Anda di halaman 1dari 9

LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

RUMAH SAKIT BHAYANGKARA

NOTA DINAS
Nomor : B/ND- /I/Jangmedum /2019/RS

Dari : Ka Subbid Jangmedum

Perihal : Laporan Evaluasi Instalasi Farmasi RS Bhayangkara


Lemdiklat Tahun 2018

1. Rujukan
a. Renja Rumkit Bhayangkara Lemdiklat Polri Tahun 2019.
b. Rengiat Subbid Jangmedum Rumkit Bhayangkara Lemdiklat Polri Tahun 2019
2. Sehubungan dengan rujukan tersebut diatas, bersama ini kami sampaikan kepada Ka,
Laporan evaluasi Instalasi Farmasi Rumkit Bhayangkara Lemdiklat Polr Tahun 2019
3. Demikian untuk menjadi periksa.

Jakarta, Januari 2019


KASUBBID JANGMEDUM
KAUR JANGMED

Nur Syamsu Al Firdaus, A.Md.S.Sos


AKP NRP.77060260
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
RUMAH SAKIT BHAYANGKARA

LAPORAN EVALUASI PELAYANAN DI INSTALASI FARMASI


RS BHAYANGKARA LEMDIKLAT POLRI
TAHUN 2018

1. Dasar
a. Program Kerja Rumah Sakit Bhayangkara Lemdiklat Polri Jakarta Tahun 2019.
b. Program Kerja Instalasi Farmasi RS Bhayangkara Lemdiklat Polri Jakarta Tahun
2019.

2. Waktu
a. Waktu pelaksanaan evaluasi Instalasi Farmasi Rumah Sakit Bhayangkara Lemdiklat
Polri Tahun 2018 dilaksanakan dari tanggal 31 Januari 2019.
b. Data yang diambil di Instalasi Farmasi yang dievaluasi dari bulan Januari s/d Januari
s/d Desember 2018.

3. Tujuan dan Sasaran


a. Tujuan
Tujuannya adalah untuk mengetahui perbandingan jumlah resep, jumlah KNC di
Farmasi, jumlah SDM, dan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang belum
maksimal di Tahun 2018.
Maksudnya adalah selain mengetahui perbandingan jumlah resep, juga melihat
kendala apa saja yang ditemukan dilapangan dalam memberikan pelayanan terhadap
pasien sehingga akan dicarikan solusinya serta pengawasan pelaksanaan SOP di
lapangan.
b. Sasaran
Sasarannya adalah pelayanan kefarmasian kepada pasien rawat jalan dan pasien rawat
inap di Rumah Sakit Bhayangkara Lemdiklat Polri

4. Temuan Hasil Evaluasi


Dari hasil data jumlah resep di Instalasi Farmasi Rumkit Bhayangkara Rumah Sakit
Bhayangkara Lemdiklat Polri dari bulan Januari s/d Desember 2018.
a. DATA JUMLAH RESEP di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Bhayangkara Lemdiklat
Polri
Tahun
No Uraian
2018
1 BPJS 65288
2 Racikan 10140
3 Umum 21220
4 OK 836
5 ICU 20
6 Sudin 172
JUMLAH 97676

b. LAPORAN EVALUASI KESALAHAN TENTANG PENULISAN RESEP di IFRS.

Tahun
No Uraian
2018
1 salah tulis jumlah obat 2
2 salah tulis nama pasien 5
3 resep tidak ada identitasnya 6
4 resep tidak ada nama dokter 2
5 salah tulis dosis obat 25
6 resep tidak ada aturan pakainya 13
7 tulisan resep tidak terbaca 10
8 salah tulis aturan pakai obat 12
9 double penulisan nama obat 5
10 salah tulis nama obat 25
11 salah tulis bentuk sediaan obat 10
12 salah tulis identitas pasien 2
JUMLAH 117
c. JUMLAH SUMBER DAYA MANUSIA/ SDM di IFRS.

Profesi Bidang Jumlah Ket


Apoteker Ka Instalasi 1 orang
Pelayanan Rawat Jalan 1 orang
Pelayanan Rawat Inap 1 orang
Total 3 orang

TTK Pelayanan Rawat Jalan 7 orang 3 shiff


Pengelolaan Gudang Obat 2 orang
Total 9 orang
Adm Pelayanan Rawat Jalan 2 orang
Pengelolaan Gudang Obat 1 orang
Total 3 orang
Total Seluruh 29 orang

d. SARANA DAN PRASARANA di IFRS.

Sarana dan Prasarana Keterangan


Tempat Ruang apotek belum memenuhi syarat/standar sesuai
aturan yang berlaku, ruang untuk meracik obat di apotek
belum terpisah secara tepat, serta ruang
konsultasi/konseling apoteker tidak ada (padahal sesuai
aturan yang berlaku itu WAJIB).
Aturan :
a) PMK No 72 tahun 2016 tentang standar
pelayanan kefarmasian di rumah sakit
a) PMK No 73 tahun 2016 tentang standar
pelayanan kefarmasian di apotek.

Komputer a) Komputer untuk input data pelayanan rawat jalan


dan pasien umum masih krodit/menumpuk sementara
saat ini hanya ada 1 komputer yang beroperasi
b) Tidak ada SDM untuk menginput data, saat ini hanya
ada satu orang

Alat Racik a) Alat racik blender obat sudah waktunya diganti


b) Alat racik mortir dan stemper sudah tidak layak
(potong, rusak).

e. IMPLEMENTASI STANDART OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) Di Instalasi


Farmasi RS Bhayangkara Lemdiklat Polri.

No SOP yang belum optimal Alasan


1 Pelayanan Obat Emergency Di IGD Karena belum ada Farmasi satelit di
IGD
2 Pemusnahan sediaan farmasi dan Belum pernah ada Berita Acara
Alkes yang rusak dan kadaluarsa Pemusnahan sediaan farmasi dan Alkes.
3 Penyiapan Dispensing sediaan steril Belum ada SARANA DAN
PRASARANA khusus untuk dispensing
sediaan steril (Laminar Air Flow)
4 Pelayanan Obat Emergency Di Supervisi oleh apoteker bagian farmasi
Ruang Rawat Inap/Poliklinik klinis tapi masih kurang SDMnya.
5 Penarikan dan penyimpanan sediaan Sediaan Farmasi dan Alkes yang ED
farmasi dan Alkes yang kadaluarsa minimal 3 bulan sebelum masa ED
terlewati dan harus dalam keadaan
tersegel (Segel tidak rusak).
Sedangkan yang sudah tidak bersegel
tidak bisa diretur kembali.
6 Pengisian formulir monitoring obat Tidak terdapat SDM untuk
baru melakukannya.
7 Supervisi Pelayanan Farmasi Di SDM Apoteker kurang, shg dilakukan
Ruangan oleh apoteker klinis.
8 Penggantian Obat Emergency yang Perawat diruangan tidak mau
rusak atau ED melaporkan apa saja yang telah
digunakan kepada IFRS.
9 Pelayanan Obat di IGD Belum optimal
10 Pemberian obat dari Farmasi Ke Diambil oleh POS ruangan/ keluarga
Ruang Rawat Inap pasienSOP sudah ada
11 Pengambilan Obat Rawat Inap oleh Sdh ada bbrp obat ranap yang di ambil
Pendamping Orang Sakit (POS) oleh POS ruangan. (SOP belum ada)
Ruangan.
12 Pengambilan obat oleh keluarga Ada . belum ada
untuk pasien rawat inap
13 Resep-resep yang CITO/Darurat Ada, perlu di dahulukan dibanding
resep obat lainnya. SOP sudah ada
14 Retur Obat untuk pasien rawat inap Ada sudah ada SOPnya
ke IFRS

f. OBAT-OBATAN YANG KOSONG/ TIDAK ADA di IFRS.


Disebabkan karena :
1) Kosong dari industri farmasi/distributor
2) Dipending (tidak ada pembayaran karena telah jatuh tempo pembayaran tanggal faktur)
3) Obat tersebut sudah habis digudang obat/apotek, tetapi belum dipesankan
4) Obat tersebut sudah dipesankan, tetapi menunggu proses e-purchasing atau proses
pengiriman dari Pedagang Besar Farmasi (PBF) tersebut belum datang.
5) Obat yang diresepkan dokter diluar formularium nasional dan formularium rumah sakit
(dokter tidak patuh terhadap formularium) adalah tanggung jawab Tim Panitia Farmasi dan
Terapi

g. GUDANG OBAT.
Sarana dan prasarana Keterangan
Tempat / lokasi gudang Terlalu jauh dengan apotek/ IFRS, sehingga
menyebabkan tidak efisiensi terhadap waktu
dan tenaga dalam pengambilan obat.
Sarana peralatan angkut Trolley / alat angkut buat obat/ alkes gudang
sangat minim, Cuma ada 1 troley buat angkut
ke apotek.
SDM Jumlah SDM /asisten yang di gudang hanya 1
orang, sehingga pelayanan tidak maksimal.

h. FARMASI KLINIS.
a) Jumlah SDM / apoteker klinis Cuma ada 1 orang.
b) Aturan dari PMK no.72 tahun 2016 :
1 apoteker klinis  melayani 30 bed pasien ranap.
1 apoteker pelayanan  melayani 50 pasien rajal.
c) Di RS Bhayangkara Lemdiklat Polri jumlah bed/ tempat tidur 98 tempat tidur,
cuma di pegang oleh 1 orang Apoteker Klinis. Dimana seharusnya harus ada
apoteker klinis. (98 : 30 = 3).

i. PERMINTAAN / KETERSEDIAAN OBAT & ALKES di IGD.


Untuk saat ini ketersediaan obat dan alkes di IGD belum maksimal, karena :
1. Di rumah sakit kita belum ada Depo Obat khusus di IGD ( ruangan belum ada), yang
ada cuma Troley Emergency Kit.
2. SDM belum ada.
( minimal harus ada apoteker penanggung jawab dan asisten apoteker /TTK yang jaga
di DEPO selama 24 jam/ 3 shiff).
3. Obat- obatan dari IGD yang CITO, selama ini masih pinjam dulu ke IFRS/ apotek
akibatnya administrasi di apotek menjadi tidak jelas ( karena ada yang tidak
teresepkan/ belum tertulis dalam resep oleh pihak IGD).

j. PETUGAS/ KURIR dan KENDARAAN buat pengantar/ beli obat di IFRS.


a) Tidak adanya petugas khusus/ kurir yang mengantar obat buat pejabat2 di polda
atau buat beli obat keluar dari IFRS kita.
b) Saat ini bila ada permintaan ada obat yang harus di antar ke polda buat PJU
/pejabat utama polda masih meminta bantuan driver ambulance ( sore/ malam),
apabila masih dalam jam dinas maka di antar oleh staff farmasi yang dinas pada
saat itu.
c) Kendaraan khusus buat antar obat di IFRS saat ini juga belum ada, masih
menggunakan kendaraan pribadi staff apotek.

5 KESIMPULAN
a) Jumlah resep di IFRS di tahun 2018 sebesar 97.676 pasien
b) Jumlah pasien BPJS di tahun 2018 sebesar 65.288 pasien
c) Jumlah pasien umum sebagian besar berasal dari BPJS.
d) Di lihat dari keluhan yang masuk di bagian farmasi, yang banyak keluhan berasal
dari pasien/ keluarga pasien maupun keluhan dari internal di tahun 2018 yang
masuk diantaranya :
1) Masih lamanya waktu menunggu obat, di karenakan jumlah resep yang
semakin banyak dan semua resep rajal dan ranap semuanya masih
menyatu di farmasi. Seharusnya apotek bisa di pisah antara apotek rawat
jalan dan apotek rawat inap.
2) Masih banyaknya kesalahan dalam penulisan resep oleh dokter, sehingga
banyak waktu yang diperlukan buat konsul ke dokter DPJP karena
penulisan resep yang tidak jelas, tidak ada aturan pakai obat, dll.
3) Jumlah Sumber Daya Manusia masih kurang ( tenaga Apoteker 3 orang
dan TTK/asisten apoteker 9 org), sehingga pelayanan belum bisa
maksimal.
4) Sarana dan prasarana belum memadai, baik tempat pelayanan maupun
komputer masih kurang. Antara bagian harga ama input resep rajal masih
di input oleh 1 orang dan 1 komputer, seharusnya minimal 2 komputer
dan 2 petugas supaya pelayanan lebih cepat.
5) Masih banyaknya obat yang kosong ( kosong dari distribusornya, faktur di
pending, masih proses e-purchasing dan kosong dari gudang tapi belum di
pesankan) sehingga pelayanan resep obat belum maksimal.
6) Jarak antara gudang dengan apotek terlalu jauh, sehingga tidak effisein
waktu dan tenaga.Sehingga lama dalam menyiapkan obat menjadi lama.
7) Obat- obatan di IGD terutama obat-obatan yang emergency banyak tidak
tersedia, karena belum ada Depo khusus buat obat di IGDnya.
8) Belum adanya petugas khusus / kurir buat beli obat dan antar obat belum
ada.

6 TINDAK LANJUT dan SARAN

a) Perlu penambahan tenaga TTK dan apoteker , karena jumlah resep perbulan rata2
500 lembar. Dengan jumlah tenaga TTK 9 orang mengakibatkan tenaga dah
capek dan terprosir.
b) Perlu adanya billing penulisan resep secara komputerisasi, sehingga menghindari
dan bisa mengurangi kesalahan dalam penulisan resep.
c) Sarana dan prasarana komputer, trolley obat, alat racik perlu pengantian karena
peralatan racik sudah pada rusak.
d) Perlu adanya sosialisasi dan penerapan pelaksanaan SOP dalam tiap giat
pelayanan kefarmasian.
e) Perencanaan dalam pembelian obat sudah dilakukan maksimal tapi masih terjadi
kekosongan obat, karena adanya pembayaran obat yang terlambat dari BPJS
sehingga tidak dilayani oleh PBF ( dipending).
f) Tempat dan lokasi gudang terlalu jauh dengan IFRS, seharusnya jarak gudang
ama apotek jangan jauh guna effisiensi tenaga dan waktu dalam pengambilan
obat.
g) Perlu adanya DEPO obat khusus di IGD dan tenaga farmasi yang bertugas di
depo tersebut. Untuk saat ini sudah ada Troley emergency dan Apoteker
Penanggung jawab IGD).
h) Harus ada petugas khusus yang membeli/ mengantar obat terutama untuk
pejabat2 di Polda, sehingga tidak menganggu asisten / TTK yang lagi berdinas di
apotek.
i) Perlunya evaluasi dan pengawasan dari Kepala Instalasinya sehingga semua
keluhan dan kekurangan selama proses pelayanan di farmasi bisa berjalan dengan
baik dan lancar demi terwujudnya pelayanan prima kepada pasien.
j) Tenaga apoteker untuk farmasi klinis perlu penambahan personil, karena
sekarang cuma ada 1 orang apoteker klinis, idealnya harus ada 3 org karena
jumlah bed tempat tidur semua ada 98 bed.

7. PENUTUP
Demikian laporan hasil evaluasi di pelayanan Insatalasi Farmasi Rumkit
Bhayangkara Lemdiklat Polri tahun 2018 yang dapat di sampaikan kepada Ka,
untuk menjadi masukan dan bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan.
Jakarta,30 Januari 2019
Ka Instalasi Farmasi
 
 
 
Rossita Guspita Sari,S.Farm.,Apt.
PENGATUR TK.I 198708262006042004