Anda di halaman 1dari 7

 

Journal of Indonesian History, Vol. 1 (2) tahun 2012

Vol. 1 No. 2 tahun 2012 [ISSN 2252-6633]


Hlm. 118-124

PERKEMBANGAN MUSEUM SITUS SANGIRAN DAN


PENGARUHNYA TERHADAP ILMU PENGETAHUAN
TAHUN 1974-2004

Emmy Ernifiati
Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negri Semarang
historiaunnes@gmailcom

ABSTRACT

Sangiran Museum is a museum that holds many relics and artifacts exist in ancient times in Sangi-
ran. Sangiran Museum is currently been used as a center for research and development of science.
This study aims to determine management efforts and utilization Sangiran Museum, and the effect
of Sangiran Museum to science. Based on the research results are as follows Sangiran Museum
have utilization management efforts so as to improve both the function and role as a conservation,
education, and development of science. Effect of Sangiran Museum on science is enormous, with
new discoveries and unique environmental conditions such as natural laboratories to be a media
center for research and education so as to enhance the development of science. Besides the develop-
ment of science as it fosters awareness and insight into the historical significance of a fossil for the
next generation of knowledge so that the smuggling and illegal fossil trade is no longer in Sangiran.

Keywords: Sangiran Museum, influence, science.

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui upaya pengelolaan dan pemanfaataan Museum Situs
Sangiran dan pengaruh Museum Situs Sangiran terhadap ilmu pengetahuan. Metode yang
digunakan adalah metode sejarah yang meliputi tahap heuristik, kritik, interpretasi, dan historio-
grafi. Pengumpulan data menggunakan teknik dokumentasi dan wawancara. Berdasarkan
penelitian Museum Situs Sangiran mempunyai upaya pengelolaan dan pemanfaatan yang baik
sehingga dapat meningkatkan fungsi dan peranannya sebagai tempat konservasi, edukasi, dan
perkembangan ilmu pengetahuan. Pengaruh Museum Situs Sangiran terhadap ilmu pengetahuan
sangat besar, melalui berbagai penemuan baru dan kondisi lingkungan yang khas sebagai laborato-
rium alam tersebut menjadi tempat pusat penelitian dan media edukasi sehingga dapat meningkat-
kan perkembangan ilmu pengetahuan. Selain itu perkembangan ilmu pengetahuan saat itu menum-
buhkan kesadaran dan wawasan sejarah pentingnya sebuah fosil untuk pengetahuan generasi
penerus bangsa sehingga kegiatan penyelundupan dan perdagangan fosil secara ilegal tidak ada lagi
di Sangiran.

Kata kunci: Museum Situs Sangiran, pengaruh, ilmu pengetahuan.

118 korespondensi
Alamat
Gedung C2 Lantai 1, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang
Kampus Sekaran, Gunungpati, Kota Semarang 50229
  Perkembangan Museum Situs Sangiran … - Emmy Ernifiati

PENDAHULUAN mentara itu Museum Situs Sangiran yang


telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya
Museum adalah khasanah penge- Dunia apakah memberikan kontribusi yang
tahuan, peran museum sangat penting yai- cukup besar bagi perkembangan ilmu
tu menjadi sumber ilmu pengetahuan se- pengetahuan.
hingga berpotensi untuk dimanfaatkan se-
bagai tempat pendidikan (Arbi, 2000: 1-7).
Selain itu museum merupakan wahana METODE PENELITIAN
edukatif yang dapat dimanfaatkan cukup
efektif bagi masyarakat luas. Oleh karena Penelitian ini menggunakan metode
itu, perlu dibangun kesadaran bersama penelitian sejarah. Metode penelitian se-
pentingnya memberdayakan fungsi jarah adalah suatu proses sejarah yang
edukatif pada museum secara efektif, baik mengacu dan menganalisa secara kritis
dari pengelola museum maupun masyara- rekaman dan peninggalan masa lampau
kat luas sebagai pengguna museum. Muse- atau sumber sejarah (Gottschalk, 1975: 32).
um dapat juga menjadi sarana efektif untuk Penelitian ini dilakukan di Museum Situs
menjadi mitra pendidikan dan ilmu penge- Sangiran dan daerah sekitarnya, yang
tahuan, termasuk untuk kalangan pelajar, difokuskan pada masalah perkembangan
mahasiswa, guru dan dosen. Museum Situs Sangiran, upaya pengel-
Sangiran merupakan situs terpenting olaan dan pemanfaatan Museum Situs
untuk perkembangan berbagai bidang ilmu Sangiran, dan pengaruh Museum Situs ter-
pengetahuan terutama untuk penelitian di hadap ilmu pengetahuan.
bidang antropologi, sejarah, arkeologi, bi-
ologi, paleoantropologi, geologi, dan tentu
saja untuk bidang kepariwisataan. HASIL DAN PEMBAHASAN
Keberadaan Museum Situs Sangiran san-
gat bermanfaat untuk mempelajari ke- Perkembangan Museum Situs Sangiran
hidupan manusia prasejarah karena situs Tahun 1974-2004
ini dilengkapi dengan fosil manusia purba,
hasil-hasil budaya manusia purba, fosil flo- Dalam perkembangannya Museum
ra dan fauna purba beserta gambaran Situs Sangiran terus mengalami perkem-
stratigrafinya (Hidayat, 2004: 5). bangan baik perkembangan yang ada di
Museum Situs Sangiran ini terletak Museum Situs Sangiran maupun perkem-
di Desa Krikilan, Kecamatan Kalijammbe, bangan dalam masyarakatnya. Pada sekitar
Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Museum tahun 1974 dibangun musuem pertama
Situs Sangiran merupakan museum yang disebut Museum Plestosen. Museum
arkeologi yang menyimpan fosil manusia Plestosen saat itu difungsikan sebagai tem-
purba berdiri tegak terlengkap di Asia. pat penampungan seluruh hasil temuan
Museum Situs Sangiran menyimpan fosil yang ada di Kawasan Sangiran. Pada
berbagai peninggalan sisa-sisa kehidupan tahun 1977 Kawasan Situs Sangiran
mahkluk hidup pada masa purba sehingga ditetapkan sebagai Daerah Cagar Budaya
ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia oleh Prof DR. Fuad Hassan Menteri Pen-
pada tahun 1996. Peran museum bukan didikan dan Kebudayan dengan menge-
hanya tempat perkembangan ilmu penge- luarkan Surat Keputusan No. 070/O/1977.
tahuan saja melainkan sebagai tempat ber- Hal tersebut bertujuan untuk mengurangi
sosialisasi dan rekreasi, contoh museum kegiatan penggalian, penyelundupan dan
yang memiliki peran tersebut yaitu Muse- perdagangan fosil secara ilegal yang sering
um Ronggowarsito dan Museum Jago. terjadi di Sangiran saat itu. Penetapan se-
Kedua museum tersebut telah memberikan bagai Daerah Cagar Budaya Berimplikasi
kontribusi yang besar bagi perkembangan terbaginya Kawasan Sangiran menjadi dua
ilmu pengetahuan meskipun belum ditetap- yaitu Daerah Cagar Budaya sisi utara
kan sebagai Warisan Budaya Dunia. Se- dikelola oleh Pemda Sragen dan Daerah

119
Journal of Indonesian History, Vol. 1 (2) tahun 2012

Cagar Budaya sisi selatan dikelola oleh bagi perkembangan sejarah umat manusia
Pemda Karanganyar. sehingga saat ini tidak ada lagi tindakan
Saat itu Daerah Cagar Budaya sisi terlarang seperti penyelundupan dan
selatan belum memiliki tempat untuk men- perdagangan fosil secara ilegal yang dahulu
ampung seluruh temuan fosil yang ada di sering ditemukan di Sangiran (wawancara
Daerah Cagar Budaya sisi selatan sehingga dengan Sukronedi, tanggal, 23 Februari
dibangun museum baru yang disebut 2012).
dengan museum sisi selatan. Pada tahun
1977 dibangun museum sisi selatan yang
terletak di Desa Dayu, Kec. Gondangrejo, Upaya Pemanfaatan Museum Situs Sangi-
Kab. Karanganyar. Namun museum ini ran Tahun 1974-2004
tidak bertahan lama sehingga bangunannya
dibongkar dan saat ini dialihfungsikan Pemanfaatan adalah usaha atau
menjadi Pendopo Desa Dayu. Dalam upaya untuk pendayagunaan, peningkatan
perkembangannya Museum Plestosen lebih potensi nilai museum untuk mempersebar-
berkembang dibandingkan dengan muse- kan informasi. Fungsi museum adalah se-
um sisi selatan dan memilki hasil temuan bagai sumber informasi dan lembaga peles-
fosil yang semakin melimpah. Namun tarian warisan budaya. Informasi tersebut
musuem ini merupakan museum mini tersimpan dalam bentuk benda-benda bukti
yang dibangun pada areal tanah dengan materiil baik dari hasil budaya manusia,
luas 100 m² sehingga tidak mampu men- alam maupun lingkungannya (Direktorat
ampung seluruh temuan fosil yang ada di Permuseuman, 2000: 42). Sebagai sumber
Sangiran saat itu sehingga tercipta gagasan informasi, museum harus menyebarluas-
untuk membangun museum baru yang kan informasi yang dimilikinya kepada
lebih luas. masyarakat untuk diketahui dan di-
Pada tahun 1983 dibangun museum manfaatkan guna meningkatkan wawasan
baru yang lebih luas menggantikan Muse- dan pengetahuan bagi masyarakat. Fungsi
um Plestosen. Museum baru tersebut diberi dan peranan museum sangat penting untuk
nama Museum Situs Sangiran. Museum ini dimanfaatkan sebagai tempat untuk mem-
dibangun di Dusun Ngampon, Desa Kriki- persebarkan informasi dan tempat perkem-
lan, Kec. Kalijambe, Kab. Sragen. Koleksi bangan ilmu pengetahuan.
yang ada di Museum Situs Sangiran saat Museum Plestosen merupakan muse-
itu berasal dari seluruh temuan fosil yang um pertama telah ada sejak tahun 1974
ada di Museum Plestosen dan museum sisi hingga 2004. Museum Plestosen hanya di-
selatan. Museum Situs Sangiran menyim- manfaatkan sebagai tempat penampungan
pan berbagai temuan fosil untuk seluruh temuan fosil yang ada di Kawasan
mengungkapkan sejarah evolusi umat Sangiran. Walaupun pada saat itu banyak
manusia di dunia. Selain itu Museum Situs para peneliti baik dari dalam maupun luar
Sangiran memiliki kondisi situs yang khas negeri datang ke Sangiran, namun para
sebagai laboratorium alam dengan bebera- peneliti tersebut tidak meneliti Museum
pa stratigrafi tanah yang ada di dalamnya, Plestosen melainkan lebih tertarik untuk
pada setiap stratigrafi tanah telah mewakili meneliti Situs Sangiran dan temuan fosil
setiap peristiwa yang terjadi di masa purba. yang terkandung di dalamnya tersebut se-
Berdasarkan hal tersebut Museum Situs hingga Museum Plestosen saat itu belum
Sangiran ditetapkan sebagai Warisan Bu- dimanfaatkan sebagai tempat penelitian.
daya Dunia pada tahun 1996. Dengan Pengunjung yang berkunjung ke Museum
ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia Plestosen saat itu masih sangat sedikit. Hal
tersebut, Museum Situs Sangiran telah tersebut dipengaruhi karena masyarakat
menjadi milik seluruh dunia. Sementara itu luar saat itu belum banyak yang menge-
perkembangan yang terjadi dalam tahui keberadaan Museum Plestosen
masyarakat Sangiran terlihat dari adanya (wawancara dengan Sisdaliman, tanggal, 8
kesadaran sejarah pentingnya sebuah fosil April 2012).

120
  Perkembangan Museum Situs Sangiran … - Emmy Ernifiati

Museum sisi selatan dibangun pada yaitu 1) publikasi benda koleksi, Museum
tahun 1977 yang terletak di Kawasan Situs Sangiran sebagai tempat untuk
Cagar Budaya sisi selatan. Museum sisi mempublikasikan benda koleksi kepada
selatan pada saat itu hanya dimanfaatkan pengunjung museum; 2) tempat konservasi
sebagai basecamp bagi para ahli yang men- benda koleksi, mendatangkan tenaga ahli
eliti Kawasan Cagar Budaya sisi selatan untuk melakukan konservasi pada benda
dan sebagai tempat penampungan temuan koleksi yang ada di Museum Situs Sangi-
fosil yang diperoleh dari Kawasan Cagar ran dan memilih bahan-bahan konservasi
Budaya sisi selatan saat itu. Para ahli yang yang sesuai dengan kondisi kerusakan pada
datang untuk meneliti Kawasan Cagar Bu- fosil; 3) perlindungan dan pengamanan
daya sisi selatan lebih sedikit dibandingkan Situs Sangiran, melakukan kegiatan
dengan para ahli yang meneliti di Kawasan penyuluhan kepada masyarakat sekitar
Cagar Budaya sisi selatan sehingga Sangiran yang diselenggarakan pada setiap
pengunjung yang datang ke museum sisi desa; 4) tempat obyek wisata, melengkapi
selatan saat sedikit sekali. Hal tersebut di- sejumlah sarana dan prasarana untuk
pengaruhi karena museum sisi selatan saat menunjang kegiatan pariwisata, mening-
itu tidak begitu dikenal oleh masyarakat katkan kenyamanan bagi para pengunjung
luar dan museum sisi selatan tidak mempu- museum, membina para pengrajin maupun
nyai ruang pameran untuk menyajikan pedagang souvenir yang ada di Situs Sangi-
hasil temuan fosil dari Kawasan Cagar Bu- ran, dan melakukan promosi seperti pem-
daya sisi selatan. Oleh karena itu museum buatan brosur serta pemasangan pamlet-
sisi selatan pada saat itu tidak bertahan la- pamlet; 5) perkembangan ilmu penge-
ma (wawancara dengan Rusmulia Djiptadi tahuan, menyelenggarakan pameran tem-
Hidayat, tanggal, 23 Februari 2012). porer, penerbitan buku, pembuatan web-
Museum Situs Sangiran merupakan site, pembuatan media interaktif, kegiatan
museum kedua yang dibangun setelah Mu- seminar, dan diskusi atau workshop.
seum Plestosen. Lokasi Museum Situs
Sangiran memiliki jarak yang berdekatan
dengan Museum Plestosen dan terletak di Pengaruh Museum Situs Sangiran Ter-
atas tepatnya berada di Dusun Ngampon. hadap Ilmu Pengetahuan
Museum Situs Sangiran ini memiliki ba-
gunan yang lebih besar dan dibangun di Kontribusi atau sumbangan Museum
areal tanah yang lebih luas sehingga Muse- Situs Sangiran bagi ilmu pengetahuan san-
um Situs Sangiran dapat menampung lebih gat besar. Hal tersebut tercermin dari
banyak temuan fosil. Dalam perkem- berbagai penemuan sisa-sisa tinggalan ben-
bangannya Museum Situs Sangiran se- da pada masa purba (fosil) di Sangiran dan
makin berkembang baik dari bangunan memiliki kondisi situs atau lingkungan
museum, peningkatan jumlah pengunjung yang khas yang terdapat pada beberapa
maupun peningkatan peranan dan fungsi stratigrafi atau lapisan tanah di dalamnya
museum. Pada awal berdirinya Museum dengan kubah yang ada di puncaknya.
Situs Sangiran, jumlah pengunjung yang Berbagai penemuan fosil-fosil purba yang
ada di Museum Situs Sangiran saat itu se- ditemukan di Sangiran sangat penting bagi
makin meningkat dibandingkan dengan ilmu pengetahuan karena di Sangiran me-
jumlah pengunjung yang ada di Museum nyimpan berbagai temuan fosil seperti
Plestosen. Hal tersebut dikarenakan Muse- berbagai fosil manusia purba, berbagai fosil
um Situs Sangiran mulai dikenal oleh hewan dan berbagai fosil tumbuhan. Muse-
masyarakat luar sehingga pengunjung yang um Situs Sangiran memiliki kondisi situs
datang ke Museum Situs Sangiran juga se- yang khas yaitu sebagai laboratorium alam
makin meningkat (wawancara dengan yang mempunyai beberapa stratigrafi tanah
Gunawan, tanggal, 23 Februari 2012). di dalamnya dengan kubah pada puncak-
Upaya pemanfaatan yang dilakukan nya. Adanya stratigrafi tanah dengan ku-
oleh Museum Situs Sangiran antara lain bah di puncaknya tersebut telah menc-

121
Journal of Indonesian History, Vol. 1 (2) tahun 2012

erminkan berbagai peristiwa perubahan diteliti dan memberikan pengetahuan sep-


alam yang telah terjadi di Sangiran pada erti jumlah volume otak, bentuk dagu, ben-
masa purba. Setiap lapisan tanah menc- tuk pelipis, bentuk rahang wajah, kemam-
erminkan pada setiap peristiwa yang terjadi puan berjalan dan lain sebagainya sehingga
pada masa purba di Sangiran sehingga san- dapat diketahui tingkat kecerdasan manu-
gat penting bagi perkembangan dunia ilmu sia purba dan dapat mengetahui ciri-ciri
pengetahuan terutama untuk mengungkap- fisik manusia purba yang hidup pada saat
kan setiap peristiwa alam yang telah terjadi itu. Hal tersebut dapat memberikan
di masa lampau (wawancara dengan berbagai informasi dan ilmu pengetahuan
Sukronedi, tanggal, 23 Februari 2012). baru mengenai ciri-ciri fisik manusia purba
Perhatian terhadap Sangiran telah sehingga Sangiran menjadi tempat yang
ada sejak kedatangan Von Koenigswald ke paling tepat untuk media edukasi yaitu se-
Sangiran untuk melakukan penelitian di bagai tempat evolusi fisik manusia purba
Sangiran pada tahun 1934. Penelitian yang (wawancara dengan Rusmulia Djiptadi
dilakukan oleh Von Koenigswald tersebut Hidayat, tanggal, 23 Februari 2012). 
untuk pertama kalinya telah berhasil Penemuan fosil-fosil manusia purba
menemukan sebuah fosil tengkorak manu- kembali ditemukan pada masa berikutnya
sia purba yaitu berupa fragmen rahang yang dilanjutkan oleh para ahli dari dalam
bawah (mandibula) dan diberi kode Sangi- negeri yaitu Teuku Jacob dan Sartono pada
ran 1b (S1b) pada tahun 1936. Tahun beri- sekitar tahun 1960-an. Mereka telah ber-
kutnya 1937 Von Koenigswald kembali hasil menemukan fragmen tengkorak bagi-
menemukan fragmen tengkorak (S2) di- an belakang dan rahang atas (S4), rahang
namakan Pithecantropus II (S2) (nama Pithe- bawah kanan (S5 dan S6a), fragmen ra-
canthropus I diberikan untuk fosil yang hang bawah (S8), rahang bawah (S9), dan
ditemukan oleh Eugene Dubois di Trinil tengkorak (S17). Penemuan S17 merupa-
tahun 1892). Kemudian tahun 1943 Von kan penemuan yang istimewa yaitu berupa
Koenigswald menemukan fragmen tengkorak lengkap dengan gambaran
tengkorak (S3) (wawancara dengan Wiwit wajahnya yang ditemukan pada tahun
Hermanto, tanggal, 23 Februari 2012). 1969. Beberapa penemuan tersebut
Berbagai fosil manusia purba yang dibedakan menjadi empat taxon yaitu Pith-
telah ditemukan oleh Von Koenigswald ecanthropus robustus (S4), Pithecanthropus
tersebut menjadi salah satu faktor pen- dubius (S5), Pithecanthropus erectus (S2 dan
dorong bagi para ahli baik dalam negeri S3), dan Meganthropus palaeojavanicus (S6a)
maupun luar negeri dari berbagai negara (Anjarwati, 2009: 5-6). Penemuan-
datang ke Sangiran untuk melakukan penemuan yang disebutkan di atas
penelitian. Sebelum kedatangan Von dibedakan dalam empat taxon tersebut saat
Koenigswald tersebut Sangiran merupakan ini lebih dikenal sebagai Homo arkaik dan
sebuah desa terpencil yang gersang dan Homo tipik. Yang termasuk dalam klasifi-
tidak banyak diketahui oleh orang luar. kasi Homo arkaik yaitu Meganthropus palaeo-
Namun sejak Von Koenigswald telah ber- javanicus, sedangkan yang termasuk dalam
hasil menemukan fosil manusia purba pada klasifikasi Homo tipik yaitu Pithecanthropus
tahun 1936 tersebut keberadaan Sangiran robustus, Pithecanthropus dubius, dan Pithe-
mulai diperhitungkan. Adanya berbagai canthropus erectus.
temuan fosil manusia purba di Sangiran Adanya penemuan baru dari fosil-
tersebut telah membuka mata dunia bahwa fosil manusia purba tersebut telah mening-
Sangiran merupakan situs terpenting bagi katkan perkembangan ilmu pengetahuan
dunia ilmu pengetahuan khususnya untuk yaitu diperoleh berbagai informasi dan
mengungkapkan peristiwa prasejarah dan pengetahuan baru mengenai tahapan evo-
sejarah umat manusia yang telah terjadi di lusi fisik manusia purba. Tahapan evolusi
Sangiran pada masa purba. Dengan adan- fisik manusia purba yang ada di Sangiran
ya fosil-fosil manusia purba yang telah dimulai dari Homo arkaik, Homo tipik, hing-
ditemukan di Sangiran tersebut dapat ga Homo progresif. Homo arkaik merupakan

122
  Perkembangan Museum Situs Sangiran … - Emmy Ernifiati

manusia purba dengan tingkat evolusi fisik bagian batang. Jenis temuan fosil binatang
manusia yang masih sederhana dan belum dan hewan yang ada di Sangiran memiliki
terdapat ciri perubahan fisik yang berarti. habitat (tempat hidup) yang beragam mulai
Homo tipik merupakan manusia purba yang yang hidup di padang rumput, hutan, laut,
telah memiliki ciri-ciri fisik semakin rawa-rawa, maupun di daerah bakau
berkembang daripada manusia purba yang (Depdikbud, 1994/1995: 12-32). Hal terse-
telah ada sebelumnya. Homo progresif meru- but memberikan pengetahuan baru bahwa
pakan jenis manusia purba dengan ciri alam di Sangiran saat itu sering mengalami
fisiknya telah berkembang lebih pesat perubahan karena adanya proses geologi
dibandingkan dengan Homo arkaik dan Ho- dan berbagai bencana alam yang mengaki-
mo tipik (Hermawati, 2005: 70-74). batkan terjadi perubahan lingkungan di
Sejalan dengan penemuan-penemuan Sangiran beserta mahkluk hidup yang ada
yang diperoleh Von Koenigswald juga di- di dalamnya sehingga memunculkan
peroleh berbagai temuan alat-alat (artefak) berbagai habitat dan spesies baru baik pada
di Sangiran pada tahun 1938. Berbagai ar- binatang maupun tumbuhan yang hidup di
tefak tersebut berhasil ditemukan oleh Sangiran saat itu.
Helmut de Tarra dan Movius yang berupa Pada sekitar tahun 1990-an hingga
alat-alat batu. Periode selanjutnya pada tahun 2000-an di Sangiran masih dilakukan
tahun 1952, 1953, 1955, dan 1968 yang penelitian secara intensif untuk mencari
dilakukan oleh H.R. Van Heekeren, R.P. fosil-fosil oleh para ahli secara perorangan
Soejono, Basuki, dan Gert-Jan Bartstra te- di bawah koordinasi Suaka Peninggalan
lah berhasil menemukan lebih dari 70 buah Sejarah dan Purbakala Jateng. Namun pa-
alat serpih (Hardjajanta, 2000: 3-4). Arte- da tahun 2004 penelitian di Sangiran dil-
fak adalah sisa-sisa alat budaya yang dibuat akukan dengan melibatkan beberapa in-
oleh manusia purba pada masa lampau. stansi penelitian baik dari dalam maupun
Dengan ditemukan berbagai artefak terse- luar negeri. Kerjasama dengan beberapa
but memberikan informasi baru bagi dunia instansi penelitian dalam negeri antara lain
ilmu pengetahuan bahwa manusia purba yaitu Pusat Penelitian Arkeologi Nasional,
pada saat itu telah mempunyai kemampu- Balai Arkeologi Yogyakarta, Laboratorium
an untuk menciptakan suatu alat. Tujuan Bioanthropologi dan Paleoanthropologi,
manusia purba membuat berbagai alat-alat Universitas Gajah Mada, dan Pusat
budaya yaitu untuk mempermudahkan Penelitian dan Pengembangan Geologi
pekerjaan manusia purba seperti menyerut, Bandung. Sedangkan kerjasama dengan
berburu binatang, memotong makanan dan beberapa instansi luar negeri seperti Biolo-
lain sebagainya. Dilihat dari fungsi artefak gisch Archaeologisch Institut, Groningen, Neth-
sebagai alat untuk menyerut, berburu bi- erlands; Museum National d’Historie Naturalle,
natang, dan memotong makanan tersebut Paris; University of Wisconsin, Madison, USA;
memberikan informasi baru bahwa tumbuh Japanese International Cooperation Agency.
-tumbuhan dan binatang yang ada pada Kegiatan penelitian yang dilakukan oleh
saat itu menjadi sumber makanan utama beberapa instansi tersebut menghasilkan
bagi manusia purba. berbagai pengetahuan baru mengenai pros-
Penemuan selanjutnya yaitu es evolusi fisik manusia purba, lingkungan,
penemuan berbagai fosil binatang dan fosil dan budayanya (wawancara dengan Wiwit
tumbuhan yang hidup di Sangiran pada Hermanto, tanggal, 23 Februari 2012).
masa purba. Penemuan fosil binatang dan
fosil tumbuhan di Sangiran mulai
ditemukan pada tahun 1971. Fosil binatang SIMPULAN
yang ditemukan di Sangiran beragam yaitu
mulai dari binatang yang hidup baik di laut Museum Situs Sangiran mempunyai
maupun di rawa-rawa, reptil, hingga vet- upaya pengelolaan dan pemanfaatan yang
ebrata. Fosil tumbuhan yang ditemukan di baik sehingga telah berhasil meningkatkan
Sangiran berupa fosil kayu terutama pada peran dan fungsinya sebagai tempat kon-

123
Journal of Indonesian History, Vol. 1 (2) tahun 2012

servasi, media edukasi dan perkembangan DAFTAR PUSTAKA


ilmu pengetahuan. Pengaruh Museum Si-
tus Sangiran sangat besar bagi ilmu penge- Arbi, Yunus. 2002. Museum dan Pendidikan.
tahuan. Peradaban sebelum Sangiran telah Jakarta: Kementrian Kebudayaan dan
menghasilkan berbagai penemuan fosil- Pariwisata.
fosil purba seperti fosil manusia purba, fosil Gottschalk, Louis. 1975. Mengerti Sejarah. Ter-
hewan, fosil tumbuhan dan temuan artefak jemahan Nugroho Notosusanto.
Hermawati. 2005. Koleksi Fosil Museum Jawa
dapat meningkatkan perkembangan ilmu
Tengah Ronggowarsito. Semarang: Pemda
pengetahuan. Berbagai temuan fosil manu-
Jateng.
sia purba memberikan pengetahuan dan Hidayat, Rusmulia.D. 2004. Museum Situs Sang-
wawasan baru mengenai sejarah evolusi iran (Sejarah Evolusi Manusia
fisik manusia purba yang ada di Sangiran Purba Beserta Situs dan Lingkungannya).
pada masa purba. Sedangkan berbagai Sangiran: Koperasi Museum Sangiran.
temuan fosil hewan dan fosil tumbuhan Indriarti, Etty. 2009. Warisan Budaya dan Manu-
memberikan berbagai informasi mengenai sia Purba Indonesia (Sangiran). Yogyakar-
berbagai jenis hewan dan tumbuhan yang ta: PT. Citra Aji Parama.
ada di Sangiran dan memberikan ilmu Simanjutak, Truman. 2009. Sangiran Menjawab
pengetahuan mengenai kehidupan yang Dunia. Sangiran: Balai Pelestarian Situs
ada di Sangiran pada masa purba. Perada- Manusia Purba Sangiran.
Sulistyanto, Bambang. 2003. Balung Buto: War-
ban setelah Sangiran menghasilkan
isan Budaya Dunia dalam Perspektif
berbagai penelitian dari hasil kerjasama Masyarakat Sangiran. Yogyakarta: Kunci
baik untuk lembaga penelitian dalam Ilmu.
negeri maupun luar negeri. Kerjasama Zain, Elly.S. 2008. Museum Sangiran Selayang
penelitian tersebut telah menghasilkan Pandang. Surakarta: Suara Media Se-
pengetahuan baru mengenai proses evolusi jahtera.
fisik manusia purba, lingkungan dan buda-
yanya.

124