berdasarkan SOP
melalui :
-       Supervisi Askep secara langsung atau tidak langsung
-       Pre & post conference √
-       Ronde keperawatan
-       Operan alat
17 Apakah saudara membuat askep sesuai dengan SOP jika √
46

Ketua Tim tidak ada?

II. Pengorganisasian
NO PERTANYAAN PILIHAN
Ya Tidak
1 Apakah saudara pernah mendelegasikan tugas kepada √
staff saudara?
2 Jika Ya, apakah tugas tersebut disertai surat tugas √
kepada  staff yang mendapat tugas tersebut?
3 Apakah saudara mengevaluasi tugas yang telah √
didelegasikan?
4 Adakah kriteria untuk menentukan staff yang tepat untuk √
mendapat tugas delegasi tersebut? √
5 Apakah saudara menerima laporan dari staff mengenai √
tugas yang didelegasikan?
6 Apakah saudara memberikan penghargaan kepada staf
yang telah menyelesaikan tugas yang didelegasikan? √
7 Apakah saudara melakukan orientasi kepada
perawat/bidan baru di ruangan saudara? √
8 Apakah saudara melakukan bimbingan pada
perawat/bidan baru di ruangan saudara?
9 Jika Ya , bimbingan tersebut dilakukan dalam :
-       setiap hari √
-       1 x seminggu
-       2 x seminggu
10 -       3 x seminggu
Apakah saudara menyusun kegiatan berdasarkan √
manajemen waktu?

III. Pengarahan
NO PERTANYAAN PILIHAN
Ya Tidak
1 Masalah – masalah apa yang sering ditemukan di ruangan
saudara :
      Masalah Askep
      Masalah hubungan kerja dengan perawat
      Masalah perawat dengan keluarga pasien √
      Masalah perawat dengan tim kesehatan lain
√      Masalah-masalah lain: kelengkapan administrasi RS
2 Jika ya apakah masalah – masalah tersebut segera saudara √
bicarakan   dengan staff saudara ?
3 Apakah saudara memberikan bimbingan atas penyelesaian √
masalah yang terjadi ?
4 Apakah saudara mengevaluasi masalah yg telah teratasi ? √
5 Apakah saudara memberikan penghargaan kepada staf yang √
telah menyelesaikan tugas yang didelegasikan?
6 Apakah saudara memberikan teguran/sanksi kepada staff √
yang melakukan kesalahan?
47

7 Apakah saudara memberikan pengawasan khusus kepada √


staf yang tidak disiplin?
8 Apakah saudara mengikuti pertemuan yag diselenggarakan
Komite Keperawatan maupun Divisi Keperawatan dan Unit √
kerja terkait?
IV. Pengawasan & Pengendalian
NO PERTANYAAN PILIHAN
Ya Tidak
1 Apakah saudara melakukan supervisi terhadap staf √
keperawatan/kebidanan sesuai dengan perencanaan yang
telah dibuat?
2 Apakah saudara melakukan pengawasan terhadap √
pendokumentasian Asuhan Keperawatan?
3 Apakah saudara melakukan penilaian dalam pelaksanaan √
tugas perawat/bidan di ruangan berdasarkan SOP?
Apakah saudara melakukan pengawasan terhadap SAK √
4 pada saat pergantian dinas?
Apakah saudara melakukan pelaporan tentang pelayanan √
5 keperawatan secara periodik?
Jika Ya, apakah disampaikan oleh supervisior √
keperawatan?

Perhitungan kuisoner diatas didapatkan data bahwa :


Perencanaan : 12/16 x 100% = 75 %
Pengorganisasian : 8/10 x 100% = 80%
Pengarahan : 7/8 x 100% = 87,5%
Pengawasan dan pengendalian : 5/6 x100% =83,3%
Rata-rata penilaian untuk kepala ruang : 81,4 %
Analisa
Berdasarkan tabel kuesioner di atas, nilai rata-rata penilaian dari proses
manajemen kepala ruang Bougenvil sudah baik, yakni 81,4 % (Baik). Akan tetapi
terdapat kegiatan yang tidak dilakukan namun kegiatan tersebut merupakan hal yang
penting seperti rencana memonitor pelaksanaan SOP dan SAK, pemberian
penghargaan kepada staf yang telah menyelesaiakan tugas yang didelegasikan.
Kegiatan rencana memonitor pelaksanaan SOP dan SAK merupakan kegiatan yang
penting untuk meningkatkan kinerja professional dalam tindakan perawatan
diruangan kepada pasien. Sedangkan pemberian penghargaan kepada staf yang telah
menyelesaiakan tugas yang didelegasikan dapat memacu kinerja dan memotivasi
staff dalam meningkatkan keprofesionalan.
48

Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala Ruang Bougenvil didapatkan


hasil bahwa tipe kepemimpinan yang diterapkan adalah demokratis. Tipe
kepemimpinan ini memberikan kesempatan kepada staf untuk dapat
mengembangkan potensi diri yang dimiliki dan memberikan hak kepada staf untuk
berpendapat. Adapun fungsi manajemen yang digunakan di ruang bougenvil
sebenarnya mengacu pada POAC, namun pelaksanaan pengorganisasian belum
sesuai dengan teori yang ada. Di ruang Bougenvil terdiri dari satu kepala ruang, dua
ketua tim, empat orang penanggungjawab shift, dan delapan orang bidan pelaksana.
Secara struktural pengorganisasian telah dibentuk, namun dalam pelaksanaannya
setiap jabatan tersebut belum melakukan tugasnya secara optimal sesuai dengan
tugas dan fungsi yang berlaku. Selain itu, tidak ada pendelegasian secara jelas yang
dilakukan oleh kepala ruang kepada ketua tim maupun dari ketua tim kepada bidan
pelaksana.
b. Penilaian Pelaksanaan Tugas Katim I Ruang Bougenvil sebesar
KUISIONER UNTUK KETUA TIM (PP)
I. Perencanaan
NO PERTANYAAN PILIHAN
Ya Tidak
1 Apakah saudara menyusun pengkajian keperawatan pada √
setiap pasien baru ?
2 Apakah saudara menyusun Diagnosa √
Keperawatan berdasarkan analisa masalah pada setiap
pasien baru?
3 Apakah saudara membuat prioritas masalah sesuai SAK? √
4 Apakah saudara membuar Rencana Keperawatan sesuai √
kebutuhan pasien?
5 Apakah saudara merencanakan pre dan post confrens ? √
6 Apakah saudara merencanakan melaksanakan ronde √
keperawatan ?
7 Apakah saudara merencanakan operan di ruangan? √
8 Apakah saudara merencanakan kesinambungan perawatan √
bila tidak ada di ruangan?
II. Pengorganisasian
NO PERTANYAAN PILIHAN
Ya Tidak
1 Apakah saudara melakukan pengkajian terhadap klien baru √
atau melengkapi pengkajian yang sudah dilakukan PA
pada sore, malam atau hari libur?
2 Apakah saudara menetapkan rencana asuhan keperawatan √
berdasarkan analisis standar renpra sesuai dengan hasil
pengkajian?
49

3 Apakah saudara menjelaskan renpra yang sudah ditetapkan √


pada PA dibawah tanggung jawabnya sesuai klien yang
dirawat (pre comprence) ?
4 Apakah saudara membina hubungan terapeutik kepada √
pasien baru dan pasien lama?
5 Apakah saudara melaksanakan orientasi kepada √
perawat/bgidan asosiet?
6 Apakah saudara melakukan bimbingan dan evaluasi √
(mengecek ) perawat/bidan asosiate dalam melakukan
tindakan keperawatan seseuai SOP ?
7 Apakah saudara melakukan kegiatan serah terima klien √
dibawah tanggung jawabnya PA ?
8 Apakah saudara mendampingi dokter visite klien ? √
9 Apakah saudara mengatur dan mengkoordinasikan seluruh √
kegiatan pelayanan di ruangan?
10 Apakah saudara melakukan koordinasi dengan tim √
kesehatan lain dalam pelaksanaan tugas?
11 Apakah saudara membantu dan memfasilitasi √
terlaksananya kegiatan PA ?
12 Apakah saudara mengatur pelaksanaan konsul dan √
pemeriksaan laboratorium ?
13 Apakah saudara menetapkan PA yang bertanggung jawab √
pada setiap klien setiap kali giliran jaga (shift) ?
III. Pengarahan
NO PERTANYAAN PILIHAN
Ya Tidak
1 Apakah saudara memberikan pengarahan / bimbingan dan √
umpan balik tentang pelaksanaan tugas?
2 Apakah saudara memberikan penghargaan kepada anggota √
tim yang telah menyelesaikan tugas?
3 Apakah saudara memberikan teguran  kepada anggota tim √
yang melakukan kesalahan?
4 Jika ya, apakah teguran tersebut secara langsung ? √
5 Apakah saudara memberikan  pengawasan khusus kepada √
anggota tim yang kurang disiplin?
6 Apakah Karu pernah mendelegasikan tugas √
kepada  saudara?
7 Jika Ya, apakah pendelegasian tugas tersebut disertai surat √
tugas?
8 Apakah Karu mengevaluasi tugas yang telah √
didelegasikan?
9 Adakah kriteria untuk menentukan orang yang tepat untuk √
mendapat tugas delegasi tersebut?
10 Apakah Karu menerima laporan dari saudara mengenai √
tugas yang didelegasikan?
11 Apakah Karu memberikan penghargaan kepada saudara √
yang telah menyelesaikan tugas yang didelegasikan?
12 Apakah saudara melakukan penyuluhan kesehatan kepada √
pasien yang menjadi tanggung jawab saudara?
13 Apakah saudara menghadiri pertemuan rutin ruangan? √
14 Apakah saudara memonitor dokumentasi yang dilakukan √
oleh PA ?
50

IV. Pengawasan & Pengendalian


NO PERTANYAAN PILIHAN
Ya Tidak
1 Apakah saudara mengawasi dan meneliti pemberian obat- √
obatan pada setiap pasien yang merupakan tanggung jawab
saudara?
2 Apakah saudara mengawasi dan meneliti pemberian √
makanan pada setiap pasien yang merupakan tanggung
jawab saudara?
3 Apakah saudara mengawasi dan meneliti dokumentasi √
Askep dalam hal kelengkapan?
4 Apakah saudara melakukan evaluasi tindakan Askep sesuai √
dengan SAK?
5 Apakah saudara mengawasi pelaksanaan praktek √
keperawatan yang dilakukan oleh peserta didik di ruanga
saudara?
6 Apakah saudara melakukan supervisi dan bimbingan √
pelaksanaan teknis pelayanan keperawatan?
7 Apakah saudara membuat perencanaan pulang ? √

c. Penilaian Pelaksanaan Tugas Katim II Ruang Bougenvil sebesar


KUISIONER UNTUK KETUA TIM (PP)
I. Perencanaan
NO PERTANYAAN PILIHAN
Ya Tidak
1 Apakah saudara menyusun pengkajian keperawatan pada √
setiap pasien baru ?
2 Apakah saudara menyusun Diagnosa √
Keperawatan berdasarkan analisa masalah pada setiap
pasien baru?
3 Apakah saudara membuat prioritas masalah sesuai SAK? √
4 Apakah saudara membuar Rencana Keperawatan sesuai √
kebutuhan pasien?
5 Apakah saudara merencanakan pre dan post confrens ? √
6 Apakah saudara merencanakan melaksanakan ronde √
keperawatan ?
7 Apakah saudara merencanakan operan di ruangan? √
8 Apakah saudara merencanakan kesinambungan perawatan √
bila tidak ada di ruangan?
II. Pengorganisasian
NO PERTANYAAN PILIHAN
Ya Tidak
1 Apakah saudara melakukan pengkajian terhadap klien baru √
atau melengkapi pengkajian yang sudah dilakukan PA
pada sore, malam atau hari libur?
51

2 Apakah saudara menetapkan rencana asuhan keperawatan √


berdasarkan analisis standar renpra sesuai dengan hasil
pengkajian?
3 Apakah saudara menjelaskan renpra yang sudah ditetapkan √
pada PA dibawah tanggung jawabnya sesuai klien yang
dirawat (pre comprence) ?
4 Apakah saudara membina hubungan terapeutik kepada √
pasien baru dan pasien lama?
5 Apakah saudara melaksanakan orientasi kepada √
perawat/bidan asosiet?
6 Apakah saudara melakukan bimbingan dan evaluasi √
(mengecek ) perawat/bidan asosiate dalam melakukan
tindakan keperawatan seseuai SOP ?
7 Apakah saudara melakukan kegiatan serah terima klien √
dibawah tanggung jawabnya PA ?
8 Apakah saudara mendampingi dokter visite klien ? √
9 Apakah saudara mengatur dan mengkoordinasikan seluruh √
kegiatan pelayanan di ruangan?
10 Apakah saudara melakukan koordinasi dengan tim √
kesehatan lain dalam pelaksanaan tugas?
11 Apakah saudara membantu dan memfasilitasi √
terlaksananya kegiatan PA ?
12 Apakah saudara mengatur pelaksanaan konsul dan √
pemeriksaan laboratorium ?
13 Apakah saudara menetapkan PA yang bertanggung jawab √
pada setiap klien setiap kali giliran jaga (shift) ?
III. Pengarahan
NO PERTANYAAN PILIHAN
Ya Tidak
1 Apakah saudara memberikan pengarahan / bimbingan dan √
umpan balik tentang pelaksanaan tugas?
2 Apakah saudara memberikan penghargaan kepada anggota √
tim yang telah menyelesaikan tugas?
3 Apakah saudara memberikan teguran  kepada anggota tim √
yang melakukan kesalahan?
4 Jika ya, apakah teguran tersebut secara langsung ? √
5 Apakah saudara memberikan  pengawasan khusus kepada √
anggota tim yang kurang disiplin?
6 Apakah Karu pernah mendelegasikan tugas √
kepada  saudara?
7 Jika Ya, apakah pendelegasian tugas tersebut disertai surat √
tugas?
8 Apakah Karu mengevaluasi tugas yang telah √
didelegasikan?
9 Adakah kriteria untuk menentukan orang yang tepat untuk √
mendapat tugas delegasi tersebut?
10 Apakah Karu menerima laporan dari saudara mengenai √
tugas yang didelegasikan?
11 Apakah Karu memberikan penghargaan kepada saudara √
yang telah menyelesaikan tugas yang didelegasikan?
12 Apakah saudara melakukan penyuluhan kesehatan kepada √
pasien yang menjadi tanggung jawab saudara?
52

13 Apakah saudara menghadiri pertemuan rutin ruangan? √


14 Apakah saudara memonitor dokumentasi yang dilakukan √
oleh PA ?

IV. Pengawasan & Pengendalian


NO PERTANYAAN PILIHAN
Ya Tidak
1 Apakah saudara mengawasi dan meneliti pemberian obat- √
obatan pada setiap pasien yang merupakan tanggung jawab
saudara?
2 Apakah saudara mengawasi dan meneliti pemberian √
makanan pada setiap pasien yang merupakan tanggung
jawab saudara?
3 Apakah saudara mengawasi dan meneliti dokumentasi √
Askep dalam hal kelengkapan?
4 Apakah saudara melakukan evaluasi tindakan Askep sesuai √
dengan SAK?
5 Apakah saudara mengawasi pelaksanaan praktek √
keperawatan yang dilakukan oleh peserta didik di ruanga
saudara?
6 Apakah saudara melakukan supervisi dan bimbingan √
pelaksanaan teknis pelayanan keperawatan?
7 Apakah saudara membuat perencanaan pulang ? √

d. Penilaian Pelaksanaan Tugas Perawat/Bidan Pelaksana Ruang Bougenvil sebesar


KUISIONER UNTUK PERAWAT/BIDAN PELAKSANA

I. Perencanaan
NO PERTANYAAN PILIHAN
Ya Tidak
1 Apakah saudara menyiapkan format dalam melakukan 3
pencatatan dan dokumentasi kegiatan pelayanan Asuhan
Keperawatan/Kebidanan?
2 Apakah saudara merencanakan ronde keperawatan ? 3
3 Apakah saudara merencanakan membuat laporan 3
pergantian dines dan setelah selesai diparaf ?
4 Apakahsaudara merencanakan membuat laporan sensus 3
harian ?

II. Pengorganisasian
NO PERTANYAAN PILIHAN
Ya Tidak
1 Apakah saudara membaca renpra yang telah ditetapkan 3
PP?
2 Apakah saudara melakukan tindakan keperawatan 3
kepada klien berdasarkan renpra ?
3 Apakah saudara melaksanakan ronde keperawatan ? 3
53

4 Apakah saudara melaksanakan operan alat ? 3


5 Apakah saudara melaksanakan operan pasien ? 3
6 Apakah saudara mengikuti visite dokter apabila PP tidak 3
ada ditempat ?
7 Apakah saudara menyiapkan klien un tuk pemeriksaan 3
diagnostic laboratorium, pengobatan dan tindakan ?
8 Apakah saudara memeriksa kerapian dan kelengkapan
status keperawatan ? 3
9 Apakah saudara melakukan membuat laporan pergantian 3
dines dan setelah selesai diparaf ?
10 Apakah saudara membantu tim lain yang 3
membutuhkan ?
11 Apakah saudara memberikan resep dan menerima obat 3
dari keluarga klien yang menjadi tanggung jawabnya dan
berkoordinasi dengan PP ?
12 Apakah hak-hak pasien tersebut dalam bentuk tertulis 3
dan ditempel di dinding ?
13 Apakah saudara mensosialisasikan kepada pasien 3
tentang perawatan yang akan diberikan ?
14 Apakah saudara membina hubungan terapeutik selama 3
klien dirawat?
15 Apakah tindakan keperawatan yang saudara lakukan 3
sudah sesuai dengan SAK ?
16 Apakah saudara melakukan pendokumentasian 3
keperawatan sampai dengan evaluasi?
17 Apakah saudara mengikuti operan pada saat pergantian 3
dinas?
18 Apakah saudara melaksanakan tugas sesuai dengan 3
jadwal shift yang ditetapkan bersama-sama dengan
Ketua Tim dan Kepala Ruangan ?
19 Apakah saudara melakukan perawatan pada pasien yang 3
sakaratul maut?
III. Pengarahan
NO PERTANYAAN PILIHAN
Ya Tidak
1 Apakah saudara memberikan penjelasan dengan kata-kata 3
dan komunikasi yang terapeutik dalam memberikan
pelayanan keperawatan?
2 Apakah saudara menghargai bimbingan dari Ketua Tim? 3
3 Apakah saudara berupaya meningkatkan kerja sama 3
dengan tim kesehatan lain agar tercipta keharmonisan?
4 Apakah saudara sering menghadiri pertemuan rutin 3
ruangan?
5 Apakah saudara mengkomunikasikan kepada PP bila 3
menemukan masalah yang perlu diselesaikan ? 
6 Apakah saudara berperan serta dalam memberikan 3
pendiudikan kesehatan pada klien/keluarga yang dilakukan
oleh PP ?  
 IV. Pengawasan & Pengendalian
NO PERTANYAAN PILIHAN
54

Ya Tidak
1 Apakah saudara melakukan evaluasi tindakan Asuhan 3
Keperawatan sesuai dengan perencanaan dan SAK?
2 Apakah saudara mendokumentasikan kemajuan klien pada 3
rekaman Askep?
3 Apakah saudara membuat laporan jaga, operan alat dan 3
operan Askep setiap pergantian shift?
4 Apakah saudara membuat laporan sensus harian pada jam 3
00.00?
Hasil penilaian dan evaluasi mengenai serah terima tugas jaga, meeting morning, pre
conference, dan post conference selama 28-2 Maret 2017 adalah sebagai berikut :
1) Evaluasi Pelaksanaan Serah Terima Tugas Jaga Di Ruang Bougenvil
OBSERVASI
No. VARIABEL YANG DINILAI
SL(3) SR(2) KD(1) TP(0)
1. Didahului do’a bersama √
Komunikasi antar pemberi tanggung
jawab dan penerima tanggung jawab
2. √
dilakukan didepan pintu dengan suara
perlahan/tidak ribut
Menyebutkan identitas pasien, dx
medis, dx keperawatan, tindakan
3. √
keperawatan yang telah dilakukan
beserta waktu pelaksanaan
Menginformasikan jenis, dan waktu
4. rencana tindakan keperawatan yang √
belum dilakukan
Menyebutkan perkembangan pasien
5. √
yang ada selama shift
Menginformasikan pendidikan
6. √
kesehatan yang telah dilakukan
Mengevaluasi hasil tindakan
7. √
keperawatan
Menyebutkan terapi dan tindakan
8. medis beserta waktunya yang √
dilakukan selama shift
Menyebutkan tindakan medis yang
9. √
belum dilakukan selama shift
Menginformasikan pada
10. pasien/keluarga nama perawat shift √
berikutnya pada akhir tugas
Memberi salam pada pasien, keluarga,
serta mengobservasi dan menginspeksi
11 √
keadaan pasien, menanyakan keluhan
pasien (dalam rangka klarifikasi)
Jumlah 5 6
Perhitungan = Total skor X 100%
n item x skor tertinggi
= 15 X 100% = 45,45%
33
55

2) Evaluasi Pelaksanaan Meeting morning Ruang Bougenvil


OBSERVASI
No Variabel yang dinilai
SL(3) SR(2) KD(1) TP (0)
1 Karu menyiapkan tempat untuk meeting √
morning
2. Karu memberikan arahan pada staf dengan √
materi yang telah disiapkan sebelumnya
3. Karu memberikan klarifikasi apa yang telah √
disampaikan pada staf
4. Memberikan kesempatan pada staf untuk √
mengungkapkan permasalahan yang muncul
di ruangan
5. Bersama staf mendiskusikan pemecahan √
masalah yang dapat ditempuh
6. Karu memberi motivasi dan reinforcement √
pada staf
JUMLAH 3 4 0
Perhitungan = Total skor X 100%
N item x skor tertinggi
= 7 X 100%
18
= 38,8 %
3) Evaluasi Pelaksanaan Pre Conference Ruang Bougenvil
Observasi
No. Variabel yang Dinilai
YA (1) TIDAK (0)
1. Pre conference dilakukan di nurse station √
2. Ketua tim menyiapkan data pasien √
3. Kepala ruang memfasilitasi pelaksanaan pre

conference
4. Kepala ruang membagi tugas atas sekelompok
pasien kepada ketua tim dan perawat

pelaksananya dengan memperhatikan
keseimbangan kerja
5. Ketua tim menjelaskan masalah keperawatan
pasien dan rencana keperawatan yang menjadi √
tanggung jawabnya
6. Ketua tim mendiskusikan cara dan strategi
pelaksanaan asuhan keperawatan pasien atas

sekelompok pasien yang menjadi
tanggungjawabnya
7. Kepala ruang memberikan motivasi,
pengarahan, dan tanggapan atas rencana asuhan √
keperawatan yang ditegakkan oleh ketua tim
8. Ketua tim mengklarifikasikan kesiapan perawat
pelaksana untuk melaksanakan asuhan

keperawatan pada pasien yang menjadi
tanggung jawabnya
9. Ketua tim memberikan reinforcemen positif √
56

pada perawat pelaksana


10. Kepala ruang menyimpulkan kesimpulan pre

conference
JUMLAH 0

Perhitungan = Total skor X 100%


n item x skor tertinggi
= 5 X 100%= 50 %
10
4) Evaluasi Pelaksanaan Post Conference Ruang Bougenvil
Observasi
No. Variabel yang Dinilai
YA (1) TIDAK(0)
1. Post conference dilakukan di nurse station √
2. Ketua tim menyiapkan data pasien yang menjadi √
tanggungjawabnya
3. Ketua tim menerima laporan dari perawat/bidan √
pelaksana tentang asuhan keperawatan yang telah
dilakukan
4. Ketua tim dan perawat/bidan pelaksana √
mendiskusikan masalah yang ada dan mencari
upaya penyelesaiannya
5. Ketua tim memberika reinforcemen positif pada √
perawat/bidan pelaksana
6. Ketua tim melaporkan hasil asuhan keperawatan √
kepada kepala ruang
7. Kepala ruang menyimpulkan hasil post conference √
dan atau memberikan tanggapan atau masukan
JUMLAH 0

Perhitungan = Total skor X 100%


n item x skor tertinggi
= 4 X 100%
7
= 57,1 %
Berdasarkan observasi ditemukan data bahwa ada beberapa hal yang tidak
dilaksanakan sesuai dengan prinsip MPKP. Pelaksanaan serah terima pasien, meeting
morning, pre conference, dan post conference masih kurang optimal.
Analisa
Hasil observasi pelaksanaan serah terima pasien di ruang Bougenvil sudah
dilakukan setiap pergantian shift, namum belum sesuai dengan SPO yang ada di
rumah sakit. Hal ini dibuktikan dengan pada pelaksanaan serah terima pasien tidak
57

diawali dengan do’a bersama, dan tidak menginformasikan pendidikan kesehatan


yang telah dilakukan. Selain itu, pemberi tanggung jawab tidak menginformasikan
jenis, dan waktu rencana tindakan kebidanan yang belum dilakukan. Hal tersebut
dikarenakan rencana kebidanan yang akan dilakukan pada saat serah terima pasien
tidak disusun terlebih dahulu. Dalam pelaksanaan serah terima pasien juga tidak
dilakukan tindakan menginformasikan pada pasien/keluarga nama perawat/bidan
shift berikutnya pada akhir tugas dan tidak memberi salam pada pasien, keluarga,
serta mengobservasi dan menginspeksi keadaan pasien, menanyakan keluhan pasien
(dalam rangka klarifikasi). Hal ini dikarenakan pada serah terima pasien tidak
dilakukan keliling ke ruangan pasien.
Mengawali serah terima pasien dengan do’a dapat meningkatkan keyakinan
spiritual sehingga perawat/bidan lebih termotivasi untuk melakukan pekerjaan
dengan baik. Hal lain seperti pendidikan kesehatan yang telah dilakukan sebaiknya
diinformasikan pada serah terima pasien sehingga perawat/bidan yang lain dapat
mengetahui dan tidak mengulang pemberian pendidikan kesehatan. Pemberian
informasi mengenai jenis, dan waktu rencana kebidanan yang belum dilakukan
seharusnya dilakukan oleh pemberi tanggung jawab terhadap pelaksana. Hal ini
dikarenakan, rencana kebidanan merupakan hal yang penting dalam pelaksanaan
asuhan kebidanan. Selain itu, kegiatan keliling ke ruangan pasien juga perlu
dilakukan seperti menginformasikan pada pasien/keluarga nama perawat/bidan shift
berikutnya pada akhir tugas dan memberi salam pada pasien, keluarga, serta
mengobservasi dan menginspeksi keadaan pasien, menanyakan keluhan pasien
(dalam rangka klarifikasi). Hal tersebut bertujuan agar tercipta hubungan
interpersonal yang lebih baik antara perawat/bidan dan pasien. Selain itu,
perawat/bidan dapat lebih mengetahui keadaan pasien dengan observasi secara
langsung.
Pelaksanaan meeting morning juga belum sesuai dengan SPO yang berlaku di
rumah sakit. Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala ruang didapatkan bahwa
kepala ruang memberikan keterangan pertemuan pada pagi hari sebelum shift
merupakan meeting morning. Kegiatan meeting morning dilakukan bersamaan
dengan pre conference dan post conference. Namun, hasil observasi menunjukkan
bahwa pertemuan tersebut hanya melakukan serah terima pasien. Sehingga belum
58

terlaksananya rutinitas meeting morning, pre conference dan post conference di


ruangan Bougenvil. Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala tim didapatkan
bahwa alasan belum terlaksananya meeting morning, pre conference dan post
conference dikarenakan terdapat keterbatasan waktu. Selain itu, tidak terlaksananya
pre conference dan post conference disebabkan keterbatasan perawat/bidan
pelaksana. Faktor yang menimbulkan keterbatasn tersebut yaitu adanya sistem
rolling antara perawat/bidan di ruang Bougenvil dan ruang Bersalin yang dilakukan
satu bulan sekali.
3. Proses managemen bimbingan PKK bagi mahasiswa praktik penerapan
proses managemen
Kajian Teori
Tujuan manajemen bimbingan ialah agar sistem bimbingan dapat berjalan
dengan lancar, efektif, dan efisien untuk mencapai tujuan kegiatan bimbingan serta
untuk menegakkan akuntabilitas bimbingan. Bimbingan mahasiswa praktik di Ruang
Bougenvil dilakukan oleh seorang clinical instructor (CI) yang merupakan pegawai
di RS baik berasal dari Ruang Bougenvil maupun ruang lain yang memiliki
kompetensi sesuai dengan kebutuhan mahasiswa bimbingan. Sistim bimbingan
mahasiswa secara keseluruhan diatur oleh Bidang Pendidikan dan Latihan RS yang
meliputi pengelompokkan mahasiswa, penempatan ruangan, pembagian CI,
penjadwalan dinas, dan lain sebagainya terkait dengan kebutuhan pendidikan
mahasiswa. Adapun manajemen masalah-masalah yang terjadi pada mahasiswa di
ruangan seperti membolos dinas, maka pertanggungjawaban mahasiswa dilakukan
kepada CI dan bagian diklat RS bukan kepada kepala ruangan. Namun demikian,
sebelum mahasiswa mendapatkan ijin untuk praktik di ruang Bougenvil bagian diklat
RS, CI, kepala ruangan, serta seluruh staf di ruang Bougenvil sudah melakukan
koordinasi terkait mahasiswa praktik, sehingga baik CI maupun staf lain di Ruang
Bougenvil telah siap menerima mahasiswa praktik dan bersama-sama membimbing
mahasiswa dengan sebaik mungkin. Adapun evaluasi terhadap bimbingan mahasiswa
dilakukan oleh CI dan masing-masing dosen dari institusi terkait.
F. Unsur Output/Keluaran
1. Efesiensi Ruang Bougenvil
Kajian Teori
59

a. BOR (Bed Occupancy Ratio = Angka penggunaan tempat tidur)


BOR menurut Huffman (1994) adalah rasio lamanya penggunaan tempat
tidur untuk perawatan pasien pada periode tertentu. BOR merupakan
indikator yang memberikan gambaran tinggi rendahnya tingkat
penggunaan tempat tidur rumah sakit atau persentase penggunaan tempat
tidur pada waktu tertentu (Chariswanti, 2013). Menurut Barber Johnson,
standar internasional BOR adalah 75-85%, sedangkan menurut Depkes
RI (2009) BOR adalah persentase pemakaian tempat tidur pada satuan
waktu tertentu. Indikator ini memberikan gambaran tinggi rendahnya
tingkat pemanfaatan tempat tidur rumah sakit. Nilai parameter BOR
yang ideal adalah antara 60-85% (Depkes RI, 2009).

BOR = x 100%

b. LOS (Length of Stay = Rata-rata lamanya pasien dirawat)


LOS menurut Huffman (1994) adalah rata-rata hospitalisasi pasien
selama periode tertentu. LOS menurut Depkes RI (2009) adalah rata-rata
lama rawat seorang pasien. Indikator ini memberikan gambaran tingkat
efisiensi dan gambaran mutu pelayanan. Secara umum nilai LOS yang
ideal antara 6-9 hari (Depkes, 2009).

LOS = Lama dirawat/Jumlah pasien keluar (hidup +


mati)

c. TOI (Turn Over Interval = Tenggang perputaran)


TOI menurut Depkes RI (2009) adalah rata-rata hari dimana tempat tidur
tidak ditempati dari setelah diisi ke saat terisi berikutnya. Indikator ini
memberikan gambaran tingkat efisiensi penggunaan tempat tidur.
Idealnya tempat tidur kosong tidak terisi pada kisaran 1-3 hari.

TOI =
60

d. BTO (Bed Turn Over = Angka perputaran tempat tidur)


BTO menurut Huffman (1994) adalah “the net effect of changed in
occupancyrate and length of stay”. BTO menurut Depkes RI (2009)
adalah frekuensi pemakaian tempat tidur pada satu periode, berapa kali
tempat tidur dipakai dalam satu satuan waktu tertentu. Idealnya dalam
satu tahun, satu tempat tidur rata-rata dipakai 40-50 kali (Depkes RI,
2009).

BTO =

e. NDR (Net Death Rate)


NDR menurut Depkes RI (2009) adalah angka kematian 48 jam setelah
dirawat untuk tiap-tiap 1000 penderita keluar. Indikator ini memberikan
gambaran mutu pelayanan di rumah sakit.
f. GDR (Gross Death Rate)
GDR menurut Depkes RI (2009) adalah angka kematian umum untuk
setiap 1000 penderita keluar.
Kajian Data
Efisiensi Ruang Bougenvil RSUD Goeteng Taroenadibrata Purbalingga
Tahun 2016
Indikator
Jumlah
No Tahun Bulan BOR LOS TOI BTO
TT
(%)
1 2016 Januari 33 24,83 2,19 6,87 3,39
2 Februari 33 30,83 2,54 5,25 3,82
3 Maret 33 27,17 2,13 5,48 4,12
4 April 33 35,45 2,02 3,74 5,18
5 Mei 33 39,20 2,33 3,40 5,55
6 Juni 33 38,69 2,07 3,25 5,67
7 Juli 33 46,43 2,14 2,31 7,18
8 Agustus 33 51,22 2,24 2,07 7,30
9 September 33 56,97 2,44 1,87 6,91
10 Oktober 33 61,09 2,41 1,57 7,67
11 November 33 58,38 2,49 1,70 7,36
12 Desember 33 61 2,5 1,54 7,85
Rata-rata 33 44,43 2,3 2,82 72
61

Sumber: Medical Record Goeteng Taroenadibrata; data pelayanan rawat inap


Bangsal Bougenvil tahun 2016
Analisa
Berdasarkan kajian data tersebut, dapat diketahui bahwa:
a. BOR (Bed Occupancy Rate), di ruang Bougenvil satu tahun 2016 rata-rata
44,43%. Jumlah tersebut dapat disimpulkan bahwa tingkat penggunaan
tempat tidur rumah sakit masih rendah, jika disamakan dengan standar
nasional BOR yaitu 60-85%.
b. LOS (Length Of Stay) pasien di ruang Bougenvil dalam satu tahun 2016
yaitu 2,3 atau dibulatkan menjadi 3 hari. Jumlah LOS tersebut
menunjukkan lama perawatan lebih pendek daripada standar nasional
yaitu 6-9 hari. Lama hari perawatan yang semakin pendek menunjukkan
semakin baik perawatan yang diberikan.
c. TOI (Turn Over Internal) di Ruang Bougenvil selama satu tahun 2016
yaitu 2,82 atau dibulatkan menjadi 3 hari. Jumlah tersebut menunjukkan
efisien dikarenakan sesuai dengan standar nasional TOI yaitu 1-3 hari.
Jeda waktu pemakaian tempat tidur yang singkat menandakan suatu
rumah sakit atau ruangan tertentu memiliki banyak pasien.
d. BTO (Bed Turn Over) di Ruang Bougenvil tahun 2016 yaitu 72 kali. Hal
tersebut menunjukkan penggunaan tempat tidur di ruangan dalam satu
tahun melebihi nilai standar nasional nilai BTO yaitu 40-50 kali.
Penggunaan tempat tidur yang semakin banyak menunjukkan semakin
baik suatu rumah sakit.
2. Hasil evaluasi penerapan SAK
A. Asuhan kebidanan (Instrument A)
Instrumen A merupakan evaluasi terhadap pendokumentasian asuhan
keperawatan yang telah baku. Evaluasi dilakukan terhadap dokumentasi
asuhan keperawatan pasien yang dirawat minimal 3 hari.
Dokumentasi keperawatan adalah sistem pencatatan kegiatan sekaligus
pelaporan semua kegiatan asuhan keperawatan sehingga terwujud data yang
lengkap, nyata, dan tercatat serta bukan hanya tingkat kesakitan dari pasien
tetapi juga jenis, kualitas, dan kuantitas pelayanan kesehatan dalam
62

memenuhi kebutuhan pasien. Dokumentasi keperawatan merupakan sesuatu


yang mutlak harus ada untuk perkembangan perawatan, khususnya proses
profesionalisasi keperawatan serta upaya untuk membina dan
mempertahankan akuntabilitas perawat dan keperawatan.
Dalam membuat dokumentasi harus memperhatikan aspek-aspek :
1) Keakuratan data
2) Breavity (ringkas)
3) Legibility (mudah dibaca)
Komponen dokumentasi keperawatan:
1) Pengkajian
Asuhan keperawatan paripurna memerlukan data yang lengkap dan
dikumpulkan secara terus-menerus tentang keadaaan pasien untuk
menentukan kebutuhan asuhan keperawatan. Data harus bermanfaat bagi
semua anggota tim kesehatan. Komponen pengkajian meliputi
pengumpulan data, pengelompokan data, dan perumusan masalah.
2) Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan menggambarkan masalah pasien baik aktual
maupun potensial berdasarkan hasil pengkajian data. Diagnosa
dirumuskan berdasarkan data status kesehatan pasien, dianalisa, dan
dibandingkan dengan fungsi normal kehidupan pasien. Kriteria diagnosa
dihubungkan dengan penyebab kesenjangan dan pemenuhan kebutuhan
pasien, dibuat sesuai dengan wewenang perawat, dengan komponen
terdiri atas masalah, penyebab dan tanda gejala (PES) atau terdiri dari
masalah dan penyebab (PE) yang bersifat aktual apabila masalah
kesehatan sudah nyata terjadi dan bersifat potensial apabila masalah
kesehatan kemungkinan besar akan terjadi, dan dapat ditanggulangi oleh
perawat.
3) Rencana keperawatan
Perencanaan keperawatan disusun berdasarkan diagnosa
keperawatan. Komponen rencana perawatan meliputi prioritas masalah,
tujuan, dan rencana tindakan. Prioritas masalah ditentukan dengan
memberi prioritas utama masalah yang mengancam kehidupan dan
63

prioritas selanjutnya masalah yang mengancam masalah kesehatan


pasien. Prioritas ketiga adalah masalah yang mempengaruhi perilaku.
4) Implementasi
Implementasi adalah pelaksanaan rencana tindakan yang ditentukan
dengan maksud agar kebutuhan pasien terpenuhi yang mencakup aspek
peningkatan, pencegahan, pemeliharaan, serta pemulihan kesehatan
dengan mengikutsertakan pasien dan keluarga. Pelaksanaan tindakan
keperawatan harus sesuai dengan rencana yang ada, menyangkut keadaan
bio-psiko-sosio-spiritual pasien, menjelaskan setiap tindakan perawatan
yang akan dilaksanakan pada klien, sesuai waktu yang telah ditentukan
dengan menggunakan sumber-sumber yang ada.
Tindakan perawatan dilakukan dengan menerapkan prinsip aseptik
dan antiseptik, aman, nyaman, ekonomis, menjaga privasi, dan
mengutamakan keselamatan pasien, dan merapikan pasien dan alat setiap
selesai tindakan. Semua tindakan yang telah dilaksanakan dicatat pada
format asuhan keperawatan yang berlaku. Perbaikan tindakan dilakukan
berdasarkan respon pasien dan merujuk dengan segera bila ada masalah
yang mengancam keselamatan pasien.
5) Evaluasi
Evaluasi dilaksanakan secara periodik, sistematis, dan berencana,
untuk menilai perkembangan pasien. Evaluasi dilaksanakan dengan
memeriksa kembali hasil pengkajian awal dan intervensi awal untuk
mengidentifikasi masalah dan rencana perawatan selanjutnya termasuk
strategi perawatan yang telah diberikan untuk memecahkan masalah
pasien.
6) Catatan asuhan keperawatan
Pencatatan merupakan data tertulis tentang status kesehatan dan
perkembangan pasien selama dalam perawatan. Pencatatan dilakukan
selama pasien dirawat inap maupun rawat jalan. Pencatatan dapat
digunakan sebagai bahan informasi dan komunikasi. Penulisan harus
jelas dan ringkas, serta menggunakan istilah yang baku sesuai dengan
pelaksanaan proses perawatan. Setiap pencatatan harus mencantumkan
64

paraf dan nama perawat yang melaksanakan tindakan dan waktu


pelaksanaan, dan menggunakan format yang tersedia serta sesuai dengan
peraturan yangn berlaku.
Kajian data

Tabel 2.9 Evaluasi instrumen A di Ruang Bougenvil RSUD Dr. R. Goet eng

Taroenadibrata Purbalingga
Aspek yang Hasil
No Keterangan
dinilai (%)
1. Pengkajian 75% 1) Mencatat data yang dikaji sesuai pedoman
pengkajian
2) Data dikelompokkan (bio-psiko-sosial-
spiritual)
3) Data dikaji sejak pasien datang sampai
pulang
4) Masalah dirumuskan berdasarkan
kesenjangan antara status kesehatan dengan
norma dan pola fungsi kehidupan

1) Dx. Kep. Berdasarkan masalah yang telah


Diagnosa dirumuskan
2. 66,6% 2) Dx.Kep. Mencerminkan PE/PES
Keperawatan
3) Merumuskan Dx.Kep actual/potensial

1) Berdasarkan Dx.Kep
2) Disusun menurut urutan prioritas
3) Rumusan tujuan mengandung komponen
pasien/subjek, perubahan perilaku, kondisi
3. Perencanaan 60% pasien dan atau kriteria waktu
4) Rencana tindakan mengacu pada tujuan
dengan kalimat perintah, terinci, dan jelas
5) Rencana tindakan meggambarkan keterlibatan
pasien/keluarga

1) Tindakan dilaksanakan mengacu pada


rencana keperawatan
2) Perawat/bidan mengobservasi respon pasien
4. Tindakan 75% terhadap tindakan keperawatan.
3) Revisi tindakan berdasarkan evaluasi
4) Semua tindakan yang telah dilaksanakan
dicatat dengan ringkas dan jelas

5. Evaluasi 100% 1.) Evaluasi mengacu pada tujuan (SOAP)


65

2.) Hasil evaluasi dicatat

1) Menulis pada format yang baku


2) Pencatatan dilakukan sesuai dengan tindakan
yang dilaksanakan
3) Pencatatan ditulis dengan jelas, rigkas, istilah
Dokumentasi
yang baku dan jelas/benar
6. Asuhan 80% 4) Setiap melaksanakan tindakan/kegiatan
Keperawatan perawat/bidan mencantumkan paraf/nama
jelas, tanggal dan jam dilakukannya tindakan
5) Dokumentasi keperawatan tersimpan sesuai
dengan ketentuan yang berlaku

Rerata 76,1% Baik

Analisa
Pendokumentasian asuhan kebidanan di ruang Bougenvil dinilai
dengan standar asuhan keperawatan, hal tersebut dikarenakan rumah sakit
belum mempunyai standar asuhan kebidanan. Berdasarkan penilaian, standar
asuhan kebidanan sudah cukup baik, yakni 76,1% (baik). Hasil terendah pada
penilaian instrument A terletak pada penulisan perencanaan. Pada penulisan
perencanaan tidak mengacu pada tujuan dengan kalimat perintah, terinci, dan
jelas. Rencana tindakan juga tidak menggambarkan keterlibatan pasien atau
keluarga pasien.
Instrumen A digunakan untuk mengevaluasi pendokumentasian
asuhan keperawatan yang telah baku. Namun, di ruang Bougenvil tidak
menerapkan asuhan keperawatan melainkan menggunakan asuhan kebidanan.
Oleh sebab itu, kami melakukan observasi dan evaluasi terkait asuhan
kebidanan dengan metode menganalogikan setiap konten asuhan kebidanan
dengan asuhan keperawatan. Hal tersebut dikarenakan belum tersedianya
pedoman asuhan kebidanan yang berlaku di RSUD dr. R Goeteng
Taroenadibrata.
B. Kepuasan pasien (instrument B)
Kajian teori
Salah satu indikator mutu asuhan keperawatan/kebidanan dalam suatu
ruangan dapat dillihat dari persepsi pasien tentang mutu asuhan
66

keperawatan/kebidanan yang diberikan. Untuk mengevaluasi hal tersebut


perlu suatu instrument yang baku. RSUD Purbalingga menggunakan format
standar asuhan keperawatan yang telah ditetapkan oleh rumah sakit untuk
mengevaluasi persepsi pasien terhadap mutu asuhan keperawatan/kebidanan.
Kepuasan pasien adalah suatu tingkat perasaan pasien yang timbul sebagai
akibat dari kinerja layanan kesehatan yang diperoleh setelah pasien
membandingkannya dengan apa yang diharapkan (Imbalo, 2006). Respon ini
sebagai hasil dari penilaian pasien bahwa produk/pelayanan sudah
memberikan tingkat pemenuhan kenikmatan. Tingkat pemenuhan kenikmatan
dan harapan ini dapat lebih atau kurang (Nursalam, 2014).
Kajian data
Hasil kuesioner kepuasan pasien ruang Bougenvil RSUD Goeteng
Taroenadibrata Purbalingga tanggal 28 Februari 2017
Jawaban
No. Pertanyaan
Ya Tdk
1 Apakah perawat selalu memperkenalkan diri 2 11
2. Apakah perawat melarang anda atau pengunjung merokok di 10 3
ruangan
3 Apakah perawat selalu menanyakan bagaimana nafsu makan anda 5 8
atau keluarga anda
4 Apakah perawat pernah menanyakan pantangan anda dalam hal 13 0
makanan anda atau keluarga anda
5 Apakah perawat menanyakan atau memperhatikan berapa jumlah 5 8
makanan dan minuman yang biasa anda atau keluarga anda
habiskan
6 Apakah anda atau keluarga anda tidak mampu makan sendiri dan 5 8
apakah perawat membantu menyuapinya
7 Pada saat anda atau keluarga anda dipasang infus apakah perawat 13 0
selalu memeriksa cairan atau tetesannya dan area sekitar
pemasangan jarum infuse
8 Apabila anda atau keluarga anda mengalami kesulitan buang air 9 4
besar apakah perawat menganjurkan makan buah-buahan,
sayuran, minum yang cukup dan banyak bergerak
9 Pada saat perawat membantu anda atau keluarga anda waktu 10 3
buang air besar, buang air kecil, apakah perawat memasang
penutup atau selimut, menutup pintu atau jendela dan
mempersilahkan pengunjung keluar ruangan
10 Apakah ruangan tidur anda atau keluarga anda selalu di jaga 13 0
kebersihannya dengan di sapu dan di pel setiap hari
11 Apakah lantai kamar mandi atau WC selalu bersih, tidak licin, 13 0
tidak berbau, dan cukup terang
12 Selama anda atau keluarga anda belum mampu mandi (dalam 12 1
keadaan istirahat total) apakah dimandikan oleh perawat
13 Apakah anda atau keluarga anda di bantu oleh perawat jika tidak 5 8
67

mampu menggosok gigi, membersihkan mulut atau mengganti


pakaian atau menyisir rambut
14 Apakah alat-alat tenun seperti sprei, selimut, dan lain-lain diganti 8 5
setiap kotor
15 Apakah perawat pernah memberikan penjelasan akibat dari 8 5
kurang bergerak dan berbaring terlalu lama
16 Pada saat anda atau keluarga anda masuk rumah sakit apakah 8 5
perawat memberikan penjelasan tentang fasilitas yang tersedia dan
cara penggunaannya serta peraturan atau tata tertib yang berlaku
di rumah sakit
17 Selama anda atau keluarga anda dalam perawatan apakah perawat 12 1
memanggil nama dengan benar
18 Selama anda atau keluarga anda dalam perawatan apakah 13 0
perawatan mengawasi keadaan anda secara teratur pada pagi, sore,
maupun malam hari
19 Selama anda atau keluarga anda dalam perawatan apakah perawat 12 1
segera memberi bantuan bila diperlukan
20 Apakah perawat bersikap sopan dan ramah 11 2
21 Apakah anda atau keluarga anda mengetahui perawat yang 1 12
bertanggung jawab setiap kali pergantian dinas
22 Apakah perawat selalu memberi pelayanan sebelum melakukan 9 4
tindakan perawatan atau pengobatan
23 Apakah perawat selalu bersedia mendengarkan dan 9 4
memperhatikan setiap keluhan anda atau keluarga anda
24 Dalam hal memberikan obat apakah perawat membantu 10 3
menyiapkan atau meminumkan obat
25 Selama anda atau keluarga anda dirawat apakah diberikan 13 0
penjelasan tentang perawatan / pengobatan / pemeriksaan lanjutan
setelah anda atau keluarga anda diperbolehkan pulang
Total 229 96

Hasil kepuasaan pasien = Total skor x 100 %


Item
= 229 x 100 %
325
= 70,46%

Analisa data
Instrumen B digunakan untuk menilai tingkat kepuasan pasien
terhadap pelayanan. Jumlah dan jenis pertanyaan instrumen B dapat dilihat
pada lampiran. Sebanyak 13 pasien di ruang Bougenvil diminta untuk
mengisi kuisioner instrumen B. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa
70,46% pasien merasa puas dengan pelayanan yang diberikan di ruang
Bougenvil. Kesimpulan dan analisis dari hasil kuesioner diatas adalah :
68

a. Hampir seluruh perawat/bidan tidak memperkenalkan diri setiap


berinteraksi dengan pasien.
b. Sebagian besar perawat/bidan tidak memperkenalkan petugas setiap kali
pergantian petugas.
c. Keluarga pasien baru masuk rumah sakit atau ruangan mendapatkan
penjelasan tentang fasilitas yang tersedia dan cara penggunaannya,
peraturan atau tata tertib yang berlaku di rumah sakit.
d. Perawat/bidan selalu melarang pasien atau keluarga pasien yang
berkunjung ke ruangan merokok
e. Sebagian besar perawat/bidan belum menanyakan nafsu makan pasien
dan kurang memperhatikan jumlah makanan dan minuman yang biasa
dihabiskan pasien
f. Perawat/bidan selalu memanggil nama pasien dengan benar serta
mengawasi keadaan pasien secara teratur setiap pagi, sore, maupun
malam hari
g. Perawat memberikan penjelasan tentang perawatan/pengobatan/
pemeriksaan lanjutan setelah pasien diperbolehkan pulang.
C. SPO (instrument C)
Kajian teori
Tindakan keperawatan/kebidanan yang baik harus dilakukan sesuai
dengan standar yang telah ditetapkan dengan hasil penilaian tindakan
mencapai 100 %. Sebagai dasar penilaian tindakan keperawatan/kebidanan
mengacu pada instrument evaluasi penerapan standar asuhan
keperawatan/kebidanan di rumah sakit yang telah ditetapkan oleh tim
departemen kesehatan RI. Standar Prosedur Operasional (SPO) adalah sistem
yang disusun untuk memudahkan, merapihkan dan menertibkan pekerjaan.
Sistem ini berisi urutan proses melakukan pekerjaan dari awal sampai akhir
(Sailendra, 2015). Standard Operating Procedure (SOP/SPO) adalah satu set
instruksi tertulis yang digunakan untuk kegiatan rutin atau aktivitas yang
berulang kali dilakukan oleh sebuah organisasi (Hartatik, 2014). Standard
Operating Procedure (SOP/SPO) adalah suatu perangkat lunak pengatur,
69

yang mengatur tahapan suatu proses kerja atau prosedur kerja tertentu
(Budihardjo, 2014).
Kajian Data
Berdasarkan hasil pengkajian awal, ditemukan 3 (tiga) SPO tindakan
yang masih belum optimal di ruang Bougenvil yaitu pada pelaksanaan SPO
meeting morning, SPO pre conference, dan SPO post conference. Penilaian
pelaksanaan SPO dilakukan dengan melihat pelaksanaan tindakan kemudian
dilakukan check list pada lembar SPO. Hasil observasi yang didapatkan
adalah sebagai berikut:
Tabel 2.9 Hasil evaluasi pelaksanaan SPO di ruang Bougenvil RSUD dr. R.
Goeteng Taroenadibrata Purbalingga.
1. SPO Meeting morning
No. Variabel yang Dinilai Observasi
Ya tidak
1. Meeting morning dilakukan di kantor perawat/nurse station √
2. Karu/Wakaru/Katim membuka meeting morning √
3. Karu/Wakaru/Katim mempersilahkan kepada penanggung jawab shift √
malam untuk menyampaikan laporan jaga secara lisan
4. Karu/Wakaru/Katim melakukan klarifikasi tentang laporan shift √
malam
5. Karu/Wakaru/Katim menyampaikan informasi lain tentang √
permasalahan ruangan
6. Tanggapan dari semua dari semua perserta meeting morning √
7. Karu/wakaru/katim memberi motivasi dan reinforcement positif pada √
semua peserta meeting morning
8. Karu/Wakaru/Katim menutup meeting morning √
Perhitungan = total skor x 100 %
n item
= _3_ x 100 %
8
= 37,5 %

2. SPO cuci tangan higienis (hands wash)


No Variabel yang dinilai Observasi
Prosedur Ya Tidak
1 Lepas aksesoris yang ada di tangan √
2 Basahi tangan setinggi pertengahan lengan bawah dengan air √
mengalir
3 Tuang sabun di bagian telapak tangan untuk menyabuni √
seluruh permukaan tangan
4 Gosok tangan dengan posisi telapak pada telapak √
70

5 Telapak kanan di atas punggung kiri dengan jari-jari salaing √


menjalin dan sebaliknya
6 Telapak pada telapak dan jari-jari saling menjalin √
7 Punggung jari-jari pada telapak yang berlawanan dengan jari- √
jari saling mengunci
8 Gosok memutar dengan ibu jari kiri tangan kanan mengunci √
pada telapak kiri dan sebaliknya
9 Gosok memutar, ke arah belakang dan ke depan dengan jari- √
jari tangan kanan mengunci pada telapak kiri dan sebaliknya
10 Bilas tangan dengan air mengalir √
11 Keringkan tangan sekering mungkin dengan handuk kering √
atau tissue
12 Gunakan handuk atau tissue untuk mematikan kran air √
Jumlah 5 7

Perhitungan = total skor x 100 %


n item
= _5_ x 100 %
12
= 41,7 %
3. SPO Pre Conference
Observasi
No Variabel yang dinilai
Ya Tidak
1 Pre conference dilakukan di Nurse station √
2 Ketua tim menyiapkan data pasien √
3 Kepala ruang memfasilitasi pelaksanaan pre conference √
4 Kepala ruang membagi tugas atas sekelompok pasien √
kepada ketua tim dan perawat pelaksana dengan
memperhatikan keseimbangan kerja
5 Ketua tim menjelaskan masalah keperawatan pasien dan √
rencana keperawatan yang menjadi tanggung jawabnya
6 Ketua tim mendiskusikan cara dan strategi pelaksanaan √
asuhan keperawatan pasien atas sekelompok pasien
yang menjadi tanggung jawabnya
7 Kepala ruang memberikan motivasi, pengarahan, dan √
tanggapan atas rencana asuhan yang ditegakkan oleh
ketua tim
8 Ketua tim mengklarifikasikan kesiapan perawat √
pelaksana untuk melaksanakan asuhan keperawatan
pada pasien yang menjadi tanggung jawabnya
9 Ketua tim memberikan reinforcement positif pada √
perawat pelaksana
10 Kepala ruang menyimpulkan hasil reinforcement √
Jumlah 5 5

Perhitungan = total skor x 100 %


n item
= _ 5_ x 100 %
71

10
= 50 %
4. SPO Post Conference
Observasi
No Variabel yang dinilai
Ya Tidak
1 Post conference dilakukan di Nurse station √
2 Ketua tim menyiapkan data pasien yang menjadi √
tanggung jawabnya
3 Ketua tim menerima laporan dari perawat pelaksana √
tentang asuhan keperawatan yang telah dilakukan
4 Ketua tim dan perawat pelaksana mendiskusikan √
masalah yang ada dan mencari upaya penyelesaiannya
5 Ketua tim memberikan reinforcement positif pada √
perawat pelaksana
6 Ketua tim melaporkan hasil asuhan keperawatan kepada √
kepala ruang
7 Kepala ruang menyimpulkan hasil post conference dan / √
atau memberikan tanggapan / masukan
Jumlah 4 3
Perhitungan = total skor x 100 %
n item
= _4_ x 100 %
7
= 57,1 %
5. SPO serah terima tugas jaga
OBSERVASI
No. VARIABEL YANG DINILAI
Ya Tdk
1. Didahului do’a bersama √
Komunikasi antar pemberi tanggung jawab dan
2. penerima tanggung jawab dilakukan didepan pintu √
dengan suara perlahan/tidak ribut
Menyebutkan identitas pasien, dx medis, dx
3. keperawatan, tindakan keperawatan yang telah √
dilakukan beserta waktu pelaksanaan
Menginformasikan jenis, dan waktu rencana tindakan
4. √
keperawatan yang belum dilakukan
Menyebutkan perkembangan pasien yang ada selama
5. √
shift
Menginformasikan pendidikan kesehatan yang telah
6. √
dilakukan
7. Mengevaluasi hasil tindakan keperawatan √
Menyebutkan terapi dan tindakan medis beserta
8. √
waktunya yang dilakukan selama shift
Menyebutkan tindakan medis yang belum dilakukan
9. √
selama shift
Menginformasikan pada pasien/keluarga nama perawat
10. √
shift berikutnya pada akhir tugas
72

Memberi salam pada pasien, keluarga, serta


11 mengobservasi dan menginspeksi keadaan pasien, √
menanyakan keluhan pasien (dalam rangka klarifikasi)
JUMLAH 5 6

Perhitungan = total skor x 100 %


n item
= _5_ x 100 %
11
= 45,5 %
6. SPO pengelolaan limbah medis tajam dan penggunaan peralatan tajam secara
aman
No Variabel yang Dinilai Observasi
ya Tidak
Penanganan limbah benda tajam
1. Tidak menekuk atau mematahkan benda tajam √
2. Tidak meletakan limbah benda tajam di sembarang

tempat
3. Segera buang limbah benda tajam ke kontainer tahan
tusuk dan tahan air yang tidak bisa dibuka lagi yang √
sudah tersedia
4. Tidak menyarungkan kembali jarum suntik habis pakai √
5. Kontainer benda tajam diletakkan dekat lokasi tindakan √
Jumlah 3 2
Penanganan limbah pecahan kaca
1. Gunakan sarung tangan √
2. Gunakan kertas koran untuk mengumpulkan pecahan

benda tajam tersebut, kemudian bungkus dengan kertas
3. Masukan ke dalam kontainer tahan tusuk dan beri label √
Jumlah 2 1
Penggunaan peralatan tajam secara aman
1. Hati-hati saat menggunakan peralatan tajam agar tidak

tertusuk jarum secara tidak sengaja
2. Tidak menutup kembali, melengkungkan, mematahkan

atau melepaskan jarum yang akan dibuang
3. Buang benda-benda tajam dalam wadah anti bocor dan
segel dengan perekat jika sudah dua pertiga penuh

wadah benda tajam tadi kemudian diantar ke tempat
pembuangan limbah sementara
4. Tempat sampah hitam untuk sampah tidak kontaminasi √
5. Tempat sampah kuning untuk sampah terkontaminasi √
Jumlah 4 1
Perhitungan penanganan limbah benda tajam
3/5 x 100% = 60%
Perhitungan penanganan limbah pecahan kaca
2/3 x 100% = 67%
73

Perhitungan penggunaan peralatan tajam secara aman


4/5 x 100% = 80%
7. SPO Kepatuhan terhadap Tata Tertib yang Berlaku
Observasi
No Variabel yang dinilai
Ya Tidak
1 Mematuhi jam kunjungan yang berlaku di rumah sakit 2 8
2 Tidak membawa anak usia dibawah 12 tahun masuk ke 4 6
ruang rawat inap
3 Tidak menggelar tikar di area ruang rawat inap 3 7
4 Tidak merokok di area rumah sakit 10 0
5 Mematuhi aturan satu pasien satu penunggu 4 6
Jumlah 27 23

Perhitungan 27/50 x 100% = 54%

Hasil observasi
Tabel 3.0 Hasil observasi pelaksanaan SPO di ruang Bougenvil RSUD
dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga
No. SPO yang dinilai Hasil Keterangan
1 Pelaksanaan Meeting 37,5% Meeting morning tidak dilakukan
morning secara optimal. Pergantian shift
malam dengan shift pagi hanya
melakukan operan jaga.
2 Pre conference 50% Pre conference tidak dilakukan secara
optimal, hanya serah terima tugas
pada saat pergantian shift kepada
katim dan katim bersama mengelola
pasien, tidak ada pembagian tugas
3 Post conference 57,1% Post conference tidak dilakukan
secara optimal, tidak ada pembagian
tugas, semua tugas dikelola bersama
4 Mencuci tangan 41,7% Tidak melepas aksesoris yang ada
higienis (handwash) ditangan, tidak melakukan teknik
mencuci tangan yang baik, tidak
menggunakan handuk atau tissue
untuk mematikan keran
5 Serah terima tugas 45,5% Serah terima tugas jaga tidak
jaga didahului dengan doa, suasana saat
serah terima tugas jaga cenderung
tidak kondusif, tidak
menginformasikan jenis dan waktu
rencana tindakan keperawatan yang
belum dilakukan, tidak
menginformasikan pendidikan
kesehatan yang telah dilakukan serta
tidak menginformasikan pada
74

pasien/keluarga nama perawat shift


berikutnya pada akhir tugas
6 Penanganan limbah 60% Jarum suntik biasanya ditutup
benda tajam kembali setelah digunakan dimana
jika terjadi kesalahan dalam metode
menutupnya maka meningkatkan
risiko tertusuk jarum, kontainer
diletakan hanya diruang tindakan
sehingga jauh dari lokasi tindakan
7 Penanganan limbah 67% Tidak menggunakan kertas koran
pecahan kaca untuk mengumpulkan pecahan benda
tajam atau kemudian membungkus
pecahan benda dengan kertas sebelum
dibuang
8 Penggunaan 80% Jarum suntik biasanya ditutup
peralatan tajam yang kembali setelah digunakan dimana
aman jika terjadi kesalahan dalam metode
menutupnya maka meningkatkan
risiko tertusuk jarum
9 Kepatuhan terhadap 54% Keluarga pasien masih belum
tata tertib yang mematuhi tata tertib yang berlaku di
berlaku rumah sakit dengan masih membawa
anak dibawah usia 12 tahun ke dalam
ruang rawat inap, berkunjung diluar
jam kunjung, menggelar tikar didepan
ruang rawat inap serta penunggu
pasien lebih dari satu orang
Rerata 54,43%

Analisa Data
Hasil observasi pelaksanaan serah terima pasien di ruang Bougenvil
sudah dilakukan setiap pergantian shift, namum belum sesuai dengan SPO
yang ada di rumah sakit. Hal ini dibuktikan dengan pelaksanaan serah terima
pasien yang tidak diawali dengan doa bersama dan tidak menginformasikan
pendidikan kesehatan yang telah dilakukan. Selain itu, pemberi tanggung
jawab tidak menginformasikan jenis dan waktu rencana tindakan kebidanan
yang belum dilakukan. Hal tersebut dikarenakan rencana kebidanan yang
akan dilakukan pada saat serah terima pasien tidak disusun terlebih dahulu.
Dalam pelaksanaan serah terima pasien juga tidak dilakukan tindakan
menginformasikan pada pasien/keluarga nama perawat/bidan shift berikutnya
pada akhir tugas.
Pelaksanaan meeting morning, pre dan post conference juga belum
optimal atau dilakukan sesuai dengan SPO yang berlaku di rumah sakit. Hal
75

ini dapat terjadi karena adanya keterbatasan waktu sedangkan tugas yang
harus dilaksanakan terbilang cukup banyak. Selain itu, belum terlaksananya
pre conference dan post conference secara optimal dapat disebabkan pula
karena keterbatasan perawat/bidan pelaksana. Faktor yang menimbulkan
keterbatasan tersebut yaitu adanya sistem rolling antara perawat/bidan di
ruang Bougenvil dan ruang Bersalin yang dilakukan satu bulan sekali.
Untuk prosedur cuci tangan higienis (handwash) juga belum
dilakukan dengan optimal sesuai SPO. Pencapaian SPO yang rendah pada
salah satu tindakan di ruang Bougenvil terjadi akibat masih adanya
perawat/bidan yang tidak melakukan tindakan sesuai dengan prosedur yang
terdapat dalam SPO rumah sakit.
Dari hasil observasi mengenai pelaksanaan penangan limbah benda
tajam dan pecahan kaca juga masih belum dilakukan secara optimal. Hal ini
memungkinkan peningkatan risiko infeksi akibat tertusuk benda tajam. Oleh
sebab itu perlu adanya kewaspadaan dari berbagai pihak seperti
perawat/bidan, penunggu serta pengunjung pasien untuk menggunakan alas
kaki saat memasuki ruangan guna melindungi diri bila ada benda tajam yang
tercecer dilantai. Untuk pelaksanaan SPO penggunaan peralatan tajam dengan
aman sudah cukup baik, hanya perlu ditingkatkan agar pelaksanaanya lebih
optimal.
Hasil observasi terkait kepatuhan terhadap tata tertib yang berlaku
menunjukkan bahwa keluarga pasien masih belum mematuhi tata tertib yang
berlaku di rumah sakit dengan masih membawa anak dibawah usia 12 tahun
ke dalam ruang rawat inap, berkunjung diluar jam kunjung, menggelar tikar
didepan ruang rawat inap serta penunggu pasien lebih dari satu orang. Saat
wawancara dengan beberapa orang penunggu/keluarga pasien, mereka
mengatakan masih belum tahu mengenai jam kunjung pasien. Sedangkan
untuk permasalahan membawa anak dibawah 12 tahun masuk ke dalam ruang
rawat inap dikarenakan anak tidak ada yang menunggui diluar sehingga lebih
baik dibawa masuk. Keluarga menggelar tikar didepan ruang rawat inap agar
berada dekat pasien dan bila dibutuhkan selalu ada.
76

Tabel 2.36 Hasil Rekapitulasi Instrumen A B C SPO di Ruang


Bougenvil RSUD Dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga
Instrumen
Ruang
A B C Rata-rata
Ruang
Perawatan 76,1% 70,46% 54,43% 66,99%
Bougenvil

Hasil evaluasi total instrument A, instrumen B, dan instrumen C adalah


sebesar 66,99%.

8. Hasil evaluasi bimbingan PKK


Kajian Teori
Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan diri
lewat proses pendidikan. Peserta didik merupakan sosok yang membutuhkan
bantuan orang lain untuk bisa tumbuh dan berkembang kearah kedewasaan
(Hiryanto, 2014).
Kajian Data

Instrumen evaluasi persepsi peserta didik


No Pertanyaan Alternatif jawaban
Ya tidak
1 Anda diorrientasikan tentang tujuan praktik 5 0
mahasiswa
2 Anda diorientasikan (ruang, alat, staf) sebelum 5 0
memulai praktik)
3 Anda mendapatkan lahan praktik sesuai dengan 5 0
kompetensi yang harus dicapai
4 Anda mendapatkan jadwal praktik sesuai kompetensi 5 0
yang ingin dicapai
5 Pembimbing klinik menyediakan waktu untuk 5 0
membimbing
6 Anda mendapat penjelasan tentang metode 3 2
bimbingan yang akan digunakan selama anda praktik
7 Pembimbing klinik mempersiapkan pasien yang 5 0
akan anda jadikan obyek pengalaman belajar
8 Anda mendapatkan pengarahan tentang asuhan 3 2
keperawatan
9 Anda melaksanakan pre conference minimal satu 2 3
kali selama anda praktik
10 Anda melaksanakan post conference minimal satu 2 3
kali selama anda praktik
11 Pembimbing klinik memberi contoh tentang 5 0
77

pelaksanaan prsedur yang benar


12 Anda mendapatkan penjelasan tentang cara 5 0
menggunakan alat-alat yang dipergunakan untuk
proses pembelajaran klinik
13 Anda mendapatkan bimbingan bed side teaching 5 0
minimal satu kali sellama anda praktik
14 Anda mendapatkan bimbingan ronde keperawatan 2 3
minimal satu kali selama anda praktik
15 Anda diingatkan untuk mengisi daftar hadir baik 3 2
datang maupun pulang
Jumlah 60 15
Presentase 80 % 20 %
Presentase peserta didik yang mengatakan iya adalah :
60/75 x 100% = 80 %
Presentase peserta didik yang mengatakan tidak:
15/75 x 100% = 20 %

Analisis
Berdasarkan hasil kajian yang didapat, dapat simpulkan bahwa
evaluasi peserta didik terhadap bimbingan menunjukkan kepuasan dengan
presentasi sebanyak 80%, sedangkan tingkat ketidakpuasan peserta didik
sebanyak 20%. Hal itu menandakan tingkat kepuasan peserta didik cukup
baik

9. Kepuasan kerja karyawan


Kajian Teori
Kepuasan kerja (job statisfaction) karyawan harus diciptakan sebaik-
baiknya supaya moral kerja, dedikasi, kecintaan, dan kedisiplinan karyawan
meningkat. Kepuasaan kerja mencerminkan sikap dan bukan perilaku.
Kepuasan kerja menurut Wibowo (2010) merupakan sikap umum terhadap
pekerjaan individu, yang menunjukkan perbedaan antara jumlah penghargaan
yang diterima pekerja dan jumlah yang mereka yakini seharusnya mereka
terima. Kepuasaan kerja adalah hasil dari persepsi karyawan mengenai
seberapa baik pekerjaan mereka memberikan hal yang dinilai penting
(Kaswan, 2012).
Kajian Data
78

Hasil observasi yang dilakukan pada perawat ruang Bougenvil RSUD


Purbalingga dengan menggunakan angket didapatkan data :

Tabel 2.4. Kuesioner Kepuasan Kerja Perawat


No Pertanyaan SP P TP STP
n % N % n % n %
1 Jumlah gaji yang diterima 0 0 3 60% 2 40% 0 0
dibandingkan pekerjaan yang
saudara lakukan
2 Sistem penggajian yang 0 0 3 60% 2 40% 0 0
dilakukan institusi tempat
saudara bekerja
3 Jumlah gaji yang diterima 0 0 2 40% 3 60% 0 0
dibandingkan pendidikan
saudara
4 Pemberian insentif tambahan 0 0 0 0 5 100% 0 0
5 Tersedianya perlengkapan dan 0 0 1 20% 4 80% 0 0
peralatan yang mendukung
pekerjaan
6 Tersedianya fasilitas 0 0 1 20% 4 80% 0 0
penunjangseperti kamar mandi,
tempat parkir, dll
7 Kondisi ruangan kerja terutama 0 0 3 60% 2 40% 0 0
yang berkaitan dengan ventilasi
udara, kebersihan dan
kebisingan
8 Adanya jaminan atas kesehatan 0 0 5 100 0 0 0 0
dan keselamatan %
9 Perhatian institusi rumah sakit 0 0 3 60% 2 40% 0 0
terhadap saudara
10 Hubungan antar karyawan 0 0 5 100 0 0 0 0
dalam kelompok kerja %
11 Kemampuan bekerja sama 0 0 5 100 0 0 0 0
dalam kelompok kerja %
12 Sikap teman-teman bekerja 0 0 5 100 0 0 0 0
terhadap saudara %
13 Kesesuaian antara pekerjaan dan 0 0 5 100 0 0 0 0
latar belakang pendidikan %
saudara
14 Kesesuaian antara waktu bekerja 0 0 5 100 0 0 0 0
dengan penugasan yang %
diberikan
15 Kemampuan supervisi atau 0 0 5 100 0 0 0 0
pengawas dalam menjalankan %
tugasnya
16 Perlakuan atasan selama saya 0 0 5 100 0 0 0 0
bekerja disini %
17 Kebebasan melakukan suatu 0 0 5 100 0 0 0 0
metode sendiri dalam %
menyelesaikan pekerjaan
79

18 Kesempatan untuk 0 0 5 100 0 0 0 0


meningkatkan kemampuan kerja %
melalui pelatihan dan
pendidikan tambahan
19 Kesempatan untuk mendapat 0 0 3 60% 2 40% 0 0
posisi yang lebih penting
20 Kesempatan untuk membuat 0 0 4 80% 1 20% 0 0
suatu prestasi dan mendapatkan
kenaikan pankat
TOTAL 0 0% 73 73% 27 27% 0 0%

Analisa Data
Berdasarkan tabel 2.4 diatas didapatkan hasil bahwa 73% karyawan puas dengan
pekerjaan mereka di ruang Bougenvil sedangkan 27% karyawan merasa tidak puas.
Kesimpulan dan analisis dari hasil kuesioner diatas adalah :
a. Sebagian besar karyawan merasa puas dengan jumlah gaji yang diterima, sistem
penggajian yang digunakan, ventilasi udara, kebisingan, kebersihan perhatian
institusi rumah sakit, kesempatan memperoleh posisi yang tinggi, serta
kesempatan untuk mendapatkan prestasi dan kenaikan pangkat.
b. Sebagian besar karyawan merasa tidak puas dengan jumlah gaji yang diterima
bila dibandingkan dengan pendidikan, peralatan dan perlengkapan pendukung
pekerjaan, fasilitas penunjang seperti kamar mandi, tempat parkir, dan kantin.
c. Seluruh karyawan merasa puas akan adanya jaminan atas kesehatan atau
keselamatan kerja, hubungan antar karyawan dan kelompok kerja, kemampuan
bekerja antar karyawan, sikap teman-teman sekerja, kesesuaian antara latar
belakang pendidikan dan pekerjaan, kemampuan dalam menggunakan waktu
kerja dengan penugasan yang diberikan, kemampuan supervisi dalam membuat
keputusan, perlakuan atasan selama bekerja, kebebasan dalam menentukan
metode untuk menyelesaikan pekerjaan, serta kesempatan untuk meningkatkan
kemampuan kerja melalui pelatihan dan pendidikan tambahan.
d. Seluruh karyawan merasa tidak puas dengan pemberian insentif tambahan atas
suatu prestasi atau kerjasama.
80

BAB III
PERMASALAHAN DAN RENCANA KEGIATAN

A.Hasil Analisis Data


No Data Masalah
Patient Safety
1. Peningkatan komunikasi yang efektif belum Peningkatan
dilakukan dengan optimal (62,5%) dibuktikan komunikasi yang
dengan: efektif sudah
a. Komunikasi efektif belum dilakukan secara dilakukan cukup
maksimal oleh perawat/bidan di ruangan baik (62,5%)
b. Beberapa perawat/bidan tidak membaca ulang
(readback) perintah lengkap secara lisan dan telepon
atau hasil pemeriksaan secara lengkap
c. Perintah atau hasil pemeriksaan belum seluruhnya
dikonfirmasi oleh pemberi perintah atau yang
menyampaikan hasil pemeriksaan
2. Pengurangan risiko pasien jatuh masih kurang baik Pengurangan risiko
(37,5%) dibuktikan dengan: pasien jatuh masih
a. Perawat/bidan belum melakukan identifikasi ulang kurang baik
pasien risiko jatuh (37,5%)
b. Perawat/bidan tidak menjelaskan langkah-langkah
apa saja yg diterapkan untuk mengurangi risiko
jatuh pada pasien dan keluarga
c. Perawat/ bidan tidak memasang label kuning pada
gelang identitas pasien untuk pasien dengan risiko
jatuh
PPI
Pencegahan dan pengendalian risiko infeksi belum Pencegahan dan
terlaksana secara optimal (52,1%) dibuktikan dengan: pengendalian risiko
1. Cuci tangan higienis (hands wash) dan alternatif infeksi belum
(handsrub) belum sesuai SPO (41,7%) terlaksana secara
a. Perawat/bidan tidak melepas aksesoris optimal (52,1%)
yang ada di tangan
b. Perawat/bidan tidak membasahi tangan
setinggi pertengahan lengan bawah dengan air
mengalir
c. Perawat/bidan tidak mencuci tangan
sesuai dengan 6 langkah
d. Perawat/bidan tidak menerapkan 5
moment terutama moment sebelum kontak
dengan pasien
e. Perawat/bidan tidak menggunakan
handuk atau tissue untuk mematikan kran air
81

2. Penanganan limbah benda tajam dan pecahan kaca


belum optimal (62,5%)
a. Kontainer benda tajam tidak dibawa ketika tindakan
dan tidak diletakkan dekat lokasi tindakan
b. Perawat/bidan masih menyarungkan kembali jarum
suntik habis pakai
c. Pengunjung tidak menggunakan alas kaki
Model Praktik Keperawatan Profesional (MPKP)
Pelaksanaan meeting morning, pre conference, post Pelaksanaan
conference, dan serah terima tugas jaga masih belum
meeting morning,
optimal (47,52%) dibuktikan dengan:
1. Pelaksanaan Serah Terima Tugas Jaga pre conference,
a. Tidak didahului dengan do’a
post conference,
b. Komunikasi antar pemberi tanggung jawab belum
dilakukan didepan pintu dengan suara dan serah terima
perlahan/tidak ribut
tugas jaga masih
c. Perawat/bidan belum menginformasikan jenis dan
waktu rencana tindakan keperawatan yang belum belum optimal
dilakukan
(47,52%)
d. Perawat/bidan belum menginformasikan pada
pasien/keluarga nama perawat/bidan shift
berikutnya pada akhir tugas
e. Perawat/bidan belum memberikan salam pada
pasien, keluarga, serta mengobservasi dan
menginspeksi keadaan pasien, menanyakan
keluhan pasien (dalam rangka klarifikasi) (45,5%)

2. Meeting Morning
a. Kepala ruang belum memberikan arahan kepada
staf dengan materi yang telah disiapkan
sebelumnya
b. Kepala ruang belum memberikan klarifikasi apa
yang telah disampaikan pada staf
c. Kepala ruang belum memberi motivasi dan
reinforcement pada staf
d. Meeting morning belum terlaksana secara
terstruktur (37,5%)
82

3. Pre Conference
a. Kepala ruang membagi tugas kepada ketua tim dan
perawat/bidan pelaksananya berdasarkan rutinitas
b. Ketua tim tidak mendiskusikan cara dan strategi
pelaksanaan asuhan keperawatan/kebidanan pasien
atas sekelompok pasien yang menjadi tanggung
jawabnya
c. Kepala ruang belum memberikan pengarahan dan
tanggapan atas rencana asuhan keperawatan yang
ditegakkan oleh ketua tim secara terstruktur
d. Ketua tim belum mengklarifikasi kesiapan
perawat/bidan pelaksana untuk melakukan asuhan
keperawatan/kebidanan pada pasien yang menjadi
tanggung jawabnya
e. Kepala ruang belum menyimpulkan kesimpulan
pre conference (50%)

4. Post Conference
a. Ketua tim dan perawat/bidan pelaksana belum
mendiskusikan masalah yang ada dan mencari
upaya penyelesaiannya secara terstruktur
b. Ketua tim belum melaporkan hasil asuhan
keperawatan/kebidanan kepada kepala ruang
secara terstruktur
c. Kepala ruang belum menyimpulkan hasil post
conference dan atau memberikan tanggapan atau
masukan (57,1%)
Tata Tertib
5. Kepatuhan tata tertib di rumah sakit (54%) Penunggu/
a.Pengunjung tidak mematuhi aturan jam besuk pengunjung tidak
pasien dirumah sakit patuh terhadap tata
b.Pengunjung membawa anak usia dibawah 12 tahun tertib yang berlaku
masuk ke ruang rawat inap di rumah sakit
c. Penunggu menggelar tikar di area ruang rawat inap masih rendah
d.Penunggu dan pengunjung idak mematuhi aturan (54%)
satu pasien satu penunggu.

B. Prioritas Masalah
1. Pengurangan risiko jatuh terkait pelayanan kesehatan masih kurang baik
(37,5%)
2. Pelaksanaan MPKP masih belum optimal (47,52%)
3. Pencegahan dan pengendalian risiko infeksi belum terlaksana secara
optimal (52,1%)
4. Kepatuhan terhadap tata tertib yang berlaku di rumah sakit masih rendah
(54%)
5. Peningkatan komunikasi efektif (62,5 %)
83

ANALISIS SWOT
EKSTERNA
MASALAH PELUANG ANCAMAN
INTERNA
KEKUATAN KELEMAHAN
Pengurangan risiko Tersedianya SPO rumah sakit Belum adanya format Adanya dukungan Peningkatan angka kejadian
pasien jatuh masih tentang pemasangan gelang pengkajian ulang pasien jatuh dari kepala ruang dan pasien jatuh dapat terjadi
kurang baik identifikasi pasien risiko jatuh (skala morse dan humpty seluruh karyawan apabila tindakan pencegahan
(37,5%). dumpty). untuk penerapan tersebut tidak dilaksanakan,
Terdapatnya fasilitas yang patient safety. dan hal tersebut dapat
memadai, seperti bed dengan SPO tentang pasien risiko berdampak pada penurunan
side rail yang masih berfungsi jatuh belum sesuai dengan mutu pelayanan rumah sakit
dengan baik. kondisi di rumah sakit

Perawat/bidan sudah Tidak terpasangnya gelang


melakukan salah satu antisipasi identitas berwarna kuning
untuk mencegah risiko jatuh sebagai tanda pasien risiko
yaitu dengan merendahkan bed. jatuh.

Adanya kebijakan dan panduan Tidak terpasangnya penanda


patient safety risiko jatuh pada bed pasien
Terdapat dukungan dari yang mempunyai risiko jatuh.
manajemen untuk
terlaksananya pencegahan
risiko jatuh tersebut.

Pencegahan dan Tersedianya fasilitas di Ruang Kurangnya kepedulian Sudah tersedianya Tidak melakukan hand hygine
pengendalian risiko Bougenvil seperti wastafel di perawat/bidan terhadap fasilitas seperti secara optimal dapat memicu
infeksi belum setiap ruangan rawat inap, sosialisasi perlunya washtafel dan terjadinya infeksi nosokomial.
terlaksana secara terdapat cairan berbasis alkohol pengaplikasian 6 langkah cuci handrub disetiap
84

optimal (52,1%) untuk handrub, dan panduan tangan terhadap keluarga ruangan Alas kaki merupakan bagian
cuci tangan sesuai standar yang pasien. dari alat pelindund diri,
berada di atas semua handrub terdapat SPO cuci sehingga apabila alas kaki
dalam bentuk poster. Kurangnya sosialisasi dan tangan 6 langkah dan tdak digunakan dapat
tidak adanya instruksi untuk 5 momen hand meningkatkan risiko cedera,
Tingkat pendidikan tenaga menggunakan alas kaki di hygiene menurut risiko tertusuk jarum atau
kesehatan di ruang Bougenvil ruang perawatan Bougenvil. WHO yamg dapat benda tajam, dan risiko
yang terdiri dari Ners 1 orang, dijadikan sebagai terkena cairan tubuh pasien
S1 keperawatan 1 orang, dan pedoman atau atau hal berbahaya lainnya.
D3 kebidanan 13 orang. panduan.

Tersedianya SPO cuci tangan Adanya dukungan


yang terstandar. dari seluruh pihak,
terutama pihak PPI
RSUD dr. R.Goeteng
Taroenadibrata
terkait dengan
tindakan pencegahan
dan pengendalian
risiko infeksi, yaitu
pelaksanaan cuci
tangan 6 langkah dan
penggunaan alas kaki
.
MPKP (meeting Tersedianya SPO yang Pelaksanaan meeting morning Tersedianya waktu Beban kerja masing-masing
morning, operan terstandar dari RSUD dr. masih sering disamakan untuk pelaksanaan petugas akan menjadi tidak
jaga, pre R.Goeteng Taroenadibrata dengan pelaksanaan operan meeting morning, seimbang apabila pelaksanaan
conference, post jaga. operan jaga, pre koordinasi atau pendelegasian
conference) conference, post tugas kurang optimal.
(47,52%) Kurangnya pengkoordinasian conference
yang sesuai dengan peran dan Pertanggungjawaban terhadap
fungsinya, terutama pada setiap tindakan pada pasien
85

pengkoordinasian katim kelolaan menjadi kurang


kepada PA maksimal, karena seluruh
pasien dikelola secara
Pada saat operan jaga belum bersama (fleksibel)
dilakukan keliling ke ruangan
pasien
Peningkatan Tersedianya pedoman SKP Kurangnya kepedulian pe- Tersedianya pedoman Dapat menimbulkan
komunikasi yang yang berlaku di RSUD dr. R rawat terhadap pentingnya SKP yang berlaku di kesalahan dalam pemberian
efektif belum Goeteng Taroenadibrata pengaplikasian komunikasi RSUD dr. R Goeteng pelayanan apabila
dilakukan secara efektif dalam penerimaan Taroenadibrata yang komunikasi yang efektif tidak
optimal (62,5%) instruksi secara lisan dan dapat dengan mudah dilaksanakan dengan optimal
melalui telepon diterapkan oleh sesuai dengan pedoman SKP
perawat/bidan

Kepatuhan Terhadap Tersedianya tata tertib yang Pemberian informasi kepada Berdasarkan Kepuasan terhadap pelayanan
Tata Tertib (54%) berlaku untuk pengunjung di pasien dan pengunjung pedoman hak dan rumah sakit dapat menurun
RSUD dr. R Goeteng mengenai tata tertib masih kewajiban pasien apabila hak nya sebagai
Taroenadibrata Purbalingga belum maksimal. RSUD dr. R Goeteng pasien tidak diberikan dengan
Taroenadibrata sebaik-baiknya
Terdapat stiker atau poster Purbalingga,
mengenai tata tertib, namun pemberian informasi Tidak patuhnya pengunjung
belum dipahami dan dipatuhi mengenai tata tertib terhadap tata tertib juga dapat
oleh pengunjung. merupakan salah satu menyebabkan petugas kurang
hak yang harus optimal dalam menjaga
Belum tersedianya kursi di diperoleh pasien. keamanan pasien.
depan ruangan untuk Selain itu, pasien juga
pengunjung berhak atas keamanan
dan keselamatan
selama berada di
RSUD dr. R Goeteng
Taroenadibrata
Purbalingga.
86

RENCANA PELAKSANA (POA)

No Masalah Pokok kegiatan Waktu Tujuan Target Sasaran Tempat PJ


pelaksa
naan
1. Pengurangan Setelah dilakukan intervensi
risiko jatuh selama 7 hari diharapkan
terkait terjadi peningkatan upaya
pelayanan pengurangan risiko jatuh
kesehatan masih menjadi 65%, dengan
kurang baik langkah-langkah sebagai
(37,5%) berikut:
09 Meningkatnya Pengajuan surat Penanggung- Ruang Ira Destia
1. Koordinasi dengan Maret pemahaman permohonan untuk jawab Pokja Diklat
penanggungjawab Pokja 2017 perawat/bidan evaluasi ulang SPO
terkait dengan SPO terkait dengan pencegahan risiko
pencegahan risiko jatuh SPO jatuh
yang kurang dapat dipahami pencegahan
dengan mudah risiko jatuh

09 Tercapainya Pengajuan surat Penanggung- Ruang Kiky


Maret persamaan permohonan untuk jawab Pokja Diklat Indriati
2017 persepsi antara pengadaan format
pihak assesment dan
manajemen reassesment risiko
dengan jatuh
2. Koordinasi dengan perawat/bidan
penanggungjawab Pokja terkait dengan
terkait dengan format format
asessment dan reassesment reassesment
risiko jatuh risiko jatuh
87

10 Terciptanya Desain penanda Pihak Ruang Imma


Maret desain penanda risiko jatuh dapat manajemen Diklat Mahmudah
2017 risiko jatuh diterima oleh rumah sakit
yang dapat bagian manajemen
digunakan di rumah sakit
tempat tidur
3. Mengusulkan desain pasien
penanda risiko jatuh di
tempat tidur pasien 11 Perawat/bidan Terciptanya Perawat/bidan Ruang Nia
Maret mengetahui dan persamaan persepsi ruang Bougenvil Claudia
2017 memahami hasil antara perawat/ Bougenvil Bastian
koordinasi bidan mengenai Tito
dengan SPO pencegahan
penanggung- risiko jatuh dan
4. Mensosialisasikan kepada jawab Pokja reassesment pasien
perawat atau bidan terkait tentang SPO risiko jatuh
hasil koordinasi dengan pencegahan
penanggungjawab Pokja risiko jatuh dan
tentang SPO pencegahan reassesment
risiko jatuh dan pasien risiko
reassesment pasien risiko jatuh
jatuh
12 Perawat/bidan Meningkatnya Perawat/bidan Ruang Khuswatun
Maret dapat pemahaman Bougenvil Khasanah
201 mengetahui perawat atau bidan Alamiyah
tentang mengenai
pentingnya pentingnya
assesment risiko assesment dan
5. Mensosialisasikan jatuh dan reasessment risiko
pentingnya assesment dan penatalaksanaan jatuh dan
reasessment risiko jatuh dan -nya penatalaksanaan
penatalaksanaan risiko risiko jatuh
88

jatuh kepada perawat atau 13 Pasien/penungg Tersampaikannya Pasien/ Ruang Murandari


bidan Maret u pasien dapat informasi mengenai penunggu Bougenvil
2017 mengetahui cara cara mengurangi
mengurangi risiko jatuh
risiko jatuh (menjelaskan cara
meliputi cara mengoperasikan
6. Mensosialisasikan kepada mengoperasikan side rail,
pasien mengenai cara side rail, menyarankan
mengurangi risiko jatuh menyarankan kepada keluarga
(menjelaskan cara kepada keluarga untuk membatu
mengoperasikan side rail, untuk membatu mobilisasi pasien)
menyarankan kepada mobilisasi
keluarga untuk membatu pasien)
mobilisasi pasien)
89

2. Pencegahan dan Setelah dilakukan intervensi


pengendalian selama 7 hari diharapkan
risiko infeksi terjadi peningkatan
belum pengendalian dan pencegahan
terlaksana risiko infeksi menjadi 65%,
secara optimal dengan langlah-langkah
(52,1%) sebagai berikut:

1. Koordinasi dengan tim PPI 10 Terciptanya Mendapat Tim PPI RS Ruang Mei Endah
(IPCN) untuk penerapan Maret persamaan dukungan dari Sekretariat Mulyani
pencegahan dan 2017 persepsi pihak PPI dalam PPI
pengendalian infeksi di mengenai menerapkan
rumah sakit komitmen pencegahan dan
penerapan pengendalian
pencegahan dan infeksi di rumah
pengendalian sakit
infeksi di rumah
sakit

2. Sosialisasi hasil koordinasi 11 Perawat/bidan Perawat/bidan di Asri Nur


kepada perawat atau bidan Maret mengetahui Ruang Bougenvil Chasanah
mengenai pencegahan dan 2011 hasil koordinasi dapat lebih
pengendalian risiko infeksi dengan PPI meningkatkan
mengenai komitmen untuk
komitmen menerapkan
penerapan pencegahan dan
pencegahan dan pengendalian
pengendalian infeksi di rumah
infeksi di rumah sakit
sakit
90

3. Sosialisasi pentingnya 13 Perawat/bidan Terciptanya Perawat/bidan Ruang Ira Destia


penggunaan safety box Maret dapat kesadaran Bougenvil
untuk mengurangi risiko 2017 mengetahui perawat/bidan agar
tertusuk jarum pada pentingnya dapat membawa
petugas/pasien/pengunjung penggunaan safety box saat
safety box untuk melakukan
mengurangi tindakan.
risiko tertusuk
jarum pada
petugas/ pasien/
pengunjung

4. Monitoring penerapan 5 14 Mengetahui Tercapainya Perawat/bidan Ruang Mei Endah


moment cuci tangan dan Maret sejauh mana penerapan 5 Bougenvil Mulyani
pemilahan sampah jarum 2017 perawat/bidan momen cuci tangan
serta benda tajam menerapkan 5 dan pemilahan
moment cuci sampah jarum serta
tangan dan benda tajam.
pemilahan
sampah jarum
serta benda
5. Meningkatkan sosialisasi tajam
kepada pasien dan 15 Meningkatkan Pengunjung/ Perawat/bidan Ruang Kiky
pengunjung untuk tidak Maret pengetahuan penunggu pasien Bougenvil Indriati
melepas alas kaki di dalam 2017 penunggu/ menggunakan alas
ruang Bougenvil pengunjung kaki saat memasuki
pasien tentang ruangan Bougenvil.
bahaya apabila
tidak
mengenakan
alas kaki.
91

6. Mengadakan penanda 14 Penunggu/ Terciptanya Pengunjung/ Ruang Imma


himbauan “alas kaki harap Maret pengunjung penanda himbauan penunggu Bougenvil Mahmudah
dipakai” 2017 pasien “alas kaki harap pasien
mengetahui dipakai”
aturan untuk
tidak melepas
alas kaki saat
memasuki
ruangan

7. Menyediakan keset untuk 14 Pengunjung/pen Tersedianya keset Pengunjung/pe Ruang Asri Nur
membersihkan alas kaki Maret unggu pasien untuk nunggu pasien Bougenvil Chasanah
2017 membersihkan membersihkan alas
alas kaki kaki
dengan
menggunakan
keset
92

BAB IV
PELAKSANAAN DAN EVALUASI

A. Pelaksanaan Kegiatan
1. Masalah Pertama: Pencegahan Risiko
Jatuh
Permasalahan pertama yang ada di ruang Bougenvil ialah mengenai
pencegahan risiko jatuh dimana penanganan pada pasien dengan parsial care masih
kurang optimal. Tindak lanjut dari permasalahan ini mulai diupayakan pada tanggal 9-
18 Maret 2017. Tujuan yang diharapkan dari tindak lanjut masalah ini adalah sebagai
berikut:
a. Meningkatnya pemahaman perawat/bidan terkait
dengan SPO pencegahan risiko jatuh
b. Tercapainya persamaan persepsi antar pihak manajemen
dengan perawat/bidan terkait dengan format reassesment risiko jatuh.
c. Terciptanya desain penanda risiko jatuh yang dapat
digunakan di tempat tidur pasien.
d. Perawat/bidan mengetahui hasil koordinasi dengan
penanggung-jawab Pokja tentang SPO pencegahan risiko jatuh dan reassesment
pasien risiko jatuh.
e. Perawat/bidan dapat mengetahui tentang pentingnya
assesment risiko jatuh dan penatalaksanaannya.
f. Pasien/penunggu pasien dapat mengetahui cara
mengurangi risiko jatuh dengan mengetahui bagaimana mengoperasikan side rail,
keluarga mendampingi dan membantu pasien untuk mobilisasi.
Penanggung jawab dari kegiatan tersebut adalah Murandari, Kiky Indriati,
Imma Mahmudah, dan Nia Claudia Bastian Tito. Kegiatan diawali dengan melakukan
observasi yang terdapat dalam format SKP rumah sakit mengenai patient safety. Nilai
terendah didapatkan pada SKP pengurangan risiko jatuh yaitu 37,5%. Beberapa
masalah yang ditemukan dalam hasil observasi adalah tidak tersedianya format
reassement di ruangan, belum tersedianya penanda risiko jatuh pada pasien (stiker
kuning) dan penanda pada bed pasien. Oleh karena itu, mahasiswa manajemen
menyusun target untuk menyelesaikan masalah dan pelaksanaan serta melakukan
evaluasi terkait hasil yang diperoleh (tabel 4.1).
93

Tabel 4.1. hasil pengkajian awal, target dan hasil implementasi tindakan
Kondisi Awal Target Hasil
Pengurangan risiko Pengurangan risiko jatuh Pengurangan risiko
jatuh terkait pelayanan terkait pelayanan kesehatan jatuh terkait
kesehatan masih diharapkan mencapai target pelayanan kesehatan
kurang baik (37,5%). sebagai berikut: didapatkan hasil
sebagai berikut:
a. Perawat/bidan a. Terwujudnya surat a. Koordinasi telah
belum melakukan permohonan untuk dilakukan dengan
identifikasi ulang evaluasi ulang SPO mengajukan surat
pasien risiko jatuh pencegahan risiko jatuh permohonan untuk
a. Perawat/bidan b. Terwujudnya surat evaluasi ulang SPO
tidak menjelaskan permohonan untuk pencegahan risiko
langkah-langkah pengadaan format jatuh.
apa saja yg reassesment risiko jatuh. b. Terwujudnya surat
diterapkan untuk c. Desain penanda risiko permohonan untuk
mengurangi risiko jatuh dapat diterima oleh pengadaan format
jatuh pada pasien bagian manajemen assesment dan
dan keluarga rumah sakit. reassesment risiko
b. Perawat/bidan d. Terciptanya persamaan jatuh.
tidak memasang persepsi antara perawat/ c. Desain penanda
label kuning pada bidan mengenai SPO risiko jatuh diterima
gelang identitas pencegahan risiko jatuh oleh bagian
pasien untuk dan reassesment pasien manajemen rumah
pasien dengan risiko jatuh. sakit.
risiko jatuh e. Tersampaikannya d. Meningkatnya
informasi mengenai pemahaman
pentingnya assesment perawat/ bidan
dan reasessment risiko mengenai SPO
jatuh dan pencegahan risiko
penatalaksanaan risiko jatuh dan
jatuh kepada perawat reassesment pasien
atau bidan. risiko jatuh.
f. Tersampaikannya e. Meningkatnya
informasi mengenai cara pengetahuan
mengurangi risiko jatuh mengenai
(menjelaskan cara pentingnya
mengoperasikan side assesment dan
rail, menyarankan reasessment risiko
kepada keluarga untuk jatuh dan
membatu mobilisasi penatalaksanaan
pasien). risiko jatuh kepada
perawat atau bidan.
f. Meningkatnya
pengetahuan
mengenai cara
94

mengurangi risiko
jatuh pada pasien
(menjelaskan cara
mengoperasikan
side rail,
menyarankan
kepada keluarga
untuk membatu
mobilisasi pasien).

Hasil koordinasi dengan penanggungjawab Pokja SKP, adalah untuk


pengadaan form pengkajian risiko jatuh (assesment dan reassesment) pada pasien
baru masuk rawat inap atau pasien dengan perubahan kondisi. Selain itu, koordinasi
juga dilaksanakan untuk mengajukan permohonan terkait evaluasi SPO pasien dengan
risiko jatuh. Ada pun sosialisasi dilakukan pada perawat/bidan setelah format
pengkajian dan penanda risiko jatuh tersedia untuk menerapkan pengkajian, memberi
edukasi pasien untuk mengurang risiko jatuh, dan pembuatan penanda yang dipasang
di bed pasien. Berikut ini adalah beberapa penyelesaian masalah yang dapat dilakukan
di ruang Bougenvil:
a) Tersedianya form pengkajian risiko jatuh pada pasien baru masuk rawat inap atau
pasien dengan perubahan kondisi di Ruang Bougenvil.
b) Menganjurkan seluruh perawat/bidan untuk melakukan reassessment risiko jatuh
ketika baru masuk ke ruangan dan ketika pasien mengalami perubahan kondisi.
c) Menganjurkan kepala ruang dan perawat/bidan untuk bekerja sama dalam
menerapkan pengkajian risiko jatuh pada pasien baru masuk rawat inap atau
pasien dengan perubahan kondisi.
d) Memberikan penanda risiko jatuh pada pasien dengan kriteria risiko jatuh sedang
dan tinggi.
e) Mensosialisasikan pencegahan risiko jatuh yang dapat dilakukan oleh keluarga
pasien seperti cara mengoperasikan side rail dan menyarankan kepada keluarga
untuk membatu mobilisasi pasien.
Hasil yang dicapai dari kegiatan ini adalah pengadaan format pengkajian awal
dan ulang risiko jatuh pada pasien baru masuk rawat inap atau pasien dengan
perubahan kondisi. Selain itu, pembuatan penanda risiko jatuh yang telah terlaksana
dengan baik. Sedangkan evaluasi proses selama pelaksanaan kegiatan ini adalah
pelaksanaan role model telah dilakukan oleh tim manajemen dan telah
95

disosialisasikan ke perawat/bidan mengenai pengisian form pengkajian ulang pasien


risiko jatuh.
Pelaksanaan kegiatan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor pendukung dan
faktor penghambat, diantaranya adalah:
1) Faktor pendukung
a) Dukungan dari tim menejemen Rumah Sakit dan Pokja SKP.
b) Dukungan dari kepala ruang dan ketua tim untuk mendelegasikan tugas pada
perawat assosiet untuk setiap pasien baru masuk rawat inap atau pasien dengan
perubahan kondisi untuk melakukan pengkajian risiko jatuh.
c) Kerjasama antara mahasiswa dengan kepala ruang dan ketua tim dalam
mengidentifikasi dengan memberikan skoring dari hasil pengkajian risiko
jatuh.
d) Kepala ruang memberikan informasi tentang pengkajian risiko jatuh pada
pasien post operasi kepada perawat ruangan maupun mahasiswa praktek
dimana setiap pasien post operasi diharapkan untuk melakukan pengkajian
risiko jatuh.
e) Standar akreditasi yang mengharuskan tercapainya enam sasaran keselamatan
pasien yang salah satunya adalah pengurangan risiko jatuh pada setiap pasien.
2) Faktor penghambat
a) Kurangnya kesadaran perawat/bidan tentang perlunya dilaksanakannya
pengkajian pasien risiko jatuh pada pasien baru, pasien baru masuk rawat inap
atau pasien dengan perubahan kondisi..
b) Belum dibiasakannya penggunaan penandaan pasien risiko jatuh pada bed
pasien.
Beberapa saran yang bisa diberikan untuk menyelesaikan masalah terkait pengurangan
risiko jatuh adalah sebagai berikut:
a. Perawat/bidan dapat melakukan pengkajian kepada pasien baru masuk, post operasi
atau pasien dengan perubahan kondisi meggunakan form pengkajian risiko jatuh.
b. Perlu adanya kesadaran perawat/bidan untuk memberikan penanda pasien risiko
jatuh yang diletakan di bed.
c. Perlu adanya kesadaran perawat/bidan untuk memberikan penanda gelang kuning
pada pasien yang disediakan di masing-masing ruang perawatan.
2. Masalah kedua: Pencegahan dan pengendalian risiko infeksi belum
terlaksana secara optimal.
96

Topik pada masalah kedua di ruang Bougenvil adalah tentang pencegahan dan
pengendalian risiko infeksi belum terlaksana secara optimal. Kegiatan ini dilaksanakan
pada tanggal 10-14 Maret 2017 di Ruang Bougenvil RSUD dr. R. Goeteng
Taroenadibrata Purbalingga. Penanggung jawab terhadap penyelesaian masalah kedua
ini adalah Mei Endah Mulyani, Asri Nur Chasanah, Ira Destia dan Khuswatun
Khasanah Alamiyah. Tujuan dilakukannya penyelesaian masalah kedua adalah sebagai
berikut:
1. Terciptanya persamaan persepsi mengenai komitmen penerapan pencegahan dan
pengendalian infeksi di rumah sakit
2. Perawat/bidan mengetahui hasil koordinasi dengan PPI mengenai komitmen
penerapan pencegahan dan pengendalian infeksi di rumah sakit
3. Perawat/bidan dapat mengetahui pentingnya penggunaan safety box untuk
mengurangi risiko tertusuk jarum pada petugas/pasien/pengunjung
4. Mengetahui sejauh mana perawat/bidan menerapkan 5 momen cuci tangan dan
pemilahan sampah jarum serta benda tajam
5. Meningkatkan pengetahuan penunggu/ pengunjung pasien tentang bahaya apabila
tidak mengenakan alas kaki
6. Penunggu/pengunjung pasien mengetahui aturan untuk tidak melepas alas kaki saat
memasuki ruangan
Kegiatan penyelesaian masalah ini di awali dengan melakukan pengkajian
tentang masalah yang ada di ruang Bougenvil terkait dengan pengurangan risiko
infeksi. Dari hasil pengkajian tersebut diperoleh beberapa keadaan. Adanya kondisi-
kondisi yang telah di temukan, kemudian disusunlah target untuk menyelesaikan
masalah tersebut. Setelah target di susun maka kegiatan yang dilakukan selanjutnya
adalah melakukan implementasi sejak tanggal 10-14 Maret 2017 dan melakukan
evaluasi terkait hasil yang diperoleh (tabel 4.2)
Tabel 4.2. hasil pengkajian awal, target, dan hasil implementasi tindakan
Kondisi awal Target Hasil
Cuci tangan higienis (hands wash) Mendapat dukungan Mendapatkan dukungan dari
dan alternatif (handsrub) belum dari pihak PPI dalam pihak PPI dalam menerapkan
sesuai SPO (41,7%) menerapkan pencegahan dan pengendalian
pencegahan dan infeksi di rumah sakit
- Perawat/bidan tidak melepas pengendalian infeksi
aksesoris yang ada di tangan di rumah sakit - Beberapa perawat/bidan di
- Perawat/bidan tidak membasahi ruang Bougenvil telah
tangan setinggi pertengahan - Perawat/bidan di melaksanakan 5 momen dan
97

lengan bawah dengan air Ruang Bougenvil 6 langkah cuci


mengalir dapat lebih tangan/handrub, salah
- Perawat/bidan tidak mencuci meningkatkan satunya pada saat sebelum
tangan sesuai dengan 6 langkah komitmen untuk kontak dengan pasien
- Perawat/bidan tidak menerapkan - Sosialisasi tentang cuci
menerapkan 5 momen terutama pencegahan dan tangan pada pasien telah
momen sebelum kontak dengan pengendalian terlaksana di setiap ruang
pasien infeksi di rumah dengan cukup baik
- Perawat/bidan tidak sakit
menggunakan handuk atau
tissue untuk mematikan kran air - Terciptanya
- Penanganan limbah benda kesadaran - Beberapa perawat/bidan
tajam dan pecahan kaca belum perawat/bidan agar telah membawa safety box
optimal (62,5%) dapat membawa pada setiap tindakan
- Kontainer benda tajam tidak safety box saat - Perawat/bidan telah
dibawa ketika tindakan dan melakukan memilah sampah jarum
tidak diletakkan dekat lokasi tindakan serta benda tajam dengan
tindakan - Tercapainya meletakkannya di safety
- Perawat/bidan masih penerapan 5 box
menyarungkan kembali jarum momen cuci - Telah terpasangnya tanda
suntik habis pakai tangan dan yang berisi himbauan untuk
- Pengunjung tidak menggunakan pemilahan sampah menggunakan alas kaki
alas kaki jarum serta benda - Beberapa
tajam pengunjung/penunggu
- Pengunjung/ pasien telah menggunakan
penunggu pasien alas kaki saat memasuki
menggunakan alas ruang Bougenvil
kaki saat - Telah disediakan keset
memasuki ruangan didepan pintu masuk ruang
Bougenvi Bougenvil untuk
- Terpasangnya membersihkan alas kaki
penanda yang
berisi himbauan
“alas kaki harap
dipakai”
- Tersedianya keset
untuk
membersihkan alas
kaki

Pelaksanaan kegiatan untuk pencegahan dan pengendalian risiko infeksi


dilakukan dengan mensosialisasikan 5 moment dan 6 langkah cuci tangan kepada
perawat/bidan, serta menjadi role model dalam pelaksanaan cuci tangan 6 langkah dan
penerapan 5 moment. Selain itu, dilakukan sosialisasi dan demonstrasi cuci tangan 6
langkah kepada pasien dan keluarga pasien dengan menggunakan media leaflet.
Anjuran penggunaan alas kaki kepada penunggu dan pengunjung pasien juga
98

merupakan upaya untuk pencegahan dan pengendalian risiko infeksi. Hal tersebut
dilakukan dengan mensosialisasikan dan memasang tanda yang berisi himbauan
penggunaan alas kaki serta menyediakan keset untuk membersihkan alas kaki.
Pembuatan desain leaflet 6 langkah cuci tangan dan tanda himbauan penggunaan alas
kaki ini dilakukan oleh Mei Endah Mulyani, Imma Mahmudah dan Khuswatun
Khasanah Alamiah. Selanjutnya, leaflet di cetak dan di perbanyak serta dibagikan
kepada pasien dan keluarga pasien, sedangkan tanda himbauan penggunaan alas kaki
dicetak menggunakan bahan akrilik dan ditempel di depan ruangan Bougenvil.
Sosialisasi ini dilakukan selama 1 minggu pada saat meeting morning, timbang
terima/operan jaga dan pada saat ada pasien baru dengan cara menganjurkan perawat
dan petugas lainnya, serta pasien dan keluarga untuk selalu cuci tangan. Sosialisasi ini
di pimpin oleh mahasiswa yang sedang berperan sebagai kepala ruang.
Hasil-hasil kegiatan yang telah dilakukan oleh mahasiswa profesi ners stase
manajemen kemudian dievaluasi. Evaluasi yang didapat berdasarkan planing of action
yang telah dirancang adalah sebagian besar target telah tercapai dengan baik.
Evaluasi kegiatan selama proses implementasi kegiatan diantaranya adalah
penerapan cuci tangan yang belum terlaksana 100% di Ruang Bougenvil. Hal ini terjadi
karena kurangnya motivasi petugas kesehatan untuk cuci tangan sebelum bertemu
dengan pasien. Selain itu, selama proses pembuatan tanda himbauan penggunaan alas
kaki juga masih ditemui kendala-kendala karena pembuatan tanda dengan akrilik
membutuhkan waktu yang cukup lama. Berdasarkan POA yang telah disusun sekitar
75% telah terlaksana dengan baik.
Penerapan dan penyelesaian masalah di Ruang Bougenvil ini masih sering ditemui
adanya faktor-faktor yang mempengaruhi tercapainya target tersebut. Faktor tersebut
terdiri dari faktor pendukung dan penghambat diantaranya:
1) Faktor pendukung
a) Dukungan dari kepala ruang dan ketua tim ruang Bougenvil untuk melakukan
sosialisasi tentang pencegahan infeksi dengan cara hand wash/handrub
berdasarkan 5 moment dan 6 langkah cuci tangan
b) Telah tersedianya fasilitas handrub dan washtafel di setiap kamar pasien dan
ruang perawat/bidan
c) Dukungan dari PPI untuk melakukan kegiatan terkait pencegahan dan
pengendalian risiko infeksi dengan penerapan 5 moment dan 6 langkah cuci
tangan serta penggunaan alas kaki
99

2) Faktor penghambat
a) Kurangnya motivasi perawat/bidan dalam melakukan hand hygiene pada 5
moment cuci tangan terutama sebelum kontak dengan pasien
b) Kurangnya pengetahuan dan pemahaman pasien dan keluarga pasien mengenai
pentingnya cuci tangan dengan 6 langkah sebelum dan sesudah kontak dengan
pasien dan lingkungan pasien.
c) Belum tersedianya sabun dan tisu di wastafel pada setiap kamar pasien.
d) Belum adanya himbauan untuk menggunakan alas kaki saat memasuki ruang
Bougenvil
Berdasarkan masalah-masalah tersebut, saran yang bisa diberikan untuk
menyelesaikan masalah pencegahan dan pengendalian risiko infeksi ini diantaranya
adalah:
e. Perlu adanya peraturan khusus yang dibuat oleh
ruangan untuk mewajibkan tenaga kesehatan melakukan 6 langkah cuci tangan
berdasarkan five moment
f. Perlu adanya sosialisasi atau praktik bersama-sama
tentang cuci tangan saat meeting morning sebagai salah satu upaya untuk mencegah
infeksi sebelum kontak dengan pasien
g. Perlu adanya sosialisasi kepada pasien baru dan
keluarga mengenai pentingnya cuci tangan dan cara cuci tangan yang benar
berdasarkan 6 langkah cuci tangan.
h. Perlu adanya himbauan dan sosialisasi mengenai
penggunaan alas kaki di ruang Bougenvil kepada penunggu/pengunjung pasien.
100

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil identifikasi masalah dan prioritas masalah yang dapat dilakukan
implementasi sesuai Plan Of Action (POA), didapatkan hasil:
a. Prioritas masalah pertama ialah mengenai pencegahan dan pengendalian risiko jatuh
di ruang Bougenvil yang masih kurang baik. Kegiatan yang telah dilakukan untuk
memperbaiki hal tersebut ialah dengan melakukan koordinasi pada bagian Pokja
SKP untuk pengadaan form pengkajian risiko jatuh (assesment dan reassesment)
pada pasien baru masuk rawat inap atau pasien dengan perubahan kondisi. Selain itu,
koordinasi juga dilaksanakan untuk mengajukan permohonan terkait evaluasi SPO
pasien dengan risiko jatuh. Ada pun sosialisasi dilakukan pada perawat/bidan setelah
format pengkajian dan penanda risiko jatuh tersedia untuk menerapkan pengkajian,
memberi edukasi pasien untuk mengurang risiko jatuh, dan pembuatan penanda
yang dipasang di bed pasien. Evaluasi pelaksanaan kegiatan yang dilakukan belum
terlaksana 100% dikarenakan kurangnya kesadaran perawat/bidan tentang perlunya
pengkajian pasien risiko jatuh pada pasien baru, pasien baru masuk rawat inap atau
pasien dengan perubahan kondisi serta belum dibiasakannya penggunaan penandaan
pasien risiko jatuh pada bed pasien.
b. Prioritas masalah kedua ialah mengenai pencegahan dan pengendalian risiko infeksi
di ruang Bougenvil yang belum terlaksana secara optimal. Kegiatan yang telah
dilakukan untuk memperbaiki hal tersebut ialah dengan mensosialisasikan 5 moment
dan 6 langkah cuci tangan kepada perawat/bidan, serta menjadi role model dalam
pelaksanaan cuci tangan 6 langkah dan penerapan 5 moment. Selain itu, dilakukan
sosialisasi dan demonstrasi cuci tangan 6 langkah kepada pasien dan keluarga pasien
dengan menggunakan media leaflet. Anjuran penggunaan alas kaki kepada
penunggu dan pengunjung pasien juga merupakan salah satu upaya untuk
pencegahan dan pengendalian risiko infeksi. Hal tersebut dilakukan dengan
mensosialisasikan dan memasang tanda yang berisi himbauan penggunaan alas kaki
serta menyediakan keset untuk membersihkan alas kaki. Evaluasi kegiatan selama
proses implementasi penerapan cuci tangan belum terlaksana 100% (hanya 75%).
101

Hal ini terjadi karena kurangnya motivasi petugas kesehatan untuk cuci tangan
sebelum bertemu dengan pasien. Selain itu, selama proses pembuatan tanda
himbauan penggunaan alas kaki juga masih ditemui kendala-kendala karena
pembuatan tanda dengan akrilik membutuhkan waktu yang cukup lama.

B. SARAN

1. Perawat perlu menerapkan pengkajian risiko jatuh pada saat pre operasi (saat
pasien baru masuk ruang perawatan) dan post operasi. Selain itu, perawat juga
harus memberi edukasi pada penunggu pasien bagaimana cara mengoperasikan
side rail serta menganjurkan keluarga untuk mendampingi dan membantu
mobilisasi pasien. Perawat juga harus membiasakan diri memasang tanda risiko
jatuh di bed pasien dengan risiko jatuh.
2. Pihak rumah sakit perlu mensosialisasikan mengenai pentingnya melakukan 6
langkah cuci tangan serta penerapan 5 momen cuci tangan khususnya sebelum dan
setelah kontak dengan lingkungan pasien, khususnya pada keluarga maupun
pengunjung. Tenaga kesehatan juga perlu meningkatkan penerapan 5 momen cuci
tangan. Selain itu, perlu juga dilakukan sosialisasi untuk menggunakan alas kaki
ketika memasuki ruangan di rumah sakit dan penggunaan keset untuk
membersihkan alas kaki sebelum memasuki ruang rawat inap.
102

DAFTAR PUSTAKA

Budihardjo, A. (2014). Organisasi Menuju Pencapaian Optimum. Jakarta : Prasetiya Mulya


Publishing.
Hartatik, I. P. (2014). Buku Praktis Mengembangkan SDM. Yogyakarta: Laksana.
Imbalo S. (2006). Jaminan Mutu Layanan Kesehatan : Dasar-Dasar Pengertian Dan
Penerapan. Jakarta : EGC.
Kaswan. (2012). Manajemen Sumber Daya Manusia untuk Keunggulan Bersaing Organisasi.
Yogyakarta : Graha Ilmu.
Nursalam, (2014). Manajemen Keperawatan : Aplikasi dalam Praktik Keperawatan
Profesional. (Edisi 4). Jakarta : Salemba Medika.
Sailendra, A. (2015). Langkah-langkah raktis Membuat SOP. Yogyakarta: Trans Idea
Publishing.
Wibowo. (2010). Manajemen Kinerja. (Edisi 3). Jakarta : Rajawali.
103

LAMPIRAN KEGIATAN

1. Pelaksanaan cuci tangan


Hasil observasi
No Variabel yang dinilai Observasi
Prosedur Ya Tidak
1 Lepas aksesoris yang ada di tangan √
2 Basahi tangan setinggi pertengahan lengan bawah dengan air √
mengalir
3 Tuang sabun di bagian telapak tangan untuk menyabuni √
seluruh permukaan tangan
4 Gosok tangan dengan posisi telapak pada telapak √
5 Telapak kanan di atas punggung kiri dengan jari-jari salaing √
menjalin dan sebaliknya
6 Telapak pada telapak dan jari-jari saling menjalin √
7 Punggung jari-jari pada telapak yang berlawanan dengan jari- √
jari saling mengunci
8 Gosok memutar dengan ibu jari kiri tangan kanan mengunci √
pada telapak kiri dan sebaliknya
9 Gosok memutar, ke arah belakang dan ke depan dengan jari- √
jari tangan kanan mengunci pada telapak kiri dan sebaliknya
10 Bilas tangan dengan air mengalir √
11 Keringkan tangan sekering mungkin dengan handuk kering √
atau tissue
12 Gunakan handuk atau tissue untuk mematikan kran air √
Jumlah 5 7

Perhitungan = total skor x 100 %


n item
= _5_ x 100 %
12
= 41,7 %

Setelah intervensi
No Variabel yang dinilai Observasi
Prosedur Ya Tidak
1 Lepas aksesoris yang ada di tangan 9
2 Basahi tangan setinggi pertengahan lengan bawah dengan air 9
mengalir
3 Tuang sabun di bagian telapak tangan untuk menyabuni 9
seluruh permukaan tangan
4 Gosok tangan dengan posisi telapak pada telapak 9
5 Telapak kanan di atas punggung kiri dengan jari-jari salaing 9
menjalin dan sebaliknya
6 Telapak pada telapak dan jari-jari saling menjalin 9
7 Punggung jari-jari pada telapak yang berlawanan dengan jari- 9
jari saling mengunci
8 Gosok memutar dengan ibu jari kiri tangan kanan mengunci 9
104

pada telapak kiri dan sebaliknya


9 Gosok memutar, ke arah belakang dan ke depan dengan jari- 9
jari tangan kanan mengunci pada telapak kiri dan sebaliknya
10 Bilas tangan dengan air mengalir 9
11 Keringkan tangan sekering mungkin dengan handuk kering 9
atau tissue
12 Gunakan handuk atau tissue untuk mematikan kran air 9
Jumlah 81 27

Perhitungan = total skor x 100 %


n item
= _81_ x 100 %
108
= 75 %
2. Hasil observasi risiko jatuh
Sebelum dilakukan intervensi
Pengurangan risiko pasien jatuh berdasarkan SKP di
RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga
a. Rumah sakit menerapkan proses asesmen awal atas 4 2
pasien terhadap risiko jatuh
b. Langkah-langkah diterapkan untuk mengurangi risiko 3 3
jatuh bagi mereka
c. Melakukan reassesment pasien terhadap risiko jatuh 0 6
d. Melakukan tindakan pencegahan pasien jatuh sesuai 2 4
scoring yang sudah ditentukan
Jumlah 37,5%

Perhitungan = total skor x 100 %


n item
= _8_ x 100 %
16
= 37,5 %

Setelah dilakukan intervensi


Pengurangan risiko pasien jatuh berdasarkan SKP di
RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga
e. Rumah sakit menerapkan proses asesmen awal atas 3 3
pasien terhadap risiko jatuh
f. Langkah-langkah diterapkan untuk mengurangi risiko 3 3
jatuh bagi mereka
g. Melakukan reassesment pasien terhadap risiko jatuh 2 4
h. Melakukan tindakan pencegahan pasien jatuh sesuai 3 3
scoring yang sudah ditentukan
Jumlah 68,75%
105

Perhitungan = total skor x 100 %


n item
= 11_ x 100 %
16
= 68,75 %

Lampiran Foto BAB IV

Masalah pertama: Pencegahan resiko jatuh

Tanda Resiko Jatuh di Bed Side Rail terpasang Side Rail tidak terpasang
Pasien

Masalah kedua: Pencegahan dan pengendalian risiko infeksi belum terlaksana secara optimal

Tanda penggunaan alas kaki Tanda anak <12 tahun Pengadaan keset
dilarang masuk