Anda di halaman 1dari 6

2.

2 Leukosit
2.2.1 Pengertian
Leukosit adalah sel darah yang mengandung inti, disebut juga sel darah putih. Leukosit mempunyai peranan dalam
pertahanan seluler dan humoral organisme terhadap zat-zat asingan. Leukosit bekerja sama dengan imunoglobulin
dan komplemen sebagai respon imun.28 Rata-rata jumlah leukosit dalam darah manusia normal adalah 5000-
9000/mm3,bila jumlahnya lebih dari 10.000/mm3,keadaan ini disebut leukositosis, bila kurang dari 5000/mm 3
disebut leukopeni.29 Leukosit terdiri dari dua golongan utama, yaitu agranular dan granular. Leukosit agranular
mempunyai sitoplasma yang tampak homogen, dan intinya berbentuk bulat atau berbentuk ginjal.
Leukosit granular mengandung granula spesifik (yang dalam keadaan hidup berupa tetesan setengah cair) dalam
sitoplasmanya dan mempunyai inti yang memperlihatkan banyak variasi dalam bentuknya. Terdapat 2 jenis leukosit
agranular yaitu; limfosit yang terdiri dari sel-sel kecil dengan sitoplasma sedikit, dan monosit yang terdiri dari sel-
sel yang agak besar dan mengandung sitoplasma lebih banyak. Terdapat 3 jenis leukosit granular yaitu neutrofil,
basofil, dan asidofil (eosinofil).30

2.2.2 Fungsi
Sel darah putih mempunyai beberapa fungsi dalam tubuh, yaitu :
a. Fungsi defensif
Mempertahankan tubuh terhadap benda – benda asing termasuk kuman penyebab infeksi.
b. Fungsi reperatif:
Memperbaiki atau mencegah kerusakan vaskuler. Leukosit yang memegang peranan adalah basofil yang
menghasilkan heparin, sehingga pembentukan trombus pembuluh-pembuluh darah dapat dicegah.
2.2.3 Pembentukan sel darah putih
Pembentukan sel darah putih dimulai dari diferensiasi dini dari sel stemhemopoetik pluripoten menjadi berbagai tipe
stem commited. Pembentukan leukosit terdapat dua tipe yaitu mielositik dan limfositik. Pembentukan leukosit tipe
melositik dimulai dengan sel muda mieloblas sedangkan pembentukan leukosit tipe limfositik dimulai dengan sel
muda limfoblas.31
Leukosit yang dibentuk di dalam sumsum tulang, terutama granulosit disimpan dalam sumsum sampai sel – sel
tersebut diperlukan dalam sirkulasi. Kemudian bila kebutuhannya meningkat, beberapa faktor seperti sitokin-sitokin
akan dilepaskan. Granulosit dalam keadaan normal bersirkulasi dalam seluruh darah kira-kira tiga kali jumlah yang
disimpan dalam sumsum. Jumlah ini sesuai dengan persediaan granulosit selama enam hari. Limfosit sebagian besar
akan disimpan dalam berbagai area limfonodi kecuali pada sedikit limfosit yang secara temporer diangkat dalam
darah.31
Gambar 2. Pembentukan Sel Darah Putih

2.2.4 Jenis Leukosit


2.2.4.1 Granulosit
a. Neutrofil
Sel ini berdiameter 12–15 μm memilliki inti yang khas padat terdiri atas sitoplasma pucat di antara 2 hingga 5 lobus
dengan rangka tidak teratur dan mengandung banyak granula merah jambu (azuropilik) atau merah lembayung.
Granula terbagi menjadi granula primer yang muncul pada stadium promielosit, dan sekunder yang muncul pada
stadium mielosit dan
terbanyak pada neutrofil matang. Kedua granula berasal dari lisosom, yang primer mengandung mieloperoksidase,
fosfatase asam dan hidrolase asam lain, yang sekunder mengandung fosfatase lindi dan lisosom.18
b. Eosinofil
Sel ini serupa dengan neutrofil kecuali granula sitoplasmanya lebih kasar dan berwarna lebih merah gelap (karena
mengandung protein basa) dan jarang terdapat lebih dari tiga lobus inti. Mielosit eosinofil dapat dikenali tetapi
stadium sebelumnya tidak dapat dibedakan dari prekursor neutrofil. Waktu perjalanan dalam darah untuk eosinofil
lebih lama daripada untuk neutropil. Eosinofil memasuki eksudat peradangan dan nyata memainkan peranan
istimewa pada respon alergi, pada pertahanan melawan parasit dan dalam pengeluaran fibrin yang terbentuk selama
peradangan.18
c. Basofil
Basofil hanya terlihat kadang-kadang dalam darah tepi normal. Diameter
basofil lebih kecil dari neutrofil yaitu sekitar 9-10 μm. Jumlahnya 1% dari total sel darah putih. Basofil memiliki
banyak granula sitoplasma yang menutupi inti dan mengandung heparin dan histamin. Dalam jaringan, basofil
menjadi mast cells. Basofil memiliki tempat-tempat perlekatan IgG dan degranulasinya dikaitan dengan pelepasan
histamin. Fungsinya berperan dalam respon alergi.18

2.2.4.2 Agranulosit
a. Monosit
Monosit memiliki bentuk bermacam-macam, dimana biasanya lebih besar daripada leukosit darah tepi yaitu
diameter 16-20 μm dan memiliki inti besar di tengah oval atau berlekuk dengan kromatin mengelompok. Sitoplasma
yang melimpah berwarna biru pucat dan mengandung banyak vakuola halus sehingga memberi rupa seperti kaca.
Granula sitoplasma juga sering ada. Prekursor monosit dalam sumsum tulang (monoblas dan promonosit) sukar
dibedakan dari mieloblas dan monosit.32
b. Limfosit
Limfosit yang terdapat dalam darah tepi merupakan sel kecil yang berdiameter kecil dari 10μm. Intinya yang gelap
berbentuk bundar atau agak berlekuk dengan kelompok kromatin kasar dan tidak berbatas tegas. Nukleoli normal
terlihat. Sitoplasmanya berwarna biru-langit dan dalam kebanyakan sel, terlihat seperti bingkai halus sekitar inti.
Kira-kira 10% limfosit yang beredar merupakan sel yang lebih besar dengan sitoplasma yang banyak yang
mengandung granula azuropilik.32

2.2.5 Pengaruh Leukosit terhadap Sepsis


Leukositosis adalah peningkatan jumlah leukosit dalam sirkulasi hingga melebihi nilai normal. Peningkatan leukosit
menunjukkan aktivasi pertahanan dan sistem kekebalan tubuh dan menunjukkan ada peradangan
pada jaringan. Hal ini paling sering disebabkan oleh infeksi atau proses
inflamasi.33
Inflamasi adalah respon lokal (reaksi) dari jaringan hidup yang bervaskularisasi akibat rangsangan endogen dan
eksogen. Inflamasi bisa terjadi akut dan kronik. Radang akut terjadi pada onset dini, dalam hitungan menit hingga
beberapa jam dan terdapat migrasi sel leukosit terutama netrofil. Radang kronis terjadi pada onset yang terjadi
kemudian dalam beberapa hari hingga tahun dan ditandai adanya sel limfosit dan makrofag serta proliferasi
pembuluh darah dan jaringan ikat.30
Rangsang biologis yang sama pada luka yang tenang dapat merangsang reaksi inflamasi sistemik, meskipun infeksi
berat tetap merupakan faktor risiko terpenting terhadap terjadinya SIRS.34 Pada infeksi yang berat ini, insult terus
terjadi dengan adanya proliferasi mikroba yang terus menerus mendorong berlangsungnya reaksi kaskade inflamasi.
Tidak seperti pada trauma, proses infeksi adalah proses yang berlangsung terus menerus hingga mempunyai
kemungkinan besar pada suatu saat akan melewati batas ambang yang menyebabkan terjadinya reaksi sistemik.
Namun perlu digaris bawahi bahwa penyebaran kuman pathogen atau produk kuman tersebut bukan merupakan
syarat untuk terjadinya reaksi sistemik.33,34
Mediator reaksi inflamasi dapat diidentifikasi dan dapat digunakan untuk mengetahui adanya reaksi sepsis.
Peningkatan beberapa kadar sitokin seperti TNF-α (Tumor nekrosis Faktor - α), Interleukin (IL-6, IL-8 dan IL-10)
memang terlihat pada pasien sepsis dan biasanya berhubungan dengan outcome yang jelek. Interleukin-6 (IL-6)
biasanya digunakan sebagai indicator dalam penelitian pengobatan sepsis.33

D-dimer 
atau fragmen D-dimer (bahasa Inggris: fibrin degradation fragment) adalah suatu jenis uji sampel darah di
laboratorium yang bertujuan untuk membantu melakukan diagnosis penyakit dan kondisi yang
menyebabkan hiperkoagulabilitas: suatu kecenderungan darah untuk membeku melebihi ukuran normal. Salah satu
kondisi yang umum ditemukan adalah pada trombosis vena dalam (DVT, deep vein thrombosis) yang berhubungan
dengan pembekuan darah di dalam pembuluh darah balik (vena) di dalam tubuh terutama di kaki yang menyebabkan
penyumbatan alirah darah di kaki sehingga menimbulkan nyeri dan kerusakan jaringan. Hal ini juga dapat
menimbulkan gumpalan kecil yang terpecah dan berjalan mengikuti aliran darah menuju bagian lain di tubuh
sehingga dapat menimbulkan embolisme paru (PE, pulmonary embolism - bekuan darah di paru-paru).
Uji laboratorium yang terkait dengan D-dimer adalah produk degradasi fibrin (FDP, fibrin degradation products),
waktu protrombin (PT, prothrombin time), waktu tromboplastin parsial (PTT, partial thromboplastin time atau
aPTT), fibrinogen dan hitung plasma.

PT
Uji masa protrombin (PT) berguna untuk menilai kemampuan faktor koagulasi jalur ekstrinsik dan jalur bersama.
Masa tromboplastin parsial teraktivasi (aPTT) adalah uji laboratorium untuk menilai kelainan koagulasi pada jalur
intrinsik dan jalur bersama.

Antigen (imunogen)

Antigen merupakan zat yang merangsang respons imunitas, terutama dalam menghasilkan antibodi. Antibodi yang
dihasilkan berupa zat molekul besar seperti protein dan polisakarida, contohnya permukaan bakteri. Antigen dapat
berupa bakteri, virus, protein, karbohidrat, sel-sel kanker, atau racun.

Bagian-bagian antigen

Antigen memiliki 2 bagian yang harus kamu ketahui. Kedua bagian tersebut adalah epitop dan hapten.   

1. Determinan antigen (epitop)

Epitop merupakan bagian antigen yang dapat membangkitkan respons imunitas, atau dengan kata lain, dapat
menginduksi pembentukan antibodi. Satu antigen tersusun dari 2 atau lebih molekul epitop. 

2. Hapten

Hapten adalah molekul kecil yang hanya bisa menginduksi produksi antibodi jika bergabung dengan carrier yang
bermolekul besar. Oleh karena itu, hapten memiliki sifat imunogenik. Hapten dapat berupa obat, antibiotik, dan
kosmetik.

Antibodi (imunoglobulin)
Antibodi atau imunoglobulin adalah protein larut yang dihasilkan oleh sistem imunitas sebagai respons terhadap
keberadaan suatu antigen dan akan bereaksi dengan antigen tersebut. Ada lima kelas imunoglobulin yang harus
kamu ketahui nih. Yuk, belajar bersama-sama! 

IgG

IgG berjumlah paling banyak (80%) dan akan lebih besar pada kontak ke 2, 3, dan seterusnya. IgG dapat menembus
plasenta dan memberikan imunitas pada bayi. Selain itu, IgG juga merupakan pelindung terhadap mikroorganisme
dan toksin, dapat mengaktivasi komplemen, dan dapat meningkatkan efektivitas sel fagositik.

IgA

Berjumlah 15%, IgA dapat ditemukan pada zat sekresi seperti keringat, ludah, air mata, ASI, dan sekresi usus. IgA
berfungsi untuk melawan mikroorganisme yang masuk ke dalam tubuh.

IgM

IgM adalah antibodi yang pertama kali tiba di lokasi infeksi, menetap di pembuluh darah dan tidak masuk ke
jaringan. IgM berumur pendek dan berfungsi untuk mengaktivitasi komplemen dan memperbanyak fagositosis.

IgD

IgD memiliki fungsi memicu respons imunitas dan banyak ditemukan di limfosit B. Meskipun demikian, IgD
berjumlah sedikit pada limpa dan serum darah.

IgE

Antibodi ini terikat pada reseptor sel mast dan basofil. IgE menyebabkan pelepasan histamin dan mediator kimia
lainnya. Selain itu, IgE banyak ditemukan dalam darah dengan konsentrasi rendah dan kadarnya meningkat ketika
bereaksi terhadap alergi.

Interaksi Antibodi dan Antigen

Tahukah kamu? Antibodi memiliki sisi pengikat antigen pada daerah variabel dan antigen memiliki sisi penghubung
determinan (epitop). Oleh karena itu, kedua sisi akan berikatan membentuk kompleks antigen dan antibodi. Nah,
mekanisme pengikatan antibodi ke antigen dapat melalui beberapa cara, lho. Yuk kita simak satu persatu!

1. Fiksasi komplemen

Dalam fiksasi komplemen terjadi aktivasi sistem komplemen oleh kompleks antigen-antibodi. Komplemen memiliki
20 protein serum yang berbeda. Ketika infeksi, protein serum pertama teraktivasi dan mengaktifkan protein serum
selanjutnya secara jalur berantai (efek domino). Hasil reaksi komplemen tersebut akan melisiskan sel-sel patogen
dan virus. Fiksasi komplemen menghasilkan 2 jenis efek yang disebut dengan sitolisis dan inflamasi. Seperti apa,
ya? Simak gambar di bawah ini, ya! 

2. Netralisasi

Netralisasi menyebabkan antibodi menutup sisi penghubung determinan antigen, sehingga antigen tidak berbahaya
dan akhirnya dapat dicerna oleh sel fagosit.

3. Aglutinasi (penggumpalan)

Yang dimaksud dengan aglutinasi adalah kondisi ketika satu antibodi memiliki minimal 2 pengikatan. Semua sisi
pengikatan tersebut berikatan dengan antigen berupa materi partikel seperti sel darah merah atau bakteri. Oleh
karena itu, kompleks besar dengan mudah difagosit oleh makrofag.
4. Presipitasi (pengendapan) 

Presipitasi adalah pengikatan silang molekul-molekul antigen yang terlarut dalam cairan tubuh. Setelah terendapkan,
antigen dikeluarkan dan dibuang melalui fagositosis.

Setelah kenalan dengan antigen dan antibodi, kamu nggak akan ketuker dong ya, yang mana antigen dan yang mana
antibodi? Nah, supaya makin jago, kuy belajar lebih lanjut tentang antigen dan antibodi pakai Ruangguru On-The-
Go! kalau belajar pakai Ruangguru On-The-Go!, kamu bisa nonton video belajar tanpa kuota lho. Gimana caranya?
Cukup colok aja USB-nya di HP-mu! Yuk, dapatkan Ruangguru On-The-Go! sekarang. 

Kompleks imun atau disebut juga kompleks antigen-antibodi merupakan molekul yang dibentuk oleh


pengikatan antibodi dan antigen terlarut.[1] Ikatan antigen-antibodi sekarang bersifat satu kesatuan dan secara efektif
bertindak sebagai antigen yang memiliki epitop sendiri. Setelah reaksi antigen-antibodi, kompleks imun dapat
direspon oleh berbagai proses, seperti deposisi sistem komplemen, opsonisasi,[2] fagositosis, atau diolah
oleh protease. Sel darah merah yang memiliki reseptor CR1 dapat mengikat protein komplemen C3b pada
permukaan kompleks imun dan membawanya ke fagosit utamanya di dalam hati dan limpa, dan kembali ke sirkulasi
umum.
Pada beberapa kondisi, kompleks imun dapat terus terbawa di dalam sirkulasi darah dan mengendap pada jaringan
seperti ginjal, paru, kulit, sendi dan pembuluh darah, dan menyebabkan peradangan, seperti vaskulitis. Tempat
terjadinya pengendapan sepertinya tergantung dari jenis antigen dan antibodi yang mengikatnya.
Pada klasifikasi Gell-Coombs, kompleks imun adalah aktivator hipersensitivitas tipe III.
[3]
 Hipersensitivitas berkembang menjadi tingkat penyakit menghasilkan apa yang disebut penyakit kompleks imun.
Deposisi kompleks imun adalah fitur yang menonjol dari beberapa penyakit autoimun termasuk Lupus eritematosus
sistemik, siroglobulinemia, artritis reumatoid, skleroderma, dan Sindrom Sjögren.[4][5]