Anda di halaman 1dari 44

TUGAS MAKALAH

“TUGAS FINAL”

DI SUSUN OLEH

NISMAWATI
17 320 046

PROGRAM STUDI AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS DAYANU IKHSANUDDIN

2020
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah Subhanahu Wata’ala yang telah memberikan segalanya
yang terbaik sehingga saya dapat menyelesaikan makalah matakuliah Auditing 2
sebagai Tugas Final

Terima kasih saya sampaikan kepada dosen pembibing yang sudah


memberikan arahan dan pengetahuan sehingga penulisan makalah bisa saya
selesaikan, meski masih banyak kekurangan akan tetapi saya akan terus berusaha
sehingga kedepannya bisa membuat sebuah karya terbaik yang bisa memberikan
pengetahuan dan informasi lebih kepada para pembaca.

Saya pun terbuka dalam hal kritik dan saran karena penulis menyadari
masih dalam tahap dan proses belajar untuk menjadi lebih baik sehingga masih
perlu masukan dan bimbingan. Dan semoga makalah ini bisa turut menambah
wawasan bagi pembaca meski hanya satu atau dua pengetahuan dan
pemahaman.

Bau bau, 14 Juli 2020


Penyusun

NISMAWATI
DAFTAR ISI

Halaman

COVER..................................................................................................... i
KATAPENGANTAR............................................................................... ii
DAFTARISI............................................................................................ iii

BABI : PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah.................................................. 4
1.2 Tujuan Penulisan ............................................................. 5

BAB II :ISI
2.1 Penyelesaian Pengujian Dalam Siklus Perolehan dan
Pembayaran ..................................................................... 6
2.2 Audit Atas Siklus Persediaan dan Internal Control......... 18
2.3 Audit Atas Siklus Perolehan Ekuitas dan Hutang Serta
Pembayaran Kembali ..................................................... 38
2.4 Audit Saldo Kas dan Bank Penyelesaian Audit .............. 40
2.5 Penugasan Jasa Atestasi dan Kompilasi.......................... 45

BAB III :PENUTUP


3.1Kesimpulan...................................................................... 25
3.2 Saran................................................................................. 25

Daftar Pustaka .........................................................................................


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Peranan audit internal pada saat ini sangat diperlukan di berbagai institusi,
tidak terkecuali untuk pengawasan sehari-hari atas perusahaan dapat dilaksanakan
secara lebih intensif dan efektif tanpa mengurangi tanggungjawabnya (Gusnardi,
2008)

Pada aspek non akademik kedudukan audit internal sebagai supporting


activity seperti keuangan, asset, organisasi dan sumberdaya manusia dan
kemahasiswaan memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap pencapaian
tujuan perguruan tinggi sehingga memerlukan perhatian yang tinggi pula. Pada
saat ini biaya pendidikan di Indonesia sudah semakin tinggi terlebih institusi
swasta. Semakin tinggi biaya pendidikan ditingkat perguruan tinggi menyebabkan
biaya yang dikelola perguruan tinggi menjadi tidak sedikit. Untuk itu akan rawan
sekali terjadinya fraud, baik itu penyalahgunaan asset (Asset Misappropriation)
karena jumlah asset yang ada dilingkungan perguruan tinggi cukup banyak, fraud
dalam penerimaan biaya pendidikan mahasiswa, biaya marketing atau biaya
praktik mahasiswa yang cukup tinggi juga bisa menjadi celah atau jalan untuk
melakukan fraud. Pengawasan yang lebih ketat perlu dilakukan dalam upaya
mencegah terjadinya perilaku penyimpangan melalui pengendalian internal
(internal control system). (Meikhati and Rahayu 2015)

Dalam menyelenggarakan kegiatan berbagai usaha, salah satu tantangan


yang dihadapi perusahaan adalah bagaimana untuk meningkatkan efektivitas,
efisiensi, dan ekonomisasi perusahaan. Tantangan ini selalu ada karena
manajemen perusahaan memerlukan sumber daya untuk mencapai tujuan
perusahaan, tetapi manajemen harus menghadapi situasi kelangkaan sumber daya.
Olehkarenaitu,perusahaanharusmembuatperencanaanyangtepatdalam
mengalokasikan sumber daya yang dimiliki dalam mendukung operasional yang
akan dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Perencanaan yang dibuat mencakup batas-batas operasional yang akan


dilakukan, baik luasnya cakupan operasi (volume produksi, promosi, pelayanan
pelanggan, dan sebagainya), maupun konsumsi sumber daya (perolehan kapasitas
produksi, pembayaran kepada pemasok dan karyawan, serta penyelesaian
kewajiban jangka pendek lainnya).

Perencanaan yang disusun secara tepat dapat memberikan arahan


berjalannya operasi yang efisien dan efektif mampu mencapai tujuan perusahaan.
Hal ini yang mendorong perlu adanya audit manajemen untuk mendukung
jalannya suatuusaha.

Audit manajemen adalah pengevaluasian terhadap efisiensi dan efektivitas


operasi perusahaan berupa suatu rancangan sistematis untuk mengaudit aktivitas,
program yang digunakan keseluruhan atau sebagian dari entitas untuk menilai dan
melaporkan apakah sumber daya dan dana telah digunakan secara efisien dan
apakah tujuan dari program dan aktivitas yang telah direncanakan telah dicapai
dan tidak melanggar ketentuan dan kebijakan yang ditetapkanperusahaan.

Audit manajemen digunakan untuk memastikan seberapa baik manajemen,


baik dalam hubungan eksternalnya dengan pihak luar maupun efisiensi
internalnya. Pemeriksaan dilakukan terhadap smoothness organisasi, mulai dari
level teratas sampai level terbawah. Dengan demikian, hampir setiap aspek
manajemen diperiksa, dan rekomendasi yang ditawarkan diharapkan bisa
meningkatkan efisiensi dan profitabilitas Salah satu yang mendukung audit
manajemen adalah konsep dasar, untuk itu penyusun membahas tentang konsep
dasar auditmanajemen.
BABII

PEMBAHASAN

2.1 Penyelesaian Pengujian Dalam Siklus Perolehan danPembayaran

2.1.1 Jenis Akun Lain dalam Siklus Akuisisi danPembayaran


Banyak akun khusus yang terkait dengan transaksi dalam siklus akuisisi dan
pembayaran. Jenis aktiva, beban, dan kewajiban bagi banyak perusahaan akan
berbeda terutama yang berkecimpung dalam industri selain ritel, grosir, dan
manufaktur. Suatu tinjauan mengenai pengujian pengendalian dan pengujian
substantif atas transaksi khusus untuk siklus akuisisi dan pembayaran serta yang
umumnya digunakan dalam prosedur analitis dan pengujian atas rincian saldo
utang usaha. Masalah yang berkaitan dengan beberapa akun kunci lainnya dalam
siklus ini akan dibahas terutama audit atas:
a. Properti, pabrik danperalatan
b. Beban dibayardimuka
c. Kewajibanlainnya
d. Laba dan akun beban
Pada tabel menyebutkan jenis – jenis akun yang berhubungan dengan
transaksi dalam siklus akuisisidan pembayaran. Jenis aset, beban dan utang
berbeda untuk masing – masing perusahaan terutama untuk industri yang bukan
ritel, grosir danmanufaktur.
Aset Beban Kewajiba
Kas Harga pokok penjualan Hutang usaha
Persediaan Beban sewa Hutang sewa
Perlengkapan Pajak properti Honor profesional yang
Properti, bangunan
Beban pajak penghasilan terhutang
pabrik, dan perelatan
Beban asuransi Pajak properti yang
Paten, merek dagang,
Beban profesional terutang
dan hakcipta
Beban yang masih harus
Sewa dibayardimuka
Pajak dibayardimuka
Tunjangan pensiun dibayar lainnya
Asuransi dibayar Prasarana Hutang pajak penghasilan
dimuka

2.1.2 Audit Atas AsetTetap


Properti, pabrik, dan peralatan adalah aktiva yang memiliki umur yang
diharapkan lebih dari satu tahun, digunakan dalam bisnis, dan tidak diperoleh
untuk dijual kembali. Tujuan penggunaan aktiva sebagai bagian dari operasi bisnis
klien dan umur yang diharapkannya yang lebih dari satu tahun merupakan
karakteristik yang signifikan yang membedakan aktuva tersebut dengan
persediaan, beban dibayar di muka, dan investasi.
Pendebetan ke peralatan manufaktur berasal dari siklus akusisi dan
pembayaran. Karena sumber debet akun aktiva adalah jurnal akuisisi. Akan tetapi
karena penambahan peralatan tidak sering dilakukan, sering kali berjumlah besar,
dan terkena pengendalian khusus, seperti persetujuan dewan direksi, auditor dapat
memutuskan untuk tidak terlalu bergantung pada pengujian tersebut sebagai bukti
pendukung penambahan aktiva tetap.
Klasifikasi akun properti, pabrik dan peralatan :
1. Tanah dan pengembangantanah
2. Bangunan dan perbaikan bangunan
3. Peralatan danmanufaktur
4. Perobatan danperkakas
5. Mobil dantruk
6. Pengembanganleasehold

7. Konstruksi dalam proses untuk properti, pabrik, danperalatan

Auditor membedakan cara memverifikasi peralatan manufaktur dengan akun


aktiva lancar karena tiga alasan:

1. Biasanya akuisisi peralatan manufaktur jarang dilakukan pada periode


berjalan
2. Jumlah setiap akuisisi biasanyamaterial
3. Peralatan mungkin tetap disimpan dan dicatat dalam catatan akunansi
selama beberapatahun.
Karena perbedaan tersebut, audit atas peralatan manufaktur lebih menekankan
pada verifikasi akuisisi yang dilakukan pada periode berjalan dan bukan saldo
akun yang dibawa dari tahun sebelumnya. Dalam audit atas peralatan manufaktur
dan akun-akun yang terkait, auditor harus memisahkan pengujian ke dalam
kategoriberikut:
a. Melaksanakan proseduranalitis
Jenis prosedur analitis tergantung pada sifat operasi klien. Sebagian prosedur
analitis yang tipikal menilai kemungkinan salah saji yang material dalam beban
penyusutan dan akumulasi penyusutan. Berikut adalah beberapa prosedur analitis
dan salah saji yang mungkin ditemukan prosedur tersebut

Prosedur analitik untuk Akun Pendapatan dan Beban

Prosedur Analitik Salah saji yang mungkin terjadi

Membandingkan rasio beban depresiasi Salah saji pada beban depresiasi dan
dibagi biaya peralatan manufaktur kotor akumulasi depresiasi
dengan tahun sebelumnya

Membandingkan akumulasi depresiasi Salah saji pada akumulasi depresiasi


dengan biaya peralatan manufaktur kotor
dengan tahun sebelumnya

Membandingkan beban perbaikan dan Jumlah beban yang harus dikapitalisasi


pemeliharaan bulanan atau tahunan beban
persediaan, beban peralatan, dan akun
sejenis dengan tahun sebelumnya

Membandingkan beban manufaktur kotor Perlengkapan yang tidak dipakai atau


dibagi dengan berapa jumlah produksi dibuang tetapi belum dihapus bukukan
dengan tahun sebelumnya

b. Memverifikasi akuisisi tahunberjalan


Perusahaan harus mencatat penambahan selama tahun berjalan dengan benar
karena aktiva memiliki pengaruh jangka panjang terhadap laporan keuangan.
Auditor menggunakan tujuh dari delapan tujuan audit yang berkaitan dengan
saldo sebagai kerangka referensi bagi pengujian atas rincian saldo: eksistensi,
kelengkapan, keakuratan, klasifikasi, pisah batas, detail tie-in, serta hak dan
kewajiban.
Pengujian audit aktual dan ukuran sampel sangat tergantung pada salah saji
yang dapat ditoleransi, risiko inheren, dan penilaian risiko pengendalian. Salah
saji yang dapat ditoleransi merupakan hal yang penting untuk memverifikasi
penambahan tahun berjalan karena transaksi tersebut bervariasi dari jumlah yang
tidak material dalam beberapa tahun hingga sejumlah besar akuisisi yang
signifikan dalam tahunlainnya.
Skedul yang tipikal memuat daftar setiap penambahan secara terpisah dan
mencantumkan tanggal akuisisi, vendor, deskripsi, notasi apakah barang tersebut
baru atau bekas, umur aktiva untuk tujuan penyusutan, metode penyusutan, dan
biaya atau bekas, umur aktiva untuk tujuan penyusutan, metode penyusutan, dan
biaya atau harga perolehannya. Pengujian audit yang paling umum untuk
memverifikasi penambahan adalah memeriksa faktur vendor.
Auditor harus waspada terhadap kemungkinan kelalaian klien untuk
mencantumkan biaya transportasi dan instalasi yang material sebagai bagian dari
biaya akuisisi aktiva, serta kelalaian untuk mencatat dengan benar tukar tambah
peralatan yang ada. Jika kebijakan kilen adalah membebankan akuisisi yang lebih
kecil dari jumlah secara otomatis, seperti $1000, auditor harus memverifikasi
bahwa kebijakan tersebut ditaati pada tahun berjalan. Auditor juga harus
memverifikasi transaksi yang tercatat menyangkut ketepatan klasifikasinya.
Dalam beberapa kasus, jumlah yang tercatat sebagai peralatan
manufaktur harus diklasifikasikan sebagai peralatan kantor atau sebagai bagian
dari bangunan. Pengendalian internal yang buruk terhadap pembuatan dokumen
yang dapat menimbulkan misklasifikasi transaksi pengeluaran yangsignifikan.
Biasanya klien mencantumkan transaksi yang harus dicatat sebagai aktiva
dalam beban reparasi dan pemeliharaan, beban lease, perlengkapan, peralatan
kecil, dan akun-akun serupa. Slah saji dapat saja berasal dari kurangya
pemahaman terhadap prinsip-prinsip akuntansi yang diterima umum atau
keinginan klien untuk menghindari pajak penghasilan. Jika auditor menyimpulkan
jenis salah saji yang material ini mungkin terjadi, mereka harus memvouching
jumlah yang lebih besar yang didebet ke akun beban.

c. Memverifikasi pelepasan atau pembuangan tahunberjalan


Transaksi yang melibatkan pelepasan peralatan manufaktur sering kali
disalahsajikan apabila pengendalian internal perusahaan tidak memiliki metode
formal. Jikla klien lalai mencatat pelepasan, biaya awal akun peralatan
manufaktur akan dinyatakan terlalu tinggi, dan nilai buku bersih akan dinyatakan
terlalu tinggi hingga aktiva telah disusutkan sepenuhnya. Metode formal untuk
menelusuri pelepasan dan provisi menyangkut otorisasi yang tepat atas penjualan
atau pelepasan peralatan manufaktur lainnya akan membantu mengurangi risiko
salah saji. Juga harus ada verifikasi internal yang memadai atas pelepasan yang
tercatat untuk memastikan bahwa aktiva telah dihapus dengan benar dari catatan
akuntansi.

Titik awal untuk memverifikasi pelepasan adalah skedul klien yang berisi
catatan tentang pelepasan itu. Skedul tersebut umumnya mencantumkan tanggal
kapan aktiva dilepas atau dibuang, nama orang atau perusahaan yang
mengakuisisi aktiva, harga jual, biaya awal, tanggal akuisisi, dan akumulasi
penyusutan. Pengujian detail tie-in atas skedul yang mencatat pelepasan
diperlukan, termasuk memfooting skedul, menelusuri total pada skedul ke
pelepasan yang tercatat dalam buku besar umum, serta menelusuri biaya dan
akumulasi penyusutan pelepasan ke file induk properti. Prosedur berikut
seringkali digunakan untuk memverifikasipelepasan:

1. Mereview apakah aktiva yang baru diakuisisi menggantikan aktiva yang


ada,
2. Menganalisis keuntungan dan kerugian atas pelepasan aktiva dan
pendapatan rupa-rupa yang diterima dari pelepasanaktiva,
3. Mereview modifikasi pabrik dan perubahan lini produk, pajak properti,
atau cakupan asuransi untuk indikasi penghapusan peralatan,
4. Melakukan tanya-jawab dengan manajemen dan personil produksi
mengenai kemungkinan pelepasanaktiva.

Ketika suatu aktiva dijual atau dibuang begitu saja tanpa ditukar dengan aktiva
pengganti, keakuratan transaksi dapat diverifikasi dengan memeriksa faktur
penjualan terkait dan file induk properti. Auditor harus membandingkan biaya dan
akumulasi penyusutan yang ada dalam file induk dengan ayat jurnal yang tercatat
dalam jurrnal umum serta menghitung kembali keuntungan atas kerugian atas
pelepasan aktiva. Jika terjadi tukar tambah aktiva dengan aktiva pengganti,
auditor harus memastikan bahwa aktiva yang baru dikapitalisasi dan aktiva yang
digantikan dihapus secara layak dari catatan, dengan mempertimbangkan nilai
buku aktiva yang ditukar tambah dan biaya tambahan aktiva yangbaru.

d. Memverifikasi saldo akhir akunaktiva


Dua tujuan auditor mengaudit peralatan manufaktur termasuk menentukan
bahwa:
1. Semua peralatan yang tercatat ada secara fisik pada tanggal neraca
(eksistensi)
2. Semua peralatan yang dimiliki telah dicatat(kelengkapan)

Ketika merancang pengujian audit untuk memenuhi tujuan tersebut, pertama


auditor mempertimbangkan sifat pengendalian internal terhadap peralatan
manufaktur. Auditor mampu menyimpulkan bahwa pengendalian cukup kuat
untuk memungkinkannya bergantung pada saldo yang dicatat dari tahun
sebelumnya. Pengendalian yang penting meliputi penggunaan file induk untuk
setiap aktiva tetap, pengendalian fisik yang memadai terhadap aktiva yang mudah
dipindahkan penulisan nomor identifikasi ke setiap aktiva tetap, serta perhitungan
fisik periodik atas aktiva tahu departemen akuntansi tentang semua pelepasan
aktiva tetap juga merupakan pengendalian yangpenting.
Langkah audit yang pertama berkenaan dengan tujuan detail tie-in: Peralatan
manufaktur, seperti yang tercantum dalam file induk, sama dengan buku besar.
Memeriksa printout file induk untuk melihat bahwa totalnya sama dengan slado
buku besar. Setelah menilai risiko pengendalian untuk tujuan eksistensi, auditor
memutuskan apakah perlu memverifikasi eksistensi pada setiap item peralatan
manufaktur yang tercantum dalam file induk. Jika terdapat kemungkinan yang
besar bahwa aktiva tetap yang hilang sampel dari file induk dan memeriksa aktiva
aktual.
Biasanya auditor tidak perlu menguji keakuratan atau klasifikasi aktiva tetap
yang dicatat pada periode sebelumnya karena sudah diverifikasi dalam audit
sebelumnya kadang mungkin memiliki peralatan manufaktur di tangan yang tidak
lagi digunakan dalam operasi. Jika jumlahnya material, auditor harus
mengevaluasi apakah peralatan itu harus dicatat pada nilai realisasi bersih (tujuan
nilai realisasi) atau setidaknya diklasifikasikan secara terpisah sebagai “ peralatan
nonoperasi.”
Pertimbangan utama dalam memverifikasi pengungkapan yang terkait dengan
aktiva tetap adalah kemungkinan adanya rintangan hukum. Auditor dapat
menggunakan beberapa metode untuk menentukan apakah peralatan manufaktur
terbebani, termasuk:
1. Membaca syarat-syarat dalam perja njian pinjaman dankredit
2. Mengirimkan permintaan konfirmasi pinjaman kepada bank dan institusi
pemberi pinjamanlainnya
3. Melakukan diskusi dengan klien atau mengirimkan surat ke penasihat
hukum

e. Memverifikasi bebanpenyusutan
Jika beban penyusutan berjumlah material, akan diperlukan lebih banyak
pengujian yang terinci atas beban penyusutan ketimbang untuk akun yang telah
diverifikasi melalui pengujian pengendalian dan pengujian substantif atas
transaksi. Tujuan audit yang berkaitan dengan saldo yang paling penting untuk
beban penyusutan adalah keakuratan. Dalam menentukan hal yang pertama,
auditor harus mempertimbangkan empat aspek:
1. Umur manfaat akuisisi periodeberjalan
2. Metodepenyusutan
3. Estimasi nilai sisa
4. Kebijakan penyusutan aktiva dalam tahun akuisisi dandisposisi

Kebijakan klien dapat ditentukan melalui diskusi dengan personil yang


berwenang dan membandingkan responsnya dengan informasi yang ada dalam file
permanen auditor. Dalam memutuskan kelayakan umur manfaat yang dibebankan
ke aktiva yang baru saja diakuisisi, auditor harus memperttimbangkan umur fisik
aktiva, umur yang diharapkan, dan kebijakan perusahaan yang ditetapkan
menyangkut pertukaran peralatan.
Metode yang berguna untuk mengaudit penyusutan adalah pengujian prosedur
analitis atas kelayakan yang dilakukan dengan mengalikan aktiva tetap yang
belum disusutkan dengan tingkat penyusutan tahun tersebut. Dalam melakukan
perhitungan tersebut, auditor harus membuat penyesuaian yerhadap penambahan
dan pelepasan tahun berjalan, aktiva dengan umur yang berbeda, dan aktiva
dengan metode penyusutan yangberbeda.
Jika pengujian kelayakan secara keseluruhan tidak dapat dicapai, biasanya
diperlukan pengujian yang lebih terinsi. Auditort akan menghitung kembali beban
penyusutan atas aktiva tertentu untuk menentukan apakah klien mengikuti
kebijakan penyusutan yang benar dan konsisten. Agar relevan, perhitungan yang
terinci harus dikaitkan dengan perhitungan total penyusutan dengan memfooting
beban penyusutan pada file ninduk properti dan merekonsiliasi totalnya ke buku
besar umum.
Auditor membandingkan informasi yang diperoleh melalui pengujian audit
atas akun beban penyusutan dengan informasi yang diungkapkan dalam catatan
kaki guna memastikan informasi yang disajikan konsisten dengan metode aktual
dan asumsi yang digunakan untuk menghitung serta mencatat penyusutan.
Pendebetan ke akumulasi penyusutan biasanya diuji sebagai bagian dari auditatas
pelepasan aktiva, sementara kredit diverifikasi sebagai bagian dari beban
penyusutan.

f. Memverifikasi saldo akhir akumulasipenyusutan


Dua tujuan yang biasanya ditekankan dalam audit atas saldo akhir akumulasi
penyusutan adalah:
1. Akumulasi penyusutan yang dinyatakan pada file induk properti sama
dengan buku besar umum. Tujuai ini dapat dipenuhi dengan menguji
footing akumulasi penyusutan dalam file induk properti dan menelusuri
totalnya ke buku besarumum
2. Akumulasi penyusutan dalam file induk sudahakurat

2.1.3 Audit Beban Dibayar DiMuka


Beban dibayar di muka, beban yang ditangguhkan, dan aktiva berwujud. Hal
tersebut termasuk: Sewa dibayar dimuka, Biaya organisasi, Pajak dibayar di
muka, Paten, Asuransi dibayar dimuka, Merek dagang, Beban yang ditangguhkan,
dan Hak cipta. Karena sumber debet dalam akun aktiva asuransi dibayar dimuka
adalah jurnal akuisisi, pembayaran premi asuransi dapat dengan mudah dibagi ke
dalam tiga kategori: pengendalian terhadap akuisisi dan pencatatan asuransi,
pengendalian terhadap register asuransi, dan pengendalian terhadap penghapusan
beban asuransi. Otorisasi yang tepat atas polis asuransiyang baru dan pembayaran
premi asuransi merupakan pengendalian yangpenting.
Register asuransi adalah catatan polis yang berlaku dan tanggal jatuh tempo
setiap polis. Syarat dan jumlah itu menyediakan dasar untuk menentukan jumlah
asuransi dibayar dimuka, auditor secara independen akan memverifikasi syarat
dan jumlah tersebut ke polisasuransi atau kontrak yang mendasari. Auditor harus
mengingat bahwa jumlah beban asuransi merupakan nilai residu. Nilai residu ini
didasarkan pada saldo awal asuransi dibayar dimuka, pembayaran premi selama
tahun berjalan, dan saldoakhir.
Satu-satunya pengujian atas saldo akun beban yang umumnya diperlukan
mencakup prosedur analitis dan pengujian untuk memastikan bahwa semua
pembebanan ke beban asuransi berasal dari kredit asuransi dibayar di muka.
Auditor memperoleh skedul klien ataumembuat sendiri skedul yang
mencantumkan rincian mengenai polis tertentu yang berlaku, nomor polis,
cakupan asuransi untuk setiap polis, jumlah premi, periode premi, beban asuransi
untuk tahun berjalan, dan asuransi dibayar di muka pada akhirtahun.

a. Tinjauan Terhadap Asuransi Dibayar DiMuka


Gambar diatas mengilustrasikan akun yang umumnya digunakan untuk
asuransi dibayar di muka serta hubungan antara asuransi dibayar di muka dan
siklus akuisisi dan pembayaran melalui pendebetan ke akun asuransi dibayar di
muka.

b. PengendalianInternal
Pengendalian internal untuk asuransi dibayar dimuka dan beban asuransi
dapat dibagi ke dalam tiga kategori,yaitu:
1. Pengendalian terhadap akuisisi dan pencatatanasuransi,
2. Pengendalian terhadap registerasuransi,
3. Pengendalaian terhadap penghapusan bebanasuransi.

c. Pengujian Audit
Pengujian atas saldo akun beban yang umumnya diperlukan mencakup
prosedur analitis dan pengujian untuk memastikan bahwa semua pembebanan
beban asuransi berasal dari kredit asuransi dibayar di muka, prosedur analitis yang
biasa dilakukan oleh auditor:
1. Membandingkan total asuransi dibayar dimuka dan beban asuransi dengan
tahunsebelumnya,
2. Menghitung rasio asuransi dibayar di muka terhadap beban asuransi dan
membandingkannya dengan tahunsebelumnya,
3. Membandingkan setiap cakupan polis asuransi pada skedul asuransi yang
diperoleh dari klien dengan skedul tahun sebelumnya sebagai pengujian
atas eliminasi polis tertentu atau perubahan cakupanasuransi,
4. Membandingkan saldo asuransi dibayar di muka yang dihitung selama
tahun berjalan atas dasar polis per polis dengan yang ada pada tahun
sebelumnya sebagai pengujian terhadap kesalahanperhitungan,
5. Mereview cakupan asuransi yang tercantum pada skedul asuransi dibayar
di muka dengan pejabat klien yang berwenang atau broker asuransi
menyangkut kememadaian cakupan. Auditor tidak boleh menjadi pakar
asuransi, tetapi pemahaman auditor mengenai akuntansi dan penilaian
aktiva sangat diperlukan untuk memastikan bahwa perusahaan tidak
diasuransikan terlalurendah.

Prosedur audit lainnya, yang hanya harus dilakukan apabila ada alasan khusus
untuk melakukannya. Pengujian tersebut menggunakan tujuan audit yang
berkaitan dengan saldo untuk melaksanakan pengujian atas rincian saldo aktiva,
pembahasannya:
1. Polis asuransi dalam skedul asuransi dibayar di muka memang ada dan
polis yang ada telah dicantumkan (eksistensi dankelengkapan),
2. Klien memiliki hak atas semua polis asuransi dalam skedul asuransi
dibayar di muka(hak),
3. Jumlah dibayar di muka pada skedul sudah tepat dan totalnya sudah
dijumlahkan dengan benar serta sama dengan buku besar umum
(keakuratan dan detailtie-in),
4. Beban asuransi yang berhubungan dengan asuransi dibayar di muka telah
diklasifikasikan dengan benar(klasifikasi),
5. Transaksi asuransi telah dicatat pada periode yang benar (pisahbatas).

2.1.4 Audit UtangAkrual


Utang atau kewajiban akrual merupakan estimasi kewajiban yang belum
dibayar atas jasa dan manfaat yang telah diterima sebelum tanggal neraca.
Kewajiban akrual diantaranya seperti:
1. Gajiakrual,
2. Pajak gajiakrual,
3. Bonus pejabatakrual,
4. Komisiakrual,
5. Fee profesionalakrual,
6. Sewaakrual,
7. Bungaakrual.

Akun-akun tesebut yang umumnya digunakan oleh perusahaan untuk


mengakrualkan pajak properti. Penekanan dalam pengujian harus diberikan pada
kewajiban pajak properti akhir dan pembayaran. Berikut dua hal yang terpenting
adalah:
1. Properti yang ada pada skedul akrual sudah tepat untuk mengakrualkan
pajak.Kelalaian untuk mencantumkan properti dimana pajak harus
diakrualkan akan menyatakan terlalu rendah kewajiban pajak properti
(kelengkapan). Sebagai contoh salah saji yang material dapat terjadi jika
pajak properti belum dibayarkan hingga tanggal neraca dan tidak dimasukkan
sebagai pajak propertiakrual.
2. Pajak properti telah dicatat secara akurat. Auditor memperhatikan perlakuan
yang konsisten terhadap akrual dari tahun ke tahun (keakuratan). Auditor
memverifikasi akrual pada saat yang bersamaan dengan audit pembayaran
pajak properti tahun berjalan. Auditor juga membandingkan akrual itu dengan
tahun atau peiode sebelumnya. Auditor memulainya dengan memperoleh
skedul pembayaran pajak properti dari klien, dan membandingkan setiap
pembayaran dengan skedul tahun sebelumnya untuk menentukan apakah
semua pembayaran dengan skedul tahun sebelumnya telah dicantumkan
dalam skedul yang disiapkan klien. Skedul audit aktiva tetap juga harus
diperiksa untuk melihat penambahan dan pelepasan aktiva yang mungkin
mempengaruhi akrual pajak properti. Semua properti yang dipengaruhi
olehregulasi pajak properti lokal harus dicantumkan dalam skedul. Auditor
akan mengevaluasi kelayakan pajak properti atas setiap properti
yangdigunakan oleh klien untuk mengestimasi akrual. Auditor dapat
memverifikasipajakpropertiakrualdenganmenghitungkembalibagiandari
total pajak yang dikenakan pada tahun berjalan bagi setiap bagian properti.
Setelah akrual dan beban pajak properti untuk setiap bagian properti telah
dihitung kembali, totalnya harus ditambahkan dan dibandingkan dengan buku
besar umum.

2.1.5 Audit Akun Pendapatan danBeban


Dua konsep berikut dalam audit atas akun pendapatan dan beban akan
diperlukan ketika mempertimbangkan tujuan laporan laba rugi:
1. Penandingan laba dan beban periodik diperlukan untuk menentukan hasil
operasi yang tepat.
2. Aplikasi prinsip-prinsip akuntansi yang konsisten selama bperiode yang
berbeda diperlukan untuk komparabilitas

Kedua konsep tersebut harus diterapkan ketika mencatat setiap transaksi dan
mengombinasikan akun dalam buku besar umum demi penyajian laporan
Bagian audit yang secara langsung mempengaruhi akun-akun tersebut adalah:
1. Proseduranalitis
2. Pengujian pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi
3. Pengujian atas rinciansaldo
2.2 Audit Atas Siklus Persediaan dan InternalControl
Siklus persediaan dan pergudangan merupakan siklus yang unik karena
hubunganya yangerat dengan siklus transaksi lainya.Bagi perusahaan
manufaktur,bahan baku memasuki siklus persediaan dan pergudangan dari siklus
akuisisi dan pembayaran,sementara tenaga kerja langsung memasukinya dari
siklus penggajian dan personalia.Siklus persediaan dan pergudangandiakhiri
dengan penjualan barang dalam siklus penjualan dan penagihan.

Audit terhadap persediaan, terutama pengujian saldo persediaan akhir


tahun,sering kali merupakan bagian yang paling kompleks dan paling
menghabiskan waktu audit.Seperti di tunjukan oleh audit Phar-Mor,menemukan
salah saji dalam akun persediian dapat menjadi hal yang cukup menantang.

Factor - faktor yang mempengaruhi kompleksitas audit persediaan meliputi:

a) Persediaan sering kali merupakan akun terbesar padaneraca.


b) Persediian sering kali berada pada lokasi yang berbeda, yang membuat
pengendalian dan perhitungan fisik menjadisulit.
c) Sering kali sulit bagi auditor untuk mengamati dan menilai item
persediaan yang berbeda seperti perhiasaan, bahan kimia, dan suku cadang
elektronik.
d) Penilaian persediaan juga sulit apabila estimasi keusangan persediaan
merupakan hal yang penting dan apabila biaya manufaktur harus di
alokasikan kepersediaan.
e) Terdapat beberapa metode penilaian persediaan yang dapat di terima dan
beberapa organisasi mungkin ingin menggunakan metode penilaian yang
berbeda untuk berbagai bagian persediaan yang dapat di terima menurut
standarakuntansi.
2.2.1 Fungsi Bisnis Dalam Siklus Serta Dokumen Dan CatatanTerkait

Siklus persediaan dan pergudangan dapat dikatakan adalah paduan dari


dua sistem yang terpisah tapi berkaitan erat. Yang pertama adalah arus barang
secara fisik, dan yang kedua adalah biaya yang terkait. Selama persediaan
bergerak dalam perusahaan,harus ada pengendalianyang cukup baik atas
pergerakan fisik maupun biaya-biaya yang terkait. Pemeriksaan sekilas terhadap
enam fungsi yang membentuk siklus persediaan dan pergudangan akan membantu
untuk memahami pengendalian tersebut dan bahan bukti audit yang diperlukan
untuk mengujiefektifitasnya.

1. Memroses PesananPembelian

Siklus persediaan dan pergudangan dimulai dengan akuisisi bahan baku


untuk produksi. Pengendalian yang memadai terhadap pembelian harus
diselenggarakan apakah pembelian persediaan adalah berupa bahan baku suatu
perusahaan manufaktur atau barang jadi bagi perusahaan ritel. Permintaan
pembelian adalah formulir yang digunakan untuk meminta departemen pembelian
untuk

memesan persediaan. Permintaan tersebut dapat dilakukan oleh personil ruang


penyimpanan bahan baku yang diperlukan, dengan perangkat lunak computer
yang terotomatisasi ketika bahan baku mencapai tingkat yang telah ditentukan
terlebih dahulu, dengan pesanan yang dilakukan atas abahan baku yang diminta
unutk memenuhi pesanan pelanggan, atau melalui pesanan yang dilakukan atas
dasar perhitungaan bahan baku secaraperiodik.

2. Menerima BahanBaku

Penerimaan bahan baku yang dipesan, yang juga merupakan bagian dari
siklus akuisisi dan pembayaran, melibatkan inspeksi atas bahan yang diterima
menyangkut kuantitas dan kualitasnya. Departemen penerimaan akan membuat
laporan penerimaan yang menjadi bagian dari dokumentasi sebelum pembayaran
dilakukan. Setelah inspeksi, bahan itu dikirim ke ruang penyimpanan dan slinan
dokumen penerimaan, atau pemebritahuan atau notifikasi elektronik mengenai
penerimaan barang, biasanya diserahkan ke bagian pembelian, ruang
penyimpanan, dan utang usaha. Pengendalian dan akuntabilitas merupakan hal
penting unutk semua transfer tersebut.

3. Menyimpan BahanBaku

Setelah diterima, bahan itu biasanya disimpan diruang penyimpanan.


Ketika departemen lainnya memerlukan bahan untuk produksi, personil ruang
penyimpanan menyerahkan permintaan bahan yang telah disetujui secara layak,
mengerjakan pesanan, atau dokumen serupa atau pemberitahuan elektronik yang
mengindikasikan jenis dan kuantitas bahan yang diperlukan. Dokumen permintaan
ini digunakan untuk memperbaharui file induk persediaan perpetual dan mencatat
transef dari akun bahan baku kea kun barang dalam proses. Pembaharuan tersebut
dilakukan secara otomatis dalam organisasi yang memiliki sistem perangkat lunak
akuntansi dan manajemen persediaan terintergrasi.

4. MemrosesBarang

Pemrosesan persediaan sangat bervariasi dari perusahaan ke perusahaan.


Perusahaan menentukan item dan kuantitas barang jadi yang akan dibuat
berdasarkan pesanan khusus dari pelanggan, peramalan penjualan, tingkat
persediaan barang jadi yang telah ditentukan sebelumnya, dan operasi produksi
yang ekonomis. Departemen pengendalian produksi yang terpisah sering kali
bertanggung jawab untuk menentukan provisi untuk memperhitungkan kuantitas
yang diproduksi, pengendalian atas sisa bahan, pengendalian kualitas, dan
perlindungan fisik bahan dalam proses. Setiap departemen produksi biasanya
bertanggung jawab untuk mereview laporan produksi dan sisa bahan yang dibuat
computer, yang menyediakan informasi yang bermanfaat bagi akuntansi untuk
mencatat transfer bahan dan menentukan biaya produksi.

Sistem akuntansi biaya yang memadai merupakan bagian penting dari


pemrosesan fungsi barang bagi semua perusahaan manufaktur. Sistem tersebut
menunjukkan profitabilitas relative produk untuk perencanaan dan pengendalian
manajemen serta menilai persediaan untuk menyusun laporan keuangan. Terdapat
dua jenis sistem biaya : sistem biaya pekerjaan dan sistem biaya proses, tetapi
terdapat banyak variasi dan kombinasi dari kedua sistem tersebut.dalam sistem
biaya pekerjaan (job cost system), biaya diakumulasikan oleh setiap pekrjaan
ketika biaya dikeluarkan dan biaya tenaga kerja terjadi. Dalam sistem biaya proses
(process cost system), biaya diakumulasikan berdasarkan proses, dengan biaya per
unit untuk setiap proses dibebankan ke produk melalui proses tersebut.

Catatan akuntansi biaya terdiri dari fileinduk, neraca lajur, dan laporan
yang mengakumulasikan biaya bahan, tenaga kerja, dan overhead berdasarkan
pekerjaan atau proses ketika biaya tersebut dikeluarkan. Ketika pekerjaan atau
produk telah selesai, biaya yang terkait ditransfer dari barang dalam proses ke
barang jadi pada laporan departemen produksi.

5. Menyimpan BarangJadi

Ketika barang jadi telah selesai, barang itu ditempatkan diruang


penyimoanan menunggu dikirim. Dalam perusahaan yang memiliki pengendalian
internal yang baik, barang jadi disimpan dibawah pengendalian fisik yang
terpisah, disuatu area dengan akses terbatas. Pengendalian barang sering kali
dianggap sebagai bagian dari siklus penjualan danpenagihan.

6. Mengirimkan BarangJadi

Pengiriman barang jadi merupakan bagian dari siklus penjualan dan


penagihan. Pengiriman actual barang kepada pelanggan dalam pertukaran dengan
kas atau aktiva lainnya, seperti piutang usaha, menciptakan pertukaran aktiva
yang diperlukan untuk memenuhi criteria pengakuan pendapatan. Untuk sebagian
besar transaksi penjualan, pengiriman actual merupakan pemicu untuk mengakui
piutang usaha terkait dan penjualan terkait dalam sistem akuntansi. Jadi,
pengiriman barang jadi harus diotorisasi oleh dokumen pengiriman yang disetujui
secaralayak.
Bagi banyak perusahaan, terdapat pergerakan barang secara fisik dalam
perusahaan ketika mentransfer persediaan dari bahan baku ke barang dalam proses
ke barang jadi. Serupa denga pengiriman barang jadi, transfer persediaan dalam
siklus persediaan dan pergudangan harus diotorisasi oleh dokumentasi transfer
yang layak untuk memastikan keakuratan transfer biaya antarakun persediaan
padaneraca.

7. File Induk Persediaan Perpetual

Catatan perpetual yang terpisah biasanya disimpan untuk bahan baku dan
barang jadi. Sebagian besar perusahaan tidak menggunakan sistem perpetual
untuk barang dalam proses. File induk persediaan yang diakuisisi, dijual, dana da
ditangan. Dalam sistem terkomputerisasi yang dirancang dengan baik, file itu juga
berisi informasi mengenai biaya perunit.

Untuk akuisisi bahan baku, file induk persediaan perpetual diperbaharui


secara otomatis ketika akuisisi persediaan diproses sebagai bagian dari pencatatan
akuisisi. Misalnya, saat sistem komputer memasukkan jumlah unit dan biaya tiap
pembelian bahan, informasi ini digunakan untuk memutakhirkan berkas induk
persediaan perpetual bersama dengan jurnal perolehan dan berkas induk hutang
usaha.

Transfer bahan baku dari ruang penyimpanan harusdimasukkan secara


terpisah ke dalam komputer untuk memperbarui catatan perpetual.pada umumnya
hanya unit yang di transfer yang perlu dimasukkan karena komputer menentukan
biaya per unit dari file induk.

Berkas induk perpetual persediaan barang jadi mengikutkan informasi


serupa dengan bahan baku,tetapi dengan kompleksitas yang lebih besar jika
catatan biaya per unit juga diikutkan. Biaya- biaya barang jadi terdiri dari bahan
baku , buruh langsung dan biaya overhead yang seringkali membutuhkan alokasi
dan pencatatan yang rinci jika catatan perpetual menyertakan biaya per unit,
pencatatan akuntansi biayanya harus diintigrasikan dalam suatu sistemkomputer.
2.2.2 Bagian-Bagian Audit Persediaan

Tujuan menyeluruh dalam audit atas persediaan dan pergudangan adalah


untuk menetuksn apakah persediaan bahan baku, barang dalam proses, dan barang
jadi telah disajikan secara wajar dalam laporan keuangan. Siklus dasar persediaan
dan pergudangan dapat dibagi menjadi lima aktivitas yang berbeda dalam siklus:

table 1

1. Mengakuisisi Dan Mencatat Bahan Baku, Biaya Buruh DanOverhead

Pada bagian ini, audit memiliki 3 (tiga) fungsi, yaitu pemrosesan atas
pembelian pesanan, penerimaan bahan baku, dan penyimpanan bahan baku (table
1). Auditor mendapatkan pemahaman mengenai pengendalian internal atas ketiga
fungsi tersebut dan kemudian melakukan pengujian pengendalian dan pengujian
substantif atas transaksi, baik transaksi siklus akuisisi dan pembayaran serta siklus
penggajian dan personalia.

Pengujian terhadap pengendalianakuisisi bahan baku dan biaya


manufaktur tersebut harus berjalan efektif dan transaksi akuisisi dinyatakan
dengan benar. Bila tenaga kerja langsung merupakan bagian penting dalam
persediaan manufaktur, maka auditor harus melakukan verifikasi proses akuntansi
yang benar atas biaya inidalam siklus penggajian danpersoalia.
2. Mentrasfer Aktiva Dan Biaya

Pemindahan internal dalam persediaan meliputi fungsi ke 4 (empat), yaitu


pemrosesan barang dan pentimpanan barang jadi (table 1). Klien membukukan
aktivitasnya dalam pencatatan akuntansi biaya, yang independen dari siklus lain
dan diuji sebagai bagian dari audit siklus persediaan dan pergudangan.

3. Mengirimkan Barang Dan Mencatat Pendapatan SertaBiaya

Pencatatan pengiriman dan biaya terkait merupakn fungsi terakhir (table


1). Proses ini merupakan bagian dari siklus penjualan dan penagihan, maka
auditor harus mendapatkan pemahaman dan pengujian pengendalian internal atas
pencatatan pengiriman sebagai bagian dari audit siklus ini, termasuk prosedur
dalam verifikasi akurasi kredit atas persediaan yang dicatat daalam berkas utama
persediaanperpetual.

4. Mengamati Persediaan Secara Fisik

Auditor harus mengamati klien dalam menghitung persediaan fisik untuk


menentukan apakah persediaan yang tercatat memang ada pada tanggal neraca
dan dihitung dengan benar oleh klien. Pemeriksaan fisik merupakan jenis bukti
penting yang dapat digunakan utuk melakukan verifikasi terhadap keberadaan dan
perhitunganpersediaan.

5. Menetapkan Harga Dan MengkompilasiPersediaan

Biaya yang digunakan untuk menilai persediaan harus diuji untuk


menentuan apakah klien mengikuti metode prsediaan yang sesuai dengaan SAK
dan konsisten dengan tahun-tahun sebelumnya. Prosedur yang digunakan auditor
untuk melakukan verifikasi biaya ini disebut pengujian harga. Sebaagai
taambahaan, auditoe harus melakukan pengujian kompilasi persediaan. Yaitu
suatu pengujian utuk melakukan verifikassi apakah perhitungan fisik dilakukan
dengan benar, kuantitas dan harga persediaan dijabarkan dengan benar untuk
menghitung saldo bukubesar.
Selanjutnya Auditor menguji akuisisi dan melakukan pencatatan bahan
baku, tenaga keja langsung, daan overhead sebagai bagian dari siklus akuisisi dan
pembayaran serta siklus penggajian dan personalia. Mereka juga menguji
pengiriman barang dan mencatat pendapatan dan biayaterkait dengan siklus
penjuaalan dan penagihan. Auditor peerlu mempertimbangkanhasil pengujian
tersebutdalam siklus lainnnyauntuk menentukan sifat dan lingkup pengujian
subtantif yang diperlukandalam audit persediaan.

2.2.3 Audit AkuntansiBiaya

Sistem dan pengendalian tas akuntansi biaya bervariasi di setiap


perusahaan. Lebih bervariasi dibandingkan dengan wilayah audit lainnya, karea
jenis persediaan dan tingkat kemutahiran yang diinginkan manajemen sangat
bervariasi. Misalnya, perusahaan yag memproduksi mesin pertanian dapat
memiliki pencatatan akuntansi dan pengendalian internl yang sangat berbeda
denngan produsen baja yang membuat dan memasang lmari besi pesanan.tentunya
perusahaan kecil dengan pemilik yang secara aktif terlibat dalam proses produksi
akan membutuhkanpencatatan yang lebih sederhana dibandingkan perusahaan
besar yang menghasilkan bermacam-macam produk.

1. Pengendalian AkuntansiBiaya

Pengendalian akuntansi biaya, adalah proses yang mempengaruhi


persediaan fisik dan penelusuran biaya terkait sejak bahan bakudipesan ssampai
barang selesai diproduksi dan dipindaahkan kepeyimpanan. Jenis pengendalian ini
dipisahkan menjadi 2 (dua) kategori :

1. Pengendalian fisik atas bahan baku, barang setengah jadi, dan persediaan
barangjadi.
2. Pengendalian atas biayaterkait

Untuk melindungi asset, banyak perusahaan secaraa fisik memisahkan dan


membatasi akses ketempat penyimpanan bahan baku, barang setengah jadi,dan
barang jadi untuk mengendalikan pergerakan persediaan. Klien dapaat
menggunakan dokumen bernomor urut untuk mengotorisasi pergerakan
persediaan agar tidak terjaddi penyalahgunaan asset. Salinan atas dokumen
tersebut harus dikirimkan langsung kebagian akuntansi oleh pihak yang
menerbitkan, tanpa melalui personel yang bertanggunngjawabatas
pengawasannya. Contoh dokumen yang efektif untk jenis ini adaalah permintaan
bahan baku yang disetujui untuk dikeluarkan dari ruangpenyimpanan.

Pengendalian akuntansi biaya yang efektif lainnya dapat dilakukan dengan


menyusun berkas utama persediaan perpetual yang dilakukan oleh personel yang
mewakili wewenang atau akses asset, dengan alasan sebagai berikut :

a) File tersebut menyediakan catatan persediaan yang ada di tangan, yang


digunakan untuk memulai produksi atau akuisisi bahan atau barang
tambahan.
b) File tersebut menyediakan catatan penggunaan bahan baku dan penjualan
barang jadi, yang dapat direview untuk melihat item-item yang using atau
bergeraklambat.
c) File tersebut menyediakan catatan untuk mempertanggungjawabkan
apabila ditemukan selisih antara perhitungan fisik dan jumlah yang tersaji
pada listing atau daftarperpetual.

2. Pengujian Akuntansi Biaya

Metodologi yang perlu diikuti auditor dalam memutuskan jenis pengujian


yang akan dilaksanakan. Auditor perlu memperhatikan empat aspek dalam
akuntansi biaya, yaitu:

1. Pengendalian fisik ataspersediaan

2. Dokumen dan pencatatan dalam pemindahanpersediaan

3. Berkas utama persediaanperpetual

4. Pencatatan biaya perunit


3. Pengendalian fisik

Pengujian auditor atas pengendalian fisik bahan baku, barang setengah


jadi, dan barang jadi hanya terbatas pada tindakan pengamatan dan tanya jawab.
Diamati apakah gudang dikunci dan ditangani oleh pegawai
yangkompeten.Auditor dapat meminta pengawas persediaan untuk menjelaskan
tugas mereka terkait dengan pengawas persediaan. Jika auditor menyimpulkan
bahwa pengendalian fisik tidak memadai dan persediaan akan sulit dihitung secara
akurat, maka auditor harus memperluas pengamatan ke pengujian persediaan fisik
untuk memastikan bahwa penghitungannyamemadai.

3. Dokumen dan Catatan PemindahanPersediaan

Perhatian utama auditor dalam hal pemindahan persediaan ialah apakah


pemindahan yang dicatat benar terjadi, pemindahan yang terjadi telah dicatat,
jumlah diskripsi dan tanggal transaksi dicatat dengan tepat.Pertama auditor
memahami internal control, kemudian pengujian melalui pemeriksaan terhadap
catatan dan dokumen dilakukan.

4. File Induk Persediaan Perpetual

Pengujian atas berkas induk persediaan perpetual untuk mengurangi


pengujian fisik atau mengubah sat pelaksanaannya dilakukan dengan pemeriksaan
dokumen, yaitu dokumen untuk verifikasi pembelian bahan yang mendukung
pengurangan persediaan bahan dan peningkatan barang jadi, pengurangan
persediaan barang jadi.

5. Catatan Biaya PerUnit

Pencatatan akuntansi biaya yang memadai harus diintegrasikan dengan


catatan produksi dan catatan akuntansi lain untuk mendapatkan biaya yang akurat
untuk semua produk.Auditor harus memahami internal control, dan pengujian
dilakukan sebagai bagian dari pengujian terhadap perolehan, penjualan dan
penggajian.Pengalokasian overhead juga harus dievaluasi.
2.2.4 ProsedurAnalitis

Prosedur analitis adalah hal yang penting dalam audit persediaan dan
pergudangan, saperti halnya dalam siklus lain. Dalam melakukan prosedur analitis
yang menguji hubungan antara saldo akun persediaan dan akun laporan keuangan
lainnya. Auditor sering menggunakan informasi non-keuangan untuk menilai
kewajaran saldo terkait persediaan. Misalnya, auditor membutuhkan informasi
mengenai ukuran dan berat produk persediaan, metode penyimpanannya (rak,
tangki, dll) dan kapasitas fasilitas penyimpanan untuk menentukan apakah
persediaan yang tercatat konsisten dengan persediaan yang tersimpan. Setelah
melakukan pengujian yang benar atas pencatatan akuntansi biaya dan prosedur
analitis, auditor memiliki dasar untuk mendesain dan melakukan pengujian
perincian saldo persediaan.

1. Metodologi Desain Pengujian PerincianSaldo

Persediaan jenisnya bervariasi disetiap perusahaan, oleh karena itu


pemahaman atas industri dan bisnis klien lebih penting dalam persediaan
dibandingkan dalam area lainnya. Beberapa hal pokok yang harus
dipertimbangkan auditor antara lain adalah metode penilaian persediaan yang
dipilih manajemen, potensi keusangan persediaan, dan risiko tertukarnya barang
konsinyasi dengan persediaan milik sendiri.

Auditor pertama kali harus mengenali persediaan klien dengan melakukan


pengecekan terhadap fasilitas penyimpanan klien, termasuk area penerimaan
barang, penyimpanan, produksi, perencanaan, dan penyimpanan catatan.
Pengecekan ini harus dipimpin oleh penyelia yang dapat menjawab pertanyaan
mengenai produksi, terutama mengenai perubahan dalam pengendalian internal
dan proses lain sejak tahun sebelumnya.
Oleh karena kompleksitas dalam persediaan, maka akan membahas dua
aspek pengujian pengendalian untuk perincian saldo, pengamanan fisik dan
penetapan harga dan kompilasi.

2. Prosedur analitis untuk siklus persediaan danpergudangan

Prosedur analitis Kemungkinan salah saji


Membandingkan persentasi margin Lebih saji atau kurang saji persediaan
kotor dengan tahun sebelumnya dan harga pokok penjualan
Membandingkan perputaran persediaan Persedian yang usang, yang
dengan tahun sebelumnya mempengaruhi persediaan dan harga
pokok penjualan.lebih saji atau kurang
saji persediaan.
Membandingkan biaya per unit Lebih saji atau kurang saji biaya per
persediaan dengan tahunsebelumnya unit, yang mempengaruhi persediaan
dan harga pokok penjualan
Membandingkan nilai persediaan yang Salah saji dalam kompilasi, biaya per
ditambahkan dengan tahun sebelumnya unit, atau perkalian, yang
mempengaruhi persediaan dan harga
pokok penjualan
Membandingkan biaya manufaktur Salah saji biaya per unit persediaan,
tahun berjalan dengan tahun terutama tenaga kerja langsung dan
sebelumnya overhead manufaktur, yang
mempengaruhi persediaan danharga
pokok penjualan.

2.2.5 Observasi FisikPersediaan

Memahami industri dan bisnis klien merupakan hal yang lebih penting
bagi persediaan dari pada besarnya bidang audit lainnya. Pertama auditor harus
menilai risiko bisnis klien dengan memahami kondisi sifat bisnis, pengaruh
industriklienterhadapperusahaam.Kemuadianauditorharusmemutuskansalah
saji yang dapat ditoleransi dan risiko inhern (auditor sering menilai perusahaan
dengan risiko inhern tinggi untuk perusahaan yang memiliki persediaan
signifikan, tergantung pada situasinya).Saat ini auditor harus menerima efektifitas
metode penghitungan klien, untuk memenuhi persyaratan itu auditor harus hadir
saat klien melakukan penghitungan fisik, mengamati prosedur penghitungan klien,
mengajukan pertanyaan mengenai prosedur penghitungannya, melakukan
pengujian atas penghitungan fisik independen. Titik yang paling penting adalah
terdapatnya pemisahantugas.

1. Persyaratan ObservasiPersediaan

Auditor diharuskan untuk melakukan pengujian observasi fisik atas persediaan


sejak sebuah kecurangan besar yang melibatkan pencatatan persediaan yang tidak
ada di ungkapka, pada tahun 1938 di McKesson & robbins Company. Kecurangan
tersebut tidak ditemukan karena auditor tidak mengamati secara fisik persediaan,
yang pada saat itutidak diharuskan.

Standar auditing mengharuskan auditor untuk menerima efektivitas metode


perhitungan pesediaan klien dan ketergantungan yang dapat mereka tempatkan
pada representasi klien mengenai kuantitas serta kondisi fisik persediaan.untuk
memenuhi persyaratan tersebut auditor harus :

a) Hadir pada saat klien menghitung persediaannya untuk menentukan saldo


akhir tahun
b) Mengamati prosedur perhitunganklien
c) Mengajukan pertanyaan kepada personil klien mengenai prosedur
perhitungannya
d) Melakukan pengujian atas perhitungan fisik independen merekasendiri
2. Pengendalian Terhadap PerhitunganFisik

Terlepas dari metode pencatatan persediaan, klien harus melakukan


perhitungan fisik secara periodik atas persediaan, tetapi tidak perlu setiap tahun.
Perhitungan fisik dapat dilakukan mendekati tanggal neraca, tanggal interim, atau
berbasis siklus sepanjang tahun. Dua pendekatan terakhir dapat dilakukan jika
terdapat pengendalian internal memadai atas berkas utama persediaan perpetual.
Auditor perlu memahami pengendalian atas perhitungan fisik persediaan yang
dilakukan klien sebelum perhitungan fisik dilakukan.

3. Keputusan Audit

Keputusan audit atas pengamatan fisik persediaan sama dengan yang


dilakukan pada area audit lainnya. Keputusan ini mencangkup dengan
prosedur audit, penetapan waktu dilaksanakannya prosedur, penentuan
jumlah sampel, dan pemilihan sampel untuk diuji. Tiga keputusan terakhir
akan dibahas berikut ini, dengan membahas prosedur audit yang memadai
untuk itu.

1. Penetapanwaktu

Auditor menutuskan apakah perhitungan fisik dapat dilakukan sebelum


akhir tahun, terutama dengan dasar akurasi berkas utama persediaan
perpetual. Saat klien melakukan perhitungan interim, yang disetujui
auditor bila pengendalian internal efektif, auditor pada saat itu
melakukan pengamatan atas prhitungan persediaan dan menguji
transaksi yang tercatat dalam pencatatan persediaan dari tanggal
perhitungan hingga akhir tahun.

2. Ukuransampel

Jumlah jenis persediaan yang harus dihitung auditor sering kali sulit
ditentukan karena auditor harus berkonsentrasi untuk mengamati
prosedur klien agar memudahkan jumlah sampel dalam pengamatan
fisik dapat diambil dari jumlah total jam yang dihabiskan, bukan
jumlah jenis persediaan yangdihitung.

3. Pemilihanitem
4. Saat auditor melakukan pengamatan atas perhitungan persediaan, mereka
harus berhati-hati dalam:
a) Mengamati perhitungan item-item yang paling signifikan
dansampel representative dari item persediaan yangumum
b) Menyelidiki item yang mungkin telah usang ataurusak
c) Membahas dengan manajemen menyangkut alasan mengeluarkan
setiap item yangmaterial
5. Pengujian Atas PengamatanFisik

Bagian terpenting dalam pengamatan persediaan adalah menentukan


apakah perhitungan fisik yang dilakukan sesuai dengan intruksi klien. Agar dapat
dilakukan secara efektif, maka auditor perlu hadir pada saat perhitungan
dilakukan.

Saat personil yang menghitung tidak menjalankan intruksi, auditor harus


menghubungi penyelia personil tersebut agar menyelesaikan persoalan ini atau
memodofikasi prosedur pengamatan. Misalnya, jika prosedur mengharuskan satu
tim menghitung persediaan dan tim kedua menghitung kembali untuk menguji
akurasinya, maka auditor harus menginformasikan keoada manajemen jika kedua
tim ini bekerja bersama-sama.

2.2.6 Audit Penetapan Harga DanKompilasi


1. Pengendalian Harga danKompilasi

Pengendalian biaya per unit yang terintegrasi dengan produksi


memberikan kepastian bahwa klien menggunakan penetapan biaya yang wajar
untuk menilai persediaan akhir. Pencatatan biaya standar berguna untuk
mengevaluasi kewajaran biaya produksi jika manajemen selalu memperbarui
prosedur terkait perubahan dalam produksi dan biaya.

Untuk mencegah persediaan yang sudah usang dimasukkan dalam


perhitungan atau lebih saji, klien harus melakukan telaah formal dan pelaporan
atas persediaan yang sudah usang, pergerakannya lambat, rusak atau lebih saji,
jugalakukanpengendalianinternalataskompilasipersediaanuntukmemastikan
penghitungan fisik driringkas dengan benar dan penetapan harganya sama dengan
pencatatan, dijumlahkan dengan benar, dan dimasukkan dalam berkas utama
persediaan perpetual dan akun buku besar terkait dalam jumlah yang benar.

2. Prosedur Penetapan Harga danKompilasi

Prosedur penetapan harga dan kompilasi bertujuan untuk pisah batas yang
dilakukan sebagai bagian dari penjualan dan akuisisi. Auditor dapat menggunakan
informasi yang diperolah dari klien sebagai kerangka referensi, termasuk deskripsi
masing-masing persediaan, jumlah, harga per unit, dan nilai perluasannya.
Adapun tujuan audit dan pengujian terkait atas penetapan harga dan kompilasi
persediaan

3. Penilaian Persediaan

Auditor harus memperhatikan tiga hal, Pertama, metodenya harus sesuai


dengan SAK. Kedua, penerapan metode harus konsisten dari tahun ke tahun.
Ketiga, biaya persediaan versus harga pasar harus dioertimbangkan. Dalam
verifikasi penetapan harga persediaan bergantung pada barang yang dibeli atau
diproduksi.

4. Penetapan Harga atas Persediaan yang Dibeli

Dalam penilaian persediaan yang dibeli, auditor harus menetukan apakah


klien menggunakan LIFO, FIFO, rata-rata tertimbang, atau metode penilaian
lainnya. Auditor harus menentukan biaya-biaya yang dimasukkan dalam penilaian
suatu jenis persediaan. Setelah itu, auditor harus berfokus pada persediaan dengan
nilai besar dan produk yang harganya berfluktuasi. Auditor juga harus mendata
jenis persediaan untuk diverifikasi atas penetapan harga dan meminta faktur
vendor kepada kliaen, lalu memeriksa faktur yang memadai untuk
memperhitungkan seluruh akun persediaan atas jenis yang diuji, terutama yang
menggunakan metode penilaian FIFO. Terakhir, auditor harus menguji biaya per
unit tercatat dalam pencatatan perpetual ke faktur vendor sebagai bagian dari
pengujian transaksi siklus dan pembayaran.
5. Penetapan Harga Persediaan yang Diproduksi

Dalam menetapkan harga persediaan yang diproduksi, auditor harus


mempertimbangkan biaya per unit atas bahan baku dan jumlah unit yang
diperlukan dalam memproduksi setiap unit output. Auditor juga harus memeriksa
faktur vendor atas berkas utama persediaan perpetual, lalu memeriksa spesifikasi
rancangan, memeriksa produk yang selesai dibuat, atau menemukan metode
sejenis untuk menentukan jumlah unit yang diperlukan untuk membuat satu unit
produk.

Dalam hal tenaga kerja langsung, auditor harus melakukan verifikasi biaya
per jam atas tenaga kerja dan jumlah jam kerja yang diperlukan untuk membuat
satu unit output. Auditor dapat menetukan jumlah jam kerja untuk memproduksi
barang dari spesifikasi rancangan atau sumber serupa.

Dalam overhead manufaktur, auditor harus mengevaluasi metode yang


digunakan untuk menguji konsistensi dan kewajaran dan menghitung kembali
biaya untuk menentukan apakah biaya overhead sudah benar. Jika klien memiliki
pencatatan biaya standar, maka metode yang tepat untuk menentukan penilaian
adalah dengan menalaah dan menganalisis selisih.

6. Biaya Perolehan atau Harga Pasar

Dalam menetukan biaya Harga Perolehan Persediaan, auditor harus


mempertimbangkan nilai realisasi bersih yang lebih kecil daripada biaya historis.
Lalu, auditor dapat menguji biaya penggantian dengan memeriksa faktur vendor
pada periode jeda atau faktur terakhir yang jika tidak terdapat pembeliaan
persediaan setelah akhir tahun. Auditor pun harus mempertimbangkan nilai
penjualan persediaan dan kemungkinan dampak fluktuasi harga untuk
menemukan nilai realisasi, dimana kemungkinan keusangan saat mengevaluasi
persediaan.
2.2.7 IntegrasiPengujian
1. Pengujian atas Siklus Akuisisi danPembayaran

Auditor melalukan verifikasi pembelian persediaan dan juga


mengumpulkan bukti atas akurasi pembelian bahan baku dan seluruh biaya
overhead manufaktur, kecuali biaya tenaga kerja. Biaya pembelian mengalir ke
harga pokok penjualan atau menjadi bagian terbesar dari persediaan akhir bahan
baku, barang setengah jadi, dan barang jadi. Untuk audit yang kliennya
menggunakan persediaan perpetual, auditor melakukan pengujian ini sebagai
bagian dari prosedur pengujian pengendalian dan pengujian substantif atas
transaksi yang dilakukan daloam siklus akuisisi dan pembayaran.

2. Pengujian atas Siklus Penggajian danPersonalia

Auditor melakukan verifikasi pada biaya tenaga kerja langsung yang


kondisinya sama diterapkan seperti dalam pembelian. Kebanyakan pencatatan
akuntansi biaya untuk biaya tenaga kerja langsung atau tidak langsung dapat diuji
sebagai bagian dari audit siklus penggajian dan personalia.

3. Pengujian atas Silkus Penjualan danPenagihan

Pengujian audit dalam penyimpanan barang jadi, seperti pengiriman dan


pencatatan penjualan, akan terjadi bila silkus penjualan dan penagihan diuji. Saat
klien menggunakan pencatatan biaya standar, auditor dapat menguji biaya standar
atas harga pokok penjualan bersamaan dengan pengujian penjualan.

4. Pengujian AkuntansiBiaya

Pengujian atas pencatatan akuntansi biaya dilakukan untuk memverifikasi


pengendalian yang memengaruhi persediaan, yang tidak diverifikasi auditor dalam
pengujian ketiga silkus sebelumnya. Auditor menguji pengendalian fisik,
pemindahan biaya bahan baku ke barang setengah jadi, pemindahan biaya atas
penyelesaian barang ke barang jadi, berkas utama persediaan perpetual, dan
pencatatan biaya per unit.
5. Persediaan Fisik, Penetapan Harga danKompilasi

Persediaan fisik, penetapan harga, dan kompilasi penting dalam audit


persediaan karena salah saji salah satu aktivitas dapat menghasilkan salah saji
pada persediaan dan harga pokok penjualan. Dalam audit, harga pokok penjualan
merupakan nilai sisa dari persediaan awal ditambah pembelian bahan baku, biaya
tenaga kerja langsung, dan biaya overhead manufaktur dikurangi persediaanakhir.

Pada pengujian persediaan fisik, auditor sabgat bergantung pada berkas


utama persediaan perpetual jika diuji sebagai bagian dari siklus yang telah kita
bahas dan telah dianggap andal. Oleh karena itu, auditor dapat mengamati dan
menguji penghitungan fisik pada waktu di luar akhit tahun dan menggunakan
perpetual agar pencatatan jumlahnya memadai.

Saat auditor menguji pengendalian dan melakukan pengujian substantif


atas transaksi dan saldo persediaan terkait, mereka juga mengintegrasikan
pengujian yang berhubungan dengan tujuan audit terkait saldo, dengan melakukan
pengujian yang memenuhi 4 tujuan penyajian dan pengungkapan. Standar
akuntansi mensyaratkan pengungkapan atas metode penilaian persediaan dan
informasi persediaan lainnya yang relevan, seperti informasi LIFO cadangan, pada
penjelasan tambahan. Auditor harus memperoleh pemahaman atas pengendalian
klien sehubungan dengan pengungkapan persediaan yang melakukan pengujian
pengendalian tersebut dan pengujian substantif untuk memperoleh bukti memadai
bagi keempat tujuan penyajian danpengungkapan.
2.3 Audit Atas Siklus Perolehan Ekuitas dan Hutang Serta
Pembayaran Kembali
2.3.1 Karakteristik Siklus Perolehan Dan Pembayaran KembaliModal

Terdapat empat karekteristik siklus perolehan dan pembayaran kembali modal


sebagai berikut:
1. Relatif sedikit transaksi yang mempengaruhi saldo akun, tetapi setiap
transaksi seringkali jumlahnya sangatmaterial.
2. Jika tidak dimasukkan satu transaksi tertentu, mungkin jumlahnya
akanmaterial.
3. Terdapat hubungan hukum entitas usaha klien dan pemegang saham,
obligasi, atau dokumen – dokumen pemilihanserupa.
4. Terdapat hubungan langsung antara akun bunga dan dividen dengan
kewajiban danekuitas.
2.3.2 Akun-Akun Dalam Siklus Perolehan Dan Pembayaran Kembali Modal
Berikut ini akun-akun yang terdapat dalam aufit siklus perolehan dan pembayaran
kembalimodal:
1.Weselbayar
2.Kontrak yang masih harus dibayar
3.Hutanghipotik
4.Hutang obligasi
5.Beban bunga
6.Bunga yang masih harus dibayar
7.Kas bank
8.Modal saham – saham biasa
9.Modal saham – saham preferen
2.3.4 Wesel Bayar
Wesel bayar adalah kewajiban hukum kepada kreditor yang tidak dijamin
atau dijamin oleh aktiva. Umumnya wesel, diterbitkan untuk suatu periode antara
1 bulan dan 1 tahun, tetapi terdapat juga wesel jangka panjang yang lebih dari
setahun
2.3.5 Pengendalian Intern Atas WeselBayar
Pengendalian intern atas wesel bayar adalah sebagai berikut:
1. Otorisasi yang memadai atas penerbitan wesel baru.
2. Pengendalian yang mencukupi atas pembayaran pokok pinjaman dan
bunga.
3. Dokumen dan catatan – catatan memadai .
4. Verifikasi indepeden secaraperiodik.
2.3.6 Pengujian Atas Saldo Wesel Bayar
Tiga Tujuan Audit terkait – saldo yang terpenting dalam wesel bayar adalah
sebagai berikut:
1. Wesel bayar yang ada yang telah dimasukkan(kelengkapan).
2. Wesel Bayar di dalam skedul dibukukan secaraakurat.
3. Wesel bayar disajikan dan diungkapkan secara semestinya (penyajian
danpengungkapan).
2.3.7 Tujuan Audit EkuitasPemilik
Tujuan audit ekuitas pemilik :
1. Pengendalian intern atas modal saham dan deviden terkaitmencukupi.
2. Transaksi ekuitas pemilik dibukukan dengan semestinya, sebagaimana
yang didefinisikan oleh enam tujuan terkait –transaksi.
3. Saldo ekuitas pemilik disajikan dan diungkapkan dengan semestinya,
sebagaimana didefinisikan oleh tujuan audit terkait – saldo untuk akun
ekuitas pemilik (hak/kewajiban dan nilai yang dapat direalisir tidak
diaplikasikan.
2.3.8 Pengendalian Intern EkuitasPemilik
Pengendalian intern ekuitas pemilik dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1. Otorisasi Transaksi yangMemadai
2. Penerbitan ModalSaham
3. Pembelian Kembali ModalSaham
4. Penyelenggaraan Pembukuan dan Pemisahan Tugas yangMemadai.
2.4 Audit Saldo Kas dan Bank PenyelesaianAudit

2.4.1 Pengertian Kas Dan SaldoKas


Kas merupakam aktiva/asset perusahaan yang paling likuid dan paling rentan terjadi
penyelewangan , penipuan, dan pencurian (slamet sugiri, 2009 ; 1)
Kas adalah alat pertukaran/pembayaran. Terdapat dua syarat yang harus
dipenuhi asset disebut sebagai kas yaitu :
a. harus siap digunakan setiap saat untuk melakukanpembayaran
b. harus bebas dari ikatan-ikatan apapun yang membatasi penggunaanya
untuk melunasi kewajiban. (Slamet Sugiri, 2009:4).
Kas dapat disebut juga sebagai aktiva likuid (cair), karena sifatnya yang
likuid maka kas harus dilindungi dari kecurangan dan pencurian dengan prosedur-
prosedur pengendalian untuk kas. (Haryono, 2005 :3).
Istilah kas dalam pengertian sempit dapat berarti uang tunai baik kertas
maupun logam. Istilah kas dalam akuntansi meliputi (Erhans, 2000 : 7) :
a. Uangtunai
b. Simpanan di bank yang setiap saat dapat digunakan misalnya tabungan,
simpanan dalam bentuk rekening koran, kartu kredit dansebagainya.
c. Cek dan bilyet giro yang diterima dari pihaklain.
Menurut PSAK NO.2 (2009), kas terdiri atas saldo kas (cash on hand) dan
rekening giro (demand deposits), sedangkan setra kas (cash equivalent) adalah
investasi yang sifatnya sngat likuid, berjangka pendek, dan yang dengan cepat
dapat di jadikan kas dlam jumlah yang dapat di tentukan dan memiliki resiko
perubhan nilai yang tidak signifikan.

Kas adalah satu-satunya akun yang termasuk dalam beberapa jenis siklus. Kas
merupakan bagian dari siklus siklus kecuali persediaan dan pergudangan. Kas
sangat penting karena potensi terjadinya kecurangan dan juga karena kemungkinan
terdapat kesalahan.

Audit saldo kas merupakan bidang audit yang terakhir dipelajari karena bukti yang di
akumulasikan untuk saldo kas sangat tergantung pada hasil pengujian di dalam siklus
lain. Saldo kas meliputi penerimaan ditangan yang belum disetor, kas di bank,pada
rekening giro umum dan rekening tabungan, serta akun impres seperti kas kecil dan
rekening di bank untuk gaji.

2.4.2 Sifat SiklusKas


Saldo kas dihasilkan dari pengaruh kumulatif kelima siklus transaksi
yang telah di bahas sebelumnya. dari kelima siklus Tersebut adalah :
1. Sikluspendapatan
2. Sikluspengeluaran
3. Sikluspendanaan
4. Siklusinvestasi
5. Siklus jasapersonalia

2.4.3 Tujuan Audit SaldoKas


Tujuan saldo kas adalah untuk memperoleh bukti tentang masing-masing asersi
sighnifikan yang berkaitan dengan transaksi dan saldo kas. Tujuan Audit ditantukan atas
lima asersi lapran yang dinyatakan oleh manajemen yaitu asersi keberadaan, asersi
kelengkapan, asersi hak & kewajiban, asersi penilaian dan pengalokasian, asersi
pelaporan dan pengungkapan.
a. Asersi Keberadaan dan Keterjadian
 saldo kas tercatat benar-benar ada pada tanggalneraca
b. Asersi Kelengkapan
 Saldo kas meliputi pengaruh semua transaksi kas yangterjadi
 transfer kas antar bank pada akbir tahun, telah dicatat pada periode yangtepat.
c. Asersi hak dankewajiban
 klien mempunyai legal atas seluruh saldo kas yang tampak pada tanggalneraca.
d. Asersi pelaporan danpengungkapan
 saldo kas telah diidentifikasi dan dikelompokkan dengan tepat dalamneraca
 identifikasi dan pengungkapan yang tepat dan memadai telaj dilakukan sehubungan
dengan adanya pembatasan penggunaan kastertantu.
 kewajiban kotijensi, compensating balances, dan lines of credit dengan bank telah
diungkapkan secaramemadai.

3. MATERIALITAS , RESIKO DAN STRATEGIAUDIT


Tingkat volume transaksi menyebabkan tingginya resiko bawan siklus kas. Ada
beberapa factor yang menyebabkan resiko bawan siklus kas, antara lain :
a. Tingginya potensi salah saji akibat volume transaksi yngtinggi
b. Sifat kas (paling liquit da sangatdiminati)
c. Kesempatan manipulasi dalam bentuk kitting maupun windowdressing.
Tingginya resiko bawaan siklus ini menyebabkan banyaknya perusahaan
memprioritaskan atau memperluas struktur pengendalian intern siklus kas untuk
mencengah dan mendeteksi salah saji.
4. PEMAHAMAN STRUKTUR PENGENDALIANINTER
Pemahaman struktur pengendalian itern siklus kas adalah pertimbangan lingkungan
pengendalian, informasi dan komunikasi (system akuntansi), penafsiran resiko
pemantauan dan aktivitas pengendalian.
a. Lingkungan pengendalian
Titik tolak pemahaman struktur pengendalian intern siklus kas adalah pemahaman
lingkungan . pengendalian atas kas , pemahaman dapat diperoleh melalui :
1. Pengajuan pertanyaan kepadamanajemen.
2. Mempelajari bagan organisasi
3. Menelaah deskripsi tugas
b. Penafsiranresiko
Penaksiran risiko entitas untuk tujuan pelaporan keuangan merupakan
pengidentifikasian, analisis, dan pengelolaan risiko yang relavan dengan
penyusunan laporan keuangan yang disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip
akuntansi berterima umum diindonesia.
karena kas merupakan aktiva yang paling likuid, maka manajemen perusahaan
harus benar – benar mempertimbangkan fungsi – fungsi yang terlibat dalam
siklus kas.
c. Informasi dan komunikasi (systemakuntansi)
Akuntansi harus memahami kompetensi personil akuntansi dan bagian EDP yang
bertanggung jawab atas pengolahan transaksi kas. Jadi kaitan nya dengan
informasi dan komunikasi ini dalam siklus kas, sistem informasi mencakup
metode dan catatan yang digunakan untuk :
1. Mengidentifikasi dan mencatatan semua transaksi yang terkait dengan sikklus kas
secarakas.
2. Menjelaskan pada saat yang tepat transaksi dalam siklus kas secara cukup rinci
dan memungkinkan adanya penggolongan masing – masing transaksi itu untuk
pelaporankeuangan.
3. Mengukur nilai transaksi dari siklus kas dengantepat.
4. Menyajikan transaksi dari siklus kas dengan semestinya dan pengungkapan yang
berkaitan dalam laporankeuangan.
d. Aktivitaspengendalian
Aktivitas pengendalian yang relavan dengan audit atas transaksi dalam sikls kas
dapat digolongkan menjadi beberapa kebijakan dan prosedur yang
berkaitan dengan :
1. Reviewkinerja
2. Pengolahaninformasi
3. Pengendalian fisik Pemisahan tugas
Dokumendancatatan

Dokumen dan pencatatan yang dipakai meliputi :

1. Bukti kasmasuk
2. Suratpemberitahuan
3. Dftar surtpemberitahun
4. Buktisetoran
5. Bukti kaskeluar
6. Permintaan pengeluaran kaskecil
7. Bukti pengeluaran kas kecil
8. Permintaan pengisin kembali kaskecil